1
BAB I
PENDAHULUAN
Pada tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi
yang lalu telah lahir seorang manusia yang menjadi Rahmatan Lil Alamin dan
menyandang derajat keterpujian yang tidak terukur ketinggian dan
kesempurnaannya serta kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban
dunia. Manusia tersebut adalah Ahmad yang kemudian menyandang nilai-nilai
Ke-Muhammad-an yang sangat tinggi sehingga beliau berhak menyandang gelar
Muhammad yaitu yang sangat terpuji dan selalu dipuja dan dipuji, yang menjadi
Rahmatan Lil Alamin dan Uswatun Hasanah bagi seluruh makhluk yang ada di
alam semesta Raya ini.
Uswatun Hasanah artinya teladan yang baik. Panutan dan teladan umat
Islam adalah Nabi Muhammad SAW. seorang laki-laki pilihan Allah SWT yang
diutus untuk menyampaikan ajaran yang benar yaitu Agama Islam. Oleh sebab
itu, kita sebagai muslim harus meniru dan mencontoh kepribadian beliau.
Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab ayat 21 yang
Artinya”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan yang
baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan hari kiamat dan
dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab:21).
Di dalam Al Qur’an telah diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah
contoh yang paling baik bagi umat manusia yang menghendaki perjumpaan
dengan Allah ketika kita masih hidup di atas dunia. Hal ini sesuai dengan firman
Allah ;
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik
bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan Hari
Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyak” (QS Al Ahzab 33 : 21).
Sebagian ahli tafsir, banyak yang menterjemahkan ayat tersebut dengan
iftiro atau menambah-nambahkan ayat tersebut dengan kata “mengharapkan
rahmat Allah”, padahal bunyi sebenarnya adalah “Laqod kaana lakum fii
Rasulillahi uswatu hasanatun liman kaana yaarjullohu walyaumil
akhirawadzakarooloha kasyiron”.
Dalam ayat tersebut terdapat kata “yarjulloha” yang berarti mengharap
Allah. Jadi bukan mengharapkan rahmat Allah atau mengharapkan ridha Allah,
2
atau mengharapkan pahala Allah, atau mengharapkan rezeki Allah, tetapi yang
benar adalah mengharapkan Allah semata. Bahkan kalau boleh dipertegas lagi
ayat tersebut bermakna : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri
tauladan yang paling baik bai kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan
menemui Allah dan hari akhir dan banyak mengingat Allah”. Berdasarkan ayat
tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah adalah contoh yang paling baik
bagi umat manusia yang ingin mengharapkan bertemu dengan Allah di dunia ini,
dan juga bertemu dengan hari akhir, agar kita dapat mengingat Allah sebanyak-
banyaknya. Sebab mustahil kita dapat mengingat Allah apabila kita belum pernah
bertemu dan melihat Allah.
Muhammad secara batiniah adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang
telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi yang sangat disayangkan
adalah bahwa tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir
tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga
tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Muhammad
atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela. Hal ini
diakibatkan karena mereka belum dapat meneyerap Muhammad dalam arti nilai-
nilai keterpujian, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal
setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada
Tuhan kecuali Allah dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah
Utusan Allah”. Kalimat Syahadat tersebut mempunyai makna yang sangat dalam
sekali, yaitu saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia
bersaksi. Secara hakikat, makna simbolis dari “wa asyhadu an la Muhammad
Rasulullah” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh
anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai
dengan firman Allah dalam Al Qur’an dan juga sabda Nabi Muhammad SAW :
“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rasulullah …”
(QS Al Hujurot 49 : 7). Katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” QS Ali
Imran 3 : 31).
“Muhammad itu sekali-kalilah bukanlah bapak dari seorang laki-laki di
antara kamu tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup Nabi-Nabi. Dan
sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segalanya” (QS Al Ahzab 33 : 40).
3
“Orang-orang yang telah kami beri Al Kitab, mengenal Muhammad seperti
mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara
mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya” (QS Al
Baqarah 2 : 146).
“Ana ahmad bi la mim, wa ana ‘arabbi bi la ‘ain, wa man roaini, innaroaitul
haq” Aku ahmad tanpa huruf mim dan aku adalah ‘arabbi tanpa huruf ‘ain,
barang siapa melihat aku, sesungguhnya telah melihat Sang Maha Benar”
(Hadits).
“Yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT adalah Cahaya-ku, wahai
Jabir (HR Ibnu jabir). “Siapa saja yang mengatakan Muhammad Rasulullah telah
mati, akan saya bunuh !” (Umar bin Khatab)
“Siapa yang menyembah Muhammad bin Abdullah, beliau telah mati.
Siapa yang menyembah Wajah Allah, Dia-lah Yang Maha Abadi” (Abu Bakr Ash
Shidiq). “Dan janganlah kamu anggap mati orang-orang mati di Jalan Allah,
bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan diberi Rezeki” (QS 3 : 169)
“Aku adalah Ahmad tanpa huruf mim. Aku adalah ‘Arabbi tanpa huruf
‘ain. Barang siapa melihat aku, sesungguhnya ia telah melihat Al Haqq” (Hadits).
“Sebuah makam dan kubah dan menara kecil tidaklah menyenangkan bagi para
pengikut Yang Maha Besar. “Makammu bukanlah diperindah oleh batu, kayu dan
plesteran.
Bukan, bukan itu, melainkan dengan menggali makam untuk dirimu
sendiri dalam kesucian ruhani dan menguburkan egoisme dirimu dalam Egoisme-
Nya. Dan menjadi debu-Nya dan terkubur dalam Cinta-Nya, sehingga Nafas-Nya
dapat memenuhi dan menghidupimu”
4
BAB II
PEMBAHASAN
1. Riwayat Rasulullah SAW
Nasab Rasulullah SAW
Beliau adalah Abu al-Qasim Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib
bin Hasyim bin Abdimanaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin
Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaima bin Mudrikah bin
Ilyas bin bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin
Nahur bin Tayrah bin Ya’rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim “Kekasih
Allah” (alaihima as-salam) bin Tarih atau Azar bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin
Falikh bin Aybir bin Syalikh bin bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh (alaihis salam) bin
Lamk bin Mutusyalkh bin Akhnukh –yaitu Nabi Idris keturunan Nabi Adam yang
pertama menjadi nabi dan yang menulis dengan pena– bin Yarda bin Mahlil bin
Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam alaihissalam.
Nasab ini disebutkan oleh Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani
di salah satu riwayatnya. Nasab Rasulullah sampai Adnan disepakati oleh
para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat. Yang
dimaksud Quraisy adalah putra Fihr bin Malik atau an-Nadhr bin Kinanah.
Ibu Rasulullah saw.
Ibunya adalah Aminah binti Wahb bin Abdimanaf bin Zuhrah bin Kilab bin
Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib.
Kelahiran Rasulullah saw.
Beliau dilahirkan di Mekah pada tahun Gajah bulan Rabiul Awal,
tanggal dua, hari Senin. Sebagian ulama mengatakan bahwa beliau dilahirkan
setelah tiga puluh tahun dari tahun gajah. Sebagian lagi mengatakan setelah
empat puluh tahun dari tahun gajah. Pendapat yang benar adalah pada tahun
gajah.
Kematian Ayah, Ibu, dan Kakeknya
Ayahnya meninggal dunia ketika ia berusia dua puluh delapan bulan.
Menurut sebagian ulama usianya tujuh bulan ketika ayahnya meninggal. Ada
lagi yang berpendapat bahwa ayahnya meninggal di perkampungan an-
5
Nabighah ketika ia masih janin. Dan dikatakan pula bahwa ayahnya wafat di
daerah Abwa yang terletak antara Makkah dan Madinah.
Abu Abdillah Zubair bin Bakkar az-Zubairi berkata: Abdullah bin Abdul
Mutthalib wafat di Madinah ketika Muhammad berusia dua bulan.
Sedangkan ibunya meninggal dunia ketika ia berusia empat tahun. Sementara
kakeknya meninggal dunia ketika usia Muhammad delapan tahun. Dikatakan
pula bahwa ibunya wafat ketika ia berusia enam tahun.
Penyusuan Muhammad Rasulullah SAW
Muhammmad SAW disusui oleh Tsuwaibah budak Abu Lahab bersama
dengan penyusuan Hamzah bin Abdul Mutthalib dan Abu Salamah Abdullah bin
Abdul Asad al-Makhzumi dengan air susu anaknya yang bernama Masruh.
Kemudian Muhammad SAW disusui oleh Halimah binti Abi Dzuaib as-Sa’diyah.
Nama-nama Rasulullah SAW
Jubair bin Mut’im berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya adalah
Muhammad, saya adalah Ahmad, saya adalah al-Mahi yang dengan sebabku Allah
SWT menghapus kekufuran, saya adalah al-Hasyir yang mengumpulkan manusia,
saya adalah al-A’qib yang tidak ada nabi lagi setelahku’.” (Hadits sahih diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim)
Abu Musa Abdullah bin Qais berkata: “Rasulullah SAW memberikan
dirinya beberapa nama di antaranya ada yang kami hafal. Beliau mengatakan: ‘Saya
Muhammad, saya Ahmad, saya al-Muqaffi, saya Nabi taubat dan Nabi rahmat.’
Dalam riwayat lain: ‘dan Nabi peperangan’.” (Hadits sahih diriwayatkan oleh
Muslim)
Jabir bin abdillah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya Ahmad, saya
Muhammad, saya al-Hasyir (yang mengumpulkan), saya al-Mahi (yang dengan
sebabku Allah SWT menghapus kekefuran), dan pada hari kiamat nanti panji
kemuliaan berada di tanganku. Aku pemimpin para rasul dan pemilik syafaat mereka.”
Allah SWT memberikan nama kepadanya di dalam Al-Quran dengan
nama Basyir (pembawa kabar baik), Nadzir (pembawa berita buruk), Rauf (lemah
lembut), Rahim (penyayang), dan Rahmatan lilalamin (pembawa rahmat buat alam
semesta).
Masa kecilnya di Mekah, perjalanannya menuju Syam bersama
pamannya Abu Thalib dan pernikahannya dengan Khadijah. Muhammad
6
dalam keadaan yatim piatu diasuh oleh kakeknya Abdul Mutthalib kemudian
oleh pamannya Abu Thalib. Allah SWT mensucikannya dari kotoran-kotoran
jahiliyah dan dari semua aib. Allah SWT menganugerahkan semua sifat-sifat
yang baik sehingga Beliau dikenal di kalangan kaumnya dengan julukan Al
Amin (orang yang jujur) karena amanah, kejujuran dan kesuciannya.
Ketika usianya mencapai dua belas tahun ia mengadakan perjalanan ke
Syam bersama pamannya. Ketika sampai di Bushra seorang pendeta bernama
Bahira melihatnya. Ia mengenalnya dengan ciri-ciri yang ada pada
Muhammad SAW. Buhaira mendatangi Muhammad, mengambil tangannya
dan berkata: “Inilah tuan untuk semesta alam, inilah utusan Rabb semesta
alam, inilah nabi yang akan diutus untuk semesta alam.” Buhaira ditanya:
“Dari mana kamu tahu hal ini?” Ia berkata: “Sesungguhnya ketika kalian
datang dari Aqabah tidak ada pepohonan dan bebatuan kecuali semuanya
sujud. Dan ini tidak dilakukan kecuali kepada nabi. Dan kami mendapatkan
hal ini dari kitab suci kami.” Kemudian ia meminta Abu Thalib untuk kembali
bersamanya karena khawatir terhadap kejahatan orang-orang Yahudi
kepadanya.
Kemudian Muhammad mengadakan perjalanan ke Syam yang kedua
kali bersama Maysarah budak Khadijah ra untuk berniaga di pasar kota
Bushra sebelum Khadijah dinikahi oleh Muhammad. Ketika Muhammad
berusia dua puluh lima tahun ia menikahi Khadijah. Dan ketika usianya empat
puluh tahun Allah SWT memilihnya untuk membawa risalah-Nya. Jibril
mendatanginya ketika Muhammad berada di gua Hira yang terletak di sebuah
gunung di Makkah. Semnejak itu jadilah ia sebagai Rasullullah. Beliau
berdakwah di Mekah selama tiga belas tahun, menurut pendapat lain lima
belas tahun atau sepuluh tahun, pendapat yang benar adalah tiga belas tahun.
Rasulullah SAW shalat menghadap Baitul Maqdis selama di Makkah tanpa
membelakangi Ka’bah tetapi menjadikan Ka’bah di depannya. Setelah hijrah
ke Madinah, Rasulullah SAW shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama
tujuh belas atau enam belas bulan.
7
Hijrah Rasulullah SAW
Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq ra
dan budaknya Amir bin Fuhairah serta seorang penunjuk jalan Abdullah bin
al-Uraiqit al-Laitsi yang masih kafir. Selanjutnya Rasulullah SAW berdakwah
di Madinah selama sepuluh tahun.
Wafatnya
Rasulullah SAW wafat dalam usia enam puluh tiga tahun. Ada juga
pendapat yang mengatakan Beliau wafat dalam usia enam puluh lima atau
enam puluh, namun pendapat pertama adalah pendapat yang benar.
Rasulullah SAW wafat pada waktu dhuha hari Senin dua belas Rabiul Awal.
Pendapat lain mengatakan tanggal dua atau tanggal satu Rabiul Awal. Beliau
dimakamkan pada malam Rabu. Pendapat lain mengatakan malam Selasa.
Sebelum wafat, Rasullullah SAW menderita sakit selama dua belas atau empat
belas hari.
Rasulullah SAW dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib, pamannya Abbas,
al-Fadhl bin Abbas, Qutsam bin Abbas, Usamah bin Zaid dan Syuqran serta
dihadiri pula oleh Aus bin Khaula al-Anshari. Beliau dikafani dengan tiga
lapis kain putih yang dibuat di Sahul –sebuah negeri di Yaman — tanpa gamis
dan sorban. Kemudian kaum muslimin menshalatinya sendiri-sendiri tanpa
jamaah.
Jasad Rasulullah SAW diletakkan di atas sehelai kain merah yang
dipakainya untuk selimut lalu dimasukkan ke dalam kubur oleh Abbas, Ali,
al-Fadhl, Qutsam dan Syuqran kemudian ditutup dengan sembilan batu.
Rasulullah SAW dimakamkan di tempat Beliau wafat yaitu sekitar tempat
tidurnya di kamar Aisyah ra dan di tempat itu pula dimakamkan Abu Bakar
ra dan Umar ra.
Putra-putri Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memilik tiga orang putra yaitu:
1. Al-Qasim, dilahirkan di Makkah sebelum Muhammad diangkat menjadi
Nabi. Al-Qasim meninggal di Mekah pada usia dua tahun. Namun
menurut Qatadah, Al-Qasim meninggal ketika ia sudah bisa berjalan.
8
2. Abdullah, dinamakan juga dengan at-Thayyib (yang baik) dan at-Thahir
(yang suci) karena ia dilahirkan sesudah Islam. Ada pendapat yang
mengatakan bahwa at-Thayyib dan at-Thahir ini adalah putra Rasulullah
SAW yang lain, namun pendapat pertama adalah yang benar.
3. Ibrahim, dilahirkan dan wafat di Madinah tahun sepuluh hijriah pada usia
tujuh belas atau delapan belas bulan. Ada pendapat yang mengatakan
Rasulullah SAW memiliki putra lain yang bernama Abdul Uzza tapi
pendapat ini sangat lemah karena Allah SWT telah mensucikan dan
melindungi Nabi SAW dari hal demikian (penamaan anak Abdul Uzza
yang berarti hamba Uzza nama salah satu berhala Quraisy-pentj.)
Putri-putri Rasulullah SAW
1. Zainab, menikah dengan Abu Al-Ash bin Rabi’ bin Abdul Uzza bin Abdul
Syams sepupu Zainab, karena ibunya adalah Hala binti Khuwailid
(saudara dari Khadijah binti Khuwailid). Zainab mempunyai anak
bernama Ali yang meninggal waktu kecil dan Umamah yang digendong
oleh Nabi saw waktu shalat dan setelah dewasa menikah dengan Ali bin
Abi Thalib setelah Fatimah wafat.
2. Fatimah, menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan tersebut
Fatimah melahirkan Hasan, Husain, Muhassin yang meninggal waktu
kecil, Ummu Kultsum yang menikah dengan Umar bin Khattab, dan
Zainab yang menikah dengan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.
3. Ruqayyah, menikah dengan Ustman bin Affan. Meninggal di pangkuan
Ustman. Ustman lalu menikahi Ummu Kultsum (adik Ruqayyah) yang
juga meninggal di pangkuannya. Ruqayyah memiliki seorang putra yang
bernama Abdullah sehingga Ustman dipanggil dengan kunyah Abu
Abdullah.
Putri-putri Rasulullah SAW empat orang tanpa ada perbedaan
pendapat ulama mengenai hal ini sedangkan putra-putranya tiga orang
berdasarkan pendapat yang benar. Urutan putra-putri Rasulullah SAW adalah
sebagai berikut: Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Fatimah, Ummu Kultsum, Abdullah,
dan Ibrahim yang lahir di Madinah. Semuanya adalah putra-putri dari
Khadijah kecuali Ibrahim yang lahir dari Maria Al-Qibtiyah dan semuanya
9
meninggal sebelum Muhammad menjadi rasul kecuali Fatimah yang
meninggal enam bulan setelah kematian Rasulullah SAW.
Haji dan Umrah Rasulullah SAW
Hammam bin Yahya meriwayatkan dari Qatadah ia berkata: Saya
bertanya kepada Anas: “Berapa kali Nabi SAW melaksanakan haji?” Anas
menjawab: “Satu kali dan umrah empat kali. Pertama ketika dihalangi kaum
musyrikin, kedua tahun berikutnya ketika mengadakan perjanjian
(Hudaibiah), ketiga umrahnya dari Ji’ranah setelah membagikan harta
rampasan perang Hunain dan yang keempat umrahnya bersama haji.” (Hadits
Muttafaq alaih). Kesemuanya ini setelah hijrah ke Madinah. Adapun haji dan
umrah yang dilakukan Nabi SAW ketika di Makkah tidak diketahui. Dan haji
yang dilakukannya adalah haji wada (perpisahan), yaitu ketika Nabi SAW
menyatakan salam perpisahan kepada umatnya dan berkata: “Mungkin kalian
tidak akan melihatku lagi setelah tahun ini.”
Peperangan Rasulullah SAW
Menurut pendapat masyhur yang dikatakan Muhammad bin Ishak,
Abu Ma’syar, Musa bin Uqbah dan yang lainnya Rasulullah SAW mengikuti
langsung dua puluh lima peperangan. Dan ada yang mengatakan dua puluh
tujuh peperangan. Sedangkan jumlah pengiriman pasukan dan peperangan
yang tidak diikuti Nabi SAW sekitar lima puluhan. Di antara dua puluh lima
peperangan tersebut yang terjadi pertempuran sebanyak sembilan kali yaitu di
Badar, Uhud, Khandak, Bani Quraizhah, Mushthaliq, Khaibar, Fathu Makkah,
Hunain dan Thaif. Ada yang mengatkan terjadi pertempuran juga di Wadil
Qura, al-Ghaba dan Bani Nadhir
10
2. Suku Quraisy dan Hijrah Rasulullah SAW.
Suku Quraisy (Bahasa Arab: قريش )األمةadalah suku bangsa Arab
keturunan Ibrahim. Mereka tinggal dan hidup di Mekkah dan daerah
sekitarnya. Quraisy yang hidup di Mekkah disebut Quraisy Lembah, sementara
yang lain tinggal lebih jauh mengelilingi Mekkah dikenal dengan Quraisy
Pinggiran.
Hijrah Rasulullah punya arti tersendiri yang harus kita teladani. Beliau
melakukan hijrah tidak asal-asalan. Tidak hanya pasrah meminta kepada
Allah dan melupakan usaha. Tidak. Sebelum hijrah beliau telah merencanakan
segala sesuatunya dengan sangat matang. Inilah yang harus kita teladani.
Sebagai seorang muslim, kita harus bekerja secara totalitas dan profesional,
barulah setelah itu bertawakkal kepada Allah. Marilah kita perhatikan
bagaimana langkah-langkah matang yang direncanakan oleh Rasulullah saw
dalam melaksanakan perjalanannya ke Madinah.
Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara
Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan
Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga
Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW.
Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili
oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar
oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu
Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam
perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk
menggantikan Nabi SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy
mengira bahwa Nabi SAW masih tidur.
Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW
keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan
kaum Quraisy. Nabi SAW menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu.
Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil
sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3
malam menunggu keadaan aman.
11
Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun karena
mengira Nabi SAW sudah sampai di Yatsrib, keluarlah Nabi SAW dan Abu
Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang
diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor unta yang
memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi SAW bersama
Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang
tidak pernah ditempuh orang.
Setelah 7 hari perjalanan, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba di Quba,
sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat
selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di
halaman rumah ini Nabi SAW membangun sebuah masjid yang kemudian
terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi
SAW sebagai pusat peribadatan.
Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi SAW.
Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya.
Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh
orang, seharusnya Nabi SAW sudah tiba di Yatsrib. Oleh sebab itu mereka
pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan
dan menyongsong kedatangan Nabi SAW dan rombongan. “Akhirnya waktu
yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka mengelu-
elukan kedatangan Nabi SAW. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan
menyanyikan lagu Thala' al-Badru, yang isinya:
Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ'i (celah-celah bukit).
Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai
orang yang diutus kepada kami, engkau telah membawa sesuatu yang harus
kami taati. Setiap orang ingin agar Nabi SAW singgah dan menginap di
rumahnya. Tetapi Nabi SAW hanya berkata, "Aku akan menginap dimana
untaku berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya."
Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal
dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian
Nabi SAW memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara.
Tujuh bulan lamanya Nabi SAW tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara
kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah untuknya.
12
Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota
nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang
bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.
3. Pembentukn Masyarakat, Pemrintahan dan Negara Madinah
Setelah Nabi SAW tiba di Madinah dan diterima penduduk Madinah,
Nabi SAW menjadi pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan dasar-
dasar kehidupan yang kokoh bagi pembentukan suatu masyarakat baru.
Dasar pertama
Yang ditegakkannya adalah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di
dalam Islam), yaitu antara kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari
Mekah ke Madinah) dan Anshar (penduduk Madinah yang masuk Islam dan
ikut membantu kaum Muhajirin).
Nabi SAW mempersaudarakan individu-individu dari golongan
Muhajirin dengan individu-individu dari golongan Anshar. Misalnya, Nabi
SAW mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, Ja'far bin Abi
Thalib dengan Mu'az bin Jabal. Dengan demikian diharapkan masing-masing
orang akan terikat dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan
persaudaraan yang semacam ini pula, Rasulullah telah menciptakan suatu
persaudaraan baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan
persaudaraan berdasarkan keturunan.
Dasar kedua
Adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa persaudaraan tsb,
yaitu tempat pertemuan. Sarana yang dimaksud adalah masjid, tempat untuk
melakukan ibadah kepada Allah SWT secara berjamaah, yang juga dapat
digunakan sebagai pusat kegiatan untuk berbagai hal, seperti belajar-
mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul dalam masyarakat,
musyawarah, dan transaksi dagang.
Nabi SAW merencanakan pembangunan masjid itu dan langsung ikut
membangun bersama-sama kaum muslimin. Masjid yang dibangun ini
kemudian dikenal sebagai Masjid Nabawi. Ukurannya cukup besar, dibangun
13
di atas sebidang tanah dekat rumah Abu Ayyub al-Anshari. Dindingnya
terbuat dari tanah liat, sedangkan atapnya dari daun-daun dan pelepah
kurma. Di dekat masjid itu dibangun pula tempat tinggal Nabi SAW dan
keluarganya.
Dasar ketiga
Adalah hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak
beragama Islam. Di Madinah, disamping orang-orang Arab Islam juga masih
terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih
menganut agama nenek moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat
diwujudkan, Nabi Muhammad SAW mengadakan ikatan perjanjian dengan
mereka.
Perjanjian tersebut diwujudkan melalui sebuah piagam yang disebut
dengan Mîsâq Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara lain
mengenai kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam
menjaga keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan
derajat, dan disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi kepala pemerintahan
di Madinah.
Masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah
setelah hijrah itu sudah dapat dikatakan sebagai sebuah negara, dengan Nabi
Muhammad SAW sebagai kepala negaranya. Dengan terbentuknya Negara
Madinah, Islam makin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu
membuat orang-orang Mekah menjadi resah. Mereka takut kalau-kalau umat
Islam memukul mereka dan membalas kekejaman yang pernah mereka
lakukan. Mereka juga khawatir kafilah dagang mereka ke Suriah akan
diganggu atau dikuasai oleh kaum muslimin.
Untuk memperkokoh dan mempertahankan keberadaan negara yang
baru didirikan itu, Nabi SAW mengadakan beberapa ekspedisi ke luar kota,
baik langsung di bawah pimpinannya maupun tidak. Hamzah bin Abdul
Muttalib membawa 30 orang berpatroli ke pesisir L. Merah. Ubaidah bin Haris
membawa 60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa'ad bin Abi Waqqas ke Hedzjaz
dengan 8 orang Muhajirin. Nabi SAW sendiri membawa pasukan ke Abwa
dan disana berhasil mengikat perjanjian dengan Bani Damra, kemudian ke
Buwat dengan membawa 200 orang Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah.
14
Di sini Nabi SAW mengadakan perjanjian dengan Bani Mudij. EkspedEsi-
ekspedisi tersebut sengaja digerakkan Nabi SAW sebagai aksi-aksi siaga dan
melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk
melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian
perdamaian dengan kabilah dimaksudkan sebagai usaha memperkuat
kedudukan Madinah.
Perang Badar
Perang Badar yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah
dan kaun musyrikin Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini
merupakan puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak
kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar
setelah berbagai upaya perdamaian yang dilaksanakan Nabi Muhammad
SAW gagal.
Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan
senjata sederhana yang terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Berkat
kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan semangat pasukan yang
membaja, kaum muslimin keluar sebagai pemenang. Abu Jahal, panglima
perang pihak pasukan Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad SAW
sejak awal, tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas dari pihak Quraisy,
dan 70 orang lainnya menjadi tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14
yang gugur sebagai syuhada. Kemenangan itu sungguh merupakan
pertolongan Allah SWT (QS. 3: 123).
Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum
muslimin. Mereka memang tidak pernah sepenuh hati menerima perjanjian
yang dibuat antara mereka dan Nabi Muhammad SAW dalam Piagam
Madinah.
Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi
Muhammad SAW memutuskan untuk membebaskan para tawanan dengan
tebusan sesuai kemampuan masing-masing. Tawanan yang pandai membaca
dan menulis dibebaskan bila bersedia mengajari orang-orang Islam yang
masih buta aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki kekayaan dan
kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga.
15
Tidak lama setelah perang Badar, Nabi Muhammad SAW
mengadakan perjanjian dengan suku Badui yang kuat. Mereka ingin
menjalin hubungan dengan Nabi SAW karenan melihat kekuatan Nabi
SAW. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja kekuatan semata.
Sesudah perang Badr, Nabi SAW juga menyerang Bani Qainuqa, suku
Yahudi Madinah yang berkomplot dengan orang-orang Mekah. Nabi SAW
lalu mengusir kaum Yahudi itu ke Suriah.
Perang Uhud
Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H.
Perang ini disebabkan karena keinginan balas dendam orang-orang
Quraisy Mekah yang kalah dalam perang Badr. Pasukan Quraisy, dengan
dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah, membawa 3.000 ekor unta dan
200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Tujuh ratus
orang di antara mereka memakai baju besi.
Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad SAW hanya berjumlah
700 orang. Perang pun berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul
mundur pasukan musuh yang jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy mulai
mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka.
Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan
pemanah yang ditempatkan oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan
pos mereka dan turun untuk mengambil harta peninggalan musuh. Mereka
lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam
keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Mereka tidak lagi
menghiraukan gerakan musuh. Situasi ini dimanfaatkan musuh untuk
segera melancarkan serangan balik. Tanpa konsentrasi penuh, pasukan
Islam tak mampu menangkis serangan. Mereka terjepit, dan satu per satu
pahlawan Islam berguguran. Nabi SAW sendiri terkena serangan musuh.
Sisa-sisa pasukan Islam diselamatkan oleh berita tidak benar yang diterima
musuh bahwa Nabi SAW sudah meninggal. Berita ini membuat mereka
mengendurkan serangan untuk kemudian mengakhiri pertempuran itu.
Perang Uhuh ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai
syuhada.
16
Perang Khandaq
Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara
kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang
mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena
itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku).
Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-
Farisi, sahabat Rasulullah SAW, mengusulkan agar kaum muslimin
membuat parit pertahanan di bagian-bagian kota yang terbuka. Karena
itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit.
Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah
dengan mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya.
Pengepungan ini cukup membuat masyarakat Madinah menderita karena
hubungan mereka dengan dunia luar menjadi terputus. Suasana kritis itu
diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi Madinah, yaitu
Bani Quraizah, dibawah pimpinan Ka'ab bin Asad.
Namun akhirnya pertolongan Allah SWT menyelamatkan kaum
muslimin. Setelah sebulan mengadakan pengepungan, persediaan
makanan pihak sekutu berkurang. Sementara itu pada malam hari angin
dan badai turun dengan amat kencang, menghantam dan menerbangkan
kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka
terpaksa menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-
masing tanpa suatu hasil.
Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman
mati. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzâb: 25-26.
Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum
muslimin untuk mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi SAW
memimpin langsung sekitar 1.400 orang kaum muslimin berangkat umrah
pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dilarang adanya perang. Untuk itu
mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya
untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.
17
Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang
terletak beberapa kilometer dari Mekah. Orang-orang kafir Quraisy
melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan menempatkan
sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga. Akhirnya diadakanlah Perjanjian
Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara lain:
1. Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 10
tahun.
2. Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia
harus dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad SAW yang
menyeberang ke pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus
mengembalikannya ke pihak Muhammad SAW.
3. Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak
Muhammad SAW maupun dengan pihak Quraisy.
4. Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah pada tahun tsb,
tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya.
5. Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang
Quraisy harus keluar lebih dulu.
6. Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan
membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh
tinggal di Mekah lebih dari 3 hari 3 malam.
Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tsb sebenarnya adalah
berusaha merebut dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana
menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain. Ada 2 faktor utama yang
mendorong kebijaksanaan ini :
Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui
konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam dapat tersebar
ke luar.
Apabila suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam akan memperoleh
dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy mempunyai
kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa Arab.
18
Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak
orang Quraisy yang masuk Islam setelah menyaksikan ibadah haji yang
dilakukan kaum muslimin, disamping juga melihat kemajuan yang dicapai
oleh masyarakat Islam Madinah.
19
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Strategi dakwah Rasulullah S.A.W di Madinah lebih agresif dan
besar. Madinah, sebagai Negara Islam pertama menjadi nadi pergerak
dakwah Islam ke seluruh dunia. Tapak yang disediakan oleh Rasulullah
s.a.w begitu kukuh sehingga menjadi tauladan kepada pemerintahan Islam
sehingga kini. Strategi yang bersumberkan kepada dua perundangan
utama iaitu al-Quran dan Hadis menjadi intipati kekuatan perancangan
Islam dalam menegakkan kalimah Tauhid.
Sukses hijrah Nabi Muhammad SAW ditandai, antara lain,
keberhasilannya mencerdaskan masyarakat Muslim yang bodoh menjadi
umat yang cerdas, menyejahterakan sosial ekonomi umat dan masyarakat
dengan asas keadilan dan pemerataan, serta penegakan nilai etik-moral dan
norma hukum yang tegas. Pendeknya, Nabi Muhammad SAW berhasil
membangun kesalehan ritual yang paralel dengan kesejahteraan material,
ketaatan individual yang seiring dengan kepatuhan sosial, dan
terwujudnya kesejahteraan duniawiah-temporal yang seimbang dengan
keberkahan ukhrawiah yang kekal.
Sebuah fakta sejarah kemudian membuktikan bahwa proses
penyebaran Islam dengan dakwah jauh lebih cepat dan berkembang pada
periode Madinah ini dibandingkan periode Mekkah. Selain itu juga di
Madinah, Rasulullah dan Umat Islam berhasil membangun tata peradaban
baru, tata pemerintahan, tata ekonomi dan sosial yang demikian pesat
perkembangannya
Nilai-nilai yang terkandung dalam proses Hijrah :
Pengorbanan
Nilai ini ditunjukan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu ketika beliau tanpa
ragu menyanggupi untuk menggantikan Nabi untuk tetap berada didalam
rumah, bahkan beliau kemudian tidur dan mengenakan sorban Nabi.
Sungguh sebuah pengorbanan yang sangat heroik dimana Ali yang ketika
itu masih seorang pemuda, rela untuk menjadi tameng bagi kelangsungan
hidup Rasulnya, yang berarti pula kelangsungan dakwah Islam. Nilai ini
20
juga ditunjukan oleh Abu Bakar as Shidiq, yakni ketika beliau berkata “
Biar saya yang masuk kedalam gua (Tsur) dulu, kalau ada binatang buas
atau binatang berbisa didalam sana, saya rela mati, biar anda meneruskan
perjuangan dan dakwah anda”.
Lagi sebuah epik kepahlawanan dan pengorbanan yang luar biasa.
Kemudian dalam sebuah cerita kemudian benar Abu Bakar digigit ular
berbisa, namun ataskehendak Allah, beliau selamat dalam peristiwa itu.
Keyakinan dan Tawakal
ketika berada dalam gua tsur yang gelap dan dalam keadaan yang
sedemikian rupa, kemudian terucap kata-kata yang hanya akan keluar dari
lisan orang yang memiliki keyakinan dan sikap tawakal yang demikian
sempurna “ La Tahzan, innallah ma ana – jangan bersedih, sesungguhnya
Allah bersama kita”
Kebersamaan
Peristiwa Hijrah ini melibatkan Nabi Muhammad yang mewakili
Pemimpin, Ali bin Abi Thalib yang mewakili generasi muda, Abu Bakr,
yang mewakili golongan tua, bahkan konon ada seorang perempuan yang
bertugas menyupalai makanan kepada Nabi dan Abu Bakar selama
mereka berada dalam gua – yang menurut seorang ulama, ini
menggambarkan sebuah kesatuan, antara pemimpin, pemuda, orang tua
dan perempuan, sebagai salah satu syarat “keberhasilan”, seperti
kemudian digambarkan bagaimana proses Hijrah ini adalah menjadi
tonggak sejarah dan momentum perkembangan Islam.
Kondisi yang Kondusif
Sebagaimana diketahui, ketika sampai ditempat yang baru, Nabi
mengganti nama Yatsrib – Mengecam, menjadi Madinah – Kota Peradaban.
Ini mencerminkan bahwa sebuah proses keberhasilan tidak akan dicapai
ketika orang-orang yang berada didalamnya saling mengecam satu sama
lain, kritik yang tidak konstruktif, asal ganti dan lebih mementingkan
kepentingan golongan dan pribadinya semata. Penggantian nama menjadi
Madinah menyimbolkan bahwa keberhasilan hanya akan dicapai dalam
21
tata kehidupan yang beradab, ada sopan santun dan etika ketika hendak
menyampaikan pendapat, kritik dan masukan, ada tata aturan yang mesti
dipenuhi oleh orang-orang beradab, yang kemudian dibuktikan dalam
sejarah masa kini, bahwa dimanapun, tidak akan pernah bisa mencapai
keberhasilan, ketika individu-individu yang terlibat dalam proses itu
saling mengecam bahkan tak jarang menyebarkan fitnah-fitnah keji.
Sebaliknya, sebuah kondisi yang “beradab”, yang berdasarkan tata aturan
dan norma kesusilaan-lah yang mengantar sebuah bangsa, sebuah
kelompok atau apapun untuk mencapai keberhasilannya.
22
DAFTAR PUSTAKA
http://www.google.co.id/search?hl=id&source=hp&biw=1024&bih=578&q=SUK
U+QURAISY&btnG=Penelusuran+Google#sclient=psyab&hl=id&source=h
p&q=rasulullah+saw+sebagai+uswatun+khasanah&pbx=1&oq=rasulullah
+saw+sebagai+uswatun+khasanah&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=e&gs_upl=4
0181l47398l2l47669l16l16l0l0l0l0l1325l4534l0.9.4.61.1l15l0&bav=on.2,or.r_gc.
r_pw.&fp=62ee02fbd1e4f55d&biw=1024&bih=578
http://pengkajianpelitahati.wordpress.com/2010/03/01/nabi-muhammad-saw
sebagai- uswatun-hasanah-bagi-orang-yang-ingin-menemui-allah/
http://www.hadielislam.com/indo/sejarah-singkat-rasulullah/periode mekkah/
1174-suku-quraisy-mendengar-berita-tentang-dakwah rasulullah.html
http://kacepigebe.wordpress.com/2011/06/07/negara-madinah/
23
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah yang
berjudul “Kehidupan Rasulullah SAW Sebagai Uswatun Hasanah” ini tepat pada
waktunya.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya atas segala bantuan semua pihak sehingga makalah ini dapat
terselesaikan.
Kami menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan didalam penulisan makalah ini, baik dari isi maupun penulisannya.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun senantiasa
kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Hormat Kami
Tim Penyusun Makalah
Kelompok
i
24
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................................ i
DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................ 4
1. Riwayat Rasulullah SAW .................................................................... 4
2. Suku Quraisy dan Hijrah Rasulullah SAW. ..................................... 10
3. Pembentukan Masyarakat, Pemerintahan dan Negara Madinah ... 12
BAB III PENUTUP ..................................................................................................... 19
1. Kesimpulan .............................................................................................. 19
ii