NSS BINMORIL BARU

Document Sample
NSS BINMORIL BARU Powered By Docstoc
					LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
    PUSAT PENDIDIKAN ADMINISTRASI




               NASKAH SEKOLAH SEMENTARA
                              tentang

              BINMORIL PERSONEL POLRI
                               untuk
     PENDIDIKAN PENGEMBANGAN SPESIALISASI PERSONEL
                 ( INSPEKTUR/PNS GOL. III )




                        DISAHKAN DENGAN
                     SKEP KAPUSDIKMIN POLRI
                  NO. POL. : SKEP /    / XII / 2009
                  TANGGAL :      DESEMBER 2009
            KEPALA PUSAT PENDIDIKAN ADMINISTRASI POLRI
                           SAMBUTAN

     Salah satu tugas Polri adalah melaksanakan pelayanan tehadap masyarakat di segala lapisan
tanpa diskriminasi dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga profesionalisme aparatur
baik anggota Polri maupun PNS Polri dalam pemberian pelayanan publik menjadi hal yang
sangat penting karena profesionalitas Sumber Daya Manusia ( SDM ) Polri merupakan faktor
penggerak utama dalam organisasi atau institusi Polri.
     Secara teoritis-konseptual, Sumber Daya Manusia dikatakan profesional apabila ia
memiliki keahlian atau kompetensi tertentu, mempunyai pengalaman dalam bidang kerja tertentu
dan berkomitmen dalam bekerja.
     Sejalan dengan tuntutan kualitas dan berkomitmen tersebut, penyelenggaraan pendidikan
pengembangan spesialisasi (Dikbangspes) bagi Inspektur/PNS Gol III dan Brigadir PNS
Golongan II Personel, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan profesionalismenya.
      Materi yang termuat dalam Naskah Sekolah Sementara ini dikembangkan sebagai bahan
ajar minimal yang harus diberikan kepada peserta didik pada pendidikan pengembangan
spesialisasi Inspektur dan Brigadir sehingga sangat diharapkan bagi para tenaga pendidik
maupun peserta didik untuk menggunakan referensi lain dalam upaya pengayaan materi di
bidang Personel
        Dengan disyahkannya Naskah Sekolah Sementara ini, diharapkan penyelenggaraan
Dikbangspes Inspektur/PNS Gol III dan Brigadir /PNS Gol II dapat dilaksanakan secara
terdesentralisasi dengan mutu materi / substansi pembelajaran yang sama.
       Kepada para penyusun Naskah Sekolah Sementara ini, yang telah banyak memberikan
bantuan dan kerja samanya dalam penulisannya kami haturkan banyak terima kasih dan
penghargaan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menerima pengabdian kita dalam meningkatkan
kompetensi Sumber Daya Manusia Polri, khususnya pada bidang Personel.

                                                         Bandung,   Desember 2009
                                                            KAPUSDIKMIN POLRI



                                                          Drs. V.E. SIMANJUNTAK
                                                         KOMBES POL NRP 67081075
                                               DAFTAR ISI

                                                                                                     Halaman
PENGANTAR
STANDAR KOMPETENSI

     BAB I PENGERTIAN - PENGERTIAN.
     Kompetensi Dasar ……… ……………………………………………………….                                                              1
     Indikoator Hasil Belajar ………………………………………………………….                                                         1
     Pengertian-Pengertian. ………………………………………………………. …..                                                        2

     BAB II PEMBINAAN MORIIL.
     Kompetensi Dasar ………… ……………………………………………………                                                            5
     Indikoator Hasil Belajar ………..………………………………………………..                                                    5
     1. Obyek Pembinaan Moriil………… ………………………………………….                                                       6
     2. Prinsip-prinsip Pembinaan Moriil………… …………………………………                                                 6
     3. Penyelenggaraan Pembinaan Moriil…………… ……………………………                                                  6
     4. Bentuk-bentuk Kegiatan Pembinaan Moriil………………………………….                                              7

     BAB III PEMBERIAN CUTI/ IJIN.
     Kompetensi Dasar …………………………..……………………………………..                                                        9
     Indikoator Hasil Belajar ………..………………………………………………….                                                   9
     1. Jenis-jenis Cuti…………………………………………………………………                                                         10
     2. Penangguhan dan Penarikan Hak Atas Cuti Untuk Kepentingan Dinas............                       14
     3. Wewenang Pemberian Cuti……………………………………………………                                                       15
     4. Macam Dinas Penugasan ke Luar Negeri.........................................................     15
     5. Wewenang Penugasan ke Luar Negeri.............................................................    16

BAB IV PENGANUGERAHAN TANDA KEHORMATAN DAN TANDA PENGHARGAAN.
    Kompetensi Dasar …………………………..……………………………………. 17
    Indikoator Hasil Belajar ………..………………………………………………..                                    17
    1. Jenis – jenis Tanda Jasa…… ………………………………………………                                      18
    2. Jenis-jenis Tanda Kehormatan/ Penghargaan ………………………………                             20
    3. Persyaratan Penganugerahan Tanda Jasa Kehormatan.................................. 22
    4. Tata Urut dan Pemakaian Tanda Jasa Kehormatan/ Penghargaan................         34

     BAB V PROSES NIKAH, TALAQ, CERAI DAN RUJUK.
     Kompetensi Dasar …………………………..……………………………………                                                         39
     Indikoator Hasil Belajar ………..……………………………………………….                                                   39
     1. Bahasan NTCR ….. …………………………………………………………                                                          40
     2. Ketentuan-Ketentuan……………………………………………………….. ..                                                    41
     3. Proses Administrasi NTCR…………………………………………………..                                                    43
     4. Pelaksanaan NTCR……………………………………………………. …. ..                                                      50
   BAB VI PROSEDUR PEMBUATAN KAPI/ S.
   Kompetensi Dasar …………………………..…………………………………..                                                        54
   Indikoator Hasil Belajar ………..………………………………………………                                                    54
   1. Manfaat KAPI/S………………………………………………………….. ..                                                        55
   2. Penggolongan………………………………………………………………                                                             55
   3. Pelaksanaan. ……………………………………………………………….                                                           58

   BAB VII PEMAKAMAN KEDINASAN.
   Kompetensi Dasar …………………………..………………………………….. 62
   Indikoator Hasil Belajar ………..……………………………………………… 62
   1. Manfaat pemakaman kedinasan……………………………………………           63
   2. Macam-macam Persyaratan Pemakaman………………………………….       63
   3. Prosedur Tatacara Pemakaman…………………………………………….         64
   4. Kegiatan – kegiatan Dalam Rangka Pemakaman…………………………. 65
   5. Pelaksanaan Upacara Pemakaman…………………………………………         67
   6. Ketentuan-ketentuan Lain………………………………………………….          77

   BAB VIII SATUAN MUSIK POLRI.
   Kompetensi Dasar …………………………..………………………………….. 79
   Indikoator Hasil Belajar ………..……………………………………………… 79

   1.   Umumn …..……………………………….………………………………                                                             80
   2.   Fungsi Satuan Musik Polri………………………………………………                                                    80
   3.   Susunan/ Tipe Satuan Musik Polri............................................................   80
   4.   Kemampuan Satuan Musik Polri…………..…………………………. …                                                84

   BAB IX PENUTUP.

DAFTAR PUSTAKA.




                                                        ii
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
    PUSAT PENDIDIKAN ADMINISTRASI



                         BINMORIL PERSONEL POLRI


Pengantar.
      Pembinaan Personel Polri pada hakekatnya bertujuan agar Organisasi Polri
dapat menyelenggarakan tugas pokoknya secara efektif dan efisien sehingga dapat
mewujudkan Personel Polri yang berdaya guna dan berhasil guna, sanggup dan
mampu melaksanakan setiap tugas yang dibebankan dengan sebaik-baiknya. Obyek
dari pembinaan ini adalah manusia dengan segala keterbatasannya, namun memiliki
daya cipta, rasa, karsa dan karya yang memerlukan unsur penunjang guna memenuhi
kebutuhan insani baik rohaniah maupun jasmaniah.     Disamping itu dituntut pula untuk
memiliki jiwa kejuangan dan profesionalisme yang tinggi sebagai Insan Bhayangkara
Pelindung, Pengayom dan Pelayan serta Penegakan Hukum di masyarakat.
      Kegiatan Pembinaan Moriil adalah merupakan salah satu bagian dari perawatan
personel yang merupakan bagian integral dari Pembinaan Personel harus menjamin
setiap Personel Polri agar selalu siap mengemban tugas yang dibebankan kepadanya
dengan sebaik-baiknya.      Pembinaan Moriil ini diselenggarakan untuk Personel Polri
dan keluarganya sejak diangkat sampai berakhirnya masa Dinas Polri yang
bersangkutan.
      Penyelenggaraan Pembinaan Moriil meliputi kegiatan pemberian ijin/ cuti,
penganugerahan tanda kehormatan/tanda jasa, proses nikah talaq/cerai dan rujuk,
proses pembuatan KPI/ S, proses pemakaman kedinasan, dan Satuan Musik Polri.
      Disadari sepenuhnya bahwa keberhasilan pelaksanaan tugas Polri sangat
dipengaruhi oleh kualitas pengetahuan dan ketrampilan Personel Polri dalam
mengawaki Organisasi Polri. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut tidak terlepas dari
semangat, motivasi kerja dan daya juang yang tinggi yang hal ini diselenggarakan
melalui Pembinaan Moriil.


Standar Kompetensi.
Memahami Pembinaan Moril Personnel Polri.
                                      BAB I
                           PENGERTIAN - PENGERTIAN


Kompetensi Dasar
Memahami pengertian – pengertian yang berkaiatan dengan pembinaan moril personel
polri.


Indikator Hasil Belajar.
Menjelaskan Pengertian – Pengertian yang berkaitan dengan Pembinaan Moril Polri.
                                             2


Pengertian–Pengertian.
1.    Personel Polri adalah Anggota Polri, PNS dan Capeg yang diserahi tugas dalam jabatan
      di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia ataupun di luar Kepolisian Negara
      Republik Indonesia.
2     Perawatan Personel Polri adalah segala usaha dan kegiatan untuk memberikan kehidupan
      jasmani dan rohani yang sehat begi Personel Polri dan keluarganya, sehingga dirinya
      dapat diperoleh daya guna dari hasil guna yang optimal.
3     Keluarga Polri adalah anggota keluarga yang syah dan tercatat dalam Data Personel.
4.    Pembinaan Moriil adalah segala usaha kegiatan untuk memelihara dan memupuk
      dedikasi dan loyalitas Personel Polri agar siap menjalankan tugas serta kesediaan untuk
      memberikan pengorbanan yang setinggi-tingginya dengan berdisiplin dan patuh pada
      Pimpinan.
5.    Dinas Kepolisian adalah segala aktivitas kedinasan yang dilakuka Anggota dalam
      Lembaga Kepolisian Negara Republik Indonesia.
6.    Pemakaman Kedinasan adalah pemakaman terhadan jenazah Anggota Polri Aktif/ yang
      sudah Purnawirawan yang sudah diselenggarakan oleh dinas berdasarkan peraturan yang
      berlaku dan merupakan penghormatan terakhir dari dinas terhadap almarhum atas jasa-
      jasanya yang telah diberikan kepada bangsa dan negara Indonesia.
7     Upacara Pemakaman secara Dinas adalah Upacara Pemakaman Jenazah Anggota Polri/
      Purnawirawan Polri yang diyatakan sebagai Pahlawan, Gugur. Meninggal dunia berjasa,
      meninggal dunia biasa atau pemilik Tanda Kehormatan berupa Bintang yang
      dilaksanakan dengan Upacara Kedinasan.
8     Upacara Pemakaman Biasa adalah penyelenggaraan pemakaman bagi jenazah Anggota
      Polri/ Purnawirawan Polri tidak dengan Upacara Kedinasan.
9     Gugur adalah meninggal dunia dalam Operasi Kepolisian atau sebagai akibat tindakan
      langsung pelaku tindak pidana kriminal atau yang menentang negara/ Pemerinah yang
      syah.
10    Tewas adalah meninggal dunia dalam menjalankan tugas atau meninggal dunia dalam
      keadaan lain yang ada hubungannya dengan dinas.
                                             3
11    Meninggal dunia biasa adalah meninggal dunia karena sebab tertentu dan bukan karena
      menjalankan tugas atau karena hubungannya dengan pelaksanaan dinas.
12    Pahlawan adalah Anggota Polri/Purnawirawan Polri yang diberikan gelar Pahlawan
      berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
13    Kesetiaan adalah ketaatan dan pengabdian Pancasila, UUD 45, Negara dan Pemerintah.
14    Pengabdian adalah pengembangan pikiran         dan tenaga secara      ikhlas   dengan
      mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan golongan atau pribadi.
15    Kecakapan adalah kemampuan, kepandaian, kemahiran dan keterampilan dalam
      melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
16    Kejujuran adalah ketulusan hati dalam melaksanakan tugas dan kemampuan untuk tidak
      menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya.
17    Kedisiplinan adalah kesanggupan untuk mematuhi tata tertib dan mengikuti ketentuan-
      ketentuan kedinasan yang telah ditetapkan.
18    Penganugerahan adalah proses kegiatan mulai dari pengajuan usul untuk mendapatkan
      Tanda Kehormatan/ Penghargaan dan selanjutnya sampai dengan pencabutan bagi yang
      telah memakai karena tidak memenuhi persyaratan lagi.
19    Perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita
      sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia
      dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
20.   Perceraian/ Talaq adalah putusnya hubungan antara suami-isteri yang disyahkan oleh
      Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri.
21    Rujuk adalah kembalinya kehidupan sebagai suami-isteri setelah terjadinya perceraian
      sebelum berakhirnya masa iddah.
22    Tanda-tanda Kehormatan Republik Indonesia adalah penghargaan resmi dari Negara
      dalam bentuk Bintang maupun Satya Lencana atau Jasa Bhakti, Tindak Kepahlawanan
      atau masa Bhakti seorang Anggota Polri yang telah dilaksanakannya bagi kepentingan
      Negara.
23    Prestasi adalah Jasa Bhakti Luar Biasa dalam melaksanakan tugas yang melampaui
      panggilan kewajiban baik dalam tugas tempur maupun tugas khusus dalam
      pembangunan.
                                               4


24    G u g u r.
      24.1   Berdasarkan Skep Menhan No. : Skep/1212/M/XII/2002 tanggal 20 Desember
             2002, Gugur adalah apabila menemui ajal dalam tugas tempur akibat tindakan
             langsung lawan, seketika di tempat kejadian perkara atau selama-lamanya 8 jam
             setelah sampai di tempat evakuasi, serendah-rendahnya Rumah Sakit Lapangan/
             atau setingkat itu.
      24.2   Berdasarkan PP Nomor1 Tahun 2003 tanggal 1 Januari 2003, Gugur adalah
             meninggal dunia dalam Operasi Kepolisian atau sebagai akibat tindakan langsung
             pelaku tindak pidana kriminal atau yang menentang Negara/ Pemerintah yang
             syah.
25.   Tewas adalah meningal dunia dalam menjalankan tugas atau meninggal dunia dalam
      keadaan lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dinas.
26.   Meninggal Dunia Biasa adalah meninggal dunia karena sebab tertentu dan bukan karena
      menjalankan tugas atau karena hubungannya dengan pelaksanaan dinas.
27.   Pahlawan adalah Anggota Polri/ Purnawirawan yang diberikan gelar Pahlawan
      berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
28.   Upacara Pemakaman secara Dinas adalah upacara pemakaman jenazah Anggota/
      Purnawirawan Polri yang dinyatakan sebagai Pahlawan, Gugur.           Meninggal dunia
      berjasa, meninggal dunia biasa atau pemilik tanda kehormatan berupa Bintang yang
      dilaksanakan dengan upacara kedinasan.
29.   Upacara Pemakaman Biasa adalah penyelenggaraan pemakaman bagi jenazah Anggota/
      Purnawirawan Polri tidak dengan upacara kedinasan.




                                                                               / BAB II …..
                                        BAB II
                                PEMBINAAN MORIIL


Kompetensi Dasar
Memahami pembinaan moril polri.


Indikator Hasil Belajar.
1.   Menjelaskan Obyek pembinaan moril personel polri.
2.   Menjelaskan prinsip – prinsip pembinaan moril personel polri.
3.   Menjelaskan penyelenggaraan pembinaan moril personel polri.
4.   Menjelaskan bentuk – bentuk kegiatan pembinaan moril personel polri.
                                             6


1.   Obyek Pembinaan Moriil.
     Yang menjadi obyek dari kegiatan pembinaan moriil adalah meliputi :
     1.1.   Personel Polri    baik secara perorangan maupun dalam hubungan dengan
            Kesatuan.
     1.2    Keluarga Personel Polri.


2.   Prinsip–prinsip Pembinaan Moriil.
            Prinsip–prinsip   Pembinaan     Moriil   yang   menentukan     pembentukan   dan
     pemeliharaan Moriil adalah sebagai berikut :
     2.1    Menumbuhkan kepercayaan setiap Personel Polri kepada tujuan bersama ( tujuan
            pelaksanaan tugas)
     2.2    Menumbuhkan kepercayaan setiap Personel Polri terhadap kepemimpinan
            Kepala/ Atasan.
     2.3    Menumbuhkan       kepercayaan, kebersamaan, kerjasama dan solidaritas setiap
            Personel terhadap Personel lainnya dalam pelaksanaan tugas.
     2.4    Memelihara kesehatan fisik dan mental ( kesegaran jasmani dan rohani ) seluruh
            Personel Polri yang diharapkan dapat menghasilkan keseimbangan emosional dan
            menghasilkan daya guna yang tingi terhadap Kesatuan/ Dinas.


3.   Penyelenggaraan Pembinaan Moriil.
     3.1    Pembinaan Moriil di Kesatuan.
            Pembinaan Moriil di Kesatuan dengan tujuan untuk memelihara dan
            meningkatkan moriil personel yang ditujukan kepada kesiapan pelaksanaan tugas.


     3.2    Pembinaan Moriil Pratugas.
            Pembinaan yang dilakukan pada saat kegiatan pratugas ini diarahkan untuk lebih
            menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran dan motivasi yang tinggi tentang
            pentingnya tujuan yang hendak dicapai dalam suatu pelaksanaan tugas.


                                                                         /. 3.3 Pembinaan …..
                                             7


     3.3    Pembinaan Moriil di Daerah Tugas.
            Pembinaan Moriil di daerah tugas ini merupakan kelanjutan proses yang telah
            dilaksanakan di Kesatuan dan pada saat pratugas. Kondisi daerah penugasan yang
            berbeda antar satu daerah dengan daerah yang lainnya sehingga            sangat
            mempengaruhi terhadap moriil setiap anggota yang dapat mengakibatkan
            turunnya/ rendahnya moriil personel yang berdampak terhadap pelaksanaan tugas,
            sehingga sangat diperlukan kesinambungan pembinaan di daerah penugasan.


     3.4    Pembinaan Moriil Setelah Tugas.
            Pelaksanaa tugas dilapangan akan membawa dampak positif maupun negatif
            terhadap kondisi moriil dari setiap personel, baik apabila dikaitkan dengan
            berhasil tidaknya pelaksanaan       tugas.   Sejalan dengan itu upaya pembinaan
            setelah tugas ini diarahkan untuk mengevaluasi, rehabilitasi dan konsolidasi
            sebagai akibat dari pelaksanaan tugas tersebut.


     3.5    Pembinaan Moriil Keluarga Personel Polri.
            Keluarga memegang peranan yang sangat besar/ penting dalam mendorong atau
            menghambat pelaksanaan tugas seorang Personel Polri, oleh karena itu diperlukan
            upaya pembinaan terhadap keluarga untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap
            pelaksanaan tugas yang diperintahkan kepada suami/
            isterinya serta memelihara rasa kebersamaan dan solidaritas diantara sesama
            keluarga Personel Polri.


4.   Bentuk–bentuk Kegiatan Pembinaan Moriil.
            Kegiatan pembinaan moriil selain dalam bentuk ceramah/ penyuluhan dapat
     dilakukan dalam bentuk sebagai berikut :
     4.1.   Pemberian cuti dan ijin.
     4.2.   Penganugerahan tanda-tanda kehormatan / penghargaan.


                                                                           /. 4.3. Proses…..
                              8


4.3.   Proses NTCR.
4.4.   Penerbitan KPI/ S.
4.5.   Pemakaman Kedinasan.
4.6.   Satuan Musik Polri.
                                       BAB III
                                PEMBERIAN CUTI/ IJIN


Kompetensi Dasar
Memahami pemberian cuti / ijin.


Indikator Hasil Belajar.
1.   Menjelaskan jenis – jenis cuti.
2.   Menjelaskan Penangguhan dan Penarikan Hak Atas Cuti Untuk Kepentingan

     Dinas.

3.   Menjelaskan Wewenang Pemberian Cuti/ Ijin.
4.   Menjelaskan Macam - Macam Dinas Penugasan ke Luar Negeri.
5.   Menjelaskan Kewenangan Penugasan ke Luar Negeri.
                                           10


1.   Jenis–jenis Cuti.


     1.1.   Cuti Tahunan.


            ▪      Diberikan setiap tahun sekali selama 12 hari kerja dan dapat dibagi dalam
                   2 bagian.
            ▪      Untuk pertama kalinya diberikan setelah memenuhi masa kerja satu tahun
                   terhitung mulai tanggal pengangkatan menjadi Polri.
            ▪      Jangka Waktu pemberian cuti tahunan dihitung berdasarkan almanak (1
                   Januari s/d 31 Desember ).
            ▪      Apabila cuti dilaksanakan ditempat yang terpisah oleh lautan dari tempat
                   bekerja dapat ditambahkan waktu pulang pergi yang tidak boleh lebih dari
                   7 hari.
            ▪      Pemberian cuti tahunan bagi personil yang bertugas di Lemdik
                   disesuaikan dengan masa libur/ berakhirnya proses pendidikan di Lemdik
                   yang bersangkutan.
            ▪      Bagi Personel Polri yang bertugas di luar kesatuan/ dikaryakan berlaku
                   ketentuan cuti di tempat yang bersangkutan bertugas.


     1.2.   Cuti Sakit.


            ▪      Personel yang sakit selama 2       (dua)   hari   diperlukan surat
                   keterangan dokter Polri/ umum yang ditunjuk oleh dinas.
            ▪      Apabila lebih dari 30 hari dibuatkan Skep dari        pejabat yang
                   berwenang berdasarkan keterangan dokter.
            ▪      Dapat diberikan untuk masa selama-lamanya 6 (enam) bulan dan
                   jika perlu diperpanjang paling lama 6 (enam) bulan berikutnya.
            ▪      Apabila setelah 1 (satu) tahun pertama dinyatakan belum sembuh dari
                   sakitnya, maka cuti sakit ( termasuk sakit TBC, Kusta/ Lepra, Sakit Jiwa)
                                                                                /. Dapat .......
                                        11


              dapat diperpanjang untuk jangka waktu 2 ( dua) tahun, pelaksanaan
              perpanjangan cuti sakit setiap tahun selama 1 (satu) tahun sampai
              mencapai selama-lamanya 3 (tiga) tahun.
       ▪      Apabila setelah 3 (tiga) tahun belum dinyatakan sembuh dari sakit, maka
              Anggota tersebut diusulkan untuk diberhentikan dengan hormat (PDH)
              dari Dinas Kepolisian.
       ▪      Akibat dari melaksanakan cuti sakit sebagi berkut :
              ○      Untuk 1 (satu) tahun pertama diberikan penghasilan penuh
                     kecuali tunjangan jabatan.
              ○      Untuk tahun berikutnya diberikan penghasilan sebesar 75 %.
              ○      Cuti sakit akibat menjalankan tugas dinas tetap menerima
                     penghasilan penuh.


1.3.   Cuti Dinas Lama.


       ▪      Diberikan kepada Anggota yang telah melaksanakan dinas/ bekerja
              3 (tiga) tahun terus menerus, dan tidak pernah mengambil cuti tahunan.
       ▪      Diberikan sebanyak-banyaknya 30 (tiga puluh) hari termasuk hari
              Minggu dan hari besar.


1.4.   Cuti Nikah.


       ▪      Apabila pernikahan dilaksanakan ditempat kedudukan bekerja
              Personel polri yang bersangkutan, untuk pria 3 (tiga ) hari dan untuk
              wanita 6 ( enam) hari.
       ▪      Apabila dilaksanakan di luar tempat kedudukan bekerja yang
              dipisahkan oleh lautan ditambah waktu perjalanan pulang pergi tidak
              boleh lebih dari 7 (tujuh) hari.


                                                                       /. 1.5. Cuti ......
                                         12


1.5.   Cuti Luar Biasa.


       ▪      Cuti Luar Biasa diberikan dalam hal :


              ○         Memenuhi kewajiban hukum untuk menghadap sebagai
                        terdakwa atau saksi dalam suatu perkara yang tidak dapat
                        dilaksanakan di luar dinas.
              ○         Suami/ isteri,   anak, ibu/ bapak kandung, tiri, mertua sakit
                        keras atau meninggal dunia.
              ○         Anggota    keluarga     lainnya   meninggal    dunia   dan
                        pemakamannya harus diatur oleh Anggota Polri tersebut.


       ▪      Diberikan sebanyak-banyaknya 8 hari dalam satu tahun sesuai
              keperluan, apabila lebih maka cuti tahunan yang akan datang dipotong
              sebanyak kelebihan hari tersebut, dapat diperpanjang 1 bulan untuk
              pengurusan hak warisan yang tidak dapat sekali selesai.


1.6.   Cuti Istimewa.


       ▪      Cuti Istimewa diberikan dalam hal :
              ○         Setelah menjalankan tugas operasi.
              ○         Setelah menjalankan tugas luar negeri.
              ○         Setelah   menjalankan    tugas    pendidikan   pembentukan
                        dan pengembangan.
              ○         Hal-hal lain yang ditentukan oleh Kapolri.


       ▪      Diberikan sebanyak-banyaknya 12 hari kerja.




                                                                           /. ▪ Apabila .....
                                      13


       ▪      Apabila Cuti Istimewa        tersebut   dijalankan   di luar   tempat
              kedudukan bekerja, maka biaya pengangkutan ketempat yang dituju dan
              kembali ke Satminkal ditanggung oleh negara.


1.7.   Cuti Ibadah Haji.
       ▪      Masa kerja minimal 5 tahun.
       ▪      Belum pernah menjalankan ibadah haji.
       ▪      Dinas mengijinkan dan memenuhi persyaratan umum sebagai
              calon jemaah.
       ▪      Jangka waktu 45 hari.
       ▪      Segala biaya ditanggung oleh yang bersangkutan.


1.8    Cuti Hamil.
       ▪      Diberikan kepada Personel Polri wanita sebanyak-banyaknya 3
              bulan yaitu 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan setelah melahirkan.
       ▪      Apabila ketentuan waktu tersebut        di atas tidak dilaksanakan
              sebagaimana mestinya, maka hak cuti yang seharusnya dilaksanakan
              sebelum melahirkan dinyatakan gugur/ hilang.
       ▪      Dalam hal keguguran atau lahir meninggal dunia, diberikan
              istirahat 1,5 bulan.
       ▪      Berdasarkan Sket Dokter.
       ▪      Berdasarkan Sket Dokter dapat diperpanjang apabila keadaan
              belum memungkinkan.
       ▪      Cuti hamil, tetap mendapat gaji dan tunjangan penuh kecuali
              tunjangan jabatan.


1.9    Cuti ke Luar Negeri.
       ▪      Dapat diberikan apabila tidak merugikan jabatan dinas.
       ▪      Biaya ditanggung oleh yang bersangkutan.
                                                               /. 2.   Penangguhan ……
                                               14


2.   Penangguhan dan Penarikan Hak Atas Cuti Untuk Kepentingan Dinas, sebagai
     berikut :
     2.1.   Menunda tanggal berlakunya sampai kepentingan dinas mengijinkan.
     2.2    Menarik kembali/ membatalkan cuti tahunan/ dinas lama dengan penggantian cuti
            periode berikutnya.


3.   Wewenang Pemberian Cuti/ Ijin.


     3.1.   Cuti/ Ijin ke Luar Negeri :
            ▪      Pemberian      cuti/ ijin   yang       dilaksanakan    di   Luar    negeri   untuk
                   golongan PATI merupakan kewenangan Kapolri.


            ▪      Pemberian      cuti/ ijin ke luar negeri         KBP (Komisaris Besar Polisi)
                   kebawah kewenangannya dilimpahkan kepada Desumdaman Kapolri.


            ▪      Ketentuan umum pemberian ijin perjalanan dinas ke luar negeri harus
                   selektif dan ada urgensinya dengan kepentingan tugas/ dinas serta
                   memperhatikan imbangan biaya dengan kegunaanya.


            ▪      Ijin berobat ke luar negeri dengan biaya negara harus memenuhi
                   persyaratan sebagai berikut :


                   ○       Apabila keahlian         dan     fasilitas   di Indonesia   sudah    tidak
                           memungkinkan untuk penyembuhan penyakitnya.
                   ○       Pejabat yang memangku jabatan Pati sesuai Struktur Organisasi
                           Polri termasuk keluarganya.
                   ○       Untuk Pamen/ PNS pangkat Kombes Pol sederajat diusulkan oleh
                           Dokter ahli dan harus memperhatikan azas prioritas serta
                           tersedianya dana.
                                                                                  /. 3.2 Cuti ……
                                             15
     3.2    Cuti Hamil :


            ▪      Pemberian cuti hamil untuk golongan Pamen di tingkat Mabes Polri
                   kewenangan Kapolri didelegasikan kepada Desumdaman Kapolri.
            ▪      Pemberian cuti hamil Pama dan Bintara di tingkat Mabes Polri
                   kewenangan Kapolri dilaksanakan oleh para Kasatker.
            ▪      Pemberian cuti hamil para Pamen di Kewilayahan/ Polda diberikan oleh
                   Kapolda.
            ▪      Pemberian cuti hamil para Pama dan (Ba Mapolda) kewenangan Kapolda
                   dilimpahkan kepada Karo Pers.
            ▪      Pemberian cuti hamil bagi Bintara di Mapolwil/ Tabes oleh Kapolwil/
                   Tabes.
            ▪      Pemberian cuti hamil Bintara di Poltabes/ Res Metro/ Res/ Resta oleh
                   Kapoltabes/ Res/ Res Metro/ Resta.


4.   Macam Dinas Penugasan ke Luar Negeri.


     4.1.   Penempatan dalam jabatan di luar negeri.
     4.2.   Pengiriman misi/ delegasi untuk.
            ▪      Suatu tugas tertentu.
                   ○        Satuan/ perorangan dalam rangka tugas Internasional di bawah
                            PBB.
                   ○        Satuan/ perorangan dalam rangka mengikuti latihan bersama
                            dengan negara lain.
                   ○        Tugas belajar ke luar negeri.
            ▪      Mengikuti Konfrensi Internasional.
            ▪      Mengikuti Seminar Internasional.




                                                                   /. 6. Kewenangan ......
                                         16


5.   Kewenangan Penugasan ke Luar Negeri.


     5.1   Penugasan untuk pendidikan dan pelatihan ke luar negeri bagi pangkat Pati
           kewenangan Kapolri, sedangkan pangkat KBP ke bawah oleh Desumdaman
           Kapolri.
     5.2   Penugasan ke luar negeri pangkat Pati oleh Kapolri, sedangkan Kombes Pol ke
           bawah dilimpahkan kepada Desumdaman Kapolri.




                                                                          /BAB III……
                                      BAB IV
                               PENGANUGERAHAN
                TANDA - TANDA KEHORMATAN/PENGHARGAAN




Kompetensi Dasar
Memahami Penganugrahan tanda – Tanda Kehormatan/Penghargaan.


Indikator Hasil Belajar.
1.   Menjelaskan Jenis – jenis Tanda Jasa.
2.   Menjelaskan Jenis–jenis Tanda Kehormatan/ Penghargaan.
3.   Menjelaskan Persyaratan Penganugerahan Tanda Kehormatan/Penghargaan

4.   Menjelaskan Tata Urut dan Pemakaian Tanda Kehormatan/Penghargaan
                                          18


1.   Jenis – Jenis Tanda Jasa


     1.1   Tanda Jasa Kenegaraan.


           ▪     Penganugerahan        tanda    jasa    kenegaraan    pada      hakekatnya
                 merupakan pengakuan resmi negara kepada Personel Polri atau
                 Kesatuan    yang       memenuhi        persyaratan    dengan      maksud
                 memberikan rangsangan dan dorongan ( motivasi ) dalam rangka
                 meninggikan morel anggota baik secara perorangan maupun
                 dalam hubungan Kesatuan.


           ▪     Tanda-tanda jasa kenegaraan :


                 ○     Pada dasarnya semua Tanda Jasa Kenegaraan Republik
                       Indonesia adalah merupakan Tanda Kehormatan yang
                       diberikan negara.
                       Adapun prosedur pemberiannya, dibagi dalam dua golongan
                       yaitu :
                       ▫         Tanda – tanda Kehormatan TNI/ Polri diberikan untuk
                                 Jasa–jasa dibidang Hankam.
                       ▫         Tanda-tanda Kehormatan Sipil, diberikan untuk Jasa-
                                 jasa dibidang Sipil.


                 ○     Tanda Jasa Kenegaraan dibagi dalam 3 (tiga) jenis, yaitu :
                       ▫         Bintang, yang diberikan kepada perorangan.
                       ▫         Satya Lencana yang diberikan kepada perorangan.
                       ▫         Samkarya      Nugraha,      yang     diberikan     kepada
                                 kelompok/ Unit/ Kesatuan.


                                                                         / b.     Tanda …..
                                      19


1.2    Tanda-tanda kehormatan Republik Indonesia adalah penghargaan resmi
       dari negara dalam bentuk Bintang maupun Satya Lencana atas jasa
       bhakti, tindak kepahlawanan atau masa bhakti seorang Anggota Polri
       yang telah dilaksanakannya bagi kepentingan negara.


1.3.   Tanda-tanda kehormatan Republik Indonesia jenis Bintang adalah
       penghargaan resmi dari negara dalam bentuk Bintang sebagai pengakuan
       atas jasa bhakti dan tindak kepahlawanan dalam lingkup tugas Polri dan
       masa bhakti dalam Dinas Kepolisian.


1.4.   Bintang TNI adalah Tanda kehormatan kenegaraan jenis Bintang yang
       dapat dianugerahkan kepada anggota TNI/ Polri sepanjang memenuhi
       persyaratan yang ditentukan.


1.5.   Bintang Angkatan/ Polri adalah Tanda kehormatan kenegaraan jenis
       Bintang yang dapat dianugerahkan kepada Anggota tiap-tiap Angkatan/
       Polri sepanjang memenuhi persyaratan yang ditentukan.


1.6.   Penganugerahan Bintang Angkatan/ Polri secara menyilang adalah
       penganugrahan Bintang dari satu Angkatan/ Polri kepada pejabat
       Angkatan/ Polri lainnya secara timbal balik atau pejabat dalam Angkatan
       yang sama/ Kepolisian dari negara lain/ negara sahabat.


1.7.   Prestasi adalah jasa bhakti luar biasa dalam melaksanakan tugas yang
       melampaui panggilan kewajiban baik dalam tugas tempur maupun tugas
       khusus dan pembangunan.




                                                                 / 1.8. Jasa …..
                                              20


     1.8.   Jasa bhakti luar biasa adalah pelaksanaan tugas yang mempunyai nilai lebih yang
            diukur dengan besarnya keuntugan-keuntungan yang diperoleh TNI serta
            Angkatan/ Polri.


     1.9.   Melampaui panggilan kewajiban/ tugas adalah pelaksanaan tugas oleh seorang
            Anggota TNI/Polri yang melalukan tindak kepahlawanan dalam tugas tempur,
            tugas khusus dan berhasil tanpa memperhatikan keselamatan jiwa.


2.   Jenis–jenis Tanda Kehormatan/ Penghargaan.


     2.1    Jenis Bintang, terdiri dari :
            ▪      Bintang Kenegaraan, yaitu :
                   ○       Bintang Republik Indonesia.
                   ○       Bintang Mahaputra.


            ▪      Bintang TNI/ Polri, yaitu :
                   ○       Bintang Sakti.
                   ○       Bintang Dharma.
                   ○       Bintang Gerilya.
                   ○       Bintang Bhayangkara ( Utama, Pratama, Nararya).


     2.2    Jenis Satya Lencana, terdiri dari :


            ▪      Satya Lencana yang masih berlaku, diantaranya sebagai berikut :
                   ○       Satya Lencana Kesetiaan ( 8,16, 24 tahun).
                   ○       Satya Lencana Teladan.
                   ○       Satya Lencana Seroja.
                   ○       Satya Lencana Dwidya Sistha.
                   ○       Satya Lencana Karya Satya Khusus PNS ( 10, 20, 30 tahun).
                                                                          /▪         Satya …..
                            21


▪   Satya Lencana yang sudah dibekukan, diantaranya sebagai berikut :


    ○      Berdasarkan Surat Telegram Kapolri No. Pol. : RDG/ Pesr. VI/
           149/IX/1973, 10–09–1973, yaitu :
           ▫      Satya Lencana Yana Utama.
           ▫      Satya Lencana Prasetya Pancawarsa.


    ○      Berdasarkan Surat Telegram Menhankam/ Pangab No. : ST/03/
           II/1980 tanggal 23 – 02 – 1980, yaitu :
           ▫      Satya Lencana PK I dan PK II.
           ▫      Satya Lencana Sapta Marga.
           ▫      Satya Lencana GOM I/ Madiun.
           ▫      Satya Lencana GOM II/ APRA.
           ▫      Satya Lencana GOM III RMS.
           ▫      Satya Lencana GOM IV ( DI/ TII Sulsel ).
           ▫      Satya Lencana GOM V ( DI/ TII Jabar ).
           ▫      Satya Lencana GOM VI ( DI/ TII Jateng ).
           ▫      Satya Lencana GOM VII ( DI/ TII Aceh ).
           ▫      Satya Lencana GOM VIII ( Kalbar ).
           ▫      Satya Lencana GOM IX ( Irian Barat ).
           ▫      Satya Lencana Dasa Warsa.
           ▫      Satya Lencana Satya Dharma ( Trikora ).
           ▫      Satya Lencana Wira Dharma ( Dwikora ).
           ▫      Satya Lencana Papera.


    ○      Berdasarkan Surat Telegram Menhankam No. : ST/724/1982,
           tanggal 25–09–1982, yaitu :
           ▫      Satya Lencana Ksatria Tamtama.
           ▫      Satya Lencana Karya Bhakti.
                                                             / 2.3. Jenis …..
                                          22


     2.3   Jenis Veteran Republik Indonesia :
           ▪      Veteran Pejuang Kemerdekaan RI.
           ▪      Veteran Pembela Kemerekaan RI, terdiri dari :
                  ○      Veteran Pembela Trikora.
                  ○      Veteran Pembela Dwikora.
                  ○      Veteran Pembela Timor Timur.


3.   Persyaratan Penganugerahan Tanda Kehormatan/Penghargaan.


     3.1   Penganugerahan Bintang.
           ▪      Bintang Sakti.
                         Dianugerahkan kepada anggota Angkatan Perang/bukan Angkatan
                  Perang yang menunjukan keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan
                  melebihi panggilan kewajiban dalam melaksanakan tugas TNI/ Polri di
                  dalam maupun di luar pertempuran tanpa merugikan tugas pokok.


           ▪      Bintang Dharma.
                         Dianugerahkan     kepada   anggota       Angkatan    Perang   yang
                  menyumbangkan jasa bhakti melebihi dan melampaui panggilan
                  kewajiban dalam pelaksanaan tugas TNI/ Polri hingga memberikan
                  keuntungan Angkatan Perang.


           ▪      Bintang Gerilya.
                  ○      Dianugerahkan kepada warga negara RI yang berjuang dan
                         berbhakti kepada dan bangsa selama Agresi Belanda ke- 1 ( 20
                         Juni 1947 s/d     22 Pebruari 1948 ), Agresi Belanda II ( 18
                         Desember 1948 s/d 27 Desember 1949) dengan menunjukan
                         keberanian, kebijaksanaan dan kesetiaan yang luar biasa secara
                         terus menerus.
                                                                         /○      Untuk …..
                                    23


            ○      Untuk memperolehnya sekurang-kurangnya harus ada 2 ( dua)
                   orang saksi teman seperjuangan yang telah memiliki Bintang
                   Gerilya.


      ▪     Bintang Bhayangkara, meliputi :


            ○      Bintang Bhayangkara Utama, yang secara fungsional dianugerah-
                   kan kepada Kapolri.
            ○      Bintang Bhayangkara Pratama, dianugerahkan kepada Deputi
                   Kapolri dan atau jabatan yang dipersyaratkan pangkat Irjen Pol,
                   minimal 1 ( satu) tahun.
            ○      Bintang Bhayangkara Nararya, dianugerahkan sebagai berikut :


                   ▫      Karena prestasi atau jasa luar biasa melebihi panggilan
                          kewajiban tanpa merugikan tugas pokok.
                   ▫      Masa Bhakti dalam dinas Kepolisian selama 24 tahun terus
                          menerus tanpa cacad dan anggota yang bersangkutan harus
                          telah memiliki Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun.


                   Bintang    Bhayangkara dapat dianugerahkan pula kepada WNI/
                   WNA yang telah berjasa luar biasa yang disumbangkan khusus
                   untuk kemajuan dan pembangunan Polri, dan dapat dianugerahkan
                   secara menyilang antar Kas Angktan/ Polri.


3.2   Hak dan Perlakuan Terhadap Pemilik Bintang.


      ▪     Diberi hadiah ( piagam penghargaan, plakat dan atau materi/ uang)
            sesuai bobot bhaktinya yang diatur dengan ketentua yang berlaku.
                                                                       /▪ Diberi……
                                         24


      ▪        Diberi hormat terlebih dahulu oleh sesama pangkat, yang tidak memiliki
               Bintang, Bintang kelasnya lebih rendah.
      ▪        Dalam hal meninggal dunia, dimakamkan di TMP, ahli warisnya
               (warakawuri, anak yatim piatu ) diberi penghasilan penuh selama 12
               bulan.


3.3       Pencabutan atas hak pemilik Bintang.


      ▪        Dengan      putusan   Pengadilan     yang    tidak bisa diubah dikenakan
               hukuman berupa dikeluarkan dari Dinas polri dengan atau tidak dengan
               pencabutan hak untuk masuk Dinas Polri.
      ▪        Dengan      putusan     Pengadilan    yang    tidak   bisa   diubah lagi
               dikenakan hukuman karena sesuatu kejahatan keamanan negara atau
               desersi.
      ▪        Dengan putusan Pengadilan yang tidak bisa diubah lagi dikenakan
               hukuman penjara yang lamanya lebi dari 1(satu) tahun, atau dikenakan
               macam hukuman lebih berat.
      ▪        Di PTDH dari Dinas Polri.
      ▪      Memasuki Dinas Angkatan Perang negara lain tanpa ijin dari Pemerintah RI.


3.4   Penganugerahan Tanda Kehormatan berupa Satya Lencana.


      ▪        Satya Lencana Bhakti.


               ○        Dianugerahkan kepada Anggota Polri yang mendapat          luka-
                        luka sebagai akibat langsung kegiatan musuh dan di luar
                        kesalahannya sehingga memerlukan perawatan kedokteran.


                                                                /○     Administrasi…….
                             25


    ○     Administrasi Pengusulan :
          ▫      Mengisi formulir yang telah ditentukan 3 ( tiga ) rangkap.
          ▫      Foto copy surat perintah tugas.
          ▫      Daftar riwayat hidup/ pekerjaan.
          ▫      Visum dari Dokter.
          ▫      Security Clerance/ SKKB.


▪   Satya Lencana Teladan.


    ○     Dianugerahkan kepada Anggota Polri yang dalam waktu
          perang atau dalam operasi selama 1 (satu) tahun berturut-turut atau
          dalam waktu di luar keadaan seperti tersebut di atas sedikit-
          dikitnya 3 (tiga) tahun berturut-turut menjalankan tugasnya dengan
          berkelakuan baik, setia sungguh-sungguh sehingga dapat menjadi
          teladan dalam memelihara sifat-sifat yang baik bagi yang lain.


    ○     Administrasi Pengusulan :
          ▫      Mengisi formulir yang telah ditentukan rangkap 3 (tiga).
          ▫      Foto copy Skep Pengangkatan Pertama menjadi Pori.
          ▫      Daftar Riwayat Hidup/ Pekerjaan.
          ▫      Surat Perintah Tugas, bagi yang pernah tugas Operasi.
          ▫      Security Clereance/ SKKB.


▪   Satya Lencana Kesetiaan.


    ○     Dianugerahkan kepada Anggota Polri yang telah melakukan
          kewajiban Dinas Polri selama 8 tahun, 16 tahun, dan 24 tahun
          penuh, tidak terputus-putus, berkelakuan baik, setia dan bekerja
          dengan sungguh-sungguh.
                                                        /○ Administrasi……
                              26


    ○      Administrasi Pengusulan, sebagai berikut :
           ▫      Mengisi formulir yang telah ditentukan rangkap 3 (tiga).
           ▫      Foto copy Skep Pengangkatan Pertama menjadi Polri.
           ▫      Daftar Riwayat Hidup/ Pekerjaan.
           ▫      Security Clearance/ Litpers.


▪   Satya Lencana Dwidya Sistha.


    ○      Dianugerahkan kepada Anggota Polri        yang karena jabatannya
           selaku Guru/ Instruktur pada Lemdik Polri, telah menunjukan
           kesetiaan, prestasi kerja serta berkeluakuan baik selama 2 (dua)
           tahun terus menerus atau 3 (tiga) tahun terputus-putus.


    ○      Administrasi Pengusulan, sebagai berikut :
           ▫      Mengisi formulir yang telah ditentukan 3 (tiga) rangkap.
           ▫      Foto copy Skep Penempatan pada Lemdiklat Polri.
           ▫      Foto copy Skep Penunjukan sebagai Guru/ Instruktur.
           ▫      Daftar Riwayat Hidup/ Pekerjaan.
           ▫      Security Clearance/ Litpers.


▪   Satya Lencana Seroja.


    ○      Dianugerahkan kepada Anggota Polri yang berada dalam
           melaksanakan tugas negara untuk menanggulangi gangguan
           keamanan    oleh    gerombolan-gerombolan      pengacau   di   luar
           perbatasan terhadap kestabilan wilayah NTT khususnya dan
           kestabilan wilayah NKRI umumnya.




                                                           /○ Administrasi…..
                            27


    ○      Adminstrasi Pengusulan, sebagai berikut :
           ▫      Mengisi formulir yang telah ditentukan rangakap 3 (tiga).
           ▫      Foto copy Surat Perintah Tugas.
           ▫      Daftar Riwayat Hidup/ Pekerjaan.
           ▫      Security Clearance/ Litpers.


▪   Satya Lencana Karya Satya ( Khusus Sipil ).


    ○      Dianugerahkan kepada PNS Polri yang mempunyai masa kerja
           secara terus menerus selama 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun tanpa
           cacad, tidak terputus, setia, cakap, jujur dan disiplin yang
           dibuktikan dalam DP-3 ( Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan).


    ○      Perhitungan masa kerja untuk mendapatkan Satya Lencana Karya
           Satya sebagai berikut :
           ▫      PNS Polri yang pada saat berlakunya PP Nomor 24 tahun
                  1994 tanggal 29 Agustus 1994 tenang tanda kehormatan
                  Satya lencana Karya Satya telah memiliki       masa kerja
                  sebagai berikut :
                  -       10 tahun s/d 19 tahun dan memenuhi persyaratan
                          yang ditentukan dapat dianugerahi Satya Lencana
                          Karya Satya Sepuluh Tahun.
                  -       20 tahun s/d 29 tahun dan memenuhi persyaratan
                          yang       ditentukan   maka   dapat   dianugerahi
                          Satyalencana Karya Satya dua puluh tahun.
                  -       30 tahun atau lebih dan memenuhi persyaratan yang
                          ditentukan dapat dianugerahi Satyalencana Karya
                          Satya Tiga puluh tahun.


                                                             /- 20 tahun……
28


-    20 tahun atau lebih, tetapi pada masa 10 tahun tahap
     pertama tidak memenuhi syarat yang ditentukan,
     sedangkanmasa 10 tahun tahap kedua memenuhi
     syarat dapat dianugerahi Satya Lencana Karya
     Satya 10 tahun.
-    20 tahun atau lebih, sedangkan pada masa 10 tahun
     tahap kedua yang bersangkutan tidak memenuhi
     syarat yang ditentukan tidak dapat diusulkan untuk
     dianugerahi Satya lencana Karya Satya Sepuluh
     tahun.
-    20 tahun       dan memenuhi persyaratan yang
     ditentukan dapat langsung dianugerahi Satyalencana
     Karya Satya Dua Puluh tahun.
-    30 tahun atau lebih sedangkan pada masa 10 tahun
     tahap    pertama   tidak   memenuhi    syarat   yang
     ditentukan dapat dianugerahi Satyalencana Karya
     Satya Dua puluh tahun.
-    30 tahun atau lebih sedangkan sepuluh tahun tahap
     kedua tidak memenuhi syarat yang ditentukan yang
     bersangkutan hanya diberikan Satyalencana Karya
     Satya Sepuluh tahun , meskipun dalam masa 10
     tahun tahap pertama dan sepuluh tahun tahap ketiga
     memenuhi syarat yang ditentukan.
-    30 tahun atau lebih, tetapi pada 10 tahun tahap
     ketiga tidak memenuhi syarat yang ditentukan,
     maka kepada yang bersangkutan tidak dapat
     dianugerahi Satyalencana Karya Satya


                                    /▫      Masa………
                                    29


                   ▫      Masa selama menjalankan cuti diluar tanggungan negara
                          tidak dapat dihitung sebagai dasar untuk pertimbangan
                          penganugerahan Satyalencana Karya Satya, kecuali CLTN
                          untuk persalinan .
                   ▫      PNS yang dijatuhi hukuman disiplin pada masa dua
                          tahapan   tidak      memenuhi   syarat        untuk   dianugerahi
                          Satyalencana Karya satya dalam masa tahapan ketika
                          perbuatan pelanggaran dilakukan.
                   ▫      Bagi PNS yang telah memiliki Satyalencana baik kelas
                          Satu, Dua, Tiga, Empat dan Lima ( PP No. 31 TH. 1959),
                          apabila telah memiliki masa kerja 30 tahun secara terus
                          menerus dan memenuhi syarat dapat diberikan Satya
                          lencana Karya satya 30 tahun.
            ○      Administrasi Pengusulan, sebagai berikut :
                   ▫      Daftar Riwayat Hidup Singkat.
                   ▫      DP-3 (Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan).
                   ▫      Hasil Litpers/ SC.
                   ▫      Foto copy Skep pengangkatan pertama.
                   ▫      Foto copy Skep pangkat terakhir.
                   ▫      Foto copy piagam yang telah dimiliki


3.5   Penganugerahan Tanda Kehormatan Veteran Republik Indonesia.


      ▪     Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia.


            ○      Dianugerahkan kepada WNI yang dalam periode 17–08–1945               s/d
                   27–12–1949, ikut aktif dalam perjuangan bersenjata melawan
                   Tentara Kolonial, dengan klasifikasi sebagi berikut :
                                                                   /▫       Golongan……
                     30


    ▫      Golongan A, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 4
           tahun atau lebih.
    ▫      Golongan B, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 3
           tahun atau lebih.
    ▫      Golongan C, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 2
           tahun atau lebih.
    ▫      Golongan D, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 1
           tahun atau lebih.
    ▫      Golongan E, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 6
           bulan atau lebih.


○   Administrasi Pengusulan, sebagai berikut :


    ▫      Mengisi formulir yang telah ditentukan rangkap 3 (tiga).
    ▫      Melampirkan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan pernah
           ikut berjuang dalam kesatuan bersenjata resmi atau
           kelaskaran yang diakui pemerintah pada masa perjuangan
           antara 17–08–1945 s/d 27–12–1949, dalam periode tersebut
           telah berumur 14 tahun apabila bergabung dalam
           kelaskaran, dan        16 tahun apabila tergabung dalam
           kesatuan bersenjata.
    ▫      Foto copy KTP.
    ▫      Foto copy Daftar Keluarga/ KK.
    ▫      Pas photo ukuran 4 x 6 cm hitam putih tanpa tutup kepala
           dan kacamata 3 (tiga) lembar.
    ▫      Security Clearence/ SKKB dari Polri.


                                                  /▪     Veteran……
                           31


▪   Veteran Pembela Kemerdekaan Republik Indonesia, meliputi :


    ○     Veteran Pembela Trikora.


          ▫      Dianugerahkan kepada WNI yang turut berjuang dalam
                 pembebasan Irian Barat melakukan tugas Trikora sejak
                 tanggal 19–12–1961 s/d 01–05–1963, dengan klasifikasi
                 sebagai berikut :


                 -      Golongan A, mereka yang berjuang sekurang-
                        kurangnya 16 bulan.
                 -      Golongan B, mereka      yang berjuang sekurang-
                        kurangnya 12 bulan.
                 -      Golongan C, mereka yang berjuang sekurang-
                        kurangnya 6 bulan.
                 -      Golongan D, mereka yang berjuang sekurang-
                        kurangnya 3 bulan.


          ▫      Administrasi Pengusulan, sebagai berikut :


                 -      Mengisi formulir yang telah ditentukan rangkap 3
                        (tiga).
                 -      Melampirkan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan
                        pernah ikut berjuang dalam pembebasan Irian Barat
                        antara tanggal 19–12–1961 s/d 01–05–1963.
                 -      Foto copy KTP.
                 -      Foto copy Daftar Keluarga/ KK.
                 -      Pas photo ukuran 4 x 6 cm hitam putih tanpa tutup
                        kepala dan kacamata 3 (tiga) lembar.
                                                      /▪       Security……..
                 32


                 -        Security Clearence/ SKKB dari Polri.


▪   Veteran Pembela Dwikora.


    ○     Dianugerahkan kepada WNI yang secara aktif berjuang /bertempur
          dalam rangka tugas Dwikora (konfrontasi Malaysia) sejak tanggal
          03–05–1964 s/d 11–08–1966 dengan kalsifikasi sebagai berikut :


          ▫      Golongan A, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 2
                 tahun 3 bulan.
          ▫      Golongan B, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 1
                 tahun 6 bulan.
          ▫      Golongan C, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 1
                 tahun.
          ▫      Golongan D, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 6
                 bulan.


    ○     Administrasi Pengusulan, sebagai berikut :


          ▫      Mengisi formulir yang telah ditentukan rangkap 3 (tiga).
          ▫      Melampirkan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan pernah
                 ikut berjuang dalam rangka tugas Dwikora (konfrontasi
                 Malaysia) antara tanggal 03–05–1964 s/ d 11–08–1966.
          ▫      Foto copy KTP.
          ▫      Foto copy Daftar Keluarga/ KK.
          ▫      Pas photo ukuran 4 x 6 cm hitam putih tanpa tutup kepala
                 dan kacamata 3 (tiga ) lembar.
          ▫      Scurity Clereance/ SKKB dari Polri.


                                                          /▪     veteran…..
                             33


▪   Veteran Pembela Timor-Timur.


    ○     Dianugerahkan kepada mereka yang telah mendarmabhaktikan
          dirinya dalam Kesatuan-kesatuan TNI/ Polri atau Kesatuan-
          kesatuan Bersenjata      resmi non TNI/ Polri selama periode
          perjuangan dimulai tanggal 21–05–1975 s/d 17–07–1976 di
          wilayah Timor Timur, dengan klasifikasi sebagai berikut :


          ▫      Golongan A, mereka yang berjuang sekurang – kurangnya
                 14 bulan.
          ▫      Golongan B, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 12
                 bulan.
          ▫      Golongan C, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 9
                 bulan.
          ▫      Golongan D, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 6
                 bulan.
          ▫      Golongan E, mereka yang berjuang sekurang-kurangnya 3
                 bulan.


    ○     Administrasi Pengusulan, sebagai berikut :


          ▫      Mengisi formulir yang telah ditentukan rangkap 3 (tiga).
          ▫      Melampirkan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan pernah
                 ikut berjuang di wilayah Timor Timur atau perbatasan
                 antara NTT dan Tim-Tim antara tanggal 21–05–1975 s/d
                 17–07–1976.
          ▫      Foto copy KTP.
          ▫      Foto copy Daftar Deluarga/ KK.


                                                        /▫      Pas poto…..
                                           34


                          ▫       Pas photo ukuran 4 x 6 hitam putih tanpa tutup kepala
                                  dan kacamata 3 ( tiga) lembar.
                          ▫       Security Clearence/ SKKB dari Polri.


     3.6.   Penganugerahan Tanda Kehormatan Sam Karya Nugraha.


            ▪      Dianugerahkan kepada Kesatuan-kesatuan Polri yang telah berjasa
                   terhadap negara dan bangsa Indonesia dalam suatu Gerakan Operasi
                   Militer dan atau pembangunan negara dan bangsa.
            ▪      Diberikan oleh Presiden atau usul Kapolri setelah mendapat pertimbangan
                   dari Dewan Tanda-tanda Kehormatan RI.
            ▪      Kepada Kesatuan-kesatuan Polri yang telah menerima Sam Karya
                   Nugraha Ulangan dengan ketentuan bahwa operasi yang dilaksanakan
                   tidak ada hubungan sangkut pautnya atau sebagai kelanjutan dari pada
                   operasi terdahulu.


4.   Tata Urut dan Pemakaian Tanda Kehormatan/Penghargaan.


     4.1.   Pemakaian Tanda-tanda Jasa Kehormatan ( untuk Polri) .


            ▪      Dipakai dalam bentuk asli (medali besar) dengan patranya secara lengkap
                   pada PDU I pada Upacara Peringatan Hari-hari Besar Nasional dan
                   menghormati peristiwa penting.


            ▪      Dipakai dalam bentuk miniatur (medali kecil) dengan patranya pada :
                   ○      Pakaian Dinas Upacara (PDU I) dalam Upacara Apel Kehormatan
                          dan Renungan Suci (AKRS) di TMP.
                   ○      PDU II pada acara resmi malam.


                                                                         /▪   Dipakai……
                                      35


      ▪     Dipakai dalam bentuk pita harian tanpa patra pada :
            ○      PDU III upacara Hari Kesaktian Pancasila.
            ○      PDU IV saat ziarah perorangan/rombongan di TMP.
            ○      Pakaian Dinas Harian (PDH).


4.2   Urut-urutan Pemakaian Tanda Jasa Kehormatan.


      ▪     Urut-urut Pemakaian Pita Tanda-tanda Jasa Kehormatan.
            ○      Bintang Republik Indonesia.
            ○      Bintang Mahaputra.
            ○      Bintang Sakti.
            ○      Bintang Dharma.
            ○      Bintang Gerilya.
            ○      Bintang Angkatan (Bintang Kartika Eka Paksi, Bintang Jalasena,
                   Bintang Swabuana Paksa, Bintang Bhayangkara).
            ○      Bintang Garuda.
            ○      Bintang Sewindu.
            ○      Bintang Jasa.
            ○      Bintang-bintang dari pemerintah asing dengan memperhatikan
                   tingkat derajat dan waktu penerimaan.
            ○      Satya Lencana Dasawarsa.
            ○      Satya Lencana Bhakti.
            ○      Satya Lencana Teladan.
            ○      Satya LencanaKesetiaan/ Prasetya Panca Warsa.
            ○      Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II.
            ○      Satya Lencana menurut kronologis peristiwanya.
            ○      Satya Lencana Dwidya Sistha.
            ○      Satya Lencana Angkatan (untuk jasa khusus) disumbangkan
                   kepada Angkatan/ Polri.
                                                                   /○     Satya…….
                            36


    ○      Satya Lencana untuk jasa-jasa khusus dalam bidang Sospol.
    ○      Satya Lencana dari pemerintah asing dengan memperhatikan
           tingkat, derajat, dan waktu penerimaannya.


▪   Susunan pemakaian pita gantung pada dada :


    ○      Satu deretan ditentukan paling banyak 9 buah.
    ○      Pemakaian 3 buah atau kurang sejajar.
    ○      Pemakaian lebih dari 3 sampai 9 buah dipasang berhimpit sehingga
           Tanda Jasa Kehormatan yang lebih rendah tingkatannya terlihat
           sekurang-kurangnya 1/3 bagian di bawah dari yang lebih tinggi
           tingkatannya.
    ○      Pemakaian lebih dari 9 buah diatur menjadi 2 deretan.


▪   Pemakaian bintang yang berpita selempang dikenakan dari pundak kanan
    ke pinggang kiri.


▪   Pemakaian bintang yang berpita kalung :
    ○      Dikalungkan melingkari leher dengan ujungnya di tengah dada.
    ○      Apabila memiliki lebih dari 1 buah, maka yang lebih tinggi
           derajatnya dikalungkan di atasnya/ di luarnya.


▪   Pemakaian patra sebagai berikut :
           Ditempatkan pada saku baku di dada sebelah kiri di bawah kancing
    dengan ketentuan sebagai berikut :
    ○      1 patra di tengah-tengah saku.
    ○      2 patra di tengah-tengah saku dari atas ke bawah menurut
           derajatnya.
                                                            /○     3 patra…..
                                     37


            ○      3 patra di tengah-tengah saku yang tertinggi di bawah sebelah
                   kanan yang lebih rendah di sebelah kiri.
            ○      4 patra merupakan silang empat sepertiga patra.


      ▪     Susunan bentuk pita harian ditempatkan pada dada kiri satu sentimeter di
            atas saku dan disusun sejajar dari kanan ke kiri dalam deretan :
            ○      Disusun tiap deretan 3 buah, dan deretan teratas dapat kurang dari
                   3 buah pita.
            ○      16 buah pita atau lebih disusun setiap deretan 4 buah pita.


4.3   Pemakaian , Penyematan, Pencabutan tanda Kehormatan untuk PNS
      ▪     Pemakaian


            ○      Satyalencana Karya Satya dipakai pada Upacara hari besar
                   Nasional ( Ulang tahun kemerdekaan RI, Kesaktian Pancasila,
                   Sumpah Pemuda , hari Pahlawan, Kebangkitan Nasional, HUT
                   Polri, HUT Korpri).
            ○      Disematkan pada dada sebelah kiri diatas saku baju, dari kanan ke
                   kiri berdasarkan urutan tertinggi derajatnya ( Bintang, SL Karya
                   Satya yang tertinggi dll).
            ○      Pakaian seragam Korpri, pakaian sipil lengkap, pakaian sipil resmi.
            ○      Bagi pensiunan apabila menghadiri HUT/ hari besar Nasional
                   padat memakai SL karya Satya yang tertinggi.
            ○      Apabila yang bersangkutan meninggal dunia maka SL tidak dapat
                   beralih kepada ahli waris.
            ○      Apabila penerima SL meninggal dunia maka penganugerahan
                   dapat diterimakan kepada ahli warisnya.


                                                                     /▪ Penyematan……
                               38


▪      Penyematan dilakukan oleh Kasatker/Pejabat lain yang ditunjuk serendah-
       rendahnya setingkat Kapolres atas nama Presiden.
▪      Hak pemakaiannya dicabut apabila diajtuhi Hukuman Disiplin tingkat
       berat berupa PTDH berdasarkan perundang-undangan yang berlaku atau
       berdasarka keputusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
       tetap, dikenakan hukuman tambahan berupa pencabutan hak menerima
       dan memakai SL Karya Satya.
▪      Penganugerahan dan Pencabutan ditetapkan dengan Keputusan Presiden
       setelah mendengar pertimbangan dari Dewan Tanda-tanda Kehormatan
       Republik Indonesia atas usul Kapolri.


CATATAN :
       Tatacara pengusulan termasuk didalamya pembentukan Panitia tingkat
daerah/Wilayah, Panitia tingkat Pusat, periodesasi proses pengusulan masih
menunggu Peraturan/Keputusan lebih lanjut.




                                                                   / BAB V …..
                                       BAB V
                           NIKAH TALAQ/ CERAI DAN RUJUK




Kompetensi Dasar
Memahami Nikah Talaq / Cerai dan rujuk.


Indikator Hasil Belajar.
1.   Menjelaskan pengertian Nikah Talaq / Cerai dan rujuk.
2.   Menjelaskan Ketentuan-ketentuan Nikah Talaq / Cerai dan rujuk.
3.   Menjelaskan Proses Administrasi Ijin Nikah, Cerai dan Rujuk.
4.   Menjelaskan Pelaksanaan Ijin Nikah, Cerai dan Rujuk.
                                           40


1.   Bahasan NTCR.


     1.1   Pernikahan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang
           wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
           yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.


     1.2   Perceraian/ Talaq adalah putusnya hubungan antara-suami isteri yang disyahkan
           oleh Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri.
           Perceraian/ Talaq dalam agama Islam terbagi ke dalam 2 (dua) bagian yaitu :
           ▪      Talaq Roj’i adalah perceraian yang masih diperbolehkan untuk rukun
                  kembali sebagai suami-isteri sebelum habis masa iddah.
           ▪      Talaq Ba’in adalah perceraian yang sudah tidak diperbolehka untuk rujuk
                  kembali, kecuali dengan syarat bahwa bekas isteri telah dinikahi oleh
                  orang lain dan telah bercerai pula dengan orang tersebut.


     1.3   Rujuk adalah kembalinya kehidupan suami-isteri setelah terjadinya perceraian
           sebelum masa iddah.


     1.4   Iddah adalah batas waktu menunggu bagi seorang wanita yang ditingal mati
           suami atau diceraikan oleh suaminya.


           Masa iddah menurut agama Islam terbagi dalam 2 (dua) bagian yaitu :
           ▪      Iddah karena ditinggal mati suami lamamnya 4 (empat) bulan 10 (sepuluh)
                  hari atau bila ia hamil maka masa iddahnya (masa tunggunya) sampai ia
                  melahirkan.
           ▪      Iddah karena perceraian lamanya 3 (tiga) kali suci (kurang lebih 3 bulan).




                                                                          / 1.5. Pejabat …..
                                              41


     1.5.   Pejabat     Agama     adalah Rohaniawan-rohaniawan Islam, Katholik, Protestan,
            Hindu dan Budha yag bertugas pada Pembinaan Mental di lingkungan Polri.


     1.6.   Pembina Polwan adalah Kabiro Binjah pada tingkat Mabes Polri dan Karo Pers
            pada tingkat Polda.


2.   Ketentuan-ketentuan.


     2.1    Ketentuan Umum.


            ▪         Setiap perkawinan, perceraian dan rujuk harus dilaksanakan menurut
                      ketentuan/ tuntunan agama yang dianut oleh Personel Polri yang
                      bersangkutan dan menurut perundang-undangan yang berlaku.


            ▪         Pada prinsipnya seorang Personel Polri (Anggota dan PNS) hanya
                      diijinkan mempunyai seorang isteri/ suami.


            ▪         Setiap Personel Polri yang aka melaksanakan perkawinan, perceraian dan
                      rujuk harus mendapat ijin tertulis dari Atasan/ Pejabat yang berwenang
                      memberikan ijin.


            ▪         Ijin kawin, cerai dan rujuk hanya akan diberikan apabila perkawinan,
                      perceraian dan rujuk yang akan dilaksanakan itu tidak melanggar hukum
                      agama yang dianut kedua belah pihak yang bersangkutan, dan ketentuan-
                      ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


            ▪         Setiap Personel Polri yang akan melaksanakan perkawinan/ perceraian/
                      rujuk diwajibkan menghadap pejabat agama sebelum mendapat ijin kawin/
                      cerai/ rujuk dari pejabat yang berwenang.
                                                                             /▪   Pejabat …..
                                     42


       ▪     Pejabat Agama hanya akan melayani dan memproses permohonan ijin
             kawin/ cerai/ rujuk dari Personel Polri jika kedua belah pihak yang
             bersangkutan menganut agama yang sama.


       ▪     Personel Polri tidak diperkenankan :
             ○      Melaksanakan     perkawinan     selama   mengikuti      pendidikan
                    pembentukan pertama/ pendidikan dasar.
             ○      Hidup bersama dengan wanita/ pria sebagai suami-isteri tanpa
                    ikatan perkawinan yang syah. Melaksanakan perkawinan selama
                    masa iddah.


       ▪     Personel Polri tidak dibenarkan mengubah agamanya semula hanya untuk
             melaksanakan perkawinan, terkecuali setelah adanya pernyataan tertulis
             dari yang bersangkutan yang diketahui Ankumnya dan disyahkan oleh
             Pejabat Agama Polri atau Pejabat Agama setempat.


2.2.   Ketentuan Khusus.


       ▪     Bagi Personel Polri yang beragama Protestan dan Katholik pada
             prinsipnya tidak diperkenankan adanya perceraian.


       ▪     Untuk Polwan :


             ○      Bila akan melaksanakan perkawinan/ perceraian/ rujuk disamping
                    menghadap pejabat agama, juga wajib menghadap Pembina
                    Polwan untuk memperoleh bimbingan dan persetujuannya.
             ○      Dilarang/ tidak diperkenankan kawin dengan sesama Anggota
                    Polri yang golongan kepangkatannya lebih rendah.


                                                                       /○     Ijin …..
                                            43


                  ○        Ijin kawin dapat diberikan setelah sekurang-kurangnya 2 (dua)
                           tahun menjalankan dinas dihitung mulai pengangkatan pertama
                           dalam pangkat efektif bagi Bintara/ Tamtama dan 1 (satu) tahun
                           bagi Perwira.
                  ○        Tidak diperkenankan menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat (di
                           madu).
                  ○        Tidak diperkenankan melaksanakan perkawinan campuran dengan
                           warga negara asing (ada kemungkinan diberhentikan dari dinas
                           Polri, karena kehilangan kewarganegaraan bukan akibat tindak
                           pidana sesuai pasal 19 ayat 1 huruf f PP No. 52 tahun 1958).


           ▪      PNS wanita dilarang/ tidak diijinkan untuk menjadi isteri kedua, ketiga
                  dan keempat dari Pegawai Negeri Sipil.


3.   Proses Administrasi Ijin Kawin, Cerai dan Rujuk.


     3.1   Penggolongan.


           ▪      Ijin kawin hanya akan diberikan apabila :


                  ○        Perkawinan/ pernikahan yang akan dilaksanakan tidak melanggar
                           hukum agama yang dianut oleh kedua belah pihak dan peraturan
                           perundang-undangan yang berlaku.
                  ○        Perkawinan/     pernikahan   tersebut   memperlihatkan    prospek
                           kebahagiaan dan kesejahteraan bagi calon suami-isteri yang
                           bersangkutan.
                  ○        Perkawinan/ pernikahan yang akan dilaksanakan tidak membawa
                           pengaruh atau akibat yang dapat merugikan kedinasan atau nama
                           baik Polri.
                                                                              /▪     Ijin …..
                             44




▪   Ijin kawin dapat ditolak apabila :


    ○      Tabi’at,   kelakuan      dan    reputasi   calon    suami-isteri   yang
           bersangkutan     tidak    sesuai   dengan    kaidah-kaidah     (norma)
           kehidupan yang berlaku dalam masyarakat.
    ○      Ada kemungkinan bahwa perkawinan itu akan merendahkan
           martabat Polri atau mengakibatkan kerugian terhadap nama baik
           Polri ataupun negara baik langsung maupun tidak langsung.
    ○      Tidak memenuhi ketentuan persyaratan administrasi.


▪   Pemberian ijin kawin untuk mempunyai isteri lebih dari seorang dapat
    dipertimbangkan apabila memenuhi kelima unsur sebagai berikut :


    ○      Hal tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan agama yang
           dianut.
    ○      Isteri pertama tidak dapat melahirkan keturunan atau tidak mampu
           memenuhi kewajibannya sebagai isteri yang dibuktikan dengan
           surat keterangan dokter.
    ○      Adanya surat pernyataan dari calon isteri yang menyatakan tidak
           keberatan dan sanggup untuk menjadi madu.
    ○      Ada surat pernyataan/ persetujuan isteri pertama untuk dimadu.
    ○      Ada surat pernyataan dari suami bahwa ia akan berlaku adil dan
           sanggup serta mampu menjamin kebutuhan jasmani dan rohani
           isteri-isteri dan anak-anaknya.


▪   Ijin Cerai hanya diberikan apabila :




                                                          /○       Perceraian …..
                              45


    ○      Perceraian yang akan dilaksanakan tidak bertentangan dengan
           hukum agama yang dianut oleh kedua belah pihak, serta tidak
           melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.
    ○      Perkawinan yang telah dilaksanakan tidak memberikan manfaat
           ketenteraman jiwa dan kebahagiaan hidup sebagai suami-isteri.
    ○      Ada pernyataan tertulis dari Pejabat Agama/ Rohaniawan Polri.


▪   Permohonan Ijin Cerai dapat ditolak apabila :


    ○      Perceraian yang akan dilakukan itu bertentangan dengan hukum
           agama yang dianut oleh kedua belah pihak, dan bertentangan
           dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
    ○      Alasan-alasan yang dikemukakan oleh anggota yang bersangkutan
           tidak cukup kuat atau dibuat-buat.


▪   Ijin Rujuk diberikan apabila :


    ○      Tidak bertentangan dengan hukum agama yang dianut oleh kedua
           belah pihak serta tidak melanggar peraturan perundang-undangan
           yang berlaku.
    ○      Perceraian itu adalah talaq roj’i yakni talaq yang masih
           diperbolehkan untuk rujuk/ kembali selama masa iddah belum
           berakhir.


▪   Ijin Rujuk ditolak apabila :


    ○      Talaq ba’in, yakni perceraian itu adalah talaq 3 (tiga).




                                                             /○       Khulu’ …..
                                        46


              ○      Khulu’ (talaq tebus), yakni talaq yang diucapkan oleh suami atas
                     kehendak dan kemauan isteri dengan pembayaran tebusan kepada
                     suami.
              ○      Tabi’at,    kelakuan    dan    reputasi   calon   suami-isteri   yang
                     bersangkutan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah (norma kehidupan
                     yang berlaku dalam masyarakat).


       ▪      Masa berlakunya surat ijin kawin/ cerai dan rujuk.


              ○      Surat ijin kawin hanya berlaku selama 6 (enam) bulan terhitung
                     mulai tangal dikeluarkan, dan apabila tidak jadi dilaksanakan maka
                     yang bersangkutan harus melaporkan pembatalan tersebut disertai
                     dengan alasan secara tertulis kepada pejabat yang mengeluarkan
                     surat ijin tersebut.
              ○      Surat ijin cerai hanya berlaku dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung
                     mulai tanggal dikeluarkannya, dan apabila tidak jadi dilakukan
                     maka yang bersangkutan harus segera melaporkannya pembatalan
                     kepada pejabat yang mengeluarkan surat ijin tersebut.


       ▪      Dalam hal permohonan ijin kawin/ cerai/ rujuk ditolak oleh Pejabat yang
              berwenang, kecuali ditolak oleh Presiden, maka yang bersangkutan dapat
              mengajukan permohonan naik banding kepada pejabat yang berwenang
              setingkat lebih tinggi dari Pejabat tersebut.


       ▪      Putusan dari suatu permohonan naik banding diberitahukan kepada yang
              bersangkutan secara tertulis, dan merupakan keputusan terkahir.


3.2.   Penyelesaian Administrasi.


                                                                           /▪     Ijin …..
                              47


▪   Ijin Kawin.


    ○       Untuk   memperoleh     ijin   kawin,   yang bersangkutan   harus
            mengajukan surat permohonan ijin kawin kepada pejabat yang
            berwenang sesuai hierarki.
    ○       Sebelum surat permohonan ijin kawin disampaikan kepada pejabat
            yang berwenang, kedua calon mempelai diwajibkan menghadap
            Pejabat Agama untuk menerima petunjuk/ arahan dan nasehat
            perkawinan.
    ○       Pejabat Agama akan memberikan pendapat/ pertanyaan tertulis
            setelah meneliti berkas permohonannya.
    ○       Pejabat yang berwenang tidak dibenarkan mengeluarkan surat ijin
            sebelum ada pernyataan tertulis dari Pejabat Agama.
    ○       Khusus untuk Polwan harus melampirka surat rekomendasi dari
            Pembina Polwan.


▪   Ijin Cerai.


    ○       Permohonan ijin cerai diajukan kepada pejabat yang berwenang.
    ○       Harus melampirkan pendapat tertulis dari Pejabat Agama.
    ○       Pejabat agama membuat berita acara tentang sebab musabab
            terjadinya keretakan rumah tangga.


▪   Ijin Rujuk.


            Yang bersangkutan mengajukan permohonan tertulis ijin rujuk
    kepada pejabat yang berwenang, dan seterusnya untuk mendapatkan
    pengarahan dari Pejabat Agama.


                                                       /▪    Persyaratan …..
                              48


▪   Persyaratan Administrasi Ijin Kawin, antara lain sebagai berikut :


    ○      Surat keterangan tentang nama, tempat dan tanggal lahir, agama,
           pekerjaan dan tempat kediaman suami-isteri apabila salah satu atau
           keduanya pernah kawin, disebutkan nama isteri atau suami
           terdahulu.
    ○      Surat keterangan tentang nama, agama, pekerjaan dan tempat
           kediaman orang tua/ wali mereka.
    ○      Surat kesanggupan dari calon isteri/ suami untuk menjadi isteri/
           suami Anggota Polri.
    ○      Surat keterangan dari yang berwenang, bahwa calon suami telah
           mencapai usia 19 tahun dan calon isteri 16 tahun.
    ○      Surat persetujuan dari Pengadilan atau pejabat yang ditunjuk oleh
           kedua orang tua calon suami-isteri dalam hal calonnya belum
           mencapai usia tersebut.
    ○      Surat persetujuan ayah/ wali calon isteri/ suami.
    ○      Surat keterangan Pejabat Personalia mengenai status belum/
           pernah kawin atau beristeri/ bersuami, dari anggota yang
           bersangkutan.
    ○      Surat keterangan cerai/ kematian suami/ isteri dari calon suami/
           isteri apabila mereka sudah janda/ duda, dan surat keterangan bagi
           yang belum nikah.
    ○      Surat keterangan dari Polri/ SKKB.
    ○      Surat keterangan dokter Polri mengenai kesehatan anggota yang
           bersangkutan dari calon suami/ isteri.
    ○      Enam lembar pas photo yang bersangkutan dari calon suami/ isteri
           ukuran 4 x 6 cm.
    ○      Selain persyaratan tersebut :


                                                               /-        Bagi …..
                                     49


                     -     Bagi yang beragama Kristen Protestan harus melampirkan
                           surat permandian/ baptis dan surat sidi.
                     -     Bagi yang beragama Kristen Katholik harus melampirkan :
                            -     Surat permandian atau surat keterangan yang sejajar
                                  dengan itu sebagai orang Katholik dan tidak lebih
                                  tua dari 6 bulan.
                            -     Surat keterangan Pastor Paroki setempat dapat
                                  tidaknya menerimakan sakramen perkawinan sesuai
                                  persyaratan     perkawinan      sesuai   persyaratan
                                  perkawinan Gereja Katholik.
                     -     Bagi yang beragama Hindu/ Budha yang menempuh
                           perkawinan Ngerorod (pelarian) maka :
                            -     Surat persetujuan orang tua/ wali dari kedua belah
                                  pihak calon suami-isteri dapat dilengkapi kemudian
                                  setelah diadakan upacara perkawinan.
                            -     Apabila surat persetujuan sukar didapat, maka surat
                                  keterangan itu dapat diberikan oleh kepala/ pemuka
                                  adat agama Hindu/ Budha setempat dimana
                                  perkawinan itu dilakukan.


3.3   Ketentuan Waktu.


             Jangka waktu yang diperlukan dalam proses persiapan perkawinan yang
      menyangkut segi keagamaan adalah sebagai berikut :


      ▪      Bagi yang beragama Islam 15 hari sebelum tanggal pelaksanaan
             perkawinan.




                                                                      /▪     Bagi …..
                                            50


           ▪        Bagi yang beragama Kristen Protestan adalah 30 hari sebelum tanggal
                    pelaksanaan.


           ▪        Bagi yang beragama Katholik dan Hindu/ Budha 3 bula sebelum tanggal
                    pelaksanaan.


4.   Pelaksanaan.


     4.1   Administrasi.


           ▪        Bagi Pati/ PNS Gol. IV oleh Kapolri.
           ▪        Bagi Pamen kewenangan Kapolri didelegasikan kepada Desumdaman.
           ▪        Pama ke bawah di lingkungan Mabes Polri kewenangan Kapolri
                    didelegasikan kepada para Kasatkernya.
           ▪        Bagi Pama di lingkungan Polda kewenangan Kapolda.
           ▪        Bagi Ba/ Ta Mapolda oleh Karo Pers.
           ▪        Bagi Ba/ Ta Mapolwil oleh Kapolwil/ Tabes.
           ▪        Ba/ Ta Poltabes/ Metro/ Resta/ Res oleh Kapoltabes/ Res Metro/ Resta/
                    Res.


     4.2   Perkawinan.


           ▪        Setelah Personel Polri mendapat surat ijin kawin, maka menyampaikan
                    maksudnya kepada :


                    ○      KUA bagi yang beragama Islam.
                    ○      Pejabat Catatan Sipil/ Gereja bagi yang beragama      Kristen
                           Protestan/ Katholik.


                                                                        /○    Pejabat …..
                                        51


             ○      Pejabat Catatan Sipil bagi yang beragama Hindu/ Budha.


      ▪      Setelah perkawinan dilangsungkan, maka salinan foto copy Akte Nikah
             diserahkan kepada Pejabat        Personalia, tembusan kepada    Bagian
             Pembinaan Mental dan Pembina Polwan.


4.3   Perceraian.


      ▪      Apabila terjadi kericuhan dalam rumah tangga yang tidak dapat
             diselesaikan maka harus dilaporkan kepada Atasannya/ Ankum untuk
             diadakan upaya perbaikan.


      ▪      Apabila perselisihan tidak dapat dirukunkan kembali, yang bersangkutan
             dapat mengajukan permohonan cerai kepada Atasannya unuk diteruskan
             kepada Pejabat Agama/ Bintal.


      ▪      Langkah Pejabat Agama antara lain sebagai berikut :


             ○      Harus mendamaikan/ merukunkan suami-isteri yang berselisih.
             ○      Bila tidak dapat dirukunkan, maka diadakan pemeriksaan dan
                    membuat Berita Acara yang memuat sebab musabab perselisihan,
                    pihak suami-isteri yang tidak wajar dan dapat diambil kesimpulan
                    sebagai bahan pertimbangan pejabat yang berwenang memberikan
                    surat ijin cerai.


      ▪      Setelah mendapat surat ijin cerai, maka :


             ○      Pengadilan Agama bagi yang beragama Islam.


                                                              /○    Pengadilan ……
                                       52


              ○      Pengadilan Negeri setempat bagi yang beragama Protestan/
                     Katholik, Hindu/ Budha.


      ▪       Gugatan cerai oleh suami-isteri yang bukan Anggota Polri disampaikan
              langsung oleh yang bersangkutan kepada Pengadilan Agama/ Negeri
              dimana tergugat berdomisili.


      ▪       Setiap anggota yang menerima gugatan segera melaporkan kepada
              Atasannya.


      ▪       Perceraian syah apabila telah mendapat Keputusan dari Pengadilan
              Agama/ Negeri.


      ▪       Salinan surat cerai diserahkan kepada Pejabat Personalia.


4.4   R u j u k.


      ▪       Personel Polri yang akan mengajukan rujuk dan sudah mendapat ijin dari
              Atasannya seterusnya melanjutkan kepada Pengadilan Agama/ Negeri.


      ▪       Salinan surat rujuk disampaikan kepada Pejabat Personalia tembusan
              Bagian Bintal.


4.5   N a f k a h.


      ▪       Apabila perceraian terjadi atas kehendak Anggota Polri Pria, maka ia
              wajib menyerahkan 1/3 gaji untuk mantan isterinya, 1/3 untuk anak-
              anaknya apabila mengikuti bekas isterinya sampai ada Keputusan
              Pengadilan yang tetap.
                                                                    /▪    Apabila …..
                                      53


     ▪       Apabila atas kehendak isteri/ ketidak wajaran isteri, maka isteri tidak
             dapat bagian.
     ▪       Pelaksanaan pemberian nafkah dilaksanakan oleh Dinas melalui Juru
             Bayar.


     Untuk PNS berdasarkan PP No. 10 Th. 1983 adalah sebagai berikut :


     ▪       Apabila perceraian iu atas kehendak PNS Pria maka 1/3 gajinya untuk
             yang bersangkutan, 1/3 untuk bekas isterinya, 1/3 untuk anak-anaknya.


     ▪       Kalau punya anak 1/2 (sebagian) dari gajinya untuk bekas isterinya.


     ▪       Atas kehendak isterinya maka bekas isterinya tidak dapat bagian.


4.   S a n k s i.


     ▪       Bagi Anggota Polri yang melanggar ketentuan umum berdasarkan Juklak
             Kapolri No. Pol. : Juklak/07/III/1988, pasal 5 ayat a dan b (Ketentuan
             Umum) yaitu dapat diberhentikan dari Dinas Kepolisian.
     ▪       Bagi Polwan yang menikah sebelum habis masa ikatan dinasnya akan di
             PDH.
     ▪       Bagi Anggota Polwan/ PNS Wanita yang melanggar ketentuan agama,
             sehingga menurut perhitungan medis sebelum saatnya melahirkan,
             ternyata telah melahirkan akan diambil tindakan oleh Ankumnya.
     ▪       Bagi PNS yang melanggar PP No. 10 Th. 1983 pasal 3 ayat (1), pasal 4
             ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), pasal 15 ayat (1) dijatuhi hukuman disiplin
             berupa PDH bukan atas permintaan sendiri sebagai PNS.




                                                                            /BAB V…..
                                     BAB VI
                   PROSEDUR DAN MEKANISME PENERBITAN
                  KARTU PENUNJUKAN ISTERI/ SUAMI (KAPI/ S)


Kompetensi Dasar
Memahami Prosedur dan Mekanisme Penerbitan Kartu Penunjukan Istri/Suami.
.


Indikator Hasil Belajar.
1.   Menjelaskan Manfaat Kartu Penunjukan Istri/Suami (KAPI/S).
2.   Menjelaskan Penggolongan Kartu Penunjukan Istri/Suami (KAPI/S).
3.   Menjelaskan Pelaksanaan Pembuatan Kartu Penunjukan Istri/Suami (KAPI/S).
                                          55


1.   Manfaat KAPI/S


     1.1   Untuk mewujudkan tercapainya tertib Administrasi Personel terutama dalam
           penerbitan pemberian hak pensiun warakawuri/ duda dan tunjangan anak anggota
           Polri, perlu diatur tata cara penerbitan KAPI/ S bagi mereka yang sudah kawin.


     1.2   KAPI/ S ini merupakan identitas resmi bagi isteri/ suami Personel Polri dimana
           kegunaannya untuk menerima hak pensiun warakawuri/ duda dan tunjangan anak.


2.   Penggolongan.


     2.1   Pelaksanaan penunjukan isteri/ suami Anggota Polri digunakan 2 macam blanko
           yaitu sebagai berikut :


           ▪      Formulir Penunjukan Isteri/ Suami.
           ▪      Kartu Penunjukan Isteri/ Suami.


     2.2   Kegunaan Blanko sebagai berikut :


           ▪      Formulir Penunjukan Isteri/ Suami digunakan untuk pengajuan proses
                  mendapatkan KAPI/ S yang berisi data suami, isteri, anak yang syah
                  sesuai ketentuan yang ada.
           ▪      KAPI/ S Anggota Polri yang digunakan untuk proses penerimaan hak
                  pensiun warakawuri/ duda Anggota Polri.




                                                                         / 2.3   Bentuk …..
                                     56


2.3   Bentuk dan Warna.


      ▪     Formulir Penunjukan Isteri/ Suami.


            ○      Bentuk Formulis Penunjukan Isteri/ Suami terbuat dari kertas volio
                   satu muka berisi format tentang data suami, isteri, anak yang syah
                   sesuai peraturan yang berlaku dan tempat pas photo bersama
                   suami/ isteri serta kolom pengesahan dari pejabat yang berwenang.
            ○      Warna Formulir Penunjukan Isteri/ Suami terdiri dari 4 warna yaiu
                   putih, merah muda, hijau muda, dan kuning.


      ▪     Bentuk KPI/ S adalah :


            ○      Empat persegi panjang dua muka (bolak balik), muka I berisi 3
                   kolom antara lain kolom 1 mutasi pangkat yang bersangkutan,
                   kolom 2 Kop Polri/ Mabes Polri, kolom 3 berisi petrunjuk singkat
                   tentang ketentuan penunjukan isteri/ suami.
            ○      Kertas bufalo 60 gram.
            ○      Tiap muka dibagi 3 kolom yaitu :


                   -      Muka pertama terdiri dari kolom pertama mutasi pangkat
                          yang bersangkutan, kolom kedua Kop Polri/ Mabes Polri,
                          KAPI/ S dan Skep Kapolri sebagai dasar serta nomor
                          penerbitan, kolom ketiga berisi petunjuk singkat tentang
                          ketentuan penunjukan isteri/ suami.
                   -      Muka kedua terdiri dari kolom pertama identitas suami dan
                          isteri yang ditunjuk, kolom kedua untuk foto bersama
                          suami dan isteri serta tanda tangan dan sidik jari suami-
                          isteri masing-masing, kolom ketiga tentang daftar anak.
                                                                  /○      Warna …..
                                      57


             ○      Warna KAPI/ S adalah kuning muda, huruf serta tanda yang ada
                    dicetak berwarna hitam, khusus untuk muka kedua seluruhnya
                    dipakai tulisan Polri sebagai dasar.


2.4   Penyelenggaraan Blanko.


      ▪      Untuk tingkat Mabes Polri (Badan Pelaksana dan Pelayanan Pusat) oleh
             Biro Binjah.
      ▪      Untuk tingkat Kewilayahan oleh Satuan Kepolisian tingkat Polda.


2.5   Ketentuan dalam penunjukan isteri/ suami dan pendaftaran anak Anggota Polri.


      ▪      Untuk menunjukan suami/ isteri Anggota Polri yang berhak menerima
             pensiun warakawuri/ duda dan pendaftaran anak yang berhak menerima
             tunjangan, diharuskan mengisi formulir yang telah disediakan.


      ▪      Yang ditunjuk sebagai isteri/ suami yang berhak menerima pensiun
             warakawuri/ duda adalah isteri/ suami yang terikat dalam perkawinan
             yang pelaksanaannya dilaksanakan secara sah atau diakui oleh Dinas.


      ▪      Apabila terbukti mempunyai lebih dari seorang isteri maka yang berhak
             hanya isteri yang sah dan diakui oleh Dinas.


      ▪      Jika    ternyata    seorang       Anggota      Polri    laki-laki      sampai
             gugur/tewas/meninggal     dunia    belum      sempat   mengajukan      proses
             penunjukan isteri yang berhak menerima pensiun warakawuri, maka isteri
             yang masih terikat dalam hubungan perkawinan yang sah yang berhak
             menerima pensiun warakawuri.


                                                                      /▪         Dalam …..
                                          58


           ▪      Dalam hal suami isteri sama-sama Anggota Polri maka keduanya berhak
                  mengajukan dan memperoleh KAPI/S, sehingga apabila salah satu
                  meninggal dunia maka tetap suami/isteri dapat menerima pensiun
                  warakawuri/duda.


           ▪      Anak-anak yang didaftarkan sebagai yang berhak menerima tunjangan
                  anak yatim/piatu adalah setiap anak Anggota Polri yang sah atau sah
                  menurut hukum, termasuk anak-anak hasil dari semua perkawinan yang
                  dilakuka secara sah, serta semua anak dari isteri yang     telah dicerai
                  meninggal dunia.


     2.6   Wewenang Pengesahan.


           ▪      Penandatanganan formulir dan KAPI/S sebagai proses pengesahan dan
                  penggunaannya oleh Kasatker.


           ▪      Penyelesaian administrasi tanggungjawab Kasatker melalui pejabat
                  personelnya.


3.   Pelaksanaan Pembuatan KAPI/S.


     3.1   Persyaratan Administrasi.


           ▪      Foto copy akte nikah rangkap 4 (empat).
           ▪      Foto copy akte kelahiran anak.
           ▪      Pas photo bersama suami-isteri berwarna ukuran 4 x 6 cm 5 (lima) lembar,
                  pakaian PDH tanpa tutup kepala, PSK bagi suami sipil bebas rapih.




                                                                 / 3.2   Penyelesaian ……
                                       59


3.2   Penyelesaian Administrasi.


      ▪      Pengisian formulir dan KPI/ S oleh Pejabat Personalia.
      ▪      Disebitkan hubungan anak yang dicantumkan dalam formulir atau KPI/ S.
      ▪      Membubuhkan sidik jari (ibu jari kanan) di bawah photo.
      ▪      Ditandatangani oleh yang bersangkutan (suami-isteri) dan disyahkan oleh
             Kasatker.
      ▪      Apabila terjadi perubahan data, selambat-lambatnya 3 bulan setelah terjadi
             perubahan.
      ▪      KPI/ S hanya sekali diterbitkan dan berlaku sejak tanggal dikeluarkan
             kecuali ada hal-hal tertentu seperti kawin lagi, hilang dan lain-lain.
      ▪      Penandatanganan Pamen, Pama ke bawah oleh Kasatker, sedangkan
             Pamen sebagai Kasatker oleh Pejabat di atasnya, Pati di Mabes Polri oleh
             Desumdaman Atas nama Kapolri.
      ▪      Bagi Anggota Polri yang ditugaskan di luar Polri (Pejabat Eksekutif dan
             Legislatif) pengajuannya oleh Satker yang bersangkutan atau Biro Binjah
             apabila pertama kali bertugas di daerah Jakarta.
      ▪      KPI/ S diserahkan kepada isteri/ suami yang ditunjuk.


3.3   Penyimpanan Formulir Penunjukan Isteri/ Suami.


      ▪      Untuk tingkat Mabes Polri (Staf dan Badan Pelaksana serta Pelayanan
             Tingkat Pusat).


             ○      Lembar I formulir disimpan pada CB yang bersangkutan di Biro
                    Jianstra Bagian Info Pers.
             ○      Lembar II formulir disimpan pada CB yang bersangkutan di
                    Satkernya.


                                                                      /○      Lembar …..
                           60


    ○     Lembar III formulir disimpan pada CB yang bersangkutan di Biro
          Binjah Bag Yanhak Subbag Jiwatjaldis.
    ○     Lembar IV formulir disimpan oleh yang bersangkutan.
          (penyimpan tersebut berlaku untuk semua golongan PA/ BA/ TA).


▪   Untuk tingkat Kewilayahan.


    ○     Golongan Perwira.


          -      Lembar I formulir disimpan pada CB yang bersangkutan di
                 Ro Pers Cq Urmintu.
          -      Lembar II formulir disimpan pada CB yang bersangkutan
                 di Satkernya.
          -      Lembar III formulir disimpan pada CB yang bersangkutan
                 di Bag Binjah Ro Pers Polda.
          -      Lembar IV formulir disimpan oleh yang bersangkutan.
          (Catatan unuk golongan Pamen ke atas 1 (satu) lembar foto copy
          formulir penunjukan isteri/ suami dikirim ke Ro Binjah Cq
          Bagyanhak Subbag Jiwatjaldis).


    ○     Golongan Pangkat Bintara dan Tamtama.


          -      Lembar I formulir disimpan pada CB yang bersangkutan di
                 Ro Pers Bag Binkar.
          -      Lembar II formulir disimpan pada CB yang bersangkutan
                 di Satkernya.
          -      Lembar III formulir disimpan pada CB yang bersangkutan
                 di Bag Binjah Ro Pers Polda.


                                                      /-        Lembar …..
                            61


           -      Lembar IV formulir disimpan oleh yang bersangkutan.
                  (Apabila terjadi perubahan golongan harus diadakan
                  perubahan).


▪   Untuk Lemdik Polri (Sespimpol, Lemdiklat, PTIK dan AKPOL).


    ○      Lembar I dan II       disimpan pada CB yang bersangkutan di
           Satkernya. Khusus untuk Satker di bawah Lemdiklat Polri, lembar
           I disimpan di Satker yang bersangkutan, lembar II dikirim ke
           Bagian Personalia Lemdiklat Polri.
    ○      Lembar III formulir disimpan di Ro Binjah Bag Yanhak.
    ○      Lembar IV formulir disimpan oleh yang bersangkutan.
    ○      Lembar IV formulir disimpan oleh yang bersangkutan.


▪   Catatan bahwa penyimpanan ini masih bisa berubah disesuaikan dengan
    Struktur Organisasi yang terbaru atau adaya Juknis/ Juklak terbaru.




                                                                / BAB VI …..
                                   BAB VI
                           PEMAKAMAN KEDINASAN
Kompetensi Dasar
Memahami yang berkaitan dengan Pemakaman Kedinasan.
.


Indikator Hasil Belajar.
1.   Menjelaskan Manfaat Pemakaman Kedinasan
2.   Menjelaskan Macam-macam Persyaratan Pemakaman.
3.   Menjelaskan Prosedur Tata Cara Pemakaman
4.   Menjelaskan Kegiatan-kegiatan Dalam Rangka Pemakaman.
5.   Menjelaskan Pelaksanaan Upacara
6.   Menjelaskan Ketentuan-ketentuan lain Pemakaman


.
                                               63




1.   Manfaat Pemakaman Kedinasan.


            Pemakaman kedinasan adalah pemakaman terhadap jenazah Anggota Polri aktif/
     yang sudah purnawirawan yang sudah diselenggarakan oleh dinas berdasarkan peraturan
     yang berlaku dan merupakan penghormatan terakhir dari dinas terhadap almarhum atas
     jasa-jasanya yang telah diberikan kepada bangsa dan negara Indonesia.


2.   Macam-macam Persyaratan Pemakaman.
     2.1    Pemakaman di Taman Makam Pahlawan.
            Pemakaman secara Dinas di TMP harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :


            ▪      Yang dinyatakan sebagai Pahlawan (berdasarkan peraturan perundang-
                   undangan yang berlaku).
            ▪      Gugur.
            ▪      Yang memiliki salah satu tanda kehormatan, berupa :
                   ○        Bintang RI.
                   ○        Bintang Mahaputra.
                   ○        Bintang Sakti.
                   ○        Bintang Dharma.
                   ○        Bintang Gerilya.
                   ○        Bintang Angkatan/ Polri Tingkat Utama atau Bintang Bhayangkara
                            Nararya yang diperoleh atas prestasi/ jasa yang luar biasa.


     2.2    Pemakaman di Taman Bahagia.
            Dengan persyaratan sebagai berikut :
            ▪      Anggota Polri yang dinyatakan tewas atau meninggal dunia biasa.
            ▪      Jenazah Purnawirawan         Polri   yang memiliki salah satu      tanda jasa
                   berbentuk Bintang selain yang dipersyaratkan untuk dimakamkan di TMP.
                                                                        /. 2.3. Pemakaman........
                                           64


     2.3.   Pemakaman di Pemakaman Umum, dapat dilaksanakan dalam hal atas permintaan
            keluarganya dengan seijin dari pada Dan Garnisun/ Dandim setempat.


3.   Prosedur Tata Cara Pemakaman.


            Berdasarkan Keputusan Pangab Nomor : KEP/03/IV/1989 Pasal 7, tentang
     Prosedur Tata Cara Pemakaman terutama yang akan dimakamkan di TMP atau TMB
     adalah sebagai berikut :


     3.1    Komandan yang bersangkutan mengajukan permintaan pemakaman kepada
            Komandan Garnisun tempat jenazah akan dimakamkan.


     3.2    Bagi Anggota ABRI atau Purnawirawan yang meninggal dunia di tempat yang
            tidak yang tidak ada Garnisun, permintaannya ditujukan kepada Dandim tempat
            jenazah akan dimakamkan.


     3.3    Pengajuan permintaan pemakaman dimaksud nomor 1 dan 2 di atas dilampiri
            dengan :
            ▪       Surat keterangan pernyataan Gugur/ Tewas.
            ▪       Surat Keputusan Presiden tentang Penganugrahan Bintang.
            ▪       Piagam Penganugrahan Bintang.
            ▪       Khusus bagi yang dianugrahi Bintang Angkatan/ Polri (Bintang Kartika
                    Eka Paksi Nararya, Bintang Jalasena Nararya, Bintang Swabhuana Paksa
                    Nararya dan Bintang Bhayangkara Nararya) agar melampirkan Skep
                    Presiden beserta Piagam Penganugrahannya.




                                                                        /. 4. Kegiatan .......
                                                65


4.   Kegiatan-kegiatan Dalam Rangka Pemakaman.


     4.1    Kegiatan di Kesatuan.


            ▪      Bagian yang terkait (Bag Pers/ Denma) masing-masing Kesatuan segera
                   mengecek kepastian dari pada kematian tersebut kepada pihak keluarga
                   atau Komandan Penugasan apabila dalam tugas Operasi.
            ▪      Mengecek nama, pangkat, jabatan, status masih aktif atau Purnawirawan.
            ▪      Tempat, tanggal dan akibat kematian.
            ▪      Meminta administrasi yang berkaitan dengan kejadian kematian dari
                   daerah penugasan (Sket Kematian, visum dari dokter).
            ▪      Menyiapka fasilitas dalam rangka upacara dan proses pemakaman (peti
                   jenazah, kain kapan, ruangan tempat jenazah).
            ▪      Koordinasi dengan bagian angkutan, pengawalan dan Garnisun/ Dandim
                   tempat pemakaman dilaksanakan (apabila dimakamkan di TMP dan
                   TMB).
            ▪      Koordinasi dengan Mabes Polri tentang Skep Gugur/ Tewas, Skep Tanda
                   Jasa/ Kehormatan.
            ▪      Menyiapkan administrasi pemakaman berupa :
                   ○       Riwayat hidup singkat almarhum.
                   ○       Tata Upacara : pengantaran, penyambutan, persemayaman dan
                           pemakaman.
                   ○       Amanat Irup di rumah duka dan pemakaman.
                   ○       Apel Persada.


     4.2.   Di Rumah Duka.
            ▪      Koordinasi petugas penggali makam.
            ▪      Pemasangan tenda dan kursi para pelayat.
            ▪      Penyiapan Sound System.
                                                                          /. ▪ Koordinasi .....
                                        66


▪   Koordinasi upacara keagamaan/ adat di rumah duka.
▪   Koordinasi perwakilan dari pihak keluarga penyerahan jenazah dan
    sambutan keluarga di pemakaman.
▪   Pengaturan para pelayat apabila lokasi memadai maka dapat diikut
    sertakan dalam upacara persemayaman dan diatur sedemikian rupa
    (disesuaikan dengan Ren Up).
▪   Pengaturan dalam perjalanan (berkendaraan) terdiri dari :
    ○      Kawal depan.
    ○      Kendaraan jenazah dan pelayat Polri/ TNI.
    ○      Pimpinan/ Komandan almarhum.
    ○      Keluarga.
    ○      Pelayat umum.
    ○      Tata tertib di pemakaman disesuaikan dengan TUM atau sesuai
           dengan situasi di lokasi :
           -      Barisan pasukan upacara.
           -      Regu Salvo.
           -      Kelompok Perwira.
           -      Kelompok pelayat berpakaian preman.
           -      Letak pembawa acara.
           -      Letak Irup.
           -      Letak Komandan Upacara.
           -      Letak wakil dari keluarga.
           -      Rohaniawan.
           -      Pembawa karangan bunga.




                                                       / 5.     Pelaksanaan …..
                                           67


5.   Pelaksanaan Upacara.


     5.1   Upacara Pengantaran.


           ▪     Upacara    Pengantaran      Jenazah    dimaksudkan     untuk    memberikan
                 penghormatan terakhir yang setinggi-tingginya atas jasa almarhum kepada
                 bangsa dan negara serta Polri karena rasa hormat yang didasarkan atas
                 keentuan agama/ adat kebiasaan yang dianut dan menjadi kewajiban
                 manusia termasuk Polri.


           ▪     Upacara Pengantaran dilaksanakan apabila dalam rangka pemakaman
                 dilaksanakan pemindahan jenazah dari suatu kota ke kota lain,
                 dilaksanakan di tempat pemberangkatan sebelum menuju ke tempat akan
                 dilaksanakan upacara persemayaman/ pemakaman di kota lain.


           ▪     Susunan Upacara, sebagai berikut :


                 ○      Paup laporan kepada Irup tentang kesiapan upacara.
                 ○      Laporan Danup kepada Irup (diawali penghormatan, Danup
                        laporan kepada Irup : “ LAPOR UPACARA PENGANTARAN
                        JENAZAH SIAP            DIMULAI        “.    Irup memerintahkan “
                        LANJUTKAN “ dijawab Danup : “ LANJUTKAN “ kemudian
                        balik kanan.
                 ○      Pasukan Pasang Sangkur (aba-aba dari Danup).
                 ○      Pasukan kehormatan berada di kiri jalan yang akan dilewati oleh
                        jenazah.
                 ○      Penghormatan kepada jenazah :
                        -         Penghormatan dilaksanakan pada saat jenazah menuju jalan
                                  ke luar dari tempat pengantaran.
                                                                            /-     Pada …..
                       68


    -       Pada saat jenazah melewati pasukan kehormatan, Danup
            memberikan aba-aba “ KEPADA JENAZAH HORMAT
            SENJATA GERAK “ setelah jenazah melewati pasukan
            kehormatan, Danup memberikan aba-aba “ TEGAK
            SENJATA GERAK “.


○   Setelah penghormaan kepada jenazah, pasukan lepas sangkur.


○   Danup    laporan       kepada   Irup   :   “       UPACARA     TELAH
    DILAKSANAKAN, LAPORAN SELESAI “ selanjutnya Irup
    memerintahkan      :    “   BUBARKAN           “    dijawab   Danup   :
    “ BUBARKAN “ kemudian memberikan penghormatan, balik
    kanan kemudia membubarkan pasukannya.


○   Keluarga almarhum menuju kereta merta dan menjelang
    pemberangkatan Paup laporan kepada Irup sebagai beriku ; “
    UPACARA       PENGANTARAN              TELAH        DILAKSANAKAN,
    LAPORAN SELESAI “, kemudian menghormat.


    Selanjutnya pemberangkatan diatur sebagai berikut :


    -       Pengawal jenazah yang ditunjuk untuk mengikuti jenazah
            minimal satu regu (dapat dirangkap oleh pasukan
            kehormatan.
    -       Pimpinan rombongan ditunjuk seorang Perwira dari
            kesatuan yang bersangkutan.




                                                       /▪     Upacara ……
                                    69


      ▪     Upacara dapat disesuaikan dengan situasi dan keadaan setempat.


5.2   Upacara penyambutan.


      ▪     Upacara    penyambutan       jenazah      dimaksud   untuk   memberikan
            penghormatan terakhir kepada almarhum atas jasanya yang telah diberikan
            kepada bangsa dan negara serta Polri.


      ▪     Upacara penyambutan dilaksanakan di tempat tujuan terakhir dimana
            jenazah akan dipersemayamkan, selama perjalanan khusus di tempat-
            tempat transit (stasiun, pelabuhan, lapangan terbang) tidak dilaksanakan
            upacara pengantaran/ penyambutan.


      ▪     Urutan-urutan upacara sebagai berikut :


            ○      Laporan Paup kepada Irup tentang kesiapan upacara.


            ○      Dengan diawali penghormatan, Danup laporan kepada Irup sebagai
                   berikut : “ LAPOR UPACARA PENYAMBUTAN JENAZAH
                   SIAP    DIMULAI       ”,   kemudian    Irup   memerintahkan   :   “
                   LANJUTKAN “ dijawab Danup : “ LANJUTKAN “, kemudian
                   balik kanan.


            ○      Penyerahan jenazah oleh pimpina rombongan kepada pejabat yang
                   menerima/ Irup : Pimpinan Rombongan : “ DENGAN INI SAYA
                   SERAHKAN JENAZAH ALMARHUM/ MAH (sebutkan nama,
                   pangkat, korps) “. Pejabat yang menerima/ Irup : “ DENGAN INI
                   SAYA TERIMA JENAZAH ALMARHUM/ MAH (sebutkan
                   nama, pangkat, korps) ”.
                                                                    /○    Pasuka …..
                                    70


            ○     Pasukan kehormatan mengambil tempat di kiri jalan masuk tempat
                  ke tempat persemayaman, pasukan pasang sangkur, aba-aba dari
                  Danup.


            ○     Para Hadirin dipersilahkan berdiri.


            ○     Penghormatan kepada jenazah :


                  -        Jenazah dikeluarkan dari kereta merta dan diusung menuju
                           tempat persemayaman.


                  -        Pada saat jenazah melewati pasukan kehormatan, Danup
                           memberikan aba-aba : “ KEPADA JENAZAH, HORMAT
                           SENJATA GERAK (anpa salvo). Setelah jenazah melewati
                           pasukan kehormatan, Danup memberikan aba-aba : “
                           TEGAK SENJATA GERAK “.


            ○     Setelah penghormatan kepada jenazah, pasukan lepas sangkur.


            ○     Danup laporan kepada Irup sebagai berikut : “ UPACARA
                  PENYAMBUTAN            TELAH    DILAKSANAKAN,         LAPORAN
                  SELESAI “, Irup memeritahkan “ BUBARKAN “, kemudian
                  menghorma kepada Irup setelah itu balik kanan kembali ketempat
                  semula dan membubarkan pasukannya.


            ○     Paup laporan kepada Irup, bahwa upacara telah dilaksanakan.


5.3   Upacara Persemayaman.


                                                                /▪     Upacara …..
                            71


▪   Upacara persemayaman adalah Upacara resmi menjelang upacara
    pemakaman dengan tujuan memberikan kesempatan terakhir kepada
    handai taulan/ warga untuk menyampaikan penghormatan kepada jenazah
    dan menyatakan bela sungkawa kepada keluarga yag ditinggilkan dan
    Komandan yang bersangkutan.


▪   Pelaksanaan persemayaman dilakukan di kesatuan kecuali ada satu dan
    lain hal dapat diadakan di rumah keluarga.


▪   Urutan-urutan acara :


    ○      Laporan Paup kepada Irup tentang kesiapan upacara.


    ○      Laporan Danup kepada Irup, didahului dengan penghormatan lalu
           laporan : “ LAPOR UPACARA PERSEMAYAMAN SIAP
           DIMULAI “, dijawab oleh Irup memerintahkan : “ LANJUTKAN
           “, dijawab oleh Danup : “ LANJUTKAN “, kemudian balik kanan
           kembali ketempat dan memerintahkan pasang sangkur : “
           PASANG SANGKUR GERAK “.


    ○      Sambutan oleh Irup.


    ○      Penghormatan kepada jenazah dipimpin oleh Danup, dilaksanakan
           pada saat jenazah keluar dari tempat persemayaman, bunyi : “
           KEPADA JENAZAH, HORMAT SENJATA GERAK “, sampai
           jenazah dimasukan kedalam kereta merta, setelah itu kembali anup
           memberikan aba-aba : “ TEGAK SENJATA GERAK “, kemudian
           lepas sangkur.


                                                       /○       Laporan …..
                               72


    ○       Laporan Danup kepada Irup : “ UPACARA PERSEMAYAMAN
            TELAH DILAKSANAKAN SELANJUTNYA JENAZAH SIAP
            DIBERANGKATKAN,             LAPORAN       SELESAI      “,    Irup
            memerintahkan : “ LANJUTKAN “, dijawab oleh Danup : “
            LANJUTKAN “, kemudian memberikan penghormatan dan
            setelah dibalas oleh Irup kemudian balik kanan kembali ketempat
            semula.


▪   Pemberangkatan jenazah ke pemakaman, dengan urut-urutan sebagai
    berikut :


    ○       Penunjuk jalan.
    ○       Korsik/ genderang sangkakala.
    ○       Komandan Upacara.
    ○       Pasukan Kehormatan.
    ○       Pasukan Salvo.
    ○       Rokhaniawan.
    ○       Rombongan pembawa jenazah, terdiri dari :
            -      Pembawa foto.
            -      Pembawa karangan bunga.
            -      Pengantar kehormatan di sebelah kanan kiri jenazah.
            -      Pengusung jenazah.
            -      Pengawal jenazah.
            -      Inspektur Upacara.
            -      Keluarga.
            -      Komandan yang bersangkutan.
            -      Tamu/ rombongan lain.




                                                         / 6.4   Upacara …..
                                       73


5.4   Upacara Pemakaman.


      ▪     Upacara pemakaman dimaksudkan sebagai perwujudan penghormatan dan
            penghargaan terakhir dari bangsa dan negara terhadap Anggota Polri yang
            gugur/ tewas atau meninggal dunia.


      ▪     Ketentuan pelaksanaan pemakaman setelah sampai di tempat pemakaman,
            diatur sebagai berikut :


            ○      Kelengkapan upacara menyusun formasi sesuai dengan yang telah
                   ditentukan.
            ○      Jenazah dikeluarkan dari kereta merta, kemudian diusung melalui
                   pasukan salvo yang sudah disiapkan di kanan kiri depan pintu
                   gerbang TMP.
            ○      Pada saat jenazah tepat berada di antara pasukan salvo, maka
                   diberikan penghormatan dengan tembakan salvo (khusus untuk di
                   TMP).
            ○      Untuk pemakaman secara kedinasan di luar TMP, tembakan salvo
                   di pintu makam ditiadakan.


      ▪     Peti jenazah diletakan di atas dua buah balok yang ditempatkan di atas
            liang lahat (peserta upacara mengambil tempat yang telah ditentukan).


      ▪     Petugas makam siap untuk menurunkan ke dalam liang lahat.


      ▪     Urut-urutan Upacara Pemakaman Kedinasan :


            ○      Laporan Danup kepada Irup.


                                                                   /-     Danup …..
                     74


    -      Danup maju dengan langkah biasa menghadap Irup kurang
           lebih 6 langkah di depan Irup.
    -      Kemudian diawali penghormatan , laporan sebagai berikut :
           “ LAPOR UPACARA PEMAKAMAN JENAZAH SIAP
           DIMULAI “.
    -      Irup memerintahkan : “ LANJUTKAN “, Danup meniru-
           kan : “ LANJUTKAN “, kemudian balik kanan kembali
           ketempat semula dengan langkah biasa.
○   Pembacaan riwayat hidup singkat alamarhum/ mah oleh Pa Pers.
○   Apel Persada.
○   Penurunan jenazah ke liang lahat :
    -      Sang merah putih diangkat/ direntangkan di atas liang lahat
           oleh keempat orang pengantar kehormatan dengan masing-
           masing memegang ujung bendera (warna merah selalu di
           sebelah kanan atas dari jenazah dan warna putih berada di
           sebelah kiri jenazah.
    -      Pasukan salvo mengambil tempat di kanan kiri liang lahat
           dan sudah siap untuk menembak.
    (3)    Bersamaan dengan itu Danup memberikan aba-aba : “
           PASANG SANGKUR-GERAK “, kemudian dilanjutkan
           penghormatan dengan aba-aba : “ HORMAT SENJATA
           GERAK “, yang diikuti tembakan salvo.
    -      Setelah tembakan salvo, maka roppel genderang mengiringi
           penurunan jenazah sampai ke dasar liang lahat.
    -      Danup memberikan aba-aba : “ TEGAK SENJATA
           GERAK “, kemudian pengantar kehormatan melipat
           bendera   bersama-sama        pasukan   salvo   meninggalkan
           tempat.


                                                    /○      Upacara …..
                                      75


            ○      Upacara keagamaan sesuai agama yang dianut almarhum/ mah.
            ○      Penaburan bunga oleh anggota keluarga diiringi lagu gugur bunga
                   oleh korsik genderang sangkakala.
            ○      Penimbunan liang lahat secara simbolis berturut-turut oleh Irup,
                   seorang wakil keluarga, sedangkan lainnya dilakukan oleh petugas
                   makam.
            ○      Peletakan karangan bunga secara simbolis berturut-turut oleh Irup
                   dan seorang wakil keluarga dan yang lainnya setelah selesai
                   upacara.
            ○      Sambutan oleh Irup dan wakil keluarga.
            ○      Penghormatan       terakhir   (sangkur   masih   terpasang),   Danup
                   memberikan aba-aba : “ KEPADA ALMARHUM/ MAH
                   (sebutkan nama, pangkat, korps) HORMAT SENJATA GERAK”,
                   dengan diiringi tiupan sangkakala seluruh peserta upacara
                   menyampaikan penghormatan, selanjutnya : “ TEGAK SENJATA
                   GERAK “, kemudian Danup memerintahkan lepas sangkur.
            ○      Laporan Danup kepada Irup bahwa upacara selesai (urut-urutan
                   sesuai point b) setelah itu laporan : “ UPACARA TELAH
                   DILAKSANAKAN, LAPORAN SELESAI “, Irup memerintahkan
                   : “ BUBARKAN “, diulangi oleh Danup : “ BUBARKAN “, lalu
                   menghormat kemudian setelah itu balik kanan kembali ketempat
                   semula.
            ○      Upacara selesai.


5.5   Ketentuan pelaksanaan pemakaman biasa.


      ▪     Pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan pemakaman menurut ketetuan
            agama almarhum/ mah.


                                                                    /▪     Anggota …..
                                    76


      ▪     Anggota-anggota kesatuan/ Anggota Polri/ TNI lainnya yang meghadiri
            pemakaman      diharuskan    berpakaian   dinas      dan   menyampaikan
            penghormatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


      ▪     Pemakaman biasa tidak membutuhkan kelengkapan upacara seperti
            upacara pemakaman secara dinas.


5.6   Pemakaman dalam rangka Perabuan.


      ▪     Upacara pemakaman dalam rangka perabuan adalah suatu upacara yang
            diberikan sebagai penghormatan atas jasa almarhum/ mah, sedangkan
            perabuannya dilaksanakan secara/ menurut agama/ kepercayaan dan atau
            yang dianut dan hanya dilaksanakan atas permintaa almarhum/ mah.


      ▪     Kelengkapan upacara sama dengan upacara yang diatur dalam
            pemakaman, sesuai hak almarhum/ mah.


      ▪     Ketentuan pelaksanaannya, adalah sebagai berikut :


            ○      Kegiatan/ pelaksanaan upacara secara dinas dilakukan sebelum
                   jenazah dimasukan ke dalam pembakara mayat (krematorium).


            ○      Upacara persemayaman sampai ke tempat upacara pemakamannya
                   sama.


            ○      Urutan upacara pemakaman, adalah sebagai berikut :


                   -       Laporan Danup kepada Irup (sesuai dengan upacara
                           pemakaman).
                                                                 /-    Pembacaan …..
                                           77


                          -      Pembacaan riwayat hidup almarhum/ mah.
                          -      Apel Persada.
                          -      Penghormatan jenazah dan tembakan salvo.
                          -      Mengheningkan cipta (dipimpin oleh Irup).
                          -      Penghormatan terakhir (sama).
                          -      Laporan Danup (sama).
                          -      Upacara selesai dilanjutkan dengan perabuan.


                   ○      Seluruh perabuan dan kegiatan selanjutnya seperti penyimpanan
                          abu atau pelarungan abu ke laut dan sebagainya dilaksanakan
                          sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.


6.   Ketentuan-ketentuan lain.


            Dalam pelaksanaan upacara (pengantaran, penyambutan, persemayaman dan
     pemakaman) diperlukan hal-hal sebagai berikut :


     6.1    Pejabat Upacara :


            ▪      Inspektur Upacara.


            ▪      Komandan Upacara (bagi almarhum/ mah pangkat Pati dijabat oleh
                   seorang Pamen, bagi yang berpangkat Pamen ke bawah dijabat oleh
                   seorang Pama, khusus bagi almarhum/ mah Presiden/ Wakil Presiden,
                   Danup dijabat oleh seorang Kombes Pol/ Kolonel.


            ▪      Perwira Upacara.




                                                                       / 7.2    Personel …..
                                     78




6.2   Personel lainnya :


      ▪      Pasukan kehormatan kekuatan 1 Peleton bersenjata senapan dan sangkur
             dipimpin oleh seorang Pama, jenazah Presiden/ Wakil Presiden kekuatan 1
             Batalyon.
      ▪      Pengusung jenazah terdiri dari 6 orang Anggota Polri.
      ▪      Pengawal jenazah terdiri dari 4 orang Tamtama.
      ▪      Rokhaniawan.
      ▪      Pengantar kehormatan terdiri dari 4 orang yang sama pangkatnya dengan
             almarhum/ mah.
                                    BAB       VIII
                               SATUAN MUSIK POLRI


Kompetensi Dasar
Memahami Satuan Musik Polri.
.


Indikator Hasil Belajar.
1.   Menjelaskan Manfaat Satuan Musik Polri
2.   Menjelaskan Fungsi satuan Musik Polri.
3.   Menjelaskan Susunan/ Type Satuan Musik Polri.
4.   Menjelaskan Kemampuan Satuan Musik Polri
                                             80


1.   Manfaat Satuan Musik.


            Satuan Musik Polri ( Satsik Polri ) adalah suatu susunan satuan pelaksanaan di
     bidang musik Polri yang bertujuan untuk menyelenggarakan dukungan dan kegiatan
     untuk membangkitkan, memelihara serta menumbuhkan semangat, disiplin, kebanggaan
     dan patriotisme yang tinggi dengan menggunakan alat-alat musik


2.   Fungsi Satuan Musik Polri.


     2.1    Menampilkan dan mementaskan musik Polri yang bersifat protokoler dan hiburan
            terbatas.
     2.2    Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan sesuai dengan kemajuan dan
            perkembangan seni musik sebagai bahan pendidikan dan penyempurnaan musik
            Polri
     2.3.   Menyelenggarakan pembinaan dan latihan guna meningkatakan ketrampilan,
            kemampuan dan kualitas musik Polri baik secara perorangan maupun Kesatuan.


3.   Susunan/ Type Satuan Musik Polri.


            Satuan musik dilingkungan Polri meliputi kekuatan personel dan susunan
     peralatan musik yang disesuaikan dengan tingkat Kesatuan Polri serta Lemdik-lemdik di
     Lingkungan Polri, diantaranya sebagai berikut :


     3.1    Satuan Musik Type A.
            ▪       Untuk tingkat Istana Presiden dan Mabes Polri.
            ▪       Terdiri dari 87 buah alat musik.
            ▪       Kekuatan personel pemain 87 orang.
            ▪       Dijabat oleh seorang Pamen berpangkat AKBP
            .
                                                                        / 3.2. Satuan …..
                                             84


     3.2    Satuan Musik Type B ditempatkan dan digunakan, sebagi berikut :


            ▪       Untuk tingkat Polda , Akpol, PTIK, Sespimpol.
            ▪       Terdiri dari 55 buah alat musik.
            ▪       Kekuatan personel pemain 55 orang.
            ▪       Dijabat oleh seorang Pamen berpangkat Kompol.


     3.3    Satuan Musik Type C ditempatkan dan digunakan, sebagai berikut :


            ▪       Untuk tingkat Polwil dan Secapa Polri
            ▪       Terdiri dari 36 buah alat musik.
            ▪       Kekuatan personel pemain 36 orang.
            ▪       Dijabat oleh seorang Pama berpangkat AKP.


     3.4    Satuan Musik Type D ditempatkan dan digunakan di Polres dengan peralatan satu
            buah gendang sangkakala.


4.   Kemampuan Satuan Musik Polri.


            Satuan Musik Polri mampu melayani kebutuhan Upacara- upacara Kesatuan,
     meliputi :
     4.1    Mengiringi semua jenis Upacara Kedinasan.
     4.2    Memainkan lagu-lagu kebangsaan asing.
     4.3    Memainkan semua jenis lagu yang diperlukan untuk mengiringi acara-acara
            nasional maupun internasional.
     4.4    Menyelenggarakan pagelaran/ hiburan terbatas sesuai kemampuan masing-masing
            tipe.


                                                                               /BAB IX……
                                         BAB IX
                                     PENUTUP


       Demikian materi Naskah Sekolah Sementara Pembinaan Moriil disusun semoga dapat
dijadikan bahan referensi bagi para Siswa Pendidikan Kejuruan Personel sehingga para siswa
dapat mengetahui dan memahami dan kelak apabila       ditempatkan pada bidang Pembinaan
Personel dapat melaksanakan penyelenggaraan Pembinaan Moriil bagi seluruh Anggota Polri
dan keluarganya.




               MENGETAHUI                                Bandung,      Oktober 2009
               KOORGADIK                                            KATIM



          Dra. ATIH N. PURWATI
           AKBP NRP 64050825                                 Drs. HASNUDDIN
                                                            AKBP NRP 58020672
                          DAFTAR PUSTAKA


1.   Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Kepolisian Negara Republik
     Indonesia.
2.   Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/07/X/1992 tanggal 10 Oktober 1992
     tentang Buku Petunjuk Administrasi Perawatan Personel Polri.
3.   Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/1683/XI/1998 tanggal 2 Nopember 1998
     tentang Naskah Sementara Buku Petunjuk Induk Perawatan Personel Polri.
4    Petunjuk Pelaksanaan Kapolri No. Pol. : Juklak/03/II/1991 tanggal 5 Pebruari
     1991 tentang Penganugerahan Tanda-Tanda Kehormatan/ Penghargaan untuk
     Polri.
5    Petunjuk Teknis Kapolri No. Pol. : Juknis/05/III/1994 tanggal 4 Maret 1994
     tentang Prosedur dan Mekanisme Penerbitan Kartu Penunjukan Isteri/ Suami
     Anggota Polri.
6.   Petunjuk Pelaksanaan Kapolri No. Pol. : Juklak/07/III/1988 tanggal 18 Maret
     1988 tentang Perkawinan, Perceraian dan Rujuk bagi Anggota Polri dan Perssip.
7.   Buku Petunjuk Mekanisme dan Tata Cara Pemakaman di Lingkungan Mabes
     Polri oleh Denma Mabes Polri Tahun 1993.
8.   Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/528/V/1999 tanggal 10 Mei 1999
     tentang Naskan Sementara Buku Petunjuk Administrasi Penganugerahan Tanda
     Kehormatan Satya Lencana Karya Satya bagi PNS Polri.
9.   Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/1542/X/2001, tanggal 26 Oktober 2001
     tentang Pendelegasian wewenang dalam Pembinaan Sumber daya Manusia Polri.
10   Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/     /XI/2003, tanggal   Nopember 2003
     tentang Pokok-pokok penyusunan Lapis-lapis Pembinaan Sumber daya Manusia
     Polri.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:151
posted:2/7/2012
language:
pages:88