YESUS PEDULI TERHADAP MASALAH KITA
oleh YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN pada 02 Mei 2010 jam 14:01
Yohanes 21:5-6 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu
mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." Maka kata Yesus kepada
mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu
peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya
lagi karena banyaknya ikan.
Setelah kematian Yesus, murid-murid merasa segala sesuatu sudah berakhir
dan tidak ada lagi yang perlu dilakukan selain kembali kepada kebiasaan
dan pekerjaan yang lama. Petrus dan murid-murid lainnya merasa diri mereka
hampa dan berusaha mengisi kekosongan hidup dengan kembali menyibukkan
diri dengan pekerjaan lama yaitu menangkap ikan, namun sampai hari mulai
siang tak seekor ikan pun mereka peroleh sehingga menambah kekecewaan hati
mereka. Bisa dibayangkan, betapa kecewanya mereka pada saat itu. Semua
yang dilakukan tidak ada yang berhasil. Mereka merasa kehilangan Yesus
dan berusaha melupakanNya dengan kesibukan yang ada, namun tanpa Yesus
mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian, Yesus datang menghampiri
mereka dan bertanya mengenai persediaan lauk pauk yang mereka miliki dan
dengan nada kecewa mereka menjawab : “tidak ada”, suatu ungkapan yang
polos dan bersahaja namun penuh dengan kekecewaan. Yesus yang peduli
terhadap mereka memberikan suatu solusi agar mereka menebarkan jalanya
ke sebelah kanan dan segera direspon murid-murid dengan segera
melakukannya. Dan apa yang terjadi kemudian adalah, begitu banyak hasil
yang mereka peroleh sehingga jala mereka tidak dapat lagi ditarik dengan
mudah. Betapa gembiranya mereka karena ternyata yang memerintahkan mereka
berbuat demikian adalah Yesus.
Di dalam kehidupan, ada masa-masa kita merasa hampa dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari. Kekecewaan, kepedihan, kesedihan dan rasa
ketidakadilan datang silih berganti dalam kehidupan. Kadang kala kita
kecewa atas apa yang Tuhan sudah berikan kepada kita dan merasa itu tidak
adil dibandingkan dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kita merasa
sedih karena seakan-akan Tuhan tidak bersama dengan kita dan tidak
memberkati kehidupan kita. Setiap usaha yang kita lakukan seakan-akan
tidak ada yang berhasil dan semuanya seakan-akan sia-sia. Karir yang belum
meningkat, jabatan yang tidak begitu lama bertahan dan sudah harus dicopot
serta diserahkan kepada orang lain, istri yang pemarah dan suka mendikte
suami, suami yang pemarah dan suka main perempuan, kehidupan rumah tangga
yang terombang ambing karena masing-masing berjalan sendiri-sendiri,
keluarga yang belum punya anak, usaha yang tidak maju-maju dan lain
sebagainya membuat segala sesuatu menjadi seakan-akan hidup semakin susah.
Tidak ada yang dapat dilakukan. Walaupun kita melampiaskan dengan
perilaku yang lama dengan harapan mendapatkan jalan keluar dan walaupun
kita berpaling dari Yesus dan meninggalkannya karena kekecewaan yang
dialami dengan harapan akan mendapatkan suatu hal yang lebih baik lagi,
semuanya akan sia-sia.
Tapi kita patut bersyukur, karena di tengah-tengah rasa hampa dan di
tengah-tengah rasa putus asa serta di saat tidak ada jalan keluar, Yesus
datang menghampiri hidup kita. Seperti Yesus bertanya kepada Petrus dan
kawan-kawan, demikian juga Dia akan bertanya kepada kita, karena Dia
peduli kepada kita. Dia tidak membiarkan kita kecewa terus menerus, Dia
tidak akan pernah memberikan rasa hampa terus menerus dalam hidup kita
karena Dia peduli. Dan karena Dia peduli kepada kita, maka Dia akan
memberikan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Masalahnya,
apakah kita segera meresponi firman Tuhan yang disampaikanNya kepada kita.
Ketika Yesus memberikan sabdaNya, ketika Yesus memerintahkan kita untuk
melakukan sesuatu hal yang menurut hati kita tidak mungkin dilakukan dan
bertentangan dengan keinginan dan akal pikiran kita, apakah kita mau
melakukannya dengan sukacita dan meresponinya dengan segera? Seperti
Petrus dan kawan-kawan yang segera memberikan respon atas perintah Tuhan
dan membuahkan hasil, demikian juga kita hendaknya dapat merespon firman
Tuhan dan segera melakukannya sehingga hidup kita dapat berhasil. Tuhan
memberikan jalan keluar kepada kita dengan caraNya, karena Dia peduli.
Dia tidak akan membiarkan kita menghadapi permasalahan hidup sendirian,
karena Dia terus bersama dengan kita dan memelihara hidup kita serta akan
memberikan solusi pada saat dan situasi yang tepat. Terpujilah nama Tuhan
Yesus. Amin. (02052010)
YESUS SELALU PEDULI
Yohanes 11:31-36
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku
telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu
itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam
nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
(Yohanes 15:16)
Seorang sahabat selalu memiliki rasa peduli/ perhatian kepada sahabatnya
sendiri. Sahabat itu mau memberi perlakuan lebih banyak daripada sekedar
teman biasa dan mau memberi perhatian khusus kepada sahabatnya dalam
kesulitan dan kedukaan. Sama seperti perhatian Yesus kepada dua belas
muridnya.
Yesus sangat peduli ketika dua belas murid dalam bahaya maut di tengah
malam, ketika perahu mereka diterpa angin ribut dan ombak. Yesus peduli
ketika murid-murid tidak dapat menangkap satu ekor ikan pun, Yesus
menyuruh mereka menebarkan jalanya ke tengah sekali lagi sehingga mereka
mendapat hasil tangkapan ikan yang sangat banyak dan besar. Di saat
kekurangan/ tidak ada lauk pauk, Yesus bertanya kepada murid-muridNya:
“Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?”
Tuhan Yesus menyediakan ikan dan roti bakar bagi mereka untuk dimakan.
Demikian juga Yesus peduli kepada keluarga Betani dan menangis bersama
Maria dan Marta kala mereka baru kehilangan orang yang dicintainya yaitu
Lazarus. Yesus sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu
baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Maka
menangislah Yesus.” (Yohanes 11:33-35).
Tuhan Yesus selalu peduli dan memperhatikan kehidupan kita, baik dalam
suka maupun duka. Janganlah kita takut dan kuatir sebab Tuhan Yesus yang
kita sembah adalah sahabat setia dan sejati yang akan selalu menyertai,
melindungi, memberkati dan mempedulikan segala kebutuhan kita. (Sam)
Yesus selalu peduli kepada kita, apakah kita pun selalu mengasihi Dia?
08 Juli 2010
Tuhan tetap Peduli terhadap Hidup Kita
Kebaikan Tuhan tampak dalam hidup sehari-hari. Ketika manusia mengalami kesulitan
dalam hidup, Tuhan membantu. Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan senantiasa mengulurkan
bantuan kepada manusia. Hal ini terjadi dalam hidup para murid Yesus. Suatu kali perahu
mereka diterpa taufan yang dahsyat.
Sayang, ketika taufan itu menerpa perahu mereka, Yesus sedang tidur nyenyak di buritan
kapal. Karena itu, mereka panik. Mereka tidak tahu harus buat apa. Mereka tidak dapat
mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri.
Karena itu, mereka mencari dan membangunkan Yesus. Dengan penuh harapan mereka
meminta bantuan kepada Yesus. Mereka ingin selamat sampai di seberang. Mereka tidak
ingin mati tenggelam begitu saja di danau itu. Mereka masih ingin belajar tentang
kebenaran dan kebaikan kepada Yesus. Mereka memaksa Yesus. Bahkan mereka
menuduh Yesus tidak peduli terhadap keadaan mereka.
Ternyata Tuhan tetap peduli terhadap kehidupan manusia. Dalam diri Yesus, Tuhan ingin
tetap mengungkapkan kasih setia dan penyertaanNya terhadap hidup manusia. Tuhan
tidak inginkan manusia berjuang sendirian di dunia ini. Karena itu, ia turun tangan. Yesus
menghardik taufan yang ganas itu. Yesus menenangkan danau yang sedang diamuk oleh
taufan itu. Dengan demikian, terjadi suatu kedamaian dalam diri para murid. Mereka
menemukan bahwa Tuhan begitu baik. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia
berjuang sendiri di dunia ini.
Di dunia ini banyak orang menyangsikan kuasa Tuhan. Orang bertanya, mampukah
Tuhan membantu mereka dalam kesulitan hidup? Ketika manusia mengalami kehidupan
yang agak kurang menyenangkan, sering manusia menuduh Tuhan tidak mau membantu.
Tuhan tidak peduli terhadap hidup mereka. Akibatnya, banyak orang lari dan mencari
bantuan dari hal-hal gaib.
Mereka merasa bahwa hal-hal itu akan dapat membantu mereka. Ternyata tidak. Justru
mereka tetap dibuat penasaran. Mereka tidak mendapatkan bantuan apa-apa. Justru
yang didapatkan adalah ketidakdamaian. Mengapa? Karena Tuhan tidak bekerja dalam
situasi hidup seperti itu. Kehadiran Tuhan ditolak oleh manuisa.
Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti mengutamakan kehadiran Tuhan dalam
hidup kita. Mengapa? Karena kehadiran Tuhan itu membahagiakan manusia. Tuhan tidak
ingin melukai hati manusia. Tuhan menghendaki agar kita senantiasa setia kepadaNya.
Kesetiaan itu memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap melaksanakan
kegiatan-kegiatan dalam hidup ini.
Mari kita tetap datang kepada Tuhan. Setiap kali kita mengalami kesulitan, baiklah kita
mencari Tuhan. Kita meminta bantuan kepada Tuhan untuk dapat menyelesaikan
persoalan-persoalan hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal
di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa
saudaraku membiarkan aku melayani
seorang diri?
Mg Biasa XVI : Kej 18:1-10a; Kol 1:24-28; Luk
10:38-42
Sebut saja namanya ‘Marta’(nama samaran) sebagaimana diwartakan dalam
Warta Gembira hari ini. Dalam suatu kegiatan pesta dalam rangka menyambut
pesta perak suatu organisasi, Marta dalam kepanitiaan informal memperoleh
tugas untuk mengurus konsumsi. Kesibukan mengurus konsumi memang padat
dan hal itu terjadi sejak persiapan sampai dengan pemberesan pesta. Marta
bekerja giat kesana-kemari untuk mengontrol dan mengawasi anak buahnya
maupun memoniotor kebutuhan konsumsi agar semuanya berjalan dengan baik.
Ia sering juga sibuk sendiri untuk membeli ini atau itu di toko atau di
pasar Pendek kata Marta adalah pekerja keras dan sukses, begitulah
penilaian kebanyakan orang, namun tiba-tiba ia marah besar gara-gara
kurang memperoleh perhatian atau sapaan dari Ketua Panitia, dan sementara
itu Ketua Panitia nampak berbincang-bincang, bersendau-guaru dengan para
pekerja lain maupun tenaga relawan lainnya yang datang membantu secara
mendadak. Kemarahan Marta membuat ketegangan bagi sementara orang selama
persiapan pesta tersebut. Kerja keras dalam melaksanakan tugas pekerjaan
atau pengutusan memang baik, namun ketika dalam kerja tersebut kehilangan
senyum, keramahan dan kegembiraan maka kerja keras tersebut rasanya hanya
untuk menunjukkan kesombongan diri saja, bukan pengabdian atau pelayanan
sejati. Marilah kita mawas diri , bercermin pada Marta dan Maria yang
memperoleh kunjungan Yesus, Tuhan.
“Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani
seorang diri?” (Luk 10:40)
Yesus datang, Marta sibuk mempersiapkan hidangan untuk Yesus sedangkan
Maria duduk manis berbicara dengan Yesus. Peristiwa ini sering menjadi
inspirasi motto “Ora et labora” = Berdoa dan bekerja. Berdoa dan bekerja
memang dapat dibedakan, namun hemat saya tak baik atau tak mungkin
dipisahkan; berdoa dan bekerja bagaikan mata uang bermuka dua. Berdoa
hendaknya menjiwai bekerja dan sebaliknya bekerja menjiwai berdoa.
Pekerja yang dijiwai oleh doa pada umumnya bekerja dengan baik, tenang,
tekun, tidak banyak bicara, tidak mengeluh meskipun yang harus dikerjakan
cukup berat serta kurang diperhatikan orang lain. Bekerja dihayati
bagaikan sedang beribadat, sehingga suasana kerja bagaikan suasana ibadat,
rekan kerja bagaikan rekan beribadat, memperlakukan aneka
sarana-prasarana bagaikan memperlakukan sarana-prasarana ibadat, sikap
kerja bagaikan sikap ibadat, dst„
“Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari
padanya.” (Luk 10:42), demikian sabda atau tanggapan Yesus terhadap
Marta yang mengeluh. Bersama dan bersatu dengan Tuhan, itulah kiranya yang
dimaksudkan, tidak hanya selama sedang berdoa, melainkan kapan saja dan
dimana saja akrab bersama dan bersatu dengan Tuhan. Dengan kata lain dapat
menemukan Tuhan dalam segala sesuatu dan menghayati segala sesuatu dalam
Tuhan. “Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Rm 14:8b),
demikian kata Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman.
Segala sesuatu adalah anugerah Tuhan yang kita terima melalui siapapun
yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita sampai kini.
Karena hidup kita adalah milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita, maka
kita tidak mungkin hidup seenaknya, melainkan harus hidup dan bertindak
sesuai dengan kehendak Tuhan alias senantiasa berbudi pekerti luhur dan
berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Ketika kita berbudi pekerti
luhur dan senantiasa berbuat baik, maka kita juga dengan mudah dapat
berdoa secara khusuk sendirian dimanapun dan kapanpun.
Pengalaman Marta dan Maria menerima kehadiran Yesus, kiranya juga dapat
menjadi inspirasi bagi kita semua, yaitu bekerja sama dalam pelayanan atau
bekerja. Di dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun kita harus dapat
bekerjasama dengan baik jika mendambakan hidup bahagia dan damai
sejahtera. Kebanyakan dari kita, yaitu para orangtua atau suami-isteri
kiranya memiliki pengalaman kerjasama yang indah, mengesan dan
membahagiakan, yaitu ketika sedang memadu kasih dalam hubungan seksual
sebagai perwujudan saling mengasihi satu sama lain. Maka kami berharap
para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan dalam hal kerjasama
bagi anak-anaknya serta mendampingi dan mendidik anak-anaknya untuk
senantiasa dapat bekerjasama dengan siapapun dan dimanapun. Pengalaman
kerjasama di dalam keluarga akan menjadi kekuatan dan modal untuk
bekerjasama dalam bidang kehidupan bersama yang lebih luas, seperti di
tempat kerja atau belajar atau masyarakat pada umumnya.
“Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan
menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus,
untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Aku telah menjadi pelayan jemaat itu
sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan
firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,”(Kol 1:24-25)
Menderita karena setia pada tugas pekerjaan atau pengutusan yang membuat
bahagia atau sukacita itulah pengalaman Paulus sebagai pelayan
jemaat/umat. Paulus merasa berbahagia atau bersukacita karena
diperkenankan ambil bagian dalam penderitaan Yesus Kristus. Yesus telah
menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan atau kebahagiaan kita
semua, umat manusia seluruh dunia. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus
Kristus kita dipanggil untuk meneladan Paulus, yang berbahagia atau
bersukacita karena penderitaan dalam pelaksanaan tugas pengutusan atau
pelayanan.
“Berakit-rakit ke hulu, berrenang-renang ke tepian, bersakit-sakit
dahulu bersenang-senang kemudian” , demikian kata sebuah peribahasa
Indonesia, “Jer basuki mowo beyo” = untuk hidup mulia harus berjuang
atau berkorban, demikian kata peribahasa Jawa. Berakit maupun berrenang
hemat saya tak mungkin dipaksakan kecepatan alias ngebut, melainkan
berproses, maju pelan-pelan dan terus-menerus. Maka dengan ini kami
mengharapkan entah pada para peserta didik/pelajar/mahasiwa maupun
pekerja di tingkat atau bidang pelayanan/pekerjaan apapun, untuk
menghayati ‘proses’ dalam belajar maupun bekerja:
- Proses mengajar-belajar itulah yang diharapkan terjadi di klas,
ruang kuliah di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Yang perlu
digarisbawahi dan sering kurang diperhatikan pada masa kini adalah
‘proses’. Kami berharap dengan menghayati proses para pengajar semakin
terampil dalam mengajar dan para pelajar semakin terampil dalam belajar.
Ketika para pelajar terampil dalam belajar maka diharapkan mereka dengan
mudah untuk mempelajari apapun yang perlu untuk kehidupan mereka masa
depan. Memang untuk itu harus setia belajar setiap hari, tidak hanya
menjelang ulangan umum atau ujian saja.
- Bekerja agar terampil dalam bekerja itulah yang kami dambakan
kepada para pekerja , maka kami berharap para pekerja tidak hanya mencari
uang atau demi uang belaka, karena kalau begitu pasti akan mudah/cenderung
untuk melakukan korupsi. Utamakan agar terampil bekerja, dan ketika anda
terampil bekerja maka selayaknya pada waktu akan menerima imbal jasa atau
kesejahteraan yang memadai.
Baik dalam belajar maupun bekerja hindari untuk berhasil dengan cepat dan
mudah, karena apa yang diperoleh dengan cepat dan mudah juga akan dengan
cepat dan mudah untuk hilang atau musnah.
“Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku
tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran
dengan segenap hatinya,yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela
kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi
memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah,
walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak
menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian,
tidak akan goyah selama-lamanya “.
(Mzm 15)
Tuhan Peduli
Posted on Selasa, 17 Februari, 2009 by saatteduh
– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 17 Februari 2009
-
Baca: Mazmur 56:1-14
“kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan
manusia terhadap aku?” Mazmur 56:12
Saat ini kita sedang dihadapkan pada masa-masa sulit, suatu keadaan yang
menakutkan. Mungkin saat ini kita stress karena baru saja di PHK, padahal
anak isteri butuh biaya makan dan sekolah; atau hasil diagnosa menyatakan
salah satu anggota keluarga kita mengidap penyakit yang berat dan dokter
sudah angkat tangan; atau orang lain yang selalu mencibir dan
mentertawakan kita karena kita lama menjadi pengangguran, dan masih
banyak lagi hal-hal pahit yang kita alami, Secara manusia kita sudah tidak
sanggup lagi. Kita tidak tahu harus berbuat apa dan bersikap bagaimana.
Memang adakalanya Tuhan mengijinkan kita berada dalam situasi kelam dan
penuh ujian agar mata rohani kita terbuka dan kita mengerti bahwa hanya
Tuhanlah yang sanggup menolong dan satu-satunya sumber pengharapan kita,
tidak ada yang lain.
Kita akan mampu bertahan dan tetap kuat menanggung segala sesuatunya bila
kita menyikapinya dengan pikiran positif dan melihatnya dengan kacamata
iman. Sesungguhnya Tuhan mengetahui setiap permasalahan yang kita hadapi.
Meskipun orang lain tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu tentang apa pun
yang kita gumulkan, janganlah hal itu membuat kita lemah karena ada Yesus,
satu-satunya Pribadi yang mengetahui keberadaan kita, Dia sangat peduli
dengan amsalah yang kita alami. Kita tahu, manusia sangat terbatas sekalu
pun itu orang yang terdekat dengan kita, baik itu orangtua, anak-anak atau
saudara kita. Mari belajar seperti Daud yang senantiasa berhadap dan
menaruh percayanya hanya kepada Tuhan. “„kepada TUHAN aku percaya
dengan tidak ragu-ragu.” (Mazmur 26:1), bukan kepada manusia, sebab
“Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang
lewat.” (Mazmur 144:4)
Tuhan Yesus tidak hanya tahu dan peduli akan keberadaan kita, tapi Dia
juga akan memberikan jalan keluar terbaik bagi kita. Oleh karena itu
jangan mudah kecewa! tetaplah percaya dan andalkan Tuhan saja dalam segala
hal. Percayakan semuanya ke dalam tangan Tuhan, maka pada saatnya kita
akan melihat bagaimana kuasaNya dinyatakan atas hidup kita, karena tidak
ada yang terlalu sukar dan tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan.
“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!” Mazmur
27:14a,b