Docstoc

- Bapa Yang Penuh Kasih

Document Sample
- Bapa Yang Penuh Kasih Powered By Docstoc
					                        Bapa Yang Penuh Kasih
By Dr. Paul Sene

Kita semua tahu perumpamaan tentang Anak Yang Hilang. Setiap kali saya membaca
perumpamaan ini, saya melihat diri saya sendiri di dalam kedua anak tersebut. Di
dalam diri saya, ada sifat dari anak yang hilang, juga karakter anak yang sulung.
Anak bungsu terhilang di luar sedangkan anak yang sulung terhilang di dalam.
Percaya atau tidak, seseorang dapat terhilang di gereja. Anak bungsu berdosa di
dalam alam jasmani sedangkan anak yang sulung berdosa secara rohani. Anak yang
sulung selalu setia kepada bapanya, ia melakukan segala sesuatu di dalam rumah
bapa tetapi berdosa di dalam roh.

Di dalam majalah edisi ke-6 dan 7 (bila saudara belum memilikinya, sangatlah saya
anjurkan bagi saudara untuk membelinya), ditekankan pada anak yang terhilang.
Sekarang kita akan mengalihkan perhatian kita kepada bapa di dalam perumpamaan
ini yang melambangkan Bapa kita di surga dengan kasihNya yang tiada terukur bagi
kita. Kita tidak akan banyak membicarakan mengenai dosa dan kejahatan dari kedua
anaknya melainkan tentang sifat bapa. Judul yang tepat bagi kisah ini adalah
“Perumpamaan Tentang Bapa Yang Penuh Kasih”.

Sewaktu Yesus berada di bumi, para pemungut cukai dan pendosa berkumpul di
sekelilingnya untuk mendengarkan Dia. Orang Farisi dan pengajar Taurat yang
adalah orang kalangan atas dan berkuasa bergumam dan mengejek, “Orang ini
menyambut pendosa dan makan bersama mereka. Kami, orang Yahudi, tidak duduk
bersama-sama dengan pendosa, pemungut cukai dan pelacur. Lihatlah orang yang
bernama Yesus. Kalian memperlakukan-Nya sama seperti seorang raja,
mempercayai segala sesuatu yang diucapkanNya, tetapi lihatlah sendiri, Ia makan
bersama para pendosa.”

Orang seperti apakah Yesus yang makan bersama dengan para pendosa dan
pemungut cukai? Seperti apakah Allah Bapa kita? Bapa kita memiliki kasih yang
memberi, kasih yang mendidik dan kasih yang penuh kemurahan. Inilah tiga aspek
yang berbeda dari kasih Allah.

Bapa mempunyai peranan yang terbesar di dalam perumpamaan ini. Tanpa bapa,
kedua anak tersebut tidak akan dapat mempunyai warisan dan mengalami arti
pengampunan yang sejati.

Kasih Bapa adalah Kasih Yang Memberi

Lukas 15:12
“Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian
harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta
kekayaan itu di antara mereka.”

Bapa menuruti permintaan anak bungsu. Dari pandangan manusiawi, kita berpikir
bahwa bapanya adalah orang yang bodoh yang telah memberikan 1/3 kekayaannya
kepada anak yang tidak dapat dipercayainya. Jika saudara tidak dapat mempercayai
anak saudara, apakah saudara akan memberikan 1/3 harta saudara kepadanya?
Tentu tidak. Sang bapa mengetahui kelemahan anaknya, ia tahu bahwa anaknya
akan menghamburkan semua kekayaannya sampai habis. Uang yang diperolehnya
dengan jerih payah akan hilang, lenyap dan terbuang percuma. Namun bapanya
tetap memberikan bagian anaknya, karena ia menempatkan prioritasnya dengan
benar.

Uang dapat menjadi topik yang sangat peka. Banyak keluarga yang bertengkar
karena uang, dan kekerabatan hancur karena uang, bahkan orang dapat menjadi
kesal dan marah hanya karena uang beberapa ribu saja. Ini semua disebabkan oleh
prioritas mereka yang tidak benar. Di sini sang bapa mengerti bahwa hubungannya
dengan anaknya melampaui pentingnya uang.

Ia tahu bahwa ia dapat saja kehilangan uangnya, tetapi pada akhirnya ia akan
mendapatkan kembali anaknya. Ia mempunyai pandangan yang jauh. Ia menilai
melampaui kekayaannya. Apakah saudara mau menghabiskan uang jutaan rupiah
untuk memenangkan satu jiwa? Apa yang akan terjadi seandainya sang bapa tidak
mau memberikan bagian warisan milik anaknya? Bagaimanapun juga, anaknya telah
terhilang. Melalui pemberiannya, ia mendapatkan anaknya kembali. Pemberian akan
selalu menang. Saudara tidak akan rugi pada saat saudara memberi. Sang bapa
memberikan 1/3 kekayaannya dan memperoleh kembali, bukannya uang melainkan
anaknya. Anaknya lebih berarti daripada uangnya yang terbuang.

Allah telah memberikan kepada kita AnakNya dan sejak saat itu Dia telah menuai
jutaan orang. Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa apapun yang kita tanam
akan kita tuai. Bila saudara memberikan kasih, saudara akan menerima kasih.
Semakin banyak keuangan yang saudara berikan kepada Tuhan, semakin banyak
pula keuangan yang akan saudara terima. Inilah sebabnya kita tidak akan pernah
dapat menandingi pemberian Tuhan kepada kita.

Tuhan telah menjadi teladan bagi kita, karena Dia tahu bahwa keegoisan kita dapat
menghalangi kita untuk memberi. Saatnya bagi kita untuk belajar memberi dan
memikirkan orang lain. Saat kita memberi kasih, kita memiliki sukacita karena kita
tahu bahwa kita mengenakan sifat ilahi bapa kita yang adalah “Pemberi”. Pemberian
adalah ekspresi dari sifat Tuhan. Bila kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus, atau
lahir baru di dalam Kristus, maka pemberian adalah ekspresi dari sifat dasar kita
yang baru. Sebelum saya lahir baru, saya bukanlah seorang pemberi yang baik.
Saya yakin hal ini juga berlaku bagi sebagian banyak orang. Tetapi, pada waktu kita
memiliki sifat ilahi Tuhan di dalam kita, kita mulai mengaktifkan kasihNya. Kita mulai
berubah menjadi seperti sifat ilahiNya, sifat yang baru yang disebut “Pemberi”. Saat
kita berjalan dengan sifat kita yang baru, kita akan menerima berkat yang melimpah.
Apakah yang kita berikan? Memberikan kasih, waktu, keuangan, pengharapan dan
semangat kepada orang lain. Tuhan tidaklah memberikan hukum Taurat mengenai
perpuluhan dikarenakan Dia mempunyai masalah keuangan, melainkan supaya kita
dapat menikmati berkat-berkatNya.

Kasih Bapa adalah Kasih Yang Mendidik

Kasih yang mendidik adalah saat dimana saudara sebenarnya sanggup menolong
seseorang yang berada di dalam kesulitan karena keputusannya sendiri, namun
saudara tidak melakukannya. Inilah pergumulan Bapa dan juga pergumulan kita.

Pada saat si anak bungsu jauh dari bapanya dan rumahnya, sang bapa mengetahui
apa yang akan terjadi pada anaknya. “Anakku akan menikmati kekayaannya,
kebebasan dan kemandiriannya. Segera setelah kekayaannya habis, apa yang akan
ia perbuat? Orang-orang yang disebutnya sebagai teman akan meninggalkannya, ia
akan mengalami kelaparan, penghinaan, sakit hati dan penyesalan. Aku
mengasihinya, hatiku rindu untuk ia berbalik kembali kepadaku. Aku rindu untuk
menyelamatkannya tetapi aku tahu jika aku melakukannya, ia tidak akan pernah
belajar. Ia harus belajar bahwa akibat dari hidup yang dipenuhi dosa dan akibat dari
melangkah keluar dari otoritas serta naunganku. Ia menyalah-gunakan kebaikan,
berkat dan kasihku. Ia tersesat. Ia akan tersesat jauh tanpa diriku.”

Itulah kasih. Itulah kasih bapa yang mendidik. Dengan mengetahui bahwa ia
mempunyai kuasa dan otoritas untuk menolong anaknya dan menjauhkannya dari
bahaya tetapi tidak dilakukannya karena ia mengasihi anaknya. Kasih Tuhan adalah
kasih yang mendidik. Ia mengetahui apa yang akan terjadi pada anak- anakNya jika
mereka tetap memaksa cara mereka sendiri, tetapi sama seperti bapa di dalam
perumpamaan ini, dimana Dia mengijinkan kitauntuk memiliki apapun yang kita
inginkan. Sepertinya dia berkata, “Aku tahu apa yang akan terjadi. Engkau masih
memaksa caramu? OK, engkau dapat memilikinya. Lakukan apa saja yang ingin
engkau lakukan tetapi...”

Kadangkala, saya memperingatkan anggota gereja dan menasihati mereka. Saya
tidak menuduh mereka. Beberapa di antaranya mencoba untuk menipu saya atau
berpura-pura bahwa segala sesuatunya dalam keadaan baik. Yang lain berpikir
bahwa saya dapat diyakinkan oleh cerita mereka. Saya berpikir, “Hmm...jika engkau
tetap memaksa caramu sendiri, saya tidak dapat berbuat banyak.” Dan hari itu akan
datang dimana orang tersebut berkata, “Oh, saya bertobat. Saya sungguh-sungguh
menyesal.” Tak bisa berkata banyak lagi karena kehancuran sudah terjadi.
Kelihatannya banyak orang perlu untuk jatuh sampai ke tanah supaya mereka dapat
sadar dan menghadapi kebenaran. Inilah sebabnya disebut sebagai kasih yang
mendidik. Setelah memberitahukan kepada mereka, “Jangan melakukannya”,
terkadang saudara harus membiarkan mereka. Mereka akan belajar dengan cara
yang sukar melalui sakit hati dan kegagalan.

Sang bapa mengetahui kesengsaraan anaknya. Di waktu saudara berada di luar
kehendak Tuhan, hidup saudara akan menjadi kacau balau. Terlebih lagi bila saudara
menyalah-gunakan berkat dan kebaikan Bapa sama seperti anak yang bungsu!
Beberapa bapa akan berkata kepada anaknya, “Aku telah memberitahukanmu bahwa
engkau akan menghancurkan segala sesuatunya. Aku tidak mau melihat wajahmu
lagi.” Tetapi Bapa Surgawi kita luar biasa! Pada saat anaknya pulang kembali,
tertunduk, putus asa, terhina, saya dapat membayangkan ia berkata, “Oh Tuhan, oh
Tuhan, apa yang telah saya perbuat?” Di sisi lain, bapa berkata, “Tidak apa-apa, aku
mengetahui apa yang telah engkau lalui. Aku tetap akan menerimamu. Aku
tidakakan menolakmu, aku akan menerimamu. Aku tahu engkau telah jera
sekarang.” Ia mengetahui pergumulan yang dialaminya saat ia berjalan pulang.
Tuhan itu baik, tetapi mengapa manusia harus belajar dengan cara yang sulit.

Lukas 15:20
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapa-nya. Ketika ia masih jauh,
ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Demikianlah halnya dengan Tuhan, Dia merangkul kita dengan tangan yang terbuka
dan menyambut kita dengan penuh kasih saat kita bertobat, “Aku mengetahui
kesalahanmu. Engkau telah menderita namun Aku mengasihimu. Aku tahu engkau
telah menyalah gunakan berkat dan kebaikanKu. Aku bersukacita atas kembalinya
dirimu. Engkau telah kembali kepadaKu dan engkau akan menikmati kebaikan
kasihKu sekali lagi.” Inilah kasih Bapa kita.

Pertanyaan yang sering timbul di pikiran banyak orang adalah seandainya saja sang
bapa mengetahui penderitaan anaknya, dimana bisa saja mati kelaparan, mengapa
ia tidak menolongnya? Banyak orang Kristen bertanya kepada saya, yang secara
tidak langsung kepada Tuhan, “Jika engkau tahu hal ini akan terjadi kepada saya,
mengapa engkau tidak beritahu saya sebelumnya?” Sepertinya Tuhan tidak
mengasihi mereka dan saya tidak memperhatikan mereka. Saudara, kasih itu juga
mendidik. Saya dapat saja memberikan nasehat namun jika orang tersebut tidak
mau mendengarkan, saya harus mundur dan membiarkan dia untuk melakukan
caranya sendiri. Sama seperti seorang bapa yang sangat mengasihi anaknya yang
mengetahui jika ia menolong anaknya, anaknya tidak akan belajar.

Sebenarnya saudara dapat melakukan sesuatu bagi orang tersebut, tetapi kadang
kala kasih juga berarti membiarkannya, dengan berdiri dibelakang, menunggu dan
memperhatikannya ini sangatlah sulit. Dulu saya selalu bersikeras untuk menolong
orang agar ia tidak membuat keputusan yang salah, nasihat demi nasihat saya
berikan, namun orang ini tetap ingin melakukan caranya sendiri. Suatu hari Tuhan
mengatakan kepada saya bahwa apa yang telah saya lakukan adalah baik, tetapi
kadangkala saya harus mundur dan membiarkannya, dengan tidak mencoba untuk
menyelamatkan mereka karena mereka memilih jalan mereka sendiri, tetapi
sesungguhnya Tuhan tetap mengasihi mereka. Sekarang saya menerapkannya
dalam kehidupan saya. Pada waktu seseorang menyadari kesalahan mereka dan
sungguh-sungguh bertobat, tangan saya terbentang untuk merangkul mereka.

Mari kita lihat 2 Tesalonika 3:14
Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam
surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi
malu

Ini adalah ayat yang sulit untuk kita laksanakan. Sepetinya bertentangan dengan
segala yang ditulis Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 13:4-8 mengenai kasih.
“Kasih itu sabar...tidak pemarah...mengharapkan segala sesuatu,
menanggung segala sesuatu.” Namun di 2 Tesalonika 3:14 mengatakan bahwa
kita tidak boleh bergaul dengan orang yang tidak taat terhadap perintah Tuhan.
Pertanyaan pertama yang timbul adalah, “Dimanakah kasihnya?” Hal ini tidaklah
berarti bahwa orang tersebut menjadi musuh saudara, dan tidak berarti saudara
tidak dapat berkata “Hallo” pada saat saudara bertemu dengannya di jalan,
melainkan saudara jangan bersekutu dengannya. Jangan menjadi terlalu dekat
dengannya, meskipun saudara berkata bahwa saudara mencoba untuk menolongnya
supaya dapat menyadari kesalahannya.

Bila sang bapa menahan harta warisan milik anak bungsu dan melarangnya pergi,
anak itukemungkinan besar akan membuat keonaran di rumahnya. Ia bisa saja
berontak, mempengaruhi semua pekerja dan menyalah-gunakan keuangan bapanya.
Oleh sebab itu, bapa memberikan bagian warisan anak bungsu, menunggu dan
mengawasi anaknya untuk pulang.
Anak bungsu mengalami hidup di dalam kandang babi. Kita semua mempunyai
pilihan, mengikuti jalan Tuhan atau melalui “kandang babi”. Masalahnya, banyak
orang yang melewati “kandang babi” menjadi lebih jauh lagi dari Tuhan. Bekerja di
dalam kandang babi membuat anak bungsu menyadari dirinya! Jika kita berada di
jalan yang benar, teguhkanlah langkah kaki kita di jalan Tuhan. Jangan menjadi
seperti anak sulung yang berdosa secara rohani.

Bacalah 2 Tesalonika 3:14 sekali lagi. Bukan-kah itu juga adalah kasih? Ya, kadang
kala di dalam situasi itu, kasih berarti menjaga jarak dengan orang tersebut. Sudah
pasti kasih Tuhan adalah mendidik. Saudara mungkin bertanya, “Bapak Pendeta, apa
yang sedang engkau ajarkan?” Saya sedang menjelaskan apa yang firman Tuhan
ajarkan kepada kita semua.

Kasih kadang kala berarti terpisahkan. Mengapa? Supaya orang itu menjadi malu.
Apakah saudara tahu mengapa ada disiplin di dalam Kerajaan Allah? Supaya orang
itu menjadi malu. Bukan untuk mempermalukan orang itu, melainkan agar ia malu
atas perbuatannya sehingga dia memperbaiki langkahnya dan berjalan kembali
bersama Tuhan.

Sangatlah sulit bagi kita untuk tidak menolong orang yang hidup dalam dosa. Adalah
hal yang lazim bagi kita untuk menolong atau mendampingi orang itu, karena kita
kasihan kepadanya dan ingin membantu seperti dalam keuangan atau apapun juga.
Tetapi kadang kala mereka menyalah gunakan kebaikan kita. Seringkali kita menjadi
sakit hati pada saat kita menolong mereka. Setelah kita menolong mereka, mereka
berpikir bahwa bukan merekayang berbuat salah. Kita harus menjadi bijaksana dan
berhati-hati jika kita mau menolong orang supaya ia berbalik kembali kepada Tuhan.

Anak yang terhilang itu merasa malu, menyadari diri dan bertobat. Apakah yang
membuat anak bungsu ini bertobat? Karena ia bekerja untuk babi. Seorang Yahudi di
dalam kandang babi, tempat yang seharusnya ia tidak berada di sana. Ia tidak
mempunyai uang sepeserpun. Bayangkan, ia menghamburkan 1/3 dari kekayaan
Tuhan. Sangat disayangkan. Apakah kita juga seperti itu? Apakah kita menyia-
nyiakan talenta yang Tuhan telah berikan kepada kita, dengan segala sesuatu yang
telah Tuhan berkati bagi kita?

Pertanyaan berikutnya adalah, “Kapan kita boleh bergaul lagi dengan orang tersebut?
Kapan saya dapat menolong jiwa yang terhilang itu?” Jika saudara perhatikan, ada
tiga alasan mengapa jiwa menjadi terhilang dan tiga cara untuk mengatasinya. Dan
hal ini dibahas melalui tiga perumpamaan yang terdapat di dalam Lukas 15.

Perumpamaan yang pertama adalah tentang domba yang hilang. Domba dapat
dinilai sebagai binatang yang terbodoh di dunia. Jika dibiarkan sendirian, pasti
tersesat. Akan ada yang tersesat karena kebodohan belaka dan sebagai seorang
gembala atau teman yang baik, kita harus menjangkau dia dan membawanya
kembali kepada kawanan domba. Selamatkan mereka dan bawa mereka kembali
kepada Kristus.

Perumpamaan berikutnya adalah perumpamaan tentang dirham yang hilang. Ada
banyak orang yang hilang seperti dirham ibu itu. Bagaimana dirham itu dapat hilang?
Dirham itu hilang karena pemiliknya lalai. Demikian juga, banyak orang yang
terhilang karena mereka lalai. Mereka kekurangan pengertian akan firman Tuhan.
Atau mereka barangkali telah terhilang karena berita yang tidak benar. Dalam situasi
yang seperti ini, adalah bijaksana bagi para pemimpin atau kita sebagai temannya
untuk pergi dan mencari mereka. Kebenaran akan membebaskan mereka.

Di dalam kasus anak yang hilang, anak itu sendiri telah memilih untuk tersesat. Ini
adalah tindakan yang dipilihnya secara sadar. Ada orang Kristen yang secara sengaja
bertindak menentang firman Tuhan dan kehendak Tuhan. Misalnya, memfitnah,
menggosip, mencuri dan sebagainya. Mereka tahu bahwa hal itu salah tetapi mereka
menyerah untuk berdosa. Lalu pada saat mereka di dalam masalah, mereka merasa
malu atas kesalahan mereka dan menjadi bertobat.

Inilah saatnya dimana kita bergaul kembali dengan mereka karena meskipun mereka
telah mengetahui kebenaran, mereka dengan sengaja menentang Tuhan dengan
memilih jalan mereka sendiri. Doakanlah mereka. Jagalah jarak dengan mereka
karena mereka mungkin akan mempengaruhi saudara untuk melakukan kesalahan
tersebut. Saudara bisa saja hanya bertujuan untuk membawa mereka kembali ke
jalan yang benar, tetapi tanpa sadar saudara menjadi dikuasai oleh sifat dan cara
mereka yang berdosa. Pada akhirnya saudara akan mengkompromikan firman Tuhan.

Saya rasa pengajaran yang terbaik atau sekolah yang terbaik adalah di dalam
“kandang babi”, yang artinya adalah tinggal di dalam situasi yang sangat buruk.
Inilah yang membukakan mata anak yang terhilang, menyadari kesalahannya dan
menyesal atas keadaannya. Ia belajar bahwa dosa itu tidak ada gunanya,
membuatnya menjadi jauh dari bapa, kesenangan duniawi dan dosa itu adalah sia-
sia. Jika dia dulu mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, maka kenikmatan
dosa dan dunia tidak akan menariknya.

Musa memilih untuk mentaati Tuhan yaitu berada bersama umat Allah daripada
disebut anak puteri Firaun dan menikmati kesenangan dosa yang hanya untuk
sementara saja.

Ibrani 11:24-25
24 Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri
Firaun,
25 karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada
untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.

Kenikmatan dosa itu hanyalah sementara. Banyak orang berpikir hal itu
menyenangkan, memuaskan keinginan pribadi. Tetapi tidak untuk selamanya,
karena dosa adalah kesia-siaan. Lihatlah contoh dari anak yang terhilang.
Kesenangan dosa hanyalah untuk sementara saja.

Seringkali dalam penderitaan kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti,
“Mengapa saya tidak bisa mendengarkan suara bapa? Atau mengapa Tuhan tidak
mempedulikan saya dan mengijinkan saya untuk menderita seperti ini?” Tetapi anak
bungsu ini tidak menanyakan hal-hal di atas karena dia tahu bahwa ia tidak dapat
mendengar Tuhan, terlebih lagi ia berada di negeri yang jauh, jauh dari bapanya. Ia
telah dengan sengaja keluar dari perlindungan bapanya dan hidup dalam dosa,
memberontak terhadap hukum Tuhan.

Kasih Bapa adalah Kasih Yang Penuh Kemurahan
Lukas 15:22
Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-ham-banya: Lekaslah bawa ke mari
jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kena-kanlah cincin pada
jarinya dan sepatu pada kakinya.

Allah itu sigap dan penuh kemurahan di dalam memulihkan orang yang benar-benar
bertobat. Memulihkan segalanya yang telah hilang. Mengenakan jubah, memberikan
kehormatan kepada anaknya, melambangkan kasih bapa yang penuh kemurahan di
dalam memulihkan hubungan mereka berdua. Mengenakan cincin,memberikan
otoritas kepada anaknya. Mengenakan sandal, memberikan kebebasan kepada
anaknya. Tuhan itu sigap di dalam memulihkan umatNya.

Anak yang terhilang hanya berharap untuk diperlakukan sebagai salah satu dari
hamba bapanya, tetapi bapanya memperlakukan dirinya tetap sebagai anaknya,
anak kandungnya. Anak itu pun menyadari dirinya.

Seringkali kita tidak mentaati Tuhan, menjauhkan diri dariNya dan berbuat semau
kita. Allah bapa itu baik. Pada saat kita kembali datang ke gereja, kembali balik
kepada rumah Bapa kita, pada saat kita kembali kepada Tuhan, Allah Bapa akan
berlari kepada kita dengan tangan yang terbuka, memeluk kita, mencium pipi kita,
mengenakan jubah, cincin, juga sandal pada kaki kita seraya berkata, “Engkau
bukanlah seorang budak, Aku membawa engkau masuk sebagai anakKu sendiri.”
Amin. Jangan memandang rendah pada diri saudara sendiri, bangunlah sekali lagi.
Katakan kepada diri saudara sendiri, “Saya akan mendaki lagi.”

Sang bapa memulihkan anaknya seutuhnya. Ini berarti Tuhan akan memulihkan kita
secara utuh, maksudnya dalam segala bidang. Saat saudara dipulihkan, harus ada
hubungan juga antara saudara dengan Bapa Surgawi. Tetapi ini berlaku juga bagi
yang lain. Pada saat Tuhan memulihkan mereka, hubungan saudara dengan mereka
juga dipulihkan, dimana saudara dapat bergaul kembali dengan mereka. Sama
seperti saudara mengalami pemulihan dengan Bapa secara utuh, begitu pula saudara
harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk bersekutu kembali dengan
saudara tanpa melihat kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Lukas 15:23
Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita
makan dan bersukacita.

Kemudian ada lembu tambun. Mari kita sembelih. Mari kita makan dan bersukacita.
Lembu tambun melambangkan kemakmuran. Lembu itu mahal, berharga.

Tuhan ingin memberkati kita bukan karena kita menganggap diri kita layak tetapi
karena anugerahNya. Itulah sebabnya ia menyembelih lembu tambun. Seringkali kita
berpikir, “Oh, lihatlah! Saya kembali! Bapa saya memerlukan saya oleh sebab itu ia
menyembelih lembu tambun dan merayakan kembalinya saya.” Bukanlah itu
sebabnya. Ini semua karena anugerahNya di atas kehidupan kita (2 Korintus 8:9).

Pesta dan perayaan yang diadakan melambang-kan persekutuan. Ini berarti ia
dibawa kembali ke dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Pertama-tama,
dipulihkan dengan Tuhan, kemudian pemulihan dengan gereja dan jemaat. Setiap
orang menjadi saksi dari pemulihan dan diterimanya kembali anak yang terhilang itu,
dan setiap orang harus menerimanya (suka atau tidak suka).
Saat Tuhan mengampuni, Ia melupakan dosa itu (Ia melemparkan segala dosa kita
ke dalam tubir-tubir laut - Mikha 7:19b). Ini berarti telah selesai. Ia tidak
memikirkannya lagi. Sekali diampuni, sudah tuntas. Beginilah cara Tuhan
memandang saudara sekarang. Jangan ijinkan kesalahan saudara di masa lalu
menahan saudara untuk maju di dalam Tuhan. Saat Tuhan mengampuni, Ia
melupakannya. Oleh sebab itu, pemulihan total dapat terjadi. Dia seakan-akan
berkata, “Aku telah melupakannya, memberikannya otoritas, dan kemanapun
anakku pergi, ia akan memperlihatkan cincinnya. Kalian lebih baik menerimanya.
Tak seorangpun dapat membicarakan masa lalunya.” Bayangkan, sepuluh menit
yang lalu saudara tidak taat kepada Tuhan, lalu saudara bertobat dan kembali
kepada Tuhan. Tuhan akan berkata, “Aku memberikan engkau cincin ini.” Luar biasa!
Hal ini tidak berarti saudara dapat sengaja berbuat salah terus-menerus dan tidak
ada alasan bagi saudara untuk keluar dari kehendak Tuhan.Kasih Tuhan yang penuh
kemurahan memberitahukan kepada kita betapa Ia rindu untuk mengampuni kita.
Saat kita melangkah keluar dari kehendakNya, Ia merindukan persekutuan kita
denganNya diperbaharui kembali. Oleh karena itu Ia mengampuni, melupakan dan
memulihkan. Ia peduli akan kita. Ia rindu untuk menceritakan isi hatiNya kepada
kita.

Pada waktu kita berada di luar Tuhan, ia selalu menunggu, siap dan sigap
menyambut kita. Perhatikanlah bahwa kita yang harus bertindak terlebih dahulu.
Kuncinya adalah bertobat sesuai dengan firman Tuhan.

Mengapa saya katakan pertobatan yang sesuai dengan firman Tuhan? Karena
banyak orang berkata, “Saya bertobat, saya bertobat!”. Kemudian mereka berbalik
dan terus berjalan di jalan yang salah. Pertobatan yang Alkitabiah ialah, “Tuhan,
saya bertobat. Ampunilah saya. Bantulah saya untuk berjalan di dalam kebenaran
sekali lagi.” Sama seperti anak yang terhilang, yang membalikkan badannya
terhadap dosa dan berjalan menuju bapanya dan Tuhannya.

Kesalahan adalah kesalahan, dosa adalah dosa. Misalnya, saudara menghamili
kekasih saudara dan saudara berkata, “Saya telah berbuat salah. Saya sangat
menyesal. Singkirkanlah!” Air mata atau kata-kata tidak dapat menggantikan atau
menghapuskan semua kesalahan kita, kita tetap harus menghadapi konsekuensi dari
perbuatan kita, tidak ada cara yang lain kecuali pertobatan yang Alkitabiah. Jika
saudara sungguh-sungguh bertobat, berhentilah menghukum diri saudara sendiri
dan berhenti untuk merasa bersalah. Saudara tidak dapat menarik kembali
kesalahan saudara. Tuhanlah yang akan menolong saudara, namun saudara harus
pergi dari negeri yang jauh itu, kehidupan yang penuh dosa, rokok, obat-obatan,
minuman, mengkompromikan firman Tuhan, menipu, berbohong, tidak mengampuni,
perzinahan dan sebagainya. Berjalanlah benar bersama Tuhan.Tuhan sedang
mencoba untuk berkata kepada kita, “Tinggalkanlah negeri yang jauh itu. Jangan
berdiam di sana lagi. Jangan menjauhkan dirimu dariKu. Terang dan kegelapan
adalah dua negeri yang jauh berbeda. Yang satu adalah surga dan yang lainnya
adalah neraka.”

Anak yang terhilang itu meninggalkan negeri yang jauh dan berjalan kepada
bapanya serta mengakui dosa-dosanya. Inilah pertobatan. Saat saudara
meninggalkan yang tidak benar, janganlah berurusan dengan hal itu lagi.
Hentikanlah perbuatan itu. Saat saudara telah sungguh-sungguh bertobat, jangan
ragu-ragu lagi. Saudara sangat berarti bagiNya sekarang. Saudara telah disucikan
oleh darahNya. Saudara berjalan dengan benar bersama Tuhan. Janganlah takut.
Tuhan itu baik.

Saya tidak mengetahui penderitaan dan masalah saudara, tetapi apapun kesalahan
yang saudara perbuat, hentikanlah! Berbaliklah kembali kepada Tuhan dan Tuhan
yang akan menolong saudara. Janganlah bergantung kepada kemampuan atau
kekuatan saudara tetapi kepada kemampuan dan kekuatan Tuhan. Jika saudara
berbalik kembali kepada Tuhan, kembalilah sepenuhnya kepadaNya. Jangan kembali
separuh hati, tetapi sepenuhnya! Inilah cara yang terbaik!

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:34
posted:1/25/2012
language:Indonesian
pages:9
About tagged-basistik.blogspot.com,free-pdf-doc-xls-ppt.blogspot.com,fisika-basistik.blogspot.com,soccers-basistik.blogspot.com,pharaswork.blogspot.com