Special News - Berita Kasus JW-NM di Koran Nasional itu Harus Disikapi Oleh Majelis Pusat

Document Sample
Special News - Berita Kasus JW-NM di Koran Nasional itu Harus Disikapi Oleh Majelis Pusat Powered By Docstoc
					   Berita Kasus JW-NM di Koran Nasional itu Harus Disikapi Oleh Majelis Pusat

Berikut sekilas kutipan tulisan jalinan asmara antara JW-NM yang ditulis oleh redaksi dua surat
kabar nasional itu. “Kronologis tertangkap basahnya perselingkuhan antara JW dan NM ini
terjadi di kota Manado, Sulut beberapa waktu lalu. Isu tak sedap ini mencuat ke permukaan
ketika CM (suami NM) memberanikan diri untuk membeberkan alias curhat kepada gembalanya,
Pdt. Nogi Rundengan (Gembala GPdI Ekklesia TAAS, Tikala, Manado) yang juga menjabat
sebagai Sekretaris GPdI Wilayah I Wenang Tikala, Manado. Penuturan CM inilah yang
kemudian diteruskan dan dilaporkan oleh Pdt.Nogi Rundengan ke MP GPdI. Menurut Pdt. Nogi,
awalnya CM menemuinya ketika akan melakukan perjalanan ke Tondano. Disitulah CM,
bercerita panjang lebar seputar hubungan suami istri yang mulai mengalami keretakan. “Dia
menceritakan itu karena NM (istrinya) meminta cerai ke CM. Lalu saya tanya, apa sebabnya
meminta cerai? Dari kejadian itu kemudian, CM menceritakan hal yang sebenarnya menyangkut
rumah tangganya,” tandas Nogi memulai pembicaraan.

Seperti dikisahkan CM kepada Pdt.Nogi, terungkapnya isu yang membuat rumahtangganya rusak
itu, berawal ketika CM pulang kerja, tidak mendapati istrinya berada di rumah. CM sempat
bersabar dan menunggunya hingga larut malam, kira-kira pukul 02.00 WITA. Lantaran istrinya
belum juga pulang, CM kemudian memutuskan untuk menelepon mertuanya (Ibu RM)
menanyakan apakah mengetahui keberadaan istrinya. “Karena agak cemas dan khawatir, Ibu RM
kemudian membantu mencari anaknya ke Pastori GPdI Elshaday, Sario Manado. Ternyata NM
tidak ada di sana. Kemudian, Ibu Rita menelpon balik CM dan menyuruh CM segera mencari
istrinya. CM kemudian bergegas pergi keliling semua hotel yang ada di Manado untuk mencari
istrinya, namun tidak juga ditemukan. Karena tidak ditemukan, ia kemudian teringat ada satu
hotel baru bernama Swiss Bel Maleosan Hotel, Jalan Yos Sudarso Manado. Hotel itu satu-
satunya yang memiliki basement. Sesampai di hotel, dia langsung turun ke basement. Disitulah,
CM menemukan mobil istrinya, Xenia warna hijau diparkir di basement hotel. Waktu itu sudah
menunjukkan pukul 4.00 subuh. Selanjutnya, CM pun memutuskan naik ke lobby hotel sambil
menunggu NM turun. Kalau saja, mereka turun berdua melewati lobby, pasti akan terjadi
perkelahian. Karena kedapatan membawa kabur istri orang. Rupanya, mereka tidak melewati
lobby dan angsung turun ke basement. Setelah keluar dari basement, mereka sempat parkir mobil
dekat hotel itu. Lantas JW turun membayar biaya hotel. Disitulah CM melihat JW melakukan
transaksi pembayaran hotel. Setelah itu, JW kembali ke mobil melewati posisi CM yang sedang
duduk di lobby hotel. Dan sayangnya JW seperti tidak mengenali wajah CM. Selanjutnya, JW
naik mobil, dan CM pun bergegas membuntuti dengan motornya dari hotel sampai ke Airport
Sam Ratulangi. Setibanya di Sam Ratulangi, CM melihat JW turun, langsung masuk ke dalam
Bandara Sam Ratulangi, Manado. Setelah itu mobil Xenia berwarna hijau yang ditumpangi JW
meluncur menuju ke kantor Depkes kota Manado dimana NM bekerja. CM pun terus
membuntutinya, hingga sampai di kantor NM. Disana, CM bertemu dengan seorang pegawai
yang sudah ada di kantor dan bertanya, yang masuk kantor tadi siapa? Pegawai itu menjawab,
‘itu adalah Ibu NM, (maksudnya istrinya CM). Dari situlah lebih meyakinkan CM bahwa benar
apa yang dilihatnya, sejak dari hotel menuju bandara hingga kantor istrinya,”ungkap hamba
Tuhan           yang        berani         mempertanggungjawabkan           cerita        ini.
Ketika dikornfirmasi kembali oleh Pdt. Nogi Rundengan yang didampingi wartawan dari Jakarta
kepada CM di kantornya di Manado, membenarkan peristiwa memalukan yang dilakukan
petinggi GPdI dengan istrinya. CM menegaskan, apa yang diceritakan kepada gembalanya itu
bukan dikarang-karang, tetapi hal itu memang benar-benar disaksikan dengan mata kepala
sendiri.

Berita ini pun diperkuat dengan komentar KM (Pemilik Motor yang dipinjam CM). “Pada saat
kejadian itu, Brur CM itu selalu curhat kepada saya. Kata Brur CM, kalau di rumah istrinya
sering marah-marah, dan nuntut perceraian, dan lain sebagainya. Karena hal itu sudah tidak betul
agi, akhirnya dia mencoba menyelidiki istrinya. Pas terakhir dia mau mengusut istrinya dan
pinjam sepeda motor saya. Katanya dia temukan istrinya di hotel Swiss Bel, Maleosan, di Jalan
Yos Sudarso, Manado. Brur CM ini melihat mobil istrinya diparkir di basement. Kemudian dia
tunggu di loby. Saat itu muncul JW di lobby hotel. Jadi ini bukan dikarang-karang. Sampai brur
CM      bilang,   kalau    kita   sampai     marah,     maka     goyang     GPdI,”     ujarnya.”
Ketika membaca pemberitaan di atas, sebagai warga gereja beraliran Pantekosta, tentu sangat
malu. Kenapa? Karena yang diberitakan itu seorang pemimpin umat, yang seharusnya menjadi
teladan, baik secara sikap maupun kehidupannya, tapi justru mencoreng nama baik institusi
gereja yang notabene selalu mengedepankan kekudusan. Bayangkan saja, tingkah polah seorang
hamba Tuhan kok seperti orang yang belum bertobat. Miris dan prihatin rasanya ketika
Pantekosta        Pos         membaca         pemberitaan         tersebut        di        atas.
Apalagi ditambah dengan komentar JW yang terkesan membenarkan semua kejadian memalukan
itu.


Coba saja simak cuplikan berita hasil wawancara wartawan “Sunda Pos” berikut ini:
“Tanggapan tentang isu perselingkuhan yang menerpa Anda?

Persoalan itu sudah diselesaikan pada tanggal 23 Januari 2009 yang lalu di Majelis Pusat GPdI.
Karena Pak Mandey sudah telepon dengan Bapak dan Ibu (CM & NM, -red). Jadi sudah jelas.
Hanya saja, ini yang kami akan melangkah. Memang ada teman-teman pendeta yang tidak tahu
persoalan ini dan tidak lihat. Kalau hukum ini kan hitam putih, tidak boleh abu-abu. Artinya,
ketika ada orang mengisukan, mereka tidak lihat, tapi justru gembor-gembor, itu kan bahaya.
Makanya Pak Mandey, Top Leader kami sudah bicara dengan Bapak & Ibu (CM & NM). Dan
itu sudah diselesaikan di Majelis Pusat GPdI.


Maksud Anda tentang isu itu?

Isu itu tidak benar. Artinya begini pak, katanya mereka hanya lihat saya kepergok di hotel
dengan seorang perempuan. Saya balik bertanya, hukum apa yang melarang, kalau misalnya
ketemu dengan seorang perempuan di hotel? Nah dari situlah kemudian berkembang. Memang
ada latar belakang yang tersembunyi, tapi saya tidak mau ungkapkan di sini. Tetapi Yang jelas
pak Mandey sudah bicara selama 45 menit dengan Bapak & Ibu itu.


Jadi bagaimana Anda menyelesaikan persoalan ini?
Saya juga dalam situasi yang dilematis sekali. Sementara saya seorang pendeta. Bagaimana kalau
misalnya saya menyeret persoalan ini ke meja hijau. Apakah etis? Kalau saya melihat ada orang
yang ingin menjatuhkan nama saya. Saya melihat ke arah sana. Sebagai pendeta, saya tentunya
punya nurani pendeta. Mungkin kalau saya bukan pendeta lain lagi. Hukum Negara tidak bisa,
mungkin hukum rimba kita bisa. Terus terang berkali-kali, waktu Natal baru-baru ini di keluarga
besar Kawanua, saya diminta kotbah. Lalu ayat yang diberikan kepada saya Roma 18:16 &17,
pembalasan itu biarlah menjadi haknya Tuhan. Jadi, ayat-ayat itu yang membendung untuk tidak
masuk ke jalur hukum. Tetapi nurani saya sebagai pendeta masih jalan. Sekali lagi semua itu
sudah dibicarakan oleh Pak Mandey. Mungkin kalau punya nomor telepon Pak Mandey, silahkah
menghubungi beliau. Hasil wawancara antara Pak Mandey dengan suami istri itu sudah dibawa
di rapat pleno. Semuanya sudah tuntas di keluarga. Sebagai pendeta saya telah menceritakan
yang benar”.


JW Sebaiknya Mundur Dari Jabatannya

Salah satu hamba Tuhan GPdI DKI Jakarta, Pdt. Nico Ropa, S.Th sangat menyayangkan berita
yang dimuat di media massa nasional. Tapi, di lain sisi, jika pemberitaan itu memang kuat
sumbernya, kata gembala jemaat ini, tentu harus disikapi oleh Majelis Pusat GPdI untuk segera
memberikan sanksi tegas terhadap hamba Tuhan tersebut di atas. Karena hal itu telah merusak
nama lembaga gereja yang telah dibangun selama puluhan tahun. “Ya, jika hal itu benar, tentu
MP harus segera merespon. Karena ini sangat memalukan institusi gereja,”tegasnya.
Senada dengan Pdt. Nico, gembala jemaat GPdI Tabulo, sekaligus wakil ketua Majelis Daerah
Gorontalo, Pdt. Denny Tololiu, mengatakan hal itu sangat memalukan. “Saya pikir kalau itu
terbukti, ya harus di-recall Majelis Pusat dan harus mundur dari jabatannya. Sebagai pimpinan
tertinggi di Gorontalo, saya berkomentar kalau itu sudah tertangkap tangan dan diberitakan oleh
media massa nasional, ya JW itu harus dibebastugaskan dari jabatannya. Karena kan di GPdI ini
banyak sekali kader-kader yang terbaik, seperti Pdt. Max Wakkary, Pdt. Welly Saerang, Pdt.
Hendrik Runtukahu, dan lain-lain,”ujarnya.?

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:60
posted:1/31/2012
language:
pages:3