Docstoc

POLA PEMBELAJARAN TAMAN PENITIPAN ANAK

Document Sample
POLA PEMBELAJARAN TAMAN PENITIPAN ANAK Powered By Docstoc
					POLA PEMBELAJARAN TAMAN PENITIPAN ANAK
       DI TAMAN BALITA KLUB MERBY
(Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang)




                                  Skripsi
          Diajukan dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata I
               untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan




                               Disusun oleh:
                     Nama         : Nuri Handayani
                     NIM          : 1201401018
                     Jurusan      : Pendidikan Luar Sekolah




          FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
         UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                      2005
                          PERSETUJUAN PEMBIMBING


Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian

skripsi pada:

                Hari           : Rabu

                Tanggal        : 19 Oktober 2005




       Pembimbing I                                        Pembimbing II




       Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd                        Drs. Sawa Suryana
       NIP. 130870431                                      NIP. 131413203




                                   Mengetahui,
                       Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah




                           Drs. Achmad Rifa’i RC, M. Pd
                           NIP. 131413232




                                        ii
                          PENGESAHAN KELULUSAN


Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang panitia ujian skripsi Fakultas

Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada:

Hari            : Jumat

Tanggal         : 28 Oktober 2005



Panitia Ujian

Ketua                                        Sekretaris




Drs. H. Siswanto, M.M                        Dra. Liliek Desmawati, M. Pd
NIP. 130515769                               NIP. 131413202

Pembimbing I                                 Anggota Penguji




Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd                 Drs. Zoedindarto. Bdh
NIP. 130870431                               NIP. 130345749

Pembimbing II




Drs. Sawa Suryana                            Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd
NIP. 131413203                               NIP. 130870431




                                             Drs. Sawa Suryana
                                             NIP. 131413203


                                       iii
                                PERNYATAAN


Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benar-
benar hasil karya sendiri dengan sumbangan pemikiran dari Drs. Khomsun
Nurhalim, M. Pd Dosen Pembimbing I dan Drs. Sawa Suryana Dosen
Pembimbing II, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau
seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini
dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.




                                                     Semarang, Nopember 2005




                                                     Nuri Handayani
                                                     NIM. 1201401018




                                        iv
                      MOTTO DAN PERSEMBAHAN


Motto:
   Janganlah pernah meminta apapun jika tiada pernah memberi.
   Jangan pernah menyesal pemberianmu tiada pernah kembali kecuali kamu
   tiada pernah mengikhlaskan.
   Lakukan apa yang dapat kau lakukan karena nafas berhenti itu berarti mati.


                            Persembahan:
                            Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah
                            kepada      Allah   SWT,     skripsi      ini   penulis
                            persembahkan kepada :
                                 Ibunda dan Ayahanda tercinta yang telah
                                 memberikan doa, cinta, kasih sayang, dan
                                 segalanya;
                                 Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd dan Drs. Sawa
                                 Suryana;
                                 Kakakku tersayang (Muhammad Mirzah);
                                 Calon suamiku tercinta (Mas Anto);
                                 Teman-teman Hidayah Cost dan Venus Cost;
                                 Teman-teman seperjuanganku “Angakatan 2001”
                                 Jurusan Pendidikan Luar Sekolah.
                                 Taman Balita Klub Merby;
                                 Almamater UNNES.




                                        v
                                  ABSTRAK

Nuri Handayani, 2005. Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman
Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Pandanaran II/ 2D
Semarang). Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang.
         Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: 1) Pola
pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi
aspek-aspek: tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/
media belajar, sumber belajar, dan evaluasi. 2) Faktor pendukung dan faktor
penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub
Merby.
         Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola pembelajaran
taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek:
tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media
belajar, sumber belajar, dan evaluasi. Selain itu ingin mengetahui faktor
pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak
di Taman Balita Klub Merby.
         Penelitian ini dilakukan di Taman Balita Klub Merby dengan mengambil
informan sebanyak 7 (tujuh) orang yang terdiri dari Koordinator Pelaksana,
Pendidik, Pengasuh, dan Orang tua anak balita. Tahap-tahap penelitian yang
dilakukan antara lain: penelitian pra lapangan, pekerjaan lapangan, dan tahap
analisis data. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan dengan teknik
triangulasi.
         Sesuai dengan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang telah
dilakukan peneliti, yaitu dengan dilakukan pemeriksaan keabsahan data yang
menggunakan teknik triangulasi akhirnya peneliti memperoleh gambaran bahwa
pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby memiliki
aspek-aspek tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/
media belajar, sumber belajar, dan evaluasi. Suatu pola pembelajaran tidak dapat
dipaksakan kepada anak balita karena mereka memiliki karakteristik yang berbeda
antara satu dengan yang lainnya. Rasa keingintahuan anak balita cukup besar
sehingga para pendidik dan orang tua harus memberikan bimbingan kepada
mereka. Penulis menyarankan kepada pihak-pihak yang terkait dalam Taman
Balita Klub Merby seperti koordinator pelaksana, pendidik, pengasuh, dan orang
tua anak balita untuk selalu menjalin kerja sama. Selain itu pihak-pihak yang
terkait sebaiknya selalu mempertahankan faktor-faktor pendukung yang ada
dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Berkaitan dengan
faktor penghambat, penulis menyarankan untuk diminimalkan yaitu dengan cara
meningkatkan sarana dan prasarana seperti pengadaan APE dan alat peraga serta
meningkatkan fasilitas-fasilitas yang ada di Taman Balita Klub Merby.




                                       vi
                             KATA PENGANTAR



       Puji syukur Alhamdulillah atas rahmat dan hidayah yang dilimpahkan

oleh-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang

berjudul “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby

(Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Pandanaran II/ 2D semarang)”.

       Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki, maka dalam

penyusunan skripsi ini penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada:

1.   Drs. H. Siswanto, M. M, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri

     Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.

2.   Drs. Achmad Rifa’i RC, M. Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah

     Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah

     memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.

3.   Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd, dosen pembimbing I yang telah memberikan

     bimbingan, pengarahan, dan saran dalam penyusunan skripsi ini.

4.   Drs. Sawa Suryana, dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan,

     pengarahan, dan saran dalam penyusunan skripsi ini.

5.   Taman Balita Klub Merby yang telah memberikan ijin penelitian dan

     informasi yang berguna bagi penulis.

6.   Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah yang telah

     memberikan pengalaman dan ilmunya kepada penulis.



                                       vii
7.   Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga

     selesai yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

        Kepada beliau-beliau tersebut di atas, penulis menyampaikan terima kasih

yang sedalam-dalamnya semoga segala kebaikan beliau mendapat imbalan yang

setimpal dari Allah SWT. Amiin …

        Dengan penyusunan skripsi ini penulis berharap semoga skripsi ini dapat

berguna dan bermanfaat bagi para pembaca.




                                                   Semarang, Nopember 2005



                                                   Penulis




                                        viii
                                                 DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL .........................................................................................              i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................                                         ii

HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN .................................................                                      iii

HALAMAN PERNYATAAN...........................................................................                       iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN....................................................................                            v

ABSTRAK .........................................................................................................   vi

KATA PENGANTAR.......................................................................................               viii

DAFTAR ISI......................................................................................................    ix

DAFTAR TABEL .............................................................................................          xii

DAFTAR GAMBAR.........................................................................................              xiii

DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................               xiv

BAB I         PENDAHULUAN

               A. Latar Belakang Masalah ..............................................................              1

               B. Rumusan Masalah .......................................................................            4

               C. Tujuan Penelitian.........................................................................         4

               D. Manfaat Penelitian.......................................................................          5

               E. Definisi Operasional....................................................................           5

BAB II        KAJIAN PUSTAKA

              A. Pola Pembelajaran

                     1. Teori Belajar ...........................................................................    8

                     2. Pengertian Pembelajaran ........................................................            21



                                                          ix
            3. Tipe Belajar ............................................................................   23

            4. Komponen Pembelajaran........................................................               27

      B. Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care

            1. Pengertian TPA.......................................................................       40

            2. Jenis Pelayanan TPA ..............................................................          41

            3. Strategi Pembelajaran TPA.....................................................              51

            4. Model Pendidikan dan Pengasuhan ........................................                    54

            5. Sistem Pengelolaan TPA ........................................................             59

      C. Anak Usia Dini

            1. Pengertian Anak Usia Dini .....................................................             62

            2. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini.........................                          62

            3. Tugas Perkembangan Anak Usia Dini....................................                       64

BAB III METODE PENELITIAN

      A. Pendekatan Penelitian..................................................................           67

      B. Rancangan Penelitian ..................................................................           67

      C. Setting Penelitian ........................................................................       69

      D. Subyek Penelitan .........................................................................        70

      E. Fokus Penelitian ..........................................................................       70

      F. Metode Pengumpulan Data .........................................................                 71

      G. Keabsahan Data ...........................................................................        83

      H. Analisis Data ...............................................................................     86




                                                 x
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

              A. Hasil Penelitian

                    1. Sejarah Singkat Berdirinya Klub Merby ................................                         90

                    2. Latar Belakang Berdirinya Taman Balita Klub Merby ..........                                   94

                    3. Gambaran Umum Taman Balita Klub Merby ........................                                 95

                    4. Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby......................                              100

                    5. Ketenagaan Taman Balita Klub Merby ..................................                          101

                    6. Identitas Informan...................................................................          101

                    7. Hasil Wawancara dengan Informan........................................                        102

              B. Pembahasan

                    1. Tujuan .....................................................................................   127

                    2. Bahan Pembelajaran ...............................................................             129

                    3. Kegiatan Belajar Mengajar .....................................................                129

                    4. Metode ....................................................................................    131

                    5. Alat/ Media Belajar.................................................................           132

                    6. Sumber Belajar .......................................................................         133

                    7. Evaluasi...................................................................................    133

                    8. Standar Pelayanan Minimal PAUD pada TPA di Taman Balita

                         Klub Merby.............................................................................      135

BAB V         PENUTUP

              A. Kesimpulan..................................................................................         143

              B. Saran ............................................................................................   146

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................               148

LAMPIRAN.......................................................................................................       150



                                                          xi
                                    DAFTAR TABEL



Tabel 2.1    Kebutuhan Pokok Anak...............................................................          45

Tabel 2.1a   Pemberian Makanan pada Bayi ...................................................              45

Tabel 2.2    Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak........................................                   47

Tabel 2.2a   Jadwal Imunisasi pada Anak .......................................................           48

Tabel 2.3    Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ................                           49

Tabel 2.4    Pendidikan Anak Usia Dini .........................................................          50

Tabel 2.5    Layanan Bimbingan Sosial..........................................................           51

Tabel 2.6    Model Pendidikan dan Pengasuhan Taman Penitipan Anak.......                                  58

Tabel 4.1    Klasifikasi Kegiatan Klub Merby................................................              94

Tabel 4.2    Ketenagaan Taman Balita Klub Merby.......................................                    101

Tabel 4.3    Identitas Informan .......................................................................   101




                                                xii
                               DAFTAR GAMBAR



Gambar 3.1   Macam-macam Teknik Observasi...............................................     72

Gambar 3.2   Tahap Observasi menurut Spradley.............................................   74

Gambar 3.3   Proses Metode Pengumpulan Data menurut Spradley ................                81

Gambar 3.4   Analisis Data Kualitatif menurut Spradley..................................     87

Gambar 4.1   Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby...........................          100




                                           xiii
                                     DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran 1        Permohonan Ijin Penelitian .........................................................        150

Lampiran 2        Surat Keterangan Penelitian ........................................................        151

Lampiran 3        Kisi-kisi Instrumen Penelitian .....................................................        152

Lampiran 4        Pedoman Wawancara ..................................................................        154

Lampiran 5        Catatan Lapangan ........................................................................   161

Lampiran 6        Pedoman Observasi Deskriptif ....................................................           187

Lampiran 7        Pedoman Observasi Terfokus......................................................            188

Lampiran 8        Lembar Observasi Deskriptif ......................................................          189

Lampiran 9        Lembar Observasi Terfokus ........................................................          202

Lampiran 10 Denah Lokasi Taman Balita Klub Merby ...................................                          212

Lampiran 11 Denah Ruang Taman Balita Klub Merby....................................                           213

Lampiran 12 Hasil Dokumentasi ......................................................................          214




                                                     xiv
                                  BAB I
                            PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

         Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

   Pendidikan Nasional, Bab I Pasal 1 menjelaskan Pendidikan Anak Usia Dini

   (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak

   lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian

   rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan

   jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan

   lebih lanjut. Program PAUD memiliki beberapa bentuk organisasi, salah

   satunya adalah Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care.

         Karena kesibukan orang tua, anak-anak sering kali harus ditinggal

   bersama pembantu di rumah. Ada pula yang menitipkan di tempat pengasuhan

   anak. Tidak bermaksud merendahkan peran para pembantu, sebagian orang

   tua lebih memilih anak-anaknya diasuh di tempat pengasuhan. Selain

   pekerjaan kantor tidak terganggu, keselamatan dan keamanan anak-anak akan

   lebih terjamin. Di kota Semarang a da beberapa TPA, salah satunya yaitu

   Taman Balita Klub Merby yang beralamat di Jl. Pandanaran II/ 2 D,

   Semarang.

         Aktivis perempuan Semarang, Agnes Widanti, (Suara Merdeka, Edisi

   Kamis 13 Maret 2003), berpandangan:

          “menitipkan anak ke tempat pengasuhan saat orang tua sibuk
          merupakan sarana pendidikan yang baik. Dia yakin, orang-orang yang

                                 1
                                     xv
       bekerja di tempat pengasuhan anak sudah memiliki keterampilan,
       pendidikan dan pemahaman khusus. Dia berpendapat, penitipan anak
       masih lebih baik dibandingkan dengan pendidikan di rumah yang
       belum tentu ajaran pendidikan dan pengawasannya. Dengan catatan,
       lokasi penitipan tidak terlalu jauh dari lokasi orang tua bekerja”.


       Palayanan yang diberikan oleh TPA berupa peningkatan gizi, asuhan,

perawatan dan pendidikan. Pelayanan-pelayanan tersebut diberikan untuk

membantu mengatasi kesulitan orang tua yang bekerja dalam membimbing

putra-putrinya   yang masih balita. Kecenderungan orang tua             untuk

memasukkan anak dalam program TPA tampaknya sudah mengalami

perubahan karena anak balita yang mengikuti program bukanlah disebabkan

karena ibunya harus bekerja sepanjang hari. Sekarang ini, memasukkan anak

balita dalam program TPA lebih banyak dipengaruhi oleh alasan trend atau

mode sehingga seringkali lupa untuk melihat pada kebutuhan sebenarnya dari

sang anak.

       Tujuan orang tua yang sibuk bekerja menitipkan anaknya adalah agar

anaknya diasuh dan dididik. Melalui TPA, anak melakukan proses

pembelajaran dengan pengalaman hidupnya. Proses pembelajaran anak akan

berjalan efektif apabila anak dalam kondisi senang dan bahagia. Bermain

merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Anak dalam

perkembangannya yang normal tidak akan lepas dari kegiatan tersebut.

Melalui kegiatan bermain, anak dapat belajar apa saja, behkan tanpa ia sadari.

Berbagai aspek kecerdasan (intelegensi) anak juga dapat dikembangkan

melalui kegiatan bermain yang edukatif. Ini berarti kegiatan tersebut

memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kecerdasan majemuk mereka.

                                   xvi
       Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang

tidak hanya memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun

(balita) saja tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. Hal

tersebut merupakan salah satu kelebihan dari Taman Balita Klub Merby.

Kelebihan-kelebihan yang lain adalah:

1. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk

   menjadi balita yang mandiri melalui program bermain yang edukatif;

2. Para balita di bawah pengawasan dokter dan psikolog;

3. Disediakan Mother’s Room bagi para orang tua yang ingin berkonsultasi

   kepada pendidik, pengasuh, dokter, dan psikolog mengenai perkembangan

   balita mereka;

4. Arena bermain yang luas, bersih, nyaman, dan tenang;

5. Taman Balita Klub Merby terletak di pusat kota yaitu Jl. Pandanaran II/

   2D Semarang.

       Menanggapi kondisi yang demikian maka peneliti membuat judul

untuk diteliti yaitu: “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman

Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Pandanaran II/

2D Semarang)”.




                                  xvii
B. Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang sebagaimana dikemukakan di atas, maka

   dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

   1. Bagaimanakah pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita

      Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan, bahan pembelajaran,

      kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media belajar, sumber belajar,

      dan evaluasi?

   2. Apakah yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola

      pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby?



C. Tujuan Penelitian

          Penelitian yang akan dilakukan di Taman Balita Klub Merby ini

   bertujuan sebagai berikut:

   1. Untuk mendeskripsikan pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman

      Balita   Klub    Merby    yang    meliputi   aspek-aspek:   tujuan,   bahan

      pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media belajar,

      sumber belajar, dan evaluasi.

   2. Ingin mendeskripsikan faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola

      pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby.




                                       xviii
D. Manfaat Penelitian

           Manfaat penelitian yang akan dilakukan di Taman Balita Klub Merby

   ini antara lain:

   1. Segi Teoritis

       Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan di

       bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) khususnya pada bidang

       penitipan anak.

   2. Segi Praktis

       Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk pengambilan

       kebijakan bagi pemerintah dan swasta sebagai penyelenggara, para orang

       tua, dan pengasuh TPA dalam melaksanakan pembelajaran di TPA.



E. Definisi Operasional

   1. Pola

       Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:692), pola adalah sistem;

       cara kerja; bentuk (struktur) yang tetap.

   2. Pembelajaran

       Menurut Max Darsono dkk (2000:24-25), pengertian pembelajaran

       sebagai berikut:

       Secara Umum

       Pembelajaran berasal dari kata belajar. Sesuai dengan pengertian belajar

       secara umum, yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang

       mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. Maka pengertian



                                        xix
   pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian

   rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik.

   Secara Khusus

   Menurut Teori Behavioristik, pembelajaran adalah usaha guru membentuk

   tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus).

   Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan)

   perlu latihan, dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau

   reinforcement (penguatan).

   Menurut Teori Kognitif, pembelajaran adalah cara guru memberikan

   kesempatan kepada siswa untuk berpikir agar dapat mengenal dan

   memahami apa yang sedang dipelajari.

   Menurut Teori Gestalt, pembelajaran adalah usaha guru untuk

   memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa lebih

   mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola

   bermakna).

   Menurut Teori Humanistik, pembelajaran adalah memberikan kebebasan

   kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya

   sesuai dengan minat dan kemampuannya.

3. Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care

   Dari hasil rapat koordinasi “Usaha Kesejahteraan Anak” Departemen

   Sosial Republik Indonesia, dikemukakan pengertian Taman Penitipan

   Anak (TPA) dalam Soemiarti Patmonodewo (2003:77), sebagai berikut:

          “Lembaga sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak
          balita yang dikhawatirkan akan mengalami hambatan dalam

                                   xx
         pertumbuhannya, karena ditinggalkan orang tua atau ibunya
         bekerja. Pelayanan ini diberikan dalam bentuk peningkatan gizi,
         pengembangan intelektual, emosional dan sosial”.


   TPA adalah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan pelayanan

   pengganti berupa asuhan, perawatan, dan pendidikan bagi anak balita

   selama anak balita tersebut ditinggal bekerja oleh orang tuanya (Hibana S.

   Rahman, 2002:59).

4. Taman Balita Klub Merby

   Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang tidak

   hanya memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun

   (balita) saja tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan.

   Pelayanan-pelayanan tersebut diberikan untuk membantu mengatasi

   kesulitan orang tua yang bekerja dalam membimbing putra-putrinya yang

   masih balita. Taman Balita Klub Merby beralamat di Jl. Pandanaran II/ 2D

   Semarang. Telepon: (024) 8317067.




                                  xxi
                                   BAB II
                            KAJIAN PUSTAKA



A. Pola Pembelajaran

   1. Teori Belajar

     a. Behavioral Learning Theory (Teori Perilaku)

                  Teori perilaku memandang bahwa belajar adalah perubahan

        perilaku yang dapat diamati dan dapat diukur (dalam Slamet Suyanto,

        2003:88). Teori ini menjelaskan perubahan secara internal yang terjadi

        di dalam diri anak, seperti bagaimana otak bekerja. Teori ini dapat

        digunakan untuk memprediksi dan mengontrol perubahan perilaku

        anak.

        1) Classical Learning Theory

                      Slamet   Suyanto      dalam   bukunya    “Konsep     Dasar

           Pendidikan Usia Dini” (2003:89), menuliskan:

                “Teori ini memandang bahwa belajar adalah perubahan perilaku.
                Menurut teori ini belajar pada prinsipnya mengikuti suatu
                hukum yang sama untuk semua manusia. Pencetus teori ini
                adalah Ivan P. Pavlov (1849-1936), seorang kebangsaan Rusia
                yang meneliti proses belajar dengan melakukan percobaan
                melalui anjing. Percobaannya yaitu anjing mampu
                menghubungkan bunyi bel dengan daging, ketika mendengar
                bunyi bel anjing membayangkan datangnya daging sehingga air
                liurnya keluar. Proses dimana anjing bisa menghubungkan
                antara bunyi bel dengan daging dengan respon air liur seperti itu
                disebut belajar.”

                      Dalam percobaannya, Pavlov memberi daging secara

           periodik kepada anjing didahului dengan membunyikan bel. Setiap


                                      8
                                     xxii
kali daging akan diberikan, bel dibunyikan dan anjing mengeluarkan

air liur. Bahkan ketika bel dibunyikan tanpa daging, anjing juga

mengeluarkan air liur. Jadi anjing dikatakan telah belajar

(mengetahui) bahwa bel merupakan tanda akan datangnya daging.

Banyak orang yang keliru memandang bahwa teori tersebut tidak

banyak berguna karena hanya dapat dipakai untuk anjing. Pandangan

seperti itu tidak benar.

            Menurut Slamet Suyanto (2003:90-91), aplikasi dari teori

Classical Conditioning dalam pembelajaran yaitu berkaitan dengan

perilaku, penanaman disiplin, dan sikap. Dalam menanamkan aturan,

disiplin, moral hendaknya dipasangkan dengan suatu ganjaran dan

hukuman.      Setiap     kali      memperkenalkan     aturan,   hendaknya

diperkenalkan     pula     hadiah       dan   sangsinya. Guru   sebaiknya

memasangkan stimulus dan respon secara konsisten, misalnya setiap

kali ada anak yang menjawab pertanyaan, guru memberi pujian, atau

sebaliknya setiap kali ada anak yang nakal, maka guru memberi

teguran atau hukuman.

            Konsistensi merupakan bagian yang amat penting dalam

menanamkan perilaku. Jika guru tidak konsisten maka anak menjadi

bingung dan hubungan antara stimulus-respon yang diinginkan tidak

terwujud.




                                xxiii
2) Operant Conditioning Theory

              Slamet   Suyanto    dalam   bukunya    “Konsep    Dasar

  Pendidikan Usia Dini” (2003:91-92), menuliskan:

      “Edward L. Thorndike (1874-1949) merupakan salah satu
      pencetus teori belajar ini. Ia mengadakan percobaan belajarnya
      dengan seekor kucing yang ditaruh di dalam kotak pasel. Kucing
      mencari jalan keluar dari kotak dengan cara mencoba-coba.
      Hasil penelitiannya melahirkan Law of Effect atau hukum akibat,
      yaitu apabila suatu respon dari suatu stimulus diikuti dengan
      kepuasan, maka respon tersebut cenderung diulang. Sebaliknya
      jika suatu respon diikuti oleh hal yang tidak menyenangkan,
      maka respon tersebut tidak dilakukan lagi.”

              Menurut Thorndike binatang dan manusia tidak selalu

  memecahkan masalah dengan cara memikirkan caranya secara

  algoritmik, tetapi banyak yang memecahkan masalah dengan cara

  mencoba-coba (trial and error). Hukum akibat menekankan bahwa

  konsekuensi memegang peranan penting akan muncul-tidaknya

  suatu respon. Konsekuensi dapat berupa hadiah (reinforcement) atau

  hukuman (punishment).

              Hasil kerja Thorndike dilanjutkan oleh Clark L. Hull

  (1884-1952) dan Burrhus Frederic Skinner (1904-1990). Menurut

  Hull dalam Slamet Suyanto (2003:92), teori S-R (stimulus-respon)

  ditentukan oleh kondisi individu, sehingga menjadi S-O-R, dimana S

  (stimulus), O (kondisi internal organisme), dan R (respon).

              Menurut Hull, pada intinya individu melakukan proses

  berpikir terlebih dahulu untuk menentukan respon dari suatu

  stimulus.



                           xxiv
             Sejalan dengan Hull, B. F. Skinner, menerjemahkan

konsekuensi yang dimaksud pada teori Thorndike ialah hadiah dan

hukuman. Jika suatu perilaku mendapat hadiah maka perilaku itu

cenderung diulang atau meningkat. Jika perilaku itu mendapat

hukuman, maka perilaku tersebut cenderung ditinggalkan atau

menurun (dalam Slamet Suyanto, 2003:92).

              Menurut B. F. Skinner, konsekuensi memegang peranan

 penting terhadap munculnya suatu perilaku. Pada teori ini

 meskipun konsekuensi penting, namun organisme memegang

 peranan yang lebih penting terhadap munculnya suatu perilaku.

 Perilaku bukan semata-mata ditentukan oleh konsekuensinya,

 tetapi bagaimana individu memandang konsekuensi tersebut.

              Dalam teori Operant Conditioning, perilaku bukan

 semata ditentukan oleh stimulus tetapi tergantung bagaimana

 individu tersebut memandang bentuk hadiah atau hukuman

 tersebut.

              Implikasi teori ini ialah bahwa guru harus hati-hati

 dalam menentukan jenis hadiah dan hukuman. Guru harus

 mengetahui benar hobi atau kesenangan siswanya. Hukuman harus

 benar-benar sesuatu yang tidak disukai anak, dan sebaliknya hadiah

 merupakan hal yang sangat disukai anak. Jangan sampai anak yang

 diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman atau sebaliknya,




                          xxv
       apa yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa dianggap

       sebagai hadiah.

b. Cognitive Learning Theory (Teori Kognitif)

            Teori kognitif menggunakan perubahan perilaku anak untuk

  menerangkan perubahan yang terjadi di dalam diri anak. Teori ini lebih

  banyak membahas bagaimana otak memperoleh, mengolah, dan

  menggunakan informasi untuk berpikir.

  1) Teori Proses Informasi (Information Processing Theory)

               Robert Gagne merupakan salah satu tokoh pencetus teori

     ini. Teori ini memandang bahwa belajar adalah proses memperoleh

     informasi, mengolah informasi, menyimpan informasi, serta

     mengingat kembali informasi yang dikontrol oleh otak. Selain itu

     juga dibahas bagaimana anak menggunakan informasi untuk

     memecahkan masalahdan membuat keputusan (dalam Slamet

     Suyanto, 2003:96).

               Ada beberapa istilah penting untuk memahami Teori

     Proses Informasi yaitu input, pola ingatan, short-term memory atau

     working memory (memori jangka pendek), long-term memory

     (memori jangka panjang), persepsi, organisasi informasi, menyimpan

     dan mengingat informasi, dan merespon.

               Input ialah informasi atau rangsang dari lingkungan yang

     diterima anak melalui organ sensoris (indera). Pada umumnya tidak

     semua rangsang pada saat yang sama dapat diterima oleh indera,



                             xxvi
kecuali rangsangan tersebut merupakan satu kesatuan. Indera

mengubah rangsang yang diterimanya menjadi arus listrik (impuls),

yang selanjutnya dialirkan ke otak melalui syaraf sensoris. Otak akan

menerima input dan secara otomatis akan mencari informasi yang

sebelumnya sudah ada di oatak untuk mengolahnya dalam Short-

Term Memory (STM) atau memori jangka pendek, sehingga

membentuk suatu persepsi. STM disebut juga working memory,

karena merupakan memori yang sedang diproses.

          STM atau working memory bekerja mulai dari otak

memperoleh informasi sampai otak menentukan selesai mengolah

informasi itu. Semakin kompleks suatu input untuk dipikirkan,

semakin banyak STM yang dibutuhkan. Kapasitas STM setiap orang

berbeda-beda. Bagi orang yang kapasitas STM-nya besar, ia akan

dapat memikirkan banyak hal atau persoalan yang lebih kompleks

dengan mempertimbangkan banyak hal pada saat yang sama.

          Implikasi STM dalam pembelajaran ialah guru harus

mengembangkan kapasitas memori anak. Caranya antara lain ialah

dengan menambah kompleksitas dan tingkat kesukaran tugas sedikit

di atas kemampuan anak.

          Persepsi adalah hasil tanggapan otak terhadap stimulus

dengan menggunakan seluruh memori yang dimilikinya yang terkait

dengan stimulus tersebut.




                          xxvii
          Implikasi teori persepsi bagi pembelajaran antara lain guru

harus senantiasa mengontrol apakah siswa memiliki persepsi yang

sama dengan apa yang dikatakan guru. Anak memiliki LTM yang

terbatas dan berbeda dengan memori gurunya, sehingga sering salah

persepsi. Apa yang menurut guru sudah jelas, belum tentu jelas bagi

anak.

          Informasi yang telah diproses otak dan dianggap penting

akan disimpan sebagai Long-Term Memory (LTM), sedangkan

informasi yang tidak penting akan dibuang atau diabaikan. Jadi LTM

adalah memori yang dapat disimpan dan dapat bertahan dalam waktu

yang lama. LTM bisa juga terlupakan jika tidak pernah digunakan.

Lupa adalah peristiwa dimana memori yang disimpan dalam LTM

sulit atau tidak bisa dipanggil ke STM untuk digunakan. LTM

diyakini disimpan di otak pada bagian korteks.

          Mengingat adalah proses memanggil kembali informasi

yang telah tersimpan sebagai LTM ke dalam STM. Mengingat

bukanlah hal yang sederhana. Kemampuan mengingat ditentukan

oleh beberapa faktor, seperti organisasi memori, otomatisasi, dan

STM. Memori yang diorganisasi dengan baik akan mudah diingat.

          Informasi yang disimpan dengan tidak teratur dan tidak

tertata aakan sulit untuk diingat. Oleh karena itu untuk memudahkan

proses mengingat, maka memori harus ditata dengan baik. Penataan

memori ini dapat dilakukan melalui berbagai metode, antara lain



                        xxviii
  dengan menunjukkan bahwa sesuatu yang menarik atau menyita

  perhatian anak.

2) Teori Perkembangan Kognitif

  a) Teori Piaget

               Jean Piaget dalam Slamet Suyanto (2003:107),

     mengidentifikasi empat tahapan perkembangan kognitif pada

     individu, yaitu (1) sensori-motorik, (2) pra-operasional, (3)

     operasional konkret, dan (4) operasi formal atau proporsional.

     Keempat    tahapan   tersebut   menggambarkan    perkembangan

     kognitif anak yang secara umum mengikuti pola dari perilaku

     yang bersifat refleks (tidak berpikir), sampai mampu berpikir

     secara abstrak dengan menggunakan logika tingkat tinggi.

               Implikasi teori Piaget bagi pembelajaran adalah guru

     harus mampu mendesain kegiatan pembelajaran sesuai dengan

     tingkat perkembangan anak. Bagi anak fase sensori-motorik,

     belajar melalui interaksi organ sensoris dan motoris dengan

     lingkungan sangat penting. Ia belum dapat berpikir sebagaimana

     orang dewasa. Begitu pula anak fase pra-operasional, jangan

     dipaksa untuk menarik kesimpulan dari dua variabel yang tidak

     dapat diamati langsung. Memberikan pengalaman jauh lebih

     berharga daripada mencekoki anak dengan konsep yang harus

     dihafalkan. Anak fase konkret belajar paling baik dari benda-

     benda atau objek secara langsung.



                           xxix
b) Teori Neo-Piagetian

            Robi Case (1978 dan 1985) dalam Slamet Suyanto

  (2003:111), mengembangkan teori perkembangan kognitif yang

  sedikit berbeda dengan Piaget tetapi secara prinsip teori tersebut

  didasarkan atas teori Piaget, sehingga disebut teori Neo-Piagetian.

            Menurut      Case,    belajar   adalah    meningkatnya

  kemampuan anak untuk memecahkan persoalan (problem

  solving). Ada dua cara pemecahan masalah yaitu secara Heuristik

  dan Algoritmik. Cara Heuristik didasarkan atas mencoba-coba

  (trial-error), mungkin gagal atau mungkin pula berhasil. Cara

  Algoritmik didasarkan atas pemikiran yang mendasar, misalnya

  didasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki

  sebelumnya.

            Strategi pemecahan masalah meliputi tiga tahapan

  umum, yaitu (1) mengidentifikasi masalah, (2) menentukan tujuan

  pemecahan masalah, dan (3) menyusun prosedur pemecahan

  masalah (schema).

            Implikasinya adalah anak sebagai pemecah masalah

  (problem solver) yang senantiasa berusaha memecahkan persolan.

  Ia berusaha mengembangkan cara yang lebih baik dan efisien

  untuk memecahkan masalah. Melalui pemecahan masalah maka

  anak mengembangkan pengetahuan.




                         xxx
3) Teori Jerome Bruner

            Slamet    Suyanto      dalam   bukunya    “Konsep     Dasar

  Pendidikan Usia Dini” (2003:116), menuliskan:

  “Bruner (1966) dalam bukunya Toward Theory of Instruction
  menyatakan bahwa anak belajar dari konkret ke abstrak melalui tiga
  tahapan yaitu enactive, iconic, dan symbolic. Pada tahap enactive,
  anak berinteraksi dengan objek berupa benda-benda, orang, dan
  kejadian. Itulah sebabnya anak usia 2-3 tahun akan banyak bertanya
  “Apa itu?”. Proses selanjutnya adalah proses symbolic, dimana anak
  mengembangkan konsep. Ketika anak berusia 4-5 tahun pertanyaan
  “Apa itu?” akan berubah menjadi “Kenapa?” atau “Mengapa?”. Pada
  tahap ini anak mulai mampu menghubungkan keterkaitan antara
  berbagai benda, orang, atau objek dalam suatu urutan kejadian”.

            Ketika mengajak anak berpergian, sepanjang jalan

  mungkin ia akan banyak bertanya “Apa itu?”. Pertanyaan “Apa itu?”

  sangat penting untuk mengenal nama dari benda-benda, sehingga

  anak menghubungkan antara benda dengan simbol yaitu nama

  bendanya. Dengan proses yang sama anak belajar tentang berbagai

  benda   (konsep).   Kelak,    semakin    dewasa    ia   akan   mampu

  mengembangkan arti atau makna dari suatu kejadian.

4) Teori Belajar Bermakna

            Teori belajar dari David Ausubel dikenal dengan belajar

  bermakna (Meaningfull Learning). Inti dari belajar bermakna ialah

  bahwa apa yang dipelajari anak memiliki fungsi bagi kehidupannya.

  Menurut Ausubel, seseorang belajar dengan mengasosiasikan

  fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punyai. Dalam proses

  itu seseorang dapat mengembangkan skema yang ada atau

  mengubahnya (dalam Slamet Suyanto, 2003:117-118).

                            xxxi
          Menurut    teori   ini,   dalam   proses   belajar   siswa

mengkonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. Seorang anak

mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke

dalam sistem pengertian yang telah ia punyai. Seorang anak juga

mengasimilasi pengalaman baru ke dalam struktur pengetahuan yang

sudah dipunyai siswa. Jadi dalam proses belajar tersebut, siswa harus

aktif.

          Ada tiga ciri dari belajar bermakna. Pertama, ada

keterkaitan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan

pengetahuan baru yang dipelajari. Kedua, siswa memiliki kebebasan

memilih apa yang dipelajari. Ketiga, kegiatan pembelajaran

memungkinkan siswa mengkonstruksi pemahaman sendiri (dalam

Slamet Suyanto, 2003:118-119).

          Jadi ciri belajar bermakna yaitu a) guru harus mampu

menghubungkan apa yang dipelajari siswa dengan pengetahuan yang

telah dimiliki siswa, b) siswa memiliki bakat, minat, dan cita-cita

yang berbeda-beda sehingga apa yang mereka minati untuk mereka

pelajari akan menggunakan cara belajar yang berbeda-beda, dan c)

otak anak bukan seperti wadah yang kosong dimana guru dapat

menuangkan apa saja kedalamnya, tetapi otak anak ibarat lilin yang

harus dinyalakan agar mampu menerangi dirinya.




                         xxxii
c. Social Learning Theory

  1) Lev Vygotsky (1896-1934)

               Lev Vygotsky adalah seorang psikolog berkebangsaan

     Rusia yang teorinya disebut juga Social-Cognitive Learning Theory.

     Menurutnya interaksi sosial memegang peranan terpenting dalam

     perkembangan kognitif anak. Anak belajar melalui dua tahapan,

     pertama melalui interaksi dengan orang lain, baik keluarga, teman

     sebaya, maupun gurunya; kedua dilanjutkan secara individual yaitu

     dengan cara mengintegrasikan apa yang ia pelajari dari orang lain ke

     dalam struktur mentalnya (dalam Slamet Suyanto, 2003:119).

               Teori belajar Vygotsky memiliki empat prinsip umum: a)

     anak mengkonstruksi pengetahuan, b) belajar terjadi dalam konteks

     sosial, c) belajar mempengaruhi perkembangan mental, dan d)

     bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan mental

     anak (dalam Slamet Suyanto, 2003:121-122).

               Konteks sosial mempengaruhi bagaimana seseorang

     berpikir, bersikap, dan berperilaku. Konteks sosial meliputi seluruh

     lingkungan dimana anak tinggal secara langsung maupun tidak

     langsung dipengaruhi oleh kultur masyarakatnya. Ada tiga tingkatan

     konteks berdasarkan ruang lingkupnya yaitu: a) tingkat interaktif,

     yaitu orang atau teman yang sedang berinteraksi dengan anak. Anak

     merespon orang lain (melalui proses berpikir) secara berbeda karena

     perbedaan karakter orang tersebut. b) tingkat struktural, yang



                             xxxiii
  meliputi struktur sosial seperti keluarga dan sekolah. c) tingkat

  kultural atau sosial, yaitu keseluruhan komponen masyarakat, seperti

  bahasa, sistem numerik, dan teknologi yang digunakan dalam

  masyarakat tersebut.

2) Albert Bandura

            Teori dari Albert Bandura dikenal dengan Social Learning

  Theory (teori belajar sosial). Fokus dari teori ini adalah bagaimana

  anak-anak belajar perilaku sosial, seperti bekerjasama, sharing, atau

  bahkan perilaku negatif seperti berkelahi, bertengkar, dan menyerang

  (dalam Slamet Suyanto, 2003:124).

            Menurut teori ini, perilaku, orang, dan lingkungan saling

  terkait. Jadi perilaku, cara berpikir dan motivasi, serta kondisi

  seseorang dan lingkungannya membentuk satu kesatuan.

            Bandura      mengidentifikasi   adanya   belajar   dengan

  memodelkan perilaku orang lain yang dikenal dengan teori Learning

  by Modelling. Ia mengamati banyak anak belajar dengan cara

  memodelkan perilaku yang dilakukan orang lain, baik orang tuanya,

  aktor film di TV, atau perilaku profesi (dalam Slamet Suyanto,

  2003:126).

            Informasi dari lingkungan tentang suatu perilaku atau

  kegiatan ditransfer oleh anak menjadi bentuk-bentuk simbolik

  dengan    memodelkannya.      Jadi   memodelkan     suatu    karakter




                            xxxiv
       merupakan bukti bahwa anak telah belajar tentang karakter tersebut

       dan dicoba ditampilkannya dengan menjadi karakter yang sama.

                  Ada empat tahapan belajar dengan memodelkan peran.

       Pertama, proses atensi adalah proses menaruh perhatian yang besar

       dan teliti terhadap suatu kejadian atau peran dari lingkungannya

       yang akan dimodelkan. Kedua, proses retensi dimana anak mulai

       mentransfer    peran   yang      akan   dimodelkan   dalam    struktur

       pengetahuannya menjadi schema tentang peran tersebut. Ketiga,

       proses produksi dimana anak mengkonversi kode simbolik dalam

       memorinya tentang peran yang akan dimodelkan ke dalam kegiatan

       nyata. Keempat, proses motivasi ialah pengaruh faktor-faktor di luar

       anak yang memungkinkan anak menampilkan model tersebut.

                  Implikasi teori ini dalam pembelajaran adalah bagaimana

       kita menciptakan model yang baik bagi anak. Guru dan orang tua

       harus dapat menjadi model yang baik bagi anak. Anak akan sangat

       senang untuk memodelkan apa yang dilakukan orang tua dan

       gurunya. Pembelajaran yang menarik atensi anak akan cenderung

       dimodelkan dan diingat terus.

2. Pengertian Pembelajaran

            Menurut Max Darsono dkk (2000:24-25), pembelajaran berasal
  dari kata belajar. Sesuai dengan pengertian belajar secara umum, yaitu
  bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi
  perubahan tingkah laku. Maka pengertian pembelajaran adalah suatu
  kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku
  siswa berubah ke arah yang lebih baik.

                                 xxxv
            Menurut Teori Behavioristik, pembelajaran adalah usaha guru
  membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan
  lingkungan (stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan respon
  (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan, dan setiap latihan yang
  berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan).
            Menurut Teori Kognitif, pembelajaran adalah cara guru
  memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir agar dapat mengenal
  dan memahami apa yang sedang dipelajari.
            Menurut Teori Gestalt, pembelajaran adalah usaha guru untuk
  memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa lebih
  mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola
  bermakna).
            Menurut Teori Humanistik, pembelajaran adalah memberikan
  kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara
  mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.
            Jadi pembelajaran adalah usaha pendidik membentuk tingkah
  laku yang diinginkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta
  didik untuk berpikir agar peserta didik lebih mudah mengorganisasikan
  (mengaturnya) sesuai dengan minat dan kemampuannya.




3. Tipe Belajar

            Gagne berpendapat bahwa belajar dapat dilihat dari segi proses
  dan dapat pula dilihat dari segi hasil. Dari segi proses, Gagne (1970) dalam
  Sudjana (2000:117-118), mengklasifikasikan kegiatan belajar menjadi
  delapan tipe yaitu:
  a. Kegiatan belajar mengenal tanda-tanda (Signal Learning). Tipe

     kegiatan belajar ini didasarkan atas situasi bersyarat yang dikemukakan

     Ivan Pavlov. Kegiatan belajar dilakukan dengan merespons tanda-tanda

     atau simbol yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran. Respons

                                 xxxvi
  yang dilakukan peserta didik bisa rasional, reflektif, dan/ atau

  emosional.

b. Kegiatan belajar melalui stimulus dan respons (Stimulus Response

  Learning). Tipe kegiatan belajar ini berhubungan dengan perilaku

  peserta didik yang secara sadar melakukan respons yang tepat terhadap

  stimulus yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran.

c. Kegiatan belajar melalui rangkaian (Chaining Learning). Kegiatan

  belajar dalam tipe ini dilakukan peserta didik dengan menyusun

  hubungan antara dua stimulus atau lebih dengan berbagai respons yang

  berkaitan dengan stimulus tersebut.

d. Kegiatan belajar melalui asosiasi lisan (Verbal Association). Tipe

  kegiatan belajar ini berkaitan dengan upaya peserta didik dalam

  menghubungkan respons (jawaban) lisan. Kegiatan menghubungkan ini

  dapat diterapkan pula dalam merangkaikan kegiatan anggota badan,

  walaupun dalam merangkaikan gerakan-gerakan tadi penggunaan

  bahasa tetap dilakukan untuk menunjukkan hubungan antara stimulus

  dan respons tersebut.

e. Kegiatan    belajar    dengan      perbedaan   berganda   (Multiple

  Discrimination Learning). Tipe belajar ini berhubungan dengan

  kegiatan peserta didik dalam membuat berbagai perbedaan respons

  yang digunakan terhadap stimulus yang beragam, namun berbagai

  respons dan stimulus itu saling berhubungan antara satu dengan yang

  lainnya.



                             xxxvii
f. Kegiatan belajar konsep (Concept Learning). Tipe kegiatan belajar

  ini berkaitan dengan berbagai respons dalam waktu yang bersamaan

  terhadap sejumlah stimulus yang berupa konsep-konsep yang berbeda

  antara satu dengan yang lainnya.

g. Kegiatan belajar prinsip-prinsip (Principle Learning). Tipe kegiatan

  belajar ini digunakan peserta didik untuk menghubungkan beberapa

  prinsip yang digunakan dalam merespons stimulus.

h. Kegiatan belajar pemecahan masalah (Problem-solving Learning).

  Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan kegiatan peserta didik dalam

  menghadapi dan memecahkan masalah sehingga pada akhirnya peserta

  didik memiliki kecakapan dan keterampilan baru dalam pemecahan

  masalah.

Belajar yang berkenaan dengan hasil, Gagne dalam Nana Sudjana

(2000:47-49) mengemukakan ada lima tipe yaitu:

a. Belajar kemahiran intelektual (Cognitif). Dalam tipe ini termasuk

  belajar deskriminasi, belajar konsep, dan belajar kaidah. Belajar

  deskriminasi, yakni kesanggupan membedakan beberapa objek

  berdasarkan   ciri-ciri   tertentu.   Kemampuan   membedakan     objek

  dipengaruhi oleh kematangan, pertumbuhan, dan pendidikannya.

  Belajar konsep, yakni kesanggupan menempatkan objek yang

  mempunyai ciri yang sama menjadi satu kelompok (klasifikasi)

  tertentu. Konsep diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan dan

  banyak terjadi dalam realitas kehidupan. Belajar kaidah, pada



                              xxxviii
  hakikatnya menghasilkan beberapa konsep. Belajar kaidah melalui

  simbol bahasa baik lisan maupun tulisan.

b. Belajar informasi verbal. Pada umumnya belajar berlangsung melalui

  informasi verbal, seperti membaca, bercerita, kesanggupan menyatakan

  pendapat dalam bahasa lisan/ tulisan, berkomunikasi, dan kesanggupan

  memberi arti dari setiap kata/ kalimat.

c. Belajar   mengatur     kegiatan    intelektual.    Penekanannya     pada

  kesanggupan memecahkan masalah melalui konsep dan kaidah yang

  telah dimilikinya. Dengan kata lain, tipe belajar ini menekankan pada

  aplikasi kognitif dalam pemecahan persoalan. Ada dua aspek penting

  dalam tipe belajar ini, yaitu prinsip pemecahan masalah dan langkah

  berpikir dalam pemecahan masalah (problem solving). Pemecahan

  masalah    memerlukan       kemahiran      intelektual   seperti   belajar

  deskriminasi, belajar konsep, dan belajar kaidah sehingga akan

  membentuk satu kemampuan intelektual yang lebih tinggi, yaitu

  langkah-langkah berpikir dalam pemecahan masalah. Dengan kata lain,

  kemampuan memecahkan masalah merupakan aspek kognitif tingkat

  tinggi.

d. Belajar sikap. Sikap merupakan kesiapan dan kesediaan seseorang

  untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian

  terhadap objek itu, apakah berarti atau tidak bagi dirinya. Hasil belajar

  sikap nampak dalam bentuk kemauan, minat, perhatian, dan perubahan




                              xxxix
    perasaan. Sikap dapat dipelajari dan dapat diubah melalui proses

    belajar.

  e. Belajar keterampilan motorik. Belajar tipe ini banyak berhubungan

    dengan kesanggupan menggunakan gerakan anggota badan, sehingga

    memiliki rangkaian urutan gerakan yang teratur, luwes, tepat, cepat, dan

    lancar. Belajar motorik memerlukan kemahiran intelektual dan sikap,

    sebab dalam belajar motorik bukan semata-mata hanya gerakan anggota

    badan, tetapi juga memerlukan pemahaman dan penguasaan akan

    prosedur gerakan yang harus dilakukan serta konsep mengenai cara

    melakukan gerakan. Aspek utama belajar motorik adalah tercapainya

    otomatisme melakukan gerakan. Gerakan yang sudah otomatis

    merupakan puncak belajar motorik.

  Kesimpulan dari pendapat Gagne tersebut di atas adalah belajar dapat

  dilihat dari segi proses dan dapat pula dilihat dari segi hasil. Dari segi

  proses, ada delapan tipe yaitu kegiatan belajar mengenal tanda-tanda,

  kegiatan belajar melalui stimulus dan respon, kegiatan belajar melalui

  rangkaian, kegiatan belajar melalui asosiasi lisan, kegiatan belajar dengan

  perbedaan berganda, kegiatan belajar konsep, kegiatan belajar prinsip-

  prinsip, dan kegiatan belajar pemecahan masalah. Ada pula lima tipe

  belajar yang berkenaan dengan hasil, yaitu belajar kemahiran intelektual,

  belajar informasi verbal, belajar mengatur kegiatan intelektual, belajar

  sikap, dan belajar keterampilan motorik.

4. Komponen Pembelajaran


                                  xl
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48), sebagai

suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah

komponen yang meliputi tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan belajar

mengajar, metode, alat/ media belajar, sumber belajar, dan evaluasi.

Demikian pula dengan TPA yang merupakan suatu lembaga nonformal

yang memberikan pelayanan pengasuhan dan pendidikan. Di dalam TPA,

juga terdapat kegiatan belajar mengajar yang disesuaikan dengan acuan

pendidikan anak usia dini. Komponen-komponen pembelajaran antara

lain:

a. Tujuan

               Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48),

   tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu

   kegiatan. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah sesuatu yang

   bernilai normatif.

               Menurut Nana Sudjana (2000:57-58), ada empat tingkatan

   tujuan pendidikan yaitu:

   1) Tujuan Umum Pendidikan

        Yaitu pembentukan manusia Pancasila.

   2) Tujuan Institusional (Tujuan Lembaga Pendidikan)

        Tujuan institusional adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh

        lembaga atau jenis tingkatan sekolah sebagai tujuan antara untuk

        sampai pada tujuan umum. Tujuan antara (tujuan intermidier) adalah

        tujuan yang berfungsi sebagai perantara untuk mencapai tujuan



                                 xli
     umum. Masing-masing lembaga mempunyai tujuan institusional

     yang dijabarkan dari dan menuju ke tujuan umum pendidikan.

  3) Tujuan Kurikuler (Tujuan Bidang Studi/ Mata Pelajaran)

     Tujuan kurikuler adalah penjabaran tujuan institusional yang berisi

     program-program pendidikan dalam kurikulum lembaga pendidikan.

  4) Tujuan Instruksional (Tujuan PBM)

     Tujuan instruksional merupakan tujuan yang terbawah dari jenis

     tujuan-tujuan di atas. Tujuan ini menyangkut tujuan yang hendak

     kita capai dalam kegiatan pendidikan kita sehari-hari.

b. Bahan Pembelajaran

             Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:50),

  bahan pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam

  proses belajar mengajar.

             Menurut Hibana S. Rahman (2002:77-79), ada beberapa

  kriteria untuk menentukan bahan dan perlengkapan belajar anak usia

  dini, antara lain:

  1) Relevan dengan kondisi anak

     Artinya bahan dan perlengkapan yang disediakan sesuai dengan

     karakteristik dan kebutuhan anak.

  2) Berwarna dan atraktif

     Bahan yang berwarna, apalagi dengan warna yang mencolok akan

     mengundang anak untuk memegang dan menggerakkannya.

  3) Sederhana dan kongkrit



                               xlii
     Bahan dan perlengkapan belajar anak bukanlah yang rumit dan sulit,

     melainkan sederhana, jelas, dan kongkrit di mata anak.

  4) Eksploratif dan mengundang rasa ingin tahu

     Bahan dan perlengkapan yang tersedia dapat dieksplorasi oleh anak,

     karena sifat dasar anak adalah ingin tahu dan selalu ingin mencoba.

  5) Berkait dengan aktivitas keseharian anak

     Anak tumbuh dan berkembang bersama lingkungan yang ada. Segala

     yang dia lihat, dia dengar dan dia rasakan, ingin ditiru dan diulang.

     Oleh karena itu bahan dan perlengkapan belajar anak diupayakan

     untuk sesuai dan berkait dengan aktivitas keseharian anak.




  6) Aman dan tidak membahayakan

     Bahan dan perlengkapan belajar anak harus aman dari segi bahan,

     bentuk, dan pewarna yang digunakan. Dengan demikian tidak

     membahayakan bagi anak untuk bereksplorasi dengan alat tersebut.

  7) Bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan

     Bahan dan perlengkapan belajar dipilih yang dapat memberikan

     manfaat   bagi   pengembangan      kemampuan      anak       dan   juga

     mengandung nilai pendidikan yang positif.

c. Kegiatan Belajar Mengajar




                              xliii
           Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:51),

kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan.

Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam

proses belajar mengajar.

           Pembelajaran dalam TPA disusun sedemikian rupa sehingga

menyenangkan, gembira, dan demokratis sehingga menarik anak untuk

terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. Bermain merupakan salah

satu kegiatan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak.

           Menurut Bergen (1988), bermain dalam tatanan sekolah

dapat digambarkan sebagai suatu rentang rangkaian kesatuan yang

berujung pada bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan berakhir

pada bermain dengan diarahkan (dalam Soemiarti Patmonodewo,

2003:102-103).



           Pada TPA, bermain bebas dapat didefinisikan sebagai suatu

kegiatan bermain di mana anak mendapat kesempatan melakukan

berbagai   pilihan   alat dan     mereka   dapat memilih   bagaimana

menggunakan alat-alat tersebut.

           Kegiatan bermain dengan bimbingan, pengasuh TPA

memilih alat permainan dan diharapkan anak-anak dapat memilih guna

menemukan suatu konsep (pengertian tertentu). Apabila tujuannya

melakukan klasifikasi benda dalam ukuran tertentu (besar/ kecil), maka




                            xliv
  pengasuh TPA akan menyediakan sejumlah mainan yang dapat

  diklasifikasikan dalam kelompok yang berukuran besar atau yang kecil.

             Dalam bermain yang diarahkan, pengasuh TPA mengajarkan

  bagaimana cara menyelesaikan suatu tugas yang khusus. Menyanyikan

  suatu lagu, bersama bermain jari dan bermain dalam lingkaran adalah

  contoh dari bermain yang diarahkan.

d. Metode

             Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:53),

  metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan

  yang ditetapkan.

             Menurut Slamet Suyanto (2003:162), metode pembelajaran

  untuk anak usia dini hendaknya menantang, menyenangkan, melibatkan

  unsur bermain, bergerak, bernyanyi, dan belajar.

             Menurut Hibana S. Rahman (2002:76), secara teknis ada

  beberapa metode yang tepat untuk diterapkan pada anak usia dini,

  antara lain:

  1) Bermain

                 Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan

     atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau

     memberikan       informasi,         memberikan   kesenangan   maupun

     mengembangkan imajinasi pada anak (Anggani Sudono, 2000:1).

                 Pengertian lainnya, bermain adalah tahap awal dari proses

     panjang belajar pada anak-anak yang dialami oleh semua manusia



                                   xlv
  (Kak Seto, 2004:54). Melalui bermain yang menyenangkan anak

  menyelidiki dan memperoleh pengalaman yang kaya baik dengan

  dirinya sendiri, lingkungan maupun orang lain disekitarnya. Dalam

  hal ini anak dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman dan

  kemampuan kognitifnya untuk menyusun kembali ide-idenya.

2) Bercerita

               Menurut Hibana S. Rahman (2002:89-90), cerita adalah

  penggambaran tentang sesuatu secara verbal. Bercerita merupakan

  suatu stimulan yang dapat membangkitkan anak terlibat secara

  mental. Melalui bercerita, anak diajak berkomunikasi, berfantasi,

  berkhayal, dan mengembangkan kognisinya.

               Penerapan kegiatan bercerita dapat dilakukan dengan

  berbagai bentuk, seperti: 1) Bercerita tanpa alat peraga, hanya

  mengandalkan kemampuan verbal orang yang memberikan cerita; 2)

  Bercerita dengan menggunakan alat peraga, seperti boneka, gambar-

  gambar, dan benda lain; 3) Bercerita dengan cara membaca buku

  cerita (story reading); 4) Bercerita dengan menggunakan bahasa

  isyarat atau gerakan; 5) Bercerita melalui alat pandang dengar (audio

  visual aids), yaitu dapat berupa kaset, televisi, video, dan

  sebagainya.

3) Bernyanyi

               Melalui nyayian dan musik, kemampuan apresiasi anak

  akan berkembang dan melalui nyanyian anak dapat mengekspresikan



                            xlvi
  segala pikiran dan isi hatinya. Menyayi merupakan bagian dari

  ungkapan emosi.

              Menurut Hibana S. Rahman (2002:93), bernyanyi dapat

  dilakukan dengan berbagai bentuk seperti: 1) Bernyanyi pasif,

  artinya anak hanya mendengarkan suara nyanyian atau musik dan

  menikmatinya tanpa terlibat secara langsung kegiatan bernyanyi; 2)

  bernyanyi aktif, artinya anak melakukan secara langsung kegiatan

  bernyanyi, baik dilakukan sendiri, mengikuti atau bersama-sama.

4) Bercakap (dialog dan tanya jawab)

              Menurut Kak Seto (2004:66), mengkondisikan agar anak

  dapat sering dan rajin bertanya sangat penting dilakukan karena

  bertanya disebabkan rasa ingin tahu dan ini merupakan bagian dari

  pikiran yang terus menyelidiki. Hal ini harus dengan perasaan

  gembira, misalnya dengan terlebih dahulu mengajak anak untuk

  bernyanyi     dengan    memperagakan      gerakan-gerakan     tubuh.

  Pertanyaan-pertanyaan diajukan untuk memancing dialog yang

  berasal dari kegiatan si anak sehari-hari, seperti mandi, gosok gigi,

  makan pagi, dan lain-lain.

5) Bermain peran (sosio-drama)

              Bermain drama, merupakan bentuk bermain aktif dimana

  anak melalui suatu perilaku dan bahasa yang jelas berhubungan

  dengan benda-benda atau situasi seolah-olah hal tersebut memiliki

  atribut yang lain daripada sebenarnya. Misalnya seorang anak yang



                           xlvii
     bermain dengan benda-benda mainannya seolah-olah merupakan

     orang-orang atau hewan yang sesungguhnya. Mereka bereaksi

     terhadap benda-benda tersebut dengan cara yang ditiru dari

     pengamatan terhadap lingkungan sekelilingnya.

e. Alat/ Media Belajar

            Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:54),

  alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka

  mencapai tujuan pengajaran.

            Menurut Slamet Suyanto (2003:161), media belajar anak usia

  dini pada umumnya adalah alat permainan. Perlu adanya perbedaan

  yang jelas antara alat peraga dan alat permainan. Alat peraga berfungsi

  untuk menerangkan atau memperagakan suatu mata pelajaran dalam

  proses “belajar-mengajar”. Sedangkan pada alat permainan, anak aktif

  mengadakan eksplorasi walaupun tidak menutup kemungkinan mereka

  akan meggunakannya untuk bermain.

  Alat permainan dari lingkungan

               Alat-alat permainan yang diperlukan dalam proses

     pengembangan     diri   dapat     dipilih    sesuai dengan     kebutuhan

     individual, kelompok kecil maupun kelompok besar. Dilihat dari

     tempat asal pengadaan alat permainan, pengasuh TPA dapat

     mengambilnya     dari    lingkungan         alam   sekitar   anak,   baik

     lingkungannya di pedesaan maupun di perkotaan.




                              xlviii
            Di pedesaan, lingkungan alam penuh dengan alat

  permainan seperti biji-bijian, batu-batuan, bermacam-macam daun,

  bahan mainan yang terbuat dari tanah liat, dan sebagainya.

            Di perkotaan, banyak tempat penjualan bahan bangunan,

  toko-toko kelontong, pasar maupun tempat makan dan minum,

  supermarket, toko besi, pasar induk, grosir, dan lain-lain. Alat

  permainan dari tempat-tempat tersebut terdiri atas benda-benda yang

  sebenarnya dan bukan tiruan atau miniaturnya sehingga anak akan

  sangat menyukainya karena merasa seperti dalam kehidupan yang

  sebenarnya. Misalnya dari toko besi didapatkan: karet gelang,

  cantolan-cantolan, penggaris, kertas ampelas, dan lain-lain. Dari toko

  makanan dan kue dikumpulkan: gelas-gelas plastik bekas, cup es

  krim dan sendoknya, piring kertas, biskuit huruf, dan lain-lain.

  Selain barang-barang dari tempat-tempat tersebut di atas, ada bahan-

  bahan yang dapat diperoleh dari lingkungan alam seperti: air, pasir,

  tanah, hasil pepohonan, tanaman, hasil yang dikumpulkan dari

  tempat-tempat seperti pantai, daerah pegunungan, dan sebagainya

  (Mayke S. Tedjasaputra, 2003:75-77).

Alat Permainan Edukatif (APE)

            Selain hal tersebut di atas, ada juga alat permainan

  edukatif, yaitu alat permainan yang dirancang secara khusus untuk

  kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu:




                            xlix
     a) Dapat digunakan dalam berbagai cara, maksudnya dapat

        dimainkan dengan bermacam-macam tujuan, manfaat, dan

        menjadi bermacam-macam bentuk.

     b) Ditujukan terutama untuk anak-anak usia prasekolah dan

        berfungsi   mengembangkan        berbagai    aspek    perkembangan

        kecerdasan serta motorik anak.

     c) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun

        penggunaan cat.

     d) Membuat anak terlibat secara aktif.

     e) Sifatnya konstruktif.

     (dalam Mayke S. Tedjasaputra, 2003:81).

f. Sumber Belajar

            Menurut     Udin    Saripuddin      Winataputra   dan   Rustana

  Ardiwinata (1991:165) dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain

  (2002:55), sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu

  yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran

  terdapat atau asal untuk belajar seseorang.

            Menurut Slamet Suyanto (2003:160), sumber belajar

  merupakan tempat di mana anak dapat memperoleh informasi, sikap,

  dan keterampilan yang ia pelajari.

            Menurut Anggani Sudono (2000:11-14), ada beberapa

  macam sumber belajar antara lain:

  Tempat sumber belajar alamiah



                                 l
  Sumber belajar yang dapat berupa tempat yang sebenarnya di mana

  anak mendapatkan informasi langsung, seperti kantor pos, kantor

  polisi, pemadam kebakaran, sawah, peternakan, hutan, perkapalan,

  atau lapangan udara. Tempat-tempat tersebut mampu memberikan

  informasi secara langsung dan alamiah.

Perpustakaan

  Perpustakaan memiliki fungsi sebagai “jantung sekolah”, karena

  didalamnya berisi berbagai informasi yang dapat membantu setiap

  orang yang menggunakannya untuk mengembangkan diri. Berbagai

  ensiklopedi, buku-buku dengan beragam tema dapat dikumpulkan

  dan ditata rapi di ruang perpustakaan.

Nara sumber

  Para tokoh dan ahli diberbagai bidang merupakan salah satu sumber

  belajar yang dapat diandalkan karena biasanya mereka memberikan

  informasi berdasarkan penelitian dan pengalaman mereka. Dengan

  demikian diharapkan para siswa dapat melatih kemahiran mereka

  dalam berbahasa melalui wawancara dan berkomunikasi dengan para

  nara sumber.

Media cetak

  Termasuk didalamnya bahan cetak, buku, majalah, atau tabloid.

  Gambar-gambar yang ekspresif dapat memberi kesempatan anak

  menggunakan nalar dan mengungkapkan pikirannya dengan

  menggunakan kosa kata yang semakin hari semakin berkembang.



                             li
     Perkembangan media elektronik khususnya televisi akan menambah

     pengetahuan anak terutama dari segi visualisasi.

  Alat peraga

     Alat peraga berfungsi untuk menerangkan atau memperagakan suatu

     mata pelajaran dalam proses “belajar-mengajar”.

g. Evaluasi

              Menurut Wayan Nurkancana dan P. P. N Sumartana (1983:1)

  dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:58), evaluasi

  pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses

  untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan

  dunia pendidikan.

              Menurut Slamet Suyanto (2003:224), penilaian pada anak

  usia dini hendaknya lebih didasarkan atas kemajuan belajar atau

  pengembangan individual. Karena itu bentuk penilaian di mana anak

  dibandingkan dengan anak yang lain menjadi kurang bermakna.

  Pendidik harus mau menganggap bahwa semua anak, apapun

  kondisinya, adalah siswanya yang harus dikembangkan secara optimal

  sesuai dengan kapasitas masing-masing.

              Keterangan-keterangan mengenai masing-masing siswa akan

  dicatat secara periodik dan teratur serta sistematis. Keterangan tersebut

  meliputi kemampuan anak, pertumbuhan dan perkembangan anak, hasil

  pekerjaan anak, keterangan yang berupa hasil observasi, penilaian diri

  dari masing-masing anak, checklist, dan sebagainya.



                                lii
                   Menurut Soemiarti Patmonodewo (2003:151), memberikan

         laporan tentang anak kepada orang tuanya adalah bagian dari tugas

         pendidik. Bentuk pemberian laporan kepada orang tua, antara lain

         dengan cara melakukan konferensi, dengan memberikan rapor,

         pembicaraan melalui telepon atau pembicaraan yang santai.

                   Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman

         Penitipan Anak (2001:15), penilaian pendidikan di TPA dilaksanakan

         setiap empat bulan sekali (caturwulan) dan prosesnya didasarkan pada

         pencapaian    perkembangan          anak.   Penilaian   berupa   “laporan

         perkembangan anak” dalam bentuk uraian tentang perkembangan anak

         yang telah dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang

         tua dalam waktu tertentu. Dasar penilaian mengacu pada hasil karya

         dan kegiatan anak selama proses pendidikan secara kontinu.




Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care

   1. Pengertian TPA

                 Dari hasil rapat koordinasi “Usaha Kesejahteraan Anak”
      Departemen Sosial Republik Indonesia, dikemukakan pengertian Taman
      Penitipan Anak (TPA) dalam Soemiarti Patmonodewo (2003:77), sebagai
      berikut:
                 “Lembaga sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak
                 balita yang dikhawatirkan akan mengalami hambatan dalam
                 pertumbuhannya, karena ditinggalkan orang tua atau ibunya
                 bekerja. Pelayanan ini diberikan dalam bentuk peningkatan gizi,
                 pengembangan intelektual, emosional dan sosial”.



                                      liii
              TPA adalah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan
  pelayanan pengganti berupa asuhan, perawatan, dan pendidikan bagi anak
  balita selama anak balita tersebut ditinggal bekerja oleh orang tuanya
  (Hibana S. Rahman, 2002:59).
              Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (1990), day care adalah
  sarana pengasuhan anak dalam kelompok, biasanya dilakukan pada saat
  jam kerja. Day care merupakan upaya yang terorganisasi untuk mengasuh
  anak di luar rumah mereka selama beberapa jam dalam satu hari bilamana
  asuhan orang tua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap. Dalam hal ini,
  day care hanya sebagai pelengkap terhadap asuhan orang tua dan bukan
  sebagai pengganti asuhan orang tua (dalam Soemiarti Patmonodewo,
  2003:77).
              Jadi TPA adalah salah satu bentuk organisasi program PAUD
  yang memberikan pelayanan kepada anak balita dalam bentuk peningkatan
  gizi, pengembangan intelektual, emosional, dan sosial yang dilakukan
  selama beberapa jam dalam satu hari bilamana asuhan orang tua kurang
  dapat dilaksanakan secara lengkap.
2. Jenis Pelayanan TPA

              Dari pengertian TPA di atas, jelas bahwa secara umum
  pelayanan TPA adalah memberikan pengasuhan kepada anak balita. Selain
  itu anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan.
              Jenis pelayanan yang harus diberikan baik pelayanan langsung
  maupun tidak langsung berlandaskan pada Undang-undang No. 4 Tahun
  1979 tentang Kesejahteraan Anak, pada pasal 1 ayat 1b dan pasal 2 ayat 2
  (dalam Catur Sri Sapanta, 2003:27). Adapun isi dari kedua pasal tersebut
  adalah bahwa anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan, dan
  bimbingan untuk mengembangkan kemampuan serta kehidupan sosialnya
  sesuai dengan kepribadian bangsa agar menjadi warga negara yang baik.
              Berdasarkan hal tersebut di atas, jenis pelayanan di TPA
  meliputi: perawatan, asuhan, bimbingan, dan kebutuhan pokok anak
  seperti: makanan, tempat tinggal, serta pakaian.

                                    liv
a. Perawatan

  Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk

  perawatan fisik, perbaikan hubungan social, disiplin anak, dan sarana

  serta prasarana untuk kepentingan anak.




b. Asuhan

  Asuhan diberikan dalam bentuk pemberian makan, pakaian, dan

  penciptaan kelompok.

c. Bimbingan

  Bimbingan     dimaksudkan     untuk       mengembangkan   kecerdasan

  (intelegensi) dan kepribadian anak melalui permainan.

d. Makanan (Food)

  Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk

  pemberian makanan secukupnya sesuai dengan martabat dan standart

  pemenuhan gizi seimbang.

e. Tempat Tinggal (Shelter)

  Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk

  penyediaan lingkungan tempat tinggal sesuai dengan standart kesehatan

  rumah (layak huni).

f. Pakaian (Clothing)

  Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk

  pemberian pakaian yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.



                               lv
g. Kesehatan (Health)

  Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk

  penyediaan fasilitas kesehatan, akses terhadap pelayanan kesehatan, dan

  kemampuan berobat.




h. Pendidikan (Education)

  Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk

  pendidikan anak dalam keluarga, sosialisasi, dan disiplin keluarga.

          Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman
Penitipan Anak (2001:4), standar pelayanan minimal harus
mempergunakan Kurikulum Program Pendidikan pada Taman Penitipan
Anak yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, memiliki
tempat pendidikan, memiliki sarana pendidikan minimal sesuai dengan
daftar Sarana Pendidikan Minimal Taman Penitipan Anak, memiliki
tenaga kependidikan (guru/ pendidik) dan tenaga pengasuh/ perawat
dengan kualifikasi sebagai berikut:
a. Persyaratan Guru/ Pendidik

  Berpendidikan SPG/ SPGTK.

  Berpendidikan minimal tamat Sekolah Menengah Umum (SMU) atau

     sederajat, dan memiliki keterampilan khusus tentang PAUD.

  Sehat jasmani dan rohani.

b. Persyaratan Pengasuh/ Perawat

  1) Berpendidikan minimal tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

     (SLTP) atau sederajat.



                                lvi
  2) Sehat jasmani dan rohani.

  3) Berpendidikan atau memiliki keterampilan di bidang perawatan dan

     pengasuhan anak (Pramubalita).

  4) Bertempat tinggal di sekitar Taman Penitipan Anak.

         Standar pelayanan minimal Pendidikan Anak Usia Dini pada
Taman Penitipan Anak, sebagai berikut:
a. Kebutuhan Pokok Anak

            Kebutuhan pokok anak yaitu makanan pokok, gizi, dan
  istirahat. Standar pelayanan untuk makanan pokok anak antara lain:
  1) Pemberian makanan/ minuman membutuhkan sarana seperti: Piring,

     sendok, gelas, dacin, KMS, dan register.

  2) Pemberian Paket Pertolongan Gizi membutuhkan sarana seperti:

     Vitamin A, Sirup Fe, dan Kapsul Yodium.

  3) PMT Penyuluhan membutuhkan sarana yaitu Buku Pedoman

     Pembuatan Makanan Lokal.

  4) PMT Pemulihan membutuhkan sarana seperti: Home Economi Sets,

     Paket PMT, dan Blended Food.

            Standar pelayanan untuk gizi antara lain:
  1) Penyuluhan Gizi membutuhkan sarana yaitu Modul Simulasi

     Posyandu.

  2) ASI Eksklusif membutuhkan sarana yaitu Buku Pedoman Kader

     Posyandu.

  3) Penyuluhan Gizi Seimbang membutuhkan sarana seperti: Poster,

     leaflet, dan lembar balik.



                                  lvii
                     Standar pelayanan untuk istirahat adalah tidur yang
         membutuhkan sarana yaitu perlengkapan tidur.


                     Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini:

             No.    Komponen           Standar Pelayanan                 Sarana
              1.   Makanan        a. Pemberian makanan/           Piring, sendok,
                   Pokok             minuman;                     gelas, dacin, KMS,
                                                                  register.
                                  b. Pemberian Paket              Vitamin A, Sirup Fe,
                                     Pertolongan Gizi;            Kapsul Yodium.
                                  c. PMT Penyuluhan; dan          Buku Pedoman
                                                                  Pembuatan Makanan
                                                                  Lokal.
                                  d. PMT Pemulihan.               Home Economi Sets,
                                                                  Paket PMT, Blended
                                                                  Food.
             2.    Gizi           a. Penyuluhan Gizi;             Modul Simulasi
                                                                  Posyandu.
                                  b. ASI Eksklusif; dan           Buku Pedoman
                                                                  Kader Posyandu.
                                  c. Penyuluhan Gizi Seimbang.    Poster, leaflet,
                                                                  lembar balik.
             3.    Istirahat      Tidur.                          Perlengkapan tidur.
         Tabel 2.1: Kebutuhan Pokok Anak (dalam Pedoman Penyelenggaraan
                    Pendidikan pada Taman Penitipan Anak, 2001:17)

         Pemberian Makanan pada Bayi
                     Pelayanan pemberian makanan pada bayi harus disesuaikan
         dengan usia bayi tersebut. Jenis makanan untuk anak berusia 1-4 bulan
         adalah ASI. Jenis makanan untuk anak berusia 5 bulan adalah ASI dan
         buah. Jenis makanan untuk anak berusia 6 bulan adalah ASI, buah,
         bubur dan TIM. Jenis makanan untuk anak berusia 7-12 bulan adalah
         ASI, buah, dan TIM.
                     Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini:
 Umur/   1    2 3 4        5      6          7      8      9      10      11        12
 Bulan
 Jenis   A A A A ASI             ASI       ASI     ASI    ASI    ASI     ASI       ASI
 Makan   S S S S Buah           Buah       Buah    Buah   Buah   Buah    Buah      Buah
 an                             Bubur      Tim     Tim    Tim    Tim     Tim       Tim
         I I I I                 Tim
Tabel 2.1a: Pemberian Makanan pada Bayi (dalam Pedoman Penyelenggaraan
             Pendidikan pada Taman Penitipan Anak, 2001:22)



                                           lviii
b. Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak

            Pelayanan perawatan kesehatan anak dapat dilakukan dengan

  cara sebagai berikut:

  1) Promotif: Cara merawat bayi di rumah

    Standar pelayanannya antara lain: menjaga bayi tetap hangat,

    memberikan ASI dini dan Eksklusif, mencegah infeksi, mengenali

    tanda bahaya pada bayi, memelihara kebersihan diri, dan memelihara

    kebersihan lingkungan anak. Sarana yang dibutuhkan adalah Buku

    KIA (Kesejahteraan Ibu dan Anak), Modul TN BBLR (Pegangan

    bagi Tenaga Kesehatan), Buku pegangan Kader Kesehatan, dan

    Materi penyuluhan tentang pencegahan dan penenganan hipotermi

    bayi, ASI Eksklusif, cara pemberian makanan pada bayi.

  2) Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak

    Standar pelayanannya antara lain: mengenali secara dini

    penyimpangan perkembangan serta mengenali cara stimulasi dan

    intervensi. Sarana yang dibutuhkan adalah Buku Pedoman

    Pemantauan Perkembangan Anak di tingkat keluarga, Lembar balik

    poster, dan leaflet Tahapan Perkembangan Anak.

  3) Penanggulangan Kecelakaan

    Standar pelayanannya antara lain: Pencegahan serta penanggulangan

    kecelakaan dan cidera. Sarana yang dibutuhkan adalah Buku

    Pedoman Penanggulangan Kecelakaan dan Cidera pada Usia Balita

    di rumah tangga.



                              lix
4) Preventif

   Standar pelayanannya antara lain: Imunisasi lengkap pada bayi dan

   anak, imunisasi TT pada ibu hamil, pemberian obat cacing,

   pemeriksaan gigi dan mulut, pemeriksaan tubuh, dan Pemberian

   vitamin A, B Komplek.

5) Kuratif

   Standar pelayanannya antara lain: Pertolongan Pertama pada

   Kecelakaan (P3K) dan Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P).

   .Sarana yang dibutuhkan adalah obat-obat P3K, kotak obat,

   tensoplast, gunting, obat merah, kapas, providon iqdine, dan verban.

   Obat-obatan P3P seperti: obat turun panas, obat batuk putih, oralit,

   gentian violet, salep hitam (Iontiol), Salep 2-4/ salep 88, dan Tetes

   mata.

             Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini:

 No.    Komponen              Standar Pelayanan                   Sarana
 1.    Promotif: Cara    a. Menjaga bayi tetap         Buku KIA (Kesejahteraan
       merawat bayi         hangat;                    Ibu dan Anak); Modul TN
       di rumah          b. Memberikan ASI dini        BBLR (Pegangan bagi
                            dan Eksklusif;             Tenaga Kesehatan); Buku
                         c. Mencegah infeksi;          pegangan Kader Kesehatan;
                         d. Mengenali tanda bahaya     dan Materi penyuluhan
                            pada bayi;                 tentang pencegahan dan
                         e. Memelihara kebersihan      penenganan hipotermi bayi,
                            diri;                      ASI Eksklusif, cara
                         f. Memelihara kebersihan      pemberian makanan pada
                            lingkungan anak.           bayi.
  2.   Promotif:         a. Mengenali secara dini      Buku Pedoman Pemantauan
       Deteksi dini         penyimpangan               Perkembangan Anak di
       pertumbuhan          perkembangan;              tingkat keluarga; dan
       dan               b. Mengenali cara stimulasi   Lembar balik poster dan
       perkembangan         dan intervensi.            leaflet Tahapan
       anak                                            Perkembangan Anak.

  3.   Penanggulang      Pencegahan serta              Buku Pedoman
       an Kecelakaan     penanggulangan                Penanggulangan Kecelakaan


                                  lx
                          kecelakaan dan cidera.         dan Cidera pada Usia Balita
                                                         di rumah tangga.
  4.     Preventif        a. Imunisasi lengkap pada      Jadwal: Lihat tabel 2.2a.
                             bayi dan anak;
                          b. Imunisasi TT pada ibu
                             hamil;
                          c. Pemberian obat cacing;      Obat cacing 6 bulan sekali
                                                         dengan petunjuk dokter.
                          d. Pemeriksaan gigi dan        3 s.d 6 bulan sekali.
                             mulut;
                          e. Pemeriksaan tubuh;          1 minggu s.d 1 bulan sekali.
                          f. Pemberian vitamin A, B      1 minggu sekali secara
                             Komplek, C                  bergantian.
  5.     Kuratif          a. Pertolongan      Pertama    Obat-obat P3K, Kotak Obat,
                             pada          Kecelakaan    Tensoplast, Gunting, Obat
                             meliputi: luka lecet dan    merah, Kapas, Providon
                             luka bakar;                 Iqdine, Verban.
                          b. Pertolongan      Pertama    Obat-obatan P3P seperti:
                             pada Penyakit (P3P),        Obat turun panas, Obat
                             meliputi: panas/ demam,     batuk putih, Oralit, Gentian
                             batuk     pilek,   diare,   Violet, Salep hitam (Iontiol),
                             sariawan, infeksi kulit     Salep 2-4/ salep 88, Tetes
                             (koreng, bisul, kadas,      mata
                             kudis), dan mata merah.
Tabel 2.2: Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak (dalam Pedoman
            Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak,
            2001:18-19)

Jadwal Imunisasi pada Anak

             Jenis imunisasi anak usia 0 bulan adalah hepatitis B. Jenis

imunisasi anak usia 2 bulan adalah BCG. Jenis imunisasi anak usia 3

bulan adalah DPT I dan Polio. Jenis imunisasi anak usia 4 bulan adalah

DPT II dan Polio. Jenis imunisasi anak usia 5 bulan adalah DPT III dan

Polio. Jenis imunisasi anak usia 9 bulan adalah Campak. Jenis

imunisasi anak usia 12 bulan adalah DPT IV dan Polio. Jenis imunisasi

anak usia 15 bulan adalah MMR (Muasles, Mumps, Rubella). Jenis

imunisasi anak usia 5 tahun adalah DPT V dan Polio. Jenis imunisasi

anak usia lebih dari 5 tahun adalah HiB dan Varicella (Cacar).

             Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini:
        Usia                         Jenis Imunisasi
       0 bulan       Hepatitis B

                                   lxi
      2 bulan        BCG
      3 bulan        DPT I + Polio
      4 bulan        DPT II + Polio
      5 bulan        DPT III + Polio
      9 bulan        Campak/ meases
      12 bulan       DPT IV + Polio
      15 bulan       MMR (Muasles, Mumps, Rubella)
      5 tahun        DPT V + Polio
          -          HiB
          -          Varicella (Cacar)
  Tabel 2.2a: Jadwal Imunisasi pada Anak (dalam Pedoman
                  Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan
                  Anak, 2001:23)

c. Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

             Pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

  (PHBS) membutuhkan sarana Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS.

             Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini:

             Standar Pelayanan                         Sarana
   Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan   Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS
   Sehat (PHBS)
  Tabel 2.3: Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (dalam
             Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman
             Penitipan Anak, 2001:20)

d. Pendidikan Anak Usia Dini

             Standar pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini antara lain:

  1) Pembentukan perilaku: moral, agama, displin, perasaan/ emosi, dan

     kemampuan bermasyarakat.

  2) Pengembangan kemampuan dasar: berbahasa, daya pikir, daya cipta,

     keterampilan, dan jasmani.

             Sarana yang dibutuhkan dalam pelayanan ini adalah buku

  cerita, alat musik, radio, tape, TV, boneka, alat masakan, alat olah raga,

  sikat gigi, alat pertukangan, gelas minum, balok bangunan, puzzle, alat

  geometri, binatang mainan, kubus, kendaraan mainan, plastisin, alat-alat


                                  lxii
  menggambar, batu-batuan, alat meronce, gambar seri, biji-bijian, alat

  untuk menganyam.

             Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini:

      Komponen               Standar Pelayanan                       Sarana
   Pendidikan Anak    a. Pembentukan          Perilaku:   Buku cerita, alat musik,
   Usia Dini             Moral,     agama,     displin,   radio, tape, TV, boneka,
                         perasaan/     emosi,       dan   alat masakan, alat olah
                         kemampuan bermasyarakat.         raga, sikat gigi, alat
                      b. Pengembangan Kemampuan           pertukangan, gelas minum,
                         Dasar: Berbahasa, daya pikir,    balok bangunan, puzzle,
                         daya cipta, keterampilan, dan    alat geometri, binatang
                         jasmani.                         mainan, kubus, kendaraan
                                                          mainan, plastisin, alat-alat
                                                          menggambar, batu-batuan,
                                                          alat meronce, gambar seri,
                                                          biji-bijian, alat untuk
                                                          menganyam.
  Tabel 2.4: Pendidikan Anak Usia Dini (dalam Pedoman
                Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan
                Anak, 2001:20)

e. Layanan Bimbingan Sosial

             Pelayanan bimbingan sosial diberikan kepada orang tua.

  Pelayanan ini akan membantu orang tua dalam memantau pertumbuhan

  dan perkembangan anak usia dini. Standar pelayanan yang diberikan

  dapat berupa penyuluhan tentang:

  1) Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan - 6 tahun).

  2) Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan

     anak.

  3) Media interaksi (bermain, bercerita, menyanyi, menari).

  4) Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak.

  5) Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

  6) Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak.




                                  lxiii
                Sarana yang dibutuhkan dalam pelayanan ini adalah model

     penyuluhan, buku pedoman, buku cara penggunaan APE, kartu tumbuh

     kembang anak, booklet, leaflet, poster, dan APE.

                Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini:

         Komponen                Standar Pelayanan                     Sarana
      Pelayanan          Penyuluhan:                          Model penyuluhan,
      bimbingan sosial   a. Pertumbuhan dan perkembangan      buku pedoman, buku
      membantu              anak umum (3 bulan - 6 tahun);    cara penggunaan APE,
      pertumbuhan dan    b. Peranan orang tua dalam           kartu tumbuh kembang
      perkembangan          membina pertumbuhan dan           anak, booklet, leaflet,
                            perkembangan anak;                poster, dan APE.
                         c. Media      interaksi  (bermain,
                            bercerita, menyanyi, menari);
                         d. Cara merangsang pertumbuhan
                            dan perkembangan anak;
                         e. Pemantauan pertumbuhan dan
                            perkembangan anak;
                         f. Rujukan kelainan pertumbuhan
                            dan perkembangan anak.
     Tabel 2.5: Layanan Bimbingan Sosial (dalam Pedoman
                    Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan
                    Anak, 2001:21)

3. Strategi Pembelajaran TPA

   a. Pengertian Strategi Pembelajaran

                 Menurut Ensiklopedi Pendidikan, strategi adalah suatu seni

      yaitu seni membewa pasukan ke dalam medan tempur dalam posisi

      yang paling menguntungkan (dalam W. Gulo, 2002:2).

                 Dalam perkembangan selanjutnya strategi tidak lagi hanya

      seni, tetapi sudah merupakan ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari.

      Dengan demikian istilah strategi yang diterapkan dalam dunia

      pendidikan, khususnya dalam kegiatan belajar-mengajar adalah suatu

      seni dan ilmu untuk membawakan pengajaran di kelas sedemikian

      rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif

      dan efisien.

                                    lxiv
          T. Raka Joni mengartikan strategi belajar adalah pola dan

urutan umum perbuatan guru-murid dalam mewujudkan kegiatan

belajar-mengajar (dalam W. Gulo, 2002:2).

          Menurut J. R. David, strategi belajar-mengajar meliputi

rencana, metode, dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk

mencapai tujuan pengajaran tertentu (dalam W. Gulo, 2002:3).

          Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:

1) Strategi    belajar-mengajar   adalah    rencana   dan   cara-cara

   membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana

   dan segala tujuan dapat dicapai secara efektif.

2) Cara-cara membawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan

   umum perbuatan guru-murid dalam perwujudan kegiatan belajar-

   mengajar.

3) Pola dan urutan umum perbuatan guru dan murid itu merupakan

   suatu kerangka umum kegiatan belajar-mengajar yang tersusun

   dalam suatu rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah

   ditetapkan.

          Kadang-kadang strategi belajar-mengajar sering dikacaukan

dengan metode pengajaran. Strategi dapat diartikan sebagai rencana

kegiatan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode ialah cara untuk

mencapai sesuatu. Metode pengajaran termasuk dalam perencanaan

kegiatan atau strategi.




                            lxv
b. Strategi Pembelajaran TPA

             Strategi dapat diartikan sebagai rencana kegiatan untuk

   mencapai sesuatu. Strategi pembelajaran pada TPA dapat diartikan

   sebagai pola dan urutan umum perbuatan pendidik dan anak balita

   dalam mewujudkan kegiatan belajar-mengajar. Strategi pembelajaran

   pada TPA dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan.

             Dalam Buletin PADU Vol. 2 No. 2 (Agustus 2003:34),

   dituliskan:

      “Tahapan-tahapan kegiatan dalam mengelola proses pembelajaran
      adalah:
      1. Pembukaan, berupa kegiatan pengantar atau pemanasan proses
         pembelajaran yang berhubungan dengan tema, dengan kegiatan
         antara lain memusatkan perhatian anak melalui salam, berdoa
         dan/ atau bernyayi, serta bercakap-cakap dengan anak tentang
         tema yang akan diberikan pada hari itu.
      2. Kegiatan Inti, berupa kegiatan bermain yang dipilih sesuai
         dengan kemampuan yang hendak dicapai melalui: a) Kegiatan
         yang mengacu pada tema; b) Kegiatan bermain yang memberi
         kesempatan      kepada anak       untuk     bereksplorasi dan
         bereksperimen; c) Kegiatan yang meningkatkan konsep atau
         pengertian dan konsentrasi; d) Kegiatan yang dapat dipilih anak
         untuk memunculkan inisiatif, krativitas, dan kemandirian anak;
         e) Kegiatan yang dapat mengembangkan kebiasaan bekerja yang
         baik; dan f) Kegiatan yang dapat digunakan untuk membantu
         anak yang masih membutuhkan pertolongan dalam mencapai
         kemampuan yang hendak dicapai. Termasuk dalam kegiatan ini
         adalah kegiatan bermain bebas, dimana anak dibebaskan untuk
         bermain, di dalam maupun di luar ruangan dengan tetap dalam
         pengawasan guru/ pamong belajar.
      3. Istirahat/ makan, yang biasanya berkaitan dengan kegiatan
         makan bersama dengan melatihkan kebiasaan makan yang benar
         dan/ atau dimanfaatkan untuk kegiatan bermain bebas dalam
         pengawasan guru/ tutor.
      4. Penutup, yang diisi dengan kegiatan yang bersifat menenangkan
         anak disamping menyimpulkan kegiatan hari itu. Kegiatan yang
         dapat dilakukan pada tahapan ini antara lain membacakan cerita,
         apresiasi seni, dan ditutup dengan kegiatan menyanyi, berdoa,
         dan salam.”

                             lxvi
4. Model Pendidikan dan Pengasuhan TPA

   a. Model Pendidikan TPA

      1) Program Pendidikan

        Program pendidikan yang dipergunakan adalah Kurikulum

        Program Pendidikan pada Taman Penitipan Anak yang diterbitkan

        oleh Departemen Pendidikan Nasional. Selain itu lembaga Taman

        Penitipan Anak dapat melaksanakan program pendidikan yang

        dibuat sendiri oleh lembaga sesuai dengan kebutuhan setempat.

        Baik program pendidikan yang diterbitkan oleh Departemen

        Pendidikan Nasional maupun yang dibuat sendiri oleh lembaga

        harus    dituangkan   dalam     sebuah   rencana   tahunan   yang

        mengintergasikan keduanya.

      2) Prinsip-prinsip Pendidikan

                 Program pendidikan dibangun berdasarkan prinsip-prinsip

        pendidikan anak secara tepat, bertahap, berulang, dan terpadu.

        Bertahap adalah mengikuti tahapan perkembangan usia anak

        (developmentally apropriate practice) usia 3 bulan s.d 3 tahun dan

        untuk 3 tahun s.d 4 tahun. Berulang artinya latihan/ stimulasi

        diberikan secara berulang-ulang (anak memerlukan pengulangan

        dalam belajar). Terpadu adalah mengintegrasikan seluruh aspek

        pengembangan anak (pembentukan perilaku melalui pembiasaan

        dan pengembangan kemampuan dasar).




                                lxvii
            Program pendidikan disesuaikan dengan usia, minat,

  kemampuan, bakat, dan tingkat perkembangan yang berbeda-beda

  pada setiap anak secara individual.

            Program pendidikan menekankan proses interaksi dengan

  orang dewasa, teman sebaya, dan benda-benda sekitarnya.

            Program pendidikan dikembangkan untuk memberikan

  kesempatan anak untuk berpartisipasi aktif melalui kegiatan

  permainan (menyentuh, mengenal, dan mencoba benda-benda).

            Program pendidikan memberikan pengalaman nyata bagi

  anak sehingga anak termotivasi dan memperoleh pengalaman

  belajar bermakna.

3) Proses Pendidikan

  Proses pendidikan dalam satu hari minimal 2 (dua) jam @ 45 menit

  atau disesuaikan dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi anak.

  Proses pendidikan dalam satu minggu minimal 3 (tiga) kali

  pertemuan atau dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan,

  situasi, dan kondisi anak.

4) Pengelolaan Proses Pendidikan

  Kegiatan yang dilakukan dalam mengelola proses bermain sambil

  belajar    adalah    perumusan    tujuan   program   pendidikan,

  mengarahkan proses pendidikan, penggunaan metode yang tepat,

  dan perumusan pencapaian kompetensi.




                          lxviii
  5) Metode Pendidikan

             Metode pokoknya adalah bermain yang merupakan

     metode Pendidikan Anak Usia Dini. Pemilihan metode bermain

     dimaksudkan untuk menarik minat anak menuju ke arah belajar.

             Selain itu ada metode pelengkap antara lain: metode

     latihan, bercerita atau mendongeng, nyanyian, piknik/ wisata,

     penugasan, dan bermain peran.

  6) Penyiapan Sarana Pendidikan

     Sarana pendidikan disiapkan sesuai dengan tema. Sarana yang

     digunakan dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitarnya.

  7) Penilaian Pendidikan

     Penilaian pendidikan dilaksanakan setiap empat bulan sekali

     (caturwulan)   dan     prosesnya   didasarkan   pada   pencapaian

     perkembangan anak. Penilaian berupa “laporan perkembangan

     anak” dalam bentuk uraian tentang perkembangan anak yang telah

     dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang tua

     dalam waktu tertentu. Dasar penilaian mengacu pada hasil karya

     dan kegiatan anak selama proses pendidikan secara kontinu.

b. Model Pengasuhan TPA

            Model pengasuhan TPA ada dua yaitu pelayanan langsung

  dan tidak langsung. Model pelayanan langsung menurut Pedoman

  Kesejahteraan Sosial Anak Usia Dini (1998:12) adalah pelayanan

  yang diberikan langsung kepada anak usia dini atau keluarga untuk



                              lxix
memenuhi kebutuhan dasar anak dan terwujudnya hak-hak asasi anak

(dalam Catur Sri Sapanta, 2003:25). Model pelayanan langsung ini

dapat diselenggarakan sebagai:

1) Pelayanan Pengganti Keluarga (Subtitute)

  Pelayanan pengganti keluarga diberikan kepada anak usia dini yang

  dikarenakan orang tua atau keluarganya tidak lagi mampu

  memberikan pelayanan dan memenuhi kebutuhan anaknya, baik

  secara sementara ataupun peranan selamanya.

2) Pelayanan Tambahan (Suplement)

  Pelayanan tambahan diberikan kepada anak usia dini sebagai

  pelayanan tambahan atas pelayanan yang telah diberikan orang tua

  atau keluarganya. Pelayanan tambahan diberikan kepada anak

  dalam upaya menunjang perkembangan anak.

3) Pelayanan Penguat Fungsi Keluarga (Supertive)

  Pelayanan ini diberikan kepada orang tua atau keluarga melalui

  lembaga bantuan informasi, ekonomi, maupun bantuan sosial.

  Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan orang tua atau

  keluarga dalam memberikan pelayanan kepada anak usia dini.

  Pelayanan ini dilakukan dalam program-program pelayanan seperti

  Bina Keluarga Balita (BKB) dan konsultasi keluarga.

4) Pelayanan Perlindungan (Protective)

  Pelayanan perlindungan diberikan kepada anak usia dini yang

  dirawat oleh keluarganya sendiri atau keluarga pengganti dan



                          lxx
      pengasuh agar anak terjamin, terlindungi dari tindakan serta situasi

      yang memberikan kebahagiaan anak.

              Sedangkan model pelayanan tidak langsung adalah segala

   upaya yang diarahkan kepada penciptaan dan perbaikan sistem

   pelayanan anak usia dini.

              Dari pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa

   pelayanan langsung itu dapat dirasakan oleh anak dan pelayanan

   langsung tersebut sebagai pelayanan pengganti keluarga, tambahan,

   memperkuat fungsi keluarga, dan perlindungan. Sedangkan pelayanan

   tidak langsung yaitu hal-hal yang mendukung pelayanan langsung

   seperti    analisis    kebijakan,      penataan      administrasi,      penataan

   manajemen, dan sistem informasi pelayanan.

c. Matrik Model Pendidikan dan Pengasuhan TPA

              Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini:

                  Model Pendidikan TPA                         Model Pengasuhan
                                                                     Anak
    1. Program Pendidikan                                    1. Model Pelayanan
       a. Sesuai dengan Kurikulum Program Pendidikan            Langsung
          pada TPA yang diterbitkan oleh Departemen             Pelayanan
          Pendidikan Nasional.                                  pengganti keluarga,
       b. Lembaga TPA dapat melaksanakan program                tambahan, penguat
          pendidikan yang dibuat sendiri sesuai dengan          fungsi     keluarga,
          kebutuhan setempat.                                   dan perlindungan.
       c. Harus dituangkan dalam sebuah rencana tahunan      2. Model Pelayanan
          yang mengintergasikan keduanya.                       tidak Langsung
    2. Prinsip-prinsip Pendidikan                               Segala upaya yang
       a. Dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan       diarahkan kepada
          anak secara tepat, bertahap, berulang, dan            penciptaandan
          terpadu.                                              perbaikan sistem
       b. Disesuaikan dengan usia, minat, kemampuan,            pelayanan       bagi
          bakat, dan tingkat perkembangan anak.                 anak usia dini.
       c. Penekanannya pada proses interaksi dengan
          orang dewasa, teman sebaya, dan benda-benda
          sekitarnya.
       d. Dikembangkan untuk memberikan kesempatan
          anak untuk berpartisipasi aktif melalui kegiatan

                                  lxxi
             permainan (menyentuh, mengenal, dan mencoba
             benda-benda).
          e. Memberikan pengalaman nyata bagi anak.
       3. Proses Pendidikan
          a. Minimal 2 jam @ 45 menit per hari.
          b. Minimal 3 kali pertemuan per minggu.
          c. Disesuaikan dengan kebutuhan, situasi, dan
             kondisi anak.
       4. Pengelolaan Proses Pendidikan
          a. Merumuskan tujuan program pendidikan.
          b. Mengarahkan proses pendidikan.
          c. Menggunakan metode yang tepat.
          d. Merumuskan pencapaian kompetensi.
       5. Metode Pendidikan
          a. Metode Pokok: Bermain
          b. Metode Pelengkap: metode latihan, bercerita atau
             mendongeng,      nyanyian,      piknik/  wisata,
             penugasan, dan bermain peran.
       6. Penyiapan Sarana Pendidikan
          a. Disesuaikan dengan tema.
          b. Dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di
             sekitarnya.
       7. Penilaian Pendidiakan
          a. Setiap empat bulan sekali (caturwulan).
          b. Berdasarkan pada pencapaian perkembangan
             anak.
          c. Laporan perkembangan anak dalam bentuk
             uraian tentang perkembangan anak yang telah
             dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan
             kepada orang tua dalam waktu tertentu.
          d. Mengacu pada hasil karya dan kegiatan anak
             selama proses pendidikan secara kontinu.

      Tabel 2.6: Model Pendidikan dan Pengasuhan pada Taman Penitipan
                 Anak

5. Sistem Pengelolaan TPA

            Pengelolaan lembaga TPA pada prinsipnya terdapat dua
  pengertian yang berbeda yaitu:
  a. Sistem tertutup merupakan bagian yang tidak dipengaruhi dan tidak

     berinteraksi dengan lingkungan mereka; dan

  b. Sistem terbuka yaitu dimana lembaga mengakui adanya interaksi

     diantara bagian-bagian dalam sistem tersebut dengan lingkungan

     mereka.



                                     lxxii
          Relevansi pengelolaan dalam penyelenggaraan lembaga TPA
ialah mengikuti sistem terbuka, dengan sistem ini diharapkan adanya
kejelasan antara input, transformasi dan output yang menjadi target dari
lembaga, sehingga sangat memungkinkan lembaga dapat berkembang dan
diterima masyarakat disamping memudahkan dalam memberikan
pembinaan.
          Analisis penyelenggaraan TPA sebagai sistem organisasi
terbuka dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Masukan yang diperlukan:

  1) Bahan berkenaan dengan alat dan perlengkapan yang diperlukan

      dalam penyelenggaraan TPA antara lain: alat tulis kantor,

      perlengkapan, dan peralatan pendidikan.

  2) Sumber      daya    manusia       berkenaan     dengan   upaya     sebagai

      penyelengara      administrasi       dan   ketatausahaan,    pendidikan,

      perawatan, dan pengasuhan.

  3) Modal berkenaan dengan biaya-biaya yang diperlukan; honorarium,

      alat tulis kantor, perlengkapan, dan bahan-bahan lain yang

      diperlukan untuk penyelengaraan TPA.

  4) Teknologi       berkenaan     teknik-teknik    yang   diperiukan    untuk

      pembelajaran pada TPA seperti teknik dan metode pembelajaran

      Montesori, teknik dan metode Hanaika, teknik dan metode Al-Falah

      yang memadukan teknik dan metode belajar dan bernafaskan Islam,

      teknik dan metode High Scope.

  5) Informasi        berkenaan        dengan       penyelenggaraan      antara

      lain:   ijin    penyelenggaraan        TPA,     koordinasi   pembinaan



                                  lxxiii
      kelembagaan, dan penyelenggaraan pendidikan secara holistik

      antara kesehatan, gizi serta pendidikan, bagaimana lembaga tersebut

      dikenal oleh masyarakat luas, bagaimana menyelenggarakan TPA

      yang relevan dengan sasaran dan kebutuhan lingkungan setempat.

b. Trasformasi sebagai bentuk mengaktualisasikan kegiatan-kegiatan

  penyelenggaraan TPA melalui:

  1) Kegiatan keorganisasian berkaitan dengan sistem administrasi dan

      ketatausahaan maupun penyelenggaraan program pembelajaran

      yang dapat mengoptimalkan potensi peserta didik.

  2) Kegiatan       manajemen         berkaitan     dengan       perencanaan

      penyelenggaraan TPA, menyusun organisasi yang sesuai dengan

      kebutuhan lembaga, menentukan figur kepemimpinan serta

      melakukan     pengawasan        terhadap    sumber     daya      lembaga

      penyelenggaraan proses belajar, hasil yang dicapai, penentuan

      sumber pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan lembaga.

  3) Teknologi dan metode dalam penyelenggaraan TPA berkenaan

      dengan teknik dan metode pembelajaran yang akan diterapkan,

      sarana dan alat pendidikan yang digunakan.

c. Keluaran berkaitan dengan produk yang dihasilkan oleh lembaga TPA

  baik dalam bentuk catatan hasil belajar maupun karya dari proses

  pembelajaran tersebut, hasil yang bersifat manusiawi sebagaimana

  diaplikasikan    dalam   bentuk      perilaku   dan      interaksi    dengan

  lingkungannya.



                              lxxiv
      (online: www.plsp.go.id)



Anak Usia Dini

   1. Pengertian Anak Usia Dini

                  Anak adalah seorang individu yang unik dan akan berkembang
      sesuai dengan kemampuannya sendiri (Elizabeth G. Hainstock, 2002:4).
                  Anak Usia Dini (0-8 tahun) adalah individu yang sedang
      mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.
      Bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan. Usia dini dapat
      dikatakan sebagai usia emas (golden age) yaitu usia yang sangat berharga
      dibanding usia-usia selanjutnya (Hibana S. Rahman, 2002:32).
                  Usia prasekolah dimaksudkan sebagai usia dimana anak belum
      memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Dasar (SD).
      Biasanya mereka tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam
      berbagai bentuk lembaga pendidikan prasekolah seperti Kelompok
      Bermain, Taman Kanak-kanak atau Taman Pengasuhan Anak (Kak Seto,
      2004:31).
   2. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini

                  Menurut Hibana S. Rahman (2002:32-36), secara rinci
      karakteristik perkembangan anak usia dini sebagai berikut:
      a. Usia 0-1 tahun, beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan

        antara lain: 1) Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling,

        merangkak, duduk, berdiri, dan berjalan; 2) Mempelajari keterampilan

        menggunakan panca indera; 3) Mempelajari komunikasi sosial.

      b. Usia 2-3 tahun, beberapa karakteristik khusus yang dilalui anak usia ini

        antara lain: 1) Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada




                                      lxxv
     disekitarnya; 2) Anak mulai mengembangkan kemampuan berbahasa;

     3) Anak mulai belajar mengembangkan emosi.

   c. Usia 4-6 tahun, memiliki karakteristik antara lain: 1) Berkaitan dengan

     perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan; 2)

     Perkembangan bahasa semakin baik; 3) Perkembangan kognitif (daya

     pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar

     biasa terhadap lingkungan sekitar; 4) Bentuk permainan anak masih

     bersifat individu, bukan permainan sosial.

   d. Usia 7-8 tahun, karakteristik anak usia ini antara lain: 1)

     Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat; 2)

     Perkembangan sosial, anak mulai melepaskan diri dari otoritas orang

     tuanya; 3) Anak mulai menyukai permainan sosial yang melibatkan

     banyak orang dengan saling berinteraksi; 4)       Perkembangan emosi

     sudah mulai terbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian

     anak.




3. Tugas Perkembangan Anak Usia Dini

             Tugas perkembangan adalah kegiatan atau tugas-tugas yang
  dapat dilakukan oleh anak. Bayi memiliki tugas perkembangan yang lebih
  sederhana daripada orang dewasa. Tugas perkembangan tersebut semakin
  berkembang sejalan dengan bertambahnya usia.
             Menurut Slamet Suyanto (2003:81-85), tugas-tugas
  perkembangan anak sebagai berikut:
  a. Usia 0-6 bulan

                                 lxxvi
  Menunjukkan gerak refleks survival.

  Mengenali pengasuhnya.

  Menunjukkan komunikasi wajah, tersenyum, tertawa, bersuara.

  Tangan mencoba meraih benda di depannya.

  Memegang mainan dan menggoyangkannya.

  Memegang benda dengan dua tangan dan memasukannya ke mulut.

b. Usia 7 bulan - 1 tahun

  1) Mampu memegang dan meggerakkan objek.

  2) Koordinasi mata dan tangan sudah baik.

  3) Mampu membedakan orang tuanya/ keluarga dekat dengan orang

      asing.

  4) Mampu duduk di lantai dengan baik.

  5) Mulai merangkak untuk mengambil objek.

  6) Mulai     menunjukkan       kemampuan     mencari    objek   yang

      disembunyikan.

  7) Mengambil dan melempar objek dan menyukai suara objek ketika

      jatuh.

  8) Menunjuk dan meminta sesuatu dengan bahasa tangan dan bunyi.

  9) Mulai bisa berjalan dengan dibantu.

  10) Mulai berdiri dan berjalan sendiri.

c. Usia 1-2 tahun

  1) Mulai lancer berjalan dan tidak mau berhenti berjalan.

  2) Belajar mengenal benda-benda secara intensif.



                              lxxvii
  3) Mulai mengembangkan memori jangka pendek dan jangka panjang.

  4) Memegang pensil dengan semua jari dan mulai mencorat-coret.

  5) Mulai tertarik dengan gambar pada buku.

  6) Membalik-balik halaman buku (banyak halaman dalam sekali

      membalik).

  7) Mengambil dan melempar benda-benda seperti bola.

  8) Mulai menunjukkan kemampuan komunikasi.

  9) Mulai mengenal nama panggilannya.

  10) Bisa menunjukkan “papa” dan “mama”nya.

  11) Mulai berinteraksi dengan anak lain yang lebih dewasa.

  12) Bisa menarik dan membawa mainannya.

  13) Dapat menaiki trap dan menunjukkan keseimbangan badan.

  14) Menyukai benda-benda yang berbunyi.

  15) Mulai senang berlari dan menendang bola.



d. Usia 2-5 tahun

  1) Mulai menirukan apa yang dilakukan orang dewasa.

  2) Motorik halus mulai berkembang pesat.

  3) Mulai belajar memakai benda-benda seperti topi, sepatu besar, atau

      kaca mata menirukan orang dewasa.

  4) Mulai bermain peran sendiri, misalnya meniru telepon.

  5) Mulai belajar makan dan minum sendiri.

  6) Menata benda-benda ditumpuk ke atas.



                            lxxviii
        7) Mulai belajar melempar bola.

        8) Mulai bicara satu kata.

        9) Menunjukkan koordinasi bilateral yang baik.

        10) Menunjukkan koordinasi yang baik antar organ.

        11) Menunjukkan kemampuan bermain peran, seperti memandikan

            boneka sebagai memandikan adik.

        12) Bermain paralel.

        13) Menunjukkan perkembangan bahasa yang cepat.

        14) Menggambar pada kanvas.

        15) Berkomunikasi dengan anak lain sebagai wujud perkembangan

            sosial.




                                 BAB III

                        METODE PENELITIAN



A. Pendekatan Penelitian

         Agar peneliti dapat mendeskripsikan secara jelas dan rinci serta

   mendapatkan data yang mendalam dari fokus penelitian, maka penelitian ini

   menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Nawawi dan Martina (dalam

   Sutrisno, 2004:70) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif dilakukan


                                     lxxix
   dengan menghimpun data dalam keadaan sewajarnya, mempergunakan cara

   kerja yang sistematis, terarah, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga

   tidak kehilangan sifat ilmiahnya.

         Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena bersifat

   deskriptif dan data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, bukan

   angka-angka.

B. Rancangan Penelitian

         Untuk mengetahui secara rinci tentang “Pola Pembelajaran Taman

   Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby”, maka penelitian ini dirancang

   dengan menggunakan rancangan studi kasus. Kasus dalam penelitian ini

   dilaksanakan di Taman Balita Klub Merby dengan alamat Jl. Pandanaran II/

   2D Semarang.

         Studi kasus adalah salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial.

   Untuk menunjukkan ciri yang sesungguhnya dari strategi studi kasus,

   terutama ciri-ciri yang dapat membedakannya dari strategi yang lain, maka

   Yin (1984a, 1981b) dalam Robert K. Yin (2003:18) memberikan definisi
                                 67
   yang lebih teknis, yaitu:

          “Studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena
          di dalam konteks kehidupan nyata bilamana batas-batas antara
          fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas dan dimana multi
          sumber bukti dimanfaatkan”.

         Menurut Agus Salim (2001:93), studi kasus adalah suatu pendekatan

   untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasikan suatu kasus

   (case) dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak

   luar. Inti studi kasus yaitu kecenderungan utama diantara semua ragam studi

                                       lxxx
    kasus adalah bahwa studi kasus ini berusaha untuk menyoroti suatu keputusan

    atau seperangkat keputusan.

          Menurut Moch. Nazir (1988), dilihat dari tujuannya, penelitian studi

    kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar

    belakang, sifat-sifat serta karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari

    individu yang kemudian dari sifat-sifat khas tersebut akan dijadikan hal yang

    bersifat umum (dalam Sutrisno, 2004:71).

          Beranjak dari fokus penelitian ini, maka “Pola Pembelajaran Taman

    Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby” adalah sistem atau cara kerja

    dari suatu peristiwa atau kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan pengasuh

    Taman Balita Klub Merby sebagai TPA dalam kaitannya memberikan

    pendidikan dan pengasuhan.



C. Setting Penelitian

          Di Semarang ada beberapa TPA, antara lain: TPA Melati (milik

   UNDIP) di lingkungan kampus UNDIP Pleburan, TPA Mardi Waluyo di Jl.

   Pandanaran, dan Taman Balita Klub Merby di Jl. Pandanaran II/ 2D.

          Penelitian ini dilakukan pada taman penitipan anak yang bernama

   Taman Balita Klub Merby dengan alamat Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang

   karena ada beberapa alasan dan kriteria yang perlu diperhatikan. Alasannya

   Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang tidak hanya

   memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun (balita) saja

   tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. Hal tersebut


                                      lxxxi
   merupakan salah satu kelebihan dari Taman Balita Klub Merby. Kelebihan-

   kelebihan yang lain:

   1. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk

      menjadi balita yang mandiri melalui program bermain yang edukatif;

   2. Para balita di bawah pengawasan dokter dan psikolog;

   3. Disediakan Mother’s Room bagi para orang tua yang ingin berkonsultasi

      kepada pendidik, pengasuh, dokter, dan psikolog mengenai perkembangan

      balita mereka;

   4. Arena bermain yang luas, bersih, nyaman, dan tenang;

   5. Taman Balita Klub Merby terletak di pusat kota yaitu Jl. Pandanaran II/

      2D Semarang.

          Kriteria-kriterianya, antara lain: berorientasi pada kebutuhan anak,

   belajar melalui bermain, kreatif dan inovatif, lingkungan yang kondusif,

   menggunakan pembelajaran terpadu, mengembangkan keterampilan hidup,

   menggunakan berbagai media dan sumber belajar, pembelajaran yang

   berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak, dan stimulasi terpadu.



D. Subyek Penelitian

          Subyek dalam penelitian ini adalah:

   1. Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby, yang berjumlah satu

      orang.

   2. Pendidik Taman Balita Klub Merby, yang berjumlah dua orang.

   3. Pengasuh Taman Balita Klub Merby, yang berjumlah dua orang.


                                    lxxxii
   4. Orang Tua Anak Balita, peneliti mengambil sampel dua orang tua anak

      balita.



E. Fokus Penelitian

          Menurut Lexy S. Moleong (2002:62-63), masalah dalam penelitian

   kualitatif dinamakan fokus. Perumusan fokus atau masalah dalam penelitian

   kualitatif bersifat tentatif, artinya penyempurnaan rumusan fokus atau masalah

   itu masih tetap dilakukan sewaktu peneliti sudah berada di latar penelitian.

   Dengan kata lain fokus dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara,

   tentatif dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di

   lapangan.

          Dalam penelitian ini, fokus penelitian berisi pokok kajian yang

   menjadi pusat perhatian, adalah:

   1. Pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby

      yang meliputi aspek-aspek: tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan belajar

      mengajar, metode, alat/ media belajar, sumber belajar, dan evaluasi.

   2. Faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman

      penitipan anak di Taman Balita Klub Merby.



F. Metode Pengumpulan Data

          Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa

   metode, antara lain:

   1. Metode Observasi atau Pengamatan


                                      lxxxiii
       Di dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula

pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek

dengan menggunakan seluruh alat indera (Suharsimi Arikunto, 1998:146).

       Sanapiah       Faisal       (1990)   dalam     Sugiyono       (2005:64),

mengklasifikasikan      observasi       menjadi     observasi    berpartisipasi

(participant observation), observasi yang secara terang-terangan dan

tersamar (overt obsevation and covert observation), dan observasi yang

tak berstruktur (unstructured observation).

       Selanjutnya Spradley dalam Susan Stainback (1988) membagi

observasi berpartisipasi menjadi empat yaitu: pasive participation,

moderate participation, active participation, and complete participation

(dalam Sugiyono, 2005:64). Untuk memudahkan pemahaman tentang

bermacam-macam observasi, maka dapat digambarkan seperti gambar

berikut:

                     Observasi                         Observasi yang pasif
                     partisipati
                                                       Observasi yang moderat
 Macam-
                     Observasi terus
 macam
                                                        Observasi yang pasif
 Observa
                     terang &
                                                       Observasi yang lengkap
                     Observasi
                     tak
 Gambar 3.1: Macam-macam teknik observasi (dalam Sugiyono,
             2005:65).

       Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan observasi

partisipatif, dimana peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari Taman



                                   lxxxiv
Balita Klub Merby. Selain melakukan pengamatan, peneliti ikut

melakukan apa yang dikerjakan pendidik dan pengasuh serta ikut

merasakan suka dukanya. Dalam observasi ini, peneliti mengamati apa

yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan

berpartisipasi dalam aktivitas mereka.

        Observasi partisipan dimaksudkan untuk memperoleh data yang

lengkap dan rinci melalui pengamatan yang seksama dengan melibatkan

diri dan berpartisipasi dalam fokus yang sedang diteliti. Dengan observasi

partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan

sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.

        Menurut Robert K. Yin (2003:113-114), observasi partisipan

adalah suatu bentuk observasi khusus dimana peneliti tidak hanya menjadi

pengamat pasif, melainkan juga mengambil berbagai peran dalam situasi

tertentu dan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa yang akan diteliti.

        Menurut Spradley dalam Sugiyono (2005:68-69), obyek penelitian

dalam penelitian kualitatif yang diobservasi dinamakan situasi sosial, yang

terdiri atas tiga komponen yaitu place (tempat), actor (pelaku), dan

activities (aktivitas). Tiga elemen tersebut dapat diperluas sehingga apa

yang dapat kita amati adalah:

a. Space: ruang dalam aspek fisiknya.

b. Actor: semua orang yang terlibat dalam situasi sosial.

c. Activity: seperangkat kegiatan yang dilakukan orang.

d. Object: benda-benda yang terdapat di tempat itu.



                                lxxxv
e. Act: perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu.

f. Event: rangkaian aktivitas yang dikerjakan orang-orang.

g. Time: urutan kegiatan.

h. Goal: tujuan yang ingin dicapai orang-orang.

i. Feeling: emosi yang dirasakan dan diekspresikan oleh orang-orang.

        Dalam penelitian ini, obyek penelitian yang akan diobservasi

sebagai berikut:

a. Space: Lingkungan fisik Taman Balita Klub Merby.

b. Actor: Koordinator Pelaksana, Pendidik, Pengasuh, dan Orang tua Anak

   Balita.

c. Activity: Pelaksanaan KBM, penggunaan metode, dan sistem evaluasi.

d. Object: Pengadaan bahan belajar, alat/ media belajar, dan sumber

   belajar.

e. Act: Pelaksanaan strategi pembelajaran, model pendidikan dan

   pengasuhan TPA.

f. Event: Aktivitas para orang tua anak balita.

g. Time: Urutan kegiatan TPA/ jadwal TPA.

h. Goal: Visi dan misi TBKM, tujuan dan alasan orang tua menitipkan

   anak balitanya di Taman Balita Klub Merby.

i. Feeling: Kondisi perasaan Koordinator Pelaksana, Pendidik, Pengasuh,

   Orang tua anak balita serta anak balita.

        Menurut Spradley dalam Sugiyono (2005:69), tahapan observasi

ada tiga yaitu: a. Observasi Deskriptif, b. Observasi Terfokus, dan c.



                               lxxxvi

             1                     2                         3
Observasi Terseleksi. Tahapan observasi dapat digambarkan sebagai

berikut:



   Tahap Deskripsi           Tahap Reduksi                   Tahap Seleksi
 Memasuki situasi      Menentukan Fokus:             Mengurai Fokus:
                       Memilih diantara yang telah   Menjadi komponen yang
                       dideskripsikan                lebih rinci
 sosial: ada tempat,

 aktor, aktivitas.




Gambar 3.2: Tahap Observasi menurut Spradley (1980) dalam Sugiyono
           (2005:70)




        Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi pertisipan

dengan tahapan sebagai berikut:

a. Observasi Deskriptif

   Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi

   sosial tertentu sebagai obyek penelitian. Pada tahap ini peneliti belum

   membawa masalah yang akan diteliti, maka peneliti melakukan

   penjelajahan umum dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap

   semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Semua data direkam, oleh

   karena itu hasil dari observasi ini disimpulkan dalam keadaan yang

   belum tertata dan peneliti menghasilkan kesimpulan pertama. Bila

                              lxxxvii
     dilihat dari segi analisis maka peneliti melakukan analisis domain,

     sehingga mampu mendeskripsikan terhadap semua yang ditemui.

  b. Observasi Terfokus

     Pada tahap ini peneliti melakukan suatu observasi yang telah

     dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu yaitu aspek-aspek:

     tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/

     media belajar, sumber belajar, dan evaluasi. Observasi ini dinamakan

     observasi terfokus karena pada tahap ini peneliti melakukan analisis

     taksonomi sehingga dapat menemukan fokus, yaitu pola pembelajaran

     TPA di Taman Balita Klub Merby serta faktor pendukung dan

     penghambat dari pola pembelajaran tersebut.




  c. Observasi Terseleksi

     Pada tahap observasi ini, peneliti telah menguraikan fokus yang

     ditemukan sehingga datanya lebih rinci. Dengan melakukan analisis

     komponensial terhadap fokus, maka tahap ini penelititelah menemukan

     karakteristik, kontras-kontras/ perbedaan dan kesamaan antar kategori

     dengan kategori lain. Pada tahap ini peneliti menemukan pemahaman

     yang mendalam.

2. Metode Wawancara

          Wawancara       adalah     percakapan   dengan   maksud   tertentu.

   Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer)



                                   lxxxviii
yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Lexy J. Moleong, 2002:135).

Dalam penelitian ini, peneliti sebagai pewawancara (interviewer) akan

melakukan wawancara secara langsung dengan pihak yang diwawancarai

(interviewee) yaitu koordinator pelaksana, pendidik, pengasuh, dan orang

tua anak balita.

        Adapun jenis wawancara yang akan digunakan oleh peneliti

adalah pembagian wawancara yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln

(1981:160-170) dalam Dr. Lexy J. Moleong, M. A (2002:137-138) yaitu:

a. Wawancara Terbuka

    Dalam wawancara terbuka para subjek tahu bahwa mereka sedang

    diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu. Dalam

    wawancara terbuka ini, para subjek penelitian mengetahui bahwa

    dirinya sedang diwawancarai, karena sebelum wawancara berlangsung

    peneliti meminta ijin kepada Pimpinan Taman Balita Klub Merby

    untuk mengadakan wawancara.

b. Wawancara Tersruktur

    Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya

    menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan

    diajukan. Semua subjek mempunyai kesempatan yang sama untuk

    menjawab       pertanyaan   yang     diajukan.   Sebelum   mengadakan

    wawancara dengan subjek penelitian, peneliti telah membuat dan

    menetapkan masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.



                                lxxxix
        Pelaksanaan metode wawancara ini dilakukan selama penelitian

berlangsung yaitu pada bulan Oktober 2005. Setiap hari Senin sampai

Jumat peneliti datang ke Taman Balita Klub Merby untuk melakukan

penelitian dengan menggunakan metode wawancara terbuka dan

terstruktur.

        Metode wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data

mengenai       aspek-aspek   yang    akan   diteliti   yaitu:   tujuan,   bahan

pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media belajar,

sumber belajar, dan evaluasi. Selain itu peneliti menggunakan metode

wawancara untuk memperoleh data tentang faktor pendukung dan faktor

penghambat dalam pola pembelajaran TPA.




        Adapun pihak-pihak yang akan diwawancarai, yaitu:

a. Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby

    1) Identitas koordinator pelaksana meliputi: nama, tempat/ tanggal

       lahir, umur, pendidikan terakhir, dan alamat.

    2) Pendapat koordinator pelaksana tentang visi, misi, jumlah personil

       yang meliputi pendidik dan pengasuh, jumlah anak balita, biaya

       pendidikan, jenis-jenis program yang ada, jadwal TPA, kurikulum,

       aspek evaluasi, dan gaji pegawai.




                                    xc
   3) Pendapat   koordinator     pelaksana    tentang   tujuan,   bahan

     pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media

     belajar, sumber belajar, dan evaluasi.

   4) Pendapat koordinator pelaksana tentang faktor pendukung dan

     penghambat pembelajaran TPA.

b. Pendidik Taman Balita Klub Merby

   1) Identitas pendidik meliputi: nama, tempat/ tanggal lahir, umur,

     pendidikan terakhir, dan alamat.

   2) Pendapat pendidik tentang jumlah pendidik, jumlah anak balita,

     jumlah honor, penerapan kurikulum, hasil pembelajaran, kendala

     yang dihadapi dalam proses pembelajaran, dan cara mengatasi

     kendala tersebut.

   3) Pendapat pendidik tentang tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan

     belajar mengajar, metode, alat/ media belajar, sumber belajar, dan

     evaluasi.

   4) Pendapat pendidik tentang faktor pendukung dan penghambat

     pembelajaran TPA.

c. Pengasuh Taman Balita Klub Merby

   1) Identitas pengasuh meliputi: nama, tempat/ tanggal lahir, umur,

     pendidikan terakhir, dan alamat.

   2) Pendapat pengasuh tentang jumlah pengasuh, jumlah anak balita,

     jumlah honor, sistem pengasuhan, kendala yang dihadapi dalam

     proses pengasuhan, dan cara mengatasi kendala tersebut.



                               xci
       3) Pendapat pengasuh tentang faktor pendukung dan penghambat

         pembelajaran TPA.

   d. Orang Tua Anak Balita

      1) Identitas orang tua anak balita meliputi: nama, tempat/ tanggal

         lahir, umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan alamat.

      2) Pendapat orang tua anak balita alasan orang tua menitipkan

         anaknya di TPA, tujuan orang tua menitipkan anaknya di TPA, dan

         sistem pembayaran di TPA.

       3) Pendapat orang tua anak balita tentang faktor pendukung dan

         penghambat pembelajaran TPA.

3. Metode Dokumentasi

          Metode dokumentasi adalah metode yang mencari data mengenai

   hal-hal yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah, gambar/ foto, dan

   sebagainya yang berhubungan dengan fokus penelitian. Metode ini

   dimaksudkan untuk melengkapi data dari observasi dan wawancara.

          Metode dokumentasi sebagai suatu metode pengumpulan data

   yang dilakukan dengan cara mengadakan pencatatan atau pengutipan data

   dari dokumen yang ada di setting penelitian.

          Menurut Guba dan Lincoln (1981:232-235) dalam Lexy J.

   Moleong (2002:161), ada beberapa alasan dari penggunaan dokumentasi,

   antara lain: a) dokumen dan record merupakan dokumen yang stabil, kaya,

   dan mendorong; b) berguna sebagai bukti untuk suatu kejadian; c)




                                  xcii
   memiliki sifat yang alamiah; d) murah dan mudah diperoleh; dan e) tidak

   sukar untuk ditemukan.

          Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data

   tertulis yang meliputi: sejarah Taman Balita Klub Merby, letak geografis,

   data pendidik, data pengasuh, data anak balita di Taman Balita Klub

   Merby, organisasi dan tata kerja, tujuan, bahan pembelajaran, kegiatan

   belajar mengajar, metode, alat/ media yang digunakan, surat izin

   penelitian di Taman Balita Klub Merby, dan foto pelaksanaan kegiatan

   pembelajaran di Taman Balita Klub Merby

          Data-data tersebut dapat diperoleh dari hasil observasi dan

   wawancara. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dikelompokan

   menjadi dua, yaitu data utama dan data pendukung. Data utama diperoleh

   dari para informan, yaitu orang-orang yang terlibat secara langsung dalam

   TPA seperti koordinator pelaksana, pendidik, pengasuh, dan orang tua

   anak balita. Sedangkan data pendukung bersumber dari dokumen-

   dokumen seperti arsip administrasi, catatan, rekaman, gambar/ foto

   kegiatan, hasil-hasil observasi, hasil-hasil wawancara, dan bahan-bahan

   referensi lain yang dapat mendukung dalam penelitian ini.

       Dalam penelitian kualitatif ini, pengumpulan data dilakukan dengan

menggunakan    metode    observasi   partisipan   (participant   observation),

wawancara mendalam (in dept interview) secara terbuka dan terstruktur, dan

dokumentasi.




                                 xciii
       Observasi    dan    wawancara        dipedomani   dan   dikembangkan

sebagaimana yang diajukan oleh Spradley dalam Sanapiah Faisal (1990:91-

108) yang diawali dengan observasi terfokus dan wawancara struktural serta

diakhiri dengan observasi selektif dan wawancara kontras (dalam Wiwik Puji

Rahayu, 2004:62). Skema proses kegiatan observasi dan wawancara tersebut

di atas dapat digambarkan sebagai berikut:


   DESKRIPTIF

                       TERFOKUS


                                                SELEKTIF

                                                KONTRAS

                      STRUKTURAL

   DESKRIPTIF


Gambar 3.3: Proses Metode Pengumpulan Data menurut Spradley




Penjelasan skema di atas sebagai berikut:

       Pengamatan deskriptif dilakukan untuk melihat secara umum tentang

kondisi Taman Balita Klub Merby. Setelah itu dilakukan pengamatan yang

terfokus pada obyek yang akan diteliti mengenai pola pembelajaran TPA di

Taman Balita Klub Merby serta faktor pendukung dan penghambat dari

pembelajaran tersebut. Proses selanjutnya dilakukan pengamatan secara



                                  xciv
   selektif untuk melihat bagaimana perumusan tujuan, penggunaan bahan

   pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, penggunaan metode, penggunaan

   alat/ media belajar, pengadaan sumber belajar, dan pelaksanaan evaluasi.

          Bersamaan dengan proses pengamatan tersebut juga dilakukan

   wawancara deskriptif kepada Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub

   Merby untuk memperoleh gambaran secara umum tentang sejarah singkat,

   ketenagaan, wilayah kerja, struktur organisasi dan program Taman Balita

   Klub Merby. Selanjutnya dilakukan wawancara terstruktur secara mendalam

   kepada Kooedinator Pelaksana, Pendidik, Pengasuh, dan Orang tua Anak

   Balita untuk mengungkap fokus dari penelitian ini yaitu pola pembelajaran

   TPA di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan, bahan

   pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media belajar, sumber

   belajar, dan evaluasi. Serta faktor pendukung dan faktor penghambat dari

   pembelajaran tersebut.

          Untuk mendukung atau melengkapi dari berbagai data yang diperoleh,

   kemudian peneliti menggunakan metode dokumentasi. Melulai metode

   dokumentasi ini dapat diperoleh berbagai kejadian-kejadian penting yang

   dapat memperjelas dari setiap kegiatan. Kegiatan ini terus berulang kali

   hingga semua data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dapat terpenuhi.



G. Keabsahan Data

          Untuk menetapkan keabsahan (trutworthiness) data diperlukan teknik

   pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah


                                      xcv
kriteria tertentu. Menurut Lexy J. Moleong (2002:173), ada empat kriteria

yang     digunakan   yaitu   derajat     kepercayaan     (credibility),   keteralihan

(transferability),   ketergantungan           (dependability),    dan      kepastian

(confirmability).

         Kriteria keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan temuan

hasil penelitian dengan kenyataan yang ada di lapangan. Adapun teknik-teknik

pemeriksaan yang digunakan untuk membuktikan derajat kepercayaan

meliputi: 1) Perpanjangan Keikutsertaan; 2) Ketekunan Pengamatan; 3)

Triangulasi; 4) Pengecekan Sejawat; 5) Kecukupan Referensial; 6) Kajian

Kasus Negatif; 7) Pengecekan Anggota. Untuk membuktikan keabsahan data

penelitian ini menggunakan teknik triangulasi.

         Menurut Lexy J. Moleong (2002:178), triangulasi adalah teknik

pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar

data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data

itu. Denzim (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik

pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan

teori.

         Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek

balik derajat kepergayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan

alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Patton, 1987:331). Hal itu dapat

digapai dengan jalan: 1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data

hasil wawancara; 2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan

umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi; 3) membandingkan apa



                                       xcvi
yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang

dikatakannya sepanjang waktu; 4) membandingkan keadaan dan perspektif

seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat

biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang

pemerintahan; 5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen

yang berkaitan (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178).

       Pada triangulasi metode, menurut Patton (1987:329), terdapat dua

strategi, yaitu: 1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian

beberapa teknik pengumpulan data; dan 2) pengecekan derajat kepercayaan

beberapa sumber data dengan metode yang sama (dalam Lexy J. Moleong,

2002:178).

       Teknik triangulasi jenis ketiga (penyidik) ialah dengan jalan

memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan

kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu

mengurangi kemencengan dalam          pengumpulan data. Pada dasarnya

penggunaan suatu tim penelitian dapat direalisasikan dilihat dari segi teknik

ini. Cara lain ialah membandingkan hasil pekerjaan seorang analisis dengan

analisis lainnya (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178).

       Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba (1981:307),

berdasarkan anggapan bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat

kepercayaannya dengan satu atau lebih teori (dalam Lexy J. Moleong,

2002:178).




                                  xcvii
          Teknik triangulasi dalam penelitian ini adalah triangulasi sebagai

   teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, dengan

   pertimbangan bahwa untuk memperoleh informasi dari para informan perlu

   diadakan cros cek antara satu informan dengan informan lain sehingga akan

   diperoleh informasi yang benar-benar valid. Informasi yang diperoleh

   diusahakan dari nara sumber yang betul-betul mengetahui akan permasalahan

   dalam penelitian ini. Informasi yang diberikan oleh salah satu informan dalam

   menjawab pertanyaan peneliti, peneliti mengecek ulang dengan jalan

   menanyakan ulang pertanyaan yang disampaikan oleh informan pertama ke

   informan kedua. Apabila kedua jawaban yang diberikan itu sama, maka

   jawaban itu dianggap sah. Apabila kedua jawaban saling berlawanan atau

   berbeda, maka langkah alternatif sebagai solusi yang tepat adalah dengan

   mencari jawaban atas pertanyaan itu kepada informan ketiga yang berfungsi

   sebagai pembanding antara keduanya. Hal ini dilakukan untuk membahas

   setiap fokus penelitian yang ada sehingga keabsahan data tetap terjaga dan

   dapat dipertanggungjawabkan.

H. Analisis Data

          Dalam hal analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa analisis

   data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang

   diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,

   sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada

   orang lain (dalam Sugiyono, 2005:88). Analisis data dilakukan dengan

   mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan


                                    xcviii
sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan

dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.

       Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:89) menyatakan bahwa

analisis dalam penelitian apapun, adalah cara berpikir. Hal itu berkaitan

dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan

bagian, hubungan antar bagian, dan hubungannya dengan keseluruhan.

Analisis adalah untuk mencari pola.

       Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa analisis

data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang

diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan

cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-

unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang

penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah

dipahami oleh peneliti maupun orang lain.

       Menurut Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:101), terdapat

tahapan analisis data yang dilakukan dalam penelitian kualitatif yaitu analisis

domain, taksonomi, komponensial, dan tema kultural. Tahapan analisis data

dapat digambarkan sebagai berikut:


                                   Analisis Domain (Domain Analysis)
                      Memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh

                      dari obyek penelitian/ situasi sosial. Ditemukan

                      berbagai domain/ kategori. Peneliti menetapkan


                                 Analisis Taksonomi (Taxonomic Analysis)
                      Domain yang dipilih tersebut selanjutnya dijabarkan menjadi
                                      xcix
                      lebih rinci, untuk mengetahui struktur internalnya. Dilakukan
                      dengan observasi terfokus.
  Analisis
  data
  kualitatif
                         Analisis Komponensial (Componential Analysis)
                        Mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara
                        mengkontraskan antar elemen. Dilakukan melalui observasi dan
                        wawancara terseleksi dengan pertanyaan yang mengkontraskan
                        (contras question).


                            Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Theme)
                        Mencari hubungan diantara domain, bagaimana

                        hubungan dengan keseluruhan, dan selanjutnya

Gambar 3.4: Analisis Data Kualitatif menurut Spradley (1980) dalam
            Sugiyono (2005:102)

        Dalam penelitian ini, tahapan analisis data dengan mengacu pada

pendapat Spradley (1980) sebagai berikut:

1. Analisis Domain

               Setelah peneliti memasuki obyek penelitian yang berupa situasi

   sosial yang terdiri atas place, actor, dan activity (PAA), selanjutnya

   melaksanakan observasi partisipan, mencatat hasil observasi dan

   wawancara, melakukan observasi deskriptif, maka langkah selanjutnya

   adalah melakukan analisis domain.

               Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum

   dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau obyek penelitian.

   Hasilnya berupa gambaran umum tentang obyek yang diteliti yang

   sebelumnya belum diketahui. Dalam analisis ini informasi yang diperoleh




                                         c
   belum mendalam, masih di permukaan, namun sudah menemukan

   domain-domain atau kategori dari situasi sosial yang diteliti.

2. Analisis Taksonomi

          Setelah peneliti melakukan analisis domain, sehingga ditemukan

   domain-domain atau kategori dari situasi sosial tertentu, maka selanjutnya

   domain yang dipilih oleh peneliti selanjutnya ditetapkan sebagai fokus

   penelitian, perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan data di lapangan.

   Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui pengamatan,

   wawancara mendalam, dan dokumentasi sehingga data yang terkumpul

   menjadi banyak. Oleh karena itu pada tahap ini diperlukan analisis lagi

   yang disebut dengan analisis taksonomi.

          Analisis taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang

   terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan. Dalam analisis ini,

   yang diurai adalah domain yang telah ditetapkan menjadi fokus. Melalui

   analisis ini, setiap domain dicari elemen yang serupa atau serumpun. Ini

   diperoleh melalui observasi dan wawancara serta dokumentasi yang

   terfokus.

3. Analisis Komponensial

          Pada analisis komponensial, yang dicari untuk diorganisasikan

   dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain, tetapi yang memiliki

   perbedaan atau yang kontras.

          Data ini dicari melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi

   yang terseleksi. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi



                                    ci
  tersebut, sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen

  akan dapat ditemukan.

4. Analisis Tema Budaya

         Analisis tema sebenarnya merupakan upaya mencari “benang

  merah” yang mengintegrasikan lintas domain yang ada.




                                cii
                                 BAB IV
                   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



Hasil Penelitian

       Hasil penelitian ini pada dasarnya merupakan data yang diperoleh melalui
       metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada bagian ini akan
       dipaparkan tentang sejarah singkat berdirinya Klub Merby, latar belakang
       berdirinya Taman Balita Klub Merby, gambaran umum Taman Balita
       Klub Merby, struktur organisasi Taman Balita Klub Merby, ketenagaan,
       identitas informan, dan hasil wawancara dengan informan.
    1. Sejarah Singkat Berdirinya Klub Merby

              Perjalanan dari tahun 1989 bukanlah waktu yang singkat. Di usia

       yang menginjak 15 tahun ini, Klub Merby kini telah tumbuh menjadi

       “remaja” yang dewasa.

              Awal Kelahiran: Pelatihan Perdana (1989). Gagasan pertama

       mulai dibukanya Klub Merby (yang pada awal kelahiran dikenal dengan

       nama Pusat Pelatihan Merbabu) adalah dari pemikiran bagaimana dibentuk

       wadah penampungan bagi anak-anak yang dunianya penuh dengan daya

       imajinasi yang perlu diekspresikan melalui media coret-mencoret. Bakat

       “coret-coret” ini tentu harus disalurkan secara tepat dan terarah sehingga

       coretan menjadi bentuk lukisan yang tentu saja memiliki nilai seni

       dibaliknya. Tantangan awal perintisan penyelenggaraan pelatihan ini

       adalah mencari pelatih. Tidak mudah bagi perintis untuk dapat mencari

       pelatih, karena dalam masa itu sama sekali belum ada “trend” untuk

       mengadakan pelatihan lukis pemula bagi anak-anak. Walaupun semula


                                      ciii
juga ragu, akhirnya ditemukan seorang seniman Noehoni Harsono yang

bersedia menjadi pelatih pertama. Dengan murid 5 (lima) anak kecil yang

rata-rata duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Pelatihan perdana

dijalankan bertempat di lantai II Toko Buku dan Alat Tulis Merbabu

Semarang.

       Perkembangan Awal. Diselenggarakan dengan sasaran belajar

dan jadwal yang teratur, pelatihan ini mampu menjanjikan sesuatu yang

berbeda dari yang sudah ada. Kerinduan anak-anak untuk selalu berlatih

dan berlatih, membawa pula anak-anak lain untuk bergabung. Kelas

berdurasi 1,5 jam sudah dipadati peserta sebanyak 15 anak sesuai kapasitas

maksimal. Kedatangan peserta baru yang semakin “antri” menyebabkan

kelas dikembangkan menjadi tiga shift mulai dari pukul 15.00 WIB sampai

dengan pukul 19.30 WIB.

       Kampus I dan Pengesahan Pemerintah (1992). Setelah dirasakan

suasana toko kurang sesuai dengan usaha pengembangan kreativitas anak

untuk berseni, dibangunlah gedung baru tersendiri yang khusus untuk

pelatihan. Berlokasi di bagian belakang toko yang sama, bangunan baru

terdiri dari 6 ruangan dengan fasilitas yang memadai serta dilengkapi

dengan AC dan sound system. Ruang-ruang diberi nama dengan bunga

agar anak-anak mudah mengingat dan mendekatkan anak-anak pada alam.

Ruang Melati, Seruni, Mawar, Cempaka, Anggrek, dan Sakura menjadi

saksi bisu anak-anak menghasilkan karya seni yang polos dan lucu.

Masalah pengesahan muncul bukan karena prosedurnya, melainkan belum



                               civ
adanya bentuk pelatihan semacam ini. Pelatihan semacam ini adalah yang

pertama di Semarang, bahkan mungkin di Indonesia. Permasalahan dapat

dijernihkan dengan menyodorkan kurikulum yang teratur yang memang

telah   dipersiapkan     dengan   baik.   Akhirnya    keluarlah   surat   ijin

penyelenggaraan dengan no. 493/103/H/92 tertanggal 14 Desember 1992.

Sekaligus   dapat      menyelenggarakan    evaluasi   semester    di   bawah

pengawasan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (waktu itu) guna

mengukur kemampuan dan perkembangan siswa. Bagi siswa juga yang

berhak memperoleh Sertifikat dan Laporan Hasil Evaluasi.

        Perkembangan Mutakhir: Penambahan Kampus dan Bidang

Kepelatihan. September 2002, diresmikan Kampus II yang bertempat di

Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang. Kampus baru ini terutama digunakan

sebagai tempat Child Day Care yang merupakan sarana untuk membantu

mengasuh anak-anak bagi para orang tua yang bekerja. Dalam hal ini,

Klub Merby menyediakan saran taman penitipan anak: Taman Bermain

Balita (6 bulan-3 tahun) dan Daily Homework Supervision (DHS)

pendampingan belajar anak sepulang sekolah selama orang tua masih

bekerja. Guna memenuhi permintaan masyarakat Yogyakarta dan

sekitarnya, Klub Merby membuka Kampus III yang bertempat di Jl. Ring

Road Utara 199, Yogyakarta (7 Juli 2003).

        Selain merentangkan sayapnya ke bidang Child Day Care, Klub

Merby juga membuka berbagai macam pelatihan baik itu bidangt seni

maupun ilmu umum. Tahun 2002, dibuka pelatihan musik: Biola dan



                                  cv
Gitar. Setelah itu muncul juga pelatihan Clay, English, Mandarin, Acting,

dan masih banyak pelatihan lainnya. Tidak hanya jumlah bidang

kepelatihan saja yang bertambah, tetapi juga peserta pelatihan juga

berkembang segmennya. Selain membuka pelatihan bagi kalangan dewasa

atau umum yang mempunyai hobi di bidang tertentu, dibuka pula pelatihan

untuk para lansia yang berminat di bidang lukis, vocal, dan clay.

        Kampus Utama: Merby Centre (2004). Saat ini, diusianya yang

menginjak 15 tahun, Klub Merby telah merentangkan sayapnya sampai ke

semua jenis kesenian. Dengan dipandu oleh lebih dari 35 pelatih yang

bergelar    S1/       S2,   berkompeten    dibidangnya,      professional,    dan

berpengalaman, Klub Merby beranggotakan tidak kurang dari 1250 siswa

dan telah menghasilkan lebih dari 6000 alumni dengan segudang prestasi

yang mengagumkan. Dengan menyelenggarakan lebih dari 70 jenis

kegiatan kelas yang tergabung dalam 11 subrumpun, 7 rumpun, dan 3

divisi, Klub Merby memindahkan sebagian besar kegiatannya ke kampus

baru yang lebih dikenal dengan nama Merby Centre. Bermodalkan

semboyan New Campus-New Spirit-New Management, Klub Merby

dengan lantang mengucapkan “Welcome to Merby Centre”.




        Klasifikasi kegiatan Klub Merby, seperti tabel di bawah ini:

           DIVISI                                    RUMPUN
1. Divisi Pelatihan           1. Rumpun Seni Lukis, meliputi Pra Pemula (PG),
                                 Pemula (TK), Dasar A (SD 1-2), Dasar B (SD 3-5),
                                 Lanjutan (SLTP/SLTA), Pra Uni, Hobby, Intensif,
                                 Lansia, dan Perhatian Khusus.


                                   cvi
                              2. Rumpun Seni Umum, meliputi Vokal, Musik, Biola,
                                 Gitar, Drum, Keyboard, Piano, Recorder, Tari,
                                 Acting, dan Clay.
                              3. Rumpun Ilmu Umum, meliputi Aksara, Sempoa,
                                 KEC, Tuition, Mandarin, Sports dan Art, serta
                                 Psikologi.
   2. Divisi Child Day Care   1. Taman Bermain Balita, meliputi Tiny Class (1-2
                                 tahun), Little Class (2-3 tahun), Happy Class (3-4
                                 tahun), dan Smart Class (Persiapan TK).
                              2. Daily Homework Supervision (DHS), meliputi 1-2
                                 Class, 3-4 Class, dan 5-6 Class.
   3. Divisi College          1 Design, meliputi Interior dan Art.
      (segera dibuka)         2 Language (Inggris dan Mandarin), meliputi Tourism,
                                 Business, dan Secretary.
  Tabel 4.1: Klasifikasi Kegiatan Klub Merby (Buku Semarak Klub Merby,
             2004:18-19)

2. Latar Belakang Berdirinya Taman Balita Klub Merby

           Awal mula berdirinya Taman Balita Klub Merby yaitu pimpinan

  Klub Merby yang bernama drg. Grace W. Susanto, M. M pernah

  mempunyai pengalaman yang nyata dalam kehidupannya. Beliau memiliki

  teman yang bekerja sebagai dokter. Teman beliau memiliki seorang anak

  balita. Karena kesibukan orang tua, anak balita diasuh oleh seorang

  pembantu. Suatu ketika pembantu tersebut sedang lalai (kurang

  memperhatikan dan tidak teliti) terhadap anak asuhnya. Sehingga anak

  balita tersedak ketika sedang makan. Pembantu pada saat itu tidak tahu apa

  yang harus dilakukannya. Kemudian anak balita tersebut dipukul-pukul

  pada bagian belakang pundaknya. Akhirnya anak balita itu meninggal

  dunia. Hal tersebut yang membuat Ibu Grace tergugah hatinya. Beliau

  menemukan ide yaitu bagaimana jika anak balita yang ditinggalkan orang

  tua bekerja dititipkan pada taman penitipan anak yang dirancang agar anak

  balita merasa seperti di rumah tetapi tetap mendapatkan pendidikan.

  Akhirnya didirikanlah Taman Balita Klub Merby.


                                   cvii
            Taman Balita Klub Merby termasuk dalam Divisi Child Day Care.

  Bangunan seluas 469 m 2 ini diresmikan pada tanggal 12 september 2002.

  Walaupun terletak di jantung kota Semarang, lokasi Kampus II berada di

  daerah “nyelampit” sehingga menimbulkan suasana tentram dan asri.

            Guna menunjang fungsinya sebagai taman balita, kampus ini

  dilengkapi pula dengan fasilitas Mother’s Room. Selain itu, terdapat

  beberapa kamar yang dilengkapi dengan tempat tidur mini untuk anak-

  anak. Di bagian tengah, bangunan ini memiliki kebun dengan hamparan

  hijau yang luas sebagai sarana playground.

3. Gambaran Umum Taman Balita Klub Merby

            Taman Balita Klub Merby merupakan jenis taman penitipan anak

  dengan model penyelenggaraan TPA Umum di perumahan. Luas

  bangunan Taman Balita Klub Merby adalah 469 m 2 yang berlokasi di

  Kelurahan Mugasari Kecamatan Semarang Selatan, dengan alamat Jl.

  Pandanaran II/ 2D Semarang. Maskot Klub Merby adalah Katak (Frog)

  yang merupakan Happy Animal. DAsar pemilihan katak sebagai mascot

  adalah:

  a. Dekat dengan air sebagai sumber kehidupan;

  b. Mencintai lingkungan;

  c. Mudah menyesuaikan diri dengan alam (air dan darat);

  d. Senantiasa gembira, bernyanyi, dan menari.

            Visi Taman Balita Klub Merby adalah ikut mencerdaskan

  kehidupan bangsa. Misi Taman Balita Klub Merby adalah memberikan




                                 cviii
pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk menjadi balita yang mandiri

melalui program bermain yang edukatif.

       Motto Taman Balita Klub Merby adalah 8 C yang artinya sebagai

berikut:

a. Cerdas

   Sempurna perkembangan akal budinya, dan sempurna pertumbuhan

   tubuhnya (sehat).

b. Ceria

   Gembira, berseri-seri, wajah cerah, bersih, dan murni.

c. Cerdik

   Cepat mengerti situasi, pandai mencari pemecahan, dan panjang akal.

d. Cekatan

   Cepat dan mahir, melakukan sesuatu, tangkas, dan selalu siap

   menghadapi masalah.

e. Cermat

   Penuh minat, seksama, teliti, hemat, dan berhati-hati.

f. Cendekia

   Tajam pikiran, cepat mengerti situasi, pandai mencari jalan keluar, dan

   terpelajar.

g. Cantas

   Terampil dan tanggung jawab.

h. Cerah

   Segar dan penuh harapan.




                                cix
       Jumlah anak balita yang dititipkan di Taman Balita Klub Merby

berjumlah 30 anak balita, yaitu:

a. Little Class (2-3 tahun): 14 anak balita

   Dari 14 anak balita tersebut, ada 5 anak balita yang dititipkan sampai

   sore (full day). Sedangkan 9 anak balita lainnya hanya mengikuti

   kegiatan pembelajarannya saja dan tidak dititipkan sampai sore (half

   day).

b. Happy Class (3-4 tahun): 16 anak balita

   Dari 16 anak balita tersebut, ada 5 anak balita yang dititipkan sampai

   sore. Sedangkan 11 anak balita lainnya hanya mengikuti kegiatan

   pembelajarannya saja dan tidak dititipkan sampai sore (half day).

       Taman Balita Klub Merby memiliki beberapa tata tertib yang harus

dipatuhi oleh orang tua dan anak balita, antara lain:

a. Tata Tertib untuk Anak Balita

   1) Anak balita yang dititipkan harus sudah dapat berjalan. Jika belum

      dapat berjalan maka ada biaya pengasuhan tambahan.

   2) Anak balita datang dalam keadaan telah mandi pagi dan sarapan

      pagi. Jika belum, anak balita harus dating sebelum pukul 08.00 WIB.

   3) Untuk makan siang anak balita, membawa makanan sendiri.

   4) Anak balita memakai seragam pada hari:

      a) Senin dan Kamis: Atasan putih, bawahan kotak-kotak

      b) Selasa dan Jumat: Kaos Merby

      c) Rabu: Bebas



                                   cx
b. Tata Tertib untuk Orang Tua Anak Balita

   1) Penjemputan anak balita paling lambat pukul 17.15 WIB karena jam

      kerja pendidik dan pengasuh sampai dengan 17.00 WIB.

   2) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara

      lain: menulis identitas diri anak, foto copy akte kelahiran anak, foto

      copy kartu keluarga, dan foto copy KTP kedua orang tua.

   3) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian

      sebagai berikut:

      a) Biaya administrasi per bulan : Rp. 300.000

      b) Biaya SPP per bulan           : Rp. 200.000

         (untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu)

                                         Rp. 150.000

         (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu)

      c) Biaya pendaftaran             : Rp. 100.000

      d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp. 500.000

      e) Biaya perlengkapan            : Rp. 135.000

         (mendapatkan seragam, kaos Merby, tas, media belajar: drawing

         board, buku, crayon, gunting, lem, dan lain-lain).

       Taman Balita Klub Merby memberikan fasilitas-fasilitas kepada

anak balita yang dititipkan dan orang tua anak balita tersebut, antara lain:

a. Gedung Sekolah

   1) Lobby                                       : 1 ruang

   2) Ruang Administrasi                          : 1 ruang



                                 cxi
  3) Ruang Kelas                                : 2 ruang

      (Ruang Matahari dan Teratai)

  4) Ruang Tidur                                : 5 ruang

      (Ruang Soka, Vanda, Bakung, Kana, Kantil)

  5) Ruang Makan (Ruang Kemuning)               : 1 ruang

  6) Ruang Perpustakaan (Ruang Aster)           : 1 ruang

  7) Ruang Kesehatan (Ruang Tulip)              : 1 ruang

  8) Ruang Kamar mandi/ Toilet                  : 4 ruang

  9) Ruang Gudang                               : 1 ruang

  10) Ruang Dapur                               : 1 ruang

b. Mainan

  1) Mainan Dalam

     Anyaman busa, pola tani berdiri, alat musik berdiri, pola keluarga

     berdiri, papan pasak, rumah ibadah, binatang peraga, boneka salju,

     boneka tangan, tea set meidi ks, tea set meidi ts, peraga buah-buahan,

     boneka PON XVI, my big play, magic fun, Xmas, Xmas box.

  2) Mainan Education

     Alat peraga bangun geometri, alat peraga bangun geometri bongkar

     pasang, alat peraga kapal geometri bongkar pasang, puzzle angka,

     puzzle alat transportasi, peraga mobil bongkar pasang, alat peraga

     (putar), alat peraga balok lingkar, alat peraga masak-memasak, alat

     peraga pohon, kubus huruf, kubus angka.




                               cxii
     3) Mainan Luar

        Ayunan pasangan (see saw), ayunan single (swing single), mangkuk

        putar (merry go round), tooter, playground small, papan titian,

        permainan sepak bola (foot ball), kolam berpasir, golf.

  c. Perpustakaan

     Buku cerita legenda, buku pengetahuan, buku cerita agama, buku cerita

     perilaku, buku cerita bahasa Inggris.

  d. Fasilitas Umum

     Terletak di pusat kota, ruangan ber-AC, bersih, nyaman, dan tenang,

     arena bermain yang luas, pelatih profesional, di bawah pengawasan

     Dokter dan Psikolog, bersertifikat, rekreasi bersama.

4. Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby

         Adapun struktur organisasi Taman Balita Klub Merby yaitu seperti

  gambar di bawah ini:

                                  Koordinator
                             Taman Balita Klub Merby


                              Koordinator Pelaksana
                             Taman Balita Klub Merby


                                          Pendidik


                                          Pengasuh
  Gambar 4.1: Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby



5. Ketenagaan Taman Balita Klub Merby

                                  cxiii
           Berikut ini adalah ketenagaan dalam Taman Balita Klub Merby,

  yaitu:

   NO.                  NAMA                       JABATAN             MASUK
                                                                       KERJA
    1.     Dra. Frasnsiska Dyah Winarni     Koordinator Taman Balita    2002
                                            Klub Merby
    2.     Sri Rahayu                       Koordinator Pelaksana       2004
                                            Taman Balita Klub Merby
    3.     Eridani Sukmawati, A. Md         Pendidik                    2003
    4.     Yulianti Astriningrum, S. Pd     Pendidik                    2004
    5.     Santy Sulistyowati               Pengasuh                    2002
    6.     Is Rahayu                        Pengasuh                    2005
  Tabel 4.2: Ketenagaan Taman Balita Klub Merby

6. Identitas Informan

           Identitas informan yang terdiri dari Koordinator Pelaksana,

  Pendidik, Pengasuh, dan Orang tua anak balita, sebagai berikut:

   NO.           NAMA                PEKERJAAN               PEND.     ALAMAT

                                                           TERAKHIR

    1.     Sri Rahayu              Koordinator                SMU       Semarang
                                   Pelaksana Taman
                                   Balita Klub Merby
    2.     Eridani Sukmawati,      Pendidik                    D3       Semarang
           A. Md
    3.     Yulianti                Pendidik                     S1      Semarang
           Astriningrum, S. Pd
    4.     Santy Sulistyowati      Pengasuh                   SMU       Semarang
    5.     Is Rahayu               Pengasuh                   SMU       Semarang
    6.     MB. Indah Novianti      Swasta                    Akademi    Semarang
           (Orang tua anak
           balita)
    7.     Lili Umiati (Orang      Swasta                     SMEA      Semarang
           tua anak balita)
  Tabel 4.3: Identitas Informan




7. Hasil Wawancara dengan Informan


                                          cxiv
             Hasil penelitian mengenai “Pola Pembelajaran Taman Penitipan

      Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub

      Merby Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang)” dapat dipahami melalui

      wawancara dari 7 orang informan yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Informan 1

      Beliau adalah salah seorang pendidik di Taman Balita Klub Merby yaitu

      pendidik Happy Class (3-4 tahun). Namanya adalah Eridani Sukmawati,

      A. Md. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Miss Dani. Alamat Miss

      Dani adalah Tanggul Mas Tengah VI/ 88 Semarang.

     a. Tujuan

               Menurut pendapat Miss Dani mengenai tujuan institusional

        (tujuan lembaga pendidikan) dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub

        Merby yaitu membantu para ibu dalam:

        1) Membiasakan sopan santun dan budi pekerti;

        2) Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita;

        3) Memotivasi anak belajar bicara;

        4) Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak;

        5) Memahami potensi anak;

        6) Menemani belajar sambil bermain;

        7) Membimbing balita agar mandiri.

        Tujuan institusional ini dirumuskan oleh semua pihak yang terkait di

        Taman Balita Klub Merby.




                                    cxv
       Menurut pendapatnya mengenai tujuan kurikuler (tujuan bidang

studi/ mata pelajaran) adalah:

1) Anak mampu melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan

  Tuhan dan mencintai sesama.

2) Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakan-

  gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus, dan gerakan

  kasar, serta menerima rangsangan sensorik (pancaindera).

3) Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif

  dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk

  berfikir dan belajar.

4) Anak mampu berpikir logis, kritis, memberi alasan, memecahkan

  masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.

5) Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan

  masyarakat, dan menghargai keragaman sosial dan budaya. Serta

  mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar,

  kontrol diri, dan rasa memiliki.

6) Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai

  bunyi, bertepuk tangan, serta menghargai hasil karya yang kretif.

Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita

Klub Merby.

       Menurut pendapatnya mengenai tujuan instruksional (tujuan

proses belajar mengajar) adalah disesuaikan dengan tema. Misalnya

tema sekolah, tujuan instruksionalnya adalah anak balita dapat



                             cxvi
  mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan sekolah dan alat-alat

  sekolah. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh para pendidik di

  Taman Balita Klub Merby.

b. Bahan Pembelajaran

         Menurut pendapat Miss Dani mengenai bahan pembelajaran

  yang digunakan yaitu dalam menentukan bahan pembelajaran

  hendaknya memenuhi kriteria: aman, menarik, sesuai dengan tema, dan

  dapat dikuasai oleh anak.

         Menurut pendapatnya mengenai cara menentukan bahan

  pembelajaran di Taman Balita Klub Merby yaitu disesuaikan dengan

  Menu Pembelajaran dari Pendidikan Anak Usia Dini dan disesuaikan

  pula dengan tingkat kemampuan anak.

c. Kegiatan Belajar Mengajar

         Menurut Miss Dani mengenai kegiatan belajar mengajar yaitu

  kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 09.00-11.00 WIB selama 5

  hari dalam satu minggu.

         Menurut pendapatnya mengenai dasar penentuan waktu

  pelaksanaannya adalah menyesuaikan dengan kondisi anak balita yang

  orang tuanya bekerja. Selain itu juga menyesuaikan kebiasaan anak

  Waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh semua

  pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby.

         Menurut pendapatnya mengenai proses belajar mengajar di

  Taman Balita Klub Merby yaitu menggunakan bahasa Indonesia dan



                              cxvii
  bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Sesuai dengan jadwal Taman

  Balita Klub Merby, Senin adalah Day of Knowledge, Selasa adalah Day

  of Skill, Rabu adalah Day of Health, Kamis adalah Day of Arts, dan

  Jumat adalah Day of Sports.

d. Metode

         Menurut Miss Dani mengenai metode pembelajaran yang

  digunakan di Happy Class adalah metode bermain, bercerita, bernyanyi,

  berdialog/ bercakap, dan bermain peran. Metode bermain dapat

  dilakukan di dalam ruangan dan di luar ruangan.

         Metode bercerita digunakan sebagai metode pembelajaran

  karena mendengarkan cerita atau dongeng merupakan kegiatan yang

  cukup mengasyikan bagi anak-anak.

         Metode bernyanyi digunakan sebagai metode pembelajaran

  karena dengan menyenyi akan membawa anak pada suasana emosional,

  baik sedih atau gembira.

         Metode berdialog/ bercakap digunakan untuk melatih anak-anak

  berkomunikasi juga melihat berapa besar respon anak tentang tema

  pembelajaran pada hari itu.

         Metode bermain peran akan memberikan kesempatan seluas-

  luasnya kepada anak untuk bermain peran dalam kehidupan sehari-hari

  maupun dalam dongeng/ cerita guna mengembangkan imajinasinya.




                                cxviii
e. Alat/ Media Belajar

          Menurut Miss Dani mengenai alat/ media belajar yang

  digunakan di Happy Class adalah jenis alat permainan dari lingkungan

  (seperti air, pasir) dan jenis APE (seperti puzzle, balok, kubus, gelang

  susun, papan pasak, dan lain-lain).

f. Sumber Belajar

          Menurut Miss Dani mengenai sumber belajar yang digunakan di

  Taman       Balita   Klub   Merby     adalah   sumber   belajar   alamiah,

  perpustakaan, media cetak dan elekrtonik, alat peraga, dan nara sumber

  (bila ada).

g. Evaluasi

          Menurut Miss Dani mengenai evaluasi pembelajaran adalah

  evaluasi ini dilakukan secara harian dan setiap akhir bulan. Secara

  harian dilakukan dengan cara pendidik menyampaikan perkembangan

  anak hari itu kepada orang tua anak balita. Selain itu pendidik juga

  memberitahu kepada orang tua anak balita tentang kegiatan-kegiatan

  yang dilakukan pada hari itu.

          Sedangkan evaluasi yang dilakukan setiap akhir bulan dilakukan

  dengan cara pendidik memberikan buku evaluasi kepada orang tua anak

  balita. Hal-hal yang dievaluasi meliputi pengetahuan, keterampilan, dan

  perilaku anak balita. Selain itu pendidik menuliskan pesan di dalam

  buku tersebut untuk orang tua anak balita. Kemudian orang tua anak

  balita memberikan respon yaitu menuliskan catatan-catatan untuk pihak



                                cxix
        Taman Balita Klub Merby sehingga terjadi komunikasi antara pihak

        Taman Balita Klub Merby dengan orang tua anak balita. Tujuan

        evaluasi ini adalah sebagai sarana untuk mendukung proses

        perkembangan anak.



Informan 2

      Beliau adalah salah seorang pendidik di Taman Balita Klub Merby yaitu

      pendidik Little Class (2-3 tahun). Namanya adalah Yulianti Astriningrum,

      S. Pd. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Miss Astri. Alamat Miss

      Astri adalah Jl. Mugas Barat VII/ 20 Semarang.

      a. Tujuan

               Menurut pendapat Miss Astri mengenai tujuan institusional

        (tujuan lembaga pendidikan) dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub

        Merby yaitu membantu para ibu dalam:

        1) Membiasakan sopan santun dan budi pekerti;

        2) Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita;

        3) Memotivasi anak belajar bicara;

        4) Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak;

        5) Memahami potensi anak;

        6) Menemani belajar sambil bermain;

        7) Membimbing balita agar mandiri.

        Tujuan institusional ini dirumuskan oleh pimpinan Taman Balita Klub

        Merby yaitu drg. Grace W. Susanto, M. M.



                                    cxx
       Menurut pendapatnya mengenai tujuan kurikuler (tujuan bidang

studi/ mata pelajaran adalah:

1) Anak mampu melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan

  Tuhan dan mencintai sesama.

2) Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakan-

  gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus, dan gerakan

  kasar, serta menerima rangsangan sensorik (pancaindera).

3) Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif

  dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk

  berfikir dan belajar.

4) Anak mampu berpikir logis, kritis, memberi alasan, memecahkan

  masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.

5) Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan

  masyarakat, dan menghargai keragaman sosial dan budaya. Serta

  mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar,

  kontrol diri, dan rasa memiliki.

6) Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai

  bunyi, bertepuk tangan, serta menghargai hasil karya yang kretif.

Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik dan koordinator

pelaksana Taman Balita Klub Merby.

       Menurut pendapatnya mengenai tujuan instruksional (tujuan

proses belajar mengajar) adalah disesuaikan dengan tema. Misalnya

tema sekolah, tujuan instruksionalnya adalah anak balita dapat



                                cxxi
  mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan sekolah dan alat-alat

  sekolah. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh para pendidik dan

  Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby.

b. Bahan Pembelajaran

          Menurut pendapat Miss Astri mengenai bahan pembelajaran

  yang digunakan yaitu dalam menentukan bahan pembelajaran

  sebaiknya memenuhi kriteria: sesuai dengan tema, warna menarik, dan

  aman.

          Menurut pendapatnya mengenai cara menentukan bahan

  pembelajaran di Taman Balita Klub Merby yaitu disesuaikan dengan

  tema dan kemampuan anak.

c. Kegiatan Belajar Mengajar

          Menurut Miss Astri mengenai kegiatan belajar mengajar yaitu

  setiap hari Senin-Kamis pukul 09.00-11.00 WIB. Sedangkan Jumat

  pukul 08.00-10.00 WIB.

          Menurut pendapatnya mengenai dasar penentuan waktu

  pelaksanaannya adalah 5 kali pertemuan dalam satu minggu. Tujuannya

  agar dapat mengamati perkembangan anak. Waktu pelaksanaan

  kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh semua pihak yang terkait di

  Taman Balita Klub Merby seperti koordinator pelaksana, pendidik, dan

  orang tua anak balita.




                             cxxii
d. Metode

         Menurut Miss Astri mengenai metode pembelajaran yang

  digunakan di Little Class adalah metode bermain, bercerita, bernyanyi,

  dan berdialog/ bercakap. Metode bermain dapat dilakukan di dalam

  ruangan dan di luar ruangan. Jenis bermainnya ada bermain bebas,

  dengan bimbingan, dan dengan pengarahan.

         Metode bercerita digunakan sebagai metode pembelajaran

  karena dapat mempengaruhi jalan pikiran dan daya imajinasi anak.

  Untuk melengkapi metode ini maka digunakan alat peraga berupa

  boneka-boneka, gambar-gambar, atau alat peraga lain yang masih ada

  hubungannya dengan bahan yang sedang diceritakan. Pada akhir cerita,

  pendidik memberi pertanyaan kepada anak, atau sebaliknya menjawab

  pertanyaan/ komentar anak.

         Metode bernyanyi digunakan sebagai metode pembelajaran

  karena cocok untuk tujuan mengembangkan penghayatan anak terhadap

  suatu peristiwa.

         Metode berdialog/ bercakap dapat dilakukan bersamaan dengan

  metode bermain, bercerita, dan bernyanyi. Metode ini bermanfaat untuk

  menambah kosakata yang dimiliki anak agar dapat berkomunikasi

  dengan baik.

e. Alat/ Media Belajar

         Menurut Miss Astri mengenai alat/ media belajar yang

  digunakan di Little Class adalah jenis alat permainan dari lingkungan



                               cxxiii
  alam, lingkungan sekitar, alat permainan modern, dan jenis APE

  (seperti puzzle, balok, kubus, bola, dan lain-lain).

f. Sumber Belajar

          Menurut Miss Astri mengenai sumber belajar yang digunakan di

  Taman Balita Klub Merby adalah buku, audio visual, perpustakaan, dan

  alat peraga yang disesuaikan dengan tema.

g. Evaluasi

          Menurut Miss Astri mengenai evaluasi pembelajaran adalah

  evaluasi ini dilakukan dengan melibatkan koordinator pelaksana,

  pendidik, pengasuh dan orang tua anak balita. Tujuan evaluasi ini

  adalah memantau perkembangan anak balita.

          Dari hasil evaluasi ini dapat dilihat kemampuan anak balita

  sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran yaitu terdapat perubahan

  terutama pada perilaku, sosialisasi, dan kemandirian (ke arah yang lebih

  baik). Dilihat dari pertumbuhan anak balita yaitu motorik kasar dan

  motorik     halus    anak   balita   menjadi   lebih baik.   Dilihat dari

  perkembangan anak balita yaitu anak balita menjadi lebih percaya diri,

  lebih mandiri, dan perbendaharaan kata semakin bertambah. Dilihat dari

  hasil pekerjaan anak balita terhadap tugas-tugas yang diberikan yaitu

  hasil     tidak     diutamakan,      yang   diutamakan   adalah    proses

  pembelajarannya.




                                 cxxiv
Informan 3

      Beliau adalah seorang koordinator pelaksana di Taman Balita Klub Merby.

      Namanya adalah Sri Rahayu. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya

      Ibu Yayuk. Alamat Ibu Yayuk adalah Jl. Syuhada Raya, Semarang.

      a. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby

                 Menurut Ibu Yayuk mengenai sistem pengasuhan yaitu sistem

        pengasuhan di Taman Balita Klub Merby ada dua jenis yaitu secara full

        day dan half day. Untuk yang full day, anak balita yang dititipkan selain

        mendapatkan pelayanan pembelajaran juga mendapatkan pelayanan

        asuhan. Anak balita dengan sistem pengasuhan ini biasanya mereka

        dijemput oleh orang tuanya pada sore hari yaitu pukul 17.00 WIB.

        Sedangkan untuk yang half day, anak balita yang dititipkan hanya

        mendapatkan pelayanan pembelajaran saja. Anak balita dengan sistem

        pengasuhan ini biasanya mereka dijemput oleh orang tuanya pada siang

        hari setelah pembelajaran selesai yaitu pukul 11.00 WIB.

                 Menurut pendapatnya, pelayanan yang diberikan oleh Taman

        Balita Klub Merby tidak hanya untuk anak balita tetapi juga untuk

        orang tua anak balita. Pelayanan yang diberikan kepada anak balita

        antara lain pendidikan (tentang budi pekerti, sopan santun, kemandirian,

        dan lain-lain), perawatan, asuhan, pemeriksaan kesehatan tubuh dan

        gigi, serta penggunaan fasilitas-fasilitas yang ada di Taman Balita Klub

        Merby.




                                    cxxv
         Sedangkan pelayanan yang diberikan kepada orang tua anak

balita yaitu konsultasi kepada dokter dan psikolog yang ada di Taman

Balita Klub Merby. Orang tua anak balita dapat berkonsultasi tentang

pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Selain itu orang tua anak

balita dapat bertukar pikiran kepada koordinator pelaksana, pendidik,

dan pengasuh jika anak balita mereka sedang mengalami permasalahan.

Kemudian pihak Taman Balita Klub Merby akan membantu

memberikan solusi kepada orang tua anak balita.

         Menurut pendapatnya, pengasuhan yang telah diterapkan di

Taman Balita Klub Merby (seperti kedisiplinan, sopan santun,

kemandirian, dan lain-lain) sebaiknya diterapkan pula di rumah. Hal

tersebut dilakukan dengan tujuan agar ada kesinambungan antara

pendidikan dan pengasuhan di Taman Balita Klub Merby dengan di

rumah.

         Menurut pendapatnya, daya tampung di Taman Balita Klub

Merby untuk sistem pengasuhan secara full day ada 16 anak balita. Saat

ini anak balita yang mendapatkan system pengasuhan secara full day

ada 10 anak balita.

         Menurut pendapatnya, para orang tua anak balita berasal dari

kota Semarang. Meraka ada yang bekerja sebagai dokter, pegawai bank,

wiraswasta, pegawai negeri, dan pegawai swasta pada perusahaan-

perusahaan besar di Semarang. Para orang tua anak balita belum

seluruhnya mentaati tata tertib Taman Balita Klub Merby. Biasanya



                            cxxvi
        yang sering terjadi adalah tentang penjemputan anak balita lewat dari

        yang telah ditantukan. Sebagian besar dari mereka pulang dari kantor

        pukul 17.00 WIB, sedangkan perjalanan dari kantor ke Taman Balita

        Klub Merby antara 15-30 menit. Sehingga para pengasuh memberikan

        toleransi waktu sampai pukul 17.15 WIB. Tidak jarang para pengasuh

        menunggu jemputan anak balita dating sampai pukul 17.30 WIB.

      b. Sistem Evaluasi

               Menurut pendapatnya mengenai evaluasi pengasuhan yaitu

        evaluasi dilakukan setiap hari. koordinator pelaksana dan pengasuh

        menyampaikan informasi kepada orang tua anak balita tentang

        perkembangan anak balita dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak

        balita pada hari itu. Jika orang tua anak balita tidak aktif menanyakan

        terlebih dahulu, maka koordinator pelaksana dan pengasuh tetap

        menyampaikan informasi tersebut.



Informan 4

      Beliau adalah seorang pengasuh di Taman Balita Klub Merby. Namanya

      adalah Santy Sulisyowati. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Ibu

      Wati. Alamat Ibu Wati adalah Bongsari Rt 04/ I, Semarang.

      a. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby

        Menurut pendapat Ibu Wati mengenai sistem pengasuhan yaitu asuhan

        dan perawatan dilakukan setelah proses pembelajaran selesai. Adapun

        kegiatan-kegiatan anak balita setelah proses pembelajaran, antara lain:


                                    cxxvii
1) Makan siang pada pukul 11.30-13.00 WIB

  Pengasuh memberikan makanan dan minuman kepada anak balita.

  Mereka diajarkan oleh pengasuh untuk makan sendiri. Tetapi bagi

  anak balita yang belum dapat makan sendiri maka akan disuapi oleh

  pengasuh. Makan siang dilakukan di ruang makan yaitu Ruang

  Kemuning. Anak balita diajarkan pula untuk makan sambil duduk.

  Sebagian besar anak balita senang jika makan sambil bermain-main

  di halaman belakang karena di sana terdapat beberapa alat permainan

  seperti jungkat-jungkit, ayunan, mangkuk putar, perosotan, dan lain-

  lain.

2) Mandi siang pada pukul 13.00-13.30 WIB

  Setelah makan siang selesai, pengasuh memandikan anak balita

  secara bergantian. Karena setelah makan siang kondisi anak balita

  (terutama pakaiannya) kotor. Jadi anak balita perlu dimandikan

  sehingga mereka tidur dalam keadaan bersih.

3) Istirahat (tidur siang) pada pukul 13.30-15.30 WIB

  Setelah anak balita balita mandi, mereka ganti pakaian kemudian

  tidur siang. Para pengasuh pun ikut menemani sampai anak balita

  tidur. Setelah anak balita tertidur, pengasuh bangun untuk

  melakukan pekerjaan lainnya.



4) Mandi sore pada pukul 15.30-16.30 WIB




                           cxxviii
     Setelah anak balita tidur, mereka bangun kemudian minum susu.

     Ada beberapa anak balita yang minum susu dengan menggunakan

     botol dan ada pula yang disuapi oleh pengasuh. Setelah itu anak

     balita dimandikan oleh pengasuh secara bergantian.

  5) Penjemputan balita pada pukul 16.30-17.00 WIB

     Anak balita yang sudah bersih dan rapi, menunggu orang tuanya

     menjemput. Mereka menunggu orang tuanya sambil bermain di

     halaman belakang. Batas penjemputan adalah pukul 17.00 WIB.

     Tetapi pengasuh memberikan toleransi waktu sampai pukul 17.15

     WIB.

b. Jenis Pengasuhan

  Menurut pendapatnya mengenai jenis pengasuhan yang diberikan oleh

  pengasuh kepada anak balita adalah selain diberikan pendidikan untuk

  bekal mereka masuk Taman Kanak-kanak (TK), pengasuh juga

  memberikan bimbingan, asuhan dan menanamkan rasa kasih sayang,

  kebersamaan, kesetiakawanan, kepedulian terhadap lingkungan dan

  sesama.   Ada      pula   pelayanan   pemeriksaan    kesehatan       seperti

  pemeriksaan kuku, gigi, dan telinga setiap seminggu sekali. Sedangkan

  penimbangan berat badan, konsultasi kesehatan umum dan gigi antara

  orang tua anak balita dan dokter dilaksanakan setiap bulan sekali.

c. Kendala-kendala

  Menurut pendapatnya mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam

  proses pengasuhan adalah kadang-kadang anak balita muncul rasa


                               cxxix
        egois, sensitif, manja, kurang percaya diri, dan sifat-sifat kekanak-

        kanakan lainnya yang membuat pengasuh harus memberikan perhatian

        lebih kepada anak balita tersebut tetapi tidak membuat iri hati kepada

        anak balita lainnya.



Informan 5

      Beliau adalah seorang pengasuh di Taman Balita Klub Merby. Namanya

      adalah Is Rahayu. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Ibu Is.

      Alamat Ibu Is adalah Jl. Mataram 653 Semarang atau di Merby Centre.

      a. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby

        Menurut pendapat Ibu Is mengenai sistem pengasuhan yaitu sistem

        pengsuhan di Taman Balita Klub Merby ada dua macam yaitu:

        1) Sistem Pengasuhan Half Day

             Anak balita hanya mengikuti proses pembelajaran. Biasanya mereka

             dijemput orang tuanya setelah proses pembelajaran selesai (siang

             hari).

        2) Sistem Pengasuhan Full Day

             Anak balita selain mengikuti proses pembelajaran, mereka juga

             mendapatkan asuhan dan perawatan setelah proses pembelajaran

             selesai. Biasanya mereka dijemput orang tuanya pada sore hari.

      b. Jenis Pengasuhan

        Menurut pendapatnya mengenai jenis pengasuhan yang diberikan oleh

        pengasuh kepada anak balita adalah pengasuh mengajarkan anak balita


                                      cxxx
untuk mandiri, bergaul dengan teman agar memiliki rasa kasih sayang

terhadap sesama. Anak balita mendapatkan pelayanan tersebut selama

mereka masih dititipkan di Taman Balita Klub Merby.

           Menurut pendapatnya mengenai kegiatan-kegiatan anak balita

selama dalam proses pengasuhan setelah proses pembelajaran selesai,

antara lain:

1) Makan siang pada pukul 11.30-13.00 WIB

   Pengasuh memberikan makanan dan minuman kepada anak balita.

   Mereka diajarkan oleh pengasuh untuk makan sendiri. Tetapi bagi

   anak balita yang belum dapat makan sendiri maka akan disuapi oleh

   pengasuh. Makan siang dilakukan di ruang makan yaitu Ruang

   Kemuning. Anak balita diajarkan pula untuk makan sambil duduk.

   Sebagian besar anak balita senang jika makan sambil bermain-main

   di halaman belakang karena di sana terdapat beberapa alat permainan

   seperti jungkat-jungkit, ayunan, mangkuk putar, perosotan, dan lain-

   lain.

2) Mandi siang pada pukul 13.00-13.30 WIB

   Setelah makan siang selesai, pengasuh memandikan anak balita

   secara bergantian. Karena setelah makan siang kondisi anak balita

   (terutama pakaiannya) kotor. Jadi anak balita perlu dimandikan

   sehingga mereka tidur dalam keadaan bersih.

3) Istirahat (tidur siang) pada pukul 13.30-15.30 WIB




                             cxxxi
     Setelah anak balita balita mandi, mereka ganti pakaian kemudian

     tidur siang. Para pengasuh pun ikut menemani sampai anak balita

     tidur. Setelah anak balita tertidur, pengasuh bangun untuk

     melakukan pekerjaan lainnya.

  4) Mandi sore pada pukul 15.30-16.30 WIB

     Setelah anak balita tidur, mereka bangun kemudian minum susu.

     Ada beberapa anak balita yang minum susu dengan menggunakan

     botol dan ada pula yang disuapi oleh pengasuh. Setelah itu anak

     balita dimandikan oleh pengasuh secara bergantian.

  5) Penjemputan balita pada pukul 16.30-17.00 WIB

     Anak balita yang sudah bersih dan rapi, menunggu orang tuanya

     menjemput. Mereka menunggu orang tuanya sambil bermain di

     halaman belakang. Batas penjemputan adalah pukul 17.00 WIB.

     Tetapi pengasuh memberikan toleransi waktu sampai pukul 17.15

     WIB.

c. Kendala-kendala

         Menurut pendapatnya mengenai kendala-kendala yang dihadapi

  dalam proses pengasuhan adalah bila anak balita sedang sakit maka

  mereka harus mendapatkan perawatan, asuhan, dan perhatian yang

  lebih. Selain itu bila anak balita buang air besar/ buang air kecil ketika

  sedang tidur, maka kotoran mereka akan meninggalkan noda pada kain

  sprei (bed cover). Karena kain sprei berwarna putih maka harus

  langsung dicuci apabila terkena kotoran anak balita.


                              cxxxii
Informan 6

      Beliau adalah orang tua dari Viera (3 tahun). Namanya adalah MB. Indah

      Novianti. Ibu Indah bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu

      perusahaan besar di Semarang. Alamat Ibu Indah adalah Jl. Sambiroto

      Baru No. 54 Kedungmundu Semarang.

      a. Alasan Orang Tua Menitipkan Anak Balitanya di Taman Balita

        Klub Merby

               Menurut pendapatnya mengenai alasan Ibu Indah menitipkan

        Viera di Taman Balita Klub Merby adalah karena beliau bekerja dari

        pagi sampai sore. Beliau juga tidak tega bila meninggalkan Viera

        dengan pembantu saja di rumah selama beliau bekerja. Selain itu lokasi

        Taman Balita Klub Merby dekat dengan kantor beliau. Adapun tujuan

        beliau menitipkan Viera di Taman Balita Klub Merby yaitu agar Viera

        mendapatkan pendidikan sebagai persiapan masuk TK. Beliau

        merasakan manfaat selama Viera dititipkan di Taman Balita Klub

        Merby yaitu Viera dapat lebih mandiri dibandingkan teman-teman

        lainnya (di rumah). Viera sekarang juga lebih kreatif.




      b. Persyaratan Menitipkan Anak Balita di Taman Balita Klub Merby

               Menurut pendapatnya mengenai persyaratan yang harus

        dipenuhi untuk menitipkan Viera di Taman Balita Klub Merby yaitu:



                                   cxxxiii
1) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara

  lain: menulis identitas diri anak, foto copy akte kelahiran anak, foto

  copy kartu keluarga, dan foto copy KTP kedua orang tua.

2) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian

  sebagai berikut:

  a) Biaya administrasi per bulan : Rp. 300.000

  b) Biaya SPP per bulan            : Rp. 200.000

     (untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu)

                                     Rp. 150.000

     (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu)

     Pembayaran SPP dilakukan setiap bulan antara tanggal 1-10.

  c) Biaya pendaftaran              : Rp. 100.000

  d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp. 500.000

  e) Biaya perlengkapan             : Rp. 135.000

     (mendapatkan seragam, kaos Merby, tas, media belajar: drawing

     board, buku, crayon, gunting, lem, dan lain-lain).

       Viera dititipkan di Taman Balita Klub Merby sejak usianya 2

tahun. Sebelum dititipkan di Taman Balita Klub Merby, Viera sudah

pernah dititipkan di tempat penitipan anak lain pada usia 3 bulan. Jadi

Viera sudah terbiasa dengan suasana penitipan anak. Tetapi Viera perlu

beradaptasi lagi ketika Viera dipindahkan ke Taman Balita Klub Merby.

Kondisi Viera setelah dititipkan di Taman Balita Klub Merby menjadi

lebih mandiri, kreatif, mudah bersosialisasi dan beradaptasi dengan



                           cxxxiv
  lingkungan. Dengan demikian perkembangan Viera saat ini menjadi

  lebih baik karena Taman Balita Klub Merby dilengkapi dengan sarana

  dan prasarana yang memadai.

          Jika Viera sedang mengalami permasalahan maka pihak Taman

  Balita Klub Merby ikut membantu mencari solusi untuk permasalahan

  yang dialami tersebut. Misalnya waktu awal Viera dititipkan di Taman

  Balita Klub Merby, dia cenderung egois dan sulit bergaul dengan

  teman-temannya. Tetapi saat ini dia sudah enjoy di Taman Balita Klub

  Merby karena pihak Taman Balita Klub Merby melakukan pendekatan-

  pendekatan kepada Viera.

c. Pelayanan-pelayanan yang Diberikan oleh Taman Balita Klub

  Merby

          Menurut pendapatnya mengenai pelayanan-pelayanan yang

  diberikan oleh Taman Balita Klub Merby yaitu Viera mendapatkan

  pelayanan pendidikan, perawatan, asuhan, pemeriksaan kesehatan, dan

  lain-lain. Selain itu beliau juga mendapatkan kesempatan untuk

  berkonsultasi kepada dokter dan psikolog tentang pertumbuhan dan

  perkembangan Viera.

          Menurut pendapatnya mengenai hasil evaluasi yaitu hal-hal

  yang dievaluasi meliputi keterampilan, kemandirian, dan sosialisasi.

  Hal-hal tersebut dilaporkan kepada beliau oleh pihak Taman Balita

  Klub Merby setiap hari dan setiap bulan dengan cara langsung dan

  menggunakan media perantara yaitu buku evaluasi bulanan anak balita.



                             cxxxv
      d. Keberadaan Taman Balita Klub Merby

               Menurut pendapatnya mengenai keberadaan Taman Balita Klub

        Merby yaitu sangat bermanfaat sekali terutama untuk beliau yang

        bekerja di luar rumah. Beliau menyarankan kepada Taman Balita Klub

        Merby untuk lebih meningkatkan pelayanan yang diberikan baik kepada

        anak balita maupun orang tuanya agar para orang tua anak balita lebih

        yakin untuk menitipkan anaknya selama orang tua bekerja.



Informan 7

      Beliau adalah orang tua dari Adnan Harimurti K (3 tahun) atau Ade.

      Namanya adalah Lili Umiati. Ibu Lili bekerja sebagai pegawai swasta di

      salah satu perusahaan besar di Semarang. Alamat Ibu Lili adalah Beringin

      Putih D2/ 14 Ngalian, Semarang.

      a. Alasan Orang Tua Menitipkan Anak Balitanya di Taman Balita

        Klub Merby

               Menurut pendapatnya mengenai alasan Ibu Lili menitipkan Ade

        di Taman Balita Klub Merby adalah karena beliau bekerja dari pagi

        sampai sore. Beliau juga tidak tega bila meninggalkan Ade dengan

        pembantu saja di rumah selama beliau bekerja. Selain itu lokasi Taman

        Balita Klub Merby dekat dengan kantor beliau. Adapun tujuan beliau

        menitipkan Ade di Taman Balita Klub Merby yaitu agar Ade lebih

        mandiri dan dapat bersosialisasi dengan baik. Beliau merasakan

        manfaat selama Ade dititipkan di Taman Balita Klub Merby yaitu Ade



                                   cxxxvi
  mengalami    banyak    perubahan        seperti   cara   berbicaranya   dan

  bersosialisasinya menjadi lebih baik.

b. Persyaratan Menitipkan Anak Balita di Taman Balita Klub Merby

         Menurut pendapatnya mengenai persyaratan yang harus

  dipenuhi untuk menitipkan Ade di Taman Balita Klub Merby yaitu:

  1) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara

     lain: menulis identitas diri anak, foto copy akte kelahiran anak, foto

     copy kartu keluarga, dan foto copy KTP kedua orang tua.

  2) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian

     sebagai berikut:

     a) Biaya administrasi per bulan : Rp. 300.000

     b) Biaya SPP per bulan             : Rp. 200.000

       (untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu)

                                          Rp. 150.000

       (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu)

       Pembayaran SPP dilakukan setiap bulan antara tanggal 1-10.

     c) Biaya pendaftaran               : Rp. 100.000

     d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp. 500.000

     e) Biaya perlengkapan              : Rp. 135.000

       (mendapatkan seragam, kaos Merby, tas, media belajar: drawing

       board, buku, crayon, gunting, lem, dan lain-lain).

         Ade dititipkan di Taman Balita Klub Merby sejak usianya 17

  bulan. Sebelum dititipkan di Taman Balita Klub Merby, Ade belum



                              cxxxvii
  dapat berjalan dengan baik dan sudah dapat berbicara tetapi belum

  lancer. Saat ini Ade mengalami banyak perubahan seperti dapat berjalan

  dengan baik, lebih pintar berbicara, dan lebih sopan kepada orang lain.

  Dengan demikian perkembangan Ade saat ini menjadi lebih baik karena

  Taman Balita Klub Merby dilengkapi dengan sarana dan prasarana

  yang memadai.

          Jika Ade sedang mengalami permasalahan, misalnya rewel di

  rumah maka pihak Taman Balita Klub Merby ikut membantu mencari

  solusi terhadap permasalahan Ade tersebut melalui sharing dengan

  pendidik dan pengasuh.

c. Pelayanan-pelayanan yang Diberikan oleh Taman Balita Klub

  Merby

          Menurut pendapatnya mengenai pelayanan-pelayanan yang

  diberikan oleh Taman Balita Klub Merby yaitu Ade mendapatkan

  pelayanan pendidikan, perawatan, asuhan, pemeriksaan kesehatan, dan

  lain-lain. Selain itu beliau juga mendapatkan kesempatan untuk

  berkonsultasi kepada dokter dan psikolog tentang pertumbuhan dan

  perkembangan Ade.

          Menurut pendapatnya mengenai hasil evaluasi yaitu hal-hal

  yang dievaluasi meliputi keterampilan, kemandirian, dan sosialisasi.

  Hal-hal tersebut dilaporkan kepada beliau oleh pihak Taman Balita

  Klub Merby setiap hari dan setiap bulan dengan cara langsung dan

  menggunakan media perantara yaitu buku evaluasi bulanan anak balita.



                            cxxxviii
     d. Keberadaan Taman Balita Klub Merby

               Menurut pendapatnya mengenai keberadaan Taman Balita Klub

       Merby yaitu sangat bermanfaat sekali terutama untuk beliau yang

       bekerja di luar rumah. Beliau menyarankan kepada Taman Balita Klub

       Merby untuk lebih meningkatkan sarana dan prasarana termasuk

       fasilitas-fasilitas yang ada.



Pembahasan

     Pada bagian ini akan dibahas hasil penelitian seperti telah dipaparkan
     dimuka yang meliputi: pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman
     Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan, bahan
     pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media belajar,
     sumber belajar, dan evaluasi, serta faktor pendukung dan faktor
     penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita
     Klub Merby.




   1. Tujuan

             Tujuan institusional dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub Merby
     adalah membantu para ibu dalam:
     a. Membiasakan sopan santun dan budi pekerti;

     b. Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita;

     c. Memotivasi anak belajar bicara;

     d. Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak;

     e. Memahami potensi anak;

                                       cxxxix
f. Menemani belajar sambil bermain;

g. Membimbing balita agar mandiri.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48), tujuan adalah

suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan

institusional adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh lembaga atau

jenis tingkatan sekolah. Tujuan institusional ini dirumuskan oleh semua

pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby.

       Tujuan kurikuler adalah penjabaran tujuan ininstitusional yang
berisi program-program pendidikan. Program Little Class dan Happy Class
di Taman Balita Klub Merby memiliki tujuan kurikuler, antara lain:
a. Anak mampu melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan

  Tuhan dan mencintai sesama.

b. Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan

  yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus, dan gerakan kasar, serta

  menerima rangsangan sensorik (pancaindera).

c. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan

  dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan

  belajar.

d. Anak mampu berpikir logis, kritis, memberi alasan, memecahkan

  masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.

e. Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan

  masyarakat, dan menghargai keragaman sosial dan budaya. Serta

  mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar,

  kontrol diri, dan rasa memiliki.


                                cxl
  f. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai bunyi,

     bertepuk tangan, serta menghargai hasil karya yang kretif.

  Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub

  Merby.

           Tujuan instruksional menyangkut tujuan yang hendak kita capai
  dalam kegiatan pendidikan kita sehari-hari. Tujuan instruksional (tujuan
  proses belajar mengajar) pada Little Class dan Happy Class adalah
  disesuaikan dengan tema. Misalnya tema sekolah, tujuan instruksionalnya
  adalah anak balita dapat mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan
  sekolah dan alat-alat sekolah. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh
  para pendidik di Taman Balita Klub Merby.
2. Bahan Pembelajaran

           Taman Balita Klub Merby memiliki bahan pembelajaran yang
  ingin disampaikan dalam proses belajar mengajar. Taman Balita Klub
  Merby memiliki beberapa kriteria dalam menentukan bahan pembelajaran
  yaitu: relevan dengan kondisi anak, berwarna dan atraktif, sederhana dan
  konkrit, eksploratif dan mengandung rasa ingin tahu, berkaitan dengan
  aktivitas keseharian anak, aman dan tidak membahayakan, serta
  bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan.
           Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:50), bahan
  pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses
  belajar mengajar. Menurut Hibana S. Rahman (2002:77), dalam
  menentukan bahan pembelajaran untuk anak balita ada beberapa kriteria
  yang harus dipenuhi.
3. Kegiatan Belajar Mengajar

           Kegiatan belajar mengajar di Taman Balita Klub Merby adalah inti
  kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang diprogramkan akan
  dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.



                                  cxli
       Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:51),
kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala
sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar
mengajar.
       Kegiatan belajar mengajar Taman Balita Klub Merby dilakukan
sesuai dengan jadwal yaitu:
07.30-08.30 WIB: Balita datang
Para orang tua mengantarkan anak balitanya ke Taman Balita Klub Merby.
Balita datang dalam keadaan sudah mandi dan makan pagi.
09.00-10.30 WIB: Pelatihan balita mandiri
Pelaksanaan pembelajaran dibagi menjadi tiga kelas yaitu:
a. Tiny Class, untuk anak balita berusia 1-2 tahun.

b. Little Class, untuk anak balita berusia 2-3 tahun.

c. Happy Class, untuk anak balita berusia 3-4 tahun.

Proses pembelajaran tersebut menggunakan bahasa pengantar yaitu bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris.
09.00-11.00 WIB: Pelatihan balita mandiri
Pelaksanaan pembelajaran hanya ada satu kelas yaitu Smart Class untuk
anak balita berusia 4-5 tahun sebagai persiapan anak balita memasuki TK.
       Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara bermain edukatif
dengan tema yang berbeda-beda setiap harinya.
a. Senin: Day of Knowledge

   Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang
   menekankan tentang pengetahuan.
b. Selasa: Day of Skill

   Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang
   menekankan tentang keterampilan.
c. Rabu: Day of Health




                                cxlii
     Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang
     menekankan tentang kesehatan.




  d. Kamis: Day of Arts

     Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang
     menekankan tentang seni.
  e. Jumat: Day of Sports

     Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang
     menekankan tentang olah raga.
4. Metode

         Metode pembelajaran di Taman Balita Klub Merby bersifat
  menantang, menyenangkan, melibatkan unsur bermain, bergerak,
  bernyanyi, dan belajar.
         Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slamet Suyanto (2003:162)
  yaitu metode pembelajaran untuk anak usia dini hendaknya menantang,
  menyenangkan, melibatkan unsur bermain, bergerak, bernyanyi, dan
  belajar.
         Metode pembelajaran yang digunakan di Taman Balita Klub Merby
  antara lain: bermain, bercerita, bernyanyi, bercakap/ berdialog, dan
  bermain peran. Kegiatan bermain dilakukan di dalam dan di luar ruangan
  dengan bimbingan dan arahan, tetapi ada pula bermain bebas.
         Metode bercerita dilakukan dengan berbagai bentuk seperti
  bercerita tanpa alat peraga, dengan menggunakan alat peraga, dan dengan
  menggunakan buku cerita (story reading).
         Metode bernyanyi dilakukan dengan bernyanyi aktif yaitu anak
  balita melakukan secara langsung kegiatan bernyanyi, baik dilakukan
  sendiri, mengikuti atau bersama-sama dengan menggerak-gerakan tubuh
  mereka atau bertepuk tangan.



                                 cxliii
         Metode bercakap/ berdialog dilakukan bersamaan dengan metode
  bermain, bercerita, dan bernyanyi. Metode ini bermanfaat untuk
  menambah kosakata yang dimiliki anak balita agar dapat berkomunikasi
  dengan baik.
         Metode bermain peran akan memberikan kesempatan seluas-
  luasnya kepada anak balita untuk bermain peran dalam kehidupan sehari-
  hari maupun dalam dongeng/ cerita guna mengembangkan imajinasinya.
5. Alat/ Media Belajar

         Alat permainan yang digunakan di Taman Balita Klub Merby yaitu
  alat permainan dari lingkungan dan Alat Permainan Edukatif (APE). Alat
  permainan dari lingkungan misalnya dari lingkungan alam (air, pasir),
  lingkungan sekitar, alat permainan modern. Sedangkan APE misalnya
  puzzle, balok, kubus, gelang susun, papan pasak, bola, dan lain-lain.
         Menurut Slamet Suyanto (2003:161), media belajar anak usia dini
  pada umumnya adalah alat permainan. Anak akan aktif mengadakan
  eksplorasi dengan menggunakan alat permainan, walaupun tidak menutup
  kemungkinan mereka akan meggunakannya untuk bermain. Alat
  permainan ada dua jenis yaitu dari lingkungan dan Alat Permainan
  Edukatif (APE).




6. Sumber Belajar

         Sumber belajar yang digunakan di Taman Balita Klub Merby yaitu
  sumber belajar alamiah, perpustakaan, media cetak dan elektronik, alat
  peraga, dan nara sumber (bila ada).
         Menurut Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata
  (1991:165) dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:55),
  sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat
  dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal
  untuk belajar seseorang.


                                 cxliv
7. Evaluasi

         Evaluasi pembelajaran yang dilakukan di Taman Balita Klub

  Merby melibatkan koordinator pelaksana, pendidik, pengasuh dan orang

  tua anak balita. Tujuan evaluasi ini adalah untuk memantau perkembangan

  anak balita.

         Menurut Slamet Suyanto (2003:224), penilaian pada anak usia dini

  hendaknya lebih didasarkan atas kemajuan belajar atau pengembangan

  individual. Karena itu bentuk penilaian di mana anak dibandingkan dengan

  anak yang lain menjadi kurang bermakna. Pendidik harus mau

  menganggap bahwa semua anak, apapun kondisinya, adalah siswanya

  yang harus dikembangkan secara optimal sesuai dengan kapasitas masing-

  masing.

         Evaluasi pembelajaran ini dilakukan secara harian dan setiap akhir

  bulan. Secara harian dilakukan dengan cara pendidik menyampaikan

  perkembangan anak hari itu kepada orang tua anak balita. Selain itu

  pendidik juga memberitahu kepada orang tua anak balita tentang kegiatan-

  kegiatan yang dilakukan pada hari itu.

         Sedangkan evaluasi yang dilakukan setiap akhir bulan dilakukan
  dengan cara pendidik memberikan buku evaluasi kepada orang tua anak
  balita. Hal-hal yang dievaluasi meliputi pengetahuan, keterampilan, dan
  perilaku anak balita. Selain itu pendidik menuliskan pesan di dalam buku
  tersebut untuk orang tua anak balita. Kemudian orang tua anak balita
  memberikan respon yaitu menuliskan catatan-catatan untuk pihak Taman
  Balita Klub Merby sehingga terjadi komunikasi antara pihak Taman Balita
  Klub Merby dengan orang tua anak balita.




                                 cxlv
         Dari hasil evaluasi ini dapat dilihat kemampuan anak balita

  sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran yaitu terdapat perubahan

  terutama pada perilaku, sosialisasi, dan kemandirian (ke arah yang lebih

  baik). Dilihat dari pertumbuhan anak balita yaitu motorik kasar dan

  motorik halus anak balita menjadi lebih baik. Dilihat dari perkembangan

  anak balita yaitu anak balita menjadi lebih percaya diri, lebih mandiri, dan

  perbendaharaan kata semakin bertambah. Dilihat dari hasil pekerjaan anak

  balita terhadap tugas-tugas yang diberikan yaitu hasil tidak diutamakan,

  yang diutamakan adalah proses pembelajarannya.




8. Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Anak Usia Dini pada Taman

  Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby

  a. Kebutuhan Pokok Anak

               Pelayanan untuk makanan pokok anak di Taman Balita Klub
     Merby yaitu pemberian makanan/ minuman yang membutuhkan sarana
     seperti: piring, sendok, gelas, dacin, KMS, dan register. Untuk
     sementara, orang tua menyiapkan makanan/ minuman anak balita
     sendiri. Setiap hari Jumat Taman Balita Klub Merby memberikan
     makanan/ minuman tambahan kepada anak balita.
               Selain itu ada pula pelayanan untuk istirahat yaitu tidur yang
     membutuhkan sarana perlengkapan tidur.




                                  cxlvi
            Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman

  Penitipan Anak (2001:17), standar pelayanan kebutuhan pokok anak

  sebagai berikut:

    No.    Komponen          Standar Pelayanan                  Sarana
     1.   Makanan       e. Pemberian makanan/            Piring, sendok,
          Pokok            minuman;                      gelas, dacin, KMS,
                                                         register.
                        f. Pemberian Paket               Vitamin A, Sirup Fe,
                           Pertolongan Gizi;             Kapsul Yodium.
                        g. PMT Penyuluhan; dan           Buku Pedoman
                                                         Pembuatan Makanan
                                                         Lokal.
                        h. PMT Pemulihan.                Home Economi Sets,
                                                         Paket PMT, Blended
                                                         Food.
    2.    Gizi          d. Penyuluhan Gizi;              Modul Simulasi
                                                         Posyandu.
                        e. ASI Eksklusif; dan            Buku Pedoman
                                                         Kader Posyandu.
                        f.   Penyuluhan Gizi Seimbang.   Poster, leaflet,
                                                         lembar balik.
    3.    Istirahat     Tidur.                           Perlengkapan tidur.



b. Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak

            Pelayanan perawatan kesehatan anak Taman Balita Klub

  Merby dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  6) Promotif: Cara merawat bayi di rumah

    Standar pelayanannya antara lain: menjaga anak balita tetap hangat,

    mencegah infeksi, mengenali tanda bahaya pada anak balita,

    memelihara kebersihan diri, dan memelihara kebersihan lingkungan

    anak balita.

  7) Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak

    Standar pelayanannya antara lain: mengenali secara dini

    penyimpangan perkembangan serta mengenali cara stimulasi dan

    intervensi.


                              cxlvii
8) Penanggulangan Kecelakaan

   Standar pelayanannya antara lain: pencegahan serta penanggulangan

   kecelakaan dan cidera.

9) Preventif

   Standar pelayanannya antara lain: imunisasi pada anak, pemeriksaan

   gigi dan mulut, dan pemeriksaan tubuh.

10) Kuratif

   Standar pelayanannya antara lain: Pertolongan Pertama pada

   Kecelakaan (P3K) dan Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P).




          Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman

Penitipan Anak (2001:18-19), standar pelayanan perawatan kesehatan

anak sebagai berikut:

 No.    Komponen             Standar Pelayanan                   Sarana
 1.    Promotif: Cara   g. Menjaga bayi tetap         Buku KIA (Kesejahteraan
       merawat bayi        hangat;                    Ibu dan Anak); Modul TN
       di rumah         h. Memberikan ASI dini        BBLR (Pegangan bagi
                           dan Eksklusif;             Tenaga Kesehatan); Buku
                        i. Mencegah infeksi;          pegangan Kader Kesehatan;
                        j. Mengenali tanda bahaya     dan Materi penyuluhan
                           pada bayi;                 tentang pencegahan dan
                        k. Memelihara kebersihan      penenganan hipotermi bayi,
                           diri;                      ASI Eksklusif, cara
                        l. Memelihara kebersihan      pemberian makanan pada
                           lingkungan anak.           bayi.
  2.   Promotif:        c. Mengenali secara dini      Buku Pedoman Pemantauan
       Deteksi dini        penyimpangan               Perkembangan Anak di
       pertumbuhan         perkembangan;              tingkat keluarga; dan
       dan              d. Mengenali cara stimulasi   Lembar balik poster dan
       perkembangan        dan intervensi.            leaflet Tahapan
       anak                                           Perkembangan Anak.

  3.   Penanggulang     Pencegahan serta              Buku Pedoman
       an Kecelakaan    penanggulangan                Penanggulangan Kecelakaan


                               cxlviii
                          kecelakaan dan cidera.         dan Cidera pada Usia Balita
                                                         di rumah tangga.
    4.   Preventif        g. Imunisasi lengkap pada      Jadwal: Lihat tabel 2.2a.
                             bayi dan anak;
                          h. Imunisasi TT pada ibu
                             hamil;
                          i. Pemberian obat cacing;      Obat cacing 6 bulan sekali
                                                         dengan petunjuk dokter.
                          j. Pemeriksaan gigi dan        3 s.d 6 bulan sekali.
                             mulut;
                          k. Pemeriksaan tubuh;          1 minggu s.d 1 bulan sekali.
                          l. Pemberian vitamin A, B      1 minggu sekali secara
                             Komplek, C                  bergantian.
    5.   Kuratif          c. Pertolongan      Pertama    Obat-obat P3K, Kotak Obat,
                             pada          Kecelakaan    Tensoplast, Gunting, Obat
                             meliputi: luka lecet dan    merah, Kapas, Providon
                             luka bakar;                 Iqdine, Verban.
                          d. Pertolongan      Pertama    Obat-obatan P3P seperti:
                             pada Penyakit (P3P),        Obat turun panas, Obat
                             meliputi: panas/ demam,     batuk putih, Oralit, Gentian
                             batuk     pilek,   diare,   Violet, Salep hitam (Iontiol),
                             sariawan, infeksi kulit     Salep 2-4/ salep 88, Tetes
                             (koreng, bisul, kadas,      mata
                             kudis), dan mata merah.




c. Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

             Taman Balita Klub Merby memberikan pelayanan

  Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada orang tua

  anak balita.

             Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman

  Penitipan Anak (2001:20), standar pelayanan Pendidikan Perilaku

  Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu:

             Standar Pelayanan                            Sarana
   Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan      Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS
   Sehat (PHBS)

d. Pendidikan Anak Usia Dini

             Pelayanan pendidikan anak usia dini di Taman Balita Klub

  Merby antara lain:


                                  cxlix
  3) Pembentukan perilaku: moral, agama, displin, perasaan/ emosi, dan

     kemampuan bermasyarakat.

  4) Pengembangan kemampuan dasar: berbahasa, daya pikir, daya cipta,

     keterampilan, dan jasmani.




            Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman

  Penitipan Anak (2001:20), standar pelayanan pendidikan anak usia dini

  sebagai berikut:

      Komponen              Standar Pelayanan                       Sarana
   Pendidikan Anak   c. Pembentukan          Perilaku:   Buku cerita, alat musik,
   Usia Dini            Moral,     agama,     displin,   radio, tape, TV, boneka,
                        perasaan/     emosi,       dan   alat masakan, alat olah
                        kemampuan bermasyarakat.         raga, sikat gigi, alat
                     d. Pengembangan Kemampuan           pertukangan, gelas minum,
                        Dasar: Berbahasa, daya pikir,    balok bangunan, puzzle,
                        daya cipta, keterampilan, dan    alat geometri, binatang
                        jasmani.                         mainan, kubus, kendaraan
                                                         mainan, plastisin, alat-alat
                                                         menggambar, batu-batuan,
                                                         alat meronce, gambar seri,
                                                         biji-bijian, alat untuk
                                                         menganyam.

e. Layanan Bimbingan Sosial

            Pelayanan bimbingan sosial di Taman Balita Klub Merby

  diberikan kepada orang tua. Pelayanan ini akan membantu orang tua

                                  cl
     dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.

     Pelayanan yang diberikan dapat berupa penyuluhan tentang:

     7) Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan - 6 tahun).

     8) Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan

        anak.

     9) Media interaksi (bermain, bercerita, menyanyi, menari).

     10) Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak.

     11) Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

     12) Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak.




                 Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman

     Penitipan Anak (2001:21), standar layanan bimbingan sosial sebagai

     berikut:

          Komponen                Standar Pelayanan                     Sarana
       Pelayanan          Penyuluhan:                          Model penyuluhan,
       bimbingan sosial   g. Pertumbuhan dan perkembangan      buku pedoman, buku
       membantu              anak umum (3 bulan - 6 tahun);    cara penggunaan APE,
       pertumbuhan dan    h. Peranan orang tua dalam           kartu tumbuh kembang
       perkembangan          membina pertumbuhan dan           anak, booklet, leaflet,
                             perkembangan anak;                poster, dan APE.
                          i. Media      interaksi  (bermain,
                             bercerita, menyanyi, menari);
                          j. Cara merangsang pertumbuhan
                             dan perkembangan anak;
                          k. Pemantauan pertumbuhan dan
                             perkembangan anak;
                          l. Rujukan kelainan pertumbuhan
                             dan perkembangan anak.

       Berdasarkan pembahasan tentang tujuan, bahan pembelajaran,
kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media belajar, sumber belajar, dan
evaluasi di atas maka pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman


                                      cli
Balita Klub Merby sudah sesuai dengan pembelajaran anak usia dini.
Alasannya adalah Taman Balita Klub Merby memiliki komponen
pembelajaran yang meliputi aspek-aspek: tujuan, bahan pembelajaran,
kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media belajar, sumber belajar, dan
evaluasi yang telah disesuaikan dengan pedoman penyelenggaraan
pendidikan pada taman penitipan anak. Berdasarkan data empirik di lapangan
maka terdapat beberapa faktor pendukung, antara lain:
1. Dilihat dari tujuan, tujuan pembelajaran dirancang sesuai dengan tema dan

  kondisi anak balita.

2. Dilihat dari bahan pembelajaran, bahan pembelajaran ditentukan dengan

  beberapa kriteria yaitu relevan dengan kondisi anak, berwarna dan atraktif,

  sederhana dan konkrit, eksploratif dan mengandung rasa ingin tahu,

  berkaitan    dengan    aktivitas    keseharian   anak,   aman   dan    tidak

  membahayakan, serta bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan.

3. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar, waktu pelaksanaan kegiatan belajar

  mengajar dilakukan dengan dua sistem yaitu 3 kali pertemuan dalam satu

  minggu dan 5 kali pertemuan dalam satu minggu. Satu kali pertemuan

  adalah 120 menit setiap harinya.

4. Dilihat dari metode, metode pembelajaran digunakan secara bergantian

  yaitu metode bermain, bercerita, bernyanyi, bercakap/ berdialog, dan

  bermain peran. Tujuannya yaitu agar anak tidak cepat bosan.

5. Dilihat dari alat/ media belajar, alat permainan yang digunakan ada dua

  jenis yaitu dari lingkungan dan APE.

6. Dilihat dari sumber belajar, sumber belajar yang digunakan adalah sumber

  belajar alamiah, perpustakaan, media cetak dan elektronik, dan alat peraga.


                                     clii
7. Dilihat dari evaluasi, evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan.

       Selain itu komponen pembelajaran di Taman Balita Klub Merby juga
memiliki kekurangan-kekurangan yang akan menjadi faktor penghambat.
Berdasarkan data empirik di lapangan maka terdapat beberapa faktor
penghambat, antara lain:
1. Dilihat dari tujuan, tujuan pembelajaran tidak seluruhnya tercapai sesuai

  dengan perencanaan.

2. Dilihat dari bahan pembelajaran, bahan pembelajaran kurang memadai.

3. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar, dalam kegiatan belajar mengajar

  terkadang anak balita tidak mandiri, malu-malu, serta tidak dapat

  mengendalikan emosi secara wajar. Jumlah anak balita terlalu banyak dan

  sebagian besar belum dapat berkomunikasi dengan baik sehingga kegiatan

  belajar menagajar kurang lancar.

4. Dilihat dari metode, anak balita cepat bosan terhadap pembelajaran

  sehingga metode pembelajaran harus bervariasi.

5. Dilihat dari alat/ media belajar, jumlah APE tidak sebanding dengan

  jumlah anak balita.

6. Dilihat dari sumber belajar, sumber belajar seperti alat peraga kurang

  lengkap.

7. Dilihat dari evaluasi, ada beberapa orang tua yang tidak kooperatif bila

  anak balitanya jarang masuk sehingga menghambat proses evaluasi.




                                   cliii
                                    BAB V

                                 PENUTUP


A. Kesimpulan

     Berdasarkan analisis data seperti terurai di atas, maka peneliti
     menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
   1. Suatu pola pembelajaran tidak dapat dipaksakan kepada anak balita karena

     mereka memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang

     lainnya. Rasa keingintahuan anak balita cukup besar sehingga para

     pendidik dan orang tua harus memberikan bimbingan kepada mereka. Pola

     pembelajaran taman penitipan anak yang meliputi aspek-aspek tujuan,

     bahan pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media

     belajar, sumber belajar, dan evaluasi yang diterapkan di Taman Balita

     Klub Merby adalah:

     a. Tujuan

        Tujuan pembelajaran ditentukan oleh Pimpinan dan Pendidik. Dalam
        hal ini tujuan harus disesuaikan dengan pendidikan anak usia dini dan
        kondisi anak balita termasuk tugas-tugas perkembangan anak balita.
     b. Bahan Pembelajaran

        Dalam menentukan bahan pembelajaran harus disesuaikan dengan
        Menu Pembelajaran dari Pendidikan Anak Usia Dini dan disesuaikan
        pula dengan tingkat kemampuan anak.


                                       143

     c. Kegiatan Belajar Mengajar




                                      cliv
     Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sesuai jadwal yang telah dibuat
     dengan persetujuan Pimpinan.
  d. Metode

     Metode yang digunakan adalah metode bermain, bercerita, bernyanyi,
     berdialog/ bercakap, dan bermain peran.
  e. Alat/ Media Belajar

     Alat/ media belajar yang digunakan adalah alat permainan dari
     lingkungan dan APE.
  f. Sumber Belajar

     Sumber belajar yang digunakan adalah sumber belajar alamiah,
     perpustakaan, media cetak dan elektronik, alat peraga, dan nara sumber
     (bila ada).
  g. Evaluasi

     Evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan. Pendidik dapat
     menyampaikan hasil evaluasi secara langsung dan melalui buku hasil
     evaluasi bulanan.
2. Faktor pendukung Taman Balita Klub Merby antara lain:

  a. Dilihat dari tujuan, tujuan pembelajaran dirancang sesuai dengan tema

     dan kondisi anak balita.

  b. Dilihat dari bahan pembelajaran, bahan pembelajaran ditentukan

     dengan beberapa kriteria yaitu relevan dengan kondisi anak, berwarna

     dan atraktif, sederhana dan konkrit, eksploratif dan mengandung rasa

     ingin tahu, berkaitan dengan aktivitas keseharian anak, aman dan tidak

     membahayakan, serta bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan.

  c. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar, waktu pelaksanaan kegiatan

     belajar mengajar dilakukan dengan dua sistem yaitu 3 kali pertemuan



                                 clv
     dalam satu minggu dan 5 kali pertemuan dalam satu minggu. Satu kali

     pertemuan adalah 120 menit setiap harinya.

  d. Dilihat dari metode, metode pembelajaran digunakan secara bergantian

     yaitu metode bermain, bercerita, bernyanyi, bercakap/ berdialog, dan

     bermain peran. Tujuannya yaitu agar anak tidak cepat bosan.

  e. Dilihat dari alat/ media belajar, alat permainan yang digunakan ada dua

     jenis yaitu dari lingkungan dan APE.

  f. Dilihat dari sumber belajar, sumber belajar yang digunakan adalah

     sumber belajar alamiah, perpustakaan, media cetak dan elektronik, dan

     alat peraga.

  g. Dilihat dari evaluasi, evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan.

3. Faktor penghambat Taman Balita Klub Merby antara lain:

  a. Dilihat dari tujuan, tujuan pembelajaran tidak seluruhnya tercapai

     sesuai dengan perencanaan.

  b. Dilihat dari bahan pembelajaran, bahan pembelajaran kurang memadai.

  c. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar, dalam kegiatan belajar mengajar

     terkadang anak balita tidak mandiri, malu-malu, serta tidak dapat

     mengendalikan emosi secara wajar. Jumlah anak balita terlalu banyak

     dan sebagian besar belum dapat berkomunikasi dengan baik sehingga

     kegiatan belajar menagajar kurang lancar.

  d. Dilihat dari metode, anak balita cepat bosan terhadap pembelajaran

     sehingga metode pembelajaran harus bervariasi.




                                  clvi
     e. Dilihat dari alat/ media belajar, jumlah APE tidak sebanding dengan

        jumlah anak balita.

     f. Dilihat dari sumber belajar, sumber belajar seperti alat peraga kurang

        lengkap.

     g. Dilihat dari evaluasi, ada beberapa orang tua yang tidak kooperatif bila

        anak balitanya jarang masuk sehingga menghambat proses evaluasi.



B. Saran

     Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang diajukan adalah:
   1. Berkaitan dengan pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman

     Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek tujuan, bahan pembelajaran,

     kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ media belajar, sumber belajar, dan

     evaluasi maka diharapkan semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub

     Merby untuk selalu menjalin kerjasama dengan pihak luar seperti orang

     tua anak balita dan instansi-instansi yang berhubungan dengan pendidikan

     anak usia dini. Dengan demikian pelaksanaan pola pembelajaran di Taman

     Balita Klub Merby akan berjalan dengan baik.

   2. Berkaitan dengan faktor-faktor pendukung yang terdapat di Taman Balita

     Klub Merby, alangkah baiknya untuk selalu dipertahankan yaitu dengan

     cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Taman Balita Klub

     Merby.

   3. Berkaitan dengan faktor-faktor penghambat yang terdapat di Taman Balita

     Klub Merby, ada baiknya untuk diminimalkan yaitu dengan cara

     meningkatkan sarana dan prasarana seperti pengadaan alat permainan

                                    clvii
       terutama APE dan pengadaan alat peraga serta meningkatkan fasilitas-

       fasilitas yang ada di Taman Balita Klub Merby.




                            DAFTAR PUSTAKA



Agus Salim. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara
        Wacana Yogya

Agus Toto W. 2003. Tempat Bermain itu Bernama Penitipan Anak (1). Anak-anak
       Malah Rajin Membuat PR, (Online), (http: // www. suaramerdeka.com/
       harian/ 0303/ 13/ nas 8. Htm, diakses 20 Maret 2003)

Anggani Sudono. 2000. Sumber Belajar dan Alat Permainan (untuk Pendidikan
       Anak Usia Dini). Jakarta: PT. Grasindo

Buletin PADU Vol 2 No. 02 Agustus 2003 halaman 34




                                     clviii
Catur Sri Sapanta. 2003. Pelayanan Sosial Taman Penitipan Anak. Studi Kasus di
         Panti Sosial “Kasih Mesra” Demak. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang:
         FIS UNNES

Departemen Pendididkan Nasional. 2001. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
       pada Taman Penitipan Anak. Jakarta: Departemen Pendididkan Nasional

Djudju Sudjana. 2000. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production

Elizabeth G. Hainstock. 2002. Montessori untuk Pra-sekolah. Terjemahan oleh
         Hermes. 2002. Jakarta: Delapratasa Publishing

Hibana S. Rahman. 2002. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta:
        PGTKI Press

Lexy J. Moleong. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
        Rosdakarya

Max Darsono dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: CV. IKIP
       Semarang Press

Mayke S. Tedjasaputra. 2003. Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta: PT.
       Grasindo

Nana Sudjana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Sinar
       Baru Algensindo

Robert K. Yin. 2003. Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta: PT. Raja Grafindo
        Persada


Seto. 2004. Bermain dan Kreativitas. Upaya Mengembangkan Kreativitas Anak
         Melalui program Bermain. Jakarta: Papas Sinar Sinanti

Slamet Suyanto. 2003. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas
        Negeri Yogyakarta. Tidak diterbitkan

Soemiarti Patmonodewo. 2003. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: PT. Rineka
        Cipta

Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
        Jakarta: PT. Rineka Cipta




                                     clix
Sutrisno. 2004. Profil Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini. (PAUD). Studi
         Kasus Kelompok Bermain di BP-PLSP JawaTengah. Skripsi tidak
         diterbitkan. Semarang: FIP UNNES

Syaiful Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT.
         Rineka Cipta

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus
       Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
       2003. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

W. Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grasindo




                                      clx

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1849
posted:2/10/2012
language:Malay
pages:160
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl