Docstoc

Contoh Makalah Bahasa indonesia

Document Sample
Contoh Makalah Bahasa indonesia Powered By Docstoc
					               Lahirnya Bahasa Indonesia
Sebagaimana Anda ketahui, bahasa Indonesia yang sekarang ini
berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara
mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Perjalanan yang
ditempuh oleh bahasa Indonesia tak terpisahkan dengan perjalanan
yang ditempuh oleh bangsa Indonesia untuk merdeka. Sejalan dengan
hal tersebut, sejarah perkembangan bahasa Indonesia dapat ditinjau
dari masa sebelum Indonesia merdeka dan masa sesudah merdeka.

Peristiwa bersejarah yang monumental bagi bangsa dan bahasa
Indonesia adalah diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober
1928 di Jakarta. Ikrar Sumpah Pemuda itu terdiri atas tiga butir yang
berbunyi sebagai berikut
Pertama Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah
yang
satu, tanah Indonesia
Kedua Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu,
bangsa Indonesia
Ketiga Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan,
bahasa Indonesia
Tampak pada teks di atas bahwa ikrar pertama dan kedua berbeda
dengan ikrar yang ketiga. Ikrar pertama dan kedua berupa
pernyataan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu dan bangsa
yang satu; sedangkan ikrar yang ketiga tidak berupa pengakuan,
tetapi berupa kebulatan tekad untuk men¬junjung bahasa Indonesia
menjadi bahasa persatuan. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda tidak
berbunyi:
Kami putra dan putri Indonesia mengaku
berbahasa yang satu, bahasa Indonesia.
Dengan demikian, ungkapan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu
Bahasa yang sering diucapkan orang tidak sesuai dengan aslinya.
Memang, kita mengaku satu nusa dan satu bangsa, tetapi tidak
mengaku hanya satu bahasa. Banyak orang salah sangka terhadap
ikrar ketiga Sumpah Pemuda. Bangsa Indonesia tidak berkeinginan
hanya memiliki satu bahasa dipertegas oleh penjelasan Pasal 36, UUD
1945, yang menyebutkan bahwa bahasa-bahasa daerah yang
dipelihara dengan baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura,
Bugis, Bali dan sebagainya), dihormati dan dipelihara juga oleh
negara

Dalam pada itu, nama “bahasa Indonesia” baru dikenal sejak 28
Oktober 1928, yang sebelumnya bernama “bahasa Melayu.” Bahasa
Melayulah yang mendasari bahasa Indonesia yang kemudian
diangkat menjadi bahasa persatuan. Masalah yang menarik perhatian
para ahli sosiologi bahasa adalah kondisi apa yang memungkinkan
bahasa Melayu dipilih dan disepakati untuk diangkat menjadi bahasa
nasional. Dan, mengapa bukan bahasa Jawa atau Sunda yang jumlah
penuturnya lebih banyak daripada bahasa Melayu.
Berikut ini dikemukakan beberapa alasan sebagai jawaban atas
pertanyaan tersebut.
1. Bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca (bahasa
perhubungan) selama berabad-abad sebelumnya di seluruh kawasan
tanah air kita. Hal tersebut tidak terjadi pada bahasa Jawa, Sunda,
ataupun bahasa daerah lainnya.
2. Bahasa Melayu memiliki daerah persebaran yang paling luas dan
yang
melampaui batas-batas wilayah bahasa lain meskipun jumlah penutur
aslinya tidak sebanyak penutur asli bahasa Jawa, Sunda, Madura,
ataupun
bahasa daerah lainnya.
3. Bahasa Melayu .masih berkerabat dengan bahasa-bahasa
Nusantara lainnya sehingga tidak dianggap sebagai bahasa asing.
4. Bahasa Melayu bersifat sederhana, tidak mengenal tingkat-tingkat
bahasa sehingga mudah dipelajari. Berbeda dengan bahasa Jawa,
Sunda, dan Madura yang mengenal tingkat-tingkat bahasa.
Bahasa Melayu mampu mengatasi perbedaan-perbedaan bahasa
antarpenutur yang berasal dari berbagai daerah. Dipilihnya bahasa
Melayu menjadi bahasa persatuan tidak rnenimbulkan perasaan
kalah terhadap golongan yang lebih kuat dan tidak ada persaingan
antarbahasa daerah
Sehubungan dengan hal yang terakhir itu, kita wajib bersyukur atas
kerelaan mereka membelakangkan bahasa ibunya demi cita-cita yang
lebih tinggi, yakni cita-cita nasional. Hal seperti ini tidak terjadi di
negara tetangga kita, misalnya Malaysia, Singapura, dan Filipina.
Bahasa Filipina (Tagalog) yang diangkat menjadi bahasa nasional
mendapat saingan keras dari bahasa Sebuano dan Hokano yang tidak
rela bahasa Tagalog menang. Malaysia mencontoh Indonesia dalam
kebijakan bahasa mereka dengan menetapkan bahasa Malaysia
sebagai bahasa persatuan, yang sekarang sudah menjadi bahasa
resmi. Singapura menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa
kebangsaan dan menduduki bahasa kedua setelah bahasa Inggris.
Dalam pada itu, ada beberapa pendapat berkaitan dengan peristiwa
Sumpah Pemuda yang perlu kita perhatikan. Muh. Yamin, penyusun
ikrar Sumpah Pemuda, pada Kongres Pemuda Indonesia I tahun
1926, menyatakan keyakinannya bahwa bahasa Melayu lambat laun
akan tertunjuk menjadi bahasa pergaulan umum ataupun bahasa
persatuan bagi bangsa Indonesia. Kebu-dayaan Indonesia di masa
yang akan datang akan terjelma dalam bahasa itu. Selanjutnya
dengan tegas dia menyatakan bahwa bahasa yang dahulu dinamakan
bahasa Melayu sekarang sudah dikubur dan hidup menjelma menjadi
bahasa Indonesia.
Tiga bulan menjelang diadakan Sumpah Pemuda, tepatnya pada 15
Agustus 1926, Soekarno dalam pidatonya menyatakan bahwa
perbedaan bahasa di antara suku bangsa Indonesia tidak akan
menghalangi persatuan, tetapi makin luas bahasa Melayu (bahasa
Indonesia) itu tersebar, makin cepat kemerdekaan Indonesia akan
terwujud.
Ada pendapat lain, sesudah, diikrarkan Sumpah Pemuda, terutama
yang berkaitan dengan ikrar ketiga, St. Takdir Alisjahbana
menjelaskan secara luas apa yang disebut bahasa Indonesia. Dia
menyatakan, “bahasa Indonesia ialah bahasa perhubungan yang
berabad-abad tumbuh perlahan-lahan di kalangan penduduk Asia
Selatan dan setelah bangkitnya pergerakan kebangsaan rakyat
Indonesia pada permulaan abad kedua puluh dengan insaf diangkat
dan dijunjung sebagai bahasa persatuan”.
Dalam pernyataan itu dengan sengaja dicantumkan kata dengan
zwa/untuk membedakan pengertian antara bahasa yang dahulu
disebut bahasa Melayu dengan bahasa yang sekarang disebut bahasa
Indonesia. Selanjutnya, St. Takdir Alisjahbana menyatakan bahwa
bahasa Indonesia itu terusan, sambungan dari bahasa Melayu, tetapi
ada bedanya dengan fase yang dahulu. Bahasa Indonesia itu dengan
insaf diangkat dan dijunjung serta dipakai sebagai bahasa yang
memperhubungkan dan mempersatukan rakyat Indonesia.
Sejalan dengan pendapat di atas, H.B. Yassin menyatakan bahwa
Sumpah Pemuda adalah suatu manifesto politik yang juga mengenai
bahasa. Penamaan bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia tidak
berdasarkan perbedaan dalam struktur dan perbendaharaan bahasa
pada masa itu, tetapi semata-mata dasar politik. Dalam bahasa tidak
terjadi perubahan apa-apa, tetapi hanya berganti nama sebagai
pernyataan suatu cita-cita kenegaraan, yaitu kesatuan, tanah air,
bangsa dan bahasa.
Perlu Anda ketahui bahwa pada zaman penjajahan Belanda ketika
Dewan Rakyat dibentuk, yakni pada 18 Mei 1918 bahasa Melayu
memperoleh pengakuan sebagai bahasa resmi kedua, di samping
bahasa Belanda yang berkedudukan sebagai bahasa resmi pertama di
dalam sidang Dewan Rakyat. Sayangnya, anggota bumiputra tidak
banyak yang memanfaatkannya.
Masalah bahasa resmi muncul lagi dalam Kongres Bahasa Indonesia
yang pertama di Solo pada tahun 1938. Pada kongres itu ada dua
hasil keputusan yang penting, yaitu bahasa Indonesia diusulkan
menjadi (1) bahasa resmi dan (2) bahasa pengantar dalam badan-
badan perwakilan dan perundang-undangan.
Demikianlah “lahir”nya bahasa Indonesia bukan sebagai sesuatu
yang tiba-tiba jatuh dari langit, tetapi melalui perjuangan panjang
disertai keinsyafan, kebulatan tekad, dan semangat untuk bersatu.
Dan, api perjuangan itu berkobar terus untuk mencapai Indonesia
merdeka, yang sebelum itu harus berjuang melawan penjajah Jepang.
Pada tahun 1942 Jeparig menduduki Indonesia. Dalam keadaan tiba-
tiba, Jepang tidak dapat memakai bahasa lain, selain bahasa
Indonesia untuk berhubungan dengan rakyat Indonesia. Bahasa
Belanda jatuh dari kedudukannya sebagai bahasa resmi. Bahkan,
dilarang digunakan. Sebenarnya Jepang mengajarkan bahasa Jepang
kepada orang Indonesia dan bermaksud membuat bahasa Jepang
menjadi bahasa resmi di Indonesia sebagai pengganti bahasa
Belanda. Akan tetapi, usaha itu tidak dapat dilakukan secara cepat
seperti waktu dia menduduki Indonesia. Karena itu, untuk sementara
Jepang memilih jalan yang praktis, yaitu memakai bahasa Indonesia
yang sudah tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Perlu Anda
catat bahwa selama zaman pendudukan Jepang 1942-1945 bahasa
Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di semua tingkat
pendidikan.
Demikianlah, Jepang terpaksa harus menumbuhkan dan
mengembangkan bahasa Indonesia secepat-cepatnya agar
pemerintahannya dapat berjalan dengan lancar. Bagi orang Indonesia
hal itu merupakan keuntungan besar terutama bagi para pemimpin
pergerakan kemerdekaan. Dalam waktu yang pendek dan mendesak
mereka harus beralih dari berorientasi terhadap bahasa Belanda ke
bahasa Indonesia. Selain itu, semua pegawai negeri dan masyarakat
luas yang belum paham akan bahasa Indonesia, secara cepat dapat
memakai bahasa Indonesia.
Waktu Jepang menyerah, tampak bahwa bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan, makin kuat kedudukannya. Berkaitan dengan hal
di atas, semua peristiwa tersebut menyadarkan kita tentang arti
bahasa nasional. Bahasa nasional identik dengan bahasa persatuan
yang didasari oleh nasionalisme, tekad, dan semangat kebangsaan.
Bahasa nasional dapat terjadi meskipun eksistensi negara secara
formal belum terwujud. Sejarah bahasa Indonesia berjalan terus
seiring dengan sejarah bangsa pemiliknya.

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
Yang dimaksud dengan kedudukan adalah status relatif bahasa
sebagai sistem lambang nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar
nilai sosial bahasa yang bersangkutan. Sedangkan fungsi adalah nilai
pemakaian bahasa yang dirumuskan sebagai tugas pemakaian bahasa
itu dalam kedudukan yang diberikan kepadanya.
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan
bahasa negara. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional dimiliki sejak diikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober
1928, sedangkan kedudukan sebagai bahasa negara dimiliki sejak
diresmikan Undang-Undang Dasar 1945 (18 Agustus 1945). Dalam
UUD 1945, Bab XV, Pasal 36 tercantum “Bahasa Negara ialah
Bahasa Indonesia”.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia
berfungsi sebagai (1) lambang kebangsaan nasional, (2) lambang
identitas nasional, (3) alat pemersatu berbagai suku bangsa yang latar
belakang sosial budaya dan bahasanya berbeda, dan (4)
alatperhubungan antardaerah dan antarbudaya.
Sebagai lambang kebangsaan nasional, bahasa Indonesia
mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa
kebangsaan kita. Atas dasar kebangsaan itu, bahasa Indonesia selalu
kita pelihara dan kita kembangkan. Begitu pula rasa bangga memakai
bahasa Indonesia wajib kita bina terus. Rasa bangga merupakan
wujud sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif itu
terungkap jika kita lebih suka memakai bahasa Indonesia daripada
kata bahasa asing. Orang dikatakan bersikap positif jika lebih suka
memakai kata HOTEL INDAH, PENATU RAMA, dan PENJAHIT
CITRA daripada kata SPLENDED HOTEL, RAMA LAUNDRY, dan
CITRA TAILOR. Kecenderungan memakai kata-kata asing seperti di
atas mungkin terdorong oleh ingin bergagah-gagahan
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dapat
menimbulkan wibawa, harga diri, dan teladan bagi bangsa lain. Hal
ini dapat terjadi jika kita selalu berusaha membina dan
mengembangkannya secara baik sehingga tidak tercampuri oleh
unsur-unsur bahasa asing (terutama bahasa Inggris)) yang tidak
benar-benar kita perlukan; Untuk itu kesadaran akan kaidah
pemakaian bahasa Indonesia harus ditingkatkan. Bering kita jumpai
pemakaian bahasa Indonesia -;. yang bercampur dengan bahasa
Inggris seperti tampak pada contoh berikut ini.
Lembaga Pendidikan £ Training Computer ‘ Melayani: Pengetikan,
Programming, Analisis Data

Pemakaian bahasa gado-gado seperti contoh di atas dapat
menurunkan wibawa pemakainya. Agar dapat dijadikan teladan dan
dihormati orang lain, bahasa gado-gado di atas harus bersih dari
kata-kata asing, seperti dituliskan ‘: berikut ini.
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Komputer Melayani: Pengetikan,
Pemrograrnah, dan Analisis Data

Sebagai alat perftersatu, bahasa Indonesia’memang mampu
mempersatukan bangsa Indonesia yang berbeda-beda suku, agarna,
budaya, dan bahasa ibunya. Hal itu tampak jelas sejak diikrarkan
Sumpah Pemiida.
Pada zaman penjajahan Jepang yang penuh dengan kekerasan dan
penindasan bahasa Indonesia digembleng menjadi alat pemersatu
yang ampuh bagi bangsa Indonesia. Dengan bahasa nasional itu kita
letakkan kepentingan nasional di atas kepentingan daerah atau
golongan.
Sebagai alat perhubungan, bahasa Indonesia mampu
memperhubungkan bangsa Indonesia yang latar belakang sosial
budaya dan bahasa ibunya berbeda-beda. Berkat bahasa nasional,
suku-suku bangsa yang berbeda-beda bahasa ibunya itu dapat
berkomunikasi secara akrab dan lancar sehingga kesa-lahpahaman
antarmereka tidak terjadi. Selanjutnya, dengan menggunakan bahasa
Indonesia kita dapat menjelajah ke seluruh pelosok tanah air kita ini
tanpa ada hambatan.
Selanjutnya, sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi
sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar di
lembaga-lembaga pendidikan, (3) alat perhubungan pada tingkat
nasional, dan (4) alat pengembang kebudayaan, ilmu pengetahuan,
dan teknologi
Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai di dalam
segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik secara lisan
maupun tertulis. Dokumen-dokumen resmi, keputusan-keputusan,
surat-menyurat, yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan
kenegaraan lainnya seperti DPR dan MPR wajib ditulis dalam bahasa
Indonesia. Juga pidato-pidato resmi kenegaraan wajib ditulis dan
diucapkan dalam bahasa Indonesia. Hanya dalam keadaan tertentu,
demi kepentingan komunikasi antarbangsa, kadang-kadang pidato itu
ditulis dan diucapkan dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris.
Sejalan dengan itu, pemakaian bahasa dalam pelaksanaan
administrasi pemerintahan, termasuk media massa perlu dibina,
dikembangkan, dan ditingkatkan.
Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa
pengantar pada semua jenis dan jenjang pendidikan mulai dari taman
kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Dalam hubungan ini, bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Aceh,
Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Makassar berfungsi sebagai
bahasa pengantar di SD sampai dengan tahun ketiga; sedangkan
bahasa asing, misalnya bahasa Inggris dipakai sebagai alat untuk
membantu pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern.
Sebagai alat perhubungan tingkat nasional, bahasa Indonesia dipakai
sebagai alat komunikasi timbal balik antara pemerintah dan
masyarakat luas, alat perhubungan antardaerah dan antarsuku, dan
juga sebagai alat perhubungan dalam masyarakat yang latar sosial
budaya dan bahasanya sama. Jadi, jika pokok masalah yang
diperkatakan itu berkaitan dengan masalah yang menyangkut tingkat
nasional (bukan tingkat daerah), ada kecenderungan orang untuk
memakai bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah. Dewasa ini
terdapat kecenderungan memakai bahasa Indonesia meskipun yang
dibicarakan itu masalah yang bertingkat daerah.
Sebagai alat pengembang kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan,
dan teknologi, bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa yang
digunakan untuk membina dan mengembangkan kebudayaan
nasional yang memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang
membedakannya dengan kebudayaan daerah. Di samping itu, bahasa
Indonesia juga dipakai untuk memperluaskan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern kepada masyarakat baik melalui penulisan buku-
buku teks, penerjemahan, penyajian pelajaran di lembaga-lembaga
pendidikan umum maupun melalui sarana-sarana lain di luar
lembaga pendidikan.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia
merupakan bahasa yang terpenting di kawasan republik kita ini.
Penting tidaknya suatu bahasa dapat didasari oleh tiga patokan, yaitu
(1) jumlah penuturnya, (2) luas penyebarannya, dan (3) peranannya
sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang
bernilai tinggi. Jumlah penutur bahasa Indonesia menurut sensus
penduduk tahun 1990 adalah 82,87%. Hendaknya disadari bahwa
jumlah penutur asli bahasa Indonesia makin bertambah. Patokan
kedua jelas sekali bahwa bahasa Indonesia memiliki penyebaran yang
paling luas. Hal ini tentu mengingatkan Anda tentang luasnya
penyebaran bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia, Di
samping susastra Indonesia modern yang dikembangkan oleh
sastrawan yang beraneka ragam latar belakang bahasanya, dewasa ini
bahasa Indonesia berperan sebagai sarana utama di bidang ilmu,
teknologi, dan peradaban modern bagi bangsa Indonesia.
Perlu dicatat bahwa kedudukan bahasa yang demikian penting seperti
bahasa Melayu dijunjung menjadi bahasa persatuan, kemudian
bahasa Indonesia ditetapkan menjadi bahasa negara, dan bahasa
Inggris menjadi bahasa internasional tidak didasarkan pada
pertimbangan linguistik, logika, atau estetika, tetapi oleh patokan
politik, ekonomi, atau demografi.
Perlu Anda ketahui bahwa satu negara memiliki lebih dari satu
bahasa resmi, misalnya Singapura memiliki empat bahasa resmi, yaitu
bahasa Inggris, Cina Mandarin, Tamil, dan Melayu; Malaysia
memiliki dua bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris dan Malaysia;
Filipina mempunyai dua bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris dan
Filipino; Swiss memiliki tiga bahasa resmi (tidak memiliki bahasa
nasional), yaitu bahasa Perancis, Jerman, dan Itali.
Dalam pada itu, sejarah perkembangan bahasa Indonesia berjalan
terus. Dalam perjalanan sejarah dari tahun 1945 sampai sekarang ini
banyak peristiwa penting yang berkaitan dengan kedudukan dan
fungsi bahasa Indonesia, antara lain, Kongres Bahasa Indonesia II
s.d. VI. Marilah kita kaji ulang peristiwa-peristiwa penting yang
dimaksud.
Pada tahun 1954 diadakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan.
Dalam Kongres itu ditegaskan bahwa politik bahasa harus mengatur
kedudukan dan hubungan timbal balik antara bahasa Indonesia,
bahasa daerah, dan bahasa asing. Selain itu, politik bahasa harus
membangkitkan rasa setia dan bangga akan bahasa Indonesia.
Pernyataan kedua ini menyiratkan bahwa rasa setia dan bangga akan
bahasa nasional belum tampak dalam perilaku berbahasa Indonesia.
Mungkin sekali masih banyak orang Indonesia yang suka berbahasa
asing daripada berbahasa Indonesia.
Selanjutnya, pada tahun 1975 di Jakarta diadakan Seminar Politik
Bahasa Nasional. Politik bahasa nasional adalah kebijaksanaan
nasional yang berisi perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-
ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar pengolahan keseluruhan
kebahasaan. Dalam seminar itu diputuskan ihwal kedudukan dan
fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.
Dalam hubungannya dengan kedudukan bahasa Indonesia, bahasa-
bahasa daerah yang terdapat di wilayah Republik Indonesia, misalnya
bahasa Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali, dan Bugis,
berkedudukan sebagai bahasa daerah. Kedudukan ini berdasarkan
kenyataan bahwa bahasa-bahasa daerah merupakan salah satu unsur
kebudayaan nasional, yang dilindungi oleh negara. Hal ini sesuai
dengan penjelasan Pasal 36 Bab XV, UUD 1945 (sebelum
amandemen), yang berbunyi:

Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara
oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda,
Madura, dan sebagainya) bahasa-bahasa itu dipelihara juga oleh
negara. Bahasa-bahasa itupun merupakan sebagian dari kebudayaan
Indonesia yang hidup.
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa-bahasa
daerah seperti bahasa Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali, dan Bugis
berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang
identitas daerah, dan (3) alat perhubungan dalam keluarga dan
masyarakat daerah. Adapun dalam hubungannya dengan fungsi
bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai (1) pendukung
bahasa nasional, (2) bahasa pengantar di SD di daerah tertentu pada
tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia
dan mata pelajaran lainnya, dan (c) alat pengembangan dan
pendukung kebudayaan daerah.
Dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia, bahasa-bahasa
seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Jepang, dan Cina
berkedudukan sebagai bahasa asing. Kedudukan ini didasarkan atas
kenyataan bahwa bahasa asing tertentu itu diajarkan di lembaga-
lembaga pendidikan pada tingkat tertentu. Di dalam kedudukan yang
demikian, bahasa-bahasa asing itu tidak bersaingan, baik dengan
bahasa Indonesia maupun dengan bahasa daerah. Di dalam
kedudukannya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa seperti bahasa
Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Jepang dan Cina berfungsi
sebagai alat perhubungan antarbangsa, (2) alat pembantu
pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan (3)
alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk
pembangunan nasional.
Selanjutnya, pada tahun 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa
Indonesia III di Jakarta dalam rangka peringatan Hari Sumpah
Pemuda ke-50. Kongres itu bertujuan memantapkan kedudukan dan
fungsi bahasa Indonesia baik sebagai bahasa nasional sesuai dengan
isi dan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, maupun sebagai
bahasa negara, sesuai dengan Bab XV, Pasal 36, UUD 1945 (sebelum
amandemen) Keputusan dan kesimpulan kongres itu menyangkut
kepentingan segenap lapisan masyarakat. Masalah bahasa adalah
masalah nasional..
Sementara itu, pada tahun (1983) di Jakarta diadakan Kongres
Bahasa Indonesia IV. Dalam kesimpulan umum dikatakan bahwa
fungsi bahasa Indonesia makin mantap, baik sebagai alat komunikasi
sosial administratif maupun sebagai alat komunikasi ilmu
pengetahuan dan keagamaan. Dan, sebagai alat penyebarluasan ilmu,
bahasa Indonesia telah dapat pula menjalankan fungsinya dengan
baik. Hal ini terbukti dengan makin banyaknya buku-buku ilmu
pengetahuan yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia V diadakan pada tahun 1988 di Jakarta.
Kongres itu menghasilkan sejumlah putusan yang meliputi bidang
bahasa, pengajaran bahasa, dan pengajaran sastra. Dalam simpulan
umum dinyatakan bahwa kedudukan bahasa Indonesia makin
mantap, baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai bahasa
negara. Meskipun demikian, pemakaian bahasa Indonesia yang baik
dan benar masih perlu ditingkatkan. Sebagai tindak lanjutnya, perlu
diperhatikan dan dilaksanakan hal-hal berikut ini.

Para pejabat diimbau berbahasa Indonesia ‘ Secara baik dan benar
karena mereka menjadi anutan masyarakat. Para peneliti hendaklah
membiasakan menggunakan bahasa Indonesia ragam ilmiah secara
logis, lugas, cermat, dan tepat.
Dalam menyampaikan pesan tentang konsep-konsep pembangunan
kepada masyarakat hendaknya digunakan bahasa yang akrab dan
sederhana sesuai dengan daya tangkap masyarakat. Penggunaan
bahasa asing pada papan-papan nama gedung umum,
hendaknya diganti dengan bahasa Indonesia. Pengembangan bahasa
Indonesia menjadi bahasa ilmiah dan modern masih perlu menyerap
kata-kata baru, baik yang berasal dari bahasa serumpun maupun dari
bahasa asing, sesuai dengan keperluan. Oleh sebab itu, penutur
bahasa Indonesia diimbau tidak bersikap nasionalisme sempit yang
berlebihan. Sikap positif terhadap bahasa Indonesia, yang meliputi
kebanggaan dan kesetiaan pada bahasa Indonesia serta kesadaran
akan kaidah bahasa perludipupuk terus

Bahasa Indonesia VI diadakan pada tahun 1998 di Jakarta. Kongres
dengan tema “Bahasa Indonesia Menjelang Tahun 2000″ itu
bertujuan memantapkan peran bahasa Indonesia sebagai sarana
pembangunan bangsa, sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta sarana pembinaan kehidupan bangsa. Adapun
subtemanya adalah (1) Bahasa Indonesia Merupakan Sarana yang
Kukuh dalam Pembangunan Bangsa, (2) Peningkatan Mutu Bahasa
Indonesia Memperlancar Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi, dan (3) Peningkatan Kemampuan Masyarakat Berbahasa
Indonesia Memperkaya Kehidupan Budaya Bangsa.
Sebagaimana Anda ketahui, jaringan masalah kebahasaan di
Indonesia memang sangat kompleks. Hal itu disebabkan oleh adanya
persentuhan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah, juga
adanya persentuhan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing,
ditambah pula datangnya berbagai tuntutan agar hanya didasarkan
pada eksistensi bahasa Indonesia sebagai sistem fonologi, morfologi,
sintaksis, dan semantis, tetapi juga harus mempertimbangkan faktor-
faktor nonkebahasaan seperti politik, ekonomi, pendidikan,
kebudayaan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:6744
posted:1/24/2012
language:
pages:13
Description: Contoh makalah bahasa indonesia tentang lahirnya bahasa indonesia