Embed
Email

IDA

Document Sample
IDA
Shared by: mr doen
Categories
Tags
Stats
views:
29
posted:
2/10/2012
language:
pages:
24
1







BAB I

PENDAHULUAN





Pada tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi

yang lalu telah lahir seorang manusia yang menjadi Rahmatan Lil Alamin dan

menyandang derajat keterpujian yang tidak terukur ketinggian dan

kesempurnaannya serta kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban

dunia. Manusia tersebut adalah Ahmad yang kemudian menyandang nilai-nilai

Ke-Muhammad-an yang sangat tinggi sehingga beliau berhak menyandang gelar

Muhammad yaitu yang sangat terpuji dan selalu dipuja dan dipuji, yang menjadi

Rahmatan Lil Alamin dan Uswatun Hasanah bagi seluruh makhluk yang ada di

alam semesta Raya ini.

Uswatun Hasanah artinya teladan yang baik. Panutan dan teladan umat

Islam adalah Nabi Muhammad SAW. seorang laki-laki pilihan Allah SWT yang

diutus untuk menyampaikan ajaran yang benar yaitu Agama Islam. Oleh sebab

itu, kita sebagai muslim harus meniru dan mencontoh kepribadian beliau.

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab ayat 21 yang

Artinya”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan yang

baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan hari kiamat dan

dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab:21).

Di dalam Al Qur’an telah diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah

contoh yang paling baik bagi umat manusia yang menghendaki perjumpaan

dengan Allah ketika kita masih hidup di atas dunia. Hal ini sesuai dengan firman

Allah ;

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik

bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan Hari

Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyak” (QS Al Ahzab 33 : 21).

Sebagian ahli tafsir, banyak yang menterjemahkan ayat tersebut dengan

iftiro atau menambah-nambahkan ayat tersebut dengan kata “mengharapkan

rahmat Allah”, padahal bunyi sebenarnya adalah “Laqod kaana lakum fii

Rasulillahi uswatu hasanatun liman kaana yaarjullohu walyaumil

akhirawadzakarooloha kasyiron”.

Dalam ayat tersebut terdapat kata “yarjulloha” yang berarti mengharap

Allah. Jadi bukan mengharapkan rahmat Allah atau mengharapkan ridha Allah,

2







atau mengharapkan pahala Allah, atau mengharapkan rezeki Allah, tetapi yang

benar adalah mengharapkan Allah semata. Bahkan kalau boleh dipertegas lagi

ayat tersebut bermakna : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri

tauladan yang paling baik bai kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan

menemui Allah dan hari akhir dan banyak mengingat Allah”. Berdasarkan ayat

tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah adalah contoh yang paling baik

bagi umat manusia yang ingin mengharapkan bertemu dengan Allah di dunia ini,

dan juga bertemu dengan hari akhir, agar kita dapat mengingat Allah sebanyak-

banyaknya. Sebab mustahil kita dapat mengingat Allah apabila kita belum pernah

bertemu dan melihat Allah.

Muhammad secara batiniah adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang

telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi yang sangat disayangkan

adalah bahwa tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir

tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga

tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Muhammad

atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela. Hal ini

diakibatkan karena mereka belum dapat meneyerap Muhammad dalam arti nilai-

nilai keterpujian, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal

setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada

Tuhan kecuali Allah dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah

Utusan Allah”. Kalimat Syahadat tersebut mempunyai makna yang sangat dalam

sekali, yaitu saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia

bersaksi. Secara hakikat, makna simbolis dari “wa asyhadu an la Muhammad

Rasulullah” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh

anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai

dengan firman Allah dalam Al Qur’an dan juga sabda Nabi Muhammad SAW :

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rasulullah …”

(QS Al Hujurot 49 : 7). Katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai Allah,

ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” QS Ali

Imran 3 : 31).

“Muhammad itu sekali-kalilah bukanlah bapak dari seorang laki-laki di

antara kamu tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup Nabi-Nabi. Dan

sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segalanya” (QS Al Ahzab 33 : 40).

3







“Orang-orang yang telah kami beri Al Kitab, mengenal Muhammad seperti

mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara

mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya” (QS Al

Baqarah 2 : 146).

“Ana ahmad bi la mim, wa ana ‘arabbi bi la ‘ain, wa man roaini, innaroaitul

haq” Aku ahmad tanpa huruf mim dan aku adalah ‘arabbi tanpa huruf ‘ain,

barang siapa melihat aku, sesungguhnya telah melihat Sang Maha Benar”

(Hadits).

“Yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT adalah Cahaya-ku, wahai

Jabir (HR Ibnu jabir). “Siapa saja yang mengatakan Muhammad Rasulullah telah

mati, akan saya bunuh !” (Umar bin Khatab)

“Siapa yang menyembah Muhammad bin Abdullah, beliau telah mati.

Siapa yang menyembah Wajah Allah, Dia-lah Yang Maha Abadi” (Abu Bakr Ash

Shidiq). “Dan janganlah kamu anggap mati orang-orang mati di Jalan Allah,

bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan diberi Rezeki” (QS 3 : 169)

“Aku adalah Ahmad tanpa huruf mim. Aku adalah ‘Arabbi tanpa huruf

‘ain. Barang siapa melihat aku, sesungguhnya ia telah melihat Al Haqq” (Hadits).

“Sebuah makam dan kubah dan menara kecil tidaklah menyenangkan bagi para

pengikut Yang Maha Besar. “Makammu bukanlah diperindah oleh batu, kayu dan

plesteran.

Bukan, bukan itu, melainkan dengan menggali makam untuk dirimu

sendiri dalam kesucian ruhani dan menguburkan egoisme dirimu dalam Egoisme-

Nya. Dan menjadi debu-Nya dan terkubur dalam Cinta-Nya, sehingga Nafas-Nya

dapat memenuhi dan menghidupimu”

4







BAB II

PEMBAHASAN

1. Riwayat Rasulullah SAW

Nasab Rasulullah SAW

Beliau adalah Abu al-Qasim Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib

bin Hasyim bin Abdimanaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin

Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaima bin Mudrikah bin

Ilyas bin bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin

Nahur bin Tayrah bin Ya’rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim “Kekasih

Allah” (alaihima as-salam) bin Tarih atau Azar bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin

Falikh bin Aybir bin Syalikh bin bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh (alaihis salam) bin

Lamk bin Mutusyalkh bin Akhnukh –yaitu Nabi Idris keturunan Nabi Adam yang

pertama menjadi nabi dan yang menulis dengan pena– bin Yarda bin Mahlil bin

Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam alaihissalam.

Nasab ini disebutkan oleh Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani

di salah satu riwayatnya. Nasab Rasulullah sampai Adnan disepakati oleh

para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat. Yang

dimaksud Quraisy adalah putra Fihr bin Malik atau an-Nadhr bin Kinanah.





Ibu Rasulullah saw.

Ibunya adalah Aminah binti Wahb bin Abdimanaf bin Zuhrah bin Kilab bin

Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib.





Kelahiran Rasulullah saw.

Beliau dilahirkan di Mekah pada tahun Gajah bulan Rabiul Awal,

tanggal dua, hari Senin. Sebagian ulama mengatakan bahwa beliau dilahirkan

setelah tiga puluh tahun dari tahun gajah. Sebagian lagi mengatakan setelah

empat puluh tahun dari tahun gajah. Pendapat yang benar adalah pada tahun

gajah.





Kematian Ayah, Ibu, dan Kakeknya

Ayahnya meninggal dunia ketika ia berusia dua puluh delapan bulan.

Menurut sebagian ulama usianya tujuh bulan ketika ayahnya meninggal. Ada

lagi yang berpendapat bahwa ayahnya meninggal di perkampungan an-

5







Nabighah ketika ia masih janin. Dan dikatakan pula bahwa ayahnya wafat di

daerah Abwa yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Abu Abdillah Zubair bin Bakkar az-Zubairi berkata: Abdullah bin Abdul

Mutthalib wafat di Madinah ketika Muhammad berusia dua bulan.

Sedangkan ibunya meninggal dunia ketika ia berusia empat tahun. Sementara

kakeknya meninggal dunia ketika usia Muhammad delapan tahun. Dikatakan

pula bahwa ibunya wafat ketika ia berusia enam tahun.





Penyusuan Muhammad Rasulullah SAW

Muhammmad SAW disusui oleh Tsuwaibah budak Abu Lahab bersama

dengan penyusuan Hamzah bin Abdul Mutthalib dan Abu Salamah Abdullah bin

Abdul Asad al-Makhzumi dengan air susu anaknya yang bernama Masruh.

Kemudian Muhammad SAW disusui oleh Halimah binti Abi Dzuaib as-Sa’diyah.





Nama-nama Rasulullah SAW

Jubair bin Mut’im berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya adalah

Muhammad, saya adalah Ahmad, saya adalah al-Mahi yang dengan sebabku Allah

SWT menghapus kekufuran, saya adalah al-Hasyir yang mengumpulkan manusia,

saya adalah al-A’qib yang tidak ada nabi lagi setelahku’.” (Hadits sahih diriwayatkan

oleh Bukhari dan Muslim)

Abu Musa Abdullah bin Qais berkata: “Rasulullah SAW memberikan

dirinya beberapa nama di antaranya ada yang kami hafal. Beliau mengatakan: ‘Saya

Muhammad, saya Ahmad, saya al-Muqaffi, saya Nabi taubat dan Nabi rahmat.’

Dalam riwayat lain: ‘dan Nabi peperangan’.” (Hadits sahih diriwayatkan oleh

Muslim)

Jabir bin abdillah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya Ahmad, saya

Muhammad, saya al-Hasyir (yang mengumpulkan), saya al-Mahi (yang dengan

sebabku Allah SWT menghapus kekefuran), dan pada hari kiamat nanti panji

kemuliaan berada di tanganku. Aku pemimpin para rasul dan pemilik syafaat mereka.”

Allah SWT memberikan nama kepadanya di dalam Al-Quran dengan

nama Basyir (pembawa kabar baik), Nadzir (pembawa berita buruk), Rauf (lemah

lembut), Rahim (penyayang), dan Rahmatan lilalamin (pembawa rahmat buat alam

semesta).

Masa kecilnya di Mekah, perjalanannya menuju Syam bersama

pamannya Abu Thalib dan pernikahannya dengan Khadijah. Muhammad

6







dalam keadaan yatim piatu diasuh oleh kakeknya Abdul Mutthalib kemudian

oleh pamannya Abu Thalib. Allah SWT mensucikannya dari kotoran-kotoran

jahiliyah dan dari semua aib. Allah SWT menganugerahkan semua sifat-sifat

yang baik sehingga Beliau dikenal di kalangan kaumnya dengan julukan Al

Amin (orang yang jujur) karena amanah, kejujuran dan kesuciannya.

Ketika usianya mencapai dua belas tahun ia mengadakan perjalanan ke

Syam bersama pamannya. Ketika sampai di Bushra seorang pendeta bernama

Bahira melihatnya. Ia mengenalnya dengan ciri-ciri yang ada pada

Muhammad SAW. Buhaira mendatangi Muhammad, mengambil tangannya

dan berkata: “Inilah tuan untuk semesta alam, inilah utusan Rabb semesta

alam, inilah nabi yang akan diutus untuk semesta alam.” Buhaira ditanya:

“Dari mana kamu tahu hal ini?” Ia berkata: “Sesungguhnya ketika kalian

datang dari Aqabah tidak ada pepohonan dan bebatuan kecuali semuanya

sujud. Dan ini tidak dilakukan kecuali kepada nabi. Dan kami mendapatkan

hal ini dari kitab suci kami.” Kemudian ia meminta Abu Thalib untuk kembali

bersamanya karena khawatir terhadap kejahatan orang-orang Yahudi

kepadanya.

Kemudian Muhammad mengadakan perjalanan ke Syam yang kedua

kali bersama Maysarah budak Khadijah ra untuk berniaga di pasar kota

Bushra sebelum Khadijah dinikahi oleh Muhammad. Ketika Muhammad

berusia dua puluh lima tahun ia menikahi Khadijah. Dan ketika usianya empat

puluh tahun Allah SWT memilihnya untuk membawa risalah-Nya. Jibril

mendatanginya ketika Muhammad berada di gua Hira yang terletak di sebuah

gunung di Makkah. Semnejak itu jadilah ia sebagai Rasullullah. Beliau

berdakwah di Mekah selama tiga belas tahun, menurut pendapat lain lima

belas tahun atau sepuluh tahun, pendapat yang benar adalah tiga belas tahun.

Rasulullah SAW shalat menghadap Baitul Maqdis selama di Makkah tanpa

membelakangi Ka’bah tetapi menjadikan Ka’bah di depannya. Setelah hijrah

ke Madinah, Rasulullah SAW shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama

tujuh belas atau enam belas bulan.

7







Hijrah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq ra

dan budaknya Amir bin Fuhairah serta seorang penunjuk jalan Abdullah bin

al-Uraiqit al-Laitsi yang masih kafir. Selanjutnya Rasulullah SAW berdakwah

di Madinah selama sepuluh tahun.





Wafatnya

Rasulullah SAW wafat dalam usia enam puluh tiga tahun. Ada juga

pendapat yang mengatakan Beliau wafat dalam usia enam puluh lima atau

enam puluh, namun pendapat pertama adalah pendapat yang benar.

Rasulullah SAW wafat pada waktu dhuha hari Senin dua belas Rabiul Awal.

Pendapat lain mengatakan tanggal dua atau tanggal satu Rabiul Awal. Beliau

dimakamkan pada malam Rabu. Pendapat lain mengatakan malam Selasa.

Sebelum wafat, Rasullullah SAW menderita sakit selama dua belas atau empat

belas hari.

Rasulullah SAW dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib, pamannya Abbas,

al-Fadhl bin Abbas, Qutsam bin Abbas, Usamah bin Zaid dan Syuqran serta

dihadiri pula oleh Aus bin Khaula al-Anshari. Beliau dikafani dengan tiga

lapis kain putih yang dibuat di Sahul –sebuah negeri di Yaman — tanpa gamis

dan sorban. Kemudian kaum muslimin menshalatinya sendiri-sendiri tanpa

jamaah.

Jasad Rasulullah SAW diletakkan di atas sehelai kain merah yang

dipakainya untuk selimut lalu dimasukkan ke dalam kubur oleh Abbas, Ali,

al-Fadhl, Qutsam dan Syuqran kemudian ditutup dengan sembilan batu.

Rasulullah SAW dimakamkan di tempat Beliau wafat yaitu sekitar tempat

tidurnya di kamar Aisyah ra dan di tempat itu pula dimakamkan Abu Bakar

ra dan Umar ra.





Putra-putri Rasulullah SAW

Rasulullah SAW memilik tiga orang putra yaitu:

1. Al-Qasim, dilahirkan di Makkah sebelum Muhammad diangkat menjadi

Nabi. Al-Qasim meninggal di Mekah pada usia dua tahun. Namun

menurut Qatadah, Al-Qasim meninggal ketika ia sudah bisa berjalan.

8







2. Abdullah, dinamakan juga dengan at-Thayyib (yang baik) dan at-Thahir

(yang suci) karena ia dilahirkan sesudah Islam. Ada pendapat yang

mengatakan bahwa at-Thayyib dan at-Thahir ini adalah putra Rasulullah

SAW yang lain, namun pendapat pertama adalah yang benar.

3. Ibrahim, dilahirkan dan wafat di Madinah tahun sepuluh hijriah pada usia

tujuh belas atau delapan belas bulan. Ada pendapat yang mengatakan

Rasulullah SAW memiliki putra lain yang bernama Abdul Uzza tapi

pendapat ini sangat lemah karena Allah SWT telah mensucikan dan

melindungi Nabi SAW dari hal demikian (penamaan anak Abdul Uzza

yang berarti hamba Uzza nama salah satu berhala Quraisy-pentj.)





Putri-putri Rasulullah SAW

1. Zainab, menikah dengan Abu Al-Ash bin Rabi’ bin Abdul Uzza bin Abdul

Syams sepupu Zainab, karena ibunya adalah Hala binti Khuwailid

(saudara dari Khadijah binti Khuwailid). Zainab mempunyai anak

bernama Ali yang meninggal waktu kecil dan Umamah yang digendong

oleh Nabi saw waktu shalat dan setelah dewasa menikah dengan Ali bin

Abi Thalib setelah Fatimah wafat.

2. Fatimah, menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan tersebut

Fatimah melahirkan Hasan, Husain, Muhassin yang meninggal waktu

kecil, Ummu Kultsum yang menikah dengan Umar bin Khattab, dan

Zainab yang menikah dengan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.

3. Ruqayyah, menikah dengan Ustman bin Affan. Meninggal di pangkuan

Ustman. Ustman lalu menikahi Ummu Kultsum (adik Ruqayyah) yang

juga meninggal di pangkuannya. Ruqayyah memiliki seorang putra yang

bernama Abdullah sehingga Ustman dipanggil dengan kunyah Abu

Abdullah.





Putri-putri Rasulullah SAW empat orang tanpa ada perbedaan

pendapat ulama mengenai hal ini sedangkan putra-putranya tiga orang

berdasarkan pendapat yang benar. Urutan putra-putri Rasulullah SAW adalah

sebagai berikut: Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Fatimah, Ummu Kultsum, Abdullah,

dan Ibrahim yang lahir di Madinah. Semuanya adalah putra-putri dari

Khadijah kecuali Ibrahim yang lahir dari Maria Al-Qibtiyah dan semuanya

9







meninggal sebelum Muhammad menjadi rasul kecuali Fatimah yang

meninggal enam bulan setelah kematian Rasulullah SAW.





Haji dan Umrah Rasulullah SAW

Hammam bin Yahya meriwayatkan dari Qatadah ia berkata: Saya

bertanya kepada Anas: “Berapa kali Nabi SAW melaksanakan haji?” Anas

menjawab: “Satu kali dan umrah empat kali. Pertama ketika dihalangi kaum

musyrikin, kedua tahun berikutnya ketika mengadakan perjanjian

(Hudaibiah), ketiga umrahnya dari Ji’ranah setelah membagikan harta

rampasan perang Hunain dan yang keempat umrahnya bersama haji.” (Hadits

Muttafaq alaih). Kesemuanya ini setelah hijrah ke Madinah. Adapun haji dan

umrah yang dilakukan Nabi SAW ketika di Makkah tidak diketahui. Dan haji

yang dilakukannya adalah haji wada (perpisahan), yaitu ketika Nabi SAW

menyatakan salam perpisahan kepada umatnya dan berkata: “Mungkin kalian

tidak akan melihatku lagi setelah tahun ini.”





Peperangan Rasulullah SAW

Menurut pendapat masyhur yang dikatakan Muhammad bin Ishak,

Abu Ma’syar, Musa bin Uqbah dan yang lainnya Rasulullah SAW mengikuti

langsung dua puluh lima peperangan. Dan ada yang mengatakan dua puluh

tujuh peperangan. Sedangkan jumlah pengiriman pasukan dan peperangan

yang tidak diikuti Nabi SAW sekitar lima puluhan. Di antara dua puluh lima

peperangan tersebut yang terjadi pertempuran sebanyak sembilan kali yaitu di

Badar, Uhud, Khandak, Bani Quraizhah, Mushthaliq, Khaibar, Fathu Makkah,

Hunain dan Thaif. Ada yang mengatkan terjadi pertempuran juga di Wadil

Qura, al-Ghaba dan Bani Nadhir

10









2. Suku Quraisy dan Hijrah Rasulullah SAW.





Suku Quraisy (Bahasa Arab: ‫قريش‬‎ ‫ )األمة‬adalah suku bangsa Arab

keturunan Ibrahim. Mereka tinggal dan hidup di Mekkah dan daerah

sekitarnya. Quraisy yang hidup di Mekkah disebut Quraisy Lembah, sementara

yang lain tinggal lebih jauh mengelilingi Mekkah dikenal dengan Quraisy

Pinggiran.

Hijrah Rasulullah punya arti tersendiri yang harus kita teladani. Beliau

melakukan hijrah tidak asal-asalan. Tidak hanya pasrah meminta kepada

Allah dan melupakan usaha. Tidak. Sebelum hijrah beliau telah merencanakan

segala sesuatunya dengan sangat matang. Inilah yang harus kita teladani.

Sebagai seorang muslim, kita harus bekerja secara totalitas dan profesional,

barulah setelah itu bertawakkal kepada Allah. Marilah kita perhatikan

bagaimana langkah-langkah matang yang direncanakan oleh Rasulullah saw

dalam melaksanakan perjalanannya ke Madinah.

Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara

Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan

Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga

Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW.

Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili

oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar

oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu

Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam

perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk

menggantikan Nabi SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy

mengira bahwa Nabi SAW masih tidur.

Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW

keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan

kaum Quraisy. Nabi SAW menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu.

Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil

sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3

malam menunggu keadaan aman.

11







Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun karena

mengira Nabi SAW sudah sampai di Yatsrib, keluarlah Nabi SAW dan Abu

Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang

diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor unta yang

memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi SAW bersama

Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang

tidak pernah ditempuh orang.

Setelah 7 hari perjalanan, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba di Quba,

sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat

selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di

halaman rumah ini Nabi SAW membangun sebuah masjid yang kemudian

terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi

SAW sebagai pusat peribadatan.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi SAW.

Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya.

Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh

orang, seharusnya Nabi SAW sudah tiba di Yatsrib. Oleh sebab itu mereka

pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan

dan menyongsong kedatangan Nabi SAW dan rombongan. “Akhirnya waktu

yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka mengelu-

elukan kedatangan Nabi SAW. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan

menyanyikan lagu Thala' al-Badru, yang isinya:

Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ'i (celah-celah bukit).

Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai

orang yang diutus kepada kami, engkau telah membawa sesuatu yang harus

kami taati. Setiap orang ingin agar Nabi SAW singgah dan menginap di

rumahnya. Tetapi Nabi SAW hanya berkata, "Aku akan menginap dimana

untaku berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya."

Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal

dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian

Nabi SAW memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara.

Tujuh bulan lamanya Nabi SAW tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara

kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah untuknya.

12







Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota

nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang

bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.









3. Pembentukn Masyarakat, Pemrintahan dan Negara Madinah

Setelah Nabi SAW tiba di Madinah dan diterima penduduk Madinah,

Nabi SAW menjadi pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan dasar-

dasar kehidupan yang kokoh bagi pembentukan suatu masyarakat baru.





Dasar pertama

Yang ditegakkannya adalah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di

dalam Islam), yaitu antara kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari

Mekah ke Madinah) dan Anshar (penduduk Madinah yang masuk Islam dan

ikut membantu kaum Muhajirin).

Nabi SAW mempersaudarakan individu-individu dari golongan

Muhajirin dengan individu-individu dari golongan Anshar. Misalnya, Nabi

SAW mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, Ja'far bin Abi

Thalib dengan Mu'az bin Jabal. Dengan demikian diharapkan masing-masing

orang akan terikat dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan

persaudaraan yang semacam ini pula, Rasulullah telah menciptakan suatu

persaudaraan baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan

persaudaraan berdasarkan keturunan.





Dasar kedua

Adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa persaudaraan tsb,

yaitu tempat pertemuan. Sarana yang dimaksud adalah masjid, tempat untuk

melakukan ibadah kepada Allah SWT secara berjamaah, yang juga dapat

digunakan sebagai pusat kegiatan untuk berbagai hal, seperti belajar-

mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul dalam masyarakat,

musyawarah, dan transaksi dagang.

Nabi SAW merencanakan pembangunan masjid itu dan langsung ikut

membangun bersama-sama kaum muslimin. Masjid yang dibangun ini

kemudian dikenal sebagai Masjid Nabawi. Ukurannya cukup besar, dibangun

13







di atas sebidang tanah dekat rumah Abu Ayyub al-Anshari. Dindingnya

terbuat dari tanah liat, sedangkan atapnya dari daun-daun dan pelepah

kurma. Di dekat masjid itu dibangun pula tempat tinggal Nabi SAW dan

keluarganya.





Dasar ketiga

Adalah hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak

beragama Islam. Di Madinah, disamping orang-orang Arab Islam juga masih

terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih

menganut agama nenek moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat

diwujudkan, Nabi Muhammad SAW mengadakan ikatan perjanjian dengan

mereka.

Perjanjian tersebut diwujudkan melalui sebuah piagam yang disebut

dengan Mîsâq Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara lain

mengenai kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam

menjaga keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan

derajat, dan disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi kepala pemerintahan

di Madinah.

Masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah

setelah hijrah itu sudah dapat dikatakan sebagai sebuah negara, dengan Nabi

Muhammad SAW sebagai kepala negaranya. Dengan terbentuknya Negara

Madinah, Islam makin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu

membuat orang-orang Mekah menjadi resah. Mereka takut kalau-kalau umat

Islam memukul mereka dan membalas kekejaman yang pernah mereka

lakukan. Mereka juga khawatir kafilah dagang mereka ke Suriah akan

diganggu atau dikuasai oleh kaum muslimin.

Untuk memperkokoh dan mempertahankan keberadaan negara yang

baru didirikan itu, Nabi SAW mengadakan beberapa ekspedisi ke luar kota,

baik langsung di bawah pimpinannya maupun tidak. Hamzah bin Abdul

Muttalib membawa 30 orang berpatroli ke pesisir L. Merah. Ubaidah bin Haris

membawa 60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa'ad bin Abi Waqqas ke Hedzjaz

dengan 8 orang Muhajirin. Nabi SAW sendiri membawa pasukan ke Abwa

dan disana berhasil mengikat perjanjian dengan Bani Damra, kemudian ke

Buwat dengan membawa 200 orang Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah.

14







Di sini Nabi SAW mengadakan perjanjian dengan Bani Mudij. EkspedEsi-

ekspedisi tersebut sengaja digerakkan Nabi SAW sebagai aksi-aksi siaga dan

melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk

melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian

perdamaian dengan kabilah dimaksudkan sebagai usaha memperkuat

kedudukan Madinah.





Perang Badar

Perang Badar yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah

dan kaun musyrikin Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini

merupakan puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak

kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar

setelah berbagai upaya perdamaian yang dilaksanakan Nabi Muhammad

SAW gagal.

Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan

senjata sederhana yang terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Berkat

kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan semangat pasukan yang

membaja, kaum muslimin keluar sebagai pemenang. Abu Jahal, panglima

perang pihak pasukan Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad SAW

sejak awal, tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas dari pihak Quraisy,

dan 70 orang lainnya menjadi tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14

yang gugur sebagai syuhada. Kemenangan itu sungguh merupakan

pertolongan Allah SWT (QS. 3: 123).

Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum

muslimin. Mereka memang tidak pernah sepenuh hati menerima perjanjian

yang dibuat antara mereka dan Nabi Muhammad SAW dalam Piagam

Madinah.

Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi

Muhammad SAW memutuskan untuk membebaskan para tawanan dengan

tebusan sesuai kemampuan masing-masing. Tawanan yang pandai membaca

dan menulis dibebaskan bila bersedia mengajari orang-orang Islam yang

masih buta aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki kekayaan dan

kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga.

15







Tidak lama setelah perang Badar, Nabi Muhammad SAW

mengadakan perjanjian dengan suku Badui yang kuat. Mereka ingin

menjalin hubungan dengan Nabi SAW karenan melihat kekuatan Nabi

SAW. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja kekuatan semata.

Sesudah perang Badr, Nabi SAW juga menyerang Bani Qainuqa, suku

Yahudi Madinah yang berkomplot dengan orang-orang Mekah. Nabi SAW

lalu mengusir kaum Yahudi itu ke Suriah.





Perang Uhud

Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H.

Perang ini disebabkan karena keinginan balas dendam orang-orang

Quraisy Mekah yang kalah dalam perang Badr. Pasukan Quraisy, dengan

dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah, membawa 3.000 ekor unta dan

200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Tujuh ratus

orang di antara mereka memakai baju besi.

Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad SAW hanya berjumlah

700 orang. Perang pun berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul

mundur pasukan musuh yang jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy mulai

mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka.

Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan

pemanah yang ditempatkan oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan

pos mereka dan turun untuk mengambil harta peninggalan musuh. Mereka

lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam

keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Mereka tidak lagi

menghiraukan gerakan musuh. Situasi ini dimanfaatkan musuh untuk

segera melancarkan serangan balik. Tanpa konsentrasi penuh, pasukan

Islam tak mampu menangkis serangan. Mereka terjepit, dan satu per satu

pahlawan Islam berguguran. Nabi SAW sendiri terkena serangan musuh.

Sisa-sisa pasukan Islam diselamatkan oleh berita tidak benar yang diterima

musuh bahwa Nabi SAW sudah meninggal. Berita ini membuat mereka

mengendurkan serangan untuk kemudian mengakhiri pertempuran itu.

Perang Uhuh ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai

syuhada.

16







Perang Khandaq

Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara

kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang

mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena

itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku).

Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-

Farisi, sahabat Rasulullah SAW, mengusulkan agar kaum muslimin

membuat parit pertahanan di bagian-bagian kota yang terbuka. Karena

itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit.

Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah

dengan mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya.

Pengepungan ini cukup membuat masyarakat Madinah menderita karena

hubungan mereka dengan dunia luar menjadi terputus. Suasana kritis itu

diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi Madinah, yaitu

Bani Quraizah, dibawah pimpinan Ka'ab bin Asad.

Namun akhirnya pertolongan Allah SWT menyelamatkan kaum

muslimin. Setelah sebulan mengadakan pengepungan, persediaan

makanan pihak sekutu berkurang. Sementara itu pada malam hari angin

dan badai turun dengan amat kencang, menghantam dan menerbangkan

kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka

terpaksa menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-

masing tanpa suatu hasil.

Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman

mati. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzâb: 25-26.





Perjanjian Hudaibiyah

Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum

muslimin untuk mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi SAW

memimpin langsung sekitar 1.400 orang kaum muslimin berangkat umrah

pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dilarang adanya perang. Untuk itu

mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya

untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.

17







Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang

terletak beberapa kilometer dari Mekah. Orang-orang kafir Quraisy

melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan menempatkan

sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga. Akhirnya diadakanlah Perjanjian

Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara lain:

1. Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 10

tahun.

2. Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia

harus dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad SAW yang

menyeberang ke pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus

mengembalikannya ke pihak Muhammad SAW.

3. Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak

Muhammad SAW maupun dengan pihak Quraisy.

4. Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah pada tahun tsb,

tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya.

5. Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang

Quraisy harus keluar lebih dulu.

6. Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan

membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh

tinggal di Mekah lebih dari 3 hari 3 malam.





Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tsb sebenarnya adalah

berusaha merebut dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana

menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain. Ada 2 faktor utama yang

mendorong kebijaksanaan ini :

 Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui

konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam dapat tersebar

ke luar.

 Apabila suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam akan memperoleh

dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy mempunyai

kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa Arab.

18







Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak

orang Quraisy yang masuk Islam setelah menyaksikan ibadah haji yang

dilakukan kaum muslimin, disamping juga melihat kemajuan yang dicapai

oleh masyarakat Islam Madinah.

19







BAB III

PENUTUP





KESIMPULAN

Strategi dakwah Rasulullah S.A.W di Madinah lebih agresif dan

besar. Madinah, sebagai Negara Islam pertama menjadi nadi pergerak

dakwah Islam ke seluruh dunia. Tapak yang disediakan oleh Rasulullah

s.a.w begitu kukuh sehingga menjadi tauladan kepada pemerintahan Islam

sehingga kini. Strategi yang bersumberkan kepada dua perundangan

utama iaitu al-Quran dan Hadis menjadi intipati kekuatan perancangan

Islam dalam menegakkan kalimah Tauhid.

Sukses hijrah Nabi Muhammad SAW ditandai, antara lain,

keberhasilannya mencerdaskan masyarakat Muslim yang bodoh menjadi

umat yang cerdas, menyejahterakan sosial ekonomi umat dan masyarakat

dengan asas keadilan dan pemerataan, serta penegakan nilai etik-moral dan

norma hukum yang tegas. Pendeknya, Nabi Muhammad SAW berhasil

membangun kesalehan ritual yang paralel dengan kesejahteraan material,

ketaatan individual yang seiring dengan kepatuhan sosial, dan

terwujudnya kesejahteraan duniawiah-temporal yang seimbang dengan

keberkahan ukhrawiah yang kekal.

Sebuah fakta sejarah kemudian membuktikan bahwa proses

penyebaran Islam dengan dakwah jauh lebih cepat dan berkembang pada

periode Madinah ini dibandingkan periode Mekkah. Selain itu juga di

Madinah, Rasulullah dan Umat Islam berhasil membangun tata peradaban

baru, tata pemerintahan, tata ekonomi dan sosial yang demikian pesat

perkembangannya

Nilai-nilai yang terkandung dalam proses Hijrah :

Pengorbanan

Nilai ini ditunjukan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu ketika beliau tanpa

ragu menyanggupi untuk menggantikan Nabi untuk tetap berada didalam

rumah, bahkan beliau kemudian tidur dan mengenakan sorban Nabi.

Sungguh sebuah pengorbanan yang sangat heroik dimana Ali yang ketika

itu masih seorang pemuda, rela untuk menjadi tameng bagi kelangsungan

hidup Rasulnya, yang berarti pula kelangsungan dakwah Islam. Nilai ini

20







juga ditunjukan oleh Abu Bakar as Shidiq, yakni ketika beliau berkata “

Biar saya yang masuk kedalam gua (Tsur) dulu, kalau ada binatang buas

atau binatang berbisa didalam sana, saya rela mati, biar anda meneruskan

perjuangan dan dakwah anda”.

Lagi sebuah epik kepahlawanan dan pengorbanan yang luar biasa.

Kemudian dalam sebuah cerita kemudian benar Abu Bakar digigit ular

berbisa, namun ataskehendak Allah, beliau selamat dalam peristiwa itu.





Keyakinan dan Tawakal

ketika berada dalam gua tsur yang gelap dan dalam keadaan yang

sedemikian rupa, kemudian terucap kata-kata yang hanya akan keluar dari

lisan orang yang memiliki keyakinan dan sikap tawakal yang demikian

sempurna “ La Tahzan, innallah ma ana – jangan bersedih, sesungguhnya

Allah bersama kita”





Kebersamaan

Peristiwa Hijrah ini melibatkan Nabi Muhammad yang mewakili

Pemimpin, Ali bin Abi Thalib yang mewakili generasi muda, Abu Bakr,

yang mewakili golongan tua, bahkan konon ada seorang perempuan yang

bertugas menyupalai makanan kepada Nabi dan Abu Bakar selama

mereka berada dalam gua – yang menurut seorang ulama, ini

menggambarkan sebuah kesatuan, antara pemimpin, pemuda, orang tua

dan perempuan, sebagai salah satu syarat “keberhasilan”, seperti

kemudian digambarkan bagaimana proses Hijrah ini adalah menjadi

tonggak sejarah dan momentum perkembangan Islam.





Kondisi yang Kondusif

Sebagaimana diketahui, ketika sampai ditempat yang baru, Nabi

mengganti nama Yatsrib – Mengecam, menjadi Madinah – Kota Peradaban.

Ini mencerminkan bahwa sebuah proses keberhasilan tidak akan dicapai

ketika orang-orang yang berada didalamnya saling mengecam satu sama

lain, kritik yang tidak konstruktif, asal ganti dan lebih mementingkan

kepentingan golongan dan pribadinya semata. Penggantian nama menjadi

Madinah menyimbolkan bahwa keberhasilan hanya akan dicapai dalam

21







tata kehidupan yang beradab, ada sopan santun dan etika ketika hendak

menyampaikan pendapat, kritik dan masukan, ada tata aturan yang mesti

dipenuhi oleh orang-orang beradab, yang kemudian dibuktikan dalam

sejarah masa kini, bahwa dimanapun, tidak akan pernah bisa mencapai

keberhasilan, ketika individu-individu yang terlibat dalam proses itu

saling mengecam bahkan tak jarang menyebarkan fitnah-fitnah keji.

Sebaliknya, sebuah kondisi yang “beradab”, yang berdasarkan tata aturan

dan norma kesusilaan-lah yang mengantar sebuah bangsa, sebuah

kelompok atau apapun untuk mencapai keberhasilannya.

22







DAFTAR PUSTAKA





http://www.google.co.id/search?hl=id&source=hp&biw=1024&bih=578&q=SUK

U+QURAISY&btnG=Penelusuran+Google#sclient=psyab&hl=id&source=h

p&q=rasulullah+saw+sebagai+uswatun+khasanah&pbx=1&oq=rasulullah

+saw+sebagai+uswatun+khasanah&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=e&gs_upl=4

0181l47398l2l47669l16l16l0l0l0l0l1325l4534l0.9.4.61.1l15l0&bav=on.2,or.r_gc.

r_pw.&fp=62ee02fbd1e4f55d&biw=1024&bih=578





http://pengkajianpelitahati.wordpress.com/2010/03/01/nabi-muhammad-saw

sebagai- uswatun-hasanah-bagi-orang-yang-ingin-menemui-allah/





http://www.hadielislam.com/indo/sejarah-singkat-rasulullah/periode mekkah/

1174-suku-quraisy-mendengar-berita-tentang-dakwah rasulullah.html





http://kacepigebe.wordpress.com/2011/06/07/negara-madinah/

23







KATA PENGANTAR





Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah yang

berjudul “Kehidupan Rasulullah SAW Sebagai Uswatun Hasanah” ini tepat pada

waktunya.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya atas segala bantuan semua pihak sehingga makalah ini dapat

terselesaikan.

Kami menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan

kekurangan didalam penulisan makalah ini, baik dari isi maupun penulisannya.

Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun senantiasa

kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.









Hormat Kami

Tim Penyusun Makalah









Kelompok









i

24







DAFTAR ISI





Halaman

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i

DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii





BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1





BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................ 4

1. Riwayat Rasulullah SAW .................................................................... 4

2. Suku Quraisy dan Hijrah Rasulullah SAW. ..................................... 10

3. Pembentukan Masyarakat, Pemerintahan dan Negara Madinah ... 12





BAB III PENUTUP ..................................................................................................... 19

1. Kesimpulan .............................................................................................. 19









ii


Shared by: mr doen
About
just a nice girl
Other docs by mr doen
peningkatan SDMbid Parekraf
Views: 0  |  Downloads: 0
Help, My Kids Won’t Let Me Work!
Views: 0  |  Downloads: 0
Zox Pro Review
Views: 7  |  Downloads: 0
Advertising - Definition, Evolution and Types
Views: 8  |  Downloads: 0
AMPLOP SEDANG YAyasan
Views: 7  |  Downloads: 0
Use Healthy Soil to Gain Good Results
Views: 0  |  Downloads: 0
Modern Methods For Biochemistry Analysis
Views: 0  |  Downloads: 0
Related docs
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!