Embed
Email

Supaya Seni dan Birokrasi Sejalan

Document Sample
Supaya Seni dan Birokrasi Sejalan
Description

Supaya Seni dan Birokrasi Sejalan

Shared by: rahmat petuguran
Stats
views:
10
posted:
2/2/2012
language:
pages:
3
SUPAYA SENI DAN BIROKRASI SEJALAN





Sebuah pertanyaan yang lebih menyerupai syak wasangka saya lemparkan

kepada salah seorang pengurus Dewan Kesenian Daerah (DKD) Banjarnegara

beberapa waktu lalu. ‘Apa saja sih kerjaan DKD?’ Pertanyaan itu terutara sebagai

bentuk protes pada kevakuman lembaga tersebut dari aktivitas seni dewasa ini.

Pengurus DKD itu justru balik bertanya, ‘apa sih yng bisa dilakukan DKD

tanpa dana?’ Jawaban retoris itu sekaligus menjadi penutup pembicaraan karena

merasa dikusi dianggap telah buntu.

Sebagai lembaga resmi non kedinasan, DKD punya kewajiban moral ngopeni

dan nguri-uri kesenian di daerah. Sayangnya, peran itu sering tidak bisa dijalanakan

tanpa dana. Sedangkan pejabat daerah yang memiliki kewenangan mengalokasikan

APBD pada sektor kesenian tampak enggan memberi anggaran yang memadai.

Kurangnya dana selalu menjadi alasan DKD menanggapi protes atas kenihilan

kerja mereka. Sejak beberapa tahun silam DKD Banjarnegara bisa dikatakan tidak

pernah bekerja, kecuali dalam perhelatan seremonial.

Parahnya, sikap yang sama ditunjukkan birokrasi. Mereka seperti menganggap

seni sebagai barang tidak terlalu berharga sehingga tidak perlu mendapat perlakuan

istimewa.

Kondisi ini bisa dipahami dari dua sudut pandang berbeda. Pertama, orientasi

pembangunan sebuah daerah ternyata hanya dipandang dari kesuksesan ekonomi.

Akibatnya birokrasi seperti menjadi sebuah mesin penghasil uang yang hanya punya

tugas mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Beberapa produk kesenian

dikomoditaskan untuk mencapai target perolehan PAD, sementara seni yang tidak

laku dijual tidak mendapat perhatian.

Kedua, sangat memprikhatinkan karena para pimpinan daerah tampaknya

tidak memiliki wawasan seni yang memadai. Mereka hanya melihat seni dari

perspektif manajerial, namun tidak mampu melihat dari perspektif filosofi, budaya,

dan sosial. Akibatnya, mereka tidak mampu memahami seni sebagai sebuah ekspresi,

melainkan hanya dipandang sebagai aset ekonomi.

Seni dan mindset ekonomi terkadang memang tidak memiliki titik temu.

Kesenian berarak mengikuti teriakan jiwa setiap manusia, bersifat sangat personal,

dan mengutamakan kebebasan. Sebagai sebuah ekpresi, seni memperlakukan

kejujuran sebagai dasar tindakan. Sebab hanya dengan kejujuran seni akan terlahir

1

indah, menghibur, dan berguna. Sedangkan kegiatan ekonomi semata-mata dilakukan

untuk mendapatkan keuntungan materi.

Pemahaman seni secara mendalam tampaknya tidak dimiliki para pemangku

jabatan di Banjarnegara. Kegiatan kesenian, baik massal maupun personal, tidak

terlalu penting dihadapan mereka. Karena itulah Pemerintah Kabupaten sepertinya

tidak merasa perlu memfasilitasi aktivitas para seniman dan calon seniman, misalnya

dengan menggelontorkan dana pembinaan.

Orientasi ekonomi yang kadang keblinger juga tidak lepas dari paradigma

pembangunan di sana. Selalu saja kemajuan suatu daerah diukur dari pertumbuhan

ekonomi, peningkatan kepemilikan aset, atau pembangunan infrastruktur. Padahal jika

pertumbuhan ekonomi tidak mampu menciptakan harmoni justru bisa menimbulkan

keresahan. Apalagi jika penduduk di sana tidak dilibatkan sebagai subjek

pembangunan.





Belajar dari Solo

Untuk menyatukan semangat pembangunan dan kegiatan seni, Banjarnegara

patut belajar dari Solo. Di samping mampu menggenjot pembangunan, kota itu

mampu menjaga harmoni beragam aktivitas seni. Kegiatan-kegiatan seni masih

berlangsung, bahkan difasilitasi pemerintah dengan melibatkan masyarakat. Pada

akhirnya, masyarakat dan pemerintah setempat pula yang memetik manfaatnya.

Hinga kini Solo masih menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi

tercepat di Jawa Tengah. Namun pada saat yang sama kota itu semakin identik dengan

laku seni penduduknya. Kegiatan seni banyak dihelat, bukan semata-mata sebagai alat

pemkot mempromosikan daerahnya, tapi sekaligus memfasilitasi para seniman

berekspresi.

Setahun belakang setidaknya ada empat kegiatan seni besar yang digelar di

Solo, yakni Worl Heritage Cities Conference and Expo, Solo Batik Carnival, Solo

International Etnic Music (SIEM), dan Solo Performing Art City. Dari

penyelenggaraan empat kegiatan tersebut biaya yang diperlukan jelas tidak kecil,

namun manfaat yang terpetik masyarakat di sana juga tidak kalah besar. Kini Solo

dikenal sebagi kota seni, kota kreatif, sekaligus kota pertunjukkan sehingga berani

memasang slogan ‘Solo kreatif, Solo Sejahtera’.

Membandingkan aktivitas kesenian di Solo dan Banjarnegara memang tidak

bijak dan terkesan dipaksakan. Sebagai kota yang pernah menjadi pusat kerajaan Solo

2

telah lama menjadi pusat perkembangan budaya. Sedangkan secara historis

Banjarnegara tidak memiliki itu. Namun, kota dawet ayu bisa belajar dari sana

bagaimana pemerintah setempat bisa begitu antusias mengembangkan kesenian

lokalnya.





Revitalisasi DKD

Sebagai langkah awal meniru Solo, Banjarnegara bisa mulai dengan

merevitalisasi DKD. Badan ini harus mulai memantapkan diri menjadi badan semi

otonom yang tidak sepenuhnya bersandar pada Pemkab. Meski secara struktural

masih berada di bawah naungan Pemkab, badan ini harus bisa mengambil inisitif

lebih besar dalam pembinaan kesenian.

Kesalahan yang dilakukan DKD, dan agaknya akan terus berulang dalam

beberapa tahun ke depan, adalah terlalu bergantung pada kebijakan pemerintah.

Kesalahan ini akan berakibat fatal karena Pemkab justru nyaris tidak pernah

melahirkan regulasi untuk mendukung aktivitas seni. Perlahan DKD harus mulai

berani mengambil jarak dengan Pemkab, termasuk mengurangi ketergantungan dana

dari APBD dengan menjajaki sumber dana lain.

Komitmen DKD juga harus dikuti komitmen pengurusnya secara perorangan.

Artinya, orang-orang yang duduk sebagai pengurus mestinya adalah orang yang

memiliki kepedulian besar terhadap kesenian, tidak menjadikannya sebagai jabatan

sambilan. Mereka harus mampu memahami seni dari berbagai sudut pandang, baik

manajerial, filosofi, budaya, dan sosial. Dengan begitu, setidaknya DKD tidak akan

mati hanya karena ditinggal pengurusnya menjalankan kesibukan lain.





Surahmat

Pegiat Komunitas Nawaksara di Banjarnegara









3


Related docs
Other docs by rahmat petugur...
Ekspresi “Edan” Seni Banyumasan
Views: 4  |  Downloads: 0
Supaya Seni dan Birokrasi Sejalan
Views: 10  |  Downloads: 0
Transformasi Budaya Lengger Banyumas
Views: 45  |  Downloads: 1
Kearifan Lokal Takir
Views: 15  |  Downloads: 0
Kamandaka
Views: 11  |  Downloads: 0
Disfemisme Bahasa Madia Cetak
Views: 44  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!