KEARIFAN DALAM SEBUNGKUS “TAKIR”
Mayarakat desa selalu punya cara mengekspresikan kesalehan sosialnya. Dalam
situasi serba terbatas, berbagi menjadi aktivitas yang amat berarti. Sedekah tidak
menjadi ritus spiritual tapi memiliki makna sosial yang mendalam. Di Banjarnegara
misalnya, warga berbagi dengan membagi-bagikan takir.
Takir adalah nasi berbungkus daun pisang. Dibagikan warga sebagai suguhan
jamaah tarawih. Meski hampir bisa dipastikan hanya berisi tempe atau tahu, takir selalu
memberi suntikan energi pada anak-anak supaya datang lebih awal menempati shaf
paling depan. Bahkan mereka, entah sungguhan atau pura-pura, mengikuti shalat hingga
21 rakaat lamanya.
Takir telah menjadi simbol, tujuan, sekaligus realitas yang menunjukkan
kepedulian kaum pedesaan di tengah kebersahajaan. Satu bungkus nasi sudah cukup
menjadi tanda bahwa shodaqoh tidak hanya bisa dilakukan orang-orang berpunya.
Masyarakat di beberapa desa di Banjarnegara hingga kini masih melanggengkan
tradisi membuat takir. Setiap keluarga dianjurkan membuat 10 hingga 15 takir pada
malam-malam ganjil selama bulan Ramadhan. Supaya tidak bertumpuk, lebe (tokoh
adat setempat) membuat jadwal yang dibagikan kepada warga. Rata-rata, dalam satu
malam terkumpul 80 bungkus takir yang akan dibagikan kepada seluruh jamaah
terawih. Jika kurang mereka berbagi, jika lebih dibawa pulang sebagai hidangan sahur.
Tak Kikir
Demikianlah cara warga desa melanggengkan tradisi membawa takir. Di
samping sarana beramal, takir menjadi pembuktian bahwa masyarakat desa bukan orang
kikir meski hidup dalam kondisi kurang. Takir justru membuktikan, ghirah masyarakat
desa untuk berbagi ternyata sangat kuat. Oleh tetua setempat takir dosebut sebagai
akronim dari kata “tak kikir”. Artinya, takir menjadi ajang pembuktian sekaligus latihan
supaya mereka tidak menjadi manusia kikir.
Di tengah kondisi serba sederhana, takir memiliki nilai kultural yang sangat
lekat. Pertama, kesempatan beramal tidak pernah bisa dimonopoli oleh orang-orang
kaya. Justru cara amal orang-orang yang kurang mampulah yang dapat menunjukkan
kesungguhan hati untuk saling berbagi. Kedua, takir telah mampu membuat seseorang
1
sebagai bagian dari komunitas bernama masyarakat menyadari peran sosialnya. Sebab,
betapa pun kecil, peran anggota masyarakat satu akan bernilai bagi anggota masyarakat
lain.
Kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat kerap memojokkan mereka pada
alur pikir ekonomis. Kalkulasi untung-rugi menjadi desah utama nafas keseharian
mereka, dari pagi hingga pagi kembali. Realitas ini ternyata bukan jalan yang baik
meraih kebahagiaan sosial. Karena itulah jalan memberi disadari perlu ditempuh
sebagai ungkapan syukur yang mendalam. Memberi, baik dalam arti filosofis maupun
teologis, menjanjikan kepuasaan karena menandakan seseorang telah sampai pada titik
kebijakan tertentu.
Takir memberi pelajaran bahwa adakalnya nilai ekonomi perlu diabaikan.
Demikian pula nalar ekonomi, pada saatnya harus ditanggalkan agar seseorang
mencapai derajat kebijakan tertentu. Takir memberi ekspresi suka cita karena seseorang
mampu melepaskan diri dari pendewaan terhadap nominal. Takir mewakili kegairahan
manusia untuk sekali waktu terbebas dari kegilaan terhadap uang.
Memang, jika diukur dengan nominal, takir nyaris tidak memiliki nilai ekonomi.
Harga takir tidak pernah lebih dari satu porsi rames. Namun karena dinikmati bersama,
sehingga memunculkan dimensi sosial manusia, takir memiliki nilai lebih. Sebungkus
nasi menjadi petanda perlawanan manusia dengan sesuatu yang harus diukur dengan
uang.
Inilah realitas yang digunakan Andre Moller dalam Ramadhan di Jawa (2005)
untuk membantah anggapan masyarakat Barat bahwa Ramadhan adalah cara manusia
mencari penderitaan. Ia justru membuat tesis baru dengan mangatakan, orang-orang
Jawa tengah melakukan pemaknaan ulang terhadap berbagai aktivitasnya. Ramadhan
memberi kesempatan kepada orang Jawa melihat sesuatu dari perspektif lain sehingga
lebih bijak.
Euforia Ibadah
Meski demikian, tradisi memberi takir juga terjebak pada pemaknaan sempir
ngalap berkah Ramadhan. Takir masih menjadi bagian suka cita yang diungkapkan
masyarakat selama Ramadhan. Takir masih menjadi selebrasi yang muncul sebagai
euforia umat Muslim menjalani ibadah di bulan Ramadhan.
2
Ini dapat dilihat dengan menghilangnya takir seiring berakhirnya bulan
Ramadhan. Takir belum bertransormasi dalam bentuk amalan lain yang bisa langgeng
sepanjang tahun. Pelajaran saling memberi yang berlangsung dalam “kelas” Ramadhan
belum diamalkan dalam laku sehari-hari. Akhirnya takir hanya menjadi seremonial
yang hanya didapati setahun sekali.
Meski dilakoni tanpa landasan naqli yang pasti, tradisi memberi takir telah
membuka pemaknaan baru tentang ibadah Ramadan. Puasa bukan perintah tunggal, juga
bukan ibadah yang bersifat individual. Puasa adalah ibadah yang memiliki dimensi
sosial kental. Sebab puasa tidak sekadar mengekalkan kesabaran mengendalikan hawa
nafsu, tetapi kesabaran untuk menghargai manusia lain.
Surahmat
Pegiat Komunitas Nawaksara Banjarnegara
3