Kejang demam Yuniar

Document Sample
Kejang demam Yuniar Powered By Docstoc
					                                       BAB I
                                KONSEP DASAR




A. Pengertian
          Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
   tubuh (suhu rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses
   ekstrakarnium. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering
   dijumpai pada anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun.
   1. Menurut Milichap (1968) adalah hampir 3% daripada anak yang berumur
      dibawah 5 tahun pernah menderitanya.
   2. Menurut Wegman (1939) dan Prichardl dan Mc. Greal (1958) adalah
      terjadinya bangkitan kejang demam bergantung kepada umur, tinggi serta
      cepatnya suhu meningkat.
   3. Menurut Lennox-Buchthal (1971) berpendapat bahwa kepekaan terhadap
      bangkitan kejang demam diturunkan oleh sebuah gen domman dengan
      penetrasi yang tidak sempurna.
   4. Menurut Lernox (1949) berpendapat bahwa 41,2% anggota keluarga penderita
      mempunyai riwayat kejang, sedangkan pada anak normal hanya 3%.
                (Staf Pengajar Ilmu Kesehata Anak, Fak. Kedokteran UI, 1997 : 847)


B. Etiologi
          Faktor-faktor yang mempengaruhi etiologi kejang demam ialah umur,
   kenaikan suhu tubuh, faktor genetik dan gangguan sistem saraf pusat sebelum
   dan sesudah lahir.
          Kenaikan suhu tubuh biasanya berhubungan dengan penyakit saluran
   nafas bagian atas, radang telinga tengah, radang paru, gastroenteritis dan infeksi
   saluran kencing, kejang dapat pula terjadi pada bayi mengalami kenaikan suhu
   sesudah vaksinasi terutama vaksinasi terhadap bentuk rejan. Kadang-kadang juga
   terjadi setelah vaksinasi tampak akan tetapi angka kejadian kejang demam pasca
   vaksinasi tampak lebih kecil (1,9%) bila dibandingkan dengan angkat kejadian
   bila menderita penyakitnya sendiri (7,7%).
C. Manifestasi Klinis
             Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan
   dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi
   di luar susunan saraf pusat; misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis,
   furunkulasis, dan lain-lain. Umumnya kejang demam berhenti sendiri. Begitu
   kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak tetapi setelah
   beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya
   saraf.
             Pedoman     mendiagnosis   kejang   demam      menurut     Livingstone
   (dimodifikasi oleh sub bagian anak FKUI-RSCM Jakarta) :
   1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun.
   2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.
   3. Kejang bersifat umum.
   4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
   5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.
   6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal
       tidak menunjukkan kelainan.
   7. Frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.
             Pemeriksaan EKG sebaiknya dilakukan sedikit setelah 1 minggu suhu
   normal, oleh karena kenaikan suhu tubuh sendiri dapat menimbulkan kelainan
   yang tidak spesifik pada gambaran EEG, yang dapat menetap hingga lebih
   kurang 1 minggu sesudahnya.


D. Patofisiologi
             Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari
   tinggi rendahnya ambang kejang. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah,
   kejang telah terjadi pada suhu 38°C, sedang pada anak dengan ambang kejang
   yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40°C atau lebih. Kejang demam lebih
   sering     terjadi   pada   ambang   kejang   yang   rendah   sehingga    dalam
   penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita
   kejang.
             Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya
   dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama
   lebih dari 15 menit biasanya disertai terjadinya apnea. Meningkatnya kebutuhan
   oksigen dan energi untuk kontruksi otot skelot yang akhirnya terjadi hipoksemia,
   hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi,
   areterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin
   meningkat menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di
   atas adalah faktor penyebab terjadinya kerusakan neuron otak selama
   berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah
   yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan
   timbul odema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
           Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat
   serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi “matang” di kemudian
   hari, sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang
   berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi
   epilepsi.


E. Pemeriksaan Penunjang
               Foto x-ray kepala dan CT-scan biasanya merupakan bagian dari tindakan
   diagnosa pada kejang demam menunjukkan anatomi. Pemeriksaan metabolik
   dapat juga berguna, pemeriksaan glukosa darah, elektrolit, kalsium dan fungsi
   hepar serta ginjal sering kali didapatkan tentang platelet, kecepatan, sedimentasi
   dan pemeriksaan genelogi atau imunologi mungkin juga dipesankan (Hudak dan
   Gallo, 1996 : 282).
           LCS juga dapat diperiksa terhadap sel-sel dan protein, serta penurunan
   glukosa, dibandingkan dan nilai serum normalnya. Semua glukosa setengah atau
   dua pertiga nilai serum. EEG sering memberikan keuntungan dalam menentukan
   diagnosa      kejang   dan   dalam   menemukan     lesi   jika   keduanya   terjadi
   memperlihatkan fungsi neurologi (Hudak dan Gallo, 1996 : 282).


G. Penatalaksanaan
           Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu
   dikerjakan :
   1. Memberantas kejang secepatnya
                Bila pasien datang dalam keadaan status konvulsivus, obat pilihan
       utama adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Efek terapeutiknya
       sangat cepat yaitu kira-kira 30 detik 5 menit dan efek toksik yang serius
       hampir tidak dijumpai apabila diberikan secara perlahan dan dosis tidak
       melebihi 50 mg per suntikan. Dosis sesuai dengan BB < dari 10 kg 0,5-0,75
   mg/kg BB dengan minimal dalam spuit 7,5 mg dan di atas 20 kg 0,5 kg/kg
   BB. Biasanya dosis rata-rata yang dipakai 0,3 mg/kg BB/kali dengan
   maksimum 5 mg pada anak berumur < dari 5 tahun dan 10 mg pada anak
   yang lebih besar.
2. Pengobatan penunjang
         Sebelum memberantas kejang tidak boleh melupakan perlunya
   pengobatan penunjang yaitu semua pakaian ketat dibuka, posisi kepala
   sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung, usahakan jalan nafas
   bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu dilakukan intubasi atau
   trakeostomi dan pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan
   diberikan oksigen.
3. Pengobatan rumit
         Lanjutan pengobatan rumit tergantung dari pada keadaan pasien
   pengobatan ini dibagi atas dua bagian yaitu :
   a. Profilaksis intermiten
           Untuk mencegah berulangnya kejang kembali dikemudian hari
      pasien yang menderita kejang demam, sederhana diberikan obat campur
      anti konvulsan dan antipirektika. Antikonvulsan yang diberikan ialah
      fenobarbital dengan dosis 4-5 mg/kg BB/hari. Obat anti piretika yang
      dipakai misalnya aspirin, dosis yang diberikan 60 mg/tahun/kali, sehari
      diberikan 3 kali. Untuk bayi di bawah umur 6 bulan diberikan 10
      mg/bulan/ kali, sehari diberikan 3 kali.
   b. Profilaksis jangka panjang
           Ini diberikan pada keadaan 1) Epilepsi yang diprovokas oleh demam,
      2) yang telah disepakati pada konsensus bersama ialah pada semua kejang
      demam yang mempunyai ciri :
      1) Terdapatnya gangguan perkembangan saraf seperti paralisis serebral
          retardasri perkembangan dan mikrosefali.
      2) Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal atau diikuti
          kelainan saraf yang sementara atau menetap.
      3) Bila terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik pada
          orang tua dan saudara kandung.
      4) Pada kasus tertentu yang dianggap perlu yaitu bila kadang-kadang
          terdapat kejang berulang atau kejang demam pada bayi berumur di
          bawah umru 12 bulan.
   4. Mencari dan mengobati penyebab
            Penyebab kejang demam sederhana maupun epilepsi yang diprovokasi
      oleh demam biasanya adalah infeksi respiratorius bagian atas dan otitis media
      akut. Pemberian antibiotik yang adekuat perlu untuk mengobati penyakit
      tersebut. Secara akademis pasien kejang demam yang datang untuk pertama
      kali sebaiknya dilakukan fungsi lumbal untuk menyingkirkan kemungkinan
      adanya faktor infeksi di dalam otak misalnya meningitis. Pada pasien yang
      diketahui kejang lama pemeriksaan lebih intensif seperti pungsi lumbal, darah
      lengkap, gula darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium dan faal hati. Bila
      perlu rontgen foto tengkorak, EEG, ensefalografi dan lain-lain.


H. Komplikasi
   1. Kerusakan otak
   2. Retardasi mental
   3. Epilepsi


I. Fokus Intervensi
   1. Hipertermi berhubungan dengan proses perjalanan penyakit.
      a. Tujuan          : Mempertahankan suhu tubuh menurun.
      b. Kriteria hasil : Suhu 36-37°C / 36,5-37,5°C
      c. Intervensi      :
          1) Awasi suhu dan tanda-tanda vital setiap jam.
          2) Lakukan pengontrolan suhu, menjaga kenyamanan lingkungan.
          3) Berikan antipiretik, misalnya sanmol.
          4) Gunakan tindakan-tindakan pendinginan eksternal dan internal.
   2. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
      tidak adekuat.
      a. Tujuan          : Masukan kalori adekuat untuk meningkatkan atau
                             mempertahankan BB yang tepat.
      b. Kriteria hasil : Menstabilkan BB.
      c. Intervensi      :
          1) Berikan makanan sedikit dan makanan kecil tambahan.
          2) Pertahankan jadwal menimbang BB teratur.
          3) Sajikan makanan dalam keadaan hangat.
       4) Berikan diet dan makanan ringan dengan tambahan makanan disukai
          bila ada.
3. Resiko tinggi injuri berhubungan dengan emosi yang labil gangguan kognitif.
   a. Tujuan          : Bebas cidera personal.
   b. Kriteria hasil : Mengenali stressor yang mungkin dapat meningkatkan
                          cidera.
   c. Intervensi      :
       1) Identifikasi faktor resiko.
       2) Awasi keadaan emosi.
       3) Periksa lingkungan fisik terhadap adanya kemungkinan resiko.
       4) Bantu dalam mengidentifikasi stressor.
       5) Turunkan stimulus berlebihan.
4. Gangguan body image berhubungan dengan kesulitan menerima body image.
   a. Tujuan          : Pasien menerima perubahan tubuh dan mengintegrasikan
                          ke dalam sel.
   b. Kriteria hasil : 1) Dapat mengekspresikan penerimaan tentang perubahan
                            body image.
                          2) Dapat menggunakan sumber-sumber yang tersedia
                            untuk mendapatkan informasi dan lingkungan.
   c. Intervensi      :
       1) Kaji perasaan dan persepsi pasien.
       2) Hargai kebutuhan pasien.
       3) Bantu pasien dalam mengekspresikan perasaannya.
       4) Berikan informasi tentang alat bantu.
       5) Hargai pemecahan masalah yang konstruktif untuk meningkatkan
          penampilan.
     Fokus intervensi lain dari Doengoes (2000 : 265, 277, 278, 767)
menambahkan diagnosa, sebagai berikut :
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler,
   kerusakan persepsi atau kognitif, destruksi bronkia.
   a. Tujuan          : Mempertahankan pola nafas efektif.
   b. Kriteria hasil : Bebas sianosis, analisa gas darah dalam batas normal.
   c. Intervensi      :
       1) Pantau frekuensi, irama ke dalam nafas.
       2) Angkat kepala tempat tidur sesuai aturan, posisi miring sesuai
          indikasi.
       3) Auskultasi suara nafas.
       4) Pantau penggunaan obat-obat depresan pernafasan.
       5) Berikan oksigen.
2. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan kerusakan neurologi,
   obstruksi bronkus, kerusakan perasaan atau kognitif.
   a. Tujuan          : Mempertahankan pola pernafasan efektif dengan pola
                          nafas paten atau aspirasi dicegah.
   b. Kriteria hasil : Pernafasan efektif dan tidak terjadi aspirasi.
   c. Intervensi      :
       1) Anjurkan pasien untuk mengosongkan mulut dari benda atau zat
          tertentu, jika kejang terjadi secara mendadak.
       2) Letakkan pasien pada posisi miring, permukaan datar, miringkan
          kepala seama serangan kejang.
       3) Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan.
       4) Masukkan spatel lidah atau gulungan benda lunak sesuai indikasi.
3. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan transmisi dan atau integrasi
   (trauma atau defisit neurologis).
   a. Tujuan          : Mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi persepsi.
   b. Kriteria hasil : Mendemonstrasikan perubahan perilaku.
   c. Intervensi      :
       1) Kaji kesadaran sensori.
       2) Observasi respon perilaku.
       3) Catat adanya perubahan yang spesifik dalam hal kemampuan.
       4) Hilangkan suara bising stimulus yang berlebihan.
       5) Beri stimulus yang bermanfaat.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi informasi,
   keterbatasan kognitif.
   a. Tujuan          : Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan dan
                          berbagai rangsangan yang dapat meningkatkan atau
                          berpotensial pada aktivitas kejang.
b. Kriteria hasil : 1) Pasien memulai satu perubahan perilaku sesuai
                       indikasi.
                     2) Pasien mentaati peraturan obat diresepkan.
c. Intervensi    :
   1) Jelaskan kembali mengenai patofisiologi atau prognosis penyakit dan
       perlunya pengobatan.
   2) Diskusikan mengenai efek samping obat secara khusus.
   3) Tekankan perlunya untuk melakukan evaluasi yang teratur atau
       melakukan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.
   4) Diskusikan manfaat dari kesehatan umum yang baik, seperti diit yang
       adekuat, istirahat yang cukup.
   5) Berikan kembali informasi yang berhubungan dengan proses trauma
       dan pengaruh sesudahnya.
   6) Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perasaan diri.
  ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. Z DENGAN KEJANG DEMAM
                    DI IGD RUMAH SAKIT UMUM LANGSA


A. Pengkajian Awal
   1. Breathing
      a. RR : 28 x/menit
      b. Cappilary refil normal.
      c. Pengembangan dada dan diafragma simetris
   2. Airway countrol
      a. Pasien bernafas spontan, tapi agak sesak
      b. Kesadaran compos mentis
      c. Irama nafas teratur dan agak cepat
   3. Circulation
      N : 140 x/menit
      S : 38°C


B. Pengkajian Dasar
   1. Identitas pasien
      Nama                 : An. Z
      Usia                 : 7 tahun 3 bulan
      Jenis kelamin        : Laki-laki
      Alamat               : Langsa
      Suku                 : Jawa
      Bangsa               : Indonesia
      Agama                : Islam


   2. Identitas penanggung jawab
      Nama                 : Tn. S
      Umur                 : 30 th
      Jenis kelamin        : Laki-laki
      Suku/bangsa          : Jawa/Indonesia
      Hub. dgn pasien      : Ayah pasien


   3. Keluhan utama
             Ibu mengatakan anaknya demam dan tiba-tiba kejang.
4. Riwayat keperawatan sekarang
         Ibu mengatakan anaknya demam sudah 4 hari kemudian diperiksakan
   ke dokter terdekat, tapi demamnya belum turun kemudian pada hari minggu
   anak kejang ± 3 menit, di rumah belum dilakukan tindakan apapun langsung
   dibawa ke RS PKU Muhammadiyah.


5. Riwayat kesehatan dahulu
         Ibu pasien mengatakan anaknya belum pernah dirawat di rumah sakit
   sebelumnya, dan belum pernah mempunyai riwayat kejang demam
   sebelumnya.
6. Riwayat kesehatan keluarga
         Keluarga pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita
   penyakit menurun dan menular.
7. Pemeriksaan fisik
   a. KU               : Lemah
   b. Kesadaran        :
   c. TTV              : S : 38,5°C              RR : 28 x/menit
                           N : 140 x/menit       BB : 9,5 kg
   d. Kepala
      Mata             : Conjungtiva anemis, simetris, kanan = kiri
      Hidung           : Tidak ada sekret, tidak ada polip, terpasang O2 2
                           lt/menit
      Telinga          : Simetris kanan dan kiri, tidak ada serumen
      Leher            : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
   e. Dada
      Paru        I    : Pengembangan paru kanan = kiri, tidak ada lesi
                  P    : Fremitus raba kanan = kiri
                  P    : Sonor
                  A    : Suara nafas vesikuler
      Jantung     I    : Ictus cordis tampak
                  P    : Ictus cordis kuat angkat
                  P    : Pekak
                  A    : Bunyi jantung I, II reguler
      Abdomen     I    : Permukaan dada = perut
                  A    : Peristaltik usus 20 x/menit
                      P    : Tidak ada nyeri tekan
                      A    : Tympany
   f. Ekstremitas
        Atas               : Tangan kanan tidak ada oedema, tidak ada lesi.
                             Tangan kiri terpasang infus RL 10 tpm.
        Bawah              : Tidak ada oedema, tidak ada lesi, dapat bergerak
                             bebas.
   g. Genetalia            : Bersih
   h. Kulit                : Teraba hangat, turgor kulit sedang.
8. Program terapi IGD
   a. Stesolid 5 mg
   b. RL 10 tpm
9. Pemeriksaan penunjang
   Lab
   Hb
   Leukosit
   Eritrosit
   Trombosit
   Lymphosit
   Mosit
   Tapi masih menunggu hasil
10. Data fokus
   a. Data subyektif : -
   b. Data obyektif :
        1) Badan teraba panas
        2) S : 38°C
        3) RR : 28 x/menit
        4) N : 132 x/menit
        5) Keadaan umum pasien lemah
        6) Ibu An. Z mengatakan An. Z kejang 2 kali
        7) Terpasang O2 2 lt/menit
C. Analisa Data
    No               Data Fokus                    Etiologi           Problem
    1.     DS : -                                                Ketidakefektifan
           DO : - RR : 28 x/menit                                pola nafas
                - Pasien terpasang O2                            berhubungan
                  2 lt/menit                                     dengan kerusakan
                                                                 neurovaskuler
    2.     DS : -                            Proses perjalanan   Hipertermi
           DO : - Badan teraba panas         penyakit
                - S : 39°C
                - Rr : 28 x/menit
                - N : 140 x/menit
    3.     DS : -                            Bangkitan kejang    Resiko tinggi
           DO : - KU : pasien lemah                              cidera sistem saraf
                - S : 38,5°C                                     pusat
                - N : 140 x/menit
                - Ibu An. Z
                  mengatakan An. Z
                  kejang 2 kali

D. Prioritas Diagnosa Keperawatan
   1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan neuro vaskuler.
   2. Hipertermi berhubungan dengan proses perjalanan penyakit.
   3. Resiko tinggi cidera sistem saraf pusat berhubungan dengan bangkitan
         kejang.


E. Intervensi
   1. Dx. 1
         Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler.
         a. Tujuan         : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24
                               jam pola nafas menjadi efektif.
         b. Kriteria hasil :
            1) RR normal
            2) Pasien tidak terpasang O2
            3) Pasien tidak terjadi sianosis
         c. Intervensi     :
            1) Pantau frekuensi sianosis
            2) Angkat kepala atau semifowler, posisi miring
            3) Beri O2
2. Dx. II
   Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
   a. Tujuan          : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24
                          jam suhu badan menurun.
   b. Kriteria hasil :
       1) Badan tidak panas suhu tubuh normal
       2) Keadaan umum baik
       3) Wajah tidak tampak kemerahan
   c. Intervensi      :
       1) Ukur suhu tubuh
       2) Berikan pakaian tipis dan menyerap keringat
       3) Kompres hangat
       4) Atur suhu lingkungan dan aliran udara lancar
       5) Kolaborasi untuk pemberian antipiretik


3. Dx. III
   Resiko tinggi cidera sistem saraf pusat berhubungan dengan bangkitan
   kejang.
   a. Tujuan          : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24
                          jam tidak terjadi cidera sistem saraf pusat.
   b. Kriteria hasil :
       1) Keadaa pasien normal
       2) Lidah tidak tergigit
       3) Tidak ada perlukaan pada tubuh
       4) Jalan nafas baik
   c. Intervensi      :
       1) Berikan pengamanan tertentu, tidur dan teratur dalam posisi yang
             rendah
       2) Perhatikan potensi jalan nafas dengan pasang O2
       3) Amati terhadap aspirasi, atur posisi miring
       4) Observasi status motorik dan kesadaran selama kejang
       5) Kolaborasi pemberian anti konfulsan
       6) Catat adanya perubahan yang spesifik dalam hal kemampuan.
F. Implementasi
      Tgl/jam             Dx                Implementasi                      Evaluasi
     16/03/2008
          09.30       I,II, III     - Menimbang BB                    BB 9,5 kg
          09.33       I, II, III - Mengobservasi keadaan              Pasien tampak lemah
                                      umum pasien
          09.35       I, II, III - Melakukan pengkajian               S   : 38,5°C
                                                                      RR : 28 x/menit
                                                                      N   : 140 x/menit
          09.45           I         - Memberi O2 2 lt/menit
          09.48           III       - Memberi pengamanan
                                      kejang
          09.49           III       - Memberikan stesolid 5 mg
                                      lewat dubur
          09.55           II        - Membantu memasang infus
                                      RL 10 tpm
          10.15       I, II, III - Mengobservasi keadaan              Pasien tampak tertidur
                                      pasien


G.          Evaluasi
     Dx       Tanggal                                Evaluasi                           Paraf
     I       16-03-2008           S : -
                  10.45           O : - RR : 24 x/menit
                                      - Terpasang O2 2 l/menit
                                  A : Masalah teratasi sebagian
                                  P : Intervensi dilanjutkan dengan
                                      - Pantau frekuensi nafas
                                      - Pertahankan posisi semi fowler
                                      - Beri O2 2 l/menit
     II      16-03-2008           S : -
                                  O : - S : 38°C            RR : 24 x/menit
                                      - N : 140 x/menit
                                  A : Gangguan hipertermi belum teratasi
                                  P : Intervensi dilanjutkan dengan
                                      - Kaji tanda-tanda vital
                       - Kolaborasi pemberian antipiretik
III   16-03-2008   S : -
                   O : - Keadaan umum lemah
                       - S : 38°C            N : 140 x/menit
                       - RR : 24 x/menit
                   A : Masalah teratasi sebagian
                   P : Intervensi dilanjutkan dengan
                       - Observasi status motorik
                       - Kolaborasi pemberian anti konfulsan
                              DAFTAR PUSTAKA


Bidublph, Joh, dkk., 1999, Kesehatan Anak Untuk Perawat Petugas Penyuluhan
       Kesehatan dan Bidan di Desa, Jogjakarta, Yayasan Essentia Medika.


Hendarto, S.K., 1988, Kejang pada Anak, Jakarta, Yayasan Penerbit IDI.


Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.


Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kesehatan UI, 1997, Ilmu Kesehatan
       Anak, Jakarta : Info Medika.


Kim, M.J., 1995, Diagnosa Keperawatan, Ed. 5, Alih bahasa : Yasmin Asih,
       Christantie E, Indah Nurmala D, Silvana E, Volume 4, EGC, Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:118
posted:2/10/2012
language:Malay
pages:16
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl