Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DENGAN PELATIHAN

VIEWS: 781 PAGES: 139

									    POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DENGAN PELATIHAN
BUDIDAYA AYAM ARAB DI BPPLSP REGIONAL III JAWA TENGAH


                             SKRIPSI
         Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata I
             Untuk menempuh gelar Sarjana Pendidikan




                               Oleh :


                Nama      : SUCI ROHANIYAH
                Nim       : 1201401017
                Jurusan : Pendidikan Luar Sekolah




             FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
          UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                               2005

                                 i
                        HALAMAN PENGESAHAN



Skripsi ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan

Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri

Semarang, pada :

Hari         : Jumat

Tanggal      : 28 Oktober 2005


                                 Panitia Ujian



Ketua                                            Penguji I



Drs. H. Siswanto, M.M                            Drs. Utsman, M.Pd

NIP. 130515769                                   NIP.



Sekretaris                                       Penguji II



Drs. Achmad Rifai R.C M.Pd                       Drs. K. Nurhalim, M.Pd

NIP. 131413302                                   NIP. 130870431



                                                 Penguji III



                                                 Drs. Sawa Suryana

                                                 NIP. 131431203


                                      ii
                      MOTTO DAN PERSEMBAHAN



MOTTO

       Dibalik kesukaran pasti ada kemudahan, maka bila usai suatu pekerjaan,

       berusahalah menyelesaikan pekerjaan lainnya dan kepada Tuhanmulah

       engkau berserah diri (Q.S. Al- Insyirah : 6-8)

       Hidup adalah sebuah perjalanan panjang, yang selalu membutuhkan

       perjuangan dan pengorbanan (Penulis)




                               PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

   1. Bapak dan ibu tercinta atas segala doa, kasih sayang serta pengorbanannya

   2. Adik-adikku tersayang Dian, Andi, dan Akbar, kalianlah sumber semangat

       dan inspirasi yang tiada pernah berhenti

   3. Sutrisno ST, seseorang yang selalu menyemangati dan menyertaiku

   4. Teman-teman seperjuangan PLS FIP UNNES 2001, serta rekan-rekan

       kerja JEMEMA ISLAMIC SCHOOL

   5. Almamaterku tercinta.




                                        iii
                                 PRAKATA

       Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayahnya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai persyaratan

guna memperoleh gelar Sarjana Strata I bidang Pendidikan Luar Sekolah pada

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

       Skripsi dengan judul “Pola Pemberdayaan Pemuda Dengan Pelatihan

Budidaya Ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah, semoga dapat

memberikan manfaat bagi penulis serta pihak-pihak yang ingin mengkaji lebih

dalam tentang permasalahan pemberdayaan pemuda yang diteliti oleh penulis.

       Dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa sebagai karya

ilmiah penyusunan skripsi ini masih kurang sempurna. Oleh karenanya penulis

sangat berterima kasih kepada semua pihak yang dengan kerelaan hati bersedia

memberikan saran dan kritik membangun yang sangat diharapkan penulis.

       Tanpa melupakan jasa kebaikan dukungan moril dan spirituil dari banyak

pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, dari hati yang tulus

penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

   1. Drs. H. Siswanto, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

       Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian.

   2. Drs. Achmad Rifai RC, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah

       Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah

       memberikan pengesahan dan persetujuan terhadap judul skripsi yang

       penulis ajukan.




                                      iv
3. Drs. Khomsun Nurhalim, M.Pd, Dosen Pembimbing I yang telah dengan

   kesabaran dan tanggung jawab telah memberi banyak pengarahan dan

   bimbingan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

4. Drs. Sawa Suryana, Dosen Pembimbing II yang telah dengan kesabaran

   dan tanggung jawab juga telah memberi banyak pengarahan dan

   bimbingan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

5. Drs. Wartanto, MM, sebagai kepala Balai Pengembangan Pendidikan Luar

   Sekolah dan Pemuda Regional III Jawa Tengah yang telah memberikan

   ijin penelitian.

6. Drs. Kastum, M.Pd, sebagai kepala seksi program BPPLSP Regional III

   Jawa Tengah yang telah memberikan bantuan dalam melengkapi data yang

   penulis perlukan.

7. Para responden : Pihak penyelenggara, Tutor/nara sumber teknis dan

   peseta/ warga belajar pelatihan budidaya ayam Arab di Sekunir

   Gunungpati dan Beji Para’an Ungaran yang dengan keterbukaan hati

   bersedia diwawancarai dan melengkapi data yang penulis perlukan.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberi

   banyak dukungan, motivasi dan bantuan yang penulis butuhkan selama

   proses penyusunan skripsi ini.

                                              Semarang, Juli 2005

                                                    Penulis



                                                Suci Rohaniyah
                                                1201401017

                                    v
                                                   DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................                   i

PENGESAHAN KELULUSAN ......................................................................                            ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................                             iii

PRAKATA.......................................................................................................        iv

DAFTAR ISI....................................................................................................        vi

ABSTRAK .......................................................................................................       vii

BAB I. PENDAHULUAN ...............................................................................                     1

A.   Latar Belakang ...........................................................................................        1
B.   Perumusan Masalah ...................................................................................             4
C.   Tujuan Penelitian .......................................................................................         4
D.   Manfaat Penelitian .....................................................................................          5
E.   Penegasan Istilah........................................................................................         5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................                          8
A. Pola Pemberdayaan ....................................................................................              8
B. Pendidikan Kecakapan Hidup ....................................................................                    16
C. Pelatihan Budidaya ayam Arab..................................................................                     20

BAB III. METODE PENELITIAN..................................................................                          34
A. Pendekatan Penelitian ................................................................................             34
B. Penentuan Lokasi .......................................................................................           35
C. Fokus Penelitian .........................................................................................         35
D. Teknik Pengumpulan Data.........................................................................                   36
E. Keabsahan Data..........................................................................................           40
F. Analisis Data ..............................................................................................       42

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................                                              45
A. Hasil Penelitian ..........................................................................................        45
B. Pembahasan................................................................................................         63
C. Faktor pendukung dan penghambat ...........................................................                        71

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................                                 72
A. Simpulan ....................................................................................................      72
B. Saran...........................................................................................................   74

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................                 75

LAMPIRAN-LAMPIRAN...............................................................................                      76

                                                            vi
                                  ABSTRAK

Suci Rohaniyah, 2005. “Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya
ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah. Skripsi Jurusan Pendidikan
Luar Sekolah, Universitas Negeri Semarang.

        Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pola
pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP
Regional III Jawa Tengah, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan
pola pemberdayaan pemuda tersebut.
        Tujuan penelitian adalah untuk mendiskripsikan bagaimanakah pola
pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP
Regional III Jawa Tengah, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan
pola pemberdayaan pemuda tersebut.
        Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, pengumpulan
data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam
pengumpulan data digunakan juga sumber-sumber non manusia berupa laporan
pelaksanaan kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab dan dokumen lainnya.
Pengamatan diskriptif dilakukan untuk melihat kondisi umum Balai
Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional III Jawa Tengah,
setelah itu dilakukan pengamatan yang terfokus pada objek yang akan diteliti.
Proses selanjutnya dilakukan secara selektif untuk melihat sejauh mana sarana dan
prasarana serta aspek pendampingan yang dapat mendukung proses pembinaan.
Bersamaan dengan proses pengamatan tersebut dilakukan pula wawancara
deskriptif dengan Kepala Seksi Program BPPLSP Ungaran untuk memperoleh
gambaran secara umum tentang sejarah singkat, struktur organisasi, jumlah
peserta/warga belajar, jumlah tutor dan fasilitator, serta gambaran situasi umum
desa binaan Sekunir Gunung Pati dan Beji Para’an Ungaran. Selanjutnya untuk
meyakinkan kebenaran dari informasi yang diperoleh dilakukan pengamatan dan
wawancara dengan pihak yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data yang
digunakan pertama kali dalam proses wawancara terencana yang terfokus adalah
pertanyaan dijukan secara tidak berstruktur tertentu akan tetapi selalu berpusat
kepada satu pokok permasalahan yang akan diteliti dan kedua, menggunakan
wawancara terstruktur.
        Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu pola
pemberdayaan pemuda dalam pembinaan kecakapan hidup/life skills di BPPLSP
ungaran dibagi menjadi empat tahapan, meliputi : a) Penetapan tujuan
pemberdayaan, b) Proses pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, c) Hasil
pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, d) Evaluasi pelaksanaan kegiatan
pemberdayaan. Faktor pendukung pelaksanaan pola pemberdayaan meliputi :
lingkungan sosial masyarakat, sumber-sumber belajar yang meliputi sumber
material maupun non material, serta nara sumber teknis/tutor yang berkompeten
dibidangnya masing-masing. Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan pola
pemberdayaan meliputi : belum adanya nara sumber teknis dari pihak BPPLSP
yang berkompeten dibidang peternakan dan budidaya ayam Arab sehingga masih
bekerjasama dengan instansi lain, aspek pendampingan dalam kelompok binaan

                                       vii
yang tidak berlanjut secara kontinyu, serta sikap dan mental dari sebagian warga
belajar yang tidak mau bekerja keras dan hanya menginginkan hasil yang cepat.
Dalam rangka peningkatan kegiatan pemberdayaan pemuda disarankan :
diadakannya aspek pendampingan teknis secara rutin kepada anggota kelompok
binaan agar desa binaan dapat berkembang secara maksimal, peningkatan jalinan
hubungan mitra kerja dengan berbagai lembaga terkait untuk memperluas daerah
pemasaran serta peningkatan kegiatan-kegiatan pemberdayaan pemuda dalam
pembinaan kecakapan hidup/life skills lainnya untuk mengaktualisasikan potensi
yang sudah dimiliki oleh masyarakat agar dapat hidup mandiri.




                                      viii
                                                      BAB I

                                             PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

           Jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 210 juta orang, dari jumlah tersebut kelompok yang
dikategorikan generasi muda atau yang berusia diantara 15 sampai 35 tahun diperkirakan berjumlah sekitar 78 juta jiwa
atau 37% dari jumlah penduduk seluruhnya sebagaian besar dari kelompok usia ini adalah tenaga kerja produktif yang akan
mengisi berbagai bidang kehidupan. Pemuda akan menempati posisi penting dan strategis, sebagai pelaku-pelaku
pembangunan maupun sebagai generasi muda yang berkiprah dimasa depan. Karena itu pemuda harus dipersiapkan dan
diberdayakan agar mampu memiliki kualitas dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan serta
tantangan dan persaingan diera globalisasi.
             Pembangunan dibidang kepemudaan merupakan mata rantai tak terpisahkan dari sasaran pembangunan manusia
seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Keberhasilan pembangunan pemuda sebagai sumber daya manusia yang
berkualitas dan memiliki keunggulan daya saing, merupakan salah satu kunci untuk membuka peluang untuk keberhasilan
diberbagai sektor pembangunan lainnya. Oleh karena pemuda sebagai bagian dari warga negara mempunyai hak yang sama
untuk memperoleh pendidikan yang bermutu (dalam UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 5
ayat 1). Namun kenyataannya hanya sebagian penduduk saja yang dapat menggunakan kesempatan tersebut. Oleh sebab itu
sebagai implikasinya maka lahirlah UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dimana jalur pendidikan
terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat
yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal
dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal sebagai pengganti berarti pendidikan
nonformal dapat menggantikan peran pendidikan formal dalam memberikan layanan pendidikan kepada warga negara.
Sebagai penambah pendidikan nonformal berfungsi memberikan materi tambahan bagi pendidikan formal, sedangkan
pendidikan nonformal sebagai pelengkap pendidikan formal dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam rangka
pelaksanaan pendidikan sepanjang hayat.
           Pendidikan nonformal diantaranya adalah pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan
kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan ketrampilan dan pelatihan kerja,
pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Pendidikan
kecakapan hidup (life skills) pada dasarnya merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan hidup tiap
warga negara. Pengertian kecakapan hidup disini adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani menghadapi
problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa rasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta
menemukan solusi, sehingga akhirnya mampu mengatasinya, dan memungkinkan warga belajar dapat hidup mandiri.
           BPPLSP (Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda) Regional III Jawa Tengah merupakan
lembaga yang berkewajiban melakukan pengembangan dan pengkajian dibidang pendidikan luar sekolah dan pemuda.
Sebagai bentuk pengembangan dan pengkajian dibidang pendidikan luar sekolah dan pemuda, BPPLSP menyelenggarakan
program-program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap warga belajar
dibidang pekerjaan atau usaha tertentu sesuai dengan bakat, minat, perkembangan fisik dan jiwanya, serta potensi
lingkungannya sehingga mereka memiliki bekal kemampuan untuk bekerja atau berusaha mandiri yang dapat dijadikan
bekal untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
            Dari berbagai macam program-program pelatihan yang diselenggarakan oleh BPPLSP Regional III Jawa
Tengah ini salah satunya adalah pelatihan dan budidaya ayam Arab, dimana ayam Arab sangat potensial untuk dijadikan
perimadona baru dalam dunia peternakan ayam petelur. Pemeliharaan yang mudah, efektivitas telur yang tinggi , serta
karakter telurnya yang menyerupai telur bukan ras (Buras;kampung), merupakan daya pikat tersendiri bagi masyarakat.
Dengan keunggulan-keunggulan tersebut keuntungan yang diperoleh peternak ayam arab juga cukup tinggi oleh karena itu,
wajar bila dalam waktu relatif singkat, populasi ayam Arab telah berkembang dengan pesat di Jawa Timur, Jawa Barat,
Jawa Tengah dan daerah-daerah lain. Penyelenggaraan program kecakapan hidup (life skills) melalui pelatihan budidaya
ayam Arab ini diarahkan pada upaya pengentasan kemiskinan dan upaya memecahkan masalah pengangguran yang
semakin memprihatinkan. Walaupun sasaran dari setiap lembaga penyelenggaraan program-program pelatihan secara
umum hampir sama, namun setiap lembaga yang menjadi penyelenggara program pelatihan, memiliki persyaratan,
mekanisme pengusulan dan penetapan, serta karakteristik program yang berbeda-beda. Disamping itu juga masih
berjalannya dua desa binaan yang berada di desa Sekunir Gunungpati dan desa Para’an Beji Ungaran. Situasi ini
mendorong penulis untuk melakukan penelitian yang bermaksud mengidentifikasi dan mendiskripsikan pola
pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.



B. Rumusan Masalah



                                                          ix
       Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka rumusan

masalah dari penelitian ini adalah :

   1. Bagaimanakah Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya

       ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah ?

   2. Apakah yang menjadi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan

       Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di

       BPPLSP Regional III Jawa Tengah ?




C. Tujuan Penelitian

       Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

   1. Untuk mengetahui Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya

       ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

   2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Pola

       pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP

       Regional III Jawa Tengah.



D. Manfaat Penelitian

       Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

   1. Manfaat teoritis

               Dapat menambah wacana pengetahuan tentang pola pemberdayaan

       pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab pada khususnya, dan

       pengembangan pendidikan luar sekolah pada umumnya.


                                       x
    2. Manfaat praktis

               Temuan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan pihak

        BPPLSP untuk mengevaluasi program-program yang dilaksanakan, Bagi

        pemuda agar mereka mempunyai kemampuan untuk dapat diberdayakan,

        Bagi Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Dinas Pertanian dan Peternakan,

        Dinas Pemberdayaan Masyarakat untuk mengambil kebijakan dimasa

        datang, serta pihak-pihak yang berkompeten lainnya.




E. Penegasan Istilah

        Sehubungan dengan keterbatasan dan kemampuan penulis, untuk

memperjelas judul skripsi ini, maka perlu ditegaskan beberapa istilah sebagai

berikut :

    1. Pola Pemberdayaan

               Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Pola

        berarti model tau bentuk yang tetap. Adapun mengenai istilah

        pemberdayaan pemuda merupakan suatu upaya untuk mengaktualisasikan

        potensi yang sudah dimiliki oleh pemuda itu sendiri. Pemberdayaan

        pemuda ini diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan

        sebagai obyek tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup

        mereka (Moelyanto, 1999 dalam Ari Wahyono 2001 : 9)

    2. Pemuda




                                        xi
          Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pemuda mencakup anak-

   anak manusia dari umur 15 sampai dengan 24 tahun. Menurut Organisasi

   Pemuda, Pemuda dapat saja menjangkau semua orang muda yang menurut

   anggaran dasarnya dapat menjadi anggota, biasanya termasuk didalamnya

   semua muda-mudi yang berumur 15 sampai 40 tahun. Di dunia politik,

   budaya, ekonomi, dan keagamaan, kaum muda adalah mereka yang relatif

   belum lama bergerak atau berperan penting dalam bidang-bidang itu

   (Mangunharjana, 1996 : 11). Tangdilintin (1994 : 5) merumuskan pemuda

   sebagai berikut : kaum muda harus dilihat sebagai “pribadi” yang sedang

   berada pada taraf tertentu dalam perkembangan hidup seorang manusia,

   dengan kualitas dan ciri tertentu yang khas, dengan hak dan peranan serta

   kewajiban tertentu dengan potensi dan kebutuhan tertentu pula.

3. Kecakapan Hidup (Life Skills)

          Menurut Broling (1989) Life Skills adalah interaksi berbagai

   pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang

   sehingga mereka dapat mandiri. WHO (1997) memberikan pengertian

   bahwa kecakapan hidup adalah berbagai keterampilan atau kemampuan

   untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan

   seseorang mampu menghadapi tuntutan dan tantangan dalam hidupnya

   sehari-hari secara efektif.

4. Pelatihan

          Pelatihan adalah suatu tindakan sadar untuk mengembangkan

   bakat, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seseorang guna


                                   xii
menyelesaikan pekerjaan tertentu. Pelatihan yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah pelatihan dan budidaya ayam Arab yang diberikan

kepada pemuda putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang

pendidikan yang lebih tinggi serta belum mempunyai pekerjaan tetap.




                              xiii
                                      BAB II

                              LANDASAN TEORI




A. Pola Pemberdayaan

1. Pengertian Pemberdayaan

        Dalam kajian teori ini akan disajikan beberapa pengertian Pemberdayaan

atau sering disebut empowering, menurut Suzanne Kindervatter dalam bukunya

yang berjudul Nonformal Education As an Empowering Process, menyatakan

bahwa Empowering was defined as : People gaining an Understanding of and

control over social, economic, and/ or political forces in order of improve their

standing in society (Kindevatter, 1979 : 150). Berdasarkan pengertian ini dapat

dikemukakan bahwa proses pemberian kekuatan atau daya adalah setiap upaya

pendidikan yang bertujuan membangkitkan kesadaran, pengertian, dan kepekaan

warga belajar terhadap perkembangan sosial, ekonomi dan atau politik sehingga

akhirnya ia memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan

kedudukannya dalam masyarakat.

        Dalam Pembelajaran (Sudjana, 1993 : 63) proses pemberian kekuatan

tersebut mempunyai delapan pokok yaitu : (a) belajar dilakukan dalam kelompok-

kelompok kecil, (b) pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada warga

belajar selama kegiatan pembelajaran berlangsung, (c) kepemimpinan kelompok

diperankan oleh warga belajar, (d) sumber belajar bertindak selaku fasilitator, (e)

proses kegiatan belajar mengajar berlangsung secara demokratis, (f) adanya



                                        xiv
                                        8
kesatuan pandangan dan langkah dalam mencapai tujuan, (g) menggunakan

metode dan teknik pembelajaran yang dapat menimbulkan rasa percaya diri pada

warga belajar, dan (h) bertujuan akhir untuk meningkatkan status sosial, ekonomi,

dan atau politik warga belajar dalam masyarakat. Akhirnya Suzanne Kindervatter

(1979 : 157) menyimpulkan bahwa : Generally, NFE for empowering is an

educational approach which enable leaners to gain greater undersanding and of

control over social, economic, and/ or political forces trough : (1) Exercising a

high degree of control over all aspect of the learning proces; (2) Learning both

“content” and : process” skill responsive to their needs and problems ; and (3)

working collaborativery to solve mutual problems.

       Kesimpulan diatas mengungkapkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah

sebagai proses empowering adalah suatu pendekatan pendidikan yang bertujuan

untuk meningkatkan pengertian dan pengendalian warga belajar mampu untuk

meningkatkan pengertian dan pengendalian warga belajar terhadap kehidupan

sosial, ekonomi, dan atau politik sehingga warga belajar mampu untuk

meningkatkan taraf hidupnya dalam masyarakat, untuk itu proses yang perlu

ditempuh warga belajar adalah (1) melatih tingkat kepekaan yang tinggi terhadap

berbagai aspek perkembangan sosial, ekonomi dan politik selama proses

pembelajaran (2) mempelajari berbagai macam keterampilan untuk memenuhi

kebutuhan dan memecahkan masalah yang dihadapi bersama (Sudjana, 1993 : 63).

       Pengertian pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu kata “

empowerment” yaitu sebagai upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah

dimiliki masyarakat. Jadi, pendekatan pemberdayaan pemuda dalam pembinaan


                                        xv
kecakapan hidup/life skills adalah penekanan pada pentingnya pemberdayaan

pemuda yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka

sendiri. Pemuda yang dapat mengikuti Pelatihan dan budi daya ayam Arab di

BBPLSP adalah pemuda yang menganggur atau tidak memiliki pekerjaan tetap,

belum memiliki ketrampilan atau kecakapan hidup yang dibutuhkan untuk bisa

berusaha atau bekerja, berpendidikan SMA tetapi tidak melanjutkan sampai ke

Perguruan Tinggi, berusia antara 16 sampai 44 tahun dengan prioritas 19 sampai

35 tahun dan memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja. Pola pemberdayaan

pemuda dalam pembinaan kecakapan hidup (life skills) diselenggarakan

berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan peserta pelatihan, menetapkan tujuan,

merancang kegiatan, menentukan nara sumber, menentukan peserta, menentukan

pelaksanaan, persipan pelatihan, penerapan atau pelaksanaan pelatihan, evaluasi

pelatihan dan dokumentasi pelatihan. Pendekatan pemberdayaan pemuda yang

demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan

sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup mereka

(Moelyanto, 1999 dalam Ary Wahyono, 2001: 9).




2. Strategi Pemberdayaan

       Strategi dasar dalam pemberdayaan (pendekatan pelayanan masyarakat/

community Service Approach) pada umumnya dilandasi pada upaya

mengoptimalkan fungsi manajemen Penddidikan Luar Sekolah.

       Adapun Fungsi Manajemen Luar Sekolah dapat diuraikan sebagai berikut:




                                       xvi
2.1 Perencanaan Program

       Skidmore (1990 : 42-43) menyatakan bahwa suatu perencanaan

diperlukan oleh lembaga atas dasar beberapa alasan, yaitu :

   a. Efisiensi (efficiency). Tujuan dasar dari suatu efisiensi adalah usaha untuk

       mencapai tujuan dengan biaya dan upaya yang minimum tetapi

       mendapatkan hasil yang sama baiknya. Skidmore menyakini bahwa hal ini

       baru bisa terjadi bila dilakukan perencanaan secara seksama dan, juga

       merupakan suatu proses antisipasi (anticipatory process) terhadap

       berbagai masalah yang akan muncul.

   b. Keefektifan (effectiveness). Lewiss (1985 :10) melihat bahwa keefektifan

       diukur berdasarkan variabel-variabel kriteria (criterion variables) yang

       diciptakan dalam hubungan dengan pencapaian tujuan. Berdasarkan

       kriteria-kriteria ini petugas dapat menilai apakah program yang telah

       mereka jalankan dapat dikategorikan sebagai berhasil ataukah tidak. Akan

       tetapi, hasil yang diinginkan mungkin tidak dapat dicapai bila tidak

       dilakukan perencanaan terlebih dahulu.

   c. Akuntabilitas (accountability). Skidmore (1990 : 82-84), ada dua

       akuntabilitas yang perlu diperhatikan yaitu akuntabilitas lembaga dan

       akuntabilitas individu. Dimanapun akuntabilitas itu mengarah, suatu

       perencanaan yang seksama dapat mengarahkan para tenaga profesional

       untuk mengoperasionalisasikan pekerjaan mereka.

   d. Morale (morale). Skidmore(1990:43) percaya bahwa perencanaan yang

       dilakukan merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan moral


                                       xvii
       lembaga. Para staf organisasi membutuhkan penyaluran kreatifitas,

       perasaan dapat mencapai sesuatu (being of achievement), dan kepuasan

       dalam upaya meningkatkan kinerja mereka.

2.2 Pelaksanaan Program

       Kegiatan pelaksanaan program merupakan suatu proses yang dimulai dari

implementasi awal atau pre-implementasi, implementasi dan implementasi akhir.

Implementasi awal mencakup kegiatan-kegiatan persiapan sebelum program

kegiatan dilakukan. Implementasi kegiatan merupakan semua aspek kegiatan

teknis yang dilakukan pada sesi kegiatan termasuk koordinasi administratif,

dokumentasi, dan dukungan finansial sedangkan implementasi akhir (post-

implementation) mencakup kegiatan-kegiatan administratif dan finansial yang

diperlukan sesudah program dilaksanakan, termasuk kegiatan pelaporan, proses,

dan hasil program kegiatan.




2.3 Evaluasi Program

       Evaluasi menunjukkan suatu usaha untuk memperoleh informasi atau

keterangan dari hasil suatu program dan menentukan nilai (value) dipandang dari

sudut informasi tersebut. Evaluasi terhadap setiap kegiatan adalah penting, karena

dalam evaluasi orang berusaha menentukan nilai atau manfaat dari pada kegiatan,

dengan menggunakan informasi yang tersedia.

       Setiap penyelenggaraan suatu program pelatihan biasanya diperlukan

biaya yang cukup besar, agar biaya yang dikeluarkan tidak sia-sia dan pelatihan



                                       xviii
yang diselenggarakan itu dapat mencapai sasarannya, maka pelatihan perlu dinilai

atau dievaluasi.

        Menurut Kirkpatrick rencana keseluruhan evaluasi pelatihan memberikan

suatu kerangka untuk mengukur perubahan yang diinginkan pada tiap tingkat

evaluasi, yakni perubahan pada tingkat belajar, tingkat perilaku dan tingkat hasil

dengan menggunakan kriteria yang tepat.

2.4 Pengembangan

        Pengembangan program pendidikan luar sekolah bertujuan untuk

memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan program serta memperluas

jangkauan pelayanan program kepada masyarakaat sesuai dengan kebutuhan

belajar yang diinginkan.

        Agar pengembangan program pendidikan luar sekolah dapat tercapai perlu

adanya kontroling/ monitoring yang berfungsi sebagai berikut :

    a. Menghentikan kesalahan, penyimpangan, pemborosan, hambatan yang

        mengakibatkan ketidakefektifan program.

    b. Mencegah terulangnya kembali kesalahan-kesalahan yang menghambat

        program.

    c. Mencari cara-cara yang lebih baik atau membina yang lebih baik untuk

        tujuan pencapaian program.


3. Teknik Pemberdayaan

        Pengembangan masyarakat yang dilaakukan pada beberapa organisasi

pelayanan masyarakat yang satu dengan yang lain memang tampak ada beberapa

                                        xix
perbedaan dan kesamaan. Tetapi pada dasarnya tahapan yang dilakukan

mencakup beberapa tahapan dibawah ini :

3.1 Tahap Persiapan.

       Tahap persiapan ini didalamnya terdapat tahap penyiapan petugas untuk

menyampaikan persepsi antar anggota tim agen perubah (change agent) mengenai

pendekatan apa yang akan dipilih dalam melakukan pengembangan masyarakat.

Dan penyiapan lapangan, petugas (community worker) pada awalnya melakukan

studi kelayakan terhadap daerah yang akan dijadikan sasaran, baik dilakukan

secara informal maupun formal.

3.2 Tahap Assesment

       Proses assessment yang dilakukan disini dilakukan dengan

mengidentifikasi masalah dan sumber daya yang dimiliki klien. Dalam proses

penilian (assessment) dapat digunakan teknik SWOT, dengan melihat kekuatan

(streangth), kelemahan (Weaknesses), kesempatan (opportunities) dan ancaman

(threatment). Dalam proses assessment masyarakat dilibatkan secara aktif agar

mereka dapat merasakan bahwa permasalahan yang sedang dibicarakan benar-

benar permasalahan yang keluar dari pandangan mereka sendiri.

3.3 Tahap Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan.

       Pada tahap ini petugas (community worker) secara partisipatif mencoba

melibatkan warga untuk berfikir tentang masalah yang mereka hadapi dan

bagaimana cara mengatasinya. Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada,




                                       xx
masyarakat diharapkan dapat memikirkan beberapa alternatif program dan

kegiatan yang dapat mereka lakukan.

3.4 Tahap Pemformulasian Rencana Aksi

       Pada tahap ini agen perubahan (community worker) membantu masing-

masing kelompok masyarakat untuk memformulasikan gagasan mereka dalam

bentuk tertulis, terutama bila ada kaitannya dengan pembuatan proposal kepada

pihak penyandang dana. Dalam tahap pemformulasian rencana aksi ini,

diharapkan community worker dan masyarakat sudah dapat membayangkan dan

menuliskan tujuan jangka pendek apa yang akan mereka capai dan bagaimana

cara mencapai tujuan tersebut.

3.5 Tahap Pelaksanaan (Implementasi) Program atau Kegiatan

       Tahap pelaksanaan ini merupakan salah satu tahap yang paling krusial

(penting) dalam proses pengembangan masyarakat, karena sesuatu yang sudah

direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan di lapangan

bila tidak ada kerja sama antara petugas dan warga masyarakat, maupun kerja

sama antar warga.

3.6 Tahap Evaluasi

       Evaluasi sebagai sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas

terhadap program yang sedang berjalan pada pengembangan masyarakat

sebaiknya dilakukan dengan melibatkan warga. Dengan keterlibatan warga pada

tahap ini diharapkan akan berbentuk suatu sistem dalam komunitas untuk

melakukan pengawasan secara internal.


                                        xxi
3.7 Tahap Terminasi

       Tahap ini merupakan tahap ‘pemutusan’ hubungan secara formal dengan

komunitas sasaran. Terminasi dilakukan seringkali bukan karena masyarakat

sudah dapat dianggap ‘mandiri’, tetapi tidak jarang terjadi karena proyek sudah

harus dihentikan karena sudah melebihi jangka waktu yang ditetapkan

sebelumnya, atau karena anggaran sudah selesai dan tidak ada penyandang dana

yang dapat dan mau meneruskan. Meskipun demikian, tidak jarang community

worker tetap melakukan kontak meskipun tidak secara rutin. Apalagi bila petugas

(community worker) merasa bahwa tugasnya belum diselesaikan dengan baik.




B. Pendidikan kecakapan hidup/life skills

1. Pengertian Pendidikan kecakapan hidup

       Menurut Broling (1989) life skills adalah interaksi berbagai pengetahuan

dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka

dapat hidup mandiri. Broling mengelompokkan life skills ke dalam tiga kelompok

kecakapan yaitu : kecakapan hidup sehari-hari (daily living skill), kecakapan

hidup pribadi/sosial (personal/social skill) dan kecakapan hidup bekerja

(occupational skill).

       WHO (1997) memberikan pengertian bahwa kecakapan hidup adalah

berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku

positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tuntutan dan

tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif. WHO mengelompokkan



                                       xxii
kecakapan hidup kedalam lima kelompok yaitu : (1) kecakapan mengenal diri (self

awareness) atau kecakapan pribadi (personal skill), (2) kecakapan sosial (social

skill), (3) kecakapan berpikir (thinking skill), (4) kecakapan akademik (academic

skill) dan (5) kecakapan kejuruan (vocational skill).

       Dari uraian diatas dapat dirumuskan bahwa hakikat pendidikan kecakapan

hidup dalam pendidikan nonformal adalah merupakan upaya untuk meningkatkan

keterampilan, pengetahuan, sikap, dan kemampuan yang memungkinkan warga

belajar dapat hidup mandiri. Dalam penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup

didasarkan atas prinsip empat Pilar Pendidikan, yaitu : “learning to know” (belajar

untuk memperoleh pengetahuan yang diikuti oleh “learning to learn” yaitu belajar

untuk tahu cara belajar), “learnig to do” (belajar untuk dapat berbuat/melakukan

pekerjaan),”learning to be” (belajar agar dapat menjadi orang yang berguna sesuai

dengan bakat, minat, dan potensi diri) dan “learning to live together” (belajar

untuk dapat hidup bersama dengan orang lain).

       Pendidikan kecakapan hidup pada dasarnya merupakan suatu upaya

pendidikan untuk meningkatkan kecakapan hidup setiap warga negara. Pengertian

kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani

menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan,

kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi, sehingga

akhirnya mampu mengatasinya.

2. Jenis-jenis Kecakapan Hidup/Life Skills

       Secara operasional, program kecakapan hidup dalam pendidikan

nonformal dipilah menjadi empat jenis yaitu : (1) Kecakapan pribadi (personal



                                        xxiii
skill), yang mencakup kecakapan mengenal diri sendiri (self awareness), dan

kecakapan berpikir rasional (thinking skill). (2) Kecakapan sosial (social skill),

seperti kecakapan melakukan kerjasama, bertenggang rasa, dan tanggung jawab

sosial. (3) Kecakapan akademik (academic skill), seperti kecakapan dalam berfikir

secara alamiah, melakukan penelitian, dan percobaan-percobaan dengan

pendekatan ilmiah. (4) Kecakapan vokasional (vocational skill) adalah kecakapan

yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat.

Seperti di bidang jasa (perbengkelan, jahit menjahit), dan produksi barang tertentu

(peternakan, pertanian, perkebunan).

       Kecakapan kesadaran diri itu pada dasarnya merupakan penghayatan diri

sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga negara,

serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki,

sekaligus menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai

individu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Kecakapan

berfikir rasional mencakup antara lain kecakapan menggali dan menemukan

informasi (information searching), kecakapan mengolah informasi dan

mengambil keputusan (information processing and decision making skills), serta

kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skill).

Skema tentang Kecakapan Hidup dapat diuraikan sebagai berikut :




                               Kecakapan Personal (PS)                Kecakapan
                                                                      Hidup
                                                                      Generik (GLS)




                                        xxiv
                              Kecakapan Sosial (SS)

   Kecakapan                  kecakapan Akedemik (AS)
   Hidup (LS)                                                       Kecakapan
                                                                      Hidup
                                                                    Spesifik (SLS)
                              Kecakapan Vokational (VS)



       Kecakapan sosial atau kecakapan antar personal (interpersonal skills)

mencakup antara lain kecakapan komunikasi dengan empati (communication skill)

dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill). Empati, sikap penuh pengertian

dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan karena yang dimaksud

berkomunikasi di sini bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi dan

sampainya pesan disertai dengan kesan baik yang akan menumbuhkan hubungan

harmonis.kecakapan bekerjasama sangat diperlukan karena sebagai mahluk sosial,

dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu bekerjasama dengan manusia

lain. Kerjasama bukan sekedar “kerja bersama” tetapi kerja yang disertai dengan

saling pengertian, saling menghargai dan saling membantu. Dua kecakapan hidup

yang diuraikan diatas (kecakapan personal dan kecakapan sosial) biasanya disebut

sebagai kecakapan hidup yang bersifat umum atau kecakapan hidup generic

(general life skill/GLS). Kecakapan hidup tersebut diperlukan oleh siapapun, baik

mereka yang bekerja dan mereka yang sedang menempuh pendidikan.

       Kecakapan hidup yang bersifat spesifik (specific life skill/SLS)

deperlukanseseorang untuk menghadapi probelema “mobil yang mogok” tentu

diperlukan kecakapan khusus tentang mesin mobil. Untuk memecahkan masalah



                                       xxv
dagangan yang tidak laku, tentu diperlukan kecakapan pemasaran. Untuk mampu

melakukan pengembangan biologi molekuler tentunya diperlukan keahlian di

bidang bio-teknologi. Kecakapan hidup yang bersifat khusus biasanya disebut

juga sebagai kompetensi teknis (technical competencies) yang terkait dengan

materi mata pelajaran atau materi diklat tertentu dan pendekatan pembelajarannya.

Spesific Life Skill (SLS) mencakup kecakapan pengembangan akademik

(academik skill) dan kecakapan vocasional yang terkait dengan pekerjaan tertentu.

Kecakapan akademik (academic skill/AS) yang seringkali juga disebut

kemampuan berfikir ilmiah pada dasarnya merupakan pengembangan dari

kecakapan berfikir rasional pada GLS. Jika kecakapan berfikir rasional masih

bersifat umum, kecakapan akademik sudah lebih mengarah kepada kegiatan yang

bersifat akademik/keilmuan. Kecakapan akademik mencakup antara lain

kecakapan melakukan identifikasi variabel dan menjelaskan hubungan pada suatu

fenomena tertentu (identifying variables and describing relationship among

them), merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kejadian (constructing

hypotheses), serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan

suatu gagasan atau keingintahuan (designing and implementing a research).

Kecakapan vocasional (vocational skill/VS) seringkali disebut pula dengan

“kecakapan kejuruan”, artinya kecakapan yang dikaitkan dengan bidang tertentu

yang terdapat di masyarakat.

        Dalam kehidupan nyata, antara general life skill (GLS) dan specific life

skill (SLS) yaitu antara kecakapan mengenal diri, kecakapan berfikir rasional,

kecakapan sosial, dan kecakapan akademik serta kecakapan vocational tidak

berfungsi secara terpisah-pisah, atau tidak terpisah secara ekslusif. Hal yang



                                        xxvi
terjadi adalah peleburan kecakapan-kecakapan tersebut, sehingga menyatu sebagai

sebuah tindakan individu yang melibatkan aspek fisik, mental, emosional, dan

intelektual. Keempat jenis kecakapan hidup diatas, dilandasi oleh kecakapan

spiritual, yakni : keimanam, ketaqwaan, moral, etika dan budi pekerti yang luhur

sebagai salah satu pengamalan dari sila pertama pancasila. Dengan demikian,

pendidikan kecakapan hidup diarahkan pada pembentukan manusia yang

berakhlak mulia, cerdas, terampil, sehat, mandiri serta memiliki produktivitas dan

etos kerja yang tinggi.




C. Pelatihan Budi Daya Ayam Arab

1. Pengertian Pelatihan

       Pelatihan adalah pembelajaran untuk merubah kinerja (Performance) dari

seseorang dalam kaitannya dengan tugasnya (Jobs). Dalam hal ini ada empat hal

penting untuk diperhatikan yaitu :

  1)   Pembelajaran       (Learning) merupakan    upaya    untuk   merubah atau

        meningkatkan kinerja seseorang dalam hubungannya dengan tugas-

        tugasnya dalam suatu organisasi. Pembelajaran biasanya mengacu kepada

        perubahan sesuatu kepada si beajar (Learners) dan perubahan itu biasanya

        mencakup psychomotoric, cognitive, affective, connative.

  2)   Kinerja (Performance) biasanya terkait dengan pekerjaan atau tugas- tugas

       (Jobs), artinya bagaimana kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas

       yang terkait dengan pekerjaan.




                                        xxvii
3)   Sasaran (People) yang dimaksud dalam kegiatan training biasanya adalah

     terkait dengan orang dewasa (Adults) yang professional. Dengan demikian

     berarti dalam proses pelatihan kita harus memperhatikan prinsip-prinsip

     belajar orang dewasa yang telah memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan

     sikap-sikap tertentu dalam menghadapi pekerjaannya. Menurut Ernesto

     (1991)   dalam    pelatihan   terhadap   orang    dewasa    tidak   hanya

     memperhatikan tehadap tujuan dalam melakukan pelatihan, namun juga

     keterampilan-keterampilan yang telah dimiliki oleh orang dewasa selama

     proses pelatihan perlu diperhatikan. Perspektif, pengalaman, kebutuhan,

     dan orientasi perlu mendapat perhatian dalam pelatihan.

4)   Pekerjaan atau Tugas (Jobs) yang dimaksud adalah tugas-tugas khusus

     yang dilakukan oleh sasaran sehari-hari. Dalam kaitannya dengan

     menjalankan tugas-tugas tersebut sasaran (Learners) perlu mendapat

     peningkatan melalui pelatihan. Pada umumnya pelatihan dilakukan

     terhadap sasaan (Learners) karena sering kali kita jumpai di sekitar kita,

     bahwa institusi institusi atau organisasi melakukan pelatihan kepada

     karyawan atau pegawai tidak didasarkan pada rasionalitas yang dapat

     dipertanggung jawabkan, namun lebih didasarkan pada kepentingan

     “proyek’’, sehingga tidak sedikit biaya, waktu, tenaga yang terbuang tanpa

     ada kemanfaatan yang berarti. Dalam program pelatihan menurut Taylor

     and Lippit (1984), bahwa program pelatihan pada sasaran (Learners)

     hendaknya didasarkan pada alasan-alasan tertentu diantaranya adalah tidak

     semua orang percaya bahwa pelatihan akan mendatangkan efektivitas dan



                                   xxviii
efisiensi. Banyak orang justru bersikap skeptis terhadap program-program

pelatihan. Kenyataan ini terjadi karena menurut para ahli, diantarannya

menurut (Jhon and Jeff, 1977) adalah karena:

1) Pelatihan tidak menyentuh substansi yang sebenarnya (no real

   subtance).

2) Pelatih bukan orang yang memiliki spesifikasi bidang pelatihan yang

   dilakukan, dan akibatnya pelatih cenderung bersifat akademik (tend to

   be academic).

3) Banyak pimpinan yang tidak meyakini tentang kegunaan pelatihan,

   karena    dianggap   hanya    bersifat   akademik,   terlalu   teoritis,

   menghabiskan biaya, dan tidak memberikan dampak yang berarti.

4) Umumnya pelatihan dilakukan dalam waktu yang pendek dan

   akibatnya sering tidak membawa perubahan yang berarti bagi sasaran

   (learners).

5) Pelatihan hanya dianggap penting bagi pegawai menengah dan bawah

   dan tidak penting bagi pimpinan (thinking it good only middle or low

   middle managers and not to senior)

6) Pelatihan terlalu akademik dan para manager tidak memiliki

   kesempatan untuk mengikutinya.

7) Pelatih sendiri cenderung tidak efektif menjalankan kegiatannya, dan

   akibatnya seringkali problem tidak dipecahkan melalui kegiatan

   pelatihan. Namun lebih banyak ditentukan oleh perubahan kebijakan,




                              xxix
            prioritas-prioritas, sistem, produser, tanggung jawab, dan dukungan

            finansial (financing).

        8) Pelatih sering menggunakan metode yang tradisional (traditional

            methods) akibatnya peserta menjadi bosan, padahal sasaran ingin

            memperoleh pengalaman yang banyak.

        9) Pelatih memiliki keterbatasan dalam penggunaan audio-visual dan

            teknologi komunikasi modern.

        10) Pelatih cenderung menggunakan pendekatan Paedagogy dan kurang

            memahami pendekatan Andragogy.

        11) Pelatih hanya memiliki latar belakang bidang keahlian karena

            hanyalah seorang manager.

        Pelatihan tidak selamanya berjalan secara lancar pada setiap kesempatan.

Banyak faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan, dan

faktor-faktor itu adalah :

        1) Teori dengan praktek tidak sejalan, artinya teorinya teori yang

            diberikan tidak bisa dipraktekkan pada saat menjalankan tugas-tugas

            yang dilakukan.

        2) Kondisi lingkungan tidak kondusif untuk dimanfaatkan dalam

            pelatihan dan tidak bisa menunjang kinerja behaviors yang diperlukan

            dalam pelatihan.

        3) Perubahan perilaku tidak bisa diukur (unmeasurable) secara pasti

            karena materi yang diberikan tidak memenuhi standard.




                                        xxx
       4) Sasaran (learners) tidak memiliki motivasi untuk mencapai kinerja

           yang diharapkan serta tidak mempunyai kemampuan untuk mengikuti

           materi pelatihan yang diberikan.

       5) Pengembangan organisasi dianggap bisa dilakukan melalui kegiatan

           non-pelatihan, misalnya perubahan kebijakan dan pengembangan

           proyek-proyek tertentu.

       6) Sumber-sumber yang diperlukan dalam kegiatan pelatihan tidak

           memadai, baik sumber finansial, manusia, fisik dan teknologi.

       Pelatihan (training) lebih menekankan pengajaran, disiplin atau driil.

Pelatihan besifat jangka pendek, lebih spesifik, dan hal-hal penting. Pengetahuan,

keterampilan, orientasi, pengalaman, dan perspektif yang diberikan lebih terkait

dengan pekerjaan sehari-hari, tugas-tugas khusus, proyek, atau kebutuhan-

kebutuhan organisasi. Dalam pelatihan Ernesto (1991) lebih menekankan pada

perception, experiences, attitudes, knowledge, and skills (PEAKS). Pelatihan dan

budidaya ayam arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah ini dilaksanakan salah

satunya adalah dikarenakan keunggulan ayam Arab itu sendiri sebagai ayam

petelur telah memikat hati banyak peternak ayam, sebagai primadona baru ayam

buras, kehadiran ayam arab ini mampu memberikan gairah baru bagi peternak.

Dalam waktu singkat, telah muncul ratusan peternak ayam baru yang

menguntungkan pada jenis ayam Arab ini. Dalam pengelolaan peternakan ayam

arab ini diperlukan teknik budidaya ayam Arab, yang biasa didapat dengan cara

magang pada peternak ayam yang telah berpengalaman, bisa juga melalui kursus

atau pelatihan, maupun referensi bacaan. Berbekal pengetahuan ini akan sangat



                                       xxxi
bermanfaat bagi peternak pemula yang menginginkan keberhasilan usaha

peternakannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha peningkatan

produktivitas telur ayam Arab antara lain : pemilihan bibit, kandang yang sehat,

pemberian pakan yang tepat, serta pengendalian penyakit.

1. Pemilihan bibit

       Pemilihan bibit akan mempengaruhi produktivitas ayam Arab dalam

menghasilkan telur. Bibit yang baik biasanya juga menghasilkan anakan yang baik

dan memiliki sifat yang mirip dengan induknya. Berikut ini adalah beberapa hal

yang perlu diketahui sebagai indikator bibit yang baik. (a) Tanda DOC yang

berkualitas baik; sehat, lincah, mata bulat, tidak mengantuk, tidak cacat kaki,

sayap lengka, bentuk paruh normal, bulu tubuh kering. (b) Tanda ayam dara

(pullet) yang siap bertelur; sehat, tidak cacat, kuku pendek, bobot minimal 1,2 kg

pada umur 5 bulan. (c) Tanda calon induk petelur yang baik; sehat, tidak cacat,

kuku relatif pendek, mata bulat cerah, bulu mengkilap, bentuk badan bulat letter

U.

2. Kandang yang sehat

       Setelah mendapatkan bibit baik yang terseleksi, hal selanjutnya yang perlu

diperhatikan adalah kandang. Ayam akan tetap sehat apabila ditempatkan pada

kandang yang nyaman, yang memenuhi syarat sebagai berikut : (a) Longgar, tidak

terlalu sempit (b) Cukup memperoleh sinar matahari pagi (c) Tanah padat dan

berpasir, kering, bersih (d) Dapat melindungi ayam dari terik sinar matahari,

hujan, kencangnya angin malam (e) Jauh dari keramaian.

3. Pakan

                                       xxxii
       Kualitas dan kuantitas pakan juga sangat menentukan produktivitas telur

ayam Arab serta perkembanagan tubuh ayam itu sendiri. Sebaiknya pakan dibuat

sendiri dengan pertimbangan utama adalah dapat diusahakan secara ekonomis.

Beberapa hal yang harus diperhitungkan dalam pembutan pakan ini antara lain :

(a) Mudah didapat, selalu tersedia, murah (b) Tidak bersaing dengan kebutuhan

manusia (c) Disukai oleh ayam (d) Tidak mengganngu kesehatan ayam.

Disamping itu perlu diberikan pula ramuan tradisional untuk mengoptimalkan

produksi telur ayam Arab ini.

4. Pengendalian penyakit

       Dalam usaha peternakan ayam Arab, penyakit merupakan salah satu resiko

yang kadang-kadang harus dihadapi. Oleh karena itu mengenai gejala masing-

masing penyakit, mengetahui sumber penyebabnya dan dapat melakukan

pencegahan penyakit merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh

peternak ayam Arab untuk suksesnya usaha ternak ayam Arab petelur ini. Ayam

Arab relatif lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan ayam ras. Namun

perlu diketahui bahwa penyakit yang mungkin mengenai ayam Arab ini sama

seperti ayam ras lainnya, dan dapat juga menular. Oleh sebab itu perlu dilakukan

upaya pencegahannya, karena pada ayam yang telah berproduksi, secara langsung

akan berpengaruh terhadap produktivitasnya. Pada prinsipnya ada dua faktor

penyebab penyakit ini yaitu : internal dan eksternal. Secara umum ada beberapa

hal yang dapat menyebabkan berjangkitnya penyakit ini, antara lain : (a) Cuaca

seperti ; suhu, kelembaban, hujan terus menerus, musim kering yang panjang,

berpengaruh terhadap kondisi ayam, misalnya gangguan pernafasan. (b) Kandang


                                      xxxiii
dan peralatan ; harus senantiasa terjaga kenyamanan dan kebersihannya (c)

Lingkungan sekitar kandang ; lingkunagan yang kotor dan tanaman yang terlalu

rimbun mudah untuk berkembangnya suatu penyakit (d) Pakan dan air minum ;

apabila kurang bergizi akan menurunkan kondisi tubuh ayam sehingga ayam

menjadi lemah dan mudah terserang penyakit (e) Kondisi individual ayam (f)

Bibit yang tercemar penyakit.



2. Model Pelatihan

       Beberapa unsur yang terintegrasi dalam model siklus pelatihan adalah:

a. Analisis yang meliputi       identifikasi masalah, identifikasi kebutuhan,

   pengembangan kinerja yang standar, identifikasi sasaran (learners),

   pengembangan kriteria pelatihan, pekiraan biaya, dan perkiraan keuntungan

   dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.

b. Pengembangan, pada tahap ini merupakan esensi dari rancangan pelatihan,

   karena pada tahap ini akan bisa memantapkan kita untuk bisa atau tidak

   melakukan pelatihan. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan,

   antara lain : masukan, urutan kegiatan, logistik, sumber-sumber, finansial

   yang diperlukan, dan kriteria keberhasilan.

c. Penerapan, bagaimana pun baiknya rancangan pelatihan dibuat, peluang

   ketidak berhasilan tetap ada jika tidak diimplementasikan dan dikoordinir

   secara baik. Oleh karena itu peran kegiatan administratif dalam tahap ini

   sangat penting bagi terlaksananya kegiatan pelatihan. Kegiatan-kegiatan




                                     xxxiv
   administratif yang perlu diperhatikan terutama adalah kegiatan koordinasi

   dengan pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya.

d. Evaluasi, pada tahap ini harus ditetapkan perilaku apa yang hendak dicapai

   dari pelatihan, baik selama proses pelatihan, sesudah pelatihan, maupun tindak

   lanjut dari pelatihan. Untuk maksud ini perlu dirumuskan kriteria yang jelas

   dan terukur sehingga dapat diketahui bahwa perubahan perilaku tersebut

   akibat dari pelatihan.

e. Penelitian, dalam siklus pelatihan, penelitian merupakan gagasan yang baru,

   metodologi yang baru, dan teknologi yang baru. Dengan adanya penelitian

   akan bisa dijadikan masukan tentang kelebihan dan kekurangan dari kegiatan

   pelatihan yang telah berjalan, dengan demikian akan menjadi bahan

   penyempurnaan kegiatan serupa di masa mendatang.

       Adapun model pelatihan yang biasa digunakan adalah model pelatihan dari

Treadway Pakker yang relatif lebih sederhana dibandingkan dengan model

Ricahard Miller. Model sistem pelatihan dari Treadway Pakker dan model sistem

pelatihan dari Ricahard Miller dapat digambarkan sebagai berikut :




                                      xxxv
Model Sistem Pelatihan dari Treadway Pakker (Ernesto, 1991)




                          Conduct Training

                        Need Analysis




                        Develop Tarining

                        Objective




Measure                                             Design Training

Training Results                                    Curriculum




Implement                                           Design/ Select

Training Program                                    Training Methods




                        Design Training

                        Evaluation Approach




                                xxxvi
      Model Sistem Pelatihan dari Ricahard Miller (Ernesto, 1991)




                    Analysis of overal system           NEEDS
                                                         ASSESMENT




                     Analysis of task of JOB




         Specification                               Definition
         of KSO                                      Target client



Development
Of measures of
                         Training needs
job proficiency




                         Analysis of objectife in    OBJECTIVE
                         behavioral form             SETTING




 Validation
                         Course countruction




                                          xxxvii
                        Definition of syllabus
                        Content
                        Teaching strategy            DESIGN
                        Mean of presentation         PROCESS
                        Writing of lesson




                        Field testing & evaluation                  Revition


                        Implementation of system                    IMPLEMENT
                                                                    ATION
                                                                    PROCESS



                               EVALUATION PROCESS

3. Evaluasi Pelatihan

       Setiap penyelenggaraan suatu program pelatihan biasanya diperlukan

biaya yang cukup besar, agar biaya yang dikeluarkan tidak sia-sia dan pelatihan

yang diselenggarakan itu dapat mencapai sasarannya, maka pelatihan perlu dinilai

atau dievaluasi.

       Menurut Kirkpatrick rencana keseluruhan evaluasi pelatihan memberikan

suatu kerangka untuk mengukur perubahan yang diinginkan pada tiap tingkat

evaluasi, yakni perubahan pada tingkat belajar, tingkat perilaku dan tingkat hasil

dengan menggunakan kriteria yang tepat.




                                       xxxviii
       Kriteria untuk menilai pelatihan adalah tujuan program pelatihan yang

dinyatakan secara khusus dan dalam bentuk yang dapat diukur. Untuk mengukur

hasil suatu pelatihan secara ilmiah, cermat, dan tepat, maka kegiatan-kegiatan

berikut perlu dilakukan :

       a. Memilih suatu rencana evaluasi

       b. Memilih teknik pengumpulan data yang tepat

       c. Memilih metode-metode statistik yang cocok untuk mengoalah data

           dan mengambil kesimpulan-kesimpulan.

       Maka dari pada itu harus ada :

       a. Evaluasi terhadap peserta yang dilakukan sebelum pelatihan. Gunanya

           adalah untuk menentukan tingkat pengetahuan, ketrampilan, prestasi,

           dan sikap yang telah dimiliki oleh para peserta.

       b. Evaluasi terhadap para peserta yang dilakukan sesudah pelatihan.

           Gunanya adalah untuk menentukan tingkat pengetahuan, ketrampilan,

           prestasi dan sikapnya yang baru.

       Dengan demikian rencana evaluasi yang pokok dan ilmiah itu memerlukan

pemeriksaan sebelum dan sesudah pelatihan; juga penggunaan kelompok

pengawasan. Rencana evaluasi dapat digambarkan sebagai berikut :




   Pengukuran                                             Pengukuran
   Sebelum            Pelatihan                 setelah
   pelatihan                                    pelatihan




                                        xxxix
                       Pengukuran
                       perubahan




       Rencana evaluasi yang baru dikemukakan tersebut merupakan evaluasi

dasar. Ada beberapa variasi rencana evaluasi sebagai berikut :

      1. Pengukuran setelah pelatihan dari para peserta tanpa menggunakan

        kelompok pengawasan.

      2. Pengukuran sebelum dan sesudah pelatihan dari para peserta tanpa

        menggunakan kelompok pengawasan.

      3. Pengukuran sebelum pelatihan dari para peserta dengan menggunakan

        kelompok pengawasan.

      4. Pengukuran sebelum dan sesudah pelatihan dari para peserta dengan

        menggunakan kelompok pengawasan.

      5. Suatu rencana evaluasi tiga kelompok yang menggunakan satu kelompok

        percobaan dan dua kelompok pengawasan. Pengukuran sebelum dan

        sesudah pelatihan dari para peserta dengan kelompok pengawasan pertama

        dan kelompok pengawasan kedua dipergunakan hanya untuk pengukuran

        setelah pelatihan.

       Rencana evaluasi tanpa menggunakan kelompok pengawasan mempunyai

kelemahan, karena tidak mempunyai dasar pelaksanaan pekerjaan sebelum

pelatihan. Lain daripada itu faktor-faktor diluar pelatihan juga dapat


                                         xl
mempengaruhi perilaku yang diukur setelah pelatihan. Rencana evaluasi yang

kompleks pada angka 5 merupakan suatu rencana yang baik ditinjau dari sudut

pengukuran, tetapi kesulitan administrasinya biasanya akan menghapuskan

keuntungan-keuntungan dalam organisasi pelaksanaan. Dipandang dari sudut

bermacam-macam pembatasan rencana yang kompleks, maka dua kelompok

pengukuran sebelumnya dan sesudah pelatihan dari para peserta dengan

menggunakan kelompok pengawasan pada angka 4 dianjurkan, karena sifatnya

yang praktis dan dapat dilaksanakan.




                                       xli
                                     BAB III

                        METODOLOGI PENELITIAN




       Metode penelitian ini adalah suatu alat atau cara untuk melaksanakan

pemeriksaan yang diteliti, penyelidikan, kegiatan pengumpulan data, analisis dan

penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif guna memecahkan

persoalan praktis (Pringgodigdo, 1994 : 1028).




A. Pendekatan Penelitian

       Pendekatan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pola

pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP

Regional III Jawa Tengah, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif

yaitu pendekatan yang memandang objek kajian sebagai sistem (Arikunto, 1993 :

209). Menurut Bogdan dan Biklen dalam Meleong penelitian dengan pendekatan

kualitatif memiliki 5 ciri yaitu : (1) dilakukan pada latar yang alami, karena yang

merupakan alat penting adalah adanya sumber data yang asli dan perisetnya, (2)

bersikap diskriptif yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata atau gambar-

gambar dari pada angka, (3) lebih memperhatikan proses dari pada hasil atau

produk semata, (4) data menganalisis data cenderung induktif dan (5) lebih

mementingkan makna (esensial). Dalam studi kasus ini, sumber data yang akurat

adalah peserta, penyelenggara, dan nara sumber teknis dalam pelatihan dan

budidaya ayam Arab. Dengan penelitian ini diharapkan dapat memperoleh



                                        xlii

                                       34
pemahaman secara mendalam mengenai pola pemberdayaan pemuda dengan

pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

B. Penentuan Lokasi

       Penelitian ini dilakukan dengan mengambil lokasi di BPPLSP (Balai

Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda) Regional III Jawa Tengah.

Dipilihnya BBPLSP Ungaran sebagai lokasi penelitian dikarenakan tempat ini

merupakan salah satu lembaga yang menyelenggarakan program-program

pemberdayaan pemuda dalam pembinaan kecakapan hidup khususnya pelatihan

budidaya ayam Arab. Setelah diadakan kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab,

dibentuk dua desa binaan yang berada di Beji Para’an Ungaran dan Sekunir

Gunungpati, maka peneliti merasa perlu untuk mengadakan penelitian disini untuk

memperoleh pemahaman secara mendalam mengenai pola pemberdayaan pemuda

dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

       Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari :

       (1) Pengelola atau penyelenggara pelatihan budidaya ayam Arab

       (2) Fasilitator atau nara sumber teknis pelatihan budidaya ayam Arab

       (3) Warga belajar pelatihan budidaya ayam Arab.



C. Fokus Penelitian

       Fokus penelitian pada dasarnya adalah masalah yang bersumber pada

pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang diperolehnya melalui

keputusan ilmiah maupun keputusan lainnya (Moleong, 2001 ; 65). Rumusan



                                       xliii
masalah atau fokus dalam penelitian kualitatif bersifat tentatif, artinya

penyempurnaan fokus atau masalah tetap dilakukan sewaktu penelitian sudah

berada dilatar penelitian. Penelitian ini memfokuskan pada :

        1. Bagaimanakah       Pola   pemberdayaan      pemuda     dengan    pelatihan

            budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah, dan

        2. Apakah yang menjadi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan

            Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di

            BPPLSP Regional III Jawa Tengah.


D. Teknik Pengumpulan Data

1. Data dan Sumber Data

       Data yang dikumpulkan melalui penelitian ini dikelompokkan menjadi dua

yaitu data utama dan data pendukung. Menurut Meleong (1995 :95) menyebutkan

karakteristik dari data utama adalah dalam bentuk kata-kata atau ucapan dari

perilaku orang-orang yang diamati dan diwawancarai. Dalam penelitian ini data

utama diperoleh dari informan utama yang terdiri dari 4 orang warga belajar, 3

orang nara sumber teknis serta 3 orang fasilitator atau penyelenggara pelatihan

ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah. Sedangkan karakteristik data

pendukung atau tambahan adalah dalam bentuk non manusia, sehingga dalam

kaitannya dengan penelitian ini, data tambahan bisa berupa surat-surat,

dokumentasi tentang pelatihan budidaya ayam Arab.

2. Metode Pengumpulan Data




                                         xliv
       Dalam proses pengumpulan data peneliti merupakan instrumen penelitian

yang utama (Moleong, 1991 : 121). Beberapa alat perlengkapan penelitian yang

akan diperlukan seperti alat tulis, catatan kancah, dan kamera foto. Alat tersebut

digunakan untuk memperlancar proses penelitian dan tidak mengganggu

kewajaran pengamat (Bogdan dan Biklen, 1982 : 27)

       Ada tiga teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi.

a. Wawancara

       Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dimana terjadi

komunikasi secara verbal antara pewawancara dengan subjek wawancara.

Menurut Moleong (2001;135), wawancara adalah percakapan dengan maksud

tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang

mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai, yang memberikan jawaban

pertanyaan itu.

       Dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam karena peneliti

ingin mengetahui secara menyeluruh bagaimana pola pemberdayaan pemuda

dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BBPLSP Regional III Jawa Tengah,

serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pola pemberdayaan pemuda

tersebut. Teknik wawancara dilakukan dengan cara peneliti datang langsung ke

objek penelitian, mengadakan pendekatan dan berwawancara dengan pihak yang

berkompeten di BPPLSP Regional III Jawa Tengah tentang data dan informasi

yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini. Adapun responden atau informan

yang akan diwawancarai adalah warga belajar yang berjumlah 4 orang, pengelola

                                        xlv
atau penyelenggara yang berjumlah 3 orang, serta 3 orang nara sumber teknis.

Sedangkan hal-hal yang akan diwawancarai meliputi gambaran umum sasaran,

kondisi sosial ekonomi pemuda budidaya ayam Arab, pola pemberdayaan pemuda

pelatihan budidaya ayam Arab, serta upaya-upaya BPPLSP terhadap

pemberdayaan.

       Peneliti menggunakan metode wawancara karena dengan menggunakan

metode wawancara peneliti dapat menggali informasi langsung secara mendalam

dari informan penelitian tentang bagaimanakah pola pemberdayaan pemuda

dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah serta

faktor pendukung dan penghambat pola pemberdayaan tersebut.

b. Observasi

       Observasi adalah alat pengumpul data yang dilakukan dengan cara

mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. Dalam

metode observasi ini juga tidak mengabaikan kemungkinan menggunakan

sumber-sumber non manusia seperti dokumen dan catatan-catatan. Di dalam

penelitian kualitatif, jenis teknik observasi yang lazim digunakan untuk alat

pengumpulan data ialah : (1) Observasi partisipan, (2) Observasi sistematik, (3)

Observasi eksperimental. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi

non partisipan yang bertujuan untuk menjaring perilaku manusia sebagaimana

perilaku itu terjadi dalam kenyataan sebenarnya dan sosial yang sebenarnya.

Dalam penelitian ini, objek yang akan di observasi oleh peneliti yaitu pola




                                        xlvi
pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP

Regional III Jawa Tengah.

c. Dokumentasi

       Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung

ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumen yang diteliti dapat berupa berbagai

macam, tidak hanya dokumen resmi.

       Dokumen dapat dibedakan menjadi dokumen primer, jika dokumen ini

ditulis orang yang langsung mengalami suatu peristiwa; dan dokumen sekunder,

jika peristiwa dilaporkan kepada orang lain yang selanjutnya ditulis oleh orang

lain. Otobiografi adalah contoh dokumen primer dan biografi adalah contoh

dokumen sekunder (Irawan Soeharto, 1995:70-71).

       Penelitian ini akan menggunakan baik data primer maupun data sekunder

untuk melengkapi data dari hasil wawancara dan observasi. Metode ini digunakan

untuk memperoleh data peserta, tutor atau nara sumber teknis, penyelenggara dan

kurikulum atau garis-garis besar program pelatihan budidaya ayam Arab di

BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

       Alasan peneliti menggunakan metode dokumentasi yaitu untuk

memperkuat data-data yang sudah ada yang di dapatkan peneliti dengan

menggunakan metode observasi dan wawancara.

       Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam penggunaan metode

penelitian ini, yaitu pertama, peneliti melakukan survei mengenai lokasi penelitian

dan ijin untuk melakukan penelitian pada hari Rabu, 30 Maret 2005. Setelah


                                       xlvii
penelitian dikeluarkan oleh BPPLSP Regional III Jawa Tengah, peneliti mulai

melakukan penelitian. Adapun metode yang pertama kali adalah metode observasi

dan dokumentasi yang dilakukan pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei

2005. data yang diperoleh yaitu: mengetahui pola pemberdayaan pemuda dengan

pelatihan budidaya ayam Arab yang meliputi proses persiapan kegiatan, input,

proses pelaksanaan, out put, out comes sampai dengan tahap evaluasi. Selanjutnya

pada bulan Juni 2005 dilakukan wawancara dengan para responden yang dapat

menghasilkan data berupa: Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan

budidaya ayam Arab serta faktor pendukung dan faktor penghambat dari

pelaksanaan pola penberdayaan pemuda tersebut.



E.   Keabsahan Data

       Menurut Lincoln dan Guba (dalam Moleong, 2000 : 173) menjelaskan ada

empat kriteria yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk keabsahan data,

yaitu : (1) Derajat Kepercayaan, (2) Keteralihan, (3) Kebergantungan dan (4)

Kepastian.

       Kriteria keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan temuan

hasil dilapangan dengan kenyataan yang diteliti dilapangan. Teknik-teknik yang

digunakan untuk melacak atau membuktikan kebenaran atau taraf kepercayaan

data tersebut bisa melalui ketekunan pengamatan dilapangan (persistent

observation), triangulasi (triangulation), pengecekan dengan teman sejawat (peer

debriefing), analisa terhadap kasus-kasus negatif (negatif case analysis), reverensi

yang memadai (reverencial adequacy), dan pengecekan anggota (member chek).




                                       xlviii
Dari berbagai teknik ini, maka peneliti menggunakan teknik pengamatan lapangan

dan triangulasi.

        Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data tersebut untuk keperluan pengecekan/

sebagai pembanding terhadap data itu, Denzin (dalam Lexy Meleong, 1995 : 178)

membedakan empat triangulasi, yaitu :

(1) Triangulasi Sumber, berarti membandingkan dan mengecek balik derajat

    kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang

    berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dapat diperoleh dengan jalan :

        a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

        b. Membandingkan apa yang diketahuinya.

        c. Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian

            dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.

        d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai

            pendapat dan pandangan orang, seperti rakyat biasa, orang yang

            berpendidikan, orang berada atau pemerintah.

        e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

            berkaitan.

(2) Triangulasi Metode, menurut Patton dalam Moleong (2001; 178) terdapat dua

    strategi, yaitu :

        a. Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan

            beberapa teknik pengumpulan.



                                        xlix
       b. Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode

           yang sama.

(3) Triangulasi Peneliti ialah dengan jalan memanfaatkan peneliti untuk keperluan

   pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamatan

   lainnya adalah dapat membantu mengurangi “kemencengan data”.

(4) Triangulasi Teori adalah membandingkan teori yang ditemukan berdasarkan

   kajian lapangan dengan teori-teori yang telah ditemukan oleh para pakar ilmu

   sosial sebagai mana yang telah diuraikan dalam bab landasan teori yang telah

   ditemukan.

       Untuk membuktikan keabsahan data dalam penelitian ini hanya digunakan

triangulasi sumber. Keabsahan data dilakukan peneliti dengan cara mengecek

jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada peserta/ warga belajar,

nara sumber teknis/tutor, dilanjutkan kepada penyelenggara/fasilitator pelatihan

budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.



F. Analisis Data

       Bersamaan dengan proses pengumpulan data, dilakukan analisis data. Alur

analisis mengikuti pendapat Spradley dalam Sanapiah (1990 ; 91-108) yakni

analisis domain, analisis taksonomi, dan analisis komponensial.

(1) Analisis Domain, analisis ini dilakukan bersamaan dengan mereduksi

   banyaknya data yang diperoleh, untuk memperoleh gambaran yang bersifat

   umum dan relatif menyeluruh dari suatu fokus permasalahan yang diteliti.


                                         l
   Kegiatan ini dilakukan bersamaan dalam proses pengamatan dan wawancara

   deskriptif.

(2) Analisis     Taksonomi,     analisis   ini   berusaha   merinci   lebih   lanjut,

   mengorganisasikan atau menghimpun elemen-elemen yang sama dalam suatu

   domain yang dianggap penting dalam suatu proses penelitian. Analisis

   taksonomi dilakukan bersamaan dengan pengamatan terfokus dan wawancara

   struktural. Hal yang dapat diamati dalam tahap ini adalah terkait dengan fokus

   penelitian yang meliputi :

   Bagaimana Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam

       Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

   Apakah yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat pelaksanaan

       pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di

       BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

(3) Analisis Komponensial, dalam analisis ini mengorganisasikan antar elemen

   dalam domain yang diperoleh dari pengamatan dan wawancara terseleksi dan

   kemudian dilanjutkan dengan analisis tema, untuk mendeskripsikan secara

   menyeluruh dan menampilkan makna dari yang menjadi fokus penelitian.

   Penggambaran yang meluas dari tema-tema yang ditemukan, akhirnya

   digunakan dalam menyusun laporan lebih lanjut dengan memperhatikan

   interaksi dari perspektif emiketik atau sebaliknya antara etik dan emik, dengan

   bahan-bahan referensi yang teoritis berkaitan dengan tema-tema yang disusun.

       Skema proses kegiatan observasi dan wawancara diatas dapat

digambarkan sebagai berikut :



                                           li
           OBSERVAS             DESKRIPTIF
                                                 TERFOKUS
                                                                  SELEKTIF



                                                                  KONTRAS
                                               STRUKTURAL
         WAWANCARA              DESKRIPTIF




       Dari skema diatas dapat dijelaskan bahwa selama proses penelitian

berlangsung, mula-mula peneliti melakukan observasi terhadap aktivitas yang

terjadi pada saat peneliti berada dilapangan, kemudian melakukan wawancara

terhadap sejumlah anggota kelompok pemuda dan pengurus desa binaan ayam

Arab. Kegiatan yang dilakukan masih bersifat umum dan dalam rangka proses

sosialisasi. Dari data yang diperoleh kemudian dipilah-pilah sebagai bahan untuk

melakukan observasi dan wawancara berikutnya. Kegiatan ini terus berlangsung

bergerak dari hal-hal yang bersifat umum menuju fokus-fokus dalam penelitian

ini. Untuk mendukung atau melengkapi dari berbagai data yang diperoleh,

kemudian dilakukan studi dokumentasi. Melalui studi dokumentasi ini dapat

diperoleh berbagai kejadian-kejadian penting yang dapat memperjelas dari setiap

kegiatan. Kegiatan ini terus berulang kali hingga semua data yang dibutuhkan

dalam penelitian dapat terpenuhi.




                                       lii
liii
                                   BAB IV

                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



HASIL PENELITIAN

1. Gambaran umum BPPLSP

1.1 Sejarah berdirinya BPPLSP

       Pada tahun 1980 proyek pendidikan non formal membangun “Balai

Dikmas” di Jalan Diponegoro No. 250 Ungaran Semarang. Balai Pendidikan

Masyarakat (Balai Dikmas) adalah suatu lembaga pendidikan non formal yang

bernaung dibawah Ditjen Diklusepora, namun pengelolaan sehari-hari diserahkan

pada bidang Dikmas Kanwil Depdikbud Propinsi Jateng. Sesuai dengan Surat

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor

0136/O/1991 tertanggal 21 Maret 1991 tentang struktur organisasi dan tata kerja

BPKB, maka balai Dikmas Ungaran resmi menjadi Balai Pengembangan Kegiatan

Belajar Jawa Tengah sebagai unit pelaksana Teknis Diklesepora. Sesuai dengan

era otonomi daerah maka berdasarkan surat edaran Sekjen Depdiknas No.

88936/A.A5/HK2001, tanggal 18 Oktober 2001 tentang kedudukan dan tanggung

jawab UPT dibawah Depdiknas, maka status BPKB Jateng merupakan UPT Pusat

yang dibina dan bertanggung jawab kepada Ditjen Pendidikan Luar Sekolah dan

Pemuda. Namun sesuai SK Menteri Pendidikan Nasional Nomor 115/O/2003

BPKB diubah nama menjadi Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan

Pemuda yang selanjutnya disebut BP-PLSP adalah unit pelaksana teknis di




                                    45
                                     liv
lingkungan Departemen Pendidikan Nasional dibidang Pendidikan Luar Sekolah

dan Pemuda.

1.2 Fungsi dan tujuan

       BPPLSP mempunyai tugas melaksanakan pengkajian dan pengembangan

program dan fasilitasi pengembangan sumber daya pendidikan luar sekolah dan

pemuda di daerah berdasarkan kebijakan nasional. BPPLSP berfungsi dan

bertujuan untuk menyelenggarakan : a. Pengkajian pelaksanaan pendidikan luar

sekolah dan pemuda di daerah; b. Pengembangan program pendidikan luar

sekolah dan pemuda; c. Fasilitasi pengembangan sumber daya pendidikan luar

sekolah dan pemuda; d. Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi

pendidikan luar sekolah; e. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan

program pendidikan luar sekolah dan pemuda; f. Pelaksanaan urusan

ketatausahaan Balai.

       Visi BPPLSP adalah mewujudkan berbagai model pengembangan PLS,

perangkat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat serta pengembangan

kualitas mutu tenaga kependidikan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat

sebagai upaya terwujudnya masyarakat yang gemar belajar, berusaha dan bekerja,

berakhlak mulia, mandiri serta mampu beradaptasi dengan perubahan lokal dan

global. Misi BPPLSP adalah : 1) Mewujudkan pengembangan berbagai model

PLSP yang berbasis pada kebutuhan masyarakat dan pasar beserta perangkat

pembelajarannya; 2) Melaksanakan pelayanan bantuan teknis bagi UPT PLSP

baik milik pemerintah, swasta maupun perorangan; 3) Membentuk laboratorium

sosial program PLSP sebagai kancah pengembangan, pengkajian, penelitian

sekaligus sebagai pelayanan pemberdayaan bagi masyarakat luas secara mudah,


                                      lv
murah dan berkualitas; 4) Mewujudkan model-model bahan belajar dan perangkat

pembelajaran bagi masyarakat sebagai upaya adaptasi dengan perubahan lokal dan

global; 5) mewujudkan pola pengembangan pelatihan tenaga kependidikan PLSP

bagi pelaksana, fasilitator dan pembina program di masyarakat; 6) Mewujudkan

proses    pemahaman    dan    peningkatan   peran   serta   masyarakat   dalam

penyelenggaraan program PLSP.

1.3 Sasaran garapan

         Program-program PLSP di Jateng telah diselenggarakan dengan cukup

baik, namun angka-angka sasaran PLSP setiap tahun tidak menunjukkan hasil

kerja yang memuaskan, bahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan PLSP

terus menerus muncul selaras dengan pelaksanaan otonomi daerah. Secara umum

ada beberapa masalah yang menjadi dasar pijakan pengelolaan program PLSP di

Jateng, khususnya dalam pengembangan dan melakukan inovasi PLSP

diantaranya (data Th. 2003)

         Jumlah penduduk usia 0-6 tahun sebanyak 3.634.847 anak yang mampu

dilayani TK/RA/Kelompok bermain sebanyak 1.428.131 anak, sehingga teradapat

206.716 anak usia 0-6 tahun belum terlayani. Jumlah penduduk usia 7-12 tahun

sebanyak 3.737.705 orang, belum pernah sekolah sebanyak 47.842 orang, dan

putus sekolah SD/MI sebanyak 32.276 orang. Jumlah penduduk usia 13-15 tahun

sebanyak 1.992.881 belum pernah sekolah. Jumlah penduduk usia 16-29 tahun

sebanyak 7.553.090 dengan angka putus SLTA sebanyak 56.213 orang. Buta

huruf sebanyak 426 oarng, putus SD sebanyak 462.425 orang, putus SLTP

sebanyak 136.046 orang, dan putus SLTA sebanyak 56.213 orang. Angka buta

huruf usia 10-44 tahun masih tersisa 792.418 orang. Angka pengangguran

637.900 orang dan semi pengangguran sejumlah 7.258.530 orang. Angka

                                      lvi
kemiskinan di desa mendekati angka 3,9 juta dan di perkotaan mendekati 7,2 juta

orang.

    1.4 Struktur organisasi

         Bagan Organisasi Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan

         Pemuda


                   KEPALA




                                              SUB BAGIAN
                                              TATA USAHA




     SEKSI                         SEKSI FASILITASI                  SEKSI
   PROGRAM                          SUMBER DAYA                   INFORMASI




                   KELOMPOK
              JABATAN FUNGSIONAL



2. Deskriptif infoman penelitian

         Hasil penelitian mengenai pola pemberdayaan pemuda melalui budidaya

ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah dapat dipahami melalui

pembahasan dari 10 (sepuluh) orang informan yang dapat dijelaskan sebagai

berikut :

    Informan pertama




                                     lvii
   Rochman, berusia 39 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal didesa Sekunir

   Rt.02/Rw.05 Gunungpati Semarang, bersama istri dan dua orang anaknya.

   Pekerjaan utamanya adalah berternak sapi perah. Disamping itu, ia

   mempunyai pekerjaan sampingan yakni membantu istri berjualan

   kebutuhan bahan pokok dirumah. Tujuannya mengikuti pelatihan

   budidaya ayam Arab adalah ingin menjadi peternak ayam Arab yang

   berhasil. Selama mengikuti kegiatan pelatihan ia mendapatkan teori dan

   praktek beternak ayam Arab sekaligus studi banding peternakan ayam

   Arab di KPSM Sido Makmur Klaten. Dalam kegiatan pelatihan ada lima

   orang tutor atau nara sumber teknis, yang terdiri dari Bp. Kastum, Bp.

   Margono, Bp. Gunawan, Bp. Sigit dan Bp. Jumadi. Tutor menyampaikan

   materi dengan cara memberi pelajaran berupa teori dan praktek lapangan

   mengenai budidaya ayam Arab. Setelah mengikuti kegiatan pelatihan

   diadakan test tetulis dan praktek langsung pembuatan kandang dan mesin

   tetas. Hasil yang diperolehnya setelah mengikuti pelatihan adalah semakin

   bertambahnya pengetahuan tentang pemilihan bibit/induk ayam Arab,

   pembuatan ransum dan pembuatan pakan ayam, pembuatan kandang dan

   mesin tetas serta pencegahan dan pengendalian penyakit.

2. Informan kedua

   Amin Rahardjo, berusia 33 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal didesa

   Sekunir Rt.02/Rw.05 Gunungpati Semarang, bersama istri dan satu orang

   anaknya. Pekerjaan utamanya adalah buruh bangunan. Walaupun

   penghasilan untuk setiap bulannya tidak menentu, tetapi cukup untuk



                                 lviii
   memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan merintis usaha ayam Arab.

   Tujuannya mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab adalah ingin menjadi

   peternak yang berhasil. Selama mengikuti kegiatan pelatihan ia

   mendapatkan teori dan praktek budidaya ayam Arab mulai dari penetasan

   sampai produksi, termasuk proses pembuatan kandang, mesin tetas, dan

   ransum makanan. Dalam kegiatan pelatihan ada lima orang tutor atau

   fasilitator, yang terdiri dari Bp. Margono, Bp. Kastum, Bp. Gunawan, Bp.

   Sigit dan Bp. Jumadi. Tutor menyampaikan materi dengan cara memberi

   pelajaran berupa teori sekaligus praktek lapangan mengenai budidaya

   ayam Arab. Disamping dibagi lembar kuisioner yang harus diisi oleh

   peserta untuk mengevaluasi tutor dan penyelenggara pelatihan, peserta

   juga mengikuti test tertulis dan praktek pembuatan kandang, ransum

   makanan dan mesin tetas. Hasil yang diperolehnya setelah mengikuti

   pelatihan adalah mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan

   beternak ayam Arab, dari cara pemilihan bibit ayam, pembuatan kandang,

   mesin tetas, serta pencegahan wabah penyakit ayam Arab.

3. Informan ketiga

   Sugiarto, berusia 36 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal di desa beji

   Para’an Rt.02/Rw.10 Ungaran, bersama istri dan dua orang anaknya.

   Pekerjaan utamanaya adalah menjadi ekspedisi biro jasa angkutan,

   disamping itu, ia juga mempunyai pekerjaan sampingan beternak sapi

   perah dan bebek (menthok). Tujuannya mengikuti pelatihan budidaya

   ayam Arab adalah ingin menjadi peternak ayam Arab yang berhasil.



                                  lix
   Selama mengikuti kegiatan pelatihan ia mendapatkan teori dan praktek

   budidya ayam Arab yang meliputi pengetahuan dan keterampilan

   pemilihan bibit yang baik, pembuatan kandang ayam, pembuatan mesin

   tetas, pembuatan pakan ayam, penetasan dan pembesaran serta

   pengendalian penyakit ayam. Dalam kegiatan pelatihan ada lima orang

   tutor, yang terdiri dari Bp. Margono, Bp. Gunawan, Bp. Kastum, Bp. Sigit

   dan Bp. Jumadi. Tutor menyampaikan pelajaran teori dengan ceramah dan

   praktek pembuatan kandang maupun mesin tetas. Dalam pelatihan

   budidaya ayam Arab diadakan test tertulis (teori) dan test praktek yang

   dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil. Pada akhir pelatihan, peserta

   dibagi lembar kuisioner yang harus diisi oleh peserta untuk mengevaluasi

   kinerja tutor dan penyelenggara. Hasil yang diperolehnya setelah

   mengikuti pelatihan adalah dapat menambah pengetahuan tentang ayam

   Arab, penanggulangan/pencegahan penyakitnya, serta meningkatkan

   keterampilan pemilihan bibit/induk ayam Arab, pembuatan kandang dan

   mesin tetas.

4. Informan keempat

   Khamdan, berusia 27 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal di desa Beji

   Para’an Rt.o2/Rw.10 Ungaran, bersama kedua orang tuanya dan tiga orang

   adiknya. Pekerjaan utamana adalah buruh pabrik plastik, dengan

   penghasilan Rp. 400.000,- setiap bulannya. Penghasilan yang diprolehnya

   cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya serta untuk

   membentu biaya sekolah adiknya. Tujuannya mengikuti pelatihan



                                  lx
     budidaya ayam Arab adalah ingin mencari pengetahuan dan keterampilan

     beternak ayam Arab. Selama mengikuti kegiatan pelatihan ia mendapatkan

     teori berternak ayam Arab, praktek pembuatan kandang, pembuatan pakan

     ayam, dan pembuatan mesin tetas, serta kunjungan lapangan. Dalam

     kegiatan pelatihan ada lima orang tutor, yang terdiri dari Bp. Margono,

     Bp. Gunawan, Bp. Basirom, Bp. Kastum dan Bp. Jumadi. Tutor

     menyampaikan materi dengan cara memberikan pelajaran berupa teori

     dengan metode ceramah sekaligus praktek langsung atau demonstrasi

     pembuatan kandang, mesin tetas, dan pakan ayam. Di dalam pelatihan

     budidaya ayam Arab ada dua jenis test yang harus diikuti oleh peserta,

     yakni test berbentuk tulis dan praktek langsung. Disamping itu peserta

     juga harus mengisi lembar kuisioner yang dibagi oleh panitia untuk

     mengevaluasi kinerja tutor dan penyelenggara selama kegiatan pelatihan.

     Hasil yang diperolehnya setelah mengikuti kegiatan pelatihan adalah

     memperoleh pengetahuan yang tidak didapatkan sebelumnya, tentang

     pemilihan bibit/induk ayam Arab yang baik, pembuatan kandang,

     pembuatan pakan serta pencegahan penyakit ayam Arab.

5. Informan kelima

Drs. Kastum, M.Pd, berusia 41 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal di jalan Kertajaya Rt.02/Rw.01 Langensari
Ungaran Semarang. Pekerjaan utamanya adalah PNS BPPLSP Regional III Jawa Tengah. Tujuan dari pemberdayaan
pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab adalah agar mereka dapat memiliki keterampilan tertentu yang dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mandiri. Cara mengidentifikasi kebutuhan dengan
menggunakan dengan cara : a. Metode PRA/Partisipatory Rural Apraisal (pendekatan pemahaman masyarakat
pedesaan), dimana team survai datang langsung ke masyarakat melihat sejumlah potensi/sumber daya manusia
kemudian dibuat pemetaan skala prioritas kebutuhan masyarakat. b. Metode konvensional yaitu datang langsung ke
masyarakat kemudian masyarakat dikumpulkan dan diadakan diskusi skala prioritas kebutuhan. c. Analisis SWOT
yaitu melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dari masyarakat sekitar. Setelah teridentifikasi dan melihat
masalah-masalah yang sedang dihadapi masyarakat, maka ditetapkan tujuan pelatihan.
Kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab dirancang selama satu minggu oleh fasilitator dengan melibatkan warga
belajar. Materi-materi yang diberikan juga bersifat proses yaitu pengenalan ayam Arab, pengenalan alat dan bahan,
pemeliharaan ayam Arab, cara penetasan ayam Arab, cara pembesaran ayam Arab, cara pengendalian penyakit, cara
penanganan pasca produksi panen/pemasaran, serta cara pembuatan mesin tetas. Untuk menentukan nara sumber
teknis, dicari orang-orang yang memiliki keahlian dan keterampilan budidaya ayam Arab, karena BPPLSP belum


                                                     lxi
mempunyai tenaga khusus, maka nara sumber teknis diambil dari KPSM Sido Makmur/peternak ayam
Arab/pedagang ayam Arab yaitu Bp. Moh. Basirom, Bp. Gunawan, Bp. Margono sedangkan dari pihak BPPLSP
dipilih Bp. Sigit dan Bp. Jumadi. Jumlah nara sumber teknis pelatihan dan budidaya ayam Arab ada 4 orang NST.
Dari hasil identifikasi sasaran diperoleh 14 orang warga belajar yang terdiri dari 4 orang kelompok binaan Sekunir
Gunungpati dan 10 orang anggota kelompok binaan Beji Ungaran yang tergabung dalam Organisasi Pemuda
Muhamadiyah dan 16 Pamong Belajar SKB seluruh jawa tengah. Jumlah peserta pelatihan budidaya ayam Arab
kurang lebih 30 orang termasuk pamong belajar SKB seluruh Jawa Tengah. Program pelatihan budidaya ayam Arab
adalah program kerja BPPLSP, maka peserta pelatihan tidak dipungut biaya sepeserpun bahkan mereka diberi uang
saku sedangkan untuk anggota kelompok binaan diberi modal usaha. Karena ada kaitannya dengan struktur anggaran
dana maka pelatihan budidaya ayam Arab disesuaikan dengan jadwal yang ditentukan oleh pihak BBPLSP. Pada
tahap persiapan yang perlu diperhatikan adalah membentuk panitia, pembagian tugas, rapat koordinasi (temu teknis
untuk menentukan kurikulum materi, siapa yang menyusun, menyiapkan, dan menyampaikan materi), menyiapkan
bahan dan alat pelatihan, menentukan peserta dan nara sumber teknis. Pada tahap pelaksanaan memasuki hari pertama
pemberian teori tentang teknik budidaya ayam Arab, hari kedua praktek lapangan (kunjungan di KPSM Sido Makmur
Klaten), hari ketiga praktek pembuatan kandang dan mesin tetas. Pada tahap akhir kegiatan adalah menyusun laporan
dan evaluasi dampak pelatihan.
Hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang pengetahuan adalah semakin bertambahnya pengetahuan warga
belajar tentang budidaya ayam Arab yang meliputi pengenalan ayam Arab, pengenalan alat dan bahan, pemeliharaan
dan pembesaran ayam, cara penetasan, cara penyegahan penyakit cara penanganan pasca panen/pemasaran dan
pengetahuan membuat mesin tetas. Hasil yang dicapai dalam bidang sikap adalah perubahan sikap warga belajar
menjadi wiraswasta yang baik. Hasil yang dicapai dalam bidang keterampilan adalah semakin bertambah
keterampilan warga belajar tentang budidaya ayam Arab yang meliputi keterampilan mengenal ayam Arab, mengenal
alat dan bahan yang digunakan, pemeliharaan dan pembesaran ayam Arab, keterampilan menetaskan ayam Arab,
pencegahan penyakit, penaganan pasca produksi/panen serta keterampilan membuat mesin tetas. Sedangkan hasil
yang dicapai warga belajar dalam bidang ekonomis adalah peningkatan penghasilan walaupun belum maksimal. Hal-
hal yang dievaluasi pada awal kegiatan pelatihan adalah persiapan peserta, tutor/nara sumber teknis. Pada saat
kegiatan pelatihan, yang dievaluasi adalah jalannya pelaksanaan pelatihan. Sedangkan pada akhir kegiatan pelatihan,
yang dilakukan adalah menyusun laporan kegiatan dan mendokumentasikan kegiatan yang telah berjalan.

6. Informan keenam

     Drs. Sigit, berusia 36 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal di desa

     Sekunir Rt.02/Rw.10 kelurahan Plalangan kecamatan Gunungpati

     Semarang. Pekerjaan utamanaya adalah pamong belajar BPPLSP Regional

     III Jawa Tengah.              Tujuan diadakannya pemberdayaan pemuda dengan

     pelatihan budidaya ayam Arab adalah agar pemuda dapat mandiri dalam

     beternak ayam Arab yang meliputi usaha penetasan, pembesaran atau

     usaha petelor ayam Arab. Cara mengidentifikasi kebutuhan warga belajar

     menggunakan metode turun langsung kedalam masyarakat dengan

     mewawancarai ketua Rt/Rw dan juga warga belajar sendiri. Setelah

     diidentifikasi dan dikaji lalu dianalisis dengan cara menentukan

     keunggulan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang ada pada desa

     tersebut. Kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab dirancang dengan cara

     membuat desain dari pelatihan yang akan dikembangkan baik mulai dari

                                                    lxii
tahap persiapan, pelaksanaan dan juga evaluasi kegiatan yang telah

dilaksanakan. Materi-materi yang diberikan yaitu pengenalan ayam Arab,

pengenalan alat dan bahan, pemeliharaan ayam Arab, cara penetasan ayam

Arab, cara pembesaran ayam Arab, cara pengendalian penyakit, cara

penanganan pasca produksi panen/pemasaran, serta cara pembuatan mesin

tetas.   Cara   menentukan    nara    sumber   teknis   adalah   dengan

mengidentifikasi tempat-tempat yang menjadi tempat-tempat usaha

(peternakan khususnya ayam Arab), lalu dicari orang yang mengelola tadi

untuk dijadikan nara sumber teknis yang diseleksi terlebih dahulu

kemampuannya. Ada 4 orang NST yaitu diambil dari praktisi, ahli

peternakan, dan juga ahli pemasaran. Menentukan peserta yang dapat

mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab adalah dengan cara terjun

langsung ke lapangan agar dapat mengetahui secara pasti bakat dan minat

peserta pelatihan. Jumlah peserta yang dapat mengikuti pelatihan

berjumlah 30 orang.

Hasil    yang dicapai dalam     bidang pengetahuan      adalah   semakin

meningkatnya pengetahuan warga belajar tentang seluk beluk (sejarah)

ayam Arab, proses pemeliharaan (dari penetasan hingga hasil pemasaran).

Hasil yang dicapai dalam bidang keterampilan adalah Semakin

bertambahnya keterampilan warga belajar dalam hal penetasan telor ayam

Arab, pemeliharaan/pembesaran, pemberian pakan, pengendalian penyakit,

pembuatan kandang, pembuatan mesin tetas hingga hasil pemasaran. Hasil

yang diperoleh dalam bidang sikap adalah dimilikinya sikap mandiri dan



                              lxiii
   juga sikap berusaha. Sedangkan hasil yang dicapai warga belajar dalam

   bidang ekonomis adalah dapat menambah penghasilan keluarga walaupun

   belum seberapa. Hal-hal yang dievaluasi pada awal kegiatan pelatihan

   adalah persiapan peserta, tutor/nara sumber teknis. Pada saat kegiatan

   pelatihan, yang perlu dievaluasi adalah kendala-kendala yang dialami pada

   waktu pelaksanaan pelatihan. Sedangkan pada akhir kegiatan pelatihan,

   yang dilakukan adalah menyusun laporan kegiatan.

7. Informan ketujuh

   Drs. Djumadi, berusia 30 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal di Perum

   Ungaran Baru B 30 Semarang. Pekerjaaan utamanya adalah PNS BPPLSP

   Regional III Jawa Tengah. Tujuan diadakannya pemberdayaan pemuda

   dengan pelatihan budidaya ayam Arab adalah agar pemuda mempunyai

   keterampilan, khususnya dalam bidang kecakapan hidup sehingga mereka

   dapat bekerja dan hidup mandiri. Cara mengidentifikasi kebutuhan warga

   belajar adalah     dengan   melakukan   melakukan    survai   atau   studi

   pendahuluan masyarakat setempat, setelah itu diadakan pertemuan dengan

   pihak-pihak terkait untuk bermusyawarah menentukan skala prioritas

   kebutuhan yang harus segera ditangani. Dari hasil identifikasi kebutuhan

   tersebut ternyata didesa Sekunir Gunungpati dan desa Beji Para’an

   terdapat para pemuda yang masih mengganggur dan belum mempunyai

   pekerjaan tetap sehingga dibuatlah program-program pemberdayaan

   pemuda salah satunya adalah pelatihan Budidaya ayam Arab. Tujuan

   pelaksanaan pemberdayaan ditetapkan dengan cara melihat hasil



                                  lxiv
identifikasi kebutuhan dan masalah yang terjadi didesa tersebut. Setelah

teridentifikasi permasalahan yang dihadapi masyarakat lalu dianalisis dan

ditetapkan tujuan pemberdayaan yakni memberikan bekal pengetahuan

dan keterampilan budidaya ayam Arab. Kegiatan pelatihan budidaya ayam

Arab dirancang dengan membuat desain pelatihan yang juga melibatkan

anggota warga masyarakat. Desain pelatihan ini dibuat dari tahap

persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pelatihan. Materi-materi yang

diberikan pada pelatihan meliputi pengenalan tentang jenis ayam Arab,

pengenalan alat dan bahan, pemeliharaan ayam Arab, cara penetasan ayam

Arab, cara pembesaran ayam Arab, cara pengendalian penyakit, cara

penanganan pasca produksi panen/pemasaran, serta cara pembuatan mesin

tetas. Nara sumber teknis ditentukan dengan cara megidentifikasi dan

menyeleki orang-orang yang berkompeten dibidang budidaya ayam Arab.

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah mencari orang yang ahli

secara teori, praktisi/orang yang terjun langsung didunia peternakan, orang

yang ahli dalam bidang pemasaran, serta orang yang ahli dalam bidang

manajemen/pengelolaan secara umum. Ada 4 orang NST yaitu diambil

dari praktisi, ahli peternakan, dan juga ahli pemasaran. Menentukan

peserta yang dapat mengikuti pelatihan adalah dengan cara terjun langsung

ke lapangan agar dapat mengetahui secara pasti bakat dan minat peserta

pelatihan. Jumlah peserta yang dapat mengikuti pelatihan berjumlah 30

orang. Hal-hal yang dipersiapkan sebelum pelaksanaan pelatihan adalah

kurikulum materi pembelajaran, metode pembelajaran, menentukan warga



                                lxv
   belajar, menentukan nara sumber teknis, mempersiapkan sarana prasarana,

   persiapan studi banding atau kunjungan lapangan serta menentukan alat-

   alat evaluasi.

   Hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang pengetahuan adalah

   meningkatnya pengetahuan warga belajar tentang jenis ayam Arab,

   pembuatan kandang, pembuatan mesin tetas, pembuatan ransum makanan,

   penetasan dan pembesaran ayam Arab, pencegahan dan pengobatan

   penyakit, pengelolaan usaha budidaya ayam Arab dan pengalaman dari

   kunjungan lapangan. Hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang sikap

   adalah sikap berwirausaha. Hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang

   keterampilan adalah semakin meningkatnya keterampilan warga belajar,

   dalam hal memilih jenis ayam Arab yang baik, pembuatan kandang,

   pembuatan mesin tetas, pembuatan ransum makanan, penetasan dan

   pembesaran ayam Arab, mencegah dan mengobati penyakit ayam Arab,

   serta keterampilan mengelola usaha budidaya ayam Arab. Hasil yang

   dicapai warga belajar dalam bidang ekonomis adalah dapat menambah

   penghasilan walaupun belum maksimal. Hal-hal yang dievaluasi pada awal

   kegiatan pelatihan adalah persiapan peserta, tutor/nara sumber teknis. Pada

   saat kegiatan pelatihan, yang dievaluasi adalah kendala-kendala yang

   dialami pada waktu pelaksanaan pelatihan. Sedangkan pada akhir kegiatan

   pelatihan, yang dilakukan adalah menyusun laporan kegiatan.

8. Informan kedelapan




                                  lxvi
   Moh. Basirom, berusia 45 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal dirumah

   dinas unit taman ternak maron Temanggung. Pekerjaan utamanya adalah

   PNS di unit taman ternak maron Temanggung. Tujuan diadakannya

   pelatihan budidaya ayam Arab adalah memberikan bekal kecakapan hidup

   dalam beternak ayam Arab dari pemilihan bibit ayam Arab, penetasan,

   pembesaran, pembuatan kandang, mesin tetas, ransum makanan sampai

   pencegahan dan pengobatan penyakit. Waktu tiga hari yang digunakan

   dalam kegiatan pelatihan dirasakan cukup untuk pemberian teori dan

   praktek. Materi pembelajaran, disampaikan dengan cara ceramah dan

   praktek. Jumlah warga belajar yang mengikuti kegiatan pelatihan sebanyak

   30 peserta, dimana peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil

   dengan 4 NST/ tutor.

   Hasil yang dicapai warga belajar setelah mengikuti kegiatan pelatihan

   adalah semakin meningkatnya pengetahuan tentang sejarah atau seluk

   beluk ayam Arab dari penetasan sampai ke produksi. Dalam bidang sikap

   terjadi perubahan sikap dalam bidang ternak ayam Arab. Dalam bidang

   keterampilan adalah semakin bertambahnya keterampilan beternak ayam

   Arab dari tahap penetasan sampai produksi, sedangkan dalam bidang

   ekonomis warga belajar mendapatkan tambahan penghasilan. Cara

   mengevaluasi warga belajar menggunakan test tertulis. Disamping test

   tertulis, juga diadakan test praktek pembuatan kandang ayam, mesin tetas,

   dan ransum makanan.

9. Informan kesembilan



                                 lxvii
   Gunawan, berusia 38 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal di Cawas,

   Klaten. Pekerjaan utamanya adalah PNS KPSM (kelompok pemberdayaan

   swadaya masyarakat) Jatinom Klaten. Tujuan diadakannya pelatihan

   budidaya ayam Arab adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

   warga belajar tentang beternak dan mengelola usaha ayam Arab. Waktu

   tiga hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan dirasakan cukup untuk

   pemberian teori dan praktek. Materi pembelajaran, disampaikan dengan

   cara ceramah, diskusi dan praktek. Jumlah warga belajar yang mengikuti

   kegiatan pelatihan sebanyak 30 peserta, dengan 4 orang tutor/NST.

   Hasil yang dicapai warga belajar setelah mengikuti kegiatan pelatihan

   dibidang pengetahuan adalah semakin bertambahnya pengetahuan tentang

   berternak ayam Arab dari penetasan, pembesaran, pencegahan penyakit

   dan   pemasaran.   Dalam    bidang     sikap   terdapat   perubahan   sikap

   berwiraswasta ternak ayam Arab. Dalam bidang keterampilan, semakin

   bertambahnya keterampilan beternak ayam Arab dari penetasan,

   pembesaran, pencegahan penyakit dan pemasaran, sedangkan dalam

   bidang ekonomis, warga belajar mendapatkan tambahan penghasilan. Cara

   mengevaluasi warga belajar adalah menggunakan test tertulis dan praktek

   langsung pembuatan ransum makanan, kandang ayam, dan mesin tetas.

   Test praktek ini dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil yang sudah

   ditetapkan bersama.

10. Informan kesepuluh




                                 lxviii
Margono, 36 tahun. Pada saat ini bertempat tinggal di desa Jatinom

Klaten. Pekerjaan utamanya adalah pengusaha ternak ayam Arab. Tujuan

diadakannya pelatihan budidaya ayam Arab adalah memberikan bekal

pengetahuan dan keterampilan kepada warga belajar tentang beternak

ayam Arab. Waktu tiga hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan

dirasakan cukup untuk pemberian teori dan praktek. Materi pembelajaran,

disampaikan dengan cara ceramah dan praktek. Jumlah warga belajar yang

mengikuti kegiatan pelatihan sebanyak 30 peserta, dimana peserta dibagi

menjadi beberapa kelompok kecil dengan jumlah orang tutor sebanyak 4

orang.

Hasil yang dicapai warga belajar setelah mengikuti kegiatan pelatihan

dalam bidang pengetahuan adalah semakin bertambahnya pengetahuan

tentang pemilihan bibit ayam yang baik, penetasan dan pembesaran ayam,

pembuatan kandang ayam dan mesin tetas, pembuatan ransum makanan

yang berkualitas, serta pengetahuan tentang pemasaran yang efektif.

Dalam bidang sikap, dapat beternak ayam Arab yang lebih baik dan

professional.   Dalam   bidang     keterampilan,   semakin   bertambahnya

keterampilan warga belajar dalam hal pemilihan bibit ayam yang baik,

penetasan dan pembesaran ayam, pembuatan kandang ayam dan mesin

tetas, pembuatan ransum makanan yang berkualitas, serta pengetahuan

tentang pemasaran yang efektif. sedangkan dalam bidang ekonomis, warga

belajar dapat menambah dan meningkatkan penghasilan keluarga. Cara

yang digunakan untuk mengevaluasi warga belajar adalah menggunakan

test tertulis untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi yang

                                 lxix
           diperoleh peserta selama kegiatan pelatihan. Disamping test tertulis juga

           ada test praktek pembuatan kandang, mesin tetas dan ransum makanan.


B. PEMBAHASAN


1. Tujuan Pemberdayaan
Berdasarkan informan penyelenggara pemberdayaan, tujuan dari penyelenggaran pemberdayaan ini adalah untuk

memberdayakan pemuda dengan kecakapan vocasional tertentu dalam bentuk kelompok-kelompok binaan, sehingga

mereka dapat mandiri atau berkarya melalui usaha budidaya ayam Arab. Hal ini sudah sesuai dengan Teori pemberdayaan

Suzanne Kindervater, dimana proses belajar atau pemberiaan kekuatan terdiri dari delapan pokok tahapan, yaitu: (a)

belajar dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil, (b) pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada warga belajar

selama kegiatan pembelajaran berlangsung, (c) kepemimpinan kelompok diperankan oleh warga belajar (d) sumber belajar

bertindak selaku fasilitator (e) proses kegiatan belajar mengajar berlangsung secara demokratis (f) adanya kesatuan

pandangan dan langkah dalam mencapai tujuan (g) menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang dapat

menimbulkan rasa percaya diri pada warga belajar, dan (h) bertujuan akhir untuk meningkatkan status sosial, ekonomi, dan

atau politik warga belajar dalam masyarakat.


Proses Pemberdayaan
Sebelum pelaksanaan kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab, diadakan identifikasi kebutuhan masyarakat terlebih dahulu.

Untuk desa Beji Para’an Ungaran dari pihak BPPLSP menunjuk bapak Djumadi sebagai ketua pelaksana, sedangkan bapak

Sigit untuk mengidentifikasi wilayah desa Sekunir Gunungpati Semarang. Identifikasi kebutuhan masyarakat ini

menggunakan beberapa metode, yakni : (a) Metode PRA (Partisipatory Rural Appraisal), pendekatan pemahaman

masyarakat pedesaan dimana team survai langsung datang ke masyarakat melihat sejumlah potensi baik meliputi sumber

daya alam maupun sumber daya manusia, setelah itu dibuat pemetaan skala prioritas kebutuhan masyarakat, (b) Metode

Konvensional yaitu datang langsung ke masyarakat kemudian masyarakat dikumpulkan dan diadakan diskusi skala

prioritas kebutuhan. (c) Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threatness) yaitu melihat kekuatan, kelemahan,

peluang dan tantangan dari masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan teori Smith&Dahalaya (1987) yang menyatakan

bahwa dalam pelatihan ada tiga tahap prosedur yang biasa digunakan dalam assessment kebutuhan pelatihan, yaitu

pertama, survey yang dilakukan dengan mereview data vital secara berkala dalam suatu masyarakat. Kedua, investigasi,

dimana dikumpulkan data secara detail dan spesifik dilingkungan masyarakat. Ketiga, analisis yakni menguraikan data

dengan cara mengeliminasi informasi-informasi yang tidak valid, kemudian mengkelompokkan, meresum, dan mengambil

kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh.

Setelah teridentifikasi kebutuhan masyarakat, maka dari pihak BPPLSP segera merancang kegiatan pelatihan budidaya

ayam Arab. Hal-hal yang dilakukan dalam merancang kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab adalah sebagai berikut :




                                                           lxx
(1) Menetapkan tujuan, tujuan umum diadakannya pelatihan budidaya ayam

   Arab adalah agar memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan

   tentang budidaya ayam Arab kepada warga masyarakat kurang mampu.

   Sedangkan tujuan khususnya adalah agar peserta pelatihan dapat

   menjelaskan tentang jenis ayam Arab, dapat mempraktekkan cara

   pembuatan kandang, dapat mempraktekkan cara pembuatan mesin tetas,

   dapat   mempraktekkan     cara     pembuatan   ransum    makanan,    dapat

   menjelaskan penetasan dan pembesaran ayam Arab, dapat menjelaskan

   pencegahan dan pengobatan penyakit, dapat menjelaskan tentang

   pengelolaan usaha budidaya ayam Arab, serta mendapatkan pengalaman

   dari kunjungan lapangan. Penyelenggara pelatihan budidaya ayam Arab

   pada prakteknya telah mampu memberikan kecakapan atau keahlian yang

   dapat dilakukan oleh peserta setelah selesai mengikuti kegiatan pelatihan.

(2) Menentukan sasaran, dalam pelaksanaan pelatihan budidaya ayam Arab,

   peserta yang lebih diutamakan adalah orang-orang yang memenuhi

   persyaratan berikut ini : warga masyarakat kurang mampu, memiliki

   motivasi tinggi untuk mengikuti pelatihan, sudah teridentifikasi kebutuhan

   belajar sasaran, warga masyarakat yang putus sekolah/tidak melanjutkan,

   berusia 16-44 tahun (usia produktif). Adapun jumlah peserta yang

   mengikuti kegiatan pelatihan berjumlah kurang lebih 30 oarang, yang

   terdiri dari 4 warga belajar dari desa Sekunir Gunungpati Semarang, 10

   warga belajar dari desa Beji Para’an Ungaran serta 16 pamong belajar

   SKB di Jawa Tengah.



                                    lxxi
(3) Menentukan nara sumber teknis/tutor, didalam pelatihan budidaya ayam

   Arab ini dikarenakan BPPLSP belum mempunyai tenaga ahli dibidang

   peternakan, maka nara sumber teknisnya adalah bapak Moh. Basirom

   diambil dari Dinas Pertanian dan Peternakan, disamping itu juga nara

   sumber teknisnya diambil dari Pengusaha atau peternak ayam Arab KPSM

   (Kelompok Pemberdayaan Swadaya Masyarakat) Jatinom Klaten yaitu

   bapak Margono dan bapak Gunawan.

(4) Mempersiapkan sarana dan prasarana yang digunakan dalam pelaksanaan

   pelatihan yang meliputi gedung, asrama penginapan,modul pelatihan, alat-

   alat tulis dan alat-alat praktek pembuatan kandang dan mesin tetas.

(5) Mempersiapkan materi pembelajaran, yang meliputi pembelajaran materi

   umum (sejarah dan manajemen/pengelolaan usaha ayam Arab), materi

   khusus (penetasan, pembesaran, dan pencegahan penyakit ayam) dan

   praktek pembuatan kandang serta mesin tetas.

(6) Mempersiapkan dan mengatur dana/biaya pelatihan yang berasal dari

   DBK Life Skills BPPLSP Jawa Tengah.

(7) Menentukan alat-alat evaluasi pelatihan, evaluasi yang digunakan dalam

   pelatihan ini terdiri dari : a) Evaluasi Persiapan (awal), evaluasi ini

   dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh persiapan yang telah

   dilakukan oleh panitia. Dengan melalui evaluasi persiapan ini akan dapat

   diputuskan apakah pelatihan siap untuk dilaksanakan atau tidak. b)

   Evaluasi Pelaksanaan (proses) hal-hal yang dievaluasi pada tahap

   pelaksanaan pelatihan meliputi: evaluasi peserta, evaluasi fasilitator, serta

   evaluasi penyelenggara.

                                   lxxii
   (8) Dokumentasi kegiatan, pelaksanaan kegiatan pelatihan budidaya yam

       Arab didokumentasikan dengan kamera foto dan kamera vidio, hal ini

       dilakukan sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan

       seluruh kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III

       Jawa Tengah.


Hasil Pemberdayaan

      Hasil pemberdayaan yang dapat diperoleh warga belajar pelatihan

budidaya ayam Arab di BPPLSP Ungaran dapat diuraikan sebagai berikut :

   1. Rochman, dapat menambah pengetahuan dan keterampilan : (a).

       Pemilihan bibit ayam Arab yang baik, yaitu sehat, lincah, mata bulat, tidak

       mengantuk, tidak cacat, bentuk paruh normal, bulu tubuh kering. (b).

       Penetasan/pembesaran ayam, sebelum dimasukkan kedalam mesin tetas

       telur harus diseleksi terlebih dahulu, suhu mesin tetas harus dalam

       keadaan stabil. (c) Pembuatan kandang, harus sesuai dengan kebutuhan

       dan usia ayam Arab. Pada saat berumur 7 hari anak ayam dimasukkan

       kedalam kandang DOC berbentuk segi empat sederhana dengan sumber

       pemanas listrik. Setelah berumur lebih kurang 3 bulan, anak ayam

       dilepaskan dari kandang indukannya dan pada umur 5 bulan, ayam

       dimasukkan kedalam kandang baterai dengan ukuran 40 cm x 20 cm

       dengan tinggi 45 cm. (d) Pembuatan mesin tetas, menggunakan listrik

       lampu pijar, pipa seng pemanas, termometer, tempat tatakan telur dan bak

       air sebagai pelembab ruangan. (e). Pembuatan pakan, harus disesuaikan

       dengan kebutuhan atau usia ayam Arab (f). Pengendalian penyakit,


                                     lxxiii
   kandang harus selalu dalam keadaan bersih, kebutuhan pakan ayam harus

   cukup dan pemberian faksin secara rutin dua bulan sekali. Disamping itu

   juga dengan beternak ayam Arab, Rochman dapat meningkatkan produksi

   telur ayam Arab sehingga dapat menambah penghasilan keluarga.

2. Amin Rahardjo, dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan

   beternak ayam Arab, yang meliputi : (a). Pemilihan bibit ayam Arab yang

   baik, yaitu induk harus masih asli (b). Penetasan/pembesaran ayam Arab,

   penetasan ayam Arab menggunakan mesin tetas, dimana suhu atau panas

   serta pemutaran dan pendinginan elur selama penetasan harus selalu

   mendapatkan perhatian. (c) Pembuatan kandang, harus sesuai dengan

   kebutuhan dan usia ayam Arab, kandang harus dalam keadaan

   longgar/tidak terlalu sempit, cukup memperoleh sinar matahari untuk

   sirkulasi udara, (d) Pembuatan pakan, harus disesuaikan dengan

   kebutuhan atau usia ayam Arab, ayam diberi pakan 2 kali sehari (f).

   Pengendalian penyakit, mengontrol kesehatan ayam setiap hari dan

   pemberian faksin secara rutin dua bulan sekali. Disamping itu juga dengan

   beternak ayam Arab, Amin Rahardjo dapat memperoleh tambahan

   penghasilan walaupun belum seberapa.

3. Sugiarto, dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan beternak ayam

   Arab, yang meliputi : (a). Pemilihan bibit ayam Arab yang baik, yaitu

   berjengger besar, berdada lebar dan lincah (b). Penetasan/pembesaran

   ayam, menggunakan mesin tetas, dimana sebelum dimasukkan kedalam

   mesin tetas telur harus diseleksi terlebih dahulu. (c) Pembuatan kandang,



                                 lxxiv
   harus sesuai dengan kebutuhan dan usia ayam Arab. Kandang baterai yang

   biasa digunakan berukuran 40cmx20cm dengan tinggi 45cm. (d)

   Pembuatan mesin tetas, menggunakan listrik lampu pijar, pipa seng

   pemanas, termometer, tempat tatakan telur dan bak air sebagai pelembab

   ruangan. (e). Pembuatan pakan, harus disesuaikan dengan kebutuhan atau

   usia ayam Arab dengan perbandingan 4: 3 : 3 (4 kg katul : 3 kg jagung : 3

   kg sentrat) (f). Pengendalian penyakit, dengan cara pemberian pakan yang

   cukup, menjaga kebersihan kandang dan pemberian vaksin secara rutin 2

   bulan sekali Disamping itu juga dengan beternak ayam Arab, Sugiarto

   dapat meningkatkan produksi telur ayam Arab sehingga dapat menambah

   penghasilan keluarga.

4. Khamdan, dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan beternak

   ayam Arab, yang meliputi : (a). Pemilihan bibit ayam Arab yang baik,

   yaitu berjengger merah, sehat (tidak cacat atau sakit) dan lincah (b).

   Penetasan/pembesaran ayam, menggunakan mein tetas, telur yang akan

   ditetaskan,sebelumnya harus diteropong atau diseleksi terlebih dahulu,

   suhu mesin tetas harus dalam keadaan stabil. (c) Pembuatan kandang,

   longgar/tidak terlalu sempit, bisa mendapatkan sinar matahari yang cukup,

   terdapat sirkulasi udara, dapat melindungi ayam dari udara malam serta

   penempatan kandang ditempat yang tenang, bebas dari gangguan suara

   keramaian, kandangdibuat dari bambu yang ukurannya disesuaiakan

   dengan kebutuhan ayam Arab. (d) Pembuatan pakan, disesuaikan dengan

   kebutuhan atau usia ayam Arab dengan menggunakan perbandingan 4: 3 :

   3 (4 kg katul : 3 kg jagung : 3 kg sentrat) (f). Pengendalian penyakit,



                                 lxxv
       dengan cara mengontrol keadaan ayam setiap hari, kandang selalu dalam

       keadaan bersih, pemberian ransum atau pakan ayam yang cukup, ayam

       yang sakit dipisahkan dengan ayam yang sehat sehingga tidak menular

       penyakitnya serta pemberian vaksin secara rutin 2 bulan sekali. Disamping

       itu juga dengan beternak ayam Arab, Khamdan dapat menambah

       penghasilan keluarga walaupun belum maksimal.

       Dari hasil yang diperoleh tersebut diatas sudah sesuai dengan pendapat

       Broling (1989), dimana hakikat pendidikan kecakapan hidup/life skills

       adalah interaksi berbagai pengetahuan dan keterampilan yang sangat

       penting dimiliki seseorang asehingga dapat hidup mandiri.




4. Teknik Evaluasi

       Teknik evaluasi dalam kegiatan pemberdayaan pemuda ini meliputi

evaluasi dampak dan evaluasi pelaksanaan program kegiatan. Evaluasi dampak

meliputi meningkatnya pengetahuandan keterampilan peserta pelatihan dan

terlatihnya warga masyarakat dalam bidang budidaya ayam Arab. Sedangkan

evaluasi pelaksanaan program kegiatan meliputi evaluasi peserta (penguasaan

materi, kedisiplinan, ketertiban, dan sikap), evaluasi fasilitator (penguasaan

materi, kesesuaian materi dengan topik bahasan yang disampaikan, ketepatan

metode yang digunakan, kesesuaian media yang digunakan, penampilan, bahasa

yang digunakan), dan evaluasi penyelenggara (kebersihan ruang pelatihan,

akomodasi dan konsumsi, pelayanan panitia). Hal ini sudah sesuai dengan teori

Kirkpatrick, dimana rencana keseluruhan evaluasi pelatihan harus memberikan

suatu kerangka untuk mengukur perubahan yang diinginkan pada tiap tuingkat




                                     lxxvi
evalusi, yakni perubahan dalam tingkat belajar, tingkat perilaku dan tingkat hasil

dengan menggunakan kriteria yang tepat.

C. Faktor      pendukung        dan     penghambat        pelaksanaan        Pola

   Pemberdayaan Pemuda Dengan Pelatihan Budidaya Ayam Arab di

   BPPLSP Regional III Jawa Tengah

1. Faktor pendukung

       Adapun faktor pendukung dalam pelaksanaan pola pemberdayaan pemuda

adalah : (1) Lingkungan sosial masyarakat yang mendukung, hal ini dapat terlihat

dari respon atau tanggapan masyarakat Sekunir Gunungpati dan Beji Para’an

Ungaran yang begitu antusias terhadap diadakannya desa binaan, (2) Sumber-

sumber pembelajaran yang memadai dalam pelatihan budidaya ayam Arab.

Adapun sumber-sumber pembelajaran tersebut meliputi gedung yang dilengkapi

dengan asrama, sarana dan prasarana yang memadai, tutor atau nara sumber teknis

yang berkompeten dibidang peternakan, pemasaran dan manajemen atau

pengelolaaan secara umum, (3) Diadakannya suatu rencana evaluasi pada awal

kegiatan pelatihan, pada saat pelaksanaan kegiatan pelatihan dan pada akhir

kegiatan pelatihan.

2. Faktor penghambat

       Adapun faktor penghambat dalam pelaksanaan pola pemberdayaan

pemuda adalah : (1) Dari pihak BPPLSP sendiri belum mempunyai tenaga ahli

yang berkompeten dibidang peternakan sehingga tutor atau nara sumber teknis

diambil dari KPSM (Kelompok Pemberdayaan Swadaya Masyarakat) yang berada

di Jatinom Klaten, sehingga untuk mendatangkannara sumber teknis yang

berkompeten dibidangnya dibutuhkan biaya yang cukup besar. Disamping itu,


                                      lxxvii
sebagian dari anggota kelompok binaan yang belum mempunyai sikap wirausaha

yang professional, sehingga hal ini dapat mempengaruhi kinerja dan kekompakan

dari masing-masing anggota kelompok binaan.

                                    BAB V

                          SIMPULAN DAN SARAN



A. Simpulan

       Berdasarkan temuan data sebagaimana tersebut pada Bab IV, dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Pola Pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di

   BPPLSP Regional III Jawa Tengah melalui beberap tahap, yakni :

   a. Tujuan Pemberdayaan

       Tujuan pemberdayaan adalah untuk mengaktualisasikan potensi yang

       sudah dimiliki masyarakat, untuk melatih masyarakat agar dapat hidup

       mandiri, serta pada akhirnya dapat membantu masyarakat untuk

       meningkatkan taraf hidupnya.

   b. Proses Pemberdayaan

       Proses pemberdayaan terdiri dari : (1) Identifikasi kebutuhan masyarakat,

       (2) Menetapkan tujuan, (3) Merancang kegiatan, (4) Menentukan

       narasumber teknis/tutor, (5) Menentukan peserta, (6) Menentukan

       pelaksanaan    kegiatan,   (7)     Persiapan   pelaksanaan   kegiatan,   (8)

       Penerapan/pelaksanaan kegiatan, (9) Evaluasi kegiatan, (10) Dokumentasi

       kegiatan.



                                        lxxviii
   c. Hasil Pemberdayaan

      Hasil yang diperoleh dari pelatihan budidaya ayam Arab adalah

      terlatihnya 30 warga belajar sehingga dapat terbentuk dua kelompok

      binaan di desa Sekunir Gunungpati Semarang serta kelompok binaan di
                                   72
      desa Beji Para’an Ungaran. Dari peserta yang sudah dibentuk menjadi

      anggota kelompok binaan tersebut dapat memperoleh dan menambah

      pengetahuan dan keterampilan tentang pemilihan jenis ayam Arab yang

      baik, teknik pembuatan kandang, pembuatan mesin tetas, pembuatan

      ransum makanan, penetasan dan pembesaran ayam Arab, pencegahan dan

      pengobatan penyakit serta pengelolaan usaha berternak ayam Arab.

      Disamping itu juga anggota kelompok binaan dapat lebih mandiri dalam

      beternak ayam Arab, sehingga dapat mereka meningkatkan produktivitas

      ayam Arab serta peningkatan penghasilan.

   d. Teknik Evaluasi

      Teknik evaluasi meliputi evaluasi dampak dan evaluasi pelaksanaan

      program kegiatan. Evaluasi dampak meliputi meningkatnya pengetahuan

      dan keterampilan peserta pelatihan dan terlatihnya warga masyarakat

      dalam bidang budidaya ayam Arab. Sedangkan evaluasi pelaksanaan

      program kegiatan meliputi evaluasi peserta, evaluasi fasilitator, dan

      evaluasi penyelenggara.

2. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Pola Pemberdayaan

   pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III

   Jawa Tengah adalah :



                                   lxxix
   a. Faktor pendukung pelaksanaan pola pemberdayaan meliputi : lingkungan

       sosial masyarakat yang mendukung, sumber-sumber belajar yang

       mendukung baik meliputi sumber material maupun non material, serta

       nara sumber teknis/tutor yang berkompeten dibidangnya masing-masing.

   b. Faktor penghambat pelaksanaan pola pemberdayaan meliputi : belum

       adanya nara sumber teknis dari pihak BPPLSP yang berkompeten

       dibidang peternakan dan budidaya ayam Arab sehingga masih

       bekerjasama dengan instansi lain, aspek pendampingan dalam kelompok

       binaan yang tidak berlanjut secara kontinyu, serta sikap dan mental dari

       sebagian warga belajar yang tidak mau bekerja keras dan hanya

       menginginkan hasil yang cepat.


B. Saran

       Berdasarkan temuan-temuan penelitian dan kesimpulan yang ada, maka

peneliti menyampaikan beberapa saran kepada pihak-pihak terkait dalam rangka

pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab, yakni :

   1. Diadakannya aspek pendampingan teknis secara rutin kepada anggota

       kelompok binaan agar desa binaan dapat berkembang secara maksimal.

   2. Peningkatan jalinan hubungan mitra kerja dengan berbagai lembaga terkait

       untuk memperluas daerah pemasaran.

   3. Peningkatan kegiatan-kegiatan pemberdayaan pemuda dalam pembinaan

       kecakapan hidup/life skills lainnya untuk mengaktualisasikan potensi yang

       sudah dimiliki oleh masyarakat agar dapat hidup mandiri.




                                     lxxx
lxxxi
                           DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud.1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta

Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Departemen Pendidikan
       Nasional. 2004. Pedoman Penyelenggaraan Program Kecakapan Hidup
       (Life Skills) Pendidikan Non Formal. Jakarta.

Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Departemen Pendidikan
       Nasional. 2003. Model Pelatihan Pengembangan dan Budidaya ayam
       Arab.

D. Sudjana. 1993. Stategi Pembelajaran dalam Pendidikian Luar Sekolah.
   Bandung : Nusantara Press.

Djumadi. 2003. Meningkatkan Produksi Telur Ayam Arab. Dalam Harmoni no.2
      Juli-Desember. Hal 11

Jusuf Irianto. 2001. Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Jatim : Insan
        Cendekia

Lexy J. Moleong. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja
       Rosdakarya. Bandung

Loekman Soetrisno.1997. Kemiskinan,         Perempuan,   dan   Pemberdayaan.
      Yogjakarta : Kanisius

Napitulu. 1992. Pedoman Pendidikan Luar Sekolah. Nusantara Press. Bandung

Rukminto Adi, Isbandi. 2001. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan,
      Intervensi Komunitas (Pengantar Pada Pemikiran dan Pendekatan
      Praktis). Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
      Indonesia

Sarwoko, Bambang. 1992. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Semarang :
      IKIP Press

Soebagio Atmodiwirjo. 2002. Manajemen Palatihan. Jakarta : PT. Ardadizya Jaya




                                   75
                                   lxxxii
Tim Broad Based Education Depdiknas. Kecakapan Hidup Melalui Pendekatan
        Pendidikan Berbasis Luas. Surabaya : Intellectual Club (SIC) bekerja
        sama dengan lembaga pengabdian masyarakat Unesa Swa Bina Qualita
        Indonesia Jawa Timur

Utsman. 2002. Paparan Perkuliahan Dasar- Dasar Pelatihan. Fakultas Ilmu
        Pendidikan. Universitas Negeri Semarang




                                  lxxxiii
                         HASIL WAWANCARA

                                                                        Penyel
                                                              enggara


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                      KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
            ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                      : Drs. Kastum, M.Pd
Tempat/ tanggal lahir     : Brebes, 5 Maret 1964
Usia                      : 41 Tahun
Alamat                    : Jln. Kertajaya Rt.02/I Langensari Ungaran
Semarang
Pendidikan terakhir       : Magister Pendidikan/ S2
Pekerjaan                 : PNS
Tempat                    : BPPLSP Regional III Jawa Tengah
Hari/tanggal/pukul        : Rabu/ 22 Juni 2005/ 14.00 WIB


A.1. Kondisi dan situasi desa binaan
1. Apa yang menjadi latar belakang diadakannya desa binaan?
Jawab : Hasil identifikasi kebutuhan masyarakat dimana banyak pemuda yang
nganggur/tidak mempunyai pekerjaan tetap dipilihnya desa binaan Sekunir GP
dan Beji Ungaran karena situasi daerah pedesaan dan kondisi daerahnya yang
memungkinkan untuk diadakannya budidaya ayam Arab, disamping itu
mendapatkan dukungan dari para tokoh masyarakat.
2. Apakah fungsi dan tujuan diadakannya desa binaan?
Jawab : Fungsi dan tujuan diadakannya desa binaan ayam Arab untuk
           mengaplikasikan atau mengembangkan teori yang didapatkan dari
           pelatihan bagaimana pemuda bisa mandiri, disamping itu ada
           tujuan lain yaitu untuk mempromosikan atau mengenalkan
           BPPLSP kepada masyarakat.


                                  lxxxiv
3. Bagaimanakah struktur organisasi desa binaan budidaya ayam Arab?
Jawab : Ada struktur organisasi yang terdiri dari ketua, bendahara, sekertaris,
        seksi usaha, pemasaran dan anggota.
4. Bagaimanakah kondisi desa binaan budidaya ayam Arab?
Jawab : Situasi daerah pedesaan dan tempat diadakannya budidaya ayam Arab

agak jauh dari penduduk/masyarakat. Kelompok masih eksis dan diharapkan

dari kelompok itu dapat mengembangkan diri atau membentuk kelompok-

kelompok lain.

5. Bagaimanakah budaya dan perilaku pemuda masyarakat desa binaan
    budidaya ayam Arab?
Jawab : Terlihat jelas perubahan dari mereka setelah mengikuti pelatihan

             menjadi kelompok binaan orientasi mereka adalah mendapatkan

             keuntungan (profit oriented), mereka berusaha mempertahankan

             organisasi        (komitmen           mereka),        dengan        berorganisasi         dapat

             menambah cara berfikir, wawasan dan pengetahuan.




B.1. Tujuan pemberdayaan
1. Apakah fungsi diadakannya pemberdayaan pemuda dalam pembinaan
     kecakapan hidup melalui pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Fungsi pemberdayaan pemuda adalah untuk memberdayakan pemuda dengan kecakapan vocasional tertentu.

2. Apakah tujuan diadakannya pemberdayaan pemuda dalam pembinaan
     kecakapan hidup melalui pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Tujuan dari pemberdayaan pemuda adalah agar mereka dapat memiliki keterampilan tertentu yang dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mandiri.

3. Siapakah pihak-pihak yang terlibat dalam pemberdayaan ini?
Jawab : BPPLSP, Perangkat desa, Mitra Kerja KPSM (Kelompok Pemberdayaan Swadaya Masyarakat) yang berada
di Jatinom Klaten.




B.2 Proses pemberdayaan

                                                lxxxv
1. Bagaimanakah cara mengidentifikasi kebutuhan?
Jawab : Metode yang digunakan dalam mengidentifikasi kebutuhan
           masyarakat yaitu dengan cara : (a) Metode PRA (Partisipatory Rural
           Apraisal) pendekatan pemahaman masyarakat pedesaan dimana team
           surve datang langsung ke masyarakat melihat sejumlah potensi/SDM
           kemudian dibuat pemetaan skala prioritas kebutuhan masyarakat,
           disamping itu juga perlu dilihat alur sejarah masyarakat setempat. (b)
           Metode Konvensional yaitu datang langsung ke masyarakat kemudian
           masyarakat dikumpulkan dan diadakan diskusi/ shering skala prioritas
           kebutuhan. (c) Analisis SWOT yaitu melihat kekuatan, kelemahan,
           peluang dan tantangan dari masyarakat sekitar.
2. Bagaimanakah cara menetapkan tujuan?
Jawab : Cara menetapkan tujuan adalah dengan melihat masalah-masalah yang sedang dihadapi masyarakat. Adapun
tujuan dari lembaga adalah untuk mengembangkan program kerja sedangkan tujuan substansialnya adalah apa yang
ingin dicapai dengan pelatihan itu.

3. Bagaimanakah cara merancang kegiatan?
Jawab : Kegiatan dirancang selama satu minggu oleh fasilitator dengan melibatkan warga belajar.

4. Materi apa saja yang diberikan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Materi-materi yang diberikan bersifat proses yaitu pengenalan ayam Arab, pengenalan alat dan bahan,
pemeliharaan ayam Arab, cara penetasan ayam Arab, cara pembesaran ayam Arab, cara pengendalian penyakit, cara
penanganan pasca produksi panen/pemasaran, serta cara pembuatan mesin tetas.

5. Bagaimanakah cara menentukan nara sumber teknis?
Jawab : Cara menentukan nara sumber teknis adalah mencari orang-orang yang memiliki keahlian dan keterampilan
budidaya ayam Arab, karena BPPLSP belum mempunyai tenaga khusus maka nara sumber teknis diambil dari KPSM
Sido Makmur/ peternak ayam Arab/pedagang ayam Arab yaitu (a) Bp. Gunawan (b) Bp. Margono sedangkan dari
pihak BPPLSP dipilih Bp. Sigit dan Bp. Jumadi

6. Berapa jumlah nara sumber teknis pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Jumlah nara sumber teknis pelatihan dan budidaya ayam Arab ada 4
           orang NST.
7. Bagaimanakah cara menentukan peserta yang ikut pada pelatihan budidaya
     ayam Arab?
Jawab : Dari hasil identifikasi sasaran diperoleh 14 orang warga belajar yang terdiri dari 4 orang kelompok binaan
           Sekunir GP dan 10 orang anggota kelompok binaan Beji Ungaran yang tergabung dalam Organisasi
           Pemuda Muhamadiyah dan 26 Pamong Belajar SKB seluruh jawa tengah.

8. Berapa jumlah peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Jumlah peserta pelatihan budidaya ayam Arab kurang lebih 30 orang
           termasuk Pamong Belajar SKB seluruh Jawa Tengah. Karena program


                                                   lxxxvi
            ini adalah program kerja BPPLSP maka peserta pelatihan tidak
            dipungut biaya sepeserpun bahkan mereka diberi uang saku sedangkan
            untuk anggota kelompok binaan diberi modal usaha.
9. Bagaimana cara menentukan pelaksanaan kegiatan?
Jawab : Karena ada kaitannya dengan struktur anggaran dana maka pelatihan budidaya ayam Arab disesuai dengan
jadwal yang ditentukan oleh pihak BBPLSP

10. Apa saja yang dipersiapkan sebelum pelaksanaan pelatihan budidaya ayam
     Arab?
Jawab : Pada tahap persiapan yang perlu diperhatikan adalah membentuk
              panitia, pembagian tugas, rapat koordinasi (temu teknis untuk
              menentukan kurikulum materi, siapa yang menyusun, menyiapkan,
              dan menyampaikan materi), menyiapkan bahan dan alat pelatihan,
              menentukan peserta dan nara sumber teknis.
                    Pada tahap pelaksanaan memasuki hari pertama pemberian teori
              tentang teknik budidaya ayam Arab, hari kedua praktek lapangan
              (kunjungan di KPSM Sido Makmur Klaten), hari ketiga praktek
              pembuatan kandang dan mesin tetas.
     Pada tahap akhir kegiatan adalah menyusun laporan dan evaluasi dampak pelatihan.

11. Bagaimanakah                cara      mengevaluasi            pelaksanaan            kegiatan        pelatihan
     budidaya ayam Arab?
Jawab : Evaluasi tutor dan fasilitator dilakukan oleh peserta pelatihan dengan cara mengisi kuisioner. Sedangkan
untuk evaluasi peserta pelatihan dilakukan oleh pihak tutor dan fasilitator dengan cara test tertulis dan praktek.

12. Apa saja yang digunakan dalam mendokumentasikan pelaksanaan kegiatan
     pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Kamera foto dan kamera video.


B.3 Hasil pemberdayaan
1. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang pengetahuan?
Jawab : Semakin bertambah pengetahuan tentang budidaya ayam Arab yang
            meliputi pengenalan ayam Arab, pengenalan alat dan bahan,
            pemeliharaan dan pembesaran ayam, cara penetasan, cara penyegahan
            penyakit cara penanganan pasca panen/pemasaran dan pengetahuan
            membuat mesin tetas.

                                                   lxxxvii
2. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang sikap?
Jawab : Untuk mengukur sikap yang dimiliki oleh warga besar merupakan hal
           yang tidak mudah namun setelah berada dilapangan ternyata ada
           perubahan sikap dari warga belajar.
3. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang keterampilan?
Jawab : Semakin bertambah keterampilan tentang budidaya ayam Arab yang
           meliputi keterampilan mengenal ayam Arab, mengenal alat dan bahan
           yang      digunakan, pemeliharaan                   dan     pembesaran          ayam        Arab,
           keterampilan          menetaskan          ayam        Arab,       pencegahan          penyakit,
           penaganan pasca produksi/panen serta keterampilan membuat mesin
           tetas.
4. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang ekonomis?
Jawab : Dari usaha yang mereka lakukan dengan berternak ayam Arab bisa menghasilkan namun belum bisa terlihat
secara jelas hal ini dikarenakan usaha mereka belum dapat berkembang.

B.4. Evaluasi Pemberdayaan
1. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada awal kegiatan pelatihan?
Jawab : Persiapan peserta, tutor/nara sumber teknis.
2. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada saat kegiatan pelatihan?
Jawab : Jalannya pelaksanaan pelatihan.
3. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada akhir kegiatan pelatihan?
Jawab : Menyusun laporan kegiatan dan mendokumentasikan kegiatan yang
             telah berjalan.


C.1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan.
1. Bagaimanakah respon atau tanggapan masyarakat sekitar terhadap
     pelaksanaan kegiatan pemberdayaan?
Jawab : Sangat mendukung terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan.
2. Pendekatan apa yang digunakan Tutor atau NST dalam penyampaian
     materi pelatihan?
Jawab : Pendekatan Andragogi (pembelajaran yang menggunakan pendekatan
             orang dewasa)



                                               lxxxviii
3. Sumber-sumber belajar apa yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan
   pemberdayaan?
Jawab : Sumber belajar manusia yakni tutor atau nara sumber teknis yang
          berpengalaman, sumber belajar non manusia yakni modul pelatihan,
          peralatan praktek budidaya ayam Arab.
4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Gedung, alat-alat tulis, laboratorium, alat-alat praktek, tikar, sound
        system., dll.
5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
Jawab : BPPLSP Regioanal III Jawa Tengah
6. Apakah sarana itu cukup memadai?
Jawab : Cukup memadai
7. Potensi dan keterampilan apa saja yang peserta miliki?
Jawab : Bermacam-macam namun pada umumnya mereka mempunyai potensi
          untuk berwiraswasta
8. Bagaimanakah motivasi yang dimiliki oleh peseta dalam mengikuti
   kegiatan pelatihan?
Jawab : Motivasi yang dimiliki warga belajar untuk mengikuti kegiatan
          pelatihan sangat tinggi.


C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1. Bagaimanakah cara mengukur perubahan perilaku warga belajar sebagai
    hasil dari pelatihan?
Jawab : untuk mengukur perubahan perilaku warga belajar memang sangat
          susah namun hal ini dapat dilihat atau diketahui ketika mereka sudah
          berada di dalam masyarakat.
2. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
Arab?
Jawab : 3 hari yakni tanggal 21 sampai dengan tanggal 23 Oktober 2003
3. Peraturan-peraturan apa saja yang digunakan dalam kegiatan pelatihan?



                                     lxxxix
Jawab : Selama mengikuti pelatihan peserta tidak boleh meninggalkan tempat
          tanpa seijin panitia, peserta wajib mengikuti seluruh kegiatan
          pelatihan.
4. Apa yang penyelenggara lakukan apabila ada diantara warga belajar yang
       melanggar peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : : Memberikan peringatan atau sangsi, tetapi jika selama tiga hari
          berturut-turut    tidak     mengikuti     pelatihan   maka      akan
          dikeluarkan/dikembalikan ke instansi yang bersangkutan.




                           HASIL WAWANCARA
                                                                       Penyel
                                                                enggara


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                       KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
             ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                        : Drs. Sigit
Tempat/ tanggal lahir       : Semarang, 22 Januari 1968
Usia                        : 36 Tahun
Alamat                       : Sekunir Rt.2 Rw. 5 Kelurahan Plalangan kec.
                             Gunung Pati Semarang


                                       xc
Pendidikan terakhir                  : Sarjana S1 Pend. Olah Raga
Pekerjaan                            : Pamong Belajar BPPLSP Regional III Jawa
Tengah
Tempat                               : BPPLSP Regional III Jawa Tengah
Hari/tanggal/pukul                   : Selasa/ 21 Juni 2005/ 13.00 WIB


A.1. Kondisi dan situasi desa binaan
1. Apa yang menjadi latar belakang diadakannya desa binaan?
Jawab : Karena masih banyaknya pemuda usia produktif yang masih
           menganggur (belum mempunyai pekerjaan tetap). Selain itu antusias
           pemuda untuk memiliki keterampilan vocasional sebagai bekal untuk
           hidup.
2. Apakah fungsi dan tujuan diadakannya desa binaan?
Jawab : Fungsinya adalah sebagai tempat uji coba budidaya ayam Arab,

sedangkan tujuannya untuk mengurangi pengangguran didesa binaan dan

sebagai wadah menyalurkan keterampilan pemuda.

3. Bagimanakah struktur organisasi desa binaan?
Jawab : Strukturnya terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara, dan seksi-seksi.


4. Bagaimanakah kondisi desa binaan budidaya ayam Arab ?
Jawab : Kondisinya cukup baik yaitu sampai sekarang masih tetap berjalan dengan baik.

5. Bagaimanakah budaya dan perilaku pemuda masyarakat desa binaan
     budidaya ayam Arab?
Jawab : Cukup baik dan antusias. Hanya masih ada beberapa kekurangan yang
           perlu diperbaiki yaitu soal administrasi kelompok dan juga
           kekompakan dalam mengelola usaha.


B.1. Tujuan pemberdayaan
1. Apakah fungsi diadakannya pemberdayaan pemuda dalam pembinaan
     kecakapan hidup melalui pelatihan budidaya ayam Arab?


                                                    xci
Jawab : Fungsinya yaitu untuk meningkatkan kecakapan hidup pemuda melalui pelatihan budidaya ayam Arab.

2. Apakah tujuan diadakannya pemberdayaan pemuda dalam pembinaan
     kecakapan hidup melalui pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Agar pemuda dapat mandiri atau berkarya melalui budidaya ayam
           Arab yang meliputi usaha penetasan, pembesaran atau usaha petelor
           ayam Arab.
3. Siapakah pihak-pihak yang terlibat dalam pemberdayaan ini?
Jawab : Pamong belajar, nara sumber, tokoh masyarakat (RT/RW) dan juga
           warga belajar sendiri.


B.2 Proses pemberdayaan
1. Bagaimanakah cara mengidentifikasi kebutuhan?
Jawab : Cara mengidentifikasi langsung turun ke masyarakat dengan cara
           wawancara melalui RT, RW dan juga warga belajar sendiri. Setelah
           diidentifikasi dan dikaji lalu dianalisis dengan cara menentukan
           keunggulan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang ada pada desa
           tersebut, sehingga memungkinkan untuk diadakannya desa binaan
           tersebut.




2. Bagaimanakah cara menetapkan tujuan?
Jawab : Cara menetapkan tujuan dengan melihat hasil identifikasi kebutuhan dan masalah yang terjadi didesa
tersebut.

3. Bagaimanakah cara merancang kegiatan?
Jawab : Cara merancang kegiatan yaitu setelah hasil yang diperoleh
           dilapangan dikaji lalu dirancang dengan cara membuat Desain dari
           pelatihan yang akan dikembangkan baik mulai dari tahap persiapan,
           pelaksanaan dan juga evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan.
4. Materi apa saja yang diberikan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Materi-materi yang diberikan yaitu pengenalan ayam Arab, pengenalan alat dan bahan, pemeliharaan ayam
           Arab, cara penetasan ayam Arab, cara pembesaran ayam Arab, cara pengendalian penyakit, cara
           penanganan pasca produksi panen/pemasaran, serta cara pembuatan mesin tetas.

5. Bagaimanakah cara menentukan nara sumber teknis?


                                                   xcii
Jawab : Dengan cara mengidentifikasi tempat-tempat yang menjadi tempat-
              tempat usaha (peternakan khususnya ayam Arab), lalu dicari orang
              yang mengelola tadi untuk dijadikan nara sumber teknis (tetapi
              diseleksi dahulu kemampuannya).
6. Berapa jumlah nara sumber teknis pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Ada 4 orang NST yaitu diambil dari praktisi, ahli peternakan, dan juga ahli pemasaran.

7. Bagaimanakah cara menentukan peserta yang ikut pada pelatihan budidaya
     ayam Arab?
Jawab : Dengan cara terjun langsung kelapangan agar dapat mengetahui secara pasti bakat dan minat peserta
           pelatihan.

8. Berapa jumlah peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Kurang lebih 30 peserta.
9. Bagaimana cara menentukan pelaksanaan kegiatan?
Jawab : Setelah dilakukan tahap persiapan maka ditetapkan tahap pelaksanaan baik waktu maupun materi.



10. Apa saja yang dipersiapkan sebelum pelaksanaan pelatihan budidaya ayam
     Arab?
Jawab : Materi, akomodasi, konsumsi, ATK, peserta pelatihan dan nara
sumber teknis
11. Bagaimanakah               cara      mengevaluasi            pelaksanaan           kegiatan      pelatihan
     budidaya ayam Arab?
Jawab : Melalui peserta dengan cara mengevaluasi proses pelaksanaan, yang menyangkut materi, fasilitator, dan juga
akomodasi konsumsi.

12. Apa saja yang digunakan dalam mendokumentasikan pelaksanaan kegiatan
     pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Laporan tertulis, kamera foto, dan kamera video.


B.3 Hasil pemberdayaan
1. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang pengetahuan?
Jawab : Pengetahuan seluk beluk (sejarah) ayam Arab, proses pemeliharaan (dari penetasan,
pemeliharaan/pembesaran, pemberian pakan, pengendalian penyakit, pembuatan kandang, pembuatan mesin tetas
hingga hasil pemasaran).

2. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang sikap?
Jawab : Sikap mandiri dan juga sikap semangat berusaha.
3. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang keterampilan?

                                                    xciii
Jawab : Keterampilan penetasan telor, pemeliharaan/pembesaran, pemberian pakan, pengendalian penyakit,
pembuatan kandang, pembuatan mesin tetas hingga hasil pemasaran.

4. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang ekonomis?
Jawab : Dapat menambah penghasilan keluarga walaupun belum seberapa.


B.4. Evaluasi Pemberdayaan
1. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada awal kegiatan pelatihan?
Jawab : Persiapan peserta, tutor/nara sumber teknis.
2. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada saat kegiatan pelatihan?
Jawab : Kendala-kendala yang dialami pada waktu pelaksanaan pelatihan.


3. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada akhir kegiatan pelatihan?
Jawab : Menyusun laporan kegiatan.


C.1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan.
1. Bagaimanakah respon atau tanggapan masyarakat sekitar terhadap
     pelaksanaan kegiatan pemberdayaan?
Jawab : Sangat mendukung terhadap kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab.
2. Pendekatan apa yang digunakan Tutor atau NST dalam penyampaian
     materi pelatihan?
Jawab : Pendekatan Andragogi .
3. Sumber-sumber belajar apa yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan
     pemberdayaan?
Jawab : Tutor atau nara sumber teknis yang berkompeten dibidangnya, modul
              pelatihan, peralatan praktek budidaya ayam Arab.
4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Gedung, alat-alat tulis, laboratorium, alat-alat praktek, tikar, sound
           system.
5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
Jawab : BPPLSP Ungaran dan juga ada yang dari peserta sendiri.
6. Apakah sarana itu cukup memadai?
Jawab : Cukup memadai

                                                  xciv
7. Potensi dan keterampilan apa saja yang peserta miliki?
Jawab : Berternak dan berwiraswasta
8. Bagaimanakah motivasi yang dimiliki oleh peseta dalam mengikuti
     kegiatan pelatihan?
Jawab : Motivasi warga belajar untuk mengikuti kegiatan pelatihan sangat
              tinggi.


C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1. Bagaimanakah cara mengukur perubahan perilaku warga belajar sebagai
     hasil dari pelatihan?
Jawab : Ketika mereka sudah berada di dalam masyarakat.
2. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
     Arab?
Jawab : 3 hari yang dilaksanakan pada tanggal 21 sampai tanggal 23 Oktober
           2003
3. Peraturan-peraturan apa saja yang digunakan dalam kegiatan pelatihan?
Jawab : Peraturan kedisiplinan waktu dan kedisiplinan mengikuti jalannya pelatihan dengan absensi.

4. Apa yang penyelenggara lakukan apabila ada diantara warga belajar yang
     melanggar peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Dengan mengadakan teguran secara lisan.




                                                    xcv
HASIL WAWANCARA
                                                                     Penyel
                                                               enggara


          POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                       KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
             ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




 Nama                      : Djumadi
 Tempat/ tanggal lahir     : Wonosoba, 20 November 1975
 Usia                      : 30 Tahun
 Alamat                     : Perum Ungaran Baru B 30 Semarang
 Pendidikan terakhir       : Sarjana
 Pekerjaan                 : Pegawai Negeri Sipil (PNS)
 Tempat                    : BPPLSP Regional III Jawa Tengah
 Hari/tanggal/pukul        : Senin/ 4 Juli 2005/ 14.30 WIB

                                       xcvi
A.1. Kondisi dan situasi desa binaan
1. Apa yang menjadi latar belakang diadakannya desa binaan?
Jawab : Lingkungan masyarakat dan warga belajar yang mendukung, kemauan
           dan kesiapan warga belajar untuk mengikuti pelatihan dan pembinaan.
2. Apakah fungsi dan tujuan diadakannya desa binaan?
Jawab : Fungsinya adalah sebagai tempat percontohan budidaya ayam Arab

yang akan dikembangkan ditempat lain, sedangkan tujuannya untuk membuka

lapangan pekerjaan baru atau memberikan kesempatan kepada masyarakat

yang masih menganggur.

3. Bagimanakah struktur organisasi desa binaan?
Jawab : Strukturnya terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara, dan seksi usaha,

dan seksi pemasaran.




4. Bagaimanakah kondisi desa binaan budidaya ayam Arab ?
Jawab : Kondisinya bisa dikatakan cukup baik namun pada kenyataannya karena kesibukan warga belajar dan
pembagian tugas yang masih tumpang tindih maka pada saat ini desa binaan tidak dapat berjalan secara maksimal.

5. Bagaimanakah budaya dan perilaku pemuda masyarakat desa binaan
     budidaya ayam Arab?
Jawab : Budaya dan perilaku warga binaan belum terbiasa dengan sikap
           wirausaha yang harus mau bersabar dan bekerja keras.


B.1. Tujuan pemberdayaan
1. Apakah fungsi diadakannya pemberdayaan pemuda dalam pembinaan
     kecakapan hidup melalui pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Fungsinya yaitu untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat.

2. Apakah tujuan diadakannya pemberdayaan pemuda dalam pembinaan
     kecakapan hidup melalui pelatihan budidaya ayam Arab?



                                                  xcvii
Jawab : Agar pemuda mempunyai keterampilan khususnya dalam bidang
           kecakapan hidup sehingga mereka dapat bekerja dan mandiri.
3. Siapakah pihak-pihak yang terlibat dalam pemberdayaan ini?
Jawab : BPPLSP, SKB Klaten, pihak peternakan dan pertanian provinsi
           melalui BIB (Balai Inseminasi Buatan), Unit taman ternak Maron,
           aparat desa dan karang taruna Sekunir Gunung Pati dan Beji Para’an
           Ungaran.


B.2 Proses pemberdayaan
1. Bagaimanakah cara mengidentifikasi kebutuhan?
Jawab : Melakukan survai atau studi pendahuluan masyarakat setempat,
           setelah itu diadakan pertemuan dengan pihak-pihak terkait untuk
           bermusyawarah menentukan skala prioritas kebutuhan yang harus
           segera ditangani. Dari hasil identifikasi kebutuhan tersebut ternyata
           didesa Sekunir Gunung Pati dan desa Beji Para’an terdapat para
           pemuda yang masih mengganggur dan belum mempunyai pekerjaan
           tetap sehingga dibuatlah program-program pemberdayaan pemuda
           salah satunya adalah pelatihan Budidaya ayam Arab.
2. Bagaimanakah cara menetapkan tujuan?
Jawab : Dengan cara melihat hasil identifikasi kebutuhan dan masalah yang terjadi didesa tersebut. Setelah
teridentifikasi permasalahan yang dihadapi masyarakat lalu dianalisis dan ditetapkan tujuan pemberdayaan yakni
memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan budidaya ayam Arab.

3. Bagaimanakah cara merancang kegiatan?
Jawab : Dengan membuat desain pelatihan yang juga melibatkan anggota warga masyarakat. Desain pelatihan ini
dibuat dari tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pelatihan.

4. Materi apa saja yang diberikan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Materi-materi yang diberikan pada pelatihan budidaya ayam Arab yaitu pengenalan tentang jenis ayam Arab,
pengenalan alat dan bahan, pemeliharaan ayam Arab, cara penetasan ayam Arab, cara pembesaran ayam Arab, cara
pengendalian penyakit, cara penanganan pasca produksi panen/pemasaran, serta cara pembuatan mesin tetas.

5. Bagaimanakah cara menentukan nara sumber teknis?
Jawab : Dengan cara megidentifikasi dan menyeleki orang-orang yang
              berkompeten dibidang budidaya ayam Arab. Dalam hal ini yang
              perlu diperhatikan adalah mencari orang yang ahli secara teori,
              praktisi/orang yang terjun langsung didunia peternakan, orang yang



                                                  xcviii
              ahli dalam bidang pemasaran, serta orang yang ahli dalam bidang
              manajemen/ pengelolaan secara umum.
6. Berapa jumlah nara sumber teknis pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Ada 4 orang NST yaitu diambil dari praktisi, ahli peternakan, dan juga ahli pemasaran.

7. Bagaimanakah cara menentukan peserta yang ikut pada pelatihan budidaya
     ayam Arab?
Jawab : Dengan cara terjun langsung kelapangan sehingga diketahui secara pasti bakat dan minat peserta pelatihan.



8. Berapa jumlah peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : 30 orang, yang terdiri dari anggota masyarakat yang bersedia dan berminat mengikuti pelatihan serta pamong
belajar dari SKB seluruh Jawa tengah.

9. Bagaimana cara menentukan pelaksanaan kegiatan?
Jawab : Waktu pelaksanaan pelatihan ini ditentukan pihak BPPLSP Ungaran dengan memperhatikan berbagai macam
pertimbangan.

10. Apa saja yang dipersiapkan sebelum pelaksanaan pelatihan budidaya ayam
     Arab?
Jawab : Kurikulum materi pembelajaran, metode pembelajaran, menentukan
              warga belajar, menentukan nara sumber teknis, mempersiapkan
              sarana        prasarana,         studi       banding/kunjungan                lapangan         serta
              menentukan alat-alat evaluasi
11. Bagaimanakah               cara      mengevaluasi            pelaksanaan           kegiatan       pelatihan
     budidaya ayam Arab?
Jawab : Evaluasi pelaksanaan kegiatan pelatihan dilakukan melalui angket yang disebarkan kepada peserta pelatihan.

12. Apa saja yang digunakan dalam mendokumentasikan pelaksanaan kegiatan
     pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Laporan tertulis, kamera foto, dan kamera video.


B.3 Hasil pemberdayaan
1. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang pengetahuan?
Jawab : Pengetahuan tentang jenis ayam Arab, pembuatan kandang, pembuatan mesin tetas, pembuatan ransum
makanan, penetasan dan pembesaran ayam Arab, pencegahan dan pengobatan penyakit, pengelolaan usaha budidaya
ayam Arab dan pengalaman dari kunjungan lapangan.

2. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang sikap?
Jawab : Sikap berwirausaha..
3. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang keterampilan?


                                                    xcix
Jawab : Keterampilan memilih jenis ayam Arab yang baik, keterampilan pembuatan kandang, pembuatan mesin tetas,
pembuatan ransum makanan, penetasan dan pembesaran ayam Arab, mencegah dan mengobati penyakit ayam Arab,
serta keterampilan mengelola usaha budidaya ayam Arab.
4. Apa hasil yang dicapai warga belajar dalam bidang ekonomis?

Jawab : Dapat menambah penghasilan walaupun belum maksimal.


B.4. Evaluasi Pemberdayaan
1. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada awal kegiatan pelatihan?
Jawab : Persiapan peserta, tutor/nara sumber teknis.
2. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada saat kegiatan pelatihan?
Jawab : Kendala-kendala yang dialami pada waktu pelaksanaan pelatihan.
3. Hal-hal apa saja yang dievaluasi pada akhir kegiatan pelatihan?
Jawab : Menyusun laporan kegiatan.


C.1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan.
1. Bagaimanakah respon atau tanggapan masyarakat sekitar terhadap
     pelaksanaan kegiatan pemberdayaan?
Jawab : Mendukung terhadap kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab.
2. Pendekatan apa yang digunakan Tutor atau NST dalam penyampaian
     materi pelatihan?
Jawab : Pendekatan Andragogi .
3. Sumber-sumber belajar apa saja yang digunakan dalam pelaksanaan
     kegiatan pemberdayaan?
Jawab : Tutor atau nara sumber teknis yang berkompeten dibidangnya, modul
              pelatihan, peralatan praktek budidaya ayam Arab.
4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Gedung, alat-alat tulis, laboratorium, alat-alat praktek, tikar, sound
           system.
5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
Jawab : BPPLSP Ungaran dan juga ada yang dari peserta sendiri.
6. Apakah sarana itu cukup memadai?
Jawab : Cukup memadai
9. Potensi dan keterampilan apa saja yang peserta miliki?

                                                    c
Jawab : Berternak dan berwiraswasta
10. Bagaimanakah motivasi yang dimiliki oleh peseta dalam mengikuti
     kegiatan pelatihan?
Jawab : Motivasi warga belajar untuk mengikuti kegiatan pelatihan cukup
              tinggi.


C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1. Bagaimanakah cara mengukur perubahan perilaku warga belajar sebagai
     hasil dari pelatihan?
Jawab : Mengukur perubahan tingkah laku memang sangat sulit untuk
              dilakukan, namun perubahan ini dapat dilihat ketika mereka sudah
              berada di dalam masyarakat.
2. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
     Arab?
Jawab : 3 hari yang dilaksanakan pada tanggal 21 sampai tanggal 23 Oktober
           2003
3. Peraturan-peraturan apa saja yang digunakan dalam kegiatan pelatihan?
Jawab : Peraturan sudah tertulis secara jelas dan salah satunya adalah tentang kedisiplinan waktu dan kedisiplinan
mengikuti jalannya pelatihan.

4. Apa yang penyelenggara lakukan apabila ada diantara warga belajar yang
      melanggar peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Dengan mengadakan teguran secara lisan.




                                                       ci
                         HASIL WAWANCARA
                                                                   Tutor/
                                                            NST


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                      KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
            ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                      : Moh. Basirom
Tempat/ tanggal lahir     :
Usia                      : 45 Tahun
Alamat                    : Unit Taman Ternak Maron Temanggung
Pendidikan terakhir       : Sarjana
Pekerjaan                 : Pegawai Negeri Sipil
Tempat                    : Unit Taman Ternak Maron Temanggung
Hari/ tanggal/ pukul      :




B.2 Proses penberdayaan
14. Bagaimanakah bentuk pembelajaran yang anda gunakan pada pelatihan
    budidaya    ayam Arab?
Jawab : Pendekatan Andragogi
15. Bagaimanakah cara anda menyampaikan materi dalam kegiatan pelatihan
    budidaya ayam Arab?
Jawab : Ceramah, praktek, dan diskusi




                                      cii
16. Apakah warga belajar suka dengan materi yang diberikan atau yang
   diajarkan?
Jawab : Suka
17. Apakah yang diajarkan atau yang diberikan itu bermanfaat bagi warga
   belajar?
Jawab : Bermanfaat
18. Apa saja manfaat itu?
Jawab : Berternak ayam Arab
19. Berapa lama jangka waktu pelatihan budidaya ayam Arab dilaksaakan?
Jawab : 3 hari
20. Apakah jangka waktu tersebut cukup bagi tutor atau nara sumber teknis
   untuk menyampaiakan materi kepada warga belajar selama pelatihan
   budidaya ayam Arab berlangsung?
Jawab : Cukup
21. Berapa jumlah peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Kurang lebih 40 peserta
22. Bagaimana susunan peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : Dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil
23. Berapa jumlah keseluruhan sumber belajar pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : 5 sumber belajar
24. Bagimanakah kriteria pemilihan ayam Arab yang baik?
Jawab : Induk masih asli ,sehat, berbulu kering, mata bulat.
25. Bagaimanakah cara pembuatan kandang yang sehat?
Jawab : Longgar, tidak sempit, cukup memperoleh sinar matahari dan
disesuaiakan dengan kebutuhan dan usia ayam Arab.
26. Bagaimanakah cara penggunaan dan pembuatan pakan yang berkualitas?
Jawab : Sesuai dengan usia ayam
27. Bagaimanakah penetasan dan pembesaran ayam yang baik?
Jawab : Dengan menggunakan mesin tetas


                                    ciii
28. Bagaimanakah cara pengendalian penyakit ayam yang efektif?
Jawab : Pemberian makanan yang bergizi dan pemberian vaksin secara rutin.


B.3. Hasil Pemberdayaan
1. Apa hasil yang dicapai dalam bidang pengetahuan?
Jawab : Meningkatnya pengetahuan berternak ayam Arab dari tahap penetasan
sampai pemasaran
2. Apa hasil yang dicapai dalam bidang sikap?
Jawab : Mandiri dalam berwiraswasta ayam Arab
3. Apa hasil yang dicapai dalam bidang ketrampilan?
Jawab : Trampilnya berternak ayam Arab dari tahap penetasan sampai
pemasaran
4. Apa hasil yang dicapai dibidang ekonomis?
Jawab : Bertambahnya penghasilan keluarga


C.1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan.
1. Bagaimanakah respon atau tanggapan warga belajar terhadap pelatihan?
Jawab : Cukup antusias
2. Pendekatan apa yang anda digunakan dalam penyampaian materi
    pelatihan?
Jawab : Andragogi
3. Sumber-sumber belajar apa yang anda digunakan dalam pelaksanaan
    kegiatan pemberdayaan?
Jawab : Modul atau materi berternak ayam arab
4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Modul pelatihan dan alat-alat praktek pembuatan kandang dan mesin
tetas
5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
Jawab : BPPLSP Regional III Jawa Tengah
6. Apakah sarana itu cukup memadai?
Jawab : Cukup memadai


                                  civ
7. Potensi dan keterampilan apa saja yang peserta miliki?
Jawab : Berternak ayam Arab dari tahap penetasan sampai produksi dan
pemasaran.
8. Bagaimanakah motivasi yang dimiliki oleh peseta dalam mengikuti
   kegiatan pelatihan?
Jawab : Cukup tinggi


C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1. Bagaimanakah cara anda mengevaluasi warga belajar?
Jawab : Dengan test tertulis, dan praktek
2. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : 3 hari
3. Peraturan-peraturan apa saja yang anda terapkan dalam kegiatan pelatihan
   budidaya ayam Arab?
Jawab : Datang ke tempat pelatihan tepat pada waktunya, wajib mengikuti
         seluruh kegiatan yang telah disepakati bersama.
4. Apa yang anda lakukan apabila ada diantara warga belajar yang melanggar
   peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Saya peringatkan saja.




                                    cv
                         HASIL WAWANCARA
                                                                   Tutor/
                                                            NST


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                      KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
            ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                      : Gunawan
Tempat/ tanggal lahir     :
Usia                      : 38 Tahun
Alamat                    : Cawas, Klaten
Pendidikan terakhir       : Sarjana
Pekerjaan                 : Pegawai Negeri Sipil
Tempat                    : KPSM (kelompok pemberdayaan swadaya
                              masyarakat) Jatinom Klaten
Hari/ tanggal/ pukul      :

                                      cvi
B.2 Proses penberdayaan
13. Bagaimanakah bentuk pembelajaran yang anda gunakan pada pelatihan
   budidaya ayam Arab?
Jawab : Ceramah, praktek dan diskusi
14. Bagaimanakah cara anda menyampaikan materi dalam kegiatan pelatihan
   budidaya ayam Arab?
Jawab : Ceramah dan praktek
15. Apakah warga belajar suka dengan materi yang diberikan atau yang
   diajarkan?
Jawab : Suka
16. Apakah yang diajarkan atau yang diberikan itu bermanfaat bagi warga
   belajar?
Jawab : Sangat bermanfaat
17. Apa saja manfaat itu?
Jawab ; Berternak dan berwiraswasta ayam Arab
18. Berapa lama jangka waktu pelatihan budidaya ayam Arab dilaksaakan?
Jawab : 3 hari
19. Apakah jangka waktu tersebut cukup bagi tutor atau nara sumber teknis
   untuk menyampaiakan materi kepada warga belajar selama pelatihan
   budidaya ayam Arab berlangsung?
Jawab : Saya kira cukup.
20. Berapa jumlah peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Sekitar 40 peserta
21. Bagaimana susunan peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : Dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil
22. Berapa jumlah keseluruhan sumber belajar pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : 5 sumber belajar


                                  cvii
23. Bagimanakah kriteria pemilihan ayam Arab yang baik?
Jawab : Induk masih asli, tidak sakit atau sehat.
24. Bagaimanakah cara pembuatan kandang yang sehat?
Jawab : Cukup memperoleh sinar matahari, jauh dari keramaian, sesuai
dengan usia ayam Arab sendiri.
25. Bagaimanakah cara penggunaan dan pembuatan pakan yang berkualitas?
Jawab : Dengan komposisi 3 : 3: 4 (katul : jagung : sentrat)
26. Bagaimanakah penetasan dan pembesaran ayam yang baik?
Jawab : Dengan menggunakan mesin tetas
27. Bagaimanakah cara pengendalian penyakit ayam yang efektif?
Jawab : Pemberian makan yang bergizi dan pemberian vaksin secara rutin




B.3. Hasil Pemberdayaan
1. Apa hasil yang dicapai dalam bidang pengetahuan?
Jawab : Meningkatnya pengetahuan beternak ayam Arab.
2. Apa hasil yang dicapai dalam bidang sikap?
Jawab : Sikap berwiraswasta yang profesioanal
3. Apa hasil yang dicapai dalam bidang ketrampilan?
Jawab : Meningkatnya ketererampilan beternak ayam Arab.
4. Apa hasil yang dicapai dibidang ekonomis?
Jawab : Bertambahnya penghasilan keluarga.


C.1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan.
1. Bagaimanakah respon atau tanggapan warga belajar terhadap pelatihan?
Jawab : Cukup antusias
2. Pendekatan apa yang anda digunakan dalam penyampaian materi
    pelatihan?
Jawab : Pendekatan Andragogi
3. Sumber-sumber belajar apa yang anda digunakan dalam pelaksanaan
    kegiatan pemberdayaan?


                                    cviii
Jawab : Modul pelatihan
4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Gedung, alat tulis, modul pelatihan dan alat-alat praktek.
5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
Jawab : BPPLSP Regional III Jawa Tengah
6. Apakah sarana itu cukup memadai?
Jawab : Memadai
7. Potensi dan keterampilan apa saja yang peserta miliki?
Jawab : Berwiraswasta
8. Bagaimanakah motivasi yang dimiliki oleh peseta dalam mengikuti
   kegiatan pelatihan?
Jawab : Cukup tinggi




C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1. Bagaimanakah cara anda mengevaluasi warga belajar?
Jawab : Dengan test tertulis dan praktek
2. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
    Arab?
Jawab : 3 hari
3. Peraturan-peraturan apa saja yang anda terapkan dalam kegiatan pelatihan
    budidaya ayam Arab?
Jawab : Datang ketempat pelatihan tepat pada waktunya, mengikuti semua
kegiatan pelatihan, tidak meninggalkan tempat pelatihan tanpa seijin pihak
panitia.
4. Apa yang anda lakukan apabila ada diantara warga belajar yang melanggar
    peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Ditegur atau diingatkan




                                    cix
                     HASIL WAWANCARA
                                                                Tutor/
                                                         NST


       POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
         ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                   : Margono


                                cx
Tempat/ tanggal lahir       :
Usia                        : 36 Tahun
Alamat                      : Jatinom Klaten
Pendidikan terakhir         : SMU
Pekerjaan                   : Pengusaha
Tempat                      : Jatinom Klaten
Hari/ tanggal/ pukul        :




B.2 Proses penberdayaan
14. Bagaimanakah bentuk pembelajaran yang anda gunakan pada pelatihan
budidaya ayam Arab?
Jawab : Pembelajara Andragogi
15. Bagaimanakah cara anda menyampaikan materi dalam kegiatan pelatihan
   budidaya ayam Arab?
Jawab : Ceramah dan praktek
16. Apakah warga belajar suka dengan materi yang diberikan atau yang
   diajarkan?
Jawab : Suka
17. Apakah yang diajarkan atau yang diberikan itu bermanfaat bagi warga
   belajar?
Jawab : Bermanfaat
18. Apa saja manfaat itu?
Jawab : Berternak ayam Arab yang baik.
19. Berapa lama jangka waktu pelatihan budidaya ayam Arab dilaksanakan?
Jawab : 3 hari
20. Apakah jangka waktu tersebut cukup bagi tutor atau nara sumber teknis
   untuk menyampaiakan materi kepada warga belajar selama pelatihan
   budidaya ayam Arab berlangsung?
Jawab : Cukup
21. Berapa jumlah peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab?


                                     cxi
Jawab : 40 peserta
22. Bagaimana susunan peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : Dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil.
23. Berapa jumlah keseluruhan sumber belajar pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : 3 sumber belajar.
24. Bagimanakah kriteria pemilihan ayam Arab yang baik?
Jawab : Masih asli, sehat, mata bulat , bulu kering.
25. Bagaimanakah cara pembuatan kandang yang sehat?
Jawab : Dengan menngunakan bamboo atau kayu, tidak sempit/longgar, cukup
memperoleh sinar matahari.
26. Bagaimanakah cara penggunaan dan pembuatan pakan yang berkualitas?
Jawab : Dengan memperhatikan komposisi makananan sesuai dengan
kebutuhan dan usia ayam itu sendiri.
27. Bagaimanakah penetasan dan pembesaran ayam yang baik?
Jawab : Dengan menggunakan mesin tetas
28. Bagaimanakah cara pengendalian penyakit ayam yang efektif?
Jawab : Pemberian vaksin secara rutin dan


B.3. Hasil Pemberdayaan
1. Apa hasil yang dicapai dalam bidang pengetahuan?
Jawab : Memperoleh pengetahuan dalam bererternak ayam Arab dari tahap
        penetasan sampai produksi.
2. Apa hasil yang dicapai dalam bidang sikap?
Jawab : Sikap mandiri dalam berternak ayam Arab.
3. Apa hasil yang dicapai dalam bidang keterampilan?
Jawab : Trampil dalam bererternak ayam Arab dari tahap penetasan sampai
produksi.
4. Apa hasil yang dicapai dibidang ekonomis?
Jawab : Peningkatan penghasilan.


                                     cxii
C.1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan.
1. Bagaimanakah respon atau tanggapan warga belajar terhadap pelatihan?
Jawab : Cukup antusias
2. Pendekatan apa yang anda digunakan dalam penyampaian materi
   pelatihan?
Jawab : Andragogi
3. Sumber-sumber belajar apa yang anda digunakan dalam pelaksanaan
   kegiatan pemberdayaan?
Jawab : Materi atau modul pelatihan
4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Modul pelatihan, alat-alat dan bahan praktek.
5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
Jawab : BPPLSP Regional III Jawa Tengah.
6. Apakah sarana itu cukup memadai?
Jawab : Lumayan memadai
7. Potensi dan keterampilan apa saja yang peserta miliki?
Jawab : Berternak dan berwiraswasta.
8. Bagaimanakah motivasi yang dimiliki oleh peseta dalam mengikuti
   kegiatan pelatihan?
Jawab : Cukup tinggi.


C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1. Bagaimanakah cara anda mengevaluasi warga belajar?
Jawab : Dengan test tertulis dan test praktek.
2. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
    Arab?
Jawab : 3 hari
3. Peraturan-peraturan apa saja yang anda terapkan dalam kegiatan pelatihan
    budidaya ayam Arab?



                                    cxiii
Jawab : Mengikuti semua kegiatan yang telah dijadwalkan, datang pada
         waktunya tepat waktu, tidak meninggalkan kegiatan pelatihan tanpa
         seijin pehak panitia.
4. Apa yang anda lakukan apabila ada diantara warga belajar yang melanggar
   peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Saya tegur atau diperingatkan.




                                  cxiv
                         HASIL WAWANCARA
                                                                       Warga
                                                             Belajar


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                      KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
            ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                      : Rochman
Tempat/ tanggal lahir     : Semarang 30 April 1966
Usia                      : 39 Tahun
Alamat                    : Sekunir Rt.02/ Rw. 05 Gunung Pati Semarang
Pendidikan terakhir       : SMA
Pekerjaan                 : Swasta
Tempat                    : Sekunir Rt.02/ Rw. 05 Kel. Plalangan Kec. Gunung
                           Pati Semarang
Hari/ tanggal/ pukul      : Sabtu/ 18 Juni 2005/ 15.15 WIB


A.2. Kondisi sosial ekonomi pemuda budidaya ayam Arab.
1. Apakah pendidikan terakhir anda ?
Jawab : SMA
2. Bagaimana pandangan anda mngenai pendidikan?
Jawab : Pengalaman dan pendidikan sangat penting untuk mencapai
         keberhasilan suatu usaha seseorang.
3. Mengapa anda mengikuti pelatihan budidaya ayam arab?
Jawab : Karena saya ingin menjadi seorang peternak yang berhasil, untuk
         menambah penghasilan keluarga.
4. Apakah pekerjaan utama anda?
Jawab : Peternak sapi perah, belajar peternak ayam Arab.




                                     cxv
5. Apakah anda mempunyai pekerjaan sampingan?
Jawab : Membantu jualan istri dirumah.
6. Berapa penghasilan yang anda dapatkan?
Jawab : Untuk penghasilan tidak menentu; kadang untung kadang juga rugi
        tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
7. Dari penghasilan yang diperoleh, anda pergunakan untuk apa saja?
Jawab : Untuk mengembangkan usaha dan untuk kebutuhan keluarga.
8. Apa saja aktivitas yang anda lakukan di dalam kegiatan kelompok binaan?
Jawab : Beternak ayam Arab dan belajar berorganisasi.
9. Apa saja aktivitas yang anda lakukan diluar kegiatan kelompok binaan?
Jawab : Membantu pekerjaan istri berjualan, dan melakukan kegiatan-kegiatan
        yang ada di masyarakat.


B.2 Proses pemberdayaan
1. Apa saja yang diberikan atau diajarkan kepada anda dalam mengikuti
   kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Teori dan praktek budidaya ayam Arab sekaligus studi banding

peternak ayam Arab di Temanggung.

2. Apakah anda suka dengan apa yang diberikan atau diajarkan kepada anda?
Jawab : Suka karena dapat menmbah pengalaman bagaimana cara berternak
        ayam Arab.
3. Apakah yang diberikan atau yang diajarkan itu bermanfaat bagi anda?
Jawab : Sangat bermanfaat.
4. Apa saja manfaatnya?
Jawab : Bisa beternak yam Arab dengan baik.
5. Berapa jumlah tutor atau nara sumber teknis pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : 5 (lima)
6. Siapa saja yang melatih atau membina anda dalam mengikuti kegiatan
   pelatihan budidaya ayam Arab?


                                   cxvi
            Jawab : Bp. Kastum, Bp. Margono, Bp. Gunawan, Bp. Sigit, dan Bp. Djumadi
            7. Bagaimanakah cara tutor atau nara sumber teknis melatih anda selama
                  mengikuti kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
            Jawab : Memberikan pelajaran teori dan praktek lapangan mengenai budidaya
                         ayam Arab.
             8. Apa yang dilakukan tutor atau nara sumber teknis apabila anda menemukan
             kesulitan dalam mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?
             Jawab : Kita diberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada seluruh pengajar sesui dengan bidangnya masing-
             masing.
             9.    Bagaimanakah kriteria pemilihan yam Arab yang baik?
              Jawab : keturunan atau induk ayam Arab harus baik
             10. Bagaimanakah cara pembuatan kandang yang sehat?
              Jawab : Kontraksi kandang harus sesuai dengan kebutuhan dan usi ayam, misalnya kutuk sampai ayam mulai
                        produksi.
             11. Bagimanakah cara penggunaan dan pembuatan pakan ayam Arab yang berkualitas?
Jawab : Pakan ayam harus diberikan sesuai dengan kebutuhan ayam itu sendiri (ransum harus cukup)
             12. Bagimanakah cara penetasan dan pembesaran ayam yang baik?
              Jawab : Suhu mesin tetas harus stabil, seleksi telur, pemberian pakan ayam harus disesuaikan dengan fase umur
                         ayam.
             13. Bagaimanakah cara pengendalian penyakit ayam yang efektif?
              Jawab : Kandang harus selalu dalam keadan yang bersih, kebutuhan pakan ayam harus cukup, pemberian faksin
                        secara rutin.


              C. 1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan

             1. Bagaimanakah respon atau tanggapan anda terhadap pelatihan?
             Jawab : saya sangat senang denga pelatihan budidaya ayam Arab
             2. Bagimanakah cara tutor menyampaikan materi pelatihan?
             Jawab : Dengan pemberian pelajaran teori, praktek pembuatan kandang dan mesin tetas serta kunjungan lapangan.

             3. Sumber-sumber belajar apa yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan
                   pemberdayaan?
             Jawab : Modul atau buku panduan dan Tutor atau para ahli
             4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
              Jawab : Semua sarana atau kebutuhan pelatihan disediakan, contohnya buku
                         panduan budidaya ayam Arab dan alat-alat praktek
             5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
             Jawab : BPPLSP ungaran
             6. Apakah sarana itu cukup memadai?


                                                                  cxvii
Jawab : Cukup lumayan memadai
7. Potensi dan keterampilan apa yang anda miliki?
Jawab : Beternak dan berdagang/jualan
9. Bagaimanakah motivasi yang anda dalam mengikuti kegiatan pelatihan?
Jawab : Saya sangat senang sekali mengikuti semua kegiatan pelatihan.


C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1 Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
 Arab?
Jawab : Pelatihan diadakan selama 3 (tiga) hari berturut-turut
2 Peraturan-peraturan apa saja yang diterapkan dalam kegiatan pelatihan?
Jawab : Peserta harus disiplin dalam mengikuti kegiatan pelatihan, peserta
         pelatihan diberi kesempatan untuk menanyakan hal yang penting.
3   Apa yang dilakukan tutor/penyelenggara apabila anda melanggar
    peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Ditegur langsung oleh pembina, dan diberi arahan agar mau
         mengikuti kegiatan pelatihan dengan baik.




                      PEDOMAN WAWANCARA
                                                                           Warga
                                                                 Belajar


      POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                   KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
          ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)


                                   cxviii
Nama                      : Amin Rahardjo
Tempat/ tanggal lahir     : Semarang, 21 Maret 1972
Usia                      : 33 Tahun
Alamat                    : Sekunir Rt. 02/rw.05 Gunung Pati Semarang
Pendidikan terakhir       : SMA
Pekerjaan                 : Swasta
Tempat                    : Kampung Sekunir Kelurahan Plalangan Kecamatan
                            Gunung Pati Semarang
Hari/ tanggal/ pukul      : Minggu/ 19 Juni 2005/ 15.30 WIB


A.2. Kondisi sosial ekonomi pemuda budidaya ayam Arab.
1. Apakah pendidikan terakhir anda ?
Jawab : SMA
2. Bagaimana pandangan anda mengenai pendidikan?
Jawab : Sangat penting
3. Mengapa anda mengikuti pelatihan budidaya ayam arab?
Jawab : Ingin menjadi peternak ayam Arab yang berhasil
4. Apakah pekerjaan utama anda?
Jawab : Buruh
5. Apakah anda mempunyai pekerjaan sampingan?
Jawab : Tidak.


6. Berapa penghasilan yang anda dapatkan?
Jawab : Penghasilan tidak menentu.
7. Dari penghasilan yang diperoleh, anda pergunakan untuk apa saja?
Jawab : menghidupi keluarga dan merintis usaha.
8. Apa saja aktivitas yang anda lakukan di dalam kegiatan kelompok binaan?
Jawab : Beternak ayam Arab untuk menerapkan ilmu yang didapat selama
         mengikuti kegiatan pelatihan.


                                     cxix
              9. Apa saja aktivitas yang anda lakukan diluar kegiatan kelompok binaan?
              Jawab : Melayani masyarakat dibidang Agama.


              B.2 Proses pemberdayaan
             1. Apa saja yang diberikan atau diajarkan kepada anda dalam mengikuti
             kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
              Jawab : Teori dan praktek budidaya ayam Arab mulai dari penetasan sampai

              produksi, termasuk proses pembuatan kandang, mesin tetas dan ransum

              makanan.

             2. Apakah anda suka dengan apa yang diberikan atau diajarkan kepada anda?
             Jawab : Sangat suka dan ingin menambah pengalaman/ ilmu lagi.
             3. Apakah yang diberikan atau yang diajarkan itu bermanfaat bagi anda?
             Jawab : Sangat bermanfaat.
             4. Apa saja manfaatnya?
             Jawab : Bisa menjadi peternak yang baik.
             5. Berapa jumlah tutor atau nara sumber teknis pada pelatihan budidaya ayam
                  Arab?
             Jawab : 5 (lima)
             6. Siapa saja yang melatih atau membina anda dalam mengikuti kegiatan
                  pelatihan budidaya ayam Arab?
             Jawab : Bp. Margono, Bp. Kastum, Bp. Gunawan, Bp. Sigit, dan Bp. Djumadi
             7. Bagaimanakah cara tutor atau nara sumber teknis melatih anda selama
                 mengikuti kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
             Jawab : Teori sekaligus praktek lapangan.
              8. Apa yang dilakukan tutor atau nara sumber teknis apabila anda menemukan
              kesulitan dalam mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?
              Jawab : Dibimbing, diarahkan, dan diberi solusinya.
              9. Bagaimanakah kriteria pemilihan ayam Arab yang baik?
              Jawab : Induk baik/ masih asli
              10. Bagaimanakah cara pembuatan kandang yang sehat?
Jawab : Longgar (tidak terlau sempit) sesuai dengan kebutuhan ayam, cukup memperoleh sinar matahari untuk sirkulasi udara.



                                                                    cxx
              11. Bagimanakah cara penggunaan dan pembuatan pakan ayam Arab yang berkualitas?
Jawab : Pembuatan pakan harus sesuai dengan ransum atau ukurannya, ayam diberi pakan 2 kali sehari (pagi dan sore hari)
              12. Bagimanakah cara penetasan dan pembesaran ayam yang baik?
              Jawab : Cara penetasan telur menggunakan mesin tetas, yang perlu diperhatikan disini adalah suhu atau panas serta
                         pemutaran dan pendinginan telur selama penetasan.
              13. Bagaimanakah cara pengendalian penyakit ayam yang efektif?
              Jawab : Mengontrol kesehatan ayam setiap hari dan memberikan vaksinasi secara rutin.


              C. 1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan

              1. Bagaimanakah respon atau tanggapan anda terhadap pelatihan?
              Jawab : Saya sangat tertarik untuk mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab.
              2. Bagimanakah cara tutor menyampaikan materi pelatihan?
              Jawab : Ceramah dalam memberikan teori dan praktek langsung.
              3. Sumber-sumber belajar apa yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan
                   pemberdayaan?
              Jawab : Modul atau buku panduan, alat-alat praktek atau peraga.
              4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
              Jawab : Modul dan alat peraga.
              5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
              Jawab : BPPLSP Ungaran.


              6. Apakah sarana itu cukup memadai?
              Jawab : Cukup Memadai
              7. Potensi dan keterampilan apa yang anda miliki?
              Jawab : Berwiraswasta
              8. Bagaimanakah motivasi yang anda dalam mengikuti kegiatan pelatihan?
              Jawab : Saya sangat senang mengikuti kegiatan pelatihan.


              C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
              1. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
                   Arab?
              Jawab : 3 (tiga hari)
              2. Peraturan-peraturan apa saja yang diterapkan dalam kegiatan pelatihan?



                                                                 cxxi
Jawab : Datang ke tempat pelatihan tepat pada waktunya, wajib mengikuti
         seluruh kegiatan yang telah disepakati bersama.
3. Apa yang dilakukan tutor/penyelenggara apabila anda melanggar
   peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Ditegur atau diperingatkan secara langsung dan diberi arahan.




                      PEDOMAN WAWANCARA
                                                                        Warga
                                                              Belajar


       POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                   KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
          ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                     : Sugiarto


                                  cxxii
Tempat/ tanggal lahir      : Semarang 27 Agustus 1967
Usia                       : 36 Tahun
Alamat                     : Beji Para’an Rt. 02 Rw. 10 Ungaran Kabupaten
Semarang
Pendidikan terakhir        : PGA (Pendidikan Guru Agama)
Pekerjaan                  : Wiraswasta
Tempat                     : Beji Para’an Rt. 02 Rw. 10 Ungaran Kabupaten
Semarang
Hari/ tanggal/ pukul       : Minggu/ 3 Juli 2005/ 18.30 WIB


A.2. Kondisi sosial ekonomi pemuda budidaya ayam Arab.
1. Apakah pendidikan terakhir anda ?
Jawab : PGA (Pendidikan Guru Agama)
2. Bagaimana pandangan anda mngenai pendidikan?
Jawab : Pendidikan melalui pengalaman mengikuti pelatihan sangat penting,
         karena bisa menambah pengetahuan dan keterampilan.
3. Mengapa anda mengikuti pelatihan budidaya ayam arab?
Jawab : Ingin menjadi peternak ayam Arab yang sukses.
4. Apakah pekerjaan utama anda?
Jawab; Pekerjaan utama saya saat ini adalah Ekspedisi biro jasa angkutan.
5. Apakah anda mempunyai pekerjaan sampingan?
Jawab : Berternak Ayam arab, sapi perah dan bebek (menthok).


6. Berapa penghasilan yang anda dapatkan?
Jawab : Penghasilan tidak menentu tetapi cukup untuk membiayai kebutuhan
         hidup keluarga sehari-hari.
7. Dari penghasilan yang diperoleh, anda pergunakan untuk apa saja?
Jawab : untuk makan, menyekolahkan 2 orang anak yang masih duduk
         dibangku sekolah dasar, dan untuk kebutuhan hidup lainnya.
8. Apa saja aktivitas yang anda lakukan di dalam kegiatan kelompok binaan?
Jawab : Berternak dan berorganisasi.


                                   cxxiii
9. Apa saja aktivitas yang anda lakukan diluar kegiatan kelompok binaan?
Jawab : Mengikuti kegiatan organisasi masyarakat Muhamadiyah dan karang
taruna.


B.2 Proses Pemberdayaan
1. Apa saja yang diberikan atau diajarkan kepada anda dalam mengikuti
kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Teori dan praktek budidaya ayam Arab yang meliputi pengetahuan

dan keterampilan pemilihan bibit yang baik, pembuatan kandang ayam,

pembuatan mesin tetas, pembuatan pakan ayam, penetasan dan pembesaran

serta pengendalian/ pencegahan penyakit ayam.

2. Apakah anda suka dengan apa yang diberikan atau diajarkan kepada anda?
Jawab : Suka karena dapat menambah pengalaman ternak ayam Arab.
3. Apakah yang diberikan atau yang diajarkan itu bermanfaat bagi anda?
Jawab : Sangat bermanfaat.
4. Apa saja manfaatnya?
Jawab : Bisa menambah pengetahuan dan pengalaman beternak ayam Arab

dari nara sumber yang berkompeten dibidangnya masing-masing.

5. Berapa jumlah tutor atau nara sumber teknis pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
Jawab : 5 (lima)
6. Siapa saja yang melatih atau membina anda dalam mengikuti kegiatan
   pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Bp. Kastum, Bp. Margono, Bp. Gunawan, Bp. Sigit, dan Bp. Djumadi
7. Bagaimanakah cara tutor atau nara sumber teknis melatih anda selama
  mengikuti kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Memberikan pelajaran teori dengan ceramah dan praktek pembuatan
          kandang dan mesin tetas.


                                     cxxiv
             8. Apa yang dilakukan tutor atau nara sumber teknis apabila anda menemukan
             kesulitan dalam mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?
             Jawab : Membantu dengan cara menerangkan dan menjelaskan kembali segala sesuatu hal yang berkaitan dengan
             materi yang disampaikan.
              9. Bagaimanakah kriteria pemilihan yam Arab yang baik?
              Jawab : Berjengger besar, berdada lebar, dan lincah.
              10. Bagaimanakah cara pembuatan kandang yang sehat?
              Jawab : Kandang dibuat dari bambu yang ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan ayam, memperhatikan pergantian
                        atau sirkulasi udara, melindungi ayam dari terik sinar matahari dan dinginnya angin malam.
              11. Bagimanakah cara penggunaan dan pembuatan pakan ayam Arab yang berkualitas?
  Jawab : Pembutan pakan ayam yang baik adalah dengan perbandingan 4 : 4 : 3, artinya 4 kg katul, 4 kg jagung, 3 kg sentrat.
              12. Bagimanakah cara penetasan dan pembesaran ayam yang baik?
              Jawab : Dengan menggunakan mesin tetas.
              13. Bagaimanakah cara pengendalian penyakit ayam yang efektif?
Jawab : Memberikan pakan yang cukup, kebersihan kandang selalu dijaga dan pemberian vaksin 3 bulan sekali.


              C. 1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan

             1. Bagaimanakah respon atau tanggapan anda terhadap pelatihan?
             Jawab : Saya sangat tertarik dengan pelatihan budidaya ayam Arab
             2. Bagimanakah cara tutor menyampaikan materi pelatihan?
             Jawab : Menyampaikan materi dengan ceramah dan demonstrasi pada saat praktek pembuatan kandang, mesin tetas
             dan ransum makanan.

             3. Sumber-sumber belajar apa yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan
                   pemberdayaan?
             Jawab : Modul pelatihan, nara sumber teknis yang berpengalaman dan alat-alat praktek atau peraga.

             4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
             Jawab : Gudung, modul pelatihan, alat peraga dll
             5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
             Jawab : BPPLSP Ungaran
             6. Apakah sarana itu cukup memadai?
             Jawab : cukup memadai
             7. Potensi dan keterampilan apa yang anda miliki?
             Jawab : Berternak
             8. Bagaimanakah motivasi anda dalam mengikuti kegiatan pelatihan?
             Jawab : Saya sangat senang dan termotivasi mengikuti semua kegiatan
             pelatihan.



                                                                     cxxv
C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
    Arab?
Jawab : 3 hari secara berturut-turut
2. Peraturan-peraturan apa saja yang diterapkan dalam kegiatan pelatihan?
Jawab : Tidak boleh meninggalkan tempat pelatihan tanpa seijin panitia,
            datang ketempat pelatihan tepat pada waktunya.
3. Apa yang dilakukan tutor/penyelenggara apabila anda melanggar
       peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Ditegur dan diingatkan.




                         PEDOMAN WAWANCARA
                                                                       Warga
                                                             Belajar


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                      KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
             ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                        : Khamdan
Tempat/ tanggal lahir       : Semarang 10 Februari 1978
Usia                        : 27 Tahun




                                     cxxvi
Alamat                     : Beji Para’an Rt. 02 Rw. 10 Ungaran Kabupaten
Semarang
Pendidikan terakhir        : SMEA
Pekerjaan                  : Wiraswasta Pabrik Plastik Polyplas
Tempat                     : Beji Para’an Rt. 02 Rw. 10 Ungaran Kabupaten
Semarang
Hari/ tanggal/ pukul       : Sabtu/ 2 Juli 2005/ 18.30 WIB


A.2. Kondisi sosial ekonomi pemuda budidaya ayam Arab.
1. Apakah pendidikan terakhir anda ?
Jawab : SMEA
2. Bagaimana pandangan anda mngenai pendidikan?
Jawab : Pendidikan buat saya sangat penting
3. Mengapa anda mengikuti pelatihan budidaya ayam arab?
Jawab : Ingin mencari pengetahuan dan keterampilan beternak ayam Arab.
4. Apakah pekerjaan utama anda?
Jawab : Buruh pabrik Plastik polyplas.
5. Apakah anda mempunyai pekerjaan sampingan?
Jawab : Tidak
6. Berapa penghasilan yang anda dapatkan?
Jawab : Tidak menentu kurang lebih Rp. 400.000,-/ bulan
7. Dari penghasilan yang diperoleh, anda pergunakan untuk apa saja?
Jawab : Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan untuk membantu
         biaya adik sekolah.
8. Apa saja aktivitas yang anda lakukan di dalam kegiatan kelompok binaan?
Jawab : Berternak ayam
9. Apa saja aktivitas yang anda lakukan diluar kegiatan kelompok binaan?
Jawab : Mengikuti kegiatan karang taruna.


B.2 Proses pemberdayaan



                                   cxxvii
1. Apa saja yang diberikan atau diajarkan kepada anda dalam mengikuti
kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Teori beternak ayam Arab, praktek pembuatan kandang, pembuatan

pakan ayam, dan pembuatan mesin tetas, serta kunjungan lapangan.

2. Apakah anda suka dengan apa yang diberikan atau diajarkan kepada anda?
Jawab : Suka karena dapat menambah pengalaman berternak ayam Arab.
3. Apakah yang diberikan atau yang diajarkan itu bermanfaat bagi anda?
Jawab : Bermanfaat.
4. Apa saja manfaatnya?
Jawab : Saya menjadi lebih tahu tentang bagaimana beternak ayam Arab yang
baik.
5. Berapa jumlah tutor atau nara sumber teknis pada pelatihan budidaya ayam
    Arab?
Jawab : 5 (lima)
6. Siapa saja yang melatih atau membina anda dalam mengikuti kegiatan
    pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab :Bp. Margono, Bp. Gunawan, Bp. Basirom, Bp. Kastum dan Bp.
Djumadi
7. Bagaimanakah cara tutor atau nara sumber teknis melatih anda selama
  mengikuti kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Memberikan teori budidaya ayam Arab dengan metode ceramah dan
           praktek langsung/ demonstrasi pembuatan kandang, mesin tetas, dan
           pakan ayam.
8. Apa yang dilakukan tutor atau nara sumber teknis apabila anda menemukan
kesulitan dalam mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?
Jawab : Menerangkan dan menjelaskan lagi materi yang belum kita mengerti.
9. Bagaimanakah kriteria pemilihan yam Arab yang baik?
Jawab : Berjengger merah, sehat (tidak sakit) dan lincah
10. Bagaimanakah cara pembuatan kandang yang sehat?
Jawab : Longgar/ tidak terlalu sempit, bisa mendapatkan sinar matahari yang cukup, terdapat sirkulasi udara , dapat
           melindungi ayam dari udara malam yang dingin, serta penempatan kandang ditempat yang tenang, bebas
           dari gangguan suara keramaian.
11. Bagimanakah cara penggunaan dan pembuatan pakan ayam Arab yang berkualitas?


                                                  cxxviii
Jawab : Ayam diberi pakan 2 kali sehari dengan formulasi yang tepat yakni 4 : 4 : 3 ( 4 katul, 4 jagung, dan 3 sentrat).
12. Bagimanakah cara penetasan dan pembesaran ayam yang baik?
Jawab : Cara penetasan ayam dengan menggunakan mesin tetas, telur yang akan ditetaskan diteropong/diseleksi
           terlebih dahulu, dan ayam dikelompokkan berdasarkan umur/usia.
13. Bagaimanakah cara pengendalian penyakit ayam yang efektif?
Jawab : Ayam dikontrol setiap hari, kandang selalu dalam keadaan bersih, pemberian ransum pakan yang cukup,
          ayam yang sakit dipisahkan dengan ayam yang sehat sihingga tidak menular penyakitnya, serta pemberian
          vaksin secara rutin.


C. 1 Faktor Pendukung Pelaksanaan Pemberdayaan

1. Bagaimanakah respon atau tanggapan anda terhadap pelatihan?
Jawab : Saya sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan pelatihan ternak ayam
Arab.
2. Bagimanakah cara tutor menyampaikan materi pelatihan?
Jawab : dengan ceramah, diskusi, dan demonstrasi
3. Sumber-sumber belajar apa yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan
     pemberdayaan?
Jawab : modul atau buku panduan dan alat-alat peraga/praktek.




4. Sarana apa saja yang digunakan pada pelatihan budidaya ayam Arab?
Jawab : Gedung atau tempat pelatihan, asrama penginapan, buku panduan, alat praktek, makanan, snack dan sertifikat
pelatihan.

5. Dari manakah sarana itu diperoleh?
Jawab : BPPLSP Ungaran
6. Apakah sarana itu cukup memadai?
Jawab : Cukup memadai
7. Potensi dan keterampilan apa yang anda miliki?
Jawab : Berwirausaha
8. Bagaimanakah motivasi anda dalam mengikuti kegiatan pelatihan?
Jawab : Saya mengikuti semua kegiatan pelatihan yang telah dijadwalkan.


C.2. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pemberdayaan
1. Berapa hari yang digunakan dalam kegiatan pelatihan budidaya ayam
     Arab?


                                                    cxxix
Jawab : 3 Hari
2. Peraturan-peraturan apa saja yang diterapkan dalam kegiatan pelatihan?
Jawab : Datang ketempat pelatihan tepat pada waktunya, memperhatikan
       materi yang disampaikan oleh tutor, mengikuti semua kegiatan yang
       telah dijadwalkan.
3. Apa yang dilakukan tutor/penyelenggara apabila anda melanggar
   peraturan yang telah ditetapkan?
Jawab : Ditegur dan diperingatkan.




                                 cxxx
                        PEDOMAN WAWANCARA
                                                                     Penyel
                                                            enggara


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                      KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
            ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                        :
Tempat/ tanggal lahir       :
Usia                        :
Alamat                      :
Pendidikan terakhir         :
Pekerjaan                   :
Hari/ tanggal/ pukul        :




4. Bagaimanakah         bentuk   pemberdayaan   pemuda   dalam     pembinaan
    kecakapan hidup melalui pelatihan budidaya ayam Arab yang dilakukan
    oleh BPPLSP Ungaran ?
5. Langkah-langkah apa yang digunakan dalam rangka perencanaan
    pemberdayaan?
6. Apakah fungsi dan tujuan diadakannya pemberdayaan pemuda dalam
    pembinaan kecakapan hidup melalui pelatihan budidaya ayam Arab?
7. Siapakah pihak-pihak yang terlibat dalam pemberdayaan ini?
8. Bagaimanakah sistem perekrutan peserta peserta pelatihan dan kelompok
    anggota binaan?



                                    cxxxi
9. Bagaimanakah cara penyelenggara, memfasilitasi warga belajar selama
   mengikuti kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
10. Usaha apa saja yang dilakukan oleh penyelenggara atau fasilitator apabila
   warga belajar menemukan kesulitan daam mengikuti kegiatan pelatihan
   budidaya ayam Arab?
11. Apa yang menjadi latar belakang diadakannya desa binaan ?
12. Bagaimanakah kondisi desa binaan budidaya ayam Arab ?
13. Bagaimana susunan peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam
   Arab?
14. Bagaimana kondisi kependudukan desa binaan ayam Arab ?
15. Bagaimana budaya dan perilaku pemuda masyarakat desa binaan ayam
   Arab ?
16. Apakah sasaran program yang diberikan pada pelaksanaan kegiatan
   pelatihan budidaya ayam Arab?
17. Bagaimanakah isi program yang terdapat pada materi pelatihan budidaya
   ayam Arab?
18. Pendekatan apa yang dilakukan oleh penyelenggara untuk memenuhi
   program pelatihan budidaya ayam Arab?
19. Siapa saja yang menjadi sumber belajar pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
20. Apa pekerjaan utama penyelenggara pada pelatihan budidaya ayam Arab?
21. Berapa jumlah keseluruhan sumber belajar pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
22. Peraturan-peraturan apa saja yang dilaksanakan dalam kegiatan pelatihan
   budidaya ayam Arab?
23. Apa yang dilakukan oleh penyelenggara apabila ada diantara warga belajar
   yang melanggar peraturan yang telah ditentukan pada pelatihan budidaya
   ayam Arab?
24. Sarana apa saja yang terdapat pada pelatihan budidaya ayam Arab?
25. Dari mana sarana itu diperoleh?
26. Apakah sarana itu cukup memadai?


                                 cxxxii
27. Bagaimanakah harapan penyelenggara kepada warga belajar setelah
    mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?




                        PEDOMAN WAWANCARA
                                                                   Tutor/
                                                            NST


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                      KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
            ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                      :
Tempat/ tanggal lahir     :
Usia                      :
Alamat                    :
Pendidikan terakhir       :
Pekerjaan                 :
Hari/ tanggal/ pukul      :




1. Bagaimanakah bentuk pembelajaran dalam pelatihan budidaya ayam Arab
   yang dilakukan oleh BPPLSP Ungaran ?




                                 cxxxiii
2. Usaha apa yang dilakukan oleh tutor atau nara sumber teknis apabila warga
   belajar menemukan kesulitan dalam mengikuti kegiatan pelatihan budidaya
   ayam Arab?
3. Bagaimanakah cara tutor/ nara sumber teknis menyampaikan materi dalam
   kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
4. Apa saja yang diberikan atau diajarkan oleh tutor/nara sumber teknis
   kepada warga belajar dalam pelatihan budidaya ayam Arab?
5. Apakah warga belajar suka dengan apa yang diberikan atau yang
   diajarkan?
6. Apakah yang diajarkan atau yang diberikan itu bermanfaat bagi warga
   belajar?
7. Apa saja manfaat itu?
8. Kapan pelatihan budidaya ayam Arab dilaksanakan?
9. Berapa lama jangka waktu pelatihan budidaya ayam Arab dilaksaakan?
10. Apakah jangka waktu tersebut cukup bagi tutor atau nara sumber teknis
   untuk menyampaiakan materi kepada warga belajar selama pelatihan
   budidaya ayam Arab berlangsung?
11. Berapa jumlah peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab?
12. Bagaimana susunan peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ayam
   Arab?
13. Siapa saja yang menjadi sumber belajar pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
14. Apa pekerjaan utama tutor/ nara sumber teknis pada pelatihan budidaya
   ayam Arab?
15. Berapa jumlah keseluruhan sumber belajar pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
16. Peraturan-peraturan apa saja yang dilaksanakan dalam kegiatan pelatihan
   budidaya ayam Arab?
17. Apa yang dilakukan oleh tutor/ nara sumber teknis apabila ada diantara
   warga belajar yang melanggar peraturan yang telah ditentukan pada
   pelatihan budidaya ayam Arab?


                                 cxxxiv
18. Sarana apa saja yang terdapat pada pelatihan budidaya ayam Arab?
19. Dari mana sarana itu diperoleh?
20. Apakah sarana itu cukup memadai?
21. Apa hasil yang dicapai dalam bidang pengetahuan?
22. Apa hasil yang dicapai dalam bidang sikap?
23. Apa hasil yang dicapai dalam bidang ketrampilan?
24. Apa hasil yang dicapai dibidang ekonomis?
25. Bagaimanakah harapan tutor/ nara sumber teknis kepada warga belajar
   setelah mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?




                        PEDOMAN WAWANCARA
                                                                       Warga
                                                             Belajar


         POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DALAM PEMBINAAN
                      KECAKAPAN HIDUP/ LIFE SKILLS
           ( Studi kasus pelatihan ayam Arab di BPPLSP Ungaran)




Nama                      :
Tempat/ tanggal lahir     :
Usia                      :
Alamat                    :
Pendidikan terakhir       :


                                  cxxxv
Pekerjaan                  :
Hari/ tanggal/ pukul       :


7. Apa pendidikan terakhir anda?
8. Bagaimana pandangan anda terhadap pendidikan?
9. Mengapa anda mengikuti pelatihan budidaya ayam Arab?
10. Apa saja yang diberikan atau diajarkan kepada anda dalam mengikuti
   kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab?
11. Apakah anda suka dengan apa yang diberikan atau diajarkan kepada anda?
12. Apakah yang diberikan atau yang diajarkan itu bermanfaat bagi anda?
13. Apa saja manfaatnya?
14. Bagaimanakah cara tutor atau nara sumber teknis melatih anda selama
   mengikuti kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab/
15. Apa yang dilakukan tutor atau nara sumber teknis apabila anda menemukan
   kesulitan dalam mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?
16. Berapa jumlah peseta yang mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?
17. Bagaimana susunan peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan ayam Arab?
18. Berapa jumlah tutor atau nara sumber teknis pada pelatihan budidaya ayam
   Arab?
19. Siapa saja yang melatih atau membina anda dalam mengikuti kegiatan
   pelatihan budidaya ayam Arab?
20. Apa yang dilakukan oleh tutor atau fasilitator apabila anda melanggar
   peraturan yang telah ditentukan pada pelaksanaan kegiatan pelatihan
   budidaya ayam Arab?
21. Sarana apa saja yang terdapat pada pelatihan budidaya ayam Arab?
22. Dari mana sarana itu diperoleh?
23. Apakah sarana itu cukup memadai?
24. Bagaimanakah harapan anda setelah mengikuti kegiatan pelatihan budidaya
   ayam Arab?




                                   cxxxvi
cxxxvii
cxxxviii
cxxxix

								
To top