PENDIDIKAN AKUNTANSI BAGI PRAKTISI by ManusiaBiasa3

VIEWS: 69 PAGES: 11

									PENDIDIKAN AKUNTANSI BAGI PRAKTISI SEBAGAI
BAGIAN DARI PENDIDIKAN PROFESIONAL
BERKELANJUTAN
Oleh: Mulyadi, MSc.

1. PENDAHULUAN
2. PENTINGNYA PENDIDIKAN AKUNTANSI BAGI PRAKTISI
3. PENTINGNYA PENDIDIKAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN
4. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PROFESIONAL
5. PENUTUP

PENDAHULUAN
      Globalisasi telah menyebabkan perubahan besar di lingkungan bisnis
yang dihadapi oleh profesi akuntansi. Untuk tetap efektif dalam penyediaanjasa
bagi pemakai informasi keuangan, para praktisi akuntansi perlu melakukan
peningkatan kandungan pengetahuan akuntansi mereka ke world class dan
updating kandungan pengetahuan mereka secara berkelanjutan.

   Makalah ini mencoba menjawab berbagai pertanyaan berikut ini :

   1. Mengapa pendidikan akuntansi penting bagi praktisi akuntansi ?
   2. Mengapa pendidikan profesional berkelanjutan (PPB) menjadi penting
      dalam era globalisasi ini ?
   3. Bagaimana menjadikan para praktisi akuntansi menyadari pentingnya
      pendidikan akuntansibagi mereka ?
   4. Bagaimana kualitas PPB diwujudkan ?


PENTINGNYA PENDIDIKAN AKUNTANSI BAGI PRAKTISI

       Ada empat faktor yang menyebabkan pendidikan akuntansi bagi praktisi
diperlukan :

   1. Dampak globalisasi.
   2. Ilmu dan pengetahuan dibangun berdasarkan paradigmatertentu.
   3. Perubahan pesat di bidang ilmu dan pengetahuan menuntut praktisi
      akkuntansi menjadi life-long learner.
   4. Pemanfaatan secara ekstensif teknologi informasi dalam bisnis.

Dampak Globalisasi
      Dengan terjadinya globalisasi yang melanda semua negara di dunia,
perusahaan-perusahaan memasuki lingkungan bisnis yang sangat berbeda
dengan lingkungan bisnis yang dikenal sebelumnya. Pasar tidak lagi hanya
dimasuki oleh pesaing-pesaing domestik, namun telah didatangi oleh pesaing-
pesaing mancanegara yang membawa produk dan jasa yang sarat dengan
kandungan pengetahuan tingkat dunia. Para praktisi akuntansi Indonesia perlu
menggunakan peradigma baru untuk mempertahankan kelangsungan hidup
mereka dalam lingkungan bisnis global ini.

      Globalisasi ekonomi berdampak terhadap 3 C : custemer, competition,
and change. Perusahaan-perusahaan dipaksa memasuki suatu daerah yang di
dalamnya 3 Ctersebut mengalami perubahan yang sangat berbada dengan
keadaannya di masa yang lalu.

        Customer take change. Akibat globalisasi ekonomi, terjadi pergeseran
kekuasaan dalam pasar. Keadaaan sebelumnya produsen yang menentukan
produk dan jasa apa yang harus disediakan di pasar, berubah menjadi custemer
menentukan produk dan jasa yang mereka butuhkan, yang harus dipenuhi oleh
produsen. Anggapan yang dulu digunakan oleh para produsen bahwa pasar
merupakan mass market sebenarnya suatu anggapan yang salah. Mass market
tidak pernah ada, sehingga filosofi mass production yang dipakai sebagai dasar
untuk memenuhi kebutuhan custemer sebenarnya suatu keyakinan dasaryang
keliru.

       Customers meminta produk dan jasa yang didesain untuk memenuhi
kebutuhan unik dan tertentu mereka. Customer secara individual menuntut agar
ia diperlakukan secara individual. Customer menjadi sangat pemilih (choosy).
Dengan perubahan karakteristik customer ini, filosofi yang digunakan oleh
produsen dalam menghasilkan produk dan jasa berubah dari mass production
menjadi mass customization. Filosofi mass customization dipakai untuk
memenuhi kebutuhan customer berdasarkan anggapan bahwa pasar pada
dasarnya berupa segmented market. Setiap market segmen terdapat
sekelompok customers yang menuntut untuk diperlakukan secara khusus oleh
produsen sesuai dengan kebutuhan khusus mereka.

       Teknologi informasi dalam bentuk basis data yang canggih, yang mudah
diakses, memungkinkan para produsen produk dan jasa serta pengecer untuk
memiliki dan menggunakan informasi mengenai custemer mereka, tidak hanya
informasi dasar tentang customer mereka, namun juga informasi mengenai
preferensi dan berbagai tuntutan mereka, sehingga keadaan ini meletakkan
dasar baru dalam persaingan.

      Setiap transaksi bisnis selalu melibatkan konsumsi dan / atau
pemerolehan berbagai sumber daya. Konsumsi dan / atau pemerolehan sumber
daya memerlukan alat untuk mengukurnya. Akuntansi merupakan alat untuk
mengukur sumber daya yang dikonsumsi dan / atau diperoleh dalam
pelaksanaan transaksi bisnis. Semakin maju masyarakat, semakin kompleks
transaksi yang dilaksanakan dalam masyarakat tersebut, sehingga semakin
kompleks pula akuntansi yang digunakan untuk mengukurnya.
      Bahasa merupakan alat untuk berfikir. Sebagai bahasa bisnis, akuntansi
dipengaruhi kerangka berfikir pemaskainya. Sebaliknya, informasi akuntansi juga
mampu membentuk kerangka berfikir pemakainya.

       Perubahan dari “produsen memegang kendali” menjadi “customers
memegang kendali” menyebabkan dunia serasa dibalik seratus delapan puluh
derajat. Untuk mampu mempertahankan kelangsungan hidup, produsen produk /
jasa dipaksa untuk mengubah mindset mereka menjadi “think like custemers”
berikut ini :

   1. Produsen berfikir bahwa mereka membuat produk. Custemers berfikir
      bahwa mereka membeli jasa.
   2. Produsen ingin return maksimum dari sumber daya yang mereka miliki.
      Custemers peduli manfaat sumber daya untuk diri mereka, bukan untuk
      pemiliknya.
   3. Produsen khawatir visible mistakes. Custemers meninggalkan produsen
      karena invisible mistakes.
   4. Produsen berfikir teknologi mereka menciptakan produk. Custemers
      berfikir kebutuhan mereka menciptakan produk.
   5. Produsen mengorganisasi kegiatan untuk kenyamanan intern. Custemers
      menginginkan kenyamanan mereka yang diutamakan.

      Perubahan mindset produsen ini tentu saja akan mempunyai pengaruh
terhadap akuntansi yang digunakan untuk mengukur konsumsi dan / atau
pemerolehan suber daya yang terdapat dalam transaksi antara produsen dan
custemers.

       Para praktisi akuntansi Indonesia perlu menyadai bahwa pemakai
informasi akuntansi merupakan custemers mereka. Dan perlu disadari bahwa
informasi akuntansi hanya merupakan satu di antara produk dan jasa yang
dikonsumsi oleh customers tersebut. Padahal dalam mengonsumsi produk dan
jasa selain informasi akuntansi, pemakai informasi akuntansi dimanjakan oleh
para produsen dan penyadia jasa. Pemakai informasi akuntansi membutuhakan
jasa berkualitas dari para praktisi akuntansi sebagaimana produk dan jasa
berkualitas yang dihasilkan dan disediakan oleh para produsen dan penyedia
jasa pada umumnya.

       Competition intensifies. Globalisasi tidak hanya menambah jumlah
pesaing di pasar, namun juga menyebabkan bervariasinya persaingan yang
terdapat di pasar. Produk dan jasa dalam persaingan global bersaing
berdasarkan kandungan pengetahuan yang terdapat di dalamnya. Persaingan
global diwarnai oleh keadaan yang didalamnya perusahaan yang memiliki kinerja
yang baik mendesak keluar perusahaan yang inferior. Perusahaan-perusahaan
baru muncul, yang tidak mau mengikuti aturan bisnis yang sudah ada, namun
membawa dan membuat aturan bisnis baru, yang memaksa perusahaan-
perusahaan yang sudah ada sebelumnya harus memilih memilih : terus hidup
dengan mengikuti aturan bisnis baru atau mati karena tidak mampu mengikuti
aturan bisnis baru tersebut. Teknologi informasi telah mengubah secara dramatis
karakteristik persaingan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya oleh banyak
perusahaan. Teknologi informasi memperluas hal yang mungkin dilaksanakan
oleh perusahaan dalam menjalankan bisnis mereka, dengan demikian
meningkatkan tuntutan custemers terhadap perusahaan-perusahaan yang
memenuhi kebutuhan mereka.

       Praktisi akuntansi Indonesia menghadapi persaingan tidak saja dari
jumlah praktisi akuntansi yang meningkat namun dari kualitas persaingan
dengan masuknya praktisi akuntansi lulusan pendidikan tinggi luar negeri ke
Indonesia, dan bahkan dari praktisi akuntansi asing yang mencari pekerjaan di
Indonesia. Oleh karena itu, praktisi akuntansi Indonesia memerlukan
peningkatan kandungan pengetahuan mereka ke kelas dunia, agar mereka
mampu bersaing dengan para praktisi akuntansi asing yang mencari pekerjaan
di Indonesia atau agar mereka mampu bersaing dalam mencari pekerjaan di luar
negeri.

        Change becomes constant. Globalisasi menjadikan lingkungan bisnis
sangat bergolak, penuh dengan perubahan. Sejak dahulu, perubahan senantiasa
terjadi di dunia ini. Namun, perubahan dalam era globalisasi ini sangat berbeda
sifatnya dengan era sebelumnya. Perubahan yang terjadi dalam era globalisasi
memiliki karakteristik : (1) perubahan bersifat radikal, (2) perubahan bersifat
pervasif. Perubahan radikal sangat mudah dilalakukan karena semakin
ekstensifnya pemakaian komputer di hampir semua arana kehidupan manusia.
Komputer mengambil alih semua pekerjaan yang bersifat tedipous, sehingga
membuka kesempatan bagi manusia untuk mengembangkan kreaktivitas
mereka. Dengan menggunakan CAD (computer assisted design) para engineer
dapat membuat desain produk dengan sangat mudah dan cepat. Dengan
menggunakan CAE (coputer assistend engineering) para engineer dapat dengan
mudah menguji desainnnya. Di bidang desain sistem informasi, penggunaan
CASE (computer assisted software engineering), memungkinkan system analiyst
meningkatkan kreaktifitasnya dalam pengembangan sistem informasi yang
berdaya guna bagi pemakai informasi.

      Era globalisasi juga ditandai dengan kemajuan pesat di bidang
telekomunikasi dan transportasi, yang dampaknya berupa percepatan
pengkomunikasia setiap perubahan yang terjadi ke seluruh dunia.
Telekomunikasi dan transportasi mengakibatkan perubahan yang terjadi di dunia
menjadi pervasif, merembes ke semua aspek kehidupan dengan cepat.

       Praktisi akuntansi Indonesia perlu menyadari bahwa akuntansi merupakan
pengetahuan yang pengembangannya berpusat di negara barat, terutama USA.
Perubahan pesat pengetahuan akuntansi di USA sebagai akibat dari perubahan
tuntutan pemakai informasi akuntansi di sana akan dengan cepat merembes ke
seluruh dunia.dengan demikian, praktisi akuntansi Indonesia perlu memiliki
effective-change-sensing radar untuk memantau perubahan dan perkembangan
pengetahuan akuntansi, agar informasi akuntansi yang dihasilkannya mampu
memenuhi kebutuhan pemakainya. Life-long learning menjadi suatu kebutuhan
mutlak bagi praktisi akuntansi di dalam era globalisasi.

Ilmu Dan Pengetahuan Dibangun Berdasarkan Paradigma Tertentu

      Perlu disadari bahwa perkembangan sains dan pengetahuan tidak melalui
proses akumulasi, namun melalui pergeseran paradigma ? Menurut Ptolemeus,
bumi merupakan pusat alam semesta dan tidak bergerak. Paradigma ini diterima
berabad-abad lamanya dan digunakan untuk menyusun ilmu astronomi pada
waktu itu. Kemudian Nicolaus Copernicus, ahli astronomi Polandia, membalik
paradigma tersebut, dengan mengatakan bahwa bumi berputar pada porosnya
(yang mengakibatkan siang berganti malam) dan berputar mengelilingi matahari
(yang mengakibatkan perubahan tahunan). Paradigma baru ini kemudian
digunakan untuk menyusun ilmu astranomi modern dan dasar penemuan
penting, seperti penemuan Galileo (1564-1642), hukum Johannes Keppler
(1571-1630) dan hukum gravitasi Isaac Newton (1643-1727).

        Pengetahuan manajemen dan akuntansi juga berkembang melalui proses
pergeseran paradigma dari satu paradigma ke paradigma lain. Manajemen
tradisional yang memiliki karakteristik : sentralisasi, organisasi fungsional, dan
birokrasi dikembangkan berdasarkan atas paradigma : lingkungan bisnisyang
stabil, persaingan tidak tajam, pengendalian merupakan fokus manajemen.
Dengan perubahan lingkungan bisnis yang berkarakteristik : custemer take
charge, competition intensifes, dan charge becomes constant, diperlukan
paradigma baru yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi oleh perusahaan :
custemer value, continuous improvement, dan cross-functional team approach.
Oleh karena itu, jika paradigma yang digunakan untuk menyusun dan
mengembangkan ilmu dan pengetahuan perlu digeser, ilmu dan pengetahuan
baru perlu disusun mulai dari dasar (it starts from scratch).

         Banyak pakar manajemen USA membuat pertanyaan bahwa sudah
waktunya kita meninggalkan konsep-konsep manajemen tradisional yang selama
ini kita kenal dan menyusun kembali prinsip-prinsip manajemen baru yang sesuai
dengan lingkungan bisnis baru. Berikut ini kami kutipkan pernyatan C.K.
Prahalad dan G. Hamel tentang hal itu :

      Both the theory and practice of western management have created a drag
on our forward motion. It is the principles of management that are in need of
reform.

       Pengetahuan manajemen dan akuntansi dalam era globalisasi ini sedang
mengalami pergeseran paradigma. Emerging paradigms : customer value,
continuous improvement, dan cross-functional team approach digunakan untuk
membangun pengetahuan manajemen dan akuntansi baru yang menjanjikan
keberhasilan bagi manajemen perusahaan-perusahaan yang beroperasi dalam
lingkunngan global yang sangat tuberlen ini. Para praktisi akuntansi perlu
menyadari pentingnya up dating pengetahuan manajemen dan akuntansi mereka
sejalan dengan pergeseran paradigma yang terjadi dalam bidang pengetahuan
manajemen dan akuntansi tersebut.

Learning To Learn

       Globalisasi menyebabkan perubahan ilmu dan pengetahuan sangat pesat
dan pervasif. Dengan demikian, dalam mempelajari ilmu dan pengetahuan, kita
perlu mengubah pendekatan yang kita gunakan untuk belajar, dari learning to get
knowledge menjadi learning to learn.

       Learning to learn berbeda dengan learning to get knowledge. Dalam
learning to get knoledge, pesertadidik berangkat belajar dengan anggapan
bahwa pengetahuan yang mereka pelajari akan bermanfaat untuk jangka waktu
panjang (mungkin dengan pikiran bahwa pengetahuan akan bermanfaat
sepanjang hidup kita). Dalam learning to learn, peserta didik berangkat belajar
dengan anggapan bahwa pengetahuan yang mereka pelajari hanya berlaku
untuk beberapa saat, karena dengan perubahan paradigma yang mendasari
penyusunan pengetahuan tersebut, pengetahuan yang mereka pelajari akan
berubah secara mendasar. Dengan demikian, learning to learn menjadikan
peserta didik belajar memahami paradigma yang melandasi penyusunan
pengetahuan yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan yang mereka
pelajari tersebut dibangun dan dikembangkan. Tujuan learning to learn adalah
membekali diri peserta didik untuk mempelajari kerangka yang dipakai dalam
penyusunan dan pengembangan pengetahuan yang mereka pelajari di kelak
kemudian hari, jika lingkungan yang mereka hadapi memerlukan pergeseran
paradigma, maka mereka memiliki kemampuan untuk memahami pembangunan
dan pengembangan pengetahuan baru berdasarkan paradigma baru yang telah
dirumuskan sebelumnya.

       Oleh karena itu, pratisi akuntansi dituntut oleh pemakai jasanya untuk
memiliki kemampuan belajar mandiri berkelanjutan, agar sebagai intellectual
assts perusahaan, mereka menjadi responsif terhadap perubahan lingkungan
global yang sangat turbulen. Praktisi akuntansi tidak cukup hanya dibekali
dengan kandungan pengetahuan akuntansi dan manajemen memadai sewaktu
mereka lulus dari pendidikan tinggi, namun perlu dibekali dengan kemampuan
learning to learn sejak masa studi mereka, agar mereka mampu melakukan
peningkatan dan up dating kandungan pengetahuan selama mereka
membangun karier profesional mereka.
Pemanfaatan secara ekstensif teknologi informasi dalam bisnis.

       Teknologi informasi merupakan enabler yang menjadikan suatu transaksi
bisnis yang tidak dapat terbayangkan sebelumnya menjadi suatu kenyataan,
bahkan mampu menempatkan perusahaan selangkah lebih maju dari
perusahaan pesaing.

       Teknologi informasi bukan dipandang hanya sebagai teknologi yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang dikenal sebelumnya,
namun dipandang sebagai teknologi yang menjanjikan berbagai kesempatan
bisnis yang tidak ada sebelumnya. Berfikir induktif atas teknologi informasi
merupakan cara yang banyak ditempuh oleh para praktisi dalam mengekplorasi
kemampuan teknologi informasi untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan
baru yang terbuka bagi perusahaan dalam menjalankan bisnis. Berbeda dengan
cara berfikir deduktif, yang melihat problem lebih dahulu baru kemudian mencari
pemecahan dengan teknologi informasi, berfikir induktif dengan menyadari
keuanggulan teknologi informasi dalam menawarkan pemecahan masalah, baru
kemudian mencari masalah dalam bisnis yang belum pernah diketahui
sebelumnya. Seringkali suatu masalah baru dianggap sebagai masalah setelah
teknologi informasi menjanjikan pemecahan atas masalah tersebut. Sebagai
contoh adalah perhitungan bunga atas rekening tabungan. Sebelum BNI 46
dengan produknya Taplus menghitung bunga rekening secara harian, maka
mendadak masyarakat menyadari bahwa cara perhitungan bunga atas rekening
tabingan sekali setahun atas saldo terendah merupakan problem. Taplus tidak
mungkin diluncurkan tanpa teknologi informasi. We are all continually faced with
a series of great opportunities brilliantly disguised as unsolvable problems (John
W. Gardner).

       Berdasarkan pandangan induktif terhadap teknologi informasi tersebut,
pemanfaatan teknologi informasi dalam bisnis menjadi sangat ekstensif dan
pesat. Pemanfaatan secara ekstensif teknologi informasi dalam bisnis mengubah
secara mendasar cara perusahaan melaksanakan bisnis. Transaksi bisnis
menjadi tidak lagi dilaksanakan melalui kertas, namun dilaksanakan sepanjanng
jalan raya elektronik, denngan memanfaatkan share database, electronic fund
transfer, dan electronic data interchange. Sistem otorisasi berjenjang yang
sangat berat mewarnai pelaksanaan transaksi bisnis di masa lalu, digantikan
dengan pemanfaatan decision support system dalam memanfaatkan informasi
yang disimpan dalam share database. Kesempatan ini timbul sebagai akibat
digunakannya core beliefs baru dalam memandang pemasok dan custemer
berikut ini :

   a. Bahwa bisnis merupakan mata rantai yang menghubungakan pemasok
      dengan custemer. Keberadaan dan kelangsungan hidup suatu
      perusahaan sangat ditentukan seberapa fungsionalnya perusahaan
      sebagai mata rantai yang menghubungkan pemasok dengan custemer.
   b. Bahwa pemasok dan custemer merupakan mitra dalam bisnis. Kualitas
      hubungan kemitraan jangka panjang tersebut menentukan keberadaan
      dan kelangsungan hidup perusahaan.

       Berdasarkan core beliefs tersebut, sistem informasi akuntansi perusahaan
dibangun untuk menjalankan transaksi bisnis antara perusahaan dengan
pemasok dan customer-nya. Custemer dan pemasok diberi kesempatan untuk
mengakses ke database perusahaan. Berdasarkan core belief ini, manajemen
perusahaan merancang sistem kuntansinya sebagai berikut : (1) batas sistem
akuntansi mencakup sistem akuntansi pemasok, (2) transaksi dengan pemasok
dipicu secara elektronik dan informasi secara elektronik dikirim ke pemasok
melalui fasilitas EDI (elektronic data interchannge), (3) transaksi dialui dan
dicatat secara elektronik dan pembayaran kepada pemasok dilaksanakan
melalui fasilitas EFT (electronic funds transfer). Sistem akuntansi untuk
menjalankan transaksi bisnis dengan pemasok berjalan secara otomatis tanpa
campur tangan manusia. Transaksi bisnis berjalan melalui jalan raya elektronik.

       Transaksi bisnis yang sangat sarat dengan teknologi informasi
memerlukan teknik pengukuran, pencatatan dan information retrieval yang
sangat berbeda dengan teknik yang digunakan dalam transaksi bisnis yang
dilaksanakan secara manual oleh karena itu, para praktisi akuntansi dituntut
untuk senantiasa melakukan eksplorasi kemampuan teknologi untuk
menempatkan perusahaan pada posisi yang memiliki keunggulan kompetritif
dengan merekayasa transaksi melalui jalan raya elektronik. Pendidikan
akuntansi menjadi suatu kebutuhan dalam information age economy ini.


PENTINGNYA PENDIDIKAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN
      Setelah diuraikan pentingnya pendidikan akuntansi, timbul pertanyaan
“bagaimana kebutuhan pendidikan akuntansi bagi praktisi ini dipenuhi ?

       Organisasi profesi berkewajiban untuk memberikan jaminan bagi pemakai
jasanya tentang keandalan profesional anggotanya dalam memberikan layanan
jasa. Keandalan profesional ditentukan oleh : kompetensi dan karakter anggota
profesi. Dalam profesi akuntansi, keandalan profesional ditentukan oleh :
kompetensi anggota profesi dalam bidang akuntansi dan bidang lain yang
berkaitan langsung dengan akuntansi serta karakter anggota profesi yang
berkaitan dengan kepatuhan anggota profesi terhadap etika profesional.

      Kebutuhan pendidikan akuntansi bagi praktisi akuntansi hanya dapat
dipenuhi melalui program PPB yang diselenggarakan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI). Program PPB ini menghasilkan manfaat berikut ini :
   Bagi pemakai jasa akuntansi :

   1. Memperoleh jaminan IAI, bahwa anggota IAI memberikan layanan jasa
      akuntansi memiliki kandungan pengetahuan memadai. Dalam era
      globalisasi, para praktisi akuntansi bahkan dituntut untuk memiliki
      kandungan pengetahuan yang world class.
   2. Memperoleh jaminan dari IAI, bahwa anggota IAI yang memberikan
      layanan jasa akuntansi memiliki kandungan pengetahuan yang up-to-date.

Bagi praktisi akuntansi

   1. Memperoleh layanan jasa dari organisasi profesi untuk meningkatkan dan
      mempertahankan kandungan pengetahuan akuntansi mereka agar tetap
      efektif dalam memenuhi kebutuhan custemers.
   2. Memperoleh kesempatan dari organisasi profesi untuk meng-up date
      kandungan pengetahuan akuntansi mereka agar mereka responsif
      terhadap perubahan kebutuhan custemers.


PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PROFESIONAL
BERKELANJUTAN

       Dalam penyelenggaraan PPB, ada dua hal yang perlu dipertimbangkan
oleh IAI : (1) Apakah PPB ditetapkan sebagai suatu yang bersifat obligator atau
mandatory ? (2) Bagaimana mengatur kualitas PPB yang diselenggarakan, baik
yang diselenggarakan oleh pihak luar maupun diselenggarakan oleh IAI.

Pendidikan profesional berkelanjutan : mandatory atau obligatory ?

       Pendidikan profesional untuk penyelenggaraan PPB : bersifat obligatory
atau mandatory. Jika PPB bersifat obligatory, inisiatif yang memicu kebutuhan
pendidikan terletak di dalam diri anggota profesi, sebagai perwujudan kewajiban
anggota untuk meningkatkan dan mempertahankan kompetensi profesional
mereka. Jika PPB bersifat mandatory, organisasi profesi yang menetapkan
bahwa PPB merupakan kewajiban anggota, dan untuk dapat tetap
mempertahankan keanggotaan dalam organisasi profesi, setiap anggota
diwajibkan untuk memenuhi kewajiban mereka.

       Untuk IAI, alternatif yang sebaiknya dipilih dalam penyelenggaraan PPB
bagi praktisi adalah yang bersifat mandatory. Para praktisi pada umumnya
berasal dari pendidikan tinggi yang menggunakan sistem pendidikan yang tidak
menanamkan kemampuan belajar mandiri berkelanjutan bagi mahasiswa
mereka. Oleh karena itu, kesadaran pentingnya life-long learning tidak tertanam
melalui sistem pendidikan, sehingga jika IAI memilih PPB yang bersifat
obligatory, pendekatan ini tidak akan efektif. Pilihan pendidikan profesional
berkelanjutan yang bersifat mandatory akan “memaksa” para praktisi untuk
memelihara dan mengembangkan kompetensi mereka sistem, sepanjang masa
kareir mereka.

Membangun kualitas pendidikan profesional berkelanjutan

       PPB merupakan pekerjaan besar yang memerlukan keandalan
profesional dalam penyelenggaraannya. IAI tidak akan dapat melaksanakan
sendiri PPB bagi seluruh anggotanya. Kerjasama dengan pihak luar (universitas,
sekolah tinggi, lembaga pelatihan kantor akuntan publik) diperlukan untuk
menyelenggarakan PPB. Oleh karena itu, diperlukan standar untuk mengatur
kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh IAI maupun oleh pihak luar
tersebut. Standar PPB mencakup :

   1.   Standar pengembangan program
   2.   Standar penyajian program
   3.   Standar pengukuran program
   4.   Standar pelaporan program

       Standar pengembangan program. Setiap penyelenggara program PPB
perlu diwajibkan untuk (1) menyatakan tujuan pendidikan dan tingkat
pengetahuan yang dicakup oleh program, (2) persyaratan pendidikan dan
pengalaman yang harus dipenuhi oleh peserta untuk dapat mengikuti program,
(3) persyaratan bagi pengembang program tentang pengetahuan yang akan
ditawarkan dalam program dan kemampuan mereka dalam instructional design,
(4) persyaratan kualitas materi program untuk memenuhi tujuan pendidikan, (5)
prosedur review terhadap materi program.

       Standar penyajian program. Dalam pelaksanaan program pendidikan
berkelanjutan, penyelenggaraan program perlu diwajibkan untuk (1)
mengiformasikan kepada peserta program tentang tujuan pendidikan dan
persyaratan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan untuk dapat
mengikuti program, isi, sifat, lingkup persiapan yang diperlukan, dan metode
pengajaran yang akan digunakan dalam program, nilai kredit yang dapat
diperoleh peserta, dan kebijakan administratif yang berkaitan dengan program,
(2) menetapkan kualifikasi instruktur berkaitan dengan isi program dan metode
pengajaran yang akan digunakan, (3) menetapkan fasilitas fisik yang diperlukan
untuk menyelenggarakan program, (4) menetapkan kreteria untuk mengevaluasi
program.

       Standar pengukuran program. PPB digunakan untuk menilai kelayakan
anggota IAI dalam melanjutkan karier mereka. Di samping itu, PPB dapat pula
oleh instruktur untuk memperoleh kredit yang dapat digunakan dalam penilaian
usaha untuk mempertahankan dan mengembangkan kompetensi mereka. Oleh
karena itu, diperlukan standar untuk mengtur (1) pengukuran kredit yang
diperoleh peserta dan instruktur dari keikutsertaan atau penyelenggaraan PPB,
(2) pengukuran kredit yang diperoleh penulis artikel, makalah, buku, dan
perancanng program PPB.

        Standar pelaporan program. Untuk menjamin kecermatan catatan kredit
yang diperoleh peserta PPB, perlu diatur dokumentasi peserta program,
infrastruktur, dan penyelenggaraan program, dan sistem pelaporan informasi
tersebut ke organisasi IAI.


PENUTUP

       Untuk menjaga kualitas jasa yang disediakan bagi customers, praktisi
akuntansi perlu senantiasa melakukan peningkatan dan up dating kandungan
pengetahuan mereka sepanjang perjalanan karier profesional mereka. Dampak
globalisasi semakin menjadikan pentingnya up dating dan peningkatan
kompetensi para praktisi akuntansi Indonesia. Program pendidikan profesional
berkelanjutan formal yang bersifat mandatory merupakan sarana utama untuk
menjaga dan mengembangkan kandungan pengetahuan para praktisi akuntansi.
untuk menyelenggarakan program PPB yang berkualitas dan untuk memjaga
konsistensi kuallitas program tersebut secara profesional.

								
To top