Embed
Email

PERILAKU MAHASISWA DARI KELUARGA MISKIN

Document Sample
PERILAKU MAHASISWA DARI KELUARGA MISKIN
Shared by: mr doen
Categories
Tags
Stats
views:
93
posted:
2/10/2012
language:
pages:
140
PERILAKU MAHASISWA DARI KELUARGA MISKIN DI KAMPUS

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )



Skripsi ini diajukan dalam rangka penyelesaian studi program strata 1



untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan









Di susun oleh :



Nama : Moh. Riyadi

NIM : 1214000040

Jurusan : Pend. Luar Sekolah









FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2005









i

PENGESAHAN





Telah dipertahankan di hadapan sidang panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu



Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada:



Hari : Sabtu



Tanggal : 27 Agustus 2005







Panitia Ujian







Ketua Sekretaris









Drs. Siswanto, M.M Drs. Liliek Desmawati, M.Pd.

NIP. 130515769 NIP. 13143022

Pembimbing I Anggota Penguji









Dr. Agus Salim, MS 1. Drs. Fakhruddin , M.Pd.

NIP.131127082 NIP. 131607091



Pembimbing II







2. Dr. Agus Salim, MS

NIP. 131127082



Drs. Ilyas, M.Ag

NIP.131764482

3. Drs. Ilyas, M. Ag

NIP. 131764482



ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN









MOTTO



“Jika engkau mau hidup untuk dirimu, hendaknya engkau



juga hidup untuk sesamamu dan sebelum mencapai sebuah



kemenangan janganlah menyanyikan kejayaan”









PERSEMBAHAN



Karya yang sederhana ini, saya dedikasikan kepada mereka yang



menghiasi hatiku dengan pancaran belaian kehidupan yang indah bagaikan lagu



yang terdengar merdu menyanyat kalbu yaitu:



1. Ayah dan Ibu tercinta yang mendidik dengan sepenuh hati dan



selalu berdoa agar buah hatinya bisa memberi secercah harapan



terindah dalam kehidupan.



2. Kakak dan Adikku yang terlahir dari rahim Ibu, sungguh aku



mencintai dan rindu kalian semua.



3. Adikku yang menjadi mutiara dalam hidupku, Firman Alifudin di



Kendal, dr. Wisnu Tri Anggono di Kebumen dan Fanaditya



Yudha Utama (Alm.) di Purwokerto, Biarlah gelombang irama



persaudaraan kita mengalir seperti jernihnya setetes embun di



pagi hari.



iii

4. Teman-teman terbaikku ( Hakim, Hari, Taufik, Gigih, Idris, Imam,



Rindawati, Joko, Setiawan, Sin`an, Sunyoto, Mbah Surip,



Gumelar, Rif`an, Rohmat, Mame, Sugeng, Haniatul, Dias,



Saefudin, Asih, Heri, Mbah Jumali, Agus,dll). Jangan lupakan



persahabatan kita, karena kita tak tahu kapan tertawa bersama



lagi!



6. Bagi pembelajar yang mau belajar dari sepenggal kisah kehidupan



nyata di karya ini !









iv

ABSTRAK





Nama : Moh Riyadi. Skripsi. Tahun 2005. Jumlah Halaman; 132 Perilaku

Mahasiswa Dari Keluarga Miskin Di Kampus studi kasus di Universitas

Negeri Semarang. Dosen pembimbing Dr. Agus Salim, MS dan Drs. Ilyas,

M.Ag.





Penelitian yang dilakukan ini mengambil tema tentang masalah sosial,

yang dibatasi dalam ruang lingkup kampus Universitas Negeri Semarang

kampus Sekaran Gunung Pati. Kemiskinan adalah fakta sosial yang akan selalu

ada. Walaupun batasan kemiskinan relatif dan selalu berkembang sesuai dengan

kondisi masyarakat, bangsa atau daerah. Penelitian ini bertujuan untuk

mengungkapkan perilaku mahasiswa dari keluarga miskin dalam pemenuhan

kebutuhan dan pada saat interaksi di kampus.

Untuk lokasi penelitian ini sengaja mengambil tempat di kampus

Universitas Negeri Semarang (UNNES) kampus Sekaran Gunung Pati. Subyek

yang menjadi penelitian ini adalah sebagian mahasiswa dari keluarga miskin yang

berada di beberapa fakultas di kampus UNNES yang dipilih berdasar pada

kriteria yang telah ditentukan. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini

adalah studi kasus. Metode yang digunakan yang pertama adalah dengan

wawancara. Selain itu, metode observasi dan dokumentasi menjadi pilihan

selanjutnya dalam melengkapi metode penelitian ini.

Hasil temuan dilapangan menyebutkan bahwa mahasiswa dari keluarga

miskin ternyata menggantungkan uang kiriman dari orang tua dan ada yang tidak

menggantungkan pada orang tua. Untuk menutupi kekurangan keuangan

mahasiswa dari keluarga miskin sebagian bekerja dan ada pula yang

mengandalkan beasiswa serta kiriman dari saudara. Mereka mengatur keuangan

sesuai dengan skala prioritas yang diperlukan. Mahasiswa miskin melakukan

komunikasi dengan mahasiswa lain sehingga mereka diterima di kampus. Untuk

memenuhi kebutuhan pendidikan mereka membagi waktu senggang agar

bermanfaat, memupuk kepercayaan diri, aktualisasi diri, aktif menjawab saat ada

pertanyaan, menghemat biaya sesuai dengan skala prioritas dan memperhatikan

pendidikan untuk jaminan di hari tua,. Dalam hal pemenuhan kebutuhan belajar

mereka melakukan tugas kuliah dengan profesional, meningkatkan pelatihan

untuk pengambangan diri, berolahraga untuk memelihara kesegaran jasmani,

mengikuti kegiatan agama di kampus untuk meningkatkan pemehaman perluasan

wawasan keagamaan, bekerja untuk menutupi kekurangan di sela-sela kuliah,

belajar dengan giat dan beberapa aktifitas lainnya. Mereka juga belajar secara

efektif, berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya.









.





v

KATA PENGANTAR









Dengan ridho dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta



limpahan rahmat, taufik, nikmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat



menyelesaikan karya ini.



Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku kehidupan mahasiswa



dari keluarga miskin di kampus dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan pada saat



interaksi di kampus. Dalam suatu universitas terdapat stratifikasi ekonomi yang



mengakibatkan ada sebagian mahasiswa dari keluarga miskin yang kekurangan



biaya untuk kelangsungan hidup di kampus. Penelitian ini untuk mengungkap



fenomena kemiskinan mahasiswa yang terjadi di Universitas Negeri Semarang.



Penelitian ini adalah dalam rangka menyelesaikan studi strata satu (S1)



untuk mencapai gelar sarjana pendidikan. Penulis menyampaikan ungkapan



terima kasih kepada :



1. Drs. Siswanto, M.M. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan.



2. Drs. Ahmad Rifa’i, M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah.



3. Dr. Agus Salim, MS. Pembimbing I dan Drs Ilyas, M.Ag. selaku



Pembimbing II dalam penyusunan skripsi ini.



4. Para responden yang telah bersedia memberi informasi dalam penelitian



ini.



5. Keluargaku di Semarang, Bapak Agus Salim sekeluraga yang telah ikut



berjuang untuk mensukseskan pembuatan skripsi ini.



Semoga segala budi baik semua pihak mendapat balasan yang terindah



dari Allah Yang Maha Esa. Dan dari hati saya yang terdalam tiada kata yang





vi

terindah selain mengucapkan untaian terima kasih kepada mereka membuka



kedua tangannya untuk penyusunan skripsi ini.



Harapan penulis semoga karya yang jauh dari sempurna ini dapat memberi



manfaat dan informasi bagi pembaca semua terutama dalam mengembangkan



wacana ilmu pengetahuan.



Penulis menyadari bahwa penyusunan karya ini jauh dari harapan, jauh



dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami



tunggu untuk perbaikan di kemudian hari.









Semarang, 23 Agustus 2005







Moh Riyadi









vii

DAFTAR ISI







JUDUL…………………………………………………………………..………....i



PENGESAHAN…………………………………………………………………...ii



MOTTO DAN DEDIKASI………………………………………....…………iii-iv



ABSTRAK………………………………………………………………….…….v



KATA PENGANTAR…………………………………………………..……vi-vii



DAFTAR ISI………………………………………………….……………..viii-ix



DAFTAR TABEL……………………………………………………………...…x



LAMPIRAN...........................................................................................................xi



BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1



A. Latar Belakang……………………………………………….…………1-6



B. Permasalahan………………………………………………….……...…6-7



C. Tujuan…...……………………………………………..……………….…7



D. Manfaat…………………………………………………...………….....7-8



E. Penegasan Istilah…………………………………………...…………...8-9



F. KeterbatasanPenelitian………………………………...………………......9



BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................10



A. Konsep perilaku ……………………………………………….…..…10-22



B. Mahasiswa……………………………………………………………22-24



C. Kemiskinan dan Kebutuhan Hidup……………………………….......24-33



D. Interaksi Mahasiswa.............................................................................34-40



BAB III METODE PENELITIAN........................................................................41



A. Jenis dan Pendekatan Penelitian……………………………...........…….41





viii

B. Lokasi Penelitian………………………………………………………....42



C. Subjek Penelitian………………………………………………….....…..42



D. Sumber Data……………………………………………………....……..43



E. Teknik Pengumpulan Data………………………………………...…43-47



F. Keabsahan Data………………………………………………………47-49



G. Analisia Data……………………………………………………….....…49



BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.........………………….50



A. Gambaran Umum.......……………………………….....………….…50-51



1. Geografis Kampus UNNES…...……………………………...51-53



2. Komposisi akedemika UNNES……………………..……..…53-54



3. Sarana dan prasarana UNNES………………..….……..……55-56



B. Gambaran Umum subjek Penelitian.....................................................57-58



C. Perilaku Mahasiswa Miskin......................................................................58



a. Pemenuhan Kebutuhan Hidup……………………........…….......58-70



b. Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan……………..............………..70-73



c. Pemenuhan Kebutuhan Belajar................................................…..73-76



BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................77



A. KESIMPULAN………………………………………………………77-83



B. SARAN……………………………………………………………….83-84



DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….......85-87



LAMPIRAN……………………………………………………………..…..88-132









ix

DAFTAR TABEL DAN BAGAN









a. Bagan Perilaku..................................................................................15



b. Bagan Terjadi perilaku......................................................................16



c. Tabel Komposisi Sivitas Akademika…..…..……………….....……53



d. Tabel Prasarana Pendidikan………………………………………....56



e. Tabel Keadaan Responden Utama………………………………..…57



f. Tabel Keadaan Responden pendukung………………..…………….58









x

LAMPIRAN







1. Pedoman wawancara.....................................................................................88-91



2. Keadaan Responden Utama..........................................................................92-95



3. Tranksip Wawancara..................................................................................96-132









xi

BAB I



PENDAHULUAN









A. Latar Belakang



Mahasiswa adalah salah satu komponen bangsa Indonesia yang



ikut bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Oleh karena itu



mahasiswa perlu mempersiapkan diri dengan belajar yang lebih giat lagi



tekun. Dengan belajar yang giat di kampus ataupun di luar kampus akan



meningkatkan ilmu pengetahuan yang ia peroleh. Masa depan bangsa



Indonesia salah satunya terletak ditangan para generasi muda. Mahasiswa



sebagai penerus para pendiri bangsa harus mempersiapkan diri dengan baik.



Memanfaatkan waktu yang ada dan menjadikan setiap kesempatan



yang ada di kampus untuk menimba ilmu adalah sangat baik. Itu dapat di



lakukan di kampus ketika terjadi proses perkuliahan, di luar kuliah bisa



dengan mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan, baik itu yang bersifat



intra atau ekstra kampus dan pada saat interaksi bersama teman-teman.



Kegiatan-kegiatan seperti meminjam buku perpustakaan, berorganisasi,



belajar bersama atau kegiatan lain yang bermanfaat adalah sangat



menguntungkan dimasa yang akan datang. Sebab investasi yang



menguntungkan bagi seorang mahasiswa adalah dengan ilmu yang terus



bertambah dan mengikuti perkembangan zaman.



Dalam diri seorang mahasiswa tersimpan kekuatan dan potensi



yang besar. Kekuatan dan potensi bisa berupa kecerdasan, ketrampilan,





xii

kematangan berpikir dan fisik jika dipupuk dengan terus-menerus maka akan



sangat bermanfaat dikemudian hari. Belajar di kampus adalah salah satu



tempat untuk memompa potensi tersebut. Dari segi pemerataan kesempatan



pendidikan, di Indonesia yang mengenyam pendidikan tingkat tinggi masih



terbatas, oleh karena itu seorang mahasiswa harus pandai-pandai



memanfaatkan potensi yang dimiliki (kesempatan belajar di perguruan tinggi)



dengan baik.



Mahasiswa adalah sebagian dari masyarakat yang mengenyam



pendidikan sampai jenjang yang lebih tinggi. Sebab tidak seluruh lapisan



masyarakat dapat mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi



Masyarakat yang secara ekonomi tergolong menengah ke bawah belum tentu



bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketidakmampuan



masyarakat melanjutkan putra dan putrinya kejenjang pendidikan yang lebih



tinggi dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang



menyebabkan mereka tidak mampu melanjutkan diantaranya adalah



kemiskinan, keterbatan sarana yang ada, biaya pendidikan yang relatif tinggi



bagi sebagian besar masyarakat, kebudayaan setempat dan kesempatan yang



terbatas atau bisa juga karena faktor kecerdasan seseorang yang kurang.



Dalam masyarakat Indonesia, ketidakmampuan seseorang



melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lebih disebabkan oleh



faktor ekonomi. Apalagi sejak krisis yang menimpa bangsa Indonesia tahun



1998 telah menyerat sebagian masyarakat ke lembah kemiskinan yang dalam.



Kemiskinan inilah yang berpengaruh terhadap dunia pendidikan di tanah air,



sebab kondisi yang demikian pendidikan cenderung diabaikan.





xiii

Kampus bagi mahasiswa adalah tempat yang tidak asing lagi,



sebab sebagian besar aktifitas perkuliahan yang bertatapan dengan Bapak dan



Ibu Dosen sering dilakukan di kampus. Dalam kampus ini terjadi proses



pembelajaran dan proses interaksi dengan mahasiswa yang lainnya.



Sebagaimana diketahui bersama bahwa manusia adalah makhluk sosial yang



tidak dapat hidup secara sendirian. Mahasiswa adalah makhluk sosial yang



tidak dapat dipisahkan dari komunitas manusia lainnya.



Menurut Parsons sekolah adalah tempat sosialisasi yang utama.



Seorang mahasiswa akan tumbuh dan berkembang melalui interaksi yang



dilakukan dengan orang lain. Sekolah sebagai tempat perkembangan



individu-individu dari berbagai komitmen dan kapasitas yang merupakan



syarat-syarat esensial dari kegiatan mereka dikemudian hari. Untuk bisa



bersosialisasi dalam masyarakat sekitarnya, mahasiswa dituntut untuk pandai-



pandai berinteraksi dengan mahasiswa lain di kampus. Pola interaksi yang



dilakukan manusia bisa melalui kontak sosial dan atau dengan komunikasi



(Soejono Soekanto,1998:174 )



Dalam interaksi akan ditemui permasalahan yang sangat kompleks,



baik itu masalah yang bersumber dari pribadi yang mempengaruhi interaksi



ataupun masalah yang datang dari luar (karena interaksi) yang ikut



mempengaruhi sosialisasi seorang mahasiswa dengan mahasiswa lainnya.



Masalah dari pribadi itu jelas, bahwa setiap individu mempunyai masalah



yang berasal dari dalam dirinya, karena manusia mempunyai karakteristik,



kepribadian, cara berpikir, status sosial (kelas sosial) berbeda-beda yang



berimplikasi pada keadaan sosialnnya.





xiv

Di sekolah terdapat golongan kelas sosial atas dan ada pula yang



golongan kelas sosial rendah (Horton,Hunt,1987:341). Keadaan ini banyak



dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. Jadi status sosial orang tua ikut



mempengaruhi kehidupan seorang anak, sebab status ini cenderung



berimplikasi pada diri anak. Pada masalah ekonomi misalnya, yang



berkedudukan mampu akan mudah diketahui pada tataran di lapangan. Ada



mahasiswa yang orang tuanya mempunyai kedudukan dimasyarakat tinggi dan



disegani dan ada pula orang tua berkedudukan rendah. Keanggotaan kelas



sosial di sekolah banyak tergantung pada latar belakang kelas sosial keluarga



murid (Horton, Hunt1987:341)



Menurut Heider (1958) bahwa perilaku seseorang dapat disebabkan



oleh kekuatan-kekuatan yang ada dilingkungan dan dalam diri manusia itu.



Kekuatan-kekuatan dari lingkungan berupa situasi yang menekan, sehingga



memunculkan perilaku tertentu, begitu juga dalam diri seorang mahasiswa,



situasi yang menekan baik situasi yang datang dari dalam dirinya ataupun



yang datang dari lingkungan, akan mempengaruhi sikap yang diambil yang



bisa diwujudkan dalam perilaku mahasiswa.



Pengaruh dari lingkungan bisa dari teman sebaya, komunitasnya,



atau institusi tempat ia berinteraksi. Bagi seorang mahasiswa pengaruh dari



lingkungan banyak dipengaruhi oleh mahasiswa lain, pergaulan di kampus



termasuk institusi pendidikan yang mereka tekuni. Adapun faktor dari dalam



diri bisa berupa kepribadian seseorang, kondisi ekonomi keluarga yang sangat



berpengaruh dalam diri seorang anak serta status sosial ( kedudukan) di



masyarat juga mempengaruhi perilaku seseorang.





xv

Dalam penelitian Maria Yulimah, rata-rata orang tua mahasiswa



Universitas Negeri Semarang (UNNES) memberi uang belanja putra-putri



mereka dengan rata-rata berjumlah Rp 226.700,- sedangkan kiriman uang



yang terkecil berjumlah sebesar Rp 150.000,00-(Maria Yulimah,2000:46).



Padahal Biro Pusat Statistik menggariskan kemiskinan terjadi apabila mereka



mengkonsumsi dalam sehari tidak lebih dari 1200 kalori. Prof. Dr. Pudjiwati



Sajogyo menyatakan bahwa penduduk miskin di pedesaan apabila dalam



sebulan mengkomsumsi beras 20 Kg/perkapita dan untuk daerah perkotaan



sejumlah 30/perkapita/perbulan (Pudjiwati Sajogyo,1985:82)



Padahal dengan kiriman yang terbatas tersebut mahasiswa harus



memenuhi kebutuhan hidup. Belum lagi kegiatan kampus yang banyak



mengeluarkan uang dan kebutuhan pribadi misalnya uang saku, uang



transport, membeli kebutuhan pribadi dan lain-lain, jelas ini akan menambah



pengeluaran yang harus ditanggung oleh seorang mahasiswa.



Lebih-lebih dalam realitas di lapangan ada sebagian mahasiswa



yang jumlah uang yang ia terima kurang dari itu perbulannya. Maka secara



otomatis mereka sangat kekurangan biaya dalam hal pembiayaan kuliah



ataupun biaya-biaya lainnya. Disinilah seorang mahasiswa telah mengalami



kemiskinan yang diakibatkan oleh keadaan.



Hollingshead (1949) telah mengadakan penelitian dari pengaruh



kelas sosial yang ada di sekolah. Dalam penelitian itu dapat diungkap bahwa



mereka yang berada kelas sosial bawah ternyata tidak berpartisipasi dalam



sejumlah kegiatan sekolah seperti pesta, seni tari, olahraga, kelompok minat,



drama dan jarang belajar serius (Horton,Hunt1987:341)





xvi

Dalam kondisi miskin tidak mendukung pelaksanaan pendidikan



dengan pendekatan struktural dan institusional (Emy Budiartati, 1994:56)



Pada sisi lain mahasiswa membutuhkan interaksi dengan mahasiswa lainnya.



Dengan demikian perilaku yang bagaimana yang mereka tunjukkan didalam



pemenuhan kebutuhan dan pada saat interaksi di kampus? Berdasarkan analisa



tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul :



“PERILAKU MAHASISWA DARI KELUARGA MISKIN DI KAMPUS



(Studi Kasus di Universitas Negeri Semarang)”







B. Permasalahan



Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka



penelitian ini akan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan mahasiswa yang



tergolong miskin didalam kampus baik itu saat perkuliahan ataupun pada saat



interaksi dengan mahasiswa lain termasuk dosen dikampus. Fokus penelitian



ini dapat dirumuskan ke dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:



Bagaimana perilaku mahasiswa dari keluarga miskin dalam pemenuhan



kebutuhan dan pada saat interaksi di kampus ?







C. Tujuan Penelitian



Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :



1. Perilaku mahasiswa dari keluarga miskin dalam pemenuhan



kebutuhan hidup, kebutuhan belajar dan kebutuhan pendidikan



2. Perilaku mahasiswa dari keluarga miskin pada saat interaksi di



kampus





xvii

D. Manfaat Penelitian



1. Manfaat Teoritis



Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai perilaku



mahasiswa dari keluarga miskin dalam pemenuhan hidup dan pada saat



interaksi di kampus.



2. Manfaat Praktis, yang bisa diambil dari penelitian ini adalah agar penelitian



ini bisa menjadi :



1. Bahan masukan bagi pihak Universitas ataupun fakultas terkait dengan



kebijakan yang diambil dalam menyangkut kebijakan yang berhubungan



langsung dengan mahasiswa ( biaya kuliah, SPL, biaya sarana pendidikan,



buku kuliah/diktat dll).



2. Sebagai bahan masukan bagi dosen terutama dalam mendidik yang akan



berhadapan dengan mahasiswa yang mempunyai latar belakang yang



berbeda-beda.



3. Sebagai bahan masukan bagi para mahasiswa dalam berinteraksi di



kampus bahwa teman sebaya secara stratifikasi (kelas sosial) belum tentu



sama, perbedaan ini pula akan sangat berpengaruh dalam interaksi yang



mereka lakukan di kampus.



4. Akan memberikan data dan informasi tentang pola perilaku (perbuatan,



tindakan, sikap) mahasiswa dari keluarga miskin terkait dengan



aktifitasnya.







E. Penegasan Istilah





xviii

1. Perilaku yang dimaksud adalah sikap dan tindakan yang diambil oleh



mahasiswa dari keluarga miskin di dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup



termasuk interaksi yang dilakukan, baik itu di kelas atau di luar kelas.



Sikap dan tindakan ini sangat mewarnai manusia pada umumnya. Perilaku



di sini dibatasi ketika ia memenuhi kebutuhan hidup dan saat berinteraksi



dalam wilayah kampus baik itu pada saat mengikuti perkuliahan ataupun



saat interaksi dengan dengan mahasiswa di kampus termasuk ketika ia



mengikuti kegiatan kampus dan kemahasiswaan.



2. Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi



(Depdikbud,1994:613). Dalam penelitian ini mahasiswa miskin berasal



dari keluarga yang secara ekonomi tergolong miskin yang dalam



pemenuhan kebutuhan tidak lebih dari 1200 kalori perhari.



3. Universitas Negeri Semarang (UNNES) adalah tempat yang menjadi



lokasi penelitian ini. Lokasi penelitian ini dilakukan di kampus Sekaran,



Gunung Pati.







F. Keterbatasan Penelitian



1. Penelitian ini adalah penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif



dan hanya dilakukan pada beberapa mahasiswa di Universitas Negeri



Semarang sehingga tidak dapat dijadikan generalisasi secara umum.



2. Responden dari penelitian ini hanya terbatas pada beberapa mahasiswa di



Universitas Negeri Semarang.









xix

BAB II



KAJIAN PUSTAKA









A. Konsep Perilaku



Belajar pada hakekatnya adalah sebagai perubahan tingkah laku,



sebab dengan belajar maka seseorang akan memperoleh pengetahuan baru.



Dengan adanya pengetahuan yang baru bisa berimbas pada sikap dan perilaku



yang diwujudkan dalam interaksi. Dengan belajar maka pengetahuan akan



bertambah sehingga dalam bertindak akan selalu memakai pengetahuan yang



dimilikinya. Reaksi yang berbeda dari reaksi yang sudah ada berarti dia telah



mengalami belajar. H.Carl Witherington juga mendefinikan belajar sebagai



proses untuk memperoleh gaya-gaya atau pola-pola tingkah laku.



Di dunia kampus para mahasiswa akan memperoleh pendidikan



dan interaksi yang luas. Sekolah adalah tempat sosialisasi yang utama (Frank



J. Mesllin,1984:68). Dan ini diperkuat dalam buku Pengantar Sosiologi oleh



Kamanto Sunarto yang menulis salah satu agen sosialisasi adalah sekolah



(Kamanto Sunarto,2004:27). Dalam sekolah seseorang akan mempelajari yang



belum pernah didapat dalam keluarga maupun dikelompok bermain.



Sekolah dalam masa sekarang ini cukup banyak menyita waktu



dalam kehidupan manusia. Di sekolah umum misalnya rata-rata dalam sehari



seorang murid menghabiskan waktu di sekolah selama 6 jam, ini belum



kegiatan lain. Maka pendapat Frank tersebut dapat dibenarkan. Interaksi dan



sosialisasi dengan manusia lain terjadi pula di dunia sekolah. Sosialisasi yang





xx

terjadi di sekolah bisa melalui pendidikan, pengajaran, indoktrinasi, pemberian



petunjuk dan nasehat. Perkembangan individu juga sedikit banyak dipengaruhi



apa yang didapatkan di dunia pendidikan.



Beberapa ahli mengartikan pendidikan pada dasarnya merupakan



pendewasaan dan pemandirian manusia secara sistematis agar setiap menjalani



kebudayaan secara bertanggung jawab (Buku Panduan KKN 2003:1). Belajar



pada hakekatnya adalah untuk mengubah tingkah laku. Dalam proses belajar



itulah terjadi interaksi antara individu dengan dunia sekitarnya. Dengan



interaksi ini maka individu akan mengalami pertukaran pengalaman, ilmu



pengetahuan dan sifat-sifat serta kondisi di luar dirinya. Sebagai hasil interaksi



maka jawaban yang terlihat dari seseorang individu akan dipengaruhi oleh hal-



hal atau kejadian-kejadian yang pernah dialami oleh individu tersebut maupun



situasi masa kini (Tulus Tu`u, 2004:63)



Dengan belajar maka akan diperoleh ilmu-ilmu yang baru mengenai



pengetahuan, sikap, tangkah laku, cara berpikir, cara bertindak dan lainnya.



Aktifitas belajar yang dilakukan seseorang itu sendiri membawa konsekuensi.



Karena dengan proses belajar yang dilakukan, maka seseorang akan



memperoleh perubahan tingkah laku. Akibat yang mungkin timbul dari



seseorang dalam proses belajar adalah:



1. Diperolehnya perubahan tingkah laku dalam diri orang itu.



2. Tidak diperolehnya perubahan tingkah laku



3. Terusaknya hasil belajar masa lalu



Seseorang yang melakukan proses belajar akan mengalami kondisi



yang telah disebutkan diatas. Pengaruh dalam diri seseorang besar tidaknya





xxi

masih tergantung dalam kondisi pribadi seseorang. Namun lingkungan dalam



hal ini sekolah juga ikut membentuk kedewasaan seseorang. Sebab lingkungan



sekolah adalah salah satu cara untuk membentuk kepribadian seseorang.



Dengan aktifitas belajar yang dilakukan seseorang diharapkan ada



perubahan menuju proses dan sikap yang lebih baik. Perubahan dari kegiatan



belajar menitikberatkan pada tiga hal yaitu:



1. Belajar memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku individu



2. Terjadinya perubahan yang merupakan buah dari pengalaman



3. Perubahan tersebut terjadi pada perilaku individu



Perubahan perilaku terjadi karena adanya rangsangan. Dengan



adanya rangsangan ini maka akan terjadi tanggapan. Seseorang yang



mendapat rangsangan akan memberikan tanggapan yang diberikan bisa positif



dan bisa negatif. Dengan tanggapan ini akan membawa ke konsekuensi



menuju tanggapan di masa yang akan datang yang dilakukan seseorang.



Dalam kamus Antropologi disebutkan bahwa perilaku adalah:



”Segala tindakan manusia yang disebabkan baik karena dorongan



organisasinya, karena tuntunan lingkungan alam, karena dorongan



organisme serta hasrat psikologinya maupun pengaruh masyarakat dan



kebudayaan” (A. Suyono, 1985:315)



Sedangkan definisi perilaku yang lain adalah :



”Perilaku adalah perbuatan, tindakan baik yang tersurat ataupun



tersirat untuk memperlakukan objek tertentu, baik dalam bentuk kata-



kata maupun tanda-tanda non verbal seperti gerakan badan, raut muka



dan sebagainya”





xxii

Menurut pendapat diatas perilaku seseorang bisa di lihat atau tidak



bisa dilihat (tersirat). Seorang yang sedang makan misalnya ia melakukan



perilaku yang dapat dilihat, sedangkan orang yang duduk diam dengan tenang



adalah contoh perilaku yang tersirat. Kita belum tentu tahu apa yang sedang ia



lakukan, apakah sedang termenung, sedang sedih, berpikir serius atau sedang



konsentrasi.



Soejono Soekanto menyatakan bahwa perilaku adalah



tindakan/perbuatan yang dilakukan untuk merealisasikan keinginan. Jadi



jelaslah bahwa keinginan (kebutuhan ) seseorang akan diperlihatkan di dalam



perilakunya Soejono Sekanto, 1998; 406). Perilaku ini bisa berujud perbuatan,



tindakan, sikap atau keyakinan. Dalam pendapatnya Soejono Soekanto ini



maka makin jelaslah bahwa perilaku yang dilakukan oleh seseorang pada



hakekatnya adalah untuk memenuhi keinginan. Dalam melakukan keinginann



seseorang akan melakukan tindakan, sikap dan perbuatan yang itu bisa



diartikan secara langsung oleh orang yang melihatnya dan bisa juga aktifitas



itu tidak bisa diartikan secara langsung oleh orang lain.



Menurut William F. O’neil dalam bukunya yang berjudul Idiologi-



Idiologi Pendidikan ( William, 2000; 50) membagi perilaku menjadi tiga



macam. Ketiga itu yaitu:



1. Perilaku Konatif



Adalah perilaku yang tersirat mempunyai tujuan, namun tidak secara



bertujuan semacam itu. Misalnya perilaku bayi yang menangis adalah



secara tersirat mempunyai tujuan, yang merupakan perwujudan



sasaran-sasaran tertentu (kepuasan), yang pada saat itu ia sendiri





xxiii

belum mampu menalarnya. Seorang bayi itu belum mampu untuk



mengerti tujuan dari yang dilakukannya.



2. Perilaku Valisional



Perilaku valisional adalah perilaku konatif yang disadari, dimana



individu benar-benar mempunyai tujuan dibenaknya. Seorang yang



pergi ke sekolah karena ia mempunyai tujuan untuk mencari ilmu.



Seorang mahasiswa menghemat pengeluaran keuangan karena ia tahu



dan mempunyai tujuan untuk menghemat pengeluaran yang didapat



dari orang tua atau karena ia bekerja. Dalam perilaku ini seseorang



sudah mampu berpikir dengan pertimbangan tertentu. Seseorang dalam



melakukan sesuatu sudah mempunyai kesadaran, manfaat, kegunaan,



baik buruk dan pertimbangan lainnya.







3. Perilaku Normatif



Perilaku normatif adalah perilaku yang diarahkan, secara tersirat



ataupun gamblang, oleh gagasan-gagasan tertentu ( konsep-konsep



abstrak atau sudut pandang) yang berkaitan dengan apa yang



umumnnya dianggap baik atau dikehendaki. Misalnya ketika seorang



pergi ke sekolah ia memakai seragam karena seragam adalah norma



yang sudah disepakati di sekolah itu. Pada perilaku ini seseorang



sudah mempertimbangkan dengan norma yang berlaku, baik itu



norma agama, adat, atau norma hukum yang berlaku di masyarakat



tersebut.









xxiv

Menurut model Heider (1958), perilaku seseorang dapat



disimpulkan disebabkan oleh kekuatan-kekuatan lingkungan (environmental



forces) atau kekuatan-kekuatan internal (termasuk disposisi) (Tri Dayakisni,



2003;47). Kekuatan-kekuatan lingkungan terdiri dari faktor situasi yang



menekan, sehingga memunculkan perilaku tertentu. Kekuatan-kekuatan



internal (personal forces) dilihat sebagai hasil kemampuan (ability), power,



dan usaha yang ditunjukan seseorang. Untuk lebih jelasnya dapat melihat



bagan di bawah ini :



Determinant of behavior



Is a function of



Behavior Environmental Personal forces =

forces (abilityxeffort)







Banyak perilaku yang muncul disekitar lingkungan kita seperti



perilaku dalam pergaulan, disiplin, pilihan makan, pilihan teman dan lain



sebagainya. Semua itu dapat dicermati dengan baik. Skema berikut dapat



menjelaskan terjadinya perilaku pada seseorang ( Fishbein dan Ajzen, dikutip



olehTri Dayakisni,2003; 125):









xxv

Keyakinan tentang Sikap yang

perilaku dan mengarah pada

evaluasi tentang perilaku

hasilnya





Keyakinan Norma norma

normative dan subjektif

motivasi untuk Niat Perilaku

mematuhi perilaku









Keyakinan tentang Sejauh mana control

kemudahan atau terhadap perilaku

kesulitan perilaku yang dipersepsikan

itu







Keyakinan seseorang dan evaluasi tentang hasilnya menjadikan sikap



yang mengarah pada perilaku, dengan adanya sikap akan melahirkan sikap



yang nantinya akan timbul perilaku seseorang. Begitu juga keyakinan



normative dan motivasi untuk mematuhi menjadikan seseorang mempunyai



norma-norma subjektif, norma subjektif ini juga dapat melahirkan niat



perilaku yang jika diteruskan dapat melahirkan perilaku pada seseorang. Pada



sisi lain seseorang akan percaya pada keyakinan tentang kemudahan atau



kesulitan perilaku itu.



Sedangkan salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk



berperilaku adalah karena adanya kebutuhan (R.A. Supriyono,2000:226).



Faktor lain menurut Drs. R.A. Supriyono S.U.Akt yang mendorong orang



untuk berperilaku adalah persepsi, motivasi dan pembuatan keputusan.



Kebutuhan adalah kesenjangan yang ada pada seseorang dan berusaha untuk





xxvi

dipenuhinya. Dengan kata lain kesenjangan adalah keinginan seseorang atau



harapan dengan kenyataan yang terjadi pada realita kehidupan. Dengan



adanya kebutuhan dari seseorang maka ia akan melakukan perbuatan, tindakan



atau sikap yang mencerminan pemenuhan kebutuhan itu. Seseorang akan



berusaha untuk memenuhi kesenjangan yang ada pada dirinya. Kebutuhan



yang dilakukan seseorang adalah salah satu karakteristik yang melekat pada



individu ( Miftah Thoha,2002)



Menengok pendapat yang dikemukakan oleh Soejono Soekanto



yang menyatakan perilaku merupakan perwujudan untuk merealisasikan



keinginan (hal 13) sangat berhubungan erat dengan pendapat yang



dikemukakan oleh Drs. R. A. Supriyono S.U. Akt diatas. Jadi perilaku



seseorang sangat erat dengan pemenuhan kebutuhan yang ada pada diri



seseorang yang mencerminkan keinginan seseorang. Dengan kata lain bahwa



perilaku seseorang adalah didasari oleh pemenuhan kebutuhan orang itu.



Proses pemenuhan kebutuhan ini bisa berupa perbuatan, tindakan atau sikap-



sikap inilah yang nantinya memunculkan perilaku pada seseorang.



Abraham H. Maslow mengungkapkan tentang kebutuhan-



kebutuhan pokok manusia yang dibagi menjadi lima tingkatan (Abraham H



Maslow,1984:39). Beberapa tingkatan yang dikemukakan oleh Abraham H.



Maslow adalah sebagai berikut:



1. Kebutuhan Fisiologis



Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang pokok bagi manusia, sebab



termasuk kebutuhan yang paling kuat ( Maslow,1984: 41). Kebutuhan



ini contohnya makan, minum, seks dan istirahat.





xxvii

2. Kebutuhan Rasa Aman



Setiap orang menginginkan keselamatan, bebas dari ancaman,



mendapat perlindungan dan lain sebagainya.



3. Kebutuhan Rasa memiliki dan cinta



Kebutuhan ini mencakup kebutuhan-kebutuhan akan cinta dan



mencintai, rasa memiliki, diterima dikelompoknya.



4. Harga diri



Kebutuhan harga diri mencakup rasa hormat tinggi, penghargaan,



gengsi, prestice, status, kemuliaan, pengakuan, dominasi, perhatian



dan apresiasi.



5. Kebutuhan Aktualisasi diri



Bahwa setiap manusia ingin selalu berkembang menuju yang lebih



baik lagi. Maslow memandang hal ini sebagai kebutuhan untuk



menjadi orang yang dicita-citakan dan dirasakan mampu



mewujudkannya-untuk memaksimalkan potensi dan mencapai sesuatu



yang didambakan.







Sedangkan Clayton P. Alderfer menemukan tiga kebutuhan pokok



manusia (Haroold Koontz,dkk,1984:127): kebutuhan keberadaan (Exestence



needs), kebutuhan pokok manusia (relatedness needs), kebutuhan



pertumbuhan (growth needs). Kebutuhan keberadaan mencakup seluruh



bentuk hasrat material dan fisiologis dengan segala variasinya seperti



makanan, air, gaji, dan kondisi kerja. Kebutuhan pokok berhubungan



mencakup kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, apakah itu





xxviii

dengan keluarga, atasan bawahan, kawan atau seteru. Kebutuhan pertumbuhan



adalah kebutuhan-kebutuhan yang mendorong seseorang untuk memilih



pengaruh yang kreatif dan produktif terhadap diri sendiri dan lingkungan



Lain lagi dengan McClelland, ia mengungkapkan ada tiga



kebutuhan manusia (Haroold Koontz,dkk,1984:127). Ketiga itu adalah:



1. Kebutuhan kekuasaan. Seseorang memiliki kebutuhan yang



tinggi untuk berkuasa, menaruh perhatian besar untuk dapat



mempengaruhi dan mengendalikan.



2. Kebutuhan berafiliasi. Orang-orang memiliki kebutuhan yang



tinggi untuk berafiliasi biasanya memperoleh kesenangan dari kasih



sayang dan cenderung menghindari kekecewaan karena ditolak oleh



kelompok sosial.



3. Kebutuhan berprestasi. Setiap orang ingin untuk berprestasi



memiliki keinginan besar untuk berhasil dan juga memiliki rasa



kuatir akan kegagalan.







Sudjana menindetifikasikan kebutuhan bagi para pelajar.



Menurutnya ada tiga kebutuhan yang melekat pada diri seorang yang sedang



belajar, ketiga itu yaitu:



1. Kebutuhan Kehidupan.



Sudjana memandang tiap manusia memelukan kebutuhan. Dalam



tulisannya Sudjana berpendapat kebutuhan manusia seperti yang ditulis



oleh Maslow. Hanya ia menekankan pada pendapat Maslow yang menulis



bahwa pemenuhan kebutuhan dilakukan atas dasar yang paling mungkin





xxix

dilakukan. Sehingga dengan pendapat ini kebutuhan manusia satu dengan



manusia lain belum tentu sama. Tiap manusia mempunyai kebutuhan yang



berdasar atas prioritas masing-masing individu. Kebutuhan seorang



mahasiswa dari keluarga miskin tentu saja akan berbeda bila dibandingkan



dengan kebutuhan seorang tukang becak.



2. Kebutuhan Pendidikan



Setiap orang pasti menginginkan kebutuhan akan pendidikan. Kebutuhan



pendidikan antara lain mencakup kepemilikan, peningkatan diri, minat



yang berhubungan dengan upaya serta minat yang berhubungan dengan



keamanan (Sudjana,2004: 216)



3. Kebutuhan Belajar



Kebutuhan belajar antara lain mencakup kebutuhan berkaitan dengan



pekerjaan, kegemaran dan rekreasi, keagamaan, pengausaan bahasan dan



pengetahuan umum, serta kebutuhan belajar berkaitan dengan



kerumahtanggaan, olahraga, informasi baru serta jasa.







Dalam penelitian ini akan diungkap tentang bagaimana perilaku



mahasiswa dari keluarga miskin terkait dengan pemenuhan kebutuhan yang



telah digariskan oleh Sudjana. Dengan adanya kebutuhan hidup seorang



mahasiswa, maka ia akan melakukan tindakan, perbuatan atau sikap, yang



akan memunculkan perilaku dari seseorang.



Antara sikap dan perilaku mempunyai hubungan yang sangat erat. ,



sebab perilaku merupakan ekspresi sikap seseorang. Sikap sudah terbentuk



dalam dirinya karena berbagai tekanan atau hambatan dari luar atau dalam





xxx

dirinya. Artinya, potensi reaksi yang terbentuk dalam diri seseorang yang akan



muncul berupa perilaku aktual sebagai cerminan sikapnya.



Sikap yang pada dasarnya terbentuk dari pengalaman interaksi



secara langsung dengan obyek sikap akan cenderung lebih konsisten dengan



perilaku daripada sikap yang terbentuk melalui cara lain (Tri Dayakisni,



2003;126). Ada dua hal yang menjadi alasannya; (1) Suatu sikap yang



berdasar pada pengalaman langsung kemungkinan berkaitan erat dengan self-



image, dan (2) Sikap ini lebih mudah diakses secara kognitif. Di samping itu



sikap biasanya lebih kuat dikukuhi ketika seseorang tersebut memiliki



kepentingan pribadi terhadap isu (obyek sikap) itu. Sikap ini juga secara



kognitif dapat diakses dan lebih jelas berkaitan dengan perilaku.



Jadi perilaku seseorang merupakan cerminan konkret yang tampak



dalam sikap, perbuatan dan kata-kata (pernyataan) sebagai akibat reaksi



seseorang yang muncul karena adanya pengalaman proses pembelajaran dan



rangsangan dari lingkungannya. Sikap, perbuatan dan kata-kata yang



dilakukan seseorang dapat positif dan negatif, baik atau buruk, benar atau



salah.



Jadi antara sikap, perbuatan atau kata-kata yang dilakukan manusia



mempunyai hubungan yang erat. Misalnya seseorang ketika marah maka sikap



yang diambil biasanya diam saja, bicara dengan nada tinggi atau memboikot



(ngambek; Jawa-penulis) pada orang disekitarnya. Jika seseorang sedang



gembira maka tindakannya mungkin tersenyum dan wajahnya nampak ceria.



Dalam penelitian ini ingin mengungkap bagaimana perilaku



mahasiswa dari keluarga miskin. Perilaku yang diteliti adalah perilaku yang





xxxi

merupakan dampak dari pengaruh kemiskinan yang melekat pada diri seorang



mahasiswa. Dalam penelitian ini akan diungkap perilaku mereka dalam



pemenuhan kebutuhan dan pada saat interakasi di kampus. Diharapkan



penelitian ini menghasilkan kajian untuk dipelajari.







B. Mahasiswa



Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk



mengembangkan kepribadian anak didik (Budiono, 1991). Dengan pendidikan



diharapkan dapat membentuk kepribadian manusia yang unggul dan lebih



maju. Hakekat pendidikan adalah belajar, tiap orang dituntut untuk belajar



untuk mengembangkan kepribadian yang mandiri dan dewasa dalam berpikir.



Hasan Al Banna memberi statement bahwa generasi muda pada



setiap bangsa merupakan tiang kebangkitan (Mahfudz Sidiq 2003:67)



mahasiswa adalah bagian dari generasi muda yang diharapkan sebagai tiang



kebangkitan (Agen of change) bagi pembangunan Indonesia. Mahasiswa



selalu dinanti kiprahnya didalam menggerakkan roda pembangunan. Peran



mahasiswa didalam pembangunan yang utama adalah belajar dengan giat dan



tekun



Dalam setiap diri mahasiswa tersimpan kekuatan dan potensi yang



besar. Kekuatan dan potensi yang besar ini jika dipupuk dengan benar maka



akan sangat bermanfaat dikemudian hari. Potensi inilah yang menjadi



tumpuan harapan baik orang tua, bangsa dan negara.



Mahasiswa adalah generasi dimasa yang akan datang. mahasiswa



adalah Iron Stock, sebagai cadangan bagi bangsa dimasa depan. Sebagai





xxxii

generasi yang akan datang maka ia perlu membekali diri dengan sebaik-



baiknya. Belajar giat, beraktualisasi yang positif adalah salah satu cara untuk



mempersiapkan ke arah yang lebih baik.



Selain itu mahasiswa bisa menjadi pelopor menuju kearah yang



baik (sebagai pembaharu). Mahasiswa bisa menjadi garda terdepan dalam



membangun tataran masyarakat yang berwibawa. Diharapkan kepeloporan



yang dimiliki mahasiswa adalah untuk membangun bangsa dan peradaban



masyarakat menuju ke arah yang lebih baik. Ide dan pemikiran mahasiswa



bisa berorintasi ke depan sehingga pemikiran dan tindakannya sangat



diperlukan untuk membangun masyarakat.



Mahasiswa memiliki ruang interaksi dan mobilitas yang luas baik



di dalam kampus maupun di luar kampus. Sebagai pemuda dan pemudi ia



akan mencari identitas diri dalam kehidupannya. Interaksi dan mobilitas yang



dilakukan mahasiswa bisa sebagai bentuk pencarian identitas seorang



mahasiswa. Mahasiswa juga mempunyai semangat yang tinggi dalam dirinya.



Di samping itu mahasiswa juga mempunyai idealis yang tinggi yang selalu



ingin diwujudkan dalam kehidupan. Hal inilah yang mendorong mengapa



mobilitas seorang mahasiswa tinggi.



Kelebihan mahasiswa di universitas adalah tidak sedikit yang



menjalani pergaulan informasi yang luas dan mendunia. Interaksi yang di



bangun tidak sedikit memerlukan penyesuaian baik keadaan dirinya,



lingkungan tempat ia berinteraksi. Penyesuaian ini membuat sikap dan



perilaku yang kadang berbeda satu dengan mahasiswa lainnya









xxxiii

Mahasiswa adalah sekelompok pilihan di masyarakat yang dapat



mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Sebab tidak seluruh



masyarakat usia sekolah dapat mengenyam ke jenjang perguruan tinggi.



Ketidakmampuan masyarakat ini disebabkan antara lain oleh keterbatasannya



sarana yang ada, kemiskinan, biaya yang relatif mahal, kesempatan yang



terbatas atau kerena faktor lain misalnya kecerdasan seseorang.







C. Kemiskinan dan Kebutuhan Hidup



Bagi sebagian besar masyarakat bisa melanjutkan sekolah ke



jenjang yang lebih tinggi adalah suatau hal yang istimewa. Sebab dunia



pendidikan identik dengan biaya tinggi, bahkan untuk perguruan tinggi negeri



sekalipun (Jawa Post 1 April 2003). Di samping itu ada kebanggaan tersendiri



bagai masyarakat jika dapat mengkuliahkan bagi putra dan putrinya di sebuah



perguruan tinggi.



Namun jika melihat realitas kehidupan di perguruan tinggi UNNES



misalnya, ternyata strata keadaan ekonomi orang tua mahasiswa berbeda. Ada



sebagian orang tua mahasiswa yang secara ekonomi mapan dan ada pula yang



sebaliknya ia berjuang keras untuk menghidupi kuliah anaknya karena



ekonomi yang rendah. Ada orang tua mahasiswa yang kaya, sedang dan ada



pula orang tua mahasiswa yang terjerumus ke lembah kemiskinan. Padahal



kekayaan adalah salah satu hal penting yang sangat menentukan dalam



pembagian lapisan sosial masyarakat (Soerjono Soekanto,1998:263).



Paul B Horton membagi kelas sosial di sekolah dua yaitu golongan



kelas sosial atas dan golongan kelas sosial rendah (Horton, Hunt,1987:341).





xxxiv

Mahasiswa yang kaya (golongan kelas atas) cenderung berbeda dalam hal pola



makan, gaya hidup, kebiasaan berbelanja dan kebutuhan kampus lainnya.



Sedangkan berlawanan terbalik dengan mahasiswa yang kurang mampu



(miskin; golongan kelas sosial rendah) dalam kehidupan dikampus akan ada



pola yang ia kembangkan berbeda dengan mahasiswa yang secara ekonomi



kaya. Mahasiswa miskin dalam hal makan, minum, gaya hidup, pergaulan



belum tentu sama karena faktor ekonomi seseorang bisa membuat perilaku



sikap yang dilakukan berbeda.



Pendidikan, pekerjaan dan pendapatan merupakan komponen-



komponen utama dari status kelas sosial atau status sosio ekonomi.



Pendapatan yang rendah akan berpengaruh terhadap kelas sosial pada dirinya,



hal ini telah dicontohkan pada mahasiswa kaya dan miskin di atas. Mahasiswa



yang kaya secara kelas sosial tentu saja lebih tinggi daripada mahasiswa yang



secara ekonomi pas-pasan atau miskin. Ketimpangan kelas sosial di dunia



pendidikan (sekolah) yang ada, banyak tergantung pada latar belakang kelas



sosial keluarga murid ( Horton,Hunt,1987:341). Kebanyakan sekolah memiliki



murid yang berasal dari kelas sosial yang berbeda-beda.



Strata kelas sosial yang berbeda inilah yang nantinya akan



mempengaruhi dalam perilaku yang diambil dari diri mahasiwa dalam hal



pemenuhan kebutuhan dan saat mengikuti proses perkuliahan. Menurut



Mathias Finger dan Jose Manuel Asun bahwa pendidikan orang dewasa erat



sekali dengan ”ekonomi” kehidupan sosial (Mathias Finger, Jose Manual



Asun, 2004 :181) Artinya bahwa keadaan ekonomi seorang mahasiswa akan



ikut terbawa dalam kehidupan di kampus. Mahasiswa yang orang tuanya





xxxv

berlatar belakang ekonomi mampu maka di kampus kemampuan itu bisa



menonjol. Mahasiswa kaya kebutuhan yang tidak penting atau tidak



mendesakpun akan mudah dipenuhi karena secara ekonomi ia berkecukupan.



Akan tetapi sebaliknya, mahasiswa yang secara ekonomi miskin



maka akan terlihat dalam pemenuhan hidup di kampus yang berbeda. Karena



mahasiswa yang miskin tentu harus pandai-pandai mengatur keuangan yang



minim. Ia akan membelanjakan pada pemenuhan kebutuhan yang prioritas



penting, sedangkan kebutuhan yang tidak penting atau tidak terlalu mendesak



akan ditunda dahulu.



Oleh karena itu murid-murid modern Weber menganggap



pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, lebih dari suatu variabel kelas atau



variabel status (Mifflen,1986:92). Sebagai suatu variabel status maka



pendidikan mengarah pada gaya hidup dan suatu pola yang komsumtif yang



menempatkan satu golongan atau tingkat status terpisah dari lain (



Mifflen,1986:92) Tak heran jika banyak pendapat bahwa sekolah –sekolah



adalah lembaga kelas menengah. Richer (1974 : 521), menerangkan bahwa hal



ini berarti bahwa ”...mereka memberikan kelangsungan sistem



stratatifikasi dengan menyampaikan nilai-nilai dan gaya hidup kelas



menengah”. Pandangan neo liberalis menganggap sekolah adalah sarana



kaum burjois atau kelas kapitalis. Dalam pandangan ini lembaga pendidikan



dikuasai oleh kaum elit yang menggunakannya terutama untuk mengadakan



batas-batas guna keanggotaan golongan status (Mifflen,1986:93). Status yang



dimiliki seseorang adalah satu sumber dari kekuasaan sosial yang melekat



pada dirinya.





xxxvi

Dalam pencapaian pendidikan tidak terlepas dari tiga komponen



yang sangat berpengaruh yaitu: kesanggupan, aspirasi dan kesempatan (



Mifflen, 1986 : 230). Kesanggupan dan kesempatan tidak semua dimiliki oleh



semua orang. Bagi yang secara stratifikasinya rendah dari sudut ekonomi



maka kesanggupan dan kesempatan adalah hal yang sangat susah diwujudkan,



artinya tidak semua orang bisa memenuhi ketentuan ini. Kesanggupan dan



kesempatan dalam kasus-kasus tertentu memerlukan hal yang lebih misalnya



kemampuan baik itu secara ekonomi, tenaga,dan pikiran serta ada peluang



sehingga ia bisa melakukan seperti itu.



Porter (1995) pernah meneliti yang menyajikan latar pendapatan



keluarga dari para mahasiswa. Hasilnya bahwa mereka yang berada pada



golongan pendapatan tinggi lebih banyak terwakili dan mereka yang golongan



pendapatan rendah ternyata kurang terwakili (Frank J Mifflen,1984:224)



Dengan kata lain bahwa kaum miskin sangat tidak sebanding didalam



menikmati kelangsungan pendidikan. Kalaupun bisa maka ia akan terjadi



kesenjangan yang jauh dengan golongan yang kaya apabila dilihat dari



kacamata ekonomi. Walaupun murid dari kelas sosial rendah memiliki



apresiasi dan rasa senang yang tinggi terhadap sekolah, sebagaimana halnya



murid dari golongan kelas sosial kaya, namun mereka lebih banyak mengeluh



karena keadaan sosial mereka. Mahasiswa miskin juga sering menampakan



citra negatif dan ragu-ragu terhadap kemampuan mereka.



Kalau kita tarik benang lurus dengan pendapat Paul B. Horton maka



penelitian yang dilakukan Porter ini maka terdapat benang merah (hubungan )



yang sangat erat. Sebab fungsi laten pendidikan adalah mempertahankan





xxxvii

sistem kelas sosial yang ada di masyarakat (Horton, Hunt,1987,340),



sedangkan kelas sosial merupakan cerminan gaya hidup. Tidak semua kelas



sosial rendah dapat mengenyam pendidikan dengan baik.



Masalah kemiskinan merupakan salah satu yang dihadapi oleh



manusia. Kemiskinan adalah suatu fakta sosial yang nyata ada di masyarakat,



ini bisa dilihat dengan pengamatan maupun dengan parameter tertentu untuk



mendefinisikan penduduk miskin. Sebagai fakta sosial maka individu



mempunyai perilaku yang berbeda dari karakteristik psikologis, biologis atau



karakteristik individu lainnya. Kemiskinan telah menjadi problem sosial yang



cukup pelik penangannya. Kemiskinan adalah musibah yang harus



dihapuskan dari masyarakat ( Rustam Effendi 2004:81)



Hasil Amerikan Episcopal Conference merumuskan ada tiga arti



kemiskinan, yang pertama adalah kemiskinan nyata; karena ketidakadilan,



manipulasi dan kekerasan. Kedua kemiskinan karena seseorang dianggap



bukan sebagai manusia (non person); sebab ia kehilangan hak untuk hidup



serta kebebasan menentukan pilihan. Dan ketiga adalah kemiskinan rohani; di



mana seseorang telah kehilangan kesadaran spiritual dan rasa solidaritas akan



sesamanya, terutama terhadap orang miskin dan mereka yang membutuhkan



pembebasan (CELAM di Medellin 1968, on Poverty; Kompas, 6 November



2004)



Secara singkat kemiskinan didefinisikan sebagai suatu standar



tingkat hidup yang rendah; yaitu adanya tingkat kekurangan materi pada



sejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang



umum berlaku dalam masyarakat.





xxxviii

Kemiskinan merupakan keadaan dimana seseorang tidak sanggup



memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga



tidak mampu memanfaatkan tenaga mental fisiknya dalam kelompok tersebut.



Penyebab utama kemiskinan adalah ketidakmampuan menghadapi



perubahan yang cepat dan radikal dan realitas yang baru dan kompleks,



ketidakadilan dalam sumber daya produktif, ketidakmampuan memanfaatkan



sumber daya produktif.



Dalam penelitian ini, penulis lebih tertarik dari definisi yang telah



dikemukakan oleh Parsudi Suparlan. Dengan standar hidup yang rendah maka



dalam realitas yang nampak seseorang akan mudah dikenali dan diidentifikasi



ke dalam kemiskinan itu. Dalam penelitian ini juga menggunakan rujukan



yang dikemukakan oleh Parsudi Suparlan. Sebab dalam realitas yang terjadi di



kampus kemiskinan mahasiswa ada bila dibandingkan dengan mahasiswa



yang secara ekonomi lebih mampu. Dan kesenjangan ini bisa dilihat dan



diidentifikasi dengan mudah dalam kehidupannya sehari-hari di kampus.



Kemiskinan adalah masalah multidimensional yang tidak saja



melibatkan faktor ekonomi akan tetapi juga faktor-faktor seperti sosial,



budaya dan politik. Secara sosial orang miskin juga akan membawa corak



yang berbeda bila dibandingkan dengan masyarakat yang secara sosial baik.



Begitu pula budaya yang dilakukan orang miskin akan berwarna lain (belum



tentu sama) jika dibandingkan dengan budaya orang kaya. Belum lagi budaya



yang membuat orang itu menjadi miskin yang dianut dalam suatu masyarakat.



Batasan kemiskinan yang menjadi tolok ukur kemiskinan relatif



dan tidak pernah selesai. Ukuran kemiskinan akan selalu berkembang





xxxix

mengikuti kemajuan. Ada yang mengukur kemiskinan dari tingkat biaya



komsumsi, ada juga dengan depresiasi atau kehilangan kemampuan, seperti



penurunan tingkat gizi, buta huruf, dan buruknya akses pelayanan pada



kesehatan. Beberapa ahli lain memandang kemiskinan dari pendapatan yang



diterima. Walaupun batasan kemiskinan relatif dan tidak pernah selesai untuk



dibicarakan, kemiskinan tetap menjadi bahan yang dapat untuk diteliti.



Biro Pusat Statistik (BPS) DKI memberikan indikator penduduk



kemiskinan dengan rumah berlantai tanah, luas rumah sempit, pola makan



tidak beganti-ganti dan tidak mampu membeli pakaian baru. Sedangkan Asia



Development Bank (ADB) mendefisikan kemiskinan dengan tingkat



pendapatan. Bila kurang dari US$ 2 (18.000,00) maka ia miskin. Dengan



standar ini jumlah penduduk miskin di Indonesia berjumlah 111.000.000 jiwa



Saat ini banyak cara pengukuran untuk mendefinikan batasan



miskin itu. Ada dua kategori tingkat kemiskinan, yaitu kemiskinan absolut dan



kemiskinan relatif. Operasionalisasi dari kemiskinan absolut juga masih dalam



berdebatan. Kemiskinan yang bersifat relatif dimungkinkan bisa berubah



menjadi tingkat prasejahtera atau bahkan sejahtera. Namun jika kemiskinan



sudah absolut pengentasan menuju ke arah yang lebih butuh waktu dan usaha



yang sungguh-sungguh.



Bank Dunia menetapkan bahwa garis kemiskinan adalah US$ 50



untuk daerah pedesaan dan US$ 75 untuk daerah perkotaan perkapita



pertahun. Sedangkan Prof. Soebagyo mengusulkan untuk pendekatan



kemiskinan dengan pendekatan absolut. Cara yang dikembangkan adalah



memperhitungkan standar kebutuhan pokok berdasarkan atas kebutuhan beras





xl

dan gizi. Biro Pusat Statistik menganggap orang miskin adalah mereka yang



dalam keseharian mengkonsumsi tidak lebih dari 1.200 kalori. Dengan



penghitungan seperti itu akan nampak penduduk yang tidak mampu untuk



memenuhi standar kebutuhan pokok yang secara otomatis ia digolongkan



hidup yang miskin.



Prof. Soebagyo mengklasifikasi strata penduduk menjadi sangat



miskin, miskin, hampir cukup dan cukup. Padahal dalam kondisi miskin tidak



mendukung pelaksanaan pendidikan dengan pendekatan struktural dan



institusional (Emy Budiartati, 1994:56).



Batasan pada penelitian ini bagi mahasiswa dari keluarga miskin



adalah pemenuhan kalori yang rendah kurang dari 1200 perhari, tingkat



pembiayaan kuliah yang dipandang mahal, tidak teraturnya administrasi



keuangan, minimnya kiriman uang dari orang tua, kurang dari Rp 225.700,00



(Maria Yulimah,2000:46), rendahnya akses pemenuhan gizi, rendahnya



pengeluaran kebutuhan, rendahnya partisipasi dan rendahnya motivasi,



diskrimanasi dan keterasingan sosial, rendahnya sumber daya produktif



keterbatasan dan kurangnya akses terhadap pendidikan dan layanan pokok



lainnya. Batasan untuk orang tua mahasiswa dari keluarga miskin



menggunakan pendapat prof Sajogyo yang mendefinisikan penduduk miskin



apabila mereka mengkomsu tidak lebih dari 20 Kg/ perkapita/perbulan untuk



daerah pedesaan dan 30 Kg/perkapita/perbulan untuk daerah perkotaan.



Dengan parameter diatas setidaknya bisa menjaring kriteria



mahasiswa dari keluarga miskin untuk dilakukan penelitian ini. Sebab



penelitian bisa diungkap dengan pendekatan yang baik dan konprehensif.





xli

Batasan ini lebih didasarkan pada keadaan sosial yang terjadi di



lapangan. Dalam realitas di lapangan mahasiswa dari keluarga miskin secara



umum masuk pada kriteria yang telah ditentukan di atas, memang tidak



seluruhnya definisi itu dipenuhi. Batasan mahasiswa dari keluarga miskin



terutama difokuskan pada keadaan kebutuhan pokok yang sangat minim,



kurang dari 1200 perkalori perhari. Serta hasil penelitian Maria Yuliana yang



rata-rata mahasiswa UNNES mendapat kiriman berjumlah Rp 225.700,00



menjadi rujukan dalam menentukan mahasiswa yang berasal dari kelurga



miskin. Serta komsumsi kebutuhan pokok 20 Kg/perkapita/perbulan untuk



daerah pedesaan dan untuk daerah perkotaan sebasar 30



Kg/perkapita/perbulan.



Kemiskinan memiliki wujud majemuk termasuk rendahnya tingkat



pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin kehidupan yang



berkesinambungan. Bagi seorang mahasiswa kondisi semacam ini sangat



benar-benar dirasakan dalam kehidupan di kampus. Dengan keuangan yang



minim mereka dituntut untuk bisa memenuhi standar kehidupan yang layak.



Ada dua macam permasalahan pendidikan di lapangan yang erat kaitannya



dengan kondisi ekonomi yang akan sangat berpengaruh terhadap anak didik.



Pendapat ini dikemukakan oleh Wardiman Djojonegoro (1993:7) yaitu:



1. Keterbatasan kemampuan ekonomi orang tua siswa untuk membiayai



pendidikan anak. Di samping itu terjadi benturan antara kepentingan



belajar di sekolah dan mencari nafkah dikalangan anak-anak dari



tingkat sosial ekonomi yang kurang mampu. Membagi waktu untuk



sekolah dan untuk bekerja kadang mengalami benturan





xlii

2. Tingginya angka drop out pada pelbagai tingkatan. Dalam dunia



kampus drop out juga ada, karena kemampuan seseorang akan



berkembang yang belum tentu pada posisi atas terus.



D. Interaksi Mahasiswa



Mahasiswa adalah manusia biasa yang membutuhkan manusia lain



dalam kelangsungan proses hidupnya. Untuk itu mahasiswa melakukan



interaksi dengan manusia lainnya baik itu dalam kampus dan di luar kampus.



Dengan interaksi ini mahasiswa bisa bertukar pengalaman, pengetahuan,



interaksi yang intim dan proses sosialisasi yang baik.



Interaksi merupakan suatu proses yang terjadi pada beberapa orang



yang mengerjakan sesuatu secara bersama atau saling membantu satu sama



lain dan disertai dengan proses bertindak berbicara dan berfikir. Interaksi akan



mempengaruhi arah individu dan dengan interaksi yang dilakukan dengan



cara nyata atau sembunyi, nampaknya sulit bagi seseorang untuk



mengendalikan atau mengarahkan kecuali dalam beberapa jumlah kecil situasi



(H.R. Riyadi Soeprapto,2002:187). Dari pendapat tersebut dapat kita tarik



kesimpulan bahwa pengaruh dari interaksi sangat kuat dalam mempengaruhi



diri seseorang. Dalam proses interaksi seseorang akan terpengaruh dari



lingkungan sekitar.



Bagi seorang mahasiswa diharapkan pengaruh yang masuk tentunya



diharapkan adalah pengaruh yang baik. Sebab pendidikan sekolah



mempersiapkan peran-peran baru dikemudian hari dikala tidak bergantung



pada orang tuanya (Kamanto Sunarto, 2004:27) Di samping sekolah



mengajarkan membaca, menulis dan berhitung, di sekolah anak didik





xliii

(mahasiswa) juga diajarkan aturan mengenai kemandirian ( Independence),



prestasi (achievment) dan universalitas (universalism) karena tujuan dari



pendidikan adalah untuk proses pendewasaan dan kemandirian siswa (Buku



Panduan KKN UNNES,2003: 1)



Seorang Dosen yang mengajarkan nilai-nilai pada mahasiswanya,



akan tetapi nilai itu akan berpengaruh efektif atau tidak, tergantung dalam diri



mahasiswa tersebut. Sebab nilai itu akan dibagi oleh mahasiswa dengan yang



lain seperti dunia interaksinya, dunia sosialnya, kelompok referensi dan



perspektif dari mahasiswa itu. Masing-masing komponen itu akan membentuk



perilaku mahasiswa di dalam pergaulan di kampus.



Interaksi yang dilakukan seorang mahasiswa bukan berarti



menghilangkan identitas sifat dari individu itu, akan tetapi justru sebaliknya



identitas pribadi tetap ada. Sebab sisi lain mahasiswa adalah manusia adalah



aktif dan berpikir, dan di sisi lain mereka menentukan arah mereka sendiri



dalam interaksi dengan orang lain dan dengan diri mereka sindiri (H.R. Riyadi



Soeprapto,2002:186 ). Identitas (kepribadian) seseorang tetap akan ada karena



manusia tidak bisa tenggelam dengan arus di lingkungannya.



Sebab seorang mahasiswa tidak hanya berinteraksi dengan orang



lain saja, namun juga berinteraksi dengan diri sendiri (sifat, karakter,



kepribadian). Interaksi dengan diri ini juga akan membentuk perilaku yang



belum tentu sama dengan yang lainnya. Interaksi yang dilakukan mahasiswa



adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus untuk menunjukkan



identitas dari seseorang.









xliv

Tiap mahasiswa mempunyai identitasnya sendiri baik itu karakter,



sifat yang ada dalam diri sendiri ataupun identitas yang melekat dalam diri



manusia berasal dari luar misalnya status sosialnya di mata manusia lain.



Perilaku individu dapat dipelajari dengan identitas yang muncul baik itu sifat,



sikap, kata-kata (pernyataan) atau perbuatan yang dilakukan mahasiswa.



Setiap individu akan berinteraksi dengan menggunakan simbol-



simbol yang didalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Demikian



yang diungkapkan oleh George Hambert Mead (1863-1931) dan Charles



Hartos Cooley (1846-1929). Dengan simbol manusia dapat mengekspresikan



kebebasan (H.R. Riyadi Soeprapto,2002:176). Dengan simbol manusia dapat



mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan keinginannya.



Interaksi dibagi menjadi tiga macam (H.R. Riyadi Soeprapto,



2002:188-191) yaitu:



1. Interaksi dengan lawan jenis, perkawinan dan keluarga. Interaksi



dalam lawan jenis misalnya persahabatan seorang lelaki dan seorang



perempuan. Interaksi dalam perkawinan apabila seseorang



melakukan interaksi atas dasar perkawinan yang dibentuk (rumah



tangga). Sedangkan interaksi dalam keluarga adalah interaksi yang



terjadi didalam satu keluarga. Hubungan dalam keluarga bisa timbal



balik dari anak ke orang tua, anak ke nenek, dan hubungan yang lain



yang terjadi dalam satu keluarga. Jumlah anggota dan fungsi



keluarga beragam ada yang hanya suami istri, suami istri dengan



anaknya, bahkan ada yang ikut serumah misalnya kakek-nenek.









xlv

2. Interaksi dalam kelas. Seorang Dosen yang berkumpul dengan



dosen-dosen lain misalnya, adalah salah satu interaksi dalam kelas



yang sama. Begitu juga interaksi yang dibangun oleh seorang



mahasiswa dengan mahasiswa lainnya dalam satu kelas adalah



contoh interaksi dalam kelas yang sama. Dalam penelitian ini juga



akan diungkap bagaimana mahasiswa dari keluarga miskin



berinteraksi dalam kelas yang sama.



3. Interaksi di luar kelas. Interaksi di luar kelas akan sangat



dipengaruhi oleh status seseorang (pendidikan, pekerjaan status



sosial dll). Misalnya seseorang yang secara ekonomi kaya akan



berpengaruh dalam interaksi yang dilakukannya. Hubungan orang



hitam dan kulit putih juga dapat memunculkan fenomena dalam



interaksi yang dilakukan. Penelitian ini akan mengungkap



mahasiswa miskin didalam berinteraksi di luar kelas yang terjadi



ketika ia mengikuti kegiatan di kampus.







Interaksi merupakan kunci dari proses sosialisasi yang dilakukan



oleh manusia. Dengan sosialisasi individu dapat hidup dan bertingkah laku



sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat di mana



individu itu berada. Sosialisasi yang dilakukan juga untuk memenuhi



kebutuhan dan keinginan dari individu itu. Mahasiswa dari keluarga miskin



tetap mengadakan sosialisasi untuk memenuhi keinginan misalnya pengakuan,



kerja sama, komunikasi dia dihadapan teman-temannya.









xlvi

Terjadinya interaksi karena faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan



simpati (Soejono Soekanto,1998:69). Faktor imitasi memungkinkan seseorang



untuk bertingkah laku dengan norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku



dalam tatanan masyarakat. Dengan norma dan kaidah-kaidah yang ikuti maka



ia akan mudah diterima dalam satu kelompok.



Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi pandangan



atau satu sikap yang berasal dari dirinya dan diterima oleh orang lain.



Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri



seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Sedangkan proses simpati



merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain.



Sistem interaksi yang dilakukan seseorang di sekolah sekurang-



kurangnya ada tiga perspektif (Horton,Hunt,1987:340) Ketiga yang



dikemukakan oleh Paul B. Horton itu adalah:



1. Hubungan antara orang dalam dengan orang luar.



2. Hubungan antara orang-orang dalam yang memiliki kedudukan berbeda.



3. Hubungan antara orang-orang dalam yang memiliki kedudukan sama.



Faktor–faktor yang mempengaruhi interaksi menurut Karp dan



Yoels adalah warna kulit, usia, serta penampilan, bentuk tubuh penampilan



busana dan percakapan (Kamanto Sunarto,2004:42). Untuk lebih jelasnya



akan dijelaskan dibawah ini:



1. Warna kulit. Menurut Karp dan Yoels ciri yang dibawa sejak lahir oleh



manusia adalah jenis kelamin, usia dan ras sangat menentukan interaksi.



Dalam masyarakat yang menganut paham diskriminasi (apartheid) maka



hal ini sangat terlihat dengan jelas. Namun bagi bangsa Indonesia





xlvii

diskriminasi ras sudah tidak berlaku lagi, walaupun ada sebagian



masyarakat yang masih memandang suku tertentu dengan sebelah mata.



2. Usia. Usia merupakan faktor yang menentukan dalam pola interaksi.



Interaksi antara orang tua dengan interaksi orang muda berbeda. Orang



muda akan menaruh hormat kepada yang lebih tua, dan orang tua sering



lebih berkasih sayang dan perhatian terhadap orang muda.



3. Jenis kelamin. Jenis kelamin sangat mempengaruhi interaksi. Laki-laki



lebih berkumpul dengan laki-laki daripada dengan perempuan akan lebih



mudah, ini dalam suasana normal tanpa ikatan apa-apa (perkawinan,



pacaran)



4. Penampilan fisik. Selain dari ciri-ciri yang dibawa sejak lahir maka



penampilan juga penting dalam mempengaruhi interaksi, demikian yang



dikemukakan oleh Karp dan Yoels (Kamanto Sunarto,2004:43)



5. Bentuk tubuh. Dalam penelitian yang dikemukakan oleh Wells dan



Siegal bahwa orang cenderung menganggap adanya keterkaitan antara



bentuk tubuh dan watak manusia.



6. Pakaian. Pakaian adalah faktor yang dapat mempengaruhi dalam



interaksi. Seseorang yang mengenakan pakaian jas tentu dipandang akan



lebih elegan daripada dengan kaos oblong. Bagitu juga dalam kampus



pakaian yang mahal, baik, bermutu bisa di lihat didalam interaksi di



kampus. Mahasiswa dari keluarga miskin dalam pakaian cenderung



sederhana, murah dan tujuan utama adalah untuk melaksanakan pokok



pakaian yaitu menutupi tubuhnya. Sedangkan orang yang mampu tentu









xlviii

akan lebih dari itu, ia memakai pakaian disamping menutupi bagian



tubuhnya tapi juga untuk mode dan prestice.



Dalam penelitian ini akan diungkap tentang hubungan orang-orang



yang memiliki kedudukan yang berbeda. Penelitian ini akan mengungkap



interaksi mahasiswa dari keluarga miskin dengan mahasiswa dari keluarga



yang tidak miskin (golongan kelas sosial atas) dan interaksi dengan lainnya



dalam hal pemenuhan kebutuhan dan pada saat interaksi. Sekolah bisa



diartikan sebagai kumpulan sejumlah orang yang menjalankan peranan dan



saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Mahasiswa dari keluarga



miskin yang merupakan bagian integral dari kampus juga akan menjalankan



peranannya dan saling berkerja sama untuk kemajuan kampus.









xlix

BAB III



METODE PENELITIAN







Metode penelitian pada dasarnya merupakan serangkaian langkah



yang digunakan dalam proses penelitian. Dengan penelitian ini diharapkan



pokok permasalahan yang akan diteliti dapat dengan mudah dipahami dan



dijawab.







A. Jenis dan Pendekatan Penelitian



Jenis penelitian yang dilakukan ini adalah jenis penelitian



kualitatif. Sebab strategi yang digunakan dari penelitian ini adalah dengan



pokok pertanyaan dengan “How” dan “Why”. Menurut Bognan dan Biklen



dalam Moleong penelitian dengan pendekatan kualitatif memiliki ciri-ciri,



yaitu:



1. Dilakukan pada latar yang alami, karena alat yang penting adalah



adanya sumber data yang diambil langsung dari perisetnya,



2. Bersifat deskriptif yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata



atau gambar daripada angka,



3. Lebih memperhatikan proses daripada hasil atau produk semata,



4. Dalam mengalisis data cenderung secara induktif dan



5. Lebih mementingkan makna yang ada.









B. Lokasi Penelitian





l

Tempat yang menjadi fokus penelitian ini adalah di Universitas



Negeri Semarang tepatnya di Kampus Sekaran Gunungpati Semarang



50229. UNNES terdiri dari Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam



(FMIPA), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Tehnik (FT), Fakultas



Ilmu Sosial (FIS) dan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) serta Fakultas



Bahasa dan seni (FBS) yang menjadi lokasi dari penelitian ini.



Di Universitas Negeri Semarang ada enam fakultas yang satu



dengan lainnya berdekatan. Dalam penelitian studi kasus ini secara



kebetulan ada lima lokasi yang dijadikan fokus untuk penelitian ini yaitu



Fakultas Ilmu Pendidikan ,Fakultas Ilmu Sosial,Fakultas Tehnik, Fakultas



Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Fakultas Ilmu Keolahragaan.



Pemilihan lokasi ini hanya kebetulan saja, sebab fokus yang menjadi objek



penelitian studi kasus adalah mahasiswa yang kebetulan berasal dari fakultas



tersebut.







C. Subjek Penelitian



Subjek dari penelitian ini adalah sebagian atau wakil yang akan



diteliti. Subjek dalam penelitian studi kasus ini diambil secara acak pada



fakultas yang ada di UNNES. Jumlah keseluruhan subjek yang akan diteliti



pada penelitian studi kasus ini sejumlah 5 orang. Mereka adalah berasal dari



5 fakultas dari 6 fakultas , mereka adalah mahasiswa yang masuk kriteria



yang telah ditetapkan.



D. Sumber data









li

Dalam penelitian kali ini yang menjadi sumber data di bagi



menjadi dua macam. Sumber data kedua itu yaitu:



1. Data Primer, 5 orang akan menjadi subjek penelitian ini yang secara



realita kondisinya adalah miskin secara ekonomi. Kelima orang ini



secara kebetulan berasal dari Fakultas Ilmu Pendidikan satu orang dan



satu orang dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, satu



orang dari Fakultas Tehnik, satu orang dari Fakultas Ilmu Sosial dan satu



orang lagi dari Fakultas Ilmu Keolahragaan. Di samping itu ada 2 orang



informan pendukung yang salah satu dari mahasiswa yang secara realitas



tidak miskin dan teman dekat salah satu informan utama dan salah satu



dosen pengajar yang akrab dengan salah satu informan dan secara



kebetulan merangkap juga sebagai Pembina kemahasiswaan.



2. Data Sekunder; data yang diperoleh secara tidak langsung dalam



penelitian ini baik dari literatur, brosur ataupun sumber lain yang



mendukung.







E. Tehnik Pengumpulan Data



Dalam sebuah penelitian yang dilakukan ada beberapa cara atau



metode dalam pengambilan data. Untuk memperoleh data dalam penelitian



ini, menggunakan beberapa metode yang digunakan yaitu:









1. Wawancara









lii

Dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara yang



didefinisikan oleh Moleong. Wawancara merupakan tehnik pengumpulan



data dimana terjadi komunikasi secara verbal antara pewawancara dengan



subjek wawancara (Moleong, 2001:135). Wawancara dalam penelitian ini



adalah tehnik yang utama dalam pengambilan data. Dengan wawancara di



harapkan data yang didapat sesuai dengan fokus penelitian.



Beberapa keunggulan dari tehnik wawancara yang digunakan pada



penelitian ini adalah:



a. Dalam penelitian sosial dan bidang psikologi, metode ini hampir selalu



digunakan sebagai metode yang utama, atau sekurang-kurangnya sebagai



pelengkap.



b. Merupakan metode yang efektif guna menggali fenomena psikis,



khususnya yang ada di bawah sadar dan pada ketidaksadaran, serta untuk



menilai keadaan seseorang.



c. Dapat sekaligus dipakai untuk mengadakan observasi terhadap tingkah



laku pribadi. Dengan wawancara akan diperoleh tingkah laku responden



secara nyata.



Ada beberapa kelemahan jika suatu penelitian menggunakan metode



dan tehnik wawancara. Kelemahan dari metode wawancara adalah sebagai



berikut:



a. Dalam pelaksanaannya metode ini kurang efisien karena boros waktu,



energi pikiran dan pembiayaan



b. Dalam melakukan wawancara seseorang dituntut adanya penguasaan



bahasa yang cukup baik pada pewawancara.





liii

c. Suksesnya interview sangat tergantung pada suasana hati atau stemming



interview, pada kesediaan, kemampuan dan keadaan personalnya yang



momentum. Kesalahan dalam memilih waktu misalnya akan berdampak



pada hasil wawancara yang dilakukannya.



d. Ada kalanya pewawancara kurang atau tidak mampu menembus pikiran



perasaan objek, sehingga datanya kurang lengkap.



Ada beberapa model yang sering digunakan dalam pengumpulan



data menggunakan tehnik wawancara. Model wawancara yang sering



digunakan dalam penelitian adalah :



1. Wawancara oleh team atau panel



2. Wawancara tertutup atau wawancara terbuka



3. Wawancara riwayat secara lisan.



4. Wawancara terstrukstur.



Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah wawancara



model terbuka. Dengan metode yang terbuka ini diharapkan akan



diperoleh satu informasi yang asli dan sesuai dengan yang diharapkan.



Metode ini subjek wawancara tahu dari tujuan dan maksud pewawancara



dalam kegiatan ini (Moleong,2001:137)



2. Observasi



Observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan atau



melihat langsung perilaku individu dalam situasi atau selang waktu yang



sebenarnya tanpa adanya manipulasi atau mengontrol perilaku individu itu



ditampilkan. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah



observasi partisan yang bertujuan untuk menjaring perilaku individu





liv

terjadi dalam kenyataan sebenarnya. Observasi ini juga untuk



mendiskripkan kehidupan sosial yang sebenarnya.



Kegiatan yang dilakukan dalam observasi ini adalah sebagai



berikut ini:



1. Mengamati kondisi dan keadaan kelima fakultas yang menjadi



objek penelitian ini. Kelima orang ini adalah satu orang berasal



dari Fakultas Ilmu Pendidikan, satu orang dari Fakultas



Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, satu orang dari Fakultas



Tehnik, satu orang dari Fakultas Ilmu Sosial dan satu orang lagi



dari Fakultas Ilmu Keolahragaan.



2. Mengamati perilaku dan sikap yang dilakukan mahasiswa dari



keluarga yang tergolong miskin dalam pemenuhan kebutuhan dan



saat mengikuti perkuliahan maupun saat berinteraksi di kampus.







3. Dokumentasi



Suharsimi Arikunto (1992:23) mengatakan bahwa dokumentasi



adalah data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan,



transkip,buku, surat kabar, majalah, prasasti,notulen rapat, legger,



agenda dan sebagainya.



Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber



non insani, dimana sumber ini terdiri dari rekaman dan dokumen



(Sonhaji dan Arifin,1996:82). Dokumentasi sebagai suatu metode



pengumpulan data yang digunakan dengan cara mengadakan pencatatan



data dan dokumentasi yang ada di lokasi penelitian.





lv

Alasan menggunakan metode dokumentasi sebagaimana yang



dikemukakan oleh Lincoln dan Guba dalam Moleong (1995) adalah



karena:



a. Dokumentasi dan record merupakan sumber yang stabil, kaya dan



mendorong,



b. Berguna sebagai bukti untuk suatu kejadian karena menunjukkan



fakta yang telah berlangsung dan mudah di dapat.



c. Memiliki sifat ilmiah yang cukup tinggi karena tingkat kepercayaan



dan keabsahan yang tinggi.



d. Murah dan mudah diperoleh dan



e. Tidak sukar untuk ditemukan







F. Keabsahan data



Untuk memperoleh keabsahan data maka dilakukan dengan analisis



data yang ada. Analisis ini tidak saja merupakan tindakan yang logis



pengumpulan data, akan tetapi merupakan proses yang tak terpisahkan dari



pengumpulan data. Proses analisis ini dimulai dengan menelaah seluruh data



yang telah terkumpul, yaitu dari informan kunci hasil wawancara yang sudah



dilakukan, dari hasil pengamatan yang tercatat dalam berkas lapangan, dan



hasil dari studi dokumentasi (Moleong,2001:209)



Tehnik- tehnik yang sering digunakan didalam melacak atau untuk



membuktikan kebenaran adalah dengan ketekunan pengamatan di lapangan



(persistent observation), triangulasi (triangulation), pengecekan dengan



teman sejawat (peer debriefing), analisa terhadap kasus-kasus negatif





lvi

(negative case analysis), referensi yang memadai (revential adequacy) dan



pengecekan anggota (member check).



Dari tehnik yang ada maka penelitian ini menggunakan



pengamatan lapangan dan triangulasi sebagai sumber untuk mencari



keabsahan data. Dengan tehnik pengamatan beberapa kali datang ke lokasi



untuk mengamati secara langsung tentang perilaku mahasiswa yang menjadi



objek penelitian. Sedangkan triangulasi dilakukan dengan memanfaatkan



sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai



pembanding terhadap data tersebut. Dengan demikian akan diperoleh satu



hasil yang benar-benar merupakan hasil temuan di lapangan.



Proses yang dilakukan dalam penelitian ini ditempuh dengan cara



mereduksi data. Adapun cara mereduksi data adalah sebagai berikut:



1. Mengumpulkan data yang diambil dari wawancara, observasi dan



dokumentasi kemudian dipilih sesuai dengan kemiripan data.



2. Data yang sudah diklasifikasikan tersebut diorganisir untuk bahan



penyajian data.



Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah penyajian data.



Dengan caara ini dimungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan



pengambilan tindakan.







G. Analisia data



Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia



dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah tertulis









lvii

dalam catatan harian di lapangan, hasil observasi dan lain sebagainya



(Moleong,1989:209)



Langkah menganalisis data adalah dengan menarik kesimpulan



atau verifikasi, yaitu sebagian dari suatu kegiatan konfigurasi yang utuh.



Kesimpulan yang diambil tentu saja berdasar pemahaman terhadap data



yang telah disajikan dan dibuat dalam pernyataan singkat dan mudah



dipahami dengan mengacu pada pokok permasalahan yang diteliti.



Cara yang diambil dalam analisi ini adalah setelah data terkumpul



semua baik itu wawancara, pengamatan yang sudah tertulis dalam catatan



harian di lapangan, hasil observasi dan lain sebagainya ditabulasi. Setelah itu



peneliti melakukan pengelompokan-pengelompokan jawaban. mengacu pada



parameter yang telah ditentukan Dengan cara seperti ini diharapkan akan



mempermudah penarikan kesimpulan dan tidak dilakukan secara berulang-



ulang. Kelengkapan data yang utuh juga memudahkan di dalam menarik



kesimpulan.









lviii

BAB IV



HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN









A. Gambaran Umum



Universitas Negeri Semarang atau disingkat UNNES adalah salah satu



universitas yang tergolong baru, tepatnya pada tahun 2000 nama Institut



Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (IKIP Semarang) diubah menjadi



Universitas Negeri Semarang (UNNES). Perubahan ini didasarkan pada surat



keputusan presiden no. 124 Tahun 1999 tentang perubahan IKIP Semarang



menjadi Universitas Negeri Semarang. Sampai sekarang jumlah fakultas yang



ada masih tetap sama ketika masih berbentuk IKIP Semarang, hanya saja



fakultas-fakulras yang telah berganti nama. Ini seiring dengan makin besarnya



tugas yang diemban ketika menjadi universitas.



Walaupun telah berubah menjadi sebuah universitas konsep LPTK



( Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan ) tetap dijalankan dan ini



menjadi keunikan tersendiri bagi UNNES bila dibandingkan dengan



universitas lain yang ada. Memang hampir Institut Keguruan dan Ilmu



Pendidikan (IKIP) yang menjadi sebuah universitas tetap mempunyai tugas



untuk mencetak guru yang dibutuhkan dimasyarakat di samping juga memberi



materi yang bersifat non kependidikan. Dilembaga ini guru dicetak secara



profesional sesuai dengan bidangnya untuk di terjunkan di masyarakat sebagai



tenaga pendidik yang handal.









lix

Dan di Universitas Negeri Semarang berbagai rumpun ilmu



pengetahuan diajarkan seperti tehnologi, olahraga, seni, budaya ilmu



pengetahuan murni dan lain-lainnya, baik yang bersifat pendidikan maupun



non pendidikan semua dikelola dengan baik. Bila dilihat dari 42 program studi



yang sedang berjalan di UNNES baik itu program D2, D3, S1 dan program



S2, 24 program studi yang dibuka diantaranya adalah program yang bersifat



pendidikan. Maka tak heran jika 70% lebih mahasiswa UNNES adalah calon



pendidik (guru).



Universitas Negeri Semarang pada tahun akademik 2003/2004



memiliki mahasiswa sejumlah 16.658 orang. Dari jumlah tersebut 15.140



orang diantaranya adalah mahasiswa program kependidikan dan 1.518



mahasiswa yang memilih program non pendidikan. Rata-rata mereka masuk



UNNES melalui SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang



dilakukan dengan dua jalur, di samping itu ada juga yang melalui pintu Ujian



Masuk Universitas Negeri Semarang atau biasa disingkat UMU. Jenis ujian ini



bersifat lokal mandiri.







A. 1. Goegrafis Kampus UNNES



Untuk menuju kampus Universitas Negeri Semarang ada tiga jalur



utama yang dapat dipilih. Jalur yang pertama adalah dari kota Ungaran. Dari



kota Kabupaten Semarang ini, UNNES berjarak kurang lebih 10 Km ke arah



utara. Alat transportasi untuk menuju UNNES dari kota Ungaran masih



berplat hitam yang sekali jalan. Tetapi jika ingin menggunakan plat kuning









lx

maka harus berganti kendaraan di desa Sumur Jurang. Baru dari Sumur



Jurang bisa menggunakan mobil Daihatsu kuning (angkot) atau minibus .



Jalur masuk ke UNNES yang kedua dari jalur Sampangan, atau



Jatingaleh yang jalan itu bergabung di desa Sukorejo, tepatnya di dekat



Jembatan Kali Garang. Untuk alat transportasi disini lancar dan berplat kuning



(resmi) dan yang terakhir dari arah Gunung Pati, namun jika menggunakan



jalur Gunung Pati yang tembus ke perumahan Sekar Gading maka tak ada



angkutan umum. Satu satunya jalan adalah dengan ojek yang tentunya dengan



biaya yang relatif mahal. Kampus UNNES bila melihat secara letak memang



sedikit terisolasi, sebab jauh dari kota dan sarana angkutan umum juga



terbatas terutama pada malam hari.



Universitas Negeri Semarang sebenarnya berada di sebelah barat



Banyumanik persis, sebuah kecamatan di kota Semarang yang tergolong ramai



bahkan bisa di sebut kota Semarang Atas. Akan tetapi karena dibatasi oleh



jurang sungai Kaligarang yang memisahkan bukit Srondol dan bukit Sekaran.



Akibat adanya jurang pemisah ini praktis maka hubungan dari Banyumanik ke



Kampus amat sulit. Baru-baru ini pemerintah akan membuat jembatan yang



menghubungkan Banyumanik dan Kampus namun realitasnya masih



menunggu.



Sedangkan dibagian barat UNNES, ada hamparan sawah dan lahan



pertanian yang luas. Perumahan Sekar Gading disisi selatan sedang



berkembang pesat. Pada bagian barat pepohonan hijau masih banyak yang



tumbuh. Sedangkan sebelah selatan ada desa Patemon yang mulai ramai akibat



imbas pembangunan kos-kosan yang mulai ramai ke arah selatan kampus.





lxi

Sebelah utara ada kebun binatang Tinjomoyo yang sedang dipindah. Di



sebelah utara juga terdapat perumahan Trangkil yang banyak dihuni oleh



kaum menengah dan sedikit saja yang dijadikan kos-kosan mahasiswa.







A. 2. Komposisi sivitas akademika UNNES



Komposisi sivitas akademika di UNNES dapat dikelompokan



menjadi tiga macam yaitu, kelompok mahasiswa, dosen dan karyawan.



Karyawan di sini termasuk tenaga administrasi dan pustakawan yang ada di



UNNES. Jumlah komposisi sivitas akademika Universitas Negeri semarang



secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini:







Tabel 1 Komposisi Sivitas UNNES



Keadaan tahun 2003/2004



No. Komposisi Mahasiswa Dosen Karyawan



1. FIP 3.144 137 31



2. FBS 2.520 131 25



3. FIS 3.809 164 27



4. FMIPA 2.432 174 36



5. FT 2.503 144 37



6. FIK 1.096 63 30



7. PPs 551



8. Rektorat,UPT dll 253



Jumlah 16.658 813 428



Sumber: Laporan Tahunan Rektor 2004



Dari data yang ada di atas dapat kita lihat komposisi sivitas



akademika di UNNES. Untuk mahasiswa terbanyak ditempati oleh Fakultas



lxii

Ilmu Sosial dengan jumlah mahasiswa 3.809 mahasiswa dan Fakultas Ilmu



Keolahragaan menduduki peringkat terkecil dengan jumlah 1.096



mahasiswa. Untuk Fakultas Ilmu Pendidikan berjumlah 3.144 mahasiswa,



sedangkan Fakultas Bahasa dan Seni berjumlah 2.503 mahasiswa.



Sedangkan Fakultas Tehnik secara berjumlah 2.503 mahasiswa.



Dosen terbanyak ditempati oleh FMIPA dengan jumlah dosen



174 orang disusul oleh FIS yang jumlah dosennya secara keseluruhan



berjumlah 164 orang. Fakultas Ilmu Pendidikan dan FBS hampir sama



jumlah dosen yang dipunyai yaitu untuk FIP berjumlah 137 orang dan FBS



berjumlah 131 orang. FIK menduduki peringkat terkecil jumlah dosen yang



berjumlah 63 orang.



Untuk Tenaga Administrasi terbanyak di luar fakultas dengan



jumlah 253 orang. Mereka tersebar di satuan kerja yang ada, seperti di



BAAKPSI berjumlah 95 orang, di LPM berjumlah 56 orang, Pustakawan



berjumlah 24 orang. UPT Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) berjumlah



15 orang dan di Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LEMLIT),



Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM), UPT Komputer, serta UPT



Perpus masing masing berjumlah 10 orang.









3. Sarana dan Prasarana kampus UNNES



Untuk mendukung proses perkuliahan ataupun peningkatan mutu



pelayanan yang baik, sarana dan prasarana yang ada di kampus ini terus





lxiii

dibenahi. UNNES sedang membangun auditorium senilai 3 milyar rupiah di



samping rektorat. Selain itu wajah UNNES juga dihias dengan pagar masuk



yang kian rapi. Selain itu Fakultas Bahasa dan Seni sedang membangun



gedung dekanat untuk meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa. Untuk



Fakultas Ilmu Sosial juga sedang merampungkan gedung dekanat,



sedangkan FMIPA yang sedang gencar membangun laboratorium.



Sedangkan fakultas ilmu pendidikan sedang membangun gedung pertemuan



di belakang gedung dekanat.



Tujuan utama dari pengadaan sarana dan prasarana adalah untuk



meningkatan mutu proses pengajaran yang di lakukan di kampus ini.



Berbagai sarana penunjang seperti laboratoirum, masjid, lapangan olahraga



dan yang lainnya, terus dipelihara dengan baik. Sarana dan prasarana ini



bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan terutama untuk mahasiswa



sehingga mutu lulusannya selalu meningkat.



Prasarana pendidikan di UNNES terus di manfaatkan oleh segenap



civitas akademika baik dosen, mahasiswa ataupun karyawan secara optimal



sehingga peningkatan mutu lulusan UNNES semakin baik, termasuk mutu



perkuliahan yang dapat berjalan dengan baik. Tidak hanya pemanfaatan saja



akan tetapi, perawatan juga tetap diperhatikan sehingga penggunaannya bisa



tahan lama. Adapun prasarana yang ada di kampus untuk mendukung



keberhasilan kuliah dapat di lihat di bawah ini:



Tabel Prasana Pendidikan Kampus

Keadaan tahun 2003/2004



Fak/unit kerja Ruang Ruang Ruang Ruang Ruang Ruang Ruang

kuliah Lab Studio seminar Dosen kantor perpus





lxiv

FIP 720 261 - 105,75 222.75 185,50 14,5

FBS 2023 1924 - 669 130 126

FIS 3882 1484 - 892 1052 819 164

FMIPA 2925 2.802 - 1.114,6 2.981 301,6 352

FT 2324,1 3499,2 - 50 521.6 148,5 117,5

FIK 1959 764,7 - 250 - 250 99,2

LPM - - - 90 - 200 -

LEMLIT - - - 116,5 - 116,5 -

UPT Perpus - - - - - - 4.789

UPT PPL - 56 - - - 144,75 -

UPT Media - - 116 48 - 48 -

UPTPuskom 731,5 - - - - 210 -

PPS - - - 147,5 20.2 64,8 112,7





Sumber : data laporan tahunan Rektor 2004

Untuk memperlancar dan mendukung proses kuliah sarana lain juga



disediakan seperti lapangan sepakbola, lapangan volley, lapangan parkir



yang tersebar diseluruh fakultas dan mushola di tiap fakultas bahkan



jurusan. Ada satu masjid yang megah berdiri di kampus yang menjadi



sentral kegiatan keislaman di kampus. Semua untuk mendukung kelancaran



dalam proses belajar dan mengajar di kampus. Tiap fakultas dapat dihubungi



dengan jalan yang cukup tertata rapi dan beraspal. Di sini juga terdapat



laboratorium olahraga yang cukup mewah untuk mendukung proses belajar



mengajar, terutama bagi anak-anak dari fakultas ilmu keolahragaan.



B. Gambaran Subjek Penelitian



Adapun subjek di dalam penelitian ini adalah dua bagian, kedua itu



adalah responden utama dan responden pendukung. Responden utama



dalam penelitian ini ada lima orang yang diambil dari enam fakultas yang



ada di UNNES. Kelima orang ini adalah mereka yang terpilih adalah benar-



benar miskin terutama secara ekonomi. Untuk memudahkan Responden



lxv

utama di sebut dengan Responden 1, Responden 2, Responden 3, Responden



4 dan Responden 5 secara berurutan.



Untuk responden yang tidak miskin dan diambilkan dari sahabat



terdekat disebut sebagai responden 6 serta seorang dosen yang dekat dengan



salah satu responden disebut dengan responden 7. Dalam penelitian ini



diambil lima mahasiswa dari keluarga miskin teruatama yang ekonomi, serta



kemiskinan secara sosial, budaya dan politik. Untuk lebih jelasnya dapat



melihat tabel yang dicantumkan dibawah ini:



Tabel keadaan responden utama



No Kode responden Umur Jurusan Fakultas



1. 1 20 th BK FIP



2. 2 19 th Ekonomi FIS



3. 3 21 th PTB FT



4. 4 18 th PJKR FIK



5. 5 23 th Fisika FMIPA



Sumber : dokumentasi pada bulan desember 2004



Selain responden utama yang telah disebutkan diatas. Dalam



penelitian ini juga mengambil responden pendamping. Responden



pendamping di sini sangat mendukung untuk triangulasi data. Data yang



diperoleh dari responden utama perlu adanya kroscek antara responden



utama dengan responden lainnya sehingga kevalidan data yang dibuat tinggi.



Data yang diharapkan dari sumber-sumber yang dapat dipercaya paham



akan kondisi mahasiswa dari keluarga miskin dan mengetahui akan



permasalahan dalam penelitian ini yaitu sejauh mana perilaku mahasiswa









lxvi

miskin di dalam berinteraksi pada saat kuliah dan pada saat berinteraksi



dengan teman-teman di kampus.



Subjek dari responden untuk kepentingan triangulasi data di



ambilkan dari mahasiswa yang sangat dekat dengan responden utama dan



secara materi tidak miskin. Secara budaya, sosial dan politik mahasiswa



dekat ini tidak miskin. Selain itu ada responden dari dosen yang dekat



dengan responden utama. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel



berikut ini:



Tabel keadaan responden pendukung







No Kode responden Umur Jurusan/pekerjaan Fakultas



1. 6 20 th Mahasiswa FIS



2. 7 47 th Dosen FIP









C. Perilaku Mahasiswa Miskin di Universitas Negeri Semarang



C.1. Pemenuhan kebutuhan Hidup



Dari penelitian yang dilakukan maka dapat diungkap bahwa



aktualisasi menjadi pilihan utama mahasiswa dari keluarga miskin di



kampus. Mereka menganggap aktualisasi itu penting. Sebagian besar



mereka bahkan aktif di organisasi kemahasiswaan. Tidak sedikit yang



merangkap sebagai pengurus disuatu organisasi. Mereka mengikuti



organisasi untuk mencari pengalaman dan ilmu yang tidak di dapat di



bangku kuliah. Hal ini dapat kita lihat pada jawaban responden 5 :



“Ya aku aktif di organisasi di kampus. Pernah di kelompok asisten

sebagai sie bakat minat, di laboratorium sebagai ketua. Di Hima

Fisika tahun 2002-2003 di komisi A, aku di luar kampus aku aktif di



lxvii

yayasan Ibnu Sina miliknya pak Anwar dosen FIP, sebagai ketua. Tapi

kini aku hanya membantu di yayasan saja mulang ngaji hari Minggu

pagi. Di samping itu kegiatan yayasan lain aku juga masih ikut”



Begitu pula responden 2 ia mengatakan sebagai berikut:



“Saya di organisasi cukup aktif. Di ekstra, karena tidak terlalu di

boncengi kepentingan politik yang berlebihan. Dan untuk di intra saya

selektif untuk serta di dalam organisasi di kampus. Kalau diboncengi

kepentingan di dalamnya biasanya saya menghindar untuk sementara

waktu. Di intra saya aktif di Hima Ekonomi di Eksis (keagamaan

islam;penulis) aktif bidang kaderisasi dan untuk ekstra saya aktif di

HMI MPO. Bagi saya organisasi akan banyak manfaatnya dalam

membentuk kepribadian, dan banyak manfaat lain dari organisasi”



Begitu juga dengan yang lainnya misalnya responden 3 ketika



ditanya apakah aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan di kampus, ia



menjawab sebagai berikut:



“Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk organisasi.

Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita sendiri. Banyak ilmu

yang didapat dengan mengikuti organisasi itu. Di UKKI (Unit

Kegiatan Kerohanian Islam) ataupun di RISTEK (Kerohanian

IslamTehnik ) saya ikut jadi pengurus. Tapi teraktif di rohis tehnik,

kan fakultas sendiri”





Mereka sebagian juga aktif mengikuti kegiatan kampus seperti



seminar, bedah buku, diskusi dan kegiatan kampus lainnya. Dengan cara



ini semangat beraktualisasi untuk mendapat ilmu yang bermanfaat



berkembang.





Mahasiswa miskin juga mempunyai motivasi yang tinggi. Hal



ini terungkap ketika ditanya dengan pertanyaan apakah anda ingin



menjadi yang terbaik di antara teman anda? Dapat kita pada penuturan



responden 2 :



“Kalau bisa begini, orang yang baik adalah yang paling bermanfaat

bagi orang lain. Itu harapan saya dalam berinteraksi”



lxviii

Hal yang sama akan kita temui pada responden 3 :



“Saya selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik memberi yang terbaik

kan ini wajar bagiku asal tidak berlebihanlah. Lagipula bermanfaat

bagi diri kita sendiri ”



Begitu juga dengan responden yang lain ia ingin menjadi yang



terbaik diantara teman-teman. Seperti jawaban reponden 1 ia



menuturkan:



“Tentu saja ya, kan itu wajarlah. Ya. Biarpun kondisiku begini menjadi

yang terbaik itukan perlu”



Responden 4 menjawab pertanyaan itu sebagai berikut:



“Kalau saya begini sajalah bukan yang terbaik tetapi yang lebih baik.

Maklum untuk jadi yang terbaik kan harus lebih dari yang lain, kalau

saya?”



Responden 5 juga menuturkan tentang keinginannya untuk menjadi yang



terbaik, seperti yang ia ungkapkan;



“Ya tentu itu. Aku ingin jadi yang terbaik dari teman-teman. Memang

aku seperti ini, tapi berusaha itukan perlu perkara hasilnya itu terserah

nanti yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin”





Sebagai manusia mereka menginginkan penerimaan diantara



sesama dengan baik. Ketika ini digali dengan pertanyaan yang



mengungkap bagaimana penerimaan mahasiswa lain terhadap anda



responden 2 menjawab sebagai berikut:



”Di kelas ada beberapa kelompok yang seolah-olah tidak rukun dan

kelihatan sendiri-sendiri. saya mampu menerobos gap-gap yang ada di

kelas. Rasa-rasanya temen-temen bisa untuk saling mamahami kondisi

saya ini”





Responden 3 juga menuturkan sebagai berikut:





lxix

“Mereka cukup baik padaku. Sama dengan yang lainlah. Sebagian juga

akrab denganku. Aku menceritakan keadanku juga dengan teman kuliah,

terutama teman dekat.”





Untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, mahasiswa dari keluarga



miskin secara umum bersumber pada kiriman orang tua yang berupa



uang dan jumlahnya sangat terbatas. Hanya ada satu responden



(responden 1) yang terpaksa mencari uang sendiri karena orang tuanya



meninggal. Uang dari orang tua ini diambil sendiri ketika ia pulang. Hal



ini dapat kita temui pada responden 2 sebagai berikut:



“Kalau tiap bulan saya mendapat kiriman sejumlah kurang lebih Rp

200.000,00 saya pulang ambil sendiri. Jarang dikirim dengan post”



Seperti yang diungkapkan juga oleh responden 3:



“Kurang lebih Rp 120.000,00 perbulan, tapi kadang tidak diberi.

Biasanya aku pulang sendiri ke rumah untuk ambil uang itu, jarang

orang tua ke sini atau kirim dengan wesel”



Jawaban seperti ini juga ditemukan pada responden 4 dan 5 yang



mengandalkan kiriman dari orang tua mereka. Responden 4 menuturkan:



“Nggak tentu mas, kadang hanya cukup buat makan dan sisa sedikit

buat membuat tugas-tugas dari kuliah. Benar mas nggak besar paling

70.000,00/bulan. Kalau lagi nggak punya kadang hanya

50.000,00/bulan”.



Sedangkan responden 5 juga mempunyai kemiripan seperti



responden di atas, ai menuturkan:



“Kiriman orang tua tiap bulan tidak tentu besarnya. Kalau ada ya

dikasih kalau tidak ada ya nggak dikasih. Untuk besarnya kira-kira

antara Rp 20.000,00- 50.000,00 ini diberi ketika saya pulang”



Sebagian besar anggaran belanja mereka untuk biaya kebutuhan



sehari-hari baru untuk kuliah. Mereka tidak membeli di luar itu kecuali



benar-benar dibutuhkan. Ini seperti diungkapkan olah responden 5 :



lxx

“Uang dalam satu bulan itu paling banyak ya untuk biaya hidup dan

untuk kuliah saja. Yang lain aku tidak, bukannya tidak ingin tapi

emang kemampuanku terbatas. Penginnya sih beli ini-beli ini tapi

keuangan kan nggak ada,mau apalagi”





Kita akan menemui jawaban yang hampir sama pada responden 1



sebagai berikut:



“Uangku sebagian besar untuk makan, baru kebutuhan yang lain seperti

kuliah dan lain-lainnya. Sebelum habis maka saya wajib menyisihkan

uang sejumlah 90.000,00 untuk makan sebulan itupun kalau ada”



Sedangkan responden 2 menuturkan :



“Kalau saya begini, pada saat saya pulang maka saya akan membuat

estimasi kebutuhan selama waktu yang saya rencanakan, bisa dua

minggu atau tiga minggu ataupun satu bulan bahkan satu setengah

bulan. Sehingga besarnya tergantung yang saya rencanakan. Apabila

dua minggu Rp100.000,00 plus transport PP Rp 30.000,00. kalau tiga

minggu maka besarnya Rp 150.000,00 plus uang transport Rp

30.000,00 kalau satu bulan besarnya Rp 200.000,00. estimasi selama

satu bulan

Kebutuhan makan minum Rp 150.000,00

Transport Rp 30.000,00

Kebutuhan kuliah Rp 20.000,00

Untuk berhemat maka saya menekan kebutuhan konsumsi, sebab Rp

200.000,00 bisa kurang.sebab kadang meleset dari perkiraan,misalnya

banyak kegiatan yang dilakukan diorganisasi”



Untuk responden 4 dan 3 dalam mengelola keuangan dapat



dilihat di bawah ini. Responden 4 menuturkan:



“Begini mas untuk makan 2 kali sehari tanpa minum (minum air

putih;penulis). di samping itu juga sering puasa jadi mengurangi

pengeluaran. Untuk tugas saya hemat artinya jika terpaksa diketik

baru dilakukan. Untuk pengeluaran yang lain kalau tidak penting

sekali ya nggak, pokoknya uang tidak untuk hal-hal yang tidak perlu ”



Dan responden 3 mengatakan sebagai berikut:



“Begini mas untuk makan 2 kali sehari tanpa minum (hanya minum air

putih;penulis). di samping itu juga sering puasa jadi mengurangi

pengeluaran. Untuk tugas saya hemat artinya jika terpaksa diketik baru





lxxi

dilakukan. Untuk pengeluaran yang lain kalau tidak penting sekali ya

nggak, pokoknya uang tidak untuk hal-hal yang tidak perlu ”





Di dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis dari penelitian yang



dilakukan ini akan ditemui beberapa kesamaan. Secara umum mereka



lebih senang makan di luar kampus. Alasan mereka makan dan minum



di luar kampus adalah mereka menganggap bahwa makan di dalam



kampus adalah lebih mahal bila dibandingkan di luar kampus. Hal



tersebut dapat terungkap ketika penulis menanyakan motivasi apakah



ketika makan di kampus. Seperti penuturan responden 2:



“ Kalau makan sih pernah tapi tidak sering, saya masih ingat

mas….selama satu setengah semester ini saya makan dikantin kampus

dua kali, itupun coba-coba saja. Hal itu saya lakukan karena makan

dikantin lebih mahal apabila dibandingkan dengan warung-warung di

kompleks kost. Di kantin rasanya juga kurang nyaman, nggak enak di

lihat orang, Maklum standar anak kost,lagian kalau rame apa muat

tempatnya?



Begitu pula ketika pertanyaan ini ditanyakan pada responden 4,



ia memberi jawaban sebagai berikut:



“Jarang, ya sangat jarang bahkan tidak pernah. Maklum keuangan

tidak ada, tidak mendukung. Perasaan kaku sih, soalnya males kalau

rame. Bikin BT aja lagian juga nggak oke kalo makan ngirit di lihat

orang.”



Responden 3 menuturkan sebagai berikut:



“Tidak tidak pernah! Karena harga di kantin lebih mahal walaupun

dengan menu yang sama kalau di kampus saya manfaatkan waktu

untuk membaca buku. Saya tak punya menu faforit, dan saya semua

makanan hampir saya sukai. Terus saja ke pertanyaan selanjutnya!”



Sedangkan responden 1 juga demikian, ia jarang makan di kampus.



Namun jika ditraktir oleh teman maka ia akan diterima dengan senang



hati. Responden 1 menuturkan sebagai berikut:





lxxii

“Saya jarang ke kantin inisiatif sendiri, karena nggak punya uang,

kalau ada yang membeliin aku nggak sungkan-sungkan

menerimanya….. lumayan untuk mengganjal perut. Kalau dibelikan

saya biasanya suka telur asin, sumber protein yang murah. Ya biar

nggak sakit-sakitan. Dan es teh yang dikasih jeruk lemon kan jadi teh

lemon yang enak. Itulah rejeki yang diberikan untukku kadang-kadang

saya terharu dengan makanan yang sederhana, tetapi rejeki ada saja.

Emang apabila kita bertaqwa rejeki pasti ada saja”



Untuk responden 5 berbeda dengan yang lain. Responden 5



terbiasa makan di kampus, namun jika diperhatikan dari jawaban yang



diberikan dapat dianalisis bahwa mereka dalam makan disesuaikan



dengan kondisi mereka. Dapat dilihat dari penuturan di bawah ini:



“Saya sering makan dan minum di kantin kampus FMIPA, karena saya

tidak masak di kost. Aku tak sempat masak sendiri. Kalau saya pas

makan di kantin nasi rames dan mendoan (tempe goreng ada

tepungnya; penulis) itu saja. Kalau minum biasanya cukup air putih.

Aku percaya diri dengan apa yang aku makan, jadi nggak ada rasa

malu atau minderlah. Kemampuanku memang seperti ini. kalau saya

ndak begitu menghiraukan waktu-waktu tertentu, jika sedang lapar ya

makan. Baik itu ramai atau tidak ya ndak masalah. Jadi sewaktu-

waktu butuh di kampus, aku ke kantin ”



Untuk memiliki sesuatu ini mahasiswa dari keluarga miskin



memilih selektif di dalam memenuhi keinginannya. Uang digunakan



sesuai dengan skala prioritas. Hal ini seperti diungkap oleh responden 4 :



“Begini mas untuk makan 2 kali sehari tanpa minum (hanya minum air

putih;penulis). di samping itu juga sering puasa jadi mengurangi

pengeluaran. Untuk tugas saya hemat artinya jika terpaksa diketik baru

dilakukan. Untuk pengeluaran yang lain kalau tidak penting sekali ya

nggak, pokoknya uang tidak untuk hal-hal yang tidak perlu ”



Sedangkan responden 3 menuturkan sebagai berikut:



“Kalau saya prioritas untuk konsumsi/makan baru kebutuhan kuliah

seperti fotocopy, diktat, buku-buku. Setelah itu baru internet tranportasi

dan pembayaran utang. Barang yang awet saya beli untuk satu bulan

sedangkan yang instant maka saat kebutuhan dan jika ada sisa maka

saya tabung ”







lxxiii

Begitu juga yang dilakukan oleh responden 1, Responden 2 dan



responden 5. Responden 1 mengatakan:



“Uangku sebagian besar untuk makan, baru kebutuhan yang lain seperti

kuliah dan lain-lainnya. Sebelum habis maka saya wajib menyisihkan

uang sejumlah 90.000,00 untuk makan sebulan itupun kalau ada”



Kemampuan mereka didalam memiliki sesuatu memang



terbatas, bukannya tidak ingin akan tetapi memang kemampuan mereka



yang demikian adanya. Hal ini diungkap oleh responden 5 yang



mengatakan:



”........Yang lain aku tidak, bukannya tidak ingin tapi emang

kemampuanku terbatas. Penginnya sih beli ini-beli ini tapi keuangan

kan nggak ada,mau apalagi”



Walaupun kondisi mereka miskin akan tetapi mereka tetap



senang dan merasa memiliki organisasi yang ada di kampus. Bagi



mereka mengikuti organisasi akan membawa keuntungan. Hal ini seperti



diungkapkan oleh responden 2 sebagai berikut:



“Saya di organisasi cukup aktif. Di ekstra, karena tidak terlalu di

boncengi kepentingan politik yang berlebihan. Dan untuk di intra saya

selektif untuk serta di dalam organisasi di kampus. Kalau diboncengi

kepentingan di dalamnya biasanya saya menghindar untuk sementara

waktu. Di intra saya aktif di Hima Ekonomi di Eksis (keagamaan

islam;penulis) aktif bidang kaderisasi dan untuk ekstra saya aktif di

HMI MPO. Bagi saya organisasi akan banyak manfaatnya dalam

membentuk kepribadian, dan banyak manfaat lain dari organisasi”



Sedangkan responden 4 menuturkan sebagai berikut:



“Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk organisasi.

Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita sendiri. Banyak ilmu

yang didapat dengan mengikuti organisasi itu. Cuma satu yang kuikuti

yaitu UKM Taekwondo, yang lain tidak. Masalahnya sangat terbatas sih

jadi aku nggak bisa ikut lebih banyak lagi. Anak FIK kan minimal ada

satu keahlian di bidang olahraga ya aku ikutnya itu taekwondo. Itu yang

aku suka”



Dan responden 3 mengungkapkan sebagai berikut:



lxxiv

“Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk organisasi.

Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita sendiri. Banyak ilmu

yang didapat dengan mengikuti organisasi itu. Di UKKI (Unit Kegiatan

Kerohanian Islam) ataupun di RISTEK (Kerohanian IslamTehnik ) saya

ikut jadi pengurus. Tapi teraktif di rohis tehnik, kan fakultas sendiri”



Dari penelitian yang dilakukan dapat diungkap bahwa



mahasiswa dari keluarga miskin senang mengikuti organisasi



kemahasiswaan di kampus dan merasa memiliki. Ini terbukti dengan



mereka aktif mengikuti organisasi itu seperti penuturan responden 2 :



“Senang, dan saya tidak pernah merasa minder terhadap teman-teman

seorganisasi. Kalau kita saling memahami maka enak saja dalam

berinteraksi”

Begitu juga penuturan dari responden 5, ia mengatakan :



“Senang saja ketika aku bergaul dengan teman-teman seorganisasi. Di

sana banyak pengalaman yang bisa di ambil. Banyak teman juga dengan

mengikuti organisasi itu”



Dan ini ketika ditanyakan kepada responden 1, responden 3 dan



responden 4, mereka juga senang mengikuti dan merasa memiliki



organisasi kemahasiswaan di kampus. Walaupun secara ekonomi



berbeda dengan yang lain (miskin) akan tetapi tak menyurutkan



kecintaan mereka untuk aktif di organisasi.



Ketika mereka makan dan minum di kantin, Mahasiswa dari



keluarga miskin merasa tidak percaya diri ketika makan dengan menu



yang lebih sederhana. Setidaknya ada perasaan spikologis yang tidak



bisa disembunyikan. Mereka anggap menjaga harga diri adalah penting



biarpun dengan dari hal yang kecil. Hal ini dapat kita lihat pada jawaban



responden 1. ia menuturkan sebagai berikut:



“ Kalau makan sih pernah tapi tidak sering, saya masih ingat

mas….selama satu setengah semester ini saya makan dikantin kampus



lxxv

dua kali, itupun coba-coba saja. Hal itu saya lakukan karena makan

dikantin mahal apabila dibandingkan dengan warung-warung di

kompleks kost. Di kantin rasanya juga kurang nyaman, nggak enak di

lihat orang”



Sama responden 4 ketika ditanya motivasi apa ketika makan di



kantin,maka jawaban yang diberikan terkandung makna uasaha dia



menjaga harga diri. Ia mengatakan sebagai berikut:



“.......Jelas ya bahkan harus itu, soalnya males kalau rame. Bikin BT

aja lagian juga nggak oke kalo makan ngirit di lihat orang.”





Begitu pula jawaban responden 1 maka ia akan menjawab



secara diplomatis sebagai berikut:



”Saya jarang ke kantin inisiatif sendiri, karena nggak punya uang,

kalau ada yang membeliin aku nggak sungkan-sungkan

menerimanya…..”



Bahkan ada juga mahasiswa dari keluarga miskin yang tidak



pernah ke kantin seperti responden 3. Sepeti yang ia tuturkan:



“Tidak tidak pernah! Karena harga di kantin lebih mahal walaupun

dengan menu yang sama kalau di kampus saya manfaatkan waktu

untuk membaca buku.....”



Hanya ada satu mahasiswa dari keluarga miskin yang biasa



makan di kantin. Ini dilakukan karena ia sudah terbiasa makan di kantin.



Untuk menu yang ia makan dikantin adalah nasi rames, tempe mendoan



dan segelas air putih. Untuk menjaga harga dirinya ada mahasiswa dari



keluarga miskin yang tak ingin bergantung sepenuhnya, mereka tidakk



mengandalkan bantuan dari orang lain, akan tetapi ia berusaha sendiri



untuk memecahkan kesulitan yang dihadapi. Hal ini dapat kita lihat dari



jawaban responden 1 ia menuturkan sebagai berikut:







lxxvi

“Sering bila aku minta ya, Aku tak malu untuk minta tolong pada

temen terutama jika aku butuh. Tapi jika tak di minta aku tak tahu,

tapi untuk sahabat dekat biasanya sudah tahu kondisi saya, jadi lebih

perhatianlah...”



Dan ini hampir sama dengan responden 4 yang mengatakan ia



sering dibantu. Seperti yang di ungkapkan olehnya:



“Ya mereka sangat membantu….tapi kalo ada hubungan dengan uang

aku tolak, nggak enak juga. mereka kan pastinya butuh uang juga

buat hidup mereka di sini. ”





Ketika ditanyakan kepada responden yang lain maka sebagian



besar memang tidak menolak bantuan, namun sikap mereka cukup hati-



hati. Ini dilakukan untuk menjaga dirinya. Ia sadar bahwa kondisinya



memang demikian sehingga bantuan disikapi dengan arif. Hal ini seperti



diungkapkan oleh responden 2 sebagai berikut:



“Maksudnya kesulitan ekonomi?. Khususnya temen kost dan beliau

juga satu program studi dengan saya, ekonomi dan satu kelas dengan

saya. Jadi ya saling membantu, kadang saya membantu dia dan

kadang saya yang dibantu olehnya”



Begitu pula penuturan renponden 3 :



“Banyak teman membantu kesulitan saya ya namanya saja mahasiswa

saling tolong-menolonglah”



Rasa minder yang ada pada mahasiswa dari keluarga miskin



ini disimpan jauh-jauh. Hal ini menurut mereka akan kerugikan diri



mereka sendiri. Hal ini seperti diungkapkan oleh responden 1 ketika



ditanya bagaimana sikapnya ketika berinteraksi dengan mahasiswa lain



ia menuturkan:



“Biasa saja mas, karena mereka tahunya saya orang yang mampu

seperti halnya mereka sebab saya suka tersenyum dan berpenampilan

sebagai orang yang optimis, sehingga orang tidak melihat sisi





lxxvii

kehidupan yang serba kekurangan. Beberapa teman yang tahu kondisi

saya sikapnya cukup baik padaku...”



Begitu juga halnya dengan Responden 3 ketika ditanya dengan



pertanyaan yang sama ia menjawab:



“Mereka biasa-biasa saja mas, bagi saya tiap orang punya kelebihan

dan punya kekurangan, ya sama dengan merekalah”



Dan ini hampir sama dengan responden 4 ketika ditanya



dengan pertanyaan apakah mereka percaya diri dengan kondisinya yang



miskin ia menuturkan :



“Jelas ya walaupun kondisiku begini tapi aku tetap percaya diri,

kalau nggak percaya diri emang jadi kaya. Kan nggak mungkin

itulah”



Sama halnya dengan responden 2 ketika ditanya dengan



pertanyaan yang sama, mereka memberi jawaban sebagai berikut ini:



“InsyaAllah, dari dulu saya dididik untuk konfident. Bagi saya

kondisi manusia itu secara umum sama yaitu dengan kelemahan dan

kekurangan masing-masing”





Dan responden 5 menuturkan sebagai berikut:



“Ya saya percaya diri”





Dalam penelitian ini akan diungkap bagaimana sikap



mahasiswa dari keluarga miskin ketika mendapat pujian. Mereka



menganggap wajar saja pujian itu asalkan tidak berlebihan, bahkan ada



yang menganggap ada yang tidak cukup untuk mendapat pujian.



Responden 5 menuturkan sebagai berikut:



“Bangga yang wajarlah. Tidak berlebihan. Pujian itukan bisa untuk

memotivasi kita”







lxxviii

Sedangkan responden 4 mengungkapkan sebagai berikut:



“Kalau aku begini…aku punya prinsip yang berbeda kali ya dengan

orang lain, prinsipku Aku akan lebih menghargai kamu jika kamu juga

menghargai aku. Maka kalau temen bisa menghargai aku maka aku

akan menghargai mereka, bahkan lebih menghargai mereka”







C.2 Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan



Dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan



mahasiswa dari keluarga miskin melakukan beberapa tindakan. Dalam



hal minat pendapatan misalnya, mahasiswa miskin tidak sepenuhnya



bergantung dari orang tua. Mahasisawa dari keluarga miskin untuk



pemenuhan kebutuhan hidup selain dari kiriman orang tua adalah



bekerja. Mereka mendayakan kemampuannya untuk menghasilkan uang.



Baik itu dengan kerja seperti responden 1, responden 3 dan responden 4



serta responden 5, mereka juga mengandalkan beasiswa seperti



responden 3. Ada pula yang mengandalkan dari saudara (nenek,bibi)



walaupun tidak pasti dan itu hanya semester satu kali (responden no 2)



Mahasiswa dari keluarga miskin memanfaatkan waktu senggang



mereka. Ini dimaksudkan agar waktu bisa digunakan dengan bermafaat.



Dapat kita lihat pada jawaban responden 1, diungkapkan sebagai



berikut:



“Jelas, aku kudu kerja apa saja yang penting aku dapat uang, tapi

paling banyak aku di dunia trainer Iqro club terutama untuk teman-

teman SLTA. Pernah juga aku ngisi di solo. Untuk ngisi di kampus

jarang, paling di Rohis sendiri (ia aktif di rohis FIP;pen) dan itupun aku

tak mengharapkan bayaran. Aku juga banyak ngisi di berbagai acara di

kampus. Selain itu aku kadang memperbaiki komputer. Jadi ada

pemasukan untuk membantu keperluanku”







lxxix

Begitu juga ketika ditanyakan kepada responden 3 ia



mengungkapkan sebagai berikut. Ada rasa gembira dalam bekerja untuk



memenuhu kebutuhan mereka yang kurang, ia menuturkan:



“Ya aku hanya mengandalkan beasiswa PT Djarum sebulan sebesar

150.000,00 dan kerja Part time di rental Mitra Comp Gang Cempaka

kalau ramai aku bisa nyampai 150.000,00 ”





Responden 5 menuturkan sebagai berikut:



“Ada,ada sumber lain. Nenek kadang memberi aku uang, begitu juga

pamanku sering ngasih juga. Di samping itu aku juga cari penghasilan

sendiri, terutama ngelesi anak anak SMP atau SD di semarang saja.

Hasilnya ndak banyak lumayanlah buat nambah ongkos kuliah”



Kesempatan bekerja tidak menjadi halangan bagi mahasiswa dari



keluarga miskin, seperti responden 4 kebetulan bekerja ditempat sosial



(masjid) ia menuturkan:



“.... Di masjid ini (MUA;penulis) tiap bulan ada bantuan operasional

dari rektorat sejumlah 200.000,00 dan itupun untuk 6 orang takmir jadi

ya sedikit sekali. Dan itupun di ambil nggak tepat waktu, nggak teratur”



Adapun responden 2 tidak bekerja, ia mengandalkan kiriman



dari orang tua yang ia ambil sendiri ketika pulang. Sumber pendapatan



lain adalah dari Bibi yang kadang awal semester mengirim sejumlah



uang. Bibinya bekerja sebagai wiraswasta di kota Jakarta. Dari uraian



diatas maka mereka benar-benar bisa bekerja secara efisien. Di sela-sela



kuliah mereka menyempatkan kerja untuk menutupi kekurangan



mahasiswa dari keluarga miskin.



Mahasiswa dari keluarga miskin yang tak ingin bergantung



sepenuhnya, mereka tidak mengandalkan bantuan dari orang lain,



apalagi dominasi dari orang lain. Jiwa kemamdirian benar-benar





lxxx

terbentuk dengan mereka bekerja di sela-sela kuliah mereka. Mahasiswa



dari keluarga miskin mempunyai kepercayaan yang tinggi.



Di dalam proses perkuliahan di kampus mereka beraktualisasi



dengan mahasiswa lainnya. Hampir sebagian besar mahasiswa



menganggap disiplin adalah hal yang sangat penting dalam kuliah.



Sebab dengan disiplin mencerminakan penggunaan waktu yang hemat.



Dengan disiplin juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemajuan bagi



dirinya. Pada sisi lai dengan disiplin akan bisa mengefisienkan yang lain



seperti hemat biaya. Seperti yang dituturkan oleh responden 2 :



“Saya cukup disiplin, hampir tidak pernah datang terlambat. Dan

presensi kehadiran hampir 100%, untuk semua mata kuliah. Bagi saya

disiplin adalah hal yang perlu dibudayakan”





Pada pertanyaan lain yang mengungkap apakah ia aktif kuliah



responden 4 menuturkan sebagai berikut:



“Ini kehebatan aku kali ya? Nggak nyombong lho! Dari awal kuliah

sampai hari ini aku tidak pernah mbolos kuliah. Hebat ya! Tugas-

tugas saja saya kerjakan dengan baik sehingga tidak pernah telat”





Begitu pula jawaban pada responden 3 ketika ditanyakan



dengan pertanyaan yang sama, ia menuturkan:



“Saya aktif mengikuti kuliah kan amanah dari orang tua ya kan?.

Saya mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk kuliah.

Memang kadang aku capai gara-gara mengetik di rental terlalu

banyak orderan. Tapi kuliah itu kan amanah jadi aku lakukan”





Dengan disiplin yang mereka anut merupakan perwujudan dari



menghemat waktu yang ada. Sebab mereka harus mampu membagi









lxxxi

waktu dengan aktifitas yang padat. Salah satu usaha adalah dengan



disiplin dalam kuliah.







C.2 Pemenuhan Kebutuhan Belajar



Dalam hal pemenuhan kebutuhan belajar mahasiswa dari



keluarga miskin memilih tindakan yang berguna untuk dirinya. Hampir



sebagain besar mahasiswa dari keluarga miskin mengikuti kegiatan yang



diadakan di kampus. Pelatihan yang diadakan di kampus diikuti dengan



giat. Memang ada mahasiswa dari keluarga miskin yang memilih



mengikuti acara kemasiswaan di kampus yang minim biaya. Kita lihat



penuturan responden 1:



“Saya sangat suka, tentu saja yang gratis-gratis atau kita jadi

panitianya sekalian biar dapat konsumsi kan gratis he..he. ”



Begitu juga jawaban pada responden 2, ia menuturkan :



“Kegiatan kampus sering, biasanya jadi panitia, mulai dari bedah buku,

seminar dan training. Asalkan kegiatan itu bermanfaat dan tidak

banyak mengeluarkan biaya…saya akan ikut di dalamnya ”





Sedangkan responden lain juga menunjukan kesamaan, misal



renponden 3 mengungkapkan:



“Sering sekali bahkan sangat sering. Itu kan menambah pengetahuan

kita ya, jadi saya ikutlah, apalagi nggak bayar wow saya senang . aku

senang seminar tentang masalah politik dan dunia Islam”





Selain itu mahasiswa dari keluarga miskin juga mengikuti



kegiatan keagamaan, baik aktif pada saat acara perayaan keagamaan,



ataupun memang mereka terjun di organisasi keagamaan. Ada satu



resnponden yang secara kebetulan tinggal di masjid sehingga secara



lxxxii

otomatis ia merasakan kegiatan keagamaan yang diadakan di masjid



kampus tersebut. Seperti penuturan responden 3 berikut ini :



“Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk organisasi.

Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita sendiri. Banyak ilmu

yang didapat dengan mengikuti organisasi itu. Di UKKI (Unit

Kegiatan Kerohanian Islam) ataupun di RISTEK (Kerohanian

IslamTehnik ) saya ikut jadi pengurus. Tapi teraktif di rohis tehnik,

kan fakultas sendiri”





“Saya di organisasi cukup aktif. Di ekstra, karena tidak terlalu di

boncengi kepentingan politik yang berlebihan. Dan untuk di intra saya

selektif untuk serta di dalam organisasi di kampus. Kalau diboncengi

kepentingan di dalamnya biasanya saya menghindar untuk sementara

waktu. Di intra saya aktif di Hima Ekonomi di Eksis (keagamaan

islam;penulis) aktif bidang kaderisasi dan untuk ekstra saya aktif di

HMI MPO. Bagi saya organisasi akan banyak manfaatnya dalam

membentuk kepribadian, dan banyak manfaat lain dari organisasi”



Dengan mengikuti kegiatan keagamaan merupakan perwujudan



pengamalan dalam kehidupan beragama sehari-hari sebagai bentuk



kesadaran dan sikap beragma di dalam bermasyarakat. Dengan kegiatan



yang bermuatan religius adalah sarana untuk perluasan pemahaman



tentang agama.



Selain itu mahasiswa dari keluarga miskin melakukan



komunikasi dengan mahasiswa lain, dalam organisasi atauapun di luar



organisasi yang mereka tekuni. Ketika ditanya bagaimana sikap teman



ketika interaksi di kampus responden 3 menuturkan :



“Mereka cukup baik padaku. Sama dengan yang lainlah. Sebagian juga

akrab denganku. Aku menceritakan keadanku juga dengan teman

kuliah, terutama teman dekat.”





Begitu juga penuturan responden 2, ia mengatakan sebagai



berikut:





lxxxiii

Di kelas ada beberapa kelompok yang seolah-olah tidak rukun dan

kelihatan sendiri-sendiri. saya mampu menerobos gap-gap yang ada di

kelas. Rasa-rasanya temen-temen bisa untuk saling mamahami kondisi

saya ini”





Sedangkan responden 5 menuturkan sebagai berikut:



“Tidak mereka biasa-biasa saja terhadapku. Nggak ada sikap atau

perilaku yang aneh terhadapku”



Dan responden 4 menuturkan sebagai berikut:



“Mereka bahkan begitu close (terbuka; penulis) denganku. Semua

baik-baik aku senang punya teman seperti mereka”



Mereka juga melakukan komunikasi dalam organisasi yang



mereka tekuni. Hal itu terungkap ketika ditanya apakah ada kesulitan



dalam berorganisasi, hasilnya seperti responden 4 ia menuturkan:



“Kayaknya nggak ada tuh, aku biasa saja. Olahraga ini (taekwondo;

penulis) kan nggak begitu besar biayanya, paling-paling banter tenaga

yang ekstra toh”



Begitu juga responden yang lain Responden 2 menuturkan:



“Secara umum belum mas,namun kendala sih ada. Misalnya keuangan

dan fasilitas misalnya sepeda motor dan sarana komunikasi karena

saya belum mempunyai HP”





Dari jawaban yang diberikan tersirat perilaku mahasiswa dari



keluarga miskin dalam berkomunikasi yang pada penelitian ini. Seperti



penuturan 5 berikut ini:



“Senang saja ketika aku bergaul dengan teman-teman seorganisasi. Di

sana banyak pengalaman yang bisa diambil. Banyak teman juga

dengan mengikuti organisasi itu”





Sedangkan responden 3 menuturkan sebagai berikut:



“Senang karena mereka adalah teman-teman yang terbaik yang miliki.

kan suka duka dalam oragnisasi menjadi kenangan yang manis.



lxxxiv

Masalah saya yang kondisinya saeperti ini kan tidak harus

diungkapkan ”









lxxxv

Bab V



SIMPULAN DAN SARAN









A. SIMPULAN









Kemiskinan di kampus Universitas Negeri Semaranag (UNNES)



adalah satu fenomena yang terjadi di kampus tersebut. Memang benar



pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa orang yang bisa kuliah adalah



mereka yang cukup mempunyai uang, namun pendapat tersebut tidak



sepenuhnya tepat, sebab jika dikaji lebih dalam, ada sebagian mahasiswa



yang miskin bila dibandingkan dengan mahasiswa lain. Penelitian Johnson



dan Bachman tahun 1973 yang menerangkan bahwa harapan-harapan orang



tua dan latar belakang keluarga berpengaruh besar terhadap prestasi yang



dicapai anak didik (Horton, Hunt,1987:341). Begitu juga dengan latar



belakang ekonomi keluarga akan berpengaruh terhadap keadaan sosial anak



didik.



Pada penelitian perilaku mahasiswa dari keluarga miskin ini ada



sebagian mahasiswa di Universitas Negeri Semarang yang secara ekonomi



adalah tergolong miskin. Sebagian mahasiswa dari keluarga miskin ini selalu



dihantui perasaan ketidakpastian yang disebabkan oleh keadaan mereka yang



tidak menguntungkan secara ekonomi.



Dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, sebagian mahasiswa yang



miskin mengandalkan kiriman dari orang tua yang serba terbatas. Sebagian





lxxxvi

besar orang tua mahasiswa UNNES adalah kelompok menengah ke bawah



(Maria Yuliana; 2000). Secara finansial mahasiswa dari keluarga miskin



mendapat uang dari orang tua jumlahnya bervariasi mulai Rp 20.000,00 s.d.



Rp 200.000,00. Dalam penelitian ini ada mahasiswa yang tidak



mengandalkan kiriman dari orang tua, ia murni membiayai sendiri kuliahnya.



Untuk menutup kekurangan uang dari orang tua mahasiswa miskin



sebagian bekerja. Ada dari sebagian mereka yang bekerja di rental komputer,



ada juga yang bekerja membuka les privat, dan ada yang memilih bekerja di



tempat sosial, menjadi pengurus masjid. Dalam penelitian ini ada satu orang



mahasiswa miskin yang tidak bekerja, ia hanya mengelola keuangan secara



ketat. Dalam penelitian ini juga ada satu mahasiswa dari keluarga miskin yang



bekerja di Iqro Club dan memperbaiki komputer untuk membiayai kuliahnya



sendiri.



Dalam bekerja mereka bekerja secara efisien memilih disela-sela



kuliah sehingga tidak mengganggu perkuliahan. Kesempatan yang ada harus



dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mahasiswa dari keluarga miskin juga



tidak mengeluh dalam bekerja, bahkan ia sebaliknya menunjukan sikap



bangga atas apa yang mereka kerjakan.



Cara lain untuk menutup kekurangan biaya pemenuhan hidup



adalah dengan mengikuti program beasiswa. Namun dalam penelitian ini



sebagian besar mahasiswa dari keluarga miskin justru tidak mengikuti



program beasiswa. Hanya ada satu mahasiswa yang sedang mendapat



beasiswa dan satu mahasiswa karena belum memenuh persyaratan sehingga ia









lxxxvii

belum berhak menerima beasiswa seperti yang telah ditetapkan pihak



universitas.



Karena keterbatasan dana, mereka dalam pemenuhan kebutuhan



pokok (makan, minum) harus betul-betul hemat. Sebagian besar uang yang



ada adalah untuk pemenuhan kebutuhan fisiologis. Dalam hal makan dan



minum mahasiswa miskin memilih menu yang sederhana yang cukup untuk



memenuhi kebutuhan fisiologis mereka. Mahasiswa dari keluarga miskin



ternyata memilih makan di warung di luar kampus yang mereka anggap lebih



murah bila dibandingkan dengan makan di dalam kantin kampus.



Mereka mengatur keuangan yang didapat yang jumlahnya terbatas.



Keuangan digunakan dengan sebaik-baiknya. Untuk hal-hal yang penting



seperti makan, minum dan biaya kuliah didahulukan terlebih dahulu baru



kemudian yang lainnya. Dalam hal makan di samping menu yang sederhana



ada sebagaian mahasiswa dari keluarga miskin makan sehari dua kali. Untuk



menutupi kekurangan uang mahasiswa miskin sambil bekerja disela-sela



kuliah. Rata-rata mahasiswa dari keluarga miskin dalam makan memilih menu



yang sederhana dan tidak berlebihan. Lauk paukpun dipilih yang sederhana,



begitu pula minum yang ia pilih mencerminkan penghematan biaya seperti



dalam teori Sudjana.



Uang digunakan untuk memiliki sesuatu yang benar-benar berguna



dan perlu. Sesudah kebutuhan fisiologis uang digunakan untuk prioritas



kebutuhan kuliah seperti fotocopy, biaya rental, alat praktek dan lain



sebagainya. Ada sebagian mahasiswa dari keluarga miskin yang mengatur



keuangan mereka sedemikian rupa untuk mengatur keuangan.





lxxxviii

Seperti mahasiswa lainnya, mahasiswa dari keluarga miskin juga



melakukan interaksi dengan mahasiswa, dosen dan karyawan dalam ligkungan



kampus. Dalam membentuk kelompok belajar misalnya mahasiswa dari



keluarga miskin bisa berbaur dengan mahasiswa lainnya. Ada sebagian



mahasiswa miskin yang mempunyai teman dekat sehingga dapat menjadi



tempat untuk mencurahkan perhatian. Sebagian mahasiswa dari keluarga



miskin berani menceritakan kondisinya yang sebenarnya. Namun ada juga



mahasiswa miskin yang berusaha menutupi masalah pribadinya.



Sebagian besar dari mereka tak segan membantu kesulitan teman-



temannya di kampus. Bantuan itu berupa, uang, tenaga, pikiran atau perkataan



serta motivasi untuk membangkitkan semangat teman-teman. Bahkan ada



sebagian mahasiswa miskin yang mentraktir mahasiswa lain sebagai wujud



rasa kecintaan terhadap manusia. Pada prinsipnya mahasiswa dari keluarga



miskin suka menolong sesama walaupun kondisi mereka terbatas, namun tak



menyurutkan niat mereka untuk membantu sesama.



Bagaimanapun mahasiswa dari keluarga miskin adalah manusia



yang selalu menjaga harga dirinya. Ada sebagian mahasiswa miskin ini



memilih-milih waktu ketika makan di kampus UNNES. Mahasiswa dari



keluarga miskin merasa tidak enak atau canggung ketika makan dengan menu



yang berbeda dari mahasiswa lain yang itu cenderung relatif murah. Mereka



sebagian besar memilih makan di kantin di luar kampus dan memilih tempat



makan yang murah bila dibandingkan dengan lainnya. Dalam penelitian ini



ada satu mahasiswa dari keluarga miskin yang terbiasa makan di kantin.









lxxxix

Walaupun demikian menu yang ia pilih adalah sederhana dan harga relatif



murah.



Beraktualisasi diri untuk menunjukan eksistensi merupakan



kebutuhan manusia termasuk mahasiswa dari keluarga miskin. Dalam proses



perkuliahan mereka aktif mengikuti kuliah yang diberikan oleh dosen.



Sebagian mahasiswa dari keluarga miskin datang ke kampus dengan disiplin



serta memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Mereka juga aktif



bertanya, bahkan ada mahasiswa miskin yang disegani di kelasnya, karena ia



sering bertanya dan menjawab pertanyaan, dan bisa berinteraksi dengan teman



di kelas sehingga ia populer. Tugas-tugas yang diberikan oleh dosen sebagian



besar dikerjakan dengan baik dan disiplin, walaupun kondisinya mereka



kurang menguntungkan justru disitulah rasa tanggung jawab kepada orang tua



yang selama ini membiayai pendidikan.



Memang bagi sebagian mahasiswa dari keluarga miskin yang



kuliah sambil bekerja sedikit kesulitan membagi waktu, kadang terpaksa tidak



masuk demi mencari uang. Sebenarnya mereka tidak ingin melakukan



perbuatan itu akan tetapi kondisi yang membuat mereka terpaksa tidak masuk



kuliah.



Walaupun kondisi mereka miskin tak membuat mereka tidak aktif



mengikuti kegiatan di kampus. Sebagian dari mereka aktif mengikuti kegiatan



yang ada di kampus. Kegiatan-kegiatan seperti bedah buku, seminar,



pelatihan, kajian keagamaan dan pelatihan-pelatihan diikuti dengan baik.



Sebagian mahasiswa miskin ini tetap memilih kegiatan yang diikuti, jika



keuangan tidak mencukupi mereka tidak ikut. Ada juga mahasiswa dari





xc

keluarga miskin yang tidak memperhatikan finansial. Bagi mereka ikut aktif



mengikuti kegiatan di kampus dapat menanbah wawasan dan pengetahuan



yang itu sangat bermanfaat bagi pengambangan diri.



Selain itu mahasiswa dari keluarga miskin aktif tergabung dalam



organisasi di kampus, baik orgainsasi bersifat intra dan ektra kampus. Dan



sebagian mengikuti organisasi di luar kampus. Mereka merasa memiliki dan



senang pada organisasi yang digeluti. Banyak mahasiswa dari keluarga



miskin yang aktif dan menjadi pengurus organisasi yang mereka pilih.



Mengikuti organisasi adalah sebagai perwujudan sikap beraktualisasi diri.



Bagi mereka aktif diorganisasi untuk menambah pengalaman dan



pengetahuan. Mahasiswa dari keluarga miskin memandang bahwa mengikuti



organisasi akan membawa manfaat yang tidak sedikit, mereka bisa



beraktualisasi diri dan mengembangkan potensi dan bakatnya secara baik.



Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap manusia ingin menjadi



yang terbaik. Mahasiswa dari keluarga miskin walaupun kondisi demikian



juga menginginkan menjadi yang terbaik. Rasa itu juga terpatri disanubari



mahasiswa miskin ini. Salah satu cara adalah dengan mengikuti organisasi



yang mereka sukai untuk memupuk dan menumbuhkan kemampuan mereka.



Belajar yang giat di kampus merupakan uapaya pemenuhan



kebutuhan belajar. Sebab dengan belajar yang giatdan tekun bisa menjadi



jaminan dihari tua. Upaya ini juga untuk meningkatkan pengetahuan yang



mereka idam-idamkan.







B. SARAN





xci

Dari penelitian yang dilakukan di kampus Universitas Negeri



Semarang ini, peneliti dapat memberi saran sebagai berikut:



1. Kepada pihak Universitas dan fakultas untuk memperhatikan mahasiswa



dari keluarga miskin (misalnya dengan kebijakan dalam pembayaran SPP,



pelaksanaan program beasiswa yang tepat sasaran dan di tambah jumlah



penerimannya serta kebijakan lain untuk membantu kondisi mahasiswa



dari keluarga miskin). Selain pihak Universitas dan fakultas untuk



menanbah sarana dan prasana lembaga kemahasiswaan baik intra dan



ektra, sehingga semua mahasiswa mendapat fasilitas yang memadai dan



bisa mengembangkan diri dengan baik.



2. Kepada Bapak dan Ibu dosen tetap melakukan bimbingan intensif agar



mereka mempunyai semangat kuliah yang tinggi, mengingat ada



mahasiswa dari keluarga miskin yang “tak peduli” dengan studinya.



3. Kepada orang tua mahasiswa miskin untuk tetap memberi dorongan



kepada putra-putrinya agar ia dapat menyelesaikan kuliah dengan segala



keterbatasan yang ada.



4. Kepada mahasiswa yang secara umum lebih mampu untuk tetap



memperhatikan teman yang secara ekonomi tak menguntungkan dengan



menjalin persahabatan yang baik saling tolong-menolong, tidak berlebihan



dan berkomunikasi dengan baik serta tidak membedakan kondisi mereka



dengan strata ekonomi mereka.



5. Kepada mahasiswa dari keluarga miskin untuk dapat bersikap arif dalam



mensikapi kondisi hidup yang sedang dijalani. Walaupun kondisi yang



demikian (miskin) untuk tetap semangat dalam belajar, untuk terus





xcii

beraktualisasi diri dengan baik dan menghadapi hidup dengan optimis



bekerja keras









xciii

DAFTAR PUSTAKA









Andi Hakim Nasution, dkk, Bunga Rampai Anak-Anak Berbakat

Pembinaannya dan Perkembangannya, Jakarta; CV Rajawali Press

Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta; PT Tiara

Wacana

Asmadi Alsa, 2003, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif serta Kombinasinya

dalam Penelitian Psikologi,---,---

A.Suyono,1985, Kamus Antrologi,Jakarta, Akademika Presindo

Bambang Sudibyo, Sri Bintang Pamungkas, dkk, 1995, Kemiskinan dan

kesenjangan di Indonesia, Yogyakarta; Aditya Media

Berry, John W, YPE H.Poortinga,dkk,1999, Psikologi Lintas Budaya, Jakarta;

PT Gramedia

Clement, Phil, 2001, Be Positive, Jakarta; Erlangga

Consult, Mamburg, 2001, Attacking the Roots of Poverty; Menggempur Akar

kemiskinan, Jakarta; Yokama AGI

Dati Fatimah, dkk, 2000, Nestapa Pembangunan Nasional; Studi Atas Dampak

Beban Utang Terhadap Pembangunan Kesehatan dan Dunia

Pendidikan, Yogyakarta; Yayasan Litera

Eko Prasetyo, 2004, Orang Miskin di Larang Sekolah, Yogyakarta; Insist Press

F.O. Ne`il William, 2001, Idiologi-Idiologi Pendidikan, Bandung, Pustaka

Pelajar.

Finger, Mathias Manuel Asun, Jose, 2004, Quo Vadis Pendidikan Orang

Dewasa, Yogyakarta, Kendi

Gunawan Sumodiningrat, 1999, Kemiskinan Teori Fakta dan Kebijakan,

Jakarta; Impac

Hani Handoko, 1995, Manajemen Edisi 2, Yogyakarta; BPFE

Horton, Paul B, L Hunt,Chester ,1987, Sosiologi, Jakarta; Erlangga

H.D. Sudjana, 2004, Pendidikan Non Formal, Falah Production; Bandung

H.R. Riyadi Suprapto, 2002, Interaksionisme Simbolik, Pustaka Pelajar,

Bandung.





xciv

Harold Koontz,1986, Manajemen, Jakarta, Erlangga

Irawan Soehartono, 2002, Metode Penelitian Sosial, Bandung; PT Remaja Rosda

Karya

J. Mllin, Frank, C Millin, Sydney, 1986, Sosiologi Pendidikan, Bandung;Tarsito

Koontz, Harold,dkk, Manajemen jilid 2, Jakarta, PT Erlangga

K Yin, Robert, 2001, Studi Kasus ( Desain dan Metode), Jakarta; PT Raja

Garfindo Persada

Koentjoroningrat,---, Pengantar Ilmu Antropologi,---, Rineka Cipta

Kamanto Sunarto,2000, Pengantar Sosiologi, Jakarta; FE UI

Maslow, Abraham H. 1984, Motivasi dan Kepribadian, Jakarta,PT Gramedia

Mardalis, 1995, Metode Penelitian, Jakarta; Bumi Aksara

Mahfud Sidiq, 2003, KAMMI Dalam Pergulatan Reformasi, Solo; Era

Intermedia

Moleong Lexy, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung; PT Remaja

Rosda Karya

Maria Yulimah, 2002, Biaya Hidup Mahasiswa Calon Guru (Program

Kependidikan ) di Universitas Negeri Semarang, Semarang, Skripsi

Miftah Thoha, 2002, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya,

Jakarta; Rajawali Press

Nana Sudjana, 2001, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Bandung; PT Sinar

Baru Algesindo

Nasution,2001, Metode Research, Jakarta; Bumi Aksara

Pudjiwati Sajogyo, 1985, Sosiologi Pembangunan, Jakarta; Fakultas Pasca

Sarjana IKIP Jakarta

Parsudi Suparlan, 1984, Kemiskinan di Perkotaan, Jakarta,---

Rustom Effendi, 2004, Produksi Dalam Islam, Yogyakarta; Magistra Insania

R.A. Supriyono,----, Sistem Pengendalian Manajemen, BPFE; Yogyakarta

Suharsimi Arikunto, 1992, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,

Jakarta; Rineka Cipta.

S. Margono, 2002, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta

Sugeng Haryadi, dkk, 1998, Perkembangan Peserta Didik, Semarang, Ikip

Semarang Press





xcv

Tri Dayakisni, 2003, Psikologi Sosial, UMM Press, Malang

Tjetjep Rohendi Rohidi, 2001, Ekpresi Seni Orang Miskin, Bandung Yayasan

Nuansa Cendekia

Team KKN UNNES, 2002, Buku Panduan KKN UNNES 2003, Semarang; UPT

UNNES Press

Tulus Tu`u,2004, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi

Siswa,Jakarta;Grasindo

Qordhowi, Yusuf, 2002, Teologi Kemiskinan, Yogyakarta; Mitra Pustaka

Winarno Surahmad, dkk, 2003, Mengurai Benang Kusut Pendidikan, Jakarta,

Tranformasi





--------Lembaran Ilmu Pendidikan, Semarang; IKIP Semarang Press

----, Garis Kemiskinan jawa Tengah 1993/1994, Bappeda Tk. 1 dan Kantor

Statistik prof Jateng

--,1994/1995, Sari Hasil Penelitian, Semarang, IKIP Semarang Press

---,--,Lembaran Ilmu Pendidikan, Semarang, IKIP Semarang Press

--------Kompas Mahasiswa edisi 27, September 2003, Semarang; BP2M

Sumber Lain:

Harian Kompas 9 Juni 2003

--------,----,Laporan Tahunan Rektor UNNES 2004, Semarang,---

Brosur Visi, Misi dan Strategi Pengembangan UNNES

Harian Republika 30 Maret 2004

Jawa Post 1 April 2003

Harian Republika, 2 April 2003

Makalah Pengembangan Swadaya dan Kemandirian Masyarakat di Era Otonomi

Daerah









xcvi

PEDOMAN WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN DI KAMPUS

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )









A. Instrument untuk subjek utama





1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?

2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?

3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di

waktu yang ditentukan?

4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?

5. Motivasi apakah ketika anda makan di kampus?

6. Apakah anda pernah mentraktir teman-teman untuk makan bersama?

7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?

8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?

9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam

kampus?

10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang

lain?

11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih

cukup dari anda?

12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?

13. Apakah teman sering membantu kesulitan ekonomi yang anda hadapi?

14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?

15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika

mengikuti kuliah di kampus?

16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta

pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?





xcvii

17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena

kondisi anda?

18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk

mudah mendapat mitra dengan mudah?

19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?

20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?

21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan

anda?

22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah? (termasuk mengerjakan

tugas-tugas)

23. Apakah anda mempunyai niat untuk berprestasi dalam proses kuliah?

24. Bagaiman sikap anda ketika mengikuti kuliah?

25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah

buku,dll)?

26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan

organisasi kemahasiswaan di kampus?

27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?

28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di

organisasi itu?

29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu

oraganisasi yang anda ikuti?

30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu

kesulitan anda?









xcviii

PEDOMAN WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN DI KAMPUS

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )





A. Instrumen untuk sahabat dekat





1. Apakah benar bahwa teman anda mendapat kiriman yang minim ?

2. Apakah teman yang miskin pernah menjajagan anda di kantin

misalnya ?

3. Bagaimana perilaku mereka dalam berinteraksi dengan anda ?

4. Pernahkah mereka mengeluh/mengadu tentang kondisi dirinya ?

5. Bagimana perilaku mereka dalam interaksi dengan teman di kampus?

6. Apakah mereka beraktualisasi dengan baik di saat mengikuti kuliah?

7. Apakah teman anda menjadi “panutan” didalam proses sosial di

kampus?

8. Apakah mereka aktif mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan?

9. Apakah mereka mengeluh dengan anda berkenaan dengan kondisi

mereka berkaitran keaktifan mereka di sebuah organisasi?

10. Adakah perilaku yang khusus dalam diri mereka terkait dalam diri

mereka?









xcix

PEDOMAN WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN DI KAMPUS

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )







A. Instrumen untuk informan dosen dekat





1. Apakah anak didik bapak /ibu ada yang miskin?

2. Bagaimana perilaku mereka ketika mengikuti perkuliahan?

3. Adakah hal-hal yang menonjol dari sisi akademik?

4. Adakah perilaku khusus yang ditunjukan oleh mahasiswa miskin?

5. Apakah bapak/ibu memberi perhatian kepada mereka?

6. Bagaimana komunikasi mereka dengan bapak/ibu









c

Keadaan Responden Utama







1. Andi Maipa DM





Andi Maipa dari namanya dapat kita analisa bahwa ia bukan orang



Jawa. Andi memang bukan dari suku jawa, ia berasal dari salah satu suku di



kota Makasar. Andi Maipa lahir di Jawa Tengah tepatnya di Semarang pada



tanggal 18 Juli 1984. Ia menyelesaikan studinya di Jawa mulai dari SD sampai



SMA semua ditamatkan di Semarang. Saudaranya ada 2 orang semuanya



tinggal di Sulawesi Selatan bersama ibu tercinra. Sedang ayah sudah



meninggal.



Di Universitas negeri Semarang ia mengambil jurusan Bimbingan



Konseling. Tak tahu ia mengapa memilih jurusan itu, akan tetapi ia senang



dengan jurusan itu. Hobinya pada kesehatan dan kejiwaan dianggapnya tepat



jika kuliah di jurusan itu.



Sekarang ia tinggal di mushola FIP. Di sana ada beberapa fasilitas



yang ada. Ia tidur beralaskan karpet hijau. Dalam ruangan itu ada satu almari



milik inventaris mushola yang sebagian digunakan untuk tempat baju Andi.



Tak ada meja belajar. Hanya ada satu konputer milik Kerohanian Islam FIP



yang sangat membantu ketika ia mengerjakan tugas.



Setelah ayah meninggal ia terpaksa kerja sendiri untuk membiayai



kuliahnya. Iapun aktif di dunia training tepatnya di Iqro club. Lembaga ini



memang dikhususkan untuk anak-anak SLTA dan sederajat. Namun pada



prakteknya kadang mengisi juga di Universitas.



2. Sriyanto



ci

Namanya sederhana, ia lahir di daerah pegunungan yang sejuk.



Orang ini postur tubuhnya kecil dan seperti orang jawa lainnya, kulitnya sawo



matang. Sriyanto begitu orang tua memberi nama. Ia dilahirkan di Karang



Anyar, pada tanggal 13 Juli 1985. Alamat rumah di dusun Gedong, desa



Nngadirejo Kec. Mojogedong Kab. Karang Anyar. Orang tuanya adalah petani



desa yang ditekuninya sejak ia kecil



Di Universitas Negeri Semarang ia mengambil jurusan Ekonomi.



Ia masuk UNNES pada tahun 2003. Kini ia bertempat tinggal di Ayu kost di



Gang Pete Sekaran. Kost yang dipilihnya cukup sederhana dan seperti keadaan



kost laki-laki pada umumnya hanya saja ini lebih murah. Jika ke kampus ia



cukup jalan kaki. Aktifitas organisasi yang dikutinya cukup padat.



3. Handoyo





Ia dilahirkan di kota yang terkenal dengan suku Saminnya,



tepatnya di Blora pada tanggal, 22 januari 1983. Ayah yang bernama Sabar



dan Ibu Sutarmi adalah petani yang mempunyai lahan seluas 1,5 H yang



merupakan satu-satunya sumber penghidupan keluarga.



Handoyo adalah anak ke 4 dari lima bersaudara. Kakaknya semua



sudah tidak mengenyam pendidikan, hanya ia dan adiknya yang duduk di



SMA Negeri Blora yang masih sekolah. Namun kondisi keluarga masih di lilit



oleh kemiskinan yang cukup kuat.



Di UNNES ia mengambil jurusan Tehnik Bangunan, ia masuk



tahun 2001. Ia terpaksa kerja di rental Mitra Comp untuk menambah



penghasilan. Jika hanya mengandalkan kiriman orang tua maka tak pernah





cii

cukup, terlebih ia kuliah di jurusan yang banyak menghabiskan uang. Jadi ia



harus pandai-pandai mencari uang.



Kini ia tinggal di kost Wisma Kant. Di Gang Cempaka Sari Timur.



Ia hanya menempati ruangan 1x 2 meter. Sebenarnya itu bukan kamar, hanya



tempat sholat yang dijadikan kamar. Praktis tak ada kasur apalagi karpet, satu-



satunya ketika peneliti survey adalah sajadah satu. Ia sering tidur dilantai



yang hanya beralaskan tikar baik di kost ataupun di rental tempat ia



mengantungkan hidup. Ketika wawancara berlangsung ia baru saja jatuh sakit,



badannya kurus. Namun dengan kesabaran akhirnya wawancara berhasil juga.







4. So`im Khoironi





Tak ada yang tahu bahwa mahasiswa ini adalah jurusan PJKR.



Orangnya kalem dan tinggi besar dengan kulit yang agak hitam, maklum ia



sering dilapangan. Ia satu-satunya mahasiswa angkatan 2004 yang diikutkan



dalam studi kasus ini. Meskipun baru ia masuk kriteria mahasiswa miskin.



Pertemuan dengan responden dimulai ketika resnponden sholat di Masjid Ulul



Albab. Disitulah berkenalan dimulai sehingga sedikit banyak kondisinya



diketahui oleh peneliti.



Sekarang ia tinggal di Masjid kampus. Keuangan keluarga tidak



mendukung untuk kost. Dan secara kebetulan ia jadi takmir di sebuah masjid



kampus. Kiriman dari orang tua saja tiap bulan hanya berkisar 50.000,00-



70.000,00. Satu nominal yang kecil di jaman sekarang tapi itulah fakta yang



ditemui dalam penelitian ini.







ciii

5. Noor Sjahid





Berasal dari kota ukir-ukiran Jepara. Ia dilahirkan pada tanggal 6



Desember 1981. Alamat lengkapnya berada di Rt 15 Rw III Desa Robayan



Kalinyamat Japara. Pendidikan di mulai dari SD II Robayan dan lulus tahun



1994. lalu melanjutkan di SLTP N 1 Welahan dan selesai pada tahun 1997. ia



langsung masuk di SLTA Walisongo Pecangaan di kecamatan Pecangaan dan



lulus tahun 2000.



Di UNNES ia mengambil jurusan pendidikan Fisika fakultas



Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Kini ia tinggal di Gang Pisang di



sebuah kost yang tak bernama. Kost sangat sederhana, terbuat dari kayu papan



sama seperti responden dari tehnik.



Sebulan ia diberi dari orang tua sebesar 20.000,00-50.000,00.



untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia mengadakan les privat kepada anak-



anak SLTP. Dunia ini sudah tekuninya sejak semester dua. Dan kini diberi



kuasa untuk memimpin Ibnu Sina, sebuah yayasan yang bergerak di bidang



social dakwah dan pendidikan. Ia mempunyai saudara 4 orang dan ayahnya



telah lama meninggal dan ibunya hanya seorang pedaganng kecil di pasar



Kalinyamat.









civ

TRANSKIP WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )







I. Responden utama

1. Nama : Andi Maipa

2. Tempat tgl. lahir : Semarang, 18 Juli 1989

3. NIM :1301403054

4. Semester :3

5. Jurusan :Bimbingan Konseling

6. Jenis kelamin : Laki-laki

7. Tgl wawancara : 19 Desember 2004 dan 21 April 2005

8. Waktu : 06.30 dan 10.00 WIB

9. Tempat : PKM Rohis FIP

10. Kode responden : 1





1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?

Jawab : “Ayah saya sudah meninggal baru-baru aja dan ibu hanya

seorang ibu rumah tangga di Makasar, ia tidak nyambi kerja.

Jadi aku tidak pernah di kirim uang dari orang tua

sepeserpun”

2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?

Jawab : “Jelas, aku kudu kerja apa saja yang penting aku dapat uang,

tapi paling banyak aku di dunia trainer Iqro club terutama

untuk teman-teman SLTA. Pernah juga aku ngisi di solo.

Untuk ngisi di kampus jarang, paling di Rohis sendiri (ia aktif

di rohis FIP) dan itupun aku tak mengaharapkan bayaran.

Aku juga banyak ngisi di berbagai acara di kampus. Selain itu

aku kadang memperbaiki komputer. Jadi ada pemasukan

untuk membantu keperluanku”







cv

3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di

waktu yang ditentukan?

Jawab : “Secara otomatis tidak ya”

4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?

Jawab : “Uangku sebagian besar untuk makan, baru kebutuhan yang

lain seperti kuliah dan lain-lainnya. Sebelum habis maka saya

wajib menyisihkan uang sejumlah 90.000,00 untuk makan

sebulan itupun kalau ada”

5. Motivasi apakah ketika anda makan di kantin kampus?

Jawab: “Saya jarang ke kantin inisiatif sendiri, karena nggak punya

uang, kalau ada yang membeliin aku nggak sungkan-sungkan

menerimanya….. lumayan untuk mengganjal perut. Kalau

dibelikan saya biasanya suka telur asin, sumber protein yang

murah. Ya biar nggak sakit-sakitan. Dan es teh yang dikasih

jeruk lemon kan jadi teh lemon yang enak. Itulah rejeki yang

diberikan untukku kadang-kadang saya terharu dengan

makanan yang sederhana, tetapi rejeki ada saja. Emang

apabila kita bertaqwa rejeki pasti ada saja”

6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?

Jawab : “Jarang sekali karena uang saya sedikit. Tapi kalau ada pas

banyak ya nggak apa-apa. Tapi prinsipnya aku bukan orang

pelit lho!”

7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?

Jawab : “ Pernah,pernah bahkan lumayan banyak. Ya karena temanku

banyak kali ya? dan perasaan saya biasa saja tidak ada rasa

yang macam-macamlah”

8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?

Jawab : “Tidak pernah sama sekali karena uangku selalu habis. Jadi

jarang menabung hanya jika uangku banyak aku harus

menyimpan 90.000.untuk makan bulan depan, itupun jika

ada. Jika tak ada ya tidak apa-apa”







cvi

9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam

kampus?

Jawab : “Aku sih tipenya suka bergaul dengan siapa saja. Tak pandang

status sosial, tetapi aku tidak suka membuka diri. Untuk

masalah itu biarlah aku saja yang tahu. Biarlah orang lain

melihat senyum kita bukan tangis kita, sehingga tidak

merepotkan orang lain”

10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang

lain?

Jawab : “Tidak pernah, tidak pernah…pantangan bagi saya . aku tak

suka membuka diri pada orang lain. Itu rahasia pribadi yang

tak boleh diceritakan pada orang lain”

11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih

cukup dari anda?

Jawab : “Biasa saja mas, karena mereka tahunya saya orang yang

mampu seperti halnya mereka sebab saya suka tersenyum dan

berpenampilan sebagai orang yang optimis, sehingga orang

tidak melihat sisi kehidupan yang serba kekurangan.

Beberapa teman yang tahu kondisi saya sikapnya cukup baik

padaku...”

12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?

Jawab : “Saya termasuk orang yang mungkin termasuk disayang

(dekat,akrab) oleh teman-teman. Semua baik-baik dengan

saya”

13. Apakah teman sering membantu kesulitan ekonomi yang anda hadapi?

Jawab : “Sering bila aku minta ya, Aku tak malu untuk minta tolong

pada temen terutama jika aku butuh. Tapi jika tak di minta

aku tak tahu, tapi untuk sahabat dekat biasanya sudah tahu

kondisi saya, jadi lebih perhatianlah...”

14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?

Jawab : “Tidak karena saya tidak tahu, kalaupun ada IP saya paling-

paling nggak nyampe karena saya lemah di tugas terstrukstur





cvii

yang menyita waktu dan biaya sehingga nilai saya agak naik

turun. Dulu aku pernah ditawari tapi, bahkan diusahakan

benar oleh Pak Sugeng (Pembantu Dekan 3 FIP) tapi aku bisa

melunasi uang kuliah jadi ya nggak jadi”

15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika

mengikuti kuliah di kampus?

Jawab : “Saya kira sama dengan yang lainnya, karena dosen tidak tahu

keadaan saya hanya sebagian kecil dosen yang tahu kondisi

saya. ada Dosen yang memuji saya karena saya mampu

menjawab dengan baik, ada juga dosen yang tak peduli

kondisi saya, kuliah ya kuliah, kerja ya kerja tak usah di

campur. Menghadapi dosen yang kaya begini aku ya harus

benar-benar mengatur, kuliah penting kerja ya penting karena

sumber hidupku ”

16. Dalam proses perkuliahan apakah dosen pernah dimintai

pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?

Jawab : “Seringkali begitu. Sebagian dosen menganggap saya adalah

mahasiswa yang cerdas dan dewasa dalam bersikap dan

punya wawasan yang lebih, tetapi..sebagian yang lain

menganggap saya adalah seorang mahasiswa yang malas

kuliah dan malas bikin tugas. Di tambah kadang mbolos,

padahal mbolos itu banyak untuk cari duit”

17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena

kondisi anda?

Jawab : “Tidak pernah, sebagian dosen baik pada saya”

18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk

mudah mendapat mitra dengan mudah?

Jawab : “Mudah saja. Sayakan suka bergaul. Jadi dalam membentuk

kelompok mudah saja. Ada juga temen yang kadang jengkel

terhadapku, yaitu tadi aku harus cari duit, jadi pas kelompok

aku tak datang. Temen ada yang tak suka, tapi biasalah aku

tak apa-apa”





cviii

19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?

Jawab: “Ya, saya memang suka menutup diri. Sebab saya tak punya

keinginan untuk menceritakan dengan orang lain masalah apa

yang saya hadapi. Biarlah orang lain melihat senyum saya

bukan tangis saya ”

20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?

Jawab : “Jelas ya, karena itu penting sekali”

21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan

anda?

Jawab : “Jelas senang sekali, tapi tidak usah berlebihan berbahaya”

22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah? (termasuk mengerjakan

tugas-tugas)

Jawab : “Lha itu masalahnya saya sangat semangat kuliah akan tetapi

nggak punya dhuwit dan waktu. Karena harus terbagi untuk

mencari uang. Mau tak mau kuliah sering terganggu, sebab

kadang aku mbolos untuk mencari uang. Jadi kuliah tak

masuk. Tapi aku semangat mengikuti kuliah”

23. Apakah anda mempunyai niat untuk berprestasi di dalam kuliah?

Jawab : “Jelas ingin. Tapi seperti yang saya ceritakan di atas. waktuku

kadang terbagi untuk cari uang, jadi kerepotan juga membagi

waktunya. Tapi prestasi tetap ingin”

24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?

Jawab : “Ini masalah saya, dalam kuliah saya jarang disiplin. lha

gimana lagi wong kadang harus mencari uang otomatis

benturan pastikan ada”

25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah

buku,dll)?

Jawab : “Saya sangat suka, tentu saja yang gratis-gratis atau kita jadi

panitianya sekalian biar dapat konsumsi kan gratis he..he. ”

26. Apakah anda aktif mengikuti organisasi atau menjadi pengurus

organisasi kemahasiswaan di kampus?







cix

Jawab : “Ya, saya ikut organisasi karena banyak fasilitas yang bisa

diberikan untuk membantu kondisi saya ini seperti tempat

tinggal gratis, komputer gratis, sekalian mengembangkan diri

dan “memperjuangkan sesuatu. Di FIP aku ikut Rohis dan

sering bantu Hima juga.”

27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?

Jawab : “Tentu saja ya, kan itu wajarlah. Ya. Biarpun kondisiku begini

menjadi yang terbaik itukan perlu”

28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di

organisasi itu?

Jawab : “Tidak..tidak aku rasa tidak ada. Tapi waktu kadang menjadi

penghambat yang besar. Karena aku harus bisa membagi

waktu dengan baik. Karena kadang berbenturan dengan

kuliah, apalagi jika untuk nyari duit otomatis harus pandai-

pandai ngatur waktu. Ya biar nggak mbolosanlah”

29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu

organisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)

Jawab : “Sangat senang sekali ya. Kan bisa berbagi senyum dengan

teman-teman dan yang penting aku bisa tersenyum dengan

melihat teman-teman yang sedang senang dan ceria.

Walaupun di hati kadang tidak begitu, kadang hati sedang

sedih tapi aku berusaha untuk tabah, maknya aku cari temen

yang ceria jadi biar masalah bisa hilang”

30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu

kesulitanm anda?

Jawab : “Ya,sangat membantu….karena ikatan emosional oleh kawan-

kawan ”seperjuangan” biasanya sangat tinggi sehingga

banyak sekali dari mereka bukan lagi teman tetapi sahabat.

Ini yang aku suka dalam organisasi”









cx

TRANSKIP WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )







I. Responden utama

1. Nama : Sriyanto

2. Tempat tgl. lahir : Karang anyar, 13 Juli 1985

3. NIM : 3352403543

4. Semester :3

5. Jurusan : Ekonomi

6. Jenis kelamin : Laki-laki

7. Tgl wawancara : 24 Desember 2004 dan 19 april 2005

8. Waktu : 13.00 dan 09.00

9. Tempat : Ayu kost

10. Kode responden : 2





1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?

Jawab : “Kalau tiap bulan saya mendapat kiriman sejumlah kurang

lebih Rp 200.000,00 saya pulang ambil sendiri. Jarang

dikirim dengan post”

2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?

Jawab : “Sumber biaya lain? Ada sih kadang dari Bibi yang di kasih

pada awal semester sebesar Rp 600.000,00 tapi tidak ini

pasti. Yang pasti ya dari orang tua”

3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di waktu

yang ditentukan?

Jawab : “Pengiriman dari orang tua tidak pernah dilakukan karena saya

mengambil sendiri uang yang ada di rumah, keteraturannya

tergantung saya pulang, jadi belum tentu di awal bulan atau

di akhir bulan. Jadi kalau saya butuh ya pulang”

4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?



cxi

Jawab : “Kalau saya begini, pada saat saya pulang maka saya akan

membuat estimasi kebutuhan selama waktu yang saya

rencanakan, bisa dua minggu atau tiga minggu ataupun satu

bulan bahkan satu setengah bulan. Sehingga besarnya

tergantung yang saya rencanakan. Apabila dua minggu

Rp100.000,00 plus transport PP Rp 30.000,00. kalau tiga

minggu maka besarnya Rp 150.000,00 plus uang transport Rp

30.000,00 kalau satu bulan besarnya Rp 200.000,00. estimasi

selama satu bulan

Kebutuhan makan minum Rp 150.000,00

Transport Rp 30.000,00

Kebutuhan kuliah Rp 20.000,00

Untuk berhemat maka saya menekan kebutuhan konsumsi,

sebab Rp 200.000,00 bisa kurang.sebab kadang meleset dari

perkiraan,misalnya banyak kegiatan yang dilakukan

diorganisasi”

5. Motivasi apakah ketika anda makan di kampus?

Jawab: “ Kalau makan sih pernah tapi tidak sering, saya masih ingat

mas….selama satu setengah semester ini saya makan dikantin

kampus dua kali, itupun coba-coba saja. Hal itu saya lakukan

karena makan dikantin lebih mahal apabila dibandingkan

dengan warung-warung di kompleks kost. Di kantin rasanya

juga kurang nyaman, nggak enak di lihat orang, Maklum

standar anak kost,lagian kalau rame apa muat tempatnya?

6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?

Jawab : “Belum pernah untuk di kantin kampus, tapi kalau di warung

kompleks kost pernah, tidak sering dan khusus untuk teman-

teman dekat saja. Sedangkan teman yang tak dekat aku jarang

nraktir”

7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?

Jawab : “Ditraktirkan teman sih pernah tapi tidak sering alias jarang.

Misalnya kost saya ada yang wisuda diajak makan bersama.





cxii

Dan belum tentu tiap semester ada yang wisuda. Kalau

makan masak bareng pernah tapi tetap iuran 2500 untuk beli

untuk beli beras dan lauk”

8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?

Jawab : “Untuk urusan menabung di bank tidak pernah rutin, karena

biasanya kalau ada sisa uang lebih enak disimpan di dompet,

kan dompetnya masih muat. Tapi jika ingin nabung saya

bilang orang tua, biasanya dikasih 100.000. pernah dikasih

1500.000 tapi untuk registrasi ha..ha..ha”

9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam

kampus?

Jawab : “Kalau saya berusaha untuk terbuka sama teman-teman

dikampus and saya juga banyak temennya di kelas maupun

organisasi. Karena bagi saya itu 1000 temen itu masih kurang

dan satu musuh sudah cukup banyak”

10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang

lain?

Jawab : “Pernah saya temen kost, biar kita saling dekat dan saling

memahami. Bagi saya tampil apa adanya adalah suatu hal

yang positif. Tahu kondisi masing-masinglah!. Cerita apa

adanya dengan temen juga akan mendekatkan diri dengan

orang lain, terutama temen dekat”

11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih

cukup dari anda?

Jawab : “Biasa, biar mereka dikasih rejeki yang cukup banyak dan

saya sering melihat temen-temen yang serba berkecukupan

merekapun baik dengan saya. Eh... ngomong-ngomong kalau

punya temen yang secara ekonomi cukup kan bisa meminjam

uang apabila habis persediaan”

12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?

Jawab : Di kelas ada beberapa kelompok yang seolah-olah tidak rukun

dan kelihatan sendiri-sendiri. saya mampu menerobos gap-





cxiii

gap yang ada di kelas. Rasa-rasanya temen-temen bisa untuk

saling mamahami kondisi saya ini”

13. Apakah teman sering membantu kesulitan ekonomi yang anda hadapi?

Jawab : “Kesulitan ekonomi?. Khususnya temen kost dan beliau juga

satu program studi dengan saya, ekonomi dan satu kelas

dengan saya. Jadi ya saling membantu, kadang saya

membantu dia dan kadang saya yang dibantu olehnya. Temen

dikampus biasalah, tapi ada yang perhatian juga sama aku”

14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?

Jawab : “Tidak karena saya mahasiswa kelas paralel. Sebenarnya aku

ingin sih tapi ya itu aku mahasiswa paralel. Jadi gimana

lagi?”

15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika

mengikuti kuliah di kampus?

Jawab : “Bukan nyombong ya! dosen memperlakukan saya dengan

baik, karena saya dikenal sebagai mahasiswa aktif di kelas,

enggak ada masalah. Saya kira dosen menganggap

mahasiswanya sebagai orang yang menuntut ilmu, bukan

orang yang gengsi-gengsian secara ekonomi”

16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta pendapat/gagasan

ketika kuliah berlangsung?

Jawab : “Pernah ketika presentasi makalah, saya dapat nilai plus

diantara temen dari dosen. Saya rasa dalam proses

perkuliahan dalam mimbar akademik di kelas mahasiswa itu

sama. Tiap mahasiswa boleh bertanya dan menjawab. Bahkan

saya tergolong mahasiswa yang paling aktif di kelas kata

temen saya lho.”

17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena kondisi

anda?

Jawab : “Sama sekali tidak, tidak pernah itu tapi ada pertanyaan pas

mengikuti kuliah dibalikkan ke saya, eh saya sendiri yang

suruh jawab oleh dosen..ya saya jawab semampuku”





cxiv

18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk

mudah mendapat mitra dengan mudah?

Jawab : “Dalam membentuk kelompok saya mudah sekali mendapat

mitra dalam kelompok, ini kata teman saya lho!”

19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?

Jawab: “Menutup diri kadang-kadang diperlukan pada saat keadaan-

keadaan tertentu, hanya saja saya jarang menutup diri. Saya

lebih suka keterbukaan. Namun saya menutup diri pada saat

ada masalah keluarga, ataupun masalah pribadi yang

sekiranya orang lain nggak baik kalau ikut campur”

20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?

Jawab : “InsyaAllah, dari dulu saya dididik untuk konfident. Bagi saya

kondisi manusia itu secara umum sama yaitu dengan

kelemahan dan kekurangan masing-masing”

21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan anda?

Jawab : ” Persaaan sama dengan yang lainlah, tentunya senang. Tapi

itu untuk memotivasi saya dalam belajar di kampus”





22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah (termasuk mengerjakan

tugas-tugas)?

Jawab : “Ya hampir 100% aku rajin kuliah . Untuk tugas-tugas

biasanya saya kerjakan sendiri, kuliah nomor satu, untuk

organisasi itu di bawah kuliah, itu prinsip yang saya pegang

selama ini. Semua temen baik-baik dengan saya. Ada dosen

yang dekat dengan saya, bahkan kaya anaknya sendiri. Tapi

ada juga dosen yang jarang ngajar!”

23. Apakah anda mempunyai niat untuk berprestasi dalam kuliah?

Jawab : “Ya, misalnya pada saat presentasi makalah, diperlukan

retorika yang baik untuk mendapatkan perhatian dari teman-

teman. Tapi untuk caper (cari perhatian; penulis) untuk

mendapatkan pujian sama sekali tidak pernah saya lakukan.







cxv

Siapa sih orangnya yang tak senang dipuji? namun jarang

sekali motif untuk mendapatkan pujian diri dari orang”

24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?

Jawab : “Saya cukup disiplin, hampir tidak pernah datang terlambat.

Dan presensi kehadiran hampir 100%, untuk semua mata

kuliah. Bagi saya disiplin adalah hal yang perlu dibudayakan”

25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah

buku,dll)?

Jawab : “Kegiatan kampus sering, biasanya jadi panitia, mulai dari

bedah buku, seminar dan training. Asalkan kegiatan itu

bermanfaat dan tidak banyak mengeluarkan biaya…saya akan

ikut di dalamnya ”

26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan

organisasi kemahasiswaan di kampus?

Jawab : “Saya di organisasi cukup aktif. Di ekstra, karena tidak terlalu

di boncengi kepentingan politik yang berlebihan. Dan untuk

di intra saya selektif untuk serta di dalam organisasi di

kampus. Kalau diboncengi kepentingan di dalamnya biasanya

saya menghindar untuk sementara waktu. Di intra saya aktif

di Hima Ekonomi di Eksis (keagamaan islam;penulis) aktif

bidang kaderisasi dan untuk ekstra saya aktif di HMI MPO.

Bagi saya organisasi akan banyak manfaatnya dalam

membentuk kepribadian, dan banyak manfaat lain dari

organisasi”





27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?

Jawab : “Kalau bisa begini, orang yang baik adalah yang paling

bermanfaat bagi orang lain. Itu harapan saya dalam

berinteraksi”

28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di organisasi

itu?







cxvi

Jawab : “Secara umum belum mas,namun kendala sih ada. Misalnya

keuangan dan fasilitas misalnya sepeda motor dan sarana

komunikasi karena saya belum mempunyai HP”

29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu

oraganisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)

Jawab : “Senang, dan saya tidak pernah merasa minder terhadap

teman-teman seorganisasi. Kalau kita saling memahami maka

enak saja dalam berinteraksi”

30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering membantu kesulitanm

anda?

Jawab : “Ya, misalnya saya butuh kendaraan bermotor, biasanya saya

dipinjami. Misalnya butuh SMS maka saya dipinjami HP.

Tapi rasa-rasanya kalau pinjam terus nggak enak..









cxvii

TRANSKIP WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )







I. Responden utama

1. Nama : Handoyo

2. Tempat tgl. lahir: Blora, 22 Januari 1983

3. NIM : 5101401020

4. Semester :5

5. Jurusan : Pendidikan Tehnik Bangunan

6. Jenis kelamin : Laki-laki

7. Tgl wawancara : 19 Desember 2004 dan 16 April 2005

8. Waktu : 10.30 dan .09.10 WIB

9. Tempat : Mitra comp

10 Kode responden : 3





1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?

Jawab : “ Kurang lebih Rp 120.000,00 perbulan, tapi kadang tidak

diberi. Biasanya aku pulang sendiri ke rumah untuk ambil

uang itu, jarang orang tua ke sini atau kirim dengan wesel”

2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?

Jawab : “Ya aku hanya mengandalkan beasiswa PT Djarum sebulan

sebesar 150.000,00 dan kerja Part time di rental Mitra Comp

Gang Cempaka kalau ramai aku bisa nyampai 150.000,00 ”

3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di

waktu yang ditentukan?

Jawab : “Tidak juga karena biaya saya pokok dari kerja Part time itu

jadi susah teraturnya dan saya juga tak banyak berharap,

kasihan orangtua kan bapak saya petani kecil”

4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?







cxviii

Jawab : “Kalau saya prioritas untuk konsumsi/makan baru kebutuhan

kuliah seperti fotocopy, diktat, buku-buku. Setelah itu baru

internet tranportasi dan pembayaran utang. Barang yang awet

saya beli untuk satu bulan sedangkan yang instant maka saat

kebutuhan dan jika ada sisa maka saya tabung ”

5. Motivasi apakah ketika anda makan di kantin kampus?

Jawab: “Tidak tidak pernah! Karena harga di kantin lebih mahal

walaupun dengan menu yang sama kalau di kampus saya

manfaatkan waktu untuk membaca buku. Saya tak punya

menu faforit, dan saya semua makanan hampir saya sukai.

Terus saja ke pertanyaan selanjutnya!”

6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?

Jawab : “Kadang-kadang saya lakukan itu terutama jika banyak uang.

Jika tidak punya ya tidak. Itupun untuk teman dekat saja yang

sering saya jajakan makan bersama, biasanya itu di kost”

7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?

Jawab : “Kadang juga, aku sih suka-suka teman aja yang ngajak”

8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?

Jawab : “Tidak terlalu seringlah karena hampir biaya kuliah aku yang

cari sendiri maka saya tidak pernah menabung. Paling-

paling untuk persediaan kuliah saja. Gimana ya uang selalu

pas terus, bahkan minim ”

9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam

kampus?

Jawab : “Kalau aku orangnya terbuka sekali mas. Dengan siapa aku

mudah bergaul dan terbuka”

10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang

lain?

Jawab : “Jelas pernah tapi hanya pada satu atau dua orang ya untuk

curhat(mencurahkan perhatian) Tapi aku ceritakan dengan

terbuka kok, biar tahu kondisi saya. Aku tak suka ditutup-

tutupi”





cxix

11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih

cukup dari anda?

Jawab : “Mereka biasa-biasa saja mas, bagi saya tiap orang punya

kelebihan dan punya kekurangan, ya sama dengan

merekalah”

12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?

Jawab : “Mereka cukup baik padaku. Sama dengan yang lainlah.

Sebagian juga akrab denganku. Aku menceritakan keadanku

juga dengan teman kuliah, terutama teman dekat.”

13. Apakah teman sering membantu kesulitan ekonomi yang anda hadapi?

Jawab : “Banyak teman membantu kesulitan saya ya namanya saja

mahasiswa saling tolong-menolonglah”

14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?

Jawab : “Ya aku mengikuti beasiswa dari PT Djarum tahun 2004

lumayan untuk membantu kesulitan keuangan saya. Selain itu

tak ada”

15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika

mengikuti kuliah di kampus?

Jawab : “Ya dosen memperlakukan saya dengan baik sama seperti

yang lain, tak ada perbedaan dengan mahasiswa lain. Ada

dosen yang jarang ngajar tapi banyak yang rajin ngjar kok.

Mungkin belum tahu kondisi saya ya! Tapi tak apa-apa”

16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta

pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?

Jawab : “Sering. Dan ini yang membuat aku senang. Rasanya senag

jika aku bisa mengungkapkan gagasanku atau pendapatku”

17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena

kondisi anda?

Jawab : “Jarang itu. Bahkan dosen kadangkan menyuruh

mahasiswanya untuk bertanya”









cxx

18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk

mudah mendapat mitra dengan mudah?

Jawab : “Bagi saya tidak. Bahkan sebaliknya saya mudah akrab dengan

orang lain sehingga ini membantu saya dalam berinteraksi”

19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?

Jawab: “Terkadang ada satu sisi yang harus saya tutupi. Maksud saya

ada masalah yang harus tidak diketahui oleh orang lain ”

20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?

Jawab : “Alhamdullah saya percaya diri walaupun kondisi seperti ini.

Ya tidak mangapalah”

21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan

anda?

Jawab : “Terus terang saya tak suka. Bagiku belum banyak yang saya

layak dapat pujian, lalu untuk apa pujian itu!

22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah (termasuk mengerjakan

tugas-tugas)?

Jawab : “Saya aktif mengikuti kuliah kan amanah dari orang tua ya

kan?. Saya mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya

untuk kuliah. Memang kadang aku capai gara-gara mengetik

di rental terlalu banyak orderan. Tapi kuliah itu kan amanah

jadi aku lakukan”

23. Apakah anda mempuyai niat untuk berprestasi dalam proses kuliah?

Jawab : “Iyalah he..he kan nggak apa-apa toh? Biar ada semangat.

Setiap orangkan ingin berprestasi, begitu juga aku”

24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?

Jawab “Ini kehebatan aku kali ya? Nggak nyombong lho! Dari awal

kuliah sampai hari ini aku tidak pernah mbolos kuliah. Hebat

ya! Tugas-tugas saja saya kerjakan dengan baik sehingga

tidak pernah telat”

25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah

buku,dll)?







cxxi

Jawab : “Sering sekali bahkan sangat sering. Itu kan menambah

pengetahuan kita ya, jadi saya ikutlah, apalagi nggak bayar

wow saya senang . aku senang seminar tentang masalah

politik dan dunia Islam”

26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan

organisasi kemahasiswaan di kampus

Jawab : “Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk

organisasi. Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita

sendiri. Banyak ilmu yang didapat dengan mengikuti

organisasi itu. Di UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam)

ataupun di RISTEK (Kerohanian IslamTehnik ) saya ikut jadi

pengurus. Tapi teraktif di rohis tehnik, kan fakultas sendiri”

27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?

Jawab : “Saya selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik memberi

yang terbaik kan ini wajar bagiku asal tidak berlebihanlah.

Lagipula bermanfaat bagi diri kita sendiri ”

28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di

organisasi itu?

Jawab : “Terkadang ya, karena saya terbentur pada masalah waktu

yang mepet, kuliah yang banyak dan kerja yang lagi-lagi

menyita waktu”

29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu

organisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)

Jawab : “Senang karena mereka adalah teman-teman yang terbaik yang

miliki. kan suka duka dalam oragnisasi menjadi kenangan

yang manis. Masalah saya yang kondisinya saeperti ini kan

tidak harus diungkapkan ”

30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu

kesulitanm anda?

Jawab : “Terkadang ya mas. Mereka membantu kesulitan yang saya

hadapi, tapi tentu saja yang tahu kondisi saya, sedang yang

lain terutama yang tidak tahu biasa saja ”





cxxii

TRANSKIP WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )







I. Responden utama

1. Nama : So`im Khoironi

2. Tempat tgl. lahir : Temanggung, 5 September 1986

3. NIM : 6101404011

4. Semester :1

5. Jurusan :PJKR

6. Jenis kelamin : Laki-laki

7. Tgl wawancara : 29 Desember 2004 dan 21 April 2005

8. Waktu : 15.30 dan 12.30

9. Tempat : Masjid Ulul Albab

10. Kode responden : 4





1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?

Jawab : “Nggak tentu mas, kadang hanya cukup buat makan dan sisa

sedikit buat membuat tugas-tugas dari kuliah. Benar mas

nggak besar paling 70.000,00/bulan. Kalau lagi nggak punya

kadang hanya 50.000,00/bulan”

2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?

Jawab : “Nggak ada, saya hanya mengandalkan dari orang tua.

Sedangkan kalau untuk makan ada. Di masjid ini

(MUA;penulis) tiap bulan ada bantuan operasional dari

rektorat sejumlah 200.000,00 dan itupun untuk 6 orang

takmir jadi ya sedikit sekali. Dan itupun di ambil nggak tepat

waktu, nggak teratur”

3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di

waktu yang ditentukan?







cxxiii

Jawab : “Tidak pernah, kadang-kadang aku minta hari ini baru besok/

hari tertentu datangnya 5-7 hari. Jadi ya susah, kalau aku

pulang pas ada ya di kasih. Biasanya orang tua selalu

berusaha misalnya dengan pinjam tetangga untuk mengasih

aku uang. Kasihan juga aku melihat orang tua”

4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?

Jawab : “Begini mas untuk makan 2 kali sehari tanpa minum (minum

air putih;penulis). di samping itu juga sering puasa jadi

mengurangi pengeluaran. Untuk tugas saya hemat artinya jika

terpaksa diketik baru dilakukan. Untuk pengeluaran yang

lain kalau tidak penting sekali ya nggak, pokoknya uang tidak

untuk hal-hal yang tidak perlu ”

5. Motivasi apakah ketika anda makan di kantin kampus?

Jawab: “Jarang, ya sangat jarang bahkan tidak pernah. Maklum

keuangan tidak ada, tidak mendukung. Perasaan kaku sih,

soalnya males kalau rame. Bikin BT aja lagian juga nggak

oke kalo makan ngirit di lihat orang.”

6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?

Jawab : “boro-boro nraktir temen saya, buat makan sendiri aja saya

susah. Jadi itu mas aku tidak pernah nraktir. Inginnya sih

begitu bisa nraktir temen”

7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?

Jawab : “Kalau aku sering juga. Apalagi pas moment-moment tertentu

misalnya setelah dari lapangan aku dijajakan oleh temen.

Tapi sebagian besar temanku sudah tahu kondisi aku ..yang

miskin ini. Temenku juga mudah memberi pada sesama ”

8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?

Jawab : “Paling-paling kalau ada sisa uang receh 500-an baru aku

sisihkan. Tapi untuk jumlah besar jelas aku nggak pernah”

9. Apakah anda termasuk orang yang membuka diri (suka bergaul) dalam

kampus?







cxxiv

Jawab : “Iya deh, kayaknya iya..tapi untuk ngerasa diri kekilah.

Apalagi bergaul sama orang-orang borju. Kalau sesama orang

miskin sih udah akrab”

10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang

lain?

Jawab : “Enggak…anggak pernah tapi mereka (temen-temen aku)

sebagian besar udah pada tau nasib aku yang miskin ini ”

11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih

cukup dari anda?

Jawab : “Yah… biasa lagi..mereka kan juga manusia samalah.

Memang sih aku selalu dihantui oleh perasaanku sendiri

terkait dengan keadaanku yang miskin ini. Emang ada juga

perasaan minder because mereka lebih uang lebih… dan

lebih segalanya. Tapi kemudian aku jadi sadar, kalau aku

malu pada diriku. Itu artinya aku membenci diriku sendiri

akhirnya ya stay cool aja”

12. Bagaimana sikap teman anda ketika berinteraksi di kampus?

Jawab : “Mereka bahkan begitu close (terbuka; penulis) denganku.

Semua baik-baik aku senang punya teman seperti mereka”

13. Apakah teman sering membantu kesulitan yang anda hadapi?

Jawab : “Ya mereka sangat membantu….tapi kalo ada hubungan

dengan uang aku tolak, nggak enak juga. mereka kan pastinya

butuh uang juga buat hidup mereka di sini. ”

14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?

Jawab : “Mau ikut.. juga. Aku kan semester satu jadi belum boleh.

Tapi aku ingin ikut juga. Besok kalau sudah waktunya aku

ingin mengajukan beasiswa”

15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika

mengikuti kuliah di kampus?

Jawab : “Ada beberapa dosen yang baik sama aku, sering

berkomunikasilah, aku cukup akrab dengan mereka. Ada

beberapa dosen yang kenal saja, aku kan mahasiswa semester





cxxv

baru (1;penulis) jadi ya belum begitu banyak yang kenal

apalagi intim”

16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta

pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?

Jawab : “Pernah, yaitu pada waktu kuliah saat ada pertanyaan dari

mahasiswa lain, temen sendiri dan lalu oleh dosen diserahkan

padaku untuk menjawab. Aku menjawab sesuai

kemampuanku”

17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena

kondisi anda?

Jawab : “Kayaknya nggak pernah tuh..lagian dirasakan diskriminatif

banget”

18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk

mudah mendapat mitra dengan mudah?

Jawab : “Ah nggak, aku dapat temen bagiku mudah sekali kok..mereka

memandang aku bukan karena miskin tapi karena aku rajin

ngumpulin tugas. Jadi membentuk kelompok aku tidak

kesulitan”

19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?

Jawab: “Terkadang ada satu sisi yang harus saya tutupi. Maksud saya

ada masalah yang harus tidak diketahui oleh orang lain. Tapi

untuk masalah lain tidak begitu pribadi aku terbuka dengan

teman”

20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?

Jawab : “Jelas ya walaupun kondisiku begini tapi aku tetap percaya

diri, kalau nggak percaya diri emang jadi kaya. Kan nggak

mungkin itulah”

21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan

anda?

Jawab : “Kalau aku begini…aku punya prinsip yang berbeda kali ya

dengan orang lain, prinsipku Aku akan lebih menghargai

kamu jika kamu juga menghargai aku. Maka kalau temen bisa





cxxvi

menghargai aku maka aku akan menghargai mereka, bahkan

lebih menghargai mereka”

22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah (termasuk mengerjakan

tugas-tugas)?

Jawab : “Ini kehebatan aku kali ya? Nggak nyombong lho! Dari awal

kuliah sampai hari ini aku tidak pernah mbolos kuliah. Hebat

ya! Tugas-tugas saja saya kerjakan dengan baik sehingga

tidak pernah telat”

23. Apakah anda punya niat untuk berprestasi dalam proses kuliah?

Jawab : “Ya aku ingin itu. Makanya aku disiplin kuliah dan tugas-

tugas aku kerjakan dengan baik”

24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?

Jawab : “Jelas disiplin. Walaupun aku kuliah jalan kaki akan tetapi

aku tetap disiplin banget. Jadi nggak ngecewain orang tua

gitu”

25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah

buku,dll)?

Jawab : “Nggak pernah itu mas, soalnya kalau ikut seminar

misalnyakan butuh biaya atau kontribusi pesertakan?”

26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan

organisasi itu?

Jawab : “Ikut, karena disanalah kita bisa mengabdikan diri untuk

organisasi. Bisa juga untuk mencari pengalaman bagi kita

sendiri. Banyak ilmu yang didapat dengan mengikuti

organisasi itu. Cuma satu yang kuikuti yaitu UKM

Taekwondo, yang lain tidak. Masalahnya sangat terbatas sih

jadi aku nggak bisa ikut lebih banyak lagi. Anak FIK kan

minimal ada satu keahlian di bidang olahraga ya aku ikutnya

itu taekwondo. Itu yang aku suka”

27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?









cxxvii

Jawab : “Kalau saya begini sajalah bukan yang terbaik tetapi yang

lebih baik. Maklum untuk jadi yang terbaik kan harus lebih

dari yang lain, kalau saya?”

28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di

organisasi itu?

Jawab : “Kayaknya nggak ada tuh, aku biasa saja. Olahraga ini

(taekwondo; penulis) kan nggak begitu besar biayanya,

paling-paling banter tenaga yang ekstra toh”

29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu

organisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)

Jawab : “Wuih kalau saya tetep enjoy aja dan happy selalu. Kan disini

aku bisa menemukan hiburanlah”

30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu

kesulitanm anda?

Jawab : “Kayaknya jarang…bahkan nggak pernah kali ya soalnya aku

dalam UKM ini nggak begitu akrab seperti dengan teman

sekelas jadi jarang gitulah”









cxxviii

TRANSKIP WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )







I. Responden utama

1. Nama : Noor Sjahid

2. Tempat tgl. lahir : Semarang, 6 Desember 1981

3. NIM : 441400015

4. Semester :9

5. Jurusan :Fisika

6. Jenis kelamin : Laki-laki

7. Tgl wawancara : 30 Desember 2004 dan 19 April 2005

8. Waktu : 15.30 dan .09.00

9. Tempat : Gang pisang kost dan Masjid Ulul Albab

10. Kode responden : 5





1. Berapa besar kiriman uang dari orang tua/wali setiap bulannya?

Jawab : “Kiriman orang tua tiap bulan tidak tentu besarnya. Kalau ada

ya dikasih kalau tidak ada ya nggak dikasih. Untuk besarnya

kira-kira antara Rp 20.000,00- 50.000,00 ini diberi ketika

saya pulang”

2. Adakah sumber lain dari pembiayaan kuliah anda?

Jawab : “Ada,ada sumber lain. Nenek kadang memberi aku uang,

begitu juga pamanku sering ngasih juga. Di samping itu aku

juga cari penghasilan sendiri, terutama ngelesi anak anak

SMP atau SD di semarang saja. Hasilnya ndak banyak

lumayanlah buat nambah ongkos kuliah”

3. Apakah pengiriman uang dari orang tua/wali itu teratur datang di

waktu yang ditentukan?

Jawab : “Wah pengiriman dari orang tua tidak tentu tergantung kondisi

itu. Kalau aku pulang dan ada maka dikasih jika tidak ya



cxxix

tidak dikasih. Aku pulang juga nggak teratur. Jadi nggak

tentulah”

4. Bagaimana anda mengelola keuangan dalam satu bulan?

Jawab : “Uang dalam satu bulan itu paling banyak ya untuk biaya

hidup dan untuk kuliah saja. Yang lain aku tidak, bukannya

tidak ingin tapi emang kemampuanku terbatas. Penginnya sih

beli ini-beli ini tapi keuangan kan nggak ada,mau apalagi”

5. Motivasi apakah ketika anda makan di kantin kampus?

Jawab: “Saya sering makan dan minum di kantin kampus FMIPA,

karena saya tidak masak di kost. Aku tak sempat masak

sendiri. Kalau saya pas makan di kantin nasi rames dan

mendoan (tempe goreng ada tepungnya; penulis) itu saja.

Kalau minum biasanya cukup air putih. Aku percaya diri

dengan apa yang aku makan, jadi nggak ada rasa malu atau

minderlah. Kemampuanku memang seperti ini. kalau saya

ndak begitu menghiraukan waktu-waktu tertentu, jika sedang

lapar ya makan. Baik itu ramai atau tidak ya ndak masalah.

Jadi sewaktu-waktu butuh di kampus, aku ke kantin ”

6. Apakah anda pernah mentraktir teman untuk makan bersama?

Jawab : “Pernah sih terutama pada teman yang membantu saya baik itu

tugas atau yang lainnya. Kalau temen yang nggak bantu

jarang sekali”

7. Seringkah anda ditraktirkan makan dan minum oleh teman?

Jawab : “Tidak sering juga, kalau saya tidak sering itu. Bukan apa-apa

tapi emang tidak sering. Nggak enak juga jika sering

dijajakan oleh temen, meskipun itu temen dekat”

8. Apakah anda mensisihkan uang untuk anda tabung?

Jawab : “Saya? Belum pernah, ya karena kebutuhan terus ada …ada

daya nggak bisa nabung . kadang cukup untuk pengeluaran

tapi kadang kurang, tapi banyak kurangnya”

9. Apakah anda teramasuk orang yang membuka diri (suka bergaul)

dalam kampus?





cxxx

Jawab : “Kalau saya terbuka, tetapi tidak semua teman tahu kondisi

saya. Hanya mereka yang dekat-dekat saja saya mau cerita.

Untuk temen yang jauh saya jarang, jadi selektiflah untuk

masalah ini”

10. Apakah anda pernah menceritakan tentang kondisi anda kepada orang

lain?

Jawab : “Pernah..yaitu tadi aku selektiflah dalam hal menceritakan

kondisiku kepada orang lain. Hanya temen dekat saja yang

biasanya aku ceritankan kondisiku”

11. Bagaimana sikap anda dengan teman-teman yang secara ekonomi lebih

cukup dari anda?

Jawab : “Biasa-biasa saja bagiku. Tidak rasa iri atau yang lain. Tapi

kurang begitu suka dan tidak begitu dekat dengan orang yang

suka pamer dan bergaya hidup mewah” Ada juga sih

perasaan minder, ya bagaimana lagi mereka kan lebih mampu

secara ekonomi sedang aku kan tidak. Ya sedikit minderlah”

12. Apakah sikap teman anda menjauhi anda ketika berinteraksi di

kampus?

Jawab : “Tidak mereka biasa-biasa saja terhadapku. Nggak ada sikap

atau perilaku yang aneh terhadapku”

13. Apakah teman sering membantu kesulitan yang anda hadapi?

Jawab : “Tidak begitu seringlah. Pernah pada waktu aku kesulitan uang

tapi itu kan tidak sering. Apa karena aku selektif tadi ya?

Sehingga temen-temen jarang yang tahu

kondisinku..terbataslah”

14. Apakah anda mengikuti program beasiswa yang ada di sekolah?

Jawab : “Ya aku ikut beasiswa mulai semester tiga sampai semester 6,

setelah itu aku tidak ikut program beasiswa. Di FMIPA

syaratnya lumayan rumit”

15. Secara umum, apakah dosen memperlakukan anda dengan baik ketika

mengikuti kuliah di kampus?







cxxxi

Jawab : “Ya, dosen memperlakukan aku dengan baik. Dalam

perkuliahan sama dengan yang lain. Aku juga rajin

mengerjakan tugas, jadi ya dosen baik-baik saja sama aku”

16. Dalam proses perkuliahan apakah anda pernah diminta

pendapat/gagasan ketika kuliah berlangsung?

Jawab : “Pernah juga sebab aku dalam studi cukup baik prestasiku jadi

dosen pernah minta pendapat dariku”

17. Jika anda mengajukan pertanyaan pernahkan anda di tolak karena

kondisi anda?

Jawab : “Tidak pernah..tidak pernah itu. Setiap aku bertanya maka

dijawab dengan baik, oleh dosen atau temenku sendiri yang

sudah tahu”

18. Di dalam membentuk kelompok (tugas/belajar) apakah anda termasuk

mudah mendapat mitra dengan mudah?

Jawab : ”Dalam membentuk kelompok belajarpun aku mudah juga

dalam mencari mitra belajar. Teman-teman denganku cukup

baik jadi memudahkan saat membentuk kelompok belajar”

19. Apakah anda termasuk orang yang suka menutupi kondisi diri anda?

Jawab: “Ya. Saya ingin tidak ingin orang lain berbelas kasihan sama

saya. Ini semacam prinsip bagiku. Biarlah kondisiku seperti

ini, selagi aku masih bisa rejeki ”

20. Apakah anda konfident (percaya diri) dengan kondisi anda saat ini?

Jawab : “Ya saya percaya diri”

21. Jika anda mendapat penghargaan berupa pujian bagaimana perasaan

anda?

Jawab : “Bangga yang wajarlah. Tidak berlebihan. Pujian itukan bisa

untuk memotivasi kita”

22. Apakah anda termasuk aktif mengikuti kuliah (termasuk mengerjakan

tugas-tugas)?

Jawab : “Ya aku termasuk aktif mengikuti kuliah. Waktu kuliah kan

Cuma sedikit jadi aku manfaatkan dengan baik untuk kuliah.

Aku ke sini kan untuk belajar”





cxxxii

23. Apakah anda punya niat untuk berprestasi dalam proses kuliah?

Jawab : “Jelas itu aku ingin berprestasi di saat mengikuti kuliah!”

24. Bagaimana sikap anda ketika mengikuti kuliah?

Jawab : “Oh ya aku disiplin dalam kuliah, tapi kadang terlambat juga

he..he..he kan aku manusia juga”

25. Apakah anda sering mengikuti kegiatan kampus (seminar, bedah

buku,dll)?

Jawab : “Kurang begitu sering. Karena seminar dan bedah buku yang

diadakan pasti suka narik iuran, aku kan sedikit uang. Di

samping itu waktunya kadang tak sesuai. Pas ada seminar aku

ada kegiatan lain misalnya ngelesi di bawah (Semarang

bawah; penulis) ya sudah aku tidak ikut seminar”

26. Apakah anda mengikuti secara aktif atau menjadi pengurus kegiatan

organisasi itu?

Jawab : “Ya aku aktif di organisasi di kampus. Pernah di kelompok

asisten sebagai sie bakat minat, di laboratorium sebagai

ketua. Di Hima Fisika tahun 2002-2003 di komisi A, aku di

luar kampus aku aktif di yayasan Ibnu Sina miliknya pak

Anwar dosen FIP, sebagai ketua. Tapi kini aku hanya

membantu di yayasan saja mulang ngaji hari Minggu pagi.

Di samping itu kegiatan yayasan lain aku juga masih ikut”

27. Apakah anda ingin menjadi yang terbaik dari teman-teman anda?

Jawab : “Ya tentu itu. Aku ingin jadi yang terbaik dari teman-teman.

Memang aku seperti ini, tapi berusaha itukan perlu perkara

hasilnya itu terserah nanti yang penting kita sudah berusaha

semaksimal mungkin”

28. Apakah anda kesulitan didalam mengembangkan diri anda di

organisasi itu?

Jawab : “Ya, . Karena saya kurang begitu bisa berinteraksi dengan baik

dengan teman-teman jadi aku ingin jadi yang terbaik.

Mencari kawan untuk persahabatan itu perlu”







cxxxiii

29. Bagimana perasaan anda ketika bergaul dengan teman-teman satu

organisasi yang anda ikuti? (Minder,senang)

Jawab : “Senang saja ketika aku bergaul dengan teman-teman

seorganisasi. Di sana banyak pengalaman yang bisa di ambil.

Banyak teman juga dengan mengikuti organisasi itu”

30. Apakah teman seorganisasi yang anda naungi sering mambantu

kesulitanm anda?

Jawab : “Tidak terlalu sering aku juga jarang minta bantuan kepada

mereka. Kalau saya butuh misalnya uang aku pinjam pada

teman dekat”









cxxxiv

PEDOMAN WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )







I. Responden sahabat dekat

1. Nama : Hadi Sasono

2. Tempat tgl. lahi : Pekalongan, 18 Oktober 1984

3. NIM : 3352403512

4. Semester :3

5. Jurusan :Ekonomi

6. Jenis kelamin : Laki-laki

7. Tgl wawancara : 30 Desember 2004

8. Waktu : 15.30

9. Tempat : Ayu kost, Gang Pete Sekaran

10. Kode responden : 6









2. Apakah benar bahwa teman anda mendapat kiriman yang minim ?

Jawab : “Ya betul, teman saya itu mendapat kiriman yang sedikit,

kalau pulang paling-paling ia mendapat ya kurang lebih

150.000,00 -200.000,00 pulangnya tidak teratur, kalau lagi

penting atau perlu ya ia akan pulang tapi jika tidak ya ia tidak

akan pulang. Untuk pulang kampong waktunya tidak pasti”

3. Apakah teman yang miskin pernah menjajagan anda di kantin

misalnya ?

Jawab : “Tidak pernah, karena makan di kantin yang saya ketahui saja,

ia tidak pernah apalagi menjajakan, jajanan dan makanan di

kantin kampus kan mahal jadi pasti jika ingin menjajakan

pasti pilih tempat di luar kantin. Aku pernah dijajakan tapi di

warung Gang Pete, bukan di kantin kampus”

4. Bagaimana perilaku mereka dalam berinteraksi dengan anda ?



cxxxv

Jawab : “Perilaku yang khusus kayaknya nggak ada, ia memang sedikit

lugu dan selera humorrnya ada..ya itu kan karakter masing-

masinglah. Ia cukup terbuka dengan saya ini. Sriyanto juga

pandai bergaul, lalu ia juga sering membantu kesulitan yang

saya hadapi. Ini yang membuat aku senang punya teman

seperti dia”

5. Pernahkah mereka mengeluh/mengadu tentang kondisi dirinya ?

Jawab : “Pernah bahkan ia menceritakan kondisinya padaku, tentang

keluarganya yang petani. Untuk serita keluarga tak begitu

banyak yang saya ketahui, teman lain nggak tahu. Sriyanto

pernah juga cerita tentang kuliahnya tentang aktifitasnya di

organisasi yang menolak dijadikan ketua,….. ia mau menjadi

apa saja di acara itu tapi bukan sebagi ketua. Dan aku

pahamlah sebagai teman dekatnya”

6. Bagimana perilaku mereka dalam interaksi dengan teman di kampus?

Jawab : “Baik-baik saja dengan temen, bahkan Sriyanto akrab dengan

temen-temen sekelasnya. Ia pandai bergaul sehingga

temannya suka padanya. Sifatnya lugu dan sedikit humoris

membuat disukai oleh temen-temennya”

7. Apakah mereka beraktualisasi dengan baik di saat mengikuti kuliah?

Jawab : “Dalam perkuliahan Sryanto aktif mas dan sering bertanya

kepada dosen ataupun sering juga ia menjawab pertanyaan

teman atau dosen jadi itu perilaku di kampus yang saya

ketahui. Aku kan temen sekelas jadi ya tahu banyak di saat

kuliah”





8. Apakah teman anda menjadi “panutan” didalam proses sosial di

kampus?

Jawab : “ Panutan? tak tahulah tapi ia memang pandai bergaul dengan

teman, mudah akrab dengan siapa saja . Ia cukup popular di

antara teman-temannya di kelas, selain itu diapun memiliki







cxxxvi

nama karena dia merupakan salah satu anggota Hima

sehingga ia cukup popular di kampus”

9. Apakah mereka aktif mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan?

Jawab : “Ya Sriyanto aktif mengikuti organisasi di kampus. Organisasi

yang saya ketahui ya HMI, Eksis dan Hima. Ia aktif juga

mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan organisasinya itu,

terutama Hima dan Eksis”

10. Apakah mereka mengeluh dengan anda berkenaan dengan kondisi

mereka berkaitran keaktifan mereka di sebuah organisasi?

Jawab : “ Saya dan Sriyanto kebetulan teman dekat dan satu kost, jadi

ia sering mencurahkan ketika ada masalah padaku, misalnya

ketika tugasnya berat ia menceritakan padaku, atau ia sering

menceritakan organisasi yang diikutinya. Begitu pula

keadaan keluarganya ia menceritakan padaku, sehingga aku

tahu kondisinya Sriyanto”

11. Adakah perilaku yang khusus dalam diri mereka terkait dalam diri

mereka?

Jawab : “Kayaknya tidak, tapi karena saya teman sekelasnya, temen-

temennya di kelas sering mengandalkan Sriyanto karena di

kelas ia cukup pandai, teman-teman juga menghormatinya”









cxxxvii

PEDOMAN WAWANCARA



PERILAKU MAHASISWA MISKIN

( STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG )







I. Responden Dosen dekat

1. Nama : Drs Sugeng Haryadi, M.Pd.

2. Tempat tgl. lahir : Ngawi, 25 Januari 1957

3. NIP : 131472593

4. Jurusan :Psikologi

5. Jenis kelamin : Laki-laki

6. Tgl wawancara : 7 Januari 2005

7. Waktu : 09.30

8. Tempat : Ruang Pembantu Dekan FIP UNNES

9. Kode responden : 7









1. Apakah anak didik bapak /ibu ada yang miskin?

Jawab : “Mahasiswa miskin? Banyak contohnya Andi, ya di masing-

masing jurusan ada. Ada yang orang tuanya hanya seorang

tukang becak, ada yang hanya buruh mencuci pakaian keliling

dan ada yang hanya petani buruh. Hampir di setiap jurusan itu

ada”

2. Bagaimana perilaku mereka ketika mengikuti perkuliahan?

Jawab : “Dalam proses kuliah itu wajar, tapi mereka selalu di hantui oleh

pikiran yang mengganggu studi. Dalam kuliah baik, kan siapa

tahu dapat beasiswa hanya ada beberapa yang jarang kuliah,

tugas tak di kumpulkan, karena mereka harus kerja”

3. Adakah hal-hal yang menonjol dari sisi akademik?

Jawab : “Ada beberapa yang tak baik, tapi secara umum normal bahkan

ada yang cukup bagus, tidak ada perbedaan yang mencolok







cxxxviii

antara mahasiswa miskin dengan mahasiswa kaya dari sisi

akademik”

4. Adakah perilaku khusus yang ditunjukan oleh mahasiswa miskin?

Jawab : “ Tidak ada perilaku khusus, secara umum tak ada”

5. Apakah bapak/ibu memberi perhatian kepada mereka?

Jawab : “Dalam proses perkuliahan semua sama tidak tertuju pada salah

satu mahasiswa, hanya di luar perkuliahan diberikan dalam

bentuk empaty dan motivasi, agar belajar baik dan untuk

semangat kuliah”

6. Bagaimana komunikasi mereka dengan bapak/ibu ?

Jawab : “Komunikasi tetap ada untuk mencari solusi, misalnya bisa tidak

memperoleh beasiswa, bahkan si Andi saya perintahkan untuk

pinjam di lembaga, tapi tak tunggu ternyata ada untuk membayar

SPP. Jadi komunikasi untuk mencari solusi ada”









cxxxix

cxl


Shared by: mr doen
About
just a nice girl
Other docs by mr doen
peningkatan SDMbid Parekraf
Views: 0  |  Downloads: 0
Help, My Kids Won’t Let Me Work!
Views: 0  |  Downloads: 0
Zox Pro Review
Views: 7  |  Downloads: 0
Advertising - Definition, Evolution and Types
Views: 8  |  Downloads: 0
AMPLOP SEDANG YAyasan
Views: 7  |  Downloads: 0
Use Healthy Soil to Gain Good Results
Views: 0  |  Downloads: 0
Modern Methods For Biochemistry Analysis
Views: 0  |  Downloads: 0
Related docs
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!