Docstoc

Teori Logo Counseling dan Konsep Diri

Document Sample
Teori Logo Counseling dan Konsep Diri Powered By Docstoc
					                                                                             12
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011




                                       BAB II

              KAJIAN TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS




A. Hakikat Konsep Diri

             Berbicara mengenai konsep diri, banyak sekali definisi yang dapat

diberikan dari berbagai ahli, dan literatur. Adapun beberapa definisi yang dapat

menggambarkan mengenai konsep diri, yaitu sebagai berikut:



1. Pengertian Konsep Diri

       Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah“konsep” berarti gambaran,

proses atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk

memahami hal-hal lain, dan istilah “diri” berarti orang seorang (terpisah dari

yang lain). Konsep diri dapat diartikan sebagai gambaran seseorang mengenai

dirinya sendiri, atau penilaian terhadap dirinya sendiri.

       Hampir senada dengan definisi diatas F. Verdeber mendefinisikan konsep

diri tersebut sebagai “A collection of perception of every aspect of your being:

your appearance, physical and mental capabilities, vocational potencial, size,

strength and so forth”. (Alex Sobur, 2003:506).

        Dengan kata lain Verdeber menyatakan bahwa konsep diri tersebut adalah

merupakan sebuah kumpulan persepsi setiap aspek keberadaan individu itu

sendiri, yang terdiri dari penampilan fisik, kemampuan mental, potensi kejuruan,

ukuran, kekuatan, dan sebagainya.


                                          12
                                                                                13
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
       Selain definisi diatas, masih terdapat definisi-definisi dari para ahli

lainnya, diantaranya yaitu:

       a) Hurlock (dalam Ghufron & Rini, 2010 : 13) mengatakan bahwa

            konsep diri merupakan gambaran seseorang mengenai diri sendiri yang

            merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, sosial,

            emosional, aspiratif, dan prestasi yang mereka capai.

       b) Burn (dalam Ghufron & Rini, 2010 : 13) mendefinisikan konsep diri

            sebagai kesan terhadap diri sendiri secara keseluruhan yang mencakup

            pendapatnya terhadap diri sendiri, pendapat tentang gambaran diri

            dimata orang lain, dan pendapatnya tentang hal-hal yang dicapai.

       c)   Rahmat (2004:15) menyatakan bahwa konsep diri bukan hanya

            gambaran deskriptif melainkan juga penilaian individu mengenai

            dirinya sendiri.



       Berdasarkan pada pengertian yang diberikan oleh para ahli diatas, maka

dapat disimpulkan bahwa pengertian dari konsep diri yaitu gambaran dan

penilaian mengenai diri pribadi individu yang menyangkut potensi-potensi yang

mereka miliki baik itu fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi

yang mereka capai.



2. Terbentuknya Konsep Diri

       Menurut Calhoun dan Acocella (dalam Ghufron, 2010:14), ketika lahir

manusia belum memiliki konsep diri, pengetahuan tentang diri sendiri, harapan
                                                                                 14
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
terhadap diri sendiri, dan penilaian terhadap diri sendiri. Artinya individu tidak

sadar dia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan.

       Sensasi yang dirasakan oleh anak pada waktu masih bayi tidak disadari

sebagai suatu yang dihasilkan dari interaksi antara dua faktor yang masing-masing

berdiri sendiri, yaitu lingkungan dan dirinya sendiri. Namun, keadaan ini tidak

berlangsung lama, secara perlahan-lahan individu akan dapat membedakan antara

“aku” dan “bukan aku”. Pada saat itu, individu mulai menyadari apa yang

dilakukan seiring dengan menguatnya pancaindra. Individu dapat membedakan

dan belajar tentang dunia yang bukan aku. Berdasarkan hal ini individu

membangun konsep diri.

       Loncatan kemajuan yang sangat besar dalam pembentukan konsep diri

terjadi ketika individu mulai menggunakan bahasa, yakni sekitar umur satu tahun.

Seorang individu akan memperoleh informasi yang lebih banyak tentang dirinya

dengan memahami perkataan orang lain.

       Willey mengatakan bahwa sumber pokok dari informasi untuk konsep diri

adalah interaksi dengan orang lain. Tokoh pertama yang mengatakan fakta ini

adalah C.H. Cooley yang memperkenalkan pengertian diri yang tampak seperti

cermin. Menurut Cooley kita menggunakan orang lain untuk menunjukkan siapa

diri kita. Kita membayangkan bagaimana pandangan mereka terhadap kita,

penampilan, dan penilaian tersebut menjadi gambaran diri kita. Gambaran diri

kemudian berkembang dalam dua tahap. Pertama, kita menginternalisasikan sikap

orang lain terhadap diri kita. Kedua, kita menginternalisasikan norma masyarakat.

Dengan kata lain, konsep diri adalah ciptaan sosial dan hasil belajar dari interaksi

dengan orang lain.(Ghufron & Rini, 2010:15)
                                                                            15
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
       Calhoun dan Acocella (dalam Ghufron, 2010:16) mengemukakan tentang

sumber informasi yang penting dalam pembentukan konsep diri antara lain: (1)

orang tua, dikarenakan orang tua adalah kontak sosial yang paling awal dan yang

paling kuat dialami oleh individu; (2) teman sebaya, teman sebaya menempati

peringkat kedua, karena selain individu membutuhkan cinta dari kedua orang tua

juga membutuhkan penerimaan dari teman sebaya dan apa yang diungkapkan

pada dirinya akan menjadi penilaian terhadap diri individu tersebut; (3)

masyarakat, dalam masyarakat terdapat norma-norma yang akan membentuk

konsep diri pada individu, misalnya pemberian perlakuan yang berbeda pada laki-

laki dan perempuan berbeda dalam berprilaku.



3. Perkembangan Konsep Diri

           Menurut Alex Sobur (2003:514) pada dasarnya pengembangan konsep diri

merupakan proses yang relatif pasif. Pada pokoknya, individu berprilaku dengan

cara tertentu dan mengamati reaksi orang lain terhadap perilaku individu itu

sendiri.

           Hurlock (dalam Alex S., 2003:510) membagi konsep diri berdasarkan

perkembangannya menjadi konsep diri primer dan konsep diri sekunder, konsep

diri primer adalah konsep diri yang terbentuk berdasarkan pengalaman anak di

rumah, berhubungan dengan anggota keluarga yang lain seperti orang tua dan

saudara. Konsep diri sekunder adalah konsep diri yang terbentuk oleh lingkungan

luar rumah seperti teman sebaya atau teman bermain.
                                                                                  16
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
       Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri tidak berkembang

dengan sendirinya, tetapi berkembang dengan adanya interaksi dengan individu

lain khususnya dengan lingkungan sosial.



4. Aspek-Aspek Dalam Konsep Diri

       Menurut Ghufron (2010:17) aspek-aspek konsep diri tersebut terbagi

kedalam tiga dimensi, diantaranya:

   a) Pengetahuan

       Pengetahuan adalah apa yang individu ketahui tentang dirinya. Individu

didalam benaknya terdapat satu daftar yang menggambarkan dirinya, kelengkapan

atau kekurangan fisik, usia, jenis kelamin, kebangsaan, suku, pekerjaan, agama,

dan lain-lain. Pengetahuan tentang diri juga berasal dari kelompok sosial yang

diidentifikasikan oleh individu tersebut. Julukan ini juga dapat berganti setiap saat

sepanjang individu mengidentifikasikan diri terhadap suatu kelompok tertentu,

maka kelompok tersebut memberikan informasi lain yang dimasukkan kedalam

potret dari mental individu.



   b) Harapan

       Pada saat-saat tertentu, seseorang mempunyai suatu aspek pandangan

tentang dirinya. Individu juga mempunyai satu aspek pandangan tentang

kemungkinan dirinya menjadi apa dimasa depan. Pendeknya individu mempunyai

harapan bagi dirinya sendiri untuk menjadi diri yang ideal. Diri yang ideal sangat

berbeda pada masing-masing individu.Seseorang mungkin akan lebih ideal jika

dia berdiri diatas podium berorasi dengan penuh semangat. Dihadapannya banyak
                                                                                 17
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
orang antusias mendengarkan setiap kata yang diucapkannya sambil sesekali

meneriakkan yel-yel. Sementara itu, bagi yang lain merasa sebagai diri yang ideal

jika dia merenung dan menulis dirumah dan menghasilkan suatu karya tulis yang

dapat dibaca setiap orang.



   c) Penilaian

       Didalam penilaian, individu berkedudukan sebagai penilai tentang dirinya

sendiri. Apakah bertentangan dengan: (1) standar bagi individu (“siapakah

saya?”); (2) pengharapan bagi individu (“seharusnya saya menjadi apa?”). Hasil

penilaian tersebut disebut sebagai harga diri. Semakin tidak sesuai antara standar

diri dengan harapan, maka akan menjadi semakin rendah harga diri seseorang.



5. Jenis-Jenis Konsep Diri

       Karena konsep diri masih terlalu luas untuk dipelajari secara menyeluruh,

maka beberapa pakar psikologi, membagi konsep diri tersebut kedalam beberapa

jenis, agar memudahkan dalam mempelajarinya. Adapun pembagian konsep diri

yang dimaksud diantaranya yaitu:

   a) Menurut Gage dan David C. Berliner

       Menurut Gage & David (dalam Sobur, 2003:509), secara hierarkis konsep

diri terbagi atas tiga peringkat. Peringkat Pertama, kita temukan konsep diri global

(menyeluruh). Konsep diri global merupakan cara individu memahami

keseluruhan dirinya. Dibawah konsep diri global, kita dapatkan konsep diri mayor

dan konsep diri spesifik. Konsep diri mayor merupakan cara individu memahami

aspek sosial, fisik, dan akademiknya. Sedangkan konsep diri spesifik merupakan
                                                                                                               18
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
cara individu memahami dirinya terhadap setiap jenis kegiatan dalam aspek

akademik, sosial, maupun fisiknya. Untuk lebih jelasnya Gage & David

menggambarkan hierarki konsep diri pada bagan berikut:


Peringkat I                              Konsep Diri
                                           Global

Peringkat II
                 Konsep Diri                           Konsep Diri                      Konsep Diri Fisik
                  Akademik                               Sosial




Peringkat III


        Konse       Konse      Konse           Konsep                Konsep    Konse       Konse            Konse
        p Diri      p Diri      p Diri           Diri                  Diri    p Diri      p Diri           p Diri
        Mate         Ilmu      Bahasa          Persaha               Berkenc   Mena-       Atletik          Kecan
        matika      Sosial                      batan                  an        ri                         tikan/
                                                                                                            Ketam
                                                                                                             pan-
                                                                                                              an
                                                                                                             Fisik

Gambar 01: Bagan Hierarki Konsep Diri Menurut Gage & David (1979)




    b) Menurut Shavelson (dalam Andreas, 2007:10)

        Dalam mengklasifikasi jenis-jenis konsep diri, Shavelson memberikan

tujuh karakteristik yang menjadi dasar pertimbangan konstruksi bagan konsep diri

yang dibuatnya. Adapun ketujuh karakteristik yang dimaksud tersebut yaitu:

    1) Orang-orang mengorganisasi sejumlah besar informasi yang mereka miliki

        mengenai diri mereka sendiri dalam dimensi-dimensi dan mengaitkan

        setiap dimensi tersebut satu sama lain dalam sebuah struktur.

    2) Konsep diri yang dimiliki seseorang bersifat multifaset, dan setiap

        fasetnya mencerminkan sebuah dimensi yang diciptakan oleh orang

        tersebut atau masyarakatnya.
                                                                                   19
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
   3) Konsep diri yang bersifat hierarkis. Persepsi terhadap perilaku dalam

       situasi yang spesifik terletak didasar hierarki, penyimpulan tentang diri

       dalam dimensi-dimensi tertentu terletak ditengah hierarki, dan konsep diri

       yang bersifat umum dan global terletak dipuncaknya.

   4) Konsep diri umum yang terletak dipuncak hierarki bersifat stabil. Dibawah

       puncak ini, konsep diri menjadi semakin spesifik terhadap situasi-situasi

       tertentu, sehingga sifatnya juga lebih tidak stabil. Oleh karena itu,

       perubahan dalam konsep diri yang terletak dibagian bawah hierarki

       mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap konsep diri yang berada

       diatasnya, namun perubahan konsep diri umum dipuncak hierarki akan

       ikut mengubah konsep diri seseorang dibanyak bidang.

   5) Konsep      diri   menjadi    lebih    bersifat   multifaset   seiring   dengan

       perkembangan individu dari bayi hingga dewasa. Pada masa bayi,

       seseorang belum dapat membedakan dirinya dari lingkungannya,

       sementara anak-anak cenderung masih memiliki konsep diri yang global

       dan belum terbedakan. Baru pada masa dewasa konsep diri seseorang

       makin terdiferensiasi dan terintegrasi menjadi konstruk yang hierarkis dan

       multifaset.

   6) Konsep diri memiliki aspek deskriptif dan evaluatif. Evaluasi dapat

       dilakukan dengan membandingkan dengan kondisi ideal yang absolut,

       standar relative terhadap teman-teman sebaya, atau tuntutan dari orang-

       orang terdekat. Setiap dimensi konsep diri dapat memiliki bobot makna

       yang berbeda-beda bagi setiap orang.
                                                                                 20
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
    7) Konsep diri pada bidang tertentu memiliki hubungan yang lebih kuat pada

        konstruk yang secara teoritis berkaitan daripada konsep diri pada bidang

        lain yang tidakberkaitan. Misalnya, prestasi akademik akan memiliki

        hubungan yang lebih kuat dengan konsep diri akademik dibandingkan

        dengan konsep diri sosial atau fisik.

        Berdasarkan pada ketujuh karakteristik tersebutlah Shavelson membagi

konsep diri      dalam sebuah bagan struktur             konsep diri   yang bersifat

multidimensional dan hierarkis.




Gambar 02: Bagan Strutur Konsep Diri menurut Shavelson



    c) Menurut Fitts (dalam Ryan,2009)

        Menurut Fitts dalam Ryan, konsep diri dapat dibagi kedalam dua dimensi

besar, diantaranya yaitu:

   1) Dimensi Internal, terdiri dari:

           Konsep Diri Identitas, yaitu penggambaran/penilaian individu

              terhadap dirinya dengan memberikan label-label ataupun simbol
                                                                                  21
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
              untuk menjelaskan dirinya dan membentuk identitasnya. Label-Label

              ini terus bertambah seiring dengan pertumbuhan dan bertambahnya

              kemampuan individu dalam segala bidang.

           Konsep Diri Pelaku, yaitu keinginan pada diri seseorang untuk

              melakukan sesuatu sesuai dengan dorongan rangsang internal

              maupun eksternal. Konsekuensi perilaku tersebut akan berdampak

              pada lanjut tidaknya perilaku tersebut, sekaligus akan menentukan

              apakah suatu perilaku akan diabstraksikan, disimbolisasikan, dan

              digabungkan dalam diri identitas.

           Konsep Diri Penilai, yaitu fungsi dalam diri yang lebih berfungsi sebagai

              pengamat, penentu standar, penghayal, pembanding, dan terutama

              sebagai penilai. Di samping fungsinya sebagai jembatan yang

              menghubungkan kedua diri sebelumnya.



   2) Dimensi Eksternal, terdiri dari:

           Konsep diri fisik, yaitu cara seseorang dalam memandang dirinya

              dari sudut pandang fisik, kesehatan, penampilan keluar, dan gerak

              motoriknya. Konsep diri seseorang dianggap positif apabila ia

              memiliki pandangan yang positif terhadap kondisi fisiknya,

              penampilannya, kondisi kesehatannya, kulitnya, tampan atau

              cantiknya, serta ukuran tubuh yang ideal. Dianggap sebagai konsep

              diri yang negatif apabila ia memandang rendah atau memandang

              sebelah mata kondisi yang melekat pada fisiknya, penampilannya,

              kondisi kesehatannya, kulitnya, tampan atau cantiknya, serta ukuran
                                                                                   22
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
              tubuh yang ideal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Moreno &

              Cervelló (2005) membuktikan bahwa terdapat relevansi yang

              signifikan antara intensitas melakukan kegiatan-kegiatan yang

              bersifat fisik dengan tinggi rendahnya konsep diri fisik individu.

              Semakin sering individu melakukan kegiatan-kegiatan fisik—seperti

              olah raga, bekerja—maka akan semakin tinggi pula konsep diri

              fisiknya, demikian pula sebaliknya.

           Konsep diri pribadi, yaitu cara seseorang dalam menilai kemampuan

              yang ada pada dirinya dan menggambarkan identitas dirinya. Konsep

              diri seseorang dapat dianggap positif apabila ia memandang dirinya

              sebagai pribadi yang penuh kebahagiaan, memiliki optimisme dalam

              menjalani hidup, mampu mengontrol diri sendiri, dan sarat akan

              potensi. Dapat dianggap sebagai konsep diri yang negatif apabila ia

              memandang dirinya sebagai individu yang tidak pernah (jarang)

              merasakan kebahagiaan, pesimis dalam menjalani kehidupan, kurang

              memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri, dan potensi diri yang tidak

              ditumbuhkembangkan secara optimal.

           Konsep diri sosial, yaitu persepsi, pikiran, perasaan, dan evaluasi

              seseorang terhadap kecenderungan sosial yang ada pada dirinya

              sendiri, berkaitan dengan kapasitasnya dalam berhubungan dengan

              dunia di luar dirinya, perasaan mampu dan berharga dalam lingkup

              interaksi sosialnya. Konsep diri dapat dianggap positif apabila ia

              merasa sebagai pribadi yang hangat, penuh keramahan, memiliki

              minat terhadap orang lain, memiliki sikap empati, supel, merasa
                                                                                    23
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
              diperhatikan, memiliki sikap tenggang rasa, peduli akan nasib orang

              lain, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungannya.

              Dapat dianggap sebagai konsep diri yang negatif apabila ia merasa

              tidak berminat dengan keberadaan orang lain, acuh tak acuh, tidak

              memiliki empati pada orang lain, tidak (kurang) ramah, kurang

              peduli terhadap perasaan dan nasib orang lain, dan jarang atau

              bahkan tidak pernah melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas sosial.

           Konsep diri moral etik, berkaitan dengan persepsi, pikiran, perasaan,

              serta penilaian seseorang terhadap moralitas dirinya terkait dengan

              relasi personalnya dengan Tuhan, dan segala hal yang bersifat

              normatif, baik nilai maupun prinsip yang memberi arti dan arah bagi

              kehidupan seseorang. Konsep diri seseorang dapat dianggap positif

              apabila ia mampu memandang untuk kemudian mengarahkan dirinya

              untuk menjadi pribadi yang percaya dan berpegang teguh pada nilai-

              nilai moral etik, baik yang dikandung oleh agama yang dianutnya,

              maupun oleh tatanan atau norma sosial tempat di mana dia tinggal.

              Sebaliknya, konsep diri individu dapat dikategorikan sebagai konsep

              diri yang negatif bila ia menyimpang dan tidak mengindahkan nilai-

              nilai moral etika yang berlaku—baik nilai-nilai agama maupun

              tatanan sosial—yang seharusnya dia patuhi.

           Konsep diri keluarga, berkaitan dengan perspesi, perasaan, pikiran,

              dan penilaian seseorang terhadap keluarganya sendiri, dan

              keberadaan dirinya sendiri sebagai bagian integral dari sebuah

              keluarga. Seseorang dianggap memiliki konsep diri yang positif
                                                                                 24
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
              apabila ia mencintai sekaligus dicintai oleh keluarganya, merasa

              bahagia berada di tengah-tengah keluarganya, merasa bangga dengan

              keluarga yang dimilikinya, dan mendapat banyak bantuan serta

              dukungan dari keluarganya. Dianggap negatif apabila ia merasa

              tidak mencintai sekaligus tidak dicintai oleh keluarganya, tidak

              merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarganya, tidak memiliki

              kebanggaan pada keluarganya, serta tidak banyak memperoleh

              bantuan dari keluarganya.

           Konsep diri akademik, berkaitan dengan persepsi, pikiran, perasaan,

              dan penilaian seseorang terhadap kemampuan akademiknya. Konsep

              diri positif apabila ia menganggap bahwa dirinya mampu berprestasi

              secara akademik, dihargai oleh teman-temannya, merasa nyaman

              berada di lingkungan tempat belajarnya, menghargai orang yang

              memberi ilmu kepadanya, tekun dalam mempelajari segala hal, dan

              bangga akan prestasi yang diraihnya. Dapat dianggap sebagai

              konsep diri akademik yang negatif apabila ia memandang dirinya

              tidak cukup mampu berprestasi, merasa tidak disukai oleh teman-

              teman di lingkungan tempatnya belajar, tidak menghargai orang

              yang memberi ilmu kepadanya, serta tidak merasa bangga dengan

              prestasi yang diraihnya (dalam Ryan, 2009).

       Dalam penelitian ini, Konsep Diri yang dimaksud lebih ditekankan pada

Konsep Diri Akademik Siswa, yaitu seperti telah dipaparkan diatas Konsep Diri

Akademik berkaitan dengan persepsi, pikiran, perasaan, dan penilaian seseorang

terhadap kemampuan akademiknya.
                                                                             25
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011




B. Konsep Diri Akademik


       Remaja awal diketahui sebagai masa penyesuaian, dan konsep diri yang

negatif akan membuat siswa pada masa ini akan mengalami kegagalan akademis

di masa yang akan datang (Wigfield & Eccles dalam Adams, 1997).


       Konsep diri diperoleh dari hasil belajar, oleh karena itu konsep diri

biasanya menetap dan konsisten. Persepsi tentang diri mengarahkan perilaku

seseorang, dan individu akan berperilaku sesuai dengan persepsinya tersebut

(Purkey dalam Adams, 1997). Konsep diri berkorelasi dengan prestasi (Snow &

Jackson, 1992; Guerin et al., 1994; McCall, Evahn & Kratzer, 1992 dalam Adams,

1997), motivasi (Raffini, 1993), dan tujuan pribadi (Lazarus, 1991 dalam Adams,

1997). Perbaikan konsep diri akan mengarahkan peningkatan penyesuaian diri dan

prestasi (Snow & Jackson, 1992; Guerin et al., 1994; McCall, Evahn & Kratzer,

1992 dalam Adams, 1997).

       Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada awalnya konsep diri

tersebut bersifat menetap dan konsisten, tetapi seiring dengan perkembangan yang

terjadi pada diri individu, maka konsep diri tersebut semakin berkembang dan

menjadi lebih spesifik. Pada Konsep Diri yang lebih spesifik (contohnya pada

konsep diri akademik), sifatnya dapat berubah dan tidak konsisten. Sehingga pada

konsep diri Akademik yang bersifat negatif, masih terdapat kemungkinan untuk

dirubah (Andreas, 2007: 11).
                                                                               26
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011


1. Pengertian Konsep Diri Akademik


     Bagi anak-anak dan remaja, sekolah merepresentasikan konteks yang paling

kritis selain keluarga dalam pengembangan konsep diri (Purkey dalam Tarmidi,

2009). Pengalaman di sekolah mempengaruhi persepsi siswa terhadap

kemampuan akademis, penerimaan sosial, popularitas, perilaku, self-efficacy, dan

bahkan ketertarikan fisik (Elabum & Vaughn, 2001). Persepsi siswa terhadap

kemampuan akademiknya akan mempengaruhi performa mereka di sekolah,

motivasi terhadap tugas akademik, orientasi karir, dan perkiraan keberhasilan di

masa depan.


     Hattie (Kavale, & Mostert, 2004) mendefenisikan konsep diri akademik

sebagai penilaian individu dalam bidang akademik. Penilaian tersebut meliputi

kemampuan dalam mengikuti pelajaran dan berprestasi dalam bidang akademik,

prestasi akademik yang dicapai individu, dan aktivitas individu di sekolah atau di

dalam kelas. Huit (2004) juga menjelaskan bahwa konsep diri akademik

menunjukkan seberapa baik performa individu di sekolah atau seberapa baik

dirinya belajar.


      Dari beberapa pemaparan diatas, hal yang dapat ditarik mengenai pengertian

konsep diri akademik yaitu suatu penilaian individu dalam bidang akademiknya,

yang mencakup seberapa besar kemampuan individu mengikuti pelajaran dan

berprestasi dalam bidang akademik, prestasi akademik yang telah dicapai,

aktivitas individu dalam kelas dan atau dilingkungan sekolah, serta performa

individu di sekolah atau seberapa baik individu tersebut belajar.
                                                                             27
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011



2.   Perkembangan Konsep Diri Akademik


     Shaffer (2002) menjelaskan bahwa pada awal masa kanak-kanak, individu

mulai membangun konsep dirinya yakni satu set keyakinan mengenai karakteristik

mereka. Penelitian Keller, Ford, dan Meacham (dalam Shaffer, 2002)

menunjukkan bahwa anak-anak prasekolah menggambarkan diri mereka

berdasarkan karakteristik yang konkrit, seperti nama, penampilan fisik,

kepemilikan, dan perilaku yang khas pada mereka. Usia 8-11 tahun anak mulai

menggambarkan dirinya berdasarkan karakternya. Mereka mulai mengurangi

penekanan terhadap perilakunya dan mulai menonjolkan kemampuannya.

Misalnya “ saya dapat mengerjakan ulangan dengan baik”. Mereka juga mulai

menggambarkan dirinya berdasarkan sifat-sifat psikologis. Hal tersebut dimulai

dari penggambaran kualitas secara umum, seperti “pintar” dan “bodoh”.

Selajutnya pada usia remaja, penggambaran diri merekapun berubah. Contoh

“saya tidak terlalu pintar dalam matematika, “Saya senang dengan pelajaran

sejarah”.


3. Aspek-Aspek dan Indikator dalam Konsep Diri Akademik


       Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, Hatie menyatakan bahwa

konsep diri akademik merupakan penilaian individu dalam bidang akademik.

Penilaian tersebut meliputi kemampuan dalam mengikuti pelajaran dan berprestasi

dalam bidang akademik, prestasi akademik yang dicapai individu, dan aktivitas

individu di sekolah atau di dalam kelas. Dengan kata lain indikator yang terkait
                                                                            28
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
dalam konsep diri akademik tersebut yaitu kemampuan untuk mengikuti

pelajaran, kemampuan untuk berprestasi, menghargai prestasi yang sudah dicapai,

dan performa atau aktivitas individu dilingkungan akademiknya (disekolah dan

dikelas).

       Hampir senada dengan Hatie, Wyle dan Marsh (dalam Fitri, 2009)

mengemukakan bahwa konsep diri akademik yang mengacu pada persepsi dan

perasaan siswa terhadap dirinya yang berhubungan dengan bidang akademik,

secara umum mempunyai tiga aspek utama yaitu kepercayaan diri, penerimaan

diri, dan penghargaan diri. Dari beberapa apek tersebut maka dapat dijelaskan

secara lebih terinci, terutama dikaitkan dengan keadaan para pelajar.



   a) Kepercayaan diri

              Siswa yang mempunyai kepercayaan diri tinggi akan merasa yakin

akan kemampuannya di bidang yang akan digeluti dan mereka akan berusaha

untuk meraih prestasi yang tinggi. Sebaliknya siswa yang akan mempunyai

kepercayaan diri rendah akan diliputi oleh keraguan dalam belajar dan menekuni

pendidikan sesuai dengan bidang yang digelutinya disekolah.


             Dari paparan tersebut, maka yang termasuk dalam kepercayaan diri

seseorang dalam bidang akademik meliputi: 1) Kepercayaan diri dalam belajar; 2)

Kepercayaan diri dalam meraih prestasi.



   b) Penerimaan diri

             Para siswa      yang dapat menerima baik kelebihan maupun

kekurangannya akan dapat memperkirakan kemampuan yang dimilikinya, dan
                                                                               29
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
yakin terhadap ukuran-ukurannya sendiri tanpa harus terpengaruh pendapat orang

lain selanjutnya siswa akan mampu untuk menerima keterbatasan dirinya tanpa

harus menyalahkan orang lain. Dengan demikian, yang termasuk penerimaan diri

dalam bidang akademik seseorang diantaranya : 1) Penerimaan diri terhadap

kelebihan diri dalam bidang akademik; 2) Penerimaan diri terhadap kekurangan

diri dalam bidang akademik.



   c) Penghargaan diri

              Rasa harga diri pada diri individu tumbuh dan berasal dari penilaian

pribadi yang kemudian menghasilkan suatu akibat terutama pada proses

pemikiran, perasaan-perasaan, keinginan-keinginan, nilai-nilai dan tujuannya yang

membawa ke arah keberhasilan atau kegagalannya (Nathaniel, dalam Fitri,

2009:56). Pada siswa yang menghargai dirinya akan berpikir positif tentang

kemampuan dirinya dalam bidang akademik yang mereka geluti disekolah, dan

hal ini akan mendorong mereka dalam mencapai suatu kesuksesan dalam bidang

pendidikan.

              Dari paparan tersebut, menurut Fitri (2009:56) yang termasuk dalam

penghargaan diri individu dalam bidang akademiknya, meliputi : 1) Penghargaan

diri pada kemampuan akademik yang dimiliki.



              Dengan demikian, konsep diri akademik dapat dibagi kedalam tiga

aspek utama, diantaranya : 1) Kepercayaan diri; 2) Penerimaan diri; dan 3)

Penghargaan diri; dan indikator-indikator yang mempengaruhinya, diantaranya: a)

Kepercayaan diri dalam belajar; b) Kepercayaan diri dalam meraih prestasi; c)
                                                                             30
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
Penerimaan diri terhadap kelebihan diri dalam bidang akademik; d) Penerimaan

diri terhadap kekurangan diri dalam bidang akademik; dan e) Penghargaan diri

terhadap kemampuan akademik yang dimiliki.



Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri Akademik


     Shaffer (2002) menjelaskan bahwa inti dari perkembangan konsep diri

seseorang berasal dari interaksinya dengan orang lain. Coley & Mead (dalam

Shaffer, 2002) mengemukakan bahwa “diri” (self) adalah perpaduan antara apa

yang seseorang pikirkan mengenai pikiran orang lain terhadap dirinya. Harter

(dalam Papalia, 2007) menyatakan bahwa anak akan membentuk gambaran

dirinya berdasarkan penilaian yang diberikan orang lain kepada dirinya. Hal

tersebut mulai terbentuk pada masa kanak-kanak.


     Konsep diri, khususnya konsep diri akademik sangat tergantung pada cara

seseorang mengartikan keberhasilan dan kegagalan mereka, yang disebut

sebagai achievement attribution (Shaffer, 2002). Weiner (dalam Shaffer, 2002)

menemukan bahwa remaja cenderung mengartikan keberhasilan atau kegagalan

mereka berdasarkan empat kemungkinan, yaitu kemampuan (ability), usaha

(effort), tingkat kesulitan (task difficulty), atau keberuntungan (luck).


     Setiap anak pernah menghadapi situasi atau tugas baru, namun tidak semua

anak mampu menguasai situasi atau tugas baru tesebut. Selanjutnya, persepsi anak

terhadap kegagalan dan keberhasilan yang mereka hadapi pun tidak sama.
                                                                             31
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
     Dweek (Dalam Shaffer, 2002) mengemukakan dua kelompok anak ketika

menghadapi situasi tersebut, yakni mastery oriented dan learned-helplessness

oriented. Anak-anak dalam kelompok mastery oriented menilai keberhasilan

mereka merupakan hasil dari kemampuan yang mereka miliki, namun cenderung

menyalahkan faktor yang diluar dirinya ketika menemui kegagalan, atau berusaha

meyakinkan dirinya bahwa ia dapat menunjukkan hasil yang lebih baik bila

berusaha lebih giat. Anak-anak dalam kelompok tersebut memiliki motivasi yang

tinggi untuk menguasai tugas baru, tanpa menghiraukan keberhasilan atau

kegagalan yang pernah dialami sebelumnya.


     Sebaliknya, anak-anak dalam kelompok learned-helplessness oriented,

menilai keberhasilan mereka bukan sebagai hasil dari kerja keras, melainkan

keberuntungan, mereka tidak merasakan kebanggaan karena tidak mengenal

kemampuan yang mereka miliki. Anak-anak tersebut menilai kegagalan sebagai

sesuatu yang menetap yang disebabkan karena ketidakmampuan mereka. Sebagai

akibatnya, mereka merasa frustrasi ketika mengalami kegagalan dan hanya

melihat sedikit alasan untuk mencoba memperbaikinya. Penelitian Henry (2005)

menunjukkan bahwa anak yang merasa tidak berdaya (helpless) menggunakan

strategi problem solving yang kurang efektif dan lebih terfokus pada hasil yang

telah didapat sebelumnya. Dweck (dalam Shaffer, 2002) juga menjelaskan bahwa

orang tua dan guru sering kali tanpa sengaja turut mengembangkan helplessness

achievement orientation. Keadaan tersebut muncul ketika orang tua dan guru tidak

memuji keberhasilan seorang anak karena kerja keras mereka dan mengkritik

kegagalan mereka karena ketidakmampuannya.
                                                                            32
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011




C. Logoterapi

1. Sejarah Singkat Logoterapi

             Dalam buku karya H.D. Bastaman (2007:1) yang berjudul

“Logoterapi:Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup

Bermakna” dipaparkan secara jelas bahwa logoterapi merupakan sebuah teori

terapis psikologi humanistik yang dikembangkan pertama kali oleh Viktor Emile

Frankl pada tahun 1942. Viktor Frankl, seorang ahli penyakit saraf dan jiwa

(neuro-psikiater) keturunan Yahudi di Wina , Austria. Pada tahun 1942 ia pernah

ditahan oleh tentara Nazi dan dimasukkan kedalam Kamp Konsentrasi bersama-

sama ribuan orang Yahudi lainnya. Selama hampir tiga tahun menjaga tahanan

tentara Nazi, Frankl pernah mengalami menjadi penghuni Auschwitz, Dachau,

Treblinka, dan Maidanek, yakni kamp-kamp konsentrasi yang dikenal sebagai

“kamp konsentrasi maut” tempat ribuan orang Yahudi yang tak bersalah menjadi

korban keganasan sesama manusia. Setelah keluar dari kamp konsentrasi, Frankl

menulis berbagai buku dengan makna hidup sebagai tema sentral telaahnya, serta

merintis dan mengembangkan sebuah aliran psikologi yang bernama “Logoterapi”

             Kata “logos” dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan

juga simbol-simbol rohani (spirituality), sedangkan “terapi” adalah penyembuhan

atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak

psikologis/psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia

disamping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup

(the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning)
                                                                                   33
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the

meaningfull life) yang didambakannya.

             Sekalipun pada awalnya logoterapi merupakan metode psikoterapi

praktis, tetapi kemudian logoterapi meluas dan mengembangkan filsafat manusia,

teori kepribadian, teori psikopatologi, dan metode pengembangan pribadi menuju

kualitas hidup yang bermakna. Saat ini Logoterapi merupakan salah satu pilar

psikologi dan psikiatri modern yang diramalkan dalam dunia medis, pendidikan,

teologi, filsafat, manajemen, rehabilitasi sosial, keluarga, dan kegiatan pelatihan

pengembangan diri.



2. Asas-Asas dalam Logoterapi

             Logoterapi mengemukakan asas-asas yang telah teruji kebenarannya

oleh penemunya sendiri dalam “laboraturium-hidup”, kamp konsentrasi. Ada tiga

asas utama Logoterapi, yakni:

             Pertama, hidup itu tetap memiliki makna (arti) dalam setiap situasi,

bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang

dirasakan penting, benar, berharga, dan didambakan serta memberikan nilai

khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia selalu

mendambakan       hidupnya    bermakna,     dan    selalu   berusaha    mencari   dan

menemukannya. Makna hidup apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan

menyebabkan kehidupan ini berarti dan mereka yang berhasil menemukan dan

mengembangkannya akan merasakan kebahagiaan sebagai ganjarannya sekaligus

terhindar dari keputusasaan. Sebenarnya makna hidup terdapat dalam kehidupan
                                                                               34
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
itu sendiri.; makna hidup terpatri didalamnya, baik dalam kondisi kehidupan

senang maupun susah.

             Kedua, setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tak terbatas

untuk menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup dan sumber-sumbernya

dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, khususnya pada pekerjaan dan

karya bhakti yang dilakukan, serta dalam keyakinan terhadap harapan dan

kebenaran serta penghayatan atas keindahan, iman, dan cinta kasih. Selain itu,

sikap tepat yang kita ambil atas penderitaan yang tidak dapat diubah lagi

merupakan sumber makna hidup. Dalam hal ini mungkin pada suatu saat harapan

dan kebebasan secara fisik seakan-akan hampir sirna, tetapi setiap manusia pada

dasarnya masih tetap memilikinya, sekalipun hanya dalam pikiran, perasaan, cita-

cita, dan angan-angan semata-mata.

             Ketiga, setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap

terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang

menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitar, setelah upaya mengatasinya telah

dilakukan secara optimal tetap tak berhasil. Maksudnya, jika kita tidak mungkin

mengubah suatu keadaan (tragis), sebaiknya kita mengubah sikap atas keadaan itu

agar kita tidak terhanyut secara negatif oleh keadaan itu. Tentu saja dengan jalan

mengambil sikap tepat dan baik, yakni sikap yang menimbulkan kebajikan pada

diri sendiri, dan orang lain serta sesuai dengan nila-nilai kemanusiaan dan norma-

norma lingkungan yang berlaku.

(H.D. Bastaman, 2007:37)



3. Landasan Filsafat Logoterapi
                                                                               35
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
             Dalam pelaksanaan logoterapi terdapat tiga landasan filsafat, yang

mendasari setiap pelaksanaannya, diantaranya yaitu: (H.D. Bastaman, 2007:41)



   a) The Freedom of Will (Kebebasan Berkehendak)

               Kebebasan yang dimaksud disini bukan tak terbatas, karena

manusia adalah makhluk serba terbatas. Manusia sekalipun dianggap sebagai

makhluk yang memiliki berbagai potensi luar biasa, tetapi sekaligus memiliki juga

keterbatasan dalam aspek ragawi (tenaga, daya tahan, stamina, usia), aspek

kejiwaan (kemampuan, keterampilan, kemauan, ketekunan, bakat,               sifat,

tanggungjawab pribadi), aspek sosial budaya (dukungan lingkungan, kesempatan,

tanggungjawab sosial, ketaatan pada norma), dan aspek kerohanian (iman,

ketaatan beribadah, cinta kasih).

             Kebebasan manusia pun bukan merupakan kebebasan (freedom

from) bawaan biologis, kondisi psikososial, dan kesejarahannya, melainkan

kebebasan untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap kondisi-

kondisi tersebut, baik kondisi lingkungan maupun kondisi diri sendiri. Hal ini

sesuai dengan salah satu sebutan untuk manusia yaitu sebagai “the self

determining being”, yang artinya manusia dalam batasan-batasan yang dimiliki

memiliki kemampuan dan kebebasan untuk mengubah kondisi kehidupannya

untuk meraih kehidupan yang lebih berkualitas lagi. Tetapi tetap dalam kebebasan

yang bertanggungjawab.



   b) The Will to Meaning (Hasrat Untuk Hidup Bermakna)
                                                                              36
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
             Keinginan manusia untuk dapat hidup bermakna benar-benar

merupakan motivasi utama pada manusia. Hasrat inilah yang mendorong setiap

orang untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti kegiatan bekerja dan berkarya,

agar hidupnya dirasakan lebih berarti dan berharga. Hasrat untuk hidup bermakna

ini sama sekali bukan sesuatu yang khayali dan diada-adakan, melainkan benar-

benar suatu fenomena kejiwaan yang nyata dan dirasakan pentingnya dalam

kehidupan seseorang.

             Sebagai motivasi dasar manusia, hasrat untuk hidup bermakna ini

mendambakan diri kita menjadi seseorang pribadi yang berharga dan berarti

(being some body) dengan kehidupan yang sarat dengan kegiatan-kegiatan yang

bermakna pula.



   c) The Meaning of Life (Makna Kehidupan)

             Makna hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan

berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan

tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila hal itu berhasil dipenuhi akan

menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya

akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness). Dan makna hidup ternyata ada

dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan yang

menyenangkan dan tak menyenangkan, keadaan bahagia dan penderitaan.

             Bersangkutan dengan hal diatas Gobind Vashdev (2010) pun

menyatakan hal yang sama, bahwa pada dasarnya makna tersebut dapat kita

temukan bukan hanya dari kejadian yang menyenangkan tetapi juga dari setiap

kesulitan yang kita terima. Hal ini dinyatakan oleh Gobind Vashdev dari kata-kata
                                                                                   37
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
yang ia kutip dari Kahlil Gibran dan juga kata-kata sang Budha (Siddharta

Gautama) dalam kitab suci. Adapun kutipan kata tersebut, sebagai berikut:



        “Aku belajar diam dari yang cerewet, toleransi dari yang tidak toleran,

        dan kebajikan dari yang jahat. Namun anehnya aku tidak pernah

        berterima kasih kepada guru-guruku ini”.

                                                             (Kahlil Gibran)



        “Pada akhirnya kita akan sangat berterima kasih kepada orang-orang

        yang membuat diri ini sulit”.

                                                             (Siddharta Gautama)



             Dari dua kutipan tersebut sangat jelas terlihat bahwa pada dasarnya

dalam setiap kesulitan yang kita dapatkan baik itu dari orang lain, pada dasarnya

memberikan makna dan pembelajaran yang sangat berguna bagi kelangsungan

hidup. Jadi sangatlah tepat jika kita berterima kasih dan mensyukuri setiap cobaan

yang kita terima.




D. Teori Logo Counseling (Konseling Logo)

             Dalam masyarakat saat ini, konseling bukanlah hal yang asing lagi

terdengar di telinga masyarakat. Di zaman era globalisasi yang penuh dengan

tuntutan seperti saat ini tentu saja banyak sekali permasalahan-permasalahan yang

dialami oleh masyarakat yang tidak mampu menahan arus globalisasi tersebut.

Dan dalam keadaan yang terpuruk oleh masalah, konseling merupakan salah satu
                                                                            38
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
alternatif pemecahan masalah yang cukup efektif dalam membantu mengentaskan

permasalahan yang dialami oleh masyarakat.



1. Pengertian

              Jika dilihat dari kata yang membangunnya, Logo Counseling berasal

dari kata “Konseling” dan “Logo”.

              Menyangkut pengertian konseling tersebut, menurut Prayitno dalam

Sedanayasa (2010: 21), konseling merupakan proses pemberian bantuan yang

dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor)

kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang

bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli. Sejalan dengan itu,

Winkel (2005) mendefinisikan konseling tersebut sebagai kegiatan paling pokok

dari bimbingan dalam usaha membantu konseli secara tatap muka dengan tujuan

agar konseli dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan

atau masalah khusus.

              Berdasarkan pada dua definisi diatas, diketahui bahwa konseling

tersebut merupakan sebuah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh

seorang konselor kepada konseli, melalui wawancara konseling yang dilaksanakan

secara tatap muka dan bermuara pada teratasinya permasalahan yang dialami oleh

konseli.

              Seperti yang telah dibahas sebelumnya “Logo” berasal dari kata

“logos” dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan juga simbol-simbol

rohani (spirituality).
                                                                               39
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
             Dari pengertian mengenai konseling dan logoterapi diatas dapat

dijelaskan bahwa, Logo Counseling dapat diartikan sebagai suatu             proses

pemberian bantuan yang diberikan oleh seorang konselor kepada konseli, melalui

wawancara konseling yang dilaksanakan secara tatap muka, dengan berlandaskan

pada pencarian makna hidup seseorang dan didasarkan pada simbol-simbol

spiritualitas, sehingga konseli dapat menemukan makna dan lebih memaknai

kehidupannya, dan individu dapat mengembangkan kehidupannya menjadi lebih

baik lagi.



2. Gambaran Umum Teori Logo Counseling

             Dalam pembahasan mengenai Logoterapi sebelumnya, digambarkan

penerapan asas-asas logoterapi dalam memberikan bantuan psikologis kepada

seseorang untuk menemukan serta memenuhi makna serta tujuan hidupnya

dengan jalan lebih menyadari sumber-sumber makna hidup, mengaktualisasi

potensi diri, meningkatkan keakraban hubungan antar pribadi, berpikir dan

bertindak positif, menunjukkan prestasi dan kualitas kerja optimal, mendalami

nilai-nilai kehidupan, mengambil sikap tepat atas musibah yang dialami, serta

memantapkan ibadah kepada Tuhan.

             Gambaran diatas menunjukkan bahwa Teori Logo Counseling

merupakan konseling individual untuk masalah ketidakjelasan makna dan tujuan

hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Jadi

bukan untuk problema eksistensial dan patologis berat yang memerlukan bantuan

psikoterapi. Selain itu, karakteristik Teori Logo Counseling adalah jangka pendek

(short termed), berorientasi masa depan (future oriented), dan berorientasi pada
                                                                                40
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
makna hidup (meaning oriented). Dalam konseling ini, khususnya dalam proses

penemuan makna hidup, terapis bertindak sebagai rekan yang berperan serta (the

participating partner) yang sedikit demi sedikit menarik keterlibatannya bila klien

telah mulai menyadari dan menemukan makna hidupnya.

             Fungsi terapis dalam hal ini adalah membantu membuka cakrawala

pandangan klien terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara

potensial memungkinkan ditemukannya makna hidup, yakni belajar, bekerja dan

berkarya (creative values); menghayati cinta kasih, keindahan dan kebenaran

(experiential values); sikap yang tepat menghadapi musibah yang tak terelakkan

(attitudinal values); serta memiliki harapan akan terjadinya perubahan yang lebih

baik dimasa mendatang (hopeful values).

(H.D. Bastaman, 2007: 132)



3. Proses Teori Logo Counseling

             Munro dalam Suranata (2010:7) menyebutkan secara umum tahapan

pelaksanaan wawancara konseling, yaitu : (1) tahap awal (tahap mendefinisikan

masalah); (2) tahap inti (tahap pelaksanaan treatment/konseling bisa juga disebut

tahap kerja); (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). Meskipun begitu,

dalam pelaksanaan konseling, corak dan juga prosesnya bisa saja berubah dan

disesuaikan dengan teori dan metode yang dianut.

             Elishabeth Lukas dalam Bastaman (2007:136) misalnya mengajukan

empat langkah dalam proses Logo Counseling, diantaranya:
                                                                                  41
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
              Mengambil       jarak   atas   simptom,    yaitu   terapis    membantu

menyadarkan konseli klien bahwa simptom sama sekali tidak “mewakili” dirinya.

Simptom tidak lain hanyalah kondisi yang dimiliki dan dapat dikendalikan.

              Modifikasi sikap, yaitu terapis tanpa melimpahkan pandangan sikap

dan pribadinya, membantu klien untuk mendapatkan pandangan baru atas diri

sendiri dan situasi hidupnya, kemudian menentukan sikap baru untuk

mengembangkan rasa percaya diri dalam mencapai kehidupan yang lebih sehat.

              Pengurangan simptom, yaitu terapis membantu klien menetapkan

Teori-Teori      logoterapi   untuk    menghilangkan      atau   sekurang-kurangnya

mengurangi dan mengendalikan sendiri keluhan dan simptomnya.

              Orientasi terhadap makna, yaitu terapis bersama konselinya

membahas nilai dan makna hidup yang secara potensial ada dalam kehidupan

klien, kemudian memperdalam dan menjabarkannya menjadi tujuan-tujuan yang

lebih konkret.

              Dalam kenyataannya, Logo Counseling sangat luwes, dalam artian

bisa direktif dan bisa non-direktif serta tidak kaku dalam mengikuti tahapan-

tahapan konseling.



4. Komponen-Komponen Pribadi dalam Teori Logo Counseling

              Komponen-komponen pribadi dalam Teori Logo Counseling adalah

kemampuan, potensial, dan kualitas insani dari diri klien yang dijajagi, diungkap,

dan difungsikan pada proses konseling dalam rangka meningkatkan kesadaran

terhadap makna dan tujuan hidupnya. (Bastaman, 2007:137)
                                                                                 42
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
             Menurut H.D. Bastaman (2007:137) dalam Teori Logo Counseling

usaha meningkatkan kesadaran atas kualitas dan kemampuan pribadi, seperti

pemahaman diri, pengubahan sikap, pengarahan diri, tanggungjawab, komitmen,

keimanan, cinta kasih, hati nurani, penemuan makna hidup merupakan hal-hal

penting yang menentukan keberhasilan konseling. Selain itu, klien disadarkan

pula atas rasa tanggung jawab untuk mengubah sikap dan prilakunya menjadi

lebih baik dan lebih sehat serta bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.



5. Aplikasi Teori Logo Counseling

             Adapun pelaksanaan atau aplikasi konseling dalam logoterapi tidak

jauh berbeda dengan pelaksanaan konseling yang lainnya. Adapun tahap-tahap

Teori Logo Counseling yaitu sebagai berikut:

             Tahap perkenalan dan pembinaan rapport                  diawali dengan

menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan membina rapport yang

makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah

encounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati, dan

pelayanan. Bastaman (2007:138) memberikan sebuah contoh verbatim Logo

Counseling pada tahap rapport, yaitu sebagai berikut:

Ko       :   Kesulitan apakah yang sedang anda hadapi?

Ki       :   Saya merasa hidup saya ini tidak ada artinya. Terutama pada waktu

             tidur saya benar-benar mengalami kekosongan hidup.

Ko       :   Maksudnya waktu anda bermimpi?

Ki       :   Betul. Terkadang saya bermimpi sepanjang malam tentang tak

             berartinya sama sekali hidup saya ini. Saya bermimpi berada
                                                                            43
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
             ditengah orang banyak. Saya minta kepada mereka agar dapat

             menolong saya mengatasi masalah saya dan membebaskan saya dari

             beban ini. “Tolonglah saya. Tunjukkan pada saya apa artinya hidup

             ini.” Saya mohon dengan sangat “Bebaskan saya dari keadaan tak

             menentu dan hidup yang sia-sia tanpa tugas yang menanti saya.”

             Tapi mereka tak peduli, terus saja menikmati hidup, melahap

             makanan lezat, dan merasakan hangatnya matahari serta menikmati

             apa yang diberikan oleh hidup ini.



             Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membiarkan klien

sepuasnya mengungkapkan masalahnya, dalam teori logo counseling klien sejak

awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.



Ki       :   Penderitaan saya sangat banyak, tetapi saya selalu berusaha untuk

             berani dan tegar menerima goncangan hidup. Saya menganggap

             penderitaan saya ini sebagai hukuman dari Tuhan.

Ko       :   Akan tetapi, bukankah penderitaan itu juga bisa merupakan

             tantangan dan peluang? Tidak mustahil Tuhan ingin melihat anda

             menghadapinya. Dan mungkin Dia berkata “Luar biasa” , Ia

             menghadapinya dengan penuh keberanian”. Sekarang katakan

             kepada saya dapatkah prestasi tersebut hilang begitu saja, Ny.

             Anastasia?

Ki       :   Tidak. Pasti tidak seorang pun yang dapat menghapusnya.
                                                                                44
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
             Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-

sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi.

Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.



Ki       :   Anak-anak saya meninggal semua dalam keadaan tanpa dosa.

             Sedangkan saya? Saya orang tua yang penuh dosa.

Ko       :   Apakah anda takut kelak di akhirat tak dapat berkumpul kembali

             dengan anak-anak anda?

Ki       :   Ya, tidak akan jumpa. Seperti saya katakan, saya ini ayah yang tak

             bertanggung jawab pada keluarga. Saya hanya mementingkan kerja.

             Saya sekarang sedih dan menyesal sekali.

Ko       :   Jadi anda menyesal. Pernahkah terpikir oleh anda bahwa sebenarnya

             kesedihan dan air mata penyesalan telah membersihkan anda dari

             dosa, sehingga sebenarnya anda sama sucinya dengan anak-anak

             anda?

Ki       :   (setelah agak lama merenung) Mudah-mudahan penderitaan dan

             kesedihan saya selama ini tidak sia-sia.

             Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas

informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan

sikap dan perilaku klien. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi

terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan

simptom. Contohnya kasus seorang suami yang telah melakukan berbagai

konsultasi, tetapi tak berhasil mengatasi depresi karena kematian istrinya.
                                                                            45
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
Ko       :   Sekarang coba anda bayangkan kalau yang meninggal lebih dahulu

             bukan istri anda tetapi anda sendiri. Apa yang akan terjadi?

Ki       :   (merenung) Sulit dibayangkan. Pasti ia akan sangat sulit sekali

             mengurus anak sebanyak lima orang sambil mencari nafkah. Padahal

             selama ini ia belum pernah bekerja. (terdiam agak lama, kemudian

             bangkit dan erat menjabat tangan konselor sambil mengucapkan

             terimakasih, lalu meninggalkan ruang konsultasi).



E. Penggunaan Teori Logo Counseling Dalam Meningkatkan Konsep Diri

     Akademik

             Konsep diri akademik (Nashori, 2000;52), berkaitan dengan

persepsi, pikiran, perasaan, dan penilaian seseorang terhadap kemampuan

akademiknya. Konsep diri positif apabila ia menganggap bahwa dirinya mampu

berprestasi secara akademik, dihargai oleh teman-temannya, merasa nyaman

berada di lingkungan tempat belajarnya, menghargai orang yang memberi ilmu

kepadanya, tekun dalam mempelajari segala hal, dan bangga akan prestasi yang

diraihnya. Dapat dianggap sebagai konsep diri akademik yang negatif apabila ia

memandang dirinya tidak cukup mampu berprestasi, merasa tidak disukai oleh

teman-teman di lingkungan tempatnya belajar, tidak menghargai orang yang

memberi ilmu kepadanya, serta tidak merasa bangga dengan prestasi yang

diraihnya.

             Jika seseorang sudah mengalami atau memiliki konsep diri yang

negatif, tentu saja individu tersebut belum dapat memaknai dirinya secara utuh.

Baik dari segi potensi yang ia miliki, tugas, kewajiban, dan sebagainya.
                                                                                 46
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
             Misalnya saja, salah satu contoh real yang terjadi yaitu pada

beberapa siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Singaraja, pada saat guru sedang

mengajar dikelas, beberapa orang siswa tampak ribut dan tidak memperhatikan

gurunya saat mengajar, dan kurangnya motivasi siswa untuk berprestasi dalam

kelas. Fenomena seperti ini dapat diartikan sebagai tidak adanya penghargaan

terhadap ilmu yang diberikan. konsep diri yang kurang atau negatif ini sering

diakhibatkan karena siswa kurang memahami tentang apa yang harus mereka

lakukan sebenarnya, tentang apa kegunaan dari pelajaran yang ia dapatkan, dan

belum mengetahui tentang apa makna sebenarnya dari setiap pelajaran yang ia

tempuh.

             Sebagai salah satu teori konseling yang berlandaskan pada pencarian

makna, Teori Logo Counseling merupakan salah satu jalan keluar yang

ditawarkan dalam permasalahan konsep diri akademik siswa yang masih kurang

atau negatif tersebut.

             Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan Teori Logo Counseling dalam

meningkatkan konsep diri akademik siswa, berdasarkan pada aplikasi atau

pelaksanaan Teori Logo Counseling yang dikemukakan oleh H.D. Bastaman

(2007:137), adalah sebagai berikut:

             Tahap perkenalan dan pembinaan rapport                  diawali dengan

menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan membina rapport yang

makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah

encounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati, dan

pelayanan. Dalam tahap ini siswa diajak dan dengan membuat siswa merasa

nyaman dan merasa bahwa ia benar-benar akan ditolong dan dicerahkan.
                                                                                47
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
               Tahap pengarahan, dalam Logo Counseling siswa langsung

diarahkan pada permasalahan dan diarahkan untuk menghadapi permasalahan

yang siswa alami sebagai suatu kenyataan. Dalam hal ini tentu saja konselor

mengarahkan siswa untuk menerima permasalahan konsep diri yang kurang

tersebut sebagai suatu kenyataan yang terjadi pada diri siswa, dan menerimanya

dengan lapang dada.

               Tahap pembahasan bersama, pada tahap ini siswa diajak bersama-

sama membahas permasalahan konsep diri yang masih kurang dari diri siswa,

untuk menyamakan persepsi yang terjadi, hingga siswa menemukan dan

memahami makna yang seharusnya ia jalani sebagai seorang siswa, dan dapat

mengembangkan potensinya lebih optimal dari sebelumnya.

               Tahap Evaluasi dan penyimpulan, tahap ini mencoba memberikan

interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya,

yaitu perubahan sikap dan modifikasi perilaku siswa. Dalam hal ini diharapkan

siswa sudah mengalami modifikasi konsep diri, dari yang bersifat negatif menjadi

positif.



F. Kerangka Berpikir

               Untuk mewujudkan suatu pendidikan yang berkualitas seperti yang

tercentum pada pasal 1, ayat 1 UU No.20 / 2003, yang menyatakan bahwa :

           “Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

           suasana belajar, dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

           mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

           keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia
                                                                            48
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
         serta keterampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan

         Negara”

Maka diperlukan adanya suatu kerjasama yang baik dikalangan pendidik dan

perserta didik. Tetapi untuk mewujudkan hal tersebut, tentu saja tidak semudah

yang dibayangkan. Hambatan-hambatan, baik itu dari luar maupun dalam peserta

didik tentu saja ada. Salah satu permasalahan tersebut adalah permasalahan

mengenai konsep diri negatif.

       Konsep diri merupakan gambaran dan penilaian mengenai diri pribadi

individu yang menyangkut potensi-potensi yang mereka miliki baik itu fisik,

psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi yang mereka capai. Konsep

diri ada kecenderungan terhadap dua hal, konsep diri positif dan konsep diri

negatif. Apabila seseorang merasa tidak cukup baik dengan apapun yang ia telah

miliki dan merasa tidak mampu mencapai apapun yang ia harapkan berarti orang

tersebut memiliki penilaian negatif terhadap diri sendiri. Jika hal itu terus

berlanjut maka akan mengarah kepada kelemahan emosional. Individu yang

tertekan dan kecemasan secara kontinyu, kekecewaan emosional yang lebih parah,

membuat individu menciptakan penghancuran diri. Konsep diri negatif bila terus

menerus dibiarkan berkembang maka membuat tubuh mudah sakit, dihinggapi

rasa putus asa dan depresi karena tidak adanya ketahanan batin yang kokoh.

Akibatnya mengganggu sistem syaraf dan kekebalan tubuh seperti mudah gelisah,

cemas, takut, khawatir, mudah pilek, batuk dan penyakit yang justru dianggap

ringan dan sepele namun berdampak sangat besar dalam kesehatan.

       Terkadang di dalam kehidupan sehari-hari seseorang mendapat cobaan,

sama sekali tidak diduganya. Tentu saja hal itu akan menimbulkan
                                                                                49
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
keterguncangan. Perasaan kedukaan pada tingkat awal dan perilaku yang

mengiringinya sering membuat seseorang menjadi lupa diri dan sangat khas

ditandai dengan konsep diri negatif tentang diri sendiri. Ia memandang negatif diri

sendiri (Negative feelings Toward Self) . Semua yang dilakukannya atau apa saja

yang ada di dalam dirinya dipandang negatif, tidak bermanfaat dan tidak berguna

dalam hidup. Konsep diri negatif tersebut adalah kondisi yang tidak baik akibat

dari kekecewaan. Ekspektasi yang terlalu tinggi atau harapan yang berlebihan

terhadap kehidupan yang sempurna, semakin besar harapan maka semakin besar

rasa penyesalan dan menyalahkan diri sendiri bahkan menyalahkan Tuhan

sehingga hal itu semakin buruk atau negatif dalam memandang diri sendiri. Tuhan

tidak pernah menganiayai hambaNya tetapi individu sendiri yang telah

menganiaya diri sendiri.

       Hal ini seperti halnya kasus yang tercatat di Koran harian Kompas pada

tanggal 28 April 2010 lalu, dengan judul artikel “Duh, Tak Lulus UN Bunuh Diri”

(terlampir), dan juga terkait dengan berita di acara Liputan 6 pada bulan yang

sama di You Tube tentang siswa yang bunuh diri karena tidak lulus ujian nasional.

Dalam berita ini dengan jelas diberitakan bahwa WN (inisial) telah bunuh diri

dengan cara menelan fungisida, setelah mengetahui dirinya tidak lulus UN.

Ketidakmampuan individu dalam menerima suatu kekecewaan tidak lulus UN ini

membuat dirinya menilai negatif dirinya sendiri dan tidak berarti hidupnya, dan

pada akhirnya Individu tersebut mengakhiri hidupnya.

             Apabila permasalahan semacam ini terus dibiarkan, tentu saja

korban-korban seperti WN akan terus bertambah. Permasalahan seperti telah

disebutkan sebelumnya disinyalir juga terjadi di SMA N 1 Singaraja, terutama
                                                                            50
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
pada kelas XI. Hal ini didapatkan berdasarkan pada data pelaksanaan intensif di

SMA N 1 Singaraja, ditemukan bahwa siswa cenderung kurang memaknai proses

pembelajaran, akhibat seringnya mengalami kegagalan, karena persaingan yang

ketat, dan nilai Ketuntasan Minimal yang terlalu tinggi. Untuk mencegah

terjadinya kasus-kasus serupa seperti pada kasus WN, maka sudah menjadi

tanggung jawab pendidik, terutama konselor sekolah (guru BK), untuk membantu

siswa sesuai dengan fungsi dan perannya disekolah (fungsi pemahaman, preventif,

pengembangan, penyembuhan, penyaluran, adaptasi, penyesuaian, perbaikan,

fasilitasi, dan pemeliharaan).

             Untuk mengentaskan permasalahan konsep diri negatif yang dialami

oleh siswa, salah satu alternatif yang dapat diberikan adalah dengan pemberian

konseling. Dalam pelaksanaan konseling tersebut diperlukan adanya teori

pendukung yang sesuai untuk mengentaskan permasalahan tersebut.

             Mengingat bahwa konsep diri negatif tersebut diakhibatkan oleh

adanya cobaan, keterguncangan, dan kekecewaan pada individu, maka beberapa

teori yang sesuai untuk mengentaskan permasalahan tersebut yaitu teori Rasional

Emotif, Logo Counseling, dan Gestalt. Tetapi dari ketiga teori tersebut yang

paling baik digunakan adalah Teori Logo Counseling. Hal ini disebabkan untuk

mengentaskan permasalahan yang dilatarbelakangi oleh adanya guncangan jiwa,

dan kekecewaan pada cobaan yang dialami, diperlukan juga adanya penyadaran-

penyadaran spiritual dalam pelaksanaannya, dan itu hanya terdapat pada teori

Logo Counseling.

             Memandang bahwa permasalahan konsep diri negatif ini sangat

riskan, sehingga dirasa perlu untuk mengadakan penelitian mengenai efektifitas
                                                                             51
I Kadek Ari Wirawan
Efektifitas teori logo counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik
Skripsi_2011
teori Logo Counseling untuk meningkatkan konsep diri akademik siswa kelas XI

di SMA N 1 Singaraja tahun ajaran 2011/2012 untuk mencegah sedini mungkin

permasalahan konsep diri negatif yang terjadi di kelas XI SMA N 1 Singaraja, dan

meningkatkannya menjadi konsep diri yang positif.

G. Hipotesis

              Hipotesis adalah suatu dugaan (Assumtion) yang masih perlu

dibuktikan kebenarannya. Jadi hipotesis masih mempunyai kemungkinan benar

atau kemungkinan salah (Ida Bagus Netra dalam Tresna, 2009:68).

              Berdasarkan hal tersebut, hipotesis yang dapat dirumuskan dalam

penelitian ini, yaitu:

1. Teori Logo Counseling efektif untuk mengembangkan konsep diri akademik

    siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Singaraja.

2. Terdapat perbedaan perkembangan konsep diri akademik yang signifikan

   antara siswa yang diberikan Logo Counseling dengan yang tidak diberikan

   Logo Counseling.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:606
posted:1/27/2012
language:
pages:40
Description: Teori dan Praktik Logo Counseling