Kompor Berbahan Bakar Air, Mau by EuBy9fBj

VIEWS: 0 PAGES: 16

									                          Kompor Berbahan Bakar Air, Mau?

Filipus Aron

Pepatah yang menyebut bahwa air adalah sumber kehidupan tak perlu diragukan lagi.
Salah satu buktinya adalah sebuah inovasi karya tiga mahasiswa Teknik Kimia ITS berupa
Oxyhidro Water Stove. Karya tersebut tak lain adalah kompor berbahan bakar air berhasil
lolos dalam kompetisi Intensive-Student Technopreneurship Program (i-Step) 2010.
Kampus ITS, ITS Online - Bahan bakar alternatif memang tengah menjadi isu hangat di
masyarakat. Jika selama ini masyarakat lebih familiar dengan bahan bakar fosil alias
minyak bumi maka lain halnya dengan yang dilakukan ketiga mahasiswa Teknik Kimia
ITS. Ketiganya adalah Cita Indah P W, Annie Mufyda R, dan M Fahmi ingin mengubah
sedikit paradigma yang berlaku di masyarakat tersebut.

Karya yang mereka ajukan untuk kompetisi i-Step tersebut ternyata berhasil lolos dan
menjadi satu-satunya tim yang maju mewakili ITS. “Syukurlah, kami bisa menjadi salah
satu bagian dari 22 tim terpilih lainnya dan berkesempatan mendapat pelatihan di Bogor
akhir Juli mendatang,” ujar Fahmi.

Menurut Cita, ide untuk menggagas inovasi timnya berawal dari keprihatinan mereka
melihat angka ketergantungan Indonesia di bidang energi kebanyakan ditopang oleh
bahan bakar fosil. “Bahan bakar fosil suatu saat akan habis jika kita tidak beralih ke bahan
bakar alternatif,” ujar Cita. Sadar bahwa tidak selamanya energi tersebut bisa mencukupi
seluruh kebutuhan manusia dalam jangka waktu panjang, Cita bersama dua temannya
pun terpikir untuk mencetuskan ide membuat Oxyhidro Water Stove.

“Oxyhidro adalah kompor berbahan bakar air. Pada dasarnya, kompor ini memanfaatkan
elektrolisis air yang menghasilkan H2 dan O2,” terang Annie. Hidrogen yang dihasilkan
dari elektrolisa tersebut lah yang digunakan sebagai bahan bakar Oxyhidro-Water Stove
karena hidrogen adalah gas yang mudah terbakar.

Menurut Annie, hidrogen lebih menguntungkan daripada gas alam karena nyalanya lebih
panas sehingga penggunaan hidrogen tiga kali lebih efisien dibandingkan gas alam. Oleh
karena itu, memasak menggunakan Oxyhidro Water Stove tiga kali lebih cepat dan efisien
dibandingakan menggunakan LPG. “Kami juga menggunakan katalis untuk
memaksimalkan kerja dari pengelektrolisisan pada oxyhidro ini,” imbuh Cita.

Diakui Cita bahwa pemanfaatan air sebagai bahan bakar bukan hal yang asing. Salah satu
energi alternatif yang sekarang mulai banyak diteliti ialah pengembangan sumber energi
yang berasal dari hasil elektrolisis air yang dikenal sebagai brown gas. Penelitian dan
pengembangan sistem brown gas dari elektrolisis air telah dilakukan oleh beberapa pihak.

Di Jepang, air telah digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dan karena
bersifat dinamis maka variable control-nya lebih kompleks. Sedangkan yang diterapkan
dalam Oxyhidro Water Stove sistemnya bersifat statis, variable control-nya lebih
sederhana dan belum pernah dijumpai. Ketika ditanya mengenai efisiensi kompor milik
timnya dibanding kompor lainnya, Cita memilih membandingkannya dengan kompor
gas. “Lebih hemat Rp 6000/hari atau 96 % lebih hemat dari kompor gas,” terangnya.
(fi/nrf)

sumber:
http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=7201



Crootth Crootth


Alles,

Apakah sudah yakin aspek technological risk nya lebih kecil dari kompor LPG?
Bukankah H2 - in term of reactivitity, LEL to UEL area - lebih prone to technological risk
dibanding LPG (yang notabene banyak mengandung C3H8 dan C4H10)?

Kalau hitungannya hemat hematan kompor nuklir mungkin paling jauh lebih hemat??

Anyway, jika idea technological risk ini dikesampingkan (dengan menihilkan kematian
manusia, misalnya saja) maka idea kompor air ini sungguh brilian, salut buat adik adik
mahasiswa!

roeddy setiawan

Dear Millis,

 Pak Crooth2,
whoa kalau benar tentunya teknology karya mahasiswa/wi ITS patut mendapatkan
hadiah /penghargaan dari pemerintah setidaknya.

tapi saya sendiri skeptis sekali , setahu saya effeisiensi electrolisa air biasanya sekitar 4-8
percent saya bagai mana ceritanya bisa menghemat 6000 rp/hari apakah sudah dihitung
ahir bulan bayar listrik nya berapa ???? I think we can't get something from nothing


untoro@batan.

Pak Crooth2,

Betul pak yang paling utama memang bahaaayanya, lha kalau jadi oxyhydrogen (HHO)
itu pasti ada H dan itu yang enggak bisa sembarangan dan harus dikendalikan dengan
ekstra ketat. Karena H itu mudah tembus kemana-mana dan apalagi temperaturnya
naik....wah sangat bahaya lho....
Percobaan yang pernah saya lakukan, pada temperatur mulai naik 100 derajat Celcius
saja, sudah mulai merembes ke paduan logam apa saja (kecuali memang beberapa jenis
keramik)dan bisa bocor dan kalau enggak nembus bisa merusak logamnya (hydrogen
embrittlement).
Dan yang paling takut ledakannya!!!, kalau enggak percaya dicoba saja mas hasil
elektrolisanya dikumpulkan dalam plastik yang biasa untuk gula pasir 1/4 Kg itu(volume
kecil saja), terus coba disulut api (Awas hati hati!!!) nanti bisa melihat sendiri seberapa
besar ledakannya.....pasti dikira bom.

Memang teknologi elektrolisa sudah berkembang dan ada yang sudah lebih ekonomis,
tetapi menurut saya kok masih riskan oxyhydrogen digunakan baik untuk kompor
maupun pengganti bahan bakar.

Masih banyak bahan bakar alternatif yang lebih aman dan juga bisa murah.


Frank

Gas Hydrogen berkekuatan 200 kali lebih besar dari gas propane... sangat2 berbahaya...
mau lebih detail tanyakan ke markas TNI yang biasa mengunakan untuk rocket peluru
kendali (missile).

arnold.soetrisnanto

Pagi pak Puji, apa khabar..?
Apakah ledakan yg pernah terjadi di pusat penelitian nuklir serpong yg bpk lakukan
dulu...itu adalah ledakan Hidrogen...?? Banyak yg mengira ledakan nuklir lho...langsung
statement "nuklir nggak aman"....ha..ha..ha..

untoro@batan

Baik pak Arnold,

Bukan pak....dulu reaksi kimia biasa cuma ada kesalahan teknis yang juga disebabkan
salah satunya komponen pasaran yang tidak tersertifikasi atau palsu.

Kalau main-main hidrogen menakutkan pak karena saya dkk dg lab sendiri juga punya
pembangkit gas brown dengan prinsip elektrolisa, tetapi sekarang menganggur tidak
digunakan, karena selain tidak ekonomis juga berbahaya.

Bambang Cahyono

Duh....lagi2 yang begini....mengapa ya selalu ditulis "berbahan bakar air" padahal nggak
tepat sama sekali....disitu justru yg bisa terbakarcuma H2....dan malah untuk
memproduksinya butuh energy listrik....tuh malah salah kaprah....

Anthony Malem Ukur

mungkin perlu di counter agar tidak menyesatkan masyarakat...terutama menyestkan
milister MIGAS yg kita cintai ini....

ada yg ingin membantu ????
Crootth Crootth

Setuju,

Sebagai ilmuwan sebaiknya dihindari "term-term" yang berpotensi "salah kaprah"

untoro@batan

Setuju juga,

Yang namanya ilmuwan juga macam-macam lho, ada memang yang suka membuat salah
kaprah. Tapi masih banyak lho yang "benar-benar tidak kaprah".
Dan apa lagi kalau ilmuwan jadi politikus, maka yang dikatakan pasti hasil dari
eksperimen politik....wah stop aja jangan kemana mana.


Deni Shidqi K.

H2 langsung digunakan?? hmm..mengerikan juga ya...but anyway it is good step but still
further evaluate....saya rasa hrs ada smcm 'storage' hydrogen (solid storage) yg bersifat
lebih mampat n aman. tp klo digunakan 'directly'? hmm....smg mereka sudah
memperhitungkan hal tsb...
Go! Indonesian Student...! Maju terus....

Frank

Penerapan hydrogen fuel sebagai bahan bakar kendaraan roda ampat sudah lama terjadi.
Bahkan sejak tahun 2009, hampir semua industri automotive didunia sudah memproduksi
kendaraan dengan 100% bahan bakar hydrogen fuel. Amerika sendiri dibeberapa negara
bagian sedang membangun station pengisian hydrogen fuel. Untuk roda ampat tersedia 2
tipe ukuran tank. 5 kg dan 10 kg. Tank terbuat dari composite carbon fiber yang
berkekuatan 10000 psi.

Teknikal: hydrogen yang dipakai untuk kendaraan berupa compress liquid
cryogenic. 5 kg hydrogen fuel dapat menempuh 350 kg non-stop. Salam.



Frank

Pak Deni,
Menurut pengalaman rekan2 yang sudah lama berkecimpung didunia process Water
become Hydrogen, sangat tidak mungkin "Small Attachment Unit Hydrogen Process" di
rakit langsung ke mobil. Sangat berbahaya buat kendaraan roda ampat. Hydrogen harus
dikompress menjadi liquid cyogenic terlebih dulu. Jangan nanti berupa BLUE ENERGY
yang akhirnya menjadi issue belaka.

rizky feryansyah
hmm diskusi yang menarik, tapi ada 1 pertanyaan yang muncul di kepala saya,, setahu
saya, untuk proses elektrolisis air menjadi hidrogen butuh energi yang          besar.
Electrolizerkomersial yang ada sampai saat ini mampu mencapai efisiensi sistem hingga
73 % dengan konsumsi energi sebesar 70,1–53,4 kWh/kg hidrogen (sumbernya dari
jurnal ilmiah terbitan tahun 2008).

jadi pertanyaannya, bagaimana dengan efisiensi prosesnya ? apakah energi yang dimiliki
oleh hidrogen yang dihasilkan sudah lebih besar daripada energi listrik yang dibutuhkan
untuk meng-generate hidrogen dari proses elektrolisis itu sendiri ?

Andrie Astiandi

Seperti pernyataan mas rizky, pertanyaan mendasar sebelum jauh ke aspek process safety
atau aspek lainnya, berapa persen efisiensi elektrolisanya? atau setidaknya apakah energi
yang dihasilkan oleh H2 sudah lebih besar dari energi untuk elektrolisanya secara
ekonomis? itu dulu yang harus dijawab, jika sudah baru kita berdebat kemasalah teknis.
Seperti kata pak roeddy, we cant get something from nothing. Saya sangat salut terhadap
penemuan itujika ternyata penemuan tersebut layak dikembangkan secara ekonomis. Saya
sering sekali menemukan topik rebutan pepesan kosong di milis ini tanpa menghasilkan
solusi, atau mengidentifikasi akar permasalahannya. Mohon maaf jika tidak berkenan.

DIAN SUNANDAR


Dear All,

Mudah-mudahan rekan-rekan kita tidak tertinggal dengan rekan dari negara lain yang
telah mengkomersialisasi kompor berbahan bakar air.


Standard Mobile Kitchen Oxy-hydrogen Stove

Description:

The EP-200 is a standard Mobile Kitchen comprising 2 burners.

Product applications: Residential kitchen, retail tea outlet brewing station, etc.

Specification:


 Model Number                               EP-200
 AC Voltage Requirement (V)                 220
 Phase                                      single
 DC Current (A)                             15-Oct
 Power Consumption (kW/h)                   3.3
 Max. Working Pressure (kg/cm2)             0.5
 Max. Water Consumption (L/h)               0.6
 Water Reserve (L)                          15
Water Feed                                Auto
Max. Flame Modifier Consumption (L/h)     0.6
Flame Modifier Reserve (L)                15
Flame Modifier Feed                       Auto
Dimensions – W x D x H (mm)               650x550x750
Gross Weight (kg)                         60
Ventilation Space Requirement (mm)        500 (front), 800 (up)



Andrie Astiandi


pertanyaan efisiensi masih belum terjawab, saya masih bingung kompor yang ditunjuk
mas Dian ini masuk kategori kompor listrik apa kompor hidrogen yah? kalo harus nyantol
terus ke colokan saya lebih condong ke kompor listrik. jika begitu, apa lebih efisien dari
kompor high frequency induction? silahkan googling lagi. supaya bisa hitung efisiensinya.


DIAN SUNANDAR

Dear All,
Sependek pengetahuan saya, Oxy-hydrogen stove merupakan kompor dengan bahan
baku
air, dimana senyawa air diuraikan melalui proses elektrolisis: 2 H2O → 2 H2 + O2
(Elektrolisis adalah peristiwa peruraian suatu elektrolit oleh arus listrik.)
selanjutnya silahkan dapat googling sendiri.

Diluar telah dikembangkan produk dengan teknologi tersebut untuk berbagai macam
fungsi, tidak terbatas

pada kompor.

Untuk efisiensi, pasti sudah dipikirkan oleh produsen tentunya sebelum menjual
produk2nya tersebut.

http://www.oxy-hydrogen.com/

http://cgi.ebay.com/BROWNS-GAS-HOD-HHO-HYDROGEN-GENERATOR-11-PLATE-
DRY-CELL-/190405981912#ht_7047wt_1130


Andrie Astiandi

Supaya diskusi ini jadi mendidik dan memperpanjang pengetahuan kita dan tidak
berujung dengan debat kusir, mari kita sama kan presepsi sesuai dengan judul topik diatas
yaitu kompor berbahan bakar air.
Pertanyaannya apakah kompor tersebut bisa berfungsi hanya dengan air tanpa ada
listrik/energi dari luar? jika ya maka merupakan terobosan mutakhir yang mematahkan
teori termodinamik yang berlaku sampai saat ini (bahkan penemunya mungkin layak
dapat nobel). Tetapi jika masih membutuhkan listrik apa bedanya dengan kompor listrik
biasa toh intinya untuk mengasilkan panas? kalau masih membutuhkan energi untuk
membangkitkan energi (konversi energi), efisiensi menjadi penting tidak bisa diabaikan.
Pernyataan yang mengklaim kompor listrik berbahan bakar/baku air itu sangat
menyesatkan, bahkan SBY yang doktor dan dikelilingi oleh pembantu bergelar profesor
atau doktor itu termakan oleh isu blue energi, apalagi orang awam kebanyakan?
Homer simpson walaupun betapa bodohnya dia digambarkan (otaknya kosong hanya
sebesar kacang tanah) tapi masih mengerti dengan konsep termodinamik dengan
pernyataannya yang terkenal "In this room, we obey laws of thermodynamics". Jadi
menurut saya sudah menjadi tugas kita (terutama milis migas yang kebanyakan
beranggotakan praktisi dan akademisi) untuk memberikan koreksi terhadap sesuatu hal
yang kurang tepat, tapi berdampak banyak jika didiamkan.
Mohon maaf jika tidak berkenan.

faisakbarx

Saya lebih menyukai org yg kerjanya suka mencoba sesuatu tanpa putus asa,
daripada org yg kerjanya cuma mengeluh tanpa memberi solusi.

Crootth Crootth

Kalau Mas Fais sendiri memberi solusi apa?

faisakbarx

Saya mendukung apa yg dilakukan oleh tman2 dari ITS.


DIAN SUNANDAR

Setuju sekali...dengan pak Fais Akbar..mari kita memberi spirit kepada para periset muda..
bangsa Indonesia.

indra sahara

butuh dukungan pak buat hal ini

Muhammad Syamsuddin

Setuju Pak Indra,
Mereka masih mahasiswa, mungkin masih banyak kekurangan2 dari hasil riset mereka..
Yang bisa kita lakukan hanyalah memberi penghargaan dan dukungan atas prestasi
mereka agar mereka bersemangat untuk lebih maju dan menyempurkan risetnya.. atau
kritik yang konstruktif..
Hal terakhir yang mereka butuhkan adalah celaan sinis yang mematahkan semangat..
Bravo..! Semangat arek ITS..!

Egi Al Ghifari
Bapak-Ibu,

Saya kira kritik seharusnya dibatasi kepada penulis berita/email yang sangat provokatif
(lagi-lagi.....bahan bakar air), padahal mungkin yang sedang dikembangkan adik-adik
mahasiswa ITS mungkin sebenarnya teknologi elektrolisa, penyimpanan dan pengontrolan
pembakaran Hidrogen (sekali lagi mungkin) untuk aplikasi kompor.
Sudah rahasia umum kalau di beberapa milis energi masih ada yang suka memposting
dengan paradigma bahwa elektrolisa air sama dengan membakar air, atau paradigma
bahwa mobil listrik adalah solusi bebas emisi. Kita tentu menghargai orang-orang yang
bergelut dengan riset di bidang-bidang ini, tapi kalau ditulis dengan serampangan, tentu
bisa membuat kesalahpahaman.

Bambang Cahyono

Solusi apanya pak, wong yang dibahas cuma ceritanya doang. Coba beberkan disini terus
kita kaji sama2, kita bandingkan dengan energi listrik langsung diubah menjadi energi
panas, saya yakin masih lebih efektif langsung. Ayo kita bandingkan dengan kompor
induksi efektif mana?


DIAN SUNANDAR

Hydrogen Production
Current Technology
The development of clean, sustainable, and cost-competitive hydrogen production
processes is key to a viable future hydrogen economy. Hydrogen production technologies
fall into three general categories: thermal processes, electrolytic processes, and photolytic
processes.

Thermal Processes
Some thermal processes use the energy in various resources, such as natural gas, coal, or
biomass, to release hydrogen, which is part of their molecular structure. In other
processes, heat, in combination with closed-chemical cycles, produces hydrogen from
feedstocks such as water—these are known as "thermochemical" processes.

- Reforming of Natural gas

- Gasification of Coal

- Gasification of Biomass

- Reforming of Renewable Liquid Fuels

- High-Temperature Water Splitting


Electrolytic Processes
Electrolytic processes use electricity to split water into hydrogen and oxygen, a process
that takes place in an electrolyzer. Hydrogen produced via electrolysis can result in zero
greenhouse gas emissions, depending on the source of the electricity used. The source of
the required electricity—including its cost and efficiency, as well as emissions resulting
from electricity generation—must be considered when evaluating the benefits of
hydrogen production via electrolysis. The two electrolysis pathways of greatest interest
for wide-scale hydrogen production, which result in near-zero greenhouse gas emissions,
are electrolysis using renewable sources of electricity and nuclear high-temperature
electrolysis.

Photolytic Processes
Photolytic processes use light energy to split water into hydrogen and oxygen. Currently
in the very early stages of research, these processes offer long-term potential for
sustainable hydrogen production with low environmental impact.

- Photobiological Water Splitting

- Photoelectricrochemical Water Splitting



source: US. Department of Energy

Bambang Cahyono

Nih saya buka sikit Pak, saya dirumah pakai tabung gas Esso 12Kg ngisinya khusus
dicounter Esso RP 110000,-. Nah habisnya rata2 1,5 bulan kadang lebih. Sebelumnya saya
pakai tabung pertamina isi 12Kg juga tapi rata2 25 hari habis memang harganya lebih
murah Rp 95000,-.
mengenai nyala api jelas lebih biru Esso, kalau Pertamina sering memercik kuning. Oke
sekarang biaya rata2 per hari; merk Esso 110000/45=2444 rupiah, merk Pertamina
95000/25= 3800 rupiah. Nah katanya lebih irit Rp 6000,- per hari, bagaimana cara
ngitungnya? Wong saya makai Esso gak sampai 2500 rupiah per hari, jangan2 masalah ini
hanya hoax saja.


hanang.hundarko

Dear,

Sebagai perbandingan, pada kompor LPG seperti pengalaman kita sehari-hari, bahan
bakar tersedia dalam suatu storage. satu-satunya pengaman adalah pressure regulator
yang membatasi jumlah gas yang masuk ke kompor. as long as tidak ada kebocoran,
maka amanlah dia. Jika kita membayangkan cara pemakaian serupa pada H2, dimana H2
disimpan dalam tabung storage, lalu digunakan untuk menyalakan kompor sebagaimana
menggunakan LPG, tentunya akan seperti yang dikatakan Mas DAM (dengan
mempertimbangkan LEL UEL dll..). Meskipun menurut saya, tetap saja as long as tidak
ada kebocoran, pasti akan aman. (just compare to some applications of hydrogen as fuel
in Atomic Absorbing Spectrophotometer, di mana H2 benar-benar diaplikasikan langsung
dari tabung dengan hanya melalui pressure regulator, dan nyala apinya memang benar-
benar segede kompor)
Sedangkan pada kondisi sebenarnya, dalam kasus sell elektrolisa, bahan bakar (H2)
digenerate secara kontinyu dan bisa diatur pada rate tertentu, sehingga H2 yang ada,
tersedia tidak dalam jumlah yang besar sebagaimana pada tabung gas. Setidaknya,
pembatasan kuantitas ini lebih meminimalkan risk (jika tidak bisa dibilang meniadakan
sama-sekali).

Kalau hitung hemat-hematan dengan kompor nuklir..? ahaa.., tentunya ini memang harus
dikaji. Benarkah membuat kompor reaktor untuk 1 mg uranium beserta pengamanan dan
pengoperasiannya, adalah lebih murah daripada membuat sell elektrolisa untuk 2 lt
H2O..? semoga bukan hitungan dari hongkong. :)

BOM:
- Sell elektrolisa, kapasitas 2 ltr: 1 ea
- Pressure Switch: 1 ea
- Pressure Regulator: 1 ea
- Kabel: ...(?)
- Saklar: 1 ea
- Selang Gas: 2 mtr
- Kompor: 1 ea
- KOH: 500 gr
- Air Aqua: 1 gallon
- Lain-lain: (?)

Menurut saya, jika dipandang dari aspek "Energi Alternatif" ini memang benar-benar
brillian, apalagi jika seandainya mereka juga men-generate listriknya dengan kincir angin..,
peace,,!

Crootth Crootth

Analisa yang bagus dari mas Hanang,

Well, sebenarnya inovasi yang paling dibutuhkan saat ini adalah aspek process safety pada
penggunaan kompor dengan energi alternatif. Kita tahu bahwa data Kompas
menunjukkan lebih dari 15 jiwa setahun belakangan ini meninggal karena ledakan awan
uap yang keluar dari kebocoran LPG di Indonesia (penyebutan tabung LPG meledak
kurang tepat, karena faktanya hampir tidak ada tabung LPG tidak mengalami BLEVE).
Nah kalau saja inovasi ITS ini menjawab aspek process safety ini, khususnya mampu
menciptakan kompor air yang "inherently safer", maka ITS tidak hanya akan memberikan
solusi kompor dengan energi alternatif, namun juga membuat berbagai pihak yang terkait
dengan penggunaan LPG sedikit reda dari sakit kepala setiap melihat berita ledakan awan
uap yang keluar dari kebocoran LPG. Perubahan fase dari inovasi menjadi produksi massal
tentu masih sangat jauh perjalanannya - barangkali sejauh wacana pembuatan jet tempur
generasi 4.5 hasil joint venture antara pemerintah korea selatan dan indonesia (KFX)-
dan membutuhkan banyak masukan/kritik dalam pengembangannya agar disamping
ekonomis, efisien namun juga "inherently safer/environmentally friendlier".

Voila, saya sama sekali tidak menganggap rendah penelitian ITS ini, bahkan saya bisa
bilang, kalau semua sesuai dengan brosur, ini adalah ide yang brilian... terlebih lahir dari
mahasiswa mahasiswa (dengan bimbingan dosen bermutu), generasi pengganti kita kita,
termasuk saya yang sudah menua.

Mungkin agar diskusi lebih "cerdas" dan tidak asal kritik, dilampirkan saja lah P&ID atau
gambar desain dari kompor bersangkutan, berikut falsafah dasar process nya.

Akh. Munawir

Mas the Garonk,

Sambil menunggu P&ID dari Kompor Air ini untuk didiskusikan lebih lanjut mungkin jadi
"Mini HAZOP" , bagaimana jika kita rame-rame mendiskusikan "Investigasi dari LPG
Incident" dengan fakta2 dari Media Masa atau data dari yang lainnya.
Lalu objective-nya adalah apa saja Causal Factor-nya (i.e Procedure, QC, Communication,
Human Engineering, dst)? dan Perlu Corrective Actions apa saja ?
Saya kira banyak expert2 di Milist ini yang punya jam terbang tinggi di berbagi Investigasi
untuk memberikan masukan.

Kompor LPG seperti 2 sisi mata pedang, dilain sisi dia berguna sebagai substitusi Energy
sebelumnya tetapi di sisi yang lain "melukai" kita semua.

Crootth Crootth

Mas Munawir,


Mewakili IIPS, Insyaallah jika dibutuhkan KMI, saya siap membantu 100% tanpa berharap
imbalan apapun karena ini demi kemajuan Tanah Air kita Indonesia, itupun dengan
catatan KMI diminta tolong secara resmi oleh Pertamina/Government of Indonesia (GoI).

Kalau sekedar membahasnya di sini tanpa ada aksi nyata, saya kira akan wasting time...

Gimana mas Budhi? Apakah KMI mau bentuk tim dengan kerja sama dengan IIPS
memberikan sesuatu buat tanah air ini?

Rosmana Eko Saputra

Dear All,

Tanpa mas DAM (dan rekan2 IIPS) turun tangan pun, saya rasa kita semua di sini
setidaknya sudah bisa menganalisis beberapa faktor terjadinya hal ini (yang menurut saya
bukan incident lagi, karena sudah meyebabkan korban jiwa dan aset). Yang perlu adalah
bagaimana hal tersebut tidak terjadi lagi. bahan bakar hanya pemicu saja, tetapi prosedur
yang paling utama yang harus dilakukan....

Pertamina sebagai pemegang amanah pun saya rasa sudah tahu penyebab2nya, hanya
saja tinggal kemauan bergerak untuk memperbaiki masalah tersebut....

Frank
Tank Gas LPG ukuran 3 Kg yang bocor dan meledak selama ini adalah tanki2 yang di
import dari China jamannya Jusuf Kalla 4 tahun lalu. Jumlahnya kurang lebih 3,000,000
pieces. Sebagian lagi masih ada di gudang Bea Cukai Jakarta. Tank yang buatan lokal
Indonesia tidak terjadi kebocoran. Ini realitas yang ada. Mungkin sebagian rekan2 pernah
nonton di TV tentang kasus tank import.

Crootth Crootth

Mas Rosmana yang baik,

Saya rasa masih terjadi kesimpang siuran mengenai peristiwa peristiwa, yang sederhana
saja:

Hal yang salah
Koran, majalah selalu mengatakan, ledakan tabung LPG

Hal yang benar
ledakan awan uap karena kebocoran sistem bahan bakar-kompor yang menggunakan
LPG, atau kalau mau singkap "ledakan awan uap LPG" saja sudah benar.

Jika dalam hal yang paling fundamental (glossary of term) aja salah, jangan jangan analisa
dan laporannya akan lebih salah lagi.

Saya belum pernah melihat laporan resmi analisa kecelakaannya (mungkin mas Rosmana
sudah melihat sehingga bisa menyimpulkan Pertamina sudah tahu), tentu kalau sudah
dianalisa mengapa tidak dipublikasikan saja?

Rosmana Eko Saputra

hehehe, om DAM.... saya juga belum pernah liat, tapi 'feeling' saya.... pertamina pasti
tahu (setidaknya mungkin beberapa orang di sana tahu penyebabnya), walau belum
mengeluarkan laporan resmi terkait hal ini atau memang mau diam2 saja, yang penting
tahu.... Ya serupa bila terjadi accident di plant manapun, pastinya ada investigasi dari
pihak2 terkait. Kejadian ini kan bukan hanya sekali dua kali terjadi dalam jangka waktu
lama, tapi hampir tiap hari kita dengar ada kejadian seperti ini (ya minimal satu bulan
sekali).... masa sih pertamina gak melakukan assessment.

Tapi belakangan ini, sepertinya sudah mulai diadakan penyuluhan ttg penggunaan gas
LPG ini... ada beberapa kali tayangan di TV tentang program sosialisasi ini. Ya ini yang
menjadi dasar pemikiran saya, pertamina pasti sudah tahu apa2 saja yang jadi
penyebabnya dan bagaimana perbaikannya.... hanya saja tinggal kemauannya (termasuk
biayanya mungkin....)

Yuyus Uskara

Direktur Pengembangan Investasi dan Manajemen Risiko PT Pertamina Frederick ST
Siahaan:
Mengenai seringnya kasus kebakaran LPG menurut analisa beberapa kasus yang ada,
penyebab kebakaran bukan karena ledakan tabung, melainkan adanya kebocoran gas
yang kemudian terakumulasi oleh api terbuka di sekitarnya.

A Penyebab langsung :
- kerusakan/pemasangan selang yang salah
- kerusakan/pemasangan regulator
- Kerusakan valve
- Kondisi ruangan yang tidak memadai
- Pengoplosan LPG 3 Kg dan 12 Kg

B. Penyebab tidak langsung
- Minimnya pengetahuan tindakan yang benar apabila terjadi kebocoran LPG
- Minimnya pengetahuan cara penggantian LPG secara aman
- Lemahnya sistem koordinasi pengawasan tabung dan LPG yang beredar dan lainnya.


Sedangkan langkah-langkah yang dilakukan oleh Pertamina untuk peningkatan safety
penggunaan LPG antara lain:

Penggunaan surveyor independen untuk melakukan quality control pada pabrikan
Pengadaan ruber seal oleh Pertamina
Kerjasama dengan puslabfor Polri untuk identifikasi root cause terkait insiden pada
pengguna LPG 3 Kg
Pengadaan alat spectrometer dan UT Thickness gauge sebagai alat tamabahan untuk
inspeksi tabung LPG 3 Kg.
Sementara mengenai rencana kenaikan harga LPG antara lain disebabkan adanya potensi
kerugian di bisnis LPG NPSO yang terjadi karena harga jual produk yang tidak sebanding
dengan peningkatan harga bahan baku. Sementara disisi lain Pertamina PT persero
dituntut untuk tidak rugi.

Selain itu, kenaikan LPG tersebut nantinya akan ditujukan kepada masyarakat menengah
atas yang tidak sensistif terhadap harga. Disamping realitasnya sudah ada kenaikan harga
LPG di pasaran dan keuntungannya dinikmati spekulan.

Di samping itu dengan persetuuan Menneg BUMN tahun 2009 bahwa LPG NPSO bisa
dinaikkan secara bertahap untuk mencapai harga keekonomian. Sebab dengan kenaikan
harga LPG NPSO Rp 1000/Kg per Juni 2010 maka prognosa kerugian Pertamina akan
berkurang Rp 655 miliar menjadi Rp 2,55 triliun di tahun 2010.

Disisi lain, kenaikan harga ini akan menambah kegiatan pengoplosan LPG yang akan
memperbesar peluang terjadinya insiden.

Untuk diketahui rata-rata CP Aramco periode satu tahun terakhir sekitar 611,75
USD/MTON dan rata-rata kurs dalam periode satu tahun di pada level Rp 9850.

Selanjutnya untuk harga keekonomian tanpa margin badan usaha sebesar Rp 7680,46/Kg
dan harga eks Pertamina sebelum pajak dan margin agen sebesar Rp 4912/Kg padahal
yang berlaku saat ini sebesar Rp 5850/Kg.
Sehingga selisih subsidi yang harus ditanggung Pertamina sebesar Rp 2767,91 / Kg.

Kesimpulan Raker komisi VII dengan Kementerian ESDM, PT Pertamina (persero), dan
BPH Migas:

1. Komisi VII DPR RI meminta pemerintah melalaui Menteri ESDM dan BPH Migas
menhentikan wacana pembatasan penggunaan BBM bersubsidi (premium) untuk
kendaraan bermotor roda dua dan segera menyiapkan rencana kebijakan yang lebih
komprehensif mengenai penerapan sistem distribusi seluruh jenis BBM dan LPG secara
tertutup agar lebih tepat sasaran.

2. Komisi VII DPR Ri meminta pemerintah melalui Menteri ESDM dan PT Pertamina
(persero) beserta instansi terkait lainnya segera melakukan investigasi secara menyeluruh
terhadap penyebab terjadinya ledakan tabung LPG 3 Kg dan perlengkapannya untuk
dilaporkan kepada komisi VII dan diumumkan kepada publik

3. Komisi VII DPR RI meminta pemerintah melalui Menteri ESDM dan PT Pertamina
(persero) agar tetap melakukan sosialisasi secara terus menerus terhadap program
konversi minyak tanah dan LPG 3 Kg.


Akh. Munawir

Yang diharapkan dalam suatu Investigasi adalah "ketepatan dan ketajaman dalam
menguak casual factor", sehingga corrective actions-nya adalah tindak lanjut/penyikapan
terhadap casual factor tersebut.

Mudah-mudahan Casual Factors yang ter-identifikasi tersebut mewakili kecelakaan-
kecelakaan kompor LPG yang terjadi selama ini, tetapi menurut saya Langkah-langkah
Corrective Action di bawah ini yang diprogramkan hanya meng-cover area QC saja,

Penggunaan surveyor independen untuk melakukan quality control pada pabrikan
Pengadaan ruber seal oleh Pertamina
Kerjasama dengan puslabfor Polri untuk identifikasi root cause terkait insiden pada
pengguna LPG 3 Kg
Pengadaan alat spectrometer dan UT Thickness gauge sebagai alat tamabahan untuk
inspeksi tabung LPG 3 Kg.
sedangkan, faktor Procedure, Communication, Management System dan Supervision
belum diprogramkan.

Saya yakin kita semua Deal, bahwa lebih baik kita terbebani oleh "Prevention Cost" yang
lebih bisa diukur/dikontrol dari pada harus menanggung "(Wild) Failure Cost" yang
seperti yang terjadi belakangan ini.

Dirman Artib

Don't worry Pak Munawir, QC berarti Safety.
Tambahan dari saya, bahwa masyarakat perlu dicerdaskan untuk melek "assurance
system". Paling tidak mereka harus bisa memilah-milah mana tabung, selang dan regulator
yang "good assurance system", dan mana yang "bad assurance system". Jika saya punya
authorized dalam kasus begini, maka yang akan saya lakukan adalah sementara ini harus
menggunakan single source supplier yang teridentifikasi dengan label security khusus,
supaya area pengendalian tidak terlalu luas. Produk yang dikeluarkan di luar supplier
terkendali adalah "bad assurance system" dan hukumnya haram, pengedar, penjual dan
pemakai item bahkan hanya memandang saja akan diberi sangsi hukum, walaupun
misalnya regulator tersebut made in planet mars sekalipun. Masyarakat harus dicerdaskan
tentang security label atau apapun metode yang applicable untuk membedakan mana
yang haram dan mana yang halal digunakan di Republik berdaulat ini. Karena, dengan
banyaknya jenis, tipe, merek, warna regulator dan selang pada situasi dimana
masyarakatnya baru pada tahap level bisa menggunakan akan sangat berbahaya.

Tindakan ini sama ketika misalnya negara dalam keadaan darurat, maka akan berlaku
hukum darurat yang khusus, tidakkah kita melihat indikasi darurat ini karena tiap hari ada
ledakan dan kebakaran tabung Elpiji ?. Setelah semuanya terkendali, barulah kita mulai
lagi sedikit-demi sedikit untuk membuka arus aneka ragam merek items tersebut, tetapi
perangkat peraturan harus terlebih dahulu siap, termasuk kecerdasan masyarakatnya
dalam "assurance system" sehingga paling tidak bisa melakukan QC sederhana sewaktu
membeli tabung, selang dan regulator.

Akh. Munawir

Pak Dirman you're right, tetapi agar penyelesaian permasalah tepat dan tajam maka,
seluruh benang merah antara causal factor dan corrective actionnya haruslah tegas.
QC is part of Safety Layer Protection, tetapi the safety layer is not only QC.

Mengutip e-mail dari Pak Yuyus sebelumnya, saya coba mapping the causal factors-nya,
dengan memberikan komen di dalam "(....)".

"Direktur Pengembangan Investasi dan Manajemen Risiko PT Pertamina Frederick ST
Siahaan:
Mengenai seringnya kasus kebakaran LPG menurut analisa beberapa kasus yang ada,
penyebab kebakaran bukan karena ledakan tabung, melainkan adanya kebocoran gas
yang kemudian terakumulasi oleh api terbuka di sekitarnya.

A Penyebab langsung :
- kerusakan/pemasangan selang yang salah (Assusmed QC)
- kerusakan/pemasangan regulator (Assumed QC)
- Kerusakan valve (Assumed QC)
- Kondisi ruangan yang tidak memadai (Not QC, Assumed Communication)
- Pengoplosan LPG 3 Kg dan 12 Kg (Not QC, Assumed Supervision or Management
Syststem or Communication)

B. Penyebab tidak langsung
- Minimnya pengetahuan tindakan yang benar apabila terjadi kebocoran LPG (Not QC,
Assumed Supervision or Management System or Communication)
- Minimnya pengetahuan cara penggantian LPG secara aman (Not QC, Assumed
Communication)
- Lemahnya sistem koordinasi pengawasan tabung dan LPG yang beredar dan lainnya
(Not QC, Assumed Communication).

Dan Corrective Actionnya hanya menyentuh QC Area, let's see :
Penggunaan surveyor independen untuk melakukan quality control pada pabrikan (QC)
Pengadaan ruber seal oleh Pertamina (QC)
Kerjasama dengan puslabfor Polri untuk identifikasi root cause terkait insiden pada
pengguna LPG 3 Kg (bukan Corrective Action, karena masih tahap identifikasi)
Pengadaan alat spectrometer dan UT Thickness gauge sebagai alat tamabahan untuk
inspeksi tabung LPG 3 Kg (QC)"

Aniwey, saya masih worry dengan Corrective Action yang diambil karena belum
sepenuhnya meng-akomodir Incident Main Causal Factors.

								
To top