Embed
Email

RESPONSI GASTROENTEROLOGI

Document Sample

Shared by: Andri W
Categories
Tags
Stats
views:
32
posted:
1/24/2012
language:
pages:
30
RESPONSI GASTROENTEROLOGI

PNEUMOPERITONEUM









Oleh:

Andri Arieska Wicaksana 0610710014

Ajeng Putih Sekarningrum 0610713003

Wan Zafirah binti Wan Yahya 0610710136

Rizqi Amalia Paramitha 0710710086





Pembimbing:

dr. Supriono, SpPD KGEH









LABORATORIUM / SMF ILMU PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. SAIFUL ANWAR MALANG

2011









i

KATA PENGANTAR









Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Ta’ala Yang Maha

Pengasih dan Maha Penyayang. Hanya dengan rahmat serta petunjuk-Nya,

penulisan makalah dengan judul : ―Pneumoperitonium‖ ini dapat diselesaikan.



Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah

Ilmu Penyakit Dalam. Dengan selesainya makalah ini, penulis mengucapkan

terima kasih kepada dr. Supriono, SpPD-KGEHSIM yang telah memberikan

bimbingan penulisan makalah ini.



Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,

untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga

referat ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi

pembaca.









Desember, 2011









Penulis









ii

DAFTAR ISI









KATA PENGANTAR ........................................................................................... 3i



DAFTAR ISI ......................................................................................................... 3



BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................................... 1



BAB 2 TINJAUAN PUSTAkA ............................................................................... 3



2.1 Definisi ....................................................................................................... 3



2.2 Anatomi...................................................................................................... 4



2.3 Etiologi ...................................................................................................... 5



2.4 Manifestasi Klinis ....................................................................................... 8



2.5 Diagnosis ................................................................................................... 9



2.6 Tatalaksana dan Prognosis ...................................................................... 12



2.7 Diagnosis Banding ................................................................................... 12



BAB 3 LAPORAN KASUS ................................................................................. 13



3.1 Identitas Pasien ....................................................................................... 13



3.2 Anamnesis ............................................................................................... 13



3.3 Pemeriksaan Fisik .................................................................................... 16



3.4 Pemeriksaan Penunjang .......................................................................... 19



3.5 Problem dan Diagnosis ............................................................................ 21



3.6 Terapi ...................................................................................................... 22



BAB 4 PEMBAHASAN ....................................................................................... 23



BAB 5 KESIMPULAN ........................................................................................ 27



DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 28









3

BAB I

PENDAHULUAN





Istilah akut abdomen merupakan tanda dan gejala yang disebabkan penyakit

intra abdominal dan biasanya membutuhkan terapi pembedahan. Banyak

penyakit yang menimbulkan gejala di perut, beberapa di antaranya tidak

memerlukan terapi pembedahan, sehingga evaluasi pasien dengan nyeri

abdomen harus cermat dan tepat. Manajemen yang benar dari pasien dengan

akut abdomen memerlukan keputusan yang tepat terkait dengan waktu tentang

perlunya untuk melakukan operasi pembedahan. Keputusan ini membutuhkan

evaluasi dari riwayat pasien, pemeriksaan fisik, data laboratorium, dan tes

pencitraan. Sindrom acute abdominal pain menyebabkan sejumlah besar

kunjungan ke rumah sakit dan dapat terjadi pada mereka yang sangat muda,

sangat tua, laki-laki maupun perempuan, dan semua tingkatan sosio ekonomi

(Brewer BJ, Golden GT,1999).

Semua pasien dengan nyeri abdomen harus menjalani evaluasi untuk

menegakkan diagnosis sehingga pengobatan tepat waktu dan dapat mengurangi

morbiditas dan mortalitas. Kasus abdominal pain tercatat 5% sampai 10% dari

semua kunjungan gawat darurat atau 5 sampai 10 juta pasien di Amerika Serikat

(Graff LG, Robinson D, 2001). Studi lain menunjukkan bahwa 25% dari pasien

yang datang ke gawat darurat mengeluh nyeri perut (Cordell WH et all, 2002).

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di

rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan

utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa

tindakan bedah, misalnya pada perforasi, perdarahan intraabdomen, infeksi,

obstruksi dan strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang

mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga

terjadilah peritonitis (Arief, 2000).

Peradangan peritoneum merupakan komplikasi berbahaya yang sering

terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya

apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna,

komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen (Arief

dkk, 2000).

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena

setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan







4

morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya

tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis,

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Arief dkk, 2000).

Pada responsi ini akan dibahas mengenai pneumoperitoneum dan

penatalaksanaanya serta kesesuaian teori dengan data yang didapatkan dari

pasien dengan tanda-tanda pneumoperitoneum. Dengan demikian diharapkan

dapat menambah pengetahuan mengenai pneumoperitoneum dan

penatalaksanaannya.









5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA





2.1 Definisi

Pneumoperitoneum adalah adanya udara bebas dalam ruang peritoneum

yang biasanya terkait dengan perforasi dari usus kecil. Namun, setiap viskus

berlubang dapat menyebabkan terjadinya pneumoperitoneum. Penyebab paling

umum dari pneumoperitoneum adalah perforasi saluran pencernaan yaitu lebih

dari 90%. Perforasi dari lambung atau duodenum yang disebabkan oleh ulkus

peptikum dianggap penyebab paling umum dari pneumoperitoneum.

Pneumoperitoneum juga dapat diakibatkan karena pecahnya divertikular atau

trauma abdomen. Ini biasanya muncul dengan tanda-tanda dan gejala peritonitis,

dan adanya gas subphrenic dalam radiograf dada tegak adalah temuan

radiologis yang paling umum. Dalam kebanyakan kasus, pneumoperitoneum

memerlukan eksplorasi bedah mendesak dan intervensi dengan segera (Breen,

2008).

Cara terbaik untuk mendiagnosis udara bebas adalah dengan cara

pencitraan radiograf dada tegak. Udara akan terlihat tepat di bawah

hemidiaphragma, sela antara diafragma dan hati. Jika sebuah ereksi film tidak

dapat dilakukan, maka pasien ditempatkan di sisi kanan posisi dekubitus dan

udara dapat dilihat sela antara hati dan dinding perut. Radiografi polos, jika benar

dilakukan, dapat mendiagnosa jumlah yang sangat kecil dari udara bebas.

Computed tomography bahkan lebih sensitif dalam diagnosis

pneumoperitoneum. CT dianggap sebagai standar kriteria dalam penilaian

pneumoperitoneum. CT dapat memvisualisasikan jumlah sekecil 5 cm³ udara

atau gas (Wikipedia, 2011).









6

Gambar 1: gambaran pneumoperitoneum dengan plain film





2.2 Anatomi

Rongga peritoneum besar tetapi dibagi ke beberapa kompartemen

Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks

(Harrison, 2000).

Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial.

Pada permulaan, mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu

coelom. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding

enteron. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Kedua rongga mesoderm,

dorsal dan ventral usus saling mendekat, sehingga mesoderm tersebut kemudian

menjadi peritonium. (Arif dkk., 2000)

Lapisan peritonium dibagi menjadi 3, yaitu: (Arif dkk., 2000)

1. Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis

(tunika serosa).

2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina

parietalis.

3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina

parietalis.

Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale

mendekati peritoneum dorsale, terjadi perlekatan. Tetapi, tidak semua tempat

terjadi perlekatan. Akibat perlekatan ini, ada bagian-bagian usus yang tidak

mempunyai alat-alat penggantung lagi, dan sekarang terletak disebelah dorsal

peritonium sehingga disebut retroperitoneal. Bagian-bagian yang masih





7

mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk

oleh peritoneum parietale, disebut terletak intraperitoneal. Rongga tersebut

disebut cavum peritonei dengan demikian: (Arif dkk., 2000)

1. Duodenum terletak retroperitoneal;

2. Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung

mesenterium;

3. Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal;

4. Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat

penggantung disebut mesocolon transversum;

5. Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung

mesosigmoideum; cecum terletak intraperitoneal;

6. Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung

mesenterium.





2.3 Etiologi

Penyebab utama terjadinya pneumoperitoneum adalah:

1. Ruptur viskus berongga (yaitu perforasi ulkus peptikum, necrotizing

enterocolitis, megakolon toksik, penyakit usus inflamasi)

2. Faktor iatrogenik (yaitu pembedahan perut terakhir, trauma abdomen,

perforasi endoskopi, dialisis peritoneal, paracentesis)

3. Infeksi rongga peritoneum dengan organisme membentuk gas dan

atau pecahnya abses yang berdekatan

4. Pneumatosis intestinalis





Tabel1: Penyebab pneumoperitoneum (Barry D, 1991)

A. Pneumoperitoneum dengan - Perforated viskus

peritonitis - Necrotizing enterocolitis

- Infark usus

- Cedera perut





B. Pneumoperitoneum tanpa 1. Thoracic

peritonitis - Ventilasi tekanan positif

- Pneumomediastinum/pneumotoraks

- Penyakit saluran napas obstruktif

kronik







8

- Asma

2. Abdomen

- Pasca laparotomi

- Pneumatosis cystoides coli/

intestinalis

- Divertikulosis jejunum

- Endoskopi

- Paracentesis/peritoneal dialisis /

laparoskopi

- Transplantasi sumsum tulang

3. Female pelvis

- Instrumentasi (mis.

hysterosalpingography,Uji Rubin)

- Pemeriksaan panggul (esp. post-

partum)

- Post-partum

- Oro-genital intercourse

- Vagina douching

- Senggama









9

Tabel 2: Penyebab Pneumoperitoneum









10

Tabel 3: karakteristik pasien dan penyebab Pneumoperitoneum









2.4 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis tergantung pada penyebab pneumoperitoneum.

Penyebab yang ringan biasanya gejalanya asimtomatik, tetapi pasien mungkin

mengalami nyeri perut samar akibat perforasi viskus perut, tergantung pada

perkembangan selanjutnya bisa berupa peritonitis.. Tanda dan gejala berbagai

penyebab perforasi peritoneum mungkin seperti kaku perut, tidak ada bising

usus, nyeri epigastrium atau jatuh pada kondisi shock yang parah (Phillips,

2006).

Tabel 4: Klasifikasi klinik pada pasien dengan Immune deficiency

Kelompok 1: Mild-to-moderate immune deficiency

- Populasi pasien:

1. Elderly

2. Malnourished

3. Diabetic

4. Anergic

5. Uremic

6. Malignancy, not on chemotherapy

7. Transplant

8. On maintenance therapy

9. AIDS

10. CD4+ count > 200/mm3

- Surgical problems—usual

- Presentation—seek attention late



Group II. Severe immune deficiency

- Patient population





11

1. AIDS

2. CD4+ count < 200/mm3

- Transplant

1. Treated with OKT3

2. High-dose steroids

- Malignancy

1. Induction chemotherapy

2. Neutrophil count <1,000/mm3

- Surgical problems—unusual problems

- Presentation—Seek attention late

- Sepsis

- Differential diagnosis includes some nonsurgical problems unique to

this patient population





2.5 Diagnosis

Temuan gas bebas intraperitoneal biasanya diasosiasikan dengan

perforasi dari viskus berongga dan membutuhkan intervensi bedah dengan

segera. Riwayat menyeluruh dan pemeriksaan fisik tetap yang paling penting

dalam menegakkan diagnosa pneumoperitoneum. Jadi operasi yang tidak perlu

dapat dihindari (Penninckx, 2003).

Radiografi foto thoraks atau abdomen adalah pemeriksaan pencitraan

yang paling umum untuk diagnosis bahkan bias menampakkan jumlah yang

sangat kecil dari udara bebas intraperitoneal, namun CT abdomen adalah

metode yang lebih sensitif untuk mendiagnosa pneumoperitoneum dan

mengidentifikasi penyebab dari acute abdomen. Selain itu, teknologi modern

dengan CT multidetektor sangat akurat untuk memprediksi lokasi perforasi

saluran GI (Pitiakoudis et al, 2011).

Radiografi yang optimal sangat penting bila dicurigai adanya perforasi

perut. Idealnya, harus ada supine abdominal, erect chest and abdomen, dan left

lateral decubitus image. 1 mL gas bebas dapat dideteksi pada radiograf foto

thoraks. Gambar kiri lateral decubitus dapat menunjukkan sejumlah kecil udara

bebas di abdomen. Dengan gambar kiri lateral dekubitus, teknik yang tepat

adalah pasien berbaring pada sisi kiri selama 10 menit sebelum film diambil

dalam posisi tegak yang akan menunjukkan udara subdiaphragmatic (Phillip,

2006).

Pada film, mungkin ada banyak temuan yang menunjukkan

pneumoperitoneum. Tanda-tanda pneumoperitoneum besar meliputi:

1. Football sign : Dilihat sebagai udara yang menguraikan seluruh kavitas

perut.







12

2. Rigler sign (juga dikenal sebagai tanda gas dan tanda dinding ganda):

Visualisasi dari dinding luar dari usus loop yang disebabkan oleh gas luar

loop usus dan gas intraluminal yang normal.

3. Urachus sign : udara menguraikan urachus, yang merupakan refleksi sisa

peritoneal sisa yang tidak biasanya terlihat pada radiografi.

4. Telltale triangle sign: Segitiga kantong udara antara dua loop dari usus

dan dinding perut.

Radiografi abdomen dapat diperlukan untuk mendiagnosa dan mengelola

pasien namun tidak seakurat CT. Ultrasound dan pencitraan CT dapat membantu

dalam pengaturan darurat. Keduanya juga dapat dimanfaatkan sebagai

pencitraan lebih lanjut untuk mengevaluasi kondisi yang mendasarinya. Kontras

studi usus dapat membantu dalam rangka untuk mengkonfirmasi perforasi pada

saluran pencernaan.









Gambar 2: Bowel perforation / Pneumoperitoneum









13

Gambar 3: Large Pneumoperitoneum









Gambar 4: Massive football sign









14

Gambar 5: Appearance of free air in CT abdomen,

Bowel perforation / Pneumoperitoneum





2.6 Tatalaksana dan Prognosis

Prinsip tatalaksana dan prognosis tergantung dari penyebab utamanya.

Ketika seorang pasien memiliki pneumoperitoneum, langkah pertama dalam

pengobatan adalah mencari tahu mengapa, dalam rangka untuk

mengembangkan pendekatan pengobatan yang tepat. Ini mungkin membutuhkan

tes diagnostik tambahan bersama dengan wawancara pasien. Dalam beberapa

kasus, pengobatan konservatif adalah program yang paling masuk akal, dengan

dokter menunggu dan melihat pendekatan untuk melihat apakah tubuh pasien

mampu menghilangkan gas sendiri. Jika pneumoperitoneum adalah komplikasi

dari infeksi, maka operasi untuk memperbaiki masalah ini diperlukan secepat

mungkin. Perforasi dan infeksi dengan cepat dapat menyebabkan kematian

dengan segera (Pitiakoudis et al, 2011).





2.7 Diagnosis Banding

Abses Subphrenic, adanya sela usus antara diafragma dan hati (Chilaiditi

sindrom), dan linier atelektasis di dasar paru-paru dapat mensimulasikan udara

bebas di bawah diafragma pada sinar-X dada (Wikipedia, 2011).









15

BAB III

LAPORAN KASUS





3.1 Identitas Pasien

Nama : Ny. Anis Susanti

Jenis Kelamin : Wanita

Umur : 24 tahun

Alamat : Ds. Ampeldento RT 3/1 Pakis, Malang

Pekerjaan : Swasta (bekerja di pabrik rokok)

Status : Kawin

Etnis/Suku : Jawa

Agama : Islam

MRS : 10 Oktober 2011





3.2 Anamnesis

Keluhan utama: nyeri perut



- Pasien mengeluhkan nyeri perut sejak 2 minggu yang lalu, namun nyeri

memberat 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri perut yang dirasakan,

terasa tajam, seperti ditusuk-tusuk dan intermiten. Nyeri dirasakan

diseluruh bagian perut. Pasien merasakan nyeri membaik jika pasien

menekuk kedua kakinya.

- Nyeri yang pertama kali dirasakan oleh pasien ketika pasien melakukan

operasi apendiktomi sekitar 8 bulan yang lalu (12 Pebruari 2011). Pasien

pergi ke dokter bedah dan dilakukan tindakan operasi. Operasinya

dinyatakan berhasil. Namun setelah operasi 1 bulan yang lalu, pasien

masih merasakan nyeri diperutnya. Perut nyeri seperti ditusuk-tusuk dan

hilang timbul, kemudian pasien kontrol ke poli bedah dan disarankan untuk

makan dan minum yang cukup. Bulan Mei 2011 nyeri dirasakan mulai

timbul kembali dan pasien hanya berobat ke mantri. Pasien diberi

beberapa obat untuk mengatasi nyeri di perutnya, namun pasien tidak tahu

nama obatnya.

- Pasien juga mengeluhkan berat badannya menurun sejak Pebruari 2011

karena pasien kehilangan selera makannya. Setiap hari pasien hanya

makan sedikit @2-3 sendok makan. Berat badan pasien menurun dari 45kg

menjadi 25kg. Kemudian pasien tidak mau makan sejak 4 hari sebelum





16

masuk rumah sakit ini.

- Tidak ada riwayat batuk kronis dan demam.

- Pasien juga sering merasakan nyeri pada otot dan nyeri pada sendi sejak

6 bulan yang lalu, tapi pasien tidak pernah pergi ke dokter untuk keluhan

ini. Kulit memerah setelah terkena sinar matahari disangkal, silau disangkal

- Pasien bekerja di pabrik rokok sejak 3 tahun yang lalu sebelum sakit.

Sebelumnya pasien bekerja di pabrik konversi.

- Suami pasien adalah seorang pekerja bangunan, pasien masih belum

mempunyai anak dan baru menikah 3 tahun yang lalu. Riwayat free sex

disangkal.

Review of Systems

Umum Lelah + Abdomen Nafsu makan Menurun

Penurunan + Anoreksia +

BB

Demam - Mual +

Menggigil - Muntah +

Berkeringat + Perdarahan -

Kulit Rash - Melena -

Gatal - Nyeri -

Luka - Diare -

Tumor - Konstipasi -

Kepala/ Sakit pusing BAB Normal

Leher

Nyeri - Hemoroid -

Kaku Leher - Hernia -

Trauma - Ginekologi Perdarahan -

Telinga Pendengaran Dbn Spotting -

Infeksi - Sekret -

Nyeri - Gatal -

Benjolan - Penyakit -

Kelamin

Mulut & Nyeri - Kontrasepsi -

Tenggorokan Kering + Menarche Saat SD

Suara serak - Siklus Haid -









17

Sulit menelan - Menopause -

Sakit saat - Kehamilan Anak 1

menelan

Gusi - Prematur -

Infeksi - Abortus -

Pernafasan Batuk - Pap Smear -

Riak - Ginjal dan Disuria -

Nyeri - saluran kencing Hematuria -

Mengi - Inkontinensia -

Sesak nafas + Nokturia -

Hemoptisis - Frekuensi Normal

Pneumonia - Hematologi Anemia +

Nyeri Pleuritik - Perdarahan -

Tuberkulosis - Endokrin Diabetes -

Payudara Sekret - Penurunan +

BB

Nyeri - Goiter -

Benjolan - Toleransi -

terhadap

suhu

Perdarahan - Asupan Kurang

cairan

Infeksi - Muskuloskeletal Trauma -

Jantung Angina - Nyeri -

Sesak nafas + Kaku -

Orthopnea - Bengkak -

PND - Merah -

Edema - Nyeri -

punggung

Murmur - Kram -

Palpitasi - Sistem Syaraf Sinkop -

Infark - Kejang -

Hipertensi - Tremor -

Vaskuler Klaudikasio - Nyeri -







18

Flebitis - Sensorik Normal

Ulkus - Tenaga Lemas

Arteritis - Daya ingat Normal

Vena - Emosi Kecemasan -

Varikose Tidur Terganggu

Depresi -







3.3 Pemeriksaan Fisik

Deskripsi Umum

Kesan sakit: Tampak sakit berat

Gizi: Kesan gizi sangat kurang

Berat badan: 25kg Tinggi badan: 150cm IMT: 11.11 kg/m2

Tanda Vital:

Kesadaran: Compos Mentis, GCS 456

Tekanan darah: 100/70 mmHg

Nadi: 110x/menit

Tax: 39,5oC

Pernafasan: 26x/menit

KULIT

Inspeksi: pigmentasi, tekstur, turgor, Ikterus (-)

rash, luka, infeksi, ptechiae, hematom, Tumor (-), ptechiae (-), rambut lurus

ekskoriasi, ikterus, kuku, rambut. sebahu

Palpasi: nodul, atrofi, sklerosis

KEPALA DAN LEHER

Inspeksi: bentuk kepala, sikatrik, Normocephali, pucat (+) , bengkak (-)

pembengkakan. Pembesaran KGB (-)

Palpasi: kelenjar limfe,

pembengkakakan, nyeri tekan, tiroid,

trakea, pulsasi vena.

Auskultasi: bruit JVP R+0cm H2O (30o)

Pemeriksaan: JVP, kaku kuduk

TELINGA

Inspeksi: serumen, infeksi, membrane Serumen (+/+)

timpani, tophi Infeksi (-/-)







19

Palpasi: mastoid, massa Massa (-)

HIDUNG

Inspeksi: septum, mukosa, sekret, Septum deviasi di tengah, sekret (-),

perdarahan, polip pedarahan (-), polip (-)

Palpasi: nyeri Nyeri (-)

RONGGA MULUT DAN TENGGOROKAN

Inspeksi: pigmentasi, leukoplakia, Leukoplakia (-), ulkus (-), tumor (-),

ulkus, tumor, gusi, gigi, infeksi, lidah, infeksi (-). Tonsil T2/T2, atrofi papil

faring, tonsil lidah.

Palpasi: nyeri, tumor, kelenjar ludah

Nyeri (-), tumor (-)

MATA

Inspeksi: ptosis, sclera, ikterus, pucat, Ptosis (-), sclera icteric (-/-),

kornea, arkus, merah, infeksi, air mata, konjungtiva pucat (+/+). Tumor (-).

tumor, perdarahan, pupil (kanan/kiri), Perdarahan (-). Pupil isokhor.

lapangan pandang

Palpasi: tonometri (kanan/kiri) Tidak dilakukan

Funduskopi: (kanan/kiri) Tidak dilakukan

TORAKS (PULMO)

Inspeksi: simetri, gerakan, respirasi, Simetris, ritmis

irama, payudara, tumor Simetris, SF D=S

Palpasi: gerakan, fremitus fokal ss v v rh - - wh - -

Perkusi: resonansi ss vv -- --

Auskultasi: suara nafas, rales, ronkhi, s s vv -- --

wheezing, bronkofoni, pectoriloquy

JANTUNG

Inspeksi: iktus Iktus visible

Palpasi: iktus, thrill ictus visible, palpable @ ICS IV MCL

Perkusi: batas kiri, batas kanan, (S)

pinggang jantung RHM~SL(D) LHM~ictus

Auskultasi: denyut jantung (frekuensi, S1S2 single, murmur (-)

irama) S1, S2, S3, S4, gallop, murmur,

ejection click, friction rub

ABDOMEN

Inspeksi: kontur, striae, sikatrik, vena Flat





20

caput medusa, hernia Defance muscular (+)

Auskultasi: peristaltic usus, bruit, rub Bising usus (-)

Palpasi: nyeri, defans/rigiditas, massa, Abdomen sulit dievaluasi

hernia, hati, limpa, ginjal

Perkusi: resonansi, shifting dullness,

undulasi

PUNGGUNG

Inspeksi: postur, mobilitas, skoliosis, Dalam batas normal

kifosis, lordosis Nyeri (-), tidak teraba adanya tumor

Palpasi: nyeri, gybus, tumor

EKSTREMITAS

Inspeksi: gerak sendi, pembengkakan, edema - -

merah, deformitas, simetri, edema, - -

sianosis, pucat, ulkus, varises, kuku Akral dingin

Palpasi: panas, nyeri, massa, edema,

denyut nadi perifer

ALAT KELAMIN

Perempuan: introitus, vagina, serviks, Tidak diperiksa

uterus, adneksa, nyeri, tumor

Laki-laki: penis, scrotum, nyeri, tumor Tidak diperiksa

REKTUM

Hemoroid, fisura, kondiloma, darah, Tidak diperiksa

sfingter ani, massa, prostat

NEUROLOGI

Berdiri, gaya jalan, tremor, koordinasi, Dalam batas normal

kelemahan, flaksid, paralitik, fasikulasi,

syaraf kranial, refleks fisiologis, refleks

patologis

BICARA

Disartria, apraxia, afasia Tidak ditemukan kelainan









21

3.4 Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium:

Tanggal 10 Oktober 2011

Darah Lengkap:

Leukosit: 3.400µL (3.500-10.000 µL)

Hb: 8,8 g/dL (11,0-16,5 g/dl)

Hematokrit: 25,6% (35-50%)

Thrombosit: 89.000/mm3 (150.000-390.000/mm3)

MCV: 72 (80-97)

MCH: 24,8 (26,5-33,5)

Ureum: 42,9 mg/dL (10-50 mg/dL)

Creatinine 0,41mg/dL (0,7-1,5 mg/dL)

CRP: 18,93

Natrium: 119mmol/l (136-145 mmol/l)

Kalium: 4,27mmol/l (3,5-5,0mmol/l)

Chlorida: 100mmol/l (98-106mmol/l)

RBS: 79mg/dl (<200mg/dl)

SGOT: 150 U/L (11-41 U/L)

SGPT: 39 U/L (10-41 U/L)

PPT: 15,9 (Kontrol 11,8)

aPTT: 91,4 (Kontrol 27,5)

Urinalisis:

SG: 1.010

pH: 7.0

eritrosit: 5+

10x epitel (+)

40x eritrosit: 2-3

Lekosit: 0-1

BGA:

Suhu: 37,8ºC

pH: 7,399

pCO2: 29,3 mmHg

pO2: 96,3 mmHg

HCO3: 18,1 mmol/l

O2 sat: 94,2%







22

BE: -6,7mmol/l

CXR:









- Foto posisi AP, asimetris, KV kuat, inspirasi kurang, trachea di

tengah, soft tissue tipis, bone normal. Hemidiaphragm D dome

shape, S terpotong oleh film, sudut costophrenicus D tajam, S

terpotong oleh film.

- Pulmo : peningkatan corakan bronchovaskular, tidak ada infiltrate

- Cor letak normal, cardiac waist (+), CTR <50 %.

- Kesimpulan : normal

BNO 2 posisi:









23

3.5 Problem dan Diagnosis

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

Pasien pada kasus ini dengan problem list abdominal pain yang dicurigai

sebagai acute abdomen due to peritonitis yang menyebabkan manifestasi klinis

berupa nyeri menyeluruh pada semua lapang abdomen sejak 4 hari sebelum

masuk rumah sakit, nyeri perut yang dirasakan terasa tajam, seperti ditusuk-

tusuk dan intermiten. Nyeri perut ini sebelumnya sudah pernah dirasakan oleh

pasien saat pasien melakukan operasi apendiktomi sekitar 8 bulan yang lalu (12

Pebruari 2011). Pasien pergi ke dokter bedah dan dilakukan tindakan operasi.

Namun setelah operasi 1 bulan yang lalu, pasien masih merasakan nyeri

diperutnya muncul kembali. Perut nyeri seperti ditusuk-tusuk dan hilang timbul,

Bulan Mei 2011 nyeri dirasakan mulai timbul kembali dan pasien hanya berobat

ke mantri. Pasien diberi beberapa obat untuk mengatasi nyeri di perutnya, namun

pasien tidak tahu nama obatnya. Dari pemeriksaan fisik didapatkan abdomen

yang flat, defance muscular (+), bising usus menghilang dan abdomen sulit untuk

dievaluasi.

Selain itu, pada pasien ini juga ditemukan penurunan berat badan

sebanyak 20kg dalam waktu 2 bulan terakhir, serta didapatkan nyeri pada sendi

dan otot. Pasien juga kehilangan selera nafsu makan beberapa bulan terakhir ini.

Dari pemeriksaan laboratorium juga didapatkan penurunan kadar leukosit dan

trombosit, serta didapatkan anemia hipokrom mikrositer. Dalam hal ini,







24

berdasarkan temuan yang didapatkan, pasien mengalami keadaan

imunocompromised state yang mungkin bisa disebabkan karena kecurigaan

terhadap B24 atau malnutrisi, melihat dari keluhan yang disampaikan oleh

pasien.

Dari pemeriksaan laboratorium, kami juga mendapatkan adanya

penurunan lekosit, hemoglobin, hematokrit, dan trombosit, serta adanya

pemanjangan factor pembekuan, sehingga bisa disimpulkan pada pasien ini

terjadi pansitopenia. Kadar natrium yang rendah serta kadar gula darah yang

rendah yang ditemukan pada pasien ini bisa disebabkan karena intake makanan

yang kurang, sementara pasien juga mengalami beberapa kali muntah.









3.6 Terapi

Selama MRS di RSSA mulai 10 Oktober hingga 11 Oktober 2011,

penatalaksanaan yang telah dilakukan pada pasien berupa :

- IVFD NS 0,9%: D5 %  20 tpm

- Insert NGT

- Puasa

- Gastric lavage/8jam 3 kali bersih mulai diet cair 6x200cc

- Konsul departemen bedah cito

- Inj. Ceftriaxone 2x1g iv

- Inj. Metoclopramide 3x10 mg iv

- Transfusion FFP 500cc

- Dopamine 5-15µ/kgBB/menit dalam 100cc NS 0,9%  dimulai dalam 5 tetes

mikro/menit dilanjutkan 2 tetes mikro/menit tiap 15 menit, bila MAP tidak

tercapai target maksimal 20 tpm.









25

BAB IV

PEMBAHASAN





Berikut ini adalah temuan dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan

laboratoris hasil analisa kasus yang kami bandingkan sesuai dengan landasan

teori.

Pada pasien yang dilaporkan, dari anamnesa didapatkan bahwa pasien

datang dengan keluhan utama nyeri perut. nyeri perut sejak 2 minggu yang lalu,

namun nyeri memberat 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri perut yang

dirasakan, terasa tajam, seperti ditusuk-tusuk dan intermiten. Keluhan berat yang

dirasakan pasien ini mengarahkan kepada diagnosa peritonitis yaitu pasien

merasa nyeri perut tajam, seperti ditusuk-tusuk yang intermiten.

Dari kasus ini kami dapatkan pasien dengan gejala peritonitis tetapi

setelaj dilakukan pemeriksaan radiologis didapatkan gambaran

penumoperitoneum. Teori menyebutkan manifestasi klinis yang muncul

tergantung pada penyebab pneumoperitoneum. Penyebab yang ringan biasanya

gejalanya asimtomatik, tetapi pasien mungkin mengalami nyeri perut samar

akibat perforasi viskus perut, tergantung pada perkembangan selanjutnya bisa

berupa peritonitis.

D iagnosis pneumoperitoneum ditegakkan dari gambaran radiografis.

Cara terbaik untuk mendiagnosis udara bebas adalah dengan cara pencitraan

radiograf dada tegak. Udara akan terlihat tepat di bawah hemidiaphragma, sela

antara diafragma dan hati. Pada pasien ini ereksi film tidak dapat dilakukan,

maka pasien ditempatkan di sisi kanan posisi dekubitus dan udara dapat dilihat

antara sela hati dan dinding perut..Temuan pada pasien kami pada foto polos

abdomen menunjukkan gambaran udara pada abdomen seperti gambaran

Rigler’s sign, football sign dan Tell tale sign yang menunjang diagnosa

Pneumoperitoeum. (Phillip, 2006).

Tanda dan gejala berbagai penyebab perforasi peritoneum mungkin

seperti kaku perut, tidak ada bising usus, nyeri epigastrium atau jatuh pada

kondisi shock yang parah (Phillips, 2006). Adanya darah atau cairan dalam

rongga peritonium akan memberikan tanda–tanda rangsangan peritonium.

Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak

hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus

menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Hal ini sesuai







26

dengan keluhan dan gejala yang ditemukan pada pasien. Pada pasien ini

ditemukan dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu tubuh yang meningkat,

tekanan darah menurun serta takikardi, selain itu ditemukan pula defance

muscular yang positif, serta bising usus menghilang. Menurut teori yang ada,

tanda-tanda peritonitis relatif sama dengan infeksi berat lainnya, yakni demam

tinggi, atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi,

hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum

maximum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa

tegang, biasanya karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar

untuk menghindari palpasi yang menyakitkan, atau bisa juga memang tegang

karena iritasi peritoneum. Nyeri ini kadang samar dengan nyeri akibat apendisitis

yang biasanya di bagian kanan perut, atau kadang samar juga dengan nyeri

akibat abses yang terlokalisasi dengan baik (Farmacia, 2007).

Dari riwayat penyakit yang dialami oleh pasien yaitu, ketika pasien

melakukan operasi apendiktomi sekitar 8 bulan yang lalu (12 Pebruari 2011).

Pasien pergi ke dokter bedah dan dilakukan tindakan operasi. Operasinya

dinyatakan berhasil. Namun 1 bulan setelah operasi, pasien masih merasakan

nyeri menetap diperutnya. Dijelaskan pada beberapa pustaka bahwa infeksi

peritonitis relatif sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang

mendasarinya. Penyebab utama peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis

(SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Penyebab lain yang menyebabkan

peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis, perforasi ulkus peptikum dan

duodenum, perforasi kolon akibat divertikulitis, volvulus, atau kanker, dan

strangulasi kolon asendens. Sesudah operasi, abdomen efektif untuk etiologi

noninfeksi, insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi)

seharusnya kurang dari 2%. Operasi untuk penyakit inflamasi (mis. apendisitis,

divetikulitis, kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya

peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Risiko ini dapat meningkat hingga

lebih dari 50% pada penyakit kolon gangren dan perforasi viseral. Setelah

operasi trauma abdomen juga dapat mengakibatkan peritonitis sekunder dan

abses. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses juga makin tinggi dengan

adanya keterlibatan duodenum, pankreas, perforasi kolon, kontaminsai

peritoneal, syok perioperatif, dan transfusi yang massif (Farmacia, 2007).

Peradangan yang menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan

membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat







27

dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai

mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius,

sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ.

Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan

elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya

meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia (De

Jong dkk., 1999).

Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut

meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh

menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi (De Jong dkk., 1999). Bila

bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila

infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan

peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik usus

kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam

lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria.

Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan

dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus

(De Jong dkk., 1999).

Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi,

keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi. Dari riwayat yang

ditemukan pada pasien, pasien mengalami penurunan berat badan sebanyak

20kg dalam waktu 2 bulan terakhir ini. Teori menjelaskan bahwa peritonitis

bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat

malam, kelemahan, penurunan berat badan, dan distensi abdominal, sedang

peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang

hebat, demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul (De Jong

dkk., 1999). Tanda-tanda peritonitis tuberkulosa tidak kami temukan pada pasien

ini.

Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang

yang dilakukan secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi

saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan

fokus septik (apendiks, dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin

mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri (De Jong

dkk., 1999).









28

BAB 5

KESIMPULAN





Kesimpulan yang kami dapatkan dari pasien ini adalah Pasien Ny. Anis,

berusia 24 tahun dari temuan klinis dan pemeriksaan penunjang kami dapatkan

diagnosa Pneumoperitoneum yang dicuragai akibat peritonitis. Faktor resiko

pada pasien ini yang kami dapatkan antaranya termasuk riwayat operasi

appendicitis 8 bulan yang lalu, namun sakitnya masih belum berkurang setelah 1

bulan post operasi dan menetap hingga sekarang. Selain itu, factor resiko lain

untuk terjadinya peritonitis pada pasien ini termasuk malnutrisi berat.

Peritonitis adalah peristiwa yang mengancam jiwa yang sering disertai

dengan sindrom bakteremia dan sepsis (Harrison, 2000). Ketepatan diagnosis

dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada

data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Keputusan

untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap

keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan

morbiditas dan mortalitas. (De Jong dkk.,1999)









29

DAFTAR PUSTAKA





1. Arif Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W.I., dkk. (2000). Kapita selekta

kedokteran jilid 2 edisi ketiga (pp 240-252). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

2. Barry D. Daly,' J. Ashley Guthrie' and Neville F. Couse2 Departments of

'Radiology and 2Surgery, St James's University Hospital, Beckett

Street,Leeds LS9 7TF, UK

3. Breen ME, Dorfman M, Chan SB: Pneumoperitoneum without peritonitis: a

case report. Am J Emerg Med 2008, 26:841. e1-2

4. Dan L. Longo, Anthony S. Fauci, Dennis L. Kasper, Stephen L. Hauser, J.

Larry Jameson, Joseph Loscalzo, Eds. 2008. Harrison’s Principle of Internal

Medicine 17th Edition. USA : The McGraw-Hill Companies.

5. De Jong dkk. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta : ECG

6. Dr Phillip Silberberg. 2006. Pneumoperitoneum. Kosair Children's Hospital

Hospital, Radiologist, Kosair Children's Hospital, Kentucky, USA.

7. Journal of Medical Case Reports 2011, 5:86 doi:10.1186/1752-1947-5-86.

2011 Pitiakoudis et al; licensee BioMed Central Ltd

8. K. Derveaux, F Penninckx, department of abdominal surgery, Gasthuisberg

university clinics , catholic university leuven belgia, 2007

9. Khan AN. 2011. Pneumoperitoneum Imaging.

http://emedicine.medscape.com/article/372053-overview#showall

10. Michigan State University.

http://www.rad.msu.edu/education/courseInfo/chm_Domain/plain/pneumope.

htm

11. Richard A. Mularski, Md; Michael L. Ciccolo, Md; And William D. Rappaport,

Md; Tucson, Arizona (Mularski RA, Ciccolo ML, Rappaport WD. Nonsurgical

causes of pneumoperitoneum. West J Med 1999; 170:41-46)









30


Related docs
Other docs by Andri W
RESPONSI GASTROENTEROLOGI
Views: 32  |  Downloads: 0