SENIN, 6 DESEMBER 2010 B2
DIMAS ARYO (TEMPO)
Pertumbuhan properti diprediksi
semakin baik tahun depan. Sejumlah
pengembang telah meningkatkan
proyeksi pertumbuhan 2011.
lan bak siput. Sebenarnya pemba-
ngunan infrastruktur sudah menja-
di prioritas utama pemerintah. Da-
lam masa kepemimpinan pertama
Presiden Susilo Bambang Yudhoyo-
no, digagas Infrastructure Summit I
dan II pada 2005 dan 2006. Lewat
forum ini diharapkan investor swas-
ta tertarik bekerja sama dengan pe-
merintah mengembangkan sejum-
lah proyek infrastruktur raksasa.
Sayangnya, sampai berakhirnya
masa jabatan pertama Yudhoyono,
pengembangan infrastruktur masih
sebatas konsep-konsep. Memang
ada keberhasilan, seperti pemba-
ngunan pembangkit listrik 10 ribu
megawatt. Tapi itu pun masih jauh
dari harapan. Sekarang pemerintah
menawarkan sejumlah proyek in-
frastruktur dalam format public-
private partnership (PPP) alias ke-
mitraan swasta dan pemerintah.Ta-
hap awal, ada empat proyek dita-
warkan, tapi sampai sekarang ren-
cana itu masih jadi perdebatan di
TUMBUH DENGAN
Badan Perencanaan dan Pemba-
ngunan Nasional serta Badan Koor-
dinasi Penanaman Modal.
Mandeknya pembangunan infra-
struktur tentu sangat memprihatin-
kan.Padahal,kata Anton,itu bisa me-
MASALAH MENAHUN
nopang pertumbuhan ekonomi. Lam-
batnya pembangunan infrastruktur
juga menjadi salah satu pemicu eko-
nomi biaya tinggi. Inilah penyakit
kronis bertahun-tahun yang tak per-
nah sembuh. Ekonomi biaya tinggi
AHUN depan ekonomi In- APBN 2010 sebesar 5,8 persen. Premium juga akan ikut mendorong buhan ekonomi rata-rata 6 persen. memang tidak semata-mata disebab-
T donesia akan berlari lebih
kencang. Kalimat itu kerap
terdengar dalam beberapa
minggu terakhir. Adalah
Menteri Koordinator Perekonomian
Hatta Rajasa salah satu pejabat pe-
merintah yang lantang menyebut-
Ada sejumlah indikator yang bisa
menunjang perekonomian tahun de-
pan lari lebih cepat. Kepala ekonom
Bank Danamon, Anton Gunawan,
menyebut konsumsi non-makanan
akan lebih cepat dibanding konsum-
si makanan. Investasi lumayan do-
inflasi, meski tak terlalu besar.
Harga pangan bisa terus naik bi-
la tahun depan bencana kembali
mendera Tanah Air. Panen bahan
pangan terganggu dan distribusinya
terhambat. Buntutnya, tingkat in-
flasi melambung. Anton memperki-
Padahal, pada masa jayanya 1987-
1996, industri manufaktur bisa tum-
buh dua digit, rata-rata 12 persen.
Banyak kalangan sudah memper-
ingatkan pemerintah tentang dein-
dustrialisasi ini. Gubernur Bank In-
donesia Darmin Nasution salah sa-
kan oleh minimnya infrastruktur sa-
ja, tapi juga masalah birokrasi—ter-
masuk peraturan-peraturan daerah
bermasalah atau menghambat inves-
tasi, dan pungutan liar yang begitu
merata di sejumlah daerah.
Menurut Direktur Lembaga Pe-
kan bahwa pertumbuhan ekonomi minan. Ekspor juga masih terus rakan laju inflasi 2011 akan melon- tunya. Menurut Darmin, deindus- nyidikan Ekonomi dan Masyarakat
2011 akan melampaui tahun ini se- tumbuh meski dibayang-bayangi ke- jak hingga 6,5 persen. trialisasi bisa menurunkan nilai Universitas Indonesia Arianto Pa-
kitar 6 persen. ”Pada 2011, pereko- naikan harga barang-barang impor. Faktor kedua yang harus diper- tambah industri nasional dan terge- tunru, minimnya infrastruktur se-
nomian kita akan berlari lebih ce- Tapi, kata Anton, di tengah cepat- hatikan pemerintah adalah kualitas rusnya produktivitas ekonomi. De- perti jalan, listrik, dan pelabuhan,
pat lagi,”ujarnya. nya laju perekonomian, ada bebera- pertumbuhan ekonomi, terutama di industrialisasi jelas sangat tidak birokrasi, serta maraknya pungutan
Hatta tidak sendirian. Deputi pa hal yang mesti diwaspadai. Per- sektor manufaktur. Pertumbuhan menguntungkan di tengah masih liar membuat biaya logistik mening-
Gubernur Bank Indonesia Hartadi tama, inflasi alias melonjaknya har- sektor ini ditopang oleh industri relatif tingginya angka pengang- kat menjadi sekitar 14 persen dari
A. Sarwono sama optimistisnya. Dia ga barang dan jasa. Melonjaknya elektronik dan otomotif, yang rata- guran dan kemiskinan di Indonesia. biaya produksi. Biaya logistik di In-
mengungkapkan, Bank Indonesia inflasi sudah terasa sejak tahun ini. rata masih bertumbuh sekitar 10 Pendek kata, ujar dia, deindustriali- donesia lebih mahal dibanding di
memproyeksikan pertumbuhan Dalam APBN 2010, inflasi dipatok persen. Sekalipun sektor manufak- sasi tantangan Indonesia ke depan negara lain rata-rata 4-5 persen.
ekonomi tahun depan pada kisaran hanya 5,5 persen. Target itu akan tur tumbuh, secara keseluruhan ia di tengah berbagai pencapaian po- ”Biaya ini terpaksa dibebankan ke-
6,0-6,5 persen. ”Akan lebih baik di- meleset tajam. Inflasi tahun ini bisa belum bisa diandalkan menyerap sitif perekonomian nasional. pada konsumen dalam bentuk harga
banding tahun ini,”katanya. melonjak menjadi 6,1 persen banyak tenaga kerja, atau sebatas Berkaitan erat dengan gejala de- produk yang lebih mahal.”Tingginya
Optimisme bahwa ekonomi akan Lonjakan harga barang dan jasa tenaga kerja yang bekerja kurang industrialisasi itu, industri manu- biaya ekonomi itu pula yang mem-
lebih baik sudah muncul saat peme- itu masih akan berlanjut tahun de- dari seminggu (under-employment). faktur nasional juga masih kental buat pertumbuhan ekonomi nasio-
rintah dan Dewan Perwakilan Rakyat pan. Menurut Anton, pemicunya ma- Pemerintah wajib memperhatikan dengan muatan barang impor. Aki- nal tak seimpresif Cina atau India,
membahas Rancangan Anggaran sih berupa inflasi harga makanan.Se- saksama sektor manufaktur ini.Apa- batnya, pertumbuhan ekonomi yang bisa tumbuh di atas 9 persen.
Pendapatan dan Belanja Negara cara global, tren harga bahan pangan lagi sekarang ada gejala deindustria- tinggi malah dibarengi dengan na- Walhasil, tak ada pilihan lain, pe-
2011, Juni lalu. Awalnya, pemerintah memang terus meningkat—dipenga- lisasi (menurunnya peran sektor in- iknya impor secara signifikan. merintah harus berbenah. Pemerin-
hanya menargetkan pertumbuhan ruhi kebakaran ladang gandum di dustri dalam perekonomian). Tanda Ujung-ujungnya, surplus perda- tah wajib merampungkan pekerja-
ekonomi tahun depan sebesar 6,3 per- Rusia. Mau tak mau Indonesia juga gejala deindustrialisasi, antara lain, gangan menurun dan berpengaruh an-pekerjaan rumah dan menyem-
sen.Tapi, setelah mempertimbangkan terkena dampaknya.Harga pangan di tren ekspor bahan mentah semakin pada transaksi neraca berjalan. buhkan penyakit-penyakit kronis
perekonomian global yang berpotensi dalam negeri ikut melambung. Pem- meningkat dibanding ekspor produk Salah satu penyebab deindustria- bila perekonomian tahun depan
membaik, pertumbuhan ekonomi di- batasan konsumsi bahan bakar mi- olahan. Dalam 10 tahun terakhir, lisasi antara lain lambatnya pemba- dan di masa-masa mendatang diha-
revisi menjadi 6,4 persen. Itu jauh le- nyak bersubsidi atau larangan mobil sektor industri hanya bertumbuh se- ngunan infrastruktur. Pembangun- rapkan tumbuh dengan kualitas
bih tinggi dibanding target dalam pribadi (pelat hitam) menggunakan kitar 3,5 persen, di bawah pertum- an infrastruktur di Indonesia berja- yang tinggi. ●
Penyunting: Penulis: Penyumbang bahan: Riset Foto:
TIM EDISI PROYEKSI 2011 Wahyu Muryadi, Arif Zulkifli. Purwanto Setiadi, Padjar Iswara, Yandhrie Arvian, Fery Firmansyah, Anton William, Eka Utami Aprilia, Wahyu Setiawan
Penanggung jawab: Idrus F. Shahab, Mardiyah Chamim, Retno Sulistyowati, Agoeng Wijaya, Kartika Chandra, Sutji Decilya, Rosalina, Famega Syafira,
M. Taufiqurohman, Yos Rizal Suriaji Nugroho Dewanto, Amarzan Loebis, Hermien Y. Nieke Indrietta, Arif Firmansyah, Viva Kusnandar, Indra Mutiara, Febriana Firdaus, Sorta Tobing, Desain:
Kleden, Gendur Sudarsono, Daru Priyambodo, Ali Nur Yasin, Dewi Rina, R.R. Ariyani, Gustidha Budiartie, Iqbal Muhtarom, Eko Ari (Jakarta), Gatot Pandego
Pemimpin proyek: Yosep Suprayogi, Yos Rizal, Tulus Wijanarko, Agus Supriyanto, Efri Ritonga, Ivansyah (Cirebon), Jupernalis Samosir (Riau), Imam Riyadi Untung
Padjar Iswara, Arif Firmansyah Burhan Sholihin Bobby Chandra Sulfaedar Pay (Makassar), Abdul Rahman (Makassar) Yuyun Nurrachman