Docstoc

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO

Document Sample
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO Powered By Docstoc
					   MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO
     (Studi Kasus di SD Negeri Barusari 03 Semarang)




                        SKRIPSI
         Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
             Pada Universitas Negeri Semarang




                           Oleh
                        Anita Sari
                        1124000052




         FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
                    2005




                             i
                     PERSETUJUAN PEMBIMBING



Skripsi ini telah disetujui oleh dosen pembimbing untuk diajukan ke sidang

panitia ujian skripsi pada :

       Hari            : Rabu

       Tanggal         : 29 Juni 2005




Pembimbing I                                        Pembimbing II




Drs. Achmad Sugandi, M.Pd                           Drs. Sugeng Purwanto
NIP. 130345756                                      NIP. 131570065




                                     Mengetahui,

                               Ketua Jurusan KTP UNNES




                                    Drs. Haryanto
                                   NIP. 131464301




                                         ii
                              PENGESAHAN



Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan

Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas

Negeri Semarang pada :

        Hari         : Rabu

        Tanggal      : 29 Juni 2005

                                Panitia Ujian :

Ketua                                             Sekretaris



Drs. H. Siswanto, M.M                             Drs. Sukirman, M.Si
NIP. 130515769                                    NIP. 131570066

                                                  Anggota Penguji :

Pembimbing I                                      Penguji I




Drs. Achmad Sugandi, M.Pd                         Drs. Haryanto
NIP. 130345756                                    NIP. 131464301
Pembimbing II                                     Penguji II




Drs. Sugeng Purwanto                              Drs. Achmad Sugandi, M.Pd
NIP. 1315700651                                   NIP. 130345756

                                                  Penguji III



                                                  Drs. Sugeng Purwanto
                                                  NIP. 1315700651

                                      iii
                               PERNYATAAN



Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini merupakan hasil karya

saya sendiri dengan sumbangan pemikiran dari Drs. Achmad Sugandi, M.Pd

selaku Dosen Pembimbing I dan Drs. Sugeng Purwanto sebagai Dosen

Pembimbing II, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau

seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.



                                                     Semarang, Juni 2005



                                                     Anita Sari




                                        iv
                   MOTTO DAN PERSEMBAHAN



MOTTO :

       “Dalam hidup, mungkin belum mendapat apa yang kita sukai tetapi kita

       harus menyukai apa yang telah kita dapatkan”.

        “Ada tiga perkara dimana tidak seorangpun yang bisa terlepas darinya

       yaitu prasangka, kecewa dan dengki dan aku akan memberikan jalan

       keluar dari semua itu. Apabila timbul prasangka janganlah dinyatakan,

       apabila dihatimu timbul kekecewaan janganlah cepat-cepat dienyahkan

       dan bila muncul rasa dengki janganlah diperturutkan (Al-Hadist)




PERSEMBAHAN :

Kepada Allah SWT

Untuk Ayah, Ibu, Ade’ dan keluarga besar Pacitan

Mas Ary dan keluarga besar Magelang

Komunitas 46 & TP 00

Almamater




                                       v
                            KATA PENGANTAR

          Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat, taufik dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

guna memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana

Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

          Penulisan skripsi ini tidak lepas dari kesulitan dan berbagai hambatan,

namun berkat bimbingan, arahan dan bantuan dari berbagai pihak dapat terwujud.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Dr. H. Ari Tri Soegito, SH., M.M, Rektor Universitas Negeri Semarang

   yang telah memberi kesempatan bagi penulis untuk memperoleh pendidikan di

   UNNES.

2. Bapak Drs. Siswanto, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

   Negeri Semarang yang telah memberikan izin dan rekomendasi sehingga

   penelitian (skripsi) ini dapat dilaksanakan.

3. Bapak Drs. Haryanto, Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

   Universitas Negeri Semarang yang telah memberi kepercayaan kepada penulis

   untuk melakukan penelitian dalam rangka penulisan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Achmad Sugandi, M.Pd sebagai dosen pembimbing I yang telah

   memberikan kritik, saran dan masukan penting untuk kesempurnaan skripsi

   ini.

5. Bapak Drs. Sugeng Purwanto sebagai dosen pembimbing II yang juga telah

   memberikan kritik, saran dan masukan penting terhadap skripsi ini.




                                         vi
6. Bapak Sutaman, Kepala SD Negeri Barusari 03 Semarang yang telah

   memberikan ijin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian pada lembaga

   yang dipimpinnya.

7. Ibu Tanti Puji Astuti, Guru Kelas V SD Negeri Barusari 03 Semarang yang

   telah banyak membantu peneliti dalam memberikan informasi tentang model

   pembelajaran portofolio yang dilaksanakan di SD Negeri Barusari 03

   Semarang.

8. Semua pihak yang telah memberikan motivasi dan bantuan dalam penulisan

   skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

      Semoga segala bantuan dan bimbingan yang telah diberikan menjadi amal

kebaikan dan mendapat balasan dari Allah SWT. Akhir kata, semoga skripsi ini

dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca.



                                                    Semarang, Juni 2005



                                                    Penulis




                                        vii
                                  ABSTRAK

Anita Sari. 2005. “Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (Studi Kasus di
SD Negeri Barusari 03 Semarang”. Skripsi. Jurusan Kurikulum dan Teknologi
Pendidikan . FIP. UNNES. Pembimbing I. Drs. Achmad Sugandi, M.Pd,
Pembimbing II. Drs. Sugeng Purwanto.

Kata Kunci: Model pembelajaran berbasis portofolio

      Pembelajaran saat ini perlu lebih menekankan kepada “how” (bagaimana
membelajarkan) daripada “what” (apa yang dibelajarkan). Guru tidak lagi hanya
bertugas memberikan informasi kepada siswa. Tugas guru saat ini diharapkan
dapat memotivasi siswa untuk mencari informasi baru di luar kelas, karena guru
bukan satu-satunya sumber belajar. Model pembelajaran portofolio merupakan
alternatif cara belajar siswa aktif dan cara mengajar guru aktif, karena sebelum,
selama dan sesudah proses pembelajaran guru dan siswa dihadapkan pada
sejumlah kegiatan. Diharapkan siswa akan mendapatkan banyak manfaat baik
hasil belajar utama maupun hasil pengiring akademik dan sosial. SD Negeri
Barusari 03 Semarang merupakan salah satu sekolah dasar yang menerapkan
pembelajaran portofolio sejak dua tahun yang lalu. Bagaimana proses
pembelajaran portofolio yang dilaksanakan dan kendala-kendala apa yang dialami
dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang?
Tujuan penelitian ini untuk mengungkap pelaksanaan pembelajaran portofolio dan
kendala-kendala yang dialami di SD Negeri Barusari 03 Semarang.
        Fokus penelitian yaitu pelaksanaan dan kendala-kendala pembelajaran
portofolio yang dilaksanakan pada siswa kelas V SD Negeri Barusari 03
Semarang. Data diungkap dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.
Sumber informan yaitu kepala sekolah, guru kelas V dan Siswa kelas V. Data
dianalisis dengan teknik deskriptif.
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran portofolio di SD
Negeri Barusari 03 Semarang dilaksanakan dengan tiga tahap pembelajaran yaitu:
apersepsi, kegiatan inti dan evaluasi. Pada tahap apersepsi guru memberikan
gambaran tentang konsep sehari-hari yang berkaitan dengan materi yang
disampaikan melalui metode tanya jawab. Maksud dan tujuan apersepsi ini untuk
menggali pengetahuan yang dimiliki siswa. Pada kegiatan apersepsi lebih
ditekankan pada kegiatan siswa untuk menemukan konsep tertentu. Pada kegiatan
inti pembelajaran, guru menggunakan metode yang bervariasi yaitu tanya jawab,
eksperimen dan permainan. Guru dalam kegiatan ini sebagai fasilitator, sedangkan
siswa lebih ditekankan pada keaktifannya. Dalam pembelajaran ini guru
menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran portofolio yaitu prinsip belajar aktif,
kelompok belajar kooperatif, pembelajaran pertisipatorik, mengajar yang reaktif
dan pembelajaran yang menyenangkan. Evaluasi yang dilakukan guru tidak hanya
pada akhir pembelajaran, tetapi juga dalam proses pembelajaran. Pembelajaran
portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang belum sepenuhnya dapat
dilaksanakan secara ideal, karena ada beberapa kendala baik persiapan maupun
pelaksanaan. Kendala yang dialami dalam tahap persiapan pembelajaran
                                      viii
portofolio berkaitan dengan dana. Di samping itu kendala yang dialami guru
dalam persiapan pembelajaran antara lain kesulitan dalam pembuatan silabus,
pembuatan satuan acara pembelajaran, disebabkan karena kurangnya informasi
yang masuk ke guru tentang pembelajaran portofolio. Berhubungan dengan
pelaksanaan pembelajaran portofolio, kendala yang dihadapi karena kurangnya
fasilitas pembelajaran yang ada seperti belum adanya laboratorium sehingga siswa
harus menyiapkan alat sendiri dengan dana swadaya apabila akan melakukan
praktikum. Kendala yang lainnya yaitu belum adanya kerjasama antara sekolah
dengan masyarakat, sehingga guru belum dapat membawa informan sebagai salah
satu sumber belajar.
         Direkomendasikan kepada beberapa pihak yang terkait antara lain: 1)
Sekolah perlu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait sebagai
informan atau sumber belajar, donatur untuk memperlancar proses pembelajaran.
2) Pihak Dinas Pendidikan untuk segera memberikan pelatihan atau seminar
tentang pembelajaran portofolio, sehingga guru lebih memahami konsep
portofolio sebagai pembelajaran dan sebagai evaluasi.




                                       ix
                                                    DAFTAR ISI


                                                                                                                Halaman

Halaman Judul..................................................................................................         i
Persetujuan Pembimbing..................................................................................                ii
Pengesahan.......................................................................................................       iii
Pernyataan........................................................................................................      iv
Motto dan Persembahan...................................................................................                v
Kata Pengantar .................................................................................................        vi
Abstrak .............................................................................................................   viii
Daftar Isi...........................................................................................................   x
Daftar Lampiran ...............................................................................................         xii
Daftar bagan, gambar, dan tabel .....................................................................                   xiii

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................                       1
           A. .............................................................................................. L
                 atar Belakang.................................................................................         1
           B. .............................................................................................. I
                 dentifikasi Masalah........................................................................            7
           C. .............................................................................................. P
                 erumusan Masalah.........................................................................              8
           D. .............................................................................................. T
                 ujuan Penelitian .............................................................................         8
           E................................................................................................ M
                 anfaat Penelitian ............................................................................         9
           F................................................................................................ Pemb
                 atasan Istilah dalam Judul..............................................................               9
           G. .............................................................................................Siste
                 matika Skripsi...............................................................................          10
BAB II LANDASAN TEORI .........................................................................                         13
           A. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio.....................................                               13

                                                              x
         B. Teori Konstruktivisme dan Model Pembelajaran
               Berbasis Portofolio ........................................................................          56
         C. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Model Pebelajaran
               Berbasis Porotofolio ......................................................................           65
         D. Kerangka Berpikir .........................................................................              70

BAB III METODE PENELITIAN...................................................................                         72
         A. Desain Penelitian............................................................................            72
         B. Tahap-tahap Penelitian...................................................................                73
         C. Informan Penelitian........................................................................              77
         D. Fokus Penelitian .............................................................................           77
         E. Metode Pengumpulan Data ............................................................                     78
         F. Objektifitas dan Keabsahan Data ...................................................                      80
         G. Proses Pencatatan Data dan Teknik Analisis Data.........................                                 84

BAB IV PENYAJIAN DATA .........................................................................                      90
         A. Deskripsi Penemuan Data ..............................................................                   90
         B. Analisis Data .................................................................................. 115

BAB V TEKNIK PEMERIKSAAN KEABSAHAN DATA .......................... 151
         A. .............................................................................................. Credi
         bility ..................................................................................................... 151
         B. .............................................................................................. Trans
         ferability ............................................................................................... 153
         C. .............................................................................................. Depe
         ndability ............................................................................................... 154
         D. .............................................................................................. Konfi
         rmability ............................................................................................... 155




                                                          xi
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI ................................................ 156
          A. Simpulan ....................................................................................... 156
          B. Rekomendasi .................................................................................. 157
Daftar Pustaka .................................................................................................. 158
Lampiran .......................................................................................................... 160




                                                          xii
                                  DAFTAR LAMPIRAN


                                                                                        Halaman
Lampiran 1 Surat Permohonan Ijin Penelitian .............................................. 160
Lampiran 2 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian .................... 162
Lampiran 3 Transkrip Hasil Wawancara........................................................ 163
Lampiran 4 Transkrip Hasil Observasi .......................................................... 179




                                               xiii
                                             DAFTAR

                             BAGAN, GAMBAR DAN TABEL

                                                                                           Halaman

Daftar Bagan
Bagan 1. Hubungan KBK dengan Model Pembelajaran Portofolio................                           71

Bagan 2. Tahapan analIsis data kualitatif........................................................    88



Daftar Gambar
Gambar 1. Proses apersepsi guru dengan memberikan contoh konkret                                    112

Gambar 2. Siswa aktif melakukan praktikum tentang perubahan energi ....... 113

Gambar 3. Prinsip belajar sambil bermain ..................................................... 113

Gambar 4. Proses pengambilan kesimpulan................................................... 113

Gambar 5. Contoh hasil karya siswa .............................................................. 115



Daftar Tabel
Tabel 1. Hasil observasi tentang pembuatan silabus ....................................... 133

Tabel 2. Hasil observasi tentang pembuatan satuan acara pembelajaran....... 133

Tabel 3. Hasil observasi tentang pembuatan rencana pembelajaran ............... 134
Tabel 4. Hasil observasi tentang pembelajaran partisipatorik dan CBSA....... 135

Tabel 5. Hasil observasi tentang kelompok belajar kooperatif ....................... 136

Tabel 6. Hasil observasi tentang pembelajaran reaktif reactive learning........ 137

Tabel 7. Hasil observasi tentang pembelajaran yang menyenangkan ............. 138

Tabel 8. Hasil observasi tentang sarana prasana dan media pembelajaran ..... 139

Tabel 9. Hasil observasi tentang kondisi siswa ............................................... 141

Tabel 10. Hasil observasi tentang penilaian.................................................... 143



                                                  xiv
                                      BAB I

                               PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG

        UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa “Pendidikan

adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,

bangsa dan Negara”

        Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, dunia pendidikan

dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang handal. Sumber daya

yang dimaksud tidak tercipta hanya melalui pendidikan tinggi, melainkan diawali

dari pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan dalam kajian ini untuk

selanjutnya adalah dalam konteks pendidikan formal, maka yang dimaksud

pendidikan adalah pembelajaran.

        Pembelajaran saat ini perlu lebih menekankan how (bagaimana

membelajarkan) daripada what (apa yang dibelajarkan). Guru tidak lagi hanya

bertugas memberikan informasi kepada siswa. Tugas guru saat ini diharapkan

dapat memotivasi siswa untuk mencari informasi baru diluar kelas di sekolah.

Belajar tidak hanya disekolah, belajar juga dapat dilakukan diluar sekolah.

        Guru tidak harus menyampaikan pelajaran sesuai dengan kurikulum,

tetapi dituntut dapat mengembangkan potensi siswanya. Artinya, pembelajaran


                                        xv
tidak    lagi   terikat   dan   dibatasi   dinding-dinding   kelas.   Guru   dituntut

mengembangkan metode secara kreatif dan inovatif. Guru bukan lagi sebagai

pusat pembelajaran, melainkan sebagai fasilitator. Sumber pembelajaran bisa

berupa buku, lingkungan, dan masyarakat, termasuk internet.

          Dengan demikian, siswa akan menyukai materi yang diberikan, bahkan

akan terus menuntut untuk maju serta menemukan hal-hal baru pada bidang yang

diminati untuk membangun kompetensi diri.

          Waktu pembelajaran dikelas sangat terbatas, mustahil siswa dapat

memahami seluruh materi yang diajarkan dalam waktu yang terbatas tersebut.

Akan lebih baik jika para siswa diberi garis besar materi lalu ditunjukkan manfaat

dari materi yang dipelajarinya dan diberikan alat-alat untuk mendalami materi

lebih jauh diluar kelas. Jadi dalam pembelajaran terjadi proses membangun atau

mengkonstruksi pengetahuan, yang melibatkan diri siswa yang sedang belajar

dengan pengetahuan yang sedang dipelajarinya          Setelah itu diadakan diskusi

untuk membahas materi tersebut.

          Setiap bentuk pembelajaran diharapkan dapat menghasilkan produk

dalam bentuk sumber daya manusia sesuai dengan tingkat tujuan pendidikannya,

serta kebutuhan masyarakat. Wardiman Djojonegoro (1993) menghendaki agar

bangsa yang produktif dikembangkan lewat sumber daya manusia yang

berbudaya. Hal ini sesuai dengan pengaitan antara dunia pendidikan dengan dunia

pembangunan, khususnya dunia kerja yang terkenal dengan istilah Link and

Match.




                                           xvi
       Paradigma baru pendidikan, menghendaki dilakukan inovasi yang

terintegrasi dan berkesinambungan. Salah satu wujudnya adalah inovasi yang

dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kebiasaan guru dalam

mengumpulkan      informasi   mengenai    tingkat   pemahaman     siswa   melalui

pertanyaan, observasi, pemberian tugas dan tes akan sangat bermanfaat dalam

menentukan tingkat penguasaan siswa dan dalam evaluasi keefektifan proses

pembelajaran.

        Informasi yang akurat tentang hasil belajar, minat dan kebutuhan siswa

hanya dapat diperoleh melalui asesmen dan evaluasi yang efektif. Penilaian yang

biasa digunakan dalam sistem pendidikan kita adalah melalui deskripsi kuantitatif,

yaitu tes (tertulis). Sedangkan asesmen yang sedang berkembang saat ini adalah

penilaian portofolio yang disinyalir memiliki banyak manfaat baik bagi guru

maupun bagi siswa.

        Misi GBHN 1999 dalam bidang pendidikan adalah mewujudkan sistem

pendidikan dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu untuk

memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas,

sehat, berdisiplin dan bertanggung jawab, berketerampilan serta menguasai ilmu

pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas manusia

Indonesia.

        Dalam kaitannya dengan tuntutan akan demokratisasi pada era reformasi

saat ini, kelemahan utama dalam sistem pendidikan di Indonesia ialah pelaksanaan

proses pembelajaran yang kurang mendorong terjadinya pengembangan siswa

yang dinamis dan budaya berpikir kritis. Oleh karena itu, dalam Undang-Undang


                                       xvii
Nomor 22 tahun 2000 Bab XI tentang Program Pendidikan Nasional dicantumkan

bahwa tantangan yang dihadapi dunia pendidikan yaitu budaya berpikir kritis

yang masih rendah.

           Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya suatu model pembelajaran sebagai

alternatif untuk mewujudkan misi GBHN dan sekaligus menjawab tantangan yang

dihadapi dunia pendidikan seperti yang dituangkan dalam Undang-Undang

Nomor 22 tahun 2000 tersebut.

           Model Pembelajaran Berbasis Portofolio merupakan alternatif Cara

Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan Cara Mengajar Guru Aktif (CMGA). Karena

sebelum, selama dan sesudah proses belajar mengajar guru dan siswa dihadapkan

pada sejumlah kegiatan. Diharapkan siswa akan mendapat banyak manfaat baik

hasil belajar utama maupun hasil pengiring akademik dan sosial.

           Pola fikir pembelajaran siswa      perlu diubah dari sekedar memahami

konsep kearah kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan menggunakan konsep

lain prinsip keilmuan yang telah dikuasai. Sebagaimana paradigma pendidikan

yang digariskan oleh UNESCO dalam empat misi pendidikan menuju abad 21

yang dikutip Akhmad Hidayatullah al Arifin dan Endah Sulistyowati (2002:1-2),

yaitu :

          a. Belajar untuk berfikir (learning to think)

          b. Belajar untuk berbuat (learning to do)

          c.   Belajar untuk hidup bersama (learning to life)

          d.   Belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be)




                                          xviii
        Sebagai suatu inovasi, model pembelajaran berbasis portofolio tidak

memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru laksana botol kosong yang

diisi dengan ilmu pengetahuan. Melalui model pembelajaran berbasis portofolio

siswa diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman

belajarnya (learning to do) dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungannya

baik lingkungan fisik, sosial, mapun budaya, sehingga mampu membangun

pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia di sekitarnya (learning to know).

Diharapkan hasil interaksi dengan lingkungannya itu dapat membangun

pengetahuan dan kepercayaan dirinya (learning to be). Kesempatan berinteraksi

dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi (learning to live

together) akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan

melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan

perbedaan hidup.

        Belajar merupakan suatu proses kegiatan aktif siswa dalam membangun

makna atau pemahaman, maka siswa perlu diberi waktu yang memadai untuk

melakukan proses itu. Artinya memberikan waktu yang cukup untuk berpikir

ketika siswa menghadapi masalah sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk

membangun sendiri gagasannya. Tidak membantu siswa terlalu dini, menghargai

usaha siswa walaupun hasilnya belum memuaskan, dan menantang siswa

sehingga berbuat dan berpikir merupakan strategi guru yang memungkinkan siswa

menjadi pembelajar seumur hidup. Tanggung jawab belajar berada pada diri

siswa, tetapi guru bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong

motivasi dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.


                                      xix
Terdapat beberapa prinsip belajar, yaitu :

    1. Belajar harus berorientasi pada tujuan yang jelas.

    2. Proses belajar akan terjadi bila seseorang dihadapkan pada situasi

          problematik.

    3. Belajar dengan pemahaman akan lebih bermakna daripada belajar dengan

          hapalan.

    4. Belajar secara menyeluruh akan lebih berhasil daripada belajar secara

          terbagi-bagi.

    5. Belajar memerlukan kemampuan dalam menangkap intisari pelajaran itu

          sendiri.

    6. Belajar merupakan proses yang kontinu.

    7. Proses memerlukan metode yang tepat.

    8. Belajar memerlukan minat dan perhatian siswa (Fajar, 2002:10-11).

Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dapat digolongkan dalam 5 hal,

yaitu :

    1. Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan

          eksperimen dan demonstrasi.

    2. Aktivias lisan (oral activities) seperti bercerita, menyanyi, membaca sajak,

          tanya jawab, diskusi.

    3. Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan

          penjelasan guru, ceramah.

    4. Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, melukis, menari.




                                        xx
   5. Aktivitas menulis (writting activities) seperti mengarang, membuat

       makalah (Fajar, 2002:13).

        Model pembelajaran berbasis portofolio merupakan satu bentuk

perubahan konsep berpikir tersebut, yaitu suatu inovasi pembelajaran yang

dirancang untuk membantu siswa dalam memahami teori secara mendalam

melalui pengalaman belajar praktik empirik. Praktik belajar ini dapat menjadi

program pendidikan yang mendorong kompetensi, tanggung jawab dan partisipasi

siswa, belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum, memberanikan diri

untuk berperan serta dalam kegiatan antar siswa, antar sekolah dan antar anggota

masyarakat (Budimansyah, M.Si, 2002:3)

        Maka dari itu penulis merasa perlu mengadakan suatu penelitian dengan

tema model pembelajaran berbasis portofolio, untuk mengetahui pelaksanaan

kegiatan pembelajaran dan kendala-kendalanya di SD Negeri Barusari 03

Semarang.

B. IDENTIFIKASI MASALAH

        Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diperoleh suatu

pengamatan dan analisis inovasi pembelajaran yang menyebabkan sumber daya

manusia Indonesia tidak mengalami peningkatan, sehingga muncul identifikasi

masalah yang diantaranya adalah:

   1. Peningkatan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan dapat

       ditempuh salah satunya dengan cara penggunaan inovasi pembelajaran

       yang lebih menekankan how (bagaimana membelajarkan siswa) daripada

       what (apa yang dibelajarkan kepada siswa).


                                      xxi
   2. Dalam proses belajar mengajar, guru bukan lagi sebagai pusat

       pembelajaran melainkan hanya sebagai fasilitator pembelajaran sehingga

       model pembelajaran alternatif yang dikembangkan adalah Cara Belajar

       Siswa Aktif dan Cara Mengajar Guru Aktif.

   3. Kelemahan utama dalam sistem pendidikan di Indonesia ialah pelaksanaan

       proses pembelajaran yang kurang mendorong terjadinya pengembangan

       siswa yang dinamis dan budaya berpikir kritis.

         Sesuai dengan identifikasi masalah tersebut, maka inovasi model

pembelajaran yang dalam penelitian ini adalah model pembelajaran berbasis

portofolio sangatlan perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya

manusia Indonesia.

C. PERUMUSAN MASALAH

         Permasalahan yang akan dipecahkan/ dicari solusinya dalam penelitian

ini adalah:

    1. Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran berbasis portofolio di SD

        Negeri Barusari 03 Semarang?

    2. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan model

        pembelajaran berbasis portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang?

D. TUJUAN PENELITIAN

         Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini

adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut :

   1. Untuk memperoleh gambaran secara objektif tentang pelaksanaan model

       pembelajaran berbasis portofolio di SD Negeri Barusari 03 semarang.


                                       xxii
   2. Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam

       pelaksanaan model pembelajaran berbasis portofolio di SD Negeri

       Barusari 03 semarang.

E. MANFAAT PENELITIAN

         Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, manfaat

yang diharapkan adalah:

1. Manfaat teoritis

   a. Konsep yang dihasilkan dalam penelitian ini merupakan masukan bagi

       dunia pendidikan.

   b. Hasil penelitian dapat menjadi sumber bahan yang penting bagi para

       peneliti bidang pendidikan.

   c. Memberi rekomendasi para peneliti lain untuk melakukan penelitian yang

       sejenis atau melanjutkan penelitian tersebut secara lebih luas dan

       mendalam.

2. Manfaat praktis

   Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi para guru di SD Negeri

   Barusari 03 Semarang, sebagai bahan untuk menentukan kebijakan dan

   langkah-langkah efektif bidang pendidikan, terutama yang berhubungan

   dengan model pembelajaran berbasis portofolio.

F. PEMBATASAN ISTILAH DALAM JUDUL

         Untuk memudahkan dan menghindari salah pengertian terhadap

penelitian ini, maka akan lebih jelas apabila penulis memberikan pengertian dan

batasan masing-masing istilah, yaitu sebagai berikut:


                                       xxiii
  1. Model adalah suatu tipe atau desain, suatu deskripsi atau analogi yang

     dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat

     dengan langsung diamati (Komaruddin dan Yooke Tjuparman, S,

     2000:152)

  2. Pembelajaran adalah suatu kegiatan untuk memperoleh pengetahuan atau

     pemahaman atau keterampilan (termasuk penguasaan kognitif, afektif dan

     psikomotor) melalui studi, pengajaran atau pengalaman (Komaruddin dan

     Yooke Tjuparman, S, 2000:179)

  3. Berbasis dapat diartikan “berdasar pada” atau “berfokus pada”.

  4. Portofolio sebagai konsep pembelajaran atau model pembelajaran (model

     pembelajaran berbasis portofolio) yaitu suatu bentuk inovasi pembelajaran

     yang dirancang untuk membantu siswa memahami teori secara mendalam

     melalui pengalaman belajar secara empirik (Budimansyah, 2002:3).

  5. Studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan

     atau menginterpretasi suatu kasus (case) dalam konteksnya secara natural

     tanpa adanya intervensi dari pihak luar (Salim, 2001:93).

  6. SD Negeri Barusari 03 Semarang adalah tempat dimana penelitian ini akan

     berlangsung.

G. SISTEMATIKA SKRIPSI

   BAB I    PENDAHULUAN

            A. Latar Belakang

            B. Identifikasi Masalah

            C. Perumusan Masalah


                                    xxiv
         D. Tujuan Penelitian

         E. Manfaat Penelitian

         F. Pembatasan Istilah dalam Judul

         G. Sistematika Skripsi

BAB II   LANDASAN TEORI

         A. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio

         B. Teori Konstruktivisme dan Model Pembelajaran Berbasis

            Portofolio

         C. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Model

            Pembelajaran Berbasis Portofolio

         D. Kerangka Berfikir

BAB III METODE PENELITIAN

         A. Desain Penelitian

         B. Tahap-tahap Penelitian

         C. Informan Penelitian

         D. Fokus Penelitian

         E. Metode Pengumpulan Data

         F. Objektivitas dan Keabsahan Data

         G. Proses Pencatatan dan Teknik Analisis Data

BAB IV PENYAJIAN DATA

         A. Deskripsi Penemuan Data

         B. Analisis data




                                  xxv
BAB V TEKNIK PEMERIKSAAN KEABSAHAN DATA

      A. Credibility

      B. Transferability

      C. Dependability

      D. Konfirmability

BAB VI SIMPULAN DAN REKOMENDASI

      1. Simpulan

      2. Rekomendasi

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN




                           xxvi
                                    BAB II

                            LANDASAN TEORI



A. MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO

  1. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Portofolio

             Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, istilah Portofolio mulai

    banyak dikenal seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Berbasis

    Kompetensi (KBK). Banyak para ahli yang memberi batasan tentang

    Portofolio, antara lain sebagai berikut :

             Menurut Dasim Budimansyah (2002:1) Portofolio dapat diartikan

    sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial paedagogis

    maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik Portofolio

    adalah bundel, yaitu kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan siswa yang

    disimpan dalam pada suatu bundel. Misalnya hasil test awal (pree-test),

    tugas-tugas piagam penghargaan, hasil test akhir (post-test) dan sebagainya.

    Sebagai suatu proses sosial paedagogis, Portofolio adalah collection of

    learning experience yang terdapat di dalam pikiran siswa baik yang

    berwujud pengetahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun nilai dan

    sikap (afektif). Adapun sebagai suatu adjective Portofolio sering

    disandingkan dengan konsep lain, misalnya dengan konsep pembelajaran

    maka dikenal istilah pembelajaran berbasis portofolio (portfolio based

    learning), sedangkan jika disandingkan dengan konsep penilaian maka

    dikenal istilah penilaian berbasis portofolio (portfolio based assessment).


                                      xxvii
         Paulson (191:60) mendefinisikan Portofolio sebagai kumpulan

pekerjaan siswa yang menunjukkan usaha, perkembangan dan kecakapan

mereka dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan ini harus mencakup

partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian dan

bukti refleksi diri.

         Menurut Gronlund (1998:159) Portofolio mencakup berbagai

contoh pekerjaan siswa yang tergantung pada keluasan tujuan. Apa yang

harus tersurat, tergantung pada subjek dan tujuan penggunaan portofolio.

Contoh pekerjaan siswa ini memberikan dasar bagi pertimbangan kemajuan

belajarnya dan dapat dikomunikasikan kepada siswa, orang tua serta pihak

lain yang tertarik berkepentingan.

         Portofolio    dapat     digunakan    untuk     mendokumentasikan

perkembangan siswa. Karena menyadari proses belajar sangat penting untuk

keberhasilan hidup, portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat

kemajuan mereka sendiri terutama dalam hal perkembangan, sikap

keterampilan dan ekspresinya terhadap sesuatu.

         Secara umum, portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa

atau catatan mengenai siswa yang didokumentasikan secara baik dan

teratur. Portofolio dapat berbentuk tugas-tugas yang dikerjakan siswa,

jawaban siswa atas pertanyaan guru, catatan hasil observasi guru, catatan

hasil wawancara guru dengan siswa, laporan kegiatan siswa dan karangan

atau jurnal yang dibuat siswa.




                                 xxviii
          Portofolio biasanya merupakan karya terpilih dari seorang siswa,

  tetapi dapat juga berupa karya terpilih dari satu kelas secara keseluruhan

  yang bekerja sama secara kooperatif dalam memecahkan masalah. Karya

  terpilih dari portofolio yang harus menjadi kumpulan karya siswa harus

  yang dapat menggambarkan usaha terbaik siswa dalam mengerjakan tugas-

  tugas yang diberikan atau kata lain Portofolio bukanlah kumpulan bahan-

  bahan yang asal comot yang tidak relevan atau kurang signifikan dengan

  bahan atau topik pembelajaran.

2. Prinsip Dasar Model Pembelajaran Berbasis Portofolio

          Model pembelajaran berbasis portofolio mengacu pada sejumlah

  prinsip dasar pembelajaran. Prinsip-prinsip dasar pembelajaran yang

  dimaksud adalah prinsip belajar siswa aktif (student active learning),

  kelompok    belajar   kooperatif     (cooperative   learning),   pembelajaran

  partisipatorik, mengajar yang reaktif (reactive learning) dan pembelajaran

  yang menyenangkan (joyfull learning) (Budimansyah, 2002:8).

  a. Prinsip belajar siswa aktif

              Proses belajar dengan menggunakan model pembelajaran

     berbasis portofolio berpusat pada siswa. Dengan demikian, model ini

     menganut prinsip belajar siswa aktif. Aktivitas siswa hampir di seluruh

     proses pembelajaran, dari mulai fase perencanaan di kelas, kegiatan

     lapangan dan pelaporan.

              Dalam fase perencanaan aktivitas siswa terlihat pada saat

     mengidentifikasi masalah dengan mengunakan teknik bursa ide (brain


                                     xxix
   strorming). Setiap siswa boleh menyampaikan masalah yang menarik

   baginya, tentu saja yang berkaitan dengan materi pelajaran. Setelah

   masalah terkumpul, siswa melakukan voting untuk memilih satu

   masalah untuk kajian kelas.

           Dalam fase kegiatan lapangan, aktivitas siswa lebih tampak.

   Dengan berbagai teknik mereka mengumpulkan data dan informasi

   yang diperlukan untuk menjawab permasalahan yang menjadi kajian

   kelas mereka.

           Pada fase pelaporan aktivitas mereka berfokus pada pembuatan

   portofolio kelas. Segala bentuk data dan informasi disusun secara

   sistematis dan disimpan pada sebuah bundel. Adapun data dan informasi

   yang paling penting dan menarik (eyes catching) ditempel pada

   portofolio seksi penayangan yaitu papan panel yang terbuat dari kardus

   bekas atau bahan lain yang tersedia. Setelah portofolio selesai dibuat,

   dilakukan public hearing dalam kegiatan show case dihadapan dewan

   juri.

b. Kelompok belajar kooperatif

           Proses pembelajaran dengan model ini juga menerapkan

   prinsip belajar kooperatif yaitu proses pembelajaran yang berbasis

   kerjasama. Kerjasama yang dimaksud adalah kerjasama antar siswa dan

   antar komponen-komponen lain di sekolah, termasuk kerjasama sekolah

   dengan orang tua siswa dan lembaga terkait.




                                 xxx
           Kerjasama antar siswa jelas terlihat pada saat kelas sudah

   memilih satu masalah untuk bahan kajian bersama. Dengan komponen-

   komponen sekolah juga sering kali harus dilakukan kerjasama, misalnya

   pada saat para siswa hendak mengumpulkan data dan informasi

   lapangan sepulang sekolah. Orang tua perlu juga diberi pemahaman,

   manakala anaknya pulang agak terlambat dari sekolah karena

   melakukan kunjungan lapangan terlebih dahulu.

           Kerjasama dengan lembaga terkait diperlukan pada saat para

   siswa merencanakan mengunjungi         lembaga tertentu atau meninjau

   suatu kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu.

c. Pembelajaran partisipatorik

           Model pembelajaran berbasis portofolio juga menganut prinsip

   dasar pembelajaran partisipatorik, sebab melalui model ini siswa belajar

   sambil melakoni (learning by doing). Salah satu bentuk pelakonan itu

   adalah siswa belajar hidup berdemokrasi.

           Sebagai contoh pada saat memilih masalah untuk kajian kelas,

   memiliki makna bahwa siswa dapat menghargai dan menerima pendapat

   yang didukung suara terbanyak. Pada saat berlangsungnya perdebatan,

   siswa belajar mengemukakan pendapat, mendengarkan pendapat orang

   lain, menyampaikan kritik dan sebaliknya belajar menerima kritik,

   dengan tetap berkepala dingin. Proses ini mendukung adagium yang

   menyatakan bahwa “democracy is not in heredity but learning”

   (demokrasi itu tidak diwariskan, tetapi dipelajari dan dialami).


                                xxxi
           Oleh karena itu mengajarkan demokrasi harus dalam suasana

   yang demokratis dan untuk mendukung kehidupan yang demokratis

   (teaching democracy in and for democracy). Tujuan ini hanya dapat

   dicapai dengan belajar sambil melakoni atau dengan kata lain harus

   menggunakan prinsip belajar partisipatorik.

d. Reactive learning

           Untuk menerapkan model pembelajaran berbasis portofolio,

   guru perlu menciptakan strategi yang tepat agar siswa mempunyai

   motivasi belajar yang tinggi. Motivasi yang seperti itu akan dapat

   tercipta jika guru dapat meyakinkan siswa akan kegunaan materi

   pelajaran bagi kehidupan nyata.

   Ciri guru reaktif diantaranya adalah sebagai berikut :

    a. Menjadikan siswa sebagi pusat kegiatan belajar

    b. Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan

        dipahami siswa

    c. Selalu berupaya membangkitkan motivasi belajar siswa dengan

        membuat materi pelajaran sebagai hal yang menarik dan berguna

        bagi kehidupan siswa

    d. Segera mengenali materi atau metode pembelajaran yang membuat

        siswa bosan. Jika hal ini terjadi maka ia segera menanggulanginya

        (Budimansyah, 2002:12-13).

           Model pembelajaran berbasis portofolio mensyaratkan guru

   yang reaktif, sebab tidak jarang pada awal pelaksanaan model ini, siswa


                                xxxii
     ragu dan bahkan malu untuk mengemukakan pendapat. Hal tersebut

     terjadi karena secara empirik potensi dan kemampuan siswa yang

     bervariasi.

  e. Joyfull learning

              Salah satu teori belajar menegaskan bahwa sesulit apapun

     materi pelajaran, apabila dipelajari dalam suasana yang menyenangkan

     maka pelajaran tersebut akan mudah dipahami. Sebaliknya walaupun

     materi pelajaran tidak terlampau sulit untuk dipelajari, namun apabila

     suasana belajar membosankan dan tidak menarik maka pelajaran akan

     sulit dipahami.

              Atas dasar pemikiran tersebut, maka agar para siswa mudah

     memahami materi pelajaran, mereka harus belajar dalam suasana yang

     menyenangkan, penuh daya tarik dan penuh motivasi. Model

     pembelajaran berbasis portofolio menganut prinsip dasar bahwa belajar

     itu harus dalam suasana yang menyenangkan (joyfull learning). Melalui

     model ini para siswa diberi keleluasaan untuk memilih tema belajar

     yang menarik bagi dirinya (Budimansyah, 2002:16).

3. Langkah-Langkah Pembelajaran

           Sebagai suatu inovasi, model pembelajaran berbasis portofolio

  tidak memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru laksana botol

  kosong yang diisi dengan ilmu pengetahuan

          Sesuai dengan misi pendidikan menuju abad 21 seperti yang telah

  dikemukakan sebelumnya yaitu learning to do, learning to know, learning


                                xxxiii
to be dan learning to live together, terdapat sejumlah langkah-langkah

dalam pembelajaran portofolio, antara lain :

a. Mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat

           Selaku warga masyarakat, siswa dibiasakan selalu peka terhadap

   masalah-masalah kemasyarakatan dilingkungannya. Siswa harus juga

   terampil memecahkan masalah-masalah sosial.

           Untuk     melakukan     identifikasi   masalah   dalam     model

   pembelajaran berbasis portofolio dapat ditempuh dua cara yaitu :

        Kegiatan kelompok kecil

                   Untuk melakukan identifikasi masalah, perlu diawali

        dengan diskusi kelas guna berbagi pengetahuan tentang masalah-

        masalah di masyarakat. Dalam mengerjakan kegiatan ini, seluruh

        siswa hendaknya membaca dan mendiskusikan masalah-masalah

        yang ditemukan dalam masyarakat. Setiap kelompok (3-4 anak)

        diminta untuk mencari satu masalah lalu mendiskusikannya dalam

        kelompok kecil tersebut.

                   Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita dihadapkan

        pada sejumlah masalah. Kadang masalah-masalah tersebut datang

        silih berganti tetapi juga kadang datang bersamaan. Tugas kita

        adalah menghadapi dan memecahkannya, kita tidak boleh

        menghindar dari setiap permasalahan yang ada.




                                 xxxiv
Pekerjaan rumah

         Proses      diskusi      dalam    kelompok    kecil    guna

mengidentifikasi     dan    menganalisis    masalah   belum    cukup

memberikan informasi tentang masalah mana yang pantas untuk

dijadikan kajian kelas.

         Untuk menentukan masalah yang akan dikaji dalam kelas,

diperlukan informasi yang cukup terutama tentang kelayakan

masalah tersebut untuk dikaji serta ketersediaan sumber-sumber

informasi yang dapat dijadikan rujukan dalam memecahkan

masalah tersebut. Untuk itu para siswa harus diberi pekerjaan

rumah. Ada dua hal yang harus dikerjakan siswa. Pertama,

menemukan lebih banyak masalah yang ada di masyarakat. Kedua,

menemukan         kebijakan-kebijakan      yang   dirancang    untuk

memecahkan masalah-masalah tersebut. Tugas pekerjaan rumah ini

meliputi :

o Tugas wawancara

   Para siswa dapat melakukan wawancara dengan ayah atau ibu

   di rumah, teman, tetangga dan orang lain yang dipandang

   memahami masalah yang sedang dianalisis. Dapatkan apa yang

   mereka ketahui tentang masalah tersebut dan bagaimana

   perasaan mereka berkenaan dengan masalah tersebut.




                           xxxv
       o Mencari informasi dari media cetak

           Para siswa dapat membaca buku, majalah atau surat kabar yang

           memuat tulisan atau artikel mengenai masalah yang sedang

           dianalisis. Untuk memahami posisi tulisan atau artikel tersebut

           serta untuk memahami kebijakan apa yang ditawarkan untuk

           memecahkan masalah, tentu saja para siswa harus membacanya

           dengan seksama dan tidak cukup satu kali. Bawalah bahan-

           bahan yang diperoleh ke kelas. Beritahukanlah bahan-bahan

           tersebut kepada guru dan teman sekelas.

       o Mencari informasi dari media elektronik

           Para siswa harus mencari dan mendengarkan laporan berita

           pada televisi atau radio yang berkenaan dengan masalah dan

           kebijakan-kebijakan   untuk   menangani     masalah   tersebut.

           Bawalah informasi tersebut ke kelas untuk diberitahukan

           kepada guru dan teman sekelas.

b. Memilih masalah untuk kajian kelas

          Apabila kelas telah cukup memiliki informasi untuk membuat

   keputusan, kelas hendaknya memilih satu masalah atas dasar suara

   terbanyak dengan cara :

       Membuat daftar masalah

                Setiap kelompok kecil yang telah mengidentifikasi dan

       menganalisis masalah dengan dukungan informasi yang memadahi




                              xxxvi
        menetapkan satu masalah untuk ditulis dalam daftar masalah di

        papan tulis.

                 Setelah semua masalah terdaftar, salah satu wakil

        kelompok diminta menjelaskan alasan pemilihan masalah tersebut,

        seberapa penting masalah tersebut bagi masyarakat dan sejauh

        mana ketersediaan data dan informasinya dalam memecahkan

        masalah.

        Melaksanakan pemungutan suara (voting)

                 Setelah informasi awal yang menyangkut masalah tersebut

        cukup dipahami, maka langkah selanjutnya adalah pemilihan

        masalah, agar masalah yang dipilih benar-benar berkualitas.

        Pemilihan dapat dilakukan lewat dua tahap :

        o Tahap I (secara terbuka)

           Setiap siswa memilih tiga masalah prioritas secara terbuka

        o Tahap II (secara tertutup)

           Dari tiga masalah prioritas pilihan siswa tersebut, dipilih lagi

           satu masalah secara tertutup. Dengan demikian akhirnya

           terpilih satu masalah yang akan terpilih sebagai kajian kelas.

c. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh

  kelas

          Terdapat dua kegiatan dalam mengumpulkan informasi tentang

   masalah yang akan dikaji oleh kelas, yaitu :




                               xxxvii
     Kegiatan kelas : mengidentifikasi sumber-sumber informasi

              Setelah memilih satu masalah untuk dikaji, maka langkah

     selanjutnya adalah kelas harus mencari informasi ke sumber-sumber

     informasi. Semakin banyak sumber-sumber informasi yang didapat

     akan lebih baik. Contoh-contoh sumber informasi antara lain :

     perpustakaan, kantor penerbit surat kabar, biro kliping, pakar di

     perguruan tinggi, pakar hukum dan hakim, kepolisian, kantor

     legislatif, kantor pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan dan

     kelompok kepentingan, jaringan informasi elektronik.

     Tugas pekerjaan rumah

              Setelah kelas memutuskan sumber-sumber informasi yang

     akan dihubungi, langkah berikutnya kelas dibagi ke dalam tim/

     kelompok peneliti. Setiap tim harus bertanggung jawab untuk

     mengumpulkan informasi yang berbeda dengan cara wawancara.

d. Mengembangkan Portofolio kelas

          Dalam mengembangkan portofolio kelas terdapat dua hal yang

   harus diperhatikan yaitu spesifikasi portofolio dan kelompok portofolio,

   sehingga portofolio tersebut dapat benar-benar dipahami oleh kelas dan

   berbagai pihak yang bersangkutan.

     Spesifikasi portofolio

               Jika informasi yang didapat dirasa cukup maka mulailah

     mengembangkan portofolio kelas. Portofolio yang dikembangkan

     meliputi dua seksi, yaitu portofolio seksi penayangan dan seksi


                              xxxviii
dokumentasi. Portofolio seksi penayangan adalah portofolio yang

akan ditayangkan sebagai bahan presentasi kelas pada saat show case.

Portofolio seksi dokumentasi adalah portofolio yang disimpan pada

binder yang berisi data dan informasi lengkap setiap kelompok

portofolio.

o Portofolio seksi penayangan

  Bagian ini harus terdiri atas empat lembar papan poster atau papan

  busa atau yang sejenisnya, dengan ukuran masing-masing kurang

  lebih 75 x 90 cm. Karya dari masing-masing kelompok portofolio

  ditempatkan/ ditempelkan pada salah satu dari empat papan poster

  tersebut.   Bahan-bahan     yang    ditayangkan     dapat   meliputi

  pernyataan-pernyataan tertulis, daftar sumber informasi, peta,

  grafik, foto, gambar, karikatur, karya seni asli dan sebagainya.

o Portofolio seksi dokumentasi

  Bagian ini merupakan kumpulan bahan-bahan terbaik sebagai

  dokumen atau bukti penelitian, misalnya berupa berita, artikel,

  gambar, foto, grafik dan tabel, data lengkap hasil wawancara, data

  hasil analisis bahan cetak dan sebagainya. Bahan-bahan ini harus

  disatukan dalam sebuah map jepit (binder) bercincin tiga. Bahan-

  bahan tersebut harus dipisahkan kedalam empat bab. Bab pertama,

  berisi tentang penjelasan masalah. Bab kedua, tentang kebijakan-

  kebijakan alternatif untuk memecahkan masalah. Bab ketiga,




                          xxxix
  tentang usulan kebijakan alternatif untuk mengatasi masalah. Bab

  keempat, berisi tentang rencana tindakan.

Kelompok portofolio

         Selanjutnya kelas dibagi kedalam        empat kelompok

portofolio. Masing-masing kelompok ditugasi untuk membuat salah

satu bagian dari portofolio kelas. Setiap kelompok portofolio

hendaknya memilih bahan-bahan yang dikumpulkan oleh semua tim

peneliti sesuai dengan keperluannya. Berikut ini adalah tugas-tugas

setiap kelompok portofolio :

o Kelompok portofolio satu : Menjelaskan masalah. Kelompok ini

  bertanggung jawab untuk menjelaskan masalah yang akan menjadi

  kajian kelas. Kelompok ini juga hendaknya menjelaskan mengapa

  masalah tersebut penting dan mengapa tingkat atau badan

  pemerintah tertentu harus memecahkan masalah tersebut.

o Kelompok portofolio dua : Mengkaji kebijakan alternatif untuk

  mengatasi masalah. Kelompok ini bertanggung jawab untuk

  menjelaskan berbagai kebijakan alternatif untuk memecahkan

  masalah.

o Kelompok portofolio tiga : Mengusulkan kebijakan publik

  untuk mengatasi masalah. Kelompok ini bertanggung jawab

  untuk mengusulkan      dan menjustifikasi kebijakan publik yang

  disepakati kelas untuk memecahkan masalah.




                           xl
     o Kelompok portofolio empat : Membuat rencana tindakan.

          Kolompok ini bertanggung jawab untuk membuat rencana tindakan

          yang menunjukkan bagaimana warga negara dapat mempengaruhi

          pemerintah untuk menerima kebijakan yang didukung oleh kelas.

e. Penyajian Portofolio (Show Case)

     Tujuan show case

                Setelah portofolio kelas selesai dibuat, kelas dapat

     menyajikannya dalam kegiatan show case (gelar kasus) dihadapan

     dewan juri (judges). Dewan juri adalah tiga hingga empat orang tokoh

     yang mewakili sekolah dan masyarakat. Dewan juri ini akan menilai

     penyajian para siswa atas dasar kriteria yang sama seperti yang

     digunakan untuk membuat portofolio kelas.

                Kegiatan show case memberikan pengalaman berharga

     dalam menyajikan ide-ide atau gagasan-gagasan kepada orang lain

     dan belajar bagaimana meyakinkan mereka agar dapat memahami

     dan menerima ide atau gagasan tersebut. Agar kegiatan ini meriah,

     kelas dapat mengundang bapak ibu guru lain, kepala sekolah,

     perwakilan siswa dari kelas lain, orang tua siswa atau tokoh-tokoh

     masyarakat yang berdedikasi terhadap dunia pendidikan. Ada empat

     tujuan pokok dari kegiatan show case ini, yaitu sebagai berikut :

      -      Untuk menginformasikan kepada hadirin tentang pentingnya

             masalah yang diidentifikasi di masyarakat.




                                 xli
 -    Untuk menjelaskan dan mengevaluasi kebijakan alternatif

      untuk mengatasi masalah sehingga hadirin dapat memahami

      keuntungan dan kerugian dari setiap kebijakan tersebut.

 -    Untuk mendiskusikan kebijakan yang dipilih kelas sebagai

      kebijakan terbaik untuk mengatasi masalah.

 -    Untuk membuktikan bagaimana kelas dapat menumbuhkan

      dukungan dalam masyarakat, lembaga legislatif dan eksekutif

      yang terkait dengan penyusunan kebijakan publik.

Persiapan

         Hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum show case

diadakan adalah portofolio itu sendiri, penyajian lisan, tempat

pelaksanaan, juri dan moderator. Yang harus disiapkan pertama kali

adalah portofolionya sendiri. Pastikan keempat panel portofolio seksi

penayangan yang dibuat oleh masing-masing kelompok sudah

disatukan menjadi portofolio kelas. Pastikan pula bahwa portofolio

seksi dokumentasi yang terdiri atas empat bab sudah selesai disusun.

         Komponen kedua adalah penyajian lisan. Para siswa

hendaknya melakukan latihan penyajian secara lisan terlebih dahulu

sebelum menyampaikannya dihadapan hadirin dan dewan juri.

Lakukanlah dihadapan teman-teman sekelas atau teman dari kelas

lain. Para siswa dapat meminta bantuan atau petunjuk orang tua atau

anggota masyarakat lainnya yang berpengalaman daam membuat

penyajian publik. Penyajian lisan hendaknya tidak dikuasai oleh satu


                          xlii
atau dua orang siswa saja. Penyajian lisan hendaknya memperlihatkan

proses belajar kooperatif.

          Komponen lain yang harus disiapkan adalah tempat

pelaksanaan. Pilihlah satu ruangan yang cukup representatif, yaitu

yang diperkirakan cukup menampung hadirin yang diundang,

memiliki cukup penerangan, bersih dan jika perlu menggunakan

pengeras suara. Tatalah ruangan sesuai dengan keperluan show case.

          Komponen ketiga yang harus disiapkan adalah juri.

Undanglah tiga atau empat orang tokoh yang mewakili sekolah dan

masyarakat. Dewan juri ini akan menilai penyajian para siswa atas

dasar kriteria yang sama seperti yang digunakan untuk membuat

portofolio kelas.

          Komponen terakhir yang perlu disiapkan adalah moderator.

Moderator dalam pelaksanaan show case adalah guru pembimbing

kelas yang bersangkutan. Tugas moderator selain memimpin jalannya

pelaksanaan show case, juga harus memberikan pengarahan kepada

anggota dewan juri tentang tugas-tugas juri dan sistem penilaian yang

digunakan. Selain itu moderator harus meminta kesepakatan anggota

dewan juri untuk menetapkan salah seorang dari mereka menjadi

ketua dewan juri. Tugas ini sangat penting demi kelancaran sistem

penjurian pada khususnya dan kelancaran show case pada umumnya.




                             xliii
Pembukaan

         Pertama-tama moderator membuka acara, dilanjutkan

dengan menginformasikan masalah yang dikaji oleh kelas dan

memperkenalkan      nama-nama     anggota     dewan      juri   sambil

mempersilahkan anggota dewan juri mengamati portofolio kelas.

Waktu yang disediakan untuk fase ini sekitar 10 menit.

Penyajian lisan kelompok portofolio satu

         Setelah    pembukaan     selesai,   selanjutnya    moderator

memanggil kelompok portofolio satu untuk memasuki ruangan.

Moderator mempersilahkan juru bicara kelompok memperkenalkan

diri dan mengenalkan nama-nama anggota kelompoknya. Setelah itu

mempersilahkan juru bicara kelompok satu untuk menjelaskan

masalah yang menjadi kajian kelas dihadapan dewan juri selama 5

menit.

Tanya jawab kelompok portofolio satu

         Setelah juru bicara selesai mempresentasikan tugasnya,

moderator mempersilahkan ketua dewan juri untuk mengatur tanya

jawab dengan kelompok portofolio satu. Waktu yang disediakan

untuk tanya jawab sekitar 10 menit. Yang menjawab pertanyaan dari

dewan juri tidak harus juru bicara saja, anggota yang lain juga

diperbolehkan.




                          xliv
Penyajian lisan kelompok portofolio dua

           Moderator memanggil kelompok portofolio dua untuk

memasuki ruangan dan mempersilahkan juru bicara kelompok dua

memperkenalkan      diri   dan    mengenalkan   nama-nama    anggota

kelompoknya. Setelah itu mempersilahkan juru bicara kelompok

untuk mempresentasikan kajian mengenai kebijakan-kebijakan

alternatif untuk mengatasi masalah dihadapan dewan juri selama 5

menit.

Tanya jawab kelompok portofolio dua

           Setelah juru bicara selesai mempresentasikan tugasnya,

moderator mempersilahkan ketua dewan juri untuk mengatur tanya

jawab dengan kelompok portofolio dua tersebut. Waktu yang

disediakan untuk tanya jawab sekitar 10 menit. Yang menjawab

pertanyaan dari dewan juri tidak harus juru bicara saja, anggota yang

lain juga diperbolehkan.

Selingan

           Setelah dua kelompok portofolio selesai mempresentasikan

tugasnya masing-masing, kelas dapat menyajikan selingan berupa

penyajian kreativitas siswa misalnya menyanyi dan menari. Selingan

dimaksudkan untuk menghindari kejenuhan dan sekaligus untuk

meningkatkan daya tarik kegiatan show case itu sendiri. Selain itu

pada saat selingan waktu dapat digunakan dewan juri untuk




                            xlv
menyelesaikan penilaian kelompok portofolio satu dan dua. Waktu

untuk selingan sekitar 10 menit.

Penyajian lisan kelompok portofolio tiga

         Moderator memanggil kelompok portofolio tiga untuk

memasuki ruangan dan mempersilahkan juru bicara kelompok tiga

memperkenalkan     diri    dan     mengenalkan   nama-nama   anggota

kelompoknya. Setelah itu mempersilahkan juru bicara kelompok

untuk mempresentasikan usulan kebijakan publik untuk mengatasi

masalah dihadapan dewan juri selama 5 menit.

Tanya jawab kelompok portofolio tiga

         Setelah juru bicara selesai mempresentasikan tugasnya,

moderator mempersilahkan ketua dewan juri untuk mengatur tanya

jawab dengan kelompok portofolio tiga tersebut. Waktu yang

disediakan untuk tanya jawab sekitar 10 menit. Yang menjawab

pertanyaan dari dewan juri tidak harus juru bicara saja, anggota yang

lain juga diperbolehkan.

Penyajian lisan kelompok portofolio empat

         Moderator memanggil kelompok portofolio empat untuk

memasuki ruangan dan mempersilahkan juru bicara kelompok empat

memperkenalkan     diri    dan     mengenalkan   nama-nama   anggota

kelompoknya. Setelah itu mempersilahkan juru bicara kelompok

untuk mempresentasikan rencana tindakan (action plan) dihadapan

dewan juri selama 5 menit.


                           xlvi
Tanya jawab kelompok portofolio empat

         Setelah juru bicara selesai mempresentasikan tugasnya,

moderator mempersilahkan ketua dewan juri untuk mengatur tanya

jawab dengan kelompok portofolio empat tersebut. Waktu yang

disediakan untuk tanya jawab sekitar 10 menit. Yang menjawab

pertanyaan dari dewan juri tidak harus juru bicara saja, anggota yang

lain juga diperbolehkan.

Tanggapan hadirin

         Setelah     seluruh       kelompok     portofolio    selesai

mempresentasikan tugasnya masing-masing, moderator memberi

kesempatan kepada hadirin untuk menyampaikan tanggapan terhadap

penampilan para siswa. Tanggapan hadirin sangat penting sebagai

umpan balik bagi siswa sendiri maupun bagi guru pembimbingnya.

Pada saat hadirin menyampaikan tanggapan, waktu dapat digunakan

dewan juri untuk menyelesaikan penilaian kelompok portofolio tiga

dan empat. Waktu yang disediakan untuk acara tanggapan sekitar 10

menit.

Pengumuman dewan juri

         Pada akhir show case, dewan juri mengumumkan hasil

penilaian mereka terhadap penampilan para siswa. Penilaian dewan

juri didasarkan pada kualitas portofolio kelas, yang meliputi

portofolio seksi penayangan maupun seksi dokumentasi dan

penampilan kelompok baik pada saat penyajian lisan maupun pada


                           xlvii
     saat tanya jawab. Nilai dari tiap komponen tersebut dijumlahkan

     menjadi nilai kelas. Pada saat kompetisi antar kelas, jumlah nilai

     inilah yang dijadikan patokan untuk menentukan kejuaraan.

f. Kriteria dan Format Penilaian

     Kriteria Penilaian

                Portofolio yang dibuat dikelas hendaknya memenui

     sejumlah kriteria tertentu, baik untuk tiap-tiap kelompok portofolio

     maupun untuk portofolio keseluruhan. Semakin sesuai dengan kriteria

     yang diminta, portofolio yang dibuat kelas tentunya akan semakin

     baik. Sebaliknya semakin tidak sesuai dengan kriteria yang ada, maka

     portofolio tersebut semakin tidak baik. Kriteria untuk tiap-tiap

     kelompok portofolio tersebut adalah sebagai berikut :

     1) Kelengkapan

         - Apakah setiap bagian memuat bahan sesuai dengan tugas

             kelompok masing-masing?

         -    Apakah para siswa telah memasukkan lebih dari yang

             diperlukan?

     2) Kejelasan

         - Apakah portofolio disusun dengan baik ?

         - Apakah portofolio ditulis dengan jelas, sesuai dengan kaidah

             tata bahasa dan menurut ejaan yang benar?

         - Apakah hal-hal pokok dan argumen-argumen mudah untuk

             dipahami?


                                xlviii
3) Informasi

   - Apakah informasi akurat?

   - Apakah informasi mencakup fakta utama dan konsep-konsep

       penting?

   - Apakah informasi yang dimasukkan penting untuk memahami

       masalah kajian kelas?

4) Dukungan

   - Apakah portofolio memuat contoh-contoh untuk menjelaskan

       atau mendukung hal-hal pokok?

   - Apakah portofolio memuat penjelasan yang mendalam untuk

       hal-hal pokok?

5) Data grafis

   - Apakah data grafis yang ditayangkan berkaitan dengan isi dari

       bagian portofolio?

   - Apakah data grafis dimaksud memberikan informasi?

   - Apakah data grafis yang ditayangkan itu diberi judul?

   - Apakah data grafis yang ditayangkan membantu orang lain

       memahami portofolio dengan baik?

6) Dokumentasi

   -   Apakah     hal-hal   pokok   dari   setiap   bagian   portofolio

       didokumentasikan?

   - Apakah portofolio disusun berdasarkan sumber-sumber yang

       beragam dan terpercaya?


                            xlix
   - Apabila para siswa mengutip atau menyadur karya orang lain,

      apakah menyebutkan sumbernya?

   - Apakah dokumentasi yang disusun berkaitan dengan portofolio

      yang ditayangkan?

   - Apakah sumber informasi yang dipilih adalah sumber informasi

      terbaik dan terpenting?

7) Argumen kekonstitusionalan

   - Apakah data penjelasan bahwa kebijakan publik yang diusulkan

      kelas tidak melanggar konstitusi?

   - Apakah ada penjelasan bahwa kebijakan publik yang diusulkan

      kelas tidak melanggar peraturan perundang-undangan lainnya?

          Disamping portofolio untuk tiap kelompok, portofolio

keseluruhan pun hendaknya memenuhi sejumlah kriteria tertentu.

Adapun kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1) Persuasif

   - Apakah portofolio yang disusun memberikan bukti yang cukup

      bahwa masalah yang dipilih itu penting?

   - Apakah kebijakan publik yang diusulkan secara langsung

      mengarah pada masalah?

   - Apakah portofolio yang disusun menjelaskan begaimana para

      siswa dapat memperoleh dukunga publik untuk kebijakan yang

      diusulkan?




                            l
2) Kegunaan

   - Apakah usulan kebijakan publik kelas praktis dan realistis?

   - Apakah rencana kelas untuk memperoleh dukungan bagi

      kebijakan yang diusulkan realistis

3) Koordinasi

   - Apakah setiap bagian dari empat bagian portofolio seksi

      penayangan berkaitan dengan bagian-bagian yang lainnya

      tanpa mengulang informasi?

   - Apakah portofolio seksi dokumentasi memberikan bukti untuk

      mendukung portofolio seksi penayangan?

4) Refleksi

   - Apakah bagian refleksi dan evaluasi pembuatan portofolio

      menunjukkan bahwa para siswa telah memikirkan secara

      cermat tentang pengalaman belajarnya?

   - Apakah para siswa memperlihatkan bahwa dirinya telah belajar

      dari pengalaman membuat portofolio.

Kriteria Penyajian Lisan

         Tujuan     penyajian    lisan     portofolio   adalah     untuk

membelajarkan siswa menyajikan dan mempertahankan pendapat

yang rasional berkaitan dengan upaya mempengaruhi kebijakan

publik. Untuk menilai baik buruknya penyajian lisan, hendaknya

berpedoman pada sejumlah kriteria berikut :




                           li
Kriteria penyajian lisan untuk setiap kelompok :

1) Signifikasi: apakah kelompok memilih aspek-aspek terpenting dari

     portofolionya untuk disajikan secara lisan?

2) Pemahaman: apakah penyaji memahami hakekat dan ruang

     lingkup masalah, kebijakan-kebijakan alternatif yang mereka

     identifikasi, kebijakan publik kelas dan rencana tindakan?

3)    Argumentasi:    apakah       kelompok   dalam   menyajikan   dan

     mempertahankan pendapat-pendapatnya cukup memadai?

4) Responsif : apakah jawaban penyaji sesuai dengan pertanyaan

     yang diajukan dewan juri?

5) Kerjasama kelompok: apakah sebagian besar siswa berpartisipasi

     dalam penyajian? Adakah bukti tanggung jawab bersama?

     Apakah para penyaji menghargai pendapat orang lain:

Kriteria penyajikan lisan keseluruhan :

1) Persuasif: apakah penyajian lisan secara keseluruhan menimbulkan

     daya tarik untuk menerima kebijakan publik yang diusulkan oleh

     kelas?

2) Kegunaan: apakah kebijakan yang diusulkan dan pendekatan-

     pendekatan yang digunakan untuk memperoleh dukungan bagi

     kebijakan tersebut realistis? Apakah kelas mempertimbangkan

     hambatan-hambatan nyata?




                             lii
3) Koordinasi: apakah antar penyaji dari keempat kelompok

   penyajian ada hubungannya yang jelas? Apakah setiap penyajian

   dibangun dan diperluas atas dasar penyajian sebelumnya?

4) Refleksi: apakah penyajian siswa menunjukkan bahwa mereka

   merefleksi dan belajar dari pembuatan portofolio?

Format Penilaian

          Format penilaian portofolio meupun penyajian lisan

dikembangkan dengan mengacu pada kriteria portofolio dan kriteria

penyajian lisan. Format penilaian portofolio terdiri atas penilaian tiap

bagian dan tiap seksi portofolio. Tiap bagian portofolio maksudnya

adalah tiap panel portofolio, yaitu panel pertama yaitu yang dibuat

oleh kelompok portofolio satu, panel kedua yang dibuat oleh

kelompok portofolio dua, panel ketiga yang dibuat oleh kelompok

portofolio tiga dan panel keempat yang dibuat oleh kelompok

portofolio empat. Tiap seksi portofolio maksudnya adalah portofolio

seksi penayangan dan seksi dokumentasi.

          Adapun format penilaian penyajian lisan terdiri atas

penilaian terhadap penyajian lisan masing-masing kelompok, yaitu

kelompok portofolio satu, dua, tiga dan empat serta penilaian

terhadap penyajian lisan keseluruhan. Format penilaian tersebut

masing-masing akan diuraikan tersebut di bawah ini:




                            liii
1) Lembar Penilaian Portofolio : Panel Satu

   Menjelaskan Masalah

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada bagian portofolio dengan skala 1-5,

   dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

     No                Kriteria                    Skor             Catatan

    1.    Kelengkapan
          Memuat deskripsi tentang :
          •   Tingkat keseriusan dan
              ketersebaran masalah di
              masyarakat, negara dan
              bangsa
          •   Siapa yang bertanggung
              jawab untuk menangani
              masalah
          •   Memadai tidaknya
              kebijakan publik saat ini
              untuk mengatasi masalah
          •   Ketidaksepakatan dalam
              masyarakat, jika ada,
              tentang masalah
          •   Individu dan kelompok
              utama yang berpihak pada
              masalah dan analisis
              posisinya
    2.    Kejelasan
          •   Tersusun dengan baik
          •   Tertulis dengan baik


                                          liv
          •   Mudah dipahami
    3.    Informasi
          •   Akurat
          •   Cukup memadai
          •   Penting
    4.    Dukungan
          •   Memuat contoh untuk hal-
               hal utama
          •   Memuat alasan yan baik
    5.    Data grafis
          •    Berkaitan dengan isi tiap
               bagian
          •   Diberi judul dengan tepat
          •   Memberikan informasi
          •   Meningkatkan pemahaman
    6.    Bagian dokumentasi
          •   Cukup memadai
          •   Data dipercaya
          •   Berkaitan dengan tayangan
          •   Selektif
          Jumlah

   Penilai : ….                              Tanggal : ….

2) Lembar Penilaian Portofolio : Panel Dua

   Mengkaji Kebijakan Alternatif Untuk Mengatasi Masalah

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada bagian portofolio dengan skala 1-5,

   dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.



                                        lv
No                     Kriteria               Skor   Catatan

1.   Kelengkapan
     Deskrispi tentang kebijakan alternatif
     yang meliputi :
     •   Keuntungan
     •   Kerugian
     •   Pendukung
     •   Penentang
2.   Kejelasan
     •   Tersusun dengan baik
     •   Tertulis dengan baik
     •   Mudah dipahami
3.   Informasi
     •   Akurat
     •   Cukup memadai
     •   Penting
4.   Dukungan
     •   Memuat contoh untuk hal-hal
         utama
     •   Memuat alasan yang baik
5.   Data grafis
     •   Berkaitan dengan isi tiap bagian
     •   Diberi judul dengan tepat
     •   Memberikan informasi
     •   Meningkatkan pemahaman
6.   Bagian dokumentasi
     •   Cukup memadai
     •   Data dipercaya
     •   Berkaitan dengan tayangan


                                  lvi
          •   Selektif
          Jumlah

   Penilai : ….                                Tanggal : ….

3) Lembar Penilaian Portofolio : Panel Tiga

   Mengusulkan Kebijakan Publik Untuk Mengatasi Masalah

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada bagian portofolio dengan skala 1-5,

   dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

     No                   Kriteria                        Skor         Catatan

    1.    Kelengkapan
          Memuat deskripsi tentang :
          •   Kebijakan yang dianjurkan oleh
              kelas
          •   Keuntungan dan kerugiannya
          •   Argumentasi kekonstitusionalan
          •   Lembaga pemerintah mana yang
              seharusnya melaksanakan
              kebijakan yang diusulkan dan
              mengapa
    2.    Kejelasan
          •   Tersusun dengan baik
          •   Tertulis dengan baik
          •   Mudah dipahami
    3.    Informasi
          •   Akurat
          •   Cukup memadai
          •   Penting


                                        lvii
    4.    Dukungan
          •   Memuat contoh untuk hal-hal
              utama
          •   Memuat alasan yang baik

    5.    Data grafis
          •   Berkaitan dengan isi tiap bagian
          •   Diberi judul dengan tepat
          •   Memberikan informasi
          •   Meningkatkan pemahaman
    6.    Bagian dokumentasi
          •   Cukup memadai
          •   Data dipercaya
          •   Berkaitan dengan tayangan
          •   Selektif
          Jumlah

   Penilai : ….                                Tanggal : ….

4) Lembar Penilaian Portofolio : Panel Empat

   Membuat Rencana Tindakan

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada bagian portofolio dengan skala 1-5,

   dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

    No                    Kriteria                        Skor         Catatan

    1.    Kelengkapan
          Memuat deskripsi tentang :
          •   Para pendukung di masyarakat
          •   Para penentang di masyarakat
          •   Para pendukung di pemerintah

                                       lviii
      •   Para penentang di pemerintah
      •   Penjelasan tentang bagaimana
          individu masing-masing individu
          dapat diyakinkan untuk
          mendukung kebijakan
 2.   Kejelasan
      •   Tersusun dengan baik
      •   Tertulis dengan baik
      •   Mudah dipahami
 3.   Informasi
      •   Akurat
      •   Cukup memadai
      •   Penting
 4.   Dukungan
      •   Memuat contoh untuk hal-hal
          utama
      •   Memuat alas an yan baik
 5.   Data grafis
      •   Berkaitan dengan isi tiap bagian
      •   Diberi judul dengan tepat
      •   Memberikan informasi
      •   Meningkatkan pemahaman
 6.   Bagian dokumentasi
      •   Cukup memadai
      •   Data dipercaya
      •   Berkaitan dengan tayangan
      •   Selektif
      Jumlah

Penilai : ….                              Tanggal : ….


                                    lix
5) Lembar Penilaian Portofolio Keseluruhan

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada bagian portofolio dengan skala 1-5,

   dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

    No                    Kriteria                        Skor          Catatan

    1.    Persuasif
          Memberikan alasan yang meyakinkan
          bahwa :
          •   Masalah yang dikaji adalah penting
          •   Kebijakan yang diusulkan
              mengarah pada masalah
          •   Kebijakan yang diusulkan adalah
              konstitusional
    2.    Kegunaan
          •   Kebijakan yang diusulkan bersifat
              realistis
          •   Pendekatan untuk memperoleh
              dukungan adalah realistis
          •   Mempertimbangkan hambatan-
              hambatan nyata
    3.    Koordinasi
          Bagian-bagain portofolio :
          •   Berkaitan dengan yang lain
          •   Menghindari pengulangan
              informasi




                                          lx
    4.       Refleksi
            •     Menunjukkan terjadinya refleksi
            •     Menunjukkan terjadinya proses
                  belajar
            Jumlah



                                          Skor total

                (skor bagian 1-4 ditambah skor portofolio keseluruhan)

    Skor            Skor           Skor       Skor       Skor            Skor
    Bagian + Bagian            +   Bagian + Bagian     + Keselu     =    Total
    Satu            Dua            Tiga       Empat      ruhan
Keterangan Skor:

         90 - 100           = Istimewa                            Penilai : ….

         80 – 89            = Sangat Baik                         Tanggal : ….

         70 – 79            = Rata-rata

         0 – 69             = Dibawah rata-rata

6) Lembar Penilaian Penyajian Lisan : Kelompok Satu

   Menjelaskan Masalah

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada kelompok portofolio satu dengan

   skala 1-5, dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

    No                         Kriteria                    Skor          Catatan

    1.      Signifikasi
            • Seberapa besar tingkat
                  kebermaknaan informasi yang


                                             lxi
             dipilih siswa berkaitan dengan
             bagian portofolionya yang akan
             disajikan?
    2.   Pemahaman
         •   Seberapa baik tingkat pemahaman
             siswa terhadap hakekat dan ruang
             lingkup masalah?
    3.   Argumentasi
         • Seberapa baik alasan yang diberikan
             siswa bahwa masalah yang
             dipilihnya signifikan?
    4.   Responsif
         • Seberapa besar tingkat kesesuaian
             jawaban siswa dengan pertanyaan
             yang diajukan oleh juri?
    5.   Kerjasama Kelompok
         • Seberapa besar kontribusi para
             anggota kelompok terhadap
             penyajian?
         • Adakah bukti tanggung jawab
             bersama?
         • Apakan para penyaji menghargai
             pendapat para siswa lainnya?
         Jumlah

   Penilai : ….                                Tanggal : ….

7) Lembar Penilaian Penyajian Lisan : Kelompok Dua

   Mengkaji Kebijakan Alternatif Untuk Mengatasi Masalah

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada kelompok portofolio dua dengan

   skala 1-5, dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

                                        lxii
1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

 No                    Kriteria                        Skor          Catatan

 1.    Signifikasi
       • Seberapa besar tingkat
          kebermaknaan informasi yang
          dipilih siswa berkaitan dengan
          bagian portofolionya yang akan
          disajikan?
 2.    Pemahaman
       • Seberapa baik tingkat pemahaman
          siswa terhadap kebijakan-kebijakan
          alternative yang mereka
          identifikasi?
 3.    Argumentasi
       • Seberapa baik siswa menjelaskan
          keuntungan dan kerugian dari setiap
          kebijakan yang disajikan?
       • Seberapa baik mereka mendukung
          penjelasan dalam menjawab
          pertanyaan juri?
 4.    Responsif
       • Seberapa besar tingkat kesesuaian
          jawaban siswa dengan pertanyaan
          yang diajukan oleh juri?
 5.    Kerjasama Kelompok
       • Seberapa besar kontribusi para
          anggota kelompok terhadap
          penyajian?
       • Adakah bukti tanggung jawab


                                     lxiii
             bersama?
          • Apakah para penyaji menghargai
             pendapat para siswa lainnya?
          Jumlah

   Penilai : ….                               Tanggal : ….

8) Lembar Penilaian Penyajian Lisan : Kelompok Tiga

   Mengusulkan Kebijakan Publik Untuk Mengatasi Masalah

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada kelompok portofolio tiga dengan

   skala 1-5, dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

    No                    Kriteria                        Skor          Catatan

    1.    Signifikasi
          • Seberapa besar tingkat
             kebermaknaan informasi yang
             dipilih siswa berkaitan dengan
             bagian portofolionya yang akan
             disajikan?
    2.    Pemahaman
          • Seberapa baik tingkat pemahaman
             siswa terhadap keuntungan-
             keuntungan dan kerugian-kerugian
             dari kebijakan public yang mereak
             usulkan?
    3.    Argumentasi
          • Seberapa baik siswa memberikan
             alasan bahwa kebijakan yang
             diusulkannya itu merupakan suatu
             pendekatan rasional?

                                       lxiv
    4.    Responsif
          • Seberapa besar tingkat kesesuaian
             jawaban siswa dengan pertanyaan
             yang diajukan oleh juri?
    5.    Kerjasama Kelompok
          • Seberapa besar kontribusi para
             anggota kelompok terhadap
             penyajian?
          • Adakah bukti tanggung jawab
             bersama?
          • Apakah para penyaji menghargai
             pendapat para siswa lainnya?
          Jumlah

   Penilai : ….                               Tanggal : ….

9) Lembar Penilaian Penyajian Lisan : Kelompok Empat

   Membuat Rencana Tindakan

   Untuk setiap kriteria, berilah skor kepada kelompok portofolio empat dengan

   skala 1-5, dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

    No                    Kriteria                        Skor          Catatan

    1.    Signifikasi
          • Seberapa besar tingkat
             kebermaknaan informasi yang
             dipilih siswa berkaitan dengan
             bagian portofolionya yang akan
             disajikan?




                                        lxv
2.   Pemahaman
     • Seberapa baik tingkat pemahaman
        siswa terhadap langkah-langkah
        yang diperlukan agar kebijakan yang
        diusulkan dapat diterima oleh
        pemerintah?
3.   Argumentasi
     • Seberapa baik siswa memberi alasan
        bahwa rencana tindakannya itu
        rasional?
     • Seberapa baik mereka menunjukkan
        bahwa mereka dapat memperoleh
        dukungan dan mengatasi tantangan
        dalam masyarakatnya, lembaga
        pemerintah dan lembaga legislative
        terhadap rencana tindakannya?
     • Memadaikah mereka
        mempertahankan pendapatnya pada
        saat Tanya jawab dengan juri?
4.   Responsive
     • Seberapa besar tingkat kesesuaian
        jawaban siswa dengan pertanyaan
        yang diajukan oleh juri?
5.   Kerjasama Kelompok
     • Seberapa besar kontribusi para
        anggota kelompok terhadap
        penyajian?
     • Adakah bukti tanggung jawab
        bersama?




                                   lxvi
          • Apakah para penyaji menghargai
             pendapat para siswa lainnya?
          Jumlah

   Penilai : ….                                Tanggal : ….

10) Lembar Penilaian Penyajain Lisan Keseluruhan

   Untuk setiap criteria, berilah scor kepada bagian penyajian portofolio

   keseluruhan dengan skala 1-5, dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah

   skor terendah.

   1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = diatas rata-rata; 5 = istimewa.

    No                    Kriteria                         Skor         Catatan

    1.    Persuasive
          • Keseluruhan penyajian menimbulkan
             daya tarik terhadap kebijakan public
             yang diusulkan oleh kelas
    2.    Kegunaan
          • Kebijakan yang diusulkan bersifat
             realistis
          • Pendekatan untuk memperolah
             dukungan adalah realistis
          • Mempertimbangkan hambatan
             nyatas
    3.    Koordinasi
          Masing-masing penampilan :
          • Berhubungan dengan yang lain
          • Masing-masing penyajian dibangun
             dan dikembangkan atas dasar
             penyajian sebelumnya


                                       lxvii
    4.      Refleksi
            • Menunjukkan terjadinya refleksi
            • Menunjukkan terjadinya proses
                  belajar
            Jumlah

                                            Skor total

              (skor bagian 1-4 ditambah skor portofolio keseluruhan)

    Skor            Skor             Skor       Skor        Skor           Skor
    Bagian + Bagian             +    Bagian + Bagian     + Keselu     =    Total
    Satu            Dua              Tiga       Empat       ruhan
Keterangan Skor:

         90 - 100            = Istimewa                             Penilai : ….

         80 – 89             = Sangat Baik                          Tanggal : ….

         70 – 79             = Rata-rata

         0 – 69              = Dibawah rata-rata



     g. Refleksi Pengalaman Belajar

             Pengertian

                            Pada saat kelas selesai menyajikan portofolio dalam kegiatan

              show case, hendaknya diikuti oleh kegiatan refleksi pengalaman

              belajar. Merefleksi berarti bercermin, maknanya adalah bercermin

              pada pengalaman belajar yang baru saja dilaksanakan para siswa

              baik secara perorangan maupun kelompok.

                            Kegiatan belajar yang dilaksanakan sering kali memberikan

              banyak sekali pengalaman, baik pengalaman yang menyenangkan

                                              lxviii
maupun yang tidak menyenangkan. Maka dalam kegiatan refleksi

ini, siswa diajak untuk melakukan evaluasi tentang apa dan

bagaimana mereka telah belajar, apa yang mungkin akan mereka

lakukan seandainya mereka bekerja dalam membuat portofolio lain

di masa dating. Dengan demikian, keigatan refleksi merupakan satu

cara untuk belajar yaitu belajar untuk tidak melakukan kesalahan

yang sama di masa mendatang.

Panduan untuk Melakuakan Refleksi Pengalaman belajar

       Kegiatan merefleksi pengalaman belajar dapat dilakuakan

pada    kelas   secara    klasikal.   Pertama-tama      guru    dapat

mengkondisikan kelas untuk merenungkan pengalaman belajarnya

ke belakang, dari tahap kegiatan mengidentifikasi masalah, memilih

masalah untuk kajian kelas, mengidentifikasi sumber-sumber

informasi, mengumpulkan data dan informasi lapangan, membuat

portofolio kelas dan menyajikannya di hadapan dewan juri.

Selanjutnya siswa dimunta untuk merefleksi pengalaman belajarnya

secara perorangan maupun sebagai anggota kelas.

       Hasil refleksi pengalaman belajar tersebut hendaknya

dimasukkan sebagai Bab Kelima pada portofolio seksi dokumentasi.

Karena hasil refleksi tersebut terdiri dari refleksi secara individual

dan kelas, maka hendaknya diletakkan secara terpisah.




                          lxix
B. TEORI KONSTRUKTIVISME DAN MODEL PEMBELAJARAN

   BERBASIS PORTOFOLIO

            Teori belajar konstruktivisme adalah dasar dari pengembangan

   model    pembelajaran      berbasis     portofolio,   yang     pada    prinsipnya

   menggambarkan         bahwa     siswa      membentuk         atau     membangun

   pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan. Prinsip yang paling

   umum dan paling esensisal dari teori konstruktivisme adalah bahwa dalam

   merancang suatu pembelajaran, siswa memperoleh banyak pengetahuan

   diluar kelas.

            Von Glasersfeld membedakan adanya tiga taraf konstruktivisme

   yaitu konstruktivisme radikal, realisme hipotesis dan konstruktivisme yang

   biasa.

   1. Konstruktivisme radikal

                   Kaum konstruktivitis radikal mengesampingkan hubungan

      antara pengetahuan dan kenyataan sebagai suatu criteria kebenaran.

      Pengetahuan tidak merefleksikan suatu kenyataan ontologis objektif,

      tetapi merupakan suatu pengaturan dan organisasi dari suatu dunia yang

      dibentuk oleh pengalaman seseorang (Von Glasersfeld, 1984).

                   Konstruktivisme radikal berpegang bahwa kita hanya dapat

      mengalami apa yang dibentuk/ dikonstruksi oeh pikiran kita. Bentukan

      itu harus jalan dan tidak harus selalu merupakan representasi dunia

      nyata. Bila kita percaya bahwa apa yang diketahui itu memberikan




                                     lxx
   gambaran akan dunia nyata, semua itu adalah ilusi (Von Glasersfeld,

   1989).

             Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari seseorang yang

   mengetahui, maka tidak dapat ditransfer kepada penerima yang pasif.

   Penerima sendiri yang harus mengkonstruksi pengetahuan itu. Semua

   yang ada disekitar hanyalah sarana untuk terjadinya konstruksi tersebut.

             Dalam pandangan konstruktivisme radikal sebenarnya tidak

   ada konstruksi sosial, dimana pengetahuan itu dikonstruksikan bersama,

   karena masing-masing orang harus menyimpulkan dan menangkap

   sendiri makna terakhir. Pandangan orang lain adalah bahan untuk

   dikonstruksikan dan diorganisasikan dalam pengetahuan yang sudah

   dimiliki orang itu sendiri.

2. Realisme hipotesis

             Menurut realisme hipotesis, pengetahuan (ilmiah) dipandang

   sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataan dan berkembang

   menuju suatu pengetahuan yang sejati, yang dekat dengan realitas

   (Manuver, 1981 dalam Bettencourt, 1989). Menurut Manuver,

   pengetahuan mempunyai relasi dengan kenyataan tetapi tidak sempurna.

3. Konstruktivisme yang biasa

             Aliran     ini      tidak     mengambil   semua    konsekuensi

   konstruktivisme. Menurut aliran ini, pengetahuan merupakan gambaran

   dari realitas itu. Pengetahuan dipandang sebagai suatu gambaran yang

   dibentuk dari kenyataan suatu objek dalam dirinya sendiri.


                                    lxxi
          Teori konstruktivisme sangat tepat sebagai terobosan untuk

menjawab tantangan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang

bermutu menjelang tahun 2020 yang dituangkan dalam visi Indonesia

masa depan, yaitu :“Terwujudnya system pendidikan yang berkualitas

yang mampu melahirkan sumber daya manusia yang handal dan

berakhlak mulia, yang mampu bekerja sama dan bersaing diera

globalisasi dengan tetap mencintai tanah air. Sumber daya manusia yang

bermutu tersebut memiliki keimanan dan ketakwaan serta menguasai

ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja, dan mampu

membangun budaya kerja yang produktif dan berkepribadian” (Putusan

Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2001:52).

          Dengan    menerapkan teori    kontruktivisme siswa    dapat

menggunakan konsep dan ketrampilannya di dalam dan di luar kelas

serta di lingkungan kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara cerdas, kreatif dan

bertangung jawab.

          Menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif

pelajar menkonstruksi makna.        Belajar juga   merupakan   proses

mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang

dipelajari dengan pengartian yang sudah dimiliki seseorang sehingga

pengertiannya dikembangkan. Proses tersebut antara lain bercirikan

sebagai berikut :




                            lxxii
1.   Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa

     dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi

     arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia miliki.

2.   Konstruksi arti adalah proses yang terus-menerus. Setiap kali

     berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan

     rekonstruksi baik secara kuat maupun secara lemah.

3.   Belajar bukanlah kegaitan mengumpulkan fakta, melainkan lebih

     suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian baru.

     Belajar   bukanlah    hasil     perkembangan,    tetapi      merupakan

     perkembangan itu sendiri (Fosnot, 1996), suatu perkembangan

     yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran

     seseorang.

4.   Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema

     seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih

     lanjut. Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi

     yang baik untuk memacu belajar.

5.   Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pelajar dengan dunia

     fisik dan lingkungannya (Bettencourt, 1989).

6.   Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui

     pelajar : konsep-konsep, tujuan dan motivasi yang mempengaruhi

     interaksi dengan bahan yang dipelajari.

         Teori konstruktivisme menyatakan bahwa setiap manusia

(learner) menempatkan bersama-sama gagasan baru dan struktur yang


                            lxxiii
telah dimiliki dalam belajar. Berdasarkan konstruktivisme, pengetahuan

tidak pernah dapat diobservasi secara independent. Pengetahuan harus

diperoleh secara personal dalam perasaan, tidak dapat ditransfer dari

seseorang ke yang lain.

         Walaupun teori ini menyatakan bahwa setiap siswa menyusun

makna bagi dirinya sendiri, tidak berarti makna itu berdiri sendiri.

Proses penyusunan makna pada dirinya sendiri ini, hampir terjadi

meskipun tanpa guru, buku teks dan sekolah. Kelas harus menjadi

tempat yang siswanya dapat memilih dan mengambil keputusan sendiri.

Kemudian mereka menggunakannya dalam situasi yang baru atau

mengubahnya sesuai dengan kondisi yang dihadapinya. Guru dan teman

sebaya dapat meningkatkan terjadinya belajar pada siswa dengan

memberikan konsepsi yang menantang kepada siswa.

         Pengetahuan yang kemudian mengendap dalam benak siswa

dibangun secara khas oleh siswa, tergambar dari apa yang dikemukakan

oleh Gustone (Poedjiadi, 1994) yaitu bahwa dalam pandangan

konstruktivisme,    tiap   individu   secara   idiosinkratik    membangun

maknanya sendiri apabila menerima stimulus, adanya konsep alternatif

pada siswa merupakan gambaran tentang adanya konsep konstruksi oleh

masing-masing individu.

         Bagi      kaum    konstruktivis,   pembelajaran       yang   efektif

menghendaki agar guru mengetahui bagaimana siswa memandang

fenomena yang menjadi subjek pembelajaran. Pembelajaran selanjutnya


                              lxxiv
dikembangkan dari gagasan yang telah ada, berakhir pada gagasan yang

telah mengalami kekuatan dan modifikasi. Ausubel (dalam Osborn,

1985:82) dan Alit (1994) mengemukakan “the most important single

factor influencing learning is what the learner already knows, ascertain

this and teach him accordingly”. Satu faktor tunggal yang penting yang

mempengaruhi dalam belajar adalah hal-hal yang telah diketahuinya,

dan dalam pembelajarannya bertitik tolaklah pada hal-hal yang telah

diketahui itu.

             Pandangan    kontruktivisme   sebagai    filosofi   pendidikan

mutakhir menganggap semua siswa dari usia taman kanak-kanak sampai

dengan perguruan tinggi memiliki gagasan/ pengetahuan tentang

lingkungan dan peristiwa lingkungan disekitarnya, meskipun gagasan itu

sering kali naïf dan miskonsepsi. Mereka senantiasa mempertahankan

gagasan/ pengetahuan naïf ini secara kokoh. Ini dipertahankan karena

gagasan/ pengetahuan ini terkait dengan gagasan/ pengetahuan awal

lainnya yang sudah dibangun dalam wujud “schemata” (struktur

kognitif).

             Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan

memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu

kegiatan       yang      memungkinkan      siswa     membangun      sendiri

pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam

membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap




                               lxxv
kritis dan mengadakan justifikasi. Jadi mengajar adala suatu bentuk

belajar sendiri ( Suparno, 1997:65)

         Menurut Yager, (1992:16) dalam Hidayat (1996), penerapan

kontruktivisme dalam pembelajaran, berarti menempatkan siswa pada

posisi sentral dalam keseluruhan program pengajaran. Berdasarkan

kontruktivisme sosial yang dikemukaan oleh Vygotsky (1978) dalam

Poedjiadi (1996) pada dasarnya memandang bahwa dengan mengadakan

diskusi atau mendengar pendapat orang lain, seseorang membentuk

pengetahuan atau mengubah pengetahuan yang sebelumnya telah

dimilikinya. Menurut pendangan kontruktivisme sosial, konsep dapat

dengan mudah terbentuk pada diri siswa melalui aktivitas atau

eksperimen.   (Confrey,    1991)      dalam   Poedjiadi     (1996).   Model

pembelajaran berbasis portofolio menerapkan/ melakukan apa yang

dijelaskan dalam kontruktivisme sosial tersebut.

         Melalui model pembelajaran seperti ini, pengetahuan dapat

diterima dan tersimpan lebih baik, karena pengetahuan tersebut masuk

otak setelah melalui proses “masuk akal”. Karena tersimpan secara

mendalam, pengetahuan tersebut mudah untuk dipelajari kembali.

         Model pembelajaran berbasis           portofolio    adalah   upaya

mendekatkan siswa kepada objek yang dibahas. Pembelajaran yang

menjadikan materi pelajaran yang dibahas secara langsung dihadapkan

kepada siswa atau siswa secara langsung mencari informasi tentang hal

yang dibahas ke alam atau masyarakat sekitar. Pada hakekatnya dengan


                             lxxvi
model pembelajaran berbasis portofolio, disamping memperoleh

pengalaman fisik terhadap objek dalam pembelajaran, siswa juga

memperoleh pengalaman/ terlibat secara mental. Pengalaman fisik

dalam arti melibatkan siswa atau mempertemukan siswa dengan objek

pembelajaran. Pengalaman mental dalam arti memperhatikan informasi

awal yang telah ada pada diri siswa, dan memberikan kebebasan kepada

siswa untuk menyusun (merekonstruksi) sendiri informasi yang

diperolehnya.

         Konstruktivisme menjelaskan bahwa satu-satunya alat/ sarana

yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah

inderanya. Dari sentuhan indera seseorang membangun gambaran

dunianya. Mereka percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri

seseorang   yang   sedang   mengetahui.    Pengetahuan   tidak   dapat

dipindahkan dari guru kepada siswa. Siswa sendiri yang akan

mengartikan apa yang telah diajarkan dan menyesuaikan terhadap

pengalaman-pengalaman mereka (Suparno, 1997:19).

Model Pembelajaran Berbasis Portofolio memungkinkan siswa untuk :

1. Berlatih memadukan antara konsep yang diperoleh dari penjelasan

   guru atau dari buku/ bacaan dengan penerapannya dalam kehidupan

   sehari-hari.

2. Siswa diberi kesempatan untuk mencari informasi diluar kelas, baik

   yang bersifat benda/ bacaan, penglihatan (objek langsung, TV/

   radio/ internet) maupun orang, tokoh, pakar.


                            lxxvii
3. Membuat alternative untuk mengatasi topik/ objek yang dibahas.

4. Membuat suatu keputusan (sesuai kemampuannya) yang berkaitan

   dengan konsep yang telah dipelajarinya, dengan mempertimbangkan

   nilai-nilai yang ada di masyarakat.

5. Merumuskan langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah

   dan mencegah timbulnya masalah yang berkaitan dengan topic yang

   dibahas.

           Tugas   guru   adalah     membantu   agar   siswa   mampu

mengonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkret,

maka strategi mengajar perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi

siswa. Strategi yang disusun selalu hanya menjadi tawaran dan saran.

Mengajar adalah suatu seni yang menuntut tidak hanya penguasaan

teknik melainkan juga intuisi. Driver dan Oldham dalam Matthews

(1994) menjalankan beberapa ciri mengajar konstruktivis sebagai

berikut:

1. Orientasi. Siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi

   dalam mempelajari suatu topik. Siswa diberi kesempatan untuk

   mengadakan observasi terhadap topik yang hendak dipelajari.

2. Elicitasi. Siswa dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas

   dengan berdiskusi, menulis, membuat poster dan lain-lain. Siswa

   diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang diobservasikan

   dalam wujud tulisan, gambar maupun poster.




                           lxxviii
      3. Restrukturisasi ide. Dalam hal ini ada tiga hal :

         a. Klarifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain atau

             teman lewat diskusi maupun pengumpulan ide. Berhadapan

             dengan    ide-ide   lain   seseorang   dapat    terangsang   untuk

             merekonstruksi gagasannya.

         b. Membangun ide yang baru. Ini terjadi bila dalam diskusi itu

             idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat

             menjawab pertanyaan yang diajukan oleh teman.

         c. Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen. Bila mungkin

             ada baiknya jika gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan

             suatu percobaan atau persoalan baru.

      4. Penggunaan ide dalam banyak situasi. Ide atau pengetahuan yang

         telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-

         macam situasi yang dhadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan

         siswa lebih lengkap dan lebih rinci.

      5. Review, bagaimana ide itu berubah.

C. KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) DAN MODEL

  PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO

           Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah suatu konsep

   kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan

   (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga

   hasilnya dapat dirasakan oleh siswa, berupa penguasaan terhadap

   seperangkat kompetensi tertentu. Dengan demikian, implementsi kurikulum


                                   lxxix
dapat menumbuhkan tanggung jawab dan partisipasi siswa untuk belajar

menilai dan mempengaruhi kebijakan umum (public policy) serta

memberanikan diri berperan serta dalam berbagai kegiatan, baik disekolah

maupun di masyarakat.

        KBK memiliki sejumlah kompetensi yang harus dikuasai siswa,

penilaian dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai hasil demonstrasi

kompetensi yang ditunjukkan oleh siswa. Pembelajaran lebih menekankan

pada kegiatan individual personal untuk menguasai kompetensi yang

dipersyaratkan. Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa Kurikulum

Berbasis Kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual

   maupun klasikal

2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman

3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan

   metode yang bervariasi

4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya

   yang memenuhi unsur edukatif

5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya

   penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi

        Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memberikan keleluasaan

kepada sekolah untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata

pelajaran sesuai dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan siswa

serta kebutuhan masyarakat disekitar sekolah. Silabus KBK dikembangkan


                                lxxx
oleh tiap sekolah sehingga        dimungkinkan beragamnya        kurikulum

antarsekolah atau wilayah tanpa mengurangi kompetensi yang telah

ditetapkan dan berlaku secara nasional.

        Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi di sekolah sangat

erat kaitannya dengan kebijakan Depdiknas mengenai pelaksanaan Broad

Bases Education (BBE) dalam mewujudkan program peningkatan mutu

pendidikan. Oleh karena itu penerapan KBK menggunakan konsep BBE

yang berorientasi life skill (BBE-LS) dan mendayagunakan semua potensi

sumber belajar yang dimiliki sekolah dan yang ada disekitar sekolah, baik

yang direncanakan untuk kepentingan belajar (learning resources by

design) maupun yang dimanfaatkan (learning resources by utilization).

        Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan,

nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

McAshan (1981:45) mengemukakan bahwa kompetensi :”…is a knowledge,

skills and abilities or capabilities that a person achieves, which become

part of his or her being to the exent he or she can satisfactorily perform

particular cognitive, affective and psychomotor behaviors”. Kompetensi

diartikan sebagai pengetahuan, ketampilan dan kemampuan yang dikuasai

oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat

melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan

sebaik-baiknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi mencakup

tugas, ketrampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh siswa untuk




                                lxxxi
dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis

pekerjaan tertentu.

        Prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar berdasarkan Kebijakan

Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2002, adalah :

     1. Berpusat pada siswa.

     2. Belajar dengan melakukan.

     3. Mengembangkan kemampuan sosial.

     4. Mengembangkan keingintahuan, imajinasi dan fitrah bertuhan.

     5. Mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah.

     6. Mengembangkan kreativitas siswa.

     7. Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi.

     8. Menumbuhkan kesadaran sebagai warga yang baik.

     9. Belajar sepanjang hayat.

     10. Perpaduan kompetisi, kerjasama dan solidaritas.

        Model pembelajaran berbasis portofolio memberi keragaman

sumber belajar dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih

sumber belajar yang sesuai dengan minat dan potensinya.Hal ini sesuai

salah satu prinsip dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi

(KBK) 2001, yakni berpusat pada siswa sebagai pembangun pengetahuan.

Artinya upaya untuk memandirikan siswa untuk berkolaborasi, membantu

teman, mengadakan pengamatan dan penilaian diri untuk suatu refleksi

akan mendorong mereka membangun pengetahuannya sendiri. Dengan

demikian baru akan diperoleh melalui pengalaman langsung secara lebih


                               lxxxii
efektif. Dalam hal ini guru adalah sebagai fasilitator belajar (KBK,

2001:10).

          Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa

tugas sebagai berikut :

1. Menyediakan       pengalaman    belajar    yang   memungkinkan    siswa

   bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses dan penelitian.

2. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang

   keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan

   gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka,

   menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif,

   menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung

   proses belajar siswa, guru harus menyemangati siswa dan guru perlu

   menyediakan konflik.

3. Memonitor, mengawasi dan menunjukkan apakan pemikiran siswa jalan

   atau     tidak.   Guru   menunjukkan      dan   mempertanyakan   apakah

   pengetahuan siswa tersebut berlaku untuk menghadapi persoalan beru

   yang berkaitan, guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan

   siswa.

          Model pembelajaran berbasis portofolio merupakan salah satu

pendekatan pembelajaran pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK),

dimana pembelajaran berfokus pada siswa, memberikan banyak metode

dalam pembelajaran dan juga membuat suasana pembelajaran menjadi




                                lxxxiii
     hidup, penuh semangat dan memancing siswa untuk lebih mengembangkan

     potensi yang dimilikinya.

D.   KERANGKA BERFIKIR

             Telah kita ketahui bahwa kualitas SDM Indonesia sangat rendah.

     Hal ini disebabkan oleh banyak factor, salah satunya adalah minimnya

     inovasi model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan saat ini yaitu

     yang benar-benar mengaktifkan siswa, membuat siswa lebih berperan dalam

     proses belajar mengajar sehingga pembelajaran tidaklah dirasakan monoton

     dan membosankan. Adanya suatu model pembelajaran seperti itu

     diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM diera mendatang.

             Model pembelajaran berbasis portofolio sebagai salah satu inovasi

     model pembelajaran yang sedang dikembangkan memiliki banyak ide-ide

     baru dalam pembelajaran. Model ini memberikan kebebasan kepada siswa

     untuk   belajar   sehingga   siswa   lebih   aktif   dan   kreatif.   Filsafat

     konstruktivisme sebagai landasan pemikiran model ini memberikan banyak

     gagasan baru bidang pendidikan. Seperti yang dikemukakan Yager,

     (1992:16) dalam Hidayat (1996), bahwa penerapan kontruktivisme dalam

     pembelajaran, berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam

     keseluruhan program pengajaran.

             Model pembelajaran berbasis portofolio menawarkan suatu

     terobosan baru pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang saat ini

     diterapkan dalam pendidikan Indonesia. Setelah siswa diberi kebebasan

     belajar nantinya siswa akan lebih kretif dan dapat berfikir kritis tentang


                                    lxxxiv
    fenomena yang ada disekitarnya yang merupakan lahan belajar bagi siswa.

    Siswa akan belajar dari lingkungan dimana ia berada, konsep pembelajaran

    yang telah tertanam dalam persepsi siswa akan sangat membantu dalam

    pembelajaran selanjutnya.

            Berkaitan dengan kerangka berfikir tersebut, maka penelitian ini

    memfokuskan     diri   untuk    mengetahui;    bagaimana    pelaksanaan

    pembelajaran portofolio dan kendala-kendala apa saja yang dihadapi di SD

    Negeri Barusari 03 Semarang dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi.

    Hubungan keduanya dapat dilihat pada diagram dibawah ini:

                       KURIKULUM
                          1999



SISDIKNAS                  KBK                    HASIL
                                                  BELAJAR




     KEBIJAKAN             PORTOFOLIO
     PEMERINTAH



                           PEMBELAJARAN               PENILAIAN




                           GURU SISWA MATERI METODE MEDIA


     Bagan 1. Hubungan KBK dengan Model Pembelajaran Portofolio


                                   lxxxv
                                   BAB III

                         METODE PENELITIAN



A. DESAIN PENELITIAN

          Dalam penelitian, untuk mendapatkan hasil yang optimal harus

  menggunakan metode penelitian yang tepat. Ditinjau dari permasalahan

  penelitian ini yaitu tentang pelaksanaan dan kendala-kendala model

  pembelajaran berbasis portofolio, maka penelitian ini bersifat kualitatif,

  sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan

  deskriptif.

          Pada penelitian kualitatif, teori dibatasi pada pengertian, suatu

  pernyataan sistematis yang berkaitan dengan seperangkat proposisi yang

  berasal dari data dan diuji kembali secara empiris. Dalam uraian tentang dasar

  teori tersebut, Bogdan dan Biklen (1982:30) dalam Moleong (1988:3)

  menggunakan istilah paradigma. Paradigma diartikan sebagai kumpulan

  longgar tentang asumsi yang secara logis dianut bersama, konsep atau

  proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan cara penelitian.

          Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan

  suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang (Nana

  Syaodich dan Ibrahim, 2001:64)

          Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam Moleong (2000:3),

  metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data yang

  dapat diamati. Artinya, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini tidak


                                   lxxxvi
  berkenaan dengan angka-angka dan bertujuan untuk menggambarkan serta

  menguraikan    keadaan     atau   fenomena      tentang   pelaksanaan   model

  pembelajaran berbasis portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang.

         Dalam penelitian kualitatif sasaran penelitian atau situs penelitian

  adalah pengkajian peristiwa-peristiwa, proses dan hasilnya dalam suatu setting

  atau latar belakang tertentu. Yang dimaksud situs dalam penelitian ini adalah

  pelaksanaan inovasi pembelajaran yaitu model portofolio yang nantinya akan

  diamati dari peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar, proses

  pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar di SD Negeri Barusari 03

  Semarang.

B. TAHAP-TAHAP PENELITIAN

         Penelitian     ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan lebih

  mengacu     pada    perspektif fenomenologis.     Peneliti dalam   pandangan

  fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya

  terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu (Moleong, 1998:9). Mereka

  berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya

  sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu

  pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar kehidupan sehari-hari

  dalam konteks kawasan penelitian tersebut. Begitu juga penelitian ini

  berusaha memahami subjek penelitian dari pandangan mereka sendiri.

         Dilihat dari jenisnya, penelitian ini digolongkan pada jenis penelitian

  deskriptif yang bersifat eksploratif, yaitu penelitian yang bertujuan

  menggambarkan keadaan atau status fenomena.


                                    lxxxvii
          Selama melakukan penelitian, peneliti merupakan instrumen utama.

Oleh karena itu peneliti menyesuaikan diri dengan memahami kenyataan di

lapangan (Bogdan dan Biklen, 1982). Pelaksanaan di lapangan, peneliti

melakukan wawancara dengan informan.

          Tahap-tahap yang ditempuh dalam penelitian ini terdiri dari persiapan

penelitian sampai dengan pelaksanaan penilitian. Menurut Moleong (1998:85)

tahap-tahap penelitian yang telah disesuaikan dengan keadaan Indonesia

adalah:

a. Tahap Pra Lapangan, meliputi menyusun rancangan penelitian, memilih

   lapangan penelitian, mengurus perijinan, menjajagi dan menilai keadaan

   lapangan,      memilih    dan    memanfaatkan      informan,    menyiapkan

   perlengkapan penelitian dan persoalan etika penelitian.

b. Tahap Pekerjaan Lapangan, meliputi memahami latar penelitian dan

   persiapan diri, memasuki lapangan, berperan serta sambil mengumpulkan

   data.

c. Tahap Analisis Data, meliputi konsep dasar analisis data, menemukan

   tema dan perumusan hipotesis, menganalisis berdasarkan hipotesis.

          Tahap-tahap penelitian yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Penelitian Pra Lapangan

   1) Menyusun rancangan penelitian yang disebut proposal penelitian. Pada

          tahap awal, tema penelitian lebih dulu diajukan kepada tim penyeleksi

          tema tingkat jurusan untuk mendapatkan persetujuan. Selanjutnya


                                   lxxxviii
   tema yang telah disetujui, disusun dalam bentuk proposal penelitian

   dan diserahkan kepada Dosen Pembimbing I dan Dosen Pembimbing

   II untuk mendapatkan bimbingan dan persetujuan.

2) Memilih lapangan penelitian

   Berkaitan dengan tema penelitian yaitu model pembelajaran berbasis

   portofolio, maka lembaga yang dipilih sebagai lapangan penelitian

   adalah SD Negeri Barusari 03 Semarang.

3) Mengurus perijinan

   Pada tahap awal, perijinan penelitian dilakukan secara lisan setelah

   Bab I, II, III skripsi disetujui. Perijinan penelitian dilakukan secara

   formal antara lembaga yang menaungi peneliti yaitu UNNES, Dinas

   Pendidikan Kota Semarang dan SD Negeri Barusari 03 Semarang.

4) Menjajagi dan menilai keadaan lapangan

   Kegiatan ini selain telah dilakukan pada saat memilih lapangan

   penelitian, juga akan dilaksanakan saat peneliti memasuki lapangan

   penelitian.

5) Memilih dan memanfaatkan informan penelitian

   Informan penelitian dipilih dengan cara purposive sample (sample

   bertujuan) dan dimanfaatkan sesuai dengan tujuan pengungkapan data

   penelitian. Informan penelitian berasal dari komponen-komponen

   pendidikan, yaitu kepala sekolah, guru dan siswa.




                             lxxxix
   6) Menyiapkan kelengkapan penelitian

      Perlengkapan penelitian yang dipersiapkan antara lain alat tulis, alat

      perekam, kamera, dan garis besar materi wawancara.

   7) Etika penelitian

      Dalam penelitian kualitatif, peran peneliti sangat besar. Untuk itu etika

      penelitian harus selalau diperhatikan, sehingga perasaan empati dan

      kekeluargaan dapat terjalin baik dengan tetap konsisten pada tujuan

      penelitian.

b. Tahap Pekerjaan Lapangan

   1) Memilih latar penelitian dan persiapan diri. Pada tahapan ini, peneliti

      diharapkan berusaha untuk melakukan interaksi awal, mempelajari

      kembali proposal dan memperdalam kajian literature penelitian.

      Dengan persiapan yang matang, pelaksanaan penelitian dapat

      dilakukan secara efektif dan efisien.

   2) Memasuki lapangan. Setelah semua persiapan baik intern maupun

      ekstern terpenuhi, peneliti dapat mulai memasuki lapangan penelitian

      secara proporsional.

   3) Mengumpulkan data. Peneliti dapat secara langsung melakukan

      wawancara, dokumentasi maupun observasi. Wawancara dilaksanakan

      secara bebas artinya tidak terikat alur jabatan, sesuai dengan situasi,

      kondisi dan kebutuhan peneliti. Begitu juga saat melakukan observasi

      dan dokumentasi.




                                   xc
  c. Tahap Analisis Data

     Terdapat banyak cara dalam melakukan analisis data, salah satu cara yang

     dianjurkan ialah mengikuti langkah berikut yang masih bersifat umum

     yaitu reduksi data, display data dan mengambil kesimpulan atau verifikasi

     (Nasution, 1988:129). Lebih lanjut uraian tentang analisis data akan

     dibahas pada sub bab G tentang proses pencatatan dan analisis data.

C. INFORMAN PENELITIAN

         Dalam penelitian kualitatif, keberadaan informan penelitian sebagai

  informan kunci yang akan diwawancarai secara mendalam sangat dibutuhkan.

  Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi

  tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Sebagai informan penelitian dalam

  penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Guru dan Siswa SD Negeri Barusari 03

  Semarang.

         Pemanfaatan informan bagi peneliti ialah agar dalam waktu yang

  relatif singkat banyak informasi yang terjangkau , jadi sebagai internal

  sampling karena informan dimanfaatkan untuk berbicara, bertukar pikiran atau

  membandingkan suatu kejadian yang ditemukan dari subjek lainnya (Bogdan

  & Biklen 1981:65).

D. FOKUS PENELITIAN

         Berdasarkan permasalahan yang ada, maka yang menjadi fokus dalam

  penelitian ini adalah bagamana pelaksanaan model pembelajaran berbasis

  portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang dan kendala-kendala apa saja




                                      xci
  yang dihadapi dalam pelaksanaan model pembelajaran berbasis portofolio di

  SD Negeri Barusari 03 Semarang.

E. METODE PENGUMPULAN DATA

         Keberhasilan dalam pengumpulan data merupakan syarat bagi

  keberhasilan penelitian, sedangkan keberhasilan dalam pengumpulan data

  tergantung pada metode yang digunakan.

  1. Metode Observasi

            Observasi dilakukan untuk mencermati kegiatan sekolah yang

     berkaitan dengan pelaksanaan model pembelajaran berbasis portofolio,

     misalnya   kegiatan   persiapan   pembelajaran,     kegiatan   pelaksanaan

     pembelajaran dan kegiatan evaluasi.

            Penggunaan teknik observasi sangat penting dalam penelitian,

     karena peneliti dapat melihat secara langsung keadaan, suasana, kenyataan

     yang sesungguhnya terjadi dilapangan.

            Metode    observasi   adalah      metode   yang   digunakan   untuk

     mendapatkan informasi serta data yang tidak mungkin diperoleh melalui

     wawancara. Data observasi yang diperoleh merupakan data faktual,

     cermat, terinci mengenai beberapa hal.

            Menurut True (1983) dalam Nugroho (1983:18), observasi adalah

     kegiatan mengamati sesuatu tanpa mempengaruhi dan secara simultan

     mencatat atau merekamnya untuk bahan analisis.

            Menurut Payton (1984) dalam Nugroho (1993:18-19), penggunaan

     teknik obseervasi dalam penelitian kualitatif memiliki empat maksud,


                                    xcii
  yaitu: menggambarkan “setting” yang diamati, kegiatan-kegiatan yang

  terjadi pada “setting” tersebut, individu-individu yang berperan dalam

  kegiatan tersebut dan makna dibalik layar kegiatan peran serta orang-orang

  yang terlibat. Observasi dilaksanakan dengan mengamati sambil membuat

  catatan secara selektif terhadap pelaksanaan model pembelajaran berbasis

  portofolio. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini bersifat “non

  partisipan” dengan maksud bahwa peneliti tidak terjun langsung dalam

  proses pembelajaran tetapi peneliti hanya mengamati sambil mencatat

  hasil pengamatan.

2. Wawancara

         Wawancara dilakukan untuk menggali persepsi responden terhadap

  pelaksanaan model pembelajaran berbasis portofolio di sekolah.

  Wawancara juga digunakan untuk mengecek data lain yang sudah lebih

  dahulu diperoleh.

         Wawancara adalah suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan

  jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Dikatakan

  sepihak karena dalam wawancara ini responden tidak diberi kesempatan

  untuk mengajukan pertanyaan (Daryanto, 1999:33)

         Dalam penelitian ini peneliti mengadakan wawancara langsung

  dengan siswa, guru dan kepala sekolah untuk memperoleh informasi

  secara langsung dari pihak yang bersangkutan.

         Penelitian ini menggunakan wawancara terbuka. Menurut Moleong

  (2000:137), wawancaara terbuka adalah wawancara yang para subjeknya


                                 xciii
     tahu bahwa mereka diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud

     wawancara itu.

  3. Dokumentasi

               Menurut      Guba    dan     Lincoln      (1981:226)     dalam   Moleong

     (2000:161), dokumen adalah setiap bahan tertulis maupun film. Dokumen

     dalam penelitian digunakan sebagai sumber data, karena dalam banyak hal

     dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji,

     menafsirkan bahkan untuk meramalkan.

               Dalam       penelitian    kualitatif,     teknik   ini   merupakan     alat

     pengumpulan data yang utama karena pembuktian hipotesis yang

     dianjurkan secara logis dan rasional melalui pendapat, teori atau badan

     hukum yang diterima baik mendukung atau menolak hipotesis tersebut

     (Rachman, 1999:96).

F. OBJEKTIVITAS DAN KEABSAHAN DATA

          Menurut Lexy J, Moleong (1994:173) pemeriksaan data mencakup

  empat criteria yaitu: derajat kepercayaan (credibility) menggantikan konsep

  validitas     internal   pada    non     kualitatif,    keteralihan   (transferability),

  kebergantugan (dependability), dan kepastian (konfirmability).

              Pada penelitian kualitatif, credibility sering dikenal dengan validitas

  internal yang merupakan ukuran tentang kebenaran data yang diperoleh

  dengan instrumen. Maksudnya adalah apakah instrumen itu sungguh-sungguh

  mengukur variabel yang sebenarnya. Bila ternyata instrumen tidak mengukur

  sesuatu yang sebenarnya diukur, maka data yang diperoleh tidak sesuai


                                          xciv
dengan kebenaran yang diharuskan dalam penelitian dan dengan sendirinya

hasil penelitian tidak dapat dipercaya (Nasution, 1988:105). Dengan kata lain,

validitas internal bertujuan untuk mengusahakan tercapainya aspek kebenaran

atau “the truth value” hasil penelitian sehingga dapat dipercaya.

          Dalam penelitian kualiatif, validitas internal menggambarkan konsep

peneliti dengan konsep yang ada pada partisipan. Kelemahan dalam validitas

internal dapat ditimbulkan oleh berbagai faktor antara lain: 1) perubahan

waktu dan situasi, 2) pengaruh pengamat/ peneliti, 3) seleksi dan regresi, 4)

mortalitas, 5) kedangkalan kesimpulan (Nasution, 1988:105).

          Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengusahakan agar kebenaran

hasil penelitian dapat tercapai dengan baik. Dalam penelitian ini, peneliti

menggunakan triangulasi dan member check untuk meningkatkan kebenaran

hasil penelitian.

          Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan

atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 1994:178). Cara

pembandingan data yang diperoleh, dapat dilihat dari sumber, metode, peneliti

maupun teori. Berkaitan dengan hal tersebut dikenal empat macam triangulasi,

yaitu triangulasi sumber, metode, peneliti dan teori (Patton 1980 dalam

Lembar Penelitian 1993:73).

          Proses triangulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah

triangulasi sumber yang berarti membandingkan atau mengecek balik suatu




                                    xcv
informasi yang diperoleh pada waktu dan alat yang berbeda (Patton 1980

dalam Lembar Penelitian 1993:73).

         Selain menggunakan triangulasi, untuk meningkatkan keabsahan

data penelitian ini dilakukan pula teknik member check. Pada proses member

check, validitas data diuji dengan cara peneliti meminta tanggapan kepada

responden/ informan penelitian untuk mengecek kebenaran data. Tahapan ini

dimaksudkan untuk memberi peluang kepada responden/ informan penelitian

agar dia memperbaiki informasi yang keliru ataupun menambahkan apa yang

masih kurang. Jadi tujuan member check ialah agar informasi yang kita

peroleh dan gunakan dalam penulisan laporan kita sesuai dengan apa yang

dimaksud oleh informan (Nasution, 1988:118). Member check dilakukan pada

saat penelitian sedang berlangsung maupun setelah akhir penelitian

         Dalam penelitian non-alamiah transferability sering disebut dengan

validitas eksternal. Validitas eksternal berkenaan dengan generalisasi yang

hanya berlaku bagi populasi penelitian dan didasarkan atas sampling yang

biasanya diseleksi secara acak atau random. Sedangkan penelitian kualitatif

tidak melakukan sampling acakan, juga tidak mengadakan pengolahan statistik

untuk mempertahankan generalisasi dan validitas eksernal (Nasution,

1988:107).

         Bagi peneliti naturalistik, transferability bergantung pada si pemakai,

yaitu hingga manakah hasil penelitian itu dapat mereka gunakan dalam

konteks dan situasi tertentu. Peneliti sendiri tidak dapat menjamin “validitas

eksternal”, hanya melihat transferability sebagai suatu kemungkinan. Apabila


                                    xcvi
pemakai hasil penelitian ini menemukan keserasian dengan situasi yang

dihadapi, maka akan tampak adanya transfer, walaupun dapat diduga bahwa

tidak ada situasi yang sama.

         Dependability merupakan istilah lain dari reliability atau reliabilitas.

Reliabilitas berkenaan dengan apakah penelitian tersebut dapat diulangi

(direplikasi) dan menghasilkan hasil yang sama jika menggunakan metode

yang sama pula.

         Dalam penelitian kualitatif, syarat reliabilitas yang dikenakan pada

penelitian kuantitatif tak mungkin diberlakukan bagi penelitian kualitatif

(Nasution, 1988:108). Situasi dalam kehidupan yang nyata tidak dapat

diulangi. Selain itu, cara melaporkan penelitian bersifat idiosyncratic dan

individualistic, selalu berbeda pada tiap orangnya. Tiap peneliti memberi

laporan menurut bahasa dan jalan pikiran sendiri, sehingga hasil penelitian

yang dilakukan oleh dua orang dengan waktu yang berbeda sangatlah

mungkin memperoleh hasil yang berbeda. Secara teoretis dalam penelitian ini,

yang dapat dilakukan adalah menyatukan dependability dengan confirmability.

Hal ini dikerjakan melalui suatu cara yang disebut “audit trail”.

         Metode penelitian kualitatif menganggap bahwa hasil suatu

penelitian akan objektif bila juga dibenarkan atau di konfirm oleh pihak lain.

Maka dari itu untuk pengertian objektivitas lazim digunakan istilah

“confirmability” (Nasution, 1988:111).




                                   xcvii
G. PROSES PENCATATAN DAN TEKNIK ANALISIS DATA

  1. Proses Pencatatan Data

             Kegiatan penting yang dilakukan seorang peneliti dalam usaha

     mengumpulkan informasi adalah proses pencatatan data. Alat penelitian

     lain yang akan digunakan dalam pengumpulan data ialah catatan lapangan

     (field notes), yaitu catatan yang dibuat oleh peneliti sewaktu mengadakan

     pengamatan/ observasi, wawancara, dokumentasi maupun menyaksikan

     suatu kejadian tertentu.

             Pada saat melakukan proses pencatatan lapangan, peneliti berusaha

     pedoman yang telah dirumuskan oleh Bogdan dalam Moleong (1988:101)

     antara lain:

     a) Buatlah catatan secepatnya, jangan menunda-nunda pekerjaan karena

         semakin ditunda semakin sulit mengingat data dan kemungkinan data

         hilang semakin besar

     b) Buatlah garis besar yang berisi judul-judul tentang sesuatu yang

         ditemui dalam pengamatan atau wawancara yang dilakukan

     c) Sering apa yang dikatakan atau yang telah diamati terlupakan setelah

         beberapa hari berlalu, jika ingat segeralah dicatat kembali

             Pada dasarnya peneliti tidak dapat melakukan dua pekerjaan

     sekaligus. Peneliti tidak mungkin melakukan pengamatan sambil membuat

     catatan yang baik. Dengan dasar kenyataan tersebut, penggunaan alat lain

     sangat diperlukan misalnya alat perekam kejadian yaitu tape recorder

     maupun kamera sebagai alat dokumentasi untuk mengeliminir kesulitan-


                                    xcviii
   kesulitan tersebut. Penggunaan peralatan tersebut sebagai pencatat data

   mempunyai keuntungan antara lain, dapat diamati dan didengar ulang

   sehingga dapat dicek kembali data yang diragukan.

2. Teknik Analisis Data

          Menurut Patton dalam Moleong (1995 : 103), analisis data adalah

   proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola,

   kategori dan suatu uraian dasar. Sedangkan Bogdan dan Taylor

   mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara

   formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti

   yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan

   dan tema pada hipotesis itu.

          Analisis data dilakukukan secara induktif, yaitu dimulai dari

   lapangan atau fakta empiris dengan cara terjun ke lapangan, mempelajari,

   menganalisis, menafsir dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada

   di lapangan. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan

   dengan proses pengumpulan data.

          Menurut Miles dan Hoberman dalam Rachman (1999:120) bahwa

   peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan

   hasil observasi dan wawancara di lapangan. Berikut tahapan analisis data:

   a. Pengumpulan data

      Peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai

      dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan.




                                  xcix
b. Reduksi data

   Yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian.

   Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian rinci

   yang akan bertambah sejalan dengan bertambahnya waktu penelitian.

   Untuk itu data tersebut perlu direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal

   yang pokok, difokuskan pada hal yang penting, dicari tema atau

   polanya.

   Langkah selanjutnya adalah menyusun data hasil reduksi dalam bentuk

   satuan-satuan. Satuan adalah bagian terkecil yang mengandung makna

   yang bulat dan dapat berdiri sendiri terlepas dari bagian yang lain.

   Menurut Lincoln dan Guba (1985:345) karakteristik ada dua, pertama

   yaitu satuan itu harus “heuristic” artinya mengarah pada satu

   pengertian atau tindakan yang diperlukan oleh peneliti dan satuan itu

   hendaknya menarik. Kedua, satuan itu hendaknya merupakan sepotong

   informasi kecil yang dapat berdiri sendiri, artinya satuan itu harus

   dapat ditafsirkan tanpa informasi tambahan selain pengertian umum

   dalam konteks latar penelitian (Moleong, 1988:192).

   Setelah seluruh data penelitian tersusun dalam satuan-satuan, langkah

   penelitian selanjutnya adalah melakukan kategorisasi. Kategori adalah

   salah satu tumpukan dari seperangkat tumpukan yang disusuna atas

   dasar pikiran, intuisi, pendapat ataupun kriteria tertentu. Lincoln dan

   Guba dalam Moleong (1985:347-351) menguraikan kategori sebagai

   berikut: tugas pokok kategorisasi adalah 1) mengelompokkan kartu-


                                c
   kartu yang telah dibuat ke dalam bagian-bagian isi yang secara jelas

   berkaitan, 2) merumuskan aturan yang menguraikan kawasan kategori

   dan yang akhirnya dapat digunakan untuk menetapkan inklusi setiap

   kartu pada kategori, 3) menjaga agar setiap kategori yang telah disusun

   satu dengan yang lainnya mengikuti prinsip taat asas.

c. Penyajian data (display data)

   Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan

   adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam

   pelaksanaan penelitian, penyajian data yang lebih baik merupakan

   suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. Penyajian

   data dapat dilakukan melalui berbagai macam visual misalnya:

   gambar, grafik, diagram, matrik dan sebagainya (Milles dan

   Hoberman, 2000:17).

d. Pengambilan keputusan atau verifikasi

   Penarikan    kesimpulan   merupakan     bagian   dari   satu   kegiatan

   konfigurasi yang utuh, sehingga kesimpulan yang diperoleh juga

   diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi data yaitu

   pemeriksaan tentang besar dan tidaknya hasil laporan penelitian.

   Kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan,

   kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna-makna yang muncul dari

   data yang harus diuji kebenarannya, kekokohannya dan kecocokannya

   yang merupakan validitasnya (Milles dan Hoberman, 2000:19).




                                ci
Sejak awal peneliti mencari makna dari data yang diperoleh. Untuk itu

peneliti berusaha mencari pola, model, tema, hubungan, persamaan,

hal-hal yang sering muncul dan sebagainya.

Tahapan analisis data kualitatif tersebut dapat dilihat dalam bagan

berikut:


                            MASALAH




                           PENGUMPULAN
                               DATA




           REDUKSI                                   SAJIAN
            DATA                                      DATA




                              VERIFIKASI


           Sumber : Analisis Data Kualitatif, 1992:20.

Bagan 2. Tahapan analisis data kualitatif

Keempat komponen tersebut saling mempengaruhi dan terkait.

Pertama kali peneliti ke lapangan dengan mengadakan wawancara atau

observasi yang merupakan tahap pengumpulan data, setelah data-data

tersebut dikumpulkan maka diadakan reduksi data dan kemudian data

disajikan selain itu data juga digunakan untuk penyajian data. Bila




                            cii
ketiga tahapan tersebut selesai dilaksanakan maka tahap terakhir yang

dilakukan adalah mengambil keputusan atau verifikasi.




                           ciii
                                     BAB IV

                            PENYAJIAN DATA

A. Deskripsi Penemuan Data
   1. Deskripsi Setting Penelitian

               SD Negeri Barusari 03 Semarang yang juga terkenal dengan nama

      SD    Negeri   Kesdam     IV    Diponegoro   berlokasi   di   Jalan   HOS

      Cokrohaminoto Buntu 14 Semarang, Kelurahan Barusari, Semarang

      Selatan dengan nomor telepon (024) 3547479. Daerah tersebut merupakan

      wilayah yang tidak berada di pinggiran jalan utama sehingga suasana yang

      terasa adalah suasana belajar yang kondusif karena jauh dari keramaian

      lalu lalang kendaraan yang lewat.


               Lokasi Sekolah Dasar ini bersebelahan dengan Taman Kanak-

      Kanak yang lebih tepatnya kedua sekolah ini terletak di belakang RST

      (Rumah Sakit Tentara) di daerah Kalisari yang merupakan pusat penjualan

      bunga dan tanaman hias di Semarang.


               Adapun visi yang diemban adalah “Menciptakan pribadi mandiri

      dalam prestasi dengan dilandasi iman dan taqwa dan berbudi pekerti yang

      luhur berakhlak mulia”. Selain itu SD Negeri Barusari 03 Semarang

      memiliki beberapa misi yaitu antara lain:


      1. Menciptakan manusia Indonesia seutuhnya melalui pelayanan proses

           belajar mengajar yang baik dan menyenangkan peserta didik dengan

           strategi PAKEM


                                      civ
2. Mendorong masyarakat untuk berperan serta meningkatkan mutu

    pendidikan

3. Memberikan pendidikan agama pada peserta didik agar mampu

    menerapkan dalam kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan

    bernegara

4. Memberikan pendidikan keterampilan sebagai bekal untuk hidup

    secara mandiri kepada peserta didik

5. Mendorong siswa untuk berprestasi secara optimal

6. Mengoptimalkan semua unsur sekolah sehingga tercipta sekolah yang

    bermutu


         Program jangka panjang yang dicanangkan di SD Negeri Barusari

03 Semarang meliputi program akademik dan non akademik. Program

akademik yaitu SD Negeri Barusari 03 Semarang akan mengadakan

inovasi, perubahan secara bertahap menuju sekolah yang bercorak MBS

(Manajemen Berbasis Sekolah) dengan mengoptimalkan semua unsur

sekolah diantaranya: 1) daya (kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua

murid , tokoh masyarakat, tokoh agama). 2) dana, yaitu menggali dari

berbagai pihak baik pemerintah maupun swadaya masyarakat untuk

membantu SD Negeri Barusari 03 Semarang secara fisik maupun non

fisik.


         Dalam jangka panjang antara 5 tahun sampai 8 tahun SD Negeri

Barusari 03 Semarang terus akan berjuang berbenah diri menuju sekolah


                                cv
yang bermutu, mandiri dalam prestasi, digemari masyarakat dan

mensejajarkan diri dengan sekolah-sekolah yang berpredikat maju di kota

Semarang. Untuk tujuan tersebut sekolah harus mau dan mampu membina

kinerja kepala sekolah, guru dan karyawan untuk menyadari tugas dan

kewajibannya yaitu:

a. Merencanakan dan membuat program belajar mengajar

b. Melaksanakan program dengan strategi belajar PAKEM (Pembelajaran

   Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan)

c. Mengevaluasi kegiatan belajar mengajar

d. Menganalisis hasil belajar

e. Mengadakan perbaikan pengayaan (remidi)


        Untuk mewujudkan sekolah yang bermutu, SD Negeri Barusari

03 Semarang telah bertekad untuk terus meningkatkan:

1. Kemampuan professional guru (melalui kegiatan KKG, melanjutkan

   belajar dan pertemuan ilmiah lainnya

2. Pengembangan dan pengelolaan lingkungan sekolah, sarana dan

   prasarana

3. Pengelolaan sekolah yang dapat bersaing secara positif

4. Pengembangan supervisi untuk memberikan motivasi

5. Pengembangan test dan penilaian belajar

6. Meningkatkan hubungan sekolah dengan masyarakat




                                cvi
        Melalui berbagai program yang telah dicanangkan sebelumnya

diharapkan:

1. SD Negeri Barusari 03 Semarang menjadi sekolah yang bermutu

2. Mutu lulusan SD Negeri Barusari 03 Semarang memiliki bekal ilmu

   pengetahuan, dasar teknologi serta keterampilan yang bermanfaat

   untuk meneruskan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi dan sebagai

   bekal hidup secara mandiri

3. Mutu lulusan SD Negeri Barusari 03 Semarang memiliki ilmu agama

   yang dapat diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa

   dan bernegara

4. Mutu lulusan SD Negeri Barusari 03 Semarang memiliki pribadi yang

   mandiri, berprestasi dengan dilandasi iman dan taqwa, berbudi pekerti

   luhur dan berakhlak mulia

5. Menjadi manusia Indonesia seutuhnya, sehat secara jasmani dan rohani

       Selain tersebut diatas, melalui program-program yang telah

dicanangkan pula diharapkan:

1. Kesejahteraan guru dan karyawan akan terus meningkat

2. Professional guru dan karyawan akan tampak berkembang, kemauan

   dan kemampuan terus meningkat

3. Terwujudnya keharmonisan dalam kerja, hubungan kekeluargaan

   meningkat, transparansi dalam kerja dan cinta akan tugasnya

4. Terkondisinya disiplin dalam arti luas




                                cvii
5. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, menerima masukan dari

   masyarakat, membuka diri agar masyarakat ikut berperan aktif

   mendukung kemajuan sekolah dalam bidang akademik dan non

   akademik

       Program non akademik yang dicanangkan SD Negeri Barusari 03

Semarang dalam jangka panjang antara 5 tahun sampai 8 tahun adalah

terus berbenah diri mengejar pembangunan fisik yang rusak, roboh dan

tidak terurus sama sekali sehingga SD Negeri Barusari 03 Semarang tidak

tertinggal jauh kondisi fisiknya dengan sekolah-sekolah di lingkungan

Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Semarang Selatan. Bersama komite

sekolah, orang tua murid, tokoh masyarakat dan tokoh agama di

lingkungan SD Negeri barusari 03 Semarang sekolah akan menata

bangunan sekolah secara bertahap dengan mengutamakan skala prioritas

kebutuhan belajar siswa.

       Rencana pembangunan SD Negeri Barusari 03 Semarang

diprogramkan sebagai berikut:

1. Pembangunan ruang kelas, dari kelas 1 sampai dengan kelas VI yang

   layak ideal untuk kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan

2. Pembangunan kamar kecil yang memadai bagi guru dan siswa karena

   merupakan kebutuhan yang sangat vital

3. Pembangunan ruang kepala sekolah (kantor) yang layak, sehingga

   menambah semangat kerja dan memudahkan untuk pelayanan

   pendidikan kepada warga sekolah, dinas dan masyarakat


                                cviii
4. Pembangunan ruang guru yang layak sehingga memudahkan kenerja

   guru     untuk   merancang    program-program      pembelajaran   yang

   bermanfaat bagi peserta didik

5. Pembangunan ruang perpustakaan, ruang UKS, ruang komputer,

   mushola sederhana penunjang kegiatan belajar mengajar

6. Penataan tempat parkir kendaraan bagi siswa, guru dan tamu dinas

7. Penataan halaman sekolah, taman sekolah yang nyaman sehingga

   dapat mendukung ketenangan belajar

8. Penataan ruang aula sehingga mendukung kegiatan olah raga, rapat-

   rapat dan pentas seni

9. Pembangunan kantin sekolah yang bersih dan sehat

       Dengan berpedoman pada visi dan misi yang telah diuraikan di

atas, SD Negeri Barusari 03 Semarang memprogramkan kegiatan jangka

menengah antara 1 tahun sampai 4 tahun, sebagai berikut:


Tahap I     : Mensosialisasikan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)

              kepada guru, karyawan, orang tua murid, tokoh masyarakat

              dan tokoh agama dilingkungan sekolah.


Tahap II    : Menyusun program jangka panjang bersama komite sekolah,

              tokoh masyarakat, tokoh agama dan pengusaha dilingkungan

              sekolah


Tahap III   : Mengadakan studi banding ke sekolah yang sudah menjadi

              rintisan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), mendatangkan

                                cix
                   narasumber dari SD rintisan MBS dan dari cabang dinas

                   pendidikan Kecamatan Semarang Selatan


  Tahap IV : Mengadakan inovasi perubahan secara bertahap menuju

                   sekolah yang bercorak MBS dan menerapkan strategi

                   PAKEM        (Pembelajaran    Aktif   Kreatif   Efektif     dan

                   Menyenangkan

           SD Negeri Barusari 03 Semarang merupakan salah satu dari sekian

  banyak     sekolah    dasar    di   Semarang    yang   melaksanakan        model

  pembelajaran berbasis portofolio, tapi sejauh ini hanya ada beberapa saja

  yang masih bertahan mengembangkan model tersebut. Pelaksanaan model

  pembelajaran portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang belum

  sepenuhnya dilaksanakan mulai dari kelas I sampai kelas VI, tetapi baru di

  ujicoba pada kelas III dan V, sedangkan dalam penelitian ini peneliti tidak

  meneliti dua kelas sekaligus tetapi hanya berfokus pada satu kelas saja

  yaitu kelas V.

2. Deskripsi Model Pembelajaran Bebasis Portofolio di SD Negeri

  Barusari 03 Semarang


           Sesuai dengan rancangan awal yang menyebutkan bahwa metode

  pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara,

  dokumentasi dan observasi. Langkah ini dilakukan dengan alasan supaya

  data mentah (yang pengambilannya memanfaatkan tape recorder, kamera

  maupun catatan lapangan) lebih lanjut dapat dipahami.


                                      cx
       Penyajian data dilakukan secara berurutan mulai dari hasil

wawancara, observasi dan diakhiri dengan data dokumentasi. Berikut ini

disajikan deskripsi penemuan data mengenai persiapan pembelajaran yang

dilakukan oleh pihak sekolah.

a. Informan Kepala Sekolah


          Hasil wawancara yang berhasil diungkap dari informan Kepala

   Sekolah SD Negeri Barusari 03 Semarang berkaitan dengan persiapan

   sekolah, hasil pelaksanaan, kendala dan hambatan, sarana-prasarana,

   dan anggaran pelaksanaan pembelajaran portofolio. Berikut ini hasil

   wawacara yang terungkap.


          Dalam pembelajaran portofolio perlu adanya persiapan dari

   sekolah. Yang pertama adalah persiapan kepala sekolah sendiri yang

   harus mampu, mengerti apa yang dimaksud dengan pembelajaran

   portofolio itu, kemudian ditularkan kepada semua guru dan diharapkan

   konsep pembelajaran portofolio itu dimengerti sehingga mudah

   dilaksanakan. Selain itu pembelajaran portofolio membutuhkan

   rancangan dan persiapan yang matang. Persiapan pertama yaitu pada

   minggu pertama dan minggu kedua siswa masuk sekolah khususnya

   kelas V, pihak sekolah memanggil orang tua dan kemudian

   membentuk tim sukses untuk pembelajaran portofolio, sebab

   pembelajaran portofolio membutuhkan anggaran yang banyak,

   membutuhkan kerjasama antara sekolah dengan orang tua. Tim sukses


                                cxi
yang terbentuk bertujuan untuk menggalang dana, masukan dan usulan

dari orang tua, sehingga kesukaran-kesukaran yang mungkin timbul

dapat diatasi dengan sebaik-baiknya (KS-01).


       Melalui pembelajaran portofolio siswa akan mendapatkan

praktik empirik dalam arti praktik di dalam kehidupan langsung

sehingga siswa tidak verbalisme dalam menerima pelajaran tetapi

benar-benar ditekankan pada praktik, mengingat KBK yang baru

dikembangkan saat ini ada nilai-nilai praktik sehingga siswa tidak

hanya dijejali pengetahuan saja tetapi juga dibimbing tentang

keterampilannya (KS-02).


       Selama menggunakan model pembelajaran portofolio prestasi

siswa semakin meningkat, terbukti dalam mengikuti perlombaan

mereka berani bersaing jika dibandingkan dengan tahun-tahun

sebelumnya. Keberhasilan dalam mengikuti lomba dapat dilihat dari

perolehan piala dalam berbagai lomba yang diikuti, sehingga setiap

lomba pihak sekolah siap untuk menampilkan siswa (KS-03).


       Model pembelajaran portofolio dapat dilaksanakan seperti yang

diharapkan, dengan catatan harus ada dukungan dari berbagai pihak,

sebab pihak sekolah tidak bisa berdiri sendiri dalam menjalankan

program. Sekolah harus bekerja keras menjalin kerjasama dengan

berbagai pihak termasuk dians pendidikan, orang tua siswa, tokoh



                           cxii
masyarakat, pengusaha sehingga dapat membantu kegiatan belajar

mengajar terutama dana yang dibutuhkan (KS-04).


       Dalam pelaksanan model pembelajaran portofolio terdapat

hambatan-hambatan. Hambatan pada awal pelaksanaan lebih banyak

sebab masih dalam masa transisi antara model pembelajaran lama ke

model pembelajaran yang baru. Hambatan yang lebih dominan yaitu

kekurangan dana, diikuti kurangnya dukungan dari orang tua. Orang

tua banyak yang merasa belum siap dan menanyakan kondisi anaknya

yang lebih banyak aktivitas di luar jam sekolah. Setelah satu tahun,

pihak sekolah dan tim sukses mengadakan pertemuan untuk

mengevaluasi kerja tim yang sudah dibentuk (KS-05)


       Berkaitan dengan dana, pihak sekolah hanya mempunyai

anggaran yang kecil, sehingga perlu menjalin kerjasama dengan

berbagai pihak tetapi yang utama adalah orang tua siswa. Meskipun

bantuan dari pihak orang tua siswa tidak berupa uang tetapi mereka

tetap mengeluarkan biaya untuk membeli peralatan, untuk foto copy

dan untuk keperluan lain yang mendukung proses belajar mengajar

yang dilaksanakan (KS-06)


       Sarana dan prasarana yang ada di SD Negeri Barusari 03

Semarang juga belum memadai untuk pelaksanaan pembelajaran

portofolio sebab dalam pembelajaran portofolio itu harus membawa

siswa benar-benar sampai tuntas, dalam arti 75% keatas siswa dapat

                            cxiii
   tertangani dengan prestasi yang baik. Dengan sarana dan prasarana

   yang ada sekolah terus mencoba dan berusaha meningkatkan proses

   pembelajaran dengan harapan semakin bertambah tahun akan semakin

   meningkat (KS-07)

b. Informan Guru Kelas V


          Hasil wawancara yang berhasil diungkap dari informan Guru

   Kelas V SD Negeri Barusari 03 Semarang berkaitan dengan persiapan

   pembelajaran, proses pembelajaran, sarana-prasarana, kendala proses

   pembelajaran, potensi siswa, peningkatan motivasi siswa. Berikut ini

   hasil wawacara yang terungkap.


          Persiapan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dalam

   pembelajaran portofolio membutuhkan waktu cukup lama. Terdapat

   langkah-langkah yang harus ditempuh guru dalam            persiapan

   pembelajaran portofolio. Langkah pertama, mengkaji setiap mata

   pelajaran yang tertuang dalam kurikulum, dengan maksud untuk

   mendapatkan informasi mengenai hasil belajar dari setiap akhir mata

   pelajaran. Langkah yang kedua yaitu melihat setiap pokok bahasan

   ataupun pertemuan yang tertuang dalam GBPP, kegiatan ini bertujuan

   untuk mendapatkan informasi mengenai nilai-nilai, norma-norma,

   prinsip-prinsip apa yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran itu.

   Langkah ketiga adalah melihat kompetensi dalam KBK tujuannya

   untuk mendapat gambaran kompetensi apa saja yang nantinya perlu


                             cxiv
dikembangkan dalam keseluruhan rangkaian kegiatan. Kemudian perlu

juga memperhatikan keadaan lingkungan setempat yang diambil dari

pengalaman belajar siswa untuk memberi nuansa pada topik atau tema-

tema dari pembelajaran yang akan kembangkan. Pembelajaran harus

disesuaikan dengan kondisi lingkungan, mungkin tidak hanya

lingkungan sekitar tetapi bisa meluas ke lingkungan masyarakat.

Langkah ke empat adalah merumuskan topik atau tema pembelajaran

yang nantinya diangkat menjadi pembelajaran portofolio (GR-01).


       Penentuan topik atau tema dalam proses pembelajaran

portofolio   tidak   hanya      dilaksanakan   oleh   guru,   tetapi

dimusyawarahkan dengan siswa didalam kelas. Setelah kelas

menentukan topik atau tema kemudian mengidentifikasi masalah,

identifikasi masalah-masalah apa      yang muncul yang nantinya

berkaitan dengan topik yang telah ditetapkan. Seluruh siswa diminta

menemukan masalah, jadi setiap siswa harus memiliki pendapat sesuai

dengan pribadinya masing-masing tanpa dipengaruhi oleh teman-

teman sekelas. Setelah itu langkah selanjutnya adalah menulis atau

menentukan masalah yang akan dikembangkan menjadi pembelajaran

portofolio yang dilaksanakan secara musyawarah. Biasanya siswa

menuliskan masalah-masalah yang ditemukan       di papan tulis, dan

kemungkinan terdapat ide ganda karena masing-masing siswa punya

ide. Masalah yang banyak muncul itulah biasanya yang diangkat

menjadi kajian. Setelah identifikasi dipilih salah satu, selanjutnya

                          cxv
mencari informasi dengan cara terjun langsung ke lapangan kepada

narasumber yang sesuai dengan masalah yang diangkat tadi. Suatu

contoh tata tertib sekolah, siswa cukup dilingkungan sekolah dalam

belajarnya, siswa ditugaskan untuk mencari informasi kepada seluruh

karyawan atau guru-guru yang berada di sekolah itu. Semua siswa

terjun langsung mewawancarai narasumbernya. Setelah mencari

informasi dari narasumber, data-data dikumpulkan kemudian dikaji

bersama-sama, setelah itu baru membentuk kelompok. Kelompok-

kelompok dalam pembelajaran portofolio ada empat, yang pertama

adalah kelompok masalah, kedua adalah kelompok sebab atau

penyebab, ketiga adalah kelompok akibat dan keempat adalah

kelompok penanggulangan. Tiap-tiap kelompok harus terjun lagi

mencari informasi lagi kepada narasumber sesuai dengan masalah

yang dikaji. Kelompok masalah, masalahnya apa, mereka mencari

data, kelompok sebab yang mencari penyebabnya, kelompok akibat

mencari akibatnya, dan kelompok penanggulangan mencari data

tentang bagaimana cara penanggulangannya. Kemudian kita kembali

mengumpulkan data dan membahas bersama-sama. Dari keseluruhan

kelas masing-masing kelompok dibentuk lagi, tiap kelompok maksimal

tiga orang untuk mengadakan kompetisi pada saat gelar kasus. Tiap

kelompok harus mendokumentasikan hasil-hasil pencarian informasi

dari narasumber. Guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan

motivator. Dilanjutkan dengan menyajikan portofolio setelah data


                          cxvi
diolah. Dalam penyajian, tiap-tiap kelompok membuat dua penampilan

yang satu untuk portofolio dokumentasi dan yang kedua untuk

portofolio penayangan. Pada penyajian ini para siswa berlomba-lomba

untuk menarik perhatian dari seluruh audien yang ada dalam kelas.

Biasanya ada moderator yang diambil dari guru lain, kepala sekolah

dan satu guru lain sebagai dewan juri. Dewan juri juga akan

memberikan pertanyaan ten tang masalah tadi, jadi siswa benar-benar

dituntut untuk terjun sebab bila tidak terjun tidak akan tahu. Pada gelar

kasus mereka akan bersaing (GR-02).


       Pembelajaran portofolio membutuhkan sarana prasarana dan

media penunjang pembelajaran yang bervariasi sehingga akan lebih

memberikan     pengalaman     yang    bermakna     bagi   siswa.    Pada

kenyataannya di sekolah keberadaan sarana prasarana dan media

penunjang belum memadai, jadi guru dan siswa berusaha sendiri untuk

menciptakan sarana dan prasarana serta media penunjang yang

menunjang pembelajaran model portofolio, jadi swadaya karena

sekolah belum mampu menyediakan (GR-03).


       Kendala yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran yang

pertama dari siswa yaitu siswa yang malas. Jadi kendala pada siswa

yang malas merupakan benturan bagi guru dan siswa-siswa yang lain

karena betul-betul menghambat, kemudian juga dari orang tua.

Harapan sekolah adalah semua orang tua senantiasa memonitor,


                            cxvii
   membantu proses belajar anaknya. Namun mengingat latar belakang

   orang tua siswa yang berbagai macam, mungkin mereka yang sibuk

   lepas kontrol sehingga betul-betul merupakan hambatan karena tidak

   mendukung anaknya. Jadi portofolio yang dilaksanakan belum

   sepenuhnya mendapat dukungan dari orang tua siswa.(GR-04).


          Kreativitas atau potensi siswa berbeda tiap tahunnya, untuk

   tahun ini hanya 80%, memang jauh berbeda dengan tahun kemarin.

   Tiap-tiap kelas tidak mesti sama, mungkin tahun ini guru dapat materi

   mentah atau bahan mentah yang betul-betul berkualitas tapi mungkin

   juga tahun berikutnya kualitasnya agak rendah, namun semua bisa

   diolah, diperbaiki sedikit demi sedikit, dengan memberikan motivasi

   kepada siswa (GR-05).


          Setiap siswa selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh

   guru, hasil karya mereka selalu dipajang, mereka sendiri yang

   memajang,    guru    hanya    mengarahkan     saja   dimana    tempat

   pemajangannya. Strategi belajar seperti ini sangat menumbuhkan

   motivasi siswa untuk belajar dan berkarya lebih baik lagi (GR-06).

c. Informan Siswi Kelas V


          Hasil wawancara yang berhasil diungkap dari informan Siswa

   Kelas V SD Negeri Barusari 03 Semarang berkaitan dengan situasi

   pembelajaran, kesulitan dalam mengerjakan tugas, tanggapan orang



                             cxviii
tua, tanggapan tentang pembelajaran yang dilaksanakan. Berikut ini

hasil wawacara yang terungkap.


       Asti adalah salah satu siswa kelas V merasa senang dengan

pembelajaran yang dilaksanakan., “Saya amat senang karena selain

guru saya yang disiplin, pada mulanya semenjak saya masuk di kelas

V saya semakin bersemangat daripada di kelas IV”, ungkap Asti

kepada peneliti. “Seperti kemarin di kelas IV saya rangking empat saya

sangat menyesal karena rangking saya tidak semakin naik tetapi

semakin menurun”, ungkapnya lagi kepada peneliti.


       “Apakah Asti merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas

yang diberikan guru?”, pertanyaan peneliti kepada Asti. “Terkadang

saya melaksanakan tugas-tugas dari Ibu guru kadang merasa kesulitan

kadang tidak. Persoalan yang utama adalah guru memberikan tugas

terlalu banyak, itu yang membuat saya kesulitan tetapi terkadang guru

memberikan tugas secukupnya sehingga saya mengerjakan tugas dari

guru tidak kebingungan”, penjelasan Asti terhadap pertanyaan peneliti.


       Perhatian orang tua dalam proses pembelajaran portofolio

sangat berharga bagi kemajuan siswa. Berikut ini hasil wawancara

tentang respon orang tua terhadap salah satu siswa yang berhasil

diwawancarai.


Peneliti   :    Apakah orang tua Asti sering membantu mengerjakan

                tugas-tugas sekolah?
                            cxix
Asti       :   Karena kadang-kadang orang tua saya dinas, mereka

               terkadang pulangnya sore atau agak-agak malam

               sehingga saya untuk mengerjakan tugas-tugas dari guru

               kadang mengerkajan sendiri kadang mengerjakan

               dengan bantuan orang tua saya. Tetapi lebih banyak

               saya mengerjakan tugas-tugas saya sendiri untuk

               melatih kemandirian saya agar tidak selalu tergantung

               kepada orang tua.


Peneliti   :   Apakah Asti sering mendapat teguran dari orang tau

               ketika mengikuti kegiatan sekolah?


Asti       :   Kalau untuk kegiatan sekolah berkelompok saya tidak

               boleh      mengikuti   kegiatan   itu   karena   seringkali

               kelompok saya menyerahkan tugas-tugas tersebut

               kepada saya sendiri sehingga saya menyebutnya bukan

               tugas kelompok dan orang tua saya sangat tidak setuju.

               Yang namanya tugas kelompok harus dikerjakan secara

               berkelompok tetapi mereka hanya memberikan beban

               tugas itu hanya kepada saya. Mereka memasrahkan atau

               istilahnya urunan saja nanti yang mngerjakan saya

               sendiri.


Kondisi siswa saat mengikuti pembelajaran dapat dilihat dari hasil

wawancara berikut.

                              cxx
Peneliti   :   Apakah Asti aktif bertanya atau mengemukakan

               pendapat ketika pembelajaran berlangsung?


Asti       :   Saya memang agak malas untuk bertanya karena

               seringkali pertanyaan saya itu tidak dapat masuk akal

               dipikiran Bu Tanti. Kadang saya bertanya dengan

               pertanyaan yang salah atau istilahnya tidak nyambung.


Peneliti   :   Bagaimana tanggapan Asti dengan pembelajaran yang

               dilaksanakan selama ini?


Asti       :   Dulu waktu saya kelas IV saya bila diberikan tugas

               seperti membuat karya-karya portofolio cenderung saya

               agak malas karena seringkali guru kelas IV hanya

               memberi nilai kemudian dikembalikan, tidak dipajang/

               diutarakan kepada murid-murid apakah hasil ini baik

               atau malah lebih jelek. Saya bersemangat karena

               seringkali guru di kelas V itu memberi tanggapan

               tentang tugas-tugas yang diberikan kepada murid-

               muridnya. Saya cenderung merasa malas kalau guru

               tersebut tidak menanggapi tugas dari saya sehingga

               tidak menuntut anak untuk berkreativitas.


Peneliti   :   Apakah Asti senang mempresentasikan hasil kerja di

               depan kelas?



                           cxxi
Asti       :   Iya senang sekali, jadi pekerjaan saya merasa dihargai.


Peneliti   :   Apakah Asti lebih senang belajar di luar kelas?

               Mengapa?


Asti       :   Saya lebih senang belajar diluar kelas karena biasanya

               murid-murid apabila hanya di kelas terus kadang-

               kadang bosan dengan suasana kelas yang hanya begitu-

               begitu saja. Kadang guru membawa kami praktek ke

               luar kelas agar kami tidak bosan dan kami mendapat

               kesempatan untuk merasakan bagaimana pengalaman

               belajar di kuar kelas.


Dari hasil wawancara kepada informan siswa yang berbeda

menunjukkan hal yang sama yaitu siswa merasa senang dengan

pembelajaran portofolio yang dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dari

petikan wawancara yang berhasil diungkap dari informan Siswa Kelas

V SD Negeri Barusari 03 Semarang berkaitan dengan situasi

pembelajaran, kesulitan dalam mengerjakan tugas, tanggapan orang

tua, tanggapan tentang pembelajaran yang dilaksanakan. Berikut ini

hasil wawacara yang terungkap.


Peneliti   :   Apakah Deska merasa senang dengan pembelajaran

               yang dilaksanakan?




                           cxxii
Deska      :   Tentu saja senang, apa alasannya untuk tidak senang

               sebab kita dapat tahu apa yang belum kita ketahui

               sebelum diajarkan Bu Tanti.


Peneliti   :   Apakah Deska merasa kesulitan dalam mengerjakan

               tugas-tugas yang diberikan guru?


Deska      :   Tentu saja, pada setiap pekerjaan saya merasa

               kesulitan. Mungkin tugasnya lebih banyak daripada

               sebelum-sebelunya atau mungkin lebih sulit untuk

               dikerjakan.


Peneliti   :   Apakah orang tua Deska sering membantu mengerjakan

               tugas-tugas sekolah?


Deska      :   Orang tua saya mengajarkan setiap pekerjaan tidak

               perlu terus menerus di bantu dan kita harus lebih

               mandiri kecuali jika pekerjaan itu memang harus benar-

               benar dibantu.


Peneliti   :   Apakah Deska sering mendapat teguran dari orang tua

               ketika mengikuti kegiatan sekolah?


Deska      :   Ya, saya sering mendapat teguran dari orang tua,

               contohnya saja mungkin di luar kelas kegiatan itu

               mengeluarkan biaya, orang tua saya sering mengatakan

               mengapa mengeluarkan biaya terus-menerus lebih baik
                             cxxiii
               saya tidak diijinkan untuk ikut kegiatan seperti itu. Ya

               walaupun saya sering keberatan dengan keputusan

               orang tua ‘mengapa sih Pak Bu saya tidak boleh

               mengikuti sementara teman-teman saya boleh?’. ‘Buat

               apa kamu mengikuti, apa manfaatnya?’ orang tua saya

               sering bilang seperti itu jadi ya terpaksa saya tidak ikut.


Peneliti   :   Apakah Deska aktif bertanya atau mengemukakan

               pendapat ketika pembelajaran berlangsung?


Deska      :   Saya aktif bertanya dan pertanyaan saya lebih masuk

               akal daripada Asti namun saya bila mengerjakan tugas

               terlalu   lama    atau        tidak    tepat     waktu,     untuk

               menangkapnya saya mungkin kurang mengerti daripada

               Asti.


Peneliti   :   Kalau dibentuk kelompok Deska bersemangat tidak

               dalam belajar?


Deska      :   Saya tidak bisa lagi mengatakan semangat, sebab jika

               mengerjakan      mereka        tidak    pernah     serius    atau

               menyumbang          sedikit      kadang        mereka       tidak

               menyumbang. Saya yang mengerjakan dan mereka

               bermain. Terkadang juga mereka tidak mengikuti kerja

               kelompok yang sudah saya buat tetapi mereka membuat

               sendiri atau mereka tidak membaut sama sekali
                           cxxiv
               sementara saya dirumah mengeluarkan biaya sendiri

               sehingga    saya     ditegur     orang   tua,    saya    tetap

               mengerjakan sendiri dan hasilnya cukup bagus tetapi

               mereka tidak ikut mengerjakan sehingga saya ingin

               bilang bahwa mereka tidak ikut mengerjakan tapi saya

               merasa     kasihan   jadi      saya   bilang    mereka    ikut

               mengerjakan padahal mereka tidak. Lama-lama saya

               jengkel dan bila ada tugas kelompok, saya lebih baik

               mengerjakan sendiri.


Peneliti   :   Bagaimana tanggapan Deska dengan pembelajaran

               yang dilaksanakan selama ini?


Deska      :   Pembelajaran selama ini menurut saya lebih bagus

               sebab di tahun-tahun sebelumnya tidak seaktif ini,

               contohnya saja guru tidak terlalu disiplin atau mungkin

               tidak ada tugas portofolio, tidak pernah diteliti hanya

               diberi nilai dan dikembalikan lagi bahkan di kelas tidak

               ada tata tertib untuk kebersihan kelas tapi berbeda

               dengan kelas V kita dapat menanyakan apa yang belum

               kita mengerti atau mengungkapkan pendapat kita untuk

               teman-teman kita. Jadi pada waktu dikelas IV tidak

               pernah ada seperti itu bahkan di kelas IV kedisiplinan

               hampir tidak terlihat, contohnya kita terlalu ramai dan


                            cxxv
                      kita tidak pernah mendapat ulangan dengan nilai bagus,

                      walau anak itu pintar kemudian di kelas V ini anak

                      yang bodoh semakin meningkat dan yang pintar juga

                      semakin meningkat.


   Peneliti    :      Apakah     Deska    senang    mempresentasikan      hasil

                      pekerjaan di depan kelas?


   Deska       :      Mengapa tidak, sebab itu berarti pekerjaan kita dihargai

                      orang lain. Mungkin teman-teman bisa belajar dari apa

                      yang telah saya kerjakan.


   Peneliti    :      Apakah Deska lebih senang belajar di luar kelas?

                      Mengapa?


   Deska       :      Ya lebih senang karena kita bisa bersosialisasi dengan

                      keadaan di luar kelas dengan apa yang kita bicarakan

                      jadi kita tidak terlalu bosan di kelas. Sehingga Bu Tanti

                      mengajak kami keluar kelas agar kami menghirup

                      udara segar tetapi biarpun berada di luar kelas tetap

                      harus disiplin, tidak boleh ramai sehingga tidak

                      mengganggu kelas lain yang sedang diajar.


         Hasil dokumentasi proses pembelajaran yang dilakukan di SD

Negeri     Barusari      03    Semarang     menunjukkan       bahwa     proses

pembelajarannya masih tetap menggunakan metode ceramah, namun

                                  cxxvi
proporsinya lebih cenderung dikurangi. Kegiatan pembelajarannya

difokuskan pada keaktifan siswa atau praktik empirik. Pembelajaran yang

dilakukan pada prinsipnya terbagi dalam 3 tahap yaitu apersepsi, kegiatan

inti dan evaluasi.


       Pada tahap apersepsi guru memberikan gambaran tentang konsep-

konsep pada kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi yang

akan disampaikan, dengan metode tanya jawab. Hal ini bertujuan untuk

menggali informasi dan membangun kembali konsep-konsep yang sudah

ada pada siswa. Pada tahap apersepsi guru lebih menekankan pada

kegiatan siswa untuk melakukan sesuatu agar menemukan konsep tertentu.

Lingkungan dimanfaatkan guru sebagai contoh konkrit tentang materi

yang diajarkan. Seperti hasil dokumentasi pada gambar berikut, guru

memberikan contoh konkrit tentang sumber energi.




Gambar 1. Proses Aperspesi guru dengan memberikan contoh konkret

       Dalam kegiatan inti pembelajaran metode yang digunakan

bervariasi yaitu dari model tanya jawab, praktik atau eksperimen dan

permainan. Peran guru hanya sebagai fasilitator sedangkan siswa yang


                             cxxvii
melakukan dan mengambil kesimpulan. Seperti pada hasil dokumentasi

berikut, guru membawa siswa ke luar kelas untuk melakukan eksperimen

atau praktikum tentang perubahan energi dan juga menggunakan metode

permainan agar siswa lebih senang (enjoy).




Gambar 2. Siswa aktif melakukan praktikum tentang perubahan energi




Gambar 3. Prinsip belajar sambil bermain


        Berakhirnya kegiatan praktikum, siswa diajak untuk mengambil

 kesimpulan. Siswa diajak kembali ke ruang kelas dan setiap kelompok

 memberikan kesimpulan di depan kelas, seperti pada hasil dokumentasi

 pada gambar 4.




                             cxxviii
Gambar 4. Proses pengambilan kesimpulan dan proses mengemukakan
          pendapat

       Dari hasil dokumentasi di atas secara umum proses pembelajaran

portofolio lebih menekankan pada keaktifan siswa dengan metode tanya

jawab, eksperimen, permainan, serta pengambilan kesimpulan yang

dilakukan oleh siswa. Guru dalam pembelajaran hanya sebagai fasilitator.


       Selain itu dalam pembelajaran portofolio siswa diberi tugas oleh

guru untuk memortofoliokan tugas-tugas yang telah diterimanya. Tugas

portofolio ini tidak dilaksanakan pada setiap pokok bahasan tiap mata

pelajaran, mengingat masih banyaknya keterbatasan-keterbatasan yang

dialami. Portofolio dilaksanakan siswa setelah tugas yang dikerjakannya

telah mendapat persetujuan dari guru. Tugas portofolio ini bebas

maksudnya guru tidak membatasi siswa dalam berkreasi untuk

membuatnya semenarik mungkin, jadi kreativitas siswa akan nampak

dalam kegiatan ini. Contoh karya siswa dalam beberapa mata pelajaran

dan beberapa pokok bahasan terlampir di bawah ini:




                              cxxix
             Gambar 5. Contoh hasil karya siswa


B. Analisis Data


             Proses analisis data dimulai dari menelaah seluruh data yang

      tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan yang ditulis

      dalam catatan lapangan, dokumen resmi, foto dan sebagainya.setelah

      dibaca, dipelajari dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah

      mengadakan reduksi data, menyusunnya dalam satuan-satuan yang

      selanjutnya akan dikategorikan. Kategori yang akan diguanakan dalam

      analisis data ini adalah: 1) penerapan konsep pembelajaran portofolio,

      2) langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran portofolio di SD




                                   cxxx
negeri Barusari 03 Semarang, 3) Bentuk-bentuk pembelajaran yang

diportofoliokan.


       Kategorisasi didasarkan pada tujuan dan kemiripan isi dengan

menggunakan kriteria tertentu. Kategori penerapan konsep pembelajaran

portofolio mempunyai kriteria yang berkaitan dengan penerapan teori

tentang pembelajaran portofolio. Kategori langkah-langkah pelaksanaan

pembelajaran portofolio mempunyai kriteria yang berkaitan dengan

persiapan pembelajaran, proses pembelajaran dan kendala-kendala dalam

pembelajaran. Dengan adanya kategorisasi dapat diketahui sejauh mana

konsep portofolio dilaksanakan di SD Negeri Barusari 03 Semarang.

Kategori bentuk-bentuk pembelajaran yang diportofoliokan mempunyai

kriteria yang berkaitan dengan bagaimana proses pembelajaran yang

dilaksanakan dan hasil karya siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang

diberikan oleh guru yang merupakan realisasi kreativitas siswa.


       Di bawah ini akan diuraikan analisis data untuk tiap-tiap satuan

pada kategori masing-masing, sebagai berikut:

1. Penerapan konsep pembelajaran portofolio


       Model Pembelajaran Berbasis Portofolio merupakan alternatif Cara

Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan Cara Mengajar Guru Aktif (CMGA).

Karena sebelum, selama dan sesudah proses belajar mengajar guru dan

siswa dihadapkan pada sejumlah kegiatan. Diharapkan siswa akan

mendapat banyak manfaat baik hasil belajar utama maupun hasil pengiring

                              cxxxi
akademik dan sosial. Hal ini seperti terlihat dari hasil observasi dan

dokumentasi, bahwa dalam proses pembelajaran guru dan siswa aktif dan

kreatif dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan

tidak monoton, contohnya guru tidak hanya menggunakan satu metode

saja dalam pembelajaran sedangkan siswa tidak hanya mendengarkan

ceramah guru tetapi peran siswa lebih mendominasi pembelajaran yang

dilaksanakan.


       Pola fikir pembelajaran siswa perlu diubah dari sekedar memahami

konsep ke arah kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan menggunakan

konsep lain prinsip keilmuan yang telah dikuasai. Seperti yang telah

dipaparkan dalam empat misi pendidikan di bawah ini:

 a.   Belajar untuk berfikir (learning to think)

 b.   Belajar untuk berbuat (learning to do)

 c.   Belajar untuk hidup bersama (learning to life)

 d.   Belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be)


       Sebagai suatu inovasi, model pembelajaran portofolio tidak

memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Melalui model

pembelajaran portofolio siswa diberdayakan agar mau dan mampu berbuat

untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do) dengan

meningkatkan interaksi dengan lingkungannya baik lingkungan fisik,

sosial, mapun budaya, sehingga mampu membangun pemahaman dan

pengetahuannya terhadap dunia di sekitarnya (learning to know).


                               cxxxii
 Diharapkan hasil interaksi dengan lingkungannya itu dapat membangun

 pengetahuan dan kepercayaan dirinya (learning to be). Kesempatan

 berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi

 (learning to live together) akan membentuk kepribadiannya untuk

 memahami kemajemukan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran

 terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup. Hal ini juga terlihat dari

 adanya kelompok belajar yang telah dibentuk melalui kesepakatan

 bersama. Kelompok belajar memungkinkan siswa berinteraksi dengan

 orang lain, dapat menghargai orang lain dan dapat lebih mengenal

 lingkungannya dengan baik.

 Belajar merupakan suatu proses kegiatan aktif siswa dalam membangun

 makna atau pemahaman, maka siswa perlu diberi waktu yang memadai

 untuk melakukan proses itu. Artinya memberikan waktu yang cukup untuk

 berpikir ketika siswa menghadapi masalah sehingga siswa mempunyai

 kesempatan untuk membangun sendiri gagasannya. Tidak membantu siswa

 terlalu dini, menghargai usaha siswa walaupun hasilnya belum

 memuaskan, dan menantang siswa sehingga berbuat dan berpikir

 merupakan strategi guru yang memungkinkan siswa menjadi pembelajar

 seumur hidup. Tanggung jawab belajar berada pada diri siswa, tetapi guru

 bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong motivasi

 dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.

        Model pembelajaran berbasis portofolio mengacu pada sejumlah

prinsip dasar pembelajaran. Prinsip-prinsip dasar pembelajaran yang


                              cxxxiii
dimaksud adalah prinsip belajar siswa aktif (student active learning),

kelompok    belajar    kooperatif     (cooperative   learning),    pembelajaran

partisipatorik, mengajar yang reaktif (reactive learning) dan pembelajaran

yang menyenangkan (joyfull learning) (Budimansyah, 2002:8).

        Dari   hasil    observasi     menunjukkan     bahwa       prinsip-prinsip

pembelajaran portofolio diatas telah dilaksanakan dalam pembelajaran di

SD Negeri Barusari 03 Semarang. Hal tersebut terlihat dari kegiatan

praktikum yang dilaksanakan pada mata pelajaran IPA yang membahas

tentang energi seperti pada hasil dokumentasi yang ada. Guru sudah dapat

mengkondisikan kelas dengan sebaik dan semenarik mungkin dengan

berpedoman pada prinsip-prinsip dasar pembelajaran portofolio.


        Model pembelajaran portofolio secara ideal dilakukan dengan 4

 tahap pembelajaran yaitu: 1) Identifikasi masalah; 2) Memilih masalah

 untuk kajian kelas; 3) Mengumpulkan informasi tentang masalah yang

 akan dikaji oleh kelas; dan 4) Mengembangkan portofolio kelas. Dalam

 kenyataan di lapangan seperti yang telah diungkap sebelumnya, tahap

 demi tahap pembelajaran ideal tersebut belum sepenuhnya dapat

 dilaksanakan di SD negeri Barusari 03 Semarang karena terbentur oleh

 beberapa faktor yang sangat vital.


        Selain tersebut di atas, teori belajar konstruktivisme juga

 merupakan dasar dari pengembangan           model pembelajaran portofolio,

 yang pada prinsipnya menggambarkan bahwa siswa membentuk atau


                                cxxxiv
membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan. Prinsip

yang paling umum dan paling esensisal dari teori konstruktivisme adalah

bahwa dalam merancang suatu pembelajaran, siswa memperoleh banyak

pengetahuan di luar kelas.


       Bagi kaum konstruktivis, pembelajaran yang efektif menghendaki

agar guru mengetahui bagaimana siswa memandang fenomena yang

menjadi subjek pembelajaran. Pembelajaran selanjutnya dikembangkan

dari gagasan yang telah ada, berakhir pada gagasan yang telah mengalami

kekuatan dan modifikasi. Ausubel (dalam Osborn, 1985:82) dan Alit

(1994) mengemukakan “the most important single factor influencing

learning is what the learner already knows, ascertain this and teach him

accordingly”. Satu faktor tunggal yang penting yang mempengaruhi

dalam belajar adalah hal-hal yang telah diketahuinya, dan dalam

pembelajarannya bertitik tolaklah pada hal-hal yang telah diketahui itu.


       Pandangan kontruktivisme sebagai filosofi pendidikan mutakhir

menganggap semua siswa dari usia taman kanak-kanak sampai dengan

perguruan tinggi memiliki gagasan/ pengetahuan tentang lingkungan dan

peristiwa lingkungan di sekitarnya, meskipun gagasan itu sering kali naïf

dan   miskonsepsi.    Mereka     senantiasa   mempertahankan       gagasan/

pengetahuan naïf ini secara kokoh. Ini dipertahankan karena gagasan/

pengetahuan ini terkait dengan gagasan/ pengetahuan awal lainnya yang

sudah dibangun dalam wujud “schemata” (struktur kognitif).


                               cxxxv
       Dalam kegiatan apersepsi yang dilakukan guru terlihat bahwa guru

lebih mengarahkan siswa untuk berfikir konkret dengan memberi contoh

riil kepada siswa. Hal ini merupakan upaya guru dalam membangun

persepsi siswa tentang sesuatu atau dengan kata lain guru mengkonsrtuksi

gagasan siswa mengenai sesuatu. Guru cukup mengarahkan pemahaman

siswa untuk mempelajari materi tertentu dengan cara meminta siswa

melakukan kegiatan sesuai dengan materi yang sedang dipelajari, sehingga

bagi siswa hal itu merupakan pengalaman yang sangat berharga dan tak

terlupakan.


       Model pembelajaran portofolio diharapkan benar-benar membawa

perubahan dalam kegiatan pembelajaran karena konsep yang telah

dicanangkan dalam pembelajaran portofolio sangat bagus dalam

meningkatkan kualitas pembelajaran.

2. Pelaksanaan model pembelajaran portofolio di SD Negeri

   Barusari 03 Semarang

a. Persiapan

              Dalam pembelajaran portofolio perlu adanya persiapan dari

    sekolah. Kepala sekolah harus benar-benar mampu, mengerti apa yang

    dimaksud dengan pembelajaran portofolio itu, kemudian ditularkan

    kepada semua guru sehingga konsep pembelajaran portofolio itu

    benar-benar dimengerti. Disamping itu pembelajaran portofolio

    membutuhkan rancangan yang lebih operasional. Persiapan yang

    dilakukan di SD Negeri Barusari 03 Semarang dimulai dengan

                              cxxxvi
pembentukan tim sukses dengan melakukan rapat dengan orang tua,

sebab pembelajaran tersebut membutuhkan anggaran yang banyak dan

kerjasama antara sekolah dengan orang tua, yang diharapkan

kesukaran-kesukaran yang muncul dapat diatasi dengan sebaik-

baiknya.

       Persiapan   pembelajaran    dengan    model    pembelajaran

portofolio membutuhkan waktu cukup lama, sebelum materi

disampaikan kepada anak guru harus benar-benar mempersiapkannya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V, menyatakan

bahwa langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan antara lain: 1)

Mengkaji dulu setiap mata pelajaran yang tertuang dalam kurikulum

agar lebih mengetahui tujuan yang hendak dicapai dalam setiap

pembelajaran. 2) Melihat setiap pokok bahasan ataupun pertemuan

yang tertuang dalam GBPP, dengan tujuan untuk mendapatkan

informasi tentang nilai-nilai, norma-norma dan prinsip-prinsip yang

perlu dikembangkan dalam pembelajaran tersebut. 3) Melihat

kompetensi dalam KBK tujuannya untuk mendapat gambaran

kompetensi yang perlu dikembangkan dalam keseluruhan rangkaian

kegiatan. 4) Memperhatikan keadaan lingkungan setempat yang dapat

diambil sebagai pengalaman belajar siswa untuk memberi nuansa pada

topik atau tema-tema dari pembelajaran yang akan dikembangkan.

Pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan, tidak

hanya lingkungan sekitar tetapi bisa meluas ke lingkungan


                        cxxxvii
masyarakat. 5) Merumuskan topik atau tema pembelajaran yang dapat

diangkat menjadi pembelajaran portofolio.

       Topik atau tema tidak hanya guru saja yang dapat menentukan,

tetapi lebih mengutamakan musyawarah dengan siswa di dalam kelas

yang dilaksanakan di luar jam pelajaran. Setelah kelas menentukan

topik atau tema kemudian mengidentifikasi masalah yang berkaitan

dengan topik yang akan dibahas. Seluruh siswa diminta menemukan

masalah, setiap siswa harus memiliki pendapat sesuai dengan

pribadinya masing-masing tanpa dipengaruhi oleh teman-teman

sekelas. Langkah selanjutnya adalah menulis atau menentukan

masalah yang akan dikembangkan menjadi pembelajaran portofolio

yang dilaksanakan secara musyawarah. Biasanya siswa disuruh

menuliskan masalah-masalah yang ditemukan        pada papan tulis,

sehingga masalah yang banyak muncul diangkat menjadi topik kajian.

Setelah diidentifikasi, dipilih salah satu masalah dan selanjutnya

mencari informasi dengan cara terjun langsung ke lapangan kepada

narasumber yang sesuai dengan masalah yang diangkat. Suatu contoh

tata tertib sekolah, anak-anak cukup di lingkungan sekolah dalam

belajarnya, anak-anak ditugaskan untuk mencari informasi kepada

seluruh karyawan atau guru-guru yang berada di sekolah itu. Semua

siswa terjun langsung mewawancarai narasumbernya. Setelah mencari

informasi dari narasumber, data-data dikumpulkan kemudian dikaji

bersama-sama, setelah itu dibentuk kelompok.


                        cxxxviii
       Kelompok-kelompok dalam pembelajaran portofolio ada

empat, yaitu kelompok masalah, kelompok sebab atau penyebab,

kelompok akibat dan kelompok penanggulangan. Tiap-tiap kelompok

harus terjun lagi mencari informasi kepada narasumber sesuai dengan

masalah yang dikaji. Untuk kelompok “Masalah”, bertugas mencari

data, untuk kelompok “Sebab” mencari penyebabnya, kelompok

“Akibat” mencari data tentang akibat, kelompok “Penanggulangan”

mencari data atau informasi tentang cara penanggulangannya. Waktu

yang digunakan cukup lama minimal dua minggu. setelah data

terkumpul dibahas bersama-sama. Dari keseluruhan kelas tadi masing-

masing kelompok dibentuk lagi, tiap kelompok maksimal tiga orang

dipersempit lagi untuk mengadakan kompetisi pada saat gelar kasus.

Tiap kelompok harus mendokumentasikan hasil-hasil informasi dari

narasumber. Guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan motivator.

Dilanjutkan dengan menyajikan portofolio setelah data diolah. Dalam

penyajian, tiap-tiap kelompok membuat dua penampilan yang satu

untuk portofolio dokumentasi dan yang kedua untuk portofolio

penayangan. Pada penyajian ini mereka berlomba-lomba untuk

menarik perhatian dari seluruh audien yang ada dalam kelas. Biasanya

ada moderator yang diambil dari guru lain, kepala sekolah dan satu

guru lain sebagai dewan juri. Dewan juri juga akan memberikan

pertanyaan tentang masalah tadi, jadi siswa benar-benar dituntut untuk

terjun sebab bila tidak terjun tidak akan tahu. Pada gelar kasus mereka


                          cxxxix
akan bersaing. Biasanya satu kelas dibagi menjadi dua kelompok gelar

kasus.

         Berdasarkan uraian hasil wawancara dari kedua narasumber

tersebut,   tampak     bahwa      persiapan     pelaksanaan   pembelajaran

portofolio membutuhkan waktu yang relatif lama, dukungan dari

berbagai pihak dan persiapan yang relatif matang. Mengingat dalam

pembelajaran di sekolah juga harus menyelesaikan materi sesuai

dengan tuntutan kurikulum, maka tidak memungkinkan untuk

melaksanakan pembelajaran portofolio pada setiap pokok bahasan.

Sebagai alternatifnya, pembelajaran yang dilaksanakan di SD Negeri

Barusari 03 Semarang tetap melaksanakan pembelajaran portofolio

pada setiap pokok bahasan, tetapi tidak dilaksanakan secara utuh dan

menyeluruh dari setiap langkah pembelajaran portofolio. Guru

cenderung melaksanakan prinsip-prinsip yang terkandung dalam

pembelajaran portofolio yaitu: prinsip belajar siswa aktif, kelompok

belajar kooperatif, pembelajaran partisipatorik dan pembelajaran

reaktif, pembelajaran yang menyenangkan. Selain menggunakan

prinsip-prinsip      tersebut     dalam       pembelajaran,   guru    juga

mengembangkan pembelajaran berdasarkan landasan pemikiran model

pembelajaran berbasis portofolio, yaitu: 1) Empat pilar pendidikan

(learning to do, learning to know, learning to be dan learing to live

together), 2) Pandangan konstruktivisme yaitu pembelajaran yang

dimulai dari apa yang sudah diketahui siswa atau dengan kata lain


                                cxl
   membangun kembali pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa. 3)

   Democratic teaching yaitu pembelajaran yang lebih mengedepankan

   pada nilai-niai demokrasi, menghargai kemampuan, menjunjung

   keadilan, menerapkan persamaan kesempatan dan memperhatikan

   keragaman peserta didik.

b. Langkah-langkah pembelajaran

          Model pembelajaran portofolio secara ideal dilakukan dengan

   4 tahap pembelajaran yaitu: 1) Identifikasi masalah; 2) Memilih

   masalah untuk kajian kelas; 3) Mengumpulkan informasi tentang

   masalah yang akan dikaji oleh kelas; dan 4) Mengembangkan

   portofolio kelas. Jadi dalam pembelajaran portofolio memerlukan

   persiapan dan dukungan dari berbagai pihak, baik sekolah, guru,

   siswa, orang tua siswa dan masyarakat secara umum.

          Berikut ini hasil observasi tentang pembelajaran portofolio

   yang dapat diamati peneliti pada saat berlangsungnya pembelajaran

   IPA membahas tentang energi yang dilaksanakan di SD Negeri

   Barusari 03 Semarang pada tanggal 18 Maret 2005.

   1) Apersepsi

          Pada tahap apersepsi guru memberikan gambaran tentang

   konsep energi pada kehidupan sehari-hari melalui kegiatan tanya

   jawab. Hal ini bertujuan untuk menggali informasi dan membangun

   kembali konsep-konsep yang sudah ada pada siswa. Kegiatan ini

   dilaksanakan karena guru lebih memandang bahwa sebenarnya siswa


                              cxli
sudah mempunyai persepsi tentang energi, dan guru hanya sebagai

pengantar untuk mengkontruksi pengetahuan siswa. Dari kegiatan ini,

siswa sendiri yang menemukan kembali definisi tentang energi. Pada

tahap apersepsi ini guru tidak hanya melakukan tanya jawab, namun

lebih menekankan pada kegiatan siswa, dalam artian guru mendorong

siswa melakukan sesuatu untuk menemukan konsep tertentu. Guru

memanfaatkan kondisi lingkungan siswa untuk memberikan contoh

konkrit tentang konsep energi. Untuk menjelaskan tentang energi,

guru meminta siswa yang membawa makanan untuk maju ke depan.

Siswa diminta makan bekal yang dibawanya. Secara langsung guru

memberi contoh konkrit tentang manusia memerlukan makanan untuk

memperoleh energi. Pada tahap selanjutnya guru meminta siswa lain

untuk memberikan contoh sumber-sumber energi. Pada akhir kegiatan

apersepsi guru mengajak siswa untuk mengambil kesimpulan. Dalam

pengambilan kesimpulan peran guru tidak dominan, namun lebih

menekankan pada pendapat siswa.

       Berdasarkan hasil observasi ini menunjukkan bahwa keaktifan

siswa menjadi bagian yang diutamakan dalam proses paersepsi. Di

samping itu prinsip learning by doing merupakan bagian yang tidak

terpisahkan pada saat membangun kembali pengetahuan yang sudah

ada pada siswa.




                         cxlii
2) Kegiatan Inti

       Pada kegiatan selanjutnya yaitu inti pembelajaran. Dalam

kegiatan inti metode yang digunakan bervariasi yaitu dari model tanya

jawab, praktik atau eksperimen dan permainan. Kegiatan tanya jawab

terus dilakukan untuk mengungkap pengetahuan siswa berkaitan

dengan materi dipelajari. Dari hasil obervasi ternyata guru membawa

siswa untuk mempelajari perubahan-perubahan energi dengan

memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang perubahan energi pada

kehidupan sehari-hari. Untuk memberikan pemahaman konsep tentang

perubahan energi kimia menjadi energi panas, guru meminta siswa

untuk menunjukkan kompor. Salah satu indikator bahwa siswa telah

memahami konsep perubahan energi siswa dapat membedakan jenis-

jenis perubahan bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain.

Kegiatan yang dilakukan adalah dengan cara membandingkan kompor

dengan bahan bakar minyak dan kompor listrik. Keduanya sama-sama

menghasilkan energi panas, namun berasal dari sumber energi yang

berbeda. Peran guru hanya sebagai fasilitator sedangkan siswa yang

melakukan dan mengambil kesimpulan. Dari hasil observasi ini

menunjukkan bahwa proses pembelajaran portofolio yang dilakukan

menganut prinsip dasar reactive learning. Hal ini ditunjukkan guru

lebih reaktif yaitu menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan belajar,

pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan

dipahami siswa dan selalu berupaya membangkitkan motivasi belajar


                          cxliii
siswa dengan membuat materi pelajaran sebagai hal yang menarik dan

berguna bagi kehidupan siswa.

        Metode pembelajaran yang kedua yaitu praktikum. Prinsip

yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah cooperative learning,

prinsip belajar aktif, pembelajaran partisipatorik, joyfull learning.

Berdasarkan hasil observasi, menunjukkan bahwa kegiatan praktikum

dilaksanakan di halaman sekolah. Sesuai dengan kelompoknya

masing-masing siswa melakukan kegiatan yang diintruksikan oleh

guru, yaitu membuktikan bahwa matahari sebagai sumber energi

panas yang dilakukan dengan praktikum siswa mencuci baju dan

menjemur di bawah terik matahari. Kelompok lain juga melakukan

praktikum yang membuktikan perubahan energi kimia menjadi energi

panas melalui memasak air dengan kompor. Pada kegiatan tersebut

guru tidak hanya memperhatikan siswa, tetapi lebih memberikan

motivasi, memberikan pertanyaan ke arah kesimpulan yang diperoleh

dari kegiatan tersebut.

        Ada beberapa hal yang dilatih dalam kegiatan ini antara lain:

1) Melatih siswa mengambil kesimpulan berdasarkan fakta yang

terjadi atau dikembangkan ketrampilan akademik dan ketrampilan

rasional. 2) Melatih siswa untuk bekerja sama dengan teman

sekelompok secara baik atau dikembangkan ketrampilan sosial.

        Selain kegiatan praktikum, pembelajaran dilakukan dengan

metode permainan. Permainan yang dilakukan bertujuan untuk


                          cxliv
menanamkan konsep apa yang dipelajari melalui proses yang

menyenangkan atau joyfull learning. Prinsip ini dilakukan karena

berpandangan bahwa sesulit apapun pembelajaran jika dilakukan

dengan perasaan senang maka segalanya akan menjadi mudah. Hasil

observasi menunjukkan bahwa guru menggunakan metode permainan

untuk menjelaskan perubahan energi kimia menjadi gerak. Pada

kegiatan tesebut dilakukan suatu perlombaan membuat kitiran (jawa)

atau kincir angin dari daun mangga. Sesuai dengan kreativitas siswa

kincir angin tersebut dibuat dan diujicobakan oleh beberapa siswa.

Dari kegiatan ini diperoleh simpulan bahwa energi kimia (udara) dapat

menghasilkan energi gerak atau kinetik. Ketika proses permainan

berlangsung siswa merasa menikmati dan senang.

3) Evaluasi

       Berakhirnya     kegiatan     praktikum,     siswa      diajak   untuk

mengambil kesimpulan. Siswa diajak kembali ke ruang kelas dan

setiap kelompok memberikan kesimpulan di depan kelas. Pada saat

memberikan     kesimpulan,     keterampilan      vokasional     yang   lebih

dikembangkan. Siswa dilatih untuk mengemukakan pendapat.

Kesimpulan dari setiap kelompok disatukan menjadi kesimpulan yang

utuh tentang energi.

       Dalam     kegiatan     pengambilan     kesimpulan        guru    juga

menjelaskan materi kegiatan atau praktikum yang baru saja

dilaksanakan, sehingga diharapkan siswa akan benar-benar memahami


                             cxlv
   konsep energi dalam kehidupan sehari-hari. Dari hasil observsi terlihat

   bahwa sangat antusias dalam menjawab setiap pertanyaan yang

   dilontarkan guru berkaitan dengan kegiatan yang telah dilaluinya.

   Guru menerangkan konsep perubahan energi yang lain dengan

   memberikan contoh riil peristiwa yang sering dialami siswa. Setelah

   sejumlah kesimpulan tertulis di papan tulis dan dirasa siswa telah

   paham akan materi itu maka guru meminta siswa untuk menyalin ke

   dalam buku catatan.

           Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat ditarik simpulan

   bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan di SD Negeri

   Barusari 03 Semarang kelas V telah menggunakan prinsip-prinsip

   dasar model pembelajaran berbasis portofolio yaitu prinsip belajar

   siswa aktif, belajar kooperatif, pembelajaran partisipatorik, reactive

   learning dan joyfull learning.

c. Kendala-kendala yang dihadapi Pembelajaran Portofolio

           Pelaksanaan    dan       pengembangan      inovasi   baru     dalam

   pembelajaran sangat membutuhkan dukungan semua pihak, baik yang

   terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Respon positif

   tersebut akan sangat membantu kelancaran pembelajaran yang

   dilaksanakan.

           Model    pembelajaran        portofolio,   secara    formal    telah

   dilaksanakan selama dua tahun di SD Negeri Barusari 03 Semarang,

   dan selama itu pula terus dilaksanakan peningkatan kualitas dan


                                cxlvi
kuantitas pembelajaran, walaupun tidak dapat dipungkiri terdapat

kekurangan dan banyak mengalami hambatan. Hal itu wajar terjadi

ketika sesuatu baru dalam tahap awal. Kekurangan dan hambatan

tersebut menjadikan cambuk yang mendorong untuk dapat lebih baik.

Terkadang kenyataan di lapangan belum sesuai dengan yang

diharapkan, sehingga perlu adanya upaya pembenahan sebagai

langkah peningkatan kualitas yang dihasilkan.

       Dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah Dasar Negeri

Barusari 03 Semarang (2005), menyatakan bahwa pelaksanaan model

pembelajaran     portofolio   belum     sepenuhnya     seideal    yang

direncanakan, tetapi disesuaikan dengan kemampuan yang ada.

Hambatan pada awalnya banyak sebab masih dalam masa transisi

model pembelajaran lama ke model pembelajaran yang baru. Model

pembelajaran portofolio banyak sekali hambatan: 1) Kekurangan dana,

2) Kurangnya dukungan orang tua siswa.

       Lebih lanjut untuk mengungkap kendala-kendala yang terjadi

dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis portofolio, salah satunya

dapat dilihat dari pengisian angket oleh guru kelas V yang terdiri dari

5 faktor yaitu berkaitan dengan persiapan dan kelengkapan

pembelajaran, metode dan proses pembelajaran, sarana prasarana dan

media pembelajaran, kondisi siswa dan penilaian yang dilakukan.




                          cxlvii
a. Persiapan dan Kelengkapan Pembelajaran

          Persiapan dan kelengkapan pembelajaran merupakan hal

   penting dalam proses pembelajaran, sebab dengan persiapan dan

   kelengkapan yang matang dan memadai, maka arah tujuan dan

   skenario pembelajaran akan semakin jelas, waktu yang dibutuhkan

   akan juga efektif dan efisien sehingga hasilnya akan mendekati

   target yang diharapkan.

          Persiapan    dan   kelengkapan    pembelajaran      berbasis

   portofolio meliputi pembuatan silabus, satuan acara pembelajaran

   dan rencana pembelajaran. Berdasarkan hasil pengisian lembar

   observasi tentang pembuatan silabus ternyata guru masih

   mengalami kesulitan dalam menjabarkan kompetensi dasar,

   pengalaman belajar, menyusun indikator dan mengalokasikan

   waktu pembelajaran.

  Tabel 1. Hasil Observasi tentang pembuatan silabus

   No                   Indikator                          Ket.
   1    Menjabarkan komptensi dasar                    Kesulitan
   2    Menjabarkan pengalaman belajar                 Kesulitan
   3    Menyusun indicator                             Kesulitan
   4    Menyusun penilaian                             Mudah
   5    Mengalokasikan waktu                           Kesulitan
   6    Menentukan sumber belajar                      Mudah
  Sumber: Hasil observasi

          Berkaitan dengan membuat satuan acara pembelajaran

   ternyata guru mengalami kesulitan dalam menjabarkan deskripsi

   pembelajaran, kompetensi dan sub kompetensi, materi pokok



                         cxlviii
pembelajaran, subtansi non instruksional dan menentukan alokasi

waktu.

Tabel 2.Hasil observasi pembuatan satuan acara pembelajaran

 No                     Indikator                         Ket.
 1    Menjabarkan deskripsi pembelajaran               Kesulitan
 2    Menjabarkan komptensi dan sub                    Kesulitan
      kompetensi
 3    Menyusun materi pokok pembelajaran               Kesulitan
 4    Menjabarkan subtansi non instruksional           Kesulitan
 5    Memilih metode pembelajaran yang sesuai          Mudah
 6    Menjabarkan strategi/ skenario proses            Mudah
      pembelajaran
 7    Menentukan alokasi waktu                         Kesulitan
 8    Menentukan sumber belajar                        Mudah
Sumber: Hasil observasi

         Berdasarkan hasil observasi ternyata guru tidak mengalami

kendala dalam membuat rencana pembelajaran.

Tabel 3. Hasil observasi pembuatan rencana pembelajaran

 No                   Indikator                       Ket.
 1    Menentukan standar kompetensi                Mudah
 2    Menentukan kompetensi dasar                  Mudah
 3    Membuat indicator                            Mudah
 4    Menjabarkan materi                           Mudah
 5    Menjelaskan scenario pembelajaran            Mudah
Sumber: Hasil observasi

         Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V

menyatakan      bahwa    kendala-kendala    tersebut    disebabkan:

1) Keterbatasan waktu dalam penyusunan persiapan dan

kelengkapan pembelajaran. 2) Guru belum pernah mendapatkan

baik berupa pelatihan, penataran ataupun bimbingan cara-cara/

langkah-langkah pengembangan silabus yang benar dari seoarang


                        cxlix
   ahli. 3) Berkaitan dengan point dua, akhirnya guru mencoba

   menyusun sesuai kemampuan sendiri sehingga ragu apakah

   hasilnya benar atau salah. 4) Tidak memiliki rambu-rambu atau

   petunjuk dalam penyusunan silabus.

b. Metode dan Proses Pembelajaran

           Sesuai dengan prinsip dasar pembelajaran berbasis

   portofolio diharapkan proses pembalajarannya lebih berpusat pada

   keaktifan atau partisipasi siswa. Hasil observasi berkaitan dengan

   hal-hal tersebut menunjukkan bahwa guru kurang mengalami

   kendala dalam pembelajarannya. Hal ini dapat dilihat dari paparan

   hasil obervasi pada tabel berikut.


   Tabel 4. Hasil observasi tentang pembelajaran partisipatorik dan
             Cara Belajar Siswa Aktif
    No                    Indikator                       Ket.
    1     Menggunakan metode yang menuntut            Sesuai
          siswa untuk mencari informasi sendiri
    2     Menggunakan metode pembelajaran yang        Sesuai
          menuntut siswa untuk melakukan
          penyelidikan
    3     Mendorong siswa untuk menemukan dan         Sesuai
          mengalami sendiri
    4     Membawa siswa ke laboratorium               Tidak sesuai
    5     Membawa siswa keluar kelas untuk            Sesuai
          mengamati gejala/ peristiwa di lapangan
    6     Menuntut siswa untuk mengingat              Sesuai
          pelajaran yang diberikan
    7     Mendorong siswa untuk berpikir tentang      Sesuai
          apa yang baru dipelajari
    8     Mendorong siswa untuk berpikir ke           Sesuai
          belakang tentang apa yang sudah
          dilakukan dalam pembelajaran
    9     Memberi penugasan pada siswa untuk          Sesuai
          menggali informasi diluar kelas
                            cl
 10   Memberikan kesempatan siswa untuk           Sesuai
      presentasi di depan kelas
Sumber: Hasil observasi

        Berdasarkan tabel observasi tersebut tampak bahwa guru

belum dapat membawa siswa ke laboratorium untuk mengadakan

praktikum, karena belum adanya ruang khusus laboratorium.

Sebagai konsekuensinya guru berusaha membimbing siswa untuk

belajar dengan mengedepankan keaktifan dan partisipasi siswa

menggunakan alat praktikum seadanya. Yang lebih dipentingkan

siswa mampu mencari informasi sendiri, melakukan penyelidikan

sederhana, menemukan dan mengalami sendiri baik di dalam kelas

maupun di luar kelas dan memberikan kesempatan untuk

mempresentasikan hasil penyelidikan di depan kelas.

        Penyelidikan tersebut tidak hanya dilakukan secara

indiviual, namun lebih menekankan pada kerjasama siswa dalam

kelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan

dengan materi yang dipelajari.     Hal ini sesuai dengan prinsip

pembelajaran    kooperatif    sebagai pilar dasar pembelajaran

portofolio. Berdasarkan hasil obervasi ternyata guru tidak

mengalami kendala dalam menciptakan pembelajaran kooperatif

seperti pada tabel 5.




                        cli
Tabel 5. Hasil observasi tentang kelompok belajar kooperatif

 No                    Indikator                       Ket.
 1    Membimbing siswa dalam                       Sesuai
      mengorganisasi tugas-tugas dengan teman
      kelompoknya
 2    Menciptakan kelompok heterogen               Sesuai
 3    Proses komunikasi dua arah                   Sesuai
 4    Menciptakan kerja sama antar siswa           Sesuai
Sumber: Hasil observasi

        Berdasarkan hasil observasi tersebut tampak bahwa guru

mampu membimbing siswa dalam mengorganisasi tugas-tugas

dengan teman kelompoknya, menciptakan kelas yang heterogen

agar tercipta kerja sama dan komunikasi dua arah baik antara guru

dengan siswa maupun siswa dengan siswa.

        Ciri pembelajaran portofolio, selain mengedepankan

keaktifan, partisipasi siswa dan kerja sama antar siswa, guru

mampu menciptakan pembelajaran yang reaktif yaitu menjadikan

siswa sebagai pusat kegiatan belajar, pembelajaran dimulai dengan

hal-hal yang sudah diketahui siswa, selalu membangkitkan

motivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran sebagai

sesuatu hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan siswa.

Tabel 6 memperlihatkan kondisi guru dalam menciptakan

pembelajaran yang reaktif.




                        clii
 Tabel 6. Hasil observasi tentang pembelajaran reaktif/ reactive
           learning
 No                     Indikator                       Ket.
 1  Menggunakan metode pembelajaran yang dipilih       Sesuai
    sesuai dengan sifat bahan pembelajaran
 2  Sebagai awal pembelajaran guru menjelaskan         Sesuai
    dulu tujuan pembelajaran kepada siswa
 3  Pembelajaran yang dilakukan guru berpusat pada     Sesuai
    siswa
 4  Mendorong siswa membuat hubungan antara            Sesuai
    pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan
    kehidupan nyata
 5  Mengkaitkan antara materi yang diajarkan           Sesuai
    dengan situasi dunia nyata
 6  Pembelajaran yang dilakukan guru menuntut          Sesuai
    kreativitas siswa
 7  Mengembangkan kreativitas siswa                    Sesuai
 8  Menyediakan pengalaman belajar yang beragam        Sesuai
 9  Memberikan informasi sesuai dengan buku dan        Tidak
    pengalaman guru waktu kuliah                       sesuai
 10 Membawa informan ke kelas                          Tidak
                                                       sesuai
 11  Menciptakan kondisi agar siswa aktif              Sesuai
     membangun pengetahuan dan pemahaman
     sendiri
 12 Mengecek pemahaman siswa                           Sesuai
 13 Membangkitkan respon siswa                         Sesuai
 14 Melakukan kerja sama dengan pihak luar             Sesuai
 15 Menggunakan berbagai sumber                        Sesuai
 16 Memajang hasil karya siswa                         Sesuai
Sumber: Hasil observasi

       Berdasarkan hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa

guru hanya mengalami kendala berkaitan memberi informasi

sesuai dengan buku dan pengalaman guru waktu kuliah serta

membawa informan ke kelas. Hal ini dimungkinkan berkaitan

dengan minimnya dana untuk penyediaan informan dari luar

sekolah. Pada saat pembelajaran guru lebih mampu memilih


                      cliii
metode pembelajaran yang sesuai dengan sifat dan bahan

pembelajaran. Pada saat awal pembelajaran guru menjelaskan

dahulu tujuan pembelajaran kepada siswa. Hal ini dilakukan agar

siswa mempunyai arah dan tujuan untuk apa mempelajari materi

yang akan dibahas. Selain itu guru mampu menciptakan

pembelajaran yang berpusat pada siswa, mendorong siswa

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan

penerapan kehidupan nyata, kreativitas siswa dalam pembelajaran

menjadi bagian yang lebih diutamakan, oleh karena itu

pembelajaran dilakukan dengan menyediakan pengalaman belajar

yang beragam, menciptakan kondisi siswa katif membangun

pengetahuan dan pemahaman sendiri, mengecek pemahaman

siswa, membangkitkan respon siswa dan menggunakan berbagai

sumber serta memajang hasil karya siswa sebagai motivator.

Tabel 7. Hasil observasi pembelajaran yang menyenangkan/ joyfull
          learning
 No                     Indikator                           Ket.
 1    Menciptakan kondisi saling menyenangkan            Sesuai
      dan tidak membosankan
 2    Dapat menggairahkan siswa dalam                    Sesuai
      pembelajaran
Sumber: Hasil observasi

         Salah satu teori belajar menegaskan bahwa sesulit apapun

materi    pelajaran,   apabila   dipelajari   dalam   suasana     yang

menyenangkan, maka pelajaran tersebut akan mudah dipahami.

Sebaliknya walaupun materi pelajaran tidak terlampau sulit untuk


                         cliv
   dipelajari, namun apabila suasana belajar membosankan dan tidak

   menarik, maka pelajaran akan sulit dipahami. Berkaitan dengan

   kondisi ini tampak bahwa dari hasil observasi, guru sudah mampu

   menciptakan     suasana     belajar    yang    menyenangkan     dan

   menggairahkan siswa.

c. Sarana Prasarana dan Media Pembelajaran

           Sarana prasarana dan media pembelajaran merupakan

   bagian penting yang mendukung proses pembelajaran, sebab

   dalam pembelajaran berbasis portofolio guru tidak hanya satu-

   satunya sebagai sumber belajar, namun lingkungan dan sarana

   prasarana sebagai media yang dapat membantu siswa mencari

   pemahaman tentang materi yang dipelajari. Berkaitan dengan hal

   tersebut diperoleh gambaran tentang kendala-kendala dari sarana

   prasarana    dan   media        pembelajaran   sebagai   pendukung

   pembelajaran seperti pada tabel 8.

   Tabel 8. Hasil observasi sarana prasarana dan media pebelajaran

    No                    Indikator                         Ket.
    1     Buku paket untuk siswa yang disediakan        Kurang
          sekolah memadai dan lengkap                   sesuai
    2     Siswa diperbolehkan meminjam buku-            Sesuai
          buku penunjang di perpustakaan
    3     Media pembelajaran yang disediakan            Kurang
          sekolah memadai dan lengkap                   sesuai
    4     Terdapat laboratorium di sekolah              Tidak sesuai

    5     Alat-alat laboratorium lengkap dan            Tidak sesuai
          memadai
    6     Bahan-bahan praktikum lengkap dan             Tidak sesuai
          memadai
    7     Terdapat alat-alat peraga yang lengkap        Tidak sesuai
                             clv
      dan memadai
 8    Pihak sekolah memberi keleluasaan pada    Tidak sesuai
      guru untuk membawa siswa ke ruang
      laboratorium untuk melaksanakan
      praktikum
 9    Pihak sekolah memeberi kelekuasaan        Sesuai
      siswa untuk menggunakan alat peraga dan
      dibawa ke kelas
 10 Dalam pembelajaran guru menggunakan         Sesuai
      media lingkungan sekolah sebagai sumber
      belajar
Sumber: Hasil observasi

       Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa kendala yang

ada berkaitan dengan: buku paket untuk siswa yang disediakan

sekolah untuk siswa kurang memadai dan lengkap, media

pembelajaran yang disediakan sekolah kurang memadai, tidak

adanya laboratorium sekolah, alat-alat dan bahan praktikum yang

tidak lengkap dan memadai. Di samping itu alat-alat peraga yang

dapat membantu pemahaman siswa dalam mempelajari materi

kurang lengkap dan memadai. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil

wawancara dengan kepala sekolah yang menyatakan bahwa sarana

dan prasarana yang dimiliki sekolah belum memadai karena dalam

pembelajaran portofolio guru harus benar-benar membawa siswa

sampai tuntas dalam arti 75% keatas siswa dapat tertangani

dengan prestasi yang baik (KS-07).

       Lebih lanjut dari hasil wawancara dengan guru kelas V

menyatakan bahwa sarana prasarana dan media penunjang yang

ada betul-betul belum memadai, jadi guru dan siswa berusaha

sendiri bagaimana    supaya prasarana ini juga      menunjang

                      clvi
   pembelajaran model portofolio, jadi swadaya karena sekolah

   belum mampu menyediakan (GR-03).

d. Kondisi Siswa

          Kunci pembelajaran adalah kondisi siswa, sebab tujuan

   adanya pembelajaran adalah menciptakan kondisi dan suasana

   sehingga siswa mau dan mampu belajar. Yang menjadi subjek

   dalam pembelajaran adalah siswa itu sendiri. Berkaitan dengan

   kondisi siswa pada saat pembelajaran dapat dilihat pada tabel 9

   berikut.

  Tabel 9. Hasil observasi tentang kondisi siswa

    No                    Indikator                     Ket.
    1     Hanya sebagian kecil siswa yang aktif    Sesuai
          bertanya
    2     Sebagian besar siswa melaksanakan        Sesuai
          eksperimen
    3     Sebagian besar siswa aktif berdiskusi    Sesuai
    4     Sebagian besar siswa membawa             Kurang sesuai
          peralatan belajar lengkap
    5     Sebagian kecil siswa mempunyai buku      Sesuai
          penunjang sendiri
    6     Suasana kelas gaduh                      Tidak sesuai
    7     Siswa mengantuk                          Tidak sesuai
    8     Siswa mendukung proses belajar           Sesuai
          mengajar
    9     Siswa tidak menuruti perintah dan        Tidak sesuai
          petunjuk guru saat pembelajaran
          berlangsung
    10    Siswa merasa senang mengikuti            Sesuai
          pelajaran

   Sumber: Hasil observasi

          Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa kondisi siswa

   lebih mendukung proses pembelajaran. Sebagian besar siswa


                         clvii
melaksanakan eksperimen, aktif berdiskusi, suasana kelas tidak

gaduh, siswa tidak mengantuk, siswa menuruti perintah dan

petunjuk guru saat pembelajaran berlangsung dan siswa merasa

senang mengikuti pelajaran. Ada beberapa yang menjadi kendala

yaitu siswa kurang aktif bertanya, siswa tidak membawa peralatan

belajar yang lengkap dan sebagian besar siswa tidak mempunyai

buku penunjang sendiri.

       Seperti yang diungkapkan Asti siswi kelas V bahwa dia

merasa senang dengan pembelajaran yang dilaksanakan, selain

guru yang disiplin dan hal itu sangat jauh berbeda dengan ketika

dia masih duduk di bangku kelas IV. Saat mengikuti pembelajaran

di kelas V dia merasa sangat bersemangat sehingga prestasi

belajarnya juga meningkat.

       Keterangan senada juga diungkapkan Deska siswi kelas V

bahwa dalam mengikuti pembelajaran di kelas V yang

menggunakan model pembelajaran portofolio ini sangat memacu

semangatnya untuk dapat belajar lebih baik dan mengetahui hal-

hal yang yang belum pernah diketahuinya setelah mendapatkan

pembelajan dari guru




       .


                       clviii
e. Penilaian

   Tabel 10. Hasil observasi tentang penilaian

    No                     Indikator                   Ket.
    1     Memberi kuis                             Kurang sesuai
    2     Mengajukan pertanyaan lisan di kelas     Sesuai
    3     Memberi ulangan harian                   Sesuai
    4     Memberi tugas individu                   Sesuai
    5     Memberi tugas kelompok                   Sesuai
    6     Menilai prestasi siswa                   Sesuai
    7     Menilai motivasi belajar siswa           Sesuai
    8     Kesulitan dalam membuat ulangan harian   Tidak sesuai
    9     Menialai tingkah laku siswa              Sesuai
    10    Melakukan remidi                         Sesuai
    11    Menyusun soal sesuai dengan kompeten     Sesuai
    12    Menyusun soal yang berkaitan dengan      Sesuai
          kondisi dunia nyata
    13    Memberikan penugasan yang                Sesuai
          berhubungan dengan life skill siswa
    14    Memberi penugasan yang menuntut          Sesuai
          siswa untuk mencari informasi seluas-
          luasnya ke masyarakat
    15    Melakukan penilaian portofolio           Sesuai
    16    Memberi penilaian penugasan untuk        Sesuai
          melakukan pengamatan di luar kelas
    17    Menilai kerjasama siswa                  Sesuai

   Sumber: Hasil observasi

           Evaluasi pembelajaran merupakan bagian yang tidak dapat

   dipisahkan dengan proses pembelajaran, sebab dengan evaluasi

   dapat diketahui keberhasilan, kelemahan dan kekurangannya baik

   dari siswa, guru maupun sarana prasarana. Berdasarkan hasil

   observasi pada tabel 10 tampak bahwa guru tidak mengalami

   kendala dalam melaksanakan penilaian. Dalam pembelajaran guru

   terbiasa melaksanakan evaluasi dalam bentuk pertanyaan lisan di

   kelas, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, menilai

                             clix
       prestasi siswa, menilai motivasi belajar siswa, menilai tingkah

       laku siswa, melakukan remidi, memberikan penugasan yang

       berhubungan dengan life skill siswa, memberi penugasan yang

       menuntut siswa untuk mencari informasi seluas-luasnya ke

       masyarakat, melakukan penilian portofolio, memberikan penilaian

       penugasan untuk melakukan pengamatan di luar kelas dan menilai

       kerja sama siswa.

              Kegiatan penilaian pembelajaran portofolio salah satunya

       adalah dengan memajang hasil karya siswa, setiap siswa selesai

       mengerjakan tugas selalu dipajang dan mereka sendiri yang

       memajang, guru hanya mengarahkan saja dimana tempat

       pemajangannya. Hal ini sangat memberikan respon positip kepada

       siswa, siswa berlomba-lomba membuat karya yang terbaik supaya

       dapat dipajang dan dipamerkan kepada teman-teman sekelas, jadi

       siswa sangat termotivasi dengan kegiatan ini (GR-06).

3. Bentuk-bentuk pembelajaran

          Bentuk-bentuk pembelajaran yang diportofoliokan di SD

   Negeri Barusari 03 Semarang berupa hasil karya siswa dari penugasan

   yang diberikan guru baik secara kelompok maupun individu.

   Penugasan portofolio ini lebih mengedepankan pada kreativitas siswa

   namun tetap pada satu tema tugas yang diberikan guru.

          Proses pemberian tugas porofolio membutuhkan waktu juga

   dalam pelaksanannya. Pertama-tama guru memberi tugas kepada siswa


                              clx
untuk mengerjakannya di buku tugas, setelah tugas dikerjakan siswa

guru membahas tugas siswa satu per satu sesuai dengan tugas yang

diberikan, kegiatan ini cukup banyak menyita waktu. Setelah tugas-

tugas siswa diperiksa guru dan tidak ada lagi kesalahan dalam

mengerjakan, guru meminta siswa untuk memortofoliokan tugas

tersebut di kertas karton atau kertas asturo atau kertas lain sesuai

dengan tugas tersebut.

       Tugas portofolio ini didesain sedemikian rupa oleh para siswa

untuk menunjukkan kreativitasnya dan mereka berlomba-lomba untuk

mendapatkan nilai terbaik dari guru dan mereka berharap bahwa

kayanyalah yang nantinya akan dipajang di dinding kelas. Seperti

paparan hasil wawancara dengan guru kelas bahwa hasil karya yang

dipajang adalah hasil karya pilihan maksudnya hasil karya yang terbaik

yang telah dibuat oleh siswa. Hal tersebut sangat memotivasi siswa

untuk berkreasi sesuai yang mereka inginkan.

       Dalam memortofoliokan tugas yang diberikan guru, guru

memberikan siswa batasan waktu dalam mengerjakannya, misalnya

saja tiga hari atau satu minggu. Hal ini dilakukan untuk membiasakan

kedisiplinan kepada siswa. Guru juga akan memberikan nilai yang

berbeda kepada siswa yang sampai batas waktu kesepakatan belum

mengumpulkan pekerjaanya.

       Guru memperbolehkan siswa mengambil gambar dari koran

atau majalah maupun media yang lain sebagai pelengkap tugas untuk


                           clxi
          membuatnya lebih menarik. Desain ini akan berbeda tiap siswa karena

          kemampuan untuk berpikir dan berkreasi untuk tiap siswa juga tidak

          sama, tetapi bagi guru hal tersebut bukanlah masalah besar, yang

          utama adalah kemauan siswa untuk berusaha menjadikan portofolio

          tersebut adalah karyanya yang terbaik.

C. Penafsiran dan Penjelasan

           Paradigma baru pendidikan menghendaki adanya inovasi yang

   terintegrasi dan berkesinambungan. Salah satu wujudnya adalah inovasi yang

   dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kebiasaan guru dalam

   mengumpulkan informasi mengenai tingkat pemahaman siswa melalui

   pertanyaan, observasi, pemberian tugas dan tes akan sangat bermanfaat dalam

   menentukan tingkat penguasaan siswa dan dalam evaluasi keefektifan proses

   pembelajaran.

           Seperti yang telah dijelaskan pada pembelajaran portofolio yang saat

   ini dilakukan adalah pembelajaran yang lebih menekankan how (bagaimana

   membelajarkan) daripada what (apa yang dibelajarkan). Guru tidak lagi hanya

   bertugas memberikan informasi kepada siswa tetapi tugas guru saat ini

   diharapkan dapat memotivasi siswa untuk mencari informasi baru diluar kelas

   di sekolah, sehingga belajar juga dapat dilakukan di luar sekolah.

           Guru tidak harus menyampaikan pelajaran sesuai dengan kurikulum,

   tetapi dituntut dapat mengembangkan potensi siswanya. Guru dituntut

   mengembangkan metode pembelajaran secara kreatif dan inovatif. Guru bukan

   lagi sebagai pusat pembelajaran, melainkan sebagai fasilitator. Sumber


                                      clxii
pembelajaran bisa bermacam-macam seperti: buku, lingkungan, masyarakat,

maupun internet.

       Sesuai dengan misi pendidikan yakni mewujudkan sistem pendidikan

dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu untuk

memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas,

sehat, berdisiplin dan bertanggung jawab, berketerampilan serta menguasai

ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas

manusia Indonesia, maka salah satu metode yang digunakan pemerintah untuk

mewujudkan hal tersebut adalah dengan memperbarui sistem pendidikan itu

sendiri, yang dalam hal ini adalah penggunaan metode pembelajaran baru,

yang banyak melibatkan keaktifan guru dan siswa.

       Model Pembelajaran Berbasis Portofolio merupakan alternatif Cara

Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan Cara Mengajar Guru Aktif (CMGA). Karena

sebelum, selama dan sesudah proses belajar mengajar guru dan siswa

dihadapkan pada sejumlah kegiatan. Diharapkan siswa akan mendapat banyak

manfaat baik hasil belajar utama maupun hasil pengiring akademik dan sosial.

         Telah dijelaskan pula bahwa fokus dalam penelitian ini adalah

bagaimana pelaksanaan model pembelajaran portofolio yang dilaksanakan di

SD Negeri Barusari 03 Semarang dan apa pula kendala-kendala yang

dihadapi. Dalam analisis data jelas terlihat bahwa pelaksanaan model

portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang belum utuh seperti rancangan

yang telah ditetapkan.




                                  clxiii
        Meskipun belum sepenuhnya dilaksanakan seperti rancangan yang

ada tetapi dari hasil observasi dan wawancara di lapangan dapat diketahui

bahwa pelaksanaan portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang telah

menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran portofolio dan juga telah

menganut landasan pemikiran pembelajaran portofolio, yang mana hal

tersebut sudah merupakan suatu inovasi yang dilakukan dalam sistem

pembelajaran.

        Dalam pembelajaran portofolio tidak menghendaki hanya satu pihak

saja yang aktif tetapi menuntut keaktifan dari berbagai pihak dalam hal ini

adalah guru dan siswa, guru yang hanya berperan sebagai fasilitator dan

motivator tidak harus selalu memberikan materi yang sudah jadi atau matang

kepada siswa tetapi sebaliknya siswa harus mencari informasi sesuai dengan

materi yang dipelajari. Selain itu cara guru mengemas pembelajaran

sedemikian rupa juga hal yang harus diperhatikan.

        Model pembelajaran portofolio secara ideal dilakukan dengan 4

tahap pembelajaran yaitu: 1) Identifikasi masalah; 2) Memilih masalah untuk

kajian kelas; 3) Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji

oleh kelas; dan 4) Mengembangkan portofolio kelas. Tetapi realita di

lapangan (SD Negeri Barusari 03 Semarang), keempat tahap tersebut tidak

dapat dilaksanakan pada setiap pokok bahasan yang diajarkan karena

beberapa faktor. Salah satu faktor adalah terbatasnya waktu pembelajaran,

tidak mungkin dalam hitungan jam tahap-tahap pembelajaran portofolio ini

dapat terlalui. Selain itu juga adanya tuntutan materi atau kompetensi yang


                                 clxiv
harus dikuasai siswa sesuai dengan kurikulum, sehingga apabila dilakukan

pembelajaran portofolio dengan tahap-tahap pembelajaran secara ideal,

kemungkinan besar dengan waktu yang telah ditentukan materi tidak dapat

diselesaikan. Keterbatasan dana juga menjadi faktor penghambat pelaksanaan

pembelajaran portofolio secara ideal sebab sekolah tidak menyediakan

anggaran khusus untuk pembelajaran portofolio. Usaha yang sudah dilakukan

pihak sekolah adalah mencoba menjalin kerja sama dengan berbagai pihak

terutama orang tua siswa. Bantuan dari orang tua siswa sangat diharapkan

karena benar-benar akan membantu pelaksanaan pembelajaran, walaupun

tidak secara langsung orang tua memberikan dana kepada sekolah tetapi

mengeluarkan dana untuk menunjang pembelajaran seperti membeli peralatan

dan hal-hal lainnya.

         Dengan kondisi sekolah yang seperti saat ini, akhirnya guru

berinisiatif untuk mengadakan sendiri sarana dan media penunjang

pembelajaran dengan cara bekerja sama dengan orang tua siswa, selain itu

dari pihak guru juga dibutuhkan pengorbanan yang besar baik waktu maupun

dana demi tercapainya pembelajaran yang telah dicanangkan yaitu

pembelajaran yang meningkatkan kualitas siswa secara nyata dengan

menggunakan berbagai metode pembelajaran untuk mengatasi kebosanan

siswa.

         Hasil observasi pada saat pembelajaran berlangsung menunjukkan

bahwa keterlibatan siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran sudah nampak,

seperti terlihat keaktifan siswa dalam berdiskusi dan eksperimen. Hal tersebut


                                  clxv
merupakan pengalaman yang berharga karena siswa tidak hanya verbalisme

tetapi langsung mempraktekannya. Perubahan-perubahan semacam ini

diharapkan mampu memberikan suasana berbeda kepada siswa sehingga

dapat menambah semangat dan motivasi siswa untuk belajar.

           Berdasarkan uraian-uraian dari hasil penelitian di atas diperoleh

gambaran hasil pelaksanaan model pembelajaran portofolio dan kendala-

kendalanya di SD Negeri Barusari 03 Semarang seperti tertera pada tabel

berikut:

          Hasil pelaksanaan                               Kendala
 Siswa mendapatkan praktik                Tahap-tahap pembelajaran portofolio
 empirik (praktik dalam kehidupan         belum sepenuhnya dilaksanakan
 langsung), keaktifan siswa dalam         karena terbatasnya waktu
 diskusi dan prestasi meningkat.          pembelajaran, tuntutan penyelesaian
                                          materi atau kompetensi sesuai
                                          dengan kurikulum, terbatasnya dana
                                          dan fasilitas yang ada




                                  clxvi
                                      BAB V

              TEKNIK PEMERIKSAAN KEABSAHAN DATA



           Seperti telah dikemukakan pada BAB III, dalam melakukan

pemerikasan data mencakup empat kriteria yaitu: derajat kepercayaan (credibility)

menggantikan konsep validitas internal pada non kualitatif, keteralihan

(transferability), kebergantugan (dependability), dan kepastian (konfirmability).

Lebih lanjut, pada BAB V ini akan peneliti uraikan pelaksanaan teknik

pemeriksaan keabsahan data untuk tiap-tiap kriteria tersebut di atas.

A. Credibility

             Mengutip dari BAB III yang menyatakan bahwa pada penelitian

   kualitatif, credibility sering dikenal dengan validitas internal yang merupakan

   ukuran tentang kebenaran data yang diperoleh dengan instrumen. Maksudnya

   adalah apakah instrumen itu sungguh-sungguh mengukur variabel yang

   sebenarnya. Bila ternyata instrumen tidak mengukur sesuatu yang sebenarnya

   diukur, maka data yang diperoleh tidak sesuai dengan kebenaran yang

   diharuskan dalam penelitian dan dengan sendirinya hasil penelitian tidak dapat

   dipercaya. Dengan kata lain, validitas internal bertujuan untuk mengusahakan

   tercapainya aspek kebenaran atau “the truth value” hasil penelitian sehingga

   dapat dipercaya.

             Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengusahakan agar kebenaran

   hasil penelitian dapat tercapai dengan baik. Dalam penelitian ini, peneliti




                                       clxvii
menggunakan triangulasi dan member check untuk meningkatkan kebenaran

hasil penelitian.

          Untuk memenuhi tuntutan keabsahan data, penelitian ini melakukan

langkah-langkah pemeriksaan keabsahan data sebagai berikut;

1. Member Check

            Pada proses member check, validitas data diuji dengan cara peneliti

    meminta tanggapan kepada responden/ informan penelitian untuk

    mengecek kebenaran data. Tahapan ini dimaksudkan untuk memberi

    peluang kepada responden/ informan penelitian agar dia memperbaiki

    informasi yang keliru ataupun menambahkan apa yang masih kurang. Jadi

    tujuan member check ialah agar informasi yang kita peroleh dan gunakan

    dalam penulisan laporan kita sesuai dengan apa yang dimaksud oleh

    informan. Member check dilakukan pada saat penelitian sedang

    berlangsung maupun setelah akhir penelitian.

            Pada penelitian ini, proses member chek dilakukan dengan cara

    memberikan laporan hasil data wawancara untuk setiap responden,

    berdasarkan catatan kita, apa yang telah dikatakan oleh tiap responden

    dengan maksud agar ia memperbaiki bila ada kekeliruan atau menambah

    apa yang telah ia katakan.

2. Triangulasi

            Seperti yang telah peneliti tulis pada BAB III bahwa triangulasi

    adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu

    yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai


                                  clxviii
       pembanding terhadap data itu dengan cara membandingkan data yang

       diperoleh, dapat dilihat dari sumber, metode, peneliti maupun teori.

              Proses triangulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah

       triangulasi sumber yang berarti membandingkan atau mengecek balik

       suatu informasi yang diperoleh pada waktu dan alat yang berbeda. Hal ini

       dicapai peneliti dengan jalan: 1) peneliti membandingkan data hasil

       wawancara     dengan    pengamatan     (catatan   lapangan),   2)      peneliti

       membandingkan apa yang dikatakan oleh informan pada saat di depan

       umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, ataupun apa yang

       dikatakan informan pada waktu penelitian dengan apa yang dikatakan

       sehari-hari, 3) membandingkan mengenai apa yang dikatakan informan

       dengan apa yang dikatakan informan lain yang berbeda kedudukan atau

       status sosialnya, dengan jalan mentriangulasikan seluruh data yang

       diperoleh dari informan penelitian utama yaitu Kepala Sekolah dan Guru

       Kelas V SD Negeri Barusari 03 Semarang dengan data hasil wawancara

       yang berasal dari guru kelas lain dan siswa, 4) membandingkan hasil

       wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan.

B. Transferability

            Berdasarkan uraian yang ada pada BAB III yang menyatakan bahwa

   dalam penelitian non-alamiah transferability sering disebut dengan validitas

   eksternal. Validitas eksternal berkenaan dengan generalisasi yang hanya

   berlaku bagi populasi penelitian dan didasarkan atas sampling yang biasanya

   diseleksi secara acak atau random. Sedangkan penelitian kualitatif tidak


                                      clxix
   melakukan sampling acakan, juga tidak mengadakan pengolahan statistik

   untuk mempertahankan generalisasi dan validitas eksernal.

              Bagi peneliti, transferability bergantung pada si pemakai, yaitu

   hingga manakah hasil penelitian itu dapat mereka gunakan dalam konteks dan

   situasi tertentu. Peneliti sendiri tidak dapat menjamin “validitas eksternal”,

   hanya melihat transferability sebagai suatu kemugkinan. Apabila pemakai

   hasil penelitian ini menemukan keserasian dengan situasi yang dihadapi, maka

   akan tampak adanya transfer, walaupun dapat diduga bahwa tidak ada situasi

   yang sama.

C. Dependability

              Selaras dengan apa yang telah ditulis peneliti dalam BAB III bahwa

   dependability merupakan istilah lain dari reliability atau reliabilitas.

   Reliabilitas berkenaan dengan apakah penelitian tersebut dapat diulangi

   (direplikasi) dan menghasilkan hasil yang sama jika menggunakan metode

   yang sama pula.

              Situasi dalam kehidupan yang nyata tidak dapat diulangi. Selain itu,

   cara melaporkan penelitian bersifat idiosyncratic dan individualistic, selalu

   berbeda pada tiap orangnya. Tiap peneliti memberi laporan menurut bahasa

   dan jalan pikiran sendiri, sehingga hasil penelitian yang dilakukan oleh dua

   orang dengan waktu yang berbeda sangatlah mungkin memperoleh hasil yang

   berbeda.

              Untuk   memenuhi     tuntutan   dependability,   hal   yang   paling

   memungkinkan untuk dilakukan adalah menyatukan dependability dengan


                                       clxx
   confirmability. Hal ini dikerjakan melalui suatu cara yang disebut “audit

   trail”. Sebab dengan cara pelibatan dosen pembimbing untuk melakukan

   proses audit trail, objektifitas maupun keterandalan instrumen penelitian lebih

   dapat dikontrol.

D. Konfirmability

            Seperti tersebut pada bagian dependability. Untuk menigkatkan

   conformability dilakukan dengan jalan ‘audit trail’. Proses ‘audit trail’

   dilakukan dalam usaha untuk menjamin kebenaran penelitian naturalistik.

   Dalam rangka penulisan laporan penelitian ini, ‘audit trail’ dilakukan dengan

   bantuan dosen pembimbing I maupun pembimbing II. Dalam hal ini,

   konsultasi dengan dosen pembimbing merupakan cara yang digunakan untuk

   meningkatkan objektifitas hasil penelitian. Sebab dengan cara inilah, proses

   perencanaan, pengambilan data dan hasil penelitian dapat lebih meminimalkan

   bahkan menghilangkan unsur subjektifitas.




                                      clxxi
                                   BAB VI

                    SIMPULAN DAN REKOMENDASI



A. Simpulan

          Berdasarkan kegiatan penelitian di lapangan, peneliti memperoleh

   beberapa temuan sebagai berikut:

   1.   Dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio di SD Negeri Barusari 03

        Semarang dilaksanakan dengan tiga tahap pembelajaran yaitu:

        apersepsi, kegiatan inti dan evaluasi. Pada tahap apersepsi guru

        memberikan gambaran tentang konsep sehari-hari yang berkaitan

        dengan materi yang disampaikan melalui metode tanya jawab. Maksud

        dan tujuan apersepsi ini untuk menggali pengetahuan yang dimiliki

        siswa. Pada kegiatan apersepsi lebih ditekankan pada kegiatan siswa

        untuk menemukan konsep tertentu. Pada kegiatan inti pembelajaran,

        guru menggunakan metode yang bervariasi yaitu tanya jawab,

        eksperimen dan permainan. Guru dalam kegiatan ini hanya sebagai

        fasilitator, sedangkan siswa lebih ditekankan pada keaktifannya. Dalam

        pembelajaran ini guru menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran

        portofolio yaitu prinsip belajar siswa aktif, kelompok belajar kooperatif,

        pembelajaran partisipatorik, mengajar yang reaktif dan pembelajaran

        yang menyenangkan. Evaluasi yang dilakukan guru tidak hanya pada

        akhir pembelajaran, tetapi juga dalam proses pembelajaran.




                                      clxxii
   2. Pembelajaran portofolio di SD Negeri Barusari 03 Semarang belum

      sepenuhnya dapat dilaksanakan secara ideal, karena ada beberapa kendala

      baik persiapan maupun pelaksanaan. Kendala yang dialami dalam tahap

      persiapan pembelajaran portofolio berkaitan dengan dana. Selain itu

      kendala yang dialami guru dalam persiapan pembelajaran antara lain

      kesulitan dalam pembuatan silabus, pembuatan satuan acara pembelajaran,

      hal tersebut disebabkan kurangnya informasi yang masuk ke guru tentang

      pembelajaran portofolio. Berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran

      portofolio, kendala yang dihadapi karena kurangnya fasilitas pembelajaran

      yang ada seperti; belum adanya laboratorium sehingga siswa harus

      menyiapkan alat sendiri dengan dana swadaya apabila akan melakukan

      praktikum. Kendala yang lainnya yaitu belum maksimalnya kerjasama

      antara sekolah dengan masyarakat maupun dengan lembaga lain sehingga

      guru belum dapat membawa informan sebagai salah satu sumber belajar.

B. Rekomendasi

          Dengan adanya beberapa kendala yang dihadapi maka dapat

   direkomendasikan kepada beberapa pihak yang terkait antara lain:

   1. sekolah perlu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait sebagai

      informan atau sumber belajar, donator untuk memperlancar proses

      pembelajaran.

   2. Pihak Dinas Pendidikan untuk segera memberikan pelatihan atau seminar

      tentang pembelajaran portofolio, sehingga guru lebih memahami konsep

      portofolio sebagai pembelajaran dan sebagai evaluasi.


                                    clxxiii
                             DAFTAR PUSTAKA


A, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Budimansyah, Dasim. 2003. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio. Bandung:
      PT. Genesindo.


Budimansyah, Dasim. 2003. Model Pembelajaran Portofolio Sosiologi. Bandung:
      PT. Genesindo.


Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja
      Grafindo Persada.

Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang
      Press.

Fajar, Arnie. 2002. Portofolio dalam Pelajaran IPS. Bandung: Remaja
       Rosdakarya.


........... 2001. Apa dan Mengapa Model Pembelajaran berbasis Portofolio?,
            Makalah disampaikan pada Diklat Guru-guru PKN SLTP Jawa Barat di
            Lembang.

………2001. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio : Suatu Cara
   Mengimplementasikan Democratic Teaching, Makalah disampaikan pada
   Diklat Guru PPKN Kabupaten Karawang di Karawang.

Herdiyanto, Novi. 2003. Pelaksanaan produksi program audio di Balai Produksi
      Media Radio (BPMR) Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri
      Semarang.

Komaruddin dan Yooke Tjuparmah S. Komaruddin. 2000. Kamus Istilah Karya
     Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.

Margono, S. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Marzuki. 2001. Metodologi Riset. Yogyakarta: PT. Prasetia Widia Pratama.

Moleong, Lexy J. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
      Rosdakarya.



                                     clxxiv
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja
      Rosdakarya.

Mustaqim dan Abdul Wahid. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nasution. 1988. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito.

Nugroho, et al.2000. Pengembangan Model Kurikulum Berdeferensiasi untuk
      Melayani Siswa Berbakat di Sekolah Unggul di Jawa Tengah Th. 1998-
      2000. Semarang: Depdikbud UNNES.

Rachman, Maman. 1999. Strategi Dan Langkah-Langkah Penelitian. Semarang:
     IKIP Semarang.

Rianto, Yatim. 1996. Metode Penelitian Pendidikan Suatu Tinjauan Dasar.
       Surabaya: SIC Surabaya.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI-Press.

Seels, Barbara B dan Rita C. Richey. 1994. Teknologi Pembelajaran : Definisi
       dan Kawasannya. Jakarta: Unit Percetakan Universitas Negeri Jakarta.

Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV Pustaka Aksara.

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta:
      Kanisius.

Syaodich, S. Nana. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.
      Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tuwu, Alimuddin. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI Press.




                                      clxxv
clxxvi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:618
posted:2/10/2012
language:Malay
pages:176
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl