PERILAKU MAHASISWA DARI KELUARGA MISKIN DI KAMPUS
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
Skripsi ini diajukan dalam rangka penyelesaian studi program strata 1
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Di susun oleh :
Nama : Moh. Riyadi
NIM : 1214000040
Jurusan : Pend. Luar Sekolah
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
i
PENGESAHAN
Telah dipertahankan di hadapan sidang panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada:
Hari : Sabtu
Tanggal : 27 Agustus 2005
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Drs. Siswanto, M.M Drs. Liliek Desmawati, M.Pd.
NIP. 130515769 NIP. 13143022
Pembimbing I Anggota Penguji
Dr. Agus Salim, MS 1. Drs. Fakhruddin , M.Pd.
NIP.131127082 NIP. 131607091
Pembimbing II
2. Dr. Agus Salim, MS
NIP. 131127082
Drs. Ilyas, M.Ag
NIP.131764482
3. Drs. Ilyas, M. Ag
NIP. 131764482
ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
“Jika engkau mau hidup untuk dirimu, hendaknya engkau
juga hidup untuk sesamamu dan sebelum mencapai sebuah
kemenangan janganlah menyanyikan kejayaan”
PERSEMBAHAN
Karya yang sederhana ini, saya dedikasikan kepada mereka yang
menghiasi hatiku dengan pancaran belaian kehidupan yang indah bagaikan lagu
yang terdengar merdu menyanyat kalbu yaitu:
1. Ayah dan Ibu tercinta yang mendidik dengan sepenuh hati dan
selalu berdoa agar buah hatinya bisa memberi secercah harapan
terindah dalam kehidupan.
2. Kakak dan Adikku yang terlahir dari rahim Ibu, sungguh aku
mencintai dan rindu kalian semua.
3. Adikku yang menjadi mutiara dalam hidupku, Firman Alifudin di
Kendal, dr. Wisnu Tri Anggono di Kebumen dan Fanaditya
Yudha Utama (Alm.) di Purwokerto, Biarlah gelombang irama
persaudaraan kita mengalir seperti jernihnya setetes embun di
pagi hari.
iii
4. Teman-teman terbaikku ( Hakim, Hari, Taufik, Gigih, Idris, Imam,
Rindawati, Joko, Setiawan, Sin`an, Sunyoto, Mbah Surip,
Gumelar, Rif`an, Rohmat, Mame, Sugeng, Haniatul, Dias,
Saefudin, Asih, Heri, Mbah Jumali, Agus,dll). Jangan lupakan
persahabatan kita, karena kita tak tahu kapan tertawa bersama
lagi!
6. Bagi pembelajar yang mau belajar dari sepenggal kisah kehidupan
nyata di karya ini !
iv
ABSTRAK
Nama : Moh Riyadi. Skripsi. Tahun 2005. Jumlah Halaman; 132 Perilaku
Mahasiswa Dari Keluarga Miskin Di Kampus studi kasus di Universitas
Negeri Semarang. Dosen pembimbing Dr. Agus Salim, MS dan Drs. Ilyas,
M.Ag.
Penelitian yang dilakukan ini mengambil tema tentang masalah sosial,
yang dibatasi dalam ruang lingkup kampus Universitas Negeri Semarang
kampus Sekaran Gunung Pati. Kemiskinan adalah fakta sosial yang akan selalu
ada. Walaupun batasan kemiskinan relatif dan selalu berkembang sesuai dengan
kondisi masyarakat, bangsa atau daerah. Penelitian ini bertujuan untuk
mengungkapkan perilaku mahasiswa dari keluarga miskin dalam pemenuhan
kebutuhan dan pada saat interaksi di kampus.
Untuk lokasi penelitian ini sengaja mengambil tempat di kampus
Universitas Negeri Semarang (UNNES) kampus Sekaran Gunung Pati. Subyek
yang menjadi penelitian ini adalah sebagian mahasiswa dari keluarga miskin yang
berada di beberapa fakultas di kampus UNNES yang dipilih berdasar pada
kriteria yang telah ditentukan. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah studi kasus. Metode yang digunakan yang pertama adalah dengan
wawancara. Selain itu, metode observasi dan dokumentasi menjadi pilihan
selanjutnya dalam melengkapi metode penelitian ini.
Hasil temuan dilapangan menyebutkan bahwa mahasiswa dari keluarga
miskin ternyata menggantungkan uang kiriman dari orang tua dan ada yang tidak
menggantungkan pada orang tua. Untuk menutupi kekurangan keuangan
mahasiswa dari keluarga miskin sebagian bekerja dan ada pula yang
mengandalkan beasiswa serta kiriman dari saudara. Mereka mengatur keuangan
sesuai dengan skala prioritas yang diperlukan. Mahasiswa miskin melakukan
komunikasi dengan mahasiswa lain sehingga mereka diterima di kampus. Untuk
memenuhi kebutuhan pendidikan mereka membagi waktu senggang agar
bermanfaat, memupuk kepercayaan diri, aktualisasi diri, aktif menjawab saat ada
pertanyaan, menghemat biaya sesuai dengan skala prioritas dan memperhatikan
pendidikan untuk jaminan di hari tua,. Dalam hal pemenuhan kebutuhan belajar
mereka melakukan tugas kuliah dengan profesional, meningkatkan pelatihan
untuk pengambangan diri, berolahraga untuk memelihara kesegaran jasmani,
mengikuti kegiatan agama di kampus untuk meningkatkan pemehaman perluasan
wawasan keagamaan, bekerja untuk menutupi kekurangan di sela-sela kuliah,
belajar dengan giat dan beberapa aktifitas lainnya. Mereka juga belajar secara
efektif, berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya.
.
v
KATA PENGANTAR
Dengan ridho dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta
limpahan rahmat, taufik, nikmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan karya ini.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku kehidupan mahasiswa
dari keluarga miskin di kampus dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan pada saat
interaksi di kampus. Dalam suatu universitas terdapat stratifikasi ekonomi yang
mengakibatkan ada sebagian mahasiswa dari keluarga miskin yang kekurangan
biaya untuk kelangsungan hidup di kampus. Penelitian ini untuk mengungkap
fenomena kemiskinan mahasiswa yang terjadi di Universitas Negeri Semarang.
Penelitian ini adalah dalam rangka menyelesaikan studi strata satu (S1)
untuk mencapai gelar sarjana pendidikan. Penulis menyampaikan ungkapan
terima kasih kepada :
1. Drs. Siswanto, M.M. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan.
2. Drs. Ahmad Rifa’i, M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah.
3. Dr. Agus Salim, MS. Pembimbing I dan Drs Ilyas, M.Ag. selaku
Pembimbing II dalam penyusunan skripsi ini.
4. Para responden yang telah bersedia memberi informasi dalam penelitian
ini.
5. Keluargaku di Semarang, Bapak Agus Salim sekeluraga yang telah ikut
berjuang untuk mensukseskan pembuatan skripsi ini.
Semoga segala budi baik semua pihak mendapat balasan yang terindah
dari Allah Yang Maha Esa. Dan dari hati saya yang terdalam tiada kata yang
vi
terindah selain mengucapkan untaian terima kasih kepada mereka membuka
kedua tangannya untuk penyusunan skripsi ini.
Harapan penulis semoga karya yang jauh dari sempurna ini dapat memberi
manfaat dan informasi bagi pembaca semua terutama dalam mengembangkan
wacana ilmu pengetahuan.
Penulis menyadari bahwa penyusunan karya ini jauh dari harapan, jauh
dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami
tunggu untuk perbaikan di kemudian hari.
Semarang, 23 Agustus 2005
Moh Riyadi
vii
DAFTAR ISI
JUDUL…………………………………………………………………..………....i
PENGESAHAN…………………………………………………………………...ii
MOTTO DAN DEDIKASI………………………………………....…………iii-iv
ABSTRAK………………………………………………………………….…….v
KATA PENGANTAR…………………………………………………..……vi-vii
DAFTAR ISI………………………………………………….……………..viii-ix
DAFTAR TABEL……………………………………………………………...…x
LAMPIRAN...........................................................................................................xi
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang……………………………………………….…………1-6
B. Permasalahan………………………………………………….……...…6-7
C. Tujuan…...……………………………………………..……………….…7
D. Manfaat…………………………………………………...………….....7-8
E. Penegasan Istilah…………………………………………...…………...8-9
F. KeterbatasanPenelitian………………………………...………………......9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................10
A. Konsep perilaku ……………………………………………….…..…10-22
B. Mahasiswa……………………………………………………………22-24
C. Kemiskinan dan Kebutuhan Hidup……………………………….......24-33
D. Interaksi Mahasiswa.............................................................................34-40
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................41
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian……………………………...........…….41
viii
B. Lokasi Penelitian………………………………………………………....42
C. Subjek Penelitian………………………………………………….....…..42
D. Sumber Data……………………………………………………....……..43
E. Teknik Pengumpulan Data………………………………………...…43-47
F. Keabsahan Data………………………………………………………47-49
G. Analisia Data……………………………………………………….....…49
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.........………………….50
A. Gambaran Umum.......……………………………….....………….…50-51
1. Geografis Kampus UNNES…...……………………………...51-53
2. Komposisi akedemika UNNES……………………..……..…53-54
3. Sarana dan prasarana UNNES………………..….……..……55-56
B. Gambaran Umum subjek Penelitian.....................................................57-58
C. Perilaku Mahasiswa Miskin......................................................................58
a. Pemenuhan Kebutuhan Hidup……………………........…….......58-70
b. Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan……………..............………..70-73
c. Pemenuhan Kebutuhan Belajar................................................…..73-76
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................77
A. KESIMPULAN………………………………………………………77-83
B. SARAN……………………………………………………………….83-84
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….......85-87
LAMPIRAN……………………………………………………………..…..88-132
ix
DAFTAR TABEL DAN BAGAN
a. Bagan Perilaku..................................................................................15
b. Bagan Terjadi perilaku......................................................................16
c. Tabel Komposisi Sivitas Akademika…..…..……………….....……53
d. Tabel Prasarana Pendidikan………………………………………....56
e. Tabel Keadaan Responden Utama………………………………..…57
f. Tabel Keadaan Responden pendukung………………..…………….58
x
LAMPIRAN
1. Pedoman wawancara.....................................................................................88-91
2. Keadaan Responden Utama..........................................................................92-95
3. Tranksip Wawancara..................................................................................96-132
xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mahasiswa adalah salah satu komponen bangsa Indonesia yang
ikut bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Oleh karena itu
mahasiswa perlu mempersiapkan diri dengan belajar yang lebih giat lagi
tekun. Dengan belajar yang giat di kampus ataupun di luar kampus akan
meningkatkan ilmu pengetahuan yang ia peroleh. Masa depan bangsa
Indonesia salah satunya terletak ditangan para generasi muda. Mahasiswa
sebagai penerus para pendiri bangsa harus mempersiapkan diri dengan baik.
Memanfaatkan waktu yang ada dan menjadikan setiap kesempatan
yang ada di kampus untuk menimba ilmu adalah sangat baik. Itu dapat di
lakukan di kampus ketika terjadi proses perkuliahan, di luar kuliah bisa
dengan mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan, baik itu yang bersifat
intra atau ekstra kampus dan pada saat interaksi bersama teman-teman.
Kegiatan-kegiatan seperti meminjam buku perpustakaan, berorganisasi,
belajar bersama atau kegiatan lain yang bermanfaat adalah sangat
menguntungkan dimasa yang akan datang. Sebab investasi yang
menguntungkan bagi seorang mahasiswa adalah dengan ilmu yang terus
bertambah dan mengikuti perkembangan zaman.
Dalam diri seorang mahasiswa tersimpan kekuatan dan potensi
yang besar. Kekuatan dan potensi bisa berupa kecerdasan, ketrampilan,
xii
kematangan berpikir dan fisik jika dipupuk dengan terus-menerus maka akan
sangat bermanfaat dikemudian hari. Belajar di kampus adalah salah satu
tempat untuk memompa potensi tersebut. Dari segi pemerataan kesempatan
pendidikan, di Indonesia yang mengenyam pendidikan tingkat tinggi masih
terbatas, oleh karena itu seorang mahasiswa harus pandai-pandai
memanfaatkan potensi yang dimiliki (kesempatan belajar di perguruan tinggi)
dengan baik.
Mahasiswa adalah sebagian dari masyarakat yang mengenyam
pendidikan sampai jenjang yang lebih tinggi. Sebab tidak seluruh lapisan
masyarakat dapat mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
Masyarakat yang secara ekonomi tergolong menengah ke bawah belum tentu
bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketidakmampuan
masyarakat melanjutkan putra dan putrinya kejenjang pendidikan yang lebih
tinggi dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang
menyebabkan mereka tidak mampu melanjutkan diantaranya adalah
kemiskinan, keterbatan sarana yang ada, biaya pendidikan yang relatif tinggi
bagi sebagian besar masyarakat, kebudayaan setempat dan kesempatan yang
terbatas atau bisa juga karena faktor kecerdasan seseorang yang kurang.
Dalam masyarakat Indonesia, ketidakmampuan seseorang
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lebih disebabkan oleh
faktor ekonomi. Apalagi sejak krisis yang menimpa bangsa Indonesia tahun
1998 telah menyerat sebagian masyarakat ke lembah kemiskinan yang dalam.
Kemiskinan inilah yang berpengaruh terhadap dunia pendidikan di tanah air,
sebab kondisi yang demikian pendidikan cenderung diabaikan.
xiii
Kampus bagi mahasiswa adalah tempat yang tidak asing lagi,
sebab sebagian besar aktifitas perkuliahan yang bertatapan dengan Bapak dan
Ibu Dosen sering dilakukan di kampus. Dalam kampus ini terjadi proses
pembelajaran dan proses interaksi dengan mahasiswa yang lainnya.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa manusia adalah makhluk sosial yang
tidak dapat hidup secara sendirian. Mahasiswa adalah makhluk sosial yang
tidak dapat dipisahkan dari komunitas manusia lainnya.
Menurut Parsons sekolah adalah tempat sosialisasi yang utama.
Seorang mahasiswa akan tumbuh dan berkembang melalui interaksi yang
dilakukan dengan orang lain. Sekolah sebagai tempat perkembangan
individu-individu dari berbagai komitmen dan kapasitas yang merupakan
syarat-syarat esensial dari kegiatan mereka dikemudian hari. Untuk bisa
bersosialisasi dalam masyarakat sekitarnya, mahasiswa dituntut untuk pandai-
pandai berinteraksi dengan mahasiswa lain di kampus. Pola interaksi yang
dilakukan manusia bisa melalui kontak sosial dan atau dengan komunikasi
(Soejono Soekanto,1998:174 )
Dalam interaksi akan ditemui permasalahan yang sangat kompleks,
baik itu masalah yang bersumber dari pribadi yang mempengaruhi interaksi
ataupun masalah yang datang dari luar (karena interaksi) yang ikut
mempengaruhi sosialisasi seorang mahasiswa dengan mahasiswa lainnya.
Masalah dari pribadi itu jelas, bahwa setiap individu mempunyai masalah
yang berasal dari dalam dirinya, karena manusia mempunyai karakteristik,
kepribadian, cara berpikir, status sosial (kelas sosial) berbeda-beda yang
berimplikasi pada keadaan sosialnnya.
xiv
Di sekolah terdapat golongan kelas sosial atas dan ada pula yang
golongan kelas sosial rendah (Horton,Hunt,1987:341). Keadaan ini banyak
dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. Jadi status sosial orang tua ikut
mempengaruhi kehidupan seorang anak, sebab status ini cenderung
berimplikasi pada diri anak. Pada masalah ekonomi misalnya, yang
berkedudukan mampu akan mudah diketahui pada tataran di lapangan. Ada
mahasiswa yang orang tuanya mempunyai kedudukan dimasyarakat tinggi dan
disegani dan ada pula orang tua berkedudukan rendah. Keanggotaan kelas
sosial di sekolah banyak tergantung pada latar belakang kelas sosial keluarga
murid (Horton, Hunt1987:341)
Menurut Heider (1958) bahwa perilaku seseorang dapat disebabkan
oleh kekuatan-kekuatan yang ada dilingkungan dan dalam diri manusia itu.
Kekuatan-kekuatan dari lingkungan berupa situasi yang menekan, sehingga
memunculkan perilaku tertentu, begitu juga dalam diri seorang mahasiswa,
situasi yang menekan baik situasi yang datang dari dalam dirinya ataupun
yang datang dari lingkungan, akan mempengaruhi sikap yang diambil yang
bisa diwujudkan dalam perilaku mahasiswa.
Pengaruh dari lingkungan bisa dari teman sebaya, komunitasnya,
atau institusi tempat ia berinteraksi. Bagi seorang mahasiswa pengaruh dari
lingkungan banyak dipengaruhi oleh mahasiswa lain, pergaulan di kampus
termasuk institusi pendidikan yang mereka tekuni. Adapun faktor dari dalam
diri bisa berupa kepribadian seseorang, kondisi ekonomi keluarga yang sangat
berpengaruh dalam diri seorang anak serta status sosial ( kedudukan) di
masyarat juga mempengaruhi perilaku seseorang.
xv
Dalam penelitian Maria Yulimah, rata-rata orang tua mahasiswa
Universitas Negeri Semarang (UNNES) memberi uang belanja putra-putri
mereka dengan rata-rata berjumlah Rp 226.700,- sedangkan kiriman uang
yang terkecil berjumlah sebesar Rp 150.000,00-(Maria Yulimah,2000:46).
Padahal Biro Pusat Statistik menggariskan kemiskinan terjadi apabila mereka
mengkonsumsi dalam sehari tidak lebih dari 1200 kalori. Prof. Dr. Pudjiwati
Sajogyo menyatakan bahwa penduduk miskin di pedesaan apabila dalam
sebulan mengkomsumsi beras 20 Kg/perkapita dan untuk daerah perkotaan
sejumlah 30/perkapita/perbulan (Pudjiwati Sajogyo,1985:82)
Padahal dengan kiriman yang terbatas tersebut mahasiswa harus
memenuhi kebutuhan hidup. Belum lagi kegiatan kampus yang banyak
mengeluarkan uang dan kebutuhan pribadi misalnya uang saku, uang
transport, membeli kebutuhan pribadi dan lain-lain, jelas ini akan menambah
pengeluaran yang harus ditanggung oleh seorang mahasiswa.
Lebih-lebih dalam realitas di lapangan ada sebagian mahasiswa
yang jumlah uang yang ia terima kurang dari itu perbulannya. Maka secara
otomatis mereka sangat kekurangan biaya dalam hal pembiayaan kuliah
ataupun biaya-biaya lainnya. Disinilah seorang mahasiswa telah mengalami
kemiskinan yang diakibatkan oleh keadaan.
Hollingshead (1949) telah mengadakan penelitian dari pengaruh
kelas sosial yang ada di sekolah. Dalam penelitian itu dapat diungkap bahwa
mereka yang berada kelas sosial bawah ternyata tidak berpartisipasi dalam
sejumlah kegiatan sekolah seperti pesta, seni tari, olahraga, kelompok minat,
drama dan jarang belajar serius (Horton,Hunt1987:341)
xvi
Dalam kondisi miskin tidak mendukung pelaksanaan pendidikan
dengan pendekatan struktural dan institusional (Emy Budiartati, 1994:56)
Pada sisi lain mahasiswa membutuhkan interaksi dengan mahasiswa lainnya.
Dengan demikian perilaku yang bagaimana yang mereka tunjukkan didalam
pemenuhan kebutuhan dan pada saat interaksi di kampus? Berdasarkan analisa
tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul :
“PERILAKU MAHASISWA DARI KELUARGA MISKIN DI KAMPUS
(Studi Kasus di Universitas Negeri Semarang)”
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka
penelitian ini akan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan mahasiswa yang
tergolong miskin didalam kampus baik itu saat perkuliahan ataupun pada saat
interaksi dengan mahasiswa lain termasuk dosen dikampus. Fokus penelitian
ini dapat dirumuskan ke dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
Bagaimana perilaku mahasiswa dari keluarga miskin dalam pemenuhan
kebutuhan dan pada saat interaksi di kampus ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Perilaku mahasiswa dari keluarga miskin dalam pemenuhan
kebutuhan hidup, kebutuhan belajar dan kebutuhan pendidikan
2. Perilaku mahasiswa dari keluarga miskin pada saat interaksi di
kampus
xvii
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai perilaku
mahasiswa dari keluarga miskin dalam pemenuhan hidup dan pada saat
interaksi di kampus.
2. Manfaat Praktis, yang bisa diambil dari penelitian ini adalah agar penelitian
ini bisa menjadi :
1. Bahan masukan bagi pihak Universitas ataupun fakultas terkait dengan
kebijakan yang diambil dalam menyangkut kebijakan yang berhubungan
langsung dengan mahasiswa ( biaya kuliah, SPL, biaya sarana pendidikan,
buku kuliah/diktat dll).
2. Sebagai bahan masukan bagi dosen terutama dalam mendidik yang akan
berhadapan dengan mahasiswa yang mempunyai latar belakang yang
berbeda-beda.
3. Sebagai bahan masukan bagi para mahasiswa dalam berinteraksi di
kampus bahwa teman sebaya secara stratifikasi (kelas sosial) belum tentu
sama, perbedaan ini pula akan sangat berpengaruh dalam interaksi yang
mereka lakukan di kampus.
4. Akan memberikan data dan informasi tentang pola perilaku (perbuatan,
tindakan, sikap) mahasiswa dari keluarga miskin terkait dengan
aktifitasnya.
E. Penegasan Istilah
xviii
1. Perilaku yang dimaksud adalah sikap dan tindakan yang diambil oleh
mahasiswa dari keluarga miskin di dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup
termasuk interaksi yang dilakukan, baik itu di kelas atau di luar kelas.
Sikap dan tindakan ini sangat mewarnai manusia pada umumnya. Perilaku
di sini dibatasi ketika ia memenuhi kebutuhan hidup dan saat berinteraksi
dalam wilayah kampus baik itu pada saat mengikuti perkuliahan ataupun
saat interaksi dengan dengan mahasiswa di kampus termasuk ketika ia
mengikuti kegiatan kampus dan kemahasiswaan.
2. Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi
(Depdikbud,1994:613). Dalam penelitian ini mahasiswa miskin berasal
dari keluarga yang secara ekonomi tergolong miskin yang dalam
pemenuhan kebutuhan tidak lebih dari 1200 kalori perhari.
3. Universitas Negeri Semarang (UNNES) adalah tempat yang menjadi
lokasi penelitian ini. Lokasi penelitian ini dilakukan di kampus Sekaran,
Gunung Pati.
F. Keterbatasan Penelitian
1. Penelitian ini adalah penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif
dan hanya dilakukan pada beberapa mahasiswa di Universitas Negeri
Semarang sehingga tidak dapat dijadikan generalisasi secara umum.
2. Responden dari penelitian ini hanya terbatas pada beberapa mahasiswa di
Universitas Negeri Semarang.
xix
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep Perilaku
Belajar pada hakekatnya adalah sebagai perubahan tingkah laku,
sebab dengan belajar maka seseorang akan memperoleh pengetahuan baru.
Dengan adanya pengetahuan yang baru bisa berimbas pada sikap dan perilaku
yang diwujudkan dalam interaksi. Dengan belajar maka pengetahuan akan
bertambah sehingga dalam bertindak akan selalu memakai pengetahuan yang
dimilikinya. Reaksi yang berbeda dari reaksi yang sudah ada berarti dia telah
mengalami belajar. H.Carl Witherington juga mendefinikan belajar sebagai
proses untuk memperoleh gaya-gaya atau pola-pola tingkah laku.
Di dunia kampus para mahasiswa akan memperoleh pendidikan
dan interaksi yang luas. Sekolah adalah tempat sosialisasi yang utama (Frank
J. Mesllin,1984:68). Dan ini diperkuat dalam buku Pengantar Sosiologi oleh
Kamanto Sunarto yang menulis salah satu agen sosialisasi adalah sekolah
(Kamanto Sunarto,2004:27). Dalam sekolah seseorang akan mempelajari yang
belum pernah didapat dalam keluarga maupun dikelompok bermain.
Sekolah dalam masa sekarang ini cukup banyak menyita waktu
dalam kehidupan manusia. Di sekolah umum misalnya rata-rata dalam sehari
seorang murid menghabiskan waktu di sekolah selama 6 jam, ini belum
kegiatan lain. Maka pendapat Frank tersebut dapat dibenarkan. Interaksi dan
sosialisasi dengan manusia lain terjadi pula di dunia sekolah. Sosialisasi yang
xx
terjadi di sekolah bisa melalui pendidikan, pengajaran, indoktrinasi, pemberian
petunjuk dan nasehat. Perkembangan individu juga sedikit banyak dipengaruhi
apa yang didapatkan di dunia pendidikan.
Beberapa ahli mengartikan pendidikan pada dasarnya merupakan
pendewasaan dan pemandirian manusia secara sistematis agar setiap menjalani
kebudayaan secara bertanggung jawab (Buku Panduan KKN 2003:1). Belajar
pada hakekatnya adalah untuk mengubah tingkah laku. Dalam proses belajar
itulah terjadi interaksi antara individu dengan dunia sekitarnya. Dengan
interaksi ini maka individu akan mengalami pertukaran pengalaman, ilmu
pengetahuan dan sifat-sifat serta kondisi di luar dirinya. Sebagai hasil interaksi
maka jawaban yang terlihat dari seseorang individu akan dipengaruhi oleh hal-
hal atau kejadian-kejadian yang pernah dialami oleh individu tersebut maupun
situasi masa kini (Tulus Tu`u, 2004:63)
Dengan belajar maka akan diperoleh ilmu-ilmu yang baru mengenai
pengetahuan, sikap, tangkah laku, cara berpikir, cara bertindak dan lainnya.
Aktifitas belajar yang dilakukan seseorang itu sendiri membawa konsekuensi.
Karena dengan proses belajar yang dilakukan, maka seseorang akan
memperoleh perubahan tingkah laku. Akibat yang mungkin timbul dari
seseorang dalam proses belajar adalah:
1. Diperolehnya perubahan tingkah laku dalam diri orang itu.
2. Tidak diperolehnya perubahan tingkah laku
3. Terusaknya hasil belajar masa lalu
Seseorang yang melakukan proses belajar akan mengalami kondisi
yang telah disebutkan diatas. Pengaruh dalam diri seseorang besar tidaknya
xxi
masih tergantung dalam kondisi pribadi seseorang. Namun lingkungan dalam
hal ini sekolah juga ikut membentuk kedewasaan seseorang. Sebab lingkungan
sekolah adalah salah satu cara untuk membentuk kepribadian seseorang.
Dengan aktifitas belajar yang dilakukan seseorang diharapkan ada
perubahan menuju proses dan sikap yang lebih baik. Perubahan dari kegiatan
belajar menitikberatkan pada tiga hal yaitu:
1. Belajar memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku individu
2. Terjadinya perubahan yang merupakan buah dari pengalaman
3. Perubahan tersebut terjadi pada perilaku individu
Perubahan perilaku terjadi karena adanya rangsangan. Dengan
adanya rangsangan ini maka akan terjadi tanggapan. Seseorang yang
mendapat rangsangan akan memberikan tanggapan yang diberikan bisa positif
dan bisa negatif. Dengan tanggapan ini akan membawa ke konsekuensi
menuju tanggapan di masa yang akan datang yang dilakukan seseorang.
Dalam kamus Antropologi disebutkan bahwa perilaku adalah:
”Segala tindakan manusia yang disebabkan baik karena dorongan
organisasinya, karena tuntunan lingkungan alam, karena dorongan
organisme serta hasrat psikologinya maupun pengaruh masyarakat dan
kebudayaan” (A. Suyono, 1985:315)
Sedangkan definisi perilaku yang lain adalah :
”Perilaku adalah perbuatan, tindakan baik yang tersurat ataupun
tersirat untuk memperlakukan objek tertentu, baik dalam bentuk kata-
kata maupun tanda-tanda non verbal seperti gerakan badan, raut muka
dan sebagainya”
xxii
Menurut pendapat diatas perilaku seseorang bisa di lihat atau tidak
bisa dilihat (tersirat). Seorang yang sedang makan misalnya ia melakukan
perilaku yang dapat dilihat, sedangkan orang yang duduk diam dengan tenang
adalah contoh perilaku yang tersirat. Kita belum tentu tahu apa yang sedang ia
lakukan, apakah sedang termenung, sedang sedih, berpikir serius atau sedang
konsentrasi.
Soejono Soekanto menyatakan bahwa perilaku adalah
tindakan/perbuatan yang dilakukan untuk merealisasikan keinginan. Jadi
jelaslah bahwa keinginan (kebutuhan ) seseorang akan diperlihatkan di dalam
perilakunya Soejono Sekanto, 1998; 406). Perilaku ini bisa berujud perbuatan,
tindakan, sikap atau keyakinan. Dalam pendapatnya Soejono Soekanto ini
maka makin jelaslah bahwa perilaku yang dilakukan oleh seseorang pada
hakekatnya adalah untuk memenuhi keinginan. Dalam melakukan keinginann
seseorang akan melakukan tindakan, sikap dan perbuatan yang itu bisa
diartikan secara langsung oleh orang yang melihatnya dan bisa juga aktifitas
itu tidak bisa diartikan secara langsung oleh orang lain.
Menurut William F. O’neil dalam bukunya yang berjudul Idiologi-
Idiologi Pendidikan ( William, 2000; 50) membagi perilaku menjadi tiga
macam. Ketiga itu yaitu:
1. Perilaku Konatif
Adalah perilaku yang tersirat mempunyai tujuan, namun tidak secara
bertujuan semacam itu. Misalnya perilaku bayi yang menangis adalah
secara tersirat mempunyai tujuan, yang merupakan perwujudan
sasaran-sasaran tertentu (kepuasan), yang pada saat itu ia sendiri
xxiii
belum mampu menalarnya. Seorang bayi itu belum mampu untuk
mengerti tujuan dari yang dilakukannya.
2. Perilaku Valisional
Perilaku valisional adalah perilaku konatif yang disadari, dimana
individu benar-benar mempunyai tujuan dibenaknya. Seorang yang
pergi ke sekolah karena ia mempunyai tujuan untuk mencari ilmu.
Seorang mahasiswa menghemat pengeluaran keuangan karena ia tahu
dan mempunyai tujuan untuk menghemat pengeluaran yang didapat
dari orang tua atau karena ia bekerja. Dalam perilaku ini seseorang
sudah mampu berpikir dengan pertimbangan tertentu. Seseorang dalam
melakukan sesuatu sudah mempunyai kesadaran, manfaat, kegunaan,
baik buruk dan pertimbangan lainnya.
3. Perilaku Normatif
Perilaku normatif adalah perilaku yang diarahkan, secara tersirat
ataupun gamblang, oleh gagasan-gagasan tertentu ( konsep-konsep
abstrak atau sudut pandang) yang berkaitan dengan apa yang
umumnnya dianggap baik atau dikehendaki. Misalnya ketika seorang
pergi ke sekolah ia memakai seragam karena seragam adalah norma
yang sudah disepakati di sekolah itu. Pada perilaku ini seseorang
sudah mempertimbangkan dengan norma yang berlaku, baik itu
norma agama, adat, atau norma hukum yang berlaku di masyarakat
tersebut.
xxiv
Menurut model Heider (1958), perilaku seseorang dapat
disimpulkan disebabkan oleh kekuatan-kekuatan lingkungan (environmental
forces) atau kekuatan-kekuatan internal (termasuk disposisi) (Tri Dayakisni,
2003;47). Kekuatan-kekuatan lingkungan terdiri dari faktor situasi yang
menekan, sehingga memunculkan perilaku tertentu. Kekuatan-kekuatan
internal (personal forces) dilihat sebagai hasil kemampuan (ability), power,
dan usaha yang ditunjukan seseorang. Untuk lebih jelasnya dapat melihat
bagan di bawah ini :
Determinant of behavior
Is a function of
Behavior Environmental Personal forces =
forces (abilityxeffort)
Banyak perilaku yang muncul disekitar lingkungan kita seperti
perilaku dalam pergaulan, disiplin, pilihan makan, pilihan teman dan lain
sebagainya. Semua itu dapat dicermati dengan baik. Skema berikut dapat
menjelaskan terjadinya perilaku pada seseorang ( Fishbein dan Ajzen, dikutip
olehTri Dayakisni,2003; 125):
xxv
Keyakinan tentang Sikap yang
perilaku dan mengarah pada
evaluasi tentang perilaku
hasilnya
Keyakinan Norma norma
normative dan subjektif
motivasi untuk Niat Perilaku
mematuhi perilaku
Keyakinan tentang Sejauh mana control
kemudahan atau terhadap perilaku
kesulitan perilaku yang dipersepsikan
itu
Keyakinan seseorang dan evaluasi tentang hasilnya menjadikan sikap
yang mengarah pada perilaku, dengan adanya sikap akan melahirkan sikap
yang nantinya akan timbul perilaku seseorang. Begitu juga keyakinan
normative dan motivasi untuk mematuhi menjadikan seseorang mempunyai
norma-norma subjektif, norma subjektif ini juga dapat melahirkan niat
perilaku yang jika diteruskan dapat melahirkan perilaku pada seseorang. Pada
sisi lain seseorang akan percaya pada keyakinan tentang kemudahan atau
kesulitan perilaku itu.
Sedangkan salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk
berperilaku adalah karena adanya kebutuhan (R.A. Supriyono,2000:226).
Faktor lain menurut Drs. R.A. Supriyono S.U.Akt yang mendorong orang
untuk berperilaku adalah persepsi, motivasi dan pembuatan keputusan.
Kebutuhan adalah kesenjangan yang ada pada seseorang dan berusaha untuk
xxvi
dipenuhinya. Dengan kata lain kesenjangan adalah keinginan seseorang atau
harapan dengan kenyataan yang terjadi pada realita kehidupan. Dengan
adanya kebutuhan dari seseorang maka ia akan melakukan perbuatan, tindakan
atau sikap yang mencerminan pemenuhan kebutuhan itu. Seseorang akan
berusaha untuk memenuhi kesenjangan yang ada pada dirinya. Kebutuhan
yang dilakukan seseorang adalah salah satu karakteristik yang melekat pada
individu ( Miftah Thoha,2002)
Menengok pendapat yang dikemukakan oleh Soejono Soekanto
yang menyatakan perilaku merupakan perwujudan untuk merealisasikan
keinginan (hal 13) sangat berhubungan erat dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Drs. R. A. Supriyono S.U. Akt diatas. Jadi perilaku
seseorang sangat erat dengan pemenuhan kebutuhan yang ada pada diri
seseorang yang mencerminkan keinginan seseorang. Dengan kata lain bahwa
perilaku seseorang adalah didasari oleh pemenuhan kebutuhan orang itu.
Proses pemenuhan kebutuhan ini bisa berupa perbuatan, tindakan atau sikap-
sikap inilah yang nantinya memunculkan perilaku pada seseorang.
Abraham H. Maslow mengungkapkan tentang kebutuhan-
kebutuhan pokok manusia yang dibagi menjadi lima tingkatan (Abraham H
Maslow,1984:39). Beberapa tingkatan yang dikemukakan oleh Abraham H.
Maslow adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang pokok bagi manusia, sebab
termasuk kebutuhan yang paling kuat ( Maslow,1984: 41). Kebutuhan
ini contohnya makan, minum, seks dan istirahat.
xxvii
2. Kebutuhan Rasa Aman
Setiap orang menginginkan keselamatan, bebas dari ancaman,
mendapat perlindungan dan lain sebagainya.
3. Kebutuhan Rasa memiliki dan cinta
Kebutuhan ini mencakup kebutuhan-kebutuhan akan cinta dan
mencintai, rasa memiliki, diterima dikelompoknya.
4. Harga diri
Kebutuhan harga diri mencakup rasa hormat tinggi, penghargaan,
gengsi, prestice, status, kemuliaan, pengakuan, dominasi, perhatian
dan apresiasi.
5. Kebutuhan Aktualisasi diri
Bahwa setiap manusia ingin selalu berkembang menuju yang lebih
baik lagi. Maslow memandang hal ini sebagai kebutuhan untuk
menjadi orang yang dicita-citakan dan dirasakan mampu
mewujudkannya-untuk memaksimalkan potensi dan mencapai sesuatu
yang didambakan.
Sedangkan Clayton P. Alderfer menemukan tiga kebutuhan pokok
manusia (Haroold Koontz,dkk,1984:127): kebutuhan keberadaan (Exestence
needs), kebutuhan pokok manusia (relatedness needs), kebutuhan
pertumbuhan (growth needs). Kebutuhan keberadaan mencakup seluruh
bentuk hasrat material dan fisiologis dengan segala variasinya seperti
makanan, air, gaji, dan kondisi kerja. Kebutuhan pokok berhubungan
mencakup kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, apakah itu
xxviii
dengan keluarga, atasan bawahan, kawan atau seteru. Kebutuhan pertumbuhan
adalah kebutuhan-kebutuhan yang mendorong seseorang untuk memilih
pengaruh yang kreatif dan produktif terhadap diri sendiri dan lingkungan
Lain lagi dengan McClelland, ia mengungkapkan ada tiga
kebutuhan manusia (Haroold Koontz,dkk,1984:127). Ketiga itu adalah:
1. Kebutuhan kekuasaan. Seseorang memiliki kebutuhan yang
tinggi untuk berkuasa, menaruh perhatian besar untuk dapat
mempengaruhi dan mengendalikan.
2. Kebutuhan berafiliasi. Orang-orang memiliki kebutuhan yang
tinggi untuk berafiliasi biasanya memperoleh kesenangan dari kasih
sayang dan cenderung menghindari kekecewaan karena ditolak oleh
kelompok sosial.
3. Kebutuhan berprestasi. Setiap orang ingin untuk berprestasi
memiliki keinginan besar untuk berhasil dan juga memiliki rasa
kuatir akan kegagalan.
Sudjana menindetifikasikan kebutuhan bagi para pelajar.
Menurutnya ada tiga kebutuhan yang melekat pada diri seorang yang sedang
belajar, ketiga itu yaitu:
1. Kebutuhan Kehidupan.
Sudjana memandang tiap manusia memelukan kebutuhan. Dalam
tulisannya Sudjana berpendapat kebutuhan manusia seperti yang ditulis
oleh Maslow. Hanya ia menekankan pada pendapat Maslow yang menulis
bahwa pemenuhan kebutuhan dilakukan atas dasar yang paling mungkin
xxix
dilakukan. Sehingga dengan pendapat ini kebutuhan manusia satu dengan
manusia lain belum tentu sama. Tiap manusia mempunyai kebutuhan yang
berdasar atas prioritas masing-masing individu. Kebutuhan seorang
mahasiswa dari keluarga miskin tentu saja akan berbeda bila dibandingkan
dengan kebutuhan seorang tukang becak.
2. Kebutuhan Pendidikan
Setiap orang pasti menginginkan kebutuhan akan pendidikan. Kebutuhan
pendidikan antara lain mencakup kepemilikan, peningkatan diri, minat
yang berhubungan dengan upaya serta minat yang berhubungan dengan
keamanan (Sudjana,2004: 216)
3. Kebutuhan Belajar
Kebutuhan belajar antara lain mencakup kebutuhan berkaitan dengan
pekerjaan, kegemaran dan rekreasi, keagamaan, pengausaan bahasan dan
pengetahuan umum, serta kebutuhan belajar berkaitan dengan
kerumahtanggaan, olahraga, informasi baru serta jasa.
Dalam penelitian ini akan diungkap tentang bagaimana perilaku
mahasiswa dari keluarga miskin terkait dengan pemenuhan kebutuhan yang
telah digariskan oleh Sudjana. Dengan adanya kebutuhan hidup seorang
mahasiswa, maka ia akan melakukan tindakan, perbuatan atau sikap, yang
akan memunculkan perilaku dari seseorang.
Antara sikap dan perilaku mempunyai hubungan yang sangat erat. ,
sebab perilaku merupakan ekspresi sikap seseorang. Sikap sudah terbentuk
dalam dirinya karena berbagai tekanan atau hambatan dari luar atau dalam
xxx
dirinya. Artinya, potensi reaksi yang terbentuk dalam diri seseorang yang akan
muncul berupa perilaku aktual sebagai cerminan sikapnya.
Sikap yang pada dasarnya terbentuk dari pengalaman interaksi
secara langsung dengan obyek sikap akan cenderung lebih konsisten dengan
perilaku daripada sikap yang terbentuk melalui cara lain (Tri Dayakisni,
2003;126). Ada dua hal yang menjadi alasannya; (1) Suatu sikap yang
berdasar pada pengalaman langsung kemungkinan berkaitan erat dengan self-
image, dan (2) Sikap ini lebih mudah diakses secara kognitif. Di samping itu
sikap biasanya lebih kuat dikukuhi ketika seseorang tersebut memiliki
kepentingan pribadi terhadap isu (obyek sikap) itu. Sikap ini juga secara
kognitif dapat diakses dan lebih jelas berkaitan dengan perilaku.
Jadi perilaku seseorang merupakan cerminan konkret yang tampak
dalam sikap, perbuatan dan kata-kata (pernyataan) sebagai akibat reaksi
seseorang yang muncul karena adanya pengalaman proses pembelajaran dan
rangsangan dari lingkungannya. Sikap, perbuatan dan kata-kata yang
dilakukan seseorang dapat positif dan negatif, baik atau buruk, benar atau
salah.
Jadi antara sikap, perbuatan atau kata-kata yang dilakukan manusia
mempunyai hubungan yang erat. Misalnya seseorang ketika marah maka sikap
yang diambil biasanya diam saja, bicara dengan nada tinggi atau memboikot
(ngambek; Jawa-penulis) pada orang disekitarnya. Jika seseorang sedang
gembira maka tindakannya mungkin tersenyum dan wajahnya nampak ceria.
Dalam penelitian ini ingin mengungkap bagaimana perilaku
mahasiswa dari keluarga miskin. Perilaku yang diteliti adalah perilaku yang
xxxi
merupakan dampak dari pengaruh kemiskinan yang melekat pada diri seorang
mahasiswa. Dalam penelitian ini akan diungkap perilaku mereka dalam
pemenuhan kebutuhan dan pada saat interakasi di kampus. Diharapkan
penelitian ini menghasilkan kajian untuk dipelajari.
B. Mahasiswa
Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk
mengembangkan kepribadian anak didik (Budiono, 1991). Dengan pendidikan
diharapkan dapat membentuk kepribadian manusia yang unggul dan lebih
maju. Hakekat pendidikan adalah belajar, tiap orang dituntut untuk belajar
untuk mengembangkan kepribadian yang mandiri dan dewasa dalam berpikir.
Hasan Al Banna memberi statement bahwa generasi muda pada
setiap bangsa merupakan tiang kebangkitan (Mahfudz Sidiq 2003:67)
mahasiswa adalah bagian dari generasi muda yang diharapkan sebagai tiang
kebangkitan (Agen of change) bagi pembangunan Indonesia. Mahasiswa
selalu dinanti kiprahnya didalam menggerakkan roda pembangunan. Peran
mahasiswa didalam pembangunan yang utama adalah belajar dengan giat dan
tekun
Dalam setiap diri mahasiswa tersimpan kekuatan dan potensi yang
besar. Kekuatan dan potensi yang besar ini jika dipupuk dengan benar maka
akan sangat bermanfaat dikemudian hari. Potensi inilah yang menjadi
tumpuan harapan baik orang tua, bangsa dan negara.
Mahasiswa adalah generasi dimasa yang akan datang. mahasiswa
adalah Iron Stock, sebagai cadangan bagi bangsa dimasa depan. Sebagai
xxxii
generasi yang akan datang maka ia perlu membekali diri dengan sebaik-
baiknya. Belajar giat, beraktualisasi yang positif adalah salah satu cara untuk
mempersiapkan ke arah yang lebih baik.
Selain itu mahasiswa bisa menjadi pelopor menuju kearah yang
baik (sebagai pembaharu). Mahasiswa bisa menjadi garda terdepan dalam
membangun tataran masyarakat yang berwibawa. Diharapkan kepeloporan
yang dimiliki mahasiswa adalah untuk membangun bangsa dan peradaban
masyarakat menuju ke arah yang lebih baik. Ide dan pemikiran mahasiswa
bisa berorintasi ke depan sehingga pemikiran dan tindakannya sangat
diperlukan untuk membangun masyarakat.
Mahasiswa memiliki ruang interaksi dan mobilitas yang luas baik
di dalam kampus maupun di luar kampus. Sebagai pemuda dan pemudi ia
akan mencari identitas diri dalam kehidupannya. Interaksi dan mobilitas yang
dilakukan mahasiswa bisa sebagai bentuk pencarian identitas seorang
mahasiswa. Mahasiswa juga mempunyai semangat yang tinggi dalam dirinya.
Di samping itu mahasiswa juga mempunyai idealis yang tinggi yang selalu
ingin diwujudkan dalam kehidupan. Hal inilah yang mendorong mengapa
mobilitas seorang mahasiswa tinggi.
Kelebihan mahasiswa di universitas adalah tidak sedikit yang
menjalani pergaulan informasi yang luas dan mendunia. Interaksi yang di
bangun tidak sedikit memerlukan penyesuaian baik keadaan dirinya,
lingkungan tempat ia berinteraksi. Penyesuaian ini membuat sikap dan
perilaku yang kadang berbeda satu dengan mahasiswa lainnya
xxxiii
Mahasiswa adalah sekelompok pilihan di masyarakat yang dapat
mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Sebab tidak seluruh
masyarakat usia sekolah dapat mengenyam ke jenjang perguruan tinggi.
Ketidakmampuan masyarakat ini disebabkan antara lain oleh keterbatasannya
sarana yang ada, kemiskinan, biaya yang relatif mahal, kesempatan yang
terbatas atau kerena faktor lain misalnya kecerdasan seseorang.
C. Kemiskinan dan Kebutuhan Hidup
Bagi sebagian besar masyarakat bisa melanjutkan sekolah ke
jenjang yang lebih tinggi adalah suatau hal yang istimewa. Sebab dunia
pendidikan identik dengan biaya tinggi, bahkan untuk perguruan tinggi negeri
sekalipun (Jawa Post 1 April 2003). Di samping itu ada kebanggaan tersendiri
bagai masyarakat jika dapat mengkuliahkan bagi putra dan putrinya di sebuah
perguruan tinggi.
Namun jika melihat realitas kehidupan di perguruan tinggi UNNES
misalnya, ternyata strata keadaan ekonomi orang tua mahasiswa berbeda. Ada
sebagian orang tua mahasiswa yang secara ekonomi mapan dan ada pula yang
sebaliknya ia berjuang keras untuk menghidupi kuliah anaknya karena
ekonomi yang rendah. Ada orang tua mahasiswa yang kaya, sedang dan ada
pula orang tua mahasiswa yang terjerumus ke lembah kemiskinan. Padahal
kekayaan adalah salah satu hal penting yang sangat menentukan dalam
pembagian lapisan sosial masyarakat (Soerjono Soekanto,1998:263).
Paul B Horton membagi kelas sosial di sekolah dua yaitu golongan
kelas sosial atas dan golongan kelas sosial rendah (Horton, Hunt,1987:341).
xxxiv
Mahasiswa yang kaya (golongan kelas atas) cenderung berbeda dalam hal pola
makan, gaya hidup, kebiasaan berbelanja dan kebutuhan kampus lainnya.
Sedangkan berlawanan terbalik dengan mahasiswa yang kurang mampu
(miskin; golongan kelas sosial rendah) dalam kehidupan dikampus akan ada
pola yang ia kembangkan berbeda dengan mahasiswa yang secara ekonomi
kaya. Mahasiswa miskin dalam hal makan, minum, gaya hidup, pergaulan
belum tentu sama karena faktor ekonomi seseorang bisa membuat perilaku
sikap yang dilakukan berbeda.
Pendidikan, pekerjaan dan pendapatan merupakan komponen-
komponen utama dari status kelas sosial atau status sosio ekonomi.
Pendapatan yang rendah akan berpengaruh terhadap kelas sosial pada dirinya,
hal ini telah dicontohkan pada mahasiswa kaya dan miskin di atas. Mahasiswa
yang kaya secara kelas sosial tentu saja lebih tinggi daripada mahasiswa yang
secara ekonomi pas-pasan atau miskin. Ketimpangan kelas sosial di dunia
pendidikan (sekolah) yang ada, banyak tergantung pada latar belakang kelas
sosial keluarga murid ( Horton,Hunt,1987:341). Kebanyakan sekolah memiliki
murid yang berasal dari kelas sosial yang berbeda-beda.
Strata kelas sosial yang berbeda inilah yang nantinya akan
mempengaruhi dalam perilaku yang diambil dari diri mahasiwa dalam hal
pemenuhan kebutuhan dan saat mengikuti proses perkuliahan. Menurut
Mathias Finger dan Jose Manuel Asun bahwa pendidikan orang dewasa erat
sekali dengan ”ekonomi” kehidupan sosial (Mathias Finger, Jose Manual
Asun, 2004 :181) Artinya bahwa keadaan ekonomi seorang mahasiswa akan
ikut terbawa dalam kehidupan di kampus. Mahasiswa yang orang tuanya
xxxv
berlatar belakang ekonomi mampu maka di kampus kemampuan itu bisa
menonjol. Mahasiswa kaya kebutuhan yang tidak penting atau tidak
mendesakpun akan mudah dipenuhi karena secara ekonomi ia berkecukupan.
Akan tetapi sebaliknya, mahasiswa yang secara ekonomi miskin
maka akan terlihat dalam pemenuhan hidup di kampus yang berbeda. Karena
mahasiswa yang miskin tentu harus pandai-pandai mengatur keuangan yang
minim. Ia akan membelanjakan pada pemenuhan kebutuhan yang prioritas
penting, sedangkan kebutuhan yang tidak penting atau tidak terlalu mendesak
akan ditunda dahulu.
Oleh karena itu murid-murid modern Weber menganggap
pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, lebih dari suatu variabel kelas atau
variabel status (Mifflen,1986:92). Sebagai suatu variabel status maka
pendidikan mengarah pada gaya hidup dan suatu pola yang komsumtif yang
menempatkan satu golongan atau tingkat status terpisah dari lain (
Mifflen,1986:92) Tak heran jika banyak pendapat bahwa sekolah –sekolah
adalah lembaga kelas menengah. Richer (1974 : 521), menerangkan bahwa hal
ini berarti bahwa ”...mereka memberikan kelangsungan sistem
stratatifikasi dengan menyampaikan nilai-nilai dan gaya hidup kelas
menengah”. Pandangan neo liberalis menganggap sekolah adalah sarana
kaum burjois atau kelas kapitalis. Dalam pandangan ini lembaga pendidikan
dikuasai oleh kaum elit yang menggunakannya terutama untuk mengadakan
batas-batas guna keanggotaan golongan status (Mifflen,1986:93). Status yang
dimiliki seseorang adalah satu sumber dari kekuasaan sosial yang melekat
pada dirinya.
xxxvi
Dalam pencapaian pendidikan tidak terlepas dari tiga komponen
yang sangat berpengaruh yaitu: kesanggupan, aspirasi dan kesempatan (
Mifflen, 1986 : 230). Kesanggupan dan kesempatan tidak semua dimiliki oleh
semua orang. Bagi yang secara stratifikasinya rendah dari sudut ekonomi
maka kesanggupan dan kesempatan adalah hal yang sangat susah diwujudkan,
artinya tidak semua orang bisa memenuhi ketentuan ini. Kesanggupan dan
kesempatan dalam kasus-kasus tertentu memerlukan hal yang lebih misalnya
kemampuan baik itu secara ekonomi, tenaga,dan pikiran serta ada peluang
sehingga ia bisa melakukan seperti itu.
Porter (1995) pernah meneliti yang menyajikan latar pendapatan
keluarga dari para mahasiswa. Hasilnya bahwa mereka yang berada pada
golongan pendapatan tinggi lebih banyak terwakili dan mereka yang golongan
pendapatan rendah ternyata kurang terwakili (Frank J Mifflen,1984:224)
Dengan kata lain bahwa kaum miskin sangat tidak sebanding didalam
menikmati kelangsungan pendidikan. Kalaupun bisa maka ia akan terjadi
kesenjangan yang jauh dengan golongan yang kaya apabila dilihat dari
kacamata ekonomi. Walaupun murid dari kelas sosial rendah memiliki
apresiasi dan rasa senang yang tinggi terhadap sekolah, sebagaimana halnya
murid dari golongan kelas sosial kaya, namun mereka lebih banyak mengeluh
karena keadaan sosial mereka. Mahasiswa miskin juga sering menampakan
citra negatif dan ragu-ragu terhadap kemampuan mereka.
Kalau kita tarik benang lurus dengan pendapat Paul B. Horton maka
penelitian yang dilakukan Porter ini maka terdapat benang merah (hubungan )
yang sangat erat. Sebab fungsi laten pendidikan adalah mempertahankan
xxxvii
sistem kelas sosial yang ada di masyarakat (Horton, Hunt,1987,340),
sedangkan kelas sosial merupakan cerminan gaya hidup. Tidak semua kelas
sosial rendah dapat mengenyam pendidikan dengan baik.
Masalah kemiskinan merupakan salah satu yang dihadapi oleh
manusia. Kemiskinan adalah suatu fakta sosial yang nyata ada di masyarakat,
ini bisa dilihat dengan pengamatan maupun dengan parameter tertentu untuk
mendefinisikan penduduk miskin. Sebagai fakta sosial maka individu
mempunyai perilaku yang berbeda dari karakteristik psikologis, biologis atau
karakteristik individu lainnya. Kemiskinan telah menjadi problem sosial yang
cukup pelik penangannya. Kemiskinan adalah musibah yang harus
dihapuskan dari masyarakat ( Rustam Effendi 2004:81)
Hasil Amerikan Episcopal Conference merumuskan ada tiga arti
kemiskinan, yang pertama adalah kemiskinan nyata; karena ketidakadilan,
manipulasi dan kekerasan. Kedua kemiskinan karena seseorang dianggap
bukan sebagai manusia (non person); sebab ia kehilangan hak untuk hidup
serta kebebasan menentukan pilihan. Dan ketiga adalah kemiskinan rohani; di
mana seseorang telah kehilangan kesadaran spiritual dan rasa solidaritas akan
sesamanya, terutama terhadap orang miskin dan mereka yang membutuhkan
pembebasan (CELAM di Medellin 1968, on Poverty; Kompas, 6 November
2004)
Secara singkat kemiskinan didefinisikan sebagai suatu standar
tingkat hidup yang rendah; yaitu adanya tingkat kekurangan materi pada
sejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang
umum berlaku dalam masyarakat.
xxxviii
Kemiskinan merupakan keadaan dimana seseorang tidak sanggup
memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga
tidak mampu memanfaatkan tenaga mental fisiknya dalam kelompok tersebut.
Penyebab utama kemiskinan adalah ketidakmampuan menghadapi
perubahan yang cepat dan radikal dan realitas yang baru dan kompleks,
ketidakadilan dalam sumber daya produktif, ketidakmampuan memanfaatkan
sumber daya produktif.
Dalam penelitian ini, penulis lebih tertarik dari definisi yang telah
dikemukakan oleh Parsudi Suparlan. Dengan standar hidup yang rendah maka
dalam realitas yang nampak seseorang akan mudah dikenali dan diidentifikasi
ke dalam kemiskinan itu. Dalam penelitian ini juga menggunakan rujukan
yang dikemukakan oleh Parsudi Suparlan. Sebab dalam realitas yang terjadi di
kampus kemiskinan mahasiswa ada bila dibandingkan dengan mahasiswa
yang secara ekonomi lebih mampu. Dan kesenjangan ini bisa dilihat dan
diidentifikasi dengan mudah dalam kehidupannya sehari-hari di kampus.
Kemiskinan adalah masalah multidimensional yang tidak saja
melibatkan faktor ekonomi akan tetapi juga faktor-faktor seperti sosial,
budaya dan politik. Secara sosial orang miskin juga akan membawa corak
yang berbeda bila dibandingkan dengan masyarakat yang secara sosial baik.
Begitu pula budaya yang dilakukan orang miskin akan berwarna lain (belum
tentu sama) jika dibandingkan dengan budaya orang kaya. Belum lagi budaya
yang membuat orang itu menjadi miskin yang dianut dalam suatu masyarakat.
Batasan kemiskinan yang menjadi tolok ukur kemiskinan relatif
dan tidak pernah selesai. Ukuran kemiskinan akan selalu berkembang
xxxix
mengikuti kemajuan. Ada yang mengukur kemiskinan dari tingkat biaya
komsumsi, ada juga dengan depresiasi atau kehilangan kemampuan, seperti
penurunan tingkat gizi, buta huruf, dan buruknya akses pelayanan pada
kesehatan. Beberapa ahli lain memandang kemiskinan dari pendapatan yang
diterima. Walaupun batasan kemiskinan relatif dan tidak pernah selesai untuk
dibicarakan, kemiskinan tetap menjadi bahan yang dapat untuk diteliti.
Biro Pusat Statistik (BPS) DKI memberikan indikator penduduk
kemiskinan dengan rumah berlantai tanah, luas rumah sempit, pola makan
tidak beganti-ganti dan tidak mampu membeli pakaian baru. Sedangkan Asia
Development Bank (ADB) mendefisikan kemiskinan dengan tingkat
pendapatan. Bila kurang dari US$ 2 (18.000,00) maka ia miskin. Dengan
standar ini jumlah penduduk miskin di Indonesia berjumlah 111.000.000 jiwa
Saat ini banyak cara pengukuran untuk mendefinikan batasan
miskin itu. Ada dua kategori tingkat kemiskinan, yaitu kemiskinan absolut dan
kemiskinan relatif. Operasionalisasi dari kemiskinan absolut juga masih dalam
berdebatan. Kemiskinan yang bersifat relatif dimungkinkan bisa berubah
menjadi tingkat prasejahtera atau bahkan sejahtera. Namun jika kemiskinan
sudah absolut pengentasan menuju ke arah yang lebih butuh waktu dan usaha
yang sungguh-sungguh.
Bank Dunia menetapkan bahwa garis kemiskinan adalah US$ 50
untuk daerah pedesaan dan US$ 75 untuk daerah perkotaan perkapita
pertahun. Sedangkan Prof. Soebagyo mengusulkan untuk pendekatan
kemiskinan dengan pendekatan absolut. Cara yang dikembangkan adalah
memperhitungkan standar kebutuhan pokok berdasarkan atas kebutuhan beras
xl
dan gizi. Biro Pusat Statistik menganggap orang miskin adalah mereka yang
dalam keseharian mengkonsumsi tidak lebih dari 1.200 kalori. Dengan
penghitungan seperti itu akan nampak penduduk yang tidak mampu untuk
memenuhi standar kebutuhan pokok yang secara otomatis ia digolongkan
hidup yang miskin.
Prof. Soebagyo mengklasifikasi strata penduduk menjadi sangat
miskin, miskin, hampir cukup dan cukup. Padahal dalam kondisi miskin tidak
mendukung pelaksanaan pendidikan dengan pendekatan struktural dan
institusional (Emy Budiartati, 1994:56).
Batasan pada penelitian ini bagi mahasiswa dari keluarga miskin
adalah pemenuhan kalori yang rendah kurang dari 1200 perhari, tingkat
pembiayaan kuliah yang dipandang mahal, tidak teraturnya administrasi
keuangan, minimnya kiriman uang dari orang tua, kurang dari Rp 225.700,00
(Maria Yulimah,2000:46), rendahnya akses pemenuhan gizi, rendahnya
pengeluaran kebutuhan, rendahnya partisipasi dan rendahnya motivasi,
diskrimanasi dan keterasingan sosial, rendahnya sumber daya produktif
keterbatasan dan kurangnya akses terhadap pendidikan dan layanan pokok
lainnya. Batasan untuk orang tua mahasiswa dari keluarga miskin
menggunakan pendapat prof Sajogyo yang mendefinisikan penduduk miskin
apabila mereka mengkomsu tidak lebih dari 20 Kg/ perkapita/perbulan untuk
daerah pedesaan dan 30 Kg/perkapita/perbulan untuk daerah perkotaan.
Dengan parameter diatas setidaknya bisa menjaring kriteria
mahasiswa dari keluarga miskin untuk dilakukan penelitian ini. Sebab
penelitian bisa diungkap dengan pendekatan yang baik dan konprehensif.
xli
Batasan ini lebih didasarkan pada keadaan sosial yang terjadi di
lapangan. Dalam realitas di lapangan mahasiswa dari keluarga miskin secara
umum masuk pada kriteria yang telah ditentukan di atas, memang tidak
seluruhnya definisi itu dipenuhi. Batasan mahasiswa dari keluarga miskin
terutama difokuskan pada keadaan kebutuhan pokok yang sangat minim,
kurang dari 1200 perkalori perhari. Serta hasil penelitian Maria Yuliana yang
rata-rata mahasiswa UNNES mendapat kiriman berjumlah Rp 225.700,00
menjadi rujukan dalam menentukan mahasiswa yang berasal dari kelurga
miskin. Serta komsumsi kebutuhan pokok 20 Kg/perkapita/perbulan untuk
daerah pedesaan dan untuk daerah perkotaan sebasar 30
Kg/perkapita/perbulan.
Kemiskinan memiliki wujud majemuk termasuk rendahnya tingkat
pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin kehidupan yang
berkesinambungan. Bagi seorang mahasiswa kondisi semacam ini sangat
benar-benar dirasakan dalam kehidupan di kampus. Dengan keuangan yang
minim mereka dituntut untuk bisa memenuhi standar kehidupan yang layak.
Ada dua macam permasalahan pendidikan di lapangan yang erat kaitannya
dengan kondisi ekonomi yang akan sangat berpengaruh terhadap anak didik.
Pendapat ini dikemukakan oleh Wardiman Djojonegoro (1993:7) yaitu:
1. Keterbatasan kemampuan ekonomi orang tua siswa untuk membiayai
pendidikan anak. Di samping itu terjadi benturan antara kepentingan
belajar di sekolah dan mencari nafkah dikalangan anak-anak dari
tingkat sosial ekonomi yang kurang mampu. Membagi waktu untuk
sekolah dan untuk bekerja kadang mengalami benturan
xlii
2. Tingginya angka drop out pada pelbagai tingkatan. Dalam dunia
kampus drop out juga ada, karena kemampuan seseorang akan
berkembang yang belum tentu pada posisi atas terus.
D. Interaksi Mahasiswa
Mahasiswa adalah manusia biasa yang membutuhkan manusia lain
dalam kelangsungan proses hidupnya. Untuk itu mahasiswa melakukan
interaksi dengan manusia lainnya baik itu dalam kampus dan di luar kampus.
Dengan interaksi ini mahasiswa bisa bertukar pengalaman, pengetahuan,
interaksi yang intim dan proses sosialisasi yang baik.
Interaksi merupakan suatu proses yang terjadi pada beberapa orang
yang mengerjakan sesuatu secara bersama atau saling membantu satu sama
lain dan disertai dengan proses bertindak berbicara dan berfikir. Interaksi akan
mempengaruhi arah individu dan dengan interaksi yang dilakukan dengan
cara nyata atau sembunyi, nampaknya sulit bagi seseorang untuk
mengendalikan atau mengarahkan kecuali dalam beberapa jumlah kecil situasi
(H.R. Riyadi Soeprapto,2002:187). Dari pendapat tersebut dapat kita tarik
kesimpulan bahwa pengaruh dari interaksi sangat kuat dalam mempengaruhi
diri seseorang. Dalam proses interaksi seseorang akan terpengaruh dari
lingkungan sekitar.
Bagi seorang mahasiswa diharapkan pengaruh yang masuk tentunya
diharapkan adalah pengaruh yang baik. Sebab pendidikan sekolah
mempersiapkan peran-peran baru dikemudian hari dikala tidak bergantung
pada orang tuanya (Kamanto Sunarto, 2004:27) Di samping sekolah
mengajarkan membaca, menulis dan berhitung, di sekolah anak didik
xliii
(mahasiswa) juga diajarkan aturan mengenai kemandirian ( Independence),
prestasi (achievment) dan universalitas (universalism) karena tujuan dari
pendidikan adalah untuk proses pendewasaan dan kemandirian siswa (Buku
Panduan KKN UNNES,2003: 1)
Seorang Dosen yang mengajarkan nilai-nilai pada mahasiswanya,
akan tetapi nilai itu akan berpengaruh efektif atau tidak, tergantung dalam diri
mahasiswa tersebut. Sebab nilai itu akan dibagi oleh mahasiswa dengan yang
lain seperti dunia interaksinya, dunia sosialnya, kelompok referensi dan
perspektif dari mahasiswa itu. Masing-masing komponen itu akan membentuk
perilaku mahasiswa di dalam pergaulan di kampus.
Interaksi yang dilakukan seorang mahasiswa bukan berarti
menghilangkan identitas sifat dari individu itu, akan tetapi justru sebaliknya
identitas pribadi tetap ada. Sebab sisi lain mahasiswa adalah manusia adalah
aktif dan berpikir, dan di sisi lain mereka menentukan arah mereka sendiri
dalam interaksi dengan orang lain dan dengan diri mereka sindiri (H.R. Riyadi
Soeprapto,2002:186 ). Identitas (kepribadian) seseorang tetap akan ada karena
manusia tidak bisa tenggelam dengan arus di lingkungannya.
Sebab seorang mahasiswa tidak hanya berinteraksi dengan orang
lain saja, namun juga berinteraksi dengan diri sendiri (sifat, karakter,
kepribadian). Interaksi dengan diri ini juga akan membentuk perilaku yang
belum tentu sama dengan yang lainnya. Interaksi yang dilakukan mahasiswa
adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus untuk menunjukkan
identitas dari seseorang.
xliv
Tiap mahasiswa mempunyai identitasnya sendiri baik itu karakter,
sifat yang ada dalam diri sendiri ataupun identitas yang melekat dalam diri
manusia berasal dari luar misalnya status sosialnya di mata manusia lain.
Perilaku individu dapat dipelajari dengan identitas yang muncul baik itu sifat,
sikap, kata-kata (pernyataan) atau perbuatan yang dilakukan mahasiswa.
Setiap individu akan berinteraksi dengan menggunakan simbol-
simbol yang didalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Demikian
yang diungkapkan oleh George Hambert Mead (1863-1931) dan Charles
Hartos Cooley (1846-1929). Dengan simbol manusia dapat mengekspresikan
kebebasan (H.R. Riyadi Soeprapto,2002:176). Dengan simbol manusia dapat
mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan keinginannya.
Interaksi dibagi menjadi tiga macam (H.R. Riyadi Soeprapto,
2002:188-191) yaitu:
1. Interaksi dengan lawan jenis, perkawinan dan keluarga. Interaksi
dalam lawan jenis misalnya persahabatan seorang lelaki dan seorang
perempuan. Interaksi dalam perkawinan apabila seseorang
melakukan interaksi atas dasar perkawinan yang dibentuk (rumah
tangga). Sedangkan interaksi dalam keluarga adalah interaksi yang
terjadi didalam satu keluarga. Hubungan dalam keluarga bisa timbal
balik dari anak ke orang tua, anak ke nenek, dan hubungan yang lain
yang terjadi dalam satu keluarga. Jumlah anggota dan fungsi
keluarga beragam ada yang hanya suami istri, suami istri dengan
anaknya, bahkan ada yang ikut serumah misalnya kakek-nenek.
xlv
2. Interaksi dalam kelas. Seorang Dosen yang berkumpul dengan
dosen-dosen lain misalnya, adalah salah satu interaksi dalam kelas
yang sama. Begitu juga interaksi yang dibangun oleh seorang
mahasiswa dengan mahasiswa lainnya dalam satu kelas adalah
contoh interaksi dalam kelas yang sama. Dalam penelitian ini juga
akan diungkap bagaimana mahasiswa dari keluarga miskin
berinteraksi dalam kelas yang sama.
3. Interaksi di luar kelas. Interaksi di luar kelas akan sangat
dipengaruhi oleh status seseorang (pendidikan, pekerjaan status
sosial dll). Misalnya seseorang yang secara ekonomi kaya akan
berpengaruh dalam interaksi yang dilakukannya. Hubungan orang
hitam dan kulit putih juga dapat memunculkan fenomena dalam
interaksi yang dilakukan. Penelitian ini akan mengungkap
mahasiswa miskin didalam berinteraksi di luar kelas yang terjadi
ketika ia mengikuti kegiatan di kampus.
Interaksi merupakan kunci dari proses sosialisasi yang dilakukan
oleh manusia. Dengan sosialisasi individu dapat hidup dan bertingkah laku
sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat di mana
individu itu berada. Sosialisasi yang dilakukan juga untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan dari individu itu. Mahasiswa dari keluarga miskin
tetap mengadakan sosialisasi untuk memenuhi keinginan misalnya pengakuan,
kerja sama, komunikasi dia dihadapan teman-temannya.
xlvi
Terjadinya interaksi karena faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan
simpati (Soejono Soekanto,1998:69). Faktor imitasi memungkinkan seseorang
untuk bertingkah laku dengan norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku
dalam tatanan masyarakat. Dengan norma dan kaidah-kaidah yang ikuti maka
ia akan mudah diterima dalam satu kelompok.
Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi pandangan
atau satu sikap yang berasal dari dirinya dan diterima oleh orang lain.
Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri
seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Sedangkan proses simpati
merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain.
Sistem interaksi yang dilakukan seseorang di sekolah sekurang-
kurangnya ada tiga perspektif (Horton,Hunt,1987:340) Ketiga yang
dikemukakan oleh Paul B. Horton itu adalah:
1. Hubungan antara orang dalam dengan orang luar.
2. Hubungan antara orang-orang dalam yang memiliki kedudukan berbeda.
3. Hubungan antara orang-orang dalam yang memiliki kedudukan sama.
Faktor–faktor yang mempengaruhi interaksi menurut Karp dan
Yoels adalah warna kulit, usia, serta penampilan, bentuk tubuh penampilan
busana dan percakapan (Kamanto Sunarto,2004:42). Untuk lebih jelasnya
akan dijelaskan dibawah ini:
1. Warna kulit. Menurut Karp dan Yoels ciri yang dibawa sejak lahir oleh
manusia adalah jenis kelamin, usia dan ras sangat menentukan interaksi.
Dalam masyarakat yang menganut paham diskriminasi (apartheid) maka
hal ini sangat terlihat dengan jelas. Namun bagi bangsa Indonesia
xlvii
diskriminasi ras sudah tidak berlaku lagi, walaupun ada sebagian
masyarakat yang masih memandang suku tertentu dengan sebelah mata.
2. Usia. Usia merupakan faktor yang menentukan dalam pola interaksi.
Interaksi antara orang tua dengan interaksi orang muda berbeda. Orang
muda akan menaruh hormat kepada yang lebih tua, dan orang tua sering
lebih berkasih sayang dan perhatian terhadap orang muda.
3. Jenis kelamin. Jenis kelamin sangat mempengaruhi interaksi. Laki-laki
lebih berkumpul dengan laki-laki daripada dengan perempuan akan lebih
mudah, ini dalam suasana normal tanpa ikatan apa-apa (perkawinan,
pacaran)
4. Penampilan fisik. Selain dari ciri-ciri yang dibawa sejak lahir maka
penampilan juga penting dalam mempengaruhi interaksi, demikian yang
dikemukakan oleh Karp dan Yoels (Kamanto Sunarto,2004:43)
5. Bentuk tubuh. Dalam penelitian yang dikemukakan oleh Wells dan
Siegal bahwa orang cenderung menganggap adanya keterkaitan antara
bentuk tubuh dan watak manusia.
6. Pakaian. Pakaian adalah faktor yang dapat mempengaruhi dalam
interaksi. Seseorang yang mengenakan pakaian jas tentu dipandang akan
lebih elegan daripada dengan kaos oblong. Bagitu juga dalam kampus
pakaian yang mahal, baik, bermutu bisa di lihat didalam interaksi di
kampus. Mahasiswa dari keluarga miskin dalam pakaian cenderung
sederhana, murah dan tujuan utama adalah untuk melaksanakan pokok
pakaian yaitu menutupi tubuhnya. Sedangkan orang yang mampu tentu
xlviii
akan lebih dari itu, ia memakai pakaian disamping menutupi bagian
tubuhnya tapi juga untuk mode dan prestice.
Dalam penelitian ini akan diungkap tentang hubungan orang-orang
yang memiliki kedudukan yang berbeda. Penelitian ini akan mengungkap
interaksi mahasiswa dari keluarga miskin dengan mahasiswa dari keluarga
yang tidak miskin (golongan kelas sosial atas) dan interaksi dengan lainnya
dalam hal pemenuhan kebutuhan dan pada saat interaksi. Sekolah bisa
diartikan sebagai kumpulan sejumlah orang yang menjalankan peranan dan
saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Mahasiswa dari keluarga
miskin yang merupakan bagian integral dari kampus juga akan menjalankan
peranannya dan saling berkerja sama untuk kemajuan kampus.
xlix
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian pada dasarnya merupakan serangkaian langkah
yang digunakan dalam proses penelitian. Dengan penelitian ini diharapkan
pokok permasalahan yang akan diteliti dapat dengan mudah dipahami dan
dijawab.
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan ini adalah jenis penelitian
kualitatif. Sebab strategi yang digunakan dari penelitian ini adalah dengan
pokok pertanyaan dengan “How” dan “Why”. Menurut Bognan dan Biklen
dalam Moleong penelitian dengan pendekatan kualitatif memiliki ciri-ciri,
yaitu:
1. Dilakukan pada latar yang alami, karena alat yang penting adalah
adanya sumber data yang diambil langsung dari perisetnya,
2. Bersifat deskriptif yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata
atau gambar daripada angka,
3. Lebih memperhatikan proses daripada hasil atau produk semata,
4. Dalam mengalisis data cenderung secara induktif dan
5. Lebih mementingkan makna yang ada.
B. Lokasi Penelitian
l
Tempat yang menjadi fokus penelitian ini adalah di Universitas
Negeri Semarang tepatnya di Kampus Sekaran Gunungpati Semarang
50229. UNNES terdiri dari Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam
(FMIPA), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Tehnik (FT), Fakultas
Ilmu Sosial (FIS) dan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) serta Fakultas
Bahasa dan seni (FBS) yang menjadi lokasi dari penelitian ini.
Di Universitas Negeri Semarang ada enam fakultas yang satu
dengan lainnya berdekatan. Dalam penelitian studi kasus ini secara
kebetulan ada lima lokasi yang dijadikan fokus untuk penelitian ini yaitu
Fakultas Ilmu Pendidikan ,Fakultas Ilmu Sosial,Fakultas Tehnik, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Fakultas Ilmu Keolahragaan.
Pemilihan lokasi ini hanya kebetulan saja, sebab fokus yang menjadi objek
penelitian studi kasus adalah mahasiswa yang kebetulan berasal dari fakultas
tersebut.
C. Subjek Penelitian
Subjek dari penelitian ini adalah sebagian atau wakil yang akan
diteliti. Subjek dalam penelitian studi kasus ini diambil secara acak pada
fakultas yang ada di UNNES. Jumlah keseluruhan subjek yang akan diteliti
pada penelitian studi kasus ini sejumlah 5 orang. Mereka adalah berasal dari
5 fakultas dari 6 fakultas , mereka adalah mahasiswa yang masuk kriteria
yang telah ditetapkan.
D. Sumber data
li
Dalam penelitian kali ini yang menjadi sumber data di bagi
menjadi dua macam. Sumber data kedua itu yaitu:
1. Data Primer, 5 orang akan menjadi subjek penelitian ini yang secara
realita kondisinya adalah miskin secara ekonomi. Kelima orang ini
secara kebetulan berasal dari Fakultas Ilmu Pendidikan satu orang dan
satu orang dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, satu
orang dari Fakultas Tehnik, satu orang dari Fakultas Ilmu Sosial dan satu
orang lagi dari Fakultas Ilmu Keolahragaan. Di samping itu ada 2 orang
informan pendukung yang salah satu dari mahasiswa yang secara realitas
tidak miskin dan teman dekat salah satu informan utama dan salah satu
dosen pengajar yang akrab dengan salah satu informan dan secara
kebetulan merangkap juga sebagai Pembina kemahasiswaan.
2. Data Sekunder; data yang diperoleh secara tidak langsung dalam
penelitian ini baik dari literatur, brosur ataupun sumber lain yang
mendukung.
E. Tehnik Pengumpulan Data
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan ada beberapa cara atau
metode dalam pengambilan data. Untuk memperoleh data dalam penelitian
ini, menggunakan beberapa metode yang digunakan yaitu:
1. Wawancara
lii
Dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara yang
didefinisikan oleh Moleong. Wawancara merupakan tehnik pengumpulan
data dimana terjadi komunikasi secara verbal antara pewawancara dengan
subjek wawancara (Moleong, 2001:135). Wawancara dalam penelitian ini
adalah tehnik yang utama dalam pengambilan data. Dengan wawancara di
harapkan data yang didapat sesuai dengan fokus penelitian.
Beberapa keunggulan dari tehnik wawancara yang digunakan pada
penelitian ini adalah:
a. Dalam penelitian sosial dan bidang psikologi, metode ini hampir selalu
digunakan sebagai metode yang utama, atau sekurang-kurangnya sebagai
pelengkap.
b. Merupakan metode yang efektif guna menggali fenomena psikis,
khususnya yang ada di bawah sadar dan pada ketidaksadaran, serta untuk
menilai keadaan seseorang.
c. Dapat sekaligus dipakai untuk mengadakan observasi terhadap tingkah
laku pribadi. Dengan wawancara akan diperoleh tingkah laku responden
secara nyata.
Ada beberapa kelemahan jika suatu penelitian menggunakan metode
dan tehnik wawancara. Kelemahan dari metode wawancara adalah sebagai
berikut:
a. Dalam pelaksanaannya metode ini kurang efisien karena boros waktu,
energi pikiran dan pembiayaan
b. Dalam melakukan wawancara seseorang dituntut adanya penguasaan
bahasa yang cukup baik pada pewawancara.
liii
c. Suksesnya interview sangat tergantung pada suasana hati atau stemming
interview, pada kesediaan, kemampuan dan keadaan personalnya yang
momentum. Kesalahan dalam memilih waktu misalnya akan berdampak
pada hasil wawancara yang dilakukannya.
d. Ada kalanya pewawancara kurang atau tidak mampu menembus pikiran
perasaan objek, sehingga datanya kurang lengkap.
Ada beberapa model yang sering digunakan dalam pengumpulan
data menggunakan tehnik wawancara. Model wawancara yang sering
digunakan dalam penelitian adalah :
1. Wawancara oleh team atau panel
2. Wawancara tertutup atau wawancara terbuka
3. Wawancara riwayat secara lisan.
4. Wawancara terstrukstur.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah wawancara
model terbuka. Dengan metode yang terbuka ini diharapkan akan
diperoleh satu informasi yang asli dan sesuai dengan yang diharapkan.
Metode ini subjek wawancara tahu dari tujuan dan maksud pewawancara
dalam kegiatan ini (Moleong,2001:137)
2. Observasi
Observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan atau
melihat langsung perilaku individu dalam situasi atau selang waktu yang
sebenarnya tanpa adanya manipulasi atau mengontrol perilaku individu itu
ditampilkan. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
observasi partisan yang bertujuan untuk menjaring perilaku individu
liv
terjadi dalam kenyataan sebenarnya. Observasi ini juga untuk
mendiskripkan kehidupan sosial yang sebenarnya.
Kegiatan yang dilakukan dalam observasi ini adalah sebagai
berikut ini:
1. Mengamati kondisi dan keadaan kelima fakultas yang menjadi
objek penelitian ini. Kelima orang ini adalah satu orang berasal
dari Fakultas Ilmu Pendidikan, satu orang dari Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, satu orang dari Fakultas
Tehnik, satu orang dari Fakultas Ilmu Sosial dan satu orang lagi
dari Fakultas Ilmu Keolahragaan.
2. Mengamati perilaku dan sikap yang dilakukan mahasiswa dari
keluarga yang tergolong miskin dalam pemenuhan kebutuhan dan
saat mengikuti perkuliahan maupun saat berinteraksi di kampus.
3. Dokumentasi
Suharsimi Arikunto (1992:23) mengatakan bahwa dokumentasi
adalah data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan,
transkip,buku, surat kabar, majalah, prasasti,notulen rapat, legger,
agenda dan sebagainya.
Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber
non insani, dimana sumber ini terdiri dari rekaman dan dokumen
(Sonhaji dan Arifin,1996:82). Dokumentasi sebagai suatu metode
pengumpulan data yang digunakan dengan cara mengadakan pencatatan
data dan dokumentasi yang ada di lokasi penelitian.
lv
Alasan menggunakan metode dokumentasi sebagaimana yang
dikemukakan oleh Lincoln dan Guba dalam Moleong (1995) adalah
karena:
a. Dokumentasi dan record merupakan sumber yang stabil, kaya dan
mendorong,
b. Berguna sebagai bukti untuk suatu kejadian karena menunjukkan
fakta yang telah berlangsung dan mudah di dapat.
c. Memiliki sifat ilmiah yang cukup tinggi karena tingkat kepercayaan
dan keabsahan yang tinggi.
d. Murah dan mudah diperoleh dan
e. Tidak sukar untuk ditemukan
F. Keabsahan data
Untuk memperoleh keabsahan data maka dilakukan dengan analisis
data yang ada. Analisis ini tidak saja merupakan tindakan yang logis
pengumpulan data, akan tetapi merupakan proses yang tak terpisahkan dari
pengumpulan data. Proses analisis ini dimulai dengan menelaah seluruh data
yang telah terkumpul, yaitu dari informan kunci hasil wawancara yang sudah
dilakukan, dari hasil pengamatan yang tercatat dalam berkas lapangan, dan
hasil dari studi dokumentasi (Moleong,2001:209)
Tehnik- tehnik yang sering digunakan didalam melacak atau untuk
membuktikan kebenaran adalah dengan ketekunan pengamatan di lapangan
(persistent observation), triangulasi (triangulation), pengecekan dengan
teman sejawat (peer debriefing), analisa terhadap kasus-kasus negatif
lvi
(negative case analysis), referensi yang memadai (revential adequacy) dan
pengecekan anggota (member check).
Dari tehnik yang ada maka penelitian ini menggunakan
pengamatan lapangan dan triangulasi sebagai sumber untuk mencari
keabsahan data. Dengan tehnik pengamatan beberapa kali datang ke lokasi
untuk mengamati secara langsung tentang perilaku mahasiswa yang menjadi
objek penelitian. Sedangkan triangulasi dilakukan dengan memanfaatkan
sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data tersebut. Dengan demikian akan diperoleh satu
hasil yang benar-benar merupakan hasil temuan di lapangan.
Proses yang dilakukan dalam penelitian ini ditempuh dengan cara
mereduksi data. Adapun cara mereduksi data adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan data yang diambil dari wawancara, observasi dan
dokumentasi kemudian dipilih sesuai dengan kemiripan data.
2. Data yang sudah diklasifikasikan tersebut diorganisir untuk bahan
penyajian data.
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah penyajian data.
Dengan caara ini dimungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan.
G. Analisia data
Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia
dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah tertulis
lvii
dalam catatan harian di lapangan, hasil observasi dan lain sebagainya
(Moleong,1989:209)
Langkah menganalisis data adalah dengan menarik kesimpulan
atau verifikasi, yaitu sebagian dari suatu kegiatan konfigurasi yang utuh.
Kesimpulan yang diambil tentu saja berdasar pemahaman terhadap data
yang telah disajikan dan dibuat dalam pernyataan singkat dan mudah
dipahami dengan mengacu pada pokok permasalahan yang diteliti.
Cara yang diambil dalam analisi ini adalah setelah data terkumpul
semua baik itu wawancara, pengamatan yang sudah tertulis dalam catatan
harian di lapangan, hasil observasi dan lain sebagainya ditabulasi. Setelah itu
peneliti melakukan pengelompokan-pengelompokan jawaban. mengacu pada
parameter yang telah ditentukan Dengan cara seperti ini diharapkan akan
mempermudah penarikan kesimpulan dan tidak dilakukan secara berulang-
ulang. Kelengkapan data yang utuh juga memudahkan di dalam menarik
kesimpulan.
lviii
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum
Universitas Negeri Semarang atau disingkat UNNES adalah salah satu
universitas yang tergolong baru, tepatnya pada tahun 2000 nama Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (IKIP Semarang) diubah menjadi
Universitas Negeri Semarang (UNNES). Perubahan ini didasarkan pada surat
keputusan presiden no. 124 Tahun 1999 tentang perubahan IKIP Semarang
menjadi Universitas Negeri Semarang. Sampai sekarang jumlah fakultas yang
ada masih tetap sama ketika masih berbentuk IKIP Semarang, hanya saja
fakultas-fakulras yang telah berganti nama. Ini seiring dengan makin besarnya
tugas yang diemban ketika menjadi universitas.
Walaupun telah berubah menjadi sebuah universitas konsep LPTK
( Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan ) tetap dijalankan dan ini
menjadi keunikan tersendiri bagi UNNES bila dibandingkan dengan
universitas lain yang ada. Memang hampir Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (IKIP) yang menjadi sebuah universitas tetap mempunyai tugas
untuk mencetak guru yang dibutuhkan dimasyarakat di samping juga memberi
materi yang bersifat non kependidikan. Dilembaga ini guru dicetak secara
profesional sesuai dengan bidangnya untuk di terjunkan di masyarakat sebagai
tenaga pendidik yang handal.
lix
Dan di Universitas Negeri Semarang berbagai rumpun ilmu
pengetahuan diajarkan seperti tehnologi, olahraga, seni, budaya ilmu
pengetahuan murni dan lain-lainnya, baik yang bersifat pendidikan maupun
non pendidikan semua dikelola dengan baik. Bila dilihat dari 42 program studi
yang sedang berjalan di UNNES baik itu program D2, D3, S1 dan program
S2, 24 program studi yang dibuka diantaranya adalah program yang bersifat
pendidikan. Maka tak heran jika 70% lebih mahasiswa UNNES adalah calon
pendidik (guru).
Universitas Negeri Semarang pada tahun akademik 2003/2004
memiliki mahasiswa sejumlah 16.658 orang. Dari jumlah tersebut 15.140
orang diantaranya adalah mahasiswa program kependidikan dan 1.518
mahasiswa yang memilih program non pendidikan. Rata-rata mereka masuk
UNNES melalui SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang
dilakukan dengan dua jalur, di samping itu ada juga yang melalui pintu Ujian
Masuk Universitas Negeri Semarang atau biasa disingkat UMU. Jenis ujian ini
bersifat lokal mandiri.
A. 1. Goegrafis Kampus UNNES
Untuk menuju kampus Universitas Negeri Semarang ada tiga jalur
utama yang dapat dipilih. Jalur yang pertama adalah dari kota Ungaran. Dari
kota Kabupaten Semarang ini, UNNES berjarak kurang lebih 10 Km ke arah
utara. Alat transportasi untuk menuju UNNES dari kota Ungaran masih
berplat hitam yang sekali jalan. Tetapi jika ingin menggunakan plat kuning
lx
maka harus berganti kendaraan di desa Sumur Jurang. Baru dari Sumur
Jurang bisa menggunakan mobil Daihatsu kuning (angkot) atau minibus .
Jalur masuk ke UNNES yang kedua dari jalur Sampangan, atau
Jatingaleh yang jalan itu bergabung di desa Sukorejo, tepatnya di dekat
Jembatan Kali Garang. Untuk alat transportasi disini lancar dan berplat kuning
(resmi) dan yang terakhir dari arah Gunung Pati, namun jika menggunakan
jalur Gunung Pati yang tembus ke perumahan Sekar Gading maka tak ada
angkutan umum. Satu satunya jalan adalah dengan ojek yang tentunya dengan
biaya yang relatif mahal. Kampus UNNES bila melihat secara letak memang
sedikit terisolasi, sebab jauh dari kota dan sarana angkutan umum juga
terbatas terutama pada malam hari.
Universitas Negeri Semarang sebenarnya berada di sebelah barat
Banyumanik persis, sebuah kecamatan di kota Semarang yang tergolong ramai
bahkan bisa di sebut kota Semarang Atas. Akan tetapi karena dibatasi oleh
jurang sungai Kaligarang yang memisahkan bukit Srondol dan bukit Sekaran.
Akibat adanya jurang pemisah ini praktis maka hubungan dari Banyumanik ke
Kampus amat sulit. Baru-baru ini pemerintah akan membuat jembatan yang
menghubungkan Banyumanik dan Kampus namun realitasnya masih
menunggu.
Sedangkan dibagian barat UNNES, ada hamparan sawah dan lahan
pertanian yang luas. Perumahan Sekar Gading disisi selatan sedang
berkembang pesat. Pada bagian barat pepohonan hijau masih banyak yang
tumbuh. Sedangkan sebelah selatan ada desa Patemon yang mulai ramai akibat
imbas pembangunan kos-kosan yang mulai ramai ke arah selatan kampus.
lxi
Sebelah utara ada kebun binatang Tinjomoyo yang sedang dipindah. Di
sebelah utara juga terdapat perumahan Trangkil yang banyak dihuni oleh
kaum menengah dan sedikit saja yang dijadikan kos-kosan mahasiswa.
A. 2. Komposisi sivitas akademika UNNES
Komposisi sivitas akademika di UNNES dapat dikelompokan
menjadi tiga macam yaitu, kelompok mahasiswa, dosen dan karyawan.
Karyawan di sini termasuk tenaga administrasi dan pustakawan yang ada di
UNNES. Jumlah komposisi sivitas akademika Universitas Negeri semarang
secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1 Komposisi Sivitas UNNES
Keadaan tahun 2003/2004
No. Komposisi Mahasiswa Dosen Karyawan
1. FIP 3.144 137 31
2. FBS 2.520 131 25
3. FIS 3.809 164 27
4. FMIPA 2.432 174 36
5. FT 2.503 144 37
6. FIK 1.096 63 30
7. PPs 551
8. Rektorat,UPT dll 253
Jumlah 16.658 813 428
Sumber: Laporan Tahunan Rektor 2004
Dari data yang ada di atas dapat kita lihat komposisi sivitas
akademika di UNNES. Untuk mahasiswa terbanyak ditempati oleh Fakultas
lxii
Ilmu Sosial dengan jumlah mahasiswa 3.809 mahasiswa dan Fakultas Ilmu
Keolahragaan menduduki peringkat terkecil dengan jumlah 1.096
mahasiswa. Untuk Fakultas Ilmu Pendidikan berjumlah 3.144 mahasiswa,
sedangkan Fakultas Bahasa dan Seni berjumlah 2.503 mahasiswa.
Sedangkan Fakultas Tehnik secara berjumlah 2.503 mahasiswa.
Dosen terbanyak ditempati oleh FMIPA dengan jumlah dosen
174 orang disusul oleh FIS yang jumlah dosennya secara keseluruhan
berjumlah 164 orang. Fakultas Ilmu Pendidikan dan FBS hampir sama
jumlah dosen yang dipunyai yaitu untuk FIP berjumlah 137 orang dan FBS
berjumlah 131 orang. FIK menduduki peringkat terkecil jumlah dosen yang
berjumlah 63 orang.
Untuk Tenaga Administrasi terbanyak di luar fakultas dengan
jumlah 253 orang. Mereka tersebar di satuan kerja yang ada, seperti di
BAAKPSI berjumlah 95 orang, di LPM berjumlah 56 orang, Pustakawan
berjumlah 24 orang. UPT Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) berjumlah
15 orang dan di Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LEMLIT),
Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM), UPT Komputer, serta UPT
Perpus masing masing berjumlah 10 orang.
3. Sarana dan Prasarana kampus UNNES
Untuk mendukung proses perkuliahan ataupun peningkatan mutu
pelayanan yang baik, sarana dan prasarana yang ada di kampus ini terus
lxiii
dibenahi. UNNES sedang membangun auditorium senilai 3 milyar rupiah di
samping rektorat. Selain itu wajah UNNES juga dihias dengan pagar masuk
yang kian rapi. Selain itu Fakultas Bahasa dan Seni sedang membangun
gedung dekanat untuk meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa. Untuk
Fakultas Ilmu Sosial juga sedang merampungkan gedung dekanat,
sedangkan FMIPA yang sedang gencar membangun laboratorium.
Sedangkan fakultas ilmu pendidikan sedang membangun gedung pertemuan
di belakang gedung dekanat.
Tujuan utama dari pengadaan sarana dan prasarana adalah untuk
meningkatan mutu proses pengajaran yang di lakukan di kampus ini.
Berbagai sarana penunjang seperti laboratoirum, masjid, lapangan olahraga
dan yang lainnya, terus dipelihara dengan baik. Sarana dan prasarana ini
bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan terutama untuk mahasiswa
sehingga mutu lulusannya selalu meningkat.
Prasarana pendidikan di UNNES terus di manfaatkan oleh segenap
civitas akademika baik dosen, mahasiswa ataupun karyawan secara optimal
sehingga peningkatan mutu lulusan UNNES semakin baik, termasuk mutu
perkuliahan yang dapat berjalan dengan baik. Tidak hanya pemanfaatan saja
akan tetapi, perawatan juga tetap diperhatikan sehingga penggunaannya bisa
tahan lama. Adapun prasarana yang ada di kampus untuk mendukung
keberhasilan kuliah dapat di lihat di bawah ini:
Tabel Prasana Pendidikan Kampus
Keadaan tahun 2003/2004
Fak/unit kerja Ruang Ruang Ruang Ruang Ruang Ruang Ruang
kuliah Lab Studio seminar Dosen kantor perpus
lxiv
FIP 720 261 - 105,75 222.75 185,50 14,5
FBS 2023 1924 - 669 130 126
FIS 3882 1484 - 892 1052 819 164
FMIPA 2925 2.802 - 1.114,6 2.981 301,6 352
FT 2324,1 3499,2 - 50 521.6 148,5 117,5
FIK 1959 764,7 - 250 - 250 99,2
LPM - - - 90 - 200 -
LEMLIT - - - 116,5 - 116,5 -
UPT Perpus - - - - - - 4.789
UPT PPL - 56 - - - 144,75 -
UPT Media - - 116 48 - 48 -
UPTPuskom 731,5 - - - - 210 -
PPS - - - 147,5 20.2 64,8 112,7
Sumber : data laporan tahunan Rektor 2004
Untuk memperlancar dan mendukung proses kuliah sarana lain juga
disediakan seperti lapangan sepakbola, lapangan volley, lapangan parkir
yang tersebar diseluruh fakultas dan mushola di tiap fakultas bahkan
jurusan. Ada satu masjid yang megah berdiri di kampus yang menjadi
sentral kegiatan keislaman di kampus. Semua untuk mendukung kelancaran
dalam proses belajar dan mengajar di kampus. Tiap fakultas dapat dihubungi
dengan jalan yang cukup tertata rapi dan beraspal. Di sini juga terdapat
laboratorium olahraga yang cukup mewah untuk mendukung proses belajar
mengajar, terutama bagi anak-anak dari fakultas ilmu keolahragaan.
B. Gambaran Subjek Penelitian
Adapun subjek di dalam penelitian ini adalah dua bagian, kedua itu
adalah responden utama dan responden pendukung. Responden utama
dalam penelitian ini ada lima orang yang diambil dari enam fakultas yang
ada di UNNES. Kelima orang ini adalah mereka yang terpilih adalah benar-
benar miskin terutama secara ekonomi. Untuk memudahkan Responden
lxv
utama di sebut dengan Responden 1, Responden 2, Responden 3, Responden
4 dan Responden 5 secara berurutan.
Untuk responden yang tidak miskin dan diambilkan dari sahabat
terdekat disebut sebagai responden 6 serta seorang dosen yang dekat dengan
salah satu responden disebut dengan responden 7. Dalam penelitian ini
diambil lima mahasiswa dari keluarga miskin teruatama yang ekonomi, serta
kemiskinan secara sosial, budaya dan politik. Untuk lebih jelasnya dapat
melihat tabel yang dicantumkan dibawah ini:
Tabel keadaan responden utama
No Kode responden Umur Jurusan Fakultas
1. 1 20 th BK FIP
2. 2 19 th Ekonomi FIS
3. 3 21 th PTB FT
4. 4 18 th PJKR FIK
5. 5 23 th Fisika FMIPA
Sumber : dokumentasi pada bulan desember 2004
Selain responden utama yang telah disebutkan diatas. Dalam
penelitian ini juga mengambil responden pendamping. Responden
pendamping di sini sangat mendukung untuk triangulasi data. Data yang
diperoleh dari responden utama perlu adanya kroscek antara responden
utama dengan responden lainnya sehingga kevalidan data yang dibuat tinggi.
Data yang diharapkan dari sumber-sumber yang dapat dipercaya paham
akan kondisi mahasiswa dari keluarga miskin dan mengetahui akan
permasalahan dalam penelitian ini yaitu sejauh mana perilaku mahasiswa
lxvi
miskin di dalam berinteraksi pada saat kuliah dan pada saat berinteraksi
dengan teman-teman di kampus.
Subjek dari responden untuk kepentingan triangulasi data di
ambilkan dari mahasiswa yang sangat dekat dengan responden utama dan
secara materi tidak miskin. Secara budaya, sosial dan politik mahasiswa
dekat ini tidak miskin. Selain itu ada responden dari dosen yang dekat
dengan responden utama. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel
berikut ini:
Tabel keadaan responden pendukung
No Kode responden Umur Jurusan/pekerjaan Fakultas
1. 6 20 th Mahasiswa FIS
2. 7 47 th Dosen FIP
C. Perilaku Mahasiswa Miskin di Universitas Negeri Semarang
C.1. Pemenuhan kebutuhan Hidup
Dari penelitian yang dilakukan maka dapat diungkap bahwa
aktualisasi menjadi pilihan utama mahasiswa dari keluarga miskin di
kampus. Mereka menganggap aktualisasi itu penting. Sebagian besar
mereka bahkan aktif di organisasi kemahasiswaan. Tidak sedikit yang
merangkap sebagai pengurus disuatu organisasi. Mereka mengikuti
organisasi untuk mencari pengalaman dan ilmu yang tidak di dapat di
bangku kuliah. Hal ini dapat kita lihat pada jawaban responden 5 :
“Ya aku aktif di organisasi di kampus. Pernah di kelompok asisten
sebagai sie bakat minat, di laboratorium sebagai ketua. Di Hima
Fisika tahun 2002-2003 di komisi A, aku di luar kampus aku aktif di
lxvii
yayasan Ibnu Sina miliknya pak Anwar dosen FIP, sebagai ketua. Tapi
kini aku hanya membantu di yayasan saja mulang ngaji hari Minggu
pagi. Di samping itu kegiatan yayasan lain aku juga masih ikut”
Begitu pula responden 2 ia mengatakan sebagai berikut:
“Saya di organisasi cukup aktif. Di ekstra, karena tidak terlalu di
boncengi kepentingan politik yang berlebihan. Dan untuk di intra saya
selektif untuk serta di dalam organisasi di kampus. Kalau diboncengi
kepentingan di dalamnya biasanya saya menghindar untuk sementara
waktu. Di intra saya aktif di Hima Ekonomi di Eksis (keagamaan
islam;penulis) aktif bidang kaderisasi dan untuk ekstra saya aktif di
HMI MPO. Bagi saya organisasi akan banyak manfaatnya dalam
membentuk kepribadian, dan banyak manfaat lain dari organisasi”
Begitu juga dengan yang lainnya misalnya responden 3 ketika
ditanya apakah aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan di kampus, ia
menjawab sebagai berikut:
“Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk organisasi.
Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita sendiri. Banyak ilmu
yang didapat dengan mengikuti organisasi itu. Di UKKI (Unit
Kegiatan Kerohanian Islam) ataupun di RISTEK (Kerohanian
IslamTehnik ) saya ikut jadi pengurus. Tapi teraktif di rohis tehnik,
kan fakultas sendiri”
Mereka sebagian juga aktif mengikuti kegiatan kampus seperti
seminar, bedah buku, diskusi dan kegiatan kampus lainnya. Dengan cara
ini semangat beraktualisasi untuk mendapat ilmu yang bermanfaat
berkembang.
Mahasiswa miskin juga mempunyai motivasi yang tinggi. Hal
ini terungkap ketika ditanya dengan pertanyaan apakah anda ingin
menjadi yang terbaik di antara teman anda? Dapat kita pada penuturan
responden 2 :
“Kalau bisa begini, orang yang baik adalah yang paling bermanfaat
bagi orang lain. Itu harapan saya dalam berinteraksi”
lxviii
Hal yang sama akan kita temui pada responden 3 :
“Saya selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik memberi yang terbaik
kan ini wajar bagiku asal tidak berlebihanlah. Lagipula bermanfaat
bagi diri kita sendiri ”
Begitu juga dengan responden yang lain ia ingin menjadi yang
terbaik diantara teman-teman. Seperti jawaban reponden 1 ia
menuturkan:
“Tentu saja ya, kan itu wajarlah. Ya. Biarpun kondisiku begini menjadi
yang terbaik itukan perlu”
Responden 4 menjawab pertanyaan itu sebagai berikut:
“Kalau saya begini sajalah bukan yang terbaik tetapi yang lebih baik.
Maklum untuk jadi yang terbaik kan harus lebih dari yang lain, kalau
saya?”
Responden 5 juga menuturkan tentang keinginannya untuk menjadi yang
terbaik, seperti yang ia ungkapkan;
“Ya tentu itu. Aku ingin jadi yang terbaik dari teman-teman. Memang
aku seperti ini, tapi berusaha itukan perlu perkara hasilnya itu terserah
nanti yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin”
Sebagai manusia mereka menginginkan penerimaan diantara
sesama dengan baik. Ketika ini digali dengan pertanyaan yang
mengungkap bagaimana penerimaan mahasiswa lain terhadap anda
responden 2 menjawab sebagai berikut:
”Di kelas ada beberapa kelompok yang seolah-olah tidak rukun dan
kelihatan sendiri-sendiri. saya mampu menerobos gap-gap yang ada di
kelas. Rasa-rasanya temen-temen bisa untuk saling mamahami kondisi
saya ini”
Responden 3 juga menuturkan sebagai berikut:
lxix
“Mereka cukup baik padaku. Sama dengan yang lainlah. Sebagian juga
akrab denganku. Aku menceritakan keadanku juga dengan teman kuliah,
terutama teman dekat.”
Untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, mahasiswa dari keluarga
miskin secara umum bersumber pada kiriman orang tua yang berupa
uang dan jumlahnya sangat terbatas. Hanya ada satu responden
(responden 1) yang terpaksa mencari uang sendiri karena orang tuanya
meninggal. Uang dari orang tua ini diambil sendiri ketika ia pulang. Hal
ini dapat kita temui pada responden 2 sebagai berikut:
“Kalau tiap bulan saya mendapat kiriman sejumlah kurang lebih Rp
200.000,00 saya pulang ambil sendiri. Jarang dikirim dengan post”
Seperti yang diungkapkan juga oleh responden 3:
“Kurang lebih Rp 120.000,00 perbulan, tapi kadang tidak diberi.
Biasanya aku pulang sendiri ke rumah untuk ambil uang itu, jarang
orang tua ke sini atau kirim dengan wesel”
Jawaban seperti ini juga ditemukan pada responden 4 dan 5 yang
mengandalkan kiriman dari orang tua mereka. Responden 4 menuturkan:
“Nggak tentu mas, kadang hanya cukup buat makan dan sisa sedikit
buat membuat tugas-tugas dari kuliah. Benar mas nggak besar paling
70.000,00/bulan. Kalau lagi nggak punya kadang hanya
50.000,00/bulan”.
Sedangkan responden 5 juga mempunyai kemiripan seperti
responden di atas, ai menuturkan:
“Kiriman orang tua tiap bulan tidak tentu besarnya. Kalau ada ya
dikasih kalau tidak ada ya nggak dikasih. Untuk besarnya kira-kira
antara Rp 20.000,00- 50.000,00 ini diberi ketika saya pulang”
Sebagian besar anggaran belanja mereka untuk biaya kebutuhan
sehari-hari baru untuk kuliah. Mereka tidak membeli di luar itu kecuali
benar-benar dibutuhkan. Ini seperti diungkapkan olah responden 5 :
lxx
“Uang dalam satu bulan itu paling banyak ya untuk biaya hidup dan
untuk kuliah saja. Yang lain aku tidak, bukannya tidak ingin tapi
emang kemampuanku terbatas. Penginnya sih beli ini-beli ini tapi
keuangan kan nggak ada,mau apalagi”
Kita akan menemui jawaban yang hampir sama pada responden 1
sebagai berikut:
“Uangku sebagian besar untuk makan, baru kebutuhan yang lain seperti
kuliah dan lain-lainnya. Sebelum habis maka saya wajib menyisihkan
uang sejumlah 90.000,00 untuk makan sebulan itupun kalau ada”
Sedangkan responden 2 menuturkan :
“Kalau saya begini, pada saat saya pulang maka saya akan membuat
estimasi kebutuhan selama waktu yang saya rencanakan, bisa dua
minggu atau tiga minggu ataupun satu bulan bahkan satu setengah
bulan. Sehingga besarnya tergantung yang saya rencanakan. Apabila
dua minggu Rp100.000,00 plus transport PP Rp 30.000,00. kalau tiga
minggu maka besarnya Rp 150.000,00 plus uang transport Rp
30.000,00 kalau satu bulan besarnya Rp 200.000,00. estimasi selama
satu bulan
Kebutuhan makan minum Rp 150.000,00
Transport Rp 30.000,00
Kebutuhan kuliah Rp 20.000,00
Untuk berhemat maka saya menekan kebutuhan konsumsi, sebab Rp
200.000,00 bisa kurang.sebab kadang meleset dari perkiraan,misalnya
banyak kegiatan yang dilakukan diorganisasi”
Untuk responden 4 dan 3 dalam mengelola keuangan dapat
dilihat di bawah ini. Responden 4 menuturkan:
“Begini mas untuk makan 2 kali sehari tanpa minum (minum air
putih;penulis). di samping itu juga sering puasa jadi mengurangi
pengeluaran. Untuk tugas saya hemat artinya jika terpaksa diketik
baru dilakukan. Untuk pengeluaran yang lain kalau tidak penting
sekali ya nggak, pokoknya uang tidak untuk hal-hal yang tidak perlu ”
Dan responden 3 mengatakan sebagai berikut:
“Begini mas untuk makan 2 kali sehari tanpa minum (hanya minum air
putih;penulis). di samping itu juga sering puasa jadi mengurangi
pengeluaran. Untuk tugas saya hemat artinya jika terpaksa diketik baru
lxxi
dilakukan. Untuk pengeluaran yang lain kalau tidak penting sekali ya
nggak, pokoknya uang tidak untuk hal-hal yang tidak perlu ”
Di dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis dari penelitian yang
dilakukan ini akan ditemui beberapa kesamaan. Secara umum mereka
lebih senang makan di luar kampus. Alasan mereka makan dan minum
di luar kampus adalah mereka menganggap bahwa makan di dalam
kampus adalah lebih mahal bila dibandingkan di luar kampus. Hal
tersebut dapat terungkap ketika penulis menanyakan motivasi apakah
ketika makan di kampus. Seperti penuturan responden 2:
“ Kalau makan sih pernah tapi tidak sering, saya masih ingat
mas….selama satu setengah semester ini saya makan dikantin kampus
dua kali, itupun coba-coba saja. Hal itu saya lakukan karena makan
dikantin lebih mahal apabila dibandingkan dengan warung-warung di
kompleks kost. Di kantin rasanya juga kurang nyaman, nggak enak di
lihat orang, Maklum standar anak kost,lagian kalau rame apa muat
tempatnya?
Begitu pula ketika pertanyaan ini ditanyakan pada responden 4,
ia memberi jawaban sebagai berikut:
“Jarang, ya sangat jarang bahkan tidak pernah. Maklum keuangan
tidak ada, tidak mendukung. Perasaan kaku sih, soalnya males kalau
rame. Bikin BT aja lagian juga nggak oke kalo makan ngirit di lihat
orang.”
Responden 3 menuturkan sebagai berikut:
“Tidak tidak pernah! Karena harga di kantin lebih mahal walaupun
dengan menu yang sama kalau di kampus saya manfaatkan waktu
untuk membaca buku. Saya tak punya menu faforit, dan saya semua
makanan hampir saya sukai. Terus saja ke pertanyaan selanjutnya!”
Sedangkan responden 1 juga demikian, ia jarang makan di kampus.
Namun jika ditraktir oleh teman maka ia akan diterima dengan senang
hati. Responden 1 menuturkan sebagai berikut:
lxxii
“Saya jarang ke kantin inisiatif sendiri, karena nggak punya uang,
kalau ada yang membeliin aku nggak sungkan-sungkan
menerimanya….. lumayan untuk mengganjal perut. Kalau dibelikan
saya biasanya suka telur asin, sumber protein yang murah. Ya biar
nggak sakit-sakitan. Dan es teh yang dikasih jeruk lemon kan jadi teh
lemon yang enak. Itulah rejeki yang diberikan untukku kadang-kadang
saya terharu dengan makanan yang sederhana, tetapi rejeki ada saja.
Emang apabila kita bertaqwa rejeki pasti ada saja”
Untuk responden 5 berbeda dengan yang lain. Responden 5
terbiasa makan di kampus, namun jika diperhatikan dari jawaban yang
diberikan dapat dianalisis bahwa mereka dalam makan disesuaikan
dengan kondisi mereka. Dapat dilihat dari penuturan di bawah ini:
“Saya sering makan dan minum di kantin kampus FMIPA, karena saya
tidak masak di kost. Aku tak sempat masak sendiri. Kalau saya pas
makan di kantin nasi rames dan mendoan (tempe goreng ada
tepungnya; penulis) itu saja. Kalau minum biasanya cukup air putih.
Aku percaya diri dengan apa yang aku makan, jadi nggak ada rasa
malu atau minderlah. Kemampuanku memang seperti ini. kalau saya
ndak begitu menghiraukan waktu-waktu tertentu, jika sedang lapar ya
makan. Baik itu ramai atau tidak ya ndak masalah. Jadi sewaktu-
waktu butuh di kampus, aku ke kantin ”
Untuk memiliki sesuatu ini mahasiswa dari keluarga miskin
memilih selektif di dalam memenuhi keinginannya. Uang digunakan
sesuai dengan skala prioritas. Hal ini seperti diungkap oleh responden 4 :
“Begini mas untuk makan 2 kali sehari tanpa minum (hanya minum air
putih;penulis). di samping itu juga sering puasa jadi mengurangi
pengeluaran. Untuk tugas saya hemat artinya jika terpaksa diketik baru
dilakukan. Untuk pengeluaran yang lain kalau tidak penting sekali ya
nggak, pokoknya uang tidak untuk hal-hal yang tidak perlu ”
Sedangkan responden 3 menuturkan sebagai berikut:
“Kalau saya prioritas untuk konsumsi/makan baru kebutuhan kuliah
seperti fotocopy, diktat, buku-buku. Setelah itu baru internet tranportasi
dan pembayaran utang. Barang yang awet saya beli untuk satu bulan
sedangkan yang instant maka saat kebutuhan dan jika ada sisa maka
saya tabung ”
lxxiii
Begitu juga yang dilakukan oleh responden 1, Responden 2 dan
responden 5. Responden 1 mengatakan:
“Uangku sebagian besar untuk makan, baru kebutuhan yang lain seperti
kuliah dan lain-lainnya. Sebelum habis maka saya wajib menyisihkan
uang sejumlah 90.000,00 untuk makan sebulan itupun kalau ada”
Kemampuan mereka didalam memiliki sesuatu memang
terbatas, bukannya tidak ingin akan tetapi memang kemampuan mereka
yang demikian adanya. Hal ini diungkap oleh responden 5 yang
mengatakan:
”........Yang lain aku tidak, bukannya tidak ingin tapi emang
kemampuanku terbatas. Penginnya sih beli ini-beli ini tapi keuangan
kan nggak ada,mau apalagi”
Walaupun kondisi mereka miskin akan tetapi mereka tetap
senang dan merasa memiliki organisasi yang ada di kampus. Bagi
mereka mengikuti organisasi akan membawa keuntungan. Hal ini seperti
diungkapkan oleh responden 2 sebagai berikut:
“Saya di organisasi cukup aktif. Di ekstra, karena tidak terlalu di
boncengi kepentingan politik yang berlebihan. Dan untuk di intra saya
selektif untuk serta di dalam organisasi di kampus. Kalau diboncengi
kepentingan di dalamnya biasanya saya menghindar untuk sementara
waktu. Di intra saya aktif di Hima Ekonomi di Eksis (keagamaan
islam;penulis) aktif bidang kaderisasi dan untuk ekstra saya aktif di
HMI MPO. Bagi saya organisasi akan banyak manfaatnya dalam
membentuk kepribadian, dan banyak manfaat lain dari organisasi”
Sedangkan responden 4 menuturkan sebagai berikut:
“Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk organisasi.
Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita sendiri. Banyak ilmu
yang didapat dengan mengikuti organisasi itu. Cuma satu yang kuikuti
yaitu UKM Taekwondo, yang lain tidak. Masalahnya sangat terbatas sih
jadi aku nggak bisa ikut lebih banyak lagi. Anak FIK kan minimal ada
satu keahlian di bidang olahraga ya aku ikutnya itu taekwondo. Itu yang
aku suka”
Dan responden 3 mengungkapkan sebagai berikut:
lxxiv
“Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk organisasi.
Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita sendiri. Banyak ilmu
yang didapat dengan mengikuti organisasi itu. Di UKKI (Unit Kegiatan
Kerohanian Islam) ataupun di RISTEK (Kerohanian IslamTehnik ) saya
ikut jadi pengurus. Tapi teraktif di rohis tehnik, kan fakultas sendiri”
Dari penelitian yang dilakukan dapat diungkap bahwa
mahasiswa dari keluarga miskin senang mengikuti organisasi
kemahasiswaan di kampus dan merasa memiliki. Ini terbukti dengan
mereka aktif mengikuti organisasi itu seperti penuturan responden 2 :
“Senang, dan saya tidak pernah merasa minder terhadap teman-teman
seorganisasi. Kalau kita saling memahami maka enak saja dalam
berinteraksi”
Begitu juga penuturan dari responden 5, ia mengatakan :
“Senang saja ketika aku bergaul dengan teman-teman seorganisasi. Di
sana banyak pengalaman yang bisa di ambil. Banyak teman juga dengan
mengikuti organisasi itu”
Dan ini ketika ditanyakan kepada responden 1, responden 3 dan
responden 4, mereka juga senang mengikuti dan merasa memiliki
organisasi kemahasiswaan di kampus. Walaupun secara ekonomi
berbeda dengan yang lain (miskin) akan tetapi tak menyurutkan
kecintaan mereka untuk aktif di organisasi.
Ketika mereka makan dan minum di kantin, Mahasiswa dari
keluarga miskin merasa tidak percaya diri ketika makan dengan menu
yang lebih sederhana. Setidaknya ada perasaan spikologis yang tidak
bisa disembunyikan. Mereka anggap menjaga harga diri adalah penting
biarpun dengan dari hal yang kecil. Hal ini dapat kita lihat pada jawaban
responden 1. ia menuturkan sebagai berikut:
“ Kalau makan sih pernah tapi tidak sering, saya masih ingat
mas….selama satu setengah semester ini saya makan dikantin kampus
lxxv
dua kali, itupun coba-coba saja. Hal itu saya lakukan karena makan
dikantin mahal apabila dibandingkan dengan warung-warung di
kompleks kost. Di kantin rasanya juga kurang nyaman, nggak enak di
lihat orang”
Sama responden 4 ketika ditanya motivasi apa ketika makan di
kantin,maka jawaban yang diberikan terkandung makna uasaha dia
menjaga harga diri. Ia mengatakan sebagai berikut:
“.......Jelas ya bahkan harus itu, soalnya males kalau rame. Bikin BT
aja lagian juga nggak oke kalo makan ngirit di lihat orang.”
Begitu pula jawaban responden 1 maka ia akan menjawab
secara diplomatis sebagai berikut:
”Saya jarang ke kantin inisiatif sendiri, karena nggak punya uang,
kalau ada yang membeliin aku nggak sungkan-sungkan
menerimanya…..”
Bahkan ada juga mahasiswa dari keluarga miskin yang tidak
pernah ke kantin seperti responden 3. Sepeti yang ia tuturkan:
“Tidak tidak pernah! Karena harga di kantin lebih mahal walaupun
dengan menu yang sama kalau di kampus saya manfaatkan waktu
untuk membaca buku.....”
Hanya ada satu mahasiswa dari keluarga miskin yang biasa
makan di kantin. Ini dilakukan karena ia sudah terbiasa makan di kantin.
Untuk menu yang ia makan dikantin adalah nasi rames, tempe mendoan
dan segelas air putih. Untuk menjaga harga dirinya ada mahasiswa dari
keluarga miskin yang tak ingin bergantung sepenuhnya, mereka tidakk
mengandalkan bantuan dari orang lain, akan tetapi ia berusaha sendiri
untuk memecahkan kesulitan yang dihadapi. Hal ini dapat kita lihat dari
jawaban responden 1 ia menuturkan sebagai berikut:
lxxvi
“Sering bila aku minta ya, Aku tak malu untuk minta tolong pada
temen terutama jika aku butuh. Tapi jika tak di minta aku tak tahu,
tapi untuk sahabat dekat biasanya sudah tahu kondisi saya, jadi lebih
perhatianlah...”
Dan ini hampir sama dengan responden 4 yang mengatakan ia
sering dibantu. Seperti yang di ungkapkan olehnya:
“Ya mereka sangat membantu….tapi kalo ada hubungan dengan uang
aku tolak, nggak enak juga. mereka kan pastinya butuh uang juga
buat hidup mereka di sini. ”
Ketika ditanyakan kepada responden yang lain maka sebagian
besar memang tidak menolak bantuan, namun sikap mereka cukup hati-
hati. Ini dilakukan untuk menjaga dirinya. Ia sadar bahwa kondisinya
memang demikian sehingga bantuan disikapi dengan arif. Hal ini seperti
diungkapkan oleh responden 2 sebagai berikut:
“Maksudnya kesulitan ekonomi?. Khususnya temen kost dan beliau
juga satu program studi dengan saya, ekonomi dan satu kelas dengan
saya. Jadi ya saling membantu, kadang saya membantu dia dan
kadang saya yang dibantu olehnya”
Begitu pula penuturan renponden 3 :
“Banyak teman membantu kesulitan saya ya namanya saja mahasiswa
saling tolong-menolonglah”
Rasa minder yang ada pada mahasiswa dari keluarga miskin
ini disimpan jauh-jauh. Hal ini menurut mereka akan kerugikan diri
mereka sendiri. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden 1 ketika
ditanya bagaimana sikapnya ketika berinteraksi dengan mahasiswa lain
ia menuturkan:
“Biasa saja mas, karena mereka tahunya saya orang yang mampu
seperti halnya mereka sebab saya suka tersenyum dan berpenampilan
sebagai orang yang optimis, sehingga orang tidak melihat sisi
lxxvii
kehidupan yang serba kekurangan. Beberapa teman yang tahu kondisi
saya sikapnya cukup baik padaku...”
Begitu juga halnya dengan Responden 3 ketika ditanya dengan
pertanyaan yang sama ia menjawab:
“Mereka biasa-biasa saja mas, bagi saya tiap orang punya kelebihan
dan punya kekurangan, ya sama dengan merekalah”
Dan ini hampir sama dengan responden 4 ketika ditanya
dengan pertanyaan apakah mereka percaya diri dengan kondisinya yang
miskin ia menuturkan :
“Jelas ya walaupun kondisiku begini tapi aku tetap percaya diri,
kalau nggak percaya diri emang jadi kaya. Kan nggak mungkin
itulah”
Sama halnya dengan responden 2 ketika ditanya dengan
pertanyaan yang sama, mereka memberi jawaban sebagai berikut ini:
“InsyaAllah, dari dulu saya dididik untuk konfident. Bagi saya
kondisi manusia itu secara umum sama yaitu dengan kelemahan dan
kekurangan masing-masing”
Dan responden 5 menuturkan sebagai berikut:
“Ya saya percaya diri”
Dalam penelitian ini akan diungkap bagaimana sikap
mahasiswa dari keluarga miskin ketika mendapat pujian. Mereka
menganggap wajar saja pujian itu asalkan tidak berlebihan, bahkan ada
yang menganggap ada yang tidak cukup untuk mendapat pujian.
Responden 5 menuturkan sebagai berikut:
“Bangga yang wajarlah. Tidak berlebihan. Pujian itukan bisa untuk
memotivasi kita”
lxxviii
Sedangkan responden 4 mengungkapkan sebagai berikut:
“Kalau aku begini…aku punya prinsip yang berbeda kali ya dengan
orang lain, prinsipku Aku akan lebih menghargai kamu jika kamu juga
menghargai aku. Maka kalau temen bisa menghargai aku maka aku
akan menghargai mereka, bahkan lebih menghargai mereka”
C.2 Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan
Dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan
mahasiswa dari keluarga miskin melakukan beberapa tindakan. Dalam
hal minat pendapatan misalnya, mahasiswa miskin tidak sepenuhnya
bergantung dari orang tua. Mahasisawa dari keluarga miskin untuk
pemenuhan kebutuhan hidup selain dari kiriman orang tua adalah
bekerja. Mereka mendayakan kemampuannya untuk menghasilkan uang.
Baik itu dengan kerja seperti responden 1, responden 3 dan responden 4
serta responden 5, mereka juga mengandalkan beasiswa seperti
responden 3. Ada pula yang mengandalkan dari saudara (nenek,bibi)
walaupun tidak pasti dan itu hanya semester satu kali (responden no 2)
Mahasiswa dari keluarga miskin memanfaatkan waktu senggang
mereka. Ini dimaksudkan agar waktu bisa digunakan dengan bermafaat.
Dapat kita lihat pada jawaban responden 1, diungkapkan sebagai
berikut:
“Jelas, aku kudu kerja apa saja yang penting aku dapat uang, tapi
paling banyak aku di dunia trainer Iqro club terutama untuk teman-
teman SLTA. Pernah juga aku ngisi di solo. Untuk ngisi di kampus
jarang, paling di Rohis sendiri (ia aktif di rohis FIP;pen) dan itupun aku
tak mengharapkan bayaran. Aku juga banyak ngisi di berbagai acara di
kampus. Selain itu aku kadang memperbaiki komputer. Jadi ada
pemasukan untuk membantu keperluanku”
lxxix
Begitu juga ketika ditanyakan kepada responden 3 ia
mengungkapkan sebagai berikut. Ada rasa gembira dalam bekerja untuk
memenuhu kebutuhan mereka yang kurang, ia menuturkan:
“Ya aku hanya mengandalkan beasiswa PT Djarum sebulan sebesar
150.000,00 dan kerja Part time di rental Mitra Comp Gang Cempaka
kalau ramai aku bisa nyampai 150.000,00 ”
Responden 5 menuturkan sebagai berikut:
“Ada,ada sumber lain. Nenek kadang memberi aku uang, begitu juga
pamanku sering ngasih juga. Di samping itu aku juga cari penghasilan
sendiri, terutama ngelesi anak anak SMP atau SD di semarang saja.
Hasilnya ndak banyak lumayanlah buat nambah ongkos kuliah”
Kesempatan bekerja tidak menjadi halangan bagi mahasiswa dari
keluarga miskin, seperti responden 4 kebetulan bekerja ditempat sosial
(masjid) ia menuturkan:
“.... Di masjid ini (MUA;penulis) tiap bulan ada bantuan operasional
dari rektorat sejumlah 200.000,00 dan itupun untuk 6 orang takmir jadi
ya sedikit sekali. Dan itupun di ambil nggak tepat waktu, nggak teratur”
Adapun responden 2 tidak bekerja, ia mengandalkan kiriman
dari orang tua yang ia ambil sendiri ketika pulang. Sumber pendapatan
lain adalah dari Bibi yang kadang awal semester mengirim sejumlah
uang. Bibinya bekerja sebagai wiraswasta di kota Jakarta. Dari uraian
diatas maka mereka benar-benar bisa bekerja secara efisien. Di sela-sela
kuliah mereka menyempatkan kerja untuk menutupi kekurangan
mahasiswa dari keluarga miskin.
Mahasiswa dari keluarga miskin yang tak ingin bergantung
sepenuhnya, mereka tidak mengandalkan bantuan dari orang lain,
apalagi dominasi dari orang lain. Jiwa kemamdirian benar-benar
lxxx
terbentuk dengan mereka bekerja di sela-sela kuliah mereka. Mahasiswa
dari keluarga miskin mempunyai kepercayaan yang tinggi.
Di dalam proses perkuliahan di kampus mereka beraktualisasi
dengan mahasiswa lainnya. Hampir sebagian besar mahasiswa
menganggap disiplin adalah hal yang sangat penting dalam kuliah.
Sebab dengan disiplin mencerminakan penggunaan waktu yang hemat.
Dengan disiplin juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemajuan bagi
dirinya. Pada sisi lai dengan disiplin akan bisa mengefisienkan yang lain
seperti hemat biaya. Seperti yang dituturkan oleh responden 2 :
“Saya cukup disiplin, hampir tidak pernah datang terlambat. Dan
presensi kehadiran hampir 100%, untuk semua mata kuliah. Bagi saya
disiplin adalah hal yang perlu dibudayakan”
Pada pertanyaan lain yang mengungkap apakah ia aktif kuliah
responden 4 menuturkan sebagai berikut:
“Ini kehebatan aku kali ya? Nggak nyombong lho! Dari awal kuliah
sampai hari ini aku tidak pernah mbolos kuliah. Hebat ya! Tugas-
tugas saja saya kerjakan dengan baik sehingga tidak pernah telat”
Begitu pula jawaban pada responden 3 ketika ditanyakan
dengan pertanyaan yang sama, ia menuturkan:
“Saya aktif mengikuti kuliah kan amanah dari orang tua ya kan?.
Saya mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk kuliah.
Memang kadang aku capai gara-gara mengetik di rental terlalu
banyak orderan. Tapi kuliah itu kan amanah jadi aku lakukan”
Dengan disiplin yang mereka anut merupakan perwujudan dari
menghemat waktu yang ada. Sebab mereka harus mampu membagi
lxxxi
waktu dengan aktifitas yang padat. Salah satu usaha adalah dengan
disiplin dalam kuliah.
C.2 Pemenuhan Kebutuhan Belajar
Dalam hal pemenuhan kebutuhan belajar mahasiswa dari
keluarga miskin memilih tindakan yang berguna untuk dirinya. Hampir
sebagain besar mahasiswa dari keluarga miskin mengikuti kegiatan yang
diadakan di kampus. Pelatihan yang diadakan di kampus diikuti dengan
giat. Memang ada mahasiswa dari keluarga miskin yang memilih
mengikuti acara kemasiswaan di kampus yang minim biaya. Kita lihat
penuturan responden 1:
“Saya sangat suka, tentu saja yang gratis-gratis atau kita jadi
panitianya sekalian biar dapat konsumsi kan gratis he..he. ”
Begitu juga jawaban pada responden 2, ia menuturkan :
“Kegiatan kampus sering, biasanya jadi panitia, mulai dari bedah buku,
seminar dan training. Asalkan kegiatan itu bermanfaat dan tidak
banyak mengeluarkan biaya…saya akan ikut di dalamnya ”
Sedangkan responden lain juga menunjukan kesamaan, misal
renponden 3 mengungkapkan:
“Sering sekali bahkan sangat sering. Itu kan menambah pengetahuan
kita ya, jadi saya ikutlah, apalagi nggak bayar wow saya senang . aku
senang seminar tentang masalah politik dan dunia Islam”
Selain itu mahasiswa dari keluarga miskin juga mengikuti
kegiatan keagamaan, baik aktif pada saat acara perayaan keagamaan,
ataupun memang mereka terjun di organisasi keagamaan. Ada satu
resnponden yang secara kebetulan tinggal di masjid sehingga secara
lxxxii
otomatis ia merasakan kegiatan keagamaan yang diadakan di masjid
kampus tersebut. Seperti penuturan responden 3 berikut ini :
“Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk organisasi.
Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita sendiri. Banyak ilmu
yang didapat dengan mengikuti organisasi itu. Di UKKI (Unit
Kegiatan Kerohanian Islam) ataupun di RISTEK (Kerohanian
IslamTehnik ) saya ikut jadi pengurus. Tapi teraktif di rohis tehnik,
kan fakultas sendiri”
“Saya di organisasi cukup aktif. Di ekstra, karena tidak terlalu di
boncengi kepentingan politik yang berlebihan. Dan untuk di intra saya
selektif untuk serta di dalam organisasi di kampus. Kalau diboncengi
kepentingan di dalamnya biasanya saya menghindar untuk sementara
waktu. Di intra saya aktif di Hima Ekonomi di Eksis (keagamaan
islam;penulis) aktif bidang kaderisasi dan untuk ekstra saya aktif di
HMI MPO. Bagi saya organisasi akan banyak manfaatnya dalam
membentuk kepribadian, dan banyak manfaat lain dari organisasi”
Dengan mengikuti kegiatan keagamaan merupakan perwujudan
pengamalan dalam kehidupan beragama sehari-hari sebagai bentuk
kesadaran dan sikap beragma di dalam bermasyarakat. Dengan kegiatan
yang bermuatan religius adalah sarana untuk perluasan pemahaman
tentang agama.
Selain itu mahasiswa dari keluarga miskin melakukan
komunikasi dengan mahasiswa lain, dalam organisasi atauapun di luar
organisasi yang mereka tekuni. Ketika ditanya bagaimana sikap teman
ketika interaksi di kampus responden 3 menuturkan :
“Mereka cukup baik padaku. Sama dengan yang lainlah. Sebagian juga
akrab denganku. Aku menceritakan keadanku juga dengan teman
kuliah, terutama teman dekat.”
Begitu juga penuturan responden 2, ia mengatakan sebagai
berikut:
lxxxiii
Di kelas ada beberapa kelompok yang seolah-olah tidak rukun dan
kelihatan sendiri-sendiri. saya mampu menerobos gap-gap yang ada di
kelas. Rasa-rasanya temen-temen bisa untuk saling mamahami kondisi
saya ini”
Sedangkan responden 5 menuturkan sebagai berikut:
“Tidak mereka biasa-biasa saja terhadapku. Nggak ada sikap atau
perilaku yang aneh terhadapku”
Dan responden 4 menuturkan sebagai berikut:
“Mereka bahkan begitu close (terbuka; penulis) denganku. Semua
baik-baik aku senang punya teman seperti mereka”
Mereka juga melakukan komunikasi dalam organisasi yang
mereka tekuni. Hal itu terungkap ketika ditanya apakah ada kesulitan
dalam berorganisasi, hasilnya seperti responden 4 ia menuturkan:
“Kayaknya nggak ada tuh, aku biasa saja. Olahraga ini (taekwondo;
penulis) kan nggak begitu besar biayanya, paling-paling banter tenaga
yang ekstra toh”
Begitu juga responden yang lain Responden 2 menuturkan:
“Secara umum belum mas,namun kendala sih ada. Misalnya keuangan
dan fasilitas misalnya sepeda motor dan sarana komunikasi karena
saya belum mempunyai HP”
Dari jawaban yang diberikan tersirat perilaku mahasiswa dari
keluarga miskin dalam berkomunikasi yang pada penelitian ini. Seperti
penuturan 5 berikut ini:
“Senang saja ketika aku bergaul dengan teman-teman seorganisasi. Di
sana banyak pengalaman yang bisa diambil. Banyak teman juga
dengan mengikuti organisasi itu”
Sedangkan responden 3 menuturkan sebagai berikut:
“Senang karena mereka adalah teman-teman yang terbaik yang miliki.
kan suka duka dalam oragnisasi menjadi kenangan yang manis.
lxxxiv
Masalah saya yang kondisinya saeperti ini kan tidak harus
diungkapkan ”
lxxxv
Bab V
SIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
Kemiskinan di kampus Universitas Negeri Semaranag (UNNES)
adalah satu fenomena yang terjadi di kampus tersebut. Memang benar
pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa orang yang bisa kuliah adalah
mereka yang cukup mempunyai uang, namun pendapat tersebut tidak
sepenuhnya tepat, sebab jika dikaji lebih dalam, ada sebagian mahasiswa
yang miskin bila dibandingkan dengan mahasiswa lain. Penelitian Johnson
dan Bachman tahun 1973 yang menerangkan bahwa harapan-harapan orang
tua dan latar belakang keluarga berpengaruh besar terhadap prestasi yang
dicapai anak didik (Horton, Hunt,1987:341). Begitu juga dengan latar
belakang ekonomi keluarga akan berpengaruh terhadap keadaan sosial anak
didik.
Pada penelitian perilaku mahasiswa dari keluarga miskin ini ada
sebagian mahasiswa di Universitas Negeri Semarang yang secara ekonomi
adalah tergolong miskin. Sebagian mahasiswa dari keluarga miskin ini selalu
dihantui perasaan ketidakpastian yang disebabkan oleh keadaan mereka yang
tidak menguntungkan secara ekonomi.
Dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, sebagian mahasiswa yang
miskin mengandalkan kiriman dari orang tua yang serba terbatas. Sebagian
lxxxvi
besar orang tua mahasiswa UNNES adalah kelompok menengah ke bawah
(Maria Yuliana; 2000). Secara finansial mahasiswa dari keluarga miskin
mendapat uang dari orang tua jumlahnya bervariasi mulai Rp 20.000,00 s.d.
Rp 200.000,00. Dalam penelitian ini ada mahasiswa yang tidak
mengandalkan kiriman dari orang tua, ia murni membiayai sendiri kuliahnya.
Untuk menutup kekurangan uang dari orang tua mahasiswa miskin
sebagian bekerja. Ada dari sebagian mereka yang bekerja di rental komputer,
ada juga yang bekerja membuka les privat, dan ada yang memilih bekerja di
tempat sosial, menjadi pengurus masjid. Dalam penelitian ini ada satu orang
mahasiswa miskin yang tidak bekerja, ia hanya mengelola keuangan secara
ketat. Dalam penelitian ini juga ada satu mahasiswa dari keluarga miskin yang
bekerja di Iqro Club dan memperbaiki komputer untuk membiayai kuliahnya
sendiri.
Dalam bekerja mereka bekerja secara efisien memilih disela-sela
kuliah sehingga tidak mengganggu perkuliahan. Kesempatan yang ada harus
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mahasiswa dari keluarga miskin juga
tidak mengeluh dalam bekerja, bahkan ia sebaliknya menunjukan sikap
bangga atas apa yang mereka kerjakan.
Cara lain untuk menutup kekurangan biaya pemenuhan hidup
adalah dengan mengikuti program beasiswa. Namun dalam penelitian ini
sebagian besar mahasiswa dari keluarga miskin justru tidak mengikuti
program beasiswa. Hanya ada satu mahasiswa yang sedang mendapat
beasiswa dan satu mahasiswa karena belum memenuh persyaratan sehingga ia
lxxxvii
belum berhak menerima beasiswa seperti yang telah ditetapkan pihak
universitas.
Karena keterbatasan dana, mereka dalam pemenuhan kebutuhan
pokok (makan, minum) harus betul-betul hemat. Sebagian besar uang yang
ada adalah untuk pemenuhan kebutuhan fisiologis. Dalam hal makan dan
minum mahasiswa miskin memilih menu yang sederhana yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan fisiologis mereka. Mahasiswa dari keluarga miskin
ternyata memilih makan di warung di luar kampus yang mereka anggap lebih
murah bila dibandingkan dengan makan di dalam kantin kampus.
Mereka mengatur keuangan yang didapat yang jumlahnya terbatas.
Keuangan digunakan dengan sebaik-baiknya. Untuk hal-hal yang penting
seperti makan, minum dan biaya kuliah didahulukan terlebih dahulu baru
kemudian yang lainnya. Dalam hal makan di samping menu yang sederhana
ada sebagaian mahasiswa dari keluarga miskin makan sehari dua kali. Untuk
menutupi kekurangan uang mahasiswa miskin sambil bekerja disela-sela
kuliah. Rata-rata mahasiswa dari keluarga miskin dalam makan memilih menu
yang sederhana dan tidak berlebihan. Lauk paukpun dipilih yang sederhana,
begitu pula minum yang ia pilih mencerminkan penghematan biaya seperti
dalam teori Sudjana.
Uang digunakan untuk memiliki sesuatu yang benar-benar berguna
dan perlu. Sesudah kebutuhan fisiologis uang digunakan untuk prioritas
kebutuhan kuliah seperti fotocopy, biaya rental, alat praktek dan lain
sebagainya. Ada sebagian mahasiswa dari keluarga miskin yang mengatur
keuangan mereka sedemikian rupa untuk mengatur keuangan.
lxxxviii
Seperti mahasiswa lainnya, mahasiswa dari keluarga miskin juga
melakukan interaksi dengan mahasiswa, dosen dan karyawan dalam ligkungan
kampus. Dalam membentuk kelompok belajar misalnya mahasiswa dari
keluarga miskin bisa berbaur dengan mahasiswa lainnya. Ada sebagian
mahasiswa miskin yang mempunyai teman dekat sehingga dapat menjadi
tempat untuk mencurahkan perhatian. Sebagian mahasiswa dari keluarga
miskin berani menceritakan kondisinya yang sebenarnya. Namun ada juga
mahasiswa miskin yang berusaha menutupi masalah pribadinya.
Sebagian besar dari mereka tak segan membantu kesulitan teman-
temannya di kampus. Bantuan itu berupa, uang, tenaga, pikiran atau perkataan
serta motivasi untuk membangkitkan semangat teman-teman. Bahkan ada
sebagian mahasiswa miskin yang mentraktir mahasiswa lain sebagai wujud
rasa kecintaan terhadap manusia. Pada prinsipnya mahasiswa dari keluarga
miskin suka menolong sesama walaupun kondisi mereka terbatas, namun tak
menyurutkan niat mereka untuk membantu sesama.
Bagaimanapun mahasiswa dari keluarga miskin adalah manusia
yang selalu menjaga harga dirinya. Ada sebagian mahasiswa miskin ini
memilih-milih waktu ketika makan di kampus UNNES. Mahasiswa dari
keluarga miskin merasa tidak enak atau canggung ketika makan dengan menu
yang berbeda dari mahasiswa lain yang itu cenderung relatif murah. Mereka
sebagian besar memilih makan di kantin di luar kampus dan memilih tempat
makan yang murah bila dibandingkan dengan lainnya. Dalam penelitian ini
ada satu mahasiswa dari keluarga miskin yang terbiasa makan di kantin.
lxxxix
Walaupun demikian menu yang ia pilih adalah sederhana dan harga relatif
murah.
Beraktualisasi diri untuk menunjukan eksistensi merupakan
kebutuhan manusia termasuk mahasiswa dari keluarga miskin. Dalam proses
perkuliahan mereka aktif mengikuti kuliah yang diberikan oleh dosen.
Sebagian mahasiswa dari keluarga miskin datang ke kampus dengan disiplin
serta memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Mereka juga aktif
bertanya, bahkan ada mahasiswa miskin yang disegani di kelasnya, karena ia
sering bertanya dan menjawab pertanyaan, dan bisa berinteraksi dengan teman
di kelas sehingga ia populer. Tugas-tugas yang diberikan oleh dosen sebagian
besar dikerjakan dengan baik dan disiplin, walaupun kondisinya mereka
kurang menguntungkan justru disitulah rasa tanggung jawab kepada orang tua
yang selama ini membiayai pendidikan.
Memang bagi sebagian mahasiswa dari keluarga miskin yang
kuliah sambil bekerja sedikit kesulitan membagi waktu, kadang terpaksa tidak
masuk demi mencari uang. Sebenarnya mereka tidak ingin melakukan
perbuatan itu akan tetapi kondisi yang membuat mereka terpaksa tidak masuk
kuliah.
Walaupun kondisi mereka miskin tak membuat mereka tidak aktif
mengikuti kegiatan di kampus. Sebagian dari mereka aktif mengikuti kegiatan
yang ada di kampus. Kegiatan-kegiatan seperti bedah buku, seminar,
pelatihan, kajian keagamaan dan pelatihan-pelatihan diikuti dengan baik.
Sebagian mahasiswa miskin ini tetap memilih kegiatan yang diikuti, jika
keuangan tidak mencukupi mereka tidak ikut. Ada juga mahasiswa dari
xc
keluarga miskin yang tidak memperhatikan finansial. Bagi mereka ikut aktif
mengikuti kegiatan di kampus dapat menanbah wawasan dan pengetahuan
yang itu sangat bermanfaat bagi pengambangan diri.
Selain itu mahasiswa dari keluarga miskin aktif tergabung dalam
organisasi di kampus, baik orgainsasi bersifat intra dan ektra kampus. Dan
sebagian mengikuti organisasi di luar kampus. Mereka merasa memiliki dan
senang pada organisasi yang digeluti. Banyak mahasiswa dari keluarga
miskin yang aktif dan menjadi pengurus organisasi yang mereka pilih.
Mengikuti organisasi adalah sebagai perwujudan sikap beraktualisasi diri.
Bagi mereka aktif diorganisasi untuk menambah pengalaman dan
pengetahuan. Mahasiswa dari keluarga miskin memandang bahwa mengikuti
organisasi akan membawa manfaat yang tidak sedikit, mereka bisa
beraktualisasi diri dan mengembangkan potensi dan bakatnya secara baik.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap manusia ingin menjadi
yang terbaik. Mahasiswa dari keluarga miskin walaupun kondisi demikian
juga menginginkan menjadi yang terbaik. Rasa itu juga terpatri disanubari
mahasiswa miskin ini. Salah satu cara adalah dengan mengikuti organisasi
yang mereka sukai untuk memupuk dan menumbuhkan kemampuan mereka.
Belajar yang giat di kampus merupakan uapaya pemenuhan
kebutuhan belajar. Sebab dengan belajar yang giatdan tekun bisa menjadi
jaminan dihari tua. Upaya ini juga untuk meningkatkan pengetahuan yang
mereka idam-idamkan.
B. SARAN
xci
Dari penelitian yang dilakukan di kampus Universitas Negeri
Semarang ini, peneliti dapat memberi saran sebagai berikut:
1. Kepada pihak Universitas dan fakultas untuk memperhatikan mahasiswa
dari keluarga miskin (misalnya dengan kebijakan dalam pembayaran SPP,
pelaksanaan program beasiswa yang tepat sasaran dan di tambah jumlah
penerimannya serta kebijakan lain untuk membantu kondisi mahasiswa
dari keluarga miskin). Selain pihak Universitas dan fakultas untuk
menanbah sarana dan prasana lembaga kemahasiswaan baik intra dan
ektra, sehingga semua mahasiswa mendapat fasilitas yang memadai dan
bisa mengembangkan diri dengan baik.
2. Kepada Bapak dan Ibu dosen tetap melakukan bimbingan intensif agar
mereka mempunyai semangat kuliah yang tinggi, mengingat ada
mahasiswa dari keluarga miskin yang “tak peduli” dengan studinya.
3. Kepada orang tua mahasiswa miskin untuk tetap memberi dorongan
kepada putra-putrinya agar ia dapat menyelesaikan kuliah dengan segala
keterbatasan yang ada.
4. Kepada mahasiswa yang secara umum lebih mampu untuk tetap
memperhatikan teman yang secara ekonomi tak menguntungkan dengan
menjalin persahabatan yang baik saling tolong-menolong, tidak berlebihan
dan berkomunikasi dengan baik serta tidak membedakan kondisi mereka
dengan strata ekonomi mereka.
5. Kepada mahasiswa dari keluarga miskin untuk dapat bersikap arif dalam
mensikapi kondisi hidup yang sedang dijalani. Walaupun kondisi yang
demikian (miskin) untuk tetap semangat dalam belajar, untuk terus
xcii
beraktualisasi diri dengan baik dan menghadapi hidup dengan optimis
bekerja keras
xciii
DAFTAR PUSTAKA
Andi Hakim Nasution, dkk, Bunga Rampai Anak-Anak Berbakat
Pembinaannya dan Perkembangannya, Jakarta; CV Rajawali Press
Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta; PT Tiara
Wacana
Asmadi Alsa, 2003, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif serta Kombinasinya
dalam Penelitian Psikologi,---,---
A.Suyono,1985, Kamus Antrologi,Jakarta, Akademika Presindo
Bambang Sudibyo, Sri Bintang Pamungkas, dkk, 1995, Kemiskinan dan
kesenjangan di Indonesia, Yogyakarta; Aditya Media
Berry, John W, YPE H.Poortinga,dkk,1999, Psikologi Lintas Budaya, Jakarta;
PT Gramedia
Clement, Phil, 2001, Be Positive, Jakarta; Erlangga
Consult, Mamburg, 2001, Attacking the Roots of Poverty; Menggempur Akar
kemiskinan, Jakarta; Yokama AGI
Dati Fatimah, dkk, 2000, Nestapa Pembangunan Nasional; Studi Atas Dampak
Beban Utang Terhadap Pembangunan Kesehatan dan Dunia
Pendidikan, Yogyakarta; Yayasan Litera
Eko Prasetyo, 2004, Orang Miskin di Larang Sekolah, Yogyakarta; Insist Press
F.O. Ne`il William, 2001, Idiologi-Idiologi Pendidikan, Bandung, Pustaka
Pelajar.
Finger, Mathias Manuel Asun, Jose, 2004, Quo Vadis Pendidikan Orang
Dewasa, Yogyakarta, Kendi
Gunawan Sumodiningrat, 1999, Kemiskinan Teori Fakta dan Kebijakan,
Jakarta; Impac
Hani Handoko, 1995, Manajemen Edisi 2, Yogyakarta; BPFE
Horton, Paul B, L Hunt,Chester ,1987, Sosiologi, Jakarta; Erlangga
H.D. Sudjana, 2004, Pendidikan Non Formal, Falah Production; Bandung
H.R. Riyadi Suprapto, 2002, Interaksionisme Simbolik, Pustaka Pelajar,
Bandung.
xciv
Harold Koontz,1986, Manajemen, Jakarta, Erlangga
Irawan Soehartono, 2002, Metode Penelitian Sosial, Bandung; PT Remaja Rosda
Karya
J. Mllin, Frank, C Millin, Sydney, 1986, Sosiologi Pendidikan, Bandung;Tarsito
Koontz, Harold,dkk, Manajemen jilid 2, Jakarta, PT Erlangga
K Yin, Robert, 2001, Studi Kasus ( Desain dan Metode), Jakarta; PT Raja
Garfindo Persada
Koentjoroningrat,---, Pengantar Ilmu Antropologi,---, Rineka Cipta
Kamanto Sunarto,2000, Pengantar Sosiologi, Jakarta; FE UI
Maslow, Abraham H. 1984, Motivasi dan Kepribadian, Jakarta,PT Gramedia
Mardalis, 1995, Metode Penelitian, Jakarta; Bumi Aksara
Mahfud Sidiq, 2003, KAMMI Dalam Pergulatan Reformasi, Solo; Era
Intermedia
Moleong Lexy, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung; PT Remaja
Rosda Karya
Maria Yulimah, 2002, Biaya Hidup Mahasiswa Calon Guru (Program
Kependidikan ) di Universitas Negeri Semarang, Semarang, Skripsi
Miftah Thoha, 2002, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya,
Jakarta; Rajawali Press
Nana Sudjana, 2001, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Bandung; PT Sinar
Baru Algesindo
Nasution,2001, Metode Research, Jakarta; Bumi Aksara
Pudjiwati Sajogyo, 1985, Sosiologi Pembangunan, Jakarta; Fakultas Pasca
Sarjana IKIP Jakarta
Parsudi Suparlan, 1984, Kemiskinan di Perkotaan, Jakarta,---
Rustom Effendi, 2004, Produksi Dalam Islam, Yogyakarta; Magistra Insania
R.A. Supriyono,----, Sistem Pengendalian Manajemen, BPFE; Yogyakarta
Suharsimi Arikunto, 1992, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,
Jakarta; Rineka Cipta.
S. Margono, 2002, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta
Sugeng Haryadi, dkk, 1998, Perkembangan Peserta Didik, Semarang, Ikip
Semarang Press
xcv
Tri Dayakisni, 2003, Psikologi Sosial, UMM Press, Malang
Tjetjep Rohendi Rohidi, 2001, Ekpresi Seni Orang Miskin, Bandung Yayasan
Nuansa Cendekia
Team KKN UNNES, 2002, Buku Panduan KKN UNNES 2003, Semarang; UPT
UNNES Press
Tulus Tu`u,2004, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi
Siswa,Jakarta;Grasindo
Qordhowi, Yusuf, 2002, Teologi Kemiskinan, Yogyakarta; Mitra Pustaka
Winarno Surahmad, dkk, 2003, Mengurai Benang Kusut Pendidikan, Jakarta,
Tranformasi
--------Lembaran Ilmu Pendidikan, Semarang; IKIP Semarang Press
----, Garis Kemiskinan jawa Tengah 1993/1994, Bappeda Tk. 1 dan Kantor
Statistik prof Jateng
--,1994/1995, Sari Hasil Penelitian, Semarang, IKIP Semarang Press
---,--,Lembaran Ilmu Pendidikan, Semarang, IKIP Semarang Press
--------Kompas Mahasiswa edisi 27, September 2003, Semarang; BP2M
Sumber Lain:
Harian Kompas 9 Juni 2003
--------,----,Laporan Tahunan Rektor UNNES 2004, Semarang,---
Brosur Visi, Misi dan Strategi Pengembangan UNNES
Harian Republika 30 Maret 2004
Jawa Post 1 April 2003
Harian Republika, 2 April 2003
Makalah Pengembangan Swadaya dan Kemandirian Masyarakat di Era Otonomi
Daerah
xcvi
PEDOMAN WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN DI KAMPUS
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
A. Instrument untuk subjek utama
1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?
2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?
3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di
waktu yang ditentukan?
4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?
5. Motivasi apakah ketika anda makan di kampus?
6. Apakah anda pernah mentraktir teman-teman untuk makan bersama?
7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?
8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?
9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam
kampus?
10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang
lain?
11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih
cukup dari anda?
12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?
13. Apakah teman sering membantu kesulitan ekonomi yang anda hadapi?
14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?
15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika
mengikuti kuliah di kampus?
16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta
pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?
xcvii
17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena
kondisi anda?
18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk
mudah mendapat mitra dengan mudah?
19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?
20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?
21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan
anda?
22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah? (termasuk mengerjakan
tugas-tugas)
23. Apakah anda mempunyai niat untuk berprestasi dalam proses kuliah?
24. Bagaiman sikap anda ketika mengikuti kuliah?
25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah
buku,dll)?
26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan
organisasi kemahasiswaan di kampus?
27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?
28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di
organisasi itu?
29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu
oraganisasi yang anda ikuti?
30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu
kesulitan anda?
xcviii
PEDOMAN WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN DI KAMPUS
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
A. Instrumen untuk sahabat dekat
1. Apakah benar bahwa teman anda mendapat kiriman yang minim ?
2. Apakah teman yang miskin pernah menjajagan anda di kantin
misalnya ?
3. Bagaimana perilaku mereka dalam berinteraksi dengan anda ?
4. Pernahkah mereka mengeluh/mengadu tentang kondisi dirinya ?
5. Bagimana perilaku mereka dalam interaksi dengan teman di kampus?
6. Apakah mereka beraktualisasi dengan baik di saat mengikuti kuliah?
7. Apakah teman anda menjadi “panutan” didalam proses sosial di
kampus?
8. Apakah mereka aktif mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan?
9. Apakah mereka mengeluh dengan anda berkenaan dengan kondisi
mereka berkaitran keaktifan mereka di sebuah organisasi?
10. Adakah perilaku yang khusus dalam diri mereka terkait dalam diri
mereka?
xcix
PEDOMAN WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN DI KAMPUS
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
A. Instrumen untuk informan dosen dekat
1. Apakah anak didik bapak /ibu ada yang miskin?
2. Bagaimana perilaku mereka ketika mengikuti perkuliahan?
3. Adakah hal-hal yang menonjol dari sisi akademik?
4. Adakah perilaku khusus yang ditunjukan oleh mahasiswa miskin?
5. Apakah bapak/ibu memberi perhatian kepada mereka?
6. Bagaimana komunikasi mereka dengan bapak/ibu
c
Keadaan Responden Utama
1. Andi Maipa DM
Andi Maipa dari namanya dapat kita analisa bahwa ia bukan orang
Jawa. Andi memang bukan dari suku jawa, ia berasal dari salah satu suku di
kota Makasar. Andi Maipa lahir di Jawa Tengah tepatnya di Semarang pada
tanggal 18 Juli 1984. Ia menyelesaikan studinya di Jawa mulai dari SD sampai
SMA semua ditamatkan di Semarang. Saudaranya ada 2 orang semuanya
tinggal di Sulawesi Selatan bersama ibu tercinra. Sedang ayah sudah
meninggal.
Di Universitas negeri Semarang ia mengambil jurusan Bimbingan
Konseling. Tak tahu ia mengapa memilih jurusan itu, akan tetapi ia senang
dengan jurusan itu. Hobinya pada kesehatan dan kejiwaan dianggapnya tepat
jika kuliah di jurusan itu.
Sekarang ia tinggal di mushola FIP. Di sana ada beberapa fasilitas
yang ada. Ia tidur beralaskan karpet hijau. Dalam ruangan itu ada satu almari
milik inventaris mushola yang sebagian digunakan untuk tempat baju Andi.
Tak ada meja belajar. Hanya ada satu konputer milik Kerohanian Islam FIP
yang sangat membantu ketika ia mengerjakan tugas.
Setelah ayah meninggal ia terpaksa kerja sendiri untuk membiayai
kuliahnya. Iapun aktif di dunia training tepatnya di Iqro club. Lembaga ini
memang dikhususkan untuk anak-anak SLTA dan sederajat. Namun pada
prakteknya kadang mengisi juga di Universitas.
2. Sriyanto
ci
Namanya sederhana, ia lahir di daerah pegunungan yang sejuk.
Orang ini postur tubuhnya kecil dan seperti orang jawa lainnya, kulitnya sawo
matang. Sriyanto begitu orang tua memberi nama. Ia dilahirkan di Karang
Anyar, pada tanggal 13 Juli 1985. Alamat rumah di dusun Gedong, desa
Nngadirejo Kec. Mojogedong Kab. Karang Anyar. Orang tuanya adalah petani
desa yang ditekuninya sejak ia kecil
Di Universitas Negeri Semarang ia mengambil jurusan Ekonomi.
Ia masuk UNNES pada tahun 2003. Kini ia bertempat tinggal di Ayu kost di
Gang Pete Sekaran. Kost yang dipilihnya cukup sederhana dan seperti keadaan
kost laki-laki pada umumnya hanya saja ini lebih murah. Jika ke kampus ia
cukup jalan kaki. Aktifitas organisasi yang dikutinya cukup padat.
3. Handoyo
Ia dilahirkan di kota yang terkenal dengan suku Saminnya,
tepatnya di Blora pada tanggal, 22 januari 1983. Ayah yang bernama Sabar
dan Ibu Sutarmi adalah petani yang mempunyai lahan seluas 1,5 H yang
merupakan satu-satunya sumber penghidupan keluarga.
Handoyo adalah anak ke 4 dari lima bersaudara. Kakaknya semua
sudah tidak mengenyam pendidikan, hanya ia dan adiknya yang duduk di
SMA Negeri Blora yang masih sekolah. Namun kondisi keluarga masih di lilit
oleh kemiskinan yang cukup kuat.
Di UNNES ia mengambil jurusan Tehnik Bangunan, ia masuk
tahun 2001. Ia terpaksa kerja di rental Mitra Comp untuk menambah
penghasilan. Jika hanya mengandalkan kiriman orang tua maka tak pernah
cii
cukup, terlebih ia kuliah di jurusan yang banyak menghabiskan uang. Jadi ia
harus pandai-pandai mencari uang.
Kini ia tinggal di kost Wisma Kant. Di Gang Cempaka Sari Timur.
Ia hanya menempati ruangan 1x 2 meter. Sebenarnya itu bukan kamar, hanya
tempat sholat yang dijadikan kamar. Praktis tak ada kasur apalagi karpet, satu-
satunya ketika peneliti survey adalah sajadah satu. Ia sering tidur dilantai
yang hanya beralaskan tikar baik di kost ataupun di rental tempat ia
mengantungkan hidup. Ketika wawancara berlangsung ia baru saja jatuh sakit,
badannya kurus. Namun dengan kesabaran akhirnya wawancara berhasil juga.
4. So`im Khoironi
Tak ada yang tahu bahwa mahasiswa ini adalah jurusan PJKR.
Orangnya kalem dan tinggi besar dengan kulit yang agak hitam, maklum ia
sering dilapangan. Ia satu-satunya mahasiswa angkatan 2004 yang diikutkan
dalam studi kasus ini. Meskipun baru ia masuk kriteria mahasiswa miskin.
Pertemuan dengan responden dimulai ketika resnponden sholat di Masjid Ulul
Albab. Disitulah berkenalan dimulai sehingga sedikit banyak kondisinya
diketahui oleh peneliti.
Sekarang ia tinggal di Masjid kampus. Keuangan keluarga tidak
mendukung untuk kost. Dan secara kebetulan ia jadi takmir di sebuah masjid
kampus. Kiriman dari orang tua saja tiap bulan hanya berkisar 50.000,00-
70.000,00. Satu nominal yang kecil di jaman sekarang tapi itulah fakta yang
ditemui dalam penelitian ini.
ciii
5. Noor Sjahid
Berasal dari kota ukir-ukiran Jepara. Ia dilahirkan pada tanggal 6
Desember 1981. Alamat lengkapnya berada di Rt 15 Rw III Desa Robayan
Kalinyamat Japara. Pendidikan di mulai dari SD II Robayan dan lulus tahun
1994. lalu melanjutkan di SLTP N 1 Welahan dan selesai pada tahun 1997. ia
langsung masuk di SLTA Walisongo Pecangaan di kecamatan Pecangaan dan
lulus tahun 2000.
Di UNNES ia mengambil jurusan pendidikan Fisika fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Kini ia tinggal di Gang Pisang di
sebuah kost yang tak bernama. Kost sangat sederhana, terbuat dari kayu papan
sama seperti responden dari tehnik.
Sebulan ia diberi dari orang tua sebesar 20.000,00-50.000,00.
untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia mengadakan les privat kepada anak-
anak SLTP. Dunia ini sudah tekuninya sejak semester dua. Dan kini diberi
kuasa untuk memimpin Ibnu Sina, sebuah yayasan yang bergerak di bidang
social dakwah dan pendidikan. Ia mempunyai saudara 4 orang dan ayahnya
telah lama meninggal dan ibunya hanya seorang pedaganng kecil di pasar
Kalinyamat.
civ
TRANSKIP WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
I. Responden utama
1. Nama : Andi Maipa
2. Tempat tgl. lahir : Semarang, 18 Juli 1989
3. NIM :1301403054
4. Semester :3
5. Jurusan :Bimbingan Konseling
6. Jenis kelamin : Laki-laki
7. Tgl wawancara : 19 Desember 2004 dan 21 April 2005
8. Waktu : 06.30 dan 10.00 WIB
9. Tempat : PKM Rohis FIP
10. Kode responden : 1
1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?
Jawab : “Ayah saya sudah meninggal baru-baru aja dan ibu hanya
seorang ibu rumah tangga di Makasar, ia tidak nyambi kerja.
Jadi aku tidak pernah di kirim uang dari orang tua
sepeserpun”
2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?
Jawab : “Jelas, aku kudu kerja apa saja yang penting aku dapat uang,
tapi paling banyak aku di dunia trainer Iqro club terutama
untuk teman-teman SLTA. Pernah juga aku ngisi di solo.
Untuk ngisi di kampus jarang, paling di Rohis sendiri (ia aktif
di rohis FIP) dan itupun aku tak mengaharapkan bayaran.
Aku juga banyak ngisi di berbagai acara di kampus. Selain itu
aku kadang memperbaiki komputer. Jadi ada pemasukan
untuk membantu keperluanku”
cv
3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di
waktu yang ditentukan?
Jawab : “Secara otomatis tidak ya”
4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?
Jawab : “Uangku sebagian besar untuk makan, baru kebutuhan yang
lain seperti kuliah dan lain-lainnya. Sebelum habis maka saya
wajib menyisihkan uang sejumlah 90.000,00 untuk makan
sebulan itupun kalau ada”
5. Motivasi apakah ketika anda makan di kantin kampus?
Jawab: “Saya jarang ke kantin inisiatif sendiri, karena nggak punya
uang, kalau ada yang membeliin aku nggak sungkan-sungkan
menerimanya….. lumayan untuk mengganjal perut. Kalau
dibelikan saya biasanya suka telur asin, sumber protein yang
murah. Ya biar nggak sakit-sakitan. Dan es teh yang dikasih
jeruk lemon kan jadi teh lemon yang enak. Itulah rejeki yang
diberikan untukku kadang-kadang saya terharu dengan
makanan yang sederhana, tetapi rejeki ada saja. Emang
apabila kita bertaqwa rejeki pasti ada saja”
6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?
Jawab : “Jarang sekali karena uang saya sedikit. Tapi kalau ada pas
banyak ya nggak apa-apa. Tapi prinsipnya aku bukan orang
pelit lho!”
7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?
Jawab : “ Pernah,pernah bahkan lumayan banyak. Ya karena temanku
banyak kali ya? dan perasaan saya biasa saja tidak ada rasa
yang macam-macamlah”
8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?
Jawab : “Tidak pernah sama sekali karena uangku selalu habis. Jadi
jarang menabung hanya jika uangku banyak aku harus
menyimpan 90.000.untuk makan bulan depan, itupun jika
ada. Jika tak ada ya tidak apa-apa”
cvi
9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam
kampus?
Jawab : “Aku sih tipenya suka bergaul dengan siapa saja. Tak pandang
status sosial, tetapi aku tidak suka membuka diri. Untuk
masalah itu biarlah aku saja yang tahu. Biarlah orang lain
melihat senyum kita bukan tangis kita, sehingga tidak
merepotkan orang lain”
10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang
lain?
Jawab : “Tidak pernah, tidak pernah…pantangan bagi saya . aku tak
suka membuka diri pada orang lain. Itu rahasia pribadi yang
tak boleh diceritakan pada orang lain”
11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih
cukup dari anda?
Jawab : “Biasa saja mas, karena mereka tahunya saya orang yang
mampu seperti halnya mereka sebab saya suka tersenyum dan
berpenampilan sebagai orang yang optimis, sehingga orang
tidak melihat sisi kehidupan yang serba kekurangan.
Beberapa teman yang tahu kondisi saya sikapnya cukup baik
padaku...”
12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?
Jawab : “Saya termasuk orang yang mungkin termasuk disayang
(dekat,akrab) oleh teman-teman. Semua baik-baik dengan
saya”
13. Apakah teman sering membantu kesulitan ekonomi yang anda hadapi?
Jawab : “Sering bila aku minta ya, Aku tak malu untuk minta tolong
pada temen terutama jika aku butuh. Tapi jika tak di minta
aku tak tahu, tapi untuk sahabat dekat biasanya sudah tahu
kondisi saya, jadi lebih perhatianlah...”
14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?
Jawab : “Tidak karena saya tidak tahu, kalaupun ada IP saya paling-
paling nggak nyampe karena saya lemah di tugas terstrukstur
cvii
yang menyita waktu dan biaya sehingga nilai saya agak naik
turun. Dulu aku pernah ditawari tapi, bahkan diusahakan
benar oleh Pak Sugeng (Pembantu Dekan 3 FIP) tapi aku bisa
melunasi uang kuliah jadi ya nggak jadi”
15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika
mengikuti kuliah di kampus?
Jawab : “Saya kira sama dengan yang lainnya, karena dosen tidak tahu
keadaan saya hanya sebagian kecil dosen yang tahu kondisi
saya. ada Dosen yang memuji saya karena saya mampu
menjawab dengan baik, ada juga dosen yang tak peduli
kondisi saya, kuliah ya kuliah, kerja ya kerja tak usah di
campur. Menghadapi dosen yang kaya begini aku ya harus
benar-benar mengatur, kuliah penting kerja ya penting karena
sumber hidupku ”
16. Dalam proses perkuliahan apakah dosen pernah dimintai
pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?
Jawab : “Seringkali begitu. Sebagian dosen menganggap saya adalah
mahasiswa yang cerdas dan dewasa dalam bersikap dan
punya wawasan yang lebih, tetapi..sebagian yang lain
menganggap saya adalah seorang mahasiswa yang malas
kuliah dan malas bikin tugas. Di tambah kadang mbolos,
padahal mbolos itu banyak untuk cari duit”
17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena
kondisi anda?
Jawab : “Tidak pernah, sebagian dosen baik pada saya”
18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk
mudah mendapat mitra dengan mudah?
Jawab : “Mudah saja. Sayakan suka bergaul. Jadi dalam membentuk
kelompok mudah saja. Ada juga temen yang kadang jengkel
terhadapku, yaitu tadi aku harus cari duit, jadi pas kelompok
aku tak datang. Temen ada yang tak suka, tapi biasalah aku
tak apa-apa”
cviii
19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?
Jawab: “Ya, saya memang suka menutup diri. Sebab saya tak punya
keinginan untuk menceritakan dengan orang lain masalah apa
yang saya hadapi. Biarlah orang lain melihat senyum saya
bukan tangis saya ”
20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?
Jawab : “Jelas ya, karena itu penting sekali”
21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan
anda?
Jawab : “Jelas senang sekali, tapi tidak usah berlebihan berbahaya”
22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah? (termasuk mengerjakan
tugas-tugas)
Jawab : “Lha itu masalahnya saya sangat semangat kuliah akan tetapi
nggak punya dhuwit dan waktu. Karena harus terbagi untuk
mencari uang. Mau tak mau kuliah sering terganggu, sebab
kadang aku mbolos untuk mencari uang. Jadi kuliah tak
masuk. Tapi aku semangat mengikuti kuliah”
23. Apakah anda mempunyai niat untuk berprestasi di dalam kuliah?
Jawab : “Jelas ingin. Tapi seperti yang saya ceritakan di atas. waktuku
kadang terbagi untuk cari uang, jadi kerepotan juga membagi
waktunya. Tapi prestasi tetap ingin”
24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?
Jawab : “Ini masalah saya, dalam kuliah saya jarang disiplin. lha
gimana lagi wong kadang harus mencari uang otomatis
benturan pastikan ada”
25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah
buku,dll)?
Jawab : “Saya sangat suka, tentu saja yang gratis-gratis atau kita jadi
panitianya sekalian biar dapat konsumsi kan gratis he..he. ”
26. Apakah anda aktif mengikuti organisasi atau menjadi pengurus
organisasi kemahasiswaan di kampus?
cix
Jawab : “Ya, saya ikut organisasi karena banyak fasilitas yang bisa
diberikan untuk membantu kondisi saya ini seperti tempat
tinggal gratis, komputer gratis, sekalian mengembangkan diri
dan “memperjuangkan sesuatu. Di FIP aku ikut Rohis dan
sering bantu Hima juga.”
27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?
Jawab : “Tentu saja ya, kan itu wajarlah. Ya. Biarpun kondisiku begini
menjadi yang terbaik itukan perlu”
28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di
organisasi itu?
Jawab : “Tidak..tidak aku rasa tidak ada. Tapi waktu kadang menjadi
penghambat yang besar. Karena aku harus bisa membagi
waktu dengan baik. Karena kadang berbenturan dengan
kuliah, apalagi jika untuk nyari duit otomatis harus pandai-
pandai ngatur waktu. Ya biar nggak mbolosanlah”
29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu
organisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)
Jawab : “Sangat senang sekali ya. Kan bisa berbagi senyum dengan
teman-teman dan yang penting aku bisa tersenyum dengan
melihat teman-teman yang sedang senang dan ceria.
Walaupun di hati kadang tidak begitu, kadang hati sedang
sedih tapi aku berusaha untuk tabah, maknya aku cari temen
yang ceria jadi biar masalah bisa hilang”
30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu
kesulitanm anda?
Jawab : “Ya,sangat membantu….karena ikatan emosional oleh kawan-
kawan ”seperjuangan” biasanya sangat tinggi sehingga
banyak sekali dari mereka bukan lagi teman tetapi sahabat.
Ini yang aku suka dalam organisasi”
cx
TRANSKIP WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
I. Responden utama
1. Nama : Sriyanto
2. Tempat tgl. lahir : Karang anyar, 13 Juli 1985
3. NIM : 3352403543
4. Semester :3
5. Jurusan : Ekonomi
6. Jenis kelamin : Laki-laki
7. Tgl wawancara : 24 Desember 2004 dan 19 april 2005
8. Waktu : 13.00 dan 09.00
9. Tempat : Ayu kost
10. Kode responden : 2
1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?
Jawab : “Kalau tiap bulan saya mendapat kiriman sejumlah kurang
lebih Rp 200.000,00 saya pulang ambil sendiri. Jarang
dikirim dengan post”
2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?
Jawab : “Sumber biaya lain? Ada sih kadang dari Bibi yang di kasih
pada awal semester sebesar Rp 600.000,00 tapi tidak ini
pasti. Yang pasti ya dari orang tua”
3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di waktu
yang ditentukan?
Jawab : “Pengiriman dari orang tua tidak pernah dilakukan karena saya
mengambil sendiri uang yang ada di rumah, keteraturannya
tergantung saya pulang, jadi belum tentu di awal bulan atau
di akhir bulan. Jadi kalau saya butuh ya pulang”
4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?
cxi
Jawab : “Kalau saya begini, pada saat saya pulang maka saya akan
membuat estimasi kebutuhan selama waktu yang saya
rencanakan, bisa dua minggu atau tiga minggu ataupun satu
bulan bahkan satu setengah bulan. Sehingga besarnya
tergantung yang saya rencanakan. Apabila dua minggu
Rp100.000,00 plus transport PP Rp 30.000,00. kalau tiga
minggu maka besarnya Rp 150.000,00 plus uang transport Rp
30.000,00 kalau satu bulan besarnya Rp 200.000,00. estimasi
selama satu bulan
Kebutuhan makan minum Rp 150.000,00
Transport Rp 30.000,00
Kebutuhan kuliah Rp 20.000,00
Untuk berhemat maka saya menekan kebutuhan konsumsi,
sebab Rp 200.000,00 bisa kurang.sebab kadang meleset dari
perkiraan,misalnya banyak kegiatan yang dilakukan
diorganisasi”
5. Motivasi apakah ketika anda makan di kampus?
Jawab: “ Kalau makan sih pernah tapi tidak sering, saya masih ingat
mas….selama satu setengah semester ini saya makan dikantin
kampus dua kali, itupun coba-coba saja. Hal itu saya lakukan
karena makan dikantin lebih mahal apabila dibandingkan
dengan warung-warung di kompleks kost. Di kantin rasanya
juga kurang nyaman, nggak enak di lihat orang, Maklum
standar anak kost,lagian kalau rame apa muat tempatnya?
6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?
Jawab : “Belum pernah untuk di kantin kampus, tapi kalau di warung
kompleks kost pernah, tidak sering dan khusus untuk teman-
teman dekat saja. Sedangkan teman yang tak dekat aku jarang
nraktir”
7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?
Jawab : “Ditraktirkan teman sih pernah tapi tidak sering alias jarang.
Misalnya kost saya ada yang wisuda diajak makan bersama.
cxii
Dan belum tentu tiap semester ada yang wisuda. Kalau
makan masak bareng pernah tapi tetap iuran 2500 untuk beli
untuk beli beras dan lauk”
8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?
Jawab : “Untuk urusan menabung di bank tidak pernah rutin, karena
biasanya kalau ada sisa uang lebih enak disimpan di dompet,
kan dompetnya masih muat. Tapi jika ingin nabung saya
bilang orang tua, biasanya dikasih 100.000. pernah dikasih
1500.000 tapi untuk registrasi ha..ha..ha”
9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam
kampus?
Jawab : “Kalau saya berusaha untuk terbuka sama teman-teman
dikampus and saya juga banyak temennya di kelas maupun
organisasi. Karena bagi saya itu 1000 temen itu masih kurang
dan satu musuh sudah cukup banyak”
10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang
lain?
Jawab : “Pernah saya temen kost, biar kita saling dekat dan saling
memahami. Bagi saya tampil apa adanya adalah suatu hal
yang positif. Tahu kondisi masing-masinglah!. Cerita apa
adanya dengan temen juga akan mendekatkan diri dengan
orang lain, terutama temen dekat”
11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih
cukup dari anda?
Jawab : “Biasa, biar mereka dikasih rejeki yang cukup banyak dan
saya sering melihat temen-temen yang serba berkecukupan
merekapun baik dengan saya. Eh... ngomong-ngomong kalau
punya temen yang secara ekonomi cukup kan bisa meminjam
uang apabila habis persediaan”
12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?
Jawab : Di kelas ada beberapa kelompok yang seolah-olah tidak rukun
dan kelihatan sendiri-sendiri. saya mampu menerobos gap-
cxiii
gap yang ada di kelas. Rasa-rasanya temen-temen bisa untuk
saling mamahami kondisi saya ini”
13. Apakah teman sering membantu kesulitan ekonomi yang anda hadapi?
Jawab : “Kesulitan ekonomi?. Khususnya temen kost dan beliau juga
satu program studi dengan saya, ekonomi dan satu kelas
dengan saya. Jadi ya saling membantu, kadang saya
membantu dia dan kadang saya yang dibantu olehnya. Temen
dikampus biasalah, tapi ada yang perhatian juga sama aku”
14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?
Jawab : “Tidak karena saya mahasiswa kelas paralel. Sebenarnya aku
ingin sih tapi ya itu aku mahasiswa paralel. Jadi gimana
lagi?”
15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika
mengikuti kuliah di kampus?
Jawab : “Bukan nyombong ya! dosen memperlakukan saya dengan
baik, karena saya dikenal sebagai mahasiswa aktif di kelas,
enggak ada masalah. Saya kira dosen menganggap
mahasiswanya sebagai orang yang menuntut ilmu, bukan
orang yang gengsi-gengsian secara ekonomi”
16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta pendapat/gagasan
ketika kuliah berlangsung?
Jawab : “Pernah ketika presentasi makalah, saya dapat nilai plus
diantara temen dari dosen. Saya rasa dalam proses
perkuliahan dalam mimbar akademik di kelas mahasiswa itu
sama. Tiap mahasiswa boleh bertanya dan menjawab. Bahkan
saya tergolong mahasiswa yang paling aktif di kelas kata
temen saya lho.”
17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena kondisi
anda?
Jawab : “Sama sekali tidak, tidak pernah itu tapi ada pertanyaan pas
mengikuti kuliah dibalikkan ke saya, eh saya sendiri yang
suruh jawab oleh dosen..ya saya jawab semampuku”
cxiv
18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk
mudah mendapat mitra dengan mudah?
Jawab : “Dalam membentuk kelompok saya mudah sekali mendapat
mitra dalam kelompok, ini kata teman saya lho!”
19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?
Jawab: “Menutup diri kadang-kadang diperlukan pada saat keadaan-
keadaan tertentu, hanya saja saya jarang menutup diri. Saya
lebih suka keterbukaan. Namun saya menutup diri pada saat
ada masalah keluarga, ataupun masalah pribadi yang
sekiranya orang lain nggak baik kalau ikut campur”
20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?
Jawab : “InsyaAllah, dari dulu saya dididik untuk konfident. Bagi saya
kondisi manusia itu secara umum sama yaitu dengan
kelemahan dan kekurangan masing-masing”
21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan anda?
Jawab : ” Persaaan sama dengan yang lainlah, tentunya senang. Tapi
itu untuk memotivasi saya dalam belajar di kampus”
22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah (termasuk mengerjakan
tugas-tugas)?
Jawab : “Ya hampir 100% aku rajin kuliah . Untuk tugas-tugas
biasanya saya kerjakan sendiri, kuliah nomor satu, untuk
organisasi itu di bawah kuliah, itu prinsip yang saya pegang
selama ini. Semua temen baik-baik dengan saya. Ada dosen
yang dekat dengan saya, bahkan kaya anaknya sendiri. Tapi
ada juga dosen yang jarang ngajar!”
23. Apakah anda mempunyai niat untuk berprestasi dalam kuliah?
Jawab : “Ya, misalnya pada saat presentasi makalah, diperlukan
retorika yang baik untuk mendapatkan perhatian dari teman-
teman. Tapi untuk caper (cari perhatian; penulis) untuk
mendapatkan pujian sama sekali tidak pernah saya lakukan.
cxv
Siapa sih orangnya yang tak senang dipuji? namun jarang
sekali motif untuk mendapatkan pujian diri dari orang”
24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?
Jawab : “Saya cukup disiplin, hampir tidak pernah datang terlambat.
Dan presensi kehadiran hampir 100%, untuk semua mata
kuliah. Bagi saya disiplin adalah hal yang perlu dibudayakan”
25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah
buku,dll)?
Jawab : “Kegiatan kampus sering, biasanya jadi panitia, mulai dari
bedah buku, seminar dan training. Asalkan kegiatan itu
bermanfaat dan tidak banyak mengeluarkan biaya…saya akan
ikut di dalamnya ”
26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan
organisasi kemahasiswaan di kampus?
Jawab : “Saya di organisasi cukup aktif. Di ekstra, karena tidak terlalu
di boncengi kepentingan politik yang berlebihan. Dan untuk
di intra saya selektif untuk serta di dalam organisasi di
kampus. Kalau diboncengi kepentingan di dalamnya biasanya
saya menghindar untuk sementara waktu. Di intra saya aktif
di Hima Ekonomi di Eksis (keagamaan islam;penulis) aktif
bidang kaderisasi dan untuk ekstra saya aktif di HMI MPO.
Bagi saya organisasi akan banyak manfaatnya dalam
membentuk kepribadian, dan banyak manfaat lain dari
organisasi”
27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?
Jawab : “Kalau bisa begini, orang yang baik adalah yang paling
bermanfaat bagi orang lain. Itu harapan saya dalam
berinteraksi”
28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di organisasi
itu?
cxvi
Jawab : “Secara umum belum mas,namun kendala sih ada. Misalnya
keuangan dan fasilitas misalnya sepeda motor dan sarana
komunikasi karena saya belum mempunyai HP”
29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu
oraganisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)
Jawab : “Senang, dan saya tidak pernah merasa minder terhadap
teman-teman seorganisasi. Kalau kita saling memahami maka
enak saja dalam berinteraksi”
30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering membantu kesulitanm
anda?
Jawab : “Ya, misalnya saya butuh kendaraan bermotor, biasanya saya
dipinjami. Misalnya butuh SMS maka saya dipinjami HP.
Tapi rasa-rasanya kalau pinjam terus nggak enak..
cxvii
TRANSKIP WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
I. Responden utama
1. Nama : Handoyo
2. Tempat tgl. lahir: Blora, 22 Januari 1983
3. NIM : 5101401020
4. Semester :5
5. Jurusan : Pendidikan Tehnik Bangunan
6. Jenis kelamin : Laki-laki
7. Tgl wawancara : 19 Desember 2004 dan 16 April 2005
8. Waktu : 10.30 dan .09.10 WIB
9. Tempat : Mitra comp
10 Kode responden : 3
1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?
Jawab : “ Kurang lebih Rp 120.000,00 perbulan, tapi kadang tidak
diberi. Biasanya aku pulang sendiri ke rumah untuk ambil
uang itu, jarang orang tua ke sini atau kirim dengan wesel”
2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?
Jawab : “Ya aku hanya mengandalkan beasiswa PT Djarum sebulan
sebesar 150.000,00 dan kerja Part time di rental Mitra Comp
Gang Cempaka kalau ramai aku bisa nyampai 150.000,00 ”
3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di
waktu yang ditentukan?
Jawab : “Tidak juga karena biaya saya pokok dari kerja Part time itu
jadi susah teraturnya dan saya juga tak banyak berharap,
kasihan orangtua kan bapak saya petani kecil”
4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?
cxviii
Jawab : “Kalau saya prioritas untuk konsumsi/makan baru kebutuhan
kuliah seperti fotocopy, diktat, buku-buku. Setelah itu baru
internet tranportasi dan pembayaran utang. Barang yang awet
saya beli untuk satu bulan sedangkan yang instant maka saat
kebutuhan dan jika ada sisa maka saya tabung ”
5. Motivasi apakah ketika anda makan di kantin kampus?
Jawab: “Tidak tidak pernah! Karena harga di kantin lebih mahal
walaupun dengan menu yang sama kalau di kampus saya
manfaatkan waktu untuk membaca buku. Saya tak punya
menu faforit, dan saya semua makanan hampir saya sukai.
Terus saja ke pertanyaan selanjutnya!”
6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?
Jawab : “Kadang-kadang saya lakukan itu terutama jika banyak uang.
Jika tidak punya ya tidak. Itupun untuk teman dekat saja yang
sering saya jajakan makan bersama, biasanya itu di kost”
7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?
Jawab : “Kadang juga, aku sih suka-suka teman aja yang ngajak”
8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?
Jawab : “Tidak terlalu seringlah karena hampir biaya kuliah aku yang
cari sendiri maka saya tidak pernah menabung. Paling-
paling untuk persediaan kuliah saja. Gimana ya uang selalu
pas terus, bahkan minim ”
9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam
kampus?
Jawab : “Kalau aku orangnya terbuka sekali mas. Dengan siapa aku
mudah bergaul dan terbuka”
10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang
lain?
Jawab : “Jelas pernah tapi hanya pada satu atau dua orang ya untuk
curhat(mencurahkan perhatian) Tapi aku ceritakan dengan
terbuka kok, biar tahu kondisi saya. Aku tak suka ditutup-
tutupi”
cxix
11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih
cukup dari anda?
Jawab : “Mereka biasa-biasa saja mas, bagi saya tiap orang punya
kelebihan dan punya kekurangan, ya sama dengan
merekalah”
12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?
Jawab : “Mereka cukup baik padaku. Sama dengan yang lainlah.
Sebagian juga akrab denganku. Aku menceritakan keadanku
juga dengan teman kuliah, terutama teman dekat.”
13. Apakah teman sering membantu kesulitan ekonomi yang anda hadapi?
Jawab : “Banyak teman membantu kesulitan saya ya namanya saja
mahasiswa saling tolong-menolonglah”
14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?
Jawab : “Ya aku mengikuti beasiswa dari PT Djarum tahun 2004
lumayan untuk membantu kesulitan keuangan saya. Selain itu
tak ada”
15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika
mengikuti kuliah di kampus?
Jawab : “Ya dosen memperlakukan saya dengan baik sama seperti
yang lain, tak ada perbedaan dengan mahasiswa lain. Ada
dosen yang jarang ngajar tapi banyak yang rajin ngjar kok.
Mungkin belum tahu kondisi saya ya! Tapi tak apa-apa”
16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta
pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?
Jawab : “Sering. Dan ini yang membuat aku senang. Rasanya senag
jika aku bisa mengungkapkan gagasanku atau pendapatku”
17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena
kondisi anda?
Jawab : “Jarang itu. Bahkan dosen kadangkan menyuruh
mahasiswanya untuk bertanya”
cxx
18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk
mudah mendapat mitra dengan mudah?
Jawab : “Bagi saya tidak. Bahkan sebaliknya saya mudah akrab dengan
orang lain sehingga ini membantu saya dalam berinteraksi”
19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?
Jawab: “Terkadang ada satu sisi yang harus saya tutupi. Maksud saya
ada masalah yang harus tidak diketahui oleh orang lain ”
20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?
Jawab : “Alhamdullah saya percaya diri walaupun kondisi seperti ini.
Ya tidak mangapalah”
21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan
anda?
Jawab : “Terus terang saya tak suka. Bagiku belum banyak yang saya
layak dapat pujian, lalu untuk apa pujian itu!
22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah (termasuk mengerjakan
tugas-tugas)?
Jawab : “Saya aktif mengikuti kuliah kan amanah dari orang tua ya
kan?. Saya mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya
untuk kuliah. Memang kadang aku capai gara-gara mengetik
di rental terlalu banyak orderan. Tapi kuliah itu kan amanah
jadi aku lakukan”
23. Apakah anda mempuyai niat untuk berprestasi dalam proses kuliah?
Jawab : “Iyalah he..he kan nggak apa-apa toh? Biar ada semangat.
Setiap orangkan ingin berprestasi, begitu juga aku”
24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?
Jawab “Ini kehebatan aku kali ya? Nggak nyombong lho! Dari awal
kuliah sampai hari ini aku tidak pernah mbolos kuliah. Hebat
ya! Tugas-tugas saja saya kerjakan dengan baik sehingga
tidak pernah telat”
25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah
buku,dll)?
cxxi
Jawab : “Sering sekali bahkan sangat sering. Itu kan menambah
pengetahuan kita ya, jadi saya ikutlah, apalagi nggak bayar
wow saya senang . aku senang seminar tentang masalah
politik dan dunia Islam”
26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan
organisasi kemahasiswaan di kampus
Jawab : “Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk
organisasi. Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita
sendiri. Banyak ilmu yang didapat dengan mengikuti
organisasi itu. Di UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam)
ataupun di RISTEK (Kerohanian IslamTehnik ) saya ikut jadi
pengurus. Tapi teraktif di rohis tehnik, kan fakultas sendiri”
27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?
Jawab : “Saya selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik memberi
yang terbaik kan ini wajar bagiku asal tidak berlebihanlah.
Lagipula bermanfaat bagi diri kita sendiri ”
28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di
organisasi itu?
Jawab : “Terkadang ya, karena saya terbentur pada masalah waktu
yang mepet, kuliah yang banyak dan kerja yang lagi-lagi
menyita waktu”
29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu
organisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)
Jawab : “Senang karena mereka adalah teman-teman yang terbaik yang
miliki. kan suka duka dalam oragnisasi menjadi kenangan
yang manis. Masalah saya yang kondisinya saeperti ini kan
tidak harus diungkapkan ”
30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu
kesulitanm anda?
Jawab : “Terkadang ya mas. Mereka membantu kesulitan yang saya
hadapi, tapi tentu saja yang tahu kondisi saya, sedang yang
lain terutama yang tidak tahu biasa saja ”
cxxii
TRANSKIP WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
I. Responden utama
1. Nama : So`im Khoironi
2. Tempat tgl. lahir : Temanggung, 5 September 1986
3. NIM : 6101404011
4. Semester :1
5. Jurusan :PJKR
6. Jenis kelamin : Laki-laki
7. Tgl wawancara : 29 Desember 2004 dan 21 April 2005
8. Waktu : 15.30 dan 12.30
9. Tempat : Masjid Ulul Albab
10. Kode responden : 4
1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?
Jawab : “Nggak tentu mas, kadang hanya cukup buat makan dan sisa
sedikit buat membuat tugas-tugas dari kuliah. Benar mas
nggak besar paling 70.000,00/bulan. Kalau lagi nggak punya
kadang hanya 50.000,00/bulan”
2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?
Jawab : “Nggak ada, saya hanya mengandalkan dari orang tua.
Sedangkan kalau untuk makan ada. Di masjid ini
(MUA;penulis) tiap bulan ada bantuan operasional dari
rektorat sejumlah 200.000,00 dan itupun untuk 6 orang
takmir jadi ya sedikit sekali. Dan itupun di ambil nggak tepat
waktu, nggak teratur”
3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di
waktu yang ditentukan?
cxxiii
Jawab : “Tidak pernah, kadang-kadang aku minta hari ini baru besok/
hari tertentu datangnya 5-7 hari. Jadi ya susah, kalau aku
pulang pas ada ya di kasih. Biasanya orang tua selalu
berusaha misalnya dengan pinjam tetangga untuk mengasih
aku uang. Kasihan juga aku melihat orang tua”
4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?
Jawab : “Begini mas untuk makan 2 kali sehari tanpa minum (minum
air putih;penulis). di samping itu juga sering puasa jadi
mengurangi pengeluaran. Untuk tugas saya hemat artinya jika
terpaksa diketik baru dilakukan. Untuk pengeluaran yang
lain kalau tidak penting sekali ya nggak, pokoknya uang tidak
untuk hal-hal yang tidak perlu ”
5. Motivasi apakah ketika anda makan di kantin kampus?
Jawab: “Jarang, ya sangat jarang bahkan tidak pernah. Maklum
keuangan tidak ada, tidak mendukung. Perasaan kaku sih,
soalnya males kalau rame. Bikin BT aja lagian juga nggak
oke kalo makan ngirit di lihat orang.”
6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?
Jawab : “boro-boro nraktir temen saya, buat makan sendiri aja saya
susah. Jadi itu mas aku tidak pernah nraktir. Inginnya sih
begitu bisa nraktir temen”
7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?
Jawab : “Kalau aku sering juga. Apalagi pas moment-moment tertentu
misalnya setelah dari lapangan aku dijajakan oleh temen.
Tapi sebagian besar temanku sudah tahu kondisi aku ..yang
miskin ini. Temenku juga mudah memberi pada sesama ”
8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?
Jawab : “Paling-paling kalau ada sisa uang receh 500-an baru aku
sisihkan. Tapi untuk jumlah besar jelas aku nggak pernah”
9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam
kampus?
cxxiv
Jawab : “Iya deh, kayaknya iya..tapi untuk ngerasa diri kekilah.
Apalagi bergaul sama orang-orang borju. Kalau sesama orang
miskin sih udah akrab”
10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang
lain?
Jawab : “Enggak…anggak pernah tapi mereka (temen-temen aku)
sebagian besar udah pada tau nasib aku yang miskin ini ”
11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih
cukup dari anda?
Jawab : “Yah… biasa lagi..mereka kan juga manusia samalah.
Memang sih aku selalu dihantui oleh perasaanku sendiri
terkait dengan keadaanku yang miskin ini. Emang ada juga
perasaan minder because mereka lebih uang lebih… dan
lebih segalanya. Tapi kemudian aku jadi sadar, kalau aku
malu pada diriku. Itu artinya aku membenci diriku sendiri
akhirnya ya stay cool aja”
12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?
Jawab : “Mereka bahkan begitu close (terbuka; penulis) denganku.
Semua baik-baik aku senang punya teman seperti mereka”
13. Apakah teman sering membantu kesulitan yang anda hadapi?
Jawab : “Ya mereka sangat membantu….tapi kalo ada hubungan
dengan uang aku tolak, nggak enak juga. mereka kan pastinya
butuh uang juga buat hidup mereka di sini. ”
14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?
Jawab : “Mau ikut.. juga. Aku kan semester satu jadi belum boleh.
Tapi aku ingin ikut juga. Besok kalau sudah waktunya aku
ingin mengajukan beasiswa”
15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika
mengikuti kuliah di kampus?
Jawab : “Ada beberapa dosen yang baik sama aku, sering
berkomunikasilah, aku cukup akrab dengan mereka. Ada
beberapa dosen yang kenal saja, aku kan mahasiswa semester
cxxv
baru (1;penulis) jadi ya belum begitu banyak yang kenal
apalagi intim”
16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta
pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?
Jawab : “Pernah, yaitu pada waktu kuliah saat ada pertanyaan dari
mahasiswa lain, temen sendiri dan lalu oleh dosen diserahkan
padaku untuk menjawab. Aku menjawab sesuai
kemampuanku”
17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena
kondisi anda?
Jawab : “Kayaknya nggak pernah tuh..lagian dirasakan diskriminatif
banget”
18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk
mudah mendapat mitra dengan mudah?
Jawab : “Ah nggak, aku dapat temen bagiku mudah sekali kok..mereka
memandang aku bukan karena miskin tapi karena aku rajin
ngumpulin tugas. Jadi membentuk kelompok aku tidak
kesulitan”
19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?
Jawab: “Terkadang ada satu sisi yang harus saya tutupi. Maksud saya
ada masalah yang harus tidak diketahui oleh orang lain. Tapi
untuk masalah lain tidak begitu pribadi aku terbuka dengan
teman”
20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?
Jawab : “Jelas ya walaupun kondisiku begini tapi aku tetap percaya
diri, kalau nggak percaya diri emang jadi kaya. Kan nggak
mungkin itulah”
21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan
anda?
Jawab : “Kalau aku begini…aku punya prinsip yang berbeda kali ya
dengan orang lain, prinsipku Aku akan lebih menghargai
kamu jika kamu juga menghargai aku. Maka kalau temen bisa
cxxvi
menghargai aku maka aku akan menghargai mereka, bahkan
lebih menghargai mereka”
22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah (termasuk mengerjakan
tugas-tugas)?
Jawab : “Ini kehebatan aku kali ya? Nggak nyombong lho! Dari awal
kuliah sampai hari ini aku tidak pernah mbolos kuliah. Hebat
ya! Tugas-tugas saja saya kerjakan dengan baik sehingga
tidak pernah telat”
23. Apakah anda punya niat untuk berprestasi dalam proses kuliah?
Jawab : “Ya aku ingin itu. Makanya aku disiplin kuliah dan tugas-
tugas aku kerjakan dengan baik”
24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?
Jawab : “Jelas disiplin. Walaupun aku kuliah jalan kaki akan tetapi
aku tetap disiplin banget. Jadi nggak ngecewain orang tua
gitu”
25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah
buku,dll)?
Jawab : “Nggak pernah itu mas, soalnya kalau ikut seminar
misalnyakan butuh biaya atau kontribusi pesertakan?”
26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan
organisasi itu?
Jawab : “Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk
organisasi. Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita
sendiri. Banyak ilmu yang didapat dengan mengikuti
organisasi itu. Cuma satu yang kuikuti yaitu UKM
Taekwondo, yang lain tidak. Masalahnya sangat terbatas sih
jadi aku nggak bisa ikut lebih banyak lagi. Anak FIK kan
minimal ada satu keahlian di bidang olahraga ya aku ikutnya
itu taekwondo. Itu yang aku suka”
27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?
cxxvii
Jawab : “Kalau saya begini sajalah bukan yang terbaik tetapi yang
lebih baik. Maklum untuk jadi yang terbaik kan harus lebih
dari yang lain, kalau saya?”
28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di
organisasi itu?
Jawab : “Kayaknya nggak ada tuh, aku biasa saja. Olahraga ini
(taekwondo; penulis) kan nggak begitu besar biayanya,
paling-paling banter tenaga yang ekstra toh”
29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu
organisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)
Jawab : “Wuih kalau saya tetep enjoy aja dan happy selalu. Kan disini
aku bisa menemukan hiburanlah”
30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu
kesulitanm anda?
Jawab : “Kayaknya jarang…bahkan nggak pernah kali ya soalnya aku
dalam UKM ini nggak begitu akrab seperti dengan teman
sekelas jadi jarang gitulah”
cxxviii
TRANSKIP WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
I. Responden utama
1. Nama : Noor Sjahid
2. Tempat tgl. lahir : Semarang, 6 Desember 1981
3. NIM : 441400015
4. Semester :9
5. Jurusan :Fisika
6. Jenis kelamin : Laki-laki
7. Tgl wawancara : 30 Desember 2004 dan 19 April 2005
8. Waktu : 15.30 dan .09.00
9. Tempat : Gang pisang kost dan Masjid Ulul Albab
10. Kode responden : 5
1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?
Jawab : “Kiriman orang tua tiap bulan tidak tentu besarnya. Kalau ada
ya dikasih kalau tidak ada ya nggak dikasih. Untuk besarnya
kira-kira antara Rp 20.000,00- 50.000,00 ini diberi ketika
saya pulang”
2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?
Jawab : “Ada,ada sumber lain. Nenek kadang memberi aku uang,
begitu juga pamanku sering ngasih juga. Di samping itu aku
juga cari penghasilan sendiri, terutama ngelesi anak anak
SMP atau SD di semarang saja. Hasilnya ndak banyak
lumayanlah buat nambah ongkos kuliah”
3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di
waktu yang ditentukan?
Jawab : “Wah pengiriman dari orang tua tidak tentu tergantung kondisi
itu. Kalau aku pulang dan ada maka dikasih jika tidak ya
cxxix
tidak dikasih. Aku pulang juga nggak teratur. Jadi nggak
tentulah”
4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?
Jawab : “Uang dalam satu bulan itu paling banyak ya untuk biaya
hidup dan untuk kuliah saja. Yang lain aku tidak, bukannya
tidak ingin tapi emang kemampuanku terbatas. Penginnya sih
beli ini-beli ini tapi keuangan kan nggak ada,mau apalagi”
5. Motivasi apakah ketika anda makan di kantin kampus?
Jawab: “Saya sering makan dan minum di kantin kampus FMIPA,
karena saya tidak masak di kost. Aku tak sempat masak
sendiri. Kalau saya pas makan di kantin nasi rames dan
mendoan (tempe goreng ada tepungnya; penulis) itu saja.
Kalau minum biasanya cukup air putih. Aku percaya diri
dengan apa yang aku makan, jadi nggak ada rasa malu atau
minderlah. Kemampuanku memang seperti ini. kalau saya
ndak begitu menghiraukan waktu-waktu tertentu, jika sedang
lapar ya makan. Baik itu ramai atau tidak ya ndak masalah.
Jadi sewaktu-waktu butuh di kampus, aku ke kantin ”
6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?
Jawab : “Pernah sih terutama pada teman yang membantu saya baik itu
tugas atau yang lainnya. Kalau temen yang nggak bantu
jarang sekali”
7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?
Jawab : “Tidak sering juga, kalau saya tidak sering itu. Bukan apa-apa
tapi emang tidak sering. Nggak enak juga jika sering
dijajakan oleh temen, meskipun itu temen dekat”
8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?
Jawab : “Saya? Belum pernah, ya karena kebutuhan terus ada …ada
daya nggak bisa nabung . kadang cukup untuk pengeluaran
tapi kadang kurang, tapi banyak kurangnya”
9. Apakah anda teramasuk orang yang membuka diri (suka bergaul)
dalam kampus?
cxxx
Jawab : “Kalau saya terbuka, tetapi tidak semua teman tahu kondisi
saya. Hanya mereka yang dekat-dekat saja saya mau cerita.
Untuk temen yang jauh saya jarang, jadi selektiflah untuk
masalah ini”
10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang
lain?
Jawab : “Pernah..yaitu tadi aku selektiflah dalam hal menceritakan
kondisiku kepada orang lain. Hanya temen dekat saja yang
biasanya aku ceritankan kondisiku”
11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih
cukup dari anda?
Jawab : “Biasa-biasa saja bagiku. Tidak rasa iri atau yang lain. Tapi
kurang begitu suka dan tidak begitu dekat dengan orang yang
suka pamer dan bergaya hidup mewah” Ada juga sih
perasaan minder, ya bagaimana lagi mereka kan lebih mampu
secara ekonomi sedang aku kan tidak. Ya sedikit minderlah”
12. Apakah sikap teman anda menjauhi anda ketika berinteraksi di
kampus?
Jawab : “Tidak mereka biasa-biasa saja terhadapku. Nggak ada sikap
atau perilaku yang aneh terhadapku”
13. Apakah teman sering membantu kesulitan yang anda hadapi?
Jawab : “Tidak begitu seringlah. Pernah pada waktu aku kesulitan uang
tapi itu kan tidak sering. Apa karena aku selektif tadi ya?
Sehingga temen-temen jarang yang tahu
kondisinku..terbataslah”
14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?
Jawab : “Ya aku ikut beasiswa mulai semester tiga sampai semester 6,
setelah itu aku tidak ikut program beasiswa. Di FMIPA
syaratnya lumayan rumit”
15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika
mengikuti kuliah di kampus?
cxxxi
Jawab : “Ya, dosen memperlakukan aku dengan baik. Dalam
perkuliahan sama dengan yang lain. Aku juga rajin
mengerjakan tugas, jadi ya dosen baik-baik saja sama aku”
16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta
pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?
Jawab : “Pernah juga sebab aku dalam studi cukup baik prestasiku jadi
dosen pernah minta pendapat dariku”
17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena
kondisi anda?
Jawab : “Tidak pernah..tidak pernah itu. Setiap aku bertanya maka
dijawab dengan baik, oleh dosen atau temenku sendiri yang
sudah tahu”
18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk
mudah mendapat mitra dengan mudah?
Jawab : ”Dalam membentuk kelompok belajarpun aku mudah juga
dalam mencari mitra belajar. Teman-teman denganku cukup
baik jadi memudahkan saat membentuk kelompok belajar”
19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?
Jawab: “Ya. Saya ingin tidak ingin orang lain berbelas kasihan sama
saya. Ini semacam prinsip bagiku. Biarlah kondisiku seperti
ini, selagi aku masih bisa rejeki ”
20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?
Jawab : “Ya saya percaya diri”
21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan
anda?
Jawab : “Bangga yang wajarlah. Tidak berlebihan. Pujian itukan bisa
untuk memotivasi kita”
22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah (termasuk mengerjakan
tugas-tugas)?
Jawab : “Ya aku termasuk aktif mengikuti kuliah. Waktu kuliah kan
Cuma sedikit jadi aku manfaatkan dengan baik untuk kuliah.
Aku ke sini kan untuk belajar”
cxxxii
23. Apakah anda punya niat untuk berprestasi dalam proses kuliah?
Jawab : “Jelas itu aku ingin berprestasi di saat mengikuti kuliah!”
24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?
Jawab : “Oh ya aku disiplin dalam kuliah, tapi kadang terlambat juga
he..he..he kan aku manusia juga”
25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah
buku,dll)?
Jawab : “Kurang begitu sering. Karena seminar dan bedah buku yang
diadakan pasti suka narik iuran, aku kan sedikit uang. Di
samping itu waktunya kadang tak sesuai. Pas ada seminar aku
ada kegiatan lain misalnya ngelesi di bawah (Semarang
bawah; penulis) ya sudah aku tidak ikut seminar”
26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan
organisasi itu?
Jawab : “Ya aku aktif di organisasi di kampus. Pernah di kelompok
asisten sebagai sie bakat minat, di laboratorium sebagai
ketua. Di Hima Fisika tahun 2002-2003 di komisi A, aku di
luar kampus aku aktif di yayasan Ibnu Sina miliknya pak
Anwar dosen FIP, sebagai ketua. Tapi kini aku hanya
membantu di yayasan saja mulang ngaji hari Minggu pagi.
Di samping itu kegiatan yayasan lain aku juga masih ikut”
27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?
Jawab : “Ya tentu itu. Aku ingin jadi yang terbaik dari teman-teman.
Memang aku seperti ini, tapi berusaha itukan perlu perkara
hasilnya itu terserah nanti yang penting kita sudah berusaha
semaksimal mungkin”
28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di
organisasi itu?
Jawab : “Ya, . Karena saya kurang begitu bisa berinteraksi dengan baik
dengan teman-teman jadi aku ingin jadi yang terbaik.
Mencari kawan untuk persahabatan itu perlu”
cxxxiii
29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu
organisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)
Jawab : “Senang saja ketika aku bergaul dengan teman-teman
seorganisasi. Di sana banyak pengalaman yang bisa di ambil.
Banyak teman juga dengan mengikuti organisasi itu”
30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu
kesulitanm anda?
Jawab : “Tidak terlalu sering aku juga jarang minta bantuan kepada
mereka. Kalau saya butuh misalnya uang aku pinjam pada
teman dekat”
cxxxiv
PEDOMAN WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
I. Responden sahabat dekat
1. Nama : Hadi Sasono
2. Tempat tgl. lahi : Pekalongan, 18 Oktober 1984
3. NIM : 3352403512
4. Semester :3
5. Jurusan :Ekonomi
6. Jenis kelamin : Laki-laki
7. Tgl wawancara : 30 Desember 2004
8. Waktu : 15.30
9. Tempat : Ayu kost, Gang Pete Sekaran
10. Kode responden : 6
2. Apakah benar bahwa teman anda mendapat kiriman yang minim ?
Jawab : “Ya betul, teman saya itu mendapat kiriman yang sedikit,
kalau pulang paling-paling ia mendapat ya kurang lebih
150.000,00 -200.000,00 pulangnya tidak teratur, kalau lagi
penting atau perlu ya ia akan pulang tapi jika tidak ya ia tidak
akan pulang. Untuk pulang kampong waktunya tidak pasti”
3. Apakah teman yang miskin pernah menjajagan anda di kantin
misalnya ?
Jawab : “Tidak pernah, karena makan di kantin yang saya ketahui saja,
ia tidak pernah apalagi menjajakan, jajanan dan makanan di
kantin kampus kan mahal jadi pasti jika ingin menjajakan
pasti pilih tempat di luar kantin. Aku pernah dijajakan tapi di
warung Gang Pete, bukan di kantin kampus”
4. Bagaimana perilaku mereka dalam berinteraksi dengan anda ?
cxxxv
Jawab : “Perilaku yang khusus kayaknya nggak ada, ia memang sedikit
lugu dan selera humorrnya ada..ya itu kan karakter masing-
masinglah. Ia cukup terbuka dengan saya ini. Sriyanto juga
pandai bergaul, lalu ia juga sering membantu kesulitan yang
saya hadapi. Ini yang membuat aku senang punya teman
seperti dia”
5. Pernahkah mereka mengeluh/mengadu tentang kondisi dirinya ?
Jawab : “Pernah bahkan ia menceritakan kondisinya padaku, tentang
keluarganya yang petani. Untuk serita keluarga tak begitu
banyak yang saya ketahui, teman lain nggak tahu. Sriyanto
pernah juga cerita tentang kuliahnya tentang aktifitasnya di
organisasi yang menolak dijadikan ketua,….. ia mau menjadi
apa saja di acara itu tapi bukan sebagi ketua. Dan aku
pahamlah sebagai teman dekatnya”
6. Bagimana perilaku mereka dalam interaksi dengan teman di kampus?
Jawab : “Baik-baik saja dengan temen, bahkan Sriyanto akrab dengan
temen-temen sekelasnya. Ia pandai bergaul sehingga
temannya suka padanya. Sifatnya lugu dan sedikit humoris
membuat disukai oleh temen-temennya”
7. Apakah mereka beraktualisasi dengan baik di saat mengikuti kuliah?
Jawab : “Dalam perkuliahan Sryanto aktif mas dan sering bertanya
kepada dosen ataupun sering juga ia menjawab pertanyaan
teman atau dosen jadi itu perilaku di kampus yang saya
ketahui. Aku kan temen sekelas jadi ya tahu banyak di saat
kuliah”
8. Apakah teman anda menjadi “panutan” didalam proses sosial di
kampus?
Jawab : “ Panutan? tak tahulah tapi ia memang pandai bergaul dengan
teman, mudah akrab dengan siapa saja . Ia cukup popular di
antara teman-temannya di kelas, selain itu diapun memiliki
cxxxvi
nama karena dia merupakan salah satu anggota Hima
sehingga ia cukup popular di kampus”
9. Apakah mereka aktif mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan?
Jawab : “Ya Sriyanto aktif mengikuti organisasi di kampus. Organisasi
yang saya ketahui ya HMI, Eksis dan Hima. Ia aktif juga
mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan organisasinya itu,
terutama Hima dan Eksis”
10. Apakah mereka mengeluh dengan anda berkenaan dengan kondisi
mereka berkaitran keaktifan mereka di sebuah organisasi?
Jawab : “ Saya dan Sriyanto kebetulan teman dekat dan satu kost, jadi
ia sering mencurahkan ketika ada masalah padaku, misalnya
ketika tugasnya berat ia menceritakan padaku, atau ia sering
menceritakan organisasi yang diikutinya. Begitu pula
keadaan keluarganya ia menceritakan padaku, sehingga aku
tahu kondisinya Sriyanto”
11. Adakah perilaku yang khusus dalam diri mereka terkait dalam diri
mereka?
Jawab : “Kayaknya tidak, tapi karena saya teman sekelasnya, temen-
temennya di kelas sering mengandalkan Sriyanto karena di
kelas ia cukup pandai, teman-teman juga menghormatinya”
cxxxvii
PEDOMAN WAWANCARA
PERILAKU MAHASISWA MISKIN
( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )
I. Responden Dosen dekat
1. Nama : Drs Sugeng Haryadi, M.Pd.
2. Tempat tgl. lahir : Ngawi, 25 Januari 1957
3. NIP : 131472593
4. Jurusan :Psikologi
5. Jenis kelamin : Laki-laki
6. Tgl wawancara : 7 Januari 2005
7. Waktu : 09.30
8. Tempat : Ruang Pembantu Dekan FIP UNNES
9. Kode responden : 7
1. Apakah anak didik bapak /ibu ada yang miskin?
Jawab : “Mahasiswa miskin? Banyak contohnya Andi, ya di masing-
masing jurusan ada. Ada yang orang tuanya hanya seorang
tukang becak, ada yang hanya buruh mencuci pakaian keliling
dan ada yang hanya petani buruh. Hampir di setiap jurusan itu
ada”
2. Bagaimana perilaku mereka ketika mengikuti perkuliahan?
Jawab : “Dalam proses kuliah itu wajar, tapi mereka selalu di hantui oleh
pikiran yang mengganggu studi. Dalam kuliah baik, kan siapa
tahu dapat beasiswa hanya ada beberapa yang jarang kuliah,
tugas tak di kumpulkan, karena mereka harus kerja”
3. Adakah hal-hal yang menonjol dari sisi akademik?
Jawab : “Ada beberapa yang tak baik, tapi secara umum normal bahkan
ada yang cukup bagus, tidak ada perbedaan yang mencolok
cxxxviii
antara mahasiswa miskin dengan mahasiswa kaya dari sisi
akademik”
4. Adakah perilaku khusus yang ditunjukan oleh mahasiswa miskin?
Jawab : “ Tidak ada perilaku khusus, secara umum tak ada”
5. Apakah bapak/ibu memberi perhatian kepada mereka?
Jawab : “Dalam proses perkuliahan semua sama tidak tertuju pada salah
satu mahasiswa, hanya di luar perkuliahan diberikan dalam
bentuk empaty dan motivasi, agar belajar baik dan untuk
semangat kuliah”
6. Bagaimana komunikasi mereka dengan bapak/ibu ?
Jawab : “Komunikasi tetap ada untuk mencari solusi, misalnya bisa tidak
memperoleh beasiswa, bahkan si Andi saya perintahkan untuk
pinjam di lembaga, tapi tak tunggu ternyata ada untuk membayar
SPP. Jadi komunikasi untuk mencari solusi ada”
cxxxix
cxl