Docstoc

oiz aja

Document Sample
oiz aja Powered By Docstoc
					Oleh AHMAD SAHIDIN


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.

Kata akhlak walau pun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai

kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang

ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam Al-Quran

surat Al-Qalam ayat 4, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang

agung” (QS.Al-Qalam : 4).



Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. salah satunya hadis

yang berbunyi: “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.



Bertitik tolak dari pengertian bahasa ini, akhlak bisa dimaknai sebagai kelakuan manusia yang

beraneka ragam. Keanekaragaman kelakuan ini antara lain, nilai kelakuan yang berkaitan dengan

baik dan buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu ditujukan.



Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral

pada setiap peradaban dan zaman. Perbedaan—jika terjadi—terletak pada bentuk, penerapan,

atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral, yang disebut ma’ruf dalam

bahasa Al-Quran. Tidak ada peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau

keangkuhan. Pun tidak ada manusia yang menilai bahwa penghormatan kepada kedua orang-tua

adalah buruk. Tetapi, bagaimana seharusnya bentuk penghormatan itu? Boleh jadi cara

penghormatan kepada keduanya berbeda-beda antara satu masyarakat pada generasi tertentu

dengan masyarakat pada generasi yang lain. Perbedaan-perbedaan itu selama dinilai baik oleh

masyarakat dan masih dalam kerangka prinsip umum, maka ia tetap dinilai baik (ma’ruf).
Kembali kepada persoalan kecenderungan manusia terhadap kebaikan, atau pandangan tentang

kesucian manusia sejak lahir, hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. pun antara lain

menginformasikannya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah), hanya saja kedua

orang-tuanya (lingkungannya) yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi”

(HR.Bukhari).



Seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. bernama Wabishah bin Ma’bad

berkunjung kepada Nabi Saw., lalu beliau menyapanya dengan bersabda:

“Engkau datang menanyakan kebaikan?”

“Benar, wahai Rasul,” jawab Wabishah.

“Tanyailah hatimu! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa, dan yang tenteram

terhadap hati. Sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada,

walaupun setelah orang memberimu fatwa” (HR Ahmad dan Ad-Darimi).



Pengertian akhlaq menurut para ahli :



1. Imam Ghazali dalam kitab ulumuddin, akhlaq adalah suatu gejala kejiwaan yang sudah mapan

dan menetap dalam jiwa, yang dari padanya timbul dan terungkap perbuatan dengan mudah,

tanpa mempergunakan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.



2. Ibnu Maskawaih dalam kitab tahzibul akhlaq watathirul araq, mendifinisikan bahwa akhlaq itu

sebagai sikap jiwa seserorang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui

pertimbangan pikiran.
3. Prof. Ahmad Amin, mendifinisikan akhlaq adalah adatul iradah (kehendak yang dibiasakan)

lalu menjadi kelaziman (kebiasaan).



Adapun ruang lingkup akhlaq terbagi dalam beberapa bagian :



1. Akhlaq terhadap Kholik



Allah menciptakan manusia hanya untuk menghiasi dan meramaikan dunia. Tidak hanya sebagai

kelengkapan, tetapi berfungsi sebagai makhluk. Allah SWT adalah Al-Khaliq (Maha pencipta)

dan manusia adalah makhluk (yang diciptakan). Manusia wajib tunduk kepada peraturan Allah.

Hal ini menunjukkan kepada sifat manusia sebagai hamba. Kewajiban manusia terhadap Allah

SWT Di antaranya :

Kewajiban diri kita terhadap Allah, dengan ibadah shalat, dzikir, dan doa

Kewajiban keluarga kita terhadap Allah, adalah dengan mendidik mereka , anak dan isteri agar

dapat mengenal Allah dan mampu berkomunikasi dan berdialog dengan Allah.



Kewajiban harta kita dengan Allah adalah agar harta yang kita peroleh adalah harta yang halal

dan mampu menunjang ibadah kita kepada Allah serta membelanjakan harta itu dijalan Allah.



2. Akhlaq terhadap Mahkluk



Prinsip hidup dalam Islam termasuk kewajiban memperhatikan kehidupan antara sesama orang-

orang beriman. Kedudukan seorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu jasad,

dimana satu anggaota badan dengan anggota badan lainnya mempunyai hubungan yang erat. Hak

orang Islam atas Islam lainnya ada 6 perkara :
Apabila berjumpa maka ucapkanlah salam

Apabila ia mengundangmu maka penuhilah undangan itu

Apabila meminta nasehat maka berilah nasihat

Apabila ia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah

Apabila ia sakit maka tengoklah

Apabila ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.



Akhlaq terhadap makhluk terbagi menjadi 3 bagian:



1. Akhlaq terhadap diri sendiri.

Manusia yang bertanggung jawab ialah pribadi yang mampu bertanggung jawab terhadap diri

sendiri . bertanggung jawab atas tugas dan kewajiban yang dipikul diatas pundaknya,

kewajibannya –kewajibannya : tanggungjawab terhadap kesehatannya, pakaiannya, minuman &

makanannya dan bahkan yang menjadi apa yang menjadi miliknya.



2. Akhlaq terhadap Ibu & Bapak

Seorang muslim wajib memberi penghormatan yang secukupnya terhadap ayah dan ibunya.

Memelihara mereka dihari tuanya, mencintai mereka dengan kasih sayang yang tulus serta

mendoakan setelah mereka tiada.



Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra Nabi bersabda : yang artinya “

seorang laki-laki menghadap Rasulullah SAW Saw dan menanyakan siapakah yang berhak atas

penghormatan dan perlakuan baik dari seseorang ?”

“Rasulullah SAW menjawab ibumu
“Lalu laki-laki itu bertanya lagi kemudian siapa pula ya Rasulullah SAW, Rasulullah SAW

menjawab ibumu”

“Laki –laki itu bertanya lagi, kemudian sipa pula ya Rasulullah SAW, Rasulullah SAW

menjawab, “Ibumu, Ibumu, ibumu”.



Ketika laki-laki itu menambah pertanyaannya, “siapa lagi ya Rasulullah SAW?” Beliau

menjawab, “ayahmu”. Dari hadis ini jelas bahwa tugas dan penghormatan yang wajib diberikan

kepada ibu adalah tiga kali lipat dari penghormatan yang diberikan kepada bapaknya.



Selain harus berperilaku baik dalam kehidupan manusia, akhlak juga melingkupi cara bersikap

terhadap alam, binatang, tumbuhan, kepada yang ghaib, dan semesta alam.



(MAKALAH ini dipresentasikan dalam Program Diniyah Pesantren Daarut Tauhiid Bandung)
Akhlak Al Karimah, Pengertian Dan Ruang Lingkupnya


at 9:45 PM




     Pengertian Akhlak



 Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau

 kelakuan. Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) diartikan sebagai tabiat,

 perangai, kebiasaan, bahkan agama. Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa

 Arab, tetapi kata akhlak tidak terdapat di dalam Al Qur'an. Kebanyakan kata

 akhlak dijumpai dalam hadis. Satu-satunya kata yang ditemukan semakna akhlak

 dalam al Qur'an adalah bentuk tunggal, yaitu khuluq, tercantum dalam surat al

 Qalam ayat 4: Wa innaka la'ala khuluqin 'adzim, yang artinya: Sesungguhnya

 engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung. Sedangkan hadis

 yang sangat populer menyebut akhlak adalah hadis riwayat Malik, Innama bu'itstu

 liutammima makarima al akhlagi, yang artinya: Bahwasanya aku (Muhammad)

 diutus menjadi Rasul tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.

 Perjalanan   keilmuan   selanjutnya   kemudian     mengenal   istilah-istilah   adab

 (tatakrama), etika, moral, karakter disamping kata akhlak itu sendiri, dan masing-

 masing           mempunyai              definisi         yang              berbeda.
Menurut Imam Gazali, akhlak adalah keadaan yang bersifat batin dimana dari sana

lahir perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan tanpa dihitung resikonya (al

khuluqu haiatun rasikhotun tashduru 'anha al afal bi suhulatin wa yusrin min ghoiri

hqjatin act_ fikrin wa ruwiyyatin. Sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang

berbicara tentang baik dan buruk dari suatu perbuatan. Dari definisi itu maka

dapat difahami bahwa istilah akhlak adalah netral, artinya ada akhlak yang terpuji

(al akhlaq al mahmudah) dan ada akhlak yang tercela (al akhlaq al mazmumah).

Ketika berbicara tentang nilai baik buruk maka muncullah persoalan tentang

konsep baik buruk. Dari sinilah kemudian terjadi perbedaan konsep antara akhlak

dengan                                                                          etika.

Etika (ethica) juga berbicara tentang baik buruk, tetapi konsep baik buruk dalam

ethika bersumber kepada kebudayaan, sementara konsep baik buruk dalam ilmu

akhlak   bertumpu     kepada   konsep    wahyu,   meskipun    akal   juga   mempunyai

kontribusi dalam menentukannya. Dari segi ini maka dalam ethica dikenal ada

ethica Barat, ethika Timur dan sebagainya, sementara al akhlaq al karimah tidak

mengenal konsep regional, meskipun perbedaan pendapat juga tak dapat

dihindarkan. Etika juga sering diartikan sebagai norma-norma kepantasan (etiket),

yakni    apa   yang    dalam    bahasa    Arab    disebut    adab    atau   tatakrama.



Sedangkan kata moral meski sering digunakan juga untuk menyebut akhlak, atau

etika tetapi tekanannya pada sikap seseorang terhadap nilai, sehingga moral

sering dihubungkan dengan kesusilaan atau perilaku susila. Jika etika itu masih

ada dalam tataran konsep maka moral sudah ada pada tataran terapan.Melihat
 akhlak, etika atau moral seseorang, harus dibedakan antara perbuatan yang

 bersifat      temperamental     dengan   perbuatan   yang    bersumber    dari   karakter

 kepribadiannya.           Temperamen   merupakan   corak    reaksi   seseorang   terhadap

 berbagai rangsang yang berasal dari lingkungan dan dari dalam diri sendiri.

 Temperamen berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang, oleh

 karena itu sulit untuk berubah. Sedangkan karakter berkaitan erat dengan

 penilaian baik buruknya tingkahlaku seseorang didasari oleh bermacam-macam

 tolok ukur yang dianut masyarakat. Karakter seseorang terbentuk melalui

 perjalanan hidupnya, oleh karena itu ia bisa berubah.

posted by : Mubarok institute
Pengertian Akhlak

Akhlak dari kata Al-Akhlak, jamak dari Al-khuluq yang artinya kebiasaan, perangai,

tabiat dan agama.

Menurut Al Gazali, kata akhlak sering diidentikkan dengan kata kholqun (bentuk

lahiriyah) dan Khuluqun (bentuk batiniyah), jika dikaitkan dengan seseorang yang

bagus berupa kholqun dan khulqunnya, maka artinya adalah bagus dari bentuk lahiriah

dan rohaniyah. Dari dua istilah tersebut dapat kita pahami, bahwa manusia terdiri dari

dua susunan jasmaniyah dan batiniyah. Untuk jasmaniyah manusia sering

menggunakan istilah kholqun, sedangkan untuk rohaniyah manusia menggunakan

istilah khuluqun. Kedua komponen ini memilih gerakan dan bentuk sendiri-sendiri, ada

kalanya bentuk jelek (Qobi’ah) dan adakalanya bentuk baik (jamilah). Akhlak yang baik

disebut adab. Kata adab juga digunakan dalam arti etiket, yaitu tata cara sopan santun

dalam masyarakat guna memelihara hubungan baik antar mereka.

Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku / perangai (Imal-Suluh) atau Tahzib al-akhlak

(Filsafat akhlak), atau Al-hikmat al-Amaliyyat, atau al-hikmat al- khuluqiyyat. Yang
dimaksudkan dengan ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang kehinaan-kehinaan

jiwa untuk mensucikannya. Dalam bahasa Indonesia akhlak dapat diartikan dengan

moral, etika, watak, budi pekertim, tingkah laku, perangai, dan kesusilaan.



Ruang Lingkup Akhlak



a) Akhlak pribadi
Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya
seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf
dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang
tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah
mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan
dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.
b) Akhlak Berkeluarga
Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat.
Kewjiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan
pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran
yang bijak, islam telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai
tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu
untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang.
Sehingga anak akan tumbuh secara istiqomah, terdidik untuk berani berdiri sendiri,
kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.
Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari
segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati. Karena keduanya
memelihara,mengasuh, dan mendidik,menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas
agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia
dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan
adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan
ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu
bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan
ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu
dan menolong keduanya disetiap keperluan.
c) Akhlak Bermasyarakat
Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang
tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak
kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu
mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.
Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial
kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul didalam masyarakat. Kesusilaan/moral
selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan
masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu
sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan
saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan
perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai
anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma-
norma kesusilaan yang berlaku.
d) Akhlak Bernegara
Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama
denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup
bersama mereka dengan nasib dab penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa
engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama
mereka.
e) Akhlak Beragama
Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah
ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara
vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.
Berangkat dari sistematika diatas dengan sedikit modifikasi penulis membagi
pembahasan ruang lingkup akhlak antar lain:
1. Akhlak terhadap Allah SWT
2. Akhlak terhadap Rasullah Swt
3. Akhlak Pribadi
4. Akhlak dalam keluarga
5. Akhlak bermasyarakat
6. Akhl;ak bernagara
Dalam konsep akhlak segala sesuatu dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela,
semata-mata karena syara (Qu’an dan Sunah) yang menilainya demikian. Namun
akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jikqa etika dibatasi
pada sopan santun antar sesame manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku
lahiriah.



Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu
keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.[1]

Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang
berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.[2]
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad
Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang
yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih
dahulu.[3]

1. Definisi

Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus
dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik,
atau hanya sewaktu-waktu saja.[4] Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul
dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak
pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga
terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat.[2] Apabila perbuatan tersebut dilakukan
dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.[2]

Dalam Encyclopedia Brittanica[5], akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang
mempunyai arti sebagai studi yang sistematiktentang tabiat dari
pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya
tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut
juga sebagai filsafat moral.[2]

2. Syarat

Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.[2]

   1.   Perbuatan yang baik atau buruk.
   2.   Kemampuan melakukan perbuatan.
   3.   Kesadaran akan perbuatan itu
   4.   Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk

3. Sumber

Akhlak bersumber pada agama.[2]Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai
suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.[2] Pembentukan peragai ke
arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar,
yaitu kondisi lingkungannya.[2] Lingkungan yang paling kecil adalah keluarga, melalui
keluargalah kepribadianseseorang dapat terbentuk. Secara terminologi akhlak
berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk
melakukan suatu perbuatan yang baik.[2] Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa
akhlak adalah peragai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan
perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Peragai sendiri
mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan
seseorang.[2]

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:2/12/2012
language:Indonesian
pages:12