PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI 2

Document Sample
PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI 2 Powered By Docstoc
					PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONESIA
DALAM MEMPEROLEH KEUNGGULAN BERSAING
Oleh : Antarina S. F. Amir SE. MBA., MSMIS

1. PENDAHULUAN
2. PERUBAHAN KONSEPSI PERANAN INFORMASI
3. KEUNGGULAN BESAING (KB)
4. KEUNGGULAN BERSAING ATAU KEUNGGULAN STRATEGIS
5. PERLUNYA PEMAHAMAN KONSEP IRM
6. TEKNOLOGI INFORMASI
7. PENERAPAN TI
 8. A FRAMEWORK FOR MULTINATIONAL CORPORATIONS
9. PERMASALAHAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONESIA
10 DAMPAK PEMANFAATAN TI
11. PENUTUP
12. CATATAN KAKI


PENDAHULUAN

      Teknologi informasi (TI) merupakan bagian yang tak terpisahkan lagi bagi
dunia usaha terutama dalam era globalisasi. Dalam menghadapi tata dunia yang
tak mengenal batas geografphis ini, kebutuhan akan produk-produk TI menjadi
kebutuhan dasar perusahaan agar dapat bertahan dalam kancah persaingan.
Akan tetapi, masih banyak para manager maupun eksekutif yang belum
memahami benar seluk beluk TI sehingga peran TI dalam perusahaan seringkali
hanya merupakan faktor pelengkap dan “ikut-ikutan”.

       TI seharusnya membuat kehidupan manusia lebih mudah dan lebih baik.
Masih saja sering terdengar bahwa penggunaan TI di suatu perusahaan telah
mengecewakan karena dengan investasi yang sangat besar tetap tidak
memberikan keuntungan ekonomis yang memadai. Bukti nyata bahwa TI
memberikan dampak yang sangat besar pada peningkatan produktifitas, efisiensi
atau perluasan pasar kadang sulit dicari. Apa yang salah dengan dunia TI.
Apakah teknologinya yang masih kurang sempurna. Atau penerapannya yang
salah.

       Ada beberapa tahapan pengunaan TI yang harus diketahui para manager.
TI bukan hanya sekedar digunakan karena perusahaan lain menggunakan.
Analisa secara detil perlu dilakukan untuk mengetahui perannya di perusahaan
tertentu. Pada periode awal penggunaan TI, yang umumnya dimulai dengan
penggunaan komputer, peningkatan efisiensi merupakan dampak yang paling
dirasakan perusahaan-perusahaan. Tetapi, kini sudah banyak perusahaan yang
menyadari peran TI yang lebih dari sekedar pendukung pekerjaan klerikal dan
administrasif, bahkan TI bukan lagi sekedar suporter tetapi enabler. Dampak
terbesar yang dirasakan perusahaan adalah penerapan TI secara strategis dan
inovatif dalam rangka meningkatkan competitive advantage.

      Istilah competitive advantage telah menjadi buzzword bagi dunia usasha.
Seakan penerapan TI yang berbeda sedikit dari perusahaan saingan sudah
merupakan contoh pemanfaatan TI dalam meningkatkan daya saing. Padahal
belum tentu selalu demikian. Dengan menggunakan kjomputer yang mempunyai
banyak fungsi belum berarti TI sudah berperan dalam peningkatan keunggulan
bersaing. Makna “keunggulan daya saing” harus dimengerti benar agar jangan
menimbulkan kekecewaan dalam melakukan investasi.

      Cerita sukses penerapan TI baru terjadi di luar negeri. Di Indonesia TI
boleh dibilang baru mulai, dan belum begitu banyak dimanfaatkan. Apakah
perkembangan TI yang lambat ini dikarenakan oleh faktor-faktor internal
perusahaan atau faktor eksternal ? Bagaimana peranan pemerintah dalam
mempercepat perkembangan TI di Indonesia ?

      Era perdagangan bebas sudah diambang mata. Pihak swasta maupun
pemerintah harus mulai berbenah diri dalam bidang yang perkembangannya
sangat pesat ini. Hal ini dimulai dengan mengenal konsepsi dasar penerapan TI
dalam meningkatkan keunggulan bersaing; merubah orientasi dari coparative
advantage menjadi competitive advantage.

      Tujuan penulisan makalah ini untuk mengajak para akuntan menyadari
peranannya dalam perkembangan dunia TI di Indonesia secara umum maupun
peranannya secara khusus sebagai eksekutif dan planner di perusahaan.


PERUBAHAN KONSEPSI PERANAN INFORMASI DI DALAM
ORGANISASI

       Masalah competitive advantage berkembang dengan berubahnya
peranan informasi dan sistem informasi bagi perusahaan. Perusahaan kini
menganggap informasi sebagai sumber daya seperti halnya sumber daya modal,
manusia dan sebagainya setelah melalui beberapa tahap perubahan sebagai
berikut :

       Informasi sebagai timbunan kertas. Pada periode ini, informasi dianggap
sebagai timbunan kertas yang hanya diperlukan untuk keperluan formalitas dan
birokrasi. Kadang-kadang perusahaan bahkan mengangap bahwa timbunan
kertas tersebut berpotensi untuk menghambat kelancaran operasi perusahaan.
Pada tahun lima puluhan diciptakan sistem informasi yang dibangan dengan
tujuan untuk mengurangi biaya dalam memroses informasi tersebut, terutama
informasi akuntansi.
       Informasi sebagai pendukung secara umum. Pada periode enam-puluhan,
organisasi mulai memiliki pandangan berbeda terhadap informasi dimana
informasinya ternyata dapat mendukung fungsi secara umum. Sistem informasi
yang digunakan pada masa ini lebih dikenal dengan istilah sistem informasi
manajemen. Sistem dimaksud menghasilkan laporan-laporan secara periodik
terutama sekitar informasi keuangan.

      Informasi untuk keperluan manajemen. Pandangan ini dimulai pada akhir
tahun tujuh puluhan atau awal delapan puluhan, yaitu informasi dapat
dimanipulasi agar sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Sistem informasi yang
digunakan disebut decision support system (DSS). Fokus pemanfaatan sistem
informasi pada tahapan ini adalah peningkatan efektifitas dari proses
pengambilan keputusan manajemen.

       Informasi sebagai sumber daya strategis. Pada pertengahan delapan
puluhan, kosepsi mengenai informasi berubah kembali. Informasi mulai saat ini
dianggap sebagai sumber daya strategis, sumber potensial dalam meningkatkan
daya saing suatu perusahaan atau dapat dianggap sebagai senjata atrategis
perusahaan dalam memenangkan persaingan. Sistem informasi yang digunakan
dikenal sebagai strategic information system (SIS). SIS harus dibedakan dengan
tingkatan strategis dari manajemen, karena SIS tidak harus selalu berarti sistem
informasi untuk manajemen tingkat atas. SIS dapat juga digunakan oleh setiap
tingkat manajemen, lebih mendasar dari sistem informasi lain.


KEUNGGULAN BESAING (KB)
       Istilah competitive advantage (keunggulan bersaing) yang muncul pada
awal tahun delapan puluhan telah menjadi istilah yang paling populer pada saat
membicarakan strategi perusahaan. Seperti yang sering diungkapkan Michael
Porter, keunggulan bersaing dapat dicapai dengan berbagai macam cara, antara
lain menawarkan produk dengan harga minimum, atau menawarkan produk unik
dan lebih baik dari saingan ; atau memfokuskan diri pada segmen pasar
tertentu.1 Sedangkan dalam dunia komputer, istilah keunggulan bersaing
dihubungkan dengan penggunaan sumber daya informasi untuk memperkuat
peranan suatu perusahaan di dalam pasar. Pada dasarnya perusahaan tidak
harus selalu mengandalkan sumber daya physik-nya dalam bersaing tetapi juga
dapat memanfaatkan data informasi untuk mencapai tujuan strategisnya Menurut
McLeod, keunggulan bersaing dapat dilihat dari 2 (dua) sudut pandang :2

a. Pandangan Awal

      Pandangan awal ini dimulai dengan cerita-cerita sukses sekitar
penggunaan teknologi informasi pada perusahaan-perusahaan seperti Citybank
yang sangat sukses dalam memperkenalkan jasa baru ATM (Automatic Teller
Machines), amirican Airlines dengan Supply dengan sistem reservasi yang
dikenal dengan nama SABRE atau American Hospital Supply dengan sistem
pemesanan order yang menggunakan jaringan EDI dan sebagainya.

      Pada periode ini, keunggulan bersaing dihubungkan dengan peningkatan
laba dan penguasaan pangsa pasar berkat kejelian suatu perusahaan dalam
memanfaatkan kesempatan dengan memadukan kemampuan teknologi
informasi dengan kebutuhan pasar. Ini bermula dari pendapat yang mengatakan
bahwa manajemen yang baik dan bekerja keras sangat diperlukan untuk dapat
bertahan didalam pasar, akan tetapi untuk unggul di dalam persaingan kedua
aspek tersebut saja tidak cukup ; perusahaan membutuhkan senjata lain.

       Pada saat inilah, perusahaan-perusahaan pionir berfikir bahwa hanya
teknologi informasilah yang dapat membantu mendorong peningkatan laba.
Sebagai the leader dalam berinovasi dengan TI, keuntungan yang diperoleh
perusahaan menjadi berlipat ganda.

b. Pandangan Luas

      Pada pandangan ini, MCLeod berpendapat bahwa memasimumkan nilai
penggunaan sumber daya informasi, perusahaan harus membangan suatu
sistem informasi antara organisasi atau yang lebih dikenal dengan istilah inter
organizational information system (IOS). Sistem informasi yang dimaksud
dibangun untuk menghubungakan beberapa perusahaan melalui arus informasi.
Jadi perusahaan dihubungkan dengan lingkungannya melalui sistem seperti
yang digambarkan berikut ini :



                           Request for price quote


                                 Price quote

                               Purchase order          The Firm
            Supplier

                                P.O. receipt
                             Acknowledgement

                                   invoice
       Perusahaan diharapkan memanfaatkan TI dengan menganalisa pihak-
pihak mana yang dapat dihubungkan melalui arus informasi yang memberikan
keunggulan kompetitive bagi perusahaan. Seluruh jaringan diharapkan dapat
dilaksanakan dalam dua arah dari dan ke perusahaan, kecuali jaringan dengan
perusahaan saingan merupakan jaringan ke perusahaan saja. McLeod
menambahkan bahwa kesempatan yang paling baik dalam memanfaatkan
jaringan Electronic Data Interchange dua arah dapat diperoleh dengan
menghubungkan perusahaan dengan langganan, pemasok, pemerintah dan
lembaga keuangan. Untuk hubungan dengan pihak-pihak eksternal lainnya dapat
dilakukan melalui media non-komputer. Kenneth C. Laudon dan Jane P. Laudon
menyatakan bahwa perusahaan dapat memanfaatkan informasi dan sistem
informasi untuk dapat memimpin di dalam kancah persaingan3 mereka
mengakatagorikan jenis sistem informasi yang digunakan untuk keperluan ini
adalah strategic information system (SIS). Yang termasuk dalam katagori ini
adalah semua sistem informasi berbasis komputer pada level apapun dalam
organisasi yang dapat merubah tujuan, operasi, produk jasa maupun hubungan
perusahaan dalam lingkungan.

      Turban, McLean dan Wethrbe juga menghubungkan SIS tersebut dengan
keunggulan bersaing suatu perusahaan.4 akan tetapi, mereka menambahkan
bahwa topik keunggulan bersaing hanya merupakan masalah ketiga yang
dihadapi direktur sistem informasi setelah masalah kualitas dan produktivitas.


KEUNGGULAN BERSAING ATAU KEUNGGULAN STRATEGIS
       Persaingan sangat menentukan sukses tidaknya sebuah perusahaan.
Perusahaan bekerja keras dalam menentukan strategi untuk memenangkan
persaingan dimana perusahaan dapat menguasai pangsa pasar atau
memperoleh laba lebih besar dari pada perusahaan saingan. Namun, pada
umumnya penguasaan pasar atau perolehan laba yang diperoleh karena
perusahaan unggul dalam persaingan pada saat itu tidak akan bertahan lama.
Perusahaan saingan akan mengejar ketinggalannya dengan melakukan strategi
lain atau meniru teknologi dan strategi yang digunakan perusahaan unggul
tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa sistem informasi saja tidak dapat
memberikan keunggulan bersaing dalam jangka waktu panjang (sustainable
competitive advantage).

      Untuk keperluan jangka panjang perusahaan sudah harus memikirkan
perubahan orientasi manajemen dari orientasi persaingan ke orientasi strategis,
dimana persaingan hanya merupakan salah satu aspek manajemen strategis di
samping perencanaan jangka panjang dan manajemen respons.
      SIS akan bermanfaat dalam memberikan keunggulan strategis jika
dikombinasikan dengan perubahan secara struktural. Sebagai contoh,
perusahaan Federal Express memiliki 2 (dua) jenis sistem informasi utama :

   1. Sistem informasi yang memungkinkan perusahaan mengetahui /
      menelusuri posisi barang kiriman,
   2. Sistem informasi yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi
      perusahaan dalm mengelola sumber daya manusianya secara
      komprehensif, dengan sistem yang lebih dikenal dengan nama PRISM.

      Perbedaan mendasarkan dari kedua sistem tersebut adalah sistem
informasi yang pertama dibuat dengan target utama adalah persaingan,
sedangkan yang kedua tidak mentargetkan persaingan, pembeli ataupun
langganan akan tetapi lebih menfokuskan pada peningkatan fleksibilitas
perusahaan agar perusahaan dapat bertindak secara cepat dan efektif dalam
menghadapi perubahan di pasar serta memudahkan perusahaan dalam
mengelola perubahan. Sistem yang kedua inilah yang berorientasi pada
keunggulan strategis yang bersifat jangka panjang.


PERLUNYA PEMAHAMAN KONSEP IRM
       Tindakan paling dasar sebelum perusahaan menentukan strategi untuk
memanfaatkan teknologi informasi adalah menyadari bahwa sumber daya
informasi bukan hanya informasi itu sendiri melainkan mencakup sarana dan
peralatan dalam mengelolanya. Disamping itu, para eksekutif perlu memahami
konsep Information Resources Management (IRM), yaitu konsep yang
menekankan agar para manajer pada semua tingkatan manajemen perlu
melakukan aktifitas identifikasi, perolehan dan pengelolaan sumber daya
informasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan informasi.5 Jadi
manajemen sumber daya informasi bukan merupakan tanggung jawab satu
departemen saja, tetapi juga merupakan aktifitas semua bagian dan tingkatan
manajemen. Jika hal ini sudah disadari sepenuhnya oleh semua pihak, maka
pemanfaatan teknologi informasi dapat dilakukan secara maksimum. McLeod
menyatakan bahwa ada beberapa kondisi yang perlu diciptakan di dalam
perusahaan agar konsep IRM tersebut dapat dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:

   •   Kesadaran bahwa keunggulan bersaing dapat diperoleh melalui
       pemanfaatan teknologi informasi
   •   jadi manajemen sumber daya informasi bukan merupakan tanggung
       jawab satu departemen saja, tetapi juga merupakan aktifitas semua
       bagian dari tingkatan manajemen kesadaran bahwa jasa informasi
       merupakan salah satu fungsi utama perusahaan.
   •   Pengakuan bahwa Chief Information Officer merupakan top eksekutif,
   •   Mempertimbangkan sumber daya informasi ketika menyusun
       perencanaan strategis,
   •   Memiliki rencana strategis untuk sumber daya informasi secara formal,
   •   Memiliki strategi dalam mengembangkan dan mengelola and-user
       coputing.

       Dengan pemahaman konsep IRM, penerapan teknologi informasi secara
strategis dan maksimal akan lebih mudah dilaksanakan. Konsep IRM
mencerminkan adanya pengakuan terhadap nilai dan sumber daya yang
diperlukan untuk menghasilkannya. Seringkali para manejer dan eksekutif telah
melakukan kontribusi terhadap IRM, akan tetapi kunci keberhasilan maksimum
dicapai apabila top eksekutif memberikan komitmennya terhadap IRM.


TEKNOLOGI INFORMASI :
PERKEMBANGAN DAN PERMASALAHANNYA
       Teknologi informasi secara sempit dapat didefinisikan sebagai perpaduan
antara teknologi komputer dan telekomunikasi, yang meliputi perangkat keras,
perangkat lunak, database, teknologi jaringan dan peralatan telekomunikasi
lainnya ; atau dapat juga disebut sebagai sub sistem dari sistem informasi. Akan
tetapi, saat ini masyarakat sering menggunakan istilah sistem informasi dan
teknologi informasi secara bergantian. Bahkan, pada akhirnya istilah teknologi
informasi kini menjadi lebih populer dan mengantikan posisi sistem informasi.
Penggunaan istilah yang bergantian ini akan menjadi masalah jika para manajer
menyadari perbedaannya. Penekanan tetap terletak pada sistem informasi, yang
mencakup aspek yang lebih luas dari teknologi informasi. Teknologi akan tetap
menjadi teknologi yang tidak memberikan arti kepada perusahaan kecuali
disesuaikan dengan aspek perusahaan lainnya, terutama aspek strategi
perusahaan. Oleh karena itu TI bukan hanya sekedar perangkat keras dan
perangkat lunak tetapi mencakup perpaduan antara pengetahuan, metode dan
teknik dalam menggunakan informasi dalam dunia bisnis.6

       Perkembangannya. Teknologi informasi merupakan salah satu penyebab
adanya tekanan bisnis pada organisasi. Sebaliknya, kebutuhan organisasi dapat
menyebabkan berkembang pesat TI. Oleh karena itu, sangat penting untuk
mengetahui dan mengikuti perkembangan TI yang terahkir, yang antara lain
disajikan berikut ini :

   •   Peningkatan Cost-Performance dari TI dalam kelipatan minimal 100,
       kemampuan komputer akan meningkat 50-100 kali lipat dengan harga
       yang sama.
   •   Jaringan komputer dan client / server archtecture. Perkembangan ini
       diprediksikan akan mendominasi kemajuan TI. Setiap Personal Computer
       yang berfungsi sebagai klien akan dihubungkan dengan server khusus
       dan berkemampuan tinggi.
   •   Graphical User Interface (GUI) dan interface yang user-friendly lainnya.
       GUI adalah kumpulan dari tampilan pada perangkat lunak yang
       memberikan kemudahan pada pemakainya melalui berbagai macam
       fasilitas.
   •   Media penyimpanan dan memory. Kemampuan menyimpan data akan
       meningkat dengan meluasnya CD-ROM dan media lainnya. Dengan
       kemampuan yang meningkat tersebut, kesempatan untuk menggunakan
       teknologi yang lebih canggih juga meningkat.
   •   Multimedia. Pemanfaatan teknologi multimedia akan memudahkan fungsi
       pelatihan, pendidikan dan pengambilan keputusan.
   •   Expert System, natural language prosessors dan neutral computing.
       Teknologi ini dapat membantu perusahaan meningkatkan produktivitas,
       kualitas dan dapat mendukung pekerjaan-pekerjaan yang kompleks.
   •   Peralatan yang makin kecil dan portable. Walaupun kemampuan dan
       manfaat akan meningkat, tetapi ukuran komputer justru menyusut.
   •   Networkcentric computing (NCC). Istilah yang dapat diciptakan oleh IBM
       ini merupakan sistem komputasi yang intinya justru terletak di jaringan,
       bukan di masing-masing individu komputer.

       Melihat perkembangannya yang beraneka ragam, tentu mengherankan
jika para eksekutif harus memutar otak untuk menentukan teknologi mana yang
tepat mendukung strategi bisnis yang dijalankan. Penentuan teknologi tidaklah
berdasarkan spesifikasi teknisnya saja, akan tetapi yang penting adalah
kesesuaiannya dengan rencana perusahaan.

       Permasalahan TI. Penting bagi para manajer untuk menyadari adanya
resiko dan ancaman kerugian dari TI. Oleh karena itu, para manajer perlu
berberhati-hati dalam memformulasikan rencana / strategi penggunaan TI serta
dalam pelaksanaannya.

       TI sering kali gagal dalam peningkatan produktivitas dalam perusahaan.
Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menyebabkan tertundanya sukses
dalam pemanfaat TI :7

   •   Biaya tinggi. Dibandingkan dengan harga peralatan tua, seperti mesin
       ketik, lemari penyimpan, walaupun sudah mendapat potongan harga,
       komputer pribadi buatan lokal masih tetap lebih mahal.
   •   Proses pengasaan teknologi yang lambat.
   •   Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan masalah incompatibility.
   •   Hambatan dari pekerjaan. Masih sering terjadi keadaan di mana
       kumpulan pekerja menolak masuknya peralatan serba otomatis.
   •   Masih banyaknya TI yang kurang handal. Hardware yang mendadak
       rusak, atau softwareyang masih banyak error.
   •   Kurang siapnya organisasi dalam masalah manajemen perubahan,
       pengambilan keputusan, koordinasi dan sebagainya.
   •   Manajemen yang keliru. Penggunaan komputeroleh manajemen seringkali
       masih kurang tepat : kurang dimanfaatkan, terlalu banyak pemakaian atau
       pemakaian untuk tujuan yang kurang tepat.
   •   Ketidak-terpaduan antara desain perangkat lunak dengan kegunaan dan
       pemakaiannya.

       Contoh faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan penggunaan TI
tersebut diatasi dahulu apabila manajemen akan melangkah lebih jauh menuju
tingkat strategis. Dalam mengimplikasikan TI, yang perlu diingat adalah menjaga
keseimbangan 5 elemen sistem informasi, yaitu : hardware, sotfware, sumber
daya manusia, data dan fasilitas / prosedur (termasuk strategi).


PENERAPAN TI DALAM MEMPEROLEH
KEUNGGULAN BERSAING

       Analisa perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana suatu perusahaan
dapat memanfaatkan kesempatan strategis dengan dukungan sistem informasi.
Terdapat 4 model yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan bagian bisnis
di mana sistem informasi dapat mendukung dalam pencapaian tujuan sebagai
berikut :

1.Model “kekuatan yang mendorong persaingan” (Porter, 1980)

Competitive Forces Model
     Untuk dapat mengidentifikasikan di mana sistem informasi dapat
 membantu perusahaan meningkatkan daya saingnya, perlu diteliti dulu
 hubungan perusahaan dengan lingkungannya. Dalam model ini digambarkan
 bahwa perusahaan menghadapi kesempatan dan ancaman eksternal, yaitu :

   •   Ancaman adanya pesaing baru yang masuk ke dalam pasar,
   •   Tekanan dari produk atau jasa subtitusi,
   •   Daya tawar dari langganan,
   •   Daya tawar dari pemasok,
   •   Possi pesaing-pesaing tradisional (kondisi persaingan)

      Porter memberikan alternatif adanya 3 strategi yang dapat digunakan di
perusahaan untuk, menghadapi ancaman persaingan :

Differentation.

      Dalam strategi ini, perusahaan bersaing dengan menggunakan strategi
yang menekankan adanya kekhususan di dalam perusahaan dibandingkan
dengan saingannya di dalam industri yang sama. Kekhususan disini dapat
berupa produk, sistem pemasaran atau jasa yang ditawarkan perusahaan
kepada pelangannya termasuk faktor-faktor lain yang dianggappenting oleh
pelanggan. Sehingga produk atau jasa tersebut mempunyai nilai lebih. Oleh
karena itu pelanggan tidak segan membayar lebih mahal atau perusahaan dapat
menetapkan harga lebih fleksibel di pasaran. Seperti yang dikatakan oleh Porter,
“…a firm seeks to be unique in its industry along some diminsions that are widely
valued by buyers”. Dimensi inilah yang perlu diidetifikasi karena sangat strategis
bagi perusahaan dan sangat penting bagi langgaan.

Cost Leadership

      Strategi cost leadership menekankan keunggulan dalam biaya, artinya
mereka yang menggunakan strategi ini yakin bahwa perusahaannya beroperasi
dengan biaya terendah sehingga dapat menawarkan harga pokok atau jasanya
lebih murah dari pesaingnya. Bahkan, jika harga produk atau jasanya sama
dengan sainganya mereka masih memperoleh keuntungan yang besar.

        Fokus. Strategi ini merupakan gabungan dari strategi yang dijelaskan
terdahulu. Hanya bedanya, pada strategi ini perusahaan memfokuskan produk
atau jasanya untuk memenuhi kebutuhan segmen tertentu (terbatas), dengan
keuntungan di mana perusahaan dapat beroperasi dengan lebih efisien dan
efektif. Karena segmen pasarnya yang tertentu dan terbatas, perusahaan
menjadi sangat ahli dalam mempelajari keinginan pelanggannya.

       Dalam menggunakan model ini perusahaan perlu melakukan tahapan
analisa sebagai berikut :

   1. Analisa mengenai kekuatan, kelemahan maupun kesempatan dan
      ancaman bagi posisi perusahaan dalam persaingan,
   2. Menentukan strategi yang akan digunakan dalam menghadapi poin 1,
   3. Membangun sistem informasi yang dapat mendukung rencana dan
      strategi yang dipilih,

      Analisa di atas dapat membantu manajemen menentukan bagaimana TI
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Disamping itu,
perusahaan juga dapat menggunakan TI untuk mempertahakan (melindungi) diri
terhadap ancaman persaingan atau terhadap tindakan yang saingan.

2. Model “Analisa Rangkaian Nilai” (Porter, 1985)

Value Chain Analysis Model

       Model Porter yang lain ini dapat digunakan untuk mendukung
penggunaan Model “kekuatan yang mendorong persaingan” seperti yang
dijelkaskan terdahulu. Tahapan dimulai dengan melihat aktivitas organisasi yang
dibagi menjadi 5 aktivitas utama dan 4 aktivitas pendukung. Kemudian,
perusahaan perlu mengetahui aktivitas mana yang paling strategis untuk
menentukan kekuatan dan daya saing perusahaan. Bagian mana yang paling
banyak memberikan keuntungan jika didukung TI : aktivitas mana yang dapat
digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa baru, untuk meningkatkan
kemampuan perusahaan menembus pasar, mengikat langganan dan pemasok
atau menurunkan biaya operasional. Model ini memandang perusahaan sebagai
kumpulan “nilai” dari setiap aktivitas dasar yang dapat menambah nilai produk
ataupun jasa.


                                    Firm Infrastrukture                           P
                 (general management, accounting, finance, strategic planning)
                                                                                  r
           A                                                                      o
                               Human Resource Management
           c                 (recruiting, training, development)
                                                                                  f
   S       t                                                                      i
   u       i                                                                      t
   p       v                       Techology Development
   p       i                                                                      M
   o       t                           Procurement                                a
   r       i         (puerchasing of raw materials, machines, supllies)           r
   t       e                                                                      g
                                                                                  i
                                                                                  n
                Inbound                     Outbound      Marketing     service
   Primary      logistics     operations    logistics     And sales
   activities




       Perusahaan memiliki keunggulan daya saing jika memberikan puduk
dengan nilai lebih kepada langganan : atau memberikan produk dengan
nilaiyang sama dengan harga yang lebih murah. Teknologi informasi dapat
memiliki dampak strategis kepada perusahaan jika dapat menolong perusahaan
memberikan nilai lebih pada produk atau memberikan produk yang sama dengan
harga yang lebih murah dari saingannya. Perusahaan harus berusaha untuk
membangun SIS pada aktivitas yang paling memberikan nilai pada perusahaan
di mana hal ini dapat berbada antara satu perusahaan dengan perusahaan
lainnya.

3. Model “Hubungan Strategis-Target Strategis” (Wiseman dan Macmillan,
1984)

Strategic Trust-Strategic Target

     Model ini menunjukkan bagaimana manajemen dapat mengidetifikasikan
kesempatan yang tersedia untuk memperoleh keunggulan bersaing melalui
inovasi dalam . Wiseman dan Mcmillan menambahkan 4 aspek dari strategi
dasarnya Porter, yaitu : Inovasi, pertumbuhan, alliance dan waktu (lihat gambar).

Wiseman / Macmillan’s Matrix :
Example of Technologies Are Listed in the Cells

Strategic Thrust       Supllier             Customer                 Competitor
Differenttitation      Not      applicable IT-supported              Cash
                       costomization        mass
                                            management
Cost                   Not      applicable Computerized              Expert systems
                       system               inventory (reduce
                                            cost)
Innovation             Lotus Notes quick Use                of       Intelligent system
                       response             Geographical
Growth                 Lotus Notes own Empower                       Not apllicable
                       enquiries            customers to do
Alliance               EDI                  EDI                      E-mail
Time                   EDI,      electronic E-mail                   CAD
                       transfer of funds
SOURCE : Based on Wiseman and Mcmillan, 1985. techologies insereted by the authours

       Perusahaan melakukan analisa untuk menentukan aplikasi untuk setiap
pihak internal sesuai dengan strategi yang dipilih. Penentuan aplikasi tersebut
umumnnya dilakukan dengan melalui proses brainstoming, seperti tahapan yang
dilakukan sebuah perusahaan berikut ini :8

TAHAP      AKTIVITAS
  A        Memperkenalkan konsep SIS pada presiden perusahaan
  B        Melaksanakan sesi untuk pembentukan ide SIS untuk manajer madya
  C        Melaksanakan sesi untuk pembentukan ide SIS untuk eksekutif
  D        Memperkenalkan konsep SIS dan ide baru untuk perusahaan kepada
           top eksekutif
   E       Melaksanakan rapat pembentukan dan evaluasi ide SIS kepada para
           perencana dalam perusahaan
4. Model “Daya tawar dan perbandingan efisiensi (Bakos dan Treancy,
1986)

Bargainining Power and Coparativi Efficiency

       Menurut Bakos dan Treacy, 2 sumber utama Competitive Advantage-nya
Porter berasal dari Bargaining Power dan Comparative Efficiency. Kedua hal
tersebut ditentukan oleh 5 faktor sebagai berikut :

   1. Search-related costs
      Dengan meningkatnya biaya bagi langganan perusahaan untuk mencari
      pemasok baru, maka langganan akan menjadi setia dan segan untuk
      berpindahmencari pemasok lain.

   2. Unique product featurest.
      TI dapat membantu perusahaan untuk menciptakan produk atau jasa
      yang unik dan lebih baik dari produk saingan.

   3. Switching cost
         a. Mematok langganan dengan meningkatkan biaya bagi langganan
            untuk berpindah kepada pemasok lain.
         b. Sebaliknya bagi perusahaan, turunkan biaya agar mudah
            berpindah kepada pemasok lain. Misalnya dengan menjadi
            pemasok bagi perusahaan sendiri, atau membangun sistem
            dengan bantuan TI untuk mudah berhubungan dengan pemasok
            lain.

   4. Internal efficiency.
      Efisiensi perusahaan dapat ditingkatkan dengan mengurangi biaya dan /
      meningkatkan produktivitas TI dapat dimanfaatkan untuk membantu
      kedua hal tersebut.
   5. Interorganization Efficiency.
      Tingkatan efisiensi hubungan antar organisasi melalui synergy. TI dapat
      meningkatkan usaha bersama (persekutuan) dan lain-lain, misalnya EDI
      dapat membantu terbentuknya salah satu kerja sama tersebut diatas.
      Sesuai dengan namanya, Bakos dan Treacy percaya pada awalnya, TI
      digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi yang dapat
      diperbandingkan antar perusahaan, disebut Comparative Efficiency.
      Namun, akhir-akhir ini terlihat banyak aplikasi TI bertujuan untuk
      keperluan peningkatan daya tawar perusahaan.
A FRAMEWORK FOR MULTINATIONAL CORPORATIONS


           Search-related
               costs


              Unique                Bargaing
              product                power


             Switching
               costs                                       Competitive
                                                            advantage

              Internal
             efficiency
                                  Comparative
                                   efficiency
           Interoganizatio
             n efficiency




      Dari ke 4 (empat) model di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa TI
dimanfaatkan dengan menganalisa aktivitas dan lingkungan perusahaan agar :

   1. Perusahaan menjadi unik dalam hah : produk, jasa ataupun aspek
      lainnya.
   2. Perusahaan beroperasi dengan tingkat efisiensi atau produktifitas, yang
      artinya biaya rendah.
   3. Perusahaan membentuk kerja sama dengan, paling tidak, salah satu dari
      pihak eksternal perusahaan.

       Tiga kondisi di atas terpisah satu sama lain dimana perusahaan dapat
memilih salah satu dari ketiga aspek tersebut di atas menjalankan 2 atau 3
strategi di atas secara bersama-sama dalam menghadapi persaingan.
PERMASALAHAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONESIA

         Pentingnya daya saing berbagai produk dalam pasar dunia selalu
didengungkan oleh berbagai pejabat negara. Dalam era globalisasi tidak ada
pilihan bagi pemerintah Indonesia selain menyiapkan bangsanya dan
perekonomian agar dapat berdiri sejajar dan mampu bersaing dengan bangsa
lain, tidak hanya di negara sendiri melainkan justru di negara-negara lain.

       Berbicara mengenai persiapan perusahaan- perusahaan di Indonesia,
kesadaran akan kebutuhan TI sudah sangat meningkat. Hal ini dapat dilihat pada
penjualan perangkar keras yang cenderung terus bertambah. Pada tahun 1992,
penjualan dari mulai PC sampai dengan mainframe di seluruh Indonesia adalah
US $ 364 juta, sedangkan pada tahun 1995 meningkat pesat menjadi US $ 503,7
juta. Hal yang sama juga terjadi pada penjualan perangkat lunak, pada tahun
1992 sebesar US $ 104 juta meningkat US $ 165 juta di tahun 1995. kesadaran
tersebut juga ditandai oleh meningkatnya permintaan akan jasa konsultasi di
bidang komputerisasi dari US $ 51,9 juta di tahun menjadi US $ 83,2 juta di
tahun 1995.

       Namun demikian, indikasi tersebut di atas tidak menjamin bahwa
pemanfaatan TI oleh perusahaan- perusahaan di Indonesia sudah maksimal.
Banyak perusahaan yang telah menggunakan TI ternyata orientasinya masih
berkisar pada peningkatan efisiensi dan efektivitas. Apabila TI di Indonesia
menunjukkan kondisi bahwa TI tampaknya belum dimanfaatkan secara optimal.
Masih banyak aplikasi yang bertujuan untuk memecahkan solusi yang bersifat
sesaat dan belum memikirkan return atas penerapannya. Banyak dijumpai
perangkat komputer yang belum berfungsi sebagaimana mestinya, yang ternyata
disebabkan penggunaan belum matang. Penerapan aplikasi tersebut rupanya
hanya didorong oleh keinginan untuk memiliki teknologi baru semata.
Kebanyakan perusahaan masih bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan
produktivitas, walau beberapa sudah mulai mengarah pada peningkatan
efektivitas manajemen dalam pengambilan keputusan.

       Indonesia mulai mengajar ketingalannya dalam masalah TI. Pada masa
perdagangan bebas, baik pemerintah maupun pihak swasta tidak dapat lagi
mengantungkan diri pada pekerjaan manual. Bukan itu saja, otomatisasi yang
bersifat sektoralpun tidak dapat ditolelir lagi.

       Dengan lamanya return of investment, masih banyak perusahaan yang
enggan melakukan investasi yang besar. Di samping itu, kendala utama yang
menghambat penerapan TI di Indonesia adalah kurangnya sumber daya
manusia yang kompeten dalam sistem dan teknologi informasi. Ahli yang dapat
menjembatani antara bidang manajemen / bisnis dengan bidang TI masih dapat
dihitung dengan jari. Perusahaan harus mulai membiasakan diri untuk tidak
berorientasi hanya pada dasar domestik saja dan mulai meningkatkan daya
saing masing-masing. Kompetisi akan semakin kuat dengan masuknya
perusahaan- perusahaan internasional ke pasar domestik, atau sebaliknya
perusahaan- perusahaan Indonesia akan go international, harus mempersenjatai
dirinya dengan TI. Pilihan bagi perusahaan tetap ada : menjadi the leaderatau
the follower. Tentunya masing-masing pilihan tersebut mempunyai faktor positif
dan negatifnya. Walau demikian, the follower bukan berarti mengikuti strategi
perusahaan lain secara mentah, manajemen tetap perlu melakukan analisa
untuk menentukan kesesuaian teknologi dengan strategi bisnisnya.

     Dilihat secara macro, permasalahan TI di Indonesia meliputi hal-hal
sebagai berikut :

   1. Budaya masyarakat Indonesia yang masih banyak mengandalkan pada
      pekerjaan manual karena murahnya biaya tenaga kerja.
   2. Pembangunan TI masih dilakukan secara sektoral. Belum ada instansi
      pemerintah yang menangani secara khusus. Satu-satunya kontrol
      terhadap pembangunan TI di Indonesia adalah penyaringan usulan
      pembangunan TI oleh Bappenas. Dan tentunya hal tersebut hanya
      terbatas pada pelaksanaan proyek TI di kalangan instansi pemerintah.
   3. Belum adanya keseragaman data secara nasional dan keseragaman
      dalam hal pemakaian perangkat keras dan perangkat lunak. Hal ini
      disebabkan pula oleh karena tidak adanya instansi yang merencanakan
      pembangunan TI secara terpadu.
   4. Masih adanya budaya meproteksi industri / perusahaan tertentu.
   5. Dalam hah prasarana telekomunikasi : tarif saluran komunikasi data dinilai
      masih sangat mahal serta kualitasnya kurang memadai.

      Dengan mengenali kendala-kendala tersebut di atas, diharapkan
pemerintah dan pihak swasta dapat mengambil langkah solusi kongkret.

       Namun demikian, cukup banyak perusahaan di Indonesia yang telah
cukup berhasil dalam mengimplementasikan TI, seperti misalnya kelompok
Matahari yang meninvestasikan dananya sekitar 0,7% - 0,8% dari omset. Mereka
sudah mengotomatisasi beberapa aktivitas operasi dari mulai back office,
inventory system, point of sale system, sampai dengan sistem yang dapat
mendekatkan perusahaan dengan pelanggan dan pemasoknya melalui sistem
yang disebut Quick Response System (QRS). Hasil yang dicapai berupa
lonjakan kinerja dan produktivitas karyawan.

       Di lain pihak, Bank Bali dianggap sebagai salah satu bank dengan strategi
TI yang benar, karena mereka merencanakan dahulu dengan teliti, baru
melaksanakannya. Contoh penerapan TI yang dilakukan Bank Bali adalah
terobosan di bidanng perbankan di Indonesia yaitu mendirikan Direct Banking
(DB), layanan perbankan melalui telepon, meningkatkan keuntungan perusahaan
sangar mengandalkan kekuatan teknologi informasi.
       Sebelum penerapan TI untuk keperluan persaingan, manajemen
sebaiknya memahami konsep dari keunggulan bersaing (competitive advantage).
Oleh karena strategi untuk unggul dalam persaingan ternyata tidak dapat
memberikan keuntungan jangka panjang, maka penting bagi perusahaan untuk
mulai memikirkan bahwa unggul dalam kompetisi bukan selalu merupakan tujuan
ahkir akan tetapi perusahaan juga perlu melakukan perubahan struktural.
Pemikiran yang terakhir ini lebih dikenal dengan keunggulan strategis (strategic
advantage) yang bertujuan jangka panjang dan dapat memberikan fleksibilitas
bagi perusahaan untuk menghadapi perubahan yang terjadi di lingkungan,
seperti perubahan karena adanya tekanan dari perkembangan TI.

       TI berkembang sangat pesat, mulai dari kemajuan di bidang cost /
performance dari komputer, arsitekturnya yang dikenal dengan client / server,
penampilannya yang membuat TI semakin mudah digunakan, media
penyimpanannya yang berkapasitas lebih besar dan lebih dapat diandalkan,
kemajuan di bidang artficial intellegence sampai dengan penampilan secara
phisiknya yang semakin kecil dan portable. Secara teknis, kemajuan di bidang TI
sudah tidak diragukan lagi, akan tetapi mampukah perusahaan
memanfaatkannya secara optimal merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan
kompleks.

      Agar dapat memafaatkan TI secara strategis, para eksekutif dan manajer
perlu melakukan analisa teradap aktivitas-aktivitas perusahaan dengan
menggunakan salah satu atau gabungan model-model berikut ini : (1) Model
Kekuatan yang mendorong persaingan (2) model analisa rangkaian nilai (3)
model hubungan strategis – target strategis (4) model daya tawar dan
perbandingan efisiensi. Setelah melakukan analisa hubungan perusahaan
dengan lingkungannya, manajemen dapat mempelajari aktivitas perusahaan
yang dapat memberikan nilai lebih pada produk atau jasa yang dihasilkan.
Selanjutnya, dapat dipilih teknologi yang dapat mendukung kegiatan strategis
tersebut.

        Tingginya tingkat penggunan TI di negara maju, ternyata tidak
sepenuhnya terjadi di Indonesia. Faktor yang paling mendasar dari lambatnya
penerapan TI di Indonesia bersumber pada budaya masyarakatnya yang masih
terbiasa pada kehidupan yang bersifat tradisional. Phlosophy top manajemen di
Indonesia masih banyak enggan memanfaatkan teknologi informasi. Penting
untuk menyadarkan pihak top manajemen, karena sejauh ini pemanfaatan TI di
Indonesia masih banyak terbatas pada peningkatan efisiensi dan produktivitas di
mana hal ini menunjukkan kenyataan bahwa kesadaran akan pentingnya TI baru
terjadi pada level bawah dan menengah.

       Untuk meningkatkan tingkat kesadaran tersebut dapat dimulai dari satu
lingkungan profesi seperti akuntan. Tentunya akuntan baik pada level
operasional maupun level taktis dan strategi mulai meningkatkan
pengetahuannya mengenai TI. Kontribusi yang diberikan akuntan terhadap
strategi perusahaan sangat besar di mana perpaduan antara strategi TI akan
memberikan keuntungan jangka panjang pada perusahaan. Fasilitas ini
ditunjukkan untuk mereka yang tidak ingin antre dalam memperoleh layanan
perbankan. Bank baru ini didukung TI 100 % hasilnya, DB maupun menarik
ratusan pengusaha dan eksekutif dalam 1 tahun.

       Contoh lain lagi adalah aplikasi TI pada perum pelabuhan III Surabaya.
Perumpel menggunakan radio link untuk memantau letak kontainer di lapangan
yang sering berpindah tempat tanpa perubahan data kantor. Akhirnya, dengan
menggunakan radio link data lapangan dapat dimasukan ke database di kantor.
Sehingga, lokasi peti kemas langsung ketahuan di blok, slot dan urutan ke
berapa pada saat kapal singgah. Dengan solusi tersebut, hasilnya : kesalahan
turun menjadi nol persen, berarti efisiensi meningkat. Letak peti kemas yang siap
diangkut dapat diketahui dengan pasti, meski disana terdapat ribuan kontainer
yang menunggu diangkut.


DAMPAK PEMANFAATAN TI SECARA STRATEGIS
PADA AKUNTAN
      Meluasnya penerapan TI di Indonesia, tentunya mempunyai dampak
khusus pada profesi akuntan. Hal-hal berikut ini mungkin dapat dijadikan bahan
pemikiran :

   1. Akuntan tidak dapat lagi memfokuskan dirinya hanya pada masalah
      sekitar akuntansi. Pengetahuan mengenai TI mulai harus dikembangkan.
      Hal ini berkaitan dengan masalah information literacy yang perlu
      ditingkatkan agar pemanfaatan TI dapat dioptimalkan. Pengetahuan
      mengenai TI ini tidak sekedar pengetahuan secara teknis akan tetapi lebih
      pada kekuatannya secara strategis.
   2. Akuntan diharapkan kontribusinya dalam penentuan startegi perusahaan
      dengan melakukan analisa terhadap aktivitas perusahaan. Ketelitian
      terhadap perhitungan return on investment dan cost / benefit analysis
      akan membantu pengambilan keputusan oleh top manajemen agar
      mereka tidak terlalu terpaku pada investasi awal yang besar.
   3. Akuntan diharapkan pemahamannya terhadap kekuatan perusahaan yang
      dihasilkan oleh perpaduan antara strategi bisnis dengan TI. Secara
      spesifik, strategi cost leadership sangat membutuhkan daya analisa
      mengenai aktivitas perusahaan dan biaya-biaya yang dilibatkan.
   4. Dengan meningkatnya kesadaran TI, diharapkan communication gap
      yang selama ini sering terjadi dapat berkurang. Tentunya, hal yang sama
      diharapkan dilaksanakan oleh ahli TI.
PENUTUP
       Perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah saatnya untuk memikirkan
posisi dan peranannya di dalam industri. Sebagai persiapan dalam menghadapi
era globalisasi, suatu perusahaan tidak dapat bertahan dengan hanya
berorientasi pada pasar domestik. Para eksekutif dapat berinovasi dengan TI
dalam menentukan strategi persaingan. Seperti yang dialami oleh perusahaan-
perusahaan di negara maju, strategi yang ditempuh dalam meningkatkan
keuntungan perusahaan sangat mengandalkan kekuatan teknologi informasi.


CATATAN KAKI
1
Michael E. Porter, Compititive Advantage (New York : Free Press, 1985).
2
Raymond Mcleon, Management Information Systems – A Study of Computer
 Based information Systems (New Jersey : Prentice Hall, Inc., 1995), hal. 36-39.
3
Keneth C. Louden dan Jane P. Laudon, Management Information Systems-
 Organization and Technology, (New Jersey : Pretice Hall, Inc., 1996), hal. 43
4
Efraim Turban; Ephraim McLean and James Wheterbe, Information Technology
 for Management-Improving Quality and Productivity, (New York : John Wiley &
 Sons, Inc., 1996), hal 71.
5
Raymond Mcleod, Management Information Systems – A Study of Computer
 Based Information Systems (New Jersey : Prentice Hall, Inc., 1995) hal 48.
6
Bruno Zaccharo “Understanding the New Workplace : Four Management Views,
 “World Executive’s Digest (October 1993) : hal. 14.
7
Thomas K. Landauer, “The trouble with Computers, : “World Executive’s Digest
 (Agustus 1996) : hal. 37.
8
Efraim Turban, Epraim Mclean dan James Wetherbe, Information Technology
 for Management, (New York : John Wiley & Sons, Inc. 1996), hal 82.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:40
posted:2/15/2012
language:
pages:19
Gye Teenagers Gye Teenagers Blog-ID http://www.blog-id.info
About User and Blogger