Embed
Email

Kearifan Lokal Takir

Document Sample
Kearifan Lokal Takir
Shared by: rahmat petuguran
Stats
views:
15
posted:
2/2/2012
language:
pages:
3
KEARIFAN DALAM SEBUNGKUS “TAKIR”





Mayarakat desa selalu punya cara mengekspresikan kesalehan sosialnya. Dalam

situasi serba terbatas, berbagi menjadi aktivitas yang amat berarti. Sedekah tidak

menjadi ritus spiritual tapi memiliki makna sosial yang mendalam. Di Banjarnegara

misalnya, warga berbagi dengan membagi-bagikan takir.

Takir adalah nasi berbungkus daun pisang. Dibagikan warga sebagai suguhan

jamaah tarawih. Meski hampir bisa dipastikan hanya berisi tempe atau tahu, takir selalu

memberi suntikan energi pada anak-anak supaya datang lebih awal menempati shaf

paling depan. Bahkan mereka, entah sungguhan atau pura-pura, mengikuti shalat hingga

21 rakaat lamanya.

Takir telah menjadi simbol, tujuan, sekaligus realitas yang menunjukkan

kepedulian kaum pedesaan di tengah kebersahajaan. Satu bungkus nasi sudah cukup

menjadi tanda bahwa shodaqoh tidak hanya bisa dilakukan orang-orang berpunya.

Masyarakat di beberapa desa di Banjarnegara hingga kini masih melanggengkan

tradisi membuat takir. Setiap keluarga dianjurkan membuat 10 hingga 15 takir pada

malam-malam ganjil selama bulan Ramadhan. Supaya tidak bertumpuk, lebe (tokoh

adat setempat) membuat jadwal yang dibagikan kepada warga. Rata-rata, dalam satu

malam terkumpul 80 bungkus takir yang akan dibagikan kepada seluruh jamaah

terawih. Jika kurang mereka berbagi, jika lebih dibawa pulang sebagai hidangan sahur.





Tak Kikir

Demikianlah cara warga desa melanggengkan tradisi membawa takir. Di

samping sarana beramal, takir menjadi pembuktian bahwa masyarakat desa bukan orang

kikir meski hidup dalam kondisi kurang. Takir justru membuktikan, ghirah masyarakat

desa untuk berbagi ternyata sangat kuat. Oleh tetua setempat takir dosebut sebagai

akronim dari kata “tak kikir”. Artinya, takir menjadi ajang pembuktian sekaligus latihan

supaya mereka tidak menjadi manusia kikir.

Di tengah kondisi serba sederhana, takir memiliki nilai kultural yang sangat

lekat. Pertama, kesempatan beramal tidak pernah bisa dimonopoli oleh orang-orang

kaya. Justru cara amal orang-orang yang kurang mampulah yang dapat menunjukkan

kesungguhan hati untuk saling berbagi. Kedua, takir telah mampu membuat seseorang







1

sebagai bagian dari komunitas bernama masyarakat menyadari peran sosialnya. Sebab,

betapa pun kecil, peran anggota masyarakat satu akan bernilai bagi anggota masyarakat

lain.

Kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat kerap memojokkan mereka pada

alur pikir ekonomis. Kalkulasi untung-rugi menjadi desah utama nafas keseharian

mereka, dari pagi hingga pagi kembali. Realitas ini ternyata bukan jalan yang baik

meraih kebahagiaan sosial. Karena itulah jalan memberi disadari perlu ditempuh

sebagai ungkapan syukur yang mendalam. Memberi, baik dalam arti filosofis maupun

teologis, menjanjikan kepuasaan karena menandakan seseorang telah sampai pada titik

kebijakan tertentu.

Takir memberi pelajaran bahwa adakalnya nilai ekonomi perlu diabaikan.

Demikian pula nalar ekonomi, pada saatnya harus ditanggalkan agar seseorang

mencapai derajat kebijakan tertentu. Takir memberi ekspresi suka cita karena seseorang

mampu melepaskan diri dari pendewaan terhadap nominal. Takir mewakili kegairahan

manusia untuk sekali waktu terbebas dari kegilaan terhadap uang.

Memang, jika diukur dengan nominal, takir nyaris tidak memiliki nilai ekonomi.

Harga takir tidak pernah lebih dari satu porsi rames. Namun karena dinikmati bersama,

sehingga memunculkan dimensi sosial manusia, takir memiliki nilai lebih. Sebungkus

nasi menjadi petanda perlawanan manusia dengan sesuatu yang harus diukur dengan

uang.

Inilah realitas yang digunakan Andre Moller dalam Ramadhan di Jawa (2005)

untuk membantah anggapan masyarakat Barat bahwa Ramadhan adalah cara manusia

mencari penderitaan. Ia justru membuat tesis baru dengan mangatakan, orang-orang

Jawa tengah melakukan pemaknaan ulang terhadap berbagai aktivitasnya. Ramadhan

memberi kesempatan kepada orang Jawa melihat sesuatu dari perspektif lain sehingga

lebih bijak.





Euforia Ibadah

Meski demikian, tradisi memberi takir juga terjebak pada pemaknaan sempir

ngalap berkah Ramadhan. Takir masih menjadi bagian suka cita yang diungkapkan

masyarakat selama Ramadhan. Takir masih menjadi selebrasi yang muncul sebagai

euforia umat Muslim menjalani ibadah di bulan Ramadhan.







2

Ini dapat dilihat dengan menghilangnya takir seiring berakhirnya bulan

Ramadhan. Takir belum bertransormasi dalam bentuk amalan lain yang bisa langgeng

sepanjang tahun. Pelajaran saling memberi yang berlangsung dalam “kelas” Ramadhan

belum diamalkan dalam laku sehari-hari. Akhirnya takir hanya menjadi seremonial

yang hanya didapati setahun sekali.

Meski dilakoni tanpa landasan naqli yang pasti, tradisi memberi takir telah

membuka pemaknaan baru tentang ibadah Ramadan. Puasa bukan perintah tunggal, juga

bukan ibadah yang bersifat individual. Puasa adalah ibadah yang memiliki dimensi

sosial kental. Sebab puasa tidak sekadar mengekalkan kesabaran mengendalikan hawa

nafsu, tetapi kesabaran untuk menghargai manusia lain.





Surahmat

Pegiat Komunitas Nawaksara Banjarnegara









3


Related docs
Other docs by rahmat petugur...
Ekspresi “Edan” Seni Banyumasan
Views: 4  |  Downloads: 0
Supaya Seni dan Birokrasi Sejalan
Views: 10  |  Downloads: 0
Transformasi Budaya Lengger Banyumas
Views: 45  |  Downloads: 1
Kearifan Lokal Takir
Views: 15  |  Downloads: 0
Kamandaka
Views: 11  |  Downloads: 0
Disfemisme Bahasa Madia Cetak
Views: 44  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!