Docstoc

Theory Of Constraints Thinking Process

Document Sample
Theory Of Constraints Thinking Process Powered By Docstoc
					                                      BAB II

                            TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Theory Of Constraints


          Theory of Constraints (TOC) adalah suatu konsep yang dikembangkan

oleh Dr. Eliyahu goldratt. TOC adalah suatu konsep manajemen yang memandang

bahwa kinerja terbaik dari suatu sistem, termasuk di dalamnya perusahaan, hanya

akan tercapai apabila sistem dikelola sedemikian rupa sehingga kendala

(constraints) yang ada termanfaatkan secara optimal.

          Konsep TOC meyakini bahwa dalam setiap sistem setidaknya ada satu

atau beberapa faktor utama yang membatasi kinerja sistem tersebut, faktor-faktor

ini yang disebut dengan constraints atau kendala dari sistem. Ada tiga kategori

dari constraint yaitu physical (fisik), policy (kebijakan) dan paradigm

(paradigma). Physical constraint adalah kendala yang terwujud secara nyata, yang

membatasi sistem dari peningkatan hasil akhir. Policy constraint adalah kebijakan

(aturan dan pengukuran yang menghambat kemampuan sistem ntuk mencapai

kinerja optimal. Paradigm constraint adalah keyakinan atau asumsi yang

menghambat kemampuan sistem untuk berkembang.

          Dr. Goldratt mengenalkan lima langkah perbaikan berkelanjutan (five

focusing steps), yang berfokus pada pengendalian constraint. Five focusing steps

tersebut adalah (Scheinkopf 1999,17) :

Step 1.    Identity the system’s constraint(s).
           Mengidentifikasi constraint dari sistem berarti menentukan juga dimana

           constraint dari sistem itu berada.

Step 2.    Decide how to exploit the system’s constraint(s).

           Menentukan bagaimana memanfaatkan constraint tersebut secara

           optimal untuk tetap mencapai tujuan semaksimal mungkin.

Step 3.    Subordinate everything else to the decisions made in steps one and

             two.

           Memastikan bagian lain dari organisasi sejalan dengan keputusan untuk

           memanfaatkan constraint tersebut.

Step 4.    Elevate the system’s constraint(s).

           Meningkatkan kapasitas dari sumber daya yang terbatas tersebut,

           sehingga memungkinkan sistem mencapai kinerja melebihi kondisi

           optimal saat ini.

Step 5.    Don’t allow inertia to be the system’s constraint(s). When constraint

           has been broken, go back to step one.

           Setelah sumber daya yang semula menjadi constraint ditingkatkan, maka

           kondisi sistem telah berubah dan faktor yang menjadi constraint juga

           mungkin berubah. Oleh karena itu perlu kembali ke langkah awal yaitu

           mengidentifikasi constraint dari sistem.


          Dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan constraints, perlu dilakukan

penyelarasan terhadap kebijakan dan paradigma yang terkait. Jika suatu physical

constraint dioptimalkan tanpa perubahan dari kebijakan dan paradigma yang

terkait, maka sistem tidak akan mencapai kinerja maksimal.
II.2 Proses Berpikir TOC


       Pada dasarnya TOC adalah cara memahami sistem secara common sense.

Goldratt mendesain “proses berpikir’ untuk menjawab tiga pertanyaan berikut:

 What to change?

 What to change to?

 How to cause the change?

       TOC Thinking Process adalah endekatan yang memungkinkan seseorang

menciptaan dan menerapkan perubahan secara sistematik, sehingga terjadi

perbaikan untuk mencapai tujuan (goal). Untuk mengaplikasikan proses berpikir

ini Goldratt mendesain alat-alat aplikasi yang dapat membantu menemukan

permasalahan didalam sistem. Alat aplikasi tersebut adalah lima diagram pohon

yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu Sufficient Cause dan Necessary Condition

(Scheinkopf 1999, 6):

    The Sufficient Cause Application     The Necessary Condition Application
                  Tools                                  Tools
   o Current Reality Tree (CRT)         o Evaporating Cloud (EC)

   o Future Reallity Tree (FRT)         o Prerequisite Tree (PRT)

   o Transition Tree (TT)
1. Sufficient Cause

         Sufficient Cause menggunakan pola berpikir akibat-sebab-akibat (effect-

cause-effect). Diagram sufficient cause mempunyai karakteristik dan terminologi

khusus. Terdapat tujuh buah bagian yang unik dari diagram sufficient cause

(Scheinkopf 1999, 36):

Entity

         Entity adalah elemen tunggal dari sistem, dan penulisannya berupa

pernyataan yang lengkap.


                D adalah akibat
                dari B dan C
                                         D
                                                              And-connector
 B adalah akibat
 dari A                    B                              C
                                                         Entry point
                                           Arrow         (Injection)
 A adalah sebab
 dari B                    A              Entity



Gambar 2.1 Diagram Sufficient Cause


Arrow

         Arrow adalah indikator dari hubungan antara dua buah entity. Entity pada

pangkal arroe adalah cause, sedangkan pada ujung arrow adalah effect. Pada

arrow tersebut teletak asumsi.


Cause
         Sebuah entity atau sekelompok yang tergabung oleh and-connector yang

dibuat menjadi ada, akan menyebabkan entity lain ada.


And-connector

         And-connector adalah sebuah elips yang menggabung beberapa entity dan

menunjukkan logika AND. Setiap entity pada pangkal arrow yang digabungkan

oleh and-connector harus ada pada sistem agar entity pada ujung arroew menjadi

ada sebagai effect dari para entity tersebut.

Effect

         Sebuah effect adalah entity yang menjadi ada sebagai hasil yang tidak

dapat dihindarkan dari cause. Hal ini juga menunjukkan sebagai konsekuensi.


Assumption

         Sebuah assumption adalah asumsi/alasan untuk keberadaan dari hubungan

cause-effect. Assumption menceritakan yang dibawah arrow apakah benar atau

salah.    Arrow    tidak   akan    menunjukkan     apa-apa    apabila   assumption

disembunyikan.


Entry Point

         Entry point adalah setiap entry yang tidak ditunjuk oleh arrow. Entry point

digambarkan dengan kotak dengan sudut-sudut melengkung yang diasumsikan

untuk ada dalam kenyataan saat ini. Entry point yang berbentuk kotak persegi

adalah entity yang belum muncul dan disebut sebagai injection.


2. Necessary Condition
         Necessary Condition adalah pola berpikir yang digunakan saat berpikir

dalam terminologi tentang syarat-syarat. Terminologi tersebut seperti must, must

not, cannot, need, dan have adalah indikator berpikir dari kondisi dibutuhkan.

Setiap diagram necessary condition terdiri dari elemen-elemen berikut ini

(Scheinkopf 1999, 71) :


Entity

         Entity adalah elemen tunggal dari sistem. Meskipun dalam proses

sufficient cause sebuah entity harus ditulis dalam pernyataan yang lengkap, tetapi

hal ini tidak dibutuhkan dalam diagram necessary condition.




                                     A

 B adalah
 necessary                                                        C adalah
                       B                               C          necessary
 condition
 untuk A                                                          condition
                                       Arrow                      untuk A
 D adalah
 necessary            D               Entity
 condition
 untuk B

Gambar 2.2 Diagram Necessary Condition


Arrow

         Arrow adalah indikator dan hubungan antara dua buah entity. Entity pada

pangkal arrow adalah necessary condition, sedangkan pacta ujung arrow adalah

objective.
Necessary Condition

       Sebuah entity adalah necessary condition jika dipertimbangkan benar-

benar diperlukan oleh entity lain (objective) untuk ada atau diperbolehkan untuk

ada. Necessary condition berada di pangkal dari sebuah arrow.


Objective

       Suatu entity merupakan objective jika merupakan pemikiran dimana entity

ini tidak dapat ada sampai entity lain yaitu necessary condition benar-benar ada.

Objective berada di ujung dari arrow.




       A adalah objective
       dari B dan juga                  A
       objective dari C

 B adalah
 objective            B                                C
 dari D



                      D


Gambar 2.3 Objective.


Assumption

       Sebuah assumption adalah asumsi/alasan untuk keberadaan dari hubungan

necessary condition, yaitu alasan mengapa sebuah entity dibutuhkan untuk
menciptakan yang lain ada. Assumption menceritakan yang di bawah arrow

apakah benar atau salah. Arrow tidak akan menunjukkan apa-apa apabila

assumption disembunyikan.


 B harus ada di sistem
 agar A ada juga di sistem              A               C harus ada di sistem
 karena adanya asumsi                                   agar A ada juga di sistem
                                                        karena adanya asumsi

                        B                                   C


                                     D harus ada di sistem
                      D              agar B ada juga di sistem
                                     karena adanya asumsi


Gambar 2.4 Assumption.


       Selain   kedua       proses   berpikir   tersebut,   TOC   Thinking    Process

menyediakan metodologi untuk melakukan pengujian terhadap klaim proses

berpikir Sufficient Cause menggunakan seperangkai alat yang disebut Categories

of LegitimateReservation (CLR). CLR dibagi dalam dua level reservasi. yaitu :


1. Level One Reservations

   Entity Existence

       Reservasi Entity Existence digunakan untuk melakukan verifikasi apakah

   entity tersebut benar-benar ada.



                Effect                      ?
                                            Mempertanyakan
                                            keberadaan dari
                                            entity

                Cause                       ?
Gambar 2.5 Entity Existence.


Causality Existence

   Reservasi    Causality   Existence    digunakan    ketika mempertanyakan

hubungan sebab-akibat. Apakah benar cause berdampak kepada effect

tersebut, atau apakah benar effect tersebut adalah benar akibat dari cause ?




            Effect

                                      Mempertanyakan
                                 ?    keberadaan dari
                                      hubungan sebab-akibat
           Cause



Gambar 2.5 Causality Existence.


Clarity

   Reservasi Clarity digunakan ketika mempertanyakan kejelasan dari

diagram tersebut, sehingga membuat lebih lengkap tentang pemahaman




               Effect

                                          Mempertanyakan
                                     ?    kejelasan
   diagram tersebut.




   Gambar 2.6 Clarity.


2. Level Two Reservations

   Additional Cause

      Reservasi Additional Cause digunakan ketika diperkirakan ada penyebab

   lain yang menimbulkan effect tersebut.




                                            Apakah ada
                  Effect                    penyebab lain?

                                                      ?
                  Cause                  New
                                        Cause

   Gambar 2.6 Additional Cause.


   Insufficient Cause

      Reservasi Insufficient Cause digunakan ketika mengidentifikasi satu atau

   lebih entity lainnya yang harus ada untuk terjadnya effect tersebut.
                                                   Memperkirakan
       Effect (hanya dapat ada                     kebutuhan dari
                                                   kombinasi antara
       sebagai hasil dari kedua                    penyebab yang
       penyebab bersama-sama)                      ada

                                                       ?
                               and

                     Cause                New
                                         Cause

Gambar 2.7 Insufficient Cause.


Predicted Effect

   Reservasi Predicted Effect digunakan untuk pengujian terhadap entity

yang ada, khususnya ketika berupa entity yang intangible (tidak tampak) dan

susah untuk diverifikasi secara fisik. Apakah cause tersebut menyebabkan

effect yang lain. Sehingga dapat digunakan untuk kebenaran dari hubungan

sebab-akibat (cause-effect).


                                          Pengujian terhadap
      Effect               New            cause dan/atau effect
                           Effect         yang ada dengan
                                          memprediksi effect
                                          tambahan yang juga
                                          harus sebagai hasil
                                          dari cause
      Cause                          ?

Gambar 2.8 Predicted Effect.


   TOC Thinking Process menggunakan kelima application tools dalam
   menganalisa sistem atau situasi untuk mengidentifikasi permasalahan utama,

   menembangkan      pemecahannya     dan   mendeterminasi    bagaimana     cara

   menerapkan pemecahan tersebut. Kelima application tools tersebut digunakan

   dalam analisa menyeluruh untuk menjawab ketiga pertanyaan change.




                                    Current Reality
                  What to                Tree
                  Change?

                                  Evaporating Cloud


                 To What to       Future Reality Tree
                  Change?


                                   Prerequisite Tree

                How to Cause
                The Change?         Transition Tree



   Gambar 2.9 Change Questions dan Five Application Tools.



1. What to Change ?

       Langkah pertama dalam proses perbaikan adalah bagaimana menentukan

what to change ? Perbaikan memerlukan perubahan, tetapi perubahan tidak selalu

menghasilkan perbaikan. Perubahan untuk perbaikan hanya akan berhasil jika

berfokus pada elemen yang benar untuk diubah. Jika kita melihat sistem sebagai

suatu untaian rantai, maka kekuatan dari untaian rantai tersebut ditentukan oleh

mata rantai yang terlemah. Jika mata rantai yang terlemah dikuatkan, maka
perubahan adalah perbaikan. Jika bukan yang terlemah dikuatkan, maka

perubahan tidak menghasilkan perbaikan.

       Current Reality Tree (CRT) digunakan untuk mengidentifikasi penyebab

utama (root cause) dengan membuka pikiran tentang hubungan sebab akibat

antara gejala yang tidak diinginkan dalam suatu organisasi. Membangun Current

Reality Tree (CRT) dilakukan dengan proses sebagai berikut:

1. Menentukan ruang lingkup dar analisis.

2. Mengkonstruksi daftar dari akibat yang tidk diinginkan (pertinent entity) atau

   yang disebut undesireable effect (UDE), yaitu berupa gejala salah fungsi atau

   kebiasaan.

3. Mencari hubungan sebab akibat antara UDE dengan kemungkinan kasus-

   kasusnya.

4. Mengidentifikasi, menyaring dan mengaudit (‘so what test’) hubungan sebab

   akibat tersebut dengan sejumlah aturan dalam Categories of Legitimate

   Reservation (CLR). CLR ini digunakan untuk mencari apakah logikanya

   masuk akal.

   i. Clarity : Apakah arti konteks dari kata-kata yang menjabarkan UDE tidak

       ada kerancuan

   ii. Entity Existence : Apakah UDE benar-benar muncul?

   iii. Causality : Apakah hubungan sebab akibat masuk akal?

   iv. Cause Insufficiency : Apakah sebab sudah cukup menerangkan akibat?

       Mungkin akibat mempunyai tambahan sebab.

   v. Additional Cause : Apakah UDE hanya satu-satunya penyebab?
   vi. Predicted Effect : Apakah ada hasil lainnya yang muncul tak terelakan

       dalam tambahan akibat penyataan UDE?


5. Mengidentifikasi kendala utama dengan menelusuri menggunakan logika IF-

   THEN sampai tinggla sedikit kendala utamanya. Konflik akan terjadi dari

   perbedaan perspektif mengenai apa sebenarnya yang menjadi permaslahan

   utama. Apabila setelah ditelusuri penyebab tersebut mempengaruhi sedikitnya

   80% dari UDE. Maka penyebab tersebut kemungkinan besar adalah yang

   menjadi penyebab utama.

       Diagram Current Reality Tree (CRT) adalah sebagai berikut (Scheinkopf

1999, 163):
   Re-selected                                      Re-selected
    Pertinent                                        Pertinent
    Entity #1                                        Entity #6




                   Re-selected      Entry point     Re-selected
                    Pertinent           D            Pertinent
                    Entity #2                        Entity #5



                                                                                         Entry point
                   Entry point                                                               H
                       C
                                                                           Entry point
                                                                               G


                                               Entry point
                                                   E
                                                               Re-selected
                                                                Pertinent
                                                                Entity #4


 Entry point     Re-selected     Entry point
     A            Pertinent          B
                  Entity #3                                  Entry point
                                                                 F




Gambar 2.10 Diagram Current Reality Tree (CRT).


        Dari diagram CRT ditelusuri penyebab utamanya menggunakan tabel

seperti berikut (Scheinkopf 1999, 163):
Tabel 2.1 Mencari Penyebab Utama

                                                    % dari
        1    2     3     4     5     6      Total
                                                      6
 A      x     -     -    -     -     -       1       17%

 B      x    x      -    -     -     -       3       50%

 C      x    x      -    -     -     -       2       33%

 D      -     -     -    -     -     -       0       0%

 E      x    x      -    x     x     x       5       83%

 F      -     -     -    x     x     x       3       50%

 G      -     -     -    -     -     -       0       0%

 H      -     -     -    -     -     -       0       0%



Dari contoh diatas, maka Entity E adalah yang dipilih sebagai penyebab utama.


2. To What to Change ?

        Langkah berikutnya adalah menjabarkan what to change to? Stelah root

cause sudah diidentifikasi, berikutnya adalah mengembangkan solusi secara

sederhana dengan mengeliminasi kendala utama. Dengan menggunakan

Evaporating Cloud (EC) akan membantu mencari solusi dengan menarik asumsi

yang berlawanan. Membangun Evaporating Cloud (EC) dilakukan dengan proses

sebagi berikut:

1. Memikirkan permasalahan dan menggambar diagram cloud.

2. Untuk setiap arrow adalah membuka asumsi dan mengidentifikasisolusi

     potensial dengan menggunakan necessary condition thinking process.

3. Memilih injection yang akan diterapkan
       Diagram Evaporating Cloud (EC) dapat dilihat pada diagram berikut ini

(Scheinkopf 1999, 174):




                                    B                          D
                               requirement                prerequisite


         A
                                        injection
      objective                                       conflict

                                    C                          D’
                               requirement                prerequisite




Gambar 2.11 Diagram Evaporating Cloud (EC).



       Konstruksi dari EC dimulai dengan menentukan prerequisite D’ yang

merupakan lawan dari rot cause yang teridentifikasi pada CRT. Kemudian dari

prerequisite (D dan D’) yang merupakan necessary condition untuk membuat

requirement (B dan C). Requirement (Bdan C) ini adalah merupakan necessary

condition untuk mencapai objective A.

       Untuk mencapai objective A harus ada requirement B dan C. Untuk

mendapatkan requirement B harus ada prerequisite D. Tetapi untuk mendapatkan

requirement C harus ada juga prerequisite D’, sedangkan kedua prerequisite

Ddan D’ adalah konflik, sehingga objective Akelihatannya tidak dapat

dicapai.Pemecahan dari konflik membutuhkan penghilangan asumsi dari
necessary condition berupa penutupan dan penolakan. Solsi yang membuat tidak

berlakunya asumsi tersebut disebut dengan injection.

       EC membantu untuk menentukan initial injection yang dibutuhkan untuk

menciptakan sistem dimasa yang akan datang dengan menimbulkan effect sesuai

dengan yang diinginkan. Untuk membuat sistem yang akan datang digunakan tool

Future Reality Tree (FRT).

       Future Reality Tree (FRT) adalah diagram sufficient cause yang berisi

empat elemen khusus:

A. Injection adalah selalu entry point untuk masuk ke diagram. Injection ini tidak

   ada pada CRT dan digambarkan dengan kotak persegi.

B. Entity adalah kondisi yang ada pada CRT. Pada FRT, entity ini biasanya akan

   menjadi entry point dan secara khusus tidak ada pada batang diagram.

C. Entity yang tidak ada pada CRT. Ketika entity yang dikombinasikan dengan

   injection maka akan menimbulka entity lain pada masa yang akan datang.

D. Reinforcing loop seringkali dipasang pada FRT, hal ini untuk menciptakan

   pola yang stabil dan perbaikan terus menerus.

       Proses membuat FRT terdiri dari tiga langkah:

   1. Mendefinisikan dasar untuk diagram dengan mendefinisikan injection

       (ide) dan memerinci pro dan kontra dari injection.

   2. Menjabarkan      hubungan    akibat-sebab-akibat      dengan   menggunakan

       sufficient cause thinking lalu menghubungkan injection dengan objctive.

       Mencari dan mencegah potensial konsekuensi yang tidak diharapkan dari

       injection.
   3. Mengembangkan solusi dengan memprediksi akibat tambahan dan

       menambahkan reinforcing loop.

       Diagram Future Reality Tree (FRT) dapat dilihat pada diagram berikut ini

(Scheinkopf 1999, 122):



                                                                 C
                                                              Objective
                                                              yang lain




                    B                               8                     7
                Salah satu                        Akibat              Injection
                Objective                         dari 3             tambahan




               6                               3
           Akibat dari                       Akibat
            4 dan 5                          dari 2



        5                   4                  2
    Injection             Akibat           Akibat dari
   tambahan               dari 1            A dan 1




                                  1                   A
                             Entity yang           Initial
                              ada pada            Injection
                                CRT


Gambar 2.12 Diagram Future Reality Tree (FRT).
3. How to Cause the Change ?

          Langkah terakhir dalam TOC Thinking Process adalah penerapan dari

penyelesaian masalah. Kesuksesan tergantung kepada pemahaman dan dukungan

dalam process perbaikan melalui penerapan proses perubahan. Dalam proses

penerapan perubahan tersebut mungkin terjadi hambatan . Prerequisite Tree

(PRT) adalah tool yang digunakan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan

tersebut dan menyusun serangkaian intermediate objective untuk mengatasinya.

Kemudian merencanakan action plan yang terdaoat pada Transition Tree (TT).

          Prerequisite Tree (PRT) adalah diagram yang menggambarkan hubungan

necessary condition yang termasuk dalam pencapaian tujuan. Entity dalam PRT

adalah:

A. Objective adalah entity yang menggambarkan tujuan dari prerequisite tree.

B. Intermediate Objective adalah entity yang menggambarkan acuan yang harus

   disempurnakan untuk mencapai objective.

C. Obstacle adalah entity saat ini yang menghalangi pencapaian intermediate

   objective atau objective.

          Proses membat prerequisite tree (PRT) terdiri dari empat langkah:

   1.      Mendefinisikan tujuan untuk PRT dengan menyusun dasar pemikiran dan

           mendefinisikan objective untuk PRT

   2.      Merinci obstacle yang menghambat untuk mencapai setiap objective dan

           intermediate objective.

   3.      Memetakan penerapan dari intermediate objective.

   4.      Menerapkan masing-masing intermediate objective melalui pendekatan
         yang ada serta memilih untuk perencanaan action plan.

        Diagram PRT dapat dilihat pada diagram berikut ini (Scheinkopf 1999,

212):
                            A
                         Objective




             Obstacle     Obstacle     Obstacle


           5                 6                  7                 C
     Intermediate       Intermediate      Intermediate         Objective
       Objective          Objective         Objective


                          Obstacle          Obstacle           Obstacle


                             3                 B                   4
                        Intermediate        Objective        Intermediate
                          Objective                            Objective


                          Obstacle            Obstacle       Obstacle


                             1                            2
                        Intermediate                Intermediate
                          Objective                   Objective



Gambar 2.13 Diagram Prerequisite Tree (PRT).



       Transition Tree (TT) adalah diagram sufficient cause yan dignakan untuk

menciptakan action plan. Entity dalam TT adalah:

A. Injection adalah actions. Injection disini adalah sesuatu yang khusus dilakukan

   untuk mewujudkan hasil perencanaan.
B. Entity yang ada dalam kenyataan sekarang adalah sebagai jalan masuk ke

   diagram. Situasi sekarang harus diperhitungkan ketika mengembangkan setiap

   action plan.

C. Entity yang akan ada dimasa mendatang adalah hasil (akibat) dari kombinasi

   dari penerapan action, kehadiran kondisi saat ini serta dimasa mendatang.

   Semua tercakup dengan menggunakan and-connector.

D. Objective dari action plan adalah mencapai hasil dari kondisi yang diciptakan

   apabila menerapkan action.

       Proses membuat transition tree (TT) terdiri dari empat langkah:

1. Menentukan ruang lingkup dari transition tree (TT) dengan memastikan

   pemikiran untuk TT, mendefinisikan objective dari TT, menguraikan dengan

   kata-kata mengenai titik awal, dan memutuskan tindakan yang diambil untuk

   membawa ke arah pencapaian objective.

2. Menghubungkan initial action samapai objective dengan menggunakan

   sufficient cause thinking process.

3. Mencari dan mencegah konsekuensi yang tidak diharapkan.

4. Menerapakan rencana.


       Diagaram Transition Tree (TT) dapat dilihat pada diagram berikut ini

(Scheinkopf 1999, 86):
                Transition Tree :
                Apa yang secara nyata dilakukan dalam rangka pencapaian
                dari starting point sampai objective dan kenapa?




                                           Objective :
                                           Posisi yang
                                           diinginkan setelah
D       D                                  rencana diterapkan




        C          A




B       C          A




B       C




    B       A
Gambar 2.14 Diagram Transition Tree (TT).




Alat-alat ini digunakan untuk mengetahui hubungan dari undesired effect (UDE),

desired effect (DE) dan akar masalah yang melatari suatu sistem.



      Current                  Cloud                  Future
      reality                                         reality


What to change?                         What to change to?



                Prerequisite            Trantition           Action!
                    tree                   tree


Gambar 2.1 Proses berpikir Goldratt menuntun dari undesired effect, melalui
inti masalah, kepada implementasi yang sukses.


II.2.1 Current Reallity Tree


       Current-reallity tree (CRT) adalah model logika dari efek-sebab-efek dari

suatu sistem yang menghubungkan inti masalah kepada sekumpulan undesired

effect (UDE). Menghubungkan seluruh UDE dalam sistem kepada satu konflik

inti yang berfokus pada leverage point sistem, mengidentifikasi apa yang harus

berubah. Current-reality tree mengantarkan pada persetujuan tim proyek akan

hubungan efek-sebab-efek yang menyebabkan undesired effect sistem. Dalam kata
lain, CRT mengantarkan pada persamaan pendapat akan masalah yang

sesungguhnya. Current-reality tree mengidentifikasi kebijakan, pengukuran, dan

tingkah laku yang memberikan kontribusi pada realita saat ini.




II.2.2 Evaporating Cloud

       Evaporating    cloud   dan   garis      pedoman   untuk   komunikasi     dan

penggunaanya menjelaskan dan membantu penyelesaian konflik dan dilema. Ini

merupakan hubungan logis yang menggambarkan “Untuk mendapatkan X, anda

harus mempunyai Y”. Evaporating cloud merupakan alat yang bagus untuk

menggali keyakinan yang tidak disadari atau mindset yang menyebabkan konflik

atau dilema. Bagan dibawah ini menggambarkan secara umum evapoarating

cloud dalam hubungan keyakinan (beliefs) dan tindakan (action).




                                       B                            D
                                    Belief 1                 Action suggested
                                                                by belief 1
        A
    Common Goal

                                       C                            D’
                                    Belief 2                 Action suggested
                                                                by belief 2


Gambar 2.2     Evaporating cloud menyediakan cara untuk memecahkan konflik
dan dilema.
         Bagan ini menggambarkan dua cara pandang akan suatu realita atau dua

argumentasi. Anggap D dan D’ sebagai dua pendapat awal yang mengalami

konflik dalam cara mencapai tujuan. Salah satu argumen adalah: ”Untuk

mendapatkan A, saya harus mempunyai B. Untuk mendapatkan B, saya harus

mempunyai D.” Argumen yang lain adalah: “Untuk mendapatkan A, saya harus

mempunyai C. Untuk mendapatkan C, saya harus mempunyai D’.” Ini

menunjukkan, bahkan dengan tujuan yang umum pun, akan terdapat dua cara

logis untuk mencapainya. Kedua keyakinan (beliefs) mungkin sesuai atau

mungkin juga tidak. Tindakan (action), tidaklah sesuai. Jika sesuai, tidak akan ada

konflik.


II.2.3 Future Reality Tree


         Future reality tree (FRT) menjelaskan sistem yang ’ingin anda ubah

menjadi’ (want to change to). Sistem FRT mengubah semua undesired effect

(UDE) dari realita saat ini menjadi desired effect (DE). Sistem FRT

mengidentifikasi perubahan yang harus anda buat di realita saat ini untuk

menyebabkan desired effect dan menyediakan logika efek-sebab-efek dari

perubahan tersebut kepada desired effect. Future reality tree mengidentifikasi

timbal balik yang dibutuhkan untuk memelihara realita masa depan setelah

tindakan dilakukan. FRT menghasilkan output berupa masukan (injection) yang

dapat membuat realita masa depan terjadi.


II.2.4     Negative Branch
         Negative branch (NBR) membantu diagnosa dan resolusi suatu undesired

effect. Ini merupakan alat untuk mengidentifkasi dan mengeliminasi atau

memperbaiki potensi konsekwensi yang tidak diperkirakan dari perubahan yang

anda buat didalam sistem. Ini adalah cabang yang menghubungkan suatu efek

yang diketahui kepada undesired effect. Saat digunakan dalam proses berpikir,

NBR dimulai dengan membuat asumsi salah satu masukan FRT sukses

diterapkan. Bagan NBR dibaca dari bawah ke atas menggunakan pernyataan logis

IF-THEN.




II.2.5   Prerequisite Tree


         Prerequisite tree (PRT) dapat disebut sebagai yang terpenting didalam

paket proses berpikir ini. Ini adalah bagan yang akan membantu kita mengatasi

penghambat yang menghentikan pelaksanaan rencana. Ini juga merupakan bagan

yang sebenarnya menjadi rencana untuk diimplementasikan. PRT merupakan

bagan fasa-waktu akan efek yang harus ditimbulkan agar menghasilkan FRT yang

diinginkan. Bagan ini mesinkronisasi rencana logis untuk mencapai sasaran tim

dengan membuat sasaran-sasaran jangka pendek yang dibutuhkan, seperti

masukan di FRT, untuk mencapai sasaran yang lebih tinggi. Dengan demikian

akan membuat orang dapat menggunakan kemampuan alaminya untuk mendeteksi

penghambat dalam mencapai sasaran dan membuat urutan rencana logis unuk
mengatasi semua penghambat. Bagan PRT dibaca dari atas ke bawah,

menggunakan logika “Untuk mendapatkan X, kita harus mempunyai Y”.


II.2.6 Transition Tree


       Transition tree (TT) menyediakan instruksi yang jelas dalam melakukan

tindakan (action) untuk mencapai sasaran yang dijabarkan dalam PRT. Ini adalah

cara yang logis untuk menuliskan prosedur yang efektif. Transition tree (TT)

menjelaskan tindakan, alasan mengapa tindakan diperlukan, hasil yang diharapkan

dari tindakan, logika dalam mengharapkan tindakan menghasilkan hal yang

diinginkan, dan logika urutan tindakan. Bagan TT dibaca dari bawah ke atas,

menggunakan pernyataan logis IF-THEN.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:221
posted:2/9/2012
language:Malay
pages:30
Description: Identity the system’s constraint(s) Decide how to exploit the system’s constraint(s) Subordinate everything else to the decisions made in steps one and two Elevate the system’s constraint(s) Don’t allow inertia to be the system’s constraint(s). When constraint has been broken, go back to step one