Docstoc

Kesaksian Dr Erwin A Pohe

Document Sample
Kesaksian Dr Erwin A Pohe Powered By Docstoc
					                             Lebih Sukses Berbisnis

“Ingin mendapatkan suara saya? Bayar saja 800 dollar AS. Siapa yang berani membayar
lebih banyak akan mendapatkan suara saya,” kata Hussein H, pengangguran berusia 24
tahun dari Beirut selatan. Hussein menawarkan suaranya kepada para calon anggota
Legislator   menjelang    pemilihan      umum     di     Lebanon     bulan   Juni   2009.
Dr Erwin Arellano Pohe (lengkapnya) yang mengajukan diri menjadi calon Legislatif
untuk daerah pemilihan Sulawesi Utara dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
membawa “oleh-oleh” yang kurang lebih sama dengan cerita tersebut beberapa hari
sesudah Pemilihan Umum 9 April 2009 lalu. “Ada seorang yang mendekati saya dan
arahnya seperti itu. Saya tidak mau menanggapinya. Bagi saya, jika Tuhan akan
memberikan suara untuk saya, berarti untuk saya tanpa melakukan loby-loby yang tidak
wajar. Namun, jika tidak, walaupun saya sudah membayar mahal sekalipun, pasti suara
itu          bukan            buat              saya,”             tandas           Erwin.
Pria kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 21 Januari 1940 ini ternyata belum juga
meraih “tiket” ke Senayan sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia (DPR-RI) pada periode 2009-2014. Sepak terjang di dunia politik bagi suami
dr Tresiaty Pohe ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1998 ketika menjadi Ketua
Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Kasih Bangsa (DPP-PDKB). Pada Pemilihan
Umum 1999, PDKB hanya mampu mengirimkan lima wakilnya ke kursi DPR.
Setelah PDKB tidak lolos untuk mengikuti Pemilihan Umum 2004, nama partai yang
turut dinakodainya berubah nama menjadi Partai Demokrasi Kebangsaan Bersatu
(PDKB: National United Democratic Party). Di partai ini, Erwin duduk sebagai
Sekretaris Jenderal. Setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan verifikasi
terhadap sejumlah partai politik, PDKB bentukannya tidak lolos. PDKB pun gagal
menjadi          partai        politik            peserta           pemilu          2009.
Beberapa saat sebelum pengundian nomor urut partai politik peserta pemilu 2009, ia
mengirim Short Message Service (SMS) kepada wartawan. “Meskipun tidak lolos,
perjuangan tetap diteruskan atau dilanjutkan,” tulis Erwin yang dikirim dari nomor
pribadinya. Sebuah nada yang tidak menyerah, penuh semangat, dan berjiwa
pemimpin. Setidaknya, menjadi pemimpin untuk keluarga, karyawan, dan orang-orang
yang mengenalnya. Ternyata, kemudian namanya terdaftar sebagai calon legislator dari
Hanura       untuk         daerah        pemilihan    Provinsi      Sulawesi        Utara.
Sepertinya sinar bintang dunia politik tak seterang menyinari kariernya di dunia bisnis.
Setamat pendidikan dasar, menengah, dan atas, Erwin Pohe belajar di Fakultas
Ekonomi/Fakultas Administrasi Ketata-Niagaan (1967). Selain menamatkan S-2 tahun
1996, ia juga meniti pendidikan di Lemhanas-Tarpadnas (1988). Ia pernah
berkecimpung di peternakan, perbankan, permobilan, kontraktor, supplier, dan
pertambangan.

Ketika kerusuhan Mei 1998 berkecamuk, keluarga Erwin tinggal di kawasan Pluit,
Jakarta Utara. Blokade aparat yang melintang di jalan masuk dan keluar komplek
perumahannya cukup menyulitkan warga di kawasan itu dalam beraktifitas. Di sebuah
rumah di jalan Pluit Samudera, ia memanjatkan doa syukur kepada Tuhan. Seluruh
keluarga tetap dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Hari-hari yang penuh
kebahagiaan dan ujian dilalui dengan ucapan syukur. “Harus selalu baik,” tandas ayah
dari Ir Cynthia Indira, Maya Irana, Dani Arellano, Sheilla Devi, dan Levi Rumoaldes ini.
Di kala banjir menggenangi kawasan Pluit, rumahnya yang juga sebagai tempat praktik
istrinya tak luput dari terjangan banjir air kotor yang membawa berbagai macam
penyakit. Bersama seluruh keluarga, ia pindah ke komplek Modern Land, Tangerang.
Praktiknya, di Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta Pusat juga ditutup seiring
kepindahannya               di            daerah          Tangerang               (Banten).
Tak berselang lama, ia dan keluarga pindah di kawasan Karawachi (Tangerang).
Kemudian, ia pindah dan tinggal di jalan Kapten Tendean (Jakarta Selatan). Gedung
berlantai 3 di kawasan Mampang itu dipakai sebagai kantor pribadinya, ruang usaha,
sekaligus tempatnya berlindung dari tetesan air hujan dari langit dan tajamnya sinar
mentari di kala menyinari bumi serta bisingnya suara kendaraan yang membawa polusi
sehingga      berdampak          buruk       bagi    kesehatan        umat        manusia.
Dibantu sejumlah karyawan, ia dan istrinya membuka usaha lasik mata. Sejumlah
selebriti tanah air seperti calon anggota legislative terpilih, Nurul Arifin telah dibantu
kesehatan penglihatannya. “Dengan lasik, penderita terbebas dari kacamata baca. Mata
minus bias tanpa kacamata lagi sudah menjadi pengetahuan umum,” ujar Presiden
Direktur       (Presdir)         Laser       Sight     Centres        Indonesia        ini.
Semenjak tahun 1982, Erwin mulai membukukan keberhasilan di dunia bisnis. Pada
tahun tersebut, ia menduduki jabatan strategis yaitu sebagai Wakil Ketua Kompartemen
Moneter Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jaya dan Ketua Kadin Tingkat II Jakarta
Barat. Setelah melepaskan jabatan itu, dia menjadi Wakil Ketua Umum Kadin Jaya
(1985).
“Bisnis itu demi kesejahteraan. Jika sebelumnya naik sepeda, kemudian bisa naik
sepeda motor atau kendaraan beroda empat (mobil). Harus ada peningkatan. Itulah
kebutuhan hidup manusia. Kebutuhan itu harus diisi menurut kebutuhan roh, jiwa, dan
tubuh manusia. Roh, jiwa, dan tubuh harus sehat,” tegas Erwin yang pernah memimpin
Majalah Kontak Bisnis Kadin Jaya dan Wakil Ketua Kelompok Usaha Kecil Menengah
Indonesia                    (KUKMI)                       Jakarta                    ini.
“Politik dan bisnis itu sangat berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Seperti
dua sisi mata uang dalam setiap kepingnya. Politik memerlukan bisnis, begitupun
sebaliknya,” urai Wakil Ketua Kompartemen PPI Kadin Indonesia (1988) dan Wakil
Bendahara Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP-HIPMI) tahun
1973                                                                                  ini.
Di dunia olahraga, Erwin pernah berkecimpung dalam sejumlah kepengurusan. Tahun
1973, dia menduduki jabatan Ketua Umum PBI DKI untuk cabang Bolling. Tahun 1992,
ia menjadi Wakil Ketua Bidang Pertandingan PBI Pusat dan Ketua Umum PB Mega
Pluit (1997-2002) serta Ketua BPK KONI DKI (1987). Selain sebagai Ketua Umum
Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) DKI (1997-2001) dan Wakil Ketua Umum DPP
Perpani (1998-2002), ia juga menjabat Wakil Ketua Bidang Dana Komite Olahraga
Nasional            Indonesia            (KONI)             DKI             (1998-2002).
Di bidang sosial, Erwin Pohe sangat memperhatikan kawula muda yang kecanduan
narkoba. Para penderita diwadahi dalam naungan Yayasan Gerbang Aksa (Generasi
Batu Karang Anak Kasih Bangsa). “Visi untuk mendidikan sebuah yayasan yang peduli
pada anak-anak muda ini muncul pada tahun 1998,” tandas Erwin. Selain menjabat
Direktur Klinik Kecantikan Estetika di RS Mitra Kemayoran (Jakarta), ia juga sebagai
Direktur          Utama            PT          Reser           Manunggal            Jaya.
Lembaga dr Tresiaty’s Diet Center yang dipimpinnya juga sering mengadakan seminar
dan menerbitkan buku-buku kesehatan. Lewat lembaga ini, bersama istrinya, ia sering
diundang sebagai pembicara untuk masalah kesehatan sesuai tuntunan dan ajuran
Kitab Suci Alkitab. Selain bergabung di Glow Fellowship Center pimpinan Pendeta
Gilbert Lumoindong, Erwin aktif di sebuah gereja diu kawasan Tanah Abang (Jakarta
Pusat) pimpinan Pendeta JE Awondatu.

                                                                    (Epa/Anto)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:150
posted:2/3/2012
language:Indonesian
pages:4