Tawakal Sarana Terbesar Mendapat Kebaikan by ManusiaBiasa3

VIEWS: 21 PAGES: 3

									                    Tegak dan Ittiba' Di Atas Manhaj Salaf
    | Halaman Utama | Berita | Artikel | Info | Galeri | Ragam | Search |
      | Masalah Penting | Tauhid | Info Kitab | Masalah Hati | Annisaa |
Halaman Utama > Artikel > Masalah Penting > Tawakal Sarana Terbesar
Mendapatkan Kebaikan

Tawakal Adalah Sarana Terbesar
Untuk Mendapatkan Kebaikan Dan Menghindari Kerusakan

Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji


Tawakal adalah salah satu sarana terkuat di antara sarana-sarana yang bisa
mendatangkan kebaikan serta menghindari kerusakan, berlawanan dengan
pendapat yang mengatakan: bahwa tawakal hanyalah sekedar ibadah yang
mendatangkan pahala bagi seorang hamba yang melakukannya, seperti orang
yang melempar jumrah (ketika haji), juga berlawanan dengan orang yang
berpendapat tawakal berarti men-tiada-kan prinsip sebab musabab dalam
penciptaan serta urusan, sebagaimana pendapat yang dilontarkan oleh golongan
"Mutakallimin" seperti Al-Asy-ari dan lainnya, dan juga seperti pendapat yang
dilontarkan oleh para ahli Fiqh dan golongan shufi, (Risalah Fi Tahqiqi At-Tawakkul
karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal. 87), hal ini akan diterangkan dalam
bahasan mengenai prinsip sebab-musabab, Insya Allah.

Ibnul Qayyim berkata : Tawakal adalah sebab yang paling utama yang bisa
mempertahankan seorang hamba ketika ia tak memiliki kekuatan dari serangan
makhluk Allah lainnya yang menindas serta memusuhinya, tawakal adalah sarana
yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan seperti itu, karena ia telah
menjadikan Allah pelindungnya atau yang memberinya kecukupan, maka barang
siapa yang menjadikan Allah pelindungnya serta yang memberinya kecukupan
maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan bahaya padanya. (Bada'i Al-
Fawa'id 2/268)

Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata, telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari
yang disanadkan kepada Ibnu Abbas : Hasbunallahu wa nima Al-Wakiil, yang
artinya : (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik
pelindung), ungkapan ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim saat tubuhnya dilemparkan
ke tengah-tengah Api yang membara, juga diungkapkan oleh Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika dikatakan kepadanya : Sesungguhnya orang-
orang musyrik telah berencana untuk membunuh mu, maka waspadalah engkau
terhadap mereka. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab Tafsir 4563 (Fathul Bari
8/77))

Ibnu Abbas berkata : Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika
ia dilemparkan ke tengah bara api adalah : "Cukuplah Allah menjadi penolong kami
dan Allah sebaik-baik pelindung". (Hadits Riwayat Al-Bukhari bab Tafsir 4564 8/77)

Dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi yang disanadkan kepada Bastar bin Al-Harits, ia
berkata : Ketika Nabi Ibrahim digotong untuk dilemparkan ke dalam api, Jibril
memperlihatkan diri padanya dan berkata : Wahai Ibrahim, apakah kamu perlu
bantuan ?, Ibrahim menjawab : Jika kepada engkau, maka saya tidak perlu
bantuan, (Diriwayatkan oleh Ibni Jarir dalam Tafsirnya 17/45, Al-Baghwi dalam
tafsirnya 4/243), ini adalah bagian dari kesempurnaan tawakal yang hanya kepada
Allah semata tanpa lainnya.

Akan tetapi apa yang terjadi setelah itu ?!, Allah berfirman : "Kami berfirman : 'Hai
api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim', mereka hendak
berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka orang-orang
yang paling merugi". (Al-Anbiya : 69-70)

Dan befirman pula Allah tentang Nabi Muhammad dan para sahabatnya : "Maka
mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak
mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar". (Ali Imran : 174). Ibnu Katsir berkata : Setelah
mereka bertawakal kepada Allah maka Allah melindungi mereka dari bahaya yang
mengancam mereka, dan Allah mencegah dari mereka bencana yang telah
direncanakan oleh orang-orang kafir, lalu mereka kembali ke negeri mereka sesuai
dengan firman-Nya, Dengan ni'mat dan karunia (yang besar dari Allah, mereka
tidak dapat bencana apa-apa) dari sesuatu yang tersembunyi dalam hati musuh-
musuh mereka dan (mereka mengikuti keridla'an Allah) dan Allah mempunyai
karunia yang besar. (Tafsir Qur'anul Adzhim 2/148)

Dan firman Allah tentang orang-orang beriman: "Hai orang-orang yang beriman,
ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu
kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat
jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu, Dan bertakwalah kepada
Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal".
(Al-Maidah : 11)

Kandungan dari ayat ini adalah bahwa sikap tawakal kepada Allah yang ada dalam
hati orang-orang yang beriman adalah salah satu sebab Allah menahan tangan
orang-orang kafir yang hendak mencelakakan orang-orang yang beriman, Allah
menggagalkan apa yang diingini oleh orang-orang kafir terhadap orang-orang
beriman.

Berita yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini ada tiga berita,
semuanya membuktikan bahwa hanya Allahlah yang menjadi pelindung bagi Nabi-
Nya dan Allah pula yang menjaganya dari kejahatan manusia, ketiga berita itu
adalah:

   1. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya dari Jabir bahwa Nabi
      Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terpisah dari para sahabatnya lalu
      bernaung di bawah pohon (Disebutkan bahwa pohon itu adalah pohon yang
      berduri, An-Nihayah 3/255) beliau menggantungkan pedangnya di atas
      pohon itu, kemudian datang seorang Arab Badui (Diriwayatkan bahwa nama
      orang itu adalah Ghurata bin Al-Harits, lihat Shahihul Bukhari dalam kitab
      Al-Maghazy 4136 V/491 dan lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 3/59) kepada
      Rasulullah dan mengambil pedang milik beliau, lalu orang itu berdiri di
      hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sambil bertanya: Siapakah yang
       dapat mencegahmu dari aku .?. Beliau menjawab: Allah !, orang Arab Badui
       itu bertanya dua atau tiga kali: Siapa yang dapat mencegahmu dari aku ?,
       dan Nabi menjawab: Allah, Jabir berkata: Kemudian orang Arab itu
       menyarungi pedangnya, lalu Nabi memanggil para sahabatnya, dan
       mengabarkan kepada mereka tentang kejadian Arab Badui itu, sementara
       Arab Badui itu duduk di sisi Rasulullah dengan tidak memberi hukuman
       kepada orang itu. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya
       3/311, Bukhari bab Jihad 2910 6/113, diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam
       Tafsirnya 6/146)
    2. Berita yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dan lainnya dari Ibnu
       Abbas -tentang ayat ini ia menyebut ayat 11 dari surat Al-Ma'idah- dan ia
       berkata : Sesungguhnya orang-orang dari kaum Yahudi membuat makanan
       untuk membunuh Rasulullah dan para sahabatnya, kemudian Allah
       mewahyukan kepada utusan-Nya itu tentang rencana mereka, maka
       Rasulullah dan para sahabatnya tidak makan makanan itu. (Diriwayatkan
       oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya 6/46 dan Ibnu Abu Hatim sebagaimana
       disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir 3/59)
    3. Dikisahkan bahwa orang-orang dari Kaum Yahudi bersepakat untuk
       membunuh Nabi dengan cara mengundang Nabi dalam suatu urusan, ketika
       Nabi datang kepada mereka, mereka membuat siasat untuk melempar
       beliau dengan sebuah batu besar pada saat Rasulullah bernegosiasi dengan
       orang-orang Yahudi, lalu Allah memberitahukan rencana mereka ini kepada
       Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah kembali ke
       Madinah dengan para sahabatnya. (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam
       Tafsirnya 6/144) maka pada saat itulah Allah menurunkan ayat yang
       berbunyi: "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah
       (yang diberikan-Nya) kepadamu". (Al-Maidah : 11)

Dari berita-berita yang menyebabkan turunnya ayat di atas, serta kejadian-
kejadian lain yang nyata membuktikan bahwa Allah akan selalu menjaga dan
melindungi Nabi utusan-Nya, hal ini tidak lain adalah karena kesempurnaan beliau
dalam bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla. Berita dan kejadian seperti ini
banyak sekali dan cukup bagi kami dengan apa yang telah kami sebutkan.

Disalin dari buku At-Tawakkul 'Alallah wa 'Alaqatuhu bil Asbab oleh Dr Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji
dengan edisi Indonesia Rahasia Tawakal & Sebab Akibat hal. 89 - 92 Bab Buah Tawakal, terbitan
Pustaka Azzam, Penerjemah Drs. Kamaluddin Sa'diatulharamaini dan Farizal Tirmidzi.



Created at 17 Agustus 2002 | Masalah Penting
   Untuk pertanyaan, saran dan kritikan yang berkaitan dengan homepage ini, silakan hubungi kami
                  Tested under IE 5.x, Opera 5.x, Mozilla 0.9.x and Netscape 4.7x

								
To top