Docstoc

Hukum Berdiri Menyambut Orang Yang Datang

Document Sample
Hukum Berdiri Menyambut Orang Yang Datang Powered By Docstoc
					                   Hukum Berdiri Menyambut Orang yang Datang
                    15 Jun 2005 | 04:07:16 WIB | Penulis Ulang: admin | Print Out
                     Kategori: Adab-adab | Dibuka: 8 x | Ulama: Syaikh Ibnu Baz

Pertanyaan:
Ketika seseorang masuk, sementara kami sedang duduk di suatu majlis, para hadirin berdiri untuknya,
tapi saya tidak ikut berdiri. Haruskah saya ikut berdiri, dan apakah orang-orang itu berdosa?



Jawaban:
Bukan suatu keharusan berdiri untuk orang yang datang, hanya saja ini merupakan kesempurnaan etika,
yaitu berdiri untuk menjabatnya (menyalaminya) dan menuntunnya, lebih-lebih bila dilakukan oleh tuan
rumah dan orang-orang tertentu. Yang demikian ini termasuk kesempurnaan etika. Nabi -
shollallaahu'alaihi wasallam- pernah berdiri untuk menyambut Fathimah, Fathimah pun demikian untuk
menyambut kedatangan beliau. (HR. Abu Daud dalam al-Adab (5217); At-Tirmidzi dalam al-Manaqib
(3871)).

Para sahabat juga berdiri untuk menyambut Sa'd bin Mu'adz atas perintah beliau, yaitu ketika Sa'd tiba
untuk menjadi pemimpin Bani Quraizah. (HR. Al-Bukhari dalam al-Jihad (3043); Muslim dalam al-Jihad
(1768)).

Thalhah bin Ubaidillah juga berdiri dan beranjak dari hadapan Nabi -shollallaahu'alaihi wasallam- ketika
Ka'b bin Malik datang setelah Allah menerima taubatnya, hal itu dilakukan Thalhah untuk menyalaminya
dan mengucapkan selamat kepadanya, kemudian duduk kembali. (HR. Al-Bukhari dalam al-Maghazi
(4418);                 Muslim                 dalam                 at-Taubah                  (2769)).

(Peristiwa ini disaksikan oleh Nabi -shollallaahu'alaihi wasallam- dan beliau tidak mengingkarinya). Hal
ini termasuk kesempurnaan etika. Permasalahannya cukup fleksible. Adapun yang mungkar adalah
berdiri untuk pengagungan. Namun bila sekedar berdiri untuk menyambut tamu dan menghormatinya,
atau menyalaminya atau mengucapkan selamat kepadanya, maka hal ini disyari'atkan. Sedangkan
berdirinya orang-orang yang sedang duduk untuk pengagungan, atau sekedar berdiri saat masuknya
orang dimaksud, tanpa maksud menyambutnya atau menyalaminya, maka hal ini tidak layak dilakukan.
Yang lebih buruk dari itu adalah berdiri untuk menghormat, sementara yang dihormat itu duduk.
Demikian ini bila dilakukan bukan dalam rangka menjaganya tapi dalam rangka mengagungkannya.

Berdiri             untuk             seseorang               ada             tiga              macam:

Pertama: Berdiri untuknya sebagai penghormatan, sementara yang dihormat itu dalam keadaan duduk,
yaitu sebagaimana yang dilakukan oleh rakyat jelata terhadap para raja dan para pembesar mereka.
Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi -shollallaahu'alaihi wasallam-, bahwa hal ini tidak boleh dilakukan,
karena itulah Nabi -shollallaahu'alaihi wasallam- menyuruh para sahabatnya untuk duduk ketika beliau
shalat sambil duduk, beliau menyuruh mereka supaya duduk dan shalat bersama beliau sambil duduk.
(Silakan lihat, di antaranya pada riwayat al-Bukhari dalam al-Adzan (689); Muslim dalam ash-Shalah
(411)                            dari                          hadits                          Anas).

Seusai                         shalat                       beliau                         bersabda,
ãðÏòÊïåò ÂæðáÇë äîÊîáòÙîäïèòæî áðÙòäî áîÇÑðÓî èîÇäÑñïèòåð êîâïèòåïèòæî Ùîäéî åïäïèòãðçðåò èîçïèî
âïÙïèòÏì
"Hampir saja tadi kalian melakukan seperti yang pernah dila-kukan oleh bangsa Persia dan Romawi,
mereka (biasa) berdiri untuk pra raja mereka sementara para raja itu duduk. " (HR. Muslim dalam ash-
Shalah                   (413)                 dari                   hadits                  Jabir).

Kedua: Berdiri untuk seseorang yang masuk atau keluar tanpa maksud menyambut/mangantarnya atau
menyalaminya, tapi sekedar menghormati. Sikap seperti ini minimal makruh. Para sahabat tidak pernah
berdiri untuk Nabi -shollallaahu'alaihi wasallam- apabila beliau datang kepada mereka, demikian ini
karena      mereka       tahu       bahwa       beliau     tidak     menyukai     hal      tersebut.

Ketiga: Berdiri untuk menyambut yang datang atau menuntunnya ke tempatnya atau mendudukkannya
di tempat duduknya dan sebagainya. Yang demikian ini tidak apa-apa, bahkan termasuk sunnah,
sebagaimana yang telah dijelaskan di muka.

Sumber:
Majmu' Fatawa Ibn Baz, juz 4, hal. 394.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:6
posted:2/16/2012
language:
pages:2
Gye Teenagers Gye Teenagers Blog-ID http://www.blog-id.info
About User and Blogger