ARTIKEL PENELITIAN by xiagong0815

VIEWS: 257 PAGES: 9

									        MODEL PEMBELAJARAN SAINS BERBASIS BUDAYA
      LOKAL UNTUK MENGEMBANGKAN KOMPETENSI DASAR
           SAINS DAN NILAI KEARIFAN LOKAL DI SMP



                                             I Wayan Suastra

                      Fakultas MIPA, Universitas Pendidikan Ganesha, Jln. Udayana Singaraja


      Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan (need assesment) siswa dalam
      belajar sains (IPA) di SMP yang akan digunakan sebagai dasar dalam merancang model pembe-
      lajaran sains berbasis budaya untuk pengembangan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan
      lokal. Guru yang dijadikan sampel penelitian ini adalah sebanyak 30 orang guru sains SMP di
      Singaraja. Data dikumpulkan melalui kajian pustaka, kuisioner, dan wawancara. Data dianalisis
      secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai
      berikut. 1) Di kelas VII dan VIII ada sebanyak 11 kompetensi dasar (KD) yang dapat dikembang-
      kan dalam pembelajaran sains berbasis budaya lokal. 3) Metode yang cocok digunakan untuk
      pembelajaran sains berbasis budaya lokal adalah penyelidikan/eksperimen, observasi lapangan,
      dan diskusi. 4) Sumber belajar yang cocok untuk mendukung pembelajaran sains adalah ling-
      kungan alamiah dan sosial-budaya, buku-buku pelajaran, audio visual, dan internet. 5) Disain
      pembelajaran yang cocok dikembangkan meliputi langkah-langkah: kegiatan awal, penyelidikan
      dari berbagai perspektif (eksplorasi), elaborasi, konfirmasi, kegiatan akhir.

      Abstract: This study aimed at analyzing the needs (need assessment) of the students in learning
      science at junior high schools which would be used as the rationale to design a culture-based
      science teaching model to develop basic competencies in science and values in local wisdom.
      Thirty science junior high school teachers in Singaraja were used as the sample. The data were
      collected through library research, questionnaire, and interview. The data were analyzed
      descriptively. On the basis of the result of data analysis, the following conclusions can be made. 1)
      there are 11 basic competencies that can be developed in a local culture-based science teaching at
      grades VII and VIII ; (3) inquiry/experiment, field observation, and discussion are methods that
      are relevant to be used in a local culture-based science teaching; 4) natural environment and
      sociocultural environment, text books, audiovisual and internet are learning resources that are
      relevant; 5) the relevant teaching design developed covers the following steps : pre-activity,
      inquiries from various perspectives (explorations), elaboration, confirmation, closing activity.

      Kata kunci: pembelajaran sains, budaya lokal, kompetensi dasar, nilai kearifan lokal


Pendidikan berfungsi memberdayakan potensi                didikan asli di suatu daerah memiliki peran
manusia untuk mewariskan, mengembangkan                   penting dalam perkembangan pendidikan dan ke-
serta membangun kebudayaan dan peradaban                  budayaan.
masa depan. Di satu sisi, pendidikan berfungsi                 Berbagai permasalahan pendidikan yang
untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang posi-          dihadapi bangsa Indonesia adalah masih ren-
tif, di sisi lain pendidikan berfungsi untuk men-         dahnya mutu pendidikan. The Third Interna-
ciptakan perubahan ke arah kehidupan yang lebih           tional Mathematics and Science Study Repeat
inovatif. Oleh karena itu, pendidikan memiliki            melaporkan bahwa kemampuan sains siswa
fungsi kembar (Budhisantoso, 1992; Pelly,                 SLTP di Indonesia hanya berada pada urutan
1992). Dengan fungsi kembar itu, sistem pen-              ke-32 dari 38 negara (TIMSS-R, 1999). Ma-
9   Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 43, Nomor 2, April 2010, hlm. 8-16


salah lainnya adalah gagalnya sektor pendidi-                barkan ke dalam sejumlah peraturan, di anta-
kan khususnya pendidikan sains dalam mena-                   ranya PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar
namkan serta menumbuhkembangkan pendidi-                     Pendidikan Nasional. Kedua perangkat hukum
kan nilai di sekolah. Hal ini terbukti dari ber-             tersebut mengamanatkan agar kurikulum disusun
bagai permasalahan seperti rusaknya lingkung-                oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan
an alam yang mengakibatkan berbagai becana                   penyesuaian program pendidikan dengan kebu-
alam seperti kekeringan berkepanjangan, banjir               tuhan dan potensi yang ada di daerah. Pengem-
bandang, kebakaran hutan, polusi udara, polusi               bangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
tanah/air, dan terakhir luapan lumpur Lapindo                (KTSP) pada jenjang pendidikan dasar dan me-
di Sidoarjo yang sudah dua tahun, sampai hari                nengah harus juga mengacu kepada Standar Isi
ini belum juga dapat diatasi. Semua perma-                   (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
salahan ini hanya menghasilkan dan menyisa-                  dengan berpedoman pada Panduan Umum yang
kan kesengsaraan rakyat Indonesia. Adimas-                   dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidi-
sana (2000) menambahkan bahwa salah satu                     kan (BSNP). Penerapan Manajemen Pendidikan
penyebabnya adalah akibat dari kegagalan sek-                Berbasis Sekolah (MPBS) adalah bentuk alter-
tor pendidikan dalam melaksanakan pendidi-                   natif otonomi pendidikan sebagai wujud refor-
kan nilai di sekolah. Zamroni (2000:1) menge-                masi pendidikan di mana sekolah diberikan pe-
mukakan bahwa pendidikan cenderung hanya                     luang yang sangat luas dalam mengelola sekolah
menjadi sarana “stratifikasi sosial” dan sistem              serta mengembangkan kurikulumnya sesuai de-
persekolahan yang hanya “mentransfer” kepa-                  ngan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya.
da peserta didik, apa yang disebut sebagai                   Peluang inilah yang harus dimanfaatkan oleh
dead knowled, yaitu pengetahuan yang terlalu                 para pengambil kebijakan pendidikan di daerah
berpusat pada buku (textbookish), sehingga ba-               dan para guru dalam rangka mengembangkan po-
gaikan sudah diceraikan dari akar sumbernya                  tensi lokal dan sekaligus melestarikan nilai-nilai
dan aplikasinya. Lebih lanjut Suastra (2005)                 positif yang terkandung dalam budaya bangsa
mengatakan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh                kita.
masyarakat asli yang penuh dengan nilai-nilai                      Pembelajaran sains yang akan datang
kearifan (local genius) diabaikan dalam pem-                 perlu diupayakan agar ada keseimbangan/ke-
belajaran khususnya dalam pembelajaran sains                 harmonisan antara pengetahuan sains itu sen-
di sekolah. Dengan demikian, pembelajaran                    diri dengan penanaman sikap-sikap ilmiah,
sains menjadi ”kering” dan kurang bermakna                   serta nilai-nilai kearifan lokal yang ada dan
bagi siswa. Hal inilah yang perlu mendapat                   berkembang di masyarakat. Oleh karena itu,
perhatian serius bagi para pengambil kebijakan               lingkungan sosial-budaya siswa perlu menda-
dan praktisi pendidikan sains di daerah.                     pat perhatian serius dalam mengembangkan
     Pendidikan nasional yang berdasarkan Pan-               pendidikan sains di sekolah karena di dalam-
casila dan Undang-Undang dasar Negara Repub-                 nya terpendam sains asli yang dapat berguna
lik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengem-                   bagi kehidupannya. Dengan demikian, pedi-
bangkan kemampuan dan membentuk watak                        dikan sains akan betul-betul bermanfaat bagi
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam                siswa itu sendiri dan bagi masyarakat luas. Hal
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk                  ini sesuai dengan pandangan reformasi pendidi-
mengemban fungsi tersebut pemerintah menye-                  kan sains dewasa ini yang menekankan
lenggarakan suatu sistem pendidikan nasional                 pentingnya pendidikan sains bagi upaya mening-
sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 20 Ta-                 katkan tanggung jawab sosial. Berdasarkan usaha
hun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.                 reformasi ini, tujuan pendidikan sains tidaklah
Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun                    hanya untuk meningkatkan pemahaman terhadap
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dija-                sains itu sendiri, tetapi yang lebih penting juga
                    I Wayan Suastra, Model Pembelajaran Sains Berbasis Budaya Lokal Untuk Mengembangkan…        10


adalah bagaimana memahami kehidupan manu-              lokal beserta penilaiannya untuk mengem-
sia itu sendiri. Bagaimana manusia membuat             bangkan kompetensi dasar sains dan nilai ke-
pemahaman tentang dunia alamnya dan bagai-             arifan lokal, serta 6) penilaian yang relevan un-
mana mereka berinteraksi dengan keseluruhan            tuk pembelajaran berbasis budaya lokal. Data
tatanan makrokosmos sangat ditentukan oleh             penelitian ini dikumpulkan melalui kajian pus-
pandangan mereka tentang dunia dan nilai-nilai         taka, wawancara, dan kuisioner. Data dianalisis
universal.                                             secara deskriptif.
     Berdasarkan latar belakang masalah terse-
but, maka masalah yang diteliti dalam dalam            HASIL DAN PEMBAHASAN
penelitian ini adalah 1) bagaimana pendapat guru
tentang pengembangan model pembelajaran                Hasil
sains berbasis budaya, 2) kompetensi dasar sains
                                                             Berdasarkan hasil analisis data pendapat
apa yang dapat dikembangkan dalam pembela-
                                                       guru tentang pengembangan pembelajaran sains
jaran sains berbasis budaya, 3) metode apa yang
                                                       berbasis budaya ditemukan bahwa 90% guru
cocok, 4) sumber belajar apa yang cocok, 5) sis-
                                                       menyatakan berkeinginan untuk mengembang-
tem asesmen apa yang cocok, dan 6) bagaimana
                                                       kan model tersebut, namun hanya 20% guru
model konseptual pembelajaran sains berbasis
                                                       yang memiliki wawasan/pengetahuan dan ke-
budaya yang dapat mengembangkan kompetensi
                                                       mampuan untuk mengembangkannya.
dasar sains dan nilai kearifan lokal.
                                                             Hasil analisis silabus siswa kelas VII dan
     Berkaitan dengan masalah ini, maka dipan-
                                                       VIII terdapat 11 kompetensi dasar (KD) yang dapat
dang perlu untuk mengembangkan pembelajaran
                                                       dikembangkan dalam pembelajaran sains berbasis
sains berbasis budaya lokal dalam upaya me-
                                                       budaya. Kompetensi dasar tersebut dapat dilihat
ngembangkan kompetensi dasar sains dan keari-
                                                       pada Tabel 01 berikut.
fan lokal.                                             Tabel 01: Kompetensi dan Kearifan Lokal

METODE                                                  No     Kompetensi Dasar      Nilai Kearifan Lokal
                                                        1.     Mendeskripsikan       Memperkenalkan pengukuran
     Penelitian ini merupakan penelitian analisis              besaran pokok dan     tradisional atau tak baku “si-
                                                               besaran     turunan   kut” untuk pembangunan
kebutuhan yang nantinya digunakan sebagai da-                  beserta satuannya     tempat suci atau rumah. Nilai
sar dalam merancang model pembelajaran sains                                         keharmonisan/ keselarasan
                                                        2.     Mendeskripsikan       Mengekop anak yang sakit
untuk mengembangkan kompetensi dasar sains                     pengertian   suhu     panas dengan menggunakan
dan nilai kearifan lokal. Populasi penelitian ini              dan pengukuran-       pelapah pisang atau daun
                                                               nya                   dapdap. Nilai pelestarian
adalah guru-guru sains SMP Negeri dan Swasta                                         tumbuh-tumbuhan (kontrol)
di Singaraja yang berjumlah 38 orang. Guru                                           dan tradisi.
                                                        3.     Melakukan pengu-      Melakukan pengukuran de-
yang dijadikan sampel penelitian ini adalah se-                kuran dasar secara    ngan ukuran sikut, seperti
banyak 30 orang guru sains SMP yang tersebar                   teliti dengan meng-   adepa, alengkat, ahasta,
pada di Singaraja. Data yang dikumpulkan da-                   gunakan alat ukur     atampak ngandang, anyari,
                                                               yang sesuai dan       dll. Nilai keharmonisan/kese-
lam penelitian ini meliputi 1) pendapat guru ten-              sering digunakan      laran antara tempat suci/
tang pembelajaran sains berbasis budaya lokal,                 dalam kehidupan       rumah dengan pemilik-nya.
                                                               sehari-hari           Nilai keharmonisan/kesela-
2) kompetensi dasar sains yang dapat dikem-                                          rasan antara isi dan tem-
bangkan dalam pembelajaran berbasis budaya, 3)                                       patnya.
                                                        4.     Melakukan perco-      Pembersihan alat-alat upacara
metode yang relevan untuk model pembelajaran                   baan     sederhana    yang terbuat dari perak yang
berbasis budaya lokal; dan 4) sumber belajar                   tentang asam, basa,   berwarna hitam dengan bahan
yang relevan untuk mendukung model pem-                        dan garam dari        asem atau buah krerek. Nilai
                                                               dengan bahan-ba-      kontrol.
belajaran berbasis budaya lokal; 5) rancangan                  han yang diperoleh
(disain) pembelajaran sains berbasis budaya                    dalam kehidupan
                                                               sehari-hari
11 Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 43, Nomor 2, April 2010, hlm. 8-16

 No    Kompetensi Dasar      Nilai Kearifan Lokal                    Metode yang relevan digunakan dalam
 5.    Mendeskripsikan       Para     tukang      bangunan     pembelajaran sains berbasis budaya lokal untuk
       konsep massa jenis    “undagi” menentukan “mun-
       dalam kehidupan       cuk” dan “bongkol” kayu de-       mengembangkan kompetensi dasar sains dan ke-
                             ngan cara menimbang kayu          arifan lokal adalah penyelidikan/eksperimen de-
                             dengan benang/tali pada ba-
                             gian tengahnya, agar tidak        ngan rerata 4,8 (kualifikasi sangat cocok), me-
                             terbalik dalam pemasangan-        tode observasi lapangan dengan rerata 4,6 (kua-
                             nya. Nilai kontrol dan etika
                             dalam arsitektur tradisional.     lifikasi sangat cocok), dan diskusi kelompok de-
 6.    Melakukan pemi-       Pembuatan garam dapur dari        ngan rerata 3,8 (kualifikasi cocok).
       sahan     campuran    air laut dengan cara tradi-
       dengan berbagai       sional. Pembuatan minyak
                                                                     Dari 4 sumber belajar yang diajukan, ter-
       cara berdasarkan      tandusan. Nilai kontrol dan       nyata tiga sumber belajar yang dapat digunakan
       sifat fisika dan      alamiah
       kimianya
                                                               dalam pembelajaran sains untuk mengembang-
 7.    Mengidentifikasi      Pelestarian berbagai tum-         kan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan
       pentingnya keane-     buhan dan binatang langka di      adalah lingkungan alamiah dengan rerata 4,4
       karagaman makh-       Bali dengan konsep duwe
       luk hidup dalam       betara, seperti penyu hijau       (kualifikasi cocok), lingkungan sosial budaya de-
       pelestarian ekosis-   dengan tapak dara di pung-        ngan rerata 4,4 (kualifikasi cocok), buku-buku
       tem                   gungnya, kokokan di Bedulu,
                             kera di Pulaki/Sangeh, kelela-    pelajaran dan buku lainnya dengan rerata 4,2
                             war di Goa Lawah, ular            (kualifikasi cocok), audio visual dengan rerata
                             poleng di pura Uluwatu, po-
                             hon beringin, pule, kepah,        4,0 (kualifiaksi cocok), serta internet dengan re-
                             ketapang kembar, dll. Nilai       rata 3,8 (kualifikasi cocok).
                             pelestarian satwa dan alam
                             lingkungannya (kontrol) dan             Sistem penilaian yang relevan digunakan
                             spiritualitas.                    dalam pembelajaran sains berbasis budaya untuk
 8.    Mendeskripsikan       Tahapan perkembangan ma-
       tahapan perkem-       nusia Bali dari proses dalam
                                                               mengembangkan kompetensi dasar sains dan
       bangan manusia        kandungan (garbadana), dua        kearifan lokal adalah non-tes dengan skor rerata
                             belas hari, bulan pitung dina,
                                                               4,6 (kualifikasi sangat cocok) dan tes dengan
                             oton, menek kelih, metatah,
                             pawiwahan, ngaben. Nilai          skor rerata 3,8 (kualifikasi cocok).
                             holistik, kontrol dan spiri-            Berdasarkan analisis kebutuhan yang di-
                             tualitas.
                                                               peroleh di atas, maka alur pembelajaran sains
 9.    Melakukan perco-      Pembuatan      terowongan         berbasis budaya untuk mengembangkan kom-
       baan tentang sifat-   menggunakan lampu sentir
       sifat cahaya          untuk menentukan lurusnya         petensi dasar sains dan kearifan lokalseperti
                             lubang terowongan. Nilai          Gambar 1 berikut. Ada 5 tahapan pokok dalam
                             kontrol.
                                                               pembelajaran meliputi 1) kegiatan awal, 2)
 10.   Menjelaskan sifat-    Memperkenalkan berbagai a-        eksplorasi (fase penyelidikan dari berbagai pers-
       sifat bunyi           lat musik tradisional seperti
                             gong,     suling,      gangsa,
                                                               pektif), 3) fase elaborasi, 4) konfirmasi, dan 5)
                             kendang. Memperkenalkan a-        kegiatan akhir.
                             lat komunikasi tradisional
                             “kulkul”. Nilai seni dan spiri-
                             tualitas.

 11.   Melakukan perco-      Penyetelan nada gangsa oleh
       baan tentang nada     pembuat gamelan dengan
       dan frekuensi bu-     menggunakan prinsip reso-
       nyi                   nansi. Nilai seni, kontrol, dan
                             spiritualitas
                                        KEGIATAN AWAL
             Guru menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan belajar
             Siswa diminta untuk mengungkapkan ide/gagasan awal dan keyakinannya terhadap
              materi yang akan diajarkan
             Guru tidak membenarkan atau menyalahkan gagasan siswa



                                        EKSPLORASI
                            (Penyelidikan dari Berbagai Perspektif)
             Guru memberikan kepada siswa untuk membentuk kelompok kecil (3-5 orang)
              untuk melakukan penyelidikan dari berbagai perpektif, seperti sejarah, sains asli,
              dan ilmiah
             Guru memfasilitasi siswa melakukan penyelidikan
             Siswa disarankan membuat laporan hasil penyelidikan siswa
             Siswa melaporkan hasil penyelidikan di papan tulis




                                           ELABORASI

             Siswa menyampaikan hasil penyelidikannya di depan kelas dan siswa lain diberikan
              kesempatan menyanggah atau memberi komentar
             Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka (open ended) untuk
              mengecek kompetensi dasar siswa maupun kearifan lokal terkait dengan topik
              yang telah dipelajarinya.




                                          KONFIRMASI
            Guru memfasilitasi siswa untuk berkomentar, mengajukan pertanyaan, dan
             mengklarikiasi topik yang dipelajari serta melakukan refleksi.
            Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil penyelidikan siswa
            Guru memberikan umpan balik positif dalam bentuk pujian tertulis maupun lisan
             terhadap keberhasilan siswa
            Guru melakukan penilaian/asesmen selama proses berlangsung




                                      KEGIATAN AKHIR
            Guru menyarankan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran
            Guru memberikan tes akhir
            Guru memberikan tugas-tugas pengayaan
            Menyampaikan doa bersama dan salam untuk menutup pelajaran




Gambar 01: Alur Kegiatan Pembelajaran Sains Berbasis Budaya
     Agar kompetensi dasar dan nilai kearifan       cana pelaksanaan pembelajaran. Hal ini terbukti
lokal dapat dikembangkan melalui pembelajaran       dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
sains berbasis budaya lokal, maka peran guru        yang disusun guru sangat sedikit mengaitkan
dalam proses pembelajaran sebagai berikut.          dengan budaya lokal. Begitu juga dalam obser-
(1) Memberi kesempatan kepada siswa untuk           vasi langsung selama proses pembelajaran, guru
     mengekspresikan pikiran-pikirannya, untuk      masih tampak ragu dan canggung untuk
     mengakomodasi konsep-konsep atau ke-           menghubungkan dengan budaya lokal. Hal ini
     yakinan yang dimiliki siswa yang berakar       disebabkan karena selama ini guru belum pernah
     pada sains asli (budaya).                      mengembangkannya dalam pembelajaran sains
(2) Menyajikan kepada siswa contoh-contoh           di sekolah. Yang menarik justru model ini telah
     keganjilan (discrepant events) yang se-        dicobakan melalui penelitian kelas (PTK) yang
     benarnya hal biasa menurut konsep-konsep       juga sebagai payung penelitian ini oleh seorang
     sains Barat.                                   mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhirnya
(3) Berperan untuk mengidentifikasi batas           di SMP Negeri 3 Banjar ternyata mendapat
     budaya yang akan dilewatkan serta me-          respon yang sangat positif oleh baik guru mau-
     nuntun siswa melintasi batas budaya, se-       pun siswa. Di samping itu, prestasi belajar siswa
     hingga membuat masuk akal bila terjadi         juga mengalami peningkatan dari awal sampai
     konflik budaya yang muncul.                    akhir siklus tindakan.
(4) Mendorong siswa untuk aktif bertanya,                 Hasil analisis terhadap silabus kelas VII dan
     memberi komentar, dan memecahkan masa-         VIII SMP ditemukan 10 kompetensi dasar (KD)
     lah, serta                                     yang dapat dikembangkan dengan model pem-
(5) Memotivasi siswa agar menyadari akan            belajaran berbasis budaya. Pengembangan kom-
     pengaruh positif dan negatif sains Barat dan   petensi dasar ini akan mampu menjembatani
     teknologi bagi kehidupan dalam dunianya        pengetahuan dan keyakinan siswa yang meru-
     (bukan pada kontribusi sains Barat dan         pakan budaya aslinya menuju konsepsi ilmiah.
     teknologi untuk menjadikan mono-kultural       Hal ini sesuai dengan pendapatnya Cobern dan
     dari elit yang memiliki hak istimewa).         Aikenhead (1996) yang menyatakan jika subkul-
                                                    tur sains modern yang diajarkan di sekolah har-
Pembahasan                                          monis dengan subkultur kehidupan sehari-hari
                                                    siswa, pembelajaran sains akan berkecenderung-
     Berdasarkan hasil analisis data pendapat       an memperkuat pandangan siswa tentang alam
guru tentang pengembangan pembelajaran sains        semesta, dan hasilnya adalah enkulturasi. De-
berbasis budaya ditemukan bahwa 90% guru            ngan kata lain, di satu sisi kom-petensi dasar
menyatakan berkeinginan untuk mengembang-           siswa akan meningkat dan di sisi lain kearifan
kan model tersebut, namun hanya 20% guru            lokal siswa tetap lestari.
yang memiliki wawasan/pengetahuan dan ke-                Metode pembelajaran yang cocok untuk di-
mampuan untuk mengembangkannya. Hal ini             gunakan dalam pembelajaran sains untuk peng-
mengindikasikan bahwa model pembelajaran            embangan kompetensi dasar sains dan nilai
berbasis budaya dapat diterima dengan baik,         kearifan lokal adalah metode/penyelidikan
meskipun wawasan dan pengetahuan mereka
                                                    ( x  4,8 ), observasi langsung ( x  4,6 ), dan
masih minim. Minimnya wawasan/pengetahuan
siswa terhadap model pembelajaran sains             diskusi/ ( x  3,8 ). Dalam penelitian ini, ketiga
berbasis budaya terletak pada kemampuan siswa       metode yang cocok digunakan secara pro-
untuk mencari contoh-contoh kejadian/peristiwa      porsional sesuai dengan strategi yang dirancang.
yang mengandung nilai kearifan lokal untuk          Ketiga metode ini yaitu metode inkuiri,
dapat diintegrasikan ke dalam silabus atau ren-     demonstrasi, dan diskusi merupakan metode
                    I Wayan Suastra, Model Pembelajaran Sains Berbasis Budaya Lokal Untuk Mengembangkan…   14


penting dan cocok diterapkan dalam pem-                jelas dalam tayangan video. Pembelajaran de-
belajaran IPA dalam upaya mengembangkan                ngan bantuan audio visual ini tentu akan
keteampilan proses sains atau sering disebut           memotivasi siswa belajar dan sudah barang tentu
keterampilan berpikir (thinking skill) (Harlen,        merangsang pikiran siswa karena mereka secara
1992; Trowbridge & Bybee, 1990; Dahar, 1989;           nyata dapat mengamati secara langsung proses-
Carin & Sund, 1975).                                   proses alamiah. Buku-buku sumber merupakan
     Sumber belajar yang cocok digunakan               sumber belajar konvensional          yang sudah
dalam pembelajaran sains bagi pengembangan             terbiasa    digunakan      para     guru   dalam
kemampuan berpikir kreatif siswa adalah ling-          pembelajaran sains merupakan hal yang wajar.
kungan alamiah dan sosial budaya ( x  4,4 ),          Adanya perubahan orientasi guru kepada sumber
                                                       internet merupakan suatu kemajuan dalam
buku-buku teks/dan buku pelajaran ( x  4,2 ),         mengembangkan pembelajaran sains berbasis
audio visual ( x  4,0 ),dan internet ( x  3,8 ).     ICT. Mengingat sumber belajar ini merupakan
Dalam penelitian untuk tahap selanjutnya,              tuntutan jaman sehingga dapat mengikuti
sumber belajar yang digunakan adalah                   perkembangan ilmu pengetahauan dan teknologi
lingkungan alamiah dan sosial, buku-buku               yang begitu cepat sehingga paling tidak dapat
pelajaran dan buku teks lainnya, audio visual,         mengikuti atau setara dengan negara-negara
dan internet. Hasil ini menunjukkan bahwa              maju dalam bidang pendidikan lainnya.
pembelajaran sains untuk siswa SMP sumber                   Sistem penilaian yang cocok untuk pem-
belajarnya yang paling sesuai adalah lingkungan        belajaran sains bagi pengembangan kompetensi
alamiah dan sosial siswa, buku-buku pelajaran          dasar sains dan nilai kearifan lokal adalah non
dan buku teks, di samping audio visual dan             tes seperti penilaian kinerja, sikap, portofolio,
internet. Lingkungan alamiah dan sosial                produk dan penilaian dengan menggunakan tes.
merupakan sumber belajar yang ada di sekitar           Ini berarti kedua bentuk penilaian dapat
siswa yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam          digunakan dalam mengembangkan kompetensi
merancang pembelajaran sesuai dengan materi            dasar dan knilai kearifan lokal dalam
pelajaran yang dibelajarkan. Melalui sumber            pembelajaran sains di SMP. Hal ini sesuai
belajar alamiah dan sosial budaya, siswa akan          dengan temuan Suastra (2006) yang mengatakan
lebih mudah menghubungkan pelajaran yang               bahwa penilaian otentik cukup efektif digunakan
sedang mereka pelajari dengan kehidupan                dalam pembelajaran sains (Fisika). Hal ini
mereka sehari-hari. Oleh karena itu, guru              mengindikasikan bahwa terdapat pergeseran
memiliki peran penting dalam merancang                 pandangan guru akan pentingnya penilaian non
kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan              tes dalam pembelajaran IPA. Selama ini dan dari
lingkungan alamiah dan sosial budaya siswa             hasil wawancara dengan guru, tes dianggap
sebagai sumber belajar. Audio visual dianggap          sebagai satu-satunya alat penilai keberhasilan
cocok dimanfaatkan dalam pembelajaran sains            belajar siswa. Dengan diterapkannya kurikulum
SMP menginggat dewasa ini sudah cukup                  tingkat satuan pendidikan, guru telah banyak
banyak media audio visual yang ada di sekolah          memperoleh wawasan melalui penataran-pena-
maupun di pasaran yang dapat dimanfaatkan              taran sehingga kesadaran akan pentingnya non
sebagai sumber belajar dalam pembelajaran              tes mulai bangkit. Hasil kuesioner penelitian ini
sains. Hal ini dibutuhkan terutama dalam               menunjukkan bahwa non tes memperoleh rerata
menjelaskan suatu fenomena yang sulit untuk            lebih tinggi dari tes. Ini berarti ada pergeseran
dilihat secara langsung, seperti peredaran darah,      pandangan tentang pentingnya non tes dalam
denyut jantung. Dengan media audio visual,             pembelajaran sains yang selama ini terabaikan.
proses kerja peredaran adarah, denyut jantung,
bayi dalam kandungan akan dapat terlihat dengan
15 Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 43, Nomor 2, April 2010, hlm. 8-16


PENUTUP                                                      dan internet. 4) Sistem penilaian yang cocok
                                                             untuk pembelajaran sains berbasis budaya untuk
     Berdasarkan hasil penelitian dan rumusan
                                                             mengembangkan kompetensi dasar sains dan
masalah, dapat disimpulkan beberapa hal seba-
                                                             nilai kearifan lokal adalah penilaian non tes
gai berikut. 1) Terdapat 11 kompetensi dasar
                                                             (kinerja, sikap, portofolio, produk) dan penilaian
(KD) yang ada di kelas VII dan VIII yang dapat
                                                             dengan tes. 5) Model konseptual pembelajaran
dikembangkan pembelajaran sains berbasis
                                                             berbasis budaya untuk mengembangkan kompe-
budaya di SMP. 2) Metode yang cocok untuk
                                                             tensi dasar dan nilai kearifan lokal meliputi lima
pembelajaran sains berbasis budaya untuk me-
                                                             tahapan yaitu: (1) kegiatan awal, (2) eksplorasi
ngembangkan kompetensi dasar sains dan nilai
                                                             (penyelidikan dari berbagai persepktif), (3) ela-
kearifan lokal adalah metode penyelidikan/
                                                             borasi, 4) konfirmasi, dan (5) kegiatan akhir.
eksperimen, observasi lapangan, dan metode
                                                             Disarankan perlu segera dilakukan kajian lebih
diskusi/tanya jawab, yang ketiganya digunakan
                                                             lanjut terhadap penelitian ini untuk mengetahui
secara proporsional dalam pembelajaran. 3)
                                                             efektivitas model pembelajaran sains berbasis
Sumber belajar yang cocok untuk mendukung
                                                             budaya untuk dapat mengembangkan kompetensi
kegiatan pembelajaran sains berbasis budaya
                                                             dasar dan kearifan lokal yang sangat dibutuhkan
adalah lingkungan alamiah dan sosial-budaya,
                                                             oleh guru sains SMP.
buku-buku pelajaran dan buku teks, audio visual,


DAFTAR RUJUKAN
Adimassana,Y.B.(2000). Revitalisasi pendidikan nilai         Jeged,O.J, Aikenhead.G, and Cobern,W. (2002)
     di dalam sektor pendidikan formal. Atmadi &                   Cultural studies in science education.
     Setiyaningsih (eds). Transformasi pendidikan                  http://www.157.80.39.44/jrp/report.htm.
     memasuki milenium ketiga. Yogyakarta: Pe-               Johnson,E.B. (2002). Contextual teaching learning.
     nerbit Kanisius                                               California: Corwin Press.
Borg,W.R & Gall,M.D (1989). Educational research.            Pelly,U (1992). Pendidikan berakar pada kebudayaan
     New York: Longman.                                             nasional. Makalah pada konvensi nasional
Budhisantoso,S.(1992).   Pendidikan     Indonesia                   pendidikan Indonesia II. Medan.
      berakar pada kebudayaan nasional. Makalah              Suastra,I W. (2005). Merekonstruksi sains asli
      pada konvensi nasional pendidikan Indonesia                   (Indigenous Science) dalam rangka mengem-
      II.Medan.                                                     bangkan pendidikan sains berbasis budaya
Cobern,W.W. Aikenhead,G.S. (1996). Cultural                         lokal di sekolah (Studi etnosains pada masya-
      Aspects of learning science. SLCSP Working                    rakat Penglipuran Bali). Disertasi. Tidak
      paper#121.http://www.wmich.edu/slcsp/ 121.                    Dipublikasikan.
      htm’.                                                  Suastra, I,W. dkk. (2006). Pengembangan asesmen
Dahar. R.W. (1989). Teori-teori belajar. Jakarta:                   otentik dalam pembelajaran Fisika di SMA.
      Penerbit Erlangga.                                            Laporan penelitian. Undiksha Singaraja.
Depdiknas (2005). Mutu pendidikan Indonesia tahun
      2003 “ Laporan trends in international mathe-          Suastra, I.W (2006). Perspektif Kultural Pendidikan
      matics and science study . Warta Balit-bang                   Sains: Belajar Sebagai Proses Inkulturasi.
      Depdiknas Vol II No. 1 Januari 2005.                          Jurnal Pendidikan dan Prngajaran Undiksha
                                                                    (Terakreditasi) . No. 3 Tahun XXXIX Juli
George.J. (2001). Culture and science education:                    2006.
     Developing world. http://www.id21.org/ educa-
                                                             Suastra. I.W (2005). Merekonstruksi Sains Asli (Indi-
     tion/e3jg1g2.html.
                                                                    genous Science) dalam Upaya Mengembang-
Harlen, W. (1992). The teaching of science. London:                 kan Pendidikan Sains Berbasis Budaya Lokal
      David Fulton Publishers.                                      di Sekolah. Jurnal Pendidikan dan Penga-
                     I Wayan Suastra, Model Pembelajaran Sains Berbasis Budaya Lokal Untuk Mengembangkan…   16


      jaran IKIP Negeri Singaraja (Terakreditasi).      Zamroni. (2000). Paradigma pendidikan masa depan.
      Volume 38 No.3, Juli 2005.                             Yogyakarta: Bigraf
Trawbridge, L & Rodger W Bybee. (1990). Becoming               Publishing.
      a secondary school science teacher. London:
      Merril Publishing Company.

								
To top