Docstoc

KESADARAN YANG TERTUNDA

Document Sample
KESADARAN YANG TERTUNDA Powered By Docstoc
					                      KESADARAN YANG TERTUNDA


       Jam dinding menunjukkan pukul 07.00 cuaca yang cerah mendukung
untuk beraktifitas seperti biasanya. Indahnya fatamorgana menghiasi langit yang
biru, matahari memancarkan rona merahnya seakan menyapa semua makhluk
yang ada dibumi. Angin yang bertiup semilir, tetesan embun yang menyejukkan
kalbu menambah indahnya pagi itu dengan ditemani suara kicauan burung-
burung. Hari itu adalah hari-hari yang selalu diimpikan oleh seorang gadis yang
bernama Dini saat ia begini disapa oleh matahari yang merona langit yang cerah
kicauan burung. Ia sangat senang, riang seakan tak ada beban dibekanya.
       Dini tinggal dengan keluarga yang sederhana, hidupnya tak kekurangan
juga tidak berlebih-lebihan, ia menerima apa yang dia punya. Tapi entah kenapa
setiap hari dia merasa ada yang berubah dari diri dan keluarganya. Rumah yang
dulu jarang diwarnai suara keributan, yang dulu ramai dengan keceriaan kini
berubah menjadi suara keributan. Dini tak tau apa yang membuat keluarganya
berubah seperti itu. Dini berusaha mencari tau apa sebab dari keributan itu tanpa
sepengetahuan keluarganya. Ia coba sabar dengan keadaan itu akan tetapi
beberapa hari kedepan keributan itu semakin membuatnya tidak nyaman. Orang
tua yang selalu bertengkar, jerit tangis adiknya yang masih kecil. Pecahan
perabotan keluarga, berteteran dimana-mana. Dalam benaknya ia berkata “tak
semestinya ini semua terjadi”.
       Dini berusaha sabar menghadapi perilaku ayahnya yang tak tau mengapa
bisa berubah 180o yang dulu penyayang, sabar kini jadi bertingkah brutal. Apa
lagi tiap kali ibunya meminta uang untuk masak disitu pula awal setiap
pertengkaran terjadi. Keributan yang hanya didengarnya setiap hari.
       Pagi hari tiba Dini mulai membantu pekerjaan orang tuanya menyapu, cuci
piring, cuci pakaian menjadi pekerjaan yang tak boleh ia tinggalkan. Saat ia
menyapu halaman rumahnya tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumahnya
“pyar” …. Dini terbengong sambil mendengar suara itu dalam benaknya ia
berkata “Apa yang terjadi?” kerusuhan apalagi yang dibuat oleh ayahku. “Tak
menunggu lama ia bergegas meletakkan sapunya dan segera lari ke dalam rumah.
Didapatnya pecahan-pecahan piring dan perabot keluarga berserakan di lantai. Ia
tau apa yang sebenarnya telah terjadi, tak ada suara ribut, tak ada suara
percekcokan seperti biasanya yang sering ayah dan ibunya ributkan tapi kenapa
ada pecahan piring sebanyak itu dilantai. Dini tak habis pikir tentang semua itu.
Dia coba keluar dari rumah tak ada tanda-tanda orang masuk rumahnya, ia coba
cari ke semua ruangan, apakah ada binatang yang masuk tapi tak ada tanda-tanda
juga.
        Sampai akhirnya didapatinya suara tangis seorang perempuan tengah baya
yang tersengal-sengal tak taunya itu ibunya yang sedang menangis dikamarnya.
Dini semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi. Ia mulai mendekati ibunya
dengan wajah sayup dan air mata yang hampir menetes dipipinya ia beranikan diri
untuk bertanya pada ibunya. “Apa yang sebenarnya terjadi bu?” Kenapa ibu
menangis?” tak kuasa melihat ibuya menangis, Dini mulai meneteskan air
matanya. Dia pegang tangan ibunya tangan ibunya, ia usap air mata ibunya tapui
ibunya tetap saja meneteskan air mata. Menatap anaknya yang ikut meneteskan air
mata. Ibu langsung memeluk Dini dengan erat, entah ada satu kata panjang keluar
dari bibirnya hanya luapan air mata yang keluar dari matanya. Dini berusaha
menenangkan ibuya, ia kembali bertanya kenapa ibunya menangis. Dengan suara
lembutnya, ibu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Saat ibunya
hendak masuk kamar ia memergoki ayahnya telah menggeledah semua isi almari
hingga akhirnya ayahnya menemukan kotak penyimpanan perhiasan yang dimiliki
ibunya dan sejumlah uang tabungan untuk melanjutkan sekolah Dini tapi semua
itu langsung diambil begitu saja oleh ayahnya dan dibawa lari, ibu berusaha
mengejar ayahnya tapi tak juga berhasil lari terburu-buru karena takut hingga
menabrak meja dengan tumpukan piring-piring.
        Itu yang membuat ibuya menangis, uang dan tabungan yang akan
digunakan untuk Dini melanjutkan SMA nanti kini raib dibawah pergi ayahnya.
Ibunya tak tahu untuk apa ayahnya mengambilnya secara diam-diam. Mendengar
cerita ibunya yang begitu pilu Dini berusaha mencari tahu apa yang dilakukan
hingga bertingkah laku yang tak semestinya.
       Malam cerah bertabur bintang dan suar jangkrik menambah indahnya
malam. Akan tetapi suasana malam itu tak seindah suasana hati Dini yang begitu
terpukul   dengan   sikap   orangtuanya    terutama   ayah   yang   dulu   begitu
menyayanginya kini tak lagi memperdulikannya. Selimut dan kamarnya menjadi
saksi bisunya betapa sakit hatinya, malam itu.
       Dengan langkah yang tak pasti, Dini memberanikan diri untuk meminta
uang bayaran pada ayahnya. Meskipun ia tau kalau ayahnya tak memiliki uang
karena sudah lalu bulan berhenti bekerja. Ia tau kalau ia tak mungkin dikasih tapi
apa boleh buat SPP harus segera ia lunasi untuk syarat ikut ujian. Ia juga sudah
menduga ayahnya akan sangat marah padanya tapi apa boleh buat mau tidak mau
ia harus segera melunasinya. Ia beranikan bicara pada ayahnya, akan tetapi “dug
….” Kepala Dini dibenturkan ke dinding oleh ayahnya, darah langsung menetes
dari hidungnya “Ayah ….” Kenaa dia setega itu denganku, tanyanya dalam hati.
       Ibu menyuruh ia membeli sayur diwarung meskipun dengan uang pas ia
belikan sedapatnya. Di tengah perjalannya ia menghirup bau minuman keras yang
sangat tajam, semakin ia menambah langkahnya bau itu semakin tercium tajam.
Mulai didekatnya sebuah rumah tua dekat perempuan jalan menuju warung itu.
Rumah yang tampak usang tak terurus, gelap yang ia curigai ada minuman keras
itu memang jarang dijamah orang dan sudah lama ditinggal penghuninya. Tapi tak
mungkin juga kalau didalamnya ada orang, katanya dalam hati.
       Di urungkan niatnya untuk memasuki rumah itu, segera ia berbalik arah
melanjutkan langkahnya ke warung. Tapi suara gaduh terdengar di telinganya ia
rasa suara itu berasal dari rumah itu. Ia beranikan memasuki rumah itu. Tak
disangka rumah itu penuh dengan botol-botol minuman keras, kartu domino,
bungkus makanan kecil, kulit kacang berserakan dimana-mana. Merasa penasaran
ia memasuki ruangan-ruangan di dalam rumah itu, didapati beberapa orang laki-
laki tua sedang bersuka ria dengan botol minumnya dan kartu domino
ditangannya. Terkejut lagi ia melihat ayahnya bersama perkumpulan itu. Tetesan
air mata tak dapat terbendung ketika ia melihat apa yang ada dihadapannya, ayah
yang selama ini ia banggakan ternyata berubah menjadi brutal.
       Dengan pipi berlinang air mata ia berlari ke rumah dan menemui ibunya.
Ia ceritakan apa yang ia lihat dirumah tua itu. Apa yang selama ini ibunya
takutkan ternyata menjadi kenyataan. Selama ini hartanya semakin habis, hingga
berani mengambil uang tabungan diam-diam hanya untuk mabuk-mabukan dan
berjudi.
       Setelah semua kebenaran itu terungkap dan keluarganya menjadi jauh dari
kesederhanaan. Ayahnya kembali berubah menjadi tidak pemabuk dan penjudi
lagi tetapi kini terbaring di tempat tidur karena sakit akibat minuman keras.
       Waktu kelulusan Dini tiba tapi kini dia terpaksa tak melanjutkan
sekolahnya lagi uang tabungan untuk SMA ludes untuk judi ayahnya. Melihat
anaknya tidak dapat melanjutkan sekolah ayahnya merasa iba karena
perbuatannya anaknya tidak bisa bersekolah.
       Keesok harinya ayahnya memutuskan untuk bekerja seperti dulu agar bisa
menebus kesalahan pada anaknya. Meskipun masih dalam keadaan sakit. Akan
tetapi ayah Dini tetap bersikukuh untuk bekerja. Ayahnya berusaha mencari yang
dengan ikut bekerja sebagai kuli bangunan.
       Hari berikutnya ayah Dini bekerja sebagai kuli angkat semen, ambil pasir,
batu dan lain-lain. Siangnya ia kecapeka dan memutuskan untuk istirahat sejenak
dan tidur didekat masjid tapi setelah satu jam lebih ditunggu teman-temannya
bekerja tapi tidak kunjung bangun ternyata istirahatnya itu menjadi istirahatnya
yang terakhir dan untuk selamanya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4
posted:2/9/2012
language:Indonesian
pages:4