5 - Sumerta - Sekelumit tentang Minat Baca by lizzy2008

VIEWS: 9 PAGES: 6

									                                 Sekelumit tentang :

                                 Gemar Membaca

                                        Oleh



                                 Ketut Sumerta, SE.

                                 (Pustakawan Muda)



       Seseorang yang berkutat dengan kumpulan buku-buku belum tentu sebagai
seorang kutu buku. Ada kemungkinan orang tersebut mempunyai kegemaran
mengumpulkan buku, atau orang tersebut hanya sebagai penggemar gambar tertentu yang
terdapat dalam tumpukan bukunya untuk dikoleksi. Akan tetapi, kita tidak bisa mungkir
jika melihat seseorang membawa buku secara spontan kita berpikir bahwa buku tersebut
sedang dibaca. Buku atau apapun koleksi karya cetak yang bisa dibaca merupakan
gudang informasi, ilmu pengetahuan. Apapun yang didapat melalui bacaan (sesudah
membaca) membuka mata hati kita mengenal dunia.

       Perkembangan teknologi informasi, tidak akan menggilas kebiasaan seseorang
untuk membaca sumber bahan cetak. Hal ini dikarenakan, membaca dengan karya cetak
(buku/majalah/koran, dan sebagainya) lebih nikmat tanpa beban, dibandingkan dengan
membaca informasi melalui media elektronik (informasi via internet). Selain itu,
disebabkan pula pemerataan kesempatan agar bisa membaca untuk mendapat informasi
belum menyeluruh. Dalam dunia belajar mengajar atau pendidikan dan pengajaran belum
dibiasakan membaca sebagai kewajiban. Para pendidik/guru pun belum sepenuhny
menerapkan kebiasaan membaca, baik di rumah atau lingkungan sekolah. Padahal,
dengan membaca seseorang mendapat informasi yang dibutuhkan sebagai bekal ilmu
menjalani tantangan hidup.

       Kegiatan membaca berkaitan dengan ketersediaan sarana bahan bacaan yang
sesuai dengan kebutuhan jenis informasinya (kelompok usia). Oleh karena itu, siapapun
yang ingin berperan sebagai perantara penyampai ilmu pengetahuan (transfer informasi)
haruslah mengajak serta mendorong seseorang agar melek huruf (membaca) terlebih
dahulu. Perlu kiranya kita ketahui, bahwa urusan melek huruf bukanlah urusan
guru/pendidik semata, akan tetapi harus menjadi urusan kita bersama. Dengan demikian,
cita-cita menjadi bangsa yang cerdas sudah selayaknya menjadi cita-cita setiap warga
negara. Prestasi setiap warga negara bertumpu pada kemajuan bangsa. Jadi, siapakah
yang bertanggungjawab jika masih ada saudara kita yang belum melek huruf, sehingga
belum bisa membaca? Bagaimana menumbuhkan budaya gemar membaca, kalau belum
melek huruf? Harus diakui bersama, bahwa budaya lisan masih mengental dalam diri
kita. Inilah salah satu faktor penghambat tumbuhnya budaya gemar membaca. Akan
tetapi kita harus memulainya, sebagaimana kata orang bijak yakni lebih baik terlambat
daripada tidak sama sekali! Ada sedikit pengalaman yang bisa dibagi, bahwa minat baca
bisa dimulai dari keluarga sendiri. Kedua anak kami, menurut pengamatan kami termasuk
golongan gemar membaca. Akan tetapi, keduanya memulai dengan cara yang beda. Anak
pertama menjadi gemar baca karena masa balita sering mendengar cerita pengantar tidur
dari kami. Setelah bisa baca, ingin mengulangi cerita-cerita dengan membaca sendiri.
Sementara, anak kedua gemar membaca bersamaan dengan meningkatnya kepintaran
dalam membaca yang diajarkan di sekolah. Kebiasaan membaca ternyata tidak harus
dimulai dengan melek huruf. Hal terpenting adalah kemauan untuk memulai.

         Gemar artinya suka, senang sekali. Sementara       minat    yaitu   perhatian,
kesukaan/kecenderungan hati akan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jadi gemar
membaca dapat diartikan sebagai kesukaan akan membaca, ada kecenderungan hati ingin
membaca. Menurut Suhaenah Suparno minat baca seseorang seharusnya diukur
berdasarkan frekuensi dan jumlah bacaan yang dibaca selain buku pelajaran (dalam
Abdul Rahman, 2005:122). Dengan demikian minat baca seseorang berimbas kepada
jumlah     koleksi   yang   pernah   dibaca   yang    bersangkutan     (bukan    buku
pelajaran/modul/buku paket sekolah). Adapun koleksi bacaan yang dikonsumsi bisa
diperoleh dari mana pun juga. Hal ini berkaitan dengan peran toko buku, taman bacaan,
atau perpustakaan. Bilamana minat baca sudah tumbuh, maka dibutuhkan fasilitas
(buku/majalah/koran, dan sebainya) yang memadai. Suatu kenyataan jika, di ranah
Indonesia ini masih sedikit yang memiliki koleksi bacaan sendiri. Sebagian besar koleksi
diperoleh dengan meminjam atau membaca di sebuah kedai/toko buku atau perpustakaan.
Bahkan bagi mereka yang mampu (dana berlebih) bisa mengakses melalui internet, pun
memiliki perpustakaan sendiri. Dengan demikian, adanya minat baca sehingga gemar
membaca belumlah merata. Kembali pada pertanyaan di atas, siapakah yang harus
menumbuhkan budaya gemar membaca? Harapan kita tentunya, jika melek huruf sudah
terjadi, seseorang akan berminat untuk membaca segala sesuatu, selanjutnya menjadi
gemar membaca.

       Berdasarkan undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan bahwa
budaya gemar membaca menjadi tanggungjawab keluarga, satuan pendidikan (sekolah),
masyarakat,     maupun       pemerintah.   Sebagaimana     bunyi   undang-undang     tentang
perpustakaan pasal 48 berikut ini.

   1. Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui                      keluarga, satuan
       pendidikan, dan masyarakat.
   2. Pembudayaan kegemaran membaca pada keluarga sebagaimana dimaksud pada
       ayat (1) difasilitasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah melalui buku murah
       dan berkualitas.
   3. Pembudayaan kegemaran membaca pada satuan pendidikan sebagaimana
       dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan
       perpustakaan sebagai proses pembelajaran.
   4. Pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat sebagaimana dimaksud pada
       ayat (1) dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat
       umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu.

       Jelas kiranya, bahwa gemar membaca menjadi tanggungjawab bersama seluruh
warga negara dalam upaya mencerdaskan bangsa. Adapun fasilitas yang disediakan
memang sangat tergantung pada bagian penyedia informasi, yang salah satunya yakni
perpustakaan. Meskipun dalam pasal tersebut jelas dinyatakan bahwa budaya gemar
membaca       difasilitasi   oleh   pemerintah   melalui   buku    murah   dan   berkualitas.
Kenyataannya, buku yang murah pun tidak terbeli bagi masyarakat kebanyakan. Lalu ke
mana para pemburu bacaan mencari “makanan”? Jawaban yang lebih pas yakni
perpustakaan, taman bacaan, maupun tempat-tempat penyedia fasilitas secara gratis,
tanpa bea yang pasti. Harus diakui, itulah gambaran budaya gemar membaca di tanah air
kita. Pemerataan kesempatan mendapat pendidikan agar dapat membaca maupun kursus-
kursus kejar paket tertentu dalam rangka pemberantasan buta aksara belumlah optimal.
Oleh karena itu, mari kita berlomba untuk memberikan fasilitas pembudayaan gemar
membaca. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal tersebut di atas, kita mulai dari keluarga
kita, mulai dari diri sendiri (mengutip pendapat AA Gym).

       Melalui pasal 51 dari undang-undang yang sama dinyatakan bahwa pembudayaan
gemar membaca dilakukan melalui gerakan nasional gemar membaca, dan dilaksanakan
oleh pemerintah yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi perpustakaan
pun wajib berperan aktif dengan menyediakan karya tulis, karya cetak, dan karya rekam.
Ternyata, perpustakaan tetap menjadi tumpuan harapan dalam pelaksanaan budaya gemar
membaca. Anehnya, sampai saat ini masih banyak yang enggan berhubungan dengan
perpustakaan. Tidak perlulah menutup mata bahwa belum setiap satuan pendidikan
(sekolah) mempunyai/menyelenggarakan perpustakaan sesuai yang dinyatakan dalam
undang-undang tentang perpustakaan. Oleh karena itu, ayolah para petugas di dalam
jajaran satuan pendidikan (sekolah) untuk melaksanakan kewajiban, demi mencerdaskan
bangsa. Tentu saja peran keluarga dan masyarakat juga diaktifkan. Bagaimanapun satuan
pendidikan (sekolah) kita masih banyak yang belum sepenuhnya mempunyai fasilitas
yang memadai. Bahkan tidak sedikit gedung untuk tempat belajar runtuh, tidak layak
pakai, rapuh karena mudah hancur karena hujan atau angin, sehingga menimbulkan
korban pula.

								
To top