Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Wasiat Sblm Tidur

VIEWS: 7 PAGES: 4

									                    Tegak dan Ittiba' Di Atas Manhaj Salaf
    | Halaman Utama | Berita | Artikel | Info | Galeri | Ragam | Search |
      | Masalah Penting | Tauhid | Info Kitab | Masalah Hati | Annisaa |
Halaman Utama > Artikel > Annisaa > Wasiat Sebelum Tidur

Wasiat Sebelum Tidur

Majdi As-Sayyid Ibrahim


        "Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya.
        Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangi Nabi Shallallahu
        'alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan
        beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala
        Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan
        Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami
        hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata.
        'Tetaplah di tempatmu'. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku
        bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau
        berkata. 'Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik
        daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur,
        maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali,
        dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada
        seorang pembantu". (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim
        17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469,
        Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293)
Wahai Ukhti Muslimah !
Inilah wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi putrinya yang suci, Fathimah,
seorang pemuka para wanita penghuni sorga. Maka marilah kita mempelajari apa
yang bermanfa'at bagi kehidupan dunia dan akhirat kita dari wasiat ini.

Fathimah merasa capai karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya,
berupa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, terutama pengaruh alat penggiling.
Maka dia pun pergi menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia tidak
mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu
Fathimah menyebutkan keperluannya kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah
mengabarkan urusan Fathimah.

Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai
beberapa orang tawanan perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi tawanan-
tawanan ini akan dijual, dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim
yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan kecuali dari apa
yang diberikan Rasulullah. Lalu beliau pergi ke rumah Ali, suami Fathimah, yang
saat itu keduanya siap hendak tidur. Beliau masuk rumah Ali dan Fathimah setelah
meminta ijin dari keduanya. Tatkala beliau masuk, keduanya bermaksud hendak
berdiri, namun beliau berkata. "Tetaplah engkau di tempatmu". "Telah dikabarkan
kepadaku bahwa engkau datang untuk meminta. Lalu apakah keperluanmu?".

Fathimah menjawab. "Ada kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah
datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu
untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat
bagiku".

Beliau berkata. "Mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai
atau lebih baik dari hal itu ?". Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya,
bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir
dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu
akhirnya beliau berkata. "Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu".

Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini dikatakan
Ibnu Abi Laila. "Ali berkata, 'Semenjak aku mendengar dari Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam, aku tidak pernah meninggalkan wasiat itu".

Ada yang bertanya. "Tidak pula pada malam perang Shiffin ?".

Ali menjawab. "Tidak pula pada malam perang Shiffin".
(Ditakhrij Muslim 17/46. Yang dimaksud perang Shiffin di sini adalah perang antara
pihak Ali dan Mu'awiyah di Shiffin, suatu daerah antara Irak dan Syam. Kedua
belah pihak berada di sana beberapa bulan)

Boleh jadi engkau bertanya-tanya apa hubungan antara pembantu yang diminta
Fathimah dan dzikir ?

Hubungan keduanya sangat jelas bagi orang yang memiliki hati atau pikiran yang
benar-benar sadar. Sebab dzikir bisa memberikan kekuatan kepada orang yang
melakukannya. Bahkan kadang-kadang dia bisa melakukan sesuatu yang tidak
pernah dibayangkan. Di antara manfaat dzikir adalah :

   1.   Menghilangkan duka dan kekhawatiran dari hati.
   2.   Mendatangkan kegembiraan dan keceriaan bagi hati.
   3.   Memberikan rasa nyaman dan kehormatan.
   4.   Membersihkan hati dari karat, yaitu berupa lalai dan hawa nafsu.

Boleh jadi engkau juga bertanya-tanya, ada dzikir-dzikir lain yang bisa dibaca
sebelum tidur selain ini. Lalu mana yang lebih utama ? Pertanyaan ini dijawab oleh
Al-Qady Iyadh : "Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
beberapa dzikir sebelum berangkat tidur, yang bisa dipilih menurut kondisi, situasi
dan orang yang mengucapkannya. Dalam semua dzikir itu terdapat keutamaan".

Secara umum wasiat ini mempunyai faidah yang agung dan banyak manfaat serta
kebaikannya. Inilah yang disebutkan oleh sebagian ulama :

Pertama
Menurut Ibnu Baththal, di dalam hadits ini terkandung hujjah bagi keutamaan
kemiskinan daripada kekayaan. Andaikata kekayaan lebih utama daripada
kemiskinan, tentu beliau akan memberikan pembantu kepada Ali dan Fathimah.
Dzikir yang diajarkan beliau dan tidak memberikan pembantu kepada keduanya,
bisa diketahui bahwa beliau memilihkan yang lebih utama di sisi Allah bagi
keduanya.

Pendapat ini disanggah oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. Menurutnya, hal ini bisa berlaku
jika beliau mempunyai lebihan pembantu. Sementara sudah disebutkan dalam
pengabaran di atas bahwa beliau merasa perlu untuk menjual para tawanan itu
untuk menafkahi orang-orang miskin. Maka menurut Iyadh, tidak ada sisi
pembuktian dengan hadits ini bahwa orang miskin lebih utama daripada orang
kaya.

Ada perbedaan pendapat mengenai makna kebaikan dalam pengabaran ini. Iyadh
berkata. "Menurut zhahirnya, beliau hendak mengajarkan bahwa amal akhirat lebih
utama daripada urusan dunia, seperti apapun keadaannya. Beliau membatasi pada
hal itu, karena tidak memungkinkan bagi beliau untuk memberikan pembantu.
Kemudian beliau mengajarkan dzikir itu, yang bisa mendatangkan pahala yang
lebih utama daripada apa yang diminta keduanya".

Menurut Al-Qurthuby, beliau mengajarkan dzikir kepada keduanya, agar ia menjadi
pengganti dari do'a tatkala keduanya dikejar kebutuhan, atau karena itulah yang
lebih beliau sukai bagi putrinya, sebagaimana hal itu lebih beliau sukai bagi dirinya,
sehingga kesulitannya bisa tertanggulangi dengan kesabaran, dan yang lebih
penting lagi, karena berharap mendapat pahala.

Kedua
Disini dapat disimpulkan tentang upaya mendahulukan pencari ilmu daripada yang
lain terhadap hak seperlima harta rampasan perang.

Ketiga
Hendaklah seseorang menanggung sendiri beban keluarganya dan lebih
mementingkan akhirat daripada dunia kalau memang dia memiliki kemampuan
untuk itu.

Keempat
Di dalam hadits ini terkandung pujian yang nyata bagi Ali dan Fathimah.

Kelima
Seperti itu pula gambaran kehidupan orang-orang salaf yang shalih, mayoritas para
nabi dan walinya.

Keenam
Disini terkandung pelajaran sikap lemah lembut dan mengasihi anak putri dan
menantu, tanpa harus merepotkan keduanya dan membiarkan keduanya pada
posisi berbaring seperti semula. Bahkan beliau menyusupkan kakinya yang mulia di
antara keduanya, lalu beliau mengajarkan dzikir, sebagai ganti dari pembantu yang
diminta.

Ketujuh
Orang yang banyak dzikir sebelum berangkat tidur, tidak akan merasa letih. Sebab
Fathimah mengeluh letih karena bekerja. Lalu beliau mengajarkan dzikir itu.
Begitulah yang disimpulkan Ibnu Taimiyah. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata.
"Pendapat ini perlu diteliti lagi. Dzikir tidak menghilangkan letih. Tetapi hal ini bisa
ditakwil bahwa orang yang banyak berdzikir, tidak akan merasa mendapat
madharat karena kerjanya yang banyak dan tidak merasa sulit, meskipun rasa letih
itu tetap ada".

Begitulah wahai Ukhti Muslimah, wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
disampaikan kepada salah seorang pemimpin penghuni sorga, Fathimah, yaitu
berupa kesabaran yang baik. Perhatikanlah bagaimana seorang putri Nabi dan istri
seorang shahabat yang mulia, harus menggiling, membuat adonan roti dan
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Maka mengapa engkau
tidak menirunya ?


Created at 17 Februari 2002 | Annisaa
   Untuk pertanyaan, saran dan kritikan yang berkaitan dengan homepage ini, silakan hubungi kami
                  Tested under IE 5.x, Opera 5.x, Mozilla 0.9.x and Netscape 4.7x

								
To top