PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS IX

Document Sample
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS IX Powered By Docstoc
					     PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA
   PADA KONSEP MEMAHAMI SIFAT-SIFAT TABUNG,
KERUCUT DAN BOLA SERTA MENENTUKAN UKURANNYA
   MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IX.A
         MELALUI PENERAPAN MODEL CTL
          METODE KOOPRATIF TIPE STAD
          DI SMP NEGERI 1 AIRNANINGAN




  PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS




                           OLEH:
                   FATHURRAZI,AMa.Pd
                 NIP: 19680715 199203 1 009




   PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS
 DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
        SMP NEGERI 1 AIRNANINGAN
  Jalan Tegalsari Kecamatan Airnaningan Kabupaten Tanggamus
                           LEMBAR PENGESAHAN


Judul Penelitian       : Peningkatan aktivitas belajar siswa pada konsep
                           memahami sifat-sifat tabung, kerucut dan bola serta
                           menentukan ukurannya mata pelajaran matematika kelas
                           IX.A melalui penerapan model CTL metode
                           koopratife tipe STAD
                           di SMP Negeri 1 Airnaningan Kabupaten Tanggamus


Identitas Peneliti     :
          1. Nama                : Fathurrazi, AMa.Pd
          2. NIP:                : 19680715 199203 1 009
          3. Golongan/Ruang : Pembina / IV.a
          4. Jabatan             : Guru Mata Pelajaran Matematika
          5. Unit Kerja          : SMP Negeri 1 Airnaningan Kabupaten Tanggamus


          Lokasi Penelitian : SMP Negeri 1 Airnaningan
          Lama Penelitian        : 4 Bulan
          Biaya Penelitian       : Mandiri


                                                   Airnaningan, 23 September 2010
                                                   Peneliti,



                                                   Fathurrazi, AMa.Pd
                                                   NIP: 19680715 199203 1 009

                                                   Mengesahkan,
     Pengawas Satuan Pendidikan                    Kepala Sekolah



     Drs. Gembong Sumadiyanto, M.Pd                Sulham Saleh, S.Pd
     NIP: 19660605 199403 1 012                    NIP: 19531112 198402 1 003
                           KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah, SWT yang telah mencurahkan karunia dan hidayahNya
sehingga penulis dapat meneyelesaikan Proposal Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) ini, walaupun tidak sedikit mendapatkan halangan dan rintangan.
Kegiatan penelitian ini sedianya akan dilaksanakan selama empat bulan sejak
bulan September sampai dengan bulan Desember 2010. Kegiatan dimulai dari
Penyusunan     Rencana     Perbaikan    Pembelajaran,   Pelaksanaan     Perbaikan
Pembelajaran dan Penyusunan Laporan. Seluruh rangkaian kegitan tersebut
dilaksanakan pada Proses Pembelajaran semester 1 tahun pelajaran 2010/2011,
dalam rangka memenuhi persyaratan untuk kenaikan pangkat.
Berkenaan dengan penyusunan Proposal ini izinkanlah penulis mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis sehingga laporan
ini dapat terselesaikan terutama kepada :
      1. Bapak Drs. Gembong Sumadiyono, M.Pd, sebagai pembimbing
          sekaligus Pengawas Pembina Satuan Pendidikan SMP Negeri 1
          Airnaningan Kabupaten Tanggamus
      2. Bapak Sulham Saleh, S.Pd selaku Kepala SMP Negeri 1 Airnaningan
      3. Seluruh guru SMP Negeri 1 Airnaningan, sebagai observer sekaligus
          teman sejawat yang telah bekerja sama dalam pelaksanaan perbaikan
          pembelajaran di kelas.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Proposal ini masih banyak kekurangan,
untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi
sempirnanya penyusunan proposal ini.
Akhirnya semoga Proposal ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.


                                            Airnaningan,   September 2010
                                            Peneliti,



                                            Fathurrazi, A.Ma.Pd
                                            NIP: 19680715 199203 1 009
                               DAFTAR ISI


JUDUL PENELITIAN
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

   A.   Latar Belakang Masalah
   B.   Perumusan Masalah dan Cara Pemecahannya
   C.   Tujuan Penelitian
   D.   Manfaat Penelitian

BAB II KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN

   A.   Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
   B.   Karakteristik PTK
   C.   Pembelajaran Kontekstual
   D.   Karakteristik Pembelajaran CTL
   E.   Pembelajaran Matematika
   F.   Hipotesis Tindakan

BAB III METODE PENELITIAN
  A. Subyek Penelitian
  B. Jadwal Pelaksanaan
  C. Rencana dan Deskripsi Tindakan (Siklus)
  D. Metode Pengumpulan Data
  E. Metode Analisis

Lampiran-Lampiran
    Daftar Pustaka
    Riwayat Hidup Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti
                                     BAB I
                               PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Dalam pembelajaran di kelas diharapkan siswa-siswi bisa melakukan penyesuaian

yang baik dalam situasi belajar seoptimal mungkin sesuai potensi-potensi, bakat

dan kemampuan yang ada pada nya. Pandangan seorang tentang belajar akan

mempengaruhi     tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan belajar dan

setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang belajar.

Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, kita dihadapkan dengan sejumlah

karekteristik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh

kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun

disisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami

berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-

hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis,

sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan

prestasi belajar yang dicapainya berada dibawah semestinya.

Proses pembelajaran yang baik dan peran guru sangat penting dalam

meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pujian ( penguatan)

atau respon positif guru terhadap prilaku siswa akan membuat siswa merasa

senang, dan kreativita guru dalam memilih metode mengajar yang tepat akan

sangat berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa didalam kelas.
Pada Pra-iklus    yang dilakukan di kelas IX.A SMP Negeri 1 Airnaningan

Kabupaten Tanggamus mata pelajaran Matematika                semester pertama tahun

pelajaran 2010/2011 tentang” Memahami sifat-sifat tabung, kerucut dan bola

serta menentukan ukurannya “ yang menunjukan rendahnya tingkat penguasaan

siswa terhadap materi tersebut. Seperti yang tercantum pada Tabel 1.


        Tabel. 1 Sebaran Nilai Hasil Uji Matematika Tahun Pelajaran 2010/2011
                                  JUMLAH         PROSENTASE PROSENTASE
   No            NILAI
                                    SISWA              (%)            LULUS (%)
    1            10 – 8                -                 0                  0
    2             8–6                 10               25,0                25%
    3             6–4                 25               62,5                 0
    4             < 4                  5               12,5                 0
           JUMLAH                  40 Siswa           100 %                25%


Berdasarkan table diatas, yang digambarkan belum memenuhi syarat kompeten.

Siswa yang mendapat nilai 8 – 10 sebanyak 0 siswa, mendapat nilai 6 – 8

sebanyak 10 siswa, yang mendapat nilai 4 – 6 sebanyak 25 siswa dan yang

mendapat nilai dibawah 4 sebanyak 5 orang.Dengan demikian jumlah siswa yang

mendapat nilai lebih dari 6 sebanyak 10 siswa ( 25% ) sedangkan 30 orang (75%)

siswa lainnya belum dapat menguasai materi tersebut.

Jika dilihat dari aktivitas siswa, siswa kurang antusias mendengarkan dan

memperhatikan penjelasan guru, jarang sekali siswa mengajukan pertanyaan atau

memberikan respon terhadap penjelasan guru, wlaupun sudah diberikan

sesempatan yang seluas-luasnya oelh guru.
Masalah    lain yang timbul yang tidak disadari oleh guru adalah adanya

pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang menarik perhatian siswa hal ini

kemungkinan disebabkan oleh materi / bahan ajar, metode dan penguasaan kelas

serta yang tidak kalah pentingnya adalah media pembelajaran yang sangat

berpengaruh atas jalannya proses pembelajaran itu sendiri.



Melalui diskusi dengan teman sejawat dan nara sumber, observasi lapangan

disimpulkan bahwa factor peneyebab rendahnya aktifitas belajar dan prestasi hasil

belajar siswa diantaranya:

     a.    Keterbatasan guru dalam menggunakan model-model pembelajaran,

           guru tidak menggunakan alat praga, atau contoh-contoh secara nyata,

           tidak

          menggunakan media pembelajaran, sehingga proses pembelajaran

          cenderung monoton, kurang menyenangkan dan memboseankan.

      b. Siswa     tidak     terlibat   langsung   dalam   pembelajaran,   proses

          pembelajaran masih berpusat pada guru ( Teacher Centre )

      c. Guru kurang memberikan penguatan ( pijian / respon positip ) kepada

          siswa

      d. Guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional



Dari hasil observasi dan pengamatan awal dapat dilihat bahwa aktivitas siswa

dalam pembelajaran sangat kurang. Hal ini terlihat dalam proses pembelajaran,

sebagian besar siswa mengantuk, melakukan kegiatan lain atau mengobrol dengan

kawan sebangkunya saat pembelajaran berlangsung.
Mengingat pentingnya mata pelajaran tersebut, maka peneliti mengharapkan

setidaknya 70 % siswa dapat menguasai materi pelajaran matematika. ( ≥ 6 ).



B. Rumusan Masalah dan Pemecahannya
Berdasarkan uraian diatas, untuk meningkat aktivitas siswa dalam proses

pembelajaran dan penguasaan terhadap materi pelajaran Matematika,             maka

penulis menganggap penting untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran,

perbaikan metode pembelajaran dengan pendekatan CTL Model Koopratif tipe

STAD dengan menggunakan “ Lembar Kerja Kelompok ( LKK) dan metode

Diskusi Kelompok “ untuk meningkatkan penguasaan konsep Mengidentifikasi

Sifat-sifat Tabubg, Kerucut dan Bola serta Menentukan ukurannya pada mata

pelajaran Matematika, dengan harapan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa

yang bermuara pada prestasi hasil belajar pada mata pelajaran tersebut melalui

penelitian tindakan kelas.

Berdasarkan uraian diatas yang menjadi focus permasalahan adalah:

      Bagaimanakah meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam memahami

      konsep Memahami sifat-sifat tabung, kerucut dan bola serta menentukan

      ukurannya pada pembelajaran matematika ?



Pada pembelajaran Matematika, untuk menjawab pertanyaan diatas, perlu kita

coba fokuskan dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut :

   a. Bagaimanakah aktivitas dan hasil belajar siswa         memahami konsep

       Mengidentifikasi sifat-sifat tabung, kerucut dan bola serta menentukan

       ukurannya sebelum perbaikan pembelajaran ?
   b. Bagaimanakah aktivitas dan hasil belajar siswa       memahami konsep

       Mengidentifikasi sifat-sifat tabung, kerucut dan bola serta menentukan

       ukurannya setelah perbaikan pembelajaran ?

  c. Seberapa besar perbedaan aktivitas dan hasil belajar siswa sebelum

       perbaikan pembelajaran dan sesudah perbaikan pembelajaran ?



Dengan menganalisis beberapa pertanyaan diatas, maka dapat dirumuskan suatu

masalah dengan suatu pertanyaan pada penelitian ini :

       Apakah dengan menggunakan Model CTL Metode Koopratif Tipe STAD
       dan Lembar Kerja Kelompok (LKK) Materi Memahami sifat-sifat tabung,
       kerucut dan bola serta menentukan ukurannya pada mata pelajaran
       matematika dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi hasil belajar siswa
       kelas IX.A SMP Negrri 1 Airnaningan Kbupaten Tanggamus ?


C. Tujuan Penelitian
Tujuan perbaikan proses pembelajaran Matematika materi Mengidentifikasi sifat-

sifat tabung, kerucut dan bola serta menentukan ukurannya di kelas IX,A SMP

Negeri 1 Airnaningan dengan berbagai masalah yang ada, diantaranya :



   1. Mengetahui aktivitas       dan hasil belajar siswa pada pembelajaran

       matematika materi Mengidentifikasi sifat-sifat tabung, kerucut dan bola

       serta mengetahui ukurannya sebelum perbaikan pembelajaran

   2. Mengetahui aktivitas       dan hasil belajar siswa pada pembelajaran

       matematika materi Mengidentifikasi sifat-sifat tabung, kerucut dan bola

       serta mengetahui ukurannya        dengan menggunakan Lembar Kerja

       Kelompok (LKK) dan pendekatan CTL Model Koopratif tipe STAD
   3. Mengetahui seberapa besar perbedaan aktivitas dan hasil belajar siswa

       pada pembelajaran matematika materi Mengidentifikasi sifat-sifat tabung,

       kerucut dan bola serta menentukan ukurannya sebelum dan sesudah

       perbaikan    dengan menggunakan Lembar Kerja Kelompok (LKK) dan

       Model CTL Metode Koopratif tipe STAD.



D. Manfaat Penelitian
Banyak aspek yang dapat diambil oleh guru, siswa dan sekolah dengan adanya

perbaikan pembelajaran, diantaranya:

Bagi siswa :

     1. Dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa yang maksimal.

     2. Menanamkan rasa tanggung jawab dan kerja sama antar siswa dalam

        kelompok

     3. Menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa.

Bagi guru :

     1. Dapat mengembangkan dan meningkatkan keterampilan dalam proses

        pembelajaran yang baik sesuai dengan karakteristik siswa.

     2. Dapat      meningkatkan     kinerja   guru   dalam   menerapkan   strategi

        pembelajaran

     3. Memelihara      iklim     kelas   yang   kondusif    selama   pelaksanaan

        pembelajaran.

Bagi sekolah :

     Dapat menambah wahana pembelajaran menjadi lebih variatif sehingga

     mampu memajukan proses pembelajaran dan pendidikan dilingkungan
sekolah sendiri khususnya dan pendidikan Nasional umumnya di masa yang

akan datang.
                                  BAB II
             KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN


A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas   (PTK) akhir-akhir ini telah menjadi trend untuk

dilakukan oleh guru sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan kualitas

pembelajaran.Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu jenis penelitian yang

dilakukan oleh guru untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelasnya.

Menurut Suharsimi (2002) bahwa PTK merupakan paparan gabungan defenisi

dari tiga kata “ penelitian, tindakan dan kelas.”. Peneliti adalah kegiatan

mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk

memperoleh data atau informasi yang bermanfaat bagi peneliti atau orang-orang

yang berkepentingan dalam rangka peningkatan kualitas diberbagai bidang.

Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang disengaja dilakukan dengan tujuan

tertentu yang dalam pelaksanaannya berbentuk rangkaian periode / siklus

kegiatan. Sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama

dan tempat yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru yang

sama. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan terjemhan dari Classroom

Action    Research yaitu suatu Action Reaseach (penelitian tindakan) yang

dilakukan di kelas.

Menurut John Elliot ( 1982 ) bahwa PTK adalah tentang situasi social dengan

maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalannya. Seluruh proses

mencakup telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan
pengaruh yang menciptakan hubungan antara evaluasi diri dengan perkembangan

professional.

Pendapat lain, Kemmis dan Mc Taggart (1988) mengatakan bahwa PTK adalah

suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam

situasi social untuk meningkatkan penalaran dan praktik social. Sedangkan Carr

dan Kemmis menyatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang

dilakukan oleh para partisipan ( guru, siswa, atau kepala sekolah) dalam situasi

social ( termasuk pendidikan ) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran

dari: a) praktik-praktik social atau pendidikan yang dilakukan sendiri, b)

pengertian dari praktik-praktik tersebut, c) situasi-situasi(lembaga-lembaga)

tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan ( Hardjodiputro, 1997)

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa

PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui

refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas,

sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Dengan demikian, PTK berfokus

pada kelas atau proses pembelajaran yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas

(silabus, materi, dan lain-lain) ataupun output ( hasil belajar). PTK harus tertuju

atau mengkaji mengenai hal-hal yang terjadi didalam kelas.



B. Karakteristik PTK
Berdasarkan pengertian di atas, kita dapat memperoleh cirri atau karakteristik dari

PTK dibandingkan dengan penelitian lain, yaitu :

    1. Masalah pada Ptk muncul dari kesadaran pada diri guru, yang harus

        diperbaiki dengan prakarsa perbaikan dari guru itu sendiri, bukan oleh
       orang dari luar.Dengan demikian, masalah dalam PTK berasal dari

       permasalahan nyata dan actual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas.

       Dengan kata lain, PTK berfokus pada masalah praktis bukan problem

       teoritis.

   2. PTK merupakan penelitian yang dilakukan melalui refleksi diri ( self

       reflective inquiri).

   3. PTK dilakukan didalam kelas, focus penelitian ini adalah kegiatan

       pembelajaran di kelas yang berupa prilaku guru dan siswa dalam

       berinteraksi.

   4. PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan

       secara bertahap dan terus menerus selama PTK dilakukan. Oleh sebab itu,

       dalam PTK dikenal adanya siklus tindakan yang meliputi: perencanaan –

       pelaksanaan – observasi – reflaksi – revisi (perencanaan ulang).

   5. PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembanga profedionalisme

       guru, karena PTK mampu membelajarkan guru untuk berpikir kritis dan

       sistematis, mampu membiasakan guru untuk menulis dan membuat

       catatan.

Berdasarkan pengertian dan karateristik PTK diatas, dalam PTK harus ada

tindakan yang dirancang sebelumnnya dan objek PTK harus merupakan sesuatu

yang aktif dan dapat dikenal aktivitasnya. Di samping itu, karena PTK

menggunakan kegiatan nyata di kelas, maka PTK menuntut etika antara lain :

a) tidak boleh mengganggu proses pembelajaran dan mengganggu tugas guru, b)

jangan terlalu menyita banyak waktu terutama dalam pengambilan data, c)
masalah yang dikaji harus merupakan masalah yang benar-benar terjadi dan

dihadapi oleh guru, d) dilaksanakan dengan selalu memegang etika kerja.



C. Pembelajaran Kontekstual ( Contextual Teaching and Learning / CTL)
Pandangan tentang belajar juga diartikan sebagai penambah, perluasan,

danpendalaman pengetahuan, nilai dan sikap serta keterampilan, secara

konseptual.

Fontana(1981) mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan yang relative

tetap dalam prilaku individu sebagai hasil darisuatu pengalaman.

S. Nasution ( 1982:38) berpendapat : “ a) belajar adalah perubahan-perubahan

dalam system urat syaraf, b) belajar adalah penambahan pengetahuan, c) belajar

sebagai perubahan kelakuan berkat pengalaman”

Menurut pakar psikologi belajar sebagai proses psikologi individu dalam

intraksinya dengan lingkungan secara alami. Pengertian belajar yang cukup

komprehensif diberikan oleh Gell Gredler (1986:1) yang menyatakan bahwa

belajar adalah proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam

kemampuan, keterampilan dan sikap.

Pembelajaran Kontektual ( Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan

suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa untuk

memahami makna pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi

tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari ( kontek pribadi, social,

dan cultural ) sehingga siswa memilikipengetahuan/keterampilan yang secara

fleksibel dapat diterapkan( ditransper) dari satu permasalahan/konteks ke

permasalahan/konteks lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia

nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka

sebagai anggota keluarga dan mesyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran

diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih

alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transper

pengetahuan dari guru ke siswa.

Pembelajaran kontektual dengan kontruktivisme dipandang sebagai salah satu

strategi yang memenuhi prinsif-prinsif pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan

lima strategi pembelajaran kontektual ( contextual teaching and learning), yaitu

relating, experiencing, applying,cooprating dan transferrini diharapkan peserta

didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.

Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.

Guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas

guru mengelole kelas segai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan

sesuatu yang baru bagi anggota kelas(siswa). Sesuatu yang baru datang dari

menemukan sendiri bukan bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru dikelas

yang dikelola dengan pendekatan kontektual.

Pembelajaran Kontektual ( Contextual Teaching and Learning/CTL)          adalah

konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya

dengan situasi dunia nyata   siswa dan mendorong siswa membuat hubungan

antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan

mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama        pembelajaran
efektif, yaitu: kontruktivisme / contructivism, bertanya / questioning, menemukan

/ inquiri, masyarakat belajar / learning community, pemodelan / modeling, dan

penilaian sebenarnya / authentic assessment.



D. Karakteristik Pembelajaran CTL
    1.   Kerja sama

    2.   Saling menunjang

    3.   Menyenangkan tidak membosankan

    4.   Belajar dengan bergairah

    5.   Pembelajaran terintegrasi

    6.   Menggunakan berbagai sumber

    7.   Siswa aktif

    8.   Sharing dengan teman

    9.   Siswa kritis guru kreatif

    10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-

         peta,artikel, humor dan lain-lain.

    12. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapot tetapi hasil karya

         siswa,laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.

Dalam pembelajaran kontektual, ppembelajaran lebih merupakan rencana

kegiatan yang dirancang guru, yang berisi scenario tahap demi tahap tentang apa

yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topic yang akan

dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk

mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran,

dan penilaian sebanarnya.
Dalam kontek itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi

tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada

perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan

program pembelajaran kontektual. Program pembelajaran konvensional lebih

menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai ( jelas dan oprasional),

sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada

scenario pembelajarannya.



Beberapa komponen utama dalam pembelajaran kontekstual menurut Johnson (

2000:65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:

1)   Melakukan hubungan yang bermakna

     Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran

     dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata

     pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam, atau sejarah dengan

     pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna

     memberi mereka alas an untuk belajar. Mengakaitkan pembelajaran dengan

     kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadoi hidup dan

     keterkaitan inilah inti dari CTL.

2) Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti

     Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran

     yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka

     dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.

3) Belajar ayng diatur sendiri
    Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif,

    mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan

    kehidupan    sehari-hari     dengan   cara-cara   yang   berarti   bagi   siswa.

    Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa

    menggunakan gaya belajarnya sendiri.

4) Bekerjasama

    Siswa dapat bekerjasama. Guru membantu siswa bekerjasama secara efektif

    dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling

    mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

5) Berpikir kritis dan kreatif

    Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan

    berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis

    adalah suatu kecakapan nalar secara teratur,kecakan sistematis dalam

    menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan,

    menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu

    kegiatan mental untuk meningkatkan kemurniaan, ketajaman pemahaman

    dalam mengembangkan sesuatu.

6) Mengasuh atau memelihara pribadi siswa

    Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan

    kemampuan-kemampuan intlektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-

    aspek keperibadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin,

    motif berprestasi, dan sebagainya. Guru dalam pembelajaran kontekstual
    juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan

    dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.

7) Mencapai standar ayng tinggi

    Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal,

    mencapai keunggulan. Tiap siswa bias mencapai keubggulan, asalkan bias

    dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi kekuatannya.

8) Menggunakan penilaian yang otentik

    Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan

    keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu.

    Penilaian autentik merupan antitesis dari ujian standar, penilaian autentik

    memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik

    mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.



E. Pembelajaran Matematika
1. Karakteristik Mata Pelajaran

   Penyelenggaraan pembelajaran matematika tidaklah mudah karena fakta

   menunjukkan bahwa para siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari

   matematika (Jaworski, 1994). Agar pembelajaran matematika sesuai dengan

   harapan maka perlu kiranya dibedakan antara matematika dan matematika

   sekolah.

   1. Hakekat dan Karakteristik Matematika Sekolah

   Pandangan tentang hakekat dan karakteristik matematika sekolah akan

   memberikan karakteristik mata pelajaran matematika secara keseluruhan.
Ebbutt dan Straker (1995: 10-63) mendefinisikan matematika sekolah yang

selanjutnya disebut sebagai matematika, sebagai berikut :

a. Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan

   Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah

   guru perlu: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan

   kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan

   hubungan, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan

   percobaan dengan berbagai cara, (3) mendorong siswa untuk menemukan

   adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan, dsb, (4)

   mendorong siswa menarik kesimpulan umum, (5) membantu siswa

   memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan yang

   lainnya.



b. Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi

   dan penemuan

   Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah

   guru perlu : (1) mendorong inisiatif siswa dan memberikan kesempatan

   berpikir berbeda, (2) mendorong rasa ingin tahu, keinginan bertanya,

   kemampuan      menyanggah      dan    kemampuan      memperkirakan,   (3)

   menghargai penemuan yang diluar perkiraan sebagai hal bermanfaat

   daripada menganggapnya sebagai kesalahan, (4) mendorong siswa

   menemukan struktur dan desain matematika, (5) mendorong siswa

   menghargai penemuan siswa yang lainnya, (6) mendorong siswa berfikir
   refleksif, dan (7) tidak menyarankan hanya menggunakan satu metode

   saja.



c. Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah (problem solving)



   Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah

   guru perlu: (1) menyediakan lingkungan belajar matematika yang

   merangsang timbulnya persoalan matematika, (2) membantu siswa

   memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri, (3)

   membantu     siswa    mengetahui    informasi    yang      diperlukan   untuk

   memecahkan persoalan matematika, (4) mendorong siswa untuk berpikir

   logis,   konsisten,    sistematis    dan        mengembangkan           sistem

   dokumentasi/catatan, (5) mengembangkan kemampuan dan ketrampilan

   untuk memecahkan persoalan, (6) membantu siswa mengetahui bagaimana

   dan kapan menggunakan berbagai alat peraga/media pendidikan

   matematika seperti : jangka, penggaris, kalkulator, dsb.



d. Matematika sebagai alat berkomunikasi

   Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah

   guru perlu: (1) mendorong siswa mengenal sifat-sifat matematika, (2)

   mendorong siswa membuat contoh sifat matematika, (3) mendorong siswa

   menjelaskan sifat matematika, (4) mendorong siswa memberikan alasan

   perlunya kegiatan matematika, (5) mendorong siswa membicarakan
   persoalan matematika, (6) mendorong siswa membaca dan menulis

   matematika, (7) menghargai      bahasa ibu siswa dalam membicarakan

   matematika.

2. Klasifikasi Materi Pembelajaran Matematika

Untuk semua jenjang pendidikan, materi pembelajaran matematika meliputi

(Ebbutt dan Straker, 1995) :

a. Fakta (facts), meliputi: (1) informasi,    (2) nama, (3) istilah dan (4)

   konvensi tentang lambang-lambang.

b. Pengertian (concepts), meliputi: (1) struktur pengertian, (2) peranan

   struktur pengertian, (3) berbagai macam pola, urutan,          (4) model

   matematika, (5) operasi dan algoritma.

c. Keterampilan penalaran, meliputi: (1) memahami pengertian , (2)

   berfikir logis, (3) memahami contoh negatif, (4) berpikir deduksi, (5)

   berpikir induksi, (6) berpikir sistematis dan konsisten, (7) menarik

   kesimpulan, (8) menentukan metode dan membuat alasan, dan (9)

   menentukan strategi.

d. Keterampian algoritmik, meliputi: (1) keterampilan untuk memahami dan

   mengikuti langkah yang dibuat orang lain, (2) merancang dan membuat

   langkah, (3) menggunakan langkah, (4) mendefinisikan dan menjelaskan

   langkah sehingga dapat dipahami orang lain, (5) membandingkan dan

   memilih langkah yang efektif dan efisien, serta (6) memperbaiki langkah.
   e Keterampilan menyelesaikan masalah matematika (problem solving)

      meliputi: (1) memahami pokok persoalan, (2) mendiskusikan alternatif

      pemecahannya, (3) memecah persoalan utama menjadi bagian-bagian

      kecil, (4) menyederhanakan persoalan, (5) menggunakan pengalaman

      masa lampau dan menggunakan intuisi untuk menemukan alternatif

      pemecahannya, (6) mencoba berbagai cara, bekerja secara sistematis,

      mencatat apa yang terjadi, mengecek hasilnya dengan mengulang kembali

      langkah-langkahnya, dan (7) mencoba memahami dan menyelesaikan

      persoalan yang lain.

    f. Keterampilan melakukan penyelidikan (investigation), meliputi: (1)

      mengajukan pertanyaan dan mencari bagaimana cara memperoleh

      jawabannya, (2) membuat dan menguji hipotesis, (3) mencari dan

      menentukan informasi yang cocok dan memberi penjelasan mengapa suatu

      informasi diperlukan, (4) mengumpulkan, mengelompokkan, menyusun,

      mengurutkan dan membandingkan serta mengolah informasi secara

      sistematis, (5) mencoba metode alternatif, (6) mengenali pola dan

      hubungan, dan (7) menyimpulkan.



2. Karakteristik Peserta Didik

   1. Perkembangan Aspek Kognitif

   Ebbutt dan Straker (1995: 60-75), memberikan pandangannya bahwa agar

   potensi siswa dapat berkembang dan mempelajari matematika secara optimal,
asumsi tentang karakteristik subjek didik dan impikasi terhadap pembelajaran

matematika diberikan sebagai berikut:

a. Murid akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai
   motivasi
   Implikasi pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah guru

   perlu : (1) menyediakan kegiatan yang menyenangkan, (2) memperhatikan

   keinginan siswa, (3) membangun pengertian melalui apa yang diketahui

   oleh siswa, (4) menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan

   belajar, (5) memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran,

   (6) memberikan kegiatan yang menantang, (7) memberikan kegiatan yang

   memberikan harapan keberhasilan,      (8) menghargai setiap pencapaian

   siswa.

b. Murid mempelajari matematika dengan caranya sendiri
   Pernyataan tersebut mengandung makna: (1) siswa belajar dengan cara

   yang unik dan kemungkinan berbeda dengan teman yang lain, (2) tiap

   siswa memerlukan pengalaman tersendiri yang terhubung dengan

   pengalamannya di waktu lampau, (3) tiap siswa mempunyai latar belakang

   sosial-ekonomi-budaya yang berbeda. Oleh karena itu, implikasi terhadap

   pembelajaran matematika adalah guru perlu: (1) mengetahui kelebihan dan

   kekurangan para siswanya, (2) merencanakan kegiatan yang sesuai dengan

   tingkat kemampuan siswa, (3) membangun pengetahuan dan ketrampilan

   siswa baik yang dia peroleh di sekolah maupun di rumah, (4)

   menggunakan catatan kemajuan siswa (assessment)
c. Murid mempelajari matematika baik secara mandiri maupun melalui
   kerja sama dengan temannya

   Implikasi pandangan ini bagi pembelajaran matematika adalah guru perlu:

   (1) memberikan kesempatan belajar dalam kelompok untuk melatih

   kerjasama,    (2) memberikan kesempatan belajar secara klasikal untuk

   memberi kesempatan saling bertukar gagasan,           (3) memberikan

   kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatannya secara mandiri,

   (4) melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan tentang kegiatan yang

   akan dilakukannya, dan (5) mengajarkan bagaimana cara mempelajari

   matematika.



d. Murid memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam
   mempelajari matematika

   Implikasi pandangan ini bagi pembelajaran matematika adalah guru perlu:

   (1) menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga, (2) memberi

   kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan, (3)

   memberikan kesempatan menggunakan matematika untuk berbagai

   keperluan, (4) mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai

   alat untuk memecahkan problematika baik di sekolah maupun di rumah,

   (5) menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni dalam pengembangan

   matematika, dan (6)      membantu    siswa menilai sendiri    kegiatan

   matematikanya.



2. Hierarki Aspek Afektif
 Ada beberapa penggolongan (taksonomi) aspek afektif, misalnya taksonomi

 oleh Krathwhol, dkk (1981) dan taksonomi oleh Wilson (1971). Hierarki

 kategori aspek afektif menurut Krathwhol meliputi menerima keadaan

 (receiving), merespon (responding), pembentukan nilai (valuing), organisasi

 dan karakterisasi. Hierarki tersebut tampak seperti pada diagram berikut:




                                        Karakter      Karakterisasi
                                                      Perangkat
                                                      tergeneralisasi
                                 Organisasi     Organisasi nilai
                                                Konseptualisasi nilai        s
                       Nilai          Komitmen                               i
                                      Preferensi nilai                m      k
                                      Penerimaan nilai                i      a
             Respon       Kepuasan merespon                           n      p
                          Kemauan untuk merespon                      a
                          Kesudian untuk merespon                     t
Penerimaan    Perhatian terpusatkan
              Kesudian untuk menerima
              Kesadaran

 Menurut Krathwhol aspek sikap muncul bila ada komitmen, preferensi nilai,

 penerimaan nilai, kepuasan merespon dan kemauan untuk merespon dari

 seseorang. Aspek minat muncul bia ada preferensi nilai, penerimaan nilai,

 kepuasan merespon, kemauan untuk merespon, kerelaan untuk merespon,

 perhatian terpusatkan, kerelaan untuk menerima dan kesadaran dari seseorang.

 Proses internaisasi terjadi bila aspek-aspek taksonomi tersebut menyatu secara

 hierekis.
   Menurut Paul ( 1963: 519) sikap merupakan suatu kesiapan individu untuk

   bereaksi sehingga merupakan disposisi yang secara relatif tetap yang telah

   dimiliki melalui pengalaman yang berlangsung secara reguler dan terarah.

   Krech (1962 : 139) menyatakan bahwa sikap merupakan suatu sistem yang

   terdiri dari komponen kognitif, perasaan dan kecenderungan untuk bertindak.

   Sikap merupakan tingkat perasaan positif atau negatif yang ditujukan ke

   objek-objek psikologi. Dengan demikian sikap kecenderungan perasaan

   terhadap objek psikologi yakni sikap positif dan sikap negatif sedangkan

   derajat perasaan dimaksudkan sebagai derajat penilaian terhadap objek.



   3. Perkembangan Aspek Psikomotorik
  Di samping aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek ketrampilan motorik (

   unjuk kerja)juga mempunyai peranan yang tak kalah penting untuk

   mengetahui keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan.Dalam

   kegiatan ini siswa diminta mendemonstrasikan kemampuan dan ketrampilan

   melakukan kegiatan fisik misalnya melukis segitiga, melukis persegi, melukis

   lingkaran, dsb. Untuk mengetahui tingkat ketrampilan siswa, perlu penilai

   dapat menggunakan lembar pengamatan.



3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas IX, Semester 1

    Standar Kompetensi                       Kompetensi Dasar

 Geometrid an pengukuran
                                  1.1 Mengidentifikasi bangun     datar     yang
  1. Memahami kesebangunan            sebangun dan konruen
     bangun datar dan            1.2 Mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga
     penggunaannya dalam             sebangun dan konruen
     pemecahan masalah           1.3 Menggunakan konsep kesebangunan
                                     segitiga dalam pemecahan masalah
                                 2.1 Mengidentifikasi unsure-unsur tabung,
  2. Memahami sifat-sifat            kerucut dan bola
      tabung, kerucut dan bola   2.2 Menghitung luas selimut dan volum
      serta menentukan               tabung , kerucut dan bola
     ukurannya                   2.3 Memecahkan masalah yang berkaitan
                                     dengan tabung, kerucut dan bola.
 Statistika dan peluang          3.1 Menentukan rata-rata, median dan modus
                                      data tunggal serta penafsirannya
 3. Melakukan pengolahan dan     3.2 Menyajikan data dalam bentuk table dan
    penyajian data                    diagram batang, garis dan lingkaran
                                 4.1 Menentukan       ruang     sample    suatu
 4. Memahami peluang dan             percobaan
    kejadian sederhana           4.2 Menentukan peluang suatu kejadian
                                     sederhana



F. Hipotesis Tindakan
Hipotesis Tindakan dalam PTK ini adalah :
      “Dengan menggunakan Model CTL Metode Koopratif Tipe STAD dan
      Lembar Kerja Kelompok (LKK) Materi Memahami             sifat-sifat tabung,
      kerucut dan bola serta menentukan ukurannya pada mata pelajaran
      matematika dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi hasil belajar siswa
      kelas IX.A SMP Negrri 1 Airnaningan Kbupaten Tanggamus ?”
                                       BAB III
                            PROSEDUR PENELITIAN


A. Subyek Penelitian
Tempat perbaikan pembelajaran dilaksanakan di SMP Negeri 1 Airnaningan,

Kecamatan Airnaningan Kabupaten Tanggamus. Adapun yang menjadi subyek

penelitian adalah siswa kelas IX.A yang berjumlah 40 orang siswa.



B. Jadwal Pelaksanaan
Pelaksanaan Pembelajaran Mulai tanggal 28 september 2010 s.d 27 januari 2011

seperti pada jadwal berikut :

                    Tabel 2. Jadwal Kegiatan Pembelajaran Matematika
  No
           Hari / Tanggal         Mata Pelajaran      Siklus           Fokus Masalah

        Selasa                                        Siklus    Aktivitas siswa dalam
 1                               Matematika
        28-9-2010                                     ke I      belajar
                                                                Penggunaan Lembar
        Selasa                                        Siklus
 2                               Matematika                     Kerja Siswa ( LKS),
        5-10-2010                                     ke II
                                                                aktifitas dalam belajar
                                                                Penggunaan Lembar
                                                                Kerja Siswa (LKS),
        Selasa                                        Siklus
 3                               Matematika                     metode CTL tipe
        12-10-2010                                    ke III
                                                                STAD, aktifitas dan
                                                                hasil belajar

C. Rencana dan Deskripsi Tindakan ( Siklus )
Dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas, sejumlah kegiatan dilaksanakan

secara berulang-ulang mulai dari tahapan perencanaan, tahap orientasi
pelaksanaan dan observasi, tahap refleksi dan revisi yang merupakan serangkaian

kegiatan yang utuh.

Pada pelaksanaan tindakan ini, adapun secara umum langkah-langkah yang

ditempuh oleh peneliti dalam pembelajaran mata pelajaran matematika :

   1) Guru melakukan apersepsi pada awal kegiatan dan memotivasi siswa,

       sebagai masukan pengetahuan awal siswa tentang materi apa yang telah

       dikuasainya.

   2) Menyampaikan tujuan pembelajaran dengan maksud dan arah tujuan yang

       jelas tentang materi yang akan dipelajari oleh siswa.

   3) Menggunakan beberapa metode dan pendekatan pembelajaran, seperti

       metode diskusi( membagi kelompok ), metode CTL disertai pembahasan

       singkat materi pelajaran dengan menghadirkan dan menggunakan alat

       bahan ajar yang telah disiapkan dengan menggunakan variasi beberapa

       metode tersebut diatas.

   4) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencatat rangkuman pelajaran

       dan menyimpulkan tentang materi yang dibahas secara bersama-sama,

       guru dan siswa.

   5) Melakukan evaluasi dan tindak lanjut berupa penugasa (PR)



Secara rinci dapat digambarkan seperti pada Gambar Siklus berikut :
 Gambar 1, Rencana Siklus


       R1                P1
                                                                    Tindakan I
                                                                     Siklus I

       DI



                 R2                P2
                                                                    Tindakan II
                                                                     Siklus II

                 D2


                              R3          P3                     Tindakan III
                                                                   Siklus II

                              D3
                                                        Tindakan selanjutnya

Keterangan :
PI    : Rencana Siklus 1 (penyusunan RPP}
D1    : Pelaksanaan dan pengamatan pembelajaran siklus I
R1    : Refleksi masalah di pelaksanaan pembelajaran siklus I
P2    : Rencana perbaikan pembelajaran RPP 2 (Siklus II)
D2    : Pelaksanaan perbaikan dan pengamatan pembelajara 2 (Siklus II)
R2    : Refleksi masalah di pelaksanaan pembelajara 2 ( Sklus II)
P3    : Rencana perbaiakn pembelajaran RPP 3 ( Siklus III)
D3    : Pelaksanaan perbaiakan dan pengamatan pembelajaran RPP 3 ( siklus III)
R3    : Refleksi masalah dipelaksanaan pembelajaran RPP 3 ( Siklus III)
       untuk per baikan selanjutnya.
Siklus I
Kegiatan disajikan dalam bentuk tabelaris.
1) Tahap Perencanaan

   1) Merencanakan jumlah siklus yang akan dilaksanakan dan waktu

       pelaksanaan pembelajaran

   2) Memilih dan menentukan teman sejawat yang akan membantu melakukan

       observasi terhadap kegiatan yang dilakukan peneliti

   3) Menyiapkan seluruh rancangan Rencana Pelaksaan Pembelajaran (RPP)

       dan memilih sumber belajar atau bahan ajar

   4) Menyiapkan intrumen pengamatan hasil pembelajaran

2) Tahap Pelaksanaan
Tabel 3 Tahap Pelaksanaan Tindakan 1 (Siklus I)


  KEGIATAN               AKTIFITAS GURU                 AKTIFITAS SISWA
 Kegiatan Awal      Membuka dengan salam             * Siswa menjawab
   ( 10 menit )     Memberikan apersepsi,               salam guru
                       prasyarat dan memotivasi
                       siswa
                    Menyampaikan tujuan
                       pembelajaran
                    Tanya jawab awal
  Kegiatan Inti       Menghadirkan media gambar       Memperhatikan dan
   ( 60 menit )        ditempel di papan tulis           mengamati gambar
                                                         yang di temple
                      Memberikan penjelasan           Mencatat informasi
                       tentang materi                    dari guru
                      Tanya jawab sekitar materi      Memberi tanggapan
                                                            atas pertanyaan guru
                       Memberikan LKS untuk             Mengerjakan soa
                        dikerjakan oleh siswa               latihan yang diberikan
                                                            guru
    Kegiatan           Bersama siswa                      Bersama guru
     Penutup            menyimpulkan materi                 menyimpulkan materi
   ( 10 menit )         pelajaran yang telah dibahas        pelajaran yang
                       Menutup pelajaran dan               dibahas
                        melaksanakan tes formatif          Mencatat tugas
                                                            rumah (PR)


3) Tahap Refleksi

Data yang telah diperoleh dari kegiatan pelaksanaan pembelajaran awal, baik

kualitatif berupa pengamatan dan kuantitatif hasil ter formatif, dilihat dan dicatat

kelebihan dan kekurangan yang ada selama proses pembelajaran, dianalisa apakah

tindakan yang dilakukan berhasil atau tidak, hasil analisa dijadikan sebagai acuan

untuk perbaikan pada siklus II.



Siklus II
Siklus ini merupakan perbaikan pembelajaran dari siklus I

1) Tahap Perencanaan

    Kegiatan perencanaan : menetapkan hal-hal yang diperbaiki, menyusun RPP 2

    sesuai rekomendasi dari refleksi 1, menetapkan alat evaluasi, alat dan sumber

    belajar.

2) Tahap Pelaksanaan
Tabel 4. Tahap Pelaksanaan Tindakan 2 (Siklus II)
KEGIATAN              AKTIFITAS GURU                    AKTIFITAS SISWA
Kegiatan Awal    Membuka dengan salam               Siswa menjawab
 ( 10 menit )    Memberikan apersepsi,                 salam guru
                    prasyarat dan memotivasi
                    siswa
                 Menyampaikan tujuan
                    pembelajaran
                 Tanya jawab awal
                 Guru membagi siswa dalam
                    beberapa kelompok
Kegiatan Inti      Guru menghadirkan media             Memperhatikan
 ( 55 menit )       gambar dan ditempelkan di            gambar dan mencatat
                    papan tulis                          hasilnya.
                   Guru membagikan LKK (
                    Lembar kerja kelompok)
                   Siswa diberi kesempatan         * Berdiskusi dengan
                    untuk berdiskusi berkaiatan          teman dalam
                    dengan materi dan                    kelompoknya
                    menyampaikan hasil
                    diskusinya
                   Guru memberikan penjelasan          Mengerjakan soal-
                    dari apa yang di kerjakan            soal yang ada pada
                    siswa berkaitan dengan materi        LKK ( lembar kerja
                   Guru menilai hasil kerja             kelompok)
                    kelompok siswa dan memberi
                    penguatan kepada kelompok           Mencatan penjelasan
                    yang memperoleh nilai                yang diberikan oleh
                    maksimum                             guru tentang materi
                                                         yang sedang dibahas
    Kegiatan          Bersama siswa membuat                Bersama guru
     Penutup           kesimpulan tentang materi             menyimpulkan materi
   ( 15 menit )        yang dibahas                          yang dibahas
                      Menutup pelajaran dan tes
                       formatif dan penugasan
                       untuk mempelajari materi
                       yang akan datang


Pada kegiatan pelaksanaan ini guru melaksanakan tindakan perbaikan dengan

melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pemberian contoh dan

latihan-latihan soal dengan menggunakan media gambar, dan LKK ( lembar kerja

kelompok)

3) Tahap Refleksi

Data yang telah diperoleh dari kegiatan pelaksanaan tindakan siklus II, baik

kualitatif dan kuantitatif, dianalisa, dilihat kelebihan dan kekurangan yang ada

selama proses pembelajaran, apakah tindakan yang dilakukan berhasi atau tidak,

hasil analisa disajikan sebagai acuan untuk perbaikan siklus III.



Siklus III
Siklus ini merupakan perbaikan pembelajaran dari siklus II

1) Tahap perencanaan

    Kegiatan perencanaan, menetapkan hal-hal yang diperbaiki, menyusun RPP

    III sesuai rekomendasi dari refleksi 2, menetapkan alat evaluasi, alat dan

    sumber belajar.

2) Tahap pelaksanaan
  Tabel 5. Tahap pelaksanaan tindakan 3 ( Siklus III)


KEGIATAN               AKTIFITAS GURU                    AKTIFITAS SISWA
Kegiatan Awal     Membuka dengan salam                  Siswa menjawab
 ( 10 menit )     Memberikan apersepsi,                  salam guru
                    prasyarat dan memotivasi
                    siswa
                  Menyampaikan tujuan
                    pembelajaran
Kegiatan Inti      Guru membagi siswa dalam
 ( 55 menit )       beberapa kelompok 5-8 orang         * Siswa Berdiskusi
                   Guru membagikan media                 dengan teman dalam
                    model pembelajaran kepada             kelompoknya
                    setiap kelompok dengan
                    ukuran yang berbeda                   Siswa mengisi LKK
                   Guru membagikan LKK (                  (lembar kerja
                    Lembar kerja kelompok)                 kelompok)
                   Siswa diberi kesempatan               Mempresentasikan
                    untuk mepresentasi hasil kerja         hasil kerja kelompok
                    kelompoknya
                   Guru memberi penguatan
                    kepada kelompok yang telah            Mencatan penjelasan
                    mempresetasikan hasil kerja            yang diberikan oleh
                    kelompoknya                            guru tentang materi
                   Guru memberikan penjelasan             yang sedang dibahas
                    dari apa yang di kerjakan
                    siswa berkaitan dengan materi
  Kegiatan         Bersama siswa membuat                 Bersama guru
  Penutup           kesimpulan tentang materi              menyimpulkan materi
 ( 15 menit )       yang dibahas                           yang dibahas
                        Menutup pelajaran dan tes         Mencatat PR
                         formatif .
                        Guru memberikan PR


Pada kegiatan pelaksanaan ini guru melakukan tindakan perbaikan dengan

melakukan     kegiatan     pembelajaran    dengan    menggunakan      permodelan,

mempresentasikan hasil kerja kelompok mengisi LKK dan metode CTL.



3) Tahap refleksi

Data yang telah diperoleh dari kegiatan pelaksanaan tindakan kelas siklus ke III,

baik kuantitatid dan kualitatif, dianalisa, dilihat kelebihan dan kekurangannya

yang ada selama proses pembelajaran, apakah tindakan yang dilakukan berhasil

atau tidak, hasil analisa dijadikan sebagai acuan untuk perbaikan selanjutnya.



D. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan melalui catatan observasi dan hasil evaluasi yang

dilakukan sejak awal (tindakan I) sampai dengan tindakan/siklus III bersama mitra

koalisi. Catatan observasi ini dipergunakan untuk mengetahui peningkatan

aktivitas siswa dan pemunculan keterampilan koopratif siswa, sedangkan evaluasi

dilakukan untuk mengukur peningkatan evaluasi belajar siswa.          Pada bagian

refleksi dilakukan analisis data mengenai proses, masalah dan hambatan yang

dijumpai, kelebihan dan kekurangan pada proses pembelajaran itu sendiri,

kemudian dilanjutkan dengan refleksi dampak pelaksanaan tindakan yang

dilaksanakan. Salah satu aspek penting dalam kegiatan ini adalah evaluasi
terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dilakukan

per siklus.



E. Metode Analisis
Dalam hasi observasi pembelajaran dianalisa bersama-sama dengan mitra koalisi,

kemudian ditafsirkan berdasarkan kajian teori/pustaka dan pengalaman guru.

Sedangkan hasil belajar siswa dianalisa berdasarkan criteria ketuntasan belajar

siswa, memenuhi tidaknya KKM yang telah ditentukan sebelumnya.
                            DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi,2007, Penelitian Tindakan Kelas. Bumu Aksara

Djamrah,1996, Strategi Belajar Mengajar, Bina Aksara, Jakarta
Gustina,Erni.2006. “ Peningkatan Aktivitas, Minat dan Penguasaan Konsep
            SiswaMateri Pokok Usaha dan Energi Menggunakan Metode Analogi
            dan Demontrasi Dalam Pendekatan Kontruktivisme”, Sripsi.
            Universitas Bandar Lampung

HC.Witherington.1986. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar, Jemmars, Bandung
Hamalik, Oemar.2004. Pendekatan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi,
           Bumi Aksara ,Jakarta

Iruhiat.1978. Psikologi Suatu Pengantar Ilmu Jiwa, Jemmars, Bandung
IG.AK.Wardani.2004.Pemantapan Kemampuan Profesional. Edisi kesatu. Pusat
          Penrbitan Universitas Terbuka, Jakarta

Nasution, S.1982. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bumi
            Aksara. Jakarta

N.K.Roestiyah.1998.Strategi Belajar Mengajar. Bumu Aksara.Jakarta
Piaget.10980. Pendidikan Anak di SD. Universitas Terbuka.Jakarta
Sardiman,A.M.1994.Intraksi dan Motivasi Belajar dan Mengajar. Grafindo
           Persada.Jakarta

Safari.2002. Menganalisa Hasil Belajar Siswa dan Sumber Daya Pendidikan.
            Dirjen Dikdasmen. Jakarta

Yulianti, Ervina.2006. “ Meningkatkan Aktivitas, Minat dan Penguasaan Konsep
             Materi Pokok Usaha dan Energi Menggunakan Metode Analogi dan
             CTL dalam Pendekatan Konstruktivisme PTK pada SMP N 4 Bandar
             Lampung Tahun Pelajaran 2005/2006”, Skripsi. Universitas
             Lampung

Sunyono.2010. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Modul Diklat Profesional Guru.
          Lampung 2010

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:378
posted:2/16/2012
language:
pages:40