Seksualitas yang Seharusnya

W
Shared by: elipldoc
Categories
Tags
-
Stats
views:
0
posted:
1/24/2012
language:
pages:
4
Document Sample
scope of work template
							Seksualitas yang Seharusnya

Penulis : Eka Darmaputera

COBA tolong Anda definisikan apa "merah" itu! "Merah? Ah, kalau cuma itu sih, semua juga tahu!", begitu

mungkin reaksi Anda. Ya, siapa yang tidak kenal warna "merah"? Tapi silakan mendefinisikannya, maka

saya jamin, Anda pasti kebingungan. Saya duga, yang paling banter dapat Anda katakan adalah, bahwa

merah itu bukan putih, bukan kuning, bukan biru, dan seterusnya.

Ini mirip dengan pengalaman saya, ketika di luar negeri saya diminta menjelaskan apa itu "demokrasi

Pancasila" dan "ekonomi Pancasila". Gelagapan saya dibuatnya.

Yang waktu itu spontan meluncur dari mulut saya adalah, bahwa "demokrasi Pancasila" itu bukan

"demokrasi liberal" ala Amerika; tapi bukan pula "demokrasi rakyat" gaya Korea Utara. Dan "ekonomi

Pancasila" adalah sistem ekonomi yang tidak kapitalis, namun sekaligus tidak pula sosialis".

Yang ingin saya katakan adalah, bahwa kadang-kadang kita hanya bisa menjelaskan "what is" dari "what is

not". Apa yang "ya", dari apa yang "tidak". Dan apa yang "harus", dari apa yang "tidak boleh".

Hukum ketujuh Dasa Titah berbunyi, "JANGAN BERZINAH". Apa persisnya yang dilarang oleh hukum

tersebut? Ada dua cara yang dapat kita tempuh untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, kita bisa

menjawabnya dengan membuat sebuah "daftar larangan", yang boleh jadi tidak terbatas panjangnya, dan

luar biasa banyaknya. Atau, kedua, kita dapat dengan ringkas mengatakan, bahwa "apa yang tidak boleh"

adalah semua yang bertentangan dengan "apa yang harus".

Tentu saja, saya memilih yang kedua. Yang berarti, kita akan membicarakan terlebih dahulu apa-apa yang

"seharusnya", baru apa-apa yang "dilarang".

***

SALAH SATU konsep terpenting dan "khas" alkitab tentang "manusia", adalah pemahamannya bahwa

manusia adalah satu kesatuan yang utuh. Satu kesatuan tubuh-jiwa-roh yang tak terbagi-bagi. Tanpa

dikhotomi. Tanpa dualisme.

Ini berlawanan dengan filsafat Yunani yang mengatakan, bahwa "tubuh" adalah penjara bagi "jiwa". Atau

dengan dengan filsafat Timur yang mengajarkan, bahwa yang "rohani" itu mulia, dan yang "jasmani" itu hina.

Dengan ringkas tapi tegas alkitab menyatakan, bahwa "manusia" adalah kesatuan "tubuh" dan "jiwa" yang

tak terpisahkan. Kejadian 2:7 memberi kesaksian, "Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari

debu tanah, dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi

mahluk yang hidup".

Artinya, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya adalah dari Allah yang satu itu jua asalnya. Karena itu

kedua-duanya baik, mulia, kudus. Manusia harus memuliakan Allah dengan segenap jiwanya, tapi juga
dengan seluruh tubuhnya. Antropologi semacam ini tentu saja sangat menentukan bagi pemahaman

mengenai "seksualitas".

***

KONSEKUENSI yang pertama adalah, bahwa - menurut alkitab - "seksualitas" pada dirinya, dan pada

hakikatnya, adalah baik. Baik, sama seperti semua ciptaan Allah yang lain, menurut penilaian Allah,

"sungguh amat baik" (Kejadian 1:31). Tidak kotor, nista atau hina. Sebaliknya, ia suci, mulia, menyenangkan.

Pada satu pihak, kebutuhan maupun dorongan seksual diterima sebagai sesuatu yang alamiah. Sama

seperti kebutuhan manusia akan makanan atau minuman. Sama seperti dorongan rasa lapar atau rasa

haus. Karena itu alkitab tak pernah berusaha menutup-nutupinya. Tidak jarang malah terlalu eksplisit.

Karena itu, bersyukurlah - jangan merasa bersalah -- bila Anda masih dikaruniai selera makan atau . nafsu

seks!

Namun, di lain pihak, toh ada sesuatu yang "lebih" atau "istimewa" pada seksualitas, yang tidak terdapat

pada makan atau minum. Perkenankanlah saya memberi dua contoh sederhana.

Yang pertama adalah kemungkinan yang unik dan eksklusif , yang dIkaruniakan Tuhan melalui seksualitas.

Apa itu? Yaitu, kemungkinan manusia untuk memperoleh keturunan atau ber"prokreasi". Agar melaluinya,

kelangsungan eksistensi manusia bisa terus berlanjut. Apa yang lebih mulia dan lebih istimewa dari pada ini?

Kegiatannya barangkali memang cuma beberapa menit, tapi jangkauannya adalah ke"akan"an yang seolah-

olah tanpa batas! Itulah seksualitas.

Kemudian, yang kedua, bukan cuma menyangkut potensialitasnya semata, tapi juga realitasnya. Maksud

saya, kenikmatan serta kepuasan lahir-batin yang dimungkinkan Allah untuk dialami oleh manusia, melalui

kegiatan seksualnya ini! Ini juga tak terbandingkan dengan kegiatan apa pun yang lain.

Seorang bapak gereja bahkan pernah mengatakan, bahwa satu-satunya pengalaman manusiawi yang

dapat dipakai sebagai "pembanding", sehingga orang bisa memperoleh sekelumit gambaran tentang

kenikmatan sorga nanti, adalah orgasme. Walaupun, tentu saja, perbedaannya juga luar biasa. Orgasme

cuma berlangsung beberapa detik. Sedang kenikmatan sorgawi - yaitu ketika manusia mengalami

"kesatuan mistis" dengan Allah -- berlangsung abadi.

***

DALAM ketegangan yang dinamis antara dua aspek itulah, kita menangkap pemahaman seksualitas yang

khas alkitabiah. Aspek yang pertama adalah, ke"normal"an serta ke"natural"an-nya. Bahwa seksualitas itu

normal! Dorongan-dorongannya natural! Sama seperti kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikis Anda yang lain.

Jadi, Anda tak perlu merasa malu atau merasa bersalah bila memiliknya. Sebaliknya, bersyukurlah!

Mengatakan bahwa seksualitas itu "normal" dan "natural" berarti mengatakan, bahwa seksualitas penting.

Bahwa tanpa itu, hidup manusia menjadi tidak penuh, tidak utuh, tidak lengkap. Bahwa hidup yang a-
seksual adalah a-natural. Abnormal. Boleh-boleh saja Anda memutuskan untuk tidak menikah. Tapi jangan

katakan, bahwa itu Anda lakukan agar Anda bisa menjadi lebih suci dan lebih dekat kepada Tuhan!

Setelah mengatakan itu, toh kita harus segera menyatakan, bahwa seksualitas bukanlah satu-satunya yang

penting. Bukan pula yang terpenting. Seksualitas bukan segala-galanya. Ia cuma "salah satu". Tak boleh

kita per"setan"kan, namun jangan pula kita per"tuhan"kan!

Seksualitas adalah salah satu aspek saja dari kehidupan manusia yang lebih luas dan lebih kompleks.

Karena itu ia hendaknya juga dipahami dan diperlakukan dalam inter-relasi dengan komponen-komponen

kehidupan yang lain. Tidak dalam "isolasi", melainkan dalam "koordinasi" dengan yang lain-lain itu. Yang

benar berkenaan dengan seksualitas adalah yang "proporsional". Tidak "sex-maniac" tidak pula "sex-o-

phobia".

***

"JANGAN BERZINAH". Pada satu pihak, larangan ini adalah salah satu saja dari sepuluh titah yang ada.

Karena itu, jangan terlampau melebih-lebihkannya. Dosa seksual tidak lebih serius dibandingkan dengan

dosa di bidang ajaran, atau dengan dosa dalam keluarga, atau dengan jenis dosa-dosa lainnya.

Sebab itu bagi saya, adalah tragis dan ironis, ketika sekelompok masyarakat ribut besar dan merasa amat

terganggu oleh "goyang Inul", tapi nyaris tidak bereaksi apa-apa ketika tindak korupsi semakin meluas,

ketika tindak kekerasan meranggas, ketika perdagangan perempuan dan anak-anak dibiarkan semakin

subur, ketika semakin banyak orang miskin yang tergusur, dan . ada orang yang malah sibuk menggagas

"polygamy award".

Namun toh benar juga, bahwa sekalipun "dosa seksual" hanya "salah satu" saja, tapi ia adalah "salah-satu"

yang sama sekali tidak boleh dipandang remeh! Kita tidak boleh dengan enteng mengatakan, "Ah, biar saja!

Habis, memang sudah zaman-nya sih!" . Atau, "Jangan usil ngurusin apa yang terjadi di bawah selimut

orang , deh! Itu ´kan tanggungjawab masing-masing!"

Tidak! Kita tidak bermaksud "usil" atau "iseng". Kita hanya mau peduli, sebab Tuhan pun sangat peduli. Dan

Tuhan sangat peduli, karena dalam seksualitas ini terkait masalah "kekudusan". Baik kekudusan individual,

maupun kekudusan relasional.

***

DALAM seksualitas terkait masalah "kekudusan relasional" antar-manusia. Telah sejak awal proses

penciptaan, dengan jelas Tuhan menyatakan, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan

menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (Kejadian 2:18).

Kesendirian, menurut Allah, "tidak baik". Sebab kesendirian akan menciptakan ketidak-berdayaan. Ketidak-

berdayaan yang hanya dapat diatasi dengan kehadiran seorang "penolong yang sepadan". Dan itulah

antara lain hakikat serta fungsi seksualitas itu.
Seksualitas memungkinkan mutualitas atau hubungan timbal balik antarmanusia. Juga kesetaraan antar

manusia. Dan, jangan lupa, kesatuannya! "Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku . sebab

itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga

keduanya menjadi satu daging" (Kejadian 2:23-24).

Jadi "berzinah" itu apa? "Berzinah", berarti tercemarnya kekudusan serta integritas moral individual orang-

per-orang. Tapi "berzinah" juga berarti rusaknya relasi yang mutualistis antar manusia: keseteraannya,

kesatuannya, tolong-menolongnya. Ketika "perzinahan" terjadi, kekudusan terinjak-injak dan relasi

kemanusiaan retak. Dan ini, Saudara, sungguh, adalah bencana!

Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadsesu.html

						
Shared by: Denok Fransiska
About
http://www.basistik.blogspot.com dan http://www.paraliga-basistik.blogspot.com
Related docs
Other docs by elipldoc
8.Sifat fisika tanah _tambahan_
Views: 3  |  Downloads: 0
7. Kunci Jawaban
Views: 11  |  Downloads: 0
6. RPP semester 2
Views: 9  |  Downloads: 0
5. RPP semester 1
Views: 4  |  Downloads: 0
4. SILABUS GEOGRAFI KELAS X
Views: 4  |  Downloads: 0
3. PROGRAM SEMESTER
Views: 2  |  Downloads: 0
HALAMAN
Views: 13  |  Downloads: 0
2. PROGRAM TAHUNAN X
Views: 2  |  Downloads: 0
1. Pendahuluan Geo x
Views: 2  |  Downloads: 0
goodbye
Views: 6  |  Downloads: 0