Docstoc

Musik Merajalela

Document Sample
Musik Merajalela Powered By Docstoc
					                    Tegak dan Ittiba' Di Atas Manhaj Salaf
    | Halaman Utama | Berita | Artikel | Info | Galeri | Ragam | Search |
      | Masalah Penting | Tauhid | Info Kitab | Masalah Hati | Annisaa |
Halaman Utama > Artikel > Masalah Penting > Merajalelanya Musik Serta Dianggap
Halal

Merajalelanya Bunyi-Bunyian (Musik) Serta Dianggap Halal

Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.
       "Artinya : Pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor, kerusuhan, dan
       perubahan muka. 'Ada yang bertanya kepada Rasulullah'. Wahai Rasulullah,
       kapankah hal itu terjadi? Beliau menjawab. 'Apabila telah merajalela bunyi-
       bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita". (Bagian awalnya
       diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2:1350 dengan tahqiq Muhammad Fuad Abdul
       Baqi. Al-Haitsami berkata : 'Diriwayatkan oleh Thabrani dan di dalam
       sanadnya terdapat Abdullah bin Abiz Zunad yang padanya terdapat
       kelemahan, sedangkan perawi-perawi yang lain bagi salah satu jalannya
       adalah perawi-perawi shahih'. Majma'uz Zawaid 8:10. Al-Albani berkata :
       'Shahih'. Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 3:216 hadits no. 3559).
Pertanda (alamat) ini telah banyak terjadi pada masa lalu, dan sekarang lebih
banyak lagi. Pada masa kini alat-alat dan permainan musik telah merata di mana-
mana, dan biduan serta biduanita tak terbilang jumlahnya. Padahal, mereka itulah
yang dimaksud dengan al-qainat (penyanyi-penyanyi) dalam hadits di atas. Dan
yang lebih besar dari itu ialah banyaknya orang yang menghalalkan musik dan
menyanyi. Padahal orang yang melakukannya telah diancam akan ditimpa tanah
longsor, kerusuhan (penyakit muntah-muntah), dan penyakit yang dapat
mengubah bentuk muka, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Dan
disebutkan dalam Shahih Bukhari rahimahullah, beliau berkata : telah berkata
Hisyam bin Ammar (ia berkata) : telah menceritakan kepada kami Shidqah bin
Khalid, kemudian beliau menyebutkan sanadnya hingga Abi Malik Al-Asy'ari
Radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.
       "Artinya : Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang
       menghalalkan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik. Dan
       sungguh akan ada kaum yang pergi ke tepi bukit yang tinggi, lalu para
       pengembala dengan kambingnya menggunjingi mereka, lantas mereka
       didatangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Mereka berkata,
       'Kembalilah kepada kami esok hari'. Kemudian pada malam harinya Allah
       membinasakan mereka dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka,
       sedang yang lain (yang tidak binasa) diubah wajahnya menjadi monyet dan
       babi sampai hari kiamat". (Shahih Bukhari, Kitab Al-Asyrabah, Bab Maa Jaa-
       a fi Man Yastahillu Al-Khamra wa Yusammihi bi Ghairi Ismihi 10:51)
Ibnu Hazm menganggap bahwa hadits ini munqathi' (terputus sanad atau jalan
periwayatannya), tidak bersambung antara Bukhari dan Shidqah bin Khalid. (Al-
Muhalla, karya Ibnu Hazm 9:59, dengan tahqiq Ahmad Syakir, Mansyurat Al-
Maktab At-Tijari, Beirut)
Anggapan Ibnu Hazm ini disanggah oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menjelaskan
bahwa pendapat Ibnu Hazm itu batal dari enam segi (Tahdzib As-Sunan 5:270-
272):

   1. Bahwa Bukhari telah bertemu Hisyam bin Ammar dan mendengar hadits
      darinya. Apabila beliau meriwayatkan hadits darinya secara mu'an'an
      (dengan menggunakan perkataan 'an/dari) maka hal itu telah disepakati
      sebagai muttashil karena antara Bukhari dan Hisyam adalah sezaman dan
      beliau mendengar darinya. Apabila beliau (Bukhari) berkata : "Telah berkata
      Hisyam" maka hal itu sama sekali tidak berbeda dengan kalau beliau
      berkata, "dari Hisyam ....."
   2. Bahwa orang-orang kepercayaan telah meriwayatkannya dari Hisyam secara
      maushul. Al-Ismaili berkata di dalam shahihnya, "Al-Hasan telah
      memberitahukan kepadaku, (ia berkata) : Hisyam bin Ammar telah
      menceritakan kepada kami" dengan isnadnya dan matannya.
   3. Hadits ini telah diriwayatkan secara shah melalui jalan selain Hisyam. Al-
      Ismaili dan Utsman bin Abi Syaibah meriwayatkan dengan dua sanad yang
      lain dari Abu Malik Al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu.
   4. Bahwa seandainya Bukhari tidak bertemu dan tidak mendengar dari Hisyam,
      maka beliau memasukkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya menunjukkan
      bahwa hadits ini menurut beliau telah sah dari Hisyam dengan tidak
      menyebut perantara antara beliau dengan Hisyam. Hal ini dimungkinkan
      karena telah demikian masyhur perantara-perantara tersebut atau karena
      banyaknya jumlah mereka. Dengan demikian hadits tersebut sudah terkenal
      dan termasyhur dari Hisyam.
   5. Apabila Bukhari berkata dalam Shahih-nya, "Telah berkata si Fulan", maka
      hadits tersebut adalah shahih menurut beliau.
   6. Bukhari menyebutkan hadits ini dalam Shahih-nya dan berhujjah
      dengannya, tidak sekedar menjadikannya syahid (saksi atau pendukung
      terhadap hadits lain yang semakna), dengan demikian maka hadits tersebut
      adalah shahih tanpa diragukan lagi.

Ibnu Shalah 1) berkata : "Tidak perlu dihiraukan pendapat Abu Muhammad bin
Hazm Az-Zhahiri Al-Hafizh yang menolak hadits Bukhari dari Abu Amir atau dari
Abu Malik". Lalu beliau menyebutkan hadits tersebut, kemudian berkata. "Hadits
tersebut sudah terkenal dari orang-orang kepercayaan dari orang-orang yang
digantungkan oleh Bukhari itu. Dan kadang-kadang beliau berbuat demikian karena
beliau telah meyebutkannya pada tempat lain dalam kitab beliau dengan sanadnya
yang bersambung. Dan adakalanya beliau berbuat demikian karena alasan-alasan
lain yang tidak laik dikatakan haditsnya munqathi'. Wallahu a'lam. (Muqaddimah
Ibnush Shalah Fii 'Ulumil Hadits, halaman 32, terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah,
Beirut, 1398H. Fathul-Bari 10:52)

Saya sengaja membicarakan hadits ini agak panjang mengingat adanya sebagian
orang yang terkecoh oleh pendapat Ibnu Hazm ini serta menjadikannya alasan
untuk memperbolehkan alat-alat musik. Padahal, sudah jelas bahwa hadits-hadist
yang melarangnya adalah shahih, dan umat ini diancam dengan bermacam-macam
siksaan apabila telah merajalela permainan musik yang melalaikan (almalahi) dan
merajalela pula kemaksiatan.
Footnote:
1. Beliau adalah Imam dan Ahli Hadits Al-Hafizh Abu Amr Utsman bin Abdur Rahman Asy-Syahrazuri
yang terkenal dengan sebutan Ibnu Shalah, seorang ahli agama yang zuhud dan wara' serta ahli ibadah,
mengikuti jejak Salaf yang Shalih. Beliau memiliki banyak karangan dalam ilmu hadits dan fiqih, dan
memimpin pengajian di Lembaga Hadits Damsyiq. Beliau wafat pada tahun 643H. (Al-BIdayah Wan-
Nihayah 13:168)

Disalin dari buku Asyratus Sa'ah, Pasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-
Wabil, MA. edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 108-111, terbitan Pustaka Mantiq, Penerjemah
Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.



Created at 25 March 2003 | Masalah Penting
   Untuk pertanyaan, saran dan kritikan yang berkaitan dengan homepage ini, silakan hubungi kami
                  Tested under IE 5.x, Opera 5.x, Mozilla 0.9.x and Netscape 4.7x

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:4
posted:2/16/2012
language:
pages:3
Gye Teenagers Gye Teenagers Blog-ID http://www.blog-id.info
About User and Blogger