Docstoc

pemijahan ikan lele

Document Sample
pemijahan ikan lele Powered By Docstoc
					        LAPORAN PRAKTIKUM
        FISIOLOGI HEWAN AIR




    PEMIJAHAN IKAN LELE DUMBO
   MENGGUNAKAN HORMON OVAPRIM




               OLEH :

              APRIANI




FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
              PONTIANAK
                 2011
                               I. PENDAHULUAN



1. 1. Latar Belakang

         Potensi perikanan di Kalimantan Barat sangat menjanjikan untuk

dikembangkan, salah satunya potensi perikanan budidaya air tawar. Hal ini

dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan ikan yang semakin

meningkat. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan gizi

untuk pertumbuhan dan perkembangan manusia saat ini, sehingga diperlukan

budidaya ikan air tawar guna untuk memenuhi permintaan pasar salah satunya

adalah ikan lele dumbo.

         Ikan lele dumbo adalah salah satu jenis hibrida ikan lele yang baru

diintroduksikan ke Indonesia dari manca negara, yaitu Taiwan pada bulan

November 1986. Ketika di masukkan ke wilayah Indonesia melalui Bandara

Soekarno-Hatta ikan lele ini tercatat bernama ilmiah Clarias fuscus dengan nama

populer (Inggris) King Cat Fish yang berarti raja ikan lele. Beberapa bulan

kemudian ada pemberitaan yang menyatakan bahwa namanya yang betul adalah

Clarias gariepinus. Terlebih lanjut dinyatakan ikan lele dumbo adalah hibrida

atau hasil kawin silang antara jenis ikan lele asli Taiwan dan jenis lele dari Afrika.

         Salah satu hal yang mendukung dalam mengefisienkan suatu kegiatan

budidaya ikan lele dumbo adalah memanfaatkan keunggulan ikan lele dumbo

secara biologi. Keunggulan lele dumbo secara biologi yaitu ikan lele dumbo dapat

hidup pada kondisi air dengan kandungan oksigen terlarut rendah. Hal ini berarti

ikan lele dumbo tidak mutlak memerlukan pergantian air yang banyak, ikan lele

dumbo mempunyai kebiasaan pemakan segalanya (omnivora) sehingga pada fase
berumuran larva ikan lele dumbo relatif lebih cepat, disamping itu ikan lele

dumbo dapat melakukan pemijahan (perkawinan) sepanjang tahun dan sering

terjadi mulai awal musim hujan sampai peralihan musim kemarau.

        Pada beberapa tahun terakhir ini konsumsi ikan lele semakin meningkat

dari tahun 2002 jumlah permintaannya untuk Kota Pontianak saja 2-3 ton per

bulan akan tetapi meningkat menjadi 10-12 ton per bulan pada tahun 2007.

Produksi ikan lele di Kalimantan Barat pada tahun 2008 sebesar 674,76 ton yang

sebagian besar produksi disumbang oleh kota Pontianak yaitu sebesar 125 ton.

Dahulu ikan lele dipandang sebagai ikan murahan dan pada umumnya hanya

dikonsumsi oleh keluarga petani saja, sekarang ternyata konsumennya makin

meluas. Rasa dagingnya yang khas dan cara memasak dan menghidangkannya

yang secara tradisional itu ternyata sekarang menjadi kegemaran masyarakat luas.

Bahkan banyak pula restoran besar yang menghidangkannya. Oleh karena itu

harga lele meningkat dari Rp 8000/kg menjadi Rp 15000/kg, hal ini menjadi

perangsang bagi petani ikan untuk membudidayakan ikan lele secara intensif.

        Unit pembenihan ikan merupakan sebuah unit usaha yang diperuntukkan

bagi kegiatan pembenihan ikan yang berada di suatu tempat dengan tujuan untuk

memproduksi benih ikan dengan skala tertentu. Sebuah unit pembenihan

merupakan tempat melakukan kegiatan aktivitas kegiatan pembenihan dalam tiap

siklusnya dengan memperhatikan syarat-syarat lokasi tempat berdirinya unit

pembenihan.


1. 2. Perumusan Masalah

        Telah lama disadari bahwa dalam upaya menunjang keberhasilan usaha

budidaya ikan, salah satu faktor yang menentukan adalah tersedianya benih yang
memenuhi syarat baik kualitas, kuantitas maupun kontinuitasnya. Kebutuhan

benih lele semakin hari semakin meningkat yang disebabkan oleh semakin

banyaknya lahan budidaya baru dan permintaan akan ikan lele. Apablila

mengharapkan pembenihan ikan secara alami, maka kebutuhan akan benih tidak

mungkin terpenuhi. Untuk menyiasati hal tesebut maka diperlukan campur tangan

manusia dalam proses pembenihan yaitu dengan penyuntikan hormon


1. 3. Tujuan dan Manfaat

        Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :

a. Untuk Meningkatkan pengetahuan, motivasi dan keterampilan mahasiswa

    mengenai teknik pemijahan ikan lele dumbo

b. Sebagai media atau sumber untuk mengembangkan dan meningkatkan

    wawasan serta pemikiran yang ilmiah dan kreatif .

        Manfaat dari praktikum ini adalah Sebagai sumber informasi yang dapat

dijadikan referensi bagi pihak-pihak yang berkepentingan mengenai teknik

pembenihan ikan lele dumbo.
                                    II. TINJAUAN PUSTAKA



2. 1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele

               Ikan lele Dumbo menurut taksonomi yang dikemukakan oleh Weber and

     de Beaufort (1965) dalam Suyanto (2000) di klasifikasikan sebagai berikut :

     Filum           : Chordata

     Kelas           : Pisces

     Subkelas        : Teleostei

     Ordo            : Ostariophysi

     Subordo         : Siluroidae

     Famili          : Claridae

     Genus           : Clarias

     Spesies         : Clarias gariepinus

               Menurut Rochdianto (2005), Secara umum ikan lele mempunyai bentuk

     badan memanjang, agak pipih tidak bersisik dan selalu berselimut lendir.

     Kepalanya pipih dengan lempeng tulang keras sebagai batok kepala. Warna tubuh

     pada bagian bawah kepala hingga pangkal ekor hitam keabu-abuan. Warna ini

     dapat berubah menjadi pucat bila selalu terkena sinar matahari. Bila lele

     mengalami keadaan stres maka warna tubuh akan berubah menjadi bercak-bercak

     keabuan dan di bagian kepalanya tampak noda-noda seperti mozaik berwarna abu-

     abu keputihan. Santoso (1995) menambahkan, lele dumbo mempunyai 5 buah

     sirip yang terdiri dari sirip pasangan (sirip dada, perut) dan sirip tunggal ( sirip

     punggung, ekor, dubur). Pada sirip dada dilengkapi dengan patil atau taji tidak

     beracun. Lele juga mempunyai alat pernapasan tambahan yang terletak di bagian
     depan rongga insang, yang memungkinkan ikan lele mengambil oksigen langsung

     dari udara.

            Ikan lele mempunyai 4 pasang sungut yang berada di sekitar mulut yang

     dapat berfungsi sebagai alat peraba dan matanya berbentuk bulat kecil dengan tepi

     orbital yang bebas (Rochdianto, 1995).


2. 2. Habitat dan Penyebaran

            Lingkungan hidup ikan lele ialah semua perairan air tawar. Di sungai yang

     airnya tidak terlalu deras atau di perairan yang tenang seperti danau, waduk,

     telaga, rawa serta genangan-genangan kecil seperti kolam. Ikan lele hidup dengan

     baik di dataran rendah sampai daerah perbukitan yang tidak terlalu tinggi

     (Hernowo dan Suyanto, 2006). Hernowo (1999) menambahkan, Ikan lele dumbo

     pada umumnya sangat toleransi terhadap lingkungan yang jelek karena ia

     mempunyai alat pernafasan tambahan yaitu arborescent, sehingga ikan ini dapat

     hidup dengan perairan yang kandungan oksigennya sedikit dan pencemaran

     bahan-bahan organik serta dapat hidup di comberan yang airnya kotor. Kemudian

     dijelaskan oleh Kairuman dan Amri (2002), sebagai ikan catfish ikan lele di alam

     bebas biasanya selalu bersembunyi pada liang-liang di tepi sungai atau kali.


2. 3. Makan dan Kebiasaan Makan

            Menurut Hernowo dan Suyanto (2006), pada habitat aslinya ikan lele

     memakan binatang-binatang renik yang hidup di lumpur dasar maupun di dalam

     air. Lele juga mengkonsumsi berbagai bahan makanan berupa limbah pertanian

     dan berbagai limbah rumah tangga. Rochdianto (2005) mengatakan, Ikan ini aktif

     pada malam hari untuk mencari makanan. Jika hari mulai gelap ia baru keluar dari
liang persembunyiannya untuk mencari makan, hal ini sesuai dengan sifat

hidupnya yang noktrunal.

       Ikan lele dumbo mempunyai nafsu makan yang tinggi dan mulut yang

besar. Ikan ini dapat memakan atau menghisap makanan organisme di dasar

perairan maupun di atas perairan. Di dalam mencari makan ikan lele dumbo tidak

mengalami kesulitan, karena mempunyai sungut yang berfungsi sebagai alat

peraba yang sangat peka dalam mendeteksi adanya makanan di sekitarnya.

Makanan yang melayang-melayang di dalam air dan bergerak-gerak akan di

sambarnya. Apabila jumlah makanan berkurang, maka sifat kanibalnya akan

timbul dan menjadi buas sehingga akan memakan sesamanya atau bahkan

anaknya sendiri (Djarijah, 1995)
                         III. METODE PRAKTIKUM



3. 1. Tempat dan Waktu

         Praktikum ini dilaksanakan di Kelurahan Parit Mayor Kota Pontianak

dan dilakukan pada bulan Februari 2011


3. 2. Bahan dan Alat

     Bahan yang akan digunakan dalam praktikum antara lain:

   Induk ikan lele jantan dan betina yang telah matang gonad

   Hormon Ovaprim

   NaCl

   Pakan

        Sedangkan alat yang akan digunakan adalah:

   Bak Semen

   Aerator

   Timbangan

   Serokan

   Kakaban

   Alat Tulis

   Alat dokumentasi.


3. 3. Prosedur Praktikum

       Bak yang akan digunakan untuk pemijahan ikan dipersiapkan baik itu

kebersihannya, peralatan aerasi dan pengisian air yang cukup bagi kelangsungan

pemijahan. Bak pemijahan dapat berupa kolam tanah, fiber, terpal maupun semen.
Induk yang akan digunakan harus sudah matang gonad berumur lebih dari 8 bulan

untuk betina dan satu tahun untuk pejantan.

       Ikan lele pertama kali matang kelamin pada umur satu tahun dengan

ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh 100 sampai 200 gram.

Gonad ikan lele jantan dapat dibedakan dari ciri-cirinya yang memiliki gerigi pada

salah satu sisi gonadnya, warna lebih gelap, dan memiliki ukuran gonad lebih

kecil dari pada betinanya. Sedangkan, gonad betina ikan lele berwarna lebih

kuning, terlihat bintik-bintik telur yang terdapat di dalamnya, dan kedua bagian

sisinya mulus tidak bergerigi. Sedangkan organ – organ lainya dari ikan lele itu

sendiri terdiri dari jantung, empedu, labirin, gonad, hati, lambung dan anus.

       Ciri induk ikan betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentuk

perut yang membesar sangat lembut, dapat juga dengan mengurut perut ikan

tersebut. Bila telur yang keluar secara pengurutan berbentuk bulat utuh, berwarna

agak kecoklatan atau hijau kekuningan maka induk dalam kondisi siap pijah. Pada

gonad ikan jantan dapat dilihat dari papilla genitalnya yang terletak dibelakang

dan mendekati sirip anus, berwarna merah, meruncing dan menyebar kearah

pangkalan, makan ikan tersebut telah matang kelamin.
                         IV. HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1. Seleksi Induk

          Induk lele yang akan dipijahkan harus dalam keadaan sehat, tidak cacat,

tidak ada tanda-tanda yang dapat menyebabkan terganggunya proses pembenihan

dan kemungkinan terjadinya penurunan kualitas benih. Induk jantan dan betina

yang akan dipilih sebaiknya tidak berasal dari satu keturunan. Umur induk yang

baik adalah telah berumur lebih dari 8 bulan untuk betina dan satu tahun untuk

pejantan. Secara ideal, induk betina maupun jantan mempunyai bobot 800-1200

gram. Berat induk ikan betina yang dipijahkan adalah 3,8 kg sedangkan induk

jantan dengan berat 3,6 kg.

. Ciri-ciri induk lele jantan:

- Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.

- Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.

- Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang,

  terletak di belakang anus, dan warna kemerahan.

- Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng(depress).

- Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina.

- Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan

  mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).

- Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.

2. Ciri-ciri induk lele betina

- Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.

- Warna kulit dada agak terang.
- Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan,

 lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.

- Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.

- Perutnya lebih gembung dan lunak.

- Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan

 mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).


4.2. Pemberian Hormon

       Hormon yang diberikan adalah jenis ovaprim dengan perbandingan 0,5 ml

hormon untuk 1 kg ikan. Sebelum hormon disuntikkan terlebih dahulu di encerkan

menggunakan larutan NaCl dengan perbandingan 1 : 1 artinya 1ml NaCl

digunakan pada 1 ml hormon ovaprim. Penyuntikan dilakukan pada bagian

punggung atau bagian pangkal ekor ikan. Penyuntikan Hormon dilakukan

sebanyak 2x agar proses pemijahan berhasil. Pada penyuntikan pertama, dosis

yang diberikan 1ml hormon ovaprim dan penyuntikan ke-2 setengah dari dosis

penyuntikan pertama yaitu 0,5ml ovaprim.


4.3. Pemijahan

          Pemijahan merupakan proses terjadinya perkawinan induk jantan dan

betina sehingga terjadi pembuahan telur. Proses perkawinan dan pembuahan telur

dapat berjalan baik kalau kondisi lingkungan mendukung dengan kondisi induk

baik serta siap untuk memijah. Untuk tempat penempelah telur, di dalam kolam

pemijahan disediakan kakaban yang terbuat dari ijuk yang ukurannya disesuaikan

dengan ukuran kolam pemijahan. Induk akan memijah umumnya menjelang pagi

hari, yaitu antara pukul 24.00-04.00.
4.4. Kualitas Air

          Air merupakan media utama sebagai tempat hidup ikan, selain menjadi

ruang gerak air juga merupakan persediaan makanan dan unsur hara yang

diperlukan bagi kehidupan jasad renik yang akhimya akan menjadi makanan ikan.

Kualitas lingkungan dan kualitas air sangat menentukan keberhasilan produksi

ikan. Untuk dapat mengelola sumber daya perikanan yang baik, maka salah satu

faktor yang dapat di ketahui adalah kualitas airnya. Data Kualitas air berdasarkan

pengukuran di lapangan ketika praktikum berlangsung yaitu:

          NO           Parameter                 Nilai

           1               pH                     6,42

           2               DO                  1,02 ppm

           3              Suhu                  27,08 C0

           4              TDS                    8 ppm

           5              BOD                     14,4

           6              DHL                    134,7

           7              ORP                    154,4

           8             NBAR                    1007,1
DAFTAR PUSTAKA


Arie, U. 2000. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Penebar Swadaya. Jakarta.

Dinas Kelautan dan Perikanan. 2009. Statistik Perikanan Budidaya Provinsi
      Kalimantan Barat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Dinas Kelautan
      dan Perikanan. Pontianak.

Djarijah, A.S.1995. Pakan Ikan Alami. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Effendi, H. 2007. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
       Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 258 hal.

Ganda. 2008. Genetika Ikan Lele Dumbo. http://gandainc.blogspot.com/2008/09/
      genetika-ikan-lele-dumbo.html. Akses 05 April 2010

Hernowo. dan Suyanto, S.R. 2006. Pembenihan dan Pembesaran Lele di
      Pekarangan, Sawah dan Longyam. Penebar Swadaya. Jakarta. 88 hal.

Hernowo, 1999. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele Dumbo. Penebar
     Swadaya. Jakarta. 88 hal.

Jangkaru, Z. 2002. Pembesaran Ikan Air Tawar di Berbagai Lingkungan
       Pemeliharaan. Penebar swadaya. Jakarta. 96 hal

Kairuman dan Amri, K. 2002. Budidaya Lele Dumbo Secara Intensif. Penebar
     Agromedia Pustaka. Jakarta. 84 hal.

Prasetyo, H. 1993. Pembenihan dan Pembesan Ikan Air Tawar. Penebar Swadaya.
      Jakarta. 56 hal.

Rochdianto, A. 1995. Budidaya Ikan di Saluran Irigasi. Kanisius. Yogyakarta. 72
      hal.

Rochdianto, A. 2005. Budidaya Ikan di Jaring Terapung. Penebar Swadaya.
      Jakarta. 98 hal.

Santoso, B. 1995. Petunjuk Praktis Budidaya Lele Dumbo dan Lokal. Penerbit
     Kanisius. Jakarta. 78 hal

Sutisna, D.H. dan Sutarmanto, R. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius.
       Yogyakarta. 135 hal.

Suyanto, S.R. 2000. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya. Jakarta. 101 hal.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:312
posted:1/30/2012
language:
pages:13