Embed
Email

Warok Suromenggolo

Document Sample
Warok Suromenggolo
Categories
Tags
Stats
views:
37
posted:
1/31/2012
language:
pages:
2
Warok Suromenggolo



Cerita warok Ponorogo, Jawa Timur, dimulai dengan legenda tokoh sakti. Perubahan

zaman menghadapkan budaya itu pada banyak dilema. Konsep warok pun tertantang

untuk ditafsirkan ulang sesuai semangat zaman.



Warok Suromenggolo, diperkirakan hidup pada permulaan Kerajaan Majapahit,

mengawali kisah mistis itu. Warok itu memiliki kolor sakti yang bisa membunuh lawan.

Pusakanya yang lain, luyung bang, bisa menghidupkan orang mati.



Dikisahkan, putri Suromenggolo bernama Cempluk jatuh cinta pada Subroto, putra

penguasa Trenggalek. Tetapi, Suminten, putri Warok Surogentho, juga terpikat dengan

pemuda yang sama. Kedua warok itu pun bertarung demi membela anaknya, dan

Suromenggolo menang.Kisah kolor sakti Suromenggolo melahirkan legenda kedigdayaan

warok yang jadi kebanggaan masyarakat. Warok dicitrakan sebagai kelompok kuat yang

disegani. Namun, kelebihan ini justru menghadapkan mereka pada ketegangan sosial-

politik.



Ketegangan bermula dari kelahiran reog oleh Demang Ki Ageng Kuthu Suryongalam,

perwakilan pemerintah Kerajaan Majapahit di Ponorogo pada masa kekuasaan Bhre

Kertabumi yang bergelar Brawijaya V (1468-1478). Kuthu menilai, raja gagal memimpin

rakyat dengan adil karena dipengaruhi permaisuri.



Kuthu menghimpun warok untuk dilatih sebagai prajurit. Tetapi, niat makar urung

dilaksanakan, dan para warok diajak memainkan seni reog. Dalam barongan, raja

dilukiskan sebagai kepala harimau, yang ditunggangi merak berbulu indah. Itulah

sindiran halus bahwa raja telah disetir permaisuri.



Warok Tobroni (70) dari Cokromenggalan mengungkapkan, Belanda berusaha memecah

belah warok agar tidak memberontak. Politik devide at impera berhasil menciptakan

permusuhan di kalangan warok, dan itu berlangsung hingga menjelang kemerdekaan.

Warok lekat dengan citra kekerasan.



Islam yang masuk ke Ponorogo juga memanfaatkan warok dan reog sebagai sarana

dakwah, sebagaimana dilakukan Ki Ageng Merah dan Bethoro Kathong. Jargon-jargon

warok ditafsirkan dalam perspektif agama. Kata warok sendiri dirujukkan pada kosakata

Arab, wara', yang berarti orang yang saleh dan alim.



Instrumen politik



Konflik berdarah tahun 1965 menyeret warok Ponorogo dalam ketegangan. Menurut

peneliti tradisi di Universitas Jember (Unej), Ayu Sutarto, partai politik memanfaatkan

warok dan reog untuk menggalang massa. Warok dan reog terpecah jadi beberapa

kelompok yang bermusuhan.



Partai Komunis Indonesia (PKI) menyusupi Barisan Reog Ponorogo (BRP), sedangkan

Partai Nasionalis Indonesia (PNI) memegang Barisan Reog Nasional (Bren). Muncul

pula Cabang Kesenian Reog Agama (Cakra) yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama

(NU).



Suasana mencekam, banyak warok jadi korban. Mereka beradu kesaktian atau

menyelamatkan diri. Beberapa warok selamat dari peristiwa itu dengan mengandalkan

ilmu kanuragan. Mbah Kakuk Senen (83), warok asal Desa Bulu Lor, Kecamatan

Jambon, bercerita, rumahnya pernah dikepung banyak orang. "Saya selamat setelah

merapal wirid ilmu menghilang," katanya.



Mobilisasi politik Orde Lama berganti politik massa mengambang (floating mass) pada

era Orde Baru. Warok tetap diincar sebagai kendaraan politik. Partai memanfaatkan

media tradisional itu untuk menyuarakan pesan politik. Barongan dan dadak merak kerap

muncul dalam kampanye dengan dominasi warna partai.



Identitas



Pemerintah Kabupaten Ponorogo saat ini mengarahkan warok dan reog sebagai identitas

budaya daerah. Seni reog dibakukan, seperti dalam buku Pedoman Dasar Kesenian Reog

Ponorogo. Sejak tahun 1994, pemerintah menggelar festival reog dan gerebeg Syuro.



Menurut pengajar Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, Tugas Kumorohadi,

citra warok dan reog makin berorientasi pertunjukan panggung. Reog dinilai dari aspek

dramaturgi, tarian, dan tata busana yang serba seragam, manis, dan gemerlap.



"Warok dan reog masuk dalam paket komoditas wisata. Ruh warok sebagai manusia

unggul dan reog sebagai ekspresi seni rakyat surut," katanya.



Menurut warok asal Sumoroto, Mbah Wo Kucing (70), warok sebaiknya jangan terbawa

arus zaman, melainkan kukuh memberikan wewarah (pengajaran) nila-nilai luhur pada

masyarakat. Warok juga dituntut menguasai ilmu kaweruh (kebijaksanaan spiritual),

meniti jalan kemanusiaan sejati (reh kamanungsan sejati), dan warok jadi sumber

ketenteraman batin.



Warok-warok tua merupakan simpul penting untuk menelusuri identitas budaya

masyarakat Ponorogo. Kehadiran mereka mengukuhkan kearifan lokal—nilai, estetika,

dan ilmu pengetahuan masa lalu—yang semakin terdesak kapitalisasi dan penyeragaman

semua aspek kehidupan.



Namun, warok-warok sepuh itu pada waktunya akan meninggal. Jika generasi berikutnya

gagal menangkap dan melestarikan spirit warok, bisa jadi tradisi ini tinggal sejarah.

Banyak orang Ponorogo yang memakai pakaian warok, tetapi semakin sulit menemukan

warok.


Related docs
Other docs by Prasetyan Kurn...
Antara Gajah Dan Reog
Views: 36  |  Downloads: 0
Bidadari-Bidadari Surga
Views: 104  |  Downloads: 0
Konsep Jaringan Komputer
Views: 17  |  Downloads: 0
Night Star
Views: 0  |  Downloads: 0
Jaringan Komputer
Views: 22  |  Downloads: 1
Laskar Jihad
Views: 8  |  Downloads: 0
Asal Usul Kota Ponorogo
Views: 21  |  Downloads: 0
The Muslims Belief
Views: 1  |  Downloads: 0
Justin Bieber By. Sarah Parvis
Views: 8  |  Downloads: 0
Catatan Hati Seorang Istri
Views: 15  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!