Docstoc

PENGERTIAN sastra

Document Sample
PENGERTIAN sastra Powered By Docstoc
					A. Pengertian Sastra
   Kesusastraan : susastra + ke – an
   su + sastra
   su berarti indah atau baik
   sastra berarti lukisan atau karangan

           Susastra berarti karangan atau lukisan yang baik dan indah. Kesusastraan
   berarti segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang
   ditulis dengan bahasa yang indah.

B. Fungsi Sastra
         Dalam kehidupan masayarakat sastra mempunyai beberapa fungsi yaitu :
   1. Fungsi rekreatif, yaitu sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan
      bagi penikmat atau pembacanya.
   2. Fungsi didaktif, yaitu sastra mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya
      karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya.
   3. Fungsi estetis, yaitu sastra mampu memberikan keindahan bagi
      penikmat/pembacanya karena sifat keindahannya.
   4. Fungsi moralitas, yaitu sastra mampu memberikan pengetahuan kepada
      pembaca/peminatnya sehingga tahu moral yang baik dan buruk, karena sastra
      yang baik selalu mengandung moral yang tinggi.
   5. Fungsi religius, yaitu sastra pun menghasilkan karya-karya yang mengandung
      ajaran agama yang dapat diteladani para penikmat/pembaca sastra.


C. Ragam Sastra
   1. Dilihat dari bentuknya, sastra terdiri atas 4 bentuk, yaitu :
      a. Prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan
          panjang tidak terikat oleh aturan-aturan seperti dalam puisi.
      b. Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan habasa yang
          singkat dan padat serta indah. Untuk puisi lama, selalu terikat oleh kaidah
          atau aturan tertentu, yaitu :
          (1) Jumlah baris tiap-tiap baitnya,
          (2) Jumlah suku kata atau kata dalam tiap-tiap kalimat atau barisnya
          (3) Irama, dan
          (4) Persamaan bunyi kata.

      c. Prosa liris, bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi namun
         menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa.
      d. Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa
         yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog atau monolog.
         Drama ada dua pengertian, yaitu drama dalam bentuk naskah dan drama
         yang dipentaskan.

   2. Dilihat dari isinya, sastra terdiri atas 4 macam, yaitu :
      a. Epik, karangan yang melukiskan sesuatu secar a obyektif tanpa
          mengikutkan pikiran dan perasaan pribadi pengarang.
      b. Lirik, karangan yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif.
      c. Didaktif, karya sastra yang isinya mendidik penikmat/pembaca tentang
          masalah moral, tatakrama, masalah agama, dll.
      d. Dramatik, karya sastra yang isinya melukiskan sesuatu kejadian(baik atau
          buruk) denan pelukisan yang berlebih-lebihan.
   3. Dilihat dari sejarahnya, sastra terdiri dari 3 bagian, yaitu :
      a. Kesusastraan Lama, kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam
          masyarakat lama dalam sejarah bangsa Indonesia. Kesusastraan Lama
          Indonesia dibagi menjadi :
          (1) Kesusastraan zaman purba,
          (2) Kesusastraan zaman Hindu Budha,
          (3) Kesusastraan zaman Islam, dan
          (4) Kesusastraan zaman Arab – Melayu.
      b. Kesusastraan Peralihan, kesusastraan yang hidup di zaman Abdullah bin
          Abdulkadir Munsyi. Karya-karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi ialah :
          (1) Hikayat Abdullah
          (2) Syair Singapura Dimakan Api
          (3) Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah
          (4) Syair Abdul Muluk, dll.

      c. Kesusastraan Baru, kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam
         masyarakat baru Indonesia. Kesusastraan Baru mencangkup kesusastraan
         pada Zaman :
         (1) Balai Pustaka / Angkatan ‘20
         (2) Pujangga Baru / Angkatan ‘30
         (3) Jepang
         (4) Angkatan ‘45
         (5) Angkatan ‘66
         (6) Mutakhir / Kesusastraan setelah tahun 1966 sampai sekarang

D. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik
          Karya sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsur yang
   dimaksud ialah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang
   menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya
   sastra, seperti : tema, tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, latae dan
   pelataran, dan pusat pengisahan. Sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang
   menyusun sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, psikologi,
   dan lain-lain.
   1. Unsur Intrinsik
      a) Tema dan Amanat
          Tema ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra.
          Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan.
          Tema minor ialah tema yang tidak menonjol.
          Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di
          dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi
          makna niatan dan makna muatan. Makna niatan ialah makna yang diniatkan
          oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya. Makna muatan ialah
          makana yang termuat dalam karya sastra tersebut.

      b) Tokoh dan Penokohan
         Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada
         beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh
         utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam
         karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan
         tokoh bulat (round character).

         Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalny6a baik
         saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan
         tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik
         buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang
         terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan
   ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan
   oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang
   ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh
   protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau
   penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak
   disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Penokohan
   atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada
   beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan
   tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang
   menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah
   cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran
   ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam
   suatu cerita. Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak
   tokoh.
   Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.
   Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang
   terjadi. Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan
   terjadi.

c) Alur dan Pengaluran
   Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan
   sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh.
   Alur terdiri atas beberapa bagian :
   (1) Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh-tokohnya.
   (2) Tikaian, yaitu terjadi konflik di antara tokoh-tokoh pelaku.
   (3) Gawatan atau rumitan, yaitu konflik tokoh-tokoh semakin seru.
   (4) Puncak, yaitu saat puncak konflik di antara tokoh-tokohnya.
   (5) Leraian, yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan
       alur mulai terungkap.
   (6) Akhir, yaitu seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan.

   Pengaluran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut
   kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar.
   Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita.
   Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita.
   Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur
   ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur
   ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan
   waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus
   ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai
   akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari
   awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik
   (backtracking), sorot balik (flashback), atau campauran keduanya.

d) Latar dan Pelataran
          Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya
   peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau
   setting dibedakan menjadi latar material dan sosial. Latar material ialah
   lukisan latar belakang alam atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada.
   Latar sosial, ialah lukisan tatakrama tingkah laku, adat dan pandangan
   hidup. Sedangkan pelataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar.
   e) Pusat Pengisahan
            Pusat pengisahan ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh
      pencerita. Pencerita di sini adalah privbadi yang diciptakan pengarang
      untuk menyampaikan cerita. Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu
      pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga.
      Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut,
      biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga, pencerita
      tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang
      pengamat atau dalang yang serba tahu.

2. Unsur Ekstrinsik
          Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti
   berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor
   kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca
   sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa
   unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu
   sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan
   bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain.
KARYA SASTRA NON FIKSI
Andika Bagus W , Andreas Yudantara, Arisni Kholifatu A,
Danik Sulistyaningrum, Datik Setiawati
SMA NEGERI 1 TENGARAN
Dipresentasikan di depan teman-teman kelas IPA 2 dengan bimbingan Guru Bahasa
Indonesia
Dra. Sri Martutik

ABSTRAK
Dalam dunia bahasa banyak hal – hal yang harus diperhatikan, mulai dari tanda baca,
sampai cara penulisan tentang karya sastra yang benar, dan bisa membuat orang lain
tertarik. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang karya sastra. Sebelumya apakah
pembaca tahu tentang karya sastra? Kalau belum tahu banyak, akan kita bahas dalam
makalah ini.
Karya sastra adalah suatu karya yang dituangkan lewat tulisan yang berisikan suatu
masalah. Karya sastra dibagi 2, yaitu karya sastra fiksi dan karya sastra nonfiksi.
Karya sastra nonfiksi dibagi 2, yaitu nonfiksi murni dan nonfiksi kreatif. Nonfiksi
murni berdasarkan data yang otentik saja, tapi nonfiksi kreatif berdasarkan data yang
otentik yang dikembangkan secara imajinatif dan hampir menyerupai fiksi, hanya
berbeda datanya saja.
Nonfiksi kreatif mempunyai beberapa bentuk, yaitu yang sering digunakan dan yang
tidak sering digunakan. Yang sering digunakan adalah esai, sketsa tokoh, sejarah
singkat, memoar, buku nonfiksi. Yang jarang digunakan adalah artikel junalistik,
artikel ilmiah, buku referensi, biografi, dan surat pembaca.
Dalam tehnik penulisan nonfiksi ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu latar
yang meliputi tempat, waktu, dan suasana. Kemudian penokohan atau karakterisasi,
hal ini penting agar karakter-karakter yang dimainkan dalam tokoh cerita bisa
dipercaya. Lalu dialog dan dramatisasi agar dalam cerita dari awal hingga akhir
benar-benar nyata. Yang terakhir adalah menghidupkan karya nonfiksi kreatif yang
berdasarkan atas imajinatif kita dalam membuat nonfiksi tersebut agar terlihat
nyata.
Jadi, setelah membaca makalah ini, kami mengharapkan agar pembaca mengenal
karya sastra
BAB I
PENDAHULUAN
1.Tujuan
Makalah bahasa Indonesia ini disusun guna memenuhi tugas mata pelajaran bahasa
Indonesia kelas XII semester satu.
2. Latar belakang
Dewasa ini bangsa Indonesia sedang mengalami pembangunan. Sudah sepantasnya
pembangunan itu dilaksanakan bukan hanya dalam bidang politik, keamanan, ataupun
budaya, namun perlu lebih lagi ditingkatkan dalam bidang sastra. Sebagai contohnya
kami telah mengamati dari berbagai dialek – dialek sastra yang semakin meningkat
pada masa ini, namun banyak pelajar –pelajar Indonesia yang kurang mengerti
tentang pentingnya bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari - hari, lebih lagi
perlunya memahami tentang karya sastra, pengetahuan tentang karya sastra
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Karya Sastra
1. Karya Sastra adalah suatu karya yang dituangkan lewat tulisan yang berisikan suatu
masalah.
2. Fiksi adalah suatu karya sastra yang dibuat berdasarkan imajinasi semata dan tidak
berdasarkan data yang otentik.
2.2 Spesialisai Pengertian Non Fiksi (kreatif)
Nonfiksi adalah karya sastra yang dibuat berdasarkan data – data yang otentik saja,
tapi bisa juga data itu dikembangkan menurut imajinasi penulis.
Nonfiksi dibagi menjadi 2 :
• Nonfiksi Murni : adalah buku yang berisi pengembangan berdasarkan data – data
yang otentik
• Nonfiksi Kreatif : berawal dari data yang otentik kemudian pengembangannya
berdasarkan imajinasiyang pada umumnya dalam bentuk novel, puisi, prosa
Menurut tingkat pemakaian, nonfiksi kreatif dibagi menjadi 2 sub pokok :
A. Nonfiksi kreatif yang sering dipakai
B. Nonfiksi kreatif yang jarang dipaki

2.2.1 Macam Nonfiksi Kreatif Yang Sering Dipakai:
a) Esai
Anda mungkin masih ingat tipe esai yang pernah di bicarakan dalam kelas bahasa di
sekolah.Tapi,hanya cenderung di ajarkan sebagai bentuk yang singkat saja.Namun
esai bias menjadi bentuk tulisan non-fiksi yang luar biasa kreatif.Jika kita lihat di
Koran,atau majalah ,kita akan menemukan esai dalam tulisan-tulisan opini para
pakar,kolom para budayawan dan editorial(tajuk rencana) yang di tulis redaksi media
bersangkutan.Pada intinya struktur esai terdiri dari:
1.Pengantar/Pengenalan(5% dari total esai)
Biasanya 1-2 paragraf yang berisikan satu atau lebih hal-hal berikut ini:definisi
masalah,pembatasan asumsi,istilah-istilah teknis yang kita gunakan dan tukuan
penulisan,yang bias menjelaskan secara seksama sebual dalil yang kita ungkapkan.
2.Pembahasan/Argumentasi (85%-90% dari total esai)
Bagian utama dari sebuah esai yang di tunjukan untuk mengungkapkan bukti-bukti
dalam bentuk:
a) Logika penalaran pribadi
b) Teori-teori yang ada,atau
c) Secara empiris melalui penelitian,yang relevan dengan masalah yang kita
bahas.Dalam bagian ini kita memerlukan contoh-contoh,logika,tori,hasil penelitian
yang masuk akal dan relevan dengan pernyataan-pernyataan yang tegas.
Lebih baik lagi seandainya kita menyisipkan teknik devil’s advocate atau kontra
argumentasi dalam setiap pernyataan-pernyataan yang kita buat sehingga esai kita
menjadi sulit untuk diserang.
3.Penutup/Kesimpulan(5-10% dari total esai)
Panjangnya penutup atau kesimpulan tergantung dari bagaimana kita
menjawabpertanyaan-pertanyaan yang kita ungkapkan dalam bagian definisi masalah
pada bagian pembukaan.Jawaban-jawaban ini sebenarnya berkaitan dengan bukti –
bukti yang kita bahas pada bagian argumentasi/pembahasan yang masih dalam
kerangka tujuan penulisan. Lebih baik lagi, kalau ada penekanan terhadap
argumentasi yang paling dikuasai pada bagian pembahasan.
Bahkan esai kreatif pun memakai bentuk dasar semacam ini. Pertama, biarkan
pembaca mengetahui topiknya, kemudian jelaskan intinya (sedikit) dan mengapa itu
penting.
Satu cara yang lebih memperkaya pendekatan anda adalah dengan menggabungkan
berbagai jenis isi yang berbeda secara bersamaan. Anda bias menulis esai tentang
pelangi di senja hari, misalnya, yang mengkombinasikan sains, mitos, dan
pengalaman pribadi.
b) Sketsa tokoh
Karena umumnya sangat pendek, seringkali sketsa tokoh terfokus hanya pada satu
aspek dari tokoh bersangkutan. Misalnya : Ayahku sebagai pahlawan, tetanggaku si
pemalas, atau Eros Djarot sebagai politisi (meski dia juga sutradara dan penggubah
lagu)
Tidak semua detil tentang Eros Djarot perlu ditampilkan dalam sketsa. Detil – detil
perlu dipilih, diambil hanya yang relevan saja dengan tema dia sebagai politisi. Kapan
dan kenapa dia tertarik pada politik, misalnya. Atau kenapa dia memilih mendirikan
Partai Nasional Bung Karno, bukan detil tentang penyakitnya pada masa kanak –
kanak.
Penulisan sketsa tokoh sangat ketat, sangat singkat. Ukurannya yang pendek tidak
memberi ruang untuk kata – kata yang mubazir. Menulis sketsa tokoh adalah seperti
menulis cerita pendek mini. Bentuk penulisan ini memaksa penulis agar lebih fokus.
Dibutuhkan disiplin ketat, tapi sketsa tokoh juga bisa bahan bacaan yang sangat
menyenangkan dan menghibur.
o Sejarah singkat
Sejarah singkat sebenarnya lebih merupakan topik atau tema ketimbang bentuk.
Struktur penulisan sejarah singkat umumnya sama dengan penulisan esai. Karya
nonfiksi kreatif ini menampilkan sejarah dari obyek, tempat atau peristiwa yang khas.
Bahkan tempat yang sangat khas ( spesifik ), misalnya sebuah kamar dalam bangunan
besar.
Seperti sketsa tokoh, detil – detil dalam sejarah singkat harus dipilih dan diambil
hanya yang relevan saja. Banyak koran lokal biasa memuat artikel tentang sejarah
lokal yang ditulis ringkas dan ketat. Misalnya : Kota Tua Jakarta, Riwayat Taman
Surapati, atau Kamar Nyai Roro Kidul di Samudera Beach Hotel.
o Memoar
Memoar adalah catatan fakta - fakta sederhana tentang masa lalu si penulis. Memoar
Bung Hatta adalah salah satu contohnya. Memoar merupakan salah satu jenis nonfiksi,
namun umumnya tidak ditulis secara imajinatif.
Jika melibatkan teknik kreatif, misalnya dengan mengambil elemen fiksi atau puisi,
serta teknik penuturan cerita rakyat ( Tolklore) memoar bisa dimasukkan dalam
kerajaan karya nonfiksi kreatif.
Memoar seringkali bisa sepanjang sebuah buku. Terutama ketika merekam seluruh
hidup penulisnya. Namun,umumnya merupakan cukilan pendek dari penulis penulis,
hanya kurun tertentu atau aktivisme tertentu dalam hidupnya.
Memoar bahkan bisa hanya berbahan kumpulan buku atau catatan harian tentang
peristiwa tertentu atau catatan perjalanan ke tempat tertentu yang ditulis dengan
gaya aku ( orang pertama ).
o Buku Nonfiksi
Ada beberapa buku nonfiksi yang terfokus pada topik spesifik , seperti kisah
perjalanan keliling Jawa dengan sepeda, misalnya. Atau cerita mengubah peternakan
atau menjadi kebun yang indah. Buku dengan tema seperti itu, sama halnya memoar,
bisa menjadi nonfiksi kreatif, bisa juga bukan, tapi potensi ke arah kreatif sangat
besar. Umumnya, semakin kreatif suatu buku nonfiksi, semakin menarik dibaca.
Tema buku nonfiksi kreatif bisa apa saja, meski cenderung untuk fokus pada tema
spesifik, seperti suatu tempat, atau tentang binatang tertentu.
2.2.2 Nonfiksi Kreatif Yang Jarang Dipaki
o Artikel Jurnalistik
Membaca artikel di surat kabar (kecuali dalam rubrik seperti seni atau kehidupan).
Anda akan menemukan kesamaan informasi disusun secara hati-hati dalam struktur
sedemikian sehingga pembaca mendapatkan fakta-fakta utama sesaat setelah
membaca: yakni tentang siapa, apa, kapan, dan dimana; biasanya pada kalimat
pertama. Setelah itu, artikel jurnalistik meluas secara bertahap, menambahkan
unsur-unsur mengapa dan sesuatu terjadi. Ini dilakukan sedemikian rupa sehingga
seberapa banyak pun dipotong agar muat dalam ruang koran, artikel tersebut akan
tetap memuat informasi yang penting.
Tentu saja ada beberapa jenis jurnalisme disamping berita koran. Cerita feature dan
artikel majalah cenderung tidak tersrtruktur secara kaku, dan memberikan ruang bagi
kreativitas. Artinya dan tumpang-tindih antara jurnalisme dan ninfiksi kretif, dan
batasan itu tergantung pada pendapat Anda.
o Artikel Ilmiah
Seperti artikel jurnalistik, artikel ilmiah disusun untuk secara efektif menyajikan
informasi. Mirip seperti esai, artikel ilmiah umumnya dibuka dengan ringkasan
tentang apa yang hendak disampaikan, kemudian menyertakan bukti dan argumentasi
atau informasi yang mendukung, yang diakhiri dengan ringkasan dan kesimpulan.
Artikel ilmiah biasanya ditemukan dalam jurnal ilmiah, yang dipublikasikan untuk
kalangan terbatas maupun masyarakat umum. Contohnya, Medika, jurnal kedokteran
di Indonesia. Jurnal seperti ini umumnya diterbitkan oleh asosiasi ilmuwan dan
profesi.
Karena artikel-artikelnya ditujukan untuk pembaca dari kalangan terbatas dan
ditujukan untuk menyampaikan informasi secara spesifik, hanya ada sedikit ruang
untuk kreativitas (meskipun masih memberikan kesempatan untuk tulisan yang baik).
Seperti halnya artikel koran dan breaking news, artikel ilmiah yang kreatif hanya
digunakan untuk mengkomunikasikanisi artikel.
o Buku Referensi
Buku-buku referensi muncul dalam berbagai bentuk, dari kamus hingga studi bidang-
bidang tertentu. Beberapa buku referensi hanya menyediakan sedikit ruang untuk
kreativitas ketimbang buku-buku lain. Buku-buku referensi sejati seperti kamus,
thesaurus, ensiklopedi, dan sejenisnya memiliki masalah komunikasi yang sama
seperti karya sastra jurnalistik atau ilmiah:informasi harus jernih dan klreativitas
dikhawatirkan mengaburkan kejelasan informasi singkat dengan cara yang sudah
baku; tidak banyak ruang untuk nonfiksi kreatif di sana (meskipun bisa saja seseorang
meminjam format kamus dan bermain-main dangan cara menyajikan informasi secara
menarik).
Buku tentang Asal Muasal Pohon Durian, misalnya, bisa di anggap buku referensi
namun sekaligus disajikan dengan cara kreatif. Buku ini bisa menyajikan berbagai
jenis informasi yang berbeda. Seperti halnya buku referensi, tapi tidak disajikan
dengan cara yang biasa dipakai buku referensi yang biasa memudahkan pembaca
mencari bagian spesifik. Buku ini bisa memadukan kekayan informasi dan cara
penyajian yang menarik, bahkan untuk pembaca yang tidak memiliki antusiasme
tentang pohon durian.
o Biografi
Biografi adalah karya tulis tentang kehidupan orang lain ( bukan kehidupan Anda
sendiri, yang dikenal sebagai otobiografi ). Umumnya biografi berisi kisah tentang
orang terkenal, bintang film, tokoh sejarah penting, ilmuwan yang mengubah dunia,
dan sebagainya.
Otobiografi lebih gampang dibuat dalam bentuk nonfiksi kreatif dibandingkan
biografi. Biografi mengandung keterbatasan karena ketersediaan materi, dan bukan
karena bentuknya.
Dalam biografi, mungkin – mungkin saja penulis menciptakan adegan dan dialog, itu
artinya penulis menulis novel biografi. Sebuah novel biografi sebenarnya sebuah fiksi
yang berdasarkan materi nonfiksi, bukan sebuah karya nonfiksi yang menggunakan
tehnik penulisan fiksi.
o Surat pembaca
Surat pembaca di koran atau di majalah adalah bentuk tulisan yang jarang digunakan
penulis. Mengambil bentuk surat dan memadukan objek nonfiksi didalamnya mungkin
kedengaran terlalu artifisial dan terlalu menarik perhatian. Ada beberapa surat yang
bisa diklasifikasikan ke dalam kelas nonfiksi kreatif. Tulisan itu sangat memikat dan
menarik, sehingga kita tidak sadar kalu sebenarnya kita membaca sebuah surat yang
dimaksudkan untuk dimuat di kolom surat pembaca koran. Meski semua bentuk di
atas kecil kemungkinan bisa dimainkan sebagai karya nonfiksi kreatif, bukan berarti
Anda tidak boleh membacanya. Inti dari nonfiksi kreatif adalah kreativitas
menggunakan bentuk dan isi. Menulis artikel jurnalistik, artikel ilmiah atau buku
referensi dalam bentuk nonfiksi kreatif memang sangat sulit, dan mungkin tidak pas
untuk tujuan format tersebut. Di sisi lain, biografi dan surat lebih memungkinkan
untuk ditulis dalam bentuk nonfiksi kreatif.
2.3 Tehnik Penulisan Nonfiksi Kreatif
Kunci kreatifitas nonfiksi terletak pada kreatifas tulisan itu sendiri, yakni penggunaan
elemen – elemen dalam cerpen dan novel secara imajinatif untuk menghidupkan tema
– tema nonfiksi.
Tehnik sama yang memberi energi untuk cerpen atau novel bisa digunakan untuk
memperkaya tulisan nonfiksi. Bayangkan menggunakan latar ( setting ) dalam karya
nonfiksi dengan cara yang sama dalam karya fiksi.
Pada bagian ini, kita akan melihat latar, penokohan, dialog dan dramatisasi, dan plot.
Kita juga akan mengulas secara singkat tehnik – tehnik lain.
• Latar ( setting )
Dalam fiksi, kita cenderung berfikir bahwa latar hanyalah sekedar ruang dan waktu
tempat cerita berlangsung. Kejadian harus berlangsung di suatu tempat dan dalam
kurun waktu tertentu ( hari, musim, tahun ). Tapi, latar sebenarnya bisa lebih dari
sekadar dimana dan kapan cerita berlangsung.
Latar bisa memperkaya suasana dan atmosfer cerita, yang akan mempengaruhi apa
yang diserap pembaca. Latar bisa bersifat simbolik. Misalnya cerita tentang
perjalanan seorang tokoh di tengah gurun pasir mencari oasis, bisa disimbolkan
sebagai perjalanan dari neraka ke surga. Latar juga mencerminkan perjalanan
emosional tokoh. Latar pun bertindak sebagai sebuah karakter, mempengaruhi pilihan
karakter – karakter lain, dan mempengaruhi plot.
Tulisan nonfiksi bisa memiliki satu latar atau mungkin beberapa latar ( multi setting
). Cara menggunakan latar harus selaras dengan cara menciptakan mood tertentu
yang diinginkan. Membaca lebih banyak novel dan cerpen akan memberikan sumber
inspirasi yang kaya untuk digunakan dalam tulisan nonfiksi.
• Penokohan ( karakterisasi )
Salah satu unsur terpenting dari karya fiksi yang bagus adalah pengembangan
karakter, dan hal yang sama juga bisa diterapkan dalam nonfiksi. Agar karakter –
karakter bisa dipercaya, penulis menggunakan sejumlah metode karakterisasi. Penulis
mungkin secara langsung mengatakan : John memiliki perangai buruk. Atau penulis
mungkin menggunakan tokoh lain untuk mengatakan watak seorang tokoh lain ( saling
memberi tahu satu sama lain ) : Hati – hati dengan John, ujar Sam. Dia memiliki
perangai buruk.
Terutama dalam nonfiksi, cara paling efektif dan dipercaya untuk mengembangkan
sebuah karakter adalah dengan memperlihatkan tindakan-tindakan si tokoh dan
mengutip ucapannya. Baik dalam karya fiksi maupun nonfiksi yang bagus, penulis
akan menggunakan semua tehnik. Tapi menggunakan tehnik memperlihatkan adalah
yang paling penting dan efektif. To show, not to tell. Dan ini paling penting terutama
dalam tulisan nonfiksi.
Cara mengungkap tokoh cerita dan karakter-karakter tergantung pada fokus tulisan
penulis ( sama halnya dengan latar tadi ). Menggunakan contoh polusi, jika ingin
menunjukkan dampak limbah industri, Anda bisa menunjukkan pemilik pabrik pulp
sebagai orang yang tidak peduli lingkungan. Padahal bisa saja si pemilik pabrik pulp
sebenarnya ayah yang penuh kasih dan lembut pada anak – anaknya dan juga suami
yang romantis pada istrinya. Tapi Anda harus mempertimbangkan pengaruh apa yang
ditimbulkan detail ini pada tulisan yang Anda buat.
• Dialog dan Dramatisasi
Memasukkan sebuah percakapan yang utuh antara dua atau lebih orang ( dengan
memotong bagian yang membosankan tentunya ) memperlihatkan bagaimana mereka
berinteraksi. Memberikan pada pembaca keduanya tentang apa yang dikatakan tokoh
dan apa yang membuat si tokoh mengatakannya atau apa yang orang lain katakan
untuk menjawabnya. Juga akan memberikan pandangan yang lebih luas tentang orang
– orang yang terlibat. Dialog yang kontekstual kelihatan lebih riil pada pembaca
daripada potongan kalimat yang terpisah ( meskipun bagian ini juga memiliki
kegunaan sendiri ).
Setiap penggalan dialog atau tindakan perlu dipilih dan ditekankan ( artinya
didramatisi ). Tidak semuanya harus dikatakan atau dilakukan dengan cara yang sama
pentingnya. Gunakan dramatisasi hanya untuk percakapan yang paling signifikan dan
buatlah percakapan itu benar – benar memikat sehingga terus lekat di benak
pembaca.
• Plot
Setiap cerita adalah kejadian yang bergerak, dan plot adalah kejadian yang sengaja
diciptakan penulis. Kilas balik atau flashback ( atau bahkan kejadian di masa depan )
dapat digunakan sama efektifnya dalam karya fiksi maupun nonfiksi.
2.3.1.2 Teknik – Teknik Fiksi Lainnya
Elemen – elemen fiksi di atas adalah bagian yang paling berguna untuk nonfiksi
kreatif. Tetapi sebenarnya setiap teknik fiksi bisa saja digunakan untuk nonfiksi.
 Sudut Pandang
Untuk sudut pandang, bila yang diceritakan adalah mengenai penulis (aku) maka
sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Namun bila yang
digunakan adalah orang lain (dia) maka sudut pandang yang digunakan adalah sudut
pandang orang ke-2.
 Tone (nada cerita)
Tone atau nada cerita adalah alat lainnya yang berguna. Haruskah Anda menulis
dengan nada suara Anda sendiri? Jika anda menulis sesuatu yang bernuansa akademik.
Nada suara yang kedengarannya seperti seorang profesor mungkin akan lebih berhasil
atau mungkin jika anda menginginkan nada suara yang intim. Suara rahasia, untuk
sebuah tulisan rahasia,atau nada suara yang berjarak, obyektif untuk tulisan tentang
hukuman mati, pertimbangkan bagaimana dua kemungkinan ini akan mempengaruhi
nuansa tulisan anda
Sekali lagi, galilah elemen dan teknik – teknik fiksi yang anda pikir bisa berguna untuk
tulisan nonfiksi struktur, jenis prosa, bahasa, metafora, dan semua hal yang bisa
digunakan untuk tulisan nonfiksi kreatif.
Menghidupkan Karya Nonfiksi Anda
Seperti halnya bisa menghidupkan tokoh, latar, dan kejadian, Anda juga bisa
menghidupkan subyek orang, tempat, obyek, atau apapun itu dalam nonfiksi kreatif.
Pinjamlah tehnik fiksi secara imajinatif untuk menulis nonfiksi. Bacalah lebih banyak
novel dan cerpen, amati penggunaan elemen-elemen yang ada di situ, dan jika Anda
menilainya berhasil, cobalah menggunakannya lain kali saat Anda menulis nonfiksi.
Teruslah kreatif dan imajinatif.
BAB III
PENUTUP
Karya sastra dibagi menjadi 2, yaitu : fiksi dan nonfiksi. Nonfiksi juga dibagi dua yaitu
nonfiksi murni dan nonfiksi kreatif. Nonfiksi murni berdasarkan data otentik saja,
tetapi nonfiksi kreatif berdasarkan data otentik yang dikembangkan secara imajinatif.
Bentuk nonfiksi kreatif mempunyai beberapa bentuk yang sering digunakan, yaitu:
esai, sketsa tokoh, sejarah singkat, memoar, buku nonfiksi. Dalam kita membuat esai
kita harus memenuhi urutan yaitu: pengantar, tubuh, dan kesimpulan. Sedangkan
bentuk yang jarang dipakai tapi bukan berarti tidak perlu dibaca yaitu: artikel,
jurnalis, artikel ilmiah, buku-buku referensi, biografi, dan surat. Bentuk itu jarang
digunakan dalam nonfiksi kreatif karena untuk pengembangan kreatifitas didalamnya
sangat terbatas, sehingga bentuk kreatifitasnya sangat sedikit.
Tehnik penulisan nonfiksi kreatif berkesan nyata di kehidupan kita, yang pertama
adalah kita memperhatikan latar yang meliputi tempat, waktu, beserta suasananya.
Kemudian penokohan atau karakterisasi, hal ini penting agar karakter-karakter yang
dimainkan dalam tokoh cerita bisa dipercaya. Lalu dialog dan dramatisasi agar dalam
cerita berkesan real. Kemudian plot agar dapat memperhatikan jalannya cerita dari
awal hingga akhir supaya cerita itu benar – benar riil. Yang terakhir adalah
menghidupkan karya nonfiksi kreatif yang berdasarkan atas imajinatif kita dalam
membuat nonfiksi tersebut agar terlihat nyata.
DAFTAR PUSTAKA
www.wikipwdia-indonesia.org
www.penaindonesia.com
www.google.co.id
Rustamaji,Drs,2007,Buku Paduan Belajar Bahasa Indonesia,Penerbit Primagama.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:728
posted:2/10/2012
language:
pages:11
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl