PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA GELANDANGAN by anamaulida

VIEWS: 375 PAGES: 106

									PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA GELANDANGAN
(Studi Kasus di Pekojan Kelurahan Jagalan Kecamatan Semarang Tengah)




                                 SKRISI

         Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata I
              untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan




                                 Oleh :

             Nama            :    Ika Setyaningsih
             Nim             :    1214000023
             Program Studi   :    Pendidikan Luar Sekolah S1




           FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
     UNIVERSITAS NEGERI S E M A R A N G
                             2005
                                    ABSTRAK

       Ika Setyaningsih, Nim:1214000023, Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan
Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Semarang (UNNES), Tahun 2005.
Pendidikan Anak di Lingkungan Keluarga Gelandangan (studi kasus di Pekojan
kelurahan Jagalan Kecamatan Semarang Tengah).
       Salah satu masalah masyarakat yang sejak dahulu tidak dapat teratasi oleh
pemerintah yaitu adanya “Gelandangan”. Karena meledaknya urbanisasi, kota tidak
mampu menyediakan fasilitas sosial serta lapangan pekerjaan, itu semua awal dari
adanya gelandangan. Gelandangan ini datang ke kota guna untuk mengadu nasib
mereka, padahal rata-rata mereka tidak berbekal pendidikan yang cukup setara dan
mereka juga tidak mempunyai bekal keterampilan yang mereka kuasai. Banyaknya
pengangguran di kota mengakibatkan orang menggelandang sehingga mereka
membuat pemukiman tersendiri dan bertempat tinggal yang dilarang oleh
pemerintah.
       Permasalahan yang diteliti yaitu(1)Bagaimana seorang gelandangan tersebut
memandang anaknya(2)Bagaimana pandangan seorang gelandangan terhadap
pendidikan formal anaknya,(3)Upaya apa yang dilakukan gelandangan dalam
mendorong anak memperoleh pendidikan.
       Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian yaitu
daerah pekojan kelurahan Jagalan Semarang Tengah. Fokus penelitian pada
bagaimana pandangan gelandangan terhadap anak mereka, pendidikan formal anak
mereka beserta upaya apa yang dilakukan oleh gelandangan dalam pendidikan anak
mereka. Data diperoleh dari sumber data berupa subjek penelitian yang terdiri dari 5
keluarga yang semuanya ada 11 subjek, semua kepala keluarga bekerja sebagai
pemulung. Melalui metode pengamatan langsung, metode wawancara dan metode
dokumentasi.
       Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelandangan memandang anak memang
mempunyai segi ekonomi itu setelah anak tersebut sudah cukup umur dan
mempunyai bekal pendidikan yang cukup, gelandangan tidak menginginkan anak
mereka yang masih kecil untuk bekerja membantu orang tuanya mencari nafkah,
gelandangan menginginkan anak yang masih kecil diberi kebebasan untuk menikmati
masa kanak-kanak mereka. Gelandangan juga memandang pendidikan anak sangat
penting, terbukti dengan salah satu dari subjek atau dari anak gelandangan tersebut
yang sudah dapat menyelesaikan di bangku sekolah teknik menengah. Upaya
gelandangan dalam mendorong anak memperoleh pendidikan dengan jalan bekerja
keras serta menyekolahkan anak mereka ke desa yang mereka anggap lebih baik
lingkungan dan pergaulannya.
       Kesimpulannya gelandangan memandang anak sebagai penerus generasi dan
dapat membantu orang tua dalam mencari nafkah nantinya, pada intinya anak
merupakan investasi orang tua di hari tua. Dengan begitu anak harus memiliki
pengetahuan yang luas baik dengan pendidikan formal maupun pendidikan non
formal bila anak mereka sudah besar nantinya. Gelandangan juga harus mendorong
anaknya untuk memperoleh pendidikan salah satu caranya yaitu gelandangan jangan
malas bekerja
                                 PENGESAHAN



Telah dipertahankan dihadapan Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Semarang.

       Pada hari    : Jumat

       Tanggal      : 11 Februari 2005




   Ketua                                                 Sekretaris



Drs. Siswanto                                     Drs. Sawa Suryana, M.Pd.
NIP. 130515769                                    NIP. 131413302


Penguji I                                         Penguji II



Drs. Zudindarto, Bd.H.                            Dr. Tri Joko Raharjo, M.Pd.
NIP. 130345749                                    NIP. 131485011


                                    Penguji III



                              Drs. Achmad Rifai, RC. M.Pd.
                              NIP. 131413232
                         MOTTO DAN PERSEMBAHAN



Dibalik kekalahan, kesusahan, pasti ada arti tersendiri. Jadi terimalah sesuatu dengan

ikhlas dan tak lupa bersyukur kepada-Nya.




Seseorang yang melakukan seribu kali kesalahan pasti seseorang tersebut pernah

melakukan kebaikan.




               Kupersembahkan.

                    • Ayah dan Ibu tercinta

                    • Adikku Santo dan Tiyan

                    • Keluarga besar Bpk Jamin yang memotivasi aku selama ini

                    • Sahabatku Ani (mami) yang selama ini ikut memotivasi aku

                    • Almamaterku tercinta UNNES
                                 KATA PENGANTAR


       Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh

gelar sarjana pendidikan di Universitas Negeri Semarang. Dalam pembuatan skripsi

ini tidak lepas dari kendala dan kesulitan bila tanpa bimbingan, saran dan dukungan

serta bantuan dari semua pihak yang berkaitan dengan penyusunan skripsi ini. Oleh

karena itu perkenankanlah penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan

yang setinggi-tingginya pada :

 1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Drs. Siswanto yang telah memberikan ijin

     penelitian ini.

 2. Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Drs. Ahcmad Rifai RC, M. Pd yang

     telah memberikan wacana keilmuan untuk penambahan wawasan kepada kami.

 3. Dr. Tri Joko Raharjo, M.Pd. selaku dosen pembimbing I, yang telah tulus,

     ikhlas serta tidak henti-hentinya memberikan motivasi, membimbingan dan

     pengarahan demi terselesaikannya penulisan skripsi ini.

 4. Drs. Ahcmad Rifai RC, M.Pd. selaku dosen pembimbing II, yang telah tulus

     ikhlas serta tidak henti-hentinya memberikan motivasi, membimbingan       dan

     pengarahan demi terselesaikannya penulisan skripsi ini.

 5. Kepala Kelurahan Jagalan Semarang Tengah yang telah memberikan ijin

     penelitian.

 6. Kepada semua pihak yang telah membantu semoga Tuhan Yang Maha Kuasa

     selalu melimpahkan berkat dan kasih sayangnya.
   Penulis menyadari adanya keterbatasan kemampuan dalam penyusunan skripsi

ini, sehingga penulis harapkan adanya sumbang dan saran yang konstruktif demi

perbaikan skripsi ini serta penelitian lanjutan sangat diharapkan.



                                                             Semarang,   2005
                                                  DAFTAR ISI



Halaman

HALAMAN JUDUL ....................................................................................               i

ABSTRAK ...................................................................................................     ii

PERSETUJUAN ..........................................................................................         iii

PENGESAHAN ...........................................................................................         iv

MOTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................                          v

KATA PENGANTAR .................................................................................               vi

DAFTAR ISI ................................................................................................   vii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................             viii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................               ix



BABI            PENDAHULUAN

                A. Latar Belakang Masalah .......................................................                    1
                B. Permasalahan ........................................................................             5
                C. Tujuan Penelitian .................................................................               6
                D. Manfaat Penelitian ...............................................................                6


BABII           KAJIAN PUSTAKA

                A. Pendidikan ............................................................................           8
                     1. Pengertian Pendidikan ....................................................                   8
                     2. Ruang Lingkup Pendidikan ............................................                        9
                          a. Pendidikan Informal .................................................                   10
                          b. Pendidikan Formal ...................................................                   10
                          c. Pendidikan Non Formal ...........................................                       10
         B. Pendidikan Anak ..................................................................         11
         C. Pengertian Lingkungan ........................................................             12
              1. Lingkungan Budaya .......................................................             13
              2. Lingkungan Fisik ...........................................................          13
              3. Lingkungan Sosial ..........................................................          13
              4. Lingkungan Bermain Anak …………………………….                                                  14
         D. Pendidikan Keluarga ............................................................           14

              Unsur-unsur Pendidikan Keluarga
              1. Pemupukan Rasa Tanggung Jawab ................................                        15
              2. Pemberian kebebasan pada Batas-batas tertentu ............                            15
              3. Dorongan            Keberanian           yang        Diberikan         Kepada
                   Anaknya Untuk Dapat Berbuat Sesuatu yang Positif ....                               15
         E. Gelandangan .........................................................................      18

              1. Pengertian Gelandangan .................................................              18
              2. Karakteristik Gelandangan .............................................               22
                   a. Gelandangan yang masih berhubungan
                         dengan masyarakat normal ......................................               22
                   b. Gelandangan berkelompok dan mempunyai
                        Organisasi tertutup dan tegar. ..........................................      22
                   c. Gelandangan yang tidak mempunyai kelompok ......                                 22
                   d. Gelandangan Tidak Mau Tatap Muka ......................                          22
              3. Mengapa Menggelandang ..............................................                  23


BABIII   METODOLOGI PENELITIAN

         1. Pendekatan Penelitian ..........................................................           26
         2. Lokasi Penelitian ..................................................................       26
         3. Fokus Penelitian ...................................................................       27
              a. Anak ..............................................................................   27
              b. Pendidikan Formal Anak ..............................................                 27
              c. Upaya Orang Tua Dalam Memotivasi Anak ................                                27
              4. Tahap-tahap Penelitian .........................................................              27
                   a. Tahap Pra Lapangan .......................................................               27
                   b. Tahap Penelitian/Pelaksanaan ........................................                    28
                   c. Tahap Akhir Penelitian ..................................................                29
              5. Sumber Data .........................................................................         29
              6. Teknik Pengumpulan Data ...................................................                   31
                   a. Teknik Pengamatan ........................................................               31
                   b. Teknik Wawancara .........................................................               31
                   c. Teknik Dokumentasi ......................................................                32
              7. Kriteria Data Teknik Keabsahan Data .................................                         32
              8. Teknik Analisis Data ............................................................             33



BAB IV        HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

              A. Gambaran Umum Gelandangan di Kota Semarang .............                                      35
              B. Gambaran Umum Daerah Penelitian ...................................                           38
                   1. Letak dan Luas Kelurahan Jagalan ................................                        38
                   2. Sejarah Terjadinya Pemukiman Gelandangan ...............                                 38
                   3. Kependudukan ................................................................            39
                   4. Tingkat Pendidikan ........................................................              39
                   5. Jumlah Penduduk Menurut Agama……………………                                                    40
                   6.      Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian ……….                                       40
              C. Hasil Penelitian .....................................................................        41
              D. Pembahasan ..........................................................................         54


BAB V         SIMPULAN DAN SARAN ........................................................

              A. Simpulan ..............................................................................       69
              B. Saran .....................................................................................   71


DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................              73

LAMPIRAN-LAMPIRAN
                         DAFTAR LAMPIRAN



1. Lampiran hasil wawancara

2. Lampiran surat ijin penelitian dari Pemerintah Kota

3. Lampiran foto dari hasil wawancara.

4. Lampiran peta daerah penelitian atau wilayah kelurahan Jagalan
                    DAFTAR GAMBAR



1. Gambar wawancara dengan informan pertama…………………… 44

2. Gambar wawancara dengan informan kedua………………………48

3. Gambar wawancara dengan informan ketiga………………………50

4. Gambar wawancara dengan informan keempat……………………54

5. Gambar wawancara dengan informan kelima……………………...56
                                       BAB I

                                PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

        Pembangunan moderen, Indonesia telah berkembang dengan pesat.

   Beberapa fasilitas infra struktur, seperti gedung, jalan bebas hambatan, jalan raya

   dan taman, telah dibangun dengan mantap dan indah. Akan tetapi hal tersebut

   mengalami hambatan bagi bangsa Indonesia yang dalam tahap berkembang,

   hambatan tersebut dimulai sejak adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan

   sehingga bangsa Indonesia pada masa sekarang masih menghadapi pemasalahan

   yang cukup kompleks, meliputi aspek politik, ekonomi, budaya, pendidikan serta

   sosial

        Minimnya Pendidikan Formal masyarakat Indonesia merupakan suatu

   hambatan bagi bangsa Indonesia untuk berkembang maju. Berdampak negatif

   terhadap keluarga tidak mampu atau keluarga golongan bawah. Dampak negatif

   tersebut antara lain kemampuan keluarga dalam membiayai sekolah anaknya.

   Bagi keluarga gelandangan, permasalahan yang dialami itu bersifat multi

   demensional    sehingga    mengakibatkan     kehidupannya     semakin    terpuruk.

   Munculnya gelandangan di lingkungan perkotaan merupakan gejala sosial

   budaya yang menarik. Gejala sosial ini kebanyakan dikaitkan dengan

   perkembangan lingkungan perkotaan, karena didaerah kota sampai saat ini relatif

   masih membutuhkan tenaga yang murah, kasar dan tidak terdidik dalam

   mendukung proses perkembangannya.
    Kondisi semacam ini membuktikan bahwa semakin kuatnya dikotomi antara

kehidupan yang "resmi" kota dan kehidupan lain yang berbeda atau

berseberangan dengan kontruksi kehidupan yang resmi tersebut. Pada

kenyataannya Indonesia pada saat ini merupakan salah satu negara sedang

berkembang yang ketinggalan jauh dibandingkan dengan negara lainnya, seperti

Jepang, Korea, Cina, Malaysia dsb. Keterbelakangan itu menyangkut di bidang

ekonomi, teknologi maupun bidang pendidikan. Guna menanggula-ngi hal

tersebut khususnya dibidang pendidikan, pemerintah berupaya mengadakan atau

lebih menekankan program Pendidikaa Wajib Belajar 9 Tahun. Karena kita

sadari pendidikan diajarkan sejak anak masih kecil, jadi bahwasannya anak

adalah generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu mendapatkan

pendidikan yang layak serendah-rendahnya setingkat SLTP sebagai bekal yang

berguna bagi masa depannya kelak, di samping itu anak dapat menikamati masa

kecilnya secara wajar dalam lingkup pergaulan yang layak. Hal ini perlu

diperhatikan agar anak dapat tumbuh dan mengembangkan kepribadianya seiring

dengan bertambahnya usia sampai berusia 16 tahun. Program tersebut

berlangsung dari tahun 1990. Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun yaitu

setiap anak minimal harus memiiki ijazah sampai Sekolah Lanjutan Tingkat

Pertama (SLTP) bukan hanya sekedar sampai bangku sekolah dasar.

    Kenyataanya program tersebut hanya dapat dinikmati atau dilaksanakan

pada masayarakat golongan keluarga yang mampu, lain halnya dengan keluarga

yang tidak mampu (keluarga gelandangan), bagi mereka untuk memenuhi

kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah kurang, apalagi harus untuk
memikirkan biaya akan pendidikan bagi anaknya. Keadaan seperti inilah yang

menyebabkan negara kita semakin terbelakang, karena Sumber Daya Manusia

(SDM) yang rendah itu menjadi salah satu faktor utama mengakibatkan kita

terpuruk. Keterpurukan itu berdampak negatif pada masyarakat, misal semakin

sulitnya seseorang mencari suatu pekerjaan, karena semakin sempit serta

semakin sedikitnya lapangan kerja yang ada sehingga rakyat sebagian hidup

dalam keadaan yang tidak memiliki daya, sehingga menjadi suatu penyakit

masyarakat yaitu Gelandangan.

    Masalah gelandangan merupakan salah satu dari penyakit masyarakat yang

dari dahulu tidak dapat ditemukan jalan keluarnya. Contoh dari masalah itu

misalnya pemerintah sudah berupaya mengentaskan gelandangan tersebut dari

keadaan. Kenyataannya keadaan itu akan kembali lagi seperti semula. Masalah

tersebut akan terselesaikan apabila si gelandangan serta pemerintah berupaya

penuh akan pengentasan kemiskinan tersebut.

    Masalah ini berkaitan erat dengan beberapa faktor penyebab gelandangan

yang paling dominan antara lain:

1. Kemiskinan

   Kemiskinan baik kemiskinan kelembagaan maupun kemiskinan pribadi.

2. Lingkungan

   Lingkungan juga merupakan salah satu faktor terjadinya gelandangan.

    Yang paling utama dalam masalah ini adalah gelandangan yang sudah

mempunyai keluarga serta mempunyai anak. Dari sinilah sudah tampak baik
secara langsung maupun tidak langsung adanya "regenerasi" dari gelandangan itu

sendiri.

     Umumnya keluarga gelandangan, khususnya orang tua tidak memikirkan

pendidikan anaknya dengan alasan kondisi miskin yang menimpa keluarga

tersebut. Orang tua tidak dapat memberikan bimbingan pada anak-anaknya,

padahal pendidikan serta bimbingan orang tua atau orang dewasa yang berada di

sekitar anak itu sangat dibutuhkan oleh anak pada usia pertumbuhan dan

perkembangan dalam hidup ini. Data tersebut merupakan gambaran umum, akan

tetapi juga banyak anak dari keluarga gelandangan yang dapat merasakan bangku

sekolahan.

     Pengamatan peneliti selama ini menunjukkan bahwa peran orang tua sangat

dominan dalam pendidikan bagi anak. Lingkungan keluarga adalah lingkungan

yang berperan terhadap perkembangan diri pribadi anak. Di samping itu

kesadaran dalam diri anak untuk tetap bersekolah minimal sampai tingkat

pendidikan lanjutan pertama masih kurang.

   Masyarakat golongan kurang mampu (gelandangan), pada dasarnya

gelandangan masih memiliki ketangguhan dan ketrampilan dasar, hanya karena

sebab-sebab yang unik mereka tidak dapat hidup dan berkehidupan sebagai

masyarakat yang pada umunya. Sebenarnya anak dari keluarga gelandangan

membutuhkan dunia bermain maupun belajar di bangku sekolah. Umumnya

banyak anak dari keluarga gelandangan yang tidak dapat mengenyam bangku

sekolah serta mendapatkan bimbingan dari orang tua mereka dapat dilihat

diberbagai tempat seperti halnya di traffic light disitu dapat dilihat banyak anak-
  anak yang berkeliaran pada jam-jam dimana semestinya anak-anak sekolah,

  disisi lain ada juga sebagian yang dari keluarga gelandangan yang anaknya dapat

  sekolah. Anak-anak dari keluarga gelandangan pada umumnya malah harus

  berfikir bahwa yang penting ialah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan

  dasarnya yakni pangan, sandang serta papan.

B. Rumusan Masalah

       Berdasarkan dari latar belakang tersebut, masalah yang akan peneliti angkat

  dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana pandangan orang tua (gelandangan) terhadap anak?

  2. Bagaimana pandangan orang tua (gelandangan) terhadap pendidikan anak?

  3. Upaya apa yang dilakukan oleh orang tua (gelandangan) dalam mendorong

     anak untuk memperoleh pendidikan?

     Selama ini, 10 dari anak seorang gelandangan hanya 2/3 yang bersekolah,

  maka dari itulah peneliti ingin mengetahui akan peran orang tua terhadap

  pandangan maupun peran serta pendidikan anaknya. Anak yang sudah mengenal

  akan pergaulan yang tidak semestinya dalam kategori yang negatif, maka mereka

  akan sulit menerima pendidikan formal maupun pendidikan non formal.

  Seharusnya keadaan seperti ini sebagai bahan pertimbangan bagi Pemerintah

  Daerah guna perencanaan perkembangan suatu kota agar perkembangan yang

  dicapai benar- benar berhasil. Masalah yang timbul dalam penelitian ini yaitu

  "Bagaimana keluarga gelandangan menyikapi akan pentingnya pendidikan

  formal anak". Penelitian ini dititik pusatkan di Jl Raya Pekojan Johar, Kelurahan

  Njagalan Semarang Tengah, Jawa Tengah.
C. Tujuan Penelitian

   Tujuan penelitian ini untuk :

   1. Secara Umum

           Mengetahui kehidupan sehari-hari dari gelandangan beserta anak-anak

      mereka, disini dilihat dari bagaimana gelandangan tersebut memenuhi

      kebutuhan hidup yang meliputi pendapatan dan pendidikan anak mereka.

   2. Secara Khusus.

      a. Mengetahui pandangan gelandangan terhadap anak mereka

      b. Mengetahui cara pandang gelandangan terhadap pendidikan anak

          mereka.

      c. Mengetahui upaya apa yang dilakukan oleh gelandangan dalam

          mendorong anak mereka untuk memperoleh pendidikan.

D. Manfaat Penelitian

   Penelitian ini dapat mempunyai beberapa manfaat yang antara lainnya:

   1. Manfaat Teoritis:

      Memberikan tambahan kajian pengetahuan tentang suatu gejala sosial

      kehidupan gelandangan.

   2. Manfaat Praktis

              Manfaat praktis ini ada dua manfaat yang pertama: dapat memberikan

      manfaat bagi pemerintah setempat yang berupa suatu gambaran untuk

      perencanaan pembangunan kota serta guna menyukseskan Peadidikan Wajib

      Belajar 9 Tahun. Manfaat yang kedua yaitu dapat memberikan manfaat bagi

      keluarga gelandangan dalam mendidik anak.
                                   BAB II

                            KAJIAN PUSTAKA



A. Pendidikan

   1. Pengertian pendidikan

             Pandangan umum tentang arti pendidikan yaitu suatu ilmu, itu

      merupakan pandangan masyarakat sebagian besar, atau sering juga yang

      mengartikan pendidikan merupakan kegiatan yang disengaja atau dilakukan

      dengan sadar yang dilakukan oleh seseorang. Sedikit dari pengertian umum

      pendidikan dapat kita jadikan suatu titik nilai yang dasar dalam arti

      pendidikan. Secara Umum dan mendasar Driyakarya mengatakan bahwa :

      Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan

      manusia ke taraf insani itulah disebut mendidik. Pendidikan ialah

      pemanusiaan manusia muda (Dirjen Dikti, 1983/1984 :19).

             Pengertian dalam Dictionary Of Education menyebutkan bahwa

      pendidikan ialah proses seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan

      bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat ia hidup, proses

      sosial yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan

      terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat

      memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan

      kemampuan individu yang optimal (Dirjen Dikti, 1983/1984 :19).

             Ki Hajar Dewantara dalam kongres Taman Siswa yang pertama pada

      tahun 1930 menyebutkan : pendidikan pada umumnya berarti daya upaya
  untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),

  pikiran (intelek), dan tubuh anak, dalam Taman Siswa tidak boleh dipisah-

  pisahkan bagian-bagian itu agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup,

  kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan

  dunianya.

         GBHN Tahun 1973 disebutkan bahwa pendidikan pada hakikatnya

  adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di

  dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Dari uraian di atas,

  maka pendidikan dapat diartikan sebagai:

   a. Suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan.

   b. Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan pada anak dalam

      pertumbuhannya.

   c. Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu

      yang dikehendaki oleh masyarakat

   d. Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak menuju

      kedewasaan.

2. Ruang Lingkup Pendidikan

         Ketetapan MPR No. II / MPR / 1993, tentang GBHN dinyatakan

  bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam

  lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan adalah

  tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan pemerintah.
a) Pendidikan informal

        Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang

   di rumah dalam lingkungan keluarga. Pendidikan ini berlangsung tanpa

   organisasi, yakni tanpa orang tertentu yang diangkat atau ditunjuk

   sebagai pendidik, tanpa suatu program yang harus diselesaikan dalam

   jangka waktu tertentu, tanpa evaluasi yang formal berbentuk tujuan.

   Demikian pendidikan informal ini sangat penting bagi pembentukan

   pribadi seseorang.

b). Pendidikan formal

         Formal terdapat kata form atau bentuk. Pendidikan formal ialah

   pendidikan yang mempunyai bentuk atau organisasi tertentu, seperti

   terdapat di sekolah atau universitas yang mencakup adanya perjenjangan,

   program atau bahan pelajaran untuk setiap jenis sekolah, cara atau

   metode mengajar di sekolah juga formal, yaitu mengikuti pola tertentu,

   penerimaan murid, homogenitas murid, jangka waktu, kewajiban belajar,

   penyelenggaraan, waktu belajar dan uniformitas.

c). Pendidikan non formal.

           Pendidikan non formal meliputi berbagai usaha khusus yang

   diselenggarakan secara terorganisasi terutama generasi muda dan juga

   dewasa yang tidak dapat sepenuhnya atau sama sekali tidak

   berkesempatan     mengikuti   pendidikan     sekolah   dapat   memiliki

   pengetahuan praktis dan ketrampilan dasar.
          Uraian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ruang lingkup

      pendidikan meliputi:

      (a) Pendidikan Informal

      (b) Pendidikan Formal

      (c) Pendidikan Non formal



B. Pendidikan Anak

          Anak adalah generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu

   mendapatkan pendidikan yang layak serendah- rendahnya setingkat Sekolah

   Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) seperti yang dianjurkan pemerintah yaitu

   Wajib Belajar 9 tahun. Pendidikan sebagai bekal yang berguna bagi masa

   depannya kelak, disamping itu anak dapat menikmati masa kecilnya secara wajar

   dalam lingkungan pergaulan yang baik.

          Menurut Siti Rahayu Haditono cara pendidikan yang represif misalnya

   cara mendidik anak dengan banyak memberikan tugas dan tututan yang dianggap

   perlu bagi anak tersebut, tidak menguntungkan karena tidak bertitik tolak pada

   individualitas   anak   hingga   lalu   bersifat   menekan/represif   (1987:150).

   Kenyataannya kepentingan individu tidak selalu sesuai dengan kepentingan

   masyarakat. Tetapi dalam mendidik/pendidikan anak itu memang tidaklah mudah

   karena dalam hal ini agar mencapai hasil yang baik terhadap diri sang anak harus

   diperhatikan atau disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak.
          Ahli anak terkemuka Markum, mengatakan "Siapapun dapat mengasuh

   anak secara berhasil asalkan mengerti betul tahap-tahap dan tugas-tugas

   perkembangan, sehingga dalam masing-masing tugas perkembangan dapat diajak

   maju dan dipacu mencapai perkembangan yang optimal"(Paulus Mujiran,

   2002:38). Kita juga harus memperhatikan akan tujuan Pendidikan itu sendiri,

   yang kita tetapkan sekarang : Kita senang, apabila anak-anak itu telah berdiri

   sendiri secara lain pula : jika itu mereka telah belajar berfikir sendiri, berichtiar

   sendiri dan berbuat sendiri (Sugarda Purbakawatja, 1970:16).         Dari situlah kita

   dapat melihat akan sedikit berhasil langkah yang kita tempuh dalam

   pendidikan/mendidik anak. Langkah tersebut belum dapat sepenuhnya dikatakan

   berhasil.



C. Pengertian lingkungan

           Lingkungan dalam pengertian umum, berarti situasi di sekitar kita. Dalam

   lapangan pendidikan, arti lingkungan itu luas sekali, yaitu segala sesuatu yang

   berada di luar diri anak, dalam alam semesta kita. Lingkungan ini mengitari

   manusia sejak manusia dilahirkan sampai dengan meninggalnya. Antara

   lingkungan dan manusia ada pengaruh yang timbal balik, artinya lingkungan

   mempengaruhi      manusia,    dan   sebaliknya,   manusia     juga    mempengaruhi

   lingkungan di sekitamya. Lingkungan tempat anak mendapatkan pendidikan

   disebut dengan lingkungan pendidikan

           Supaya tidak menimbulkan salah pengertian, lingkungan sering pula

   disebut sebagai faktor dalam. Lingkungan sering pula disebut dengan : Milieu,
envioronment. (Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 2001:64) Sejak anak lahir di

dunia, anak secara langsung berhadapan dengan lingkungan yang ada di

sekitarnya.     Lingkungan    yang   dihadapi       anak,   pada     pokoknya     dapat

dibedakan/dikelompokkan sebagai berikut:

1. Lingkungan Budaya

              Lingkungan   yang   berwujud      :   kesusasteraan,    kesenian,   ilmu

   pengetahuan, adat istiadat, dan lain-lainnya. Dalam keluarga, akan kita

   temukan buku-buku : buku bacaan, buku ilmu pengetahuan dan mungkin juga

   dapat kita temukan benda-benda seni, seperti : hiasan dinding yang berwujud

   wayang kulit, kain tenun, anyam-anyaman, yang semuanya itu dapat

   mempengaruhi jiwa anak, baik karena dari melihat orang-orang dewasa

   sekitarnya memanfaatkan benda-benda itu sendiri : pengaruh itu diterima

   anak.

2. Lingkungan fisik

              Lingkungan alam sekitar anak, yang meliputi jenis tumbuh-

   tumbuhan, hewan, keadaan tanah, rumah, jenis makanan, benda gas, benda

   cair, dan juga benda padat.

3. Lingkungan sosial

              Lingkungan ini meliputi bentuk hubungan antara manusia satu dengan

   yang lainnya, maka sering pula disebut lingkungan yang berwujud manusia

   dan hubungannya dengan atau antara manusia di sekitar anak. Termasuk di

   dalamnya adalah : sikap atau tingkah laku antara manusia, tingkah laku ayah,

   ibu, anggota keluarga yang lain, tetangga, teman.
              Keluarga    merupakan     miniatur   dan   pada   masyarakat   dan

      kehidupannya, maka pengenalannya, maka pengenalan kehidupan keluarga

      sedikit atau banyak pasti akan memberi warna pada pandangan anak terhadap

      hidup bermasyarakat. Dan juga corak kehidupan pergaulan di dalam keluarga

      akan ikut menentukan atau mempengaruhi perkembangan diri anak. (Abu

      Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 2001:65 - 66)

   4. Lingkungan Bermain Anak

              Anak dalam perkembangan menuju kedewasaan akan mengalami

      pergaulan secara luas dan umum dalam lingkungan tempat tinggalnya, baik

      dengan teman sebaya maupun dengan orang yang lebih tua. Pergaulan atau

      yang lebih dikenal dengan sosialisasi merupakan lapangan pendahuluan

      pendidikan.



D. Pendidikan Keluarga

          Ayat 4 pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun

   2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional; pendidikan keluarga merupakan

   bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga

   dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan

   ketrampilan.

          Pendidikan keluarga termasuk pendidikan informal karena pendidikan

   informal adalah proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman

   sehari-hari dengan sadar ataupun tidak.
 Unsur-unsur Pendidikan Keluarga

 Unsur-unsur pendidikan dalam keluarga sebagaimana ditulis oleh Thamrin

 Nasution dan Nurhiljah Nasution dalam Sungaripan (2000 : 9-10) adalah:

  1. Pemupukan rasa tanggung jawab
    Orang tua yang selalu menanamkan tanggung jawab pada anak dalam
    melaksanakan suatu tindakan / pekerjaan akan mendorong anak untuk berhati-
    hati dalam bertindak dan akan membentuk watak anak untuk berani
    mempertanggung jawabkan perbuatan-perbuatannya
  2. Pemberian kebebasan pada batas-batas tertentu
    Kebebasan yang diberikan kepada anak di sini adalah suatu kebebasan yang
    tidak melebihi batas-batas normatif, suatu kebebasan anak yang masih dalam
    pantauan orang tua.
3. Dorongan keberanian yang diberikan kepada anaknya untuk dapat berbuat
                sesuatu yang positif.
    Dorongan semangat (support) merupakan suatu yang penting, begitu
    pentingnya aspek ini sehingga jika tidak ada akan menyebabkan perilaku anak
    yang salah.

         Pendidikan keluarga banyak pengertiannya serta banyak para ahli yang

   berpendapat. Menurut Langeveled Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam

   usaha membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah

   usaha yang disadari dan dilaksanakan dengan sengaja antara orang dewasa

   dengan anak/yang belum dewasa.

         Uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan yang sebenanya itu

   berlaku di dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak. Anak

   merupakan mahkluk yang sedang tumbuh, oleh karena itu pendidikan penting

   sekali karena mulai sejak bayi belum dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan

   dirinya, baik untuk mempertahankan hidup maupun merawat diri, semua

   kebutuhan tergantung pada ibu/orang tua.

         Setelah uraian pengertian Pendidikan, selanjutnya pengertian keluarga

   menurut Cooley (Diknas,1980:4) Suatu kesatuan hidup yang anggota-
anggotanya mengabdikan dirinya kepada kepentingan dan tujuan kesatuan

kelompok dengan rasa cinta kasih. Maksudnya dalam mencapai tujuan

kelompok dengan memperhatikan hak masing-masing anggota dan kemampuan

masing-masing    anggotanya.   Anggota-anggotanya    berkewajiban    tolong-

menolong.

     Berdasarkan arti atau batasan mengenai bimbingan dan keluarga tersebut,

maka pengertian mengenai bimbingan keluarga adalah : bantuan yang

diberikan kepada keluarga untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab

anggota keluarga serta memberikan pengetahuan dan ketrampilan demi

terlaksananya usaha kesejahteraan keluarga.

     Menurut pendapat Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara

(1939:71) mengenai pendidikan keluarga, bahwa dalam keluarga adalah "yang

pertama dan yang terpenting, oleh karena sejak timbulnya adab kemanusiaan

sampai kini, hidup keluarga itu selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi

pekerti dari tiap-tiap manusia". Dan dilanjutkan mulai kecil hingga dewasa

anak-anak hidup ditengah keluarganya. Pendidikan keluarga merupakan usaha

pendidikan yang terpenting, sebab sudah dimulai, sejak manusia itu lahir dan

berada dalam lingkungan keluarganya, bahkan dapat dimulai sejak manusia

dalam kandungannya, karena keluarga merupakan komunitas pertama yang

mempengaruhi terhadap anak itu sendiri.

      Menurut Suryohadiprojo, (1987:96-97) mengatakan bahwa di dalam
lingkungan keluarga juga dapat dilakukan ketiga aspek pendidikan yaitu
pendidikan mental, pendidikan fisik, dan intelektual dalam intensitas yang
cukup besar. Tetapi biasanya ketiga aspek tersebut sulit bisa berjalan sama
imbangnya dalam kehidupan pada era sekarang, ketiga aspek tersebut akan
berhasil bila lingkunganpun mendukung.
        Sebuah keluarga yang paling berperan dalam pendidikan keluarga disini

ialah para orang tua lalu dibantu oleh orang dewasa yang berkewajiban dan

bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak yang berada di bawah

asuhannya. Para orang tua sebelumnya harus mempunyai niat keras untuk

mendidik anaknya untuk lebih maju dalam kehidupannya dibandingkan dengan

kehidupan orang tua sebelumnya, karena niat tersebut merupakan suatu

motivasi tersendiri dalam mendidik dan membina anak-anaknya, bila orang tua

tersebut sudah mempunyai motivasi maka dengan sendirinya akan timbul rasa

kasih sayang atau hubungan lahir batin, emosional-nasional yang bersumber

dari kekuatan Tuhan YME. Melalui rasa kasih sayang itu para orang tua

membimbing       anak-anaknya,   dengan    memberikan    pandangan    tentang

kehidupan yang sudah dimulai sejak anak masih kecil (Suryohadiprojo, 1987

:97).

        Sejalan dengan dua pendapat para ahli tersebut di atas, Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan

Nasional, di dalam pasal 13 ayat 4, disebutkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah

meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus, dan satuan pendidikan yang

sejenisnya. Kemudian pasal 10 ayat 4 berbunyi : Pendidikan keluarga

merupakan bagian dari jalur Pendidikan Luar Sekolah yang diselenggarakan

dalam keluarga dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral

dan ketrampilan.
E. Gelandangan

  1. Pengertian gelandangan

            Gaya hidup pemulung jalanan atau sering disebut gelandangan sering

    dianggap negatif dan kehadiran mereka dipandang sebagai suatu perma-salahan

    sosial masyarakat kota. Pemerintah cenderung menyalahkan gelandangan atau

    orang jalanan apabila terjadi masalah kekumuhan lingkungan kota dan

    kekurang keindahan kota. Disamping itu, "kondisi hidup tidak pasti" mereka

    dianggap mengurangi kenyamanan hidup masyarakat kota. Penggambaran

    Murray tentang "Mitos Marginalitas" dalam kasus orang luar dan penghuni

    kampung relatif cocok untuk memberi ilustrasi tentang stereotipe sebagian

    besar    masyarakat   terhadap   kelompok    pemulung   jalanan   (Y.   Argo

    Twikromo,1999:5)

          Kehidupan sehari-hari dikampung adalah strategi untuk bertahan hidup,
    berlawanan dengan "mitos marginalitas" yang dari sudut pandang orang luar
    dalam menggambarkan orang-orang, ini sebagian masa marginal yang
    melimpah ruah jumlahnya dengan budaya kemiskinan, dan sebagai lingkungan
    luar, kejam, dan kota......sumber pelacuran, kejahatan, dan ketidak amanan
    "(Murray, 1994:18)

            Pengertian gelandangan dalam buku yang berjudul gelandangan, LP3ES

    menurut     Wirosardjono   (1998   :   66)   adalah   fenomena    kemiskinan

    sosial,ekonomi dan budaya yang dialami sebagai amat kecil penduduk kota

    besar hingga menempatkan mereka pada lapisan sosial paling bawah

    dimasyarakat kota. Walaupun mereka bekerja lebih keras, punya kegiatan

    tertentu yang teratur dan pendapatan yang mendukung daya tahan mereka tetap

    tinggal dikota, tetapi cara hidup, nilai dan norma kehidupan mereka dianggap

    "menyimpang" dari nilai yang diterima masyarakat banyak.
      Umumnya golongan masyarakat kurang beruntung seringkali dianggap

pemalas, kotor, dan tidak dapat dipercaya, hal ini teryata tidak selalu benar.

Kenyataannya, mereka mempunyai pekerjaan yang relatif tetap, misalnya

mencari puntung rokok, barang bekas (pemulung), kuli kasar, kuli pelabuhan,

dan sebagainya; mereka bekerja cukup keras dan tidak malas.

     Sadli (1988:125) mengatakan bahwasanya gelandangan pada
     kenyataannya tidak mempunyai tempat tinggal yang pasti atau tetap;tidak
     mempunyai penghasilan yang tetap;tidak mengetahui apa yang akan
     dimakan untuk hari ini; tidak dapat merencanakan hari depan dirinya
     ataupun anak-anaknya; tidak dapat memberikan bimbingan kepada anak-
     anak yang mereka lahirkan bukan yang dibawah asuhannya, yakni
     sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang anak sebagai makhluk yang
     masih dalam usia perkembangan tertentu di dalam proses sosialisasinya.

     Kedua pengertian tersebut mengandung maksud bahwa gelandangan

adalah orang yang tidak tentu tempat tinggalnya, pekerjaannya, dan arah tujuan

kegiatannya. Pengertian ini sebenarnya kurang menggambarkan kenyataan

yang ada karena kaum gelandangan sebenarnya relatif tetap dan tujuan

kegiatan yang jelas dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya salah satu

pengertian yang diberikan Muttalib dan Sudjarwo (1984:18), gelandangan

mengandung pengertian sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh

masyarakat, orang yaag disingkirkan dari kehidupan khayalak ramai, dan

merupakan cara hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan.

      Menurut Sadli (1988: 131), mengemukkan bahwasannya lingkungan
keluarga yang ditandai oleh kondisi kemiskinan menghasilkan masalah anak
gelandangan. Proses sosialisasi yang berlangsung dalam lingkungan yang serba
"tidak" menyebabkan beberapa ciri khas pada anak-anak mereka.
      Berbeda dengan (Rahardjo, 1988:143) "Gelandangan bukannya berasal

dari orang-orang atau keluarga gelandangan pada akhirnya bisa mengatasi

masalah mencari kerja". Mereka mencari kerja musiman, dan tidak mempunyai
   tempat tinggal dan tak berhasil mendapatkan pekerjaan yang tetap, atau mereka

   kemudian membuat pemukiman- pemukiman liar di kota-kota besar. Sebagian

   dari mereka kemudian memilih "Pekerjaan" dengan jalan meminta-minta,

   mencari barang, bekas, mengais sampah, mencopet, menjadi tukang parkir liar,

   bergabung dengan kelompok-kelompok yang berbuat kejahatan, menjadi

   "Penjaga keamanan" informal dengan memungut "iuran" gelap untuk tidak

   melakukan kejahatan, menjadi pelacur liar dan sebagainya.

2. Karakteristik gelandangan

         Lingkungan    keluarga    yang   ditandai   oleh   kondisi   kemiskinan

   menghasilkan masalah anak gelandangan. Laporan dari penampungan anak-

   anak gelandangan di daerah RS. Fatmawati, Jakarta Selatan : ciri secara umum

   akan anak gelandangan ditinjau dari segi psikologis adalah :

   a. Anak-anak ini lekas tersinggung perasaannya.
   b. Anak-anak ini lekas putus asa dan cepat mutung, kemudian nekad tanpa
      dapat dipengaruhi secara mudah oleh orang lain yang ingin membantunya.
   c. Tidak berbeda dengan anak-anak pada umumnya mereka menginginkan
      kasih sayang.
   d. Anak-anak ini biasanya tidak mau tatap muka, dalam arti bila mereka
      diajak bicara, tidak mau melihat orang lain secara terbuka.
   e. Sesuai dengan taraf perkembangannya yang masih kanak-kanak mereka
      sangat labil.
   f. Mereka memiliki suatu ketrampilan, namun ketrampilan ini tidak sesuai
      bila diukur dengan ukuran normatif kita.


         Menurut pengertian dari Biro Pusat Statistik (BPS) dalam sensus

   penduduk tahun 1980, bahwa gelandangan hanya terbatas pada mereka yang

   memiliki tempat tinggal di dalam kehidupan rumah tangga (RT) dan kawasan

   pemukiman liar yang ada, seperti di emper-emper toko, pasar, stasiun kereta

   api, terminal bis, dibawah jembatan, dan tempat lainnya. Sedangkan pengertian
gelandangan menurut sensus penduduk tahun 1961 dan 1971, definisi

operasional dari gelandangan adalah mereka yang tidak memiliki tempat

tinggal "tetap" tidak termasuk dalam wilayah pencacahan atau blok sensus

yang ada (Sardjono,1984:60). Menurut tarafnya ada 3 macam kelompok

gelandangan yakni meliputi:

   1) Gelandangan yang masih berhubungan dengan masyarakat normal.

         Gelandangan ini masih berkelompok dengan gelandangan lainnya,

   dan biasanya mereka menolak makanan yang ada di pembuangan sampah.

   Mereka masih mengutamakan mandi, mencuci pakaian, tidur secara

   berkelompok dan kelompoknya bersifat terbuka bagi gelandangan lain.

   2) Gelandangan berkelompok dan mempunyai organisasi tertutup dan

       tegar.

         Mereka pada umumnya mengambil makanan dari tempat sampah,

   tidak berhubungan dengan masyarakat normal, masih mengutamakan

   mandi dan mencuci pakaian. Tetapi, mereka hanya akan tidur bersama

   dengan sesama anggota organisasi mereka.

   3) Gelandangan yang tidak mempunyai kelompok.

         Biasanya mereka mengambil makanan dari tempat sampah, tidak mau

   berkomunikasi dengan masyarakat normal. Mereka jarang mandi atau

   mencuci pakaiannya, namun tidak selalu menyendiri dan tidak mempunyai

   kelompok.

     Menurut penelitian saraswati, dalam studi di kampung sawah Jakarta

dimana keadaan sosial ekonomi penduduknya mendekati dengan kategori
   penduduk gelandangan, menemukan beberapa finding yang cukup menarik,

   yaitu:

   a). Ada perasaan ketidak pastian hidup, walaupun tidak membawa

       keputusasaan dan apatisme

   b). Adanya rasa solidaritas dan kemampuan adaptasi yang tinggi diantara

       mereka.

   c). Berfungsi sub kultur kemiskinan atau sub kultur gelandangan yang berbeda

       norma nilai dan perilakunya dengan yang berlaku di masyarakat luas.

   d). Sikap menerima nasib dari kehidupan yang miskin.

   e). Pengagungan mereka terhadap apa yang disebut kerja bebas atau kebebasan,

       yaitu pekerjaan yang tidak di kendalikan oleh orang lain.



3. Mengapa menggelandang

            Masa sekarang ini gejala gelandangan cenderung dipandang sebagai

  gaya hidup yang negatif. Pada umumnya gejala ini dipandang sebagai gejala

  sosial yang berlawanan dengan arah perkembangan kota, dimana kaum

  gelandangan merupakan kelompok masyarakat yang tersingkirkan karena

  kurang bisa melibatkan dan dalam proses perkembangan kota atau tidak

  mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan kelompok masyarakat lain

  dilingkungan perkotaan (Y. Argo Twikromo: 8).

            Berdasarkan catatan Muttalib dan Sudjarwo (1984) menggelandang dan

  gelandangan justru dipandang sebagai sarana yang tepat untuk berjuang

  melawan pemerintah kolonial Belanda. Namun makna positif gaya hidup
menggelandang tersebut tidak bertahan lama. Hidup menggelandang dianggap

tidak cocok dengan norma-norma budaya masyarakat Indonesia. Dalam

konteks perkembangan kota akhir-akhir ini, kehidupan gelandangan di

konstruksikan sebagai kehidupan yang berlawanan dengan aspek-aspek

keamanan, ketertiban, kebersihan, kestabilan dan ketentraman suatu kota.

     Blau (1992) menawarkan suatu interpretasi tentang gelandangan, yaitu

tidak dengan mempercayai beberapa mitos yang berhubungan dengan kondisi

gelandangan, seperti sakit mental, pemabuk dan kecanduan alkohol, dan malas,

tetapi lebih menekankan pada pilihan-pilihan yang mungkin menyebabkan

seseorang menjadi gelandangan. Pada awalnya, tidak tersedianya "ruang hidup"

bagi mereka didaerah perkotaan telah mengantarkan mereka pada suatu pilihan

hidup sebagai gelandangan. Dalam keterbatasan "ruang hidup" sebagai

gelandangan tersebut, mereka berjuang untuk sekedar dapat bertahan hidup di

daerah perkotaan dengan berbagai macam strategi, seperti menjadi pemulung,

pencopet, pencuri, pengemis, pekerja seksual, pengamen dan pengasong.

Perjuangan hidup sehari-hari mereka mengandung resiko yang cukup berat,

tidak hanya karena tekanan ekonomi, tetapi juga tekanan sosial-budaya dari

masyarakat, kerasnya kehidupan jalanan dan tekanan dari aparat ataupun

petugas ketertiban kota.

     Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia dari Poerwadarminta,

bergelandang adalah "berjalan kesana sini tidak tentu maksudnya". Sedang

orang gelandangan adalah "orang yang bergelandang (tidak tentu tempat

kediamannya dan pekerjaannya)". Orang gelandangan jadi yang meng-
gelandang mungkin tidak tentu tempat kediamannya dan pekerjaannya, tetapi

"berjalan kesana sini tidak tentu maksudnya"(Umar Khayam, 1988:149).

      Gelandangan yang memungut puntung rokok, pekerja "pocokan" jalan
atau bangunan, pelacur kelas paling bawah yang melacur disela-sela gerbong
kereta api atau pangkalan becak dan sebagainya, maksud dari itu semua ialah
mencari nafkah. Meskipun demikian mempunyai kediaman tetap (bahkan
konon ada yang tinggal dikediaman cukup mapan dan menyenangkan), toh
dapat dikatakan, bahwa mereka biasa dimasukkan kedalam kategori
"gelandangan"(Umar Khayam, 1988 :149-150).

     Kondisi serba tidak tetap itu sendiri, baik dari sudut tempat kediaman,

pekerjaan, pendapatan maupun perjalanan, tidak atau belum menentukan

formal kategori gelandangan. Bahkan juga dengan sendirinya unsur kemiskinan

akan menentukan predikat gelandangan. Dari berbagai alasan tersebut diatas

mengapa seseorang menggelandang
                                     BAB III

                             METODE PENELITIAN



       Bagian    ini   dipaparkan   tentang:   1.Pendekatan   penelitian,   2.Lokasi

penelitian,3. Fokus penelitian,4. Tahap-tahap penelitian,5. Sumber data,6.Teknik

pengumpulan data, 7. Kriteria keabsahan data, dan 8.Analisis data.

1. Pendekatan Penelitian

         Supaya peneliti dapat mendiskripsikan secara jelas dan rinci serta

   memperoleh data mendalam dari fokus penelitian maka penelitian ini

   menggunakan pendekatan kualitatif dengan alasan memiliki ciri-ciri tertentu

   sebagaimana menurut Lincoln dan Guba (Lexy J.Moeleong, 1993: 4-8) yang

   mengulas 10 ciri penelitian kualitatif yaitu:1. Dilakukan pada latar ilmiah,   2.

   Manusia sebagai alat instrumen, 3. Metode kualitatif, 4. Analisis data secara

   induktif,5. Arah penyusunan teori berasal dari dasar(ground theory),6. Bersifat

   diskriptif, 7. Mementingkan proses dari pada hasil, 8. Ditetapkannya batas dasar

   fokus, 9. Adanya kriteria khusus untuk ke absahan data, 10. Desain bersifat

   sementara.

         Penelitian diskriptif kualitatif memungkinkan pencarian fakta dengan

   interpretasi yang tepat, memungkinkan mengkaji masalah-masalah normatif

   sekaligus membuat perbandingan antar fenomena.
2. Lokasi penelitian

        Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Pekojan Johar, Kelurahan Jagalan

   Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, karena wilayahnya merupakan

   salah satu daerah pemukiman kumuh di kota Semarang.

3. Fokus Penelitian

        Fokus penelitian ini adalah berupa upaya masyarakat pemukiman kumuh

   yang didalamnya gelandangan, dalam meningkatkan pendidikan formal anak ,

   dan bagaimana seorang gelandangan mendidik anaknya dalam hal proses

   belajarnya.

   a. Aspek Pendidikan, terdiri dari pendidikan formal dan pendidikan nonformal

      1) Pendidikan formal terakhir yang dimiliki gelandangan

      2) Tingkat pendidikan anaknya sekarang

      3) Tujuan yang akan dicapai dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak

          dari gelandangan

      4) Pembiayaan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan sarana dan

          prasarana dalam pendidikan

      5) Proses pelaksanaan pemenuhan kebutuhan pendidikan

4. Tahap-tahap Penelitian

          Penelitian ini meliputi tahap pralapangan, tahap pelaksanaan penelitian,

   dan tahap akhir penelitian.

   a. Tahap pra lapangan

                 Tahap ini peneliti melakukan kegiatan meliputi: 1. Konsultasi dengan

      dosen pembimbing tentang tema penelitian, 2. Pemilihan lokasi (setting)
   penelitian terkait dengan tema penelitian, 3. Melakukan pra survey terlebih

   dahulu ke daerah yang akan diteliti, 4. Pembuatan proposal dan instrumen

   penelitian, 5. Menyiapkan instrumen penelitian dengan cara membuat

   formula pertanyaan yang terkait dengan fokus penelitian,           6.Mengurus

   perizinan penelitian ke dinas terkait, 7.Orientasi atau eksplorasi yang bersifat

   menyeluruh (grand tour observation)

          Langkah     berikutnya,   penulis   melakukan     kunjungan    lapangan

   pendahuluan untuk mengadakan observasi mengenai sasaran penelitian yang

   bersifat umum. Kunjungan lapangan penelitian diawali dengan berkunjung ke

   rumah tokoh masyarakat. Hal ini diharapkan dapat memperoleh gambaran

   secara umum daerah penelitian, misalnya tentang kondisi wilayah, kebiasaan-

   kebiasaan, dan karakteristik penduduk. Selanjutnya, penulis juga berusaha

   untuk memperkenalkan diri dan berdiskusi tentang informasi yang terkait

   dengan sasaran penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui dan

   menentukan siapa yang akan dijadikan informan dan subyek penelitian.

   Informan dipilih atas petunjuk tokoh masyarakat yang sudah mengetahui

   karakteristik penduduk setempat.

b. Tahap Pelaksanaan Penelitian

          Tahap ini penulis melakukan kunjungan lapangan kedua. Eksplorasi

   pada tahap ini lebih dilakukan pada fokus penelitian yaitu upaya masyarakat

   pemukiman kumuh dalam meningkatkan pemenuhan kebutuhan hidup. Selain

   itu, penulis juga meneliti segala gejala masyarakat yang terkait dengan

   penelitian, dan mencari informasi atau data yang dapat dijangkau pada saat
      pengamatan , yakni dengan cara wawancara atau berdiskusi dengan informan.

      Penulis juga mencari data-data sekunder pada kantor kelurahan mengenai

      kondisi daerah pemukiman kumuh dan kependudukan.

   c. Tahap Akhir Penelitian

              Tahap berikutnya setelah data terkumpul, data direduksi dan dianalisis

      lebih intensif. Analisis data ini dilakukan secara terus menerus dengan

      mengkaitkan masing-masing rincian atau detail konsep yang selanjutnya

      dapat untuk mendiskripsikan suatu gejala yang ada.

              Kegiatan Selanjutnya, berupa penyajian data. Kegiatan penyajian data

      dapat dilakukan dengan mensintesis antara data yang berasal dari informan

      (emik) dengan data penulis (etik). Penyajian data tersebut merupakan hasil

      dari sintesis data yang berupa penyajian sementara yang menghasilkan suatu

      simpulan.

              Simpulan ini harus dicek kebenarannya. Cek data dilakukan secara

      terus menerus dari awal hingga akhir penelitian dan membandingkan antara

      informan yang satu dengan yang lain. Kemudian penulis baru menyusun

      laporan sementara, setelah melalui evaluasi dengan jalan konsultasi dengan

      dosen pembimbing, diteruskan dengan pembuatan laporan akhir penelitian

      (finalisasi laporan penelitian).

5. Sumber Data

      Sumber data diperoleh dari kenyataan di lapangan melalui subyek penelitian.

Data subyek yang diperoleh dari subyek yang banyak mengetahui dan mempunyai

kemampuan lebih yang terkait dengan permasalahan yang menjadi tema penelitian.
Pemilihan subyek tertentu, dengan sendirinya perlu dilakukan secara purposif. Dalam

proses pengumpulan data tentang suatu topik, bila variasi informasi tak muncul atau

tidak ditemukan lagi maka penulis tak perlu lagi melanjutkannya dengan mencari

informasi baru, artinya subyek bisa sangat sedikit (beberapa orang saja) tetapi bisa

juga banyak. Terdapat tiga tahap dilakukan dalam pemilihan subyek pada penelitian

ini yaitu:

   a. Pemilihan subyek awal, supaya lebih produktif dapat peroleh informasi,

       melalui wawancara atau observasi.

   b. Pemilihan lanjutan guna memperluas informasi dan melacak segenap

       informasi yang mungkin ada, yaitu dengan menggelinding kepada subyek-

       subyek lanjutan sehingga segenap macam karakteristik elemen-elemen yang

       diperlukan dapat diperoleh data atau informasinya.

   c. Menghentikan pemilihan subyek lanjutan, sekiranya sudah tidak muncul lagi

       informasi-informasi baru yang bervariasi dengan informasi-informasi yang

       telah diperoleh sebelumnya.

             Proses menyebarnya sampel ini memakai snow ball sampling, suatu proses

   menyebarnya sampel yang seibarat bola salju, yang pada mulanya kecil, kemudian

   semakin membesar dalam proses bergulir menggelindingnya (Faisal, 1990: 56-60)

             Sasaran data penelitian ini yakni masyarakat pemukiman kumuh. Informan

   dalam penelitian ini yaitu gelandangan tersebut serta lingkungannya antaranya dua

   penjual yang ada didepan serta pojokan gang dimana penelitian ini berlangsung.
6. Teknik Pengumpulan Data

         Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

 sebagai berikut:1. Teknik pangamatan langsung,2. Teknik wawancara 3.

 Dokumentasi (Lexy J. Moleong, 1998; 100).

 Pada kegiatan ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara:

 a. Teknik pengamatan langsung

           Teknik pengamatan langsung (structured observation), observasi yakni

   pengamatan yang disertai dengan kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah

   diatur kategorisasinya terlebih dahulu, dan ciri-ciri khusus dari tiap-tiap faktor

   dalam kategori-kategori itu.

           Materi observasi, isi dan luas situasi yang akan diobservasi umumnya

   lebih terbatas. Sebagai alat untuk penyelidikan deskriptif, dan berlandaskan pada

   perumusan-perumusan yang lebih khusus. Wilayah dan scope observasinya

   dibatasi dengan tegas sesuai dengan tujuan penelitian, cara-cara pencatatan pada

   observasi ini memberikan jawaban-jawaban, responses, atau reactions yang dapat

   dicatat secara teliti.

 b. Teknik Wawancara

           Teknik wawancara digunakan untuk menjaring informasi mengenai

   persoalan yang dihadapi dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

   Teknik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai upaya masyarakat yang

   meliputi aspek pendapatan, pendidikan, dan kesehatan.

           Teknik wawancara ini diharapkan kejadian yang lalu dapat direkontruksi

   (tatanan kota). Pertanyaan dalam wawancara ini diajukan kepada masyarakat
   dengan memperhatikan pertanyaan apa, kapan, dimana, siapa, bagaimana, dan

   mengapa. Pokok-pokok materi yang ditanyakan disusun sebelumnya, kemudian

   dikembangkan di lapangan disesuaikan dengan kondisi riil yang berkembang di

   masyarakat. Setiap selesai melakukan wawancara kemudian dicatat dalam

   catatan lapangan. Teknik ini tidak digunakan secara terangan-terangan. Hal ini

   untuk menghindari kekawatiran bahkan kekuatan dari informan yang selanjutnya

   berpengaruh pada kualitas dari hasil jawaban.

            Alat pengumpul data ini dapat dilakukan dengan cek antara informan satu

   dengan yang lain. Data melalui wawancara ini dilakukan secara terus menerus

   karena untuk membandingkan antara informan yang satu dengan informan yang

   lain.

 c. Teknik Dokumentasi

           Teknik ini digunakan untuk memperoleh informasi, memahami dan

   memecahkan masalah tentang data yang diperlukan yang sudah tersedia di

   instansi terkait. Data yang diperoleh dengan teknik ini berupa data skunder yang

   berhubungan dengan data wilayah dan data penduduk sesuai monografi yang ada.

7. Kriteria dan Teknik Keabsahan data

           Guna menetapkan keabsahan (trust worthiness) data diperlukan teknik

   pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas triangulasi.

   Denzin (1978) membedakan empat macam yaitu teknik pemeriksaan yang

   memanfaatkan sumber, metode, penyidik, dan teori.

           Triangulasi berarti membandingkan dan mengecek balik derajat

   kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda
   dalam metode kualitatif (Patton, 1987: 331). Hal ini dapat dicapai dengan jalan

   membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, apa yang

   dikatakan di depan umum dengan apa yang dikatakan pribadi.

          Triangulasi dengan metode menurut Patton (1987: 331), terdapat dua

   strategi, yaitu: pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitiaan

   beberapa teknik pengumpulan data, dan pengecekan derajat kepercayaan

   beberapa sumber data dengan metode yang sama.

          Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba (1987: 307),

   berdasarkan    anggapan bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat

   kepercayaannya dengan satu alat lebih teori. Dipihak lain, Patton (1987: 327)

   berpendapat lain, yaitu bahwa hal itu dapat dilaksanakan dan hal itu

   dinamakannya penjelasan banding (rival explanation).

          Penelitian ini menggunakan triangulasi teori dan triangulasi sumber, untuk

   mengetahui upaya masyarakat pemukiman kumuh dalam meningkatkan

   pemenuhan kebutuhan hidup di perkampungan melarat Jl Pekojan Johar,

   Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah , Jawa Tengah.

8. Teknik Analisis Data

      Tindakan analisis data dilakukan secara terus menerus dari awal hingga akhir.

Berdasarkan fenomena yang terjadi, di daerah tersebut data dapat diperoleh dari dua

sumber yakni data dari subyek (emik) dan data hasil pengamatan penulis (etik). Data

atau informasi yang diperoleh dari masing-masing sumber disusun berdasarkan

golongan, tema, pola, dan sekaligus diberi makna. Selanjutnya diadakan interpretasi
yakni dengan menjelaskan gejala-gejala yang ada mencari keterkaitan antara gejala-

gejala tersebut yang telah ditemukan di lapangan.

       Fenomena masyarakat pemukiman kumuh, diusahakan bisa dicari melalui

informan yang dianggap tahu dan dijadikan sebagai data informan, penulis mencari

data sendiri dengan cara melakukan pengamatan langsung. Informasi dari subyek dan

data hasil penulis telah terkumpul. Setelah itu dicek dan recek antara data dari

subyek dan data pengamatan untuk dicari sintesisnya atau benang merahnya. Dari

hasil sintesis tersebut, kemudian dijadikan tulisan sementara. Hal ini, karena

terutama bila suatu saat terjadi penambahan atau perubahan, dan kedua karena

adanya penambahan-penambahan, setelah merasa cukup tidak terdapat perubahan-

perubahan dan penambahan maka dijadikanlah tulisan akhir.

 Model analisis data akan disajikan dalam bagan seperti dibawah ini

           Teknik Analisis Data


              Pengumpulan                           Penyajian
                  data                                data




                 Reduksi                            Kesimpulan
                  data                         Penggambaran/verifiksi
                                       BAB IV

                  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Gambaran Umum Gelandangan di Kota Semarang.

         Kota Semarang sebagai Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda

   dengan kota-kota lain di Indonesia, yang tidak bisa menyangkal kenyataan atas

   keberadaan golongan masyarakat yang sering disebut dengan istilah kaum

   gelandangan. Walaupun secara fisik keberadaan mereka di lingkungan perkotaan,

   akan tetapi kehadiran mereka belum secara untuh dapat diterima sebagai bagian

   dari lingkungan sosial budaya kota Semarang. Gelandangan sebagai salah satu

   kehidupan yang berbeda dengan kehidupan kota yang “resmi”, cenderung

   ditempatkan dalam posisi yang kurang diuntungkan, bahkan dipandang sebagai

   suatu kehidupan yang bercitra negatif

         Upaya-upaya untuk memecahkan permasalahan gelandangan juga sudah

   banyak dilakukan, baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta

   seperti Dinas Sosial Propinsi sebagai aparat Gubernur, Dinas Sosial Pemerintah

   kota sebagai aparat Walikota, kantor wilayah Departemen Sosial Republik

   Indonesia sebagai aparat menteri sosial dan lembaga swadaya masyarakat, Dinas

   Sosial juga mempunyai data jumlah para gelandangan serta para pemulung yang

   ada di wilayah Semarang. Pada tahun 2004 jumlah keseluruhan kurang lebihnya

   ada 1.041 orang, data tersebut sewaktu-waktu dapat berubah, dibawah ini dapat

   kita lihat perincian data yang diperoleh dari Dinas Sosial antara lain :
                No Kecamatan            Jumlah
                1    Mijen              30
                2    Gunungpati         10
                3    Smg Selatan        105
                4    Banyumanik         51
                5    Gajahmungkur       12
                6    Genuk              41
                7    Pedurungan         27
                8    Gayamsari          57
                9    Smg Timur          95
                10   Candisari          30
                11   Tembalang          15
                12   Smg Utara          81
                13   Smg Tengah         263
                14   Smg Barat          67
                15   Tugu               30
                16   Ngaliyan           27
                     Jumlah             1.041


        Tabel 1. Data Umum Gelandangan di Kota Semarang.


     Ada beberapa upaya pemecahan masalah gelandangan yang dilakukan oleh

lembaga-lembaga diatas relatif sama yaitu upaya secara persuasive, represif,

kuratif dan preventif. Preventif merupakan upaya yang dilaksanakan secara

terorganisir yang meliputi penyuluhan, bimbingan, latihan pendidikan,

pemberian bantuan, pengawasaan, pembinaan lanjut, serta latihan ketrampilan.

Upaya represif dilakukan untuk mengurangi atau mencegah adanya gelandangan

yaitu dengan cara razia, penampungan dan pelimpahan: sedangkan upaya kuratif
dilakukan mulai dari motivasi, bimbingan, latihan keterampilan sampai dengan

pembinaan lanjut kepada gelandangan agar dapat hidup mandiri dalam

masyarakat.

     Kita lihat secara teoritis maupun pada tatanan praktek upaya yang

dilakukan oleh instansi pemerintah ataupun swasta sangat maksimal, sehingga

tidak ada salahnya bila pemerintah kota Semarang / Propinsi mengklaim telah

mengentaskan banyak gelandangan melalui program-program pengentasan yang

ada. Namun demikian tidak sedikit gelandangan yang telah ikut program itu

kemudian kembali lagi menggelandang, hal itu diakibatkan program-program

yang dilakukan atau ditawarkan kurang menyentuh kebutuhan mereka..

     Kenyataan di atas tidak lepas dari persepsi yang kurang sesuai tentang

gelandangan, yang mana gelandangan mempunyai arti orang yang tidak tentu

tempat tinggalnya, pekerjaannya, dan arah tujuan kegiatannya. Persepsi tersebut

sebenarnya kurang sesuai atau kurang menggambarkan kenyataan yang ada

karena kaum gelandangan sebenarnya mempunyai pekerjaan yang relatif tetap

dan tujuan kegiatannya yang jelas dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pernyataan yang diatas sesuai dengan konsep yang dikemukakan oleh Muttalib

dan Sujarwo dalam Argo Twikromo (1996:6), gelandangan diartikan sekelompok

orang miskin atau dimiskinkan oleh masyarakat, orang yang disingkirkan dari

kehidupan khalayak ramai, dan merupakan cara hidup agar mampu bertahan

dalam kemiskinan dan keterasingan. Konsep tersebut juga sesuai dengan obyek

penelitian yang peneliti gunakan sebagai informan, yang mana peneliti

melakukan penelitian di daerah pekojan kanjengan/pinggiran kali/sungai
   pekojan-jagalan kota Semarang. Semua informan memiliki pekerjaan yang relatif

   tetap yaitu sebagai pemulung dan mereka juga memiliki tujuan hidup yang jelas.

   Walaupun demikian peneliti tidak bisa memungkiri bahwa banyak juga

   gelandangan kota Semarang yang berprofesi sebagai pencuri, penjambret,

   pengemis, pekerja seksual, pengamen, penyemir dan sebagainya.

B. Gambaran Umum Daerah Penelitian

   1. Letak dan Luas Kelurahan Jagalan

             Kelurahan Jagalan termasuk wilayah Kecamatan Semarang Tengah,

      Kota Semarang, Propinsi Jawa Tengah, menurut letak adminitratif kelurahan

      Jagalan memiliki batas-batas sebagai berikut sebelah utara berbatasan dengan

      kelurahan Purwodinatan, sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan

      Karangkidul, sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Gabahan, sebelah

      timur bersebelahan dengan Kecamatan Semarang Timur. Jarak kelurahan

      Jagalan dengan pusat pemerintahan cukup dekat, jarak dari pusat

      Pemerintahan Kecamatan 1 Km (satu kilometer), kelurahan Jagalan dengan

      jarak dari pusat Pemerintahan Kota Administratif belum diketahui itu diambil

      dari data yang ada dikelurahan Jagalan, jarak dengan Pusat Pemerintahan

      Kota Semarang 2 Km (dua Kilometer), jarak dengan Ibukota Propinsi Dati I 3

      Km (tiga Kilometer), jarak dengan Ibukota Negara 500 Km (lima ratus

      Kilometer). Sedangkan kondisi Geografis kelurahan Jagalan yaitu ketinggian

      tanah dari permukaan laut sekitar 2 M, banyaknya curah hujan 500Mm/Thn,

      Topografi pada kelurahan ini dataran rendah, suhu udara rata-rata 22-32 C.
2. Sejarah Terjadinya Pemukiman Gelandangan.

            Berbicara mengenai latar belakang sebuah wilayah, kita tidak bisa

   menafsirkan faktor sejarahnya. Begitu juga dengan kelurahan Jagalan yang

   merupakan salah satu dari berbagai pemukiman kumuh yang ada di kota

   Semarang ini.

            Berdasarkan hasil penelitian ini yang didukung dengan informan yang

   dapat dipercayai kevalitannya yaitu seseorang yang pertama kali membuat

   pemukiman kumuh yang letaknya dari ujung pertokoan pekojan, dulunya

   daerah tersebut berupa ilalang-ilalang liar dan belum diaspal seperti ini,

   seseorang tersebut menebangi rumput-rumput liar tersebut dan dijadikannya

   tempat tinggal sementara namun pada kenyataannya sampai sekarang malah

   dengan bertambah para pendatangnya yang mempergunakan tempat tersebut

   untuk tempat tinggal yang terbuat dari kardus dan plastik kalaupun ada

   papan-papan.

3. Kependudukan

            Jumlah penduduk kelurahan Jagalan pada bulan juni akhir berjumlah

   15.285 orang, dan ada 1.653 orang kepala keluarga, namun jumlah tersebut

   dipisah-pisah menurut jenis kelamin, laki-laki: 3.696 orang, perempuan :

   3.120 orang, kewarganegaraan WNI ada 6.714 orang, serta WNA ada 102

   orang.

4. Tingkat Pendidikan

            Keadaan pendidikan masyarakat kelurahan Jagalan dibagi menjadi

   dua bagian, bagian pertama yaitu lulusan pendidikan umum : Perguruan
      Tinggi atau Akademi ada 618 orang; SLTA ada 986 orang; SLTP ada 1.366

      orang; SD ada 1.008 orang; belum/ tidak tamat SD 1.023 orang; Belum

      sekolah ada 955 orang, bagian yang kedua yaitu SFMA dan SFMP menurut

      data dari kelurahan Jagalan belum ada datanya.

   5. Jumlah Pendudukan Menurut Agama

             Kelurahan Jagalan ada berbagai macam jenis agama yang dianut oleh

      masyarakat setempat antara lainnya : agama Islam ada 2.318 orang, agama

      Kristen ada 1.325 orang, agama Khatolik ada 1.282 orrang, agama Hindu ada

      715 orang, agama Budha ada 1.152 orang. Itu keseluruhan agama yang ada di

      kelurahan Jagalan, dapat dilihat bahwa mayoritas agama masyarakat tersebut

      ialah agama Islam walaupun daerah tersebut daerah Pecinan.

   6. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

             Penduduk kelurahan Jagalan bermata pencaharian antara lain :

      Wiraswasta ada 317 orang, sedang karyawan ada 2.625 orang, pertukangan

      ada 85 orang, sebagai jasa ada 10 orang, pengusaha ada 4 orang, TNI/ POLRI

      ada 5 orang, pedagang ada 142 orang, industri atau buruh ada 464 orang, dan

      yang bekerja lain-lain ada 102 orang.



C. Kasus Pendidikan Keluarga Gelandangan

  Temuan Informan Di Lapangan

   1. Informan kesatu

             Am (43 tahun) adalah inisial kepala keluarga I, Am lahir di

      Cerobonan    kampung Melayu dan sekarang tinggal di pinggiran sungai
dipekojan sekitar daerah johar selama 10 tahun. Pendidikan Am Sekolah

Dasar tidak tamat, kelas 4 (empat) keluar dikarenakan terbentur biaya orang

tua yang tidak mampu untuk menyekolahkan. Dan pak Am ini sudah

berkeluarga dengan ibu Sy (35 tahun), Am dikarunia 2 orang anak. Sehari-

hari Am bekerja sebagai pemulung, dari hasil kerja Am mampu

mengumpulkan uang Rp 20.000, namun itu juga belum pasti.

       Perhatian pak Am terhadap pendidikan anak pada zaman sekarang ini

juga tidak kalah pentingnya dengan orang tua pada umumnya walaupun pak

Am ini seorang pemulung yang seharusnya tidak menghiraukan akan

pendidikan, namun pada kenyataannya pak Am sangat memperhatikan akan

pendidikan anaknya. Perhatian tersebut dengan menitipkan anaknya tersebut

dengan neneknya. Pak Am berharap bahwa neneknya tersebut lebih mampu

untuk membimbing dan mengawasi anaknya tersebut, pada waktu pak Am

dan ibu Sy mencari nafkah untuk biaya hidup dan biaya sekolah anaknya,

namun pak Am juga mempunyai alas an mengapa anaknya tidak bersama pak

Am pada sekarang ini yaitu dikarena kondisi lingkungan yang begitu ramai

dan tidak selayaknya seorang anak tinggal ditempat seperti itu. Sebetulnya

rumah neneknya tersebut tidak jauh dengan lingkungan dimana pak Am

tinggal sekarang ini jadi pak Am dapat sering pulang kerumah sehingga ia

bisa memberikan nasehat-nasehat untuk memberikan motivasi atau memberi

semangat agar anak belajar dengan rajin baik dirumah maupun di sekolah.

Untuk memotivasi ditunjukkan Am dengan cara bila anaknya mendapat

rangking ia akan memberikan hadiah, Am berkata :
 Gambar 1. Wawancara dengan responden I

    “ Ya, kita sebagai orang tua, kita…..ya nak kamu belajar bagus dapat
rangking saya belikan…..belikan apa pak? Sepeda, kalau nggak naik……ya
tidak saya belikan apa-apa. Sebagai orang tua semboyan orang tua “anak
pinter dapat rangking”, pinter pasti orang tua punya cita-cita. Nak kamu
sekolah yang pinter dapat rangking nanti saya belikan……apa pak? Ya
sepeda.


       Sebagaimana lazimnya anak pak Am juga memberi kesempatan

kepada anak untuk bermain, berkumpul bersama teman-temannya sekolah

dan lingkungan sekitarnya bila anak tersebut ikut sama pak Am dan ibu Sy,

karena memang kadang-kadang anaknya juga pingin ikut dengan orang

tuanya ya pak Am menjemput atau om-nya yang mengantarkan kerumah pak

Am. Pak Am berpandangan lingkungan gelandangan juga ikut berpengaruh

terhadap perkembangan si anak namun juga pak Am juga tidak menutup

kemungkinan untuk memperbolehkan anaknya untuk bermain dengan teman-

temannya yang ada dilingkungan rumah pak Am, karena pak Am mempunyai

pendapat bahwa tergantung bagaimana cara mendidik anak dan juga
   tergantung bagaimana cara bergaul anak. Dalam hal membiayai sekolah pak

   Am tidak begitu mendapat masalah karena anak mendapatkan bea siswa dari

   pihak sekolahan.

          Perjuangan sehari-hari pak Am untuk mencari biaya hidup dan biaya

   untuk sekolah anaknya memanglah sangat berat, kerjanya itu dimulai dari

   rumah mulai jam 8 pagi. Untuk menghemat waktu, tenaga, belum lagi harus

   bersaing dengan teman-temannya yang seprofesi untuk mendapatkan tempat

   yang enak dan hasil yang banyak ia harus pulang sore kadang-kadang pak

   Am juga harus pulang malam. Pak Am menjelaskan bahwa :

   “Nggeh persaingan, wong jenenge pumulung istilahe adu nasib, nek nasibe
   sae nggeh angsale buangan nopo nggeh…nggeh sanget langsung wangsul,
   nek mboten angsal nggeh mubeng mawon, nek pun sepen nggeh wangsul
   mbak…”


          Setiap hari pak Am harus membanting tulang dibawah terik matahari,

   kehujanan, mencari barang yang masih laku dijual untuk mempertahankan

   hidup dan keluarganya, dan semboyan Am adalah “waktu adalah uang”.

          Hubungan dengan aparat desa dan masyarakat sekitar hampir tidak

   ada masalah dan tidak dipermasalahkan, karena ia tidak pernah membuat

   onar dan membuat cemar, Am menjelaskan bahwa :

      “ Nggeh gampangane mboten dipermasalahkan, istilahnya kita
      menempati tidak membuat onar, kita tidak memberi cemar”. Ia juga tidak
      pernah dipungut biaya selama tinggal disitu, justru pihak kelurahan dan
      masyarakat setempat mendukung (itu anggapan pak Am).

2. Informan ke dua

          Sy (35 tahun) adalah istrinya pak Am yang lahir di Demak.

   Pendidikan ibu Sy ialah sama dengan suaminya yaitu tidak tamat Sekolah
   Dasar (kelas lima keluar). Selain sebagai ibu rumah tangga Sy juga

   membantu suami mencari nafkah yaitu bekerja dengan pak Bandi (bosnya

   pemulung), pak Bandi ialah seseorang yang menampung barang-barang yang

   dipungut dengan para pemulung dilingkungan sekitar.

           Pandangan ibu Sy terhadap anak bahwa anak tidak mempunyai nilai

   ekonomi atau untuk dijual / dimanfaatkan tenaganya, karena anak masih kecil

   biarkan dia menikmati masa anak-anaknya dan sekolah. Anak akan ikut apa

   kata orang tua, orang tua menyuruh mengerjakan sesuatu anak akan

   mengerjakan, akan tetapi kalau orang tua tidak menyuruh anak akan diam

   saja.

           Menurut Sy tanggapan masyarakat sekitar terhadap keberdaan

   gelandangan ada yang sinis dan ada yang tidak mau tahu tentang keberadaan

   mereka. Ada juga yang masyarakat sekitar merangkul atau bergaul dengan

   komunitas    gelandangan.    Kebersamaan    dan   kekompakan     ditentukan

   gelandangan pada saat perayaan 17 Agustus. Walaupun dengan alakadarnya

   dan dengan iuran setiap keluarga Rp 500,00 kemudian dibelikan kerupuk,

   pulpen mereka juga ikut merasakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia.

3. Informan ke tiga

           Hr (35 tahun) adalah inisial kepala keluarga II, lahir di Klaten dan

   juga ikut tinggal di pemukiman pak Am, sama juga dengan pak Am, pak Hr

   ini sudah 10 tahun bertempat tinggal di daerah tersebut. Pendidikan sekolah

   dasar tidak tamat, juga disebabkan karena ketidak mampu orang tua untuk

   membiayai sekolah. Pak Hr statusnya sudah mempunyai istri dari perkawinan
tersebut dikaruniai satu orang anak laki-laki. Pekerjaan pak Hr sebagai

pemulung, rata-rata upah tiap hari yang diterima ialah Rp. 20.000.

       Perhatian besar terhadap pendidikan diberikan orang tua pada anak

sebagai generasi penerus keluarga terbukti dengan tamatnya anak satu-

satunya pada Sekolah Tingkat Menengah. Pak Hr menitipkan anaknya di desa

dengan neneknya, pak Hr menitipkan anaknya di desa supaya tidak

terpengaruh dengan pergaulan bebas kota, supaya jadi anak baik dan soleh,

pak Hr menjelaskan bahwa :

“ ya mungkin, anak saya sekolah dides agar tidak sama disini pergaulannya
itu bebas dikota, jadi anak yang baik dan soleh.”


       Pengawasan juga dilakukan, setiap 2 (dua) minggu sekali ia pulang

bergantian dengan istrinya. Dalam membiayai anaknya Hr bergotong royong

dengan istrinya, karena istrinya juga ikut mencari nafkah, pak Hr juga

menjelaskan :




             Gambar 2. Wawancara dengan responden II
       ”ya itukan demi masa depan anak, susah apapun akan saya usahakan agar
   kelak masa depan anak saya biar seperti orang-orang lain, itu tekat saya”.


          Mewujudkan keinginannya, setiap hari ia bekerja sebagai pemulung

   sama halnya dengan pak Am namun pak Hr berangkat jam 3 sore dan

   pulangnya sekitar jam 9 atau 10 malam itu kalau badan masih kuat.

          Menurut Hr pandangan masyarakat sekitar terhadap keberadaan

   gelandangan tidak dipermasalahkan. Keberadaan mereka disana atas

   sepengetahuan pihak kelurahan walaupun tidak resmi. Mereka juga tidak

   pernah dipungut biaya.

4. Informan ke empat

          R (33 tahun) adalah inisial istri pak Hr, yang lahir di kabupaten

   Klaten. Pendidikan R sekolah dasar tidak tamat, selain sebagai ibu rumah

   tangga juga membantu Hr bekerja sebagai buruh rumah tangga.

          Dukungan terhadap pendidikan anak ditunjukkan dengan menitipkan

   anak kepada neneknya yang ada di desa Klaten, anaknya dititipkan semenjak

   masih sekolah dasar kelas 4 (empat) sampai sekarang sudah lulus Sekolah

   Tingkat Menengah, agar tidak terpengaruh dengan lingkungan gelandangan.

   Pandangan R terhadap anak, merasa kasihan dan tidak enak apabila ada anak

   yang dipekerjakan oleh orang tuaya untuk mencari uang. R berpendapat

   bahwa pekerjaan mencari uang ialah kewajiban orang tua sedang anak

   tugasnya sekolah dan bermain. R menjelaskan :

      “yo, ojo mbak men wong tuwone wae seng kerjo rekoso ora popo, seng
   penting anak’e sekolah wae”. ( ya jangan mbak biar orang tuanya saja yang
   bekeja berat tidak apa-apa, yang penting anak sekolah saja)
5. Informan ke lima

         Ah (18 tahun) adalah inisial seorang remaja laki-laki putra keluarga II.

   Pendidikan STM, sekarang sudah lulus dari STM ia anak satu-satunya

   keluarga Hr. Dukungan penuh dari kedua orang tua terhadap pendidikannya

   sehingga membuat Ah belajar giat dan penuh semangat. Selama belajar di

   Klaten, selain mendapat bimbingan dan arahan dari orang tua, Ah juga

   mendapat bimbingan, pengawasan dan pengarahan dari pak dhenya, mbak

   ponakannya, serta neneknya. Kebebasan yang diberikan anak untuk bermain

   dan bergaul dengan teman-temannya, Ah menjelaskan :




            Gambar 3. Wawancara dengan anak responden II

   “ kadang ada, ada waktu untuk bermain dan ada waktu untuk belajar”.

         Menurut pandangan Ah hidup di Semarang lebih enak karena ramai

   kalau didesa sepi, selain itu di Semarang ada orang tua yang langsung

   membimbing dan mengawasi.

         Selama sekolah di STM Negeri Klaten, ia juga pernah mendapat

   rangking, meskipun tidak dapat bea siswa dari sekolahan. Keinginan untuk
   maju, berkembang dan mewujudkan cita-cita kedua orang tua merupakan

   motivasi tersendiri bagi dirinya.

6. Informan ke enam

          Jt (37 tahun) adalah inisial kepala keluarga ke III, yang lahir di

   Mojokerto jawa timur. Jt tinggal di pinggiran sungai daerah Pekojan

   kelurahan Jagalan, sudah 3 tahun ia bertempat tinggal disitu, sebelumnya

   tinggal di barutikung dan mrican. Pendidikan pak Jt adalah Sekolah Dasar itu

   juga tidak tamat. Pekerjaan tiap harinya ialah sebagai pemulung dan rata-rata

   penghasilannya Rp. 20.000. Dan pak Jt sudah berkeluarga dan mempunyai 2

   (dua) orang anak, anak yang pertama dititipkan di desa dan anak yang kedua

   ikut pak Jt dan ibu Jm.

          Dukungan terhadap pendidikan anak ditunjukkan dengan adanya

   pemahaman tehadap pentingnya pendidikan, sehingga sebagai orang tua ia

   rela berkorban apa saja demi anaknya. Nasehat-nasehat juga diberikan untuk

   memotivasi belajar anaknya. Menurut pandangan Jt tentang adanya orang tua

   yang memperkerjakan anaknya untuk mencari uang tidak setuju, karena anak

   masih kecil, harus sekolah dulu dan belajar dulu. Walaupun anak yang

   pertama ikut neneknya di desa, namun semua biaya sekolah ditanggung orang

   tua. Beruntunglah kedua anaknya mendapatkan bea siswa sehingga sedikit-

   sedikit meringankan pak Jt dalam hal pemenuhan biaya sekolah anak.

          Keberadaan         gelandangan   dipinggir   sungai   pekojan    tidak

   dipermasalahkan pihak kelurahan dan masyarakat setempat, hal itu

   ditunjukkan situasi daerah pekojan selama ini aman-aman saja dan tidak
   pernah ada warga ataupun aparat desa yang melakukan penggusuran terhadap

   mereka.

7. Informan ke tujuh

          Jm (39 tahun) adalah inisial istri Jt, yang lahir di Semarang,

   penddikannya terakhir kelas 5 (lima) Sekolah Dasar tidak tamat. Aktivitas

   sehari-hari Jm sebagai ibu rumah tangga. Dengan keseharianya berada di

   rumah Jm selalu mengawasi, membimbing dan memotivasi anak untuk giat

   belajar sebagai wujud dukungan orang tua terhadap pendidikan anak-

   anaknya. Jm mengatakan :

   “ya gini mbak, kenekan akeh bocah cilik, nek mbengi yo tak kon sinau rak
   ketang sedelok, bar kuwi yo dolan mbak, karang bocah cilik”.
   ( ya gini mbak, disinikan banyak anak kecil, kalau malam saya suruh belajar
   walaupun itu hanya sebentar setelah itu bermain lagi mbak, karena anak
   kecil).

          Jm memandang anak itu tugasnya belajar, sekolah maka ia tidak

   setuju kalau anak kecil harus bekerja mencari nafkah untuk membantu orang

   tua.

8. Informan ke delapan

          Dw (8 tahun) adalah inisial dari anak laki-laki keluarga ke III,

   sekarang masih sekolah dasar duduk di bangku kelas 2 (dua), ia anak nomor 2

   dari keluarga Jt. Dukungan penuh dari orang tua pada pendidikannya

   membuat semangat tersendiri bagi Dw. Ia tidak pernah tinggal kelas

   sekalipun meskipun tidak mendapat rangking. Selama belajar ia tidak pernah

   mengalami kesulitan belajar karena ibunya terus membimbing dalam belajar.

   Teman bermain Dw adalah anak-anak sekolah semua tidak ada yang bekerja
   untuk membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan mereka.

9. Informan ke sembilan

          Sr (50 tahun) adalah inisial dari kepala keluarga IV yang lahir di

   Gubuk Purwodadi, agama Islam. Sr juga tinggal di pemukiman daerah

   pekojan pinggiran sungai yang ikut kelurahan Jagalan, pak Sr sudah 24 tahun

   bertempat tinggal di daerah tersebut. Pekerjaan sehari-hari sebagai tukang

   becak yang penghasilan tiap harinya rata-rata Rp. 20.000 sampai Rp. 30.000,

   dulunya pak Sr juga berkerja seperti pak Am dan pak Hr sebagai pemulung

   namun dengan menabung dan adanya sedikit uang jadi dibelikannya becak.

          Perhatian dan harapan besar pada anak mendorong orang tua untuk

   mendidik anak dengan sebaik-baiknya, hal itu ditunjukkan oleh Sr yang tidak

   ingin anak-anaknya yang masih kecil sudah bekerja seperti halnya jual koran,

   ngamen dan minta-minta di Traffigh Light. Sr menjelaskan :




               Gambar 4. Wawancara dengan responden IV
       “tidak, semua usahanya orang tua, semua usaha saya sendiri. Masih kecil
   kok mbak, kan kasihan lagian mau kerja apa? Ya kan memandang
   bocah”.Bocahkan belum berpengalaman lagian saya tidak mempunyai
   pikiran seperti itu. Saya cuma berfikir moga-moga anak saya bisa sekolah
   dan bisa tutuk nek (selesai) sekolah dan saya, masalah gawean iku difikir
   mengko”.


         Lingkungan gelandangan Sr tidak terlalu memikirkan pengaruhnya

  terhadap perkembangan anak. Meskipun di desa ia punya saudara, Sr tidak

  mau anak-anaknya dititipkan pada saudaranya di desa yang lebih mampu

  membimbing anak-anaknya. Gelandangan pun ingin berubah hal itu

  ditunjukkan oleh Sr yang semula juga bekerja sebagai pemulung sama

  dengan teman-temannya. Karena kegigihan, keuletan dan keprihatinan Sr

  dalam bekerja, dia bisa mengumpulkan uang untuk membeli becak.

         Sungai dan jalan pekojan dilebarkan Sr sudah menetap di sana, selama

  itu pula belum ada masalah dengan pihak kelurahan maupun masyarakat

  sekitar tentang keberadaan gelandangan. Pihak kelurahan juga tahu

  keberadaan mereka dan tidak pernah memungut biaya untuk tinggal.

10. Informan ke sepuluh

         Sa (28 tahun) adalah inisial dari istri pak Sr yang lahir di Gubuk

   Purwodadi, pekerjan sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga dikarenakan

   kurang lengkapnya anggota tubuh ibu Sa, dengan kondisi seperti inilah yang

   menyebabkan ibu Sa malu untuk keluar-keluar rumah. Dukungan terhadap

   pendidikan anak ditunjukkan dengan adanya pemahaman orang tua terhadap

   pendidik. Sebagai orang tua Sa selalu menasehati agar anak merasa

   diperhatikan sehingga termotivasi untuk belajar dengan rajin. Ia juga tidak
   mempunyai keinginan untuk mempekerjakan anak untuk mencari uang

   dijalan. Lingkungan gelandangan di pekojan menurut Sa tidak ada pengaruh

   terhadap pendidikan anak, karena       lingkungan   gelandangan dengan

   lingkungan di luar sama saja. Tidak ada pengaruh terhadap pendidikan anak,

   karena lingkungan gelandangan dengan lingkungan di luar sama saja

11. Informasi ke sebelas




          Gambar 5. Wawancara dengan anak dari responden IV

         Md (7 tahun) adalah inisial dari anak pertama dari SR yang lahir di

  Semarang, agama Islam, pendidikan sekolah dasar sekarang duduk di kelas 1

  (satu). Perhatian besar yang diberikan pada pendidikannya menjadi motivasi

  tersendiri bagi Md untuk belajar dengan giat baik disekolah maupun dirumah.

  Kegigihannya sudah membuahkan hasil ketika pada penerimaan rapot ia

  mendapat rangking walaupun kadang juga ada kesulitan dalam belajar dan

  diantara teman-teman Md tidak ada yang dipekerjakan oleh orang tuanya

  untuk membantu mencari nafkah. Setelah besar nanti Md bercita-cita ingin

  menjadi guru.
C. Pembahasan.

 1. Pandangan Tentang Anak.

         Hasil penelitian di lapangan adalah gelandangan memandangan anak

    adalah sesuatu yang sangat berharga karena anak merupakan :

    a. Anak merupakan generasi penerus keluarga

             Guna mencegah atau paling tidak meminimalisir gangguan yang

       dapat timbul pada perkembangan anak, merupakan tanggung jawab kita

       semua sebagai orang tua dan orang dewasa. Merekalah nantinya yang

       menjadi penerus generasi keluarga, agar kelak keluarga tersebut dapat lebih

       maju serta dapat mewujudkan cita-cita mereka. Serta yang menjadi penentu

       keberhasilan pendidikan anak adalah para orang tua atau orang dewasa lain

       yang berkewajiban dan bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak.

             Diharapkan orang tua mempunyai niat keras untuk melihat anak-

       anaknya maju dalam hidup mereka. Hal tersebut menjadi motivasi kuat

       untuk mendidik dan membina anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya.

       Adalah hal yang wajar jika orang tua mengharapkan anak-anak mereka

       maju. Bahkan orang tua yang baik ingin melihat anak-anaknya lebih maju

       dari pada dirinya sendiri. Karena ingin melihat anak-anaknya, maka orang

       tua harus mempunyai perhatian yang lebih besar kepada anak-anaknya.

             Perhatian tersebut dengan membekali anak dengan kecerdasan,

       ketrampilan, dan kemauan, semangat yang dilandasi iman dan taqwa,

       karena membina anak tidak cukup hanya memberi mereka makan yang

       cukup, pakaian yang pantas, tempat berteduh yang memadahi, selain itu
semua yang ada diatas maka satu hal yang jauh lebih penting yaitu orang

tua juga harus membekali anak dengan pendidikan baik pendidikan formal,

pendidikan non formal, serta pendidikan informal.

     Umumnya ada dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan

dan pertumbuhan anak yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor

genetik merupakan faktor yang merupakan modal dasar dalam mencapai

hasil akhir proses tumbuh dan bekembang anak atau faktor bawaan / bakat

yang dapat dicapai anak dalam masa-masa perkembangan. Sedangkan

lingkungan merupakan faktor yang menentukan apakah bakat atau bawaan

dapat dicapai atau tidak, apabila anak hidup dalam lingkungan yang baik

akan sangat mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan anak

secara optimal, sebaliknya apabila anak hidup dalam lingkungan yang tidak

baik akan menghambat proses petumbuhan dan perkembangan anak.

     Perlu juga diperhatikan dalam membentuk anak agar tumbuh dan

berkembang sesuai dengan apa yang kita harapkan adalah dengan jalan kita

harus mengetahui apa sebenarnya kita butuhkan oleh anak. Pada dasarnya

ada tiga aspek kebuthan dasar anak: (1)Pengasuhan sangat diperlukan

karena untuk memberikan ketenangan batin bagi anak, disamping itu juga

menciptakan hubungan emosional yang mendalam antara orang tua dan

anak; (2)Kasih sayang dan perhatian dari orang tua dan anggota keluarga

yang lain akan menciptakan ikatan batin yang erat, yang merupakan faktor

yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan

anak; (3)Pengasahan, yang berupa tindakan perangsangan dan latihan-
latihan terhadap kecerdasan anak merupakan stimulasi yang berasal dari

lingkungan diluar anak. Pengasahan diperlukan untuk perkembangan

mental psiko social anak seperti budi pekerti, sopan santun, moral etika,

kecerdasan,   ketrampilan,   kemandirian,   krativitas,   kepribadian   dan

produktivitas. Mujiran (2002 : 35).

     Keberhasilan pengasuhan, kasih sayang dan pengasuhan anak akan

sangat tergantung pada kondisi keluarga, keharmonisan hubungan antara

ibu dan ayah, pendidikan keluarga, dan tingkat ketagwaan kepada Tuhan

YME menjadi faktor yang sangat mempengaruhi. Teman-teman sebaya

juga sangat berpengaruh pada perkembangan anak, karena dengan teman

sebaya anak akan membentuk sebuah ikatan social yang akan

menumbuhkan rasa solidaritas di antara teman.

     Pengaruh teman tidak bisa dilepaskan begitu saja karena mereka

dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan dalam diri anak. Kondisi

masyarakat sekitar juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi

keberhasilan dalam proses pengasuhan dan pengasahan anak. Faktor-faktor

diatas akan menjadi faktor yang mendukung proses perkembangan anak

apabila kita sebagai orang dewasa. Sebagai orang tua mampu mengarahkan

membimbing dan memdidik anak pada kehal-hal positif, kejalan yang

sesuai dengan norma, adat yang berlaku dimasyarakat.

     Selama anak belum dewasa orang tua mempunyai peranan pertama

dari utama bagi anak-anaknya. Untuk membawa kepada kedewasaan, maka

orang tua harus memberi contoh yang baik karena anak suka mengimitasi
   kepada orang tuanya. Dengan contoh yang baik, anak tidak merasa dipaksa.

   Memberikan sugesti kepada anak tidak dengan cara ditaktor melainkan

   dengan sistem pergaulan sehingga dengan senang anak melaksanakannya.

   Anak paling suka identik dengan orang tuanya, seperti anak laki-laki

   terhadap ayahnya anak perempuan terhadap ibunya.

         Antara anak dan keluarga belajar tukar menukar pengalaman

   sehingga makin banyaklah hal-hal yang diketahui tentang baik dan buruk,

   tentang hak dan kewajiban, tentang saling menyayangi, tentang hormat

   menghormati dan tentang nilai-nilai keagamaan.

b. Anak merupakan investasi masa depan orang tua.

         Hasil   penelitian   di   lapangan   yang   diperoleh,   gelandangan

   memandang pendidikan anak sangat penting sekali, kebanyakan para

   gelandangan mempunyai keinginan untuk menyekolahkan anak semampu

   mereka paling rendah di bangku SLTP, agar kelak mempunyai masa depan

   yang baik dan dapat mengangkat kehidupan orang tuanya.

         Begitu banyak harapan yang orang tua inginkan kepada anak sebagai

   penerus generasi untuk meralisasikan sema apa yang orang tua cita-citakan.

   Ini semua agar kelak nantinya orang tua di hari tuanya mempunyai

   tumpuan hidup yaitu anak. Hal ini dapat dikatakan bahwa anak merupakan

   investasi orang tua di hari tuanya.

        Orang tua jangan terlalu berharap sekali karena keberhasilan anak itu

   juga tergantung dari bagaimana cara kita dalam mendidik anak. Pada

   umumnya ada dua faktor utama yang mempengaruhi.
   c. Anak nantinya dapat membantu orang tua dalam segi ekonomi

            Gelandangan tidak memandang anak mereka mempunyai segi

      ekonomi pada usia anak masih relatif kecil antara umur 7-16 tahun.

      Memang pada usia 7-16 tahun anak dapat membantu orang tua dengan

      bekerja seperti halnya, jual koran, semir sepatu, ngamen serta minta-minta

      di traffic light, tetapi bagi anak yang masih berusia 7-16 tahun sebaiknya

      orang tua memberikan anak untuk menikamati masa kanak-kanak, karena

      pada masa ini di mana masa anak-anak tumbuh dan berkembang. Kita

      sebagai orang tua hanya bias mengawasi dan membimbing.

            Gelandang juga mengharapkan nantinya, anak yang sudah dewasa

      atau cukup umur serta berbekal pendidikan yang baik tidak hanya tamatan

      Sekolah Dasar dapat bekerja yang lebih baik dibandingkan dengan orang

      tuanya    yang   menggelandangan    serta   bekerja   sebagai    pemulung.

      Gelandangan memandang anak yang sudah dewasa serta mempunyai bekal

      pendidikan yang serta, seperti acuan oleh pemerintah yaitu Wajib Belajar 9

      tahun setidak- tidaknya mempunyai nilai tambah dalam memperoleh

      pekerjaan di banding dengan anak yang masih berusia 7-16 tahun serta

      masih duduk di sekolah dasar.

2. Pandangan Tentang Pendidikan

        Hasil   yang diperoleh dalam penelitian di lapangan           gelandangan

   memandang pendidikan formal anak sangat penting sekali karena gelandangan

   merasa pada jaman atau era sekarang ini persaingan kerja sangat berat. Yang

   diutamakan dalam penerimaan tenaga kerja saat ini, seseorang harus memiliki
bebeapa kriteria antara lain pendidikan serta seseorang harus mempunyai

keterampilan yang khusus. Gelandangan sangat sadar akan pentingnya

pendidikan bagi anak.

     Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu usaha untuk dilakukan

dengan sadar dan disengaja serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh

orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak

tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus

menerus selama hidup.

     Definisi di atas dapat dijelaskan bahwa pendidikan merupakan

(1)usaha sadar yang berarti situasi dan proses pendidikan tersebut dilaksanakan

atas kesadaran sipendidik; (2)bertanggung jawab berarti semua tindakan dan

proses pendidikan harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral

berdasarkan     kaidah-kaidah     atau     norma-norma       yang     berlaku;

(3)Disengaja berarti bahwa proses pendidikan memang disengaja direncanakan

secara sistematis dan matang; (4)Orang dewasa yang berarti bahwa

pelaksanaan pendidikan haruslah orang yang sudah dewasa. Karena pergaulan

anak dengan anak bukanlah situasi pendidikan, ada unsur pendidikan di dalam

pergaulan, unsur pendidikan disitu termasuk faktor pendidikan yaitu unsur

yang berpengaruh terhadap pendidikan anak; (5)Kedewasaan yang berarti

bahwa pendidikan bertujuan mendewasakan anak baik phisik maupun

psikologisnya; (6)Terus menerus berarti pendidikan dilaksanakan secara

berkesinambungan dan tidak ada berhentinya atau pendidikan seumur hidup.
     Pendidikan merupakan masalah yang penting dalam kehidupan, bahkan

masalah pendidikan itu sama sekali tidak dapat dipisah dari kehidupan, baik

dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan menjadi masalah penting dalam menentukan maju mundurnya

suatu bangsa.

     Pendidikan sangat dibutuhkan bagi semua lapisan, baik yang mampu

maupun tidak mampu dari segi ekonomi. Dari situlah muncul masalah

mengapa sebagian besar dari lapisan kelompok yang dari dulu menjadi masalah

masyarakat yaitu gelandangan. Rata-rata gelandangan tidak mempunyai

pendidikan yang relative setara dengan acuan pemerintah yaitu wajib belajar 9

tahun.

     Pendidikan yang tepat bagi kalangan tidak mampu maupun atau kalangan

gelandangan antaranya pendidikan yang bersifat praktis, ekonomis serta

pendidikan yang bersifat advokatif. Dilihat dari ketiga sifat pendidikan diatas

sebetulnya tiga sifat tersebut saling berkaitan maknanya. Dapat kita jabarkan

dari satu-persatu yang pertama praktis yaitu pendidikan yang bersifat cepat

dalam arti waktu yang ditempuh dalam pendidikan tidak terlalu lama, yang

kedua pendidikan yang sifatnya ekonomis yaitu pendidikan yang dari segi

biaya dapat dijangkau oleh masyarakat miskin. Sedangkan yang ketiga yaitu

pendidikan yang bersifat advokatif yaitu pendidikan yang berorientasi pada

ketrampilan atau semacam kursus.

     Seperti halnya kursus-kursus tersebut sangat membantu bagi masyarakat

seperti anak-anak dari gelandangan atau masyarakat lainnya selain dari
kalangan gelandangan. Sehingga masing-masing akan menentukan sendiri

dasar dan tujuan pendidikan.

      Tujuan pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan dirumuskan atas

dasar sikap hidup bangsa dan cita-cita negara di mana pendidikan

dilaksanakan. Sikap hidup di landasi oleh norma-norma yang berlaku bagi

semua warga negara. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan

berdaulat telah meletakkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai

dasar pendidikan. Akan tetapi rumusan tujuan dari pendidikan Indonesia dari

masa kemasa selalu berubah-ubah, hal ini terjadi tidak lain karena tuntutan

perkembangan zaman ( Ahmadi dan Uhbiyati,2001:139 )

     Rumusan tujuan pendidikan mengalami perubahan mulai dari tahun 1946

samapai dengan tahun 1983. Pada tahun 1980 Komisi Pembaharu Pendidikan

Nasional (KPPN) merumuskan tujuan pendidikan nasional yaitu “Membangun

kualitas manusia yang taqwa terhadap Tuhan YME dan selalu dapat

meningkatkan hubungan dengan-Nya; sebagai warga negara yang ber-

Pancasila mempunyai semangat dan kesadaran yang tinggi, berbudi pekerti

yang luhur dan berkepribadian yang kuat; cerdas, terampil, dapat

mengembangkan dan menguburkan sikap demokratis, dapat memelihara

hubungan yang baik antara sesama manusia dan lingkungan; sehat jasmani

maupun mengembangkan daya estetika kesanggupan membangun diri dan

masyarakat”(Soedjono dalam Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:139)

     Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1983 juga dirumuskan bahwa

“Pendidikan Nasional berdasarkan atas pancasila dan bertujuan untuk
meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kecerdasan, ketrampilan,

mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, mempertebal semangat

kebangsaan agar dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama

bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.( Ahmadi dan Uhbiyati,

2001:137).

     Berdasarkan rumusan tujuan pendidikan diatas semakin mempertegas

komitmen     pemerintah    terhadap      penyelenggaraan   pendidikan   guna

mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan

bangsa yang semakin kompetetif. Namun fenomena di lapangan berjalan lain,

kritik terhadap kegiatan pendidikan banyak bermunculan baik dari masyarakat

maupun para ahli pendidikan yang lain.

     Kritik muncul sebagai akibat ketidak mampuan kegiatan pendidikan

dalam hal ini sekolah dalam menyediakan tenaga siap pakai, sekolah banyak

menghasilkan sejumlah lulusan yang tidak dibutuhkan oleh pasar kerja.

Sekolah hanya mampu menghasilkan lulusan yang akhirnya hanya mampu

mencari lapangan kerja dan bukan lulusan yang mampu menciptakan lapangan

pekerjaan. Untuk menjawab kritikan-kritikan tersebut maka pemerintah

menetapkan dan memberlakukan Undang-undang tentang system Pendidikan

Nasional Nomor 20 tahun 2003, yang menggantikan Undang-undang

Pendidikan Nomor 54 tahun 1950, Undang-undang Pendidikan Nomor 12

tahun 1964 dan Undang-undang Pendidikan Nomor 2 tahun 1989. Dalam

Undang-undang system Pendidikan Nomor 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa

pendidikan dapat diselenggarakan melalui tiga jalur yaitu jalur pendidikan
formal (sekolah), jalur pendidikan non formal      (luar sekolah), serta jalur

pendidikan informal.

      Baik jalur pendidikan formal, non formal, maupun informal mempunyai

fungsi dan tujuan yang sama hanya berbeda pada sifat, ciri dan

penyelenggaraannya. Dalam pendidikan formal mempunyai jenjang dan dalam

unsur waktu tertentu, diadakan ditempat tertentu, teratur sistematis,

berdasarkan aturan yang resmi yang sudah ditetapkan. Pada pendidikan

nonformal, pendidikan diselenggarakan dengan sengaja, tertib dan berencana

dilaksanakan diluar pendidikan formal.

     Komponen yang diperlukan seperti tutor, pembimbing atas tutor,

fasilitator, cara atau metode penyampaian dan waktu pelaksanaan harus

disesuaikan dengan peserta didik agar dapat memperoleh hasil yang

memuaskan. Sedang pendidikan informal merupakan pendidikan yang

berlangsung di tengah keluarga yang berlangsung setiap hari tanpa ada batasan

waktu. Pada pendidikan informal kegiatannya tanpa suatu organisasi yang ketat

tanpa adanya program waktu dan tanpa adanya evaluasi. Dengan ketiga jalur

pendidikan ini diharapkan akan lebih memberikan peluang bagi program

pendidikan untuk menjalankan misi yaitu untuk memajukan kesejahteraan

umum dalam arti meningkatkan taraf hidup masyarakat. Peserta didik akan

diberikan bekal ketrampilan agar menjadi tenaga yang siap pakai dan mampu

menciptakan lapangan kerja sendiri. Hingga pada akhirnya peningkatan sumber

daya manusia yang sangat penting sebagai motor penggerak perekonomian,
sosial budaya sekaligus usaha untuk menanggulangi keterbelakangan

masyarakat akan segera terwujud.

     Merujuk pada Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 dan peraturan

Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang pembagian wewenang antara

pemerintah    pusat    dan     pemerintah    daerah,    pada      bidang   pendidikan

penyelenggaraan pendidikan diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Otonomi

pendidikan merupakan kondisi yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat

terutama para cendikiawan. Hal ini sebagai akibat semakin merosotnya mutu

pendidikan dasar dan keterbatasan dana pemerintah untuk membiayai sektor

pendidikan.

     Kelemahan        sistem    pendidikan    yang     bersifat    sentralistik   akan

mengakibatkan proses kegiatan belajar menjadi kaku sehingga kreatifitas

pendidik kurang berkembang. Banyak juga oknum-oknum yang memanfaatkan

atau menjadikan dunia pendidikan sebagai ajang bisnis atau proyek untuk uang

dari pada mengejar mutu.

     Era otonomi pendidikan diharapkan pola pendidikan yang kaku, yang

meletakkan anak didik bukan pada sektor utama (subyek) harus diubah.

Suasana yang membuat anak didik senang untuk bersekolah, kesempatan anak

didik untuk mengemukakan ide-ide harus diciptakan dalam proses kegiatan

belajar mengajar. Transparasi keuangan dalam pengelolaan pendidikan juga

harus diutamakan untuk menjaga saling kepercayaan antara pihak sekolah,

orang tua dan masyarakat. Proses pendidikan harus melibatkan orang tua dan
   masyarakat dalam penyusunan kurikulum pendidikan, karena waktu paling

   banyak anak didik justru berada di keluarga dan masyarakat.

3. Upaya Gelandangan dalam Pendidikan Anak

        Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa gelandangan atau orang

   tua yang sangat berperan dalam mendidik anak, karena keluarga faktor yang

   paling menentukan serta berpengaruh terhadap anak. Masalah lingkungan serta

   masyarakat setempat merupakan faktor yang kedua bagi pertumbuhan anak.

   Gelandangan juga berpendapat bahwa “orang tua mencari uang buat siapa

   kalau tidak untuk anaknya”. Maka dari itu sebagian besar gelandangan yang

   bertempat   tinggal   di   kampung     melarat   (sebutan     tempat    penelitian)

   menyekolahkan anaknya di desa serta ikut dengan saudaranya yang para

   gelandangan anggap lebih mampu dibandingkan mereka.

        Uraian diatas merupakan salah satu upaya dari sebagian besar

   gelandangan untuk memperbaiki taraf pendidikan keluarga mereka, karena

   dengan upaya tersebut sebagian besar gelandangan tidak menginginkan nasib

   anaknya seperti mereka orang tuanya.

        Alasan dari 4 subyek keluarga mengapa anak mereka dititipkan saudara

   yang ada di desa yaitu disamping lingkungan yang tidak baik bagi

   pertumbuhan    dan    perkembangan      serta    tempat     tinggal    yang   tidak

   memungkinkan untuk di tempati dengan anak-anak mereka disamping itu ada

   juga yang mengutarakan bahwa disini nanti tidak ada yang menjaga atau

   mendidik disebabkan dari 4 subyek ada 2 subyek keluarga yang istrinya juga

   ikut membantu dalam mencari tambahan penghasilan keluarga.
     Laun halnya dengan 1 (satu) subyek keluarga ini yang melibatkan

langsung anak mereka dalam kehidupan mereka sehari-harinya, maksud dari

kalimat tersebut yaitu keluarga tersebut tidak menitipkan anak mereka ke

saudara mereka yang ada di desa. Alasan dari subyek tersebut yaitu ongkos

untuk pulang kampung dalam satu bulanya ada beberapa kali pulang kampung,

serta subyek tersebut tidak ekonomis bila anak mereka dititipkan di desa dan

alasan yang kedua subyek bisa mendidik dan mengawasi secara langsung

terhadap perkembangan anak mereka walaupun lingkungan tersebut mereka

sadari tidak baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

     Dua upaya tersebut diatas dapat dijadikan acuan bahwasanya

gelandangan tetap berupaya bagaiman untuk menyekolahkan anak atau agar

anak tetap memperoleh pendidikan yang baik. Banyak gelandangan yang

menitipkan anaknya di desa, tetapi jika dilihat dari mutu pendidikan, di kota

mutu pendidikannya jauh lebih baik dibandingkan dengan di desa. Di kota

lebih banyak pilihan dalam segi pendidikan formal maupun pendidikan non

formal, di kota banyak dibuka lembaga-lembaga perkursusan.

     Orang tua harus memikirkan atau menentukan apa yang harus dilakukan

oleh anak setelah menyelesaikan Sekolah Lanjutan tingkat Pertama (SLTP),

andaikan harus sekolah formal di Sekolah Menengah harus memilih sekolah

yang mengutamakan pendidikan yang bersifat advokatif.

       Setelah anak menyelesaikan sekolah formal yang setara dengan anjuran

pemerintah yaitu dengan wajib belajar 9 tahun dan melanjutkan di sekolah atau

kursus sebaiknya orang tua memberi kebebasan kepada anak dalam
menentukan jurusan / keterampilan apa yang akan diambil nantinya. Dengan

memberi kebebasan tersebut anak akan merasa mendapat dorongan / motivasi

dari keluarganya. Karena orang tua mempunyai peranan yang besar bagi

keberhasilan pendidikan anak, termasuk dengan memberi anak kebebasan

untuk memilih dalam hal pendidikan non formal.

     Tingkat pendidikan orang tua memberikan warna tersendiri bagi pola

perkembangan kepribadian anak. Orang tua yang berpendidikan rendah tidak

memiliki pengetahuan dan wawasan tentang nilai arti penting pendidikan bagi

keberhasilan kehidupn anak di masa depan disamping itu mereka juga tidak

tahu bagaimana mananamkan disiplin belajar pada anak serta bagaimana situasi

sekolah. Dari uraian tersebut maka para gelandangan berupaya untuk

memberikan pendidikan formal anak yang baik dengan cara menyekolahkan

anak mereka di desa serta menitipkan anaknya ke saudara yang lebih mampu

mendidik anak mereka dibandingan dengan orang tuanya dahulu yang terbentur

dengan masalah ekonomi, namun sekarang banyak orang tua yang berfikir akan

menyekolahkan anak mereka yang lebih tinggi dari pendidikan orang tuanya

paling tidak setara dengan acuan pemerintah yaitu Wajib Belajar 9 tahun.

Karena mereka sadar bahwa pada zaman sekarang bila tidak mempunyai

pendidikan yang setara atau baik ataupun standar dengan syarat-syarat yang

diperlukan pada perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi pemerintahan

mereka tidak akan memperoleh pekerjaan yang jauh lebih baik dibandingkan

dengan orang tua mereka.
                                     BAB V

                           SIMPULAN DAN SARAN



A. Simpulan

   Bertitik tolak pada uraian bab IV maka pada bagian akhir dari tulisan ini penulis

   memberikan simpulan sebagai berikut:

   1. Pandangan Gelandangan Terhadap Anak

              Pandangan gelandangan yang bertempat tinggal di perkampungan

      kumuh daerah Pekojan ini memandang anak sebagai penerus orang tua.

      Gelandangan memandang bahwa anak memiliki segi ekonomi, namun

      gelandangan tidak menginginkan anak mereka bekerja di usia dini. Para

      gelandangan menginginkan anaknya untuk mengenyam pendidikan yang

      lebih tinggi dari orang tuanya. Serta semampu orang tua membiayai sekolah

      mereka.

              Gelandangan pada umumnya tidak setuju apabila anak mereka yang

      selayaknya sekolah malah justru bekerja membantu orang tua seperti halnya

      ngamen di traffic light, nyemir sepatu, jual koran. Para gelandangan tidak

      menginginkan hal tersebut di atas terjadi dengan anak mereka. Karena para

      gelandangan juga beranggapan bahwa pendidikan juga menentukan masa

      depan anak seperti halnya mendapatkan pekerjaan yang baik serta kehidupan

      yang lebih baik dari pada kehidupan orang tuanya sekarang ini. Disamping

      itu anak nantinya menjadi penerus generasi keluarga serta tumpuan hari tua,

      bagi orang tuanya secara tidak langsung anak merupakan investasi orang tua.
2. Pandangan Gelandangan Terhadap Pendidikan Formal Anak.

           Umumnya gelandangan sangat memperhatikan pendidikan anak

   mereka, terbukti dengan salah satu anak dari subyek yang telah berhasil di

   bangku STM (Sekolah Tinggi Menengah). Bukti inilah yang menegaskan

   bahwa para gelandangan yang bermukim di pemukiman kumuh di daerah

   Pekojan sangat mementingkan akan pendidikan anak mereka, namun ada juga

   yang anaknya tidak mau sekolah sampai tinggi, karena anak beranggapan

   bahwa orang tuanya tidak akan mampu untuk menyekolahkan sampai tinggi.

           Gelandangan pada intinya berusaha untuk menyekolahkan anak, di

   sini juga gelandangan mengharapkan ada sekolahan yang murah namun

   mutunya bagus, serta dalam hal sarana mereka mendapatkan dengan gratis.

   Nantinya para gelandangan juga mempunyai keinginan setelah anak-anak

   mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dapat melanjutkan yang

   lebih tinggi.

3. Upaya Gelandangan dalam Mendorong Anak Memperoleh Pendidikan

           Gelandangan juga mengupayakan anaknya untuk tetap sekolah

   walaupun        penuh   dengan   kesederhanaan.   Maksudnya   mereka   tidak

   menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang kualitasnya baik seperti yang

   ada di kota tetapi mereka lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di

   sekolah yang kualitasnya kurang baik, biaya pendidikan yang murah dan

   prasarana yang kurang menunjang seperti yang ada di desa. Tetapi hal ini

   sudah dirasa cukup bagi mereka untuk mengupayakan pendidikan bagi anak-

   anak mereka.
             Mereka beranggapan bahwa setelah mendapatkan pendidikan formal

     seperti yang telah diwajibkan oleh pemerintah yaitu Wajib Belajar 9 tahun,

     gelandangan membebaskan anaknya untuk mengikuti pendidikan atau

     pelatihan yang cocok bagi mereka dan yang bersifat aplikatif (langsung dapat

     dipraktekkan). Seperti halnya kursus-kursus atau pelatihan-pelatihan yang

     dianggap berguna bagi kehidupan mereka kelak dalam mencari pekerjaan

     atau bekerja.



B. Saran

     Berdasarkan hasil penelitian dilapangan yang terangkum dalam simpulan

  tersebut, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut :

  1. Pemerintah menyediakan suatu lembaga atau suatu yayasan yang

     menampung anak anak dari keluarga gelandangan atau anak anak

     gelandangan itu sendiri yang dalam yayasan tersebut memberikan pendidikan

     formal maupun informal serta didukung dengan biaya pendidikan yang cukup

     ekonomis atau dapat terjangkau bagi keluarga gelandangan.

  2. Anak-anak dari keluarga gelandangan atau anak-anak gelandangan tersebut

     diberikan pendidikan yang besifat advokatif.

  3. Para gelandangan harus memikirkan anaknya walaupun sekarang mereka ikut

     dengan saudara yang ada di desa, karena akan lebih baik anak tersebut ikut

     orang tuanya sendiri. Sehingga orang tua tersebut dapat melihat

     perkembangan anak secara langsung terhadap pertumbuhan anak
4. Gelandangan harus mengedepankan pendidikan anaknya, karena pendidikan

   anak jauh lebih penting dibandingkan dengan kebutuhan yang lain.

   Pendidikan di sini tidak hanya pendidikan formal saja, tapi juga non formal.
                             DAFTAR PUSTAKA


Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati,2001,”Ilmu Pendidikan”,Jakarta : Rineka Cipta.

Biro Pusat Statistik, 1980, Pertumbuhan dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta:
       BPS.

Cooley, 1980, “Bimbingan dan Pembinaan Keluarga”, Departemen Pendidikan dan
      Kebudayaan.

Dirjen Dikti, 1983/1984

Emmy Budiartati, 1994, Pelaksanaan Pendidikan Keluarga di Lingkungan
    Masyarakat Gelandangan, Jurnal PLS Semarang, IKIP.

Jang A. Muttalib dan sadjarwo, 1988, “Gelandangan dalam Kancah Revolusi”,
      Jakarta, LP3ES.

Ki Hajar Dewantara, 1977, “Bagian Pertama Pendidikan”, Yogyakarta: Majelis
      Luhur Persatuan Taman Siswa.

Lexy.J. Moloeng, 1998,”Metode Penelitian Kualitatif”, Bandung:Remaja Rosda
       Karya.

Markum, 2002, “Pernik-pernik Pendidikan”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

M. D. Raharjo, 1988, “Potensi Sumber Daya”, Jakarta:LP3ES.

Ny. Saparinah Sadli, 1988, “Perilaku Gelandangan”, Jakarta : LP3ES.

Paulus Mujiran, 2002, “Pernik-Pernik Pendidikan”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sayadiman Suryohadiprojo, 1987,” Menghadapi Tantangan Masa Depan”, Jakarta:
      PT Gramedia.

Siti Rahayu Haditono,et.all, 1987, “Psikologi Perkembangan, Pengantar dalam
       Berbagai Bagiannya”, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Sungaripan, 2000, Hubungan Pendidikan dalam Keluarga dan Motivasi Belajar
       Terhadap Prestasi Belajar Elektronika Siswa Kelas II SLTP Negeri I Winong
       Kabupaten Pati. Skripsi. Strata I Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, FT
       UNNES Semarang, Tidak di Terbitkan.

Soetjipto Wirosardjono, 1988, “Gelandangan         dan    Pilihan     Kebijaksanaan
        Penanggulangan”, Jakarta: LP3ES.
Umar Khayam, 1988, “Mengapa Hidup Menggelandang”. Jakarta: LP3ES.

UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional: Fokusmedia.

Y.Argo. Twi Kromo, 1999,”Gelandangan Yogyakarta”, Yogyakarta: Penerbitan
        Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
                               Catatan Lapangan



Observasi pertama kali:

       Peneliti mengadakan observasi guna mencari lokasi atau daerah yang cocok

dengan tema penelitiannya yaitu mengenai gelandangan. Observasi dimulai pukul

19.00 berlangsung selama 2 jam ya berakhir sekitar pukul 21.00. Awalnya peneliti

beranjak di daerah pasar johar, peneliti ditemani dengan temannya. Kami berdua

pertama kali singgah di depan pasar johar tepatnya dibelakang swalayan matahari

johar, yang letaknya di bangunan kosong yang belum jadi. Kami berdua singgah

didepan pemukiman tersebut yaitu sebuah toko bola dan warung minuman, kami

bicang-bincang dengan penjualnya cukup lama akhirnya kami berdua diberi saran

untuk masuk mencoba bicara sendiri akan maksud kami berdua dan disuruh hati-hati.

Akhirnya kami berusaha masuk walaupun hati kami dipenuhi rasa takut, kami sangat

kaget sekali karena kami disambut dengan pemandangan yang tidak mengenakan

untuk dilihat mata yaitu penuh orang laki-laki yang minum-minum dan sedang

berjudi. Namun dengan keadaan yang seperti itu tidak membuat kami berdua untuk

mengurungkan niat kami semula, dengan perlahan-lahan dan sangat berhati-hati

menayakan kepada seorang ibu yang menghuni pemukiman untuk mengutarakan niat

kami yaitu menjadikan ibu menjadikan responden peneliti dalam penelitian ini.

Namun kami harus menerima kekecewaan bahwa ibu tersebut tidak mau dijadikan

informan bagi penelitian. Kami berdua pamit dengan ibu tersebut beserta orang-

orang yang berada dikerumulan tadi.
Observasi kedua:

       Peneliti bersama temannya untuk mencari daerah observasian lain, observasi

kedua dimulai pagi hari sekitar pukul 09.00 sampai sekitar pukul 11.00, peneliti

bersama temannya terus menelusuri daerah pasar johar yang ada pemukiman kumuh

atau khusus gelandangan, akhirnya peneliti menemukan tempatnya yaitu diujung

daerah pertokoaan pekojan yang letaknya ditepi sungai serta dekat dengan tempat

pembuangan sampah. Peneliti kemudian bincang-bincang sedikit dengan salah satu

yang menghuni pemukiman tersebut seseorang tersebut bernama pak bandhi yang

kebetulan sesepuh dari pemukiman itu, kami menanyakan apakah kami

diperbolehkan melakukan penelitian ini dipemukiman itu ternyata kami berdua

menerima hasil yang memuaskan karena orang tersebut langsung memberi jawaban

untuk mempebolehkan kami untuk main serta melakukan penelitian ditempat

tersebut, setelah itu kami pulang. Sekitar pukul 18.30 malem peneliti bersama

kakaknya kembali ke tempat pemukiman itu untuk melanjutkan pembicaraan atau

langsung melakukan tanya jawab langsung, dimulai dari pak bandi, dalam waktu

melangsungkan tanya jawab kebetulan ada seseorang yang berceletuk “ wah nek

koyok ngene thok yo ora enak, kudunekan ono ngombene karo surungane” peneliti

merasa tidak nyaman seketika itu lalu peneliti berusaha untuk menyuruh temannya

untuk membelikan minuman serta makanan yang kebetulan ada didepan pemukiman

tersebut, peneliti mulai menanyakan dari luar instrumen atau tema penelitian sampai

menanyakan daerah tersebut berdiri setelah dengan responden pertama lalu peneliti

melanjutkan dengan responden yang kedua, sebelum peneliti beranjak dari tempat

duduk kembali ada muncul suatu celetukan “ lho kok ngombe koyok ngene piye
thooooo ”, peneliti merasa bingung namun peneliti tetap berlalu keresponden kedua,

peneliti merasa senang bertanya jawab dengan responden ini karena orangnya suka

bercanda namun peneliti menemukan suatu keganjalan bahwa responden yang kedua

ini tidak seutuhnya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan

oleh peneliti, kadang-kadang jawabannya berubah-ubah dan seseorang ini tidak

memberikan kebebasan kepada istrinya untuk memberikan informasi yang seutuhkan

apa yang di butuhkan oleh peneliti, setelah melakukan tanya jawab dengan

responden yang kedua peneliti melakukan tanya jawab dengan responden yang

ketiga rumah/gubugnya didepan gubuk/rumahnya responden kedua, pada saat itu

kami bincang-bincang dengan responden yang ketiga namun responden yang ketiga

dalam tanya jawab agak malas karena kondisinya yang agak capek sepelung kerja, ya

di bantu dengan istrinya yang kebetulan disampingnya, keadaannya lain dengan

keluarga responden kedua, karena keluarga responden ketiga orangnya kelihatan

santai tidak ditutup-tutupi mereka terbuka apa adanya, peneliti merasa bahwa

keluarga tersebut menerima penelitian ini karena mereka juga sangat memikirkan

pendidikan anaknya. Setelah melakukan tanya jawab peneliti berusaha untuk mencari

responden yang ke empat namun kata seseorang responden belum pulang dari

kerjanya dan istrinya juga, peneliti berusaha meneruskan perjalanan dan menelusuri

lorong-lorong kecil yang ada dipemukiman, peneliti merasa agak sedikit ragu-ragu

untuk menuju kerumah responden yang kelima karena keadaan yang kumuh, banyak

anjing dan tempatnya dekat dengan pembuangan sampah akhir, akhirnya peneliti

melakukan Tanya jawab, peneliti merasa kasihan dengan responden ini karena
keadaan rumah yang kecil ditempati dua orang anak beserta istrinya yang cacat fisik

sehingga mengurangi gerak geriknya.



Observasi ketiga :

          Peneliti melanjutkan tanya jawab seperti biasanya peneliti juga tidak lupa

dengan membawakan bingkisan makanan untuk dimakan anak-anak kecil serta

pemuda-pemuda yang sedang berkumpul memulai dari pukul 18.30 sampai dengan

21.00, namun kondisinya sangat lain karena peneliti datang dengan teman-temannya

jadi suasana tanya jawab sangat ramai sekali apalagi didukung dengan suasana sana

banyak pemuda yang kumpul-kumpul namun dalam tanya jawab responden yang

kelima tidak ikut dalam tanya jawab tersebut karena sedang tidak enak badan serta

kebetulan istrinya pulang kedesa.



Observasi ke empat:

          Seperti biasa peneliti datang dengan kakanya serta tidak lupa membawakan

bingkisan, namun kali ini peneliti merasa senang sekali karena responden yang

ketiga ada anaknya yang baru datang dari desanya jadi bisa untuk memperkuat atas

jawaban-jawaban dari kedua orang tuanya (responden ketiga), setelah melakukan

tanya jawab selesai sudah namun waktunya masih sore jadinya peneliti tetap main

disitu.


Observasi kelima :

          Tidak seperti bisanya peneliti kali ini lain dari seperti biasanya, peneliti

membawa beberapa bingkisan serta kamera, alasan peneliti membawa bingkisan
karena lebaran besertaan dengan lahirnya anak dari responden kedua, jadi sekalian.

Peneliti menuntaskan petanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dengan sempurna

oleh para responden, jadi maksudnya observasi tersebut ialah observasi yang terakhir

mudah-mudahan saja, kalau mengapa peneliti mebawa kamera karena untuk

mengambil gambar per-keluarga serta keseluruhan keadaan yang sesungguhnya

dalam penelitian ini
                               Keluarga Pak Ghandi

       Saya disini sudah berkeluarga, anak saya tiga saya bawa pada tahun 1981 itu

niki mboten rupo ngoten, mriki tasih alang-alang mung kulo tutupi plastik ukuran

2x3 meter, nek awan kulo gulung, wektu niku tasih ganas-ganas’e mbak, lha sekedik-

sekedik digaruk. Nek pun apik-apik’e niku digaruk, kulo nggeh prinsippe nek arep

digaruk yo garuk’o tapi yo ojo gebangeten. Memang aku manggon neng gon seng

salah, seng ora dientui karo pemerintah.

       Kulo niki theng semarang pertama kali theng Patimura, dodolan Tv, radio,

jam kulo niki sagete nggeh Cuma dagang. Ggeh kulo niki dagang engkang terakhir

nggeh dodolan rosok, niki mawon pun mbade diuthik-uthik, mboten angsal manggon

theng mriki, gek usute tiyang gelandangan, gen mriku pemerintah niku ngusat-ngusut

wae.

Peneliti       : Lha mbiyen ne niku ptrane niku nggeh sekolah sedanten

Responden      : nggeh sekolah sedanten, engkang pertama sd kelas 1, lha bangsane

                harni karo joko niku tasih alit-alit. Terus 3 tahun theng mriki kulo

                lebetke tk kalih-kalihipun, TK niku theng gang lombok mriku. Lha

                lulus Sd nggeh kulo karepe niku kulo ken sekolah neng SMP theng

                mataram, lha pripun maleh larene mboten purun, purune niku malah

                kerjo ngantos sak niki, lha niku engkang SMP niku mung Cuma

                harni thok(sambil menunjuk ke arah anaknya yang bernama harni

                yang kebetulan lewat dibelakang saya)

Peneliti       : Tapi bapak’e kagungan keinginan kanggeh nyekolahke putrane
Responden    : Nek kulo niku cita-citane duwur, kalau anaknya tidak bisa di

               anukan……. Nggeh kulo mboten saget mekso tho mbak. Kulo niku

               pengene nyekolahke sak tekan-tekane lha tapi bocahe pengene kerjo

               mbantu-mbantu wong tuwokangge nambah-nambah ekonomi, lha

               wong tuwone rak mampu.

       Namine joko engkang ragil niku dijiko bos-bos las, rebutan mbak, pernah

digowo ngantik tekan suroboyo lho mbak. Sak jane kulo niki nggeh pengen anak

kulo niku sekolah sak duwur-duwur’e, men koyok wong-wong, lha anak kulo mawon

nyerah ndelok bapakku kerjone koyok ngono lha mengko biayane sekolah piye.

Sekolah adoh, biaya pendaftarane piro lha mengko nek ketompo mbanyare sekolah

piro ……anak kulo niku nyerah.

Peneliti     : Lha bapak’e niku asal pundi tho pak?

Responden    : nek kulo niku asli kelahiran maduro, anak’e wong gunung mbak

Peneliti     : Lha bapak’e niku theng semarang niku alasannya apa boro nopo

               enten tujuan liyo…?

Responden    : kulo niku ceritane dhowo banget mbak…..tapi singkate wae ya,

               awal nipun niku kulo minggat saking omah marai diusir goro-goro

               ngilangke wedus, pertama neng Surabaya, maduro,solo, Jakarta, lha

               terakhir niki nggeh theng mriki niki mbak,ket tahun 1981 kulo theng

               smarang niku dodolan koran karo ajaran moco A ki piye B ki piye,

               mbiyen ki Yak’I during koyok ngene mbak….
                   Hasil wawancara dengan keluarga pak Har

Peneliti    : Bapak kok mempunyai fikiran untuk menyekolahkan anak bapak

             setinggi-tinya padahal biaya hidup sehari-hari saja bapak merasa

             kurang aplagi bapak harus memikirkan untuk biaya pendidikan juga,

             menmgapa bapak tidak membiarkan anak bapak seperti bapak saja ?

Responden   : ya itu kan demi masa depan anak saya mbak, susah apapun akan

             saya lakukan dan saya usahakan agar kelak masa depan anak saya

             biar wajar seperti orang-orang lain, itu tekat saya.

Peneliti    : kemarin anak bapak sekolah didesa ikut dengan mbahe, mengapa

             tidak ikut dengan bapak disini, kalau disinikan bapak dan ibu bisa

             mengawasi dan mendidik secara langsung

Responden   : ya mungkin gitu ya mbak, tapi anak saya, saya sekolahkan didesa itu

             agar tidak sama dengan anak-anak kota disini, pergaulannya itu

             bebas di kota jadi anak yang baik dan soleh

Peneliti    : apa bapak merasa apabila anak bapak ikut bapak dengan lingkungan

             seperti ini merasa nanti pendidikannya tidak lancar karena

             terganggu dengan lingkungan yang seperti ini.?

Responden   : anak saya kan satu-satunya jadi keinginan saya itu agar nanti anak

             saya sukses.

Peneliti    : dengan dititipkannya anak bapak dengan neneknya didesa itu apa

             bapak tidak merasa lingkungan di desa itu lebih baik di banding

             dengan disini….?
Responden   : ya saya percaya desa itu lebih baik pergaulannya itu baik itu

             kepercayaan saya.



                                 Anak pak Har



Peneliti    : Selama ini adik mengalami belajar nggak…?

Responden   : nggak

Peneliti    : kalau mengalami kesulitan adik kan jauh dari orang tua ya dalam

             membimbing dalam belajar selama ini siapa .?

Responden   : ya mbahe kaliyan mbak’e

Peneliti    : o….disana ada kakak

Responden   : kakak ponakan

Peneliti    : Adik disana dapat bea siswa nggak

Responden   : nggak

Peneliti    : apa adik….. sekarang kan sudah disemarang, menurut adik itu lebih

             nyaman mana antara didesa dan di semarang ini…

Reponden    : lebih enak di semarang mbak…

Peneliti    : apa alasannya…

Responden   : kan ada orang tua mbak yang membimbing, setidak-tidaknya ada

             orang yang mengingatkan.

Peneliti    : kalau disanakan yang membimbing nenek, apa disana juga diberi

             leluasa pada adik nggak sama nenek….?

Responden   : kadang-kadang ada, ada waktu untuk main dan ada waktu untuk
             belajar.

Peneliti    : semua itu buku-buku dapat dari sekolahan atau itu beli sendiri

Responden   : Dari sekolah

Peneliti    : disana SD-nya Negeri/Swasta

Responden   : Negeri

Peneliti    : selama ini pernah dapat rangking nggak…?

Responden   : pernah



                        Hasil wawancara Pak Suratman

Peneliti    : Dulu bapak sebelum di semarang itu dimana dulu apa dari desa

             langsung ke semarang ini….?

Responden   : ya dari desa langsung ke semarang pada tahun 1980.

Peneliti    : dulu bapak kerjanya apa, ya seperti pak amat dan pak har tapi

             berhubungan ada modal dikit jadi saya belikan becak.

Responden   : putranya berapa pak….?

Peneliti    : dua

Peneliti    : nanti bisa wawancarai anak bapak sebentar nggak pak…?

Responden   : bisa…sekolah anak saya yang besar di SD kranggan sedang yang

             kecil tasih Tk teng mriku gandikan

Peneliti    : mengapa bapak harus menyekolahkan anak bapak, sedangkan biaya

             hidup bapak aja sudah merasa pas-pasan, sekarangkan biaya untuk

             sekolahkan mahal, mengapa bapak mempunyai niatan untuk

             menyekolahkan anak bapak, mengapa bapak tidak membiarkan anak
             bapak untuk bekerja saja, kerja jadi apa gitu buat Bantu-bantu

             bapak….?

Responden   : tidak semua usahanya orang tua, semua usaha itu yang nanggung ya

             saya semua, masih kecil kok mbak, kan kasihan lagian mau kerja

             apa….

Peneliti    : kan sekarang banyak orang tua untuk nyuruh anak-anaknnya kerja

             di lampu stopan kayak jualan koran, ngamen atau malah minta-

             minta…

Responden   : ya kan mandang bocah, bocahkan belum berpengalaman lagian saya

             tidak mempunyai fikiran seperti itu, saya Cuma berfikiran moga-

             moga anak saya bisa sekolah dan bisa tutuk nek sekolah dan saya

             ngajari sekolah pun ngoten nek masalah gawean kuwi.

Peneliti    : anak-anak kan ikut bapak disini, mengapa bapak tidak menitipkan

              anak bapak didesa, agar lebih nyaman dalam pendidikannya.

Responden   : ya… didesa itu ada sedulur tapi disini saya juga mengawasi dalam

             belajar, habis pulang sekolah.

Peneliti    : yang mengawasi pendidikan itu ibu atau bapak

Responden   : ya saya, ibu tidak tau apa-apa nulis nggak ngerti.
Nama : Pak Amat                       Tanggal Wawancara : 14 Mei 2004

Umur : 34 tahun                       Lama Wawancara     :

Asal   : Semarang                     Penghasilan        : Rp. 20.000 per/hari



Tanya : Asmanipun Bapak sinten ?

Jawab : Nggeh sampun kulo parengi ngertos tho mbak, Amat.

Tanya : Umur Bapak, pinten ?

Jawab : Sak ngertose kulo niku kelahiran tahun 1970.

Tanya : Bapak asal pundi ?

Jawab : Kulo asal Semarang, kelahiran Cerobonan Kampung Melayu.

Tanya : Bapak teng mriki sampun pinten tahun ?

Jawab : 10 tahun.

Tanya : Bapak sampun nikah ?

Jawab : Sampun…

Tanya : Bapak tamatan sekolah nopo, Pak ?

Jawab : SD mboten tamat niku, kulo kelas 4 medal.

Tanya : Bapak sampun kagungan putra nopo dereng ?

Jawab : Sampun.

Tanya : Berapa, Pak…?

Jawab : Nggeh kalih.

Tanya : Umur nipun pinten pak ?

Jawab : Lare kulo 13 tahun., engkang nomor kaleh tasih theng wetenge ibune

Tanya : Ibu asmanipun sinten, Pak ?
Jawab : Yatik.

Tanya : Ibu asli pundi, Pak ?

Jawab : Nggeh     sebut mawon Demaklah, memang wong demak. Kulo mboten

         pernah wangsul.

Tanya : Bapak ting Semarang niki boro nopo kagungan tujuan ?

Jawab : Nek kulo kagungan tujuan, tujuan niku boro nggeh       pados kerjo, nek

        mangkeh kulo kagungan arto nggeh wangsul dusun.

Tanya : Bapak pakerjaan nipun mbhen dinane nopo….?

Jawab : Buruh.

Tanya : Buruh nipun nopo, Pak ?

Jawab : Nggeh pemulung.

Tanya : Per harinya kalau dibulatkan penghasilan ?

Jawab : Wah, penghasilan niku mboten mesti.

Tanya : Minim nipun pinten, Pak ?

Jawab : Lha, minim niku dhi rendahke nopo didhuwurke

Tanya : Nggeh , direndahke…… ?

Jawab : Nek ditinggike mengko diarani ngluwihi Pegawai Negeri, minimal

        gampangane kulo damel angsal Rp 20.000,-.

Tanya : Lha, Bapak niku kerjo mangkate jam pinten ?

Jawab : Nek mangkat niku mboten mesti, nek jenenge pemulung niku katah saingan,

        nggeh wonten istilahe niku mangkat gasik penghasilane lumayan, namun

        nek sampun siang nggeh istilahe mboten angsal nopo-nopo …… nek kulo

        niku jam 8 utowo jam 9.
Tanya : Kondore jam pinten, Pak…….?

Jawab : Nggeh kulo niku sak angkatan kulo wangsul sak ubengan wangsul sonten

        kulo timbang aken ngoten.

Tanya : Lha niku daerah pencarian Bapak pertama-tama saingan kaleh rencang-

        rencang nopo pados lahan piyambak-piyambak ?

Jawab : Nggeh persaingan, wong jenenge pemulung istilahe adu nasib, nek nasib’e

        sae nggeh angsal buangan nopo nggeh saget langsung wangsul, nek mboten

        angsal buangan nggeh mubeng mawon nek sampun sepen nggeh wangsul.

Tanya : Engkang dipendeti Bapak milih-milih nopo mboten, nopo kerdus…, nopo

        plastik…… ?

Jawab : Pokok’e sing payu, nggih kulo beto.

Tanya : Kundure paling gasik jam pinten ?

Jawab : Jenenge pemulung, nek kebak nggeh kulo wangsul mboten kenal waktu,

        sing penting waktu adalah uang.

Tanya : Pak, pertama kali merantau, pertama kali boro saking dusun, sak derenge

        teng pundhi riyen, Pak ?

Jawab : Nggeh langsung teng mriki, mbak.

Tanya : Masalah tempat tinggal di sini itu bagaimana Pak keadaannya? Yang

        sebenarnya di lingkungan sekitar ?

Jawab : Enak

Tanya : Dengan penduduk setempat ?

Jawab : Tidak masalah, malah diberi dukungan

Tanya : Terus di pihak kelurahan mengetahui nggak, kalau di sini ada tempat tinggal
Jawab : Mengetahui mbak.

Tanya : Bapak Resmi ?

Jawab : Ya … disebut resmi …. Ya resmi, disebut tidak resmi ya tidak resmi.

Tanya : Tapi Pak Lurah mengetahui …. ?

        Dukungan berupa bagaimana, apa memperbolehkan atau …?

Jawab : Inggih, gampangane mboten dipermasalahkan ….

        Istilahnya kita menempati kita tidak membuat onar. Kita tidak memberi

        cemar.

Tanya : Dipungut biaya nggak pak ?

Jawab : Nggak.

Tanya : Putra Bapak sekolah nggak, Pak ?

Jawab : Sekolah.

Tanya : Yang pertama ?

Jawab : Kelas 3 SD

Tanya : Terus Bapak itu mengenai pendidikan anak Bapak, diserahkan ke Ibu

        semuanya, apa Bapak juga ikut mengawasi …. ?

Jawab : Ya sebagai orang tua mengawasi

Tanya : Terus Bapak mempunyai cita-cita nggak, kalau anaknya untuk sekolah lebih

        tinggi?

Jawab : O …. Sebagai orang tua harus mempunyai cita-cita, harus anaknya

        mempunyai cita-cita yang tinggi lah.
Tanya : Itu Pak, kalau lingkungan seperti itu mempengaruhi nggak dengan

        keberadaan pendidikan anak, dibandingkan dengan dulu Bapak di pedesaan,

        Bapak?

Jawab : Ya kita tinggal kemampuan orang tua ya mbak, pendidikan orang tua

        bagaimana, pergaulan anak itu bagaimana, yang penting kita orang tua harus

        mendukung.

Tanya : Terus cara belajar anak sepanjang pengetahuan Bapak selama ini

        bagaimana?

Jawab : Kalau anak saya jam 7 belajar sebentar, setelah itu saya suruh bermain

        sebentar.

Tanya : Terus ada hambatan nggak, Pak ? Dalam membiayai anak Bapak di

        sekolah?

Jawab : Dalam hambatan membiayai sekolah, itu kalau kira-kira ada hambatan ada

        yang bantu nggak…

Tanya : Ya… nanti setiap sekolah ada beasiswa, Pak…?

Jawab : Memang mbak setiap sekolah ada beasiswa, orangkan anak sekolah punya

        pendidikan yang bagus pastikan dapat beasiswa….ya kalau orang tua tidak

        mampukan pasti ada yang bantu, nanti kalau saya bilang o….. ini tidak

        dapat bantuan……ya dapat bantuan……mbak.

Tanya : Pak, cara Bapak memberi semangat pada anak agar anak rajin belajar itu

        bagaimana, Pak…apa nanti kamu dapat ranking nanti kami kasih apa gitu ..?

Jawab : Ya, kita sebagai orang tua kita……ya nak kamu belajar bagus dapat ranking

        saya belikan …… belikan apa Pak. Sepeda, kalau nggak naik……ya tidak
        saya belikan apa-apa, sebagai orang tua …….semboyan orang tua “anak

        pintar dapat ranking, pintar pasti orang tua pun nggeh sampun ngertos

        sisilah     barang-barang engkang sae.       Kulo   kagungan   ngiyup   teng

        griyo….namun tiyang sepah kulo kagungan hajatiku garwane Pak Amat

        nggeh……?

Tanya : Asmanipun Ibu sinten ?

Jawab : Sugiyati.

Tanya : Umur Ibu pinten ?

Jawab : 35 tahun.

Tanya : AsPutranipun kalih, Bapak kalau pagi-siang/sore cari uang, Ibu yang lha

        pengawasan anak belajar itu dimana…….?

Jawab : Nggeh mboten niku ikut cari nafkah ?

Jawab : Iya.

Tanya : Tapi, Bu juga dapat mengawasi lho Bu, tempat tinggalnya kan dekat dengan

       Pak Bandhi

Jawab : Jauh.

Tanya : Teng mriki, ndak enten tiyang sinis, Pak ?

Jawab : Nggeh tanggapane ngenten mbak, istilahe tiyang mriki ngraosaken sinis

        niku nggih, diarani sinis nggeh sinis, diarani mboten nggeh mboten.

        Kebanyakan tiyang mriki sok kadang, kemampuan tiyang niku kadang,

        nggeh nggauli tiyang mriki ngrakul, nek pas kagungan nggeh petal…..

Tanya : Nek mriki nggeh, Pak, misal nek enten kegiatan kampung mriki di ikut

         sertakan mboten, Pak ?
Jawab : Nek mriki……… enten kegiatan kados 17-an niku, nek tiyang mriki

        diadakan piyambak, mboten ngikuti RT/RW. Kita sebagai bangsa Indonesia

        harus wajib menghormati dan harus merayakan kados wong-wong

        liyane….Piye sesuk 17-an diperingati lomba yo….. sekedar sederhana

        sajalah …..anak-anak dilombake……..makan krupuk…….hadiah’e pulpen,

        nggeh nek Suro, nggeh ngoten ……tumbas roti Rp. 3.000 digelar melik-

        melik terus jam 10 tilem mboten nopo-nopo…….tapi niku tiyang

        mriki…….kulo mboten ngerti nek wong liyo………niku tahun mbiyen nek

        sak niki marai salonne bar digawani balek ndeso……tapi rame meriah.

Tanya : Tapi mriki lingkungan larene sekolah sedanten, Pak ?

Jawab : Nggeh nek istilahe lare kulo sekolah………kaleh larenipun Pak Man

        sekolah…….nggeh niku larene Pak Ranto niku mboten sekolah, nggeh

        mboten purun sekolah, niku tiyang sepuhe mboten merhathek’e………niku

        nek karepe Ibu’e pengen nyekolahke larene, berhubung Bapak niku mboten

        merhathek’e………. kadang niku diunekke kaliyan Pak Bandhi kok “To,

        kowe kalah karo Pak Man, lha anak’e Pak Man sekolah kok anakmu ora

        sekolah”, lha wong Pak Man iso merhathek’e sekolah, mosok kowe ora iso

        merhathek’e sekolah” ngoten…….

Tanya : Bu, nek putrane ……..anak mempunyai segi ekonomi nggak, Bu ?

Jawab : Ya, ndak.

Tanya : Maksudnya habis sekolah itu mbantu orang tua maksudnya kalau anak itu

        masih Sekolah Dasar ?

Jawab : Dolan, niku wong dikandhani angel kok, mbak.
Tanya : Tapi, menurut Ibu bisa mbantu orang tua ?

Jawab : Nek, dikongkon ngumbai yo mangkat, tapi nek ora dikongkon yo ora

        mangkat, ora ngerti karepe dhewe.

Tanya : Tapi menurut Ibu biarkan anak itu bermain ?

Jawab : Ya, belajar.

Tanya : Lha habis belajar kan bermain gitu ……….kalau disuruh kerja cari uang itu

        bagaimana, Bu ?

Jawab : Ya jangan, kasihan.
Nama : Bapak Haryadi               Tanggal Wawancara :

Umur : 35 Tahun                    Nama Wawancara        :

Asal   : Klaten                    Penghasilan           : Rp. 20.000/hari



Tanya : Pak nama Bapak Siapa, Pak ?

Jawab : Haryadi

Tanya : Asal nipun pundi, Pak ?

Jawab : Klaten

Tanya : Lha, umur nipun Bapak ?

Jawab : 35 tahun.

Tanya : Udah nikah nopo dereng ?

Jawab : Udah.

Tanya : Pak sak niki masalah pendidikan, Bapak tamatan apa ?

Jawab : SD belum tamat, SD kelas 6 udah keluar, mau kelulusan keluar, sebab

         faktor biaya.

Tanya : Faktor biaya juga, Pak ?

Jawab : Iya.

Tanya : Bapak tinggal teng mriki sampun pinten tahun ?

Jawab : 10 tahun.

Tanya : Sampun kagungan putra, Pak ?

Jawab : sampun.

Tanya : Umur anak, Bapak ?

Jawab : 18 tahun.
Tanya : Lha Bapak theng Semarang boro nopo enten tujuan ?

Jawab : Boro dan masalah kerjaan.

Tanya : Bapak pekerjaan tiap harinya nopo, Pak ?

Jawab : Pemulung.

Tanya : Sami kaliyan Pak Amat, nggeh ?

Jawab : nggeh, sami.

Tanya : Bapak berangkat kerja jam berapa ?

Jawab : Saya biasa berangkat kerja dari jam 3 sore sampai kalau badan kuat ya

         sampai jam 9 ndhalu/10 ndhalu.

Tanya : Tiap harinya upah Bapak engkang diterima minim pinten ?

Jawab : Soal upah belum tentu, itu kan masalah rejeki itu bisa lebih dari Rp 10.000,-,

         kadang kurang, kadang sampai Rp 20.000,-.

Tanya : Niki masalah tempat tinggal disini diketahui kelurahan, Pak ?

Jawab : Ya, diketahui sih diketahui, tetapi tidak resmi.

Tanya : Pak, disini dipermasalahkan masyarakat setempat tidak ?

Jawab : Mboten mbak.

Tanya : Dipungut biaya tidak, untuk tinggal di sini ?

Jawab : Oh, tidak ada.

Tanya : Masalah pendidikan anak, anak Bapak sekolah kelas berapa ?

Jawab : STM kelas 3 teng Klaten.

Tanya : Sekarang udah mau lulus nggeh, Pak ?

Jawab : Iya, mbak.
Tanya : Mengenai pendidikan itu kok anak Bapak sampai STM itu masalah biaya

        bagaimana, Pak ?

Jawab : Iya, itu gotong royong dengan istri, istri saya kan bekerja, kalau saya

        sendiri, saya rasa juga tidak kuat, susah payah.

Tanya : Bapak mempunyai cita-cita untuk anak, untuk menjadi bagaimana kelak… ?

Jawab : Supaya anak saya bekerja dengan baik, bisa melebihi orang tuanya

        kehidupan nantinya.

Tanya : Masalah niki Pak, cara mendidik anak dalam belajar itu bagaimana, Pak,

        dipantau terus tiap harinya atau bagaimana…….?

Jawab : Saya kan tiap dua minggu istri saya pulang lalu giliran 2 minggu lagi saya

        yang pulang dan rumah itu saya titipkan sama kakak saya.

Tanya : Jadi dalam pengawasan pendidikan itu diawasi oleh Kakak Bapak ?

Jawab : Iya.

Tanya : Disana lingkungan sama seperti, sini gak, Pak ?

Jawab : Nggak, pedesan, perkampungan.



       Setelah wawancara dengan Bapak Hariyadi, sebetulnya ingin wawancara

dengan istrinya, berhubungan pada saat itu istrinya sedang istirahat maka, peneliti

membuat janji pada hari sabtu tanggal    Mei 2004, pada pukul 18.30.

Tanya : Ibu garwane Pak Hariyadi nggeh …?

Jawab : Ya…mbak.

Tanya : Umur nipun Ibu pinten ?

Jawab : 33 tahun
Tanya : Asal pundi, Bu ?

Jawab : Klaten, mbak.

Tanya : Ibu nyambut damel nopo, Bu ?

Jawab : Buruh, niku mbak. Buruh nipun rumah tangga.

Tanya : Nggeh ngewangi Bapak pados arta nggeh…. ?

Jawab : Nggeh……

Tanya : Lha Ibu tamatan kelas pinten ?

Jawab : Kelas 5 SD ora tamat.

Tanya : Lha Ibu masalah mendidik anak nggeh, Bu….?

        Cara nipun Ibu mendidik anak pripun ?

Jawab : Sing ndidik Bapakne, nek tak didik angel koyok ngono kae mbak, marai

        bocah lanang.

Tanya : Putrane pinten, Bu ?

Jawab : Setunggal, mbak.

Tanya : Umur’e pinten ?

Jawab : 18 tahun.

Tanya : Sak niki kelas pinten nggeh, Bu ?

Jawab : Mbade lulus niki ….. ?

Tanya : Kok saget duwur nggeh ? Lha Ibu niku kagungan cita-cita nopo mboten

        kanggeh larenipun ?

Jawab : Nggeh gadhah, mbak.

Tanya : Terus niku, putranipun Ibu teng mriki mboten… ?

Jawab : Nggeh teng Klaten, mbak ?
Tanya : Ket kelas pinten niku, Bu ?

Jawab : Ket kelas 4 SD.

Tanya : Lha niku sak derenge teng Klaten putrane dalam pengawasane Ibu nopo

        mboten

Jawab : Nganu riyen, niku tumut Mbok Dhene, lha sak niki kan sampun gedhe,

        nggeh teng griyo piyambak.

Tanya : Berarti teng mriko Ibu’e kagungan griyo ?

Jawab : Yo, elek-elek’an sih mbak.

Tanya : Terus menurut Ibu, nggeh Bu? Pandangan Ibu terhadap anak itu bagaimana?

        anak itu mempunyai segi ekonomi nopo mboten ?

Jawab : Punya.

Tanya : Kan ada Bu, sebuah kasus, itu anak habis sekolah disuruh mencari uang

        untuk membantu orang tuanya, misalnya dengan mengamen di lampu merah

        atau jualan koran. Pandangan ibu gimana …?

Jawab : Ya, tidak enak mbak !

Tanya : Maksudnya gimana, Bu ?

Jawab : Yo nek iso kerjo liyane wae.

Tanya : Gini buk, anak itu masih duduk di Sekolah Dasar, nek wonten orang tua

        yang kayak gitu, menurut Ibu gimana ?

Jawab : Yo, ojo mbak men wong tuwo wae sing kerjo rekoso ora popo, seng penting

        anak’e sekolah wae.

Tanya : Ibu pernah menerima laporan dari Sekolah, anak’e mboten mlebet, nopo

        dalam pembelajaran ?
Jawab : Mboten pernah niku, mbak…?

								
To top