Docstoc

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR HURUF JAWA

Document Sample
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR HURUF JAWA Powered By Docstoc
					         PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR HURUF JAWA

ANTARA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN PROGRAM SWISH DENGAN

METODE KONVENSIONAL PADA SISWA KELAS VII SEMESTER 1 DI SMP

          NEGERI 1 BRANGSONG KABUPATEN KENDAL

                   TAHUN AJARAN 2004/2005



                            SKRIPSI

            Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

                 Pada Universitas Negeri Semarang




                              Oleh

                      CANDRA ARIBOWO

                           1124000032



                FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

      JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

          PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

                              2005
                    MOTTO DAN PERSEMBAHAN


                                MOTTO




     Sing sapa rumangsa pinter dhewe sejatine dheweke bodho dhewe




  Aja sira sumelang marga ora dipaelu ilmumu, jalaran yen ana wolak-
waliking jaman, ngelmu kang sira darbeni iku bisa uga malah nguwasani
 donya iki, lamun iku pancen ngelmu kang murakabi manungsa sadonya



                           PERSEMBAHAN
                    Skripsi ini kupersembahan untuk :
Bapak dan ibuku tercinta, kakak-kakakku tersayang,           teman-teman
              di Komunitas Lithium dan Teknodik Production
                             PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan

Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri

Semarang, pada :

     Hari       : Selasa

     Tanggal : 16 Agustus 2005

                                 Panitia Ujian :

                   Ketua                              Sekretaris



            Drs. Siswanto, M.M               Dra. Nurussa’adah, M.Si
             NIP. 130515769                        NIP. 131469642

                                                   Anggota Penguji :

              Pembimbing I                             Penguji I



            Drs. Budiyono, M.S                 Drs. Sukirman, M.Si
             NIP. 131693658                        NIP. 131570066

              Pembimbing II                           Penguji II



               Dra. Istyarini                  Drs. Budiyono, MS
             NIP. 131422592                        NIP. 131693658

                                                      Penguji III



                                                     Dra. Istyarini
                                                   NIP. 131422592

                                     SARI
Aribowo, Candra. 2005 ”Perbedaan Prestasi Belajar Huruf Jawa antara
Pembelajaran Menggunakan Program SWiSH dengan Metode Konvensional pada
Siswa Kelas VII Semester 1 di SMP Negeri 1 Brangsong Kabupaten Kendal Tahun
Ajaran 2004/2005”. Skripsi. Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas
Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing : I. Drs. Budiyono, M.S, II. Dra. Istyarini.
Kata Kunci : Prestasi Belajar, Huruf Jawa, SWiSH, Konvensional, Deskriptif
Kuantitatif

      Perkembangan ilmu dan teknologi komputer yang semakin pesat dewasa ini telah
membawa perubahan dalam segala lapisan masyarakat termasuk pula dalam dunia
persekolahan. Komputer tidak hanya digunakan sebagai alat untuk membantu
menyelesaikan pekerjaan kantor, tetapi telah digunakan pula sebagai media pembelajaran.
Salah satu pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran adalah pemanfaatan
program animasi SWiSH untuk pembelajaran huruf jawa. Dengan adanya sistem
pembelajaran seperti ini maka terjadi perubahan sistem pembelajaran konvensional
menjadi sistem pembelajaran yang interaktif, kreatif dan edukatif. Sistem pembelajaran
seperti ini memungkinkan siswa untuk belajar mandiri sesuai dengan kemampuan
masing-masing tanpa harus ada pendampingan dari guru. Siswa dapat berkembang sesuai
dengan kreatifitas, intelektual dan motivasi masing-masing.
      Namun, perkembangan teknologi komputer tersebut tidak diikuti dengan
berkembangnya prestasi belajar huruf jawa di sekolah. Di SMP Negeri 1 Brangsong
misalnya, prestasi belajar bahasa jawa selalu berada di bawah prestasi belajar mata
pelajaran lain. Salah satu yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar huruf jawa
adalah banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis huruf
jawa. Bahkan tidak hanya siswa saja yang mengalami kesulitan tetapi hampir sebagian
besar orang Jawa kesulitan dalam membaca huruf Jawa. Oleh sebab itu dengan adanya
penemuan media baru yaitu program animasi SWiSH, diharapkan akan mempermudah
siswa ataupun yang lain dalam mempelajari huruf jawa secara mandiri sesuai dengan
kemampuan masing-masing.
      Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk
mengetahui perbedaaan prestasi belajar huruf jawa antara pembelajaran menggunakan
program SWiSH dengan metode konvensional pada siswa kelas VII semester 1 di SMP
Negeri 1 Brangsong kabupaten Kendal tahun ajaran 2004/2005. Populasi yang diambil
adalah seluruh siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Brangsong tahun ajaran 2004/2005.
pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Cluster Random Sampling. Berdasarkan
teknik ini diambil kelas VIIE sebagai kelas kontrol dan kelas VIIF sebagai kelas
eksperimen. Setelah dilakukan matching group berdasarkan jenis kelamin, umur, IQ dan
Pre Test terdapat 44 siswa pada kelas kontrol dan 44 siswa pada kelas eksperimen.
      Berdasarkan hasil Post Test pada kelompok eksperimen diperoleh mean ( Χ )
sebesar 7.41, varians (s2) sebesar 1.7189 dan standar deviasi (s) sebesar 1.31, sedangkan
pada kelompok kontrol diperoleh mean ( Χ ) sebesar 6.57, varians (s2) sebesar 2.6864 dan
standar deviasi (s) sebesar 1.64. thitung sebesar 2.672, ttabel pada α = 5% dengan dk =
86 sebesar 1.66. Tampak bahwa thitung sebesar 2.672 > ttabel sebesar 1.66 yang berarti
bahwa Ho ditolak. Dengan penolakan Ho ini berarti ada perbedaan antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol dimana kelompok eksperimen lebih besar daripada
kelompok kontrol. Sehingga hipotesis yang menyatakan ada perbedaan prestasi belajar
huruf Jawa antara program SWiSH dengan metode konvensional pada siswa kelas VII
semester 1 di SMP Negeri 1 Brangsong tahun ajaran 2004/2005 dapat diterima.
      Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi
belajar huruf Jawa antara program SWiSH dengan metode konvensional pada siswa kelas
VII semester 1 di SMP Negeri 1 Brangsong tahun ajaran 2004/2005. Disarankan bagi
guru agar dapat mengembangkan kreatifitas dalam pembelajaran dengan menggunakan
program SWiSH pada pokok bahasan yang lain. Disarankan pula bagi orangtua siswa dan
masyarakat untuk lebih membudayakan bahasa Jawa dengan baik dan benar dalam
pergaulan sehari-hari.




                                                     DAFTAR ISI

                                                                                                                    Halaman

Halaman Judul ................................................................................................. i

Persetujuan Pembimbing ................................................................................. ii
Pengesahan ...................................................................................................... iii

Pernyataan ....................................................................................................... iv

Motto dan Persembahan .................................................................................. v

Kata Pengantar ................................................................................................ vi

Sari .................................................................................................................. viii

Daftar Isi ......................................................................................................... x

Daftar Lampiran .............................................................................................. xiii

Daftar Tabel, Bagan Dan Gambar .................................................................... xiv



BAB I         PENDAHULUAN ........................................................................... 1

              A. Latar Belakang ............................................................................ 1

              B. Penegasan Istilah ......................................................................... 6

              C. Pembatasan Masalah ................................................................... 8

              D. Rumusan Masalah ....................................................................... 8

              E. Tujuan Penelitian ........................................................................ 9

              F. Manfaat Penelitian ...................................................................... 9

              G. Sistematika Skripsi ...................................................................... 9

BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................ 11

              A. Hakekat Pembelajaran Bahasa Jawa ............................................ 11

                   1. Pengertian Belajar ................................................................. 11

                   2. Teori Belajar ......................................................................... 12

                   3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar ........................... 15

                   4. Pembelajaran Bahasa Jawa .................................................... 20
          B. Media Pembelajaran .................................................................... 22

               1. Pengertian ............................................................................. 22

               2. Jenis-Jenis Media .................................................................. 23

          C. Program Animasi SWiSH ............................................................ 25

          D. Kerangka Berpikir ....................................................................... 30

          E. Hipotesis ..................................................................................... 31

BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 32

          A. Rancangan Penelitian .................................................................. 32

          B. Populasi dan Sampel ................................................................... 35

               1. Populasi ................................................................................. 35

               2. Sampel .................................................................................. 35

          C. Variabel Penelitian ...................................................................... 36

               1. Variabel Terikat .................................................................... 36

               2. Variabel Bebas ...................................................................... 36

          D. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 40

               1. Metode Dokumentasi ............................................................. 40

               2. Metode Tes ............................................................................ 41

          E. Uji Coba Instrumen ..................................................................... 43

               1. Uji Validitas .......................................................................... 43

               2. Reliabilitas Soal .................................................................... 46

               3. Daya Pembeda Soal ............................................................... 47

               4. Tingkat Kesukaran Soal ......................................................... 48

          F. Langkah Eksperimen ................................................................... 49
                  1. Pemilihan Kelas .................................................................... 49

                  2. Pelaksanaan Treatment (perlakuan) ....................................... 49

                  3. Penilaian ............................................................................... 51

             G. Analisis Data ............................................................................... 52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 56

             A. Hasil Penelitian ........................................................................... 56

                  1. Hasil Pembuatan Media Interaktif Bahasa Jawa dengan

                       SWiSH .................................................................................. 56

                  2. Deskripsi Kondisi Awal ......................................................... 59

                  3. Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran ..................................... 65

                  4. Deskripsi Hasil Nilai Pos Test ............................................... 69

             B. Pembahasan ................................................................................ 71

BAB V SIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 76

             A. Simpulan ..................................................................................... 76

             B. Saran ........................................................................................... 76

Daftar Pustaka ................................................................................................. 77

Lampiran ......................................................................................................... 79




                                              DAFTAR LAMPIRAN

                                                                                                                  Halaman

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian .................................................................. 79

Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian .................... 80
Lampiran 3. Kisi-Kisi Uji Coba Soal Membaca dan Menulis Tulisan Jawa .. 81

Lampiran 4. Soal Tes Uji Coba .................................................................... 82

Lampiran 5. Hasil Analisis Uji Coba Soal .................................................... 83

Lampiran 6. Daftar Umur Siswa Kelas Eksperimen ..................................... 91

Lampiran 7. Daftar Umur Siswa Kelas Kontrol ............................................ 92

Lampiran 8. Daftar Jenis Kelamin Siswa Kelas Eksperimen ........................ 93

Lampiran 9. Daftar Jenis Kelamin Siswa Kelas Kontrol ............................... 94

Lampiran 10. Data Hasil Matching Umur dan Jenis Kelamin Siswa ............. 95

Lampiran 11. Data Hasil Matching Intelegency Question ............................. 96

Lampiran 12. Data Hasil Matching Nilai Pre Test ........................................ 101

Lampiran 13. Rencana Pembelajaran ........................................................... 106

Lampiran 14. Satuan Pelajaran ..................................................................... 119

Lampiran 15. Kisi-Kisi Soal Test Hasil Belajar ............................................ 128

Lampiran 16. Soal Test Hasil Belajar ........................................................... 129

Lampiran 17. Hasil Analisis Nilai Post Test ................................................. 130

Lampiran 18. Spesifikasi Program Animasi SWiSH v2.0 ............................. 135




                                                  DAFTAR

                                 TABEL, BAGAN DAN GAMBAR

                                                                                                      Halaman

Daftar Tabel
Tabel 1.      Perbandingan Hasil Prestasi Belajar Bahasa Jawa dengan Mata

              Pelajaran Lain ................................................................................ 3

Tabel 2.      Pola Eksperimen ............................................................................ 33

Tabel 3.      Perbedaan Pembelajaran Menggunakan Media Animasi SWiSH

              dan Pembelajaran Konvensional ..................................................... 37

Tabel 4.      Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden Penelitian .............. 59

Tabel 5.      Distribusi Frekuensi Umur Responden Penelitian ........................... 60

Tabel 6.      Deskripsi Hasil Nilai Intelegency Question (IQ) ............................. 60

Tabel 7.      Hasil Uji Normalitas Data IQ ......................................................... 61

Tabel 8.      Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data IQ ...................................... 61

Tabel 9.      Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data IQ ................................... 62

Tabel 10. Deskripsi Hasil Nilai Pretest ........................................................... 63

Tabel 11. Hasil Uji Normalitas Data Pretest ................................................... 63

Tabel 12. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Pretest ................................ 64

Tabel 13. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Pretest ............................ 64

Tabel 14. Deskripsi Hasil Nilai Postest .......................................................... 69

Tabel 15. Hasil Uji Normalitas Data Postest .................................................. 69

Tabel 16. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Postest ............................... 70

Tabel 17. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Postest ............................ 70

Daftar Bagan

Bagan 1. Kerangka Berpikir ............................................................................ 31

Bagan 2. Hubungan Antara Variabel Bebas Dan Variabel Terikat ................... 37

Bagan 3. Pengaruh Variabel Intervening ......................................................... 39
Daftar Gambar

Gambar 1. Tampilan Pada Saat Pembuatan Media ......................................... 56

Gambar 2. Tampilan Pertama Hasil Pembuatan Media Pembelajaran ............. 57

Gambar 3. Hasil Animasi Materi Aksara Jawa ............................................... 57

Gambar 4. Hasil Animasi Materi Sandhangan ................................................ 58

Gambar 5. Hasil Animasi Materi Pasangan .................................................... 58




                                                BAB I

                                        PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
       Peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah dan

masyarakat. Suatu negara yang tertinggal mutu pendidikannya, maka pembangunan di

negara tersebut akan terhambat pula. Hal ini dapat dimengerti, karena pendidikan

berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pembangunan.

       Pendidikan di Indonesia dapat diperoleh melalui jalur formal, informal dan

nonformal. Pendidikan formal di Indonesia berlangsung sejak pendidikan dasar

hingga perguruan tinggi. Peningkatan mutu pendidikan harus dimulai sejak

pendidikan dasar, sebab pendidikan dasar merupakan fondasi untuk kelanjutan

pendidikan berikutnya. Di Indonesia, pendidikan dasar dilaksanakan selama 9 tahun

terdiri atas Sekolah Dasar atau yang sederajat   ( 6 tahun ) dan Sekolah Menengah

Pertama atau yang sederajat ( 3 tahun ).

       Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas proses belajar dan hasil belajar

yang lebih baik adalah penggunaan media pembelajaran ke dalam proses

pembelajaran. Proses pembelajaran akan lebih efektif dan efisien apabila ditunjang

dengan penggunaan media yang memadai. Penggunaan media dalam pembelajaran

sangat dibutuhkan karena berinteraksi dengan sumber belajar atau media instruksional

dapat mengarah pada tercapainya hasil belajar yang optimal.

       Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pemberi kepada penerima

pesan. Sedangkan menurut AECT, media adalah segala bentuk dan saluran yang

digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Briggs ( 1970 ) memberi

batasan media merupakan segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta

merangsang siswa untuk belajar.
       Inti dari penggunaan media adalah sebagai sarana atau alat untuk

menyampaikan informasi atau pesan antara pemberi kepada penerima. Dengan

menggunakan media yang tepat, maksud dari informasi maupun pesan yang

disampaikan oleh penyampai pesan dapat diterima dengan jelas oleh penerima pesan.

Begitu juga ketika media digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Informasi

yang disampaikan guru sebagai penyampai pesan di kelas, dapat diterima dengan

jelas oleh siswa sebagai penerima pesan di kelas.

       Pemanfaatan media yang baik serta memadai, diharapkan dapat merangsang

fikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa, sehingga proses pembelajaran dapat

berjalan dengan baik dan menggairahkan. Verbalisme mungkin saja akan muncul

ketika pembelajaran tanpa menggunakan media. Namun, dengan menggunakan media

unsur verbalisme dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Dengan mengurangi atau

menghilangkan unsur verbalisme, maka siswa akan diberikan pengertian dan konsep

yang sebenarnya secara realitis dan teliti, serta memberi pengalaman menyeluruh

yang pada akhirnya memberi pengertian yang konkret.

       Pemanfaatan media dalam pembelajaran memang sudah sejak lama

digunakan, tetapi seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, media

pembelajaran itu pasti mengalami perkembangan pula. Salah satu penyebab

terjadinya perkembangan itu karena masing-masing media pembelajaran mempunyai

kelemahan.    Kelemahan     tersebut   menyebabkan    pentingnya   penemuan   dan

pemanfaatan media baru guna menyempurnakan media yang lama dan juga untuk

menunjang proses pembelajaran di masa sekarang.
       Salah satu hasil dari pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini adalah

dengan lahirnya komputer.        Komputer telah menjadi bagian dari hidup manusia.

Berbagai disiplin ilmu telah memanfaatkan komputer sebagai media termasuk pula

dalam dunia pendidikan dan pembelajaran.          Bermacam program komputer untuk

pembelajaran telah ditawarkan, misalnya program Power Point, Flash, SWiSH dan

sebagainya.

       Pesatnya perkembangan teknologi komputer ternyata tidak diikuti dengan

pesatnya perkembangan prestasi belajar bahasa jawa. Hal ini dapat dilihat di SMP

Negeri 1 Brangsong. Dua tahun terakhir ini nilai rata-rata bahasa Jawa selalu berada

di bawah nilai rata-rata mata pelajaran lain. Rendahnya nilai bahasa jawa tersebut

dapat kita lihat pada tabel 1.


           Tabel 1. Perbandingan Hasil Prestasi Belajar Bahasa Jawa
                           dengan Mata Pelajaran Lain

                                          Mata Pelajaran
      Tahun Ajaran
                         Bhs. Jawa     Bhs. Ind       IPA       PPKn
       2002 / 2003          6.30         6.46         6.63      6.97
       2003 / 2004          6.39         7.29         7.28      6.98

           Sumber : Administrasi Kurikulum SMP Negeri 1 Brangsong.

       Salah satu penyebab rendahnya nilai bahasa jawa dibandingkan dengan mata

pelajaran lain adalah banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca

dan menulis huruf Jawa. Bahkan bukan hanya siswa saja yang mengalami kesulitan

membaca dan menulis huruf Jawa, akan tetapi hampir semua orang Jawa mengalami

kesulitan membaca dan menulis huruf Jawa. Akibatnya berkembang rumor yang
menyatakan orang Jawa sendiri tidak dapat membaca dan menulis huruf Jawa, apalagi

orang lain (Supriyono, 2004)

       Salah satu penyebab sulitnya membaca dan menulis huruf Jawa adalah

pembelajaran di sekolah yang kurang efektif dari guru, sebab guru dalam memberikan

pelajaran jarang menggunakan media sebagai sarana untuk memperjelas pelajaran.

       Sebagai alasan mereka memberikan pelajaran Bahasa Jawa secara cepat dan

tidak menggunakan media adalah sedikitnya alokasi waktu yang tersedia. Setiap

minggu hanya dua jam pelajaran, padahal materi yang termuat sangat padat. Apabila

dibandingkan dengan mata pelajaran lain seperti bahasa Indonesia misalnya, alokasi

waktu untuk mata pelajaran bahasa Jawa sangat tidak seimbang. Akibatnya guru

mengajarkan dengan cepat agar target dalam program semester terpenuhi. Kondisi ini

menyebabkan nilai bahasa Jawa lebih rendah dari pada mata pelajaran lainnya.

       Selain itu pembelajaran muatan lokal bahasa Jawa memang masih dianggap

remeh oleh guru (Supriyono, 2004). Sebagian besar guru hanya menganggap penting

mata pelajaran tertentu, sedangkan Bahasa Jawa kurang diperhatikan. Hal ini

menyebabkan siswa kesulitan dalam membaca dan menulis huruf Jawa, yang

mempengaruhi pula terhadap rendahnya prestasi belajar siswa.

       Selain dalam pendidikan formal, dalam pendidikan keluarga (informal) pun

bahasa Jawa kurang dibiasakan dalam pergaulan sehari-hari apalagi huruf Jawa. Sejak

anak-anak masih kecil, orangtua lebih membiasakan bahasa Indonesia kepada anak-

anaknya daripada bahasa Jawa dan huruf Jawa, sehingga anak-anak lebih terbiasa

dengan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa. Akibatnya ketika anak-anak beranjak

dewasa ia tidak dapat membaca huruf Jawa dan berbahasa Jawa dengan baik dan
benar. Bahkan ada pula orangtua yang rela putra-putrinya ikut kursus bahasa Inggris

dengan harapan setelah mengikuti kursus tersebut putra-putrinya dapat berbahasa

Inggris dengan baik dan lancar. Sehingga mereka lebih pandai membaca tulisan

Inggris daripada membaca tulisan berhuruf Jawa.

       Dalam     pendidikan   non   formal   yaitu   dalam   masyarakat,   kebiasaan

menggunakan huruf jawa pun dirasakan sangat kurang. Dalam pergaulan

bermasyarakat, orang-orang lebih banyak menggunakan huruf latin dan bahasa

Indonesia. Walaupun menggunakan bahasa Jawa, itu tidak sesering dalam

menggunakan bahasa Indonesia. Misalnya di perkantoran, toko, mall dan tempat-

tempat umum lainnya lebih banyak menggunakan huruf latin dan bahasa Indonesia

daripada menggunakan huruf Jawa.

       Suatu media baru yang menarik siswa dan dapat digunakan untuk

pembelajaran huruf Jawa adalah dengan memanfaatkan program animasi SWiSH.

Program animasi SWiSH merupakan sebuah program aplikasi pembuat animasi

mandiri yang mampu menjalankan file animasi .swf tanpa menjalankan player

eksternal atau browser. SWiSH begitu intuitif dan sangat mudah digunakan untuk

pembuat animasi, web secara professional maupun amatir. Bahkan dapat dikatakan

program ini cukup mudah digunakan oleh seorang anak kecil sekalipun. ( Andreas

AS, 2002 : 1 )

       Bertolak dari kenyataan dan masalah tersebut, guna peningkatan prestasi

belajar siswa dalam hal membaca dan menulis huruf Jawa, peneliti merasa perlu

mengadakan penelitian tentang perbedaan prestasi belajar huruf jawa antara

pembelajaran menggunakan program SWiSH dengan metode konvensional pada
   siswa kelas VII semester 1 di SMP Negeri 1 Brangsong kabupaten Kendal tahun

   ajaran 2004/2005.



B. Penegasan Istilah

          Untuk menghindari kemungkinan salah tafsir, mewujudkan kesatuan berpikir

   dan membatasi masalah, maka perlu diperjelas dan ditegaskan istilah yang digunakan

   sebagai berikut :

   1. Prestasi Belajar

              Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang

      dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau

      angka nilai yang diberikan oleh guru. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993:700).

              Prestasi belajar dalam penelitian ini adalah nilai tes atau angka nilai

      sebagai wujud pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa setelah

      mengikuti pembelajaran huruf Jawa.



   2. Huruf Jawa

              Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad

      yang melambangkan bunyi bahasa. ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993 : 362)

              Huruf Jawa adalah tanda aksara dalam tata tulis jawa yang merupakan

      anggota abjad yang melambangkan bunyi bahasa jawa.

   3. SWiSH

              SWiSH adalah sebuah program aplikasi pembuat animasi mandiri yang

      mampu menjalankan file animasi .swf tanpa menjalankan player eksternal atau

      browser. ( Andreas AS, 2002 : 1 )
             Penelitian ini menggunakan program animasi SWiSH sebagai media

     pembelajaran dalam penyampaian materi huruf Jawa kepada siswa kelas VII

     semester 1 di SMP Negeri 1 Brangsong kabupaten Kendal tahun ajaran

     2004/2005.

  4. Metode Konvensional

             Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai

     maksud. Dalam bidang ilmu pengetahuan metode diartikan sebagai cara kerja

     yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai

     tujuan yang ditentukan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993:652).

             Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konvensional artinya tradisional,

     yaitu sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada

     norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun.

             Metode konvensional dalam penelitian ini adalah usaha yang dilakukan

     guru yaitu dengan cara berceramah di depan kelas sedangkan siswa hanya

     mendengarkan ceramah dari guru.

  5. Siswa Kelas VII Semester 1 SMP Negeri 1 Brangsong Kabupaten Kendal

             Merupakan tempat melakukan penelitian untuk mendapatkan data-data

     penelitian.



C. Pembatasan Masalah

         Untuk menghindari terjadinya perluasan masalah yang diteliti, maka dalam

  penelitian ini peneliti memberi batasan masalah sebagai berikut:

  1. Materi yang diberikan hanya pada materi huruf jawa, yaitu huruf jawa legena,

     pasangan, dan sandhangan.
   2. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VII semester 1 di SMP Negeri 1 Brangsong

      Kabupaten Kendal tahun ajaran 2004/2005 dengan rincian seluruh siswa kelas VII

      semester 1 SMP Negeri 1 Brangsong Kabupaten Kendal sebagai populasi

      sekaligus sampel



D. Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dikaji dapat

   dirumuskan sebagai berikut :

          ”Apakah ada perbedaan prestasi belajar huruf Jawa antara pembelajaran

   menggunakan program SWiSH dengan metode konvensional pada siswa kelas VII

   semester 1 di SMP Negeri 1 Brangsong kabupaten Kendal tahun ajaran 2004/2005?”



E. Tujuan Penelitian

          Tiada kegiatan yang tanpa tujuan, begitu juga dengan penelitian ini. Adapun

   tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan

   prestasi belajar huruf Jawa antara pembelajaran menggunakan program SWiSH

   dengan metode konvensional pada siswa kelas VII semester 1 di SMP Negeri 1

   Brangsong kabupaten Kendal tahun ajaran 2004/2005



F. Manfaat Penelitian

   1. Manfaat Teoritis

             Manfaat teoritis yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat

      menambah wacana baru tentang pemanfaatan media pembelajaran yang

      bermanfaat dalam proses pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama khususnya

      dan perkembangan dunia pendidikan pada umumnya.
   2. Manfaat Praktis

              Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat

      memberikan masukan kepada Kepala Sekolah ( khususnya para guru ) untuk

      dapat   memanfaatkan       media     pembelajaran     baru    yang    seiring    dengan

      perkembangan teknologi dalam kegiatan pembelajaran di kelas sehingga tujuan

      dari kegiatan pembelajaran di kelas dapat tercapai dengan baik.



G. Sistematika Skripsi

        Sistematika skripsi ini secara garis besar terdiri dari tiga bagian, yaitu :

   1. Bagian Awal

              Bagian awal berisi halaman judul, sari, pengesahan, motto dan

      persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan lampiran

   2. Bagian Isi

      Bagian isi dari skripsi ini berisi tentang :

              Bab I pendahuluan, membahas tentang latar belakang masalah, penegasan

      istilah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

      penelitian dan sistematika skripsi

              Bab II landasan teori, membahas tentang hakekat pembelajaran bahasa

      jawa, media pembelajaran, program animasi SWiSH, kerangka berpikir dan

      hipotesis.

              Bab III metode penelitian, membahas tentang rancangan penelitian,

      populasi dan sampel, variabel penelitian, metode pengumpulan data, uji coba

      instrumen, langkah eksperimen dan analisis data.
              Bab IV hasil penelitian dan pembahasan, berisi tentang hasil penelitian

      dan pembahasan.

              Bab V simpulan dan saran, berisi tentang simpulan dan saran.

   3. Bagian Akhir, terdiri atas :

      a. Daftar Pustaka

      b. Lampiran-lampiran




                                       BAB II

                                 LANDASAN TEORI



A. Hakekat Pembelajaran Bahasa Jawa

   1. Pengertian Belajar

              Setiap orang menjadi dewasa karena belajar dan pengalaman selama

      hidupnya. Belajar pada umumnya dilakukan seseorang sejak mereka ada di dunia

      ini. Ada beberapa ahli yang mendefinisikan istilah belajar dengan beberapa uraian

      yang tidak sama. Untuk dapat memahami dan mempunyai gambaran yang luas,

      berikut ini diberikan beberapa pengertian belajar menurut beberapa ahli :
a). Whittaker (dalam Sumanto, 1997:57) belajar adalah proses tingkah laku yang

   ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

b). Kimble (dalam Hergenan, 1982:3) belajar adalah perubahan relatif permanen

   dalam potensi bertindak, yang berlangsung sebagai akibat adanya latihan yang

   diperkuat.

c). Winkel (dalam Nasution, 2000:131) belajar adalah aktivitas mental atau

   psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang

   menghasilkan     perubahan-perubahan     dalam    pengetahuan,   pemahaman,

   ketrampilan, nilai dan sikap.

d). Sdaffer (dalam Nasution, 2000:131) belajar merupakan perubahan tingkah

   laku yang relatif menetap, sebagai hasil pengalaman-pengalaman atau praktik.

       Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa, belajar adalah suatu

proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku

yang baru sebagai pengalaman individu itu sendiri.

       Perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan kegiatan belajar

dapat berupa ketrampilan, sikap, pengertian ataupun pengetahuan. Belajar

merupakan peristiwa yang terjadi secara sadar dan disengaja, artinya seseorang

yang terlibat dalam peristiwa belajar pada akhirnya menyadari bahwa ia

mempelajari sesuatu, sehingga terjadi perubahan pada dirinya sebagai akibat dari

kegiatan yang disadari dan sengaja dilakukannya tersebut.

       Dalam penelitian ini, siswa dihadapkan pada sebuah PC (Personal

Computer), yang didalamnya telah diisi (instal) program animasi SWiSH.

Program animasi ini digunakan untuk menyampaikan materi huruf jawa. Secara

sadar siswa melihat, membaca, menirukan dan menulis materi yang disampaikan
   sesuai dengan petunjuk yang telah disusun dalam paket pembelajaran. Setelah

   selesai maka akan terlihat bahwa secara sadar telah terjadi perubahan pada diri

   siswa dalam hal membaca dan menulis huruf jawa.

2. Teori Belajar

          Dalam menjelaskan persoalan proses belajar yang dilakukan oleh individu,

   sangat terkait erat dengan teori belajar. Teori Belajar yang dikemukakan oleh

   beberapa ahli psikologi itu melandasi kegiatan belajar yang dilakukan oleh

   individu, dan akan mempengaruhi hasil belajar individu tersebut.

          Dari beberapa ahli yang telah mengemukan pendapatnya tentang belajar

   itu, dapat dikelompokkan sebagai berikut :

   a. Teori Behavioristik (Muhibin Syah, 1997:105)

       1) Connectionism (Thorndike)

       2) Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)

       3) Contiguous Conditioning (Guthrie)

       4) Descriptive Behaviorism (Skinner)

   b. Teori Kognitif (Muhibin Syah, 1997:11)

       1) Teori Gestalt (Koffka, Kohler, Wertheimer)

       2) Teori Medan (Lewin)

       3) Teori Organisme (Wheeler)

          Dari sekian banyak teori belajar yang ada, Teori Skinner (Descriptive

   Behaviorism) dewasa ini sangat besar pengaruhnya, terutama di dalam dunia

   pendidikan khususnya dalam lapangan metodologi dan teknologi pengajaran.

   Program-program inovatif dalam bidang pengajaran sebagian besar disusun

   berdasar atas teori Skinner.
       Teori Skinner digunakan sebagai dasar, karena teori Skinner memikirkan

tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons. Skinner

membedakan adanya dua macam respons, yaitu: (1) respondent response

(reflexive response), yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang

tertentu dan (2) operant response (instrument response), respons yang timbul dan

berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu.

       Teori Skinner ini mendorong orang untuk lebih memperhatikan siswa

dalam proses pembelajaran. Menurut teori ini, mendidik adalah mengubah

tingkah-laku siswa. Perubahan tingkah laku ini harus tertanam pada diri siswa

sehingga menjadi adat kebiasaan. Supaya tingkah laku tersebut menjadi adat

kebiasaan, maka setiap ada perubahan tingkah laku positif kearah tujuan yang

dikehendaki, harus diberi penguatan (reinforcement), berupa pemberitahuan

bahwa tingkah laku tersebut telah betul.

       Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah

tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Media instruksional yang

terkenal yang dihasilkan teori ini ialah teaching machine dan programmed

instruction.

       Penggunaan program animasi SWiSH merupakan salah satu bentuk

pengaruh dari teori belajar Skinner. Program animasi SWiSH digunakan untuk

menyusun sebuah paket pembelajaran interaktif dengan komputer sebagai

sarananya. Paket pembelajaran tersebut telah disusun sedemikian interaktifnya

sehingga siswa dapat belajar sendiri materi yang disampaikan. Siswa dapat belajar

sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Jika siswa ingin belajar membaca,
   maka siswa akan dibimbing cara membaca yang baik dengan bimbingan suara

   (sound) tutor yang sudah terprogram. Jika siswa ingin belajar menulis, maka

   siswa juga akan dibimbing cara menulis yang baik dengan bimbingan suara

   (sound) tutor terprogram. Kesemuanya itu disusun dalam bentuk tombol-tombol

   ataupun ikon-ikon, sehingga siswa bebas untuk memilih materi mana yang akan

   dipelajarinya terlebih dahulu.

          Paket pembelajaran ini juga dilengkapi dengan evaluasi untuk mengukur

   tingkat keberhasilan siswa. Evaluasi ini dilengkapi pula dengan penguatan, artinya

   ketika siswa menjawab benar maka akan muncul tulisan ataupun suara (sound)

   yang menyatakan benar, begitu juga sebaliknya jika salah maka akan muncul

   tulisan ataupun suara (sound) yang menyatakan salah.

          Keunggulan program ini adalah bentuk–bentuk animasi yang menarik,

   sehingga siswa tidak bosan ketika dia sedang belajar, sehingga materi akan lebih

   cepat tertangkap dan harapannya akan terjadi perubahan tingkah laku yang positif

   kearah yang diinginkan.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar

          Belajar merupakan hal yang kompleks. Apabila ini dikaitkan dengan hasil

   belajar siswa, ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Menurut

   Suryabrata   (1989:142),    faktor-faktor   yang   mempengaruhi    hasil   belajar

   digolongkan menjadi 3, yaitu: faktor dari dalam, faktor dari luar dan faktor

   instrumen.
       Faktor yang pertama yaitu faktor dari dalam. Faktor dari dalam yaitu

faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar yang berasal dari siswa yang

sedang belajar. Faktor-faktor ini meliputi :

a. Fisiologi, meliputi kondisi jasmaniah secara umum dan kondisi panca indra.

   Anak yang segar jasmaninya akan lebih mudah proses belajarnya. Anak-anak

   yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak

   yang tidak kekurangan gizi, kondisi panca indra yang baik akan memudahkan

   anak dalam proses belajar.

b. Kondisi psikologis, yaitu beberapa faktor psikologis utama yang dapat

   mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kecerdasan, bakat, minat,

   motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.

   1) Faktor kecerdasan yang dibawa individu mempengaruhi belajar siswa.

       Semakin individu itu mempunyai tingkat kecerdasan tinggi, maka belajar

       yang dilakukannya akan semakin mudah dan cepat. Sebaliknya semakin

       individu itu memiliki tingkat kecerdasan rendah, maka belajarnya akan

       lambat dan mengalami kesulitan belajar.

   2) Bakat individu satu dengan lainnya tidak sama, sehingga menimbulkan

       belajarnya pun berbeda. Bakat merupakan kemampuan awal anak yang

       dibawa sejak lahir.

   3) Minat individu merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu. Minat

       belajar siswa yang tinggi menyebabkan belajar siswa lebih mudah dan

       cepat.
   4) Motivasi belajar antara siswa yang satu dengan siswa lainnya tidaklah

       sama. Adapun pengertian motivasi belajar itu menurut Nasution

       (2000:146) adalah ”Sesuatu yang menyebabkan kegiatan belajar

       terwujud”. Motivasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

       cita-cita siswa, kemampuan belajar siswa, kondisi siswa, kondisi

       lingkungan, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan upaya guru

       membelajarkan siswa. Nasution (2000:146).

   5) Emosi merupakan kondisi psikologi (ilmu jiwa) individu untuk melakukan

       kegiatan, dalam hal ini adalah untuk belajar. Kondisi psikologis siswa

       yang mempengaruhi belajar antara lain: perasaan senang, kemarahan,

       kejengkelan, kecemasan dan lain-lain.

   6) Kemampuan kognitif siswa yang mempengaruhi belajar mulai dari aspek

       pengamatan, perhatian, ingatan, dan daya pikir siswa.

       Faktor yang kedua yaitu faktor dari luar. Faktor dari luar yaitu faktor-

faktor yang berasal dari luar siswa yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.

Faktor-faktor ini meliputi :

a. Lingkungan alami

           Lingkungan alami yaitu faktor yang mempengaruhi dalam proses

   belajar misalnya keadaan udara, cuaca, waktu, tempat atau gedungnya, alat-

   alat yang dipakai untuk belajar seperti alat-alat pelajaran.

   1). Keadaan udara mempengaruhi proses belajar siswa. Apabila udara terlalu

       lembab atau kering kurang membantu siswa dalam belajar. Keadaan udara
      yang cukup nyaman di lingkungan belajar siswa akan membantu siswa

      untuk belajar dengan lebih baik.

   2). Waktu belajar mempengaruhi proses belajar siswa misalnya: pembagian

      waktu siswa untuk belajar dalam satu hari.

   3). Cuaca yang terang benderang dengan cuaca yang mendung akan berbeda

      bagi siswa untuk belajar. Cuaca yang nyaman bagi siswa membantu siswa

      untuk lebih nyaman dalam belajar.

   4). Tempat atau gedung sekolah mempengaruhi belajar siswa. Gedung

      sekolah yang efektif untuk belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

      letaknya jauh dari tempat-tempat keramaian (pasar, gedung bioskop, bar,

      pabrik dan lain-lain), tidak menghadap ke jalan raya, tidak dekat dengan

      sungai, dan sebagainya yang membahayakan keselamatan siswa.

   5). Alat-alat pelajaran yang digunakan baik itu perangkat lunak (seperti

      transparansi) ataupun perangkat keras (misalnya OHP).

b. Lingkungan sosial

          Lingkungan sosial di sini adalah manusia atau sesama manusia, baik

   manusia itu ada (kehadirannya) ataupun tidak langsung hadir. Kehadiran

   orang lain pada waktu sedang belajar, sering kali mengganggu aktivitas

   belajar. Dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar siswa ini dapat

   dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) lingkungan sosial siswa di rumah yang

   meliputi seluruh anggota keluarga yang terdiri atas: ayah, ibu, kakak atau adik

   serta anggota keluarga lainnya, (2) lingkungan sosial siswa di sekolah yaitu:

   teman sebaya, teman lain kelas, guru, kepala sekolah serta karyawan lainnya,
   dan (3) lingkungan sosial dalam masyarakat yang terdiri atas seluruh anggota

   masyarakat (Mustaqim, 1990:68)

       Faktor yang ketiga yaitu faktor instrumental. Faktor instrumental adalah

faktor yang adanya dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil yang

diharapkan. Faktor instrumen ini antara lain: kurikulum, struktur program, sarana

dan prasarana, serta guru.

       Faktor   instrumen    yang   berkaitan   dengan   sarana   dan   prasarana

pembelajaran adalah media pembelajaran. Dengan menggunakan media

pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik.

Karena media pembelajaran dapat menimbulkan kegairahan belajar,

memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan

lingkungan dan kenyataan serta memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri

menurut kemampuan dan minatnya.

       Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan

dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pembelajaran

ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan

bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Apalagi bila latar-belakang

lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan

media pembelajaran yaitu dengan kemampuannya dalam memberikan perangsang

yang sama, mempersamakan pengalaman, menimbulkan persepsi yang sama

       Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, sarana dan prasarana

sekolah pun semakin berkembang. Komputer sebagai sarana dan prasarana

sekolah juga dirasa sangat penting. Komputer tidak hanya digunakan sebagai alat
   bantu kerja, misalnya untuk mengetik laporan-laporan dan data-data sekolah.

   Tetapi digunakan pula sebagai alat bantu mengajar sehingga berfungsi sebagai

   media pembelajaran. Sebagai media pembelajaran komputer dilengkapi pula

   dengan program-program untuk pembelajaran. Salah satu program yang

   digunakan adalah program animasi SWiSH. Program animasi SWiSH ini dapat

   digunakan dalam pembelajaran huruf jawa.

4. Pembelajaran Huruf Jawa

          Kelas VII adalah tingkat pertama di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

   Mata pelajaran yang diberikan sangat beragam, salah satunya adalah mata

   pelajaran bahasa Jawa. Bahasa Jawa termasuk dalam mata pelajaran muatan lokal

   karena termasuk dalam pelajaran bahasa daerah dimana tiap-tiap daerah itu

   memiliki bahasa yang berbeda-beda. Materi bahasa Jawa di kelas VII SMP

   meliputi wacana (cerita berbahasa Jawa), macam-macam tembung, macam-

   macam ukara, Parikan, Sanepa, Seselan, Cangkriman, Wayang, Paribasan dan

   Aksara Jawa (Huruf Jawa). Dari sekian banyak materi tersebut, peneliti hanya

   mengambil huruf Jawa sebagai bahan penelitian.

          Huruf Jawa ada sejak zaman dahulu yang dikenalkan pertama kali oleh Aji

   Saka yang berkelana ke Negara-negara Asia. Pada mulanya tulisan Jawa ini untuk

   mengenang sahabatnya yang bertengkar karena mempertahankan kebenarannya.

          Sudharto (1999:29) menjelaskan bahwa pada saat bepergian Aji Saka

   berpesan kepada sahabatnya yang bernama Dora untuk menjaga pusaka yang

   ditinggalkannya. Tidak satupun orang boleh mengambilnya selain Aji Saka
sendiri. Akan tetapi saat akan bertengkar dengan Dewata Cengkar, Aji Saka

memerintahkan sahabatnya Sembada untuk mengambil pusaka itu.

       Kedua sahabat itu saling mempertahankan kebenarannya, hingga tetes

darah terakhir. Dora dan Sembada meninggal dunia bersama-sama karena saling

membunuh. Saat Aji Saka kembali mereka terlanjur telah mati. Untuk mengenang

mereka ditulisnya huruf Jawa, ha na ca ra ka yang berarti ada utusan, da ta sa wa

la yang berarti saling berselisih pendapat, pa da ja ya nya yang berarti sama-sama

sakti, ma ga ba ta nga yang berarti sama-sama meninggal dunia.

       Huruf Jawa itu hingga kini tetap digunakan untuk pelajaran di sekolah-

sekolah. Dalam pembelajaran menulis huruf Jawa dikenal ada Aksara Jawa,

Pasangan dan Sandhangan. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :

a). Aksara Jawa



            ha         na           ca           ra          ka



            da         ta           sa          wa            la



            pa        dha           ja          ya           nya



            ma         ga           ba          tha          nga


b). Pasangan

       ha             na             ca               ra           ka
             da            ta              sa          wa          la




             pa           dha              ja          ya         nya



            ma              ga            ba          tha         nga



      c). Sandhangan




             cecak      layar           pangkon       pepet      suku




             taling     taling tarung       wignyan    wulu



B. Media Pembelajaran

   1. Pengertian

             Media pembelajaran merupakan bagian integral dari proses pendidikan.

      Maka dari itu media pembelajaran merupakan faktor penting yang menentukan

      keberhasilan pendidikan. Hamalik (1994:12) mendefinikan media pembelajaran

      adalah ”alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih

      mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses

      pendidikan dan pengajaran di sekolah”.
          Media yang digunakan dalam pembelajaran ada bermacam-macam, mulai

   dari media yang sederhana hingga media yang rumit dan modern. Sebagai alat

   bantu dalam mengajar, Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar

   siswa dalam pembelajaran yang akan menyebabkan hasil belajar yang tinggi pula.

2. Jenis-Jenis Media

          Media yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar dan mengajar ada

   bermacam-macam. Sudjana (1997:3) menjelaskan, bahwa media pembelajaran

   meliputi (1) media grafis yang terdiri atas: gambar, foto, grafik, bagan, poster,

   diagram, komik, dan lain-lain (2) media tiga dimensi yang terdiri atas: media

   model penampang, model susun, model kerja, mock-up, diorama, (3) media

   proyeksi seperti: slide, film strip, film, OHP, dan (4) penggunaan lingkungan.

          Sejalan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka media

   pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran juga bervariasi dan semakin

   canggih. Menurut Sudjana (1997:8) pada mulanya konsep keterbacaan (literacy)

   hanya digunakan dalam konteks verbal yakni membaca dan menulis. Akan tetapi

   mulai tahun 1960-an muncul konsep keterbacaan visual yang kemudian disusul

   dengan audio dan dilengkapi dengan audio-visual.

          Yang termasuk media visual adalah gambar, grafik, poster dan lain-lain.

   Sedangkan media audio meliputi: tape recorder dan radio. Televisi, VCD, video,

   DVD, dan slide suara.

          Gafur(1989:4) mengklasifikasikan media sebagai berikut :

                                       Media
        Kelompok Media                                Alat Bantu Pengajaran
                                   instruksional
                                - Audio tape         - Telepon
    I. Audio (suara)
                                  (caseette)         - Intercom
      II. Bahan Cetak            - Programed text      Hand-out
         (termasuk gambar /      - Manual              Papan tulis
          foto)                  - Modul               Chart, grafik
                                 - Slide, film strip   - slides
      III. Gambar mati yang
                                   (bisa disertai      - transparencies
           diproyeksikan
                                    narasi)            - film strip
                                 - Lembaran Kerja
      IV. Audio Cetak              disertai tape
                                                       -
          (kombinasi I dan II)   - Peta/diagram
                                   disertai narasi
      V. Audio-visual yang       - Film strip-narasi
                                                       -
        diproyeksikan            - Sound-slide
      VI. Gambar bergerak        - Film tanpa suara    - Film tanpa suara
      VII. Gambar /              - Film bersuara       - Film bersuara
          Film bersuara          - Video-tape          - Video, tape
                                 - Benda
                                                       - Specimen
                                    senyatanya
      VIII. Objek / benda                              - Model / tiruan
                                 - Model / tiruan
                                                         benda
                                    benda
      IX. Hubungan antar
                                                       - Permainan
          pribadi dan
                                 -                     - Simulasi
          pengalaman langsung
                                                       - Kelompok diskusi
          ( guru, teman)
                                 Computer
      X. Komputer                Analysts
                                 Instruction

            Berdasarkan klasifikasi Gafur tersebut, maka pemanfaatan program

     animasi SWiSH dalam pembelajaran huruf Jawa ini termasuk dalam media

     komputer, karena menggunakan komputer sebagai sarananya.



C. Program Animasi SWiSH

         Multimedia interaktif dengan Animasi Komputer untuk Pembelajaran

  diantaranya media audio-visual untuk keperluan pembelajaran mulai ditekuni para

  pengajar sejak tahun 1920-an, ketika teknologi film mulai berkembang pesat

  (Microsoft Corporation,1999:a). Stimulus visual yang menyertai suara menjadikan

  pembelajaran konsep-konsep menjadi terjelaskan secara konkrit.
       Komputer sebagai alat Bantu pembelajaran telah lama pula dikenal dan

dikembangkan. Istilah-istilah CAI (Computer-aided Instruction), CBL (Computer-

based Learning), CBT (Computer-based Training) telah menjadi bagian dari kosa

kata para ahli teknologi pembelajaran sejak tahun 1980-an.

       Perkembangan     teknologi   komputer    yang   memungkinkan     penayangan

informasi grafik, suara dan gambar, selain teks, memungkinkan dibuat media

audiovisual yang bersifat interaktif. Multimedia adalah istilah yang diberikan pada

teknik penyajian informasi yang menggabungkan informasi berupa teks, grafik, citra,

suara, gambar, maupun video.

       Sekarang banyak program-progarm alternatif untuk pembuatan animasi Flash

selain program animasi dan multimedia dari Macromedia sendiri. Jika kita ingin

membuat sebuah animasi Flash yang luar biasa yang sangat dinamis tanpa

menggunakan Flash, kita dapat menggunakan SWiSH. SWiSH merupakan suatu

pilihan yang tepat, begitu mudah digunakan. Kita dapat membuat animasi-animasi

kompleks dengan teks, image, grafik, dan suara dalam waktu singkat. SWiSH

memiliki 150 lebih efek-efek di dalamnya yang siap digunakan seperti efek Explode,

Vortex, 3D Spin, Snake,             dan masih banyak lagi lainnya. Program aplikasi

SWiSH sekarang memiliki tool untuk membuat garis, bujursangkar, elips, kurva

Bezier, alur pergerakan (motion path), sprite, dan tombol rollover yang semuanya ada

dalam sebuah antarmuka yang mudah digunakan.

       SWiSH adalah program animasi yang berbasiskan orientasi objek yang dapat

membuat animasi objek vector dan bitmap sehingga ukuran filenya kecil. Program

aplikasi SWiSH dapat membuat efek-efek secara dramastis. Sejak SWiSH dibuat
pertama kalinya, SWiSH v2.0 di-upgrade secara besar-besaran. Ada ratusan fitur-fitur

baru untuk digunakan dalam membuat animasi. Program aplikasi SWiSH merupakan

suatu pilihan alternatif program pembuat animasi Flash yang sangat baik

dibandingkan dengan program-program pembuat animasi Flash lainnya yang

dirasakan begitu sulit dipelajari dan kompleks serta lebih mahal harganya.

       Program aplikasi SWiSH sangat mudah dipelajari dan memiliki antarmuka

yang mirip dengan antarmuka Macromedia Flash. Impian kita untuk membangun

situs yang dinamis dengan berbagai macam animasi akan terwujud dalam sekejap

karena kemudahannya. Pengguna SWiSH perlu mempelajari konsep-konsep animasi

dan terminologi dari perangkat lunak ini serta mengembangkan kreativitas untuk

menghasilkan animasi yang menarik.

       Kemampuan SWiSH yang dapat mengekspor file ke format file .swf

(Macromedia Flash) membuat animasi ini dapat dijalankan pada semua komputer

yang memiliki program Flash player. Animasi-animasi SWiSH juga dapat

dimasukkan ke dalam halaman web atau diimpor ke dalam Flash. Hasil animasi

SWiSH juga dapat dikirim melalui sebauh e-mail, disatukan dalam sebuah presentasi

Microsoft PowerPoint, atau dimasukkan ke dalam sebuah dokumen Microsoft Word.

Kita juga dapat mengekspor hasil kerja kita ke dalam format file .avi untuk membuat

sebuah movie yang dapat dijalankan di atas sistem operasi Windows.

       SWiSH sangat cocok untuk para perancang halaman web, animator, komputer

grafis, pelajar, mahasiswa, dosen, penggemar animasi (hobiis), rumah-rumah

produksi untuk pembuatan judul film (titling), pembuatan teks terjemahan, teks

musik, pembuatan credit dan bumper pada Video/Sinetron/VCD, serta tempat-tempat

kursus komputer grafis dan animasi.
       SWiSH juga cocok digunakan untuk penyampaian materi presentasi, materi

kuliah, ataupun materi pembelajaran yang membutuhkan tampilan animasi gambar

dan tulisan yang menarik. Karena itu SWiSH cocok juga digunakan untuk media

pembelajaran membaca dan menulis huruf jawa.

       SWiSH tidak menuntut kebutuhan dasar yang terlalu tinggi, kebutuhan dasar

tersebut adalah :

1. Perangkat keras utama (Hardware)

   a). Prosesor           : Pentium® 100 ke atas

   b). Memori RAM         : 32MB (64MB dianjurkan)

   c). Hard Disk          : minimal 160MB

   d). CD-ROM             : minimal 2X

   e). Monitor            : SVGA 800x600 pixel dengan 256 warna

   f). Mouse              : alat penunjuk dan pembuatan objek animasi

   g). Kartu suara        : untuk output musik dan suara



2. Perangkat lunak (Software)

   a). Sistem Operasi     : Windows 95/98/ME/NT4/2000/XP

   b). Perangkat Lunak : SWiSH,         SWiSH tidak dibutuhkan Macromedia Flash

       terinstal pada sistem komputer

       Untuk menjadikan animasi lebih baik diperlukan kebutuhan tambahan, yaitu :

1. Perangkat Keras Tambahan (Hardware)

   a). Tablet/digitizer   : untuk membuat skets objek gambar

   b). Scanner            : untuk mengambil citra data gambar

   c). Camera Digital     : untuk mengambil gambar image
    d). Microphone       : untuk penambahan karakter suara

2. Ketrampilan (Skill dan Brainware)

    a). Imaginasi        : membuat jalan cerita dan konsep animasi

    b). Kreativitas      : menuangkan imajinasi ke dalam stage

    c). Sketsa           : untuk membuat berbagai objek animasi

    d). Sense of Music   : untuk menghidupkan projek animasi

         Untuk dapat menggunakan program animasi SWiSH dengan baik, perlu

diketahui karakteristik dari program ini. Adapun kelebihan dari program animasi

SWiSH adalah : (1). Mudah digunakan dalam membuat animasi-animasi teks yang

kompleks, animasi image, grafik dan suara dalam waktu singkat; (2). Sangat mudah

dipelajari dan memiliki antarmuka yang mirip dengan antarmuka Macromedia Flash;

(3). Dapat mengekspor file ke format file.swf (Macromedia Flash) dan format file.avi;

(4). Animasi-animasi SWiSH dapat dimasukkan ke dalam halaman web atau diimpor

ke dalam Flash; (5). Hasil animasi SWiSH dapat dikirim melalui sebuah e-mail,

disatukan dalam sebuah presentasi Microsoft PowerPoint, atau dimasukkan ke dalam

sebuah dokumen Microsoft Word; (6). Dalam proses pembelajaran, siswa dapat

belajar secara mandiri karena konsep pelajaran telah disajikan secara kongkret dan

jelas.

         Sedangkan kelemahan dari program animasi SWiSH adalah : (1). Memerlukan

program Macromedia Flash Player terinstal, jika ingin mengaktifkan ikon tes player;

(2). Perlu mempelajari konsep-konsep animasi dan terminologi dari perangkat lunak

ini serta mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan animasi yang menarik; (3).
   Dalam proses pembelajaran, kurang adanya interaksi antara guru dengan siswa karena

   siswa lebih banyak berinteraksi dengan komputer.

          Program animasi SWiSH tidak dapat lepas dari metode konvensional, karena

   itu perlu diketahui pula karakteristik dari metode konvensional. Adapun kelebihan

   dari metode konvensional adalah : (1). Lebih efektif digunakan untuk materi yang

   tidak rumit tetapi membutuhkan ekspresi wajah. Misalnya materi cerita; (2). Sebagai

   metode dasar (basic), maksudnya bahwa semua metode dalam pembelajaran pasti ada

   unsur-unsur konvensional didalamnya. Misalnya ceramah sebagai pembuka pelajaran.

          Adapun kelemahan dari metode konvensional adalah : (1). Konsep yang

   disajikan kemungkinan masih bersifat verbalisme, masih abstrak belum kongkret; (2).

   Siswa pasif, penekanan lebih banyak pada guru pada kegiatan pembelajaran.

D. Kerangka Berpikir

          Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas proses belajar dan hasil belajar

   yang lebih baik adalah penggunaan media pembelajaran ke dalam kegiatan

   pembelajaran. Proses pembelajaran akan lebih efektif dan efisien apabila ditunjang

   dengan penggunaan media yang memadai. Karena berinteraksi dengan sumber belajar

   atau media pembelajaran dapat mengarah pada tercapainya hasil belajar yang optimal.

          Media pembelajaran dapat memberikan pengertian dan konsep yang

   sebenarnya secara realitis dan teliti, serta memberi pengalaman menyeluruh yang

   pada akhirnya memberi pengertian yang konkret, sehingga pemahaman siswa

   terhadap materi yang disampaikan guru tidak lagi bersifat verbalistik.

          Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, media pembelajaran selalu

   mengalami perkembangan pula. Hal itu disebabkan karena setiap media pembelajaran

   mempunyai kelemahan. Oleh sebab itu, perlu diadakan penemuan media baru dan
   pemanfaatan media yang baru guna meningkatkan proses pembelajaran yang lebih

   efektif dan efisien.

           Suatu media baru yang menarik siswa dan dapat digunakan untuk

   pembelajaran membaca dan menulis huruf Jawa adalah program animasi SWiSH.

   Dengan menggunakan program animasi SWiSH, siswa menjadi lebih mudah dalam

   mempelajari huruf Jawa, karena materi tersebut disajikan dalam format animasi

   dengan disertai suara dan gambar yang menarik. Setelah mempelajari materi ini siswa

   dengan mudah mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan huruf jawa. Dengan

   mudahnya siswa mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan huruf jawa, maka

   prestasinya akan meningkat. Kerangka berpikir ini dapat dilihat pada bagan 1.

       materi
    (Huruf Jawa)

                 penemuan media baru
               (Program Animasi Swish)

                                       materi menjadi
                                       konkret dan realistis

                                                               prestasi siswa
                                                               meningkat


                               Bagan 1. Kerangka berpikir


E. Hipotesis

           Berdasarkan landasan teori maka hipotesis penelitian ini adalah ”ada

   perbedaan prestasi belajar huruf jawa antara pembelajaran menggunakan program

   SWiSH dengan metode konvensional pada siswa kelas VII semester 1 di SMP Negeri

   1 Brangsong kabupaten Kendal tahun ajaran 2004/2005”.
                                        BAB III

                               METODE PENELITIAN



        Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan

data penelitiannya (Arikunto, 2002 : 136).

        Adapun metode dalam penelitian ini mencakup tentang rancangan penelitian,

populasi dan sampel, variabel penelitian, metode pengumpulan data, uji coba instrumen

(validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya beda), langkah eksperimen dan analisis

data.



A. Rancangan Penelitian

           Rancangan penelitian adalah sebuah titik tolak pemikiran yang akan berguna

   untuk mengumpulkan data yang bermanfaat terhadap penelitian, kemudian untuk

   dianalisis dan mencari peranannya yang dapat digunakan sebagai pedoman yang

   diharapkan. Dalam rancangan penelitian diawali dengan menentukan sumber data.

   Dari sumber data baru kemudian menyusun instrumen, mengingat kegunaan

   instrumen adalah untuk mengumpulkan data. Dari pengumpulan data yang

   diharapkan, hasilnya kemudian untuk menarik kesimpulan.

           Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan logika hipotetika

   verifikatif. Dimulai dengan berfikir deduktif untuk menurunkan hipotesis, kemudian
melakukan verifikasi data empiris dan menguji hipotesis berdasarkan data empiris

serta menarik kesimpulan atas dasar hasil pengujian hipotesis. Untuk itu peran

statistika sangat diperlukan (Sudjana, 1989 : 195). Dalam penelitian ini digunakan

metode penelitian kuantitatif dengan analisis statistik.

       Rancangan penelitian dibedakan menjadi beberapa model diantaranya :

penelitian kasus (case studies), penelitian causal komparatif, penelitian korelasi,

penelitian histories, dan penelitian fisiologis. Dari beberapa model penelitian tersebut

penelitian yang digunakan adalah model causal komparatif. Dipilihnya penelitian

kausal komparatif sebagai berikut : akan dapat menemukan persamaan-persamaan

dan perbedaan-perbedaan tentang suatu faktor yaitu ingin membandingkan dua

peristiwa dengan melihat penyebabnya serta ingin mengetahui kemungkinan-

kemungkinan akibat dari suatu kejadian yang tidak dilakukan dengan suatu

eksperimen (Arikunto, 2002 : 75).

       Eksperimen adalah suatu cara untuk menyelidiki kemungkinan saling

berhubungan sebab akibat (bersifat kausal) dengan cara mengenakan kepada satu atau

lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan. (Nasir, 1985 : 16).

       Jenis penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah eksperimen.

Adapun rancangan atau pola eksperimen dapat dilihat pada      tabel 2.

                             Tabel 2. Pola Eksperimen

       Group             Nilai Pre-test        Treatment      Hasil Post Test
    Eksperimen                 C                   Xe                Ye
      Kontrol                  K                   Xk                Yk



       Keterangan :
         C =     nilai hasil pre test kelompok eksperimen

         K =     nilai hasil pretest kelompok kontrol

         Xe =    pembelajaran menggunakan media animasi Swish

         Xk =    pembelajaran menggunakan metode konvensional

         Ye =    hasil post test kelompok eksperimen

         Yk =    hasil post test kelompok kontrol

         Menurut pola tersebut terapannya dalam penelitian ini sebagai berikut :

   1. Memilih 2 kelas yang homogen dari segi kemampuan, untuk itu dilakukan

      pengukuran dahulu dengan kriteria tertentu, sehingga kemampuan kedua kelas itu

      mendekati kesamaan.

   2. Dari dua kelas tersebut, satu kelas ditetapkan sebagai kelompok eksperimen

      (kelas A), dan satu kelas yang lain sebagai kelompok kontrol (kelas B).

   3. Kelas A diberi pembelajaran menggunakan media animasi SWiSH, sedangkan

      kelas B diberi pembelajaran dengan metode konvensional.

   4. Setelah empat kali pertemuan, diadakan tes kemampuan, kemudian hasilnya

      diukur untuk mengetahui hubungan keduanya. Pembelajaran mana yang lebih

      tinggi daya serapnya.

   5. Apabila rata-rata kelompok eksperimen menunjukkan hasil lebih tinggi dan

      berbeda secara nyata dari hasil yang diperoleh kelompok kontrol, maka dapat

      disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan media animasi SWiSH lebih

      efektif dan mempunyai pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa dibandingkan

      dengan pembelajaran konvensional.



B. Populasi dan Sampel

   1. Populasi
              Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002 : 108).

      Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki (Hadi, 2000 :

      220). Lebih lanjut dikemukakan, bahwa populasi dibatasi sejumlah penduduk atau

      individu yang paling sedikit mempunyai sifat-sifat yang sama.

              Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII Semester 1

      SMP Negeri 1 Brangsong Kabupaten Kendal tahun ajaran 2004/2005.

   2. Sampel

              Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. (Arikunto, 2002

      : 109). Sebagian yang diambil dari populasi disebut sampel (Sudjana, 2000 : 7).

              Jadi dari pengertian di atas, sampel merupakan bagian atau unit kecil dari

      populasi dalam penelitian ini, sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

      siswa kelas VIIE dan kelas VIIF, penentuan kelas ini ditentukan menggunakan

      teknik cluster random sampling. Dalam penelitian ini digunakan studi sampel

      maksudnya sampel berjumlah 2 kelas, yaitu kelas eksperimen 44 siswa dan

      kelompok kontrol 44 siswa. Setelah dimatching sesuai dengan nilai pre-test, maka

      kelompok eksperimen sejumlah 44 siswa dan kelompok kontrol 44 siswa.

              Matching adalah kata lain dari memadukan atau menyatukan nilai atau

      kondisi yang hampir sama, antara lain mempunyai nilai yang hampir sama,

      tingkat kelas yang sama, usia atau tingkat psikologis yang sama.

C. Variabel Penelitian

          Variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Sedangkan konsep

   adalah sesuatu yang hendak diteliti. Variabel adalah segala sesuatu yang menjadi

   objek pengamatan dalam penelitian. (Sumadi Suryabrata,          1983 : 72). Menurut

   Suharsimi variabel adalah objek penelitian yang bervariasi. (Suharsimi, 2002 : 94).
       Variabel dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi 2 kategori, yaitu

variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang

keberadaannya tidak tergantung (independent) pada variabel lain, sedangkan variabel

terikat adalah variabel yang keberadannya tergantung (dependent) pada variabel lain

(M. Nasir, 1983 : 150). Secara kontekstual variabel yang terdapat dalam penelitian ini

adalah :

1. Variabel terikat

            Variabel terikat adalah variabel yang ditimbulkan atau efek dari variabel

   bebas (Sudjana dan Ibrahim, 1989 : 12). Variabel terikat adalah akibat atau

   variabel tidak bebas. (Suharsimi, 2002 : 97). Variabel terikat dalam penelitian ini

   yaitu hasil belajar siswa dalam pembelajaran huruf Jawa.

2. Variabel bebas

            Variabel bebas adalah variabel penyebab atau yang diduga memberikan

   suatu pengaruh atau efek terhadap peristiwa lain (Sudjana dan Ibrahim, 1989 :

   12). Menurut Suharsimi (2002 : 97) variabel bebas adalah variabel yang

   mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran

   menggunakan media animasi SWiSH dalam mata pelajaran bahasa jawa dengan

   topik membaca dan menulis huruf Jawa.

            Antara variabel bebas dengan variabel terikat dapat dibuat bagan seperti

   bagan 2.

           Pembelajaran                             Hasil belajar
           Menggunakan media                        membaca dan
           Animasi SWiSH                            menulis huruf Jawa

              Variabel bebas                           Variabel terikat
            Bagan 2. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat

       Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar membaca dan menulis huruf

jawa antara SWiSH dan metode konvensional, maka dibuat tabel 3. sebagai berikut :


Tabel 3. Perbedaan pembelajaran menggunakan media animasi SWiSH dan
         pembelajaran konvensional


                                                                 Hasil
             Metode             Variabel        Kelompok
                                                                Belajar
                                 Bebas
             SWiSH                             Eksperimen          X
                             (independent)
                                Terikat
          Konvensional                           Kontrol           Y
                              (dependent)


       Selain variabel di atas masih terdapat variabel yang lain. Sutrisno Hadi (1990 :

437) menjelaskan bahwa variabel adalah semua keadaan, faktor-faktor, perlakuan

atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen, sehingga dalam suatu

eksperimen dibedakan dua macam variabel, yaitu variabel eksperimen dan variabel

non eksperimen.

a. Variabel eksperimen disebut juga treatment variabel

          Variabel ekperimen adalah kondisi yang hendak diselidiki pengaruhnya

   terhadap suatu gejala (Sutrisno Hadi, 1990 : 437). Sebagai variabel eksperimen

   dalam penelitian ini adalah pembelajaran menggunakan program animasi SWiSH.

b. Variabel non eksperimen

           Variabel non ekperimental meliputi variabel kontrol dan variabel

   intervening (antara). Variabel kontrol adalah variabel yang dikontrol baik dengan

   jalan match atau penyeimbangan maupun dengan mempertahankan kondisi-

   kondisi tertentu yang seimbang. Penyeimbangan yang dimaksud adalah
penyeimbangan faktor tertentu antara group eksperimen dan group kontrol,

kecuali variabel treatment. (Sutrisno Hadi, 1990 : 437).

       Cara menyeimbangkan variabel disesuaikan dengan pola eksperimen yang

dipilih. Karena pola eksperimen yang dipilih adalah pola randomized control-

group pretest-postest design maka dalam penyeimbangan dilaksanakan secara

kelompok atau group matching.

       Adapun variabel kontrol yang perlu diseimbangkan adalah :

a). Jenis kelamin siswa

           Jenis kelamin siswa diasumsikan berpengaruh terhadap penguasaan

   materi huruf jawa, maka perlu diseimbangkan.

b). Umur siswa

           Umur siswa dapat dijadikan sebagai gambaran umum tentang tingkat

   kematangan siswa, maka dari itu juga perlu diseimbanagkan

c). Intelegency Question (IQ)

           Intelegency Question (IQ) dapat dijadikan gambaran umum tentang

   tingkat kecerdasan siswa, maka perlu diseimbangkan.

d). Nilai Pretest

           Skor awal siswa yang berupa skor pretest dari masing-masing kelas

   diurutkan dari nilai tertinggi hingga terendah, kemudian diambil secara

   berpasangan. Siswa yang skornya tidak mendapat pasangan tidak diambil.

   Pengambilan siswa dari kelompok pasangan berlebih dilakukan secara acak.

       Variabel non eksperimen yang kedua adalah variabel antara atau

intervening variable. Suatu variabel disebut variabel antara apabila, dengan
masuknya variabel tersebut, hubungan statistik yang semula tampak antara dua

variabel kemudian menjadi lemah atau bahkan lenyap. (S. Margono, 2003 : 146).

Pengaruh variabel intervening dapat dilihat pada bagan 3.

                                       B
                                 Variabel Antara



                   A                                  C
           Variabel Pengaruh                Variabel Terpengaruh

                     Bagan 3. Pengaruh Variabel Intervening

Keterangan :
 Garis putus berarti mungkin berhubungan langsung mungkin tidak. Untuk
 dapat menentukan bahwa diantara tiga variabel terdapat variabel antara
 diperlukan tiga hubungan tidak simetris, yakni A dan B, B dan C, A dan C.
 (S. Margono, 2003 : 147).
       Adapun variabel intervening dalam penelitian ini adalah :

a). Guru

            Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran huruf jawa ini

   dilaksanakan sendiri oleh peneliti baik di kelas kontrol maupun di kelas

   eksperimen.

b). Sarana dan fasilitas pendidikan

            Penelitian ini menggunakan sarana komputer. Untuk menggunakan

   komputer sebagai media pembelajaran diperlukan pengetahuan dasar

   pengoperasian komputer.

c). Situasi kelas

            SMP Negeri 1 Brangsong sebagai tempat penelitian berada di pinggir

   jalan raya Kendal-Semarang, sehingga suara bising lalu lintas kendaraan yang

   lewat sering terdengar.
D. Metode Pengumpulan Data

           Untuk memperoleh data penelitian, peneliti menggunakan dua metode yaitu

  metode dokumentasi sebagai metode pendukung dan metode tes sebagai metode

  pokok.

  1. Metode dokumentasi

              Dokumentasi adalah pemberian atau pengumpulan bukti-bukti dan

     keterangan-keterangan (Purwadarminta, 1983 : 256). Maka, dokumentasi

     digunakan untuk memperoleh keterangan berupa catatan penting atau dokumen

     penting yang ada hubungannya dengan masalah yang akan diteliti dari lembaga

     yang berperan dalam masalah tersebut. Metode ini digunakan untuk memperoleh

     daftar nama siswa, nilai tes bahasa Jawa (nilai ulangan), usia siswa, dan tingkat

     kecerdasan siswa (IQ).

              Dokumen yang berupa daftar nama siswa, nilai hasil ulangan siswa pada

     mata pelajaran bahasa Jawa, usia siswa dan tingkat kecerdasan siswa (IQ)

     digunakan untuk kepentingan analisa kemampuan dasar dan untuk menyamakan

     kondisi awal siswa di kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

  2. Metode tes

              Metode tes adalah serentetan pertanyaan latihan yang digunakan untuk

     mengukur ketrampilan pengetahuan, intelegensi dan kemampuan yang dimiliki

     oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 2002 : 127). Metode tes

     digunakan untuk memperoleh data tentang pencapaian hasil belajar kognitif siswa

     sehingga dapat mengetahui tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah
dicapai oleh siswa setelah menempuh proses belajar mengajar, yaitu pada mata

pelajaran bahasa Jawa pokok bahasan huruf Jawa.

a). Jenis Instrumen yang digunakan

          Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh

   peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan

   hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga

   lebih mudah diolah (Arikunto, 2002 : 136)

          Dalam metode tes ini, instrumen yang digunakan adalah soal-soal tes.

   Agar instrumen dapat digunakan sebagaimana mestinya, perlu langkah-

   langkah dalam pembuatannya. Sedangkan langkah-langkah penyusunan

   instrumen tersebut adalah :

   1). Tahap persiapan, meliputi pembatasan materi yang akan diujikan yaitu

       pokok bahasan huruf Jawa, menentukan alokasi waktu, membuat kisi-kisi

       soal, membuat soal sesuai dengan kisi-kisi.

   2). Tahap pelaksanaan

   3). Tahap analisis

b). Konstruksi alat pengumpul data

          Dalam penelitian ini, tes digunakan untuk mengambil data berupa nilai

   hasil belajar siswa. Tes dilakukan setelah siswa mengikuti pembelajaran yang

   diberikan sehingga ruang lingkup materi evaluasi dibatasi pada materi yang

   telah diajarkan. Penilaian diberikan dengan simbol numerik basis sepuluh

   (angka 1 – 10).
                     Soal tes yang dipergunakan untuk memperoleh data dari kelompok

              eksperimen dan kelompok kontrol yaitu tes isian. Tes tidak standart buatan

              guru dengan bantuan kisi-kisi yang disesuaikan dengan kurikulum Sekolah

              Menengah Pertama tahun 2004, suplemen GBPP Sekolah Menengah Pertama

              2004 dengan berorientasi pada kurikulum berbasis kompetensi dan silabus

              mata pelajaran Bahasa Jawa Sekolah Menengah Pertama kelas VII semester 1

              Kabupaten Kendal.



E. Uji Coba Instrumen

              Uji coba instrumen dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kualitas instrumen

   sehingga dapat mengungkap data yang benar-benar dibutuhkan. Suatu tes dikatakan

   baik apabila pada tes itu benar-benar memenuhi beberapa syarat, yaitu valid dan

   reliabel. Jika tes memenuhi kedua syarat itu, maka tes tersebut akan konsisten atau

   ajeg bila digunakan pada lain waktu.

              Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengukur apa yang

   diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari

   variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto 2002 : 145). Sedang suatu tes dikatakan

   reliabel / taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang

   tetap (Arikunto, 1997 : 87). Dalam penelitian ini menggunakan validitas butir soal,

   sedangkan reliabilitasnya menggunakan rumus K-R 20.

              Uji coba instrumen dilaksanakan di kelas VIIB SMP Negeri 1 Brangsong,

   sedangkan penelitian diadakan di kelas VIIE dan kelas VIIF. Hal ini dimaksudkan

   untuk menjaga kerahasiaan soal, sehingga hasil tes siswa tidak terpengaruh oleh hasil

   try out.
       Uji instrumen yang dimaksud adalah validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan

tingkat kesukaran. Masing-masing uji instrumen tersebut dijelaskan sebagian berikut :

1. Uji Validitas

           Validitas merupakan ketepatan atau kejituan alat pengukur serta ketelitian,

   kesamaan atau ketepatan pengukuran apa yang sebenarnya diukur. Validitas

   terdiri atas tiga hal yaitu validitas keseluruhan soal, validitas item dan validitas

   faktor (Arikunto, 1997 : 65).

   a). Validitas logis dan validitas empiris

              Arikunto (2002 : 145) Validitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu

       validitas logis dan validitas empiris. Validitas logis yaitu validitas yang

       diperoleh dengan suatu usaha hati-hati melalui cara-cara yang benar sehingga

       menurut logika akan dicapai suatu tingkat yang dikehendaki. Validitas logis

       diperoleh sejak penyusunan instrumen yang sesuai dengan materi dan

       kurikulum sekolah. Sedangkan validitas empiris yaitu menguji instrumen yang

       sudah disusun melalui pengalaman. Validitas empiris diperoleh dengan

       mencobakan instrumen sehingga dihasilkan validitas item.

   b). Validitas faktor

              Validitas faktor yaitu butir-butir soal dalam faktor dikatakan valid

       apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap soal-soal secara

       keseluruhan, yakni jumlah skor untuk butir-butir faktor tersebut menunjukkan

       adanya kesejajaran dengan skor total. (Arikunto, 1997 : 80).

              Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi, tinggi

       rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul

       tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud.
c). Validitas butir soal/validitas item

           Validitas item adalah sebuah item dikatakan valid apabila mempunyai

   dukungan yang besar terhadap skor total. Dengan kata lain sebuah item

   memiliki validitas yang tinggi jika skor pada item mempunyai kesejajaran

   dengan skor total. (Arikunto, 1997 : 72). Validitas butir soal (validitas item),

   merupakan validitas yang digunakan peneliti jika ingin mengetahui validitas

   soal tes.

           Untuk mengetahui validitas tiap-tiap item tes digunakan rumus

   Korelasi Point Biserial sebagai berikut :


                                            M p − Mt   p
                                  rpbsi =
                                               St      q

   Keterangan :

     rpbsi = Koefisien korelasi antara x dan y

     Mp    = Mean skor dari subjek yang menjawab betul item yang

               dicari korelasinya dengan tes

     Mt    = Mean skor total (skor rata-rata dari seluruh pengikut tes)

     St    = Standart deviasi skor total

     p     = porposi subjek yang menjawab betul item tersebut

     q     = 1–p

           Setelah diperoleh harga rpbsi dikonsultasikan dengan harga r product

   moment. Dengan taraf signifikansi tertentu, jika harga rpbsi > rtabel maka item

   soal tersebut dikatakan valid. Sedang item soal yang tidak valid tidak

   digunakan dalam penelitian. (Suharman, 1990 : 163).
                Berdasarkan     hasil analisis    uji   coba   soal,   maka   harga    rpbis

         dikonsultasikan dengan harga r product moment pada N=34 dan taraf

         signifikansi 5%. Bila harga rpbis > rtabel maka tes tersebut valid. Dari hasil uji

         coba soal tersebut terdapat delapan soal yang tidak dipakai, yaitu nomor 1, 4,

         6,16, 21, 26 karena tidak valid dan nomor 15, 19 karena memiliki daya

         pembeda yang jelek dan tingkat kesukaran yang sukar.

2. Reliabilitas Soal

            Reliabilitas menunjukkan bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya

   untuk dapat digunakan sebagaimana alat pengumpul data karena instrumen

   tersebut sudah baik (Suharsimi Arikunto, 2002 : 154).

            Peneliti menggunakan rumus K—R 20 karena instrumen mempunyai skor

   1 dan 0. Rumus K—R 20 sebagai berikut :


                                          k  S 2 − Σpq 
                                   r11 =               
                                          k − 1  S 2   

   Keterangan :

     r11    = reliabilitas instrumen

     k      = banyak item

     S2     = varians total (standart deviasi dari tes)

     p      = proporsi subjek yang menjawab benar

     q      = proporsi subjek yang menjawab salah ( q = 1-p )

     Σpq = jumlah hasil perkalian antara p dan q
          Harga r11 yang diperoleh dikonsultasikan dengan harga rtabel product

   moment dengan taraf nyata 5%. Instrumen dikatakan reliabel jika r11 > rtabel

   (Arikunto, 2002 : 164).

          Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas instrumen (r11) diperoleh harga

   r11 = 0.8637 dengan rtabel = 0.339 sehingga r11 lebih besar dari rtabel maka dapat

   disimpulkan bahwa instrumrn penelitian ini reliabel.

3. Daya Pembeda Soal

          Menganalisa daya pembeda artinya mengkaji soal-soal tes dari segi

   kesanggupan tersebut dalam membedakan siswa yang termasuk ke dalam kategori

   lemah atau rendah dan kategori kuat atau tinggi prestasinya.

          Rumus yang peneliti gunakan untuk menghitung daya pembeda soal

   adalah sebagai berikut :


                                              JB A − JBB
                                       DP =
                                                  JS A

   Keterangan :

    DP = Daya Pembeda

    JBA = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas

    JBB = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah

    JSA = Banyaknya siswa pada kelompok atas

   Klasifikasi daya pembeda soal :

    DP ≤ 0,00 adalah sangat jelek

    0,00 < DP ≤ 0,20 adalah jelek

    0,20 < DP ≤ 0,40 adalah cukup
     0,40 < DP ≤ 0,70 adalah baik

     0,70 < DP ≤ 1,00 adalah sangat baik

     (Suharman, 1990 : 113).

          Pada perhitungan daya pembeda soal, diperoleh 5 butir soal yaitu nomor 2,

   8, 23, 26, dan 27 merupakan kriteria baik, sedang soal nomor 1, 3, 5, 6, 7, 9, 10,

   11, 12, 13, 14, 17,18, 20, 22, 24, 25, 28, 29 dan 30 mempunyai kriteria cukup.

   Soal nomor 4, 15, 16, 19 dan 21 mempunyai kriteria jelek. Untuk soal yang

   mempunyai kriteria jelek perlu diadakan perbaikan agar dapat digunakan sebagai

   alat pengumpul data.

4. Tingkat Kesukaran Soal

          Menganalisis tingkat kesukaran soal artinya mengkaji soal-soal tes dari

   kesulitannya sehingga dapat diperoleh soal-soal mana yang termasuk mudah,

   sedang dan sukar. Untuk menghitung tingkat kesukaran tes digunakan rumus

   sebagai berikut :


                                           JB A + JBB
                                    IK =
                                           JS A + JS B

   Keterangan :

     IK   = Indeks kesukaran

     JBA = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas

     JBB = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah

     JSA = Banyaknya siswa pada kelompok atas

     JSB = Banyaknya siswa pada kelompok bawah

   Selanjutnya indeks kesukaran soal diklasifikasikan sebagai berikut :
       IK = 0,00 adalah soal sangat sukar

       0,00 < IK ≤ 0,30 adalah soal sukar

       0,30 < IK ≤ 0,70 adalah soal sedang

       0,70 < IK ≤ 1,00 adalah soal mudah

       IK = 1,00 adalah soal terlalu mudah

       (Suharman, 1990 : 112)

            Pada perhitungan tingkat kesukaran soal didapat 4 butir soal yakni nomor

     1, 16, 17, dan 24 merupakan kriteria mudah. Sedangkan yang termasuk kriteria

     sedang sejumlah 16 butir soal yaitu nomor 2, 3, 4, 6, 7, 8, 18, 20, 22, 23, 25, 26,

     27, 28, 29 dan 30. Untuk soal nomor 5, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 19 dan 21

     termasuk kriteria sukar.



F. Langkah Eksperimen

         Pembelajaran dalam penelitian ini, materi pengajarannya disampaikan oleh

  peneliti, baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Hal ini dimaksudkan

  agar materi yang tersaji dan media yang digunakan sesuai dengan apa yang

  dikehendaki peneliti, khususnya yang berhubungan dengan pemanfaatan program

  animasi SWiSH.

         Adapun langkah-langkah pelaksanaannya sebagai berikut :

  1. Pemilihan kelas

            Sesuai dengan keadaan SMP Negeri 1 Brangsong kelas VII yang terdiri

     dari 7 kelas, peneliti mengambil dua kelas yang dipilih secara acak atau random

     dengan teknik cluster random sampling, kemudian untuk menentukan kelompok

     eksperimen dan kelompok kontrol menggunakan teknik undian.

  2. Pelaksanaan treatment (perlakuan)
       Dalam pembelajaran telah disiapkan media animasi SWiSH yang

dibutuhkan sesuai dengan materi pembelajaran yang akan disajikan. Urutan

pelaksanaan kegiatan dalam pembelajaran terurai sebagai berikut :

a. Pada kelas eksperimen

   ─ Pertemuan / KBM I

       Peneliti yang berperan sebagai guru mata pelajaran bahasa jawa,

       memberikan informasi kepada siswa bahwa pelajaran bahasa jawa pada

       pertemuan ini disampaikan dengan menggunakan media animasi SWiSH.

       Peneliti juga memberikan informasi bagaimana cara memanfaatkan media

       animasi SWiSH tersebut. Peneliti mengadakan apersepsi dilanjutkan

       materi inti, pokok bahasan aksara jawa. Kemudian diakhiri dengan

       evaluasi.

   ─ Pertemuan / KBM II

       Peneliti yang berperan sebagai guru mata pelajaran bahasa jawa

       menyampaikan apersepsi yang berhubungan dengan materi inti, pokok

       bahasan sandhangan swara, pembelajaran ditutup dengan evaluasi.

   ─ Pertemuan / KBM III

       Peneliti yang berperan sebagai guru mata pelajaran bahasa jawa

       menyampaikan apersepsi yang berhubungan dengan materi inti, pokok

       bahasan sandhangan panyigeg wanda dan wyanjana, pembelajaran ditutup

       dengan evaluasi.

   ─ Pertemuan / KBM IV
          Peneliti yang berperan sebagai guru mata pelajaran bahasa jawa

          menyampaikan apersepsi yang berhubungan dengan materi inti, pokok

          bahasan pasangan, pembelajaran ditutup dengan evaluasi.

               Pertemuan ini merupakan pertemuan yang terakhir dari pokok bahasan

      membaca dan menulis huruf jawa. Siswa diberikan tugas mengerjakan tes

      sumatif berbentuk soal isian.

   b. Pada kelas kontrol

               Pada prinsipnya proses pembelajaran kelas kontrol sama dengan

      pembelajaran kelas eksperimen, yang membedakan adalah penggunaan media

      animasi SWiSH. Pada kelas kontrol tidak menggunakan media animasi

      SWiSH tetapi konvensional yaitu ceramah. Pada awal pembelajaran kelas

      kontrol diberikan apersepsi, kemudian pada akhir pembelajaran diadakan

      evaluasi. Pemberian tes sumatif untuk kelompok kontrol diberikan pada

      pertemuan ke empat, untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pokok

      bahasan membaca dan menulis huruf jawa.

3. Penilaian

          Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauhmana proses kegiatan belajar

   mengajar yang dilakukan berhasil mencapai tujuan. Norma penilaian yang dicapai

   adalah pengolahan skor tanpa denda, sebagai berikut :


                                        S=R

   Keterangan :

      S = skor yang diperoleh

      R = jawaban yang betul
          (Arikunto , 1997 : 169)

G. Analisis Data

          Analisis data sangat menentukan dalam suatu penelitian karena analisis data

   berfungsi untuk menyimpulkan hasil penelitian. Analisis data dilakukan melalui

   tahap-tahap berikut :

   a. Tahap awal

              Pada tahap awal data yang dianalisis adalah nilai ulangan bahasa jawa

      semester 1 tahun pelajaran 2004/2005. Analisis yang dilakukan adalah sebagai

      berikut :

      1). Uji normalitas

                   Uji normalitas digunakan untuk mengetahui sebaran data yang akan

          dianalisis berdistribusi normal atau tidak. Rumus yang digunakan adalah

          Lilliefors, untuk pengujian hipotesis nol (data berdistribusi normal) kita

          tempuh prosedur berikut :

          a). Pengamat x1, x2, … xn dijadikan bilangan baku z1, z2, … zn dengan
                                      x −x
              menggunakan rumus Z1 = 1       dimana x = rata-rata dan       s =
                                        s
                                           Σ( X 1 − X )
                                                      2

              simpangan baku sampel. s =
                                               n −1
          b). Untuk tiap bilangan baku dan menggunakan daftar distribusi normal baku,

              kemudian dihitung peluang F(z1) = P(z ≤ z1).

          c). Selanjutnya dihitung proporsi z1, z2, …zn yang lebih kecil atau sama

              dengan z1. Jika proporsi ini dinyatakan        oleh S(z1), maka S(z1) =

              banyaknyaz1 , z 2 ,.....z n yang ≤ z1
                               n

          d). Hitung selisih F(z1) – S(z1) kemudian tentukan harga mutlaknya.
       e). Ambil harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak selisih

           tersebut. Harga terbesar = Lo.

           Koefisien pengujian adalah data berdistribusi normal jika Lo ≤ L kritik

           dengan n = 44 dan taraf nyata 5%.

           (Sudjana, 2002 : 466).

   2). Uji kesamaan dua varians

               Setelah diketahui kedua kelompok berdistribusi normal kemudian

       dilakukan uji F untuk mengetahui apakah kedua kelompok mempunyai

       varians yang sama.

       Ketentuan :                          Dimana :

       Ho : σ12 = σ22                       σ12 = Eksperimen

       Ha : σ12 ≠ σ22                       σ22 = Kontrol

       Rumus yang digunakan :

                                        Varian terbesar
                                F=
                                        Varian terkecil

       Kriteria pengujiannya adalah kedua kelompok mempunyai varians yang sama

       jika dengan taraf nyata 5% Fhitung ≤ F1/2α (nb-1) (nk-1). (Sudjana, 2002 : 250).

b. Uji tahap akhir

           Setelah dilakukan uji normalitas dan uji kesamaan dua varians maka

   langkah selanjutnya adalah dilakukan uji perbedaan dua rata-rata. Pasangan

   hipotesis nol dan tandingannya yang akan diuji adalah :

                                        Ho : µ1 = µ2

                                        Ha : µ1 ≠ µ2

   Dimana :

       µ1 = rata-rata kelompok eksperimen
   µ2 = rata-rata kelompok kontrol

Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan uji t, yaitu :

1). Varians kedua kelompok sama

   Apabila varians kedua kelompok sama maka rumus yang digunakan adalah

   sebagai berikut :

                                              x1 − x 2
                                     t=
                                               1   2
                                          s      +
                                               n1 n 2

              dengan

                                  (n1 − 1)s1 2 + (n2 − 1)s 2 2
                            s=
                                          n1 + n 2 − 2

   Keterangan :

       x1 = rata-rata kelompok eksperimen

       x 2 = rata-rata kelompok kontrol

   Kriteria pengujian adalah Ho diterima jika –t         (1-1/2α)   <t<t    (1-1/2α)   dengan dk =

   n1 + n2 – 2 peluang (1-1/2α) serta taraf nyata 5%.

   (Sudjana, 2002 : 239).

2). Varians kedua kelompok berbeda

   Jika varians kedua kelompok berbeda maka rumus yang digunakan adalah :

                                              x1 − x 2
                                  t1 =
                                                2        2
                                              s1  s
                                                 + 2
                                              n1   n2

                                                                  w1t1 + w2 t 2
   Kriteria pengujiannya adalah tolah Ho apabila t 1 ≥
                                                                   w1 + w2
                                                              2                   2
                                                             s1         s
   Dan diterima Ho jika sebaliknya. Dengan w1 =                 dan w2 = 2
                                                             n1          n2
t1 = t (1−α ).(n1 −1) dan t 2 = t (1−α ).(n2 −1)

(Sudjana, 2002 : 243).




                                            BAB IV

              HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian

   1. Hasil Pembuatan Media Interaktif Bahasa Jawa dengan SWiSH

             Media interaktif bahasa Jawa ini dibuat dengan program SWiSH dengan
      materi huruf Jawa. Tampilan materi dibuat dalam bentuk animasi gerak untuk
      mengenalkan macam-macam huruf Jawa beserta cara membacanya. Berikut ini
      beberapa bentuk tampilan dari media pembelajaran interaktif menggunakan
      SWiSH.




                   Gambar 1. Tampilan pada Saat Pembuatan Media
Gambar 2. Tampilan Pertama Hasil Pembuatan Media Pembelajaran




         Gambar 3. Hasil Animasi Materi Aksara Jawa
Gambar 4. Hasil Animasi Materi Sandhangan




 Gambar 5. Hasil Animasi Materi Pasangan
2. Deskripsi Kondisi Awal

          Data kondisi awal siswa dapat dilihat dari hasil matching yang meliputi

   jenis kelamin, umur siswa, inteligensi question (IQ), dan hasil pre test. Analisis

   matching terhadap jenis kelamin dan umur siswa digunakan uji chi kuadrat,

   sedangkan untuk data inteligensi question (IQ) dan data pre test digunakan uji t.

   a. Jenis Kelamin Siswa

                 Data tentang jenis kelamin responden penelitian dapat dilihat pada

      tabel 4.

               Tabel 4. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden Penelitian

                                              Jenis Kelamin
                                                                      Total
                                        Perempuan       Laki-laki
                                   f        22             22          44
                      Eksperimen
                                   %      50.0%          50.0%       100.0%
       Kelompok
                                   f        22             22          44
                        Kontrol
                                   %      50.0%          50.0%       100.0%
                                   f        44             44          88
       Total
                                   %      50.0%          50.0%       100.0%

                 Berdasarkan tabel 4, tampak bahwa siswa perempuan dari kedua

      kelompok sama yaitu 22 orang, demikian juga untuk siswa laki-laki yaitu

      sebanyak 22 orang. Dari hasil uji chi kuadrat diperoleh χ2 hitung = 0.000 dengan

      probabilitas 1.000 > 0.05, yang berarti Ho diterima. Dengan diterimanya Ho

      menunjukkan bahwa kedua kelompok mempunyai kondisi yang sama ditinjau

      dari jumlah jenis kelaminnya.




   b. Umur Siswa

                 Data umur siswa dari kedua kelompok dapat dilihat pada       tabel 5.
              Tabel 5. Distribusi Frekuensi Umur Responden Penelitian

                                                 Umur
                                                                            Total
                                        12.00    13.00     14.00
                                f         26       13         5          44
                 Eksperimen
                                %       59.1%    29.5%     11.4%       100.0%
    Kelompok
                                f         29       10         5          44
                   Kontrol
                                %       65.9%    22.7%     11.4%       100.0%
                                f         55       23        10          88
    Total
                                %       62.5%    26.1%     11.4%       100.0%

            Berdasarkan tabel 5, tampak bahwa pada kelompok eksperimen

   terdapat 26 siswa yang berumur 12 tahun, 13 siswa dengan umur 13 tahun dan

   5 siswa berumur 14 tahun, sedangkan pada kelompok kontrol terdapat 29

   siswa yang berumur 12 tahun, 10 siswa dengan umur 13 tahun dan 5 siswa

   berumur 14 tahun. Melalui uji chi kuadrat diperoleh χ2          hitung    sebesar 0.555

   dengan probabilitas 0.758 > 0.05, yang berarti Ho diterima. Dengan

   diterimanya Ho menunjukkan bahwa kedua kelompok mempunyai kondisi

   umur yang relatif sama yaitu berkisar antara 12 tahun – 14 tahun.

c. Inteligensi Question (IQ)

            Data hasil nilai Inteligensi Question (IQ) siswa kedua kelompok dapat

   dilihat pada tabel 6.

               Tabel 6. Deskripsi Hasil Nilai Inteligensi Question (IQ)

    Kelompok               Mean ( Χ )     Varians (s2)   Standar Deviasi (s)
    Eksperimen              98.18          106.757             10.33
    Kontrol                 98.23          106.505             10.32


            Berdasarkan tabel 6, tampak bahwa pada kelompok eksperimen

   diperoleh mean ( Χ ) sebesar 98.18, varians (s2) sebesar 106.757 dan standar

   deviasi (s) sebesar 10.33, sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh mean

   ( Χ ) sebesar 98.23, varians (s2) sebesar 106.505 dan standar deviasi (s)
sebesar 10.32. untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan IQ antara kedua

kelompok dapat dilihat dari uji t, yang sebelumnya dilihat kenormalan dan

kesamaan varians datanya.

1) Uji Normalitas Data IQ

      Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas diperoleh nilai Liliefors

                            hitung seperti pada tabel 7.

               H. Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Data IQ

    Kelompok           Lo             dk          Ltabel      Kriteria
    Eksperimen       0.1207           44          0.134       Normal
    Kontrol          0.0928           44          0.134       Normal

          Dari tabel 7, terlihat bahwa kedua kelompok memiliki nilai Lo <

   Ltabel dengan dk (44) dan α = 5% yang berarti kedua kelompok

   berdistribusi normal.

2) Uji Kesamaan Dua Varians Data IQ

          I.      Berdasarkan hasil uji kesamaan dua varians diperoleh

   F hitung seperti pada tabel 8.

          J. Tabel 8. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data IQ

     Kelompok           (s2)     dk     Fhitung   Ftabel     Kriteria
    Eksperimen        106.757    43
                                        1.002     1.83     Ho diterima
    Kontrol           106.505    43

K. Keterangan:

L. Ho     : Varians kedua kelompok sama

M. Ha     : Varians kedua kelompok berbeda

    Berdasarkan tabel 8, diperoleh Fhitung sebesar 1.002. Karena nilai Fhitung <

     Ftabel dengan dk (43) yaitu 1.83, berarti Ho diterima, yang menunjukkan
         bahwa antara kelompok eksperimen dan kontrol mempunyai varians data

          yang relatif sama. Berdasarkan hasil analisis ini, maka untuk pengujian

                            hipotesis selanjutnya digunakan uji t.

   3) Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data IQ

                Berdasarkan uji perbedaan dua rata-rata diperoleh t hitung seperti

         pada tabel 9.

                   Tabel 9. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data IQ

           Kelompok       Rata-rata    dk    thitung   ttabel        Kriteria
          Eksperimen       98.18
                                       86   -0.021     1.99     Ho diterima
          Kontrol          98.23

         Berdasarkan tabel 9, diperoleh thitung sebesar -0.021, ttabel pada α = 5%

         dengan dk = 86 sebesar 1.99. Tampak bahwa thitung berada di antara –1.99

         sampai 1.99 atau berada pada daerah penerimaan Ho. Dengan diterimanya

         Ho berarti bahwa rata-rata kedua kelompok relatif sama.

d. Pre Test

            Data hasil nilai Pre Test siswa kedua kelompok dapat dilihat pada tabel

   10.

                         Tabel 10. Deskripsi Hasil Nilai Pre Test

    Kelompok              Mean ( Χ )    Varians (s2)    Standar Deviasi (s)
    Eksperimen              6.51          0.486                0.70
    Kontrol                 6.53          0.483                0.69

            Berdasarkan tabel 10, tampak bahwa pada kelompok eksperimen

   diperoleh mean ( Χ ) sebesar 6.51, varians (s2) sebesar 0.486 dan standar

   deviasi (s) sebesar 0.70, sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh mean

   ( Χ ) sebesar 6.53, varians (s2) sebesar 0.483 dan standar deviasi (s) sebesar
0.69. untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan IQ antara kedua kelompok

dapat dilihat dari uji t, yang sebelumnya dilihat kenormalan dan kesamaan

varians datanya.

1) Uji Normalitas Data Pre Test

      Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas diperoleh nilai Liliefors

                            hitung seperti pada tabel 11.

                   N. Tabel 11. Data Hasil Uji Normalitas

    Kelompok             Lo            dk         Ltabel      Kriteria
    Eksperimen         0.1207          44         0.134       Normal
    Kontrol            0.1181          44         0.134       Normal

           Dari tabel 11, terlihat bahwa kedua kelompok memiliki nilai Lo <

   Ltabel dengan dk (44) dan α = 5% yang berarti kedua kelompok

   berdistribusi normal.

2) Uji Kesamaan Dua Varians Data Pre Test

           Berdasarkan hasil uji kesamaan dua varians diperoleh F hitung

   seperti pada tabel 12.

        O. Tabel 12. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Pre Test

     Kelompok             (s2)    dk    Fhitung   Ftabel     Kriteria
    Eksperimen          0.4861    43
                                        1.007     1.83      Ho diterima
    Kontrol             0.4830    43

P. Keterangan:

Q. Ho      : Varians kedua kelompok sama

R. Ha      : Varians kedua kelompok berbeda

    Berdasarkan tabel 12, diperoleh Fhitung sebesar 1.007. Karena nilai Fhitung <

     Ftabel dengan dk (43) yaitu 1.83, berarti Ho diterima, yang menunjukkan
          bahwa antara kelompok eksperimen dan kontrol mempunyai varians data

            yang relatif sama. Berdasarkan hasil analisis ini, maka untuk pengujian

                            hipotesis selanjutnya digunakan uji t.

      3) Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Pre Test

                 Berdasarkan uji perbedaan dua rata-rata diperoleh t hitung seperti

          pada tabel 13.

                Tabel 13. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Pre Test

            Kelompok       Rata-rata   dk     thitung   ttabel       Kriteria
           Eksperimen        6.51
                                       86    -0.107     1.99     Ho diterima
           Kontrol           6.53

                 Berdasarkan tabel 13, diperoleh thitung sebesar -0.107,        ttabel pada

          α = 5% dengan dk = 86 sebesar 1.99. Tampak bahwa thitung berada di

          antara –1.99 sampai 1.99 atau berada pada daerah penerimaan Ho. Dengan

          diterimanya Ho berarti bahwa rata-rata kedua kelompok relatif sama.

3. Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran

   Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan pada

   tanggal 5-26 Oktober 2004 di SMP Negeri 1 Brangsong Sampel yang diambil

   adalah siswa kelas VIIE sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIIF sebagai

   kelompok kontrol. Kegiatan pada       kelompok eksperimen maupun kelompok

   kontrol dilaksanakan melalui 3 tahap kegiatan yaitu pretest, pembelajaran dan

   postest. Sedangkan kegiatan pembelajaran sendiri dilaksanakan selama 4 kali

   pertemuan.
Pre test digunakan untuk mengetahui kemampuan dasar siswa tentang huruf jawa

sebelum diadakan pembelajaran sedangkan post test digunakan untuk mengetahui

hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran.

Perbedaan   yang    mendasar    dari   kedua   kelompok    yaitu   dalam    model

pembelajarannya. Pada kelompok eksperimen pembelajaran dilaksanakan

menggunakan perangkat lunak komputer SWiSH dimana setiap siswa dalam

mempelajari huruf Jawa menggunakan media komputer. Setiap siswa pada

kelompok eksperimen mengoperasikan satu komputer dengan dipandu oleh guru.

Pada kelompok kontrol proses pembelajarannya dengan menggunakan model

pembelajaran konvensional. Waktu yang digunakan dalam pembelajaran dari

kedua kelompok relatif sama yaitu 4 kali pertemuan atau 8 jam pelajaran. Setiap 1

jam pelajaran dengan alokasi waktu 45 menit.

a. Proses Pembelajaran Pada Kelompok Eksperimen

    Pada awal pembelajaran, diadakan pre test terlebih dahulu untuk mengetahui

     keadaan awal siswa. Kemudian setelah diadakan pre test, guru menjelaskan

     garis besar materi yang akan dipelajari. Pada saat itu guru menginstruksikan

      pada siswa untuk membuka program SWiSH, dan tampilan pertama yang

        muncul adalah materi macam-macam huruf jawa (aksara Jawa). Guru

        memberikan penjelasan tentang tujuan umum dan tujuan khusus dari

        mempelajari materi aksara Jawa. Dengan informasi diharapkan siswa

         mempunyai arah tujuan yang jelas proses pembelajaran yang akan

     dilaksanakan. Pada tahap selanjutnya sebelum memasuki inti pembelajaran

      guru memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan

     materi setelah itu siswa langsung mengoperasikan program SWiSH. Secara
   mandiri siswa dapat membaca, mengamati dan memahami materi yang

ditampilkan melalui program SWiSH dari awal sampai akhir. Kegiatan belajar

  yang dilakukan secara mandiri diharapkan dapat memberikan keleluasaan

untuk mempelajari materi sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing

  siswa. Dengan program tersebut, siswa dapat mengulang kembali materi-

                materi yang dirasa kurang jelas atau paham.

Pada pertemuan kedua dilaksanakan pembelajaran dengan materi sandhangan.

Pada prinsipnya pada pertemuan kedua ini sama dengan pertemuan pertama,

hanya saja pada pertemuan kedua ini ditambah dengan diskusi dengan maksud

  untuk memberikan persepsi yang sama setelah siswa mempelajari materi

 melalui program SWiSH. Dengan kegiatan tersebut diharapkan siswa yang

mempunyai tingkat pemahaman yang lebih tinggi dapat memberikan masukan

  yang berarti pada siswa yang mempunyai tingkat pemahaman yang lebih

rendah. Setelah diskusi guru memberikan contoh soal untuk dikerjakan siswa,

kemudian siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya. Dengan cara ini guru

dapat mengetahui apa yang belum dipahami oleh siswa, sehingga guru dapat

  memberikan penjelasan agar setiap siswa mempunyai persepsi yang benar

tentang materi yang disampaikan. Diskusi ini dilakukan juga pada pertemuan

  ketiga dengan materi pasangan. Pada pertemuan terakhir diadakan postest

untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diajarkan.

                  Jadwal Pertemuan di Kelas Eksperimen

  Pertemuan      Hari/tanggal         Waktu            Materi
                    Selasa,        10.15 – 11.00       Pretest
       I
                5 Oktober 2004     11.00 – 11.45    Aksara Jawa
      II            Selasa,        10.15 – 11.45    Sandhangan
                   12 Oktober 2004
                        Selasa,
          III                             10.15 – 11.45    Pasangan
                   19 Oktober 2004
                        Selasa,
         IV                               10.15 – 11.45     Posttest
                   26 Oktober 2004

b. Proses Pembelajaran Pada Kelompok Kontrol

    Pada awal pembelajaran, diadakan pretest terlebih dahulu untuk mengetahui

    keadaan awal siswa. Kemudian setelah diadakan pre test, guru memberikan

        garis besar materi pelajaran agar mempermudah siswa dalam proses

     pembelajaran. Selanjutnya, guru memberikan apersepsi untuk mengetahui

     sejauh mana pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan yaitu

   huruf jawa Kemudian guru menerangkan dan menyampaikan materi pelajaran

         di depan kelas dengan metode ceramah dan diskusi. Disini siswa

   mendengarkan apa yang disampaikan guru dan mencatat hal-hal yang penting

     di buku tulis. Selanjutnya, guru memberikan contoh soal dan mengadakan

     tanya jawab pada siswa tentang materi. Guru memberikan latihan soal atau

        memberi pekerjaan rumah. Kemudian bersama-sama mengevaluasi /

       membahas soal tersebut dan diambil kesimpulannya. Pada tahap akhir,

     diadakan post test untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi

                                  yang telah diajarkan.

                       Jadwal Pertemuan di Kelas Kontrol

      Pertemuan      Hari/tanggal            Waktu          Materi
                        Rabu,             10.15 – 11.00     Pretest
          I
                   6 Oktober 2004         11.00 – 11.45   Aksara Jawa
                              Rabu,
              II                              10.15 – 11.45        Sandhangan
                        13 Oktober 2004
                              Rabu,
              III                             10.15 – 11.45         Pasangan
                        20 Oktober 2004
                              Rabu,
              IV                              10.15 – 11.45          Posttest
                        27 Oktober 2004



4. Deskripsi Hasil Nilai Post Test

   Hasil Nilai Post Test dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat

   dilihat pada tabel 14.

                        Tabel 14. Deskripsi Hasil Nilai Post Test

    Kelompok                Mean ( Χ )      Varians (s2)       Standar Deviasi (s)
    Eksperimen                7.41            1.7189                  1.31
    Kontrol                   6.57            2.6864                  1.64

   Berdasarkan tabel 14, tampak bahwa pada kelompok eksperimen diperoleh mean

   ( Χ ) sebesar 7.41, varians (s2) sebesar 1.7189 dan standar deviasi (s) sebesar 1.31,

   sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh mean ( Χ ) sebesar 6.57, varians (s2)

   sebesar 2.6864 dan standar deviasi (s) sebesar 1.64. Ada tidaknya perbedaan hasil

   belajar antara kedua kelompok dan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan

   yang nyata dapat dilihat dari uji t, yang sebelumnya dilihat kenormalan dan

   kesamaan varians datanya.

   a. Hasil Uji Normalitas Data Post Test

        Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas diperoleh nilai Liliefors hitung

                                      seperti pada tabel 15.
               S. Tabel 15. Hasil Uji Normalitas Data Pre Test

    Kelompok            Lo           dk          Ltabel        Kriteria
    Eksperimen        0.1254         44          0.134         Normal
    Kontrol           0.1034         44          0.134         Normal

          Dari tabel 15, terlihat bahwa kedua kelompok memiliki nilai Lo <

   Ltabel dengan dk (44) dan α = 5% yang berarti kedua kelompok berdistribusi

   normal.

b. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Post Test

          Berdasarkan hasil uji kesamaan dua varians diperoleh F hitung seperti

   pada tabel 16.

         T. Tabel 16. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Pre Test

     Kelompok          (s2)     dk    Fhitung     Ftabel       Kriteria
    Eksperimen       1.7189     43
                                      1.563       1.83       Ho diterima
    Kontrol          2.6864     43

      U. Keterangan:

V. Ho : Varians kedua kelompok sama

   Ha : Varians kedua kelompok berbeda

          Berdasarkan tabel 16, diperoleh Fhitung sebesar 1.563. Karena nilai

   Fhitung < Ftabel dengan dk (43) yaitu 1.83, berarti Ho diterima, yang

   menunjukkan bahwa antara kelompok eksperimen            dan kontrol mempunyai

   varians data yang relatif sama. Berdasarkan     hasil analisis ini, maka untuk

   pengujian hipotesis selanjutnya     digunakan uji t.

c. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Post Test

          Berdasarkan uji perbedaan dua rata-rata diperoleh t hitung seperti pada

   tabel 17.
                 Tabel 17. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Data Post Test

           Kelompok      Rata-rata    dk      thitung     ttabel     Kriteria
          Eksperimen       7.41
                                      86     2.672        1.66      Ho ditolak
          Kontrol          6.57

                Berdasarkan tabel 17, diperoleh thitung sebesar 2.672,    ttabel pada α =

         5% dengan dk = 86 sebesar 1.66. Tampak bahwa thitung sebesar 2.672 > ttabel

         sebesar 1.66 yang berarti bahwa Ho ditolak. Dengan penolakan Ho ini berarti

         bahwa ada perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

         dimana kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol.


Pembahasan

         Berdasarkan data pada kondisi awal dari data pretest dari kedua kelompok

  diperoleh bahwa rata-rata kemampuan awal kelompok eksperimen mencapai 6.51,

  sedangkan pada kelompok kontrol mencapai 6.53. Melalui uji t diperoleh thitung

  sebesar -0.107 yang berada pada daerah penerimaan Ho yaitu pada selang -1.99

  sampai 1.99 yang merupakan batas kritik uji t untuk taraf kesalahan 5% dengan dk =

  86. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang nyata kemampuan belajar pada

  awal sebelum pembelajaran dari kedua kelompok.

         Setelah dilakukan pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan

  pembelajaran menggunakan program SWiSH dan kelompok kontrol yang

  menggunakan pembelajaran konvensional, terlihat bahwa hasil belajar kedua

  kelompok tersebut berbeda secara nyata. Pada kelompok eksperimen setelah

  pembelajaran mencapai 7.41. Sedangkan pada kelompok kontrol mencapai 6.57. Hal

  ini ditunjukkan pula dari hasil uji t yang memperoleh thitung sebesar 2.672 > ttabel

  sebesar 1.66 yang berarti Ho ditolak. Dengan penolakan Ho ini berarti ada

  perbedaaan prestasi belajar huruf jawa antara pembelajaran menggunakan program
SWiSH dengan metode konvensional, sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa

”ada perbedaan prestasi belajar huruf jawa antara pembelajaran menggunakan

program SWiSH dengan metode konvensional pada siswa kelas VII semester 1 di

SMP Negeri 1 Brangsong kabupaten Kendal tahun ajaran 2004/2005”, dapat diterima.

       Perbedaaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dengan kelompok

kontrol, kemungkinan disebabkan karena adanya variasi pembelajaran yang dilakukan

pada kelompok eksperimen. Pertama, guru menggunakan program SWiSH. Dalam

pembelajaran ini siswa lebih aktif membaca, menirukan, menulis, dan mengamati

animasi yang muncul dalam media komputer. Media tersebut dapat membantu daya

abstraksi siswa. Materi yang relatif abstrak dikonkritkan menggunakan media ini.

Media tersebut lebih menarik sehingga menumbuhkan minat dan motivasi siswa dan

dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

       Kedua, guru menggunakan metode diskusi. Diskusi yang dilakukan dapat

menyatukan persepsi tentang materi. Di samping itu siswa yang lebih pandai akan

memberikan masukan yang berarti bagi siswa yang kurang pandai. Pada setiap

kelompok diskusi terdapat siswa yang lebih pandai, siswa yang sedang maupun siswa

yang relatif kurang pandai. Dengan kelompok yang heterogen ini menurut Anita Lie

(2002: 42) dapat memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan

saling mendukung. Kelompok heterogen ini memudahkan pengelolaan kelas karena

dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan

satu asisten untuk setiap anggota kelompoknya.

       Pembelajaran menggunakan program SWiSH memberikan peningkatan hasil

belajar siswa, karena dapat membantu pemahaman siswa tentang materi yang relatif

abstrak menjadi lebih konkrit. Hal ini sejalan dengan pendapat Heinich, Molenda dan

Russel (1982) dalam Prayitno (1989: 118) yang menyatakan bahwa media pengajaran
dalam membelajarkan dapat mengkonkritkan ide-ide atau gagasan yang bersifat

konseptual, sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya dan

memberikan pengalaman-pengalaman yang nyata yang merangsang aktifitas diri

sendiri untuk belajar, sehingga siswa tergugah untuk melakukan kegiatan belajar.

Dengan keaktifan siswa ini akan meningkatkan motivasi pada siswa untuk belajar,

yang pada akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini juga

sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh ahli psikologi Jerome Burner dalam

Prayitno (1989: 119) bahwa kalau dalam belajar siswa dapat diberi pengalaman

langsung (melalui media, demontrasi, “ Field trip”, dramatisasi), maka situasi

pengajarannya itu akan meningkatkan kegairahan dan minat siswa tersebut dalam

belajar. Fleming dan Levie dalam Prayitno (1989: 119) juga mengemukan bahwa

media pengajaran memberikan pengalaman konkrit yang memudahkan siswa belajar,

yaitu dalam mencapai penguasaan, mengingat dan memahami simbol- simbol yang

abstrak.

       Fungsi guru dalam pembelajaran yang dilakukan pada kelompok eksperimen

hanya sebagai fasilitator, yaitu memberikan pengarahan seperlunya pada siswa.

Keaktifan siswa untuk membaca, menirukan, menulis materi serta mengamati hasil

ilustrasi pada program SWiSH ditekankan pada pembelajaran ini. Ilustrasi yang

menarik dan dengan adanya keaktifan tersebut akan menumbuhkan motivasi belajar

yang tinggi pada siswa dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar.

Hal ini juga didukung dari hasil penelitian sebelumnya oleh Vernon a. Magnesen

dalam De Porter (2001: 57) yang menyatakan bahwa ” Kita belajar: 10% dari apa

yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari
apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan dan 90% dari apa yang

kita katakan dan lakukan”. Berdasarkan hasil penelitian De Porter tersebut secara

teoritis maka penggunaan program SWiSH yang diperoleh diprediksi dapat mencapai

90%, sebab siswa tidak hanya mendengarkan, melihat apa yang diajarkan guru,

namun mereka lebih aktif, sedangkan pada kelompok kontrol menggunakan model

konvensional, keaktifan lebih didominasi oleh guru, siswa relatif memfungsikan indra

penglihatan             dan pendengaran, sehingga secara teoritis pengetahuan akan

mengendap sampai 50%.

       Berdasarkan hasil post test diperoleh prestasi kelompok eksperimen mencapai

7.41, sedangkan pada kelompok kontrol mencapai 6.57. Dari kedua hasil tersebut

diketahui bahwa perbedaan prestasi dari kedua kelompok mencapai 0.84. Perbedaan

prestasi ini sangat kecil karena kurang dari 1.

       Kecilnya perbedaan prestasi tersebut disebabkan karena teknologi komputer

untuk pembelajaran belum begitu marak dipergunakan di sekolah. Terutama pada

tingkat sekolah menengah. Siswa belum terbiasa dengan sistem pembelajaran

interaktif menggunakan komputer. Hal tersebut dapat diketahui dari sebagian besar

siswa pada kelompok eksperimen yang belum familier (mengenal) komputer dengan

baik, masih perlu diperkenalkan perangkat keras (hardware) dan cara pengoperasian

komputer. Siswa masih canggung dalam menggunakan mouse, sehingga siswa perlu

berfikir dua kali ketika harus memilih tampilan menu dalam materi. Namun, setelah

melalui 4 kali pertemuan hambatan tersebut dapat diatasi, walaupun masih terdapat

sebagian kecil siswa yang masih canggung. Disamping itu, memang mata pelajaran

bahasa jawa belum begitu disenangi oleh siswa. Ditambah lagi bahwa mata pelajaran
bahasa jawa hanya sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah. Sehingga siswa

merasa tidak penting untuk mempelajari mata pelajaran tersebut dan lebih

memfokuskan ke mata pelajaran pokok misalnya matematika. Akibatnya porsi belajar

siswa dalam mempelajari mata pelajaran bahasa jawa sangat kurang. Namun, peneliti

masih memiliki harapan besar bahwa dengan adanya sistem pembelajaran interaktif

ini diharapkan siswa menjadi lebih senang dan tertarik mempelajari bahasa jawa.
                                         BAB V

                               W. SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

               Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil simpulan:

  1. Rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran menggunakan

        program SWiSH sebesar 7.41, sedangkan siswa yang diajar menggunakan model

        konvensional sebesar 6.57.

  2. Hasil uji t diperoleh thitung sebesar 2.672 > ttabel sebesar 1.66 yang berarti Ho yang

        menyatakan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar huruf jawa antara

        pembelajaran menggunakan program SWiSH dengan metode konvensional,

        ditolak. Dengan penolakan Ho ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan

        prestasi belajar huruf jawa antara pembelajaran menggunakan program SWiSH

        dengan metode konvensional pada siswa kelas VII semester 1 di SMP Negeri 1

        Brangsong kabupaten Kendal tahun ajaran 2004/2005.


Saran

        Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan:

  1. Bagi guru agar dapat mengembangkan kreatifitas dalam pembelajaran dengan

        menggunakan program SWiSH pada pokok bahasan yang lain.

  2. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian serupa dengan menambah variabel

        yang diukur seperti minat, motivasi dan menambah populasi sehingga simpulan

        yang diperoleh dapat digunakan untuk menggeneralisasikan ke populasi yang

        lebih besar.

  3. Bagi orangtua dan masyarakat untuk membiasakan penggunaan huruf jawa dan

        bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari.

                               4. DAFTAR PUSTAKA
                                        5.
                                   6.
7. Andi Suciadi, Andreas. 2002. Membuat Animasi Flash Tanpa Flash dengan

   SWiSH. Jakarta : Elex Media Komputindo.

8. Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bina

   Aksara.

9. ------------------------. 1996. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek.

   Jakarta : Rineka Cipta.

10. ------------------------. 2002. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek.

   Jakarta : Rineka Cipta.

11. Azwar, Saifuddin. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

12. Broto, Suryo. 1969. Tatanan Panulisane Basa Jawa. Yogyakarya : Pawesthi

13. Corporation, Microsoft. 1999. Belajar Animasi Flash. Jakarta : Elex Media

   Komputindo

14. Dahar, Wilis. 1996. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga

15. Djamarah, Syaiful Bahri. Aswan Zain. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:

   Rineka Cipta

16. Hadi, Sutrino. 1994. Statistik Jilid II. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas

   Psikologi UGM Yogyakarta.

17. Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung : Citra Adity Bakti.

18. Margono, S. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

19. Purwanto, Ngalim M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja

   Rosdakarya

20. Sudharto. 1999. Carakan. Salatiga: Tiga Serangkai
21. Sadiman. Arif. 1993. Media Pendidikan. Bandung : Citra Adity Bakti.

22. Simanjuntak, B. I.L. Pasaribu. 1986 Didaktik dan Metodik. Bandung : Tarsito.

23. Soejono, Wahyudi. 1988. Kridha Basa. Klaten : Intan Pariwara.

24. Sudjana, Nana. 1992 Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :

     Remaja Rosdakarya.

25. Sudjana, 1997. Media Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

26. -------------------, 1989. Statistik. Bandung : Tarsito

27. -------------------, 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar

     Baru Algensindo

28. -------------------, 2000. Metode Statistika. Bandung : Tarsito

29. Suryabrata, Sumadi. 1989. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi.

     Yogyakarya : Andi Offset.

30. Tim Pengembangan MKDK. 1989. Psikologi Belajar. Semarang : IKIP Semarang

     Press.

31. Tim Penyusun. Silabus Kurikulum 2004 SMP 2004 Mata Pelajaran Bahasa

     Jawa. Kendal : Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal.

32. Tim Redaksi. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

33. Winkel, WS. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia.

                    34. KISI-KISI SOAL TES HASIL BELAJAR

                 35. MEMBACA DAN MENULIS HURUF JAWA

                                        36.
                                     TINGKAT KESUKARAN
NO.      POKOK MATERI             MUDAH     SEDANG SUKAR                  JUMLAH
                                   30%        50%    20%
1.       Aksara Jawa
                                      1            2, 3, 4            6     5
         Legena 20%
  2.     Sandhangan
                               5       7, 8, 9     10     5
         Swara 20%
  3.     Sandhangan
         Panyigeg Wanda      11, 12   13, 14, 15   16     6
         Lan Wyanjana 30%
  4.     Pasangan 30%        17, 22   19, 20, 21   18      6
                               6          12       4      22
Jumlah         100%
                                          22
 37.
 38.




                       KISI-KISI UJI COBA SOAL

              MEMBACA DAN MENULIS TULISAN JAWA


                               TINGKAT KESUKARAN
 NO.     POKOK MATERI       MUDAH   SEDANG   SUKAR      JUMLAH
                             30%      50%      20%
  1.     Aksara Jawa
                             1, 17,    2, 3, 4     8      6
         Legena 20%
  2.     Sandhangan
                               6, 7         21, 22, 29     26      6
         Swara 20%
  3.     Sandhangan
                                           10, 11, 12,
         Panyigeg Wanda      5, 9,16                      14, 27   9
                                               13
         Lan Wyanjana 30%
  4.     Pasangan 30%                      20, 23, 24,
                            18, 19, 30                    15, 25   9
                                               28
                               10              14           6      30
Jumlah        100%
                                               30




                   RENCANA PEMBELAJARAN


                  Mata Pelajaran         : Bahasa Jawa
                  Pokok Bahasan          : Membaca Huruf Jawa
                  Sub Pokok Bahasan : Aksara Jawa
                  Alokasi Waktu          : 2 X 45 menit
                  Kelas / Semester       : VII / 1
 I. Tujuan Pembelajaran Umum ( TPU )
    Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini siswa diharapkan dapat membaca
    huruf jawa dengan baik dan benar.


II. Tujuan Pembelajaran Khusus ( TPK )
    Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini siswa diharapkan :
    1. Mampu membaca Aksara Jawa dengan baik dan benar.
    2. Mampu melafalkan / mengeja Aksara Jawa dengan benar.


III. Kompetensi Dasar
    Kompetensi dasar yang diinginkan dari pembelajaran ini adalah siswa dapat
    membaca huruf Jawa.


IV. Indikator
    Indikator dari kegiatan pembelajaran ini adalah :
    1. Siswa mampu membaca Aksara Jawa.
    2. Siswa mampu melafalkan / mengeja Aksara Jawa.


V. Langkah-langkah Pembelajaran
    1. Apersepsi
       − Guru mempersilahkan siswa untuk duduk berpasangan dengan 1
           komputer.
       − Guru memberi penjelasan bagaimana cara mengoperasikan disket materi
           aksara jawa kepada siswa.
       − Siswa mempratekkan petunjuk dari guru.


    2. Kegiatan Inti
       − Guru menyuruh siswa untuk memperhatikan aksara-aksara Jawa yang
           tampil di layar monitor.
       − Guru mempersilahkan siswa untuk menghapalkan aksara-aksara Jawa
          tersebut dengan cara :
            •    Siswa memilih salah satu aksara Jawa, kemudian siswa menyebutkan
                 aksara Jawa tersebut.
            •    Siswa mengarahkan kursor ke aksara Jawa yang dipilihnya untuk
                 mengecek kebenaran aksara Jawa yang disebutkannya. Layar
                 monitor akan menampilkan animasi gerakan aksara Jawa dan
                 munculnya kata di bawah aksara Jawa tersebut.
            •    Siswa melakukan berulang-ulang ke aksara Jawa yang lain.
            •    Guru berkeliling untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan.
       − Guru meminta siswa untuk menghafal aksara Jawa dengan berpasangan,
          caranya :
            •    Salah satu siswa menuliskan aksara Jawa yang dipilihnya, kemudian
                 teman pasangannya menyebutkan aksara Jawa tersebut, untuk
                 mengetahui kebenaran aksara Jawa tersebut. Salah satu siswa
                 mengarahkan kursor ke aksara Jawa yang dimaksud. Hal tersebut
                 dilakukan berulang-ulang.
            •    Guru berkeliling untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan.
       − Guru meminta siswa untuk menghafalkan aksara jawa di depan kelas,
          dengan cara :
            •    Guru menuliskan aksara jawa di papan tulis, kemudian siswa diminta
                 untuk menyebutkan aksara jawa tersebut.
            •    Guru memberikan tanggapan atas jawaban siswa.
    3. Penutup
       − Guru meminta siswa untuk mematikan komputer.
       − Guru memberikan soal tes kepada siswa.
       − Siswa menyerahkan lembar jawaban beserta disket materi aksara jawa.




VI. Sarana dan Sumber Belajar
      1. Komputer multimedia
      2. Disket berisi materi aksara jawa dengan menggunakan program animasi
         SWISH.
      3. Buku tulis
      4. Alat tulis.


 VII. Evaluasi
      1. Tes tertulis


                                                   Brangsong,       September 2004
              Mengetahui                               Praktikkan
          Guru Mata Pelajaran




            Supriyono, S.Pd                         Candra Aribowo




                              SATUAN PELAJARAN I


                 Bidang Studi         : Bahasa Jawa
                 Pokok Bahasan        : Membaca Huruf Jawa
                 Sub Pokok Bahasan    : Membaca Huruf Jawa
                 Topik                : Aksara Jawa (Nglegena)
                 Kelas / Semester     : VII / 1
                 Waktu                : 2 x 45 menit (1 kali pertemuan)



A. Standar Kompetensi
   Mampu membaca dan memahami ragam teks non sastra dengan berbagai cara
   membaca : membaca memindai, membaca nyaring, membaca teks percakapan dan
   menemukan gagasan pokok isi suatu teks dan membaca huruf jawa
B. Kompetensi Dasar
   Mampu membaca huruf Jawa
C. Hasil Belajar
   Siswa mampu membaca kata dan kalimat yang mengandung huruf (aksara) jawa
   Nglegena
D. Indikator
   Siswa mampu membaca huruf (aksara) jawa Nglegena
E. Materi Pembelajaran
   Aksara Jawa Nglegena :


                   ha       na            ca           ra      ka


                   da       ta            sa           wa      la


                   pa       dha           ja           ya     nya


                ma          ga            ba           tha    nga
   Contone :

                                                             nata bata sanga
F. Media Pembelajaran
   1. Metode dan media
      -   Percobaan dengan menggunakan media animasi komputer multimedia.
   2. Sumber Bahan
      -   Silabus Kurikulum 2004 SMP 2004. Mata Pelajaran Bahasa Jawa. Dinas
          Pendidikan Kabupaten Kendal.
      -   Buku Krida Basa. Intan Pariwara. 2003
      -   Carakan. Tiga Serangkai. 1879
      -   Tatanan Panulise Basa Jawa. Pawesthi. 1969
G. Kegiatan Pembelajaran
   Langkah-langkah :
   1. Pra Pembelajaran
      -   Menyiapkan media pembelajaran
      -   Mengkondisikan kelas
   2. Kegiatan awal (Apersepsi)
      Melalui tanya jawab guru mencoba mengingatkan kembali pada siswa mengenai
      cerita Ajisaka dan asal usul lahirnya Aksara Jawa
   3. Kegiatan Inti
      a. Informasi
          Siswa mendengarkan uraian singkat dari guru mengenai aksara jawa Nglegena
          dan cara membacanya.
      b. Kegiatan Pembelajaran
          Siswa melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan media
          animasi komputer.
   4. Kegiatan Akhir
      -   Guru memberi kesempatan pada siswa untuk menanyakan materi yang
          dianggap belum jelas
      -   Guru menjelaskan ulang materi yang diajarkan untuk pemantapan
      -   Pelaksanaan evaluasi dengan test tertulis
      -   Menutup pelajaran
     SOAL TES HASIL BELAJAR
MEMBACA DAN MENULIS HURUF JAWA
A. Tulisen nganggo aksara jawa !

     1. karcis

     2. ngalih

     3. palakrama

     4. gedhang raja

     5. wulu kucing

     6. rodhane loro

     7. manuk ngoceh

     8. udan grimis

     9. bocah sekolah

     10. numpak jaran

     11. gajah mungkur




B. Tulisen nganggo aksara latin !

     12.

     13.

     14.

     15.
     16.

     17.

     18.

     19.

     20.

     21.

     22.




                  SPESIFIKASI PROGRAM ANIMASI SWiSH v2.0



       SWiSH merupakan suatu aplikasi alternatif pembuat animasi Flash yang diluncurkan

pertama kalinya pada bulan April 2000. Untuk pertama kalinya, efek-efek teks yang kompleks

dapat dibuat dalam waktu yang sangat singkat dalam aplikasi ini. Sebelumnya pembuatan
feel-efek animasi teks tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama jika dibuat dalam

Macromedia Flash.

       Pada awalnya program ini merupakan program pembantu pembuat efek-efek animasi

teks dalam pembuatan animasi Flash. Sekarang program aplikasi SWiSH merupakan sebuah

program aplikasi pembuat animasi mandiri yang mampu menjalankan file animasi .swf tanpa

menjalankan player eksternal atau browser. SWiSH begitu intuitif dan sangat mudah

digunkan untuk pembuat animasi, web secara professional maupun amatir. Bahkan dapat

dikatakan program ini cukup mudah digunkan oleh seorang anak kecil sekalipun. SWiSH

telah banyak digunkan sampai ke seluruh dunia.

       SWiSH v2.0 merupakan versi terbaru yang mengalami perubahan sangat besar.

Perubahan-perubahan tersebut dilakukan dengan membuat antarmuka yang baru yang lebih

baik. Jendela editing tempat area untuk me-layout dan jendela tab-tab pada versi terdahulu

digabungkan menjadi satu antarmuka yang mudah digunkan dengan panel-panel yang

diletakkan pada bagian kiri, kanan, dan atas antarmuka tersebut.

       Pada versi ini ditambahkan juga beberapa fitur-fitur baru untuk melengkapi

pembuatan animasi yang lebih kaya dan pembuatan animasi yang lebih kompleks untuk

keperluan situs web dan keperluan-keperluan lainnya. Hampir semua penambhan fitur baru

tersebut dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pembuatan animasi profesional.



Terminologi dalam SWiSH

       Untuk mengenal SWiSH lebih jauh dan untuk memudahkan penggunakan program

aplikasi animasi ini, perlu dipahami istilah-istilah dan terminologi yang sering digunakan.

       Sebuah movie terdiri atas bagian-bagian yang dapat diuraikan dalam iliustrasi berikut :

       Animasi yang dibuat disebut movie.

       Di dalam setiap movie terdiri atas kumpulan scene.

       Setiap scene memiliki sebuah timeline yang terdiri atas beberapa frame.

1. Movie
           Movie adalah kumpulan scene yang dijalankan secara berurutan. Sebuah movie

   mempunyai properti ukuran movie, frame rate, dan warna latar belakang yang dapat diedit

   pada panel Movie. Secara umum movie disimpan ke dalam disk dalam format file.swi

   yang dapat dibaca oleh aplikasi. Format file lain yang dapat dibuat SWiSH adalah :

   a). Format file .swf yaitu sebuah file yang dapat dibaca oleh Flash player.

   b). Format file .htm yaitu sebuah file halaman web atau kode browser yang digunkan

      untuk menampilkan movie.

   c). Format file .avi yaitu sebuah format file video.

           Untuk menampilkan movie pada web, Anda harus meng-upload file .swf ke server.

   Walaupun sebuah file .swf dapat dijalankan di atas web tanpa diletakkan dalam sebuah

   halaman web, secara tipikal biasanya file .swf tersebut di-embed ke dalam halaman web

   tanpa diketahui. Anda hanya meng-upload file halaman HTML saja.

2. Scene

           Scene isinya terdiri atas objek-objek, teks, efek-efek, suara, event, dan action yang

   membentuk satu kesatuan animasi dalam sejumlah frame. Setelah selesai menjalankan

   sebuah scene, movie akan menjalankan scene berikutnya secara otomatis.

           Setiap scene dibuat dari serangkaian frame, begitu pula dengan sebuah motion

   picture. Setiap scene mempunyai Timeline sendiri yang dapat diedit dengan menggunakn

   Timeline panel.

           Dalam sebuah scene baris-baris objek berada di bawah baris scene pada Timeline

   panel. Baris-baris tersebut ditampilkan dalam urutan tumpukan objek. Objek yang akan

   tampil pada permulaan movie berada pada urutan paling atas objek-objek lainnya dan

   objek yang tampil terakhir berada pada urutan paling bawah dari seluruh objek lainnya.

3. Timeline (Baris Waktu)

           Timeline adalah baris waktu yang digunakan untuk mengkoordinasi dan

   menggabungkan animasi-animasi dari objek-objek yang berbeda. Timeline panel
  digunakan juga untuk menunjukkan sebuah tampilan yang menggambarkan frame-frame

  dengan awal frame yang terletak di kiri dan akhir frame terletak di sebelah kanan.

4. Frame dan Frame Rate

          Sebuah movie terdiri atas sebuah rangkaian frame-frame yang ukurannya sama.

  Jumlah waktu sebuah frame tunggal yang ditampilkan diatur dengan menentukan frame

  rate. Frame rate adalah suatu ukuran untuk menentukan banyaknya frame per detik dalam

  sebuah movie. Kecepatan movie bergantung pada kemampuan komputer untuk

  menjalankan movie dan juga bisa terjadi disebabkan oleh variasi dari frame ke frame yang

  bergantung pada tingkat kerumitan animasi yang dibuat.

          Frame rate dari sebuah movie bergantung pada jumlah frame yang dimainkan per

  detik. Hal ini akan mempengaruhi kehalusan dari animasi dan ukuran file dari sebuah

  movie. Frame rate yang tinggi menghasilkan animasi yang halus dan ukuran file yang

  lebih besar, sedangkan frame rate yang rendah menghasilkan animasi yang tersendat-

  sendat dengan ukuran file yang kecil. Normalnya sebuah frame rate dalam sebuah film

  adalah 30 fps (frame per second). Sebagai contoh nilai frame rate yang tinggi, misalnya

  20, akan menghasilkan sebuah movie yang dijalankan secara cepat dan menghasilkan

  animasi yang halus. Sedangkan sebuah frame rate yang mempunyai nilai rendah, misalnya

  1, akan menghasilakn sebuah movie yang lambat dan hasil animasi yang patah-patah.

  Namun dalam mendesain animasi untuk situs web, tidak memerlukan frame rate yang

  begitu tinggi, karena hal tersebut dapat memperbesar ukuran file movie.

5. Efek

          Efek adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah atau beberapa objek

  seperti objek teks, image, dan lain-lain dalam pembuatan animasi yang mempunyai masa

  tayang pada setiap scene. Efek-efek tersebut akan dimulai dan berhenti pada bagian-

  bagian frame yang dapat diatur dengan memasukkan action dan event.

          Setiap efek yang dibuat mempunyai opsi-opsi yang digunakan dalam pen-setting-

  an tingkat lanjut. Setting-setting efek yang pernah dibuat dapat disimpan untuk digunkan
    kembali saat pembuatan animasi yang baru atau untuk dipergunakan orang lain dengan

    mengirim file setting tersebut.

6. Action dan Event

              Action adalah operasi-operasi yang digerakkan oleh event. Action dapat mengubah

    jalannya movie, membunyikan atau menghentikan suara, memanggil movie lainnya atau

    beralih ke halaman-halaman web, atau dapat berkomunikasi dengan host browser atau

    player.

              Event terjadi saat movie mencapai frame yangditentukan dan saat kita berinteraksi

    dengan sebuah objek dengan menggunakan mouse, seperti kursor mouse yang bergerak

    melintasi objek atau saat mengklik pada objek. Sebuah event dapat menjalankan lebih dari

    satu action. Sebagai contoh, saat mouse melintasi sebuah objek, movie dapat dihentikan

    dengan sebuah action Stop. Contoh lainnya, sebuah browser dapat digunakan untuk

    memanggil sebuah URL ke dalam frame lainnya dengan action Goto URL.

              Frame action berada pada baris scene pada Timeline panel. Action-action

    dijalanakan saat movie mencapai frame action berada. Frame action selalu mempunyai

    masa tayang lebih dari satu frame, tetapi dalam sebuah frame tunggal dapat dijalankan

    lebih dari satu action.



Menginstal dan Uninstall Program SWiSH

        Setelah mengetahui beberapa istilah dan terminology, di bawah ini akan dijelaskan

cara menginstal dan uninstall program aplikasi SWiSH. Kita dapat menginstal program

aplikasi SWiSH dari hasil download di www.swishzone.com atau menginstal program dari

CD-ROM. Untuk menginstall program SWiSH pada komputer, ikuti langkah-langkah berikut

:

1. Tutup semua program aplikasi.

2. Masukkan Disk SWiSH ke dalam CD Drive. CD akan secara otomatis menjalankan

    autorun. Pilih dari menu yang tampil di layer monitor untuk installasi.
3. Jika program autorun dari CD tidak berjalansecara otomatis. Klik start > Run pada

   jendela taskbar, kemudian ketik D:\Program\SWiSH v2.0\Setup (drive D adalah huruf

   yang menunjukkan letak drive CD).

4. Klik Install SWiSH, lalu ikuti petunjuk dalam SWiSH Setup Wizard sampai selesai.

       Jika suatu saat ingin menghapus aplikasi tersebut, lakukan cara-cara di bawah ini :

1. Klik start pada jendela taskbar.

2. Klik Program > SWiSH v2.0 > Uninstall SWiSH v2.0.

3. Kemudian ikuti langkah-langkah selanjutnya di dalam SWiSH Uninstall Wizard sampai

   selesai.



Memulai dan keluar dari Program SWiSH

       Untuk memulai aplikasi SWiSH lakukan langkah-langkah berikut :

1. Klik start pada jendela taskbar.

2. Lalu klik Program > SWiSH v2.0.

3. Sedangkan untuk keluar dari aplikasi SWiSH dapat dilakukan dengan mengklik File >

   Exit dari aplikasi.



Peralatan yang dibutuhkan

Kebutuhan Dasar

SWiSH tidak menunutu kebutuhan dasar yang terlalu tinggi

1. Perangkat Kertas Utama (hardware)

   a). Prosesor          : Pentium 100 ke atas

   b). Memori RAM : 32MB (64MB dianjurkan)

   c). CD-ROM            : minimal 2X

   d). Monitor           : SVGA 800x600 pixel dengan 256 warna

   e). Mouse             : alat penunjuk dan pembuatan objek animasi

   f). Sound Card        : untuk output musik dan suara
2. Perangkat Lunak (Software)

   a). Sistem Operasi         : Windows 95/98/ME/NT4/2000/XP

   b). Perangkat Lunak        : SWiSH, Swish tidak membutuhkan Macromedia

                               Flash terinstal pada sistem computer

Kebutuhan Tambahan

       Untuk menjadikan animasi lebih baik diperlukan kebutuhan tambahan, yaitu :

1. Perangkat Keras Tambahan (Hardware)

   a). Tablet/digitizer       : untuk membuat skets objek gambar

   b). Scanner                : untuk mengambil citra data gambar

   c). Camera digital         : untuk mengambil gambar image

   d). Microphone             : untuk penambhan karakter suara

2. Ketrampilan (Skill dan Brainware)

   a). Imaginasi              : membuat jalan cerita dan konsep animasi.

   b). Kreativitas            : menuangkan imajinasi ke dalam stage.

   c). Sketsa                 : untuk membuat berbagai objek animasi.

   d). Sense of Music         : untuk menghidupkan projek animasi.




                          DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
                            UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

                             TES UJI COBA SOAL
                 MEMBACA DAN MENULIS TULISAN JAWA
                          Kelas VII semester 1 SMPN 1 BRANGSONG

   A. Tulisen nganggo aksara jawa !                  4. pait

        1. matur                                     5. palakrama

        2. karcis                                    6. jayamahe

        3. ngalih                                    7. gedhang raja
            8. wulu kucing                                                    4.

            9. rodhane loro                                                   5.

            10. manuk ngoceh                                                  6.

            11. udan grimis                                                   7.

            12. bocah sekolah                                                 8.

            13. numpak jaran                                                  9.

            14. gajah mungkur                                                 10.

            15. tulisan jawa                                                  11.

                                                                              12.

 B. Tulisen nganggo aksara latin !                                            13.

         1.                                                                   14.

         2.                                                                   15.

         3.




                                    DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
                                      UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

                                          LEMBAR JAWABAN
                                                                   NAMA                  : …………………………………
                                                                   KELAS                 : …………………………………
                                                                   NO. ABSEN : …………………………………
A.                                                                                  3. ...........................................................................
 1. ...........................................................................
                                                                                    4. ...........................................................................
 2. ...........................................................................
                                                                                    5. ...........................................................................
 6. ...........................................................................   15. ....................................................

 7. ...........................................................................

 8. ...........................................................................

 9. ...........................................................................

 10. .........................................................................

 11. .........................................................................

 12. .........................................................................

 13. .........................................................................

 14. .........................................................................

 15. .........................................................................



B.
 1. ......................................................

 2. ......................................................

 3. ......................................................

 4. ......................................................

 5. ......................................................

 6. ......................................................

 7. ......................................................

 8. ......................................................

 9. ......................................................

 10. ....................................................

 11. ....................................................

 12. ....................................................

 13. ....................................................

 14. ....................................................
i
ii

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:215
posted:2/10/2012
language:
pages:105
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl