Pioneer - Melayani Tuhan Itu Adalah Kehendak Tuhan Bukan Dicari dan Diperebutkan

Document Sample
Pioneer - Melayani Tuhan Itu Adalah Kehendak Tuhan Bukan Dicari dan Diperebutkan Powered By Docstoc
					                                  Pdt. DR. Richard Daulay:

Melayani Tuhan Itu Adalah Kehendak Tuhan Bukan Dicari dan Diperebutkan

Sidang Raya Persekutuan Gereja – Gereja di Indonesia (PGI) ke-XV akan
diselenggarakan di Mamasa-Sulawesi Barat pada akhir tahun 2009. Sebelum Sidang Raya
PGI XV digelar, Anggota Majelis Pekerja Lengkap PGI dan PGI Wilayah seluruh
Indonesia telah melakukan pertemuan yang disebut dengan restrukturisasi Tata Dasar
dan Tata Rumah Tangga PGI.

PEMBAHASAN restrukturisasi Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga menjelang Sidang Raya ke-
XV ini di bagi menjadi beberapa zona antara lain zona Indonesia Timur dibuat di Sulawesi Utara
dengan tuan rumah GMIM, Zona Indonesia Tengah dibuat di Lawang, Jawa Timur dengan tuan
rumah GPIB dan Zona Indonesia Barat dibuat di Sumatera Utara dengan tuan rumah
HKBP. Sekertaris Umum (SekUm) PGI, Dr. Richard Daulay mendapat kesempatan hadir
mewakili Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI di zona-zona itu. Perkembangan apa saja yang
diperoleh oleh Sekum PGI dalam pertemuan-pertemuan itu? Richard melihat ada beberapa point
penting yang menjadi aspirasi dari berbagai daerah dan berbagai gereja.
Aspirasi yang mencuat adanya keinginan dari gereja-gereja menghadirkan jumlah dan
keterwakilan ke anggotaan di PGI (Baca : Kuota). ―Kalau mengenai kuota, saya memang lebih
cenderung mengatakan kuota itu perlu. Walau memang di daerah-daerah masih bervariasi. Paling
ideal diskusi di Manado yang mampu membagi tiga kategori yaitu yaitu kategori gereja yang
berukuran kecil, sedang, dan besar,‖

Kategoti kecil diberi batasan jumlah jemaat dari 0 sampai 50.000 jemaat mendapat satu
vote(suara), dari 50.000 sampai 500.000 jemaat mendapat dua vote(suara) dan dari 500.000
jemaat sampai selanjutnya mendapat tiga vote(suara). ―Gereja dalam kategori ketiga ini tidak
banyak di PGI. Jadi kalau one churc one vote seperti sekarang ini maka sangat timpang,‖
tuturnya.

Richard Daulay tidak sepaham dengan pendapat beberapa petinggi gereja anggota PGI yang
mengatakan kalau sudah menggunakan kuota itu namanya bukan lagi persekutuan. Bukankan
filosofi persekutuan itu adalah berkumpulnya umat Kristen untuk berseru nama Tuhan tanpa
melihat latar belakang oorang yang datang, cacat lebih rendah dari yang sempurna? ―Argumen
seperti itu tidak relevan. Banyak sinode gereja yang melakukan keadilan dengan membagi atas
nama penafsiran pribadi sendiri itu beda-beda tipis,‖ Jelasnya seraya tertawa khasnya keluar.

Richard kembali mempertegas bahwa system kuota menjadi aspirasi di Sidang Raya XIV di
Kinasih.
Walau begitu ia masih belum yakin system kuota ini bila dibahas dalam Sidang Raya XV akan
menjadi aturan PGI. ―Soal kuota ini gampang-gampang susah, tergantung solidaritas MPH-PGI
sekarang memberi argumentasi pada gereja-gereja,‖ jelasnya seraya menambahkan, tolong
gereja-gereja kecil dapat memahami keinginan gereja-gereja pada umumnya. Janganlah gereja-
gereja kecil vocal dan gereja-gereja pendiri PGI yang berjumlah 29 ini tidak bisa buat apa-apa.
Kalau terus vocal gereja-geraja kecil bisa saja. Lanjut Richard Daulay gereja-gereja pendiri PGI
mengatakan seperti yang pernah dikatakan oleh salah satu Ketua GKI SW Jabar, Bogor terbukti
yaitu gereja-gereja pendiri PGI meninggalkan PGI kalau aspirasi mereka tidak seimbang didalam
PGI.

―Itu sebabnya solusi perekatnya adalah kuota. Masa iya di Sidang Raya suara gereja dengan
jumlah jemaat sedikit sama dengan gereja jumlah jemaatnya banyak? Coba dicerna dengan baik.
Selain kouat, juga yang menjadi aspirasi banyak gereja kata Richard Daulay mengenai usia orang
yang akan menjabat di MPH-PGI. Aspirasi yang berkembang batas usia dari pengurus si MPH
adalah 65 tahun. ―Batas usia 65 tahun sudah harus pension itu adalah batas usia yang digunakan
oleh berbagai organisasi gereja di Indonesia dan dunia—sudah universal,‖ jelasnya.
Richard Daulay bahkan terlalu yakin kalau masalah usia ini dibahas di Sidang Raya maka ini
akan lebih berpeluang gol daripada masalah kuota. ―Ku lihat ini gol. Kuotra itu bisa mengundang
perdebatan teologis, kalau soal usia tidak ada perdebatan, ini sangat teknis,‖ jelasnya.


Banyak Kader Siap Memimpin PGI 2009-2014
Menurut Richard kader untuk memimpin PGI itu begitu banyak dan kader-kader itu sekarang
masih tersembunyi di STT-STT (menjadi dosen) di sinode-sinode yang berkantor di daerah,
seperti GMIM. ―Saya lihat kader untuk memimpin PGI kedepan itu banyak sekali. Sebut saja,
Pdt. Aritonang, Pdt. Martin Sinaga, Pdt. Joas, Pdt. Samuel, Pdt Robert Borong dan masih banyak
lagi seperti Sekum GMIM‖, tuturnya dengan yakin sambil mengatakan kader-kader yang
disebutnya itu bertitel Doktor dan tamatan Luar Negeri.
Walau banyak kader untuk memimpin PGI tetapi Richard mengakui kader-kader yang ada itu
bukan bentukan PGI tetapi membentuk sendiri. ―Saya ini kader tetapi bukan dibentuk oleh PGI.
Saya mengkader diri saya sendiri. Tidak ada beasiswa satu sen pun saya terima dari PGI.‖

Setiap Sinode Harus Memiliki Kantor di Ibu Kota Negara
Richard Daulay ketika ditanya apakah memiliki niat untuk menjadi ketua umum PGI? Dengan
tegas ia menjawab itu tergantung sama maunya Tuhan.
Baginya melayani Tuhan itu adalah kehendak Tuhan bukan dicari dan diperebutkan. Bila
kehendak Tuhan maka tidak repot-repot pasti terpilih. ―Saya sebagai pendeta memiliki iman dan
menurut saya apapun jabatan di gereja yang diberikan Tuhan selama 30 tahun melayani, itu saya
anggap adalah kehendak Tuhan,‖katanya.

Walau belum secara terbuka mengatakan siap menjadi Ketua Umum PGI tapi Richard sudah
mempersiapkan konsep untuk membawa PGI di periode 2009-2014. ―Ke depan kita tingkatkan
pekerjaan di PGI dengan lebih cepat lebih baik. Saya sudah katakan sejak saya terpilih menjadi
sekum bhwa kita akan buat PGI ini lebih berperan dan memiliki pengaruh. Selam periode kami,
syukur kami telah mampu bangun image positif serta dapat diterima dengan baik di dalam dan di
luar negeri.
Richard Daulay juga bangga trio PGI yang sekarang mampu membuat PGI surplus. ―Baru kali
ini PGI surplus sejak 20 tahun sejarah PGI berdiri. Biaya kita sydah normal, Pondok Remaja PGI
di Puncak yang tadinya baru akan kembali ke PGI 2011 kita kembalikan 2006 dipercepat lima
tahun, begitu juga Wisma PGI Teuku Umar dipercepat lima tahun, ―ungkapnya.
―Saya lobi kemana-mana dan Kumala(bendahara umum) terima uangnya – makanya kita
sekarang surplus. Kita bisa karena SDM di PGI maksimal dalam melakukan tugas. Jadi sudah
menjadi tekad kami di periode berikutnya harus ditingkatkan lebih baik lagi. Tapi kami juga
sadar bahwa tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi‖.
Ke depan demi majunya dan dapat bersinerginya PGI dengan anggotanya menurut Richard
Daulay anggota-anggota PGI yang kantor sinodenya di daerah supaya dapat mendirikan kantor
perwakilan di Jakarta sebagai ibu kota negara.


                                                                                     Chewat

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:63
posted:2/1/2012
language:Malay
pages:3