Embed
Email

IBADAH

Document Sample

Shared by: huanghengdong
Categories
Tags
Stats
views:
25
posted:
1/23/2012
language:
pages:
15
IBADAH

Tugas manusia di dunia adalah ibadah kepada Allah SWT (51:56). Meskipun merupakan tugas,

tetapi pelaksanaan ibadah bukan untuk Allah (51 :57), karena Allah tidak memerlukan apa-apa.

Ibadah pada dasarnya adalah untuk kebutuhan dan keutamaan manusia itu sendiri.



Ibadah ('abada : menyembah, mengabdi) merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai

makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena penyembahan/pemujaan merupakan fitrah (naluri)

manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia dari pemujaan dan pemujaan yang

salah dan sesat.



Dalam Islam ibadah memiliki aspek yang sangat luas. Segala sesuatu yang dicintai dan diridhai

Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir atau batin, semua merupakan ibadah.

Lawan ibadah adalah ma'syiat.









Ibadah ada dua macam :



1. Ibadah Maghdhah (khusus)

yaitu ibadah yang ditentukan cara dan syaratnya secara detil dan biasanya bersifat ritus. Misalnya

: shalat, zakat, puasa, haji, qurban, aqiqah. Ibadah jenis ini tidak banyak jumlahnya.



2. Ibadah 'Amah (Muamalah)

Yaitu ibadah dalam arti umum, segala perbuatan baik manusia. Ibadah ini tidak ditentukan cara

dan syarat secara detil, diserahkan kepada manusia sendiri. Islam hanya memberi

perintah/anjuran, dan prisnip-prinsip umum saja. Ibadah dalam arti umum misalnya : menyantuni

fakir-miskin, mencari nafkah, bertetangga, bernegara, tolong-menolong, dll.



Sesuatu akan bernilai ibadah, jika memenuhi persyaratan :



1. Iman kepada Allah dan Hari akhir (2 :62). Karenanya amal orang kafir seperti fatamorgana.



2. Didasari niat ikhlas (murni) karena Allah, sebagaimana hadis :



Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. dan bagi segala sesuatu tergantung dari apa yang ia

niatkan.



3. Dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah.

Untuk ibadah maghdhah : harus sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis, Kreativitas justru

dilarang. Sehingga berlaku prinsip " Segala ssesuatu dilarang, kecuali yang diperintahkan". Kita

dilarang membuat ritus-ritus baru yang tidak ada dasarnya.



Untuk mu'amalah : harus sesuai dengan jiwa dan prinsip prinsip ajaran Islam. Pelaksanaannya

justru memerlukan kreativitas manusia. Sehingga berlaku prinsip " Segala-sesuatu boleh, kecuali

yang dilarang"



Ibadah pada dasarnya merupakan pembinaan diri menuju taqwa. (2 :21). Setiap upaya ibadah

memiliki pengaruh positif terhadap keimanan, lawanya adalah maksyiat yang berpengaruh

negatif terhadap keimanan.



Iman bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman dengan ibadah, berkurang karena ma'syiat

(Hadis)



Setiap ibadah juga memiliki hikmah/tujuan-tujuan mulia, seperti :



- Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar (29 : 45)



- Puasa untuk mencapai taqwa (2 :183)



- Zakat untuk mensucikan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak ( 9: 103)



- Haji sebagai sarana pendidikan untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan kotor. ( 2;197)



Selain itu juga memiliki keluasan dan keutamaan-keutamaan









Konsep Ibadah - Document Transcript

1. KONSEP IBADAH DALAM ISLAM Pendahuluan Hidup manusia dibumi ini bukanlah

suatu kehidupan yang tidak mempunyai tujuan dan matlamat dan bukanlah mereka boleh

melakukan sesuatu mengikut kehendak perasaan dan keinginan tanpa ada batas dan

tanggungjawab. Tetapi penciptaan makhluk manusia di bumi ini adalah mempunyai suatu

tujuan dan tugas risalah yang telah ditentu dan ditetapkan oleh Allah Tuhan yang

menciptanya. Tugas dan tanggungjawab manusia sebenarnya telah nyata dan begitu jelas

sebagaimana terkandung di dalam al-Quran iaitu tugas melaksanakan ibadah

mengabdikan diri kepada Allah dan tugas sebagai khalifah-Nya dalam makna mentadbir

dan mengurus bumi ini mengikut undang-undang Allah dan peraturan- Nya. Firman

Allah swt. maksudnya: “Dan Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya

mereka beribadah (menyembah) kepada Ku”. (Az-Zaariyaat: 56) Firman Allah swt.

bermaksud: “Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi

dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebaha-gian (yang lain) beberapa darjat

untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (al-An‟aam: 165) Tugas

sebagai khalifah Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta

mengurusnya dengan peraturan dan undang-undang Allah. Tugas beribadah dan

mengabdi diri kepada Allah dalam rangka melaksanakan segala aktiviti pengurusan bumi

ini yang tidak terkeluar dari garis panduan yang datang dari Allah swt. dan dikerjakan

segala kegiatan pengurusan itu dengan perasaan ikhlas kerana mencari kebahagian dunia

dan akhirat serta keredaan Allah. Allah swt. telah menyediakan garis panduan yang lurus

dan tepat kepada manusia dalam rangka pengurusan ini. Allah dengan rasa kasih sayang

yang bersangatan kepada manusia diturunkannya para rasul dan bersamanya garis

panduan yang diwahyukan dengan tujuan supaya manusia itu boleh mengurus diri

2. mereka dengan pengurusan yang lebih sempurna dan bertujuan supaya manusia itu dapat

hidup sejahtera dunia dan akhirat. Pengertian Ibadah Kalimat ibadah berasal daripada

kalimat `abdun‟. Ibadah dari segi bahasa bererti patuh, taat, setia, tunduk, menyembah

dan memperhambakan diri kepada sesuatu. Dari segi istilah agama Islam pula ialah

tindakan, menurut, mengikut dan mengikat diri dengan sepenuhnya kepada segala

perkara yang disyariatkan oleh Allah dan diserukan oleh para Rasul-Nya, sama ada ia

berbentuk suruhan atau larangan. Ibnu Taimiah pula memberi takrif Ibadah, iaitu nama

bagi sesuatu yang disukai dan kasihi oleh Allah swt. Perintah Allah dan Rasul-Nya ini

hendaklah ditunaikan dengan perasaan penuh sedar, kasih dan cinta kepada Allah, bukan

kerana terpaksa atau kerana yang lain dari cintakan kepada-Nya. Para Nabi dan Rasul

merupakan hamba Allah yang terbaik dan sentiasa melaksanakan ibadah dengan penuh

kesempurnaan di mana setiap arahan Tuhannya, mereka patuhi dengan penuh perasaan

cinta dan kasih serta mengharap keredaan dari Tuhannya. Mereka menjadi contoh teladan

yang paling baik kepada kita semua dalam setiap pekerjaan dan amalan sebagaimana

yang dianjurkan oleh al-Quran itu sendiri. Firman Allah swt. maksudnya: “Sesungghnya

bagi mu, apa yang ada pada diri Rasulullah itu contoh yang paling baik”. (al-Ahzab: 21)

Sesetengah ulama mengatakan bahawa perhambaan (ibadah) kepada Allah hendaklah

disertai dengan perasaan cinta serta takut kepada Allah swt. dan hati yang sihat dan

sejahtera tidak merasa sesuatu yang lebih manis, lebih lazat, lebih seronok dari

kemanisan iman yang lahir dari pengabdian (ibadah) kepada Allah swt. Dengan ini maka

akan bertautlah hatinya kepada Allah dalam keadaan gemar dan reda

3. terhadap setiap perintah serta mengharapkan supaya Allah menerima amalan yang

dikerjakan dan merasa bimbang serta takut kalau-kalau amalan tidak sempurna dan tidak

diterima oleh Allah seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya yang bermaksud: “(Ia itu)

Oran yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya)

dan dia datang dengan hati yang bertaubat”. (Qaf: 33) Orang yang memperhambakan

dirinya (beribadah) kepada Allah mereka akan sentiasa patuh dan tunduk kepada

kehendak dan arahan Tuhannya, sama ada dalam perkara yang ia suka atau yang ia tidak

suka dan mereka mencintai dan mengasihi Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain-

lainnya. Mereka mengasihi makhluk yang lain hanyalah kerana Allah semata-mata, tidak

kerana yang lain Kasihkan kepada Rasulullah saw. pula kerana ia membawa Risalah

Islam, cintakan kepada Rasulullah saw. hendaklah mengikuti sunahnya sebagaimana

firman Allah swt. maksudnya: “Katakanlah (wahai Muhammad) sekiranya kamu

kasihkan Allah maka ikutilah aku (pengajaranku) nescaya Allah akan mengasihi kamu

dan mengampunkan dosa- dosa kamu”. (Al-Imran: 31) Dan andainya kecintaan kamu

kepada selain Allah dan Rasul-Nya itu mengatasi dan melebihi dari kencintaan dan kasih

kepada yang lain; Allah akan turunkan keseksaan-Nya kepada manusia yang telah

meyimpang dari ketentuan-Nya. Firman Allah swt. maksudnya: “Katakanlah

(Muhammad) jika ibu bapa kamu, anak-anak kamu, saudara mara kamu, suami isteri

kamu, kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu

bimbangkan kerugiannya, dan rumahtangga yang kamu sukai itu lebih kamu kasihi

daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad untuk

4. agama Allah, maka tunggulah (kesiksaan yang akan didatangkan) oleh Allah. Dan Allah

tidak memberi hidayah kepada orang-orang fasik”. (At-Taubah: 24) Ruang lingkup

Ibadah dan Hubunganya dengan kehidupan Sebgaimana yang dijelaskan di atas nyatalah

ibadah itu itu bukanlah sesempit apa yang difahami oleh sebahagian dari kalangan

manusia yang tidak dapat memahami kesempurnaan Islam itu sendiri di mana pada

anggapan mereka Islam itu hanya suatu perbicaraan pasal akhirat (mati) dan melakukan

beberapa jenis ibadah persendirian tidak lebih dari itu. Begitu juga bila disebut ibadah

apa yang tergambar hanyalah masjid, tikar sembahyang, puasa, surau, tahlil, membaca al-

Quran, doa, zikir dan sebagainya iaitu kefahaman sempit disekitar ibadah-ibadah khusus

dan ritual sahaja tidak lebih dari itu. Kefahaman seperti ini adalah akibat dari serangan

fahaman Sekular yang telah berakar umbi ke dalam jiwa sebahagian dari kalangan orang-

orang Islam. Islam adalah suatu cara hidup yang lengkap dan sempurna, yang

merangkumi semua bidang kehidupan dunia dan akhirat, di mana dunia merupakan

tanaman atau ladang yang hasil serta keuntungannya akan dituai dan dinikmati pada hari

akhirat kelak. Ibadah dalam Islam meliputi semua urusan kehidupan yang mempunyai

paduan yang erat dalam semua lapangan hidup dunia dan akhirat, tidak ada pemisahan

antara kerja-kerja mencari kehidupan di muka bumi ini dan hubungannya dengan balasan

akhirat. Islam mengajarkan kepada kita setiap apa juga amalan yang dilakukan oleh

manusia ada nilai dan balasan sama ada pahala atau siksa. Inilah keindahan Islam yang

disebut sebagai ad-Deen yang lengkap sebagai suatu sistem hidup yang boleh memberi

kesejahteraan hidup penganutnya di dunia dan di akhirat. Dengan kata lain setiap amalan

atau pekerjaan yang membawa manfaat kepada individu dan masyarakat selama ia tidak

bercanggah dengan syarak jika sekiranya ia memenuhi syarat-syaratnya, seperti

dikerjakan dengan ikhlas kerana

5. Allah semata-mata bukan kerana mencari kepentingan dan mencari nama serta ada niat

mengharapkan balasan dari manusia atau ingin mendapat pujian dan sanjungan dari

manusia; maka amalan-amalan yang demikian akan mejadi ibadah yang diberi pahala di

sisi Allah swt di akhirat kelak, insya‟-Allah. Berdasarkan kepada konsep ibadah tersebut

maka setiap perbuatan pertolongan baik kepada orang lain seperti membantu orang sakit,

tolong merengankan beban dan kesukaran hidup orang lain, memenuhi keperluannya,

menolong orang yang teraniaya, mengajar dan membimbing orang yang jahil adalah

ibadah. Termasuk juga dalam makna ibadah ialah setiap perbuatan, perkataan manusia

zahir dan batin yang disukai dan diredai oleh Allah swt. Bercakap benar, taat kepada ibu

bapa, amanah, menepati janji, berakata benar, memenuhi hajat keperluan orang lain

adalah iabadah. Menuntut ilmu, menyuruh perkara kebaikan dan mencegah segala

kejahatan, berjihad, memberi pertolongan kepada sesama manusia, dan kepada binatang,

berdoa, puasa, sembahyang, membaca al-Quran semuanya itu juga adalah sebahagian

dari ibadah. Begitu juga termasuk dalam pengertian ibadah cinta kepada Allah dan Rasul-

Nya, melaksanakan hukum-hukum Allah, sabar menerima ujian, bersyukur menerima

nikmat, reda terhadap qadha‟ dan qadar-Nya dan banyak lagi kegiatan dan tindakan

manusia yang termasuk dalam bidang ibadah. Kesimpulannya ruanglingkup ibadah dalam

Islam adalah terlalu terlalu luas yang merangkumi semua jenis amalan dan syiar Islam

dari perkara yang sekecil- kecilnya seperti cara makan, minum dan masuk ketandas

hinggalah kerja-kerja menguruskan kewangan dan pentadbiran negara semuanya adalah

dalam makna dan pengertian ibadah dalam artikata yang luas apabila semuanya itu

dikerjakan dengan sebaik-baiknya dengan menurut adab dan peraturan serta memenuhi

syarat- syaratnya.

6. Ibadah Sebagai Sarana Hablu minallah dan Habu minannas Setiap ibadah dalam Islam,

apakah itu shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan menunaikan haji, memiliki

dua demensi. Pertama, kegiatan ibadah dimaksudkan untuk memenuhi kewajiban atau

penggilan Allah SWT, dalam rangka hablum minallah. Kedua, ibadah yang dilakukan

oleh hamba Allah itu memiliki implikasi sosial. Dimensi kedua ini menyaran pada

implikasi hablum minallah terhadap hablum minannas. Dalam dimensi kewajiban, ibadah

shalat (lima waktu), membayar zakat, menjalankan puasa, dan menunaikan haji

merupakan ibadah yang wajib hukumnya (fardlu „ain); artinya setiap muslim wajib

melaksanakan ibadah-ibadah itu, kecuali haji; ibadah haji wajib hukumnya bagi seorang

muslim yang mampu untuk menunaikannya. Dalam ajaran Islam, ibadah shalat

merupakan ibadah yang sangat penting. Karena sangat pentingnya shalat, maka shalat

dipandang sebagai tiyang agama. Shalat, digariskan sebagai ibadah yang mampu

mencegah umat muslim dari perbuatan keji dan munkar, memiliki dimensi sosial, antara

lain, mendidik umat manusia untuk berlaku demokratis. Sewaktu melaksanakan ibadah

shalat berjamaah di mushalla atau masjid, antar kaum muslimin tidak ada perbedaan;

tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, bawahan dan atasan, kaum elit dan

rakyat biasa dan sebagainya. Seseorang yang paling awal datang ke mushalla atau masjid

untuk shalat berjamaah, dia memiliki hak untuk menempatkan diri pada barisan terdepan.

Implikasi sosial lebih lanjut bisa dilihat bila seorang muslim kembali ke tengah-tengah

masyarakat, dia akan mendahulukan atau memperhatikan hak orang lain ketimbang hak

yang dimilikinya. Ini berarti bahwa dia tidak akan merasa menang sendiri; dia tidak akan

merasa pintar sendiri; dia tidak akan merasa benar sendiri, dia rame ing gawe sepi ing

pamrih (tidak melakukan korupsi dan manipulasi, karena dua perbuatan ini mengarah

kepada pengambilan sesuatu yang bukan menjadi haknya), dan sebagainya.

7. Demikian pula, ibadah puasa juga mendidik kaum muslimin untuk tidak berpurba sangka

(prejudice), tidak melakukan pembedaan (discrimination), dan sejenisnya terhadap

sesama umat manusia. Hal ini didasarkan pada salah satu unsur puasa adalah menahan

lapar dan dahaga. Perasaan lapar dan dahaga merupakan masalah keseharian yang

dihadapi oleh orang-orang miskin, namun bukan menjadi masalah bagi orang-orang

berada. Pada tataran tertentu, seseorang yang berasal dari kelompok orang berada akan

dapat merasakan apa yang dirasakan oleh saudara- saudaranya yang berada di bawah

garis kemiskinan, yaitu perasaan lapar dan dahaga. Hal ini, sebenarnya, mengajarkan

pada umat manusia untuk tidak berpurbasangka, melakukan diskriminasi atau pembedaan

terhadap sesama umat. Implikasi sosial yang dipancarkan oleh ibadah zakat bisa timbul

dari hikmah ibadah puasa. Seperti diketehui dan dirasakan bahwa setiap orang yang

berpuasa pasti mengalami rasa lapar dan dahaga. Dengan mengalami sendiri bagaimana

rasanya lapar dan dahaga sewaktu berpuasa itu, maka orang-orang, katakanlah, dari

kalangan kaya terlatih untuk merasakan derita lapar dan dahaga sebagaimana yang

dialami oleh golongan fakir-miskin dalam hidup keseharian mereka. Ajaran ini

diharapkan dapat menimbulkan rasa belas kasihan dan sifat penyantun si kaya terhadap si

miskin. Pada waktu-waktu selepas puasa, diharapkan bahwa si kaya atas kemauannya

sendiri akan selalu mengulurkan tangan, memberikan pertolongan dan bantuan baik

secara material maupun non-material. Bantuan-bantuan itu bisa berupa infag, sedekah

dan zakat (materi) dan nasihat, dorongan moril dan sejenisnya (non- materi). Dalam

kehidupan bernegara, ajaran ini menggariskan kepada para pemegang kekuasaan untuk

mengarahkan segala kebijakan (ekonomi, politik, dan sosial budaya, dan sebagainya)

demi kepentingan orang banyak, khususnya orang miskin, wong cilik bukan demi

kepentingan untuk mencari popularitas dalam rangka mempertahankan kekuasaan

mereka. Implikasi sosial yang terpancar dalam ibadah haji, antara lain, adalah terciptanya

persaudaraan sesama umat Islam dari seluruh pelosok dunia dan

8. sekaligus merupakan syiar Islam yang luar biasa. Setiap musim haji tiba, sejumlah besar

umat Islam yang berasal dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong ke tanah suci

untuk menunaikan ibadah haji. Momen ibadah haji ini bisa dimanfaatkan sebagai syiar

Islam dan sekaligus sebagai sarana untuk menjalin persaudaraan sesama muslim sedunia.

Usai menunaikan ibadah haji, seorang muslim dapat memanfaatkan momen ibadah yang

telah dilaksanakan itu sebagai titik tolak untuk mengembangkan tali persaudaraannya

dengan sesama umat muslim, dengan umat sebangsa di tanah airnya secara lebih baik.

Ibadah haji, sebagaimana dinyatakan oleh Ustadz Fauzan Abidin merupakan ibadah yang

dimaksudkan untuk mensucikan diri dari: kotoran lahiriah, kotoran bathiniah, kotoran

pikiran dan kotoran sosial. (Radar Banjarmasin, 31 Januari). Seorang muslim yang telah

menunaikan ibadah haji berarti yang bersangkutan telah memenuhi lima rukun Islam. Dia

adalah seorang muslim yang telah tersucikan dari segala kotoran sebagaimana dijelaskan

oleh Ustadz tersebut. Bila ibadah dalam kerangka hablum minallah memiliki implikasi

sosial (hablum minnas) yang positif, dan bila nilai-nilai baik yang terkandung di

dalamnya terpateri secara kukuh dan terpadu dalam diri seorang muslim dan secara terus

menerus diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

maka Insya Allah berarti dia adalah mukmin, muslim dan sekaligus muhsin. Dalam

ajaran Islam, hubungan antar manusia (hablum minannas) yang terbimbing melalui

ibadah (hablum minallah) telah diatur secara sangat rapi. Dalam kerangka hubungan antar

manusia, ajaran Islam menggariskan pola persaudaraan sesama muslim ( ukhuwah al-

Islamiyah atas dasar al muslimu akhul muslim), persaudaraan sesama warga bangsa

(ukhuwah al- wathaniyah), dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah al-basyariyah).

Dalam hal ini, para mukminin, muslimin dan muhsinin yang telah menunaikan lima

rukun Islam (bukan hanya rukun Islam ke lima) menjadi harapan kita semua untuk

menjadi pelopor dalam mengemban ajaran

9. Allah SWT, bahwa: “Islam adalah rahmat bagi sekalian alam”, yang di samping dengan

tetap menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT, secara sosial mereka akan

senantiasa, antara lain, menjaga kelestarian, keselarasan, keharmonisan di muka bumi ini.

Dominasi dalam arti positif , misalnya, dapat kita lihat dalam ajaran Islam di mana

hubungan antar manusia (hablum minannas) telah diatur sedemikian rapinya sehingga

dominasi pihak yang mayoritas, kuat, kaya, berpengaruh atau sejenisnya harus

diupayakan menjadi hal yang positif dan diridhai oleh Allah S.W.T. Dalam pandangan

Islam, orang atau kelompok orang yang dominan, kuat, kaya, atau berpengaruh bisa saja

melakukan dominasi tetapi harus dalam kerangka untuk melindungi atau mengayomi

pihak lain yang lemah. Orang kaya yang secara ekonomi dominan harus melindungi atau

mengayomi pihak yang miskin dengan cara memberikan sedekah, santunan, zakat,

pekerjaan atau sejenisnya. Dalam dunia kerja hubungan antara majikan dan buruh dalam

ajaran Islam tidak berimplikasi pada dominasi majikan terhadap buruh, seperti yang

diisyaratkan oleh sistem kelas model kapitalisme. Seperti diuraikan di atas, ajaran Islam

menggariskan pola persaudaraan sesama muslim, persaudaraan sesama warga bangsa,

dan persaudaraan sesama manusia. Dengan demikian jikalau kaum muslimin menjadi

kekuatan yang dominan maka tidak ada alasan bagi mereka untuk melakukan penindasan,

penekanan, intimidasi, perampasan hak atau sejenisnya terhadap kelompok lain yang

lemah atau minoritas. Sebab, ajaran Islam menunjukkan bahwa semua umat manusia di

bumi ini, tanpa memandang rasa, suku dan agama, adalah saudara. Dalam pandangan

Islam, jikalau terjadi dominasi yang mengarah pada penindasan, intimidasi, pemaksaan,

perampasan hak dan sejenisnya, berarti di sana terjadi pula pengingkaran terhadap ajaran

Islam bahwa : “Islam adalah rahmat bagi sekalian alam”, dan terhadap hakikat manusia

sebagai Allah S.W.T, yang antara lain untuk menjaga kelestarian, keselarasan,

keharmonisan di muka bumi ini

10. Hubungan Iman dan Amal Iman bukanlah sekadar suatu keyakinan dan pembenaran

dalam hati terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. tetapi iman yang hakiki

dan sebenar ialah merangkumi pembenaran dan keyakinan di dalam hati, pengucapan di

lidah serta melaksanakan amalan dengan anggota badan iaitu melakukan amalan soleh,

maka dengan ini dapatlah difahami iman itu bukanlah sekadar ucapan lidah dan

keyakinan dalam hati sahaja tetapi amalan merupakan sebagai bukti kesempurnaan,

keteguhan dan kemantapan iman seseorang. Imam al-Ghazali menjelaskan dalam

hubungan ini dengan katanya: “Iman itu ialah akidah, perkataan dan perbuatan”. Dengan

makna akidah itu sebagai membenarkan dan mepercayai dengan hati kepada segala yang

dibawa oleh Nabi Muhammad saw. (perkara yang mudah (dharuri) dari agama).

Perkataan adalah sebagai ikrar dan pengakuan dengan lisan dan perbuatan adalah sebagai

beramal melaksanakan segala perintah Allah dengan anggota (badan yang lahir). Hadis

Rasulullah saw. menguatkan adanya hubungan yang sangat erat di antara iman dan amal.

dengan sabdanya sebagai berikut: Sabda Rasulullah saw. maksudnya: “Iman itu lebih dari

enam puluh cabang; yang paling tingginya La-Ilaaha- Illallaah dan dan yang paling

rendahnya membuang sampah dari tengah jalan”. (H.R.Bukhari) Hadis ini menyatakan

dengan jelas perbuatan membuang sampah sebagai sebahagian dari iman. Ini bermkna

iman itu jelas bukan sekadar keyakinan dan kepercayaan dalam hati tetapi ia juga

merangkumi amal atau perbuatan manusia. Pembagian Ibadah Untuk memudahkan

bahasan dan perbincangan kita berhubung dengan ibadah ini, ulamak-ulamak Islam

membahagikan ibadah kepada dua bahagian

11. sebagai berikut: 1. Ibadah khusus 2. Ibadah Umum Ibadah khusus ialah semua amalan

yang tercantum dalam bab al-Ibadaat yang utamanya ialah sembahyang, puasa, zakat dan

haji. Ibadah Umum pula ialah segala amalan dan segala perbuatan manusia serta gerak-

geri dalam kegiatan hidup mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut: 1) Amalan yang

dikerjakan itu di akui oleh syarak dan sesuai dengan Islam. 2) Amalan tersebut tidak

bercanggah dengan syariat, tidak zalim, khianat dan sebagainya 3) Amalan tersebut

dikerjakan dengan niat ikhlas semata-mata keranaAllah swt. tidak riak, ujub dan um‟ah.

4) Amalan itu hendaklah dikerjakan dengan sebaik-baiknya 5) Ketika mengerjakan

amalan tersebut tidak lalai atau mengabaikan kewajipan ibadah khusus seperti

sembahyang dan sebagainya. Firman Allah swt. maksudnya: “Lelaki yang tidak

dilalaikan mereka oleh perniagaan atau jual beli dari mengingati Allah, mendirikan

sembahyang dan mengeluarkan zakat mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu)

hati dan penglihatan menjadi goncang”. (An- Nur: 37) Amalan-Amalan yang Tidak

Menjadi Ibadah Dilihat dari syarat-syarat di atas, nampaklah kepada kita bahawa sesuatu

amalan yang dikerjakan oleh seseorang begitu sukar sekali untuk mencapai

kesempurnaan dalam makna ibadah dengan ertikata yang sebenar-benarnya mengikut

syarat-syarat dan ketentuan tersebut di atas, oleh itu kita hendaklah bersungguh-sungguh

dalam mengusahakan amalan kita supaya dapat mencapai matlamat ibadah yang

sempurna dengan menyempurnakan segala syarat-syaratnya. Dan kita hendaklah sentiasa

meneliti dan memperhatikan dengan sungguh-

12. sungguh agar kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri; dengan menyangka kita telah

banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi pada hakikatnya tidak

demikian, kita takut akan tergolong ke dalam golongan manusia yang tertipu dan sia-sia

amalan kita dan apa yang kita dapat hanyalah penat dan lelah. Ini kerana kita melakukan

amalan dan kerja-kerja kebajikan itu tidak menepati dan tidak selari dengan ketentuan

dan syarat-syarat ibadah dan amal soleh yang dikehandkki itu. Dari itu disamping kita

melaksanakan segala amalan zahir dengan sempurna mengikut petunjuk dari Rasulullah

saw. apa yang lebih penting lagi ialah kita membetulkan amalan batin iaitu amalan hati

supaya betul iaitu niat dengan ikhlas, amalan itu semata-mata kerana Allah tidak kerana

yang lain dari-Nya. Dan kita juga hendaklah sentiasa menjaga keikhlasan hati kita ini dari

penyakit-penyakit yang boleh merusakannya seperti riak, ujub, sum‟ah, takabur dan

sebagainya. Kesimpulan secara mudah ialah seorang lelaki yang memakai pakaian untuk

menutup aurat dari kain sutra, dan perempuan yang berpakaian meliputi badannya tetapi

masih menampakan susuk badannya masih lagi tidak dinamakan ibadah, atau seorang

menderma dengan tujuan supaya dipuji dan digelar sebagai dermawan atau seorang yang

rajin bersembahyang dengan niat tujuan supaya digelar sebagai ahli ibadah oleh manusia;

itu semua tidak termasuk dalam makna ibadah yang diterima oleh Allah swt. Dengan

demikian jelaslah kepada kita segala amalan yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas

itu tidak dikira sebagai ibadah. Niat dan tujuan serta matlamat adalah sangat penting

dalam sesuatu amalan di samping amalan tersebut tidak bercanggah serta diakui sah oleh

syariat Islam. Matalamat dan Tujuan Ibadah Sebagaimana kita ketahui dan maklum

bahawa pengutusan manusia ke dunia ini tidak lain melainkan untuk beribadah

(memperhambakan diri) kepada al-Khaliq, Allah Yang Maha Pencipta dan juga kita telah

mengetahui bahawa pengertian ibadah

13. dalam Islam merangkumi semua bidang amalan dalam kehidupan manusia. Dan di sini

timbul pertanyaan kenapa kita mengabdi menyembah Allah dan apakah matlamat ibadah

itu ? Apakah ada faedah untuk-Nya atau apa faedah yang boleh didapati oleh seseorang

hamba yang menyembah-Nya ? Jawapannya ialah bahawa Allah swt. Yang Maha Suci

dan Maha Tinggi tidak mendapat sebarang faedah dari ketaatan orang yang menyembah-

Nya dan tidak memberi mudarat sedikitpun dari keengganan orang yang menentang dan

engkar kepada perintah-Nya. Begitu juga tidak menambahkan kuasa keagungan

pemerintahan-Nya oleh puji- pujian orang yang memuji-Nya dan tidak mengurangi

keagungan kekuasaan-Nya oleh keengkaran orang-orang yang mengengkari perintah-

Nya. Ini kerana Allah Maha Kaya dan mempunyai segala-galanya kerana semua yang ada

di alam ini menjadi milik-Nya belaka sedangkan kita manusia adalah satu dari makhluk

Allah yang banyak itu, makhluk manusia ini terlalu kecil, hina dan miskin, serba

kekurangan dan sentiasa berhajat dan memerlukan kepada-Nya. Allah, Dialah Tuhan

Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang serta bersifat Maha Memberi kepada

semua makhuk-Nya dan Dia tidak menyuruh kita mengerjakan sesuatu melainkan perkara

itu mendatangkan kebaikan bagi makhluk itu sendiri. Firman Allah swt. maksudnya:

“Sesungguhnya Kami telah kurniakan hikmat (ilmu pengetahuan) kepada Luqman supaya

dia bersyukur kepada Allah dan sesiapa yang bersyukur, sebenarnya dia bersyukur dagi

faedah dirinya sendiri dan sesiapa yang ingkar, sesungghnya Allah Maha Kaya lagi

Terpuji”. (Luqman: 12) Dari itu kita wajiblah mensyukuri segala nikmat dan kurniaan

Allah swt. kepada kita semua yang mana sekiranya kita hendak menghitugnya sudah

tentu kita tidak mampu untuk berbuat demikian, begitulah besar dan banyaknya

pemberian Allah kepada kita semua sebagai makhluk-Nya.

14. Kelazatan Bermunajat dan Mentaati Allah Kelazatan beribadah ini dapat digambarkan

dari beberapa peristiwa yang berlaku kepada baginda Rasulullah saw. para sahabat,

tabi‟in dan para solihin, kelazatan ini akan timbul apabila adanya hubungan hamba

dengan Tuhannya yang begitu erat dan di mana seorang hamba begitu gembira dan begitu

senang memuji- muji kebesaran Allah swt. ini semua berlaku dari sebab makrifat-nya

(kenalnya) seseorang hamba itu kepada Tuhannya sehingga hamba itu merasa rindu

apabila ia tidak dapat menghadap Tuhannya, dan merasa gelisah kerana tidak dapat

bertemu dengan yang dicintai dan dikasihinya. B begitu juga apabila seorang hamba

mengalami sedikit kesusahan tentulah ia akan mengadu ketempat yang dapat menerima

pengaduan dan boleh menyelesaikan masalah dan kesusahannya. Tiada tempat yang

layak untuk berbuat demikian melainkan kepada Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa.

Firman Allah swt. maksudnya: “Demi sesungguhnya Kami mengetahui bahawa engkau

(Muhammad) bersusah hati dengan apa yang mereka katakan maka hendaklah engkau

bertasbih memuji Tuhanmu serta jadilah dari golongan orang-orang yang sujud beribadah

dan sembahlah Tuhanmu sehingga tiba kepadmu perkara yang tetap (iaitu mati)”. (al-

Hijr: 97-99) Begitu juga di waktu orang-orang mukmin mendapat kurnia ia bersyukur

seterusnya memuji kepada Allah swt. Firman Allah swt. maksudnya: “Bila datang

pertolongan Allah dan kemenangan (pembukaan Makkah) dan engkau lihat manusia

berduyun-duyun masuk agama Allah swt. maka ucapkanlah tasbih dengan memuji

Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia suka menerima taubat”.

(an-Nasr: 1-4)

15. Ibadah Hanya Untuk Allah Pada hakikatnya pengabdian terhadap Allah swt. merupakan

suatu kebebasan yang hakiki, jalan bagi mencapai kepada ketuannan yang sejati, kerana

Allahlah yang boleh membebaskan hati nurani manusia dari perhambaan kepada

sebarang makhluk dan memerdekakannya dari perhambaan dan kehinaan serta tunduk

kepada yang lain dari Allah seperti tunduk kepada Tuhan-Tuhan palsu, berhala, manusia

yang selalunya memperhamba dan mengongkong keyakinan manusia dengan sekuat-

kuatnya miskipun pada lahirnya mereka bertindak seperti tuan yang bebas dan merdeka.

Penghambaan diri kepada Allah itu membebaskan manusia daripada perhambaan sesama

makhluk kerana dalam hati manusia ada keperluan sejati kepada Allah, kepada Tuhan

yang disembah yang mana dia bergantung kepadanya dan berusaha serta bekerja untuk

mencapai keredaan-Nya. Jika yang disembah itu bukan Allah Yang Maha Esa tentulah

manusia akan meraba-raba meyembah bermacam-macam Tuhan dari setiap objek benda

dan khayalan yang ada dalam pemikiran dan yang berada di sekeliling mereka. Tidak ada

sesuatu pekerjaan yang paling mulia bagi manusia yang berakal selain dari beribadah

menyembah Allah yang menciptanya dan menjadikan dirinya dengan sebaik-baiknya dan

perkerjaan yang seburuk-buruknya kepada seorang manusia itu pula ialah menafi dan

mendustakan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka menyembah dan mengabdikan diri

mereka kepada Tuhan yang lain dari Allah swt. Seorang hamba abdi yang taat kepada

tuannya tentulah akan merasa senang dan gembira kerana ia tahu apa yang disukai oleh

tuannya lalu disempurnakannya suruhan itu dengan segala senang hati dan

disempurnakan dengan sebaik-baiknya. Manakala seorang hamba yang dimiliki oleh

beberapa orang tuan selalu bertelingkah antara sesama mereka; yang satu menyuruh

hamba itu melakukan sesuatu yang ditegah oleh yang lain, maka alangkah susah dan

deritanya hamba tersebu itu untuk melakukan perintah-perintah Tuhan yang saling

bertentangan

16. perintahnya antara satu Tuhan dengan Tuhan yang lain. Kalau orang yang menyembah

selain dari Allah menjadi musyrik (kafir di- sebabkan ia melakukan perbuatan syirik),

maka begitulah juga orang yang takabur menjadi musyrik (orang syirik), sebagaimana

Firaun kerana kesombongan dan takaburnya, sebagaimana firman Allah swt.

bermaksudnya: “Nabi Musa as. berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku

dan Tuhan kamu daripada perbuatan orang yang takabur yang tidak percaya hari

Perhitungan”, demikianlah Allah meterikan setiap hati orang yang takabur lagi

bermaharajalela”. (al-A‟raf: 27) Kajian menunjukan bahawa semakin besar keangkuhan

seseorang yang enggan tunduk dan patuh beribadah (mengabdi diri) kepada Allah,

semakin besar kesyirikannya dengan Allah, Kerana menurut kebiasaannya semakin

banyak takabur tidak mahu menyembah Allah semakin bertambahlah pergantungan

manusia itu terhadap makhluk yang dicintainya yang menjadi pujaan utama bagi hatinya;

yang demikian mereka akan menjadi musyrik dengan sebab menjadikan dirinya hamba

(menyembah) kepada selain dari Allah swt. Hati atau keyakinan manusia tidak akan

terlepas dari perhambaan kepada makhluk kecuali mereka menjadikan Allah sebagai

Tuhannya yang sebenar dan sejati, tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, tiada

tempat bergantung dan meminta pertolongan melainkan dari-Nya, Tidak merasa gembira

melainkan dengan apa yang disukai dan diredai-Nya, Tidak ia benci melainkan apa yang

dibenci oleh Allah, tidak ia memusuhi kecuali orang yang Allah memusuhinya, tidak ia

kasih melainkan kepada orang yang di kasihi oleh Allah, tidak ia memberi kecuali kerana

Allah dan tidak ia melarang kecuali kerana Allah. Semakin tulus keikhlasan seseorang itu

kepada Allah maka semakin sempurnalah ubudiyahnya (perhambaanya) kepada Allah

dan terlepas dari pergantungannya kepada sesama makhluk, dengan sempurna

ubudiyahnya kepada Allah maka sempurnalah kesuciannya dari sifat syirik.

17. Tidak Harus Kepentingan Dunia Dijadikan Tujuan Ibadah Samasekali tidak sesuai

dengan tujuan Islam yang suci di mana tujuan atau kepentingan dunia menjadi matlamat

dalam amalan atau ibadah seseorang, ataupun kepentingan dunia atau faedah-faedah

dunia menjadi pendorong seseorang untuk melakukan printah ibadah kepada Allah swt.

Begitu juga kalau tujuan beramal dan beribadah kepada Allah swt. untuk mendapatkan

kesucian jiwa dan dengan itu dapat mengembara ke alam arwah dan dapat melihat

malaikat serta dapat melakukan sesuatu yang luar biasa, mendapat keramat (kemuliaan)

dan ilmu ladunni. Semuanya ini disangkal oleh para ulamak dengan katanya: “Yang

demikian adalah terkeluar daripada jalan ibadah, Ia merupakan ramalan kepada ilmu atau

perkara ghaib, malah akan menjadi ibadah kepada Allah itu sebagai jalan menuju ke arah

demikian yang mana pada akhirnya lebih hampir kepada meninggal ibadah.”Orang-orang

yang beribadah dengan maksud yang demikian termasuk di bawah pengertian ayat al-

Quran yang maksudnya: “Sebagian daripada manusia yang menyembah Allah secara

tidak tetap, bila mendapat kebaikan dia teruskan dan bila terkena kesusahan dia berpaling

tadah. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang amat nyata”. (al-Hajj: 11)

Begitulah keadaan orang yang beribadah dengan tujuan mendapatkan faedah-faedah

dunyawi jika sampai dan berhasil tujuan dan kehendaknya bergembiralah dia dan kuatlah

tujuannya tetapi lemahlah ibadahnya jika tujuannya tidak berhasil dia meninggalkan

ibadah itu. Rahasia-rahasia ibadah a. Gerakan Shalat Adalah ibadah shalat yang secara

khusus yang perintahnya melalui sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yang dikenal

dengan quot;ISRA‟ Mi‟ RAJ yang kisahnya sebagian dilukiskan dalam QS Al Isra‟ ayat

1. Berbeda dengan ibadah-

18. ibadah yang lain. Perintah shalat terjadi tanpa diutusnya Malaikat Jibril turun ke bumi

melainkan Nabi Muhammad SAW sendiri hadir bertemu di ArsyNya Allah SWT.dzat

yang sedang disembah. Sebegitu pentingnya shalat ini sampai Allah memberikan manfaat

lebih di banding ibadah-ibadah lain, baik dari segi kejiwaan maupun dari segi fisik,

apabila shalat itu dilakukan dengan sempurna. Sebelum menyentuh makna bacaan shalat

yang luar biasa, termasuk aspek quot;olah rohaniquot; yang dapat melahirkan ketenangan

jiwa. Secara gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW syarat akan hikmah dan

bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerakan tersebut dilakukan dengan benar,

thuma‟ninah serta istiqamah (terus-menerus). Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat

(Qultum Media, 2005). Madyo Wratsongko mengung-kapkan bahwa gerakan shalat dapat

melenturkan urat saraf, mengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh.

Membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka

pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung). Sehingga analisa kebenaran

Rasulullah SAW dalam kisah diatas pendahuluan tadi quot;jika engkau berdiri untuk

melakukan shalat, maka bertak-birlahquot;. Saat takbiratul ikhram, Nabi Muhammad

SAW mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu (H.R. Bukhari). Di hadits lain

sejajar dengan telinga. Gerakan takbir (takbiratul ikhram) ini dilakukan selanjutnya

ketika rukuk dan ketika bangkit dari rukuk, apa maknanya? Maka kita otomatis dada,

memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirakan ke

bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan membuka telinga kita,

sehingga keseimbangan tubuh terjaga. quot;Rukuklah dengan tenangquot; (thuma‟ninah).

Ketika ruku, Rasulullah SAW, meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (H.R.

Bukhari dari Sa‟adib nu Abi

19. Waqas). Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat

merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai saraf

sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk juga dapat memelihara kelenturan tuas

sistem keringat yang terdapat punggung, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang

leher, tengkuk dan saluran saraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara

maksimal dengan mata menghadap ketempat sujud. quot;Lalu bangunlah hingga engkau

berdiri tegakquot; apa maknanya? saat kita berdiri dari rukuk dengan mengangkat kedua

tangan (i‟tidal) darah dari kepala akan turun kebawah, sehingga pangkal otak yang

mengatur keseimbangan berkurang tekanannya. quot;Selepas itu sujudlah dengan

tenangquot; apa maknanya? Bila dilaksanakan dengan benar dan lama. Sujud dapat

memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk ke mata, telinga,

leher dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan

pembuluh darah di jantung, sehingga dapat meminimalisir resiko jantung koroner.

quot;Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenangquot;. Apa maknanya?

Cara duduk diantara dua sujud dapat menyeimbangkan ubuh kita. Selain itu, juga dapat

menjaga kelenturan saraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis sampai

jari-jari kaki. Akhirnya marilah kita contoh seoptimal mungkin perilaku abi Muhammad

SAW, termasuk cara shalatnya insya Allah pasti membawa kebaikan. b. Rahasia Puasa

Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun

ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan

ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam

kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.

20. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah

satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan. Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al

Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk

selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan. a.Menguatkan

Jiwa. Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa

nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun

keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang

lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti

berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita

tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam

peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena

manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan

dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung

mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan

masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang

menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat

berdasarkan ilmu-Nya (QS 45:23). Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil

mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan

demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang

suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga

segala do‟anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Ada

tiga golongan orang yang tidak ditolak do‟a mereka: orang yang berpuasa hingga

berbuka, pemimpin yang adil dan do‟a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).

21. b.Mendidik Kemauan. Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang

sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang

oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan

keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu,

Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka

puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani

yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai

keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan

membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami

sangat sulit. c.Menyehatkan Badan. Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa

yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani.

Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh

para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya

lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus

diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin

harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi

tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. d..

Mengenal Nilai Kenikmatan. Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak

kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak

pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat

dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal

kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya

sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak

lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.

22. Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi

tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung

betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru

beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita

alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah

meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah

puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan

agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti

kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur

memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling

tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala

Tuhanmu memaklumkan: quot;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan

menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka

sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7). e.Mengingat dan Merasakan Penderitaan

Orang Lain. Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita

bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan

haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara

penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan

menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya

yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan

saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah

Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo,

Irak, Palestina dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu,

sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan

demikian setahap

23. demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan

zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi

kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang

berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang

artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu

membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo‟alah untuk mereka. Sesungguhnya

do‟a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi

Maha Mengetahui (QS 9:103). c. Rahasia Zakat Zakat merupakan ibadah yang memiliki

dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti

dalam kehidupan ummat manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik

yng berkaitan dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara

manusia, antara lain : 1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa

yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok

hidupnya.Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya

terhadap Allah SWT 2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri

orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak

memiliki apa- apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya. 3.

Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, emurnikan jiwa (menumbuhkan

akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat

bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena

terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu

melingkupi hati. 4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang

berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatn Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan

derajat, dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful

Ijti'ma

24. (tanggung jawab bersama) 5. Menjadi unsur penting dalam mewujudakan keseimbanagn

dalam distribusi harta (sosial distribution), dan keseimbangan tanggungjawab individu

dalam masyarakat 6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi

sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan

solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan

Islam, pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan

kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara

golongan yang kuat dengan yang lemah 7. Mewujudkan tatanan masyarakat yang

sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan

harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir bathin.

Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali

bahaya komunisme 9atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab

dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan

sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT,

akan terciptalah sebuah masyarakat yang baldatun thoyibun wa Rabbun Ghafur.

25. Kesimpulan Sebagaimana yang telah kita faham sebelum ini runglingkup ibadah itu

adalah terlalu luas sebagaimana yang telah dijelaskan iaitu ibadah merupakan semua

kegiatan hidup manusia itu sendiri yang sesuai dengan syariat Islam yang suci dan murni

itu, oleh itu bolehlah difaham ibadah dalam Islam bermula sejak dari adab- adab masuk

ketandas mengerjakan qadha‟ hajat hinggalah sampai kepada bagaimana cara mengurus

kewangan dan mentadbir negara. Kegiatan hidup manusia ini akan termasuk ke dalam

makna ibadah yang diberi ganjaran dan pembalasan pahala baik di akhirat apabila ia

menepati dengan kehendak syarak, tidak menyeleweng dari kehendak dan ketentuan

Allah swt. dikerjakan mengikut peraturan dan syarat-syaratnya, disertai pula dengan niat

yang betul dan ikhlas semata-mata dilakukan kerana mencari keredaan Allah swt. tidak

kerana yang lain dari-Nya, menghindarkan diri dari perasaan riak, (menunjuk- nunjuk),

ingin dipuji dan terkenal sebagai orang yang rajin, tekun, orang baik dan ingin disebut-

sebut sebagai ahli ibadah oleh orang ramai dan juga suka berbangga dengan memberi

tahu kepada orang lain akan amal kebajikannya. Ia juga hendaklah menghindarkan diri

dari merasa bangga kerana ia telah banyak berbuat kebajikan dan berbuat amal ibadah.

Oleh itu ibadah dalam Islam bukanlah terhad kepada amalan-amalan ibadah yang ritual

semata-mata seperti sembahyang, zikir, puasa, haji dan sebagainya yang disebut sebagai

ibadah khusus, tetapi ibadah merangkumi, kerja-kerja kemasyarakatan dan sosial,

mencari rezki, sahinggalah kepada mengurus dan mentadbir negara; semuanya itu akan

menjadi ibadah sekiranya ia dilakukan menurut cara dan kehendak Islam serta niat dari

hati yang ikhlas semata-mata kerana Allah swt.



Related docs
Other docs by huanghengdong
Which Stage of Public school development
Views: 0  |  Downloads: 0
ArchitectureandReuse
Views: 0  |  Downloads: 0
measureSize
Views: 0  |  Downloads: 0
exam2
Views: 0  |  Downloads: 0
Newsletter_12.11.09
Views: 0  |  Downloads: 0
luke_Images
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!