IBADAH

Document Sample
IBADAH Powered By Docstoc
					                                        IBADAH
Tugas manusia di dunia adalah ibadah kepada Allah SWT (51:56). Meskipun merupakan tugas,
tetapi pelaksanaan ibadah bukan untuk Allah (51 :57), karena Allah tidak memerlukan apa-apa.
Ibadah pada dasarnya adalah untuk kebutuhan dan keutamaan manusia itu sendiri.

Ibadah ('abada : menyembah, mengabdi) merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai
makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena penyembahan/pemujaan merupakan fitrah (naluri)
manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia dari pemujaan dan pemujaan yang
salah dan sesat.

Dalam Islam ibadah memiliki aspek yang sangat luas. Segala sesuatu yang dicintai dan diridhai
Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir atau batin, semua merupakan ibadah.
Lawan ibadah adalah ma'syiat.




Ibadah ada dua macam :

1. Ibadah Maghdhah (khusus)
yaitu ibadah yang ditentukan cara dan syaratnya secara detil dan biasanya bersifat ritus. Misalnya
: shalat, zakat, puasa, haji, qurban, aqiqah. Ibadah jenis ini tidak banyak jumlahnya.

2. Ibadah 'Amah (Muamalah)
Yaitu ibadah dalam arti umum, segala perbuatan baik manusia. Ibadah ini tidak ditentukan cara
dan syarat secara detil, diserahkan kepada manusia sendiri. Islam hanya memberi
perintah/anjuran, dan prisnip-prinsip umum saja. Ibadah dalam arti umum misalnya : menyantuni
fakir-miskin, mencari nafkah, bertetangga, bernegara, tolong-menolong, dll.

Sesuatu akan bernilai ibadah, jika memenuhi persyaratan :

1. Iman kepada Allah dan Hari akhir (2 :62). Karenanya amal orang kafir seperti fatamorgana.

2. Didasari niat ikhlas (murni) karena Allah, sebagaimana hadis :

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. dan bagi segala sesuatu tergantung dari apa yang ia
niatkan.

3. Dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah.
Untuk ibadah maghdhah : harus sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis, Kreativitas justru
dilarang. Sehingga berlaku prinsip " Segala ssesuatu dilarang, kecuali yang diperintahkan". Kita
dilarang membuat ritus-ritus baru yang tidak ada dasarnya.

Untuk mu'amalah : harus sesuai dengan jiwa dan prinsip prinsip ajaran Islam. Pelaksanaannya
justru memerlukan kreativitas manusia. Sehingga berlaku prinsip " Segala-sesuatu boleh, kecuali
yang dilarang"

Ibadah pada dasarnya merupakan pembinaan diri menuju taqwa. (2 :21). Setiap upaya ibadah
memiliki pengaruh positif terhadap keimanan, lawanya adalah maksyiat yang berpengaruh
negatif terhadap keimanan.

Iman bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman dengan ibadah, berkurang karena ma'syiat
(Hadis)

Setiap ibadah juga memiliki hikmah/tujuan-tujuan mulia, seperti :

- Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar (29 : 45)

- Puasa untuk mencapai taqwa (2 :183)

- Zakat untuk mensucikan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak ( 9: 103)

- Haji sebagai sarana pendidikan untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan kotor. ( 2;197)

Selain itu juga memiliki keluasan dan keutamaan-keutamaan




Konsep Ibadah - Document Transcript
   1. KONSEP IBADAH DALAM ISLAM Pendahuluan Hidup manusia dibumi ini bukanlah
      suatu kehidupan yang tidak mempunyai tujuan dan matlamat dan bukanlah mereka boleh
      melakukan sesuatu mengikut kehendak perasaan dan keinginan tanpa ada batas dan
      tanggungjawab. Tetapi penciptaan makhluk manusia di bumi ini adalah mempunyai suatu
      tujuan dan tugas risalah yang telah ditentu dan ditetapkan oleh Allah Tuhan yang
      menciptanya. Tugas dan tanggungjawab manusia sebenarnya telah nyata dan begitu jelas
      sebagaimana terkandung di dalam al-Quran iaitu tugas melaksanakan ibadah
      mengabdikan diri kepada Allah dan tugas sebagai khalifah-Nya dalam makna mentadbir
      dan mengurus bumi ini mengikut undang-undang Allah dan peraturan- Nya. Firman
   Allah swt. maksudnya: “Dan Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
   mereka beribadah (menyembah) kepada Ku”. (Az-Zaariyaat: 56) Firman Allah swt.
   bermaksud: “Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi
   dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebaha-gian (yang lain) beberapa darjat
   untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (al-An‟aam: 165) Tugas
   sebagai khalifah Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta
   mengurusnya dengan peraturan dan undang-undang Allah. Tugas beribadah dan
   mengabdi diri kepada Allah dalam rangka melaksanakan segala aktiviti pengurusan bumi
   ini yang tidak terkeluar dari garis panduan yang datang dari Allah swt. dan dikerjakan
   segala kegiatan pengurusan itu dengan perasaan ikhlas kerana mencari kebahagian dunia
   dan akhirat serta keredaan Allah. Allah swt. telah menyediakan garis panduan yang lurus
   dan tepat kepada manusia dalam rangka pengurusan ini. Allah dengan rasa kasih sayang
   yang bersangatan kepada manusia diturunkannya para rasul dan bersamanya garis
   panduan yang diwahyukan dengan tujuan supaya manusia itu boleh mengurus diri
2. mereka dengan pengurusan yang lebih sempurna dan bertujuan supaya manusia itu dapat
   hidup sejahtera dunia dan akhirat. Pengertian Ibadah Kalimat ibadah berasal daripada
   kalimat `abdun‟. Ibadah dari segi bahasa bererti patuh, taat, setia, tunduk, menyembah
   dan memperhambakan diri kepada sesuatu. Dari segi istilah agama Islam pula ialah
   tindakan, menurut, mengikut dan mengikat diri dengan sepenuhnya kepada segala
   perkara yang disyariatkan oleh Allah dan diserukan oleh para Rasul-Nya, sama ada ia
   berbentuk suruhan atau larangan. Ibnu Taimiah pula memberi takrif Ibadah, iaitu nama
   bagi sesuatu yang disukai dan kasihi oleh Allah swt. Perintah Allah dan Rasul-Nya ini
   hendaklah ditunaikan dengan perasaan penuh sedar, kasih dan cinta kepada Allah, bukan
   kerana terpaksa atau kerana yang lain dari cintakan kepada-Nya. Para Nabi dan Rasul
   merupakan hamba Allah yang terbaik dan sentiasa melaksanakan ibadah dengan penuh
   kesempurnaan di mana setiap arahan Tuhannya, mereka patuhi dengan penuh perasaan
   cinta dan kasih serta mengharap keredaan dari Tuhannya. Mereka menjadi contoh teladan
   yang paling baik kepada kita semua dalam setiap pekerjaan dan amalan sebagaimana
   yang dianjurkan oleh al-Quran itu sendiri. Firman Allah swt. maksudnya: “Sesungghnya
   bagi mu, apa yang ada pada diri Rasulullah itu contoh yang paling baik”. (al-Ahzab: 21)
   Sesetengah ulama mengatakan bahawa perhambaan (ibadah) kepada Allah hendaklah
   disertai dengan perasaan cinta serta takut kepada Allah swt. dan hati yang sihat dan
   sejahtera tidak merasa sesuatu yang lebih manis, lebih lazat, lebih seronok dari
   kemanisan iman yang lahir dari pengabdian (ibadah) kepada Allah swt. Dengan ini maka
   akan bertautlah hatinya kepada Allah dalam keadaan gemar dan reda
3. terhadap setiap perintah serta mengharapkan supaya Allah menerima amalan yang
   dikerjakan dan merasa bimbang serta takut kalau-kalau amalan tidak sempurna dan tidak
   diterima oleh Allah seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya yang bermaksud: “(Ia itu)
   Oran yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya)
   dan dia datang dengan hati yang bertaubat”. (Qaf: 33) Orang yang memperhambakan
   dirinya (beribadah) kepada Allah mereka akan sentiasa patuh dan tunduk kepada
   kehendak dan arahan Tuhannya, sama ada dalam perkara yang ia suka atau yang ia tidak
   suka dan mereka mencintai dan mengasihi Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain-
   lainnya. Mereka mengasihi makhluk yang lain hanyalah kerana Allah semata-mata, tidak
   kerana yang lain Kasihkan kepada Rasulullah saw. pula kerana ia membawa Risalah
   Islam, cintakan kepada Rasulullah saw. hendaklah mengikuti sunahnya sebagaimana
   firman Allah swt. maksudnya: “Katakanlah (wahai Muhammad) sekiranya kamu
   kasihkan Allah maka ikutilah aku (pengajaranku) nescaya Allah akan mengasihi kamu
   dan mengampunkan dosa- dosa kamu”. (Al-Imran: 31) Dan andainya kecintaan kamu
   kepada selain Allah dan Rasul-Nya itu mengatasi dan melebihi dari kencintaan dan kasih
   kepada yang lain; Allah akan turunkan keseksaan-Nya kepada manusia yang telah
   meyimpang dari ketentuan-Nya. Firman Allah swt. maksudnya: “Katakanlah
   (Muhammad) jika ibu bapa kamu, anak-anak kamu, saudara mara kamu, suami isteri
   kamu, kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
   bimbangkan kerugiannya, dan rumahtangga yang kamu sukai itu lebih kamu kasihi
   daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad untuk
4. agama Allah, maka tunggulah (kesiksaan yang akan didatangkan) oleh Allah. Dan Allah
   tidak memberi hidayah kepada orang-orang fasik”. (At-Taubah: 24) Ruang lingkup
   Ibadah dan Hubunganya dengan kehidupan Sebgaimana yang dijelaskan di atas nyatalah
   ibadah itu itu bukanlah sesempit apa yang difahami oleh sebahagian dari kalangan
   manusia yang tidak dapat memahami kesempurnaan Islam itu sendiri di mana pada
   anggapan mereka Islam itu hanya suatu perbicaraan pasal akhirat (mati) dan melakukan
   beberapa jenis ibadah persendirian tidak lebih dari itu. Begitu juga bila disebut ibadah
   apa yang tergambar hanyalah masjid, tikar sembahyang, puasa, surau, tahlil, membaca al-
   Quran, doa, zikir dan sebagainya iaitu kefahaman sempit disekitar ibadah-ibadah khusus
   dan ritual sahaja tidak lebih dari itu. Kefahaman seperti ini adalah akibat dari serangan
   fahaman Sekular yang telah berakar umbi ke dalam jiwa sebahagian dari kalangan orang-
   orang Islam. Islam adalah suatu cara hidup yang lengkap dan sempurna, yang
   merangkumi semua bidang kehidupan dunia dan akhirat, di mana dunia merupakan
   tanaman atau ladang yang hasil serta keuntungannya akan dituai dan dinikmati pada hari
   akhirat kelak. Ibadah dalam Islam meliputi semua urusan kehidupan yang mempunyai
   paduan yang erat dalam semua lapangan hidup dunia dan akhirat, tidak ada pemisahan
   antara kerja-kerja mencari kehidupan di muka bumi ini dan hubungannya dengan balasan
   akhirat. Islam mengajarkan kepada kita setiap apa juga amalan yang dilakukan oleh
   manusia ada nilai dan balasan sama ada pahala atau siksa. Inilah keindahan Islam yang
   disebut sebagai ad-Deen yang lengkap sebagai suatu sistem hidup yang boleh memberi
   kesejahteraan hidup penganutnya di dunia dan di akhirat. Dengan kata lain setiap amalan
   atau pekerjaan yang membawa manfaat kepada individu dan masyarakat selama ia tidak
   bercanggah dengan syarak jika sekiranya ia memenuhi syarat-syaratnya, seperti
   dikerjakan dengan ikhlas kerana
5. Allah semata-mata bukan kerana mencari kepentingan dan mencari nama serta ada niat
   mengharapkan balasan dari manusia atau ingin mendapat pujian dan sanjungan dari
   manusia; maka amalan-amalan yang demikian akan mejadi ibadah yang diberi pahala di
   sisi Allah swt di akhirat kelak, insya‟-Allah. Berdasarkan kepada konsep ibadah tersebut
   maka setiap perbuatan pertolongan baik kepada orang lain seperti membantu orang sakit,
   tolong merengankan beban dan kesukaran hidup orang lain, memenuhi keperluannya,
   menolong orang yang teraniaya, mengajar dan membimbing orang yang jahil adalah
   ibadah. Termasuk juga dalam makna ibadah ialah setiap perbuatan, perkataan manusia
   zahir dan batin yang disukai dan diredai oleh Allah swt. Bercakap benar, taat kepada ibu
   bapa, amanah, menepati janji, berakata benar, memenuhi hajat keperluan orang lain
   adalah iabadah. Menuntut ilmu, menyuruh perkara kebaikan dan mencegah segala
   kejahatan, berjihad, memberi pertolongan kepada sesama manusia, dan kepada binatang,
   berdoa, puasa, sembahyang, membaca al-Quran semuanya itu juga adalah sebahagian
   dari ibadah. Begitu juga termasuk dalam pengertian ibadah cinta kepada Allah dan Rasul-
   Nya, melaksanakan hukum-hukum Allah, sabar menerima ujian, bersyukur menerima
   nikmat, reda terhadap qadha‟ dan qadar-Nya dan banyak lagi kegiatan dan tindakan
   manusia yang termasuk dalam bidang ibadah. Kesimpulannya ruanglingkup ibadah dalam
   Islam adalah terlalu terlalu luas yang merangkumi semua jenis amalan dan syiar Islam
   dari perkara yang sekecil- kecilnya seperti cara makan, minum dan masuk ketandas
   hinggalah kerja-kerja menguruskan kewangan dan pentadbiran negara semuanya adalah
   dalam makna dan pengertian ibadah dalam artikata yang luas apabila semuanya itu
   dikerjakan dengan sebaik-baiknya dengan menurut adab dan peraturan serta memenuhi
   syarat- syaratnya.
6. Ibadah Sebagai Sarana Hablu minallah dan Habu minannas Setiap ibadah dalam Islam,
   apakah itu shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan menunaikan haji, memiliki
   dua demensi. Pertama, kegiatan ibadah dimaksudkan untuk memenuhi kewajiban atau
   penggilan Allah SWT, dalam rangka hablum minallah. Kedua, ibadah yang dilakukan
   oleh hamba Allah itu memiliki implikasi sosial. Dimensi kedua ini menyaran pada
   implikasi hablum minallah terhadap hablum minannas. Dalam dimensi kewajiban, ibadah
   shalat (lima waktu), membayar zakat, menjalankan puasa, dan menunaikan haji
   merupakan ibadah yang wajib hukumnya (fardlu „ain); artinya setiap muslim wajib
   melaksanakan ibadah-ibadah itu, kecuali haji; ibadah haji wajib hukumnya bagi seorang
   muslim yang mampu untuk menunaikannya. Dalam ajaran Islam, ibadah shalat
   merupakan ibadah yang sangat penting. Karena sangat pentingnya shalat, maka shalat
   dipandang sebagai tiyang agama. Shalat, digariskan sebagai ibadah yang mampu
   mencegah umat muslim dari perbuatan keji dan munkar, memiliki dimensi sosial, antara
   lain, mendidik umat manusia untuk berlaku demokratis. Sewaktu melaksanakan ibadah
   shalat berjamaah di mushalla atau masjid, antar kaum muslimin tidak ada perbedaan;
   tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, bawahan dan atasan, kaum elit dan
   rakyat biasa dan sebagainya. Seseorang yang paling awal datang ke mushalla atau masjid
   untuk shalat berjamaah, dia memiliki hak untuk menempatkan diri pada barisan terdepan.
   Implikasi sosial lebih lanjut bisa dilihat bila seorang muslim kembali ke tengah-tengah
   masyarakat, dia akan mendahulukan atau memperhatikan hak orang lain ketimbang hak
   yang dimilikinya. Ini berarti bahwa dia tidak akan merasa menang sendiri; dia tidak akan
   merasa pintar sendiri; dia tidak akan merasa benar sendiri, dia rame ing gawe sepi ing
   pamrih (tidak melakukan korupsi dan manipulasi, karena dua perbuatan ini mengarah
   kepada pengambilan sesuatu yang bukan menjadi haknya), dan sebagainya.
7. Demikian pula, ibadah puasa juga mendidik kaum muslimin untuk tidak berpurba sangka
   (prejudice), tidak melakukan pembedaan (discrimination), dan sejenisnya terhadap
   sesama umat manusia. Hal ini didasarkan pada salah satu unsur puasa adalah menahan
   lapar dan dahaga. Perasaan lapar dan dahaga merupakan masalah keseharian yang
   dihadapi oleh orang-orang miskin, namun bukan menjadi masalah bagi orang-orang
   berada. Pada tataran tertentu, seseorang yang berasal dari kelompok orang berada akan
   dapat merasakan apa yang dirasakan oleh saudara- saudaranya yang berada di bawah
   garis kemiskinan, yaitu perasaan lapar dan dahaga. Hal ini, sebenarnya, mengajarkan
   pada umat manusia untuk tidak berpurbasangka, melakukan diskriminasi atau pembedaan
   terhadap sesama umat. Implikasi sosial yang dipancarkan oleh ibadah zakat bisa timbul
   dari hikmah ibadah puasa. Seperti diketehui dan dirasakan bahwa setiap orang yang
   berpuasa pasti mengalami rasa lapar dan dahaga. Dengan mengalami sendiri bagaimana
   rasanya lapar dan dahaga sewaktu berpuasa itu, maka orang-orang, katakanlah, dari
   kalangan kaya terlatih untuk merasakan derita lapar dan dahaga sebagaimana yang
   dialami oleh golongan fakir-miskin dalam hidup keseharian mereka. Ajaran ini
   diharapkan dapat menimbulkan rasa belas kasihan dan sifat penyantun si kaya terhadap si
   miskin. Pada waktu-waktu selepas puasa, diharapkan bahwa si kaya atas kemauannya
   sendiri akan selalu mengulurkan tangan, memberikan pertolongan dan bantuan baik
   secara material maupun non-material. Bantuan-bantuan itu bisa berupa infag, sedekah
   dan zakat (materi) dan nasihat, dorongan moril dan sejenisnya (non- materi). Dalam
   kehidupan bernegara, ajaran ini menggariskan kepada para pemegang kekuasaan untuk
   mengarahkan segala kebijakan (ekonomi, politik, dan sosial budaya, dan sebagainya)
   demi kepentingan orang banyak, khususnya orang miskin, wong cilik bukan demi
   kepentingan untuk mencari popularitas dalam rangka mempertahankan kekuasaan
   mereka. Implikasi sosial yang terpancar dalam ibadah haji, antara lain, adalah terciptanya
   persaudaraan sesama umat Islam dari seluruh pelosok dunia dan
8. sekaligus merupakan syiar Islam yang luar biasa. Setiap musim haji tiba, sejumlah besar
   umat Islam yang berasal dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong ke tanah suci
   untuk menunaikan ibadah haji. Momen ibadah haji ini bisa dimanfaatkan sebagai syiar
   Islam dan sekaligus sebagai sarana untuk menjalin persaudaraan sesama muslim sedunia.
   Usai menunaikan ibadah haji, seorang muslim dapat memanfaatkan momen ibadah yang
   telah dilaksanakan itu sebagai titik tolak untuk mengembangkan tali persaudaraannya
   dengan sesama umat muslim, dengan umat sebangsa di tanah airnya secara lebih baik.
   Ibadah haji, sebagaimana dinyatakan oleh Ustadz Fauzan Abidin merupakan ibadah yang
   dimaksudkan untuk mensucikan diri dari: kotoran lahiriah, kotoran bathiniah, kotoran
   pikiran dan kotoran sosial. (Radar Banjarmasin, 31 Januari). Seorang muslim yang telah
   menunaikan ibadah haji berarti yang bersangkutan telah memenuhi lima rukun Islam. Dia
   adalah seorang muslim yang telah tersucikan dari segala kotoran sebagaimana dijelaskan
   oleh Ustadz tersebut. Bila ibadah dalam kerangka hablum minallah memiliki implikasi
   sosial (hablum minnas) yang positif, dan bila nilai-nilai baik yang terkandung di
   dalamnya terpateri secara kukuh dan terpadu dalam diri seorang muslim dan secara terus
   menerus diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
   maka Insya Allah berarti dia adalah mukmin, muslim dan sekaligus muhsin. Dalam
   ajaran Islam, hubungan antar manusia (hablum minannas) yang terbimbing melalui
   ibadah (hablum minallah) telah diatur secara sangat rapi. Dalam kerangka hubungan antar
   manusia, ajaran Islam menggariskan pola persaudaraan sesama muslim ( ukhuwah al-
   Islamiyah atas dasar al muslimu akhul muslim), persaudaraan sesama warga bangsa
   (ukhuwah al- wathaniyah), dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah al-basyariyah).
   Dalam hal ini, para mukminin, muslimin dan muhsinin yang telah menunaikan lima
   rukun Islam (bukan hanya rukun Islam ke lima) menjadi harapan kita semua untuk
   menjadi pelopor dalam mengemban ajaran
9. Allah SWT, bahwa: “Islam adalah rahmat bagi sekalian alam”, yang di samping dengan
   tetap menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT, secara sosial mereka akan
   senantiasa, antara lain, menjaga kelestarian, keselarasan, keharmonisan di muka bumi ini.
   Dominasi dalam arti positif , misalnya, dapat kita lihat dalam ajaran Islam di mana
   hubungan antar manusia (hablum minannas) telah diatur sedemikian rapinya sehingga
   dominasi pihak yang mayoritas, kuat, kaya, berpengaruh atau sejenisnya harus
    diupayakan menjadi hal yang positif dan diridhai oleh Allah S.W.T. Dalam pandangan
    Islam, orang atau kelompok orang yang dominan, kuat, kaya, atau berpengaruh bisa saja
    melakukan dominasi tetapi harus dalam kerangka untuk melindungi atau mengayomi
    pihak lain yang lemah. Orang kaya yang secara ekonomi dominan harus melindungi atau
    mengayomi pihak yang miskin dengan cara memberikan sedekah, santunan, zakat,
    pekerjaan atau sejenisnya. Dalam dunia kerja hubungan antara majikan dan buruh dalam
    ajaran Islam tidak berimplikasi pada dominasi majikan terhadap buruh, seperti yang
    diisyaratkan oleh sistem kelas model kapitalisme. Seperti diuraikan di atas, ajaran Islam
    menggariskan pola persaudaraan sesama muslim, persaudaraan sesama warga bangsa,
    dan persaudaraan sesama manusia. Dengan demikian jikalau kaum muslimin menjadi
    kekuatan yang dominan maka tidak ada alasan bagi mereka untuk melakukan penindasan,
    penekanan, intimidasi, perampasan hak atau sejenisnya terhadap kelompok lain yang
    lemah atau minoritas. Sebab, ajaran Islam menunjukkan bahwa semua umat manusia di
    bumi ini, tanpa memandang rasa, suku dan agama, adalah saudara. Dalam pandangan
    Islam, jikalau terjadi dominasi yang mengarah pada penindasan, intimidasi, pemaksaan,
    perampasan hak dan sejenisnya, berarti di sana terjadi pula pengingkaran terhadap ajaran
    Islam bahwa : “Islam adalah rahmat bagi sekalian alam”, dan terhadap hakikat manusia
    sebagai Allah S.W.T, yang antara lain untuk menjaga kelestarian, keselarasan,
    keharmonisan di muka bumi ini
10. Hubungan Iman dan Amal Iman bukanlah sekadar suatu keyakinan dan pembenaran
    dalam hati terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. tetapi iman yang hakiki
    dan sebenar ialah merangkumi pembenaran dan keyakinan di dalam hati, pengucapan di
    lidah serta melaksanakan amalan dengan anggota badan iaitu melakukan amalan soleh,
    maka dengan ini dapatlah difahami iman itu bukanlah sekadar ucapan lidah dan
    keyakinan dalam hati sahaja tetapi amalan merupakan sebagai bukti kesempurnaan,
    keteguhan dan kemantapan iman seseorang. Imam al-Ghazali menjelaskan dalam
    hubungan ini dengan katanya: “Iman itu ialah akidah, perkataan dan perbuatan”. Dengan
    makna akidah itu sebagai membenarkan dan mepercayai dengan hati kepada segala yang
    dibawa oleh Nabi Muhammad saw. (perkara yang mudah (dharuri) dari agama).
    Perkataan adalah sebagai ikrar dan pengakuan dengan lisan dan perbuatan adalah sebagai
    beramal melaksanakan segala perintah Allah dengan anggota (badan yang lahir). Hadis
    Rasulullah saw. menguatkan adanya hubungan yang sangat erat di antara iman dan amal.
    dengan sabdanya sebagai berikut: Sabda Rasulullah saw. maksudnya: “Iman itu lebih dari
    enam puluh cabang; yang paling tingginya La-Ilaaha- Illallaah dan dan yang paling
    rendahnya membuang sampah dari tengah jalan”. (H.R.Bukhari) Hadis ini menyatakan
    dengan jelas perbuatan membuang sampah sebagai sebahagian dari iman. Ini bermkna
    iman itu jelas bukan sekadar keyakinan dan kepercayaan dalam hati tetapi ia juga
    merangkumi amal atau perbuatan manusia. Pembagian Ibadah Untuk memudahkan
    bahasan dan perbincangan kita berhubung dengan ibadah ini, ulamak-ulamak Islam
    membahagikan ibadah kepada dua bahagian
11. sebagai berikut: 1. Ibadah khusus 2. Ibadah Umum Ibadah khusus ialah semua amalan
    yang tercantum dalam bab al-Ibadaat yang utamanya ialah sembahyang, puasa, zakat dan
    haji. Ibadah Umum pula ialah segala amalan dan segala perbuatan manusia serta gerak-
    geri dalam kegiatan hidup mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut: 1) Amalan yang
    dikerjakan itu di akui oleh syarak dan sesuai dengan Islam. 2) Amalan tersebut tidak
    bercanggah dengan syariat, tidak zalim, khianat dan sebagainya 3) Amalan tersebut
    dikerjakan dengan niat ikhlas semata-mata keranaAllah swt. tidak riak, ujub dan um‟ah.
    4) Amalan itu hendaklah dikerjakan dengan sebaik-baiknya 5) Ketika mengerjakan
    amalan tersebut tidak lalai atau mengabaikan kewajipan ibadah khusus seperti
    sembahyang dan sebagainya. Firman Allah swt. maksudnya: “Lelaki yang tidak
    dilalaikan mereka oleh perniagaan atau jual beli dari mengingati Allah, mendirikan
    sembahyang dan mengeluarkan zakat mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu)
    hati dan penglihatan menjadi goncang”. (An- Nur: 37) Amalan-Amalan yang Tidak
    Menjadi Ibadah Dilihat dari syarat-syarat di atas, nampaklah kepada kita bahawa sesuatu
    amalan yang dikerjakan oleh seseorang begitu sukar sekali untuk mencapai
    kesempurnaan dalam makna ibadah dengan ertikata yang sebenar-benarnya mengikut
    syarat-syarat dan ketentuan tersebut di atas, oleh itu kita hendaklah bersungguh-sungguh
    dalam mengusahakan amalan kita supaya dapat mencapai matlamat ibadah yang
    sempurna dengan menyempurnakan segala syarat-syaratnya. Dan kita hendaklah sentiasa
    meneliti dan memperhatikan dengan sungguh-
12. sungguh agar kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri; dengan menyangka kita telah
    banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi pada hakikatnya tidak
    demikian, kita takut akan tergolong ke dalam golongan manusia yang tertipu dan sia-sia
    amalan kita dan apa yang kita dapat hanyalah penat dan lelah. Ini kerana kita melakukan
    amalan dan kerja-kerja kebajikan itu tidak menepati dan tidak selari dengan ketentuan
    dan syarat-syarat ibadah dan amal soleh yang dikehandkki itu. Dari itu disamping kita
    melaksanakan segala amalan zahir dengan sempurna mengikut petunjuk dari Rasulullah
    saw. apa yang lebih penting lagi ialah kita membetulkan amalan batin iaitu amalan hati
    supaya betul iaitu niat dengan ikhlas, amalan itu semata-mata kerana Allah tidak kerana
    yang lain dari-Nya. Dan kita juga hendaklah sentiasa menjaga keikhlasan hati kita ini dari
    penyakit-penyakit yang boleh merusakannya seperti riak, ujub, sum‟ah, takabur dan
    sebagainya. Kesimpulan secara mudah ialah seorang lelaki yang memakai pakaian untuk
    menutup aurat dari kain sutra, dan perempuan yang berpakaian meliputi badannya tetapi
    masih menampakan susuk badannya masih lagi tidak dinamakan ibadah, atau seorang
    menderma dengan tujuan supaya dipuji dan digelar sebagai dermawan atau seorang yang
    rajin bersembahyang dengan niat tujuan supaya digelar sebagai ahli ibadah oleh manusia;
    itu semua tidak termasuk dalam makna ibadah yang diterima oleh Allah swt. Dengan
    demikian jelaslah kepada kita segala amalan yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas
    itu tidak dikira sebagai ibadah. Niat dan tujuan serta matlamat adalah sangat penting
    dalam sesuatu amalan di samping amalan tersebut tidak bercanggah serta diakui sah oleh
    syariat Islam. Matalamat dan Tujuan Ibadah Sebagaimana kita ketahui dan maklum
    bahawa pengutusan manusia ke dunia ini tidak lain melainkan untuk beribadah
    (memperhambakan diri) kepada al-Khaliq, Allah Yang Maha Pencipta dan juga kita telah
    mengetahui bahawa pengertian ibadah
13. dalam Islam merangkumi semua bidang amalan dalam kehidupan manusia. Dan di sini
    timbul pertanyaan kenapa kita mengabdi menyembah Allah dan apakah matlamat ibadah
    itu ? Apakah ada faedah untuk-Nya atau apa faedah yang boleh didapati oleh seseorang
    hamba yang menyembah-Nya ? Jawapannya ialah bahawa Allah swt. Yang Maha Suci
    dan Maha Tinggi tidak mendapat sebarang faedah dari ketaatan orang yang menyembah-
    Nya dan tidak memberi mudarat sedikitpun dari keengganan orang yang menentang dan
    engkar kepada perintah-Nya. Begitu juga tidak menambahkan kuasa keagungan
    pemerintahan-Nya oleh puji- pujian orang yang memuji-Nya dan tidak mengurangi
    keagungan kekuasaan-Nya oleh keengkaran orang-orang yang mengengkari perintah-
    Nya. Ini kerana Allah Maha Kaya dan mempunyai segala-galanya kerana semua yang ada
    di alam ini menjadi milik-Nya belaka sedangkan kita manusia adalah satu dari makhluk
    Allah yang banyak itu, makhluk manusia ini terlalu kecil, hina dan miskin, serba
    kekurangan dan sentiasa berhajat dan memerlukan kepada-Nya. Allah, Dialah Tuhan
    Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang serta bersifat Maha Memberi kepada
    semua makhuk-Nya dan Dia tidak menyuruh kita mengerjakan sesuatu melainkan perkara
    itu mendatangkan kebaikan bagi makhluk itu sendiri. Firman Allah swt. maksudnya:
    “Sesungguhnya Kami telah kurniakan hikmat (ilmu pengetahuan) kepada Luqman supaya
    dia bersyukur kepada Allah dan sesiapa yang bersyukur, sebenarnya dia bersyukur dagi
    faedah dirinya sendiri dan sesiapa yang ingkar, sesungghnya Allah Maha Kaya lagi
    Terpuji”. (Luqman: 12) Dari itu kita wajiblah mensyukuri segala nikmat dan kurniaan
    Allah swt. kepada kita semua yang mana sekiranya kita hendak menghitugnya sudah
    tentu kita tidak mampu untuk berbuat demikian, begitulah besar dan banyaknya
    pemberian Allah kepada kita semua sebagai makhluk-Nya.
14. Kelazatan Bermunajat dan Mentaati Allah Kelazatan beribadah ini dapat digambarkan
    dari beberapa peristiwa yang berlaku kepada baginda Rasulullah saw. para sahabat,
    tabi‟in dan para solihin, kelazatan ini akan timbul apabila adanya hubungan hamba
    dengan Tuhannya yang begitu erat dan di mana seorang hamba begitu gembira dan begitu
    senang memuji- muji kebesaran Allah swt. ini semua berlaku dari sebab makrifat-nya
    (kenalnya) seseorang hamba itu kepada Tuhannya sehingga hamba itu merasa rindu
    apabila ia tidak dapat menghadap Tuhannya, dan merasa gelisah kerana tidak dapat
    bertemu dengan yang dicintai dan dikasihinya. B begitu juga apabila seorang hamba
    mengalami sedikit kesusahan tentulah ia akan mengadu ketempat yang dapat menerima
    pengaduan dan boleh menyelesaikan masalah dan kesusahannya. Tiada tempat yang
    layak untuk berbuat demikian melainkan kepada Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa.
    Firman Allah swt. maksudnya: “Demi sesungguhnya Kami mengetahui bahawa engkau
    (Muhammad) bersusah hati dengan apa yang mereka katakan maka hendaklah engkau
    bertasbih memuji Tuhanmu serta jadilah dari golongan orang-orang yang sujud beribadah
    dan sembahlah Tuhanmu sehingga tiba kepadmu perkara yang tetap (iaitu mati)”. (al-
    Hijr: 97-99) Begitu juga di waktu orang-orang mukmin mendapat kurnia ia bersyukur
    seterusnya memuji kepada Allah swt. Firman Allah swt. maksudnya: “Bila datang
    pertolongan Allah dan kemenangan (pembukaan Makkah) dan engkau lihat manusia
    berduyun-duyun masuk agama Allah swt. maka ucapkanlah tasbih dengan memuji
    Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia suka menerima taubat”.
    (an-Nasr: 1-4)
15. Ibadah Hanya Untuk Allah Pada hakikatnya pengabdian terhadap Allah swt. merupakan
    suatu kebebasan yang hakiki, jalan bagi mencapai kepada ketuannan yang sejati, kerana
    Allahlah yang boleh membebaskan hati nurani manusia dari perhambaan kepada
    sebarang makhluk dan memerdekakannya dari perhambaan dan kehinaan serta tunduk
    kepada yang lain dari Allah seperti tunduk kepada Tuhan-Tuhan palsu, berhala, manusia
    yang selalunya memperhamba dan mengongkong keyakinan manusia dengan sekuat-
    kuatnya miskipun pada lahirnya mereka bertindak seperti tuan yang bebas dan merdeka.
    Penghambaan diri kepada Allah itu membebaskan manusia daripada perhambaan sesama
    makhluk kerana dalam hati manusia ada keperluan sejati kepada Allah, kepada Tuhan
    yang disembah yang mana dia bergantung kepadanya dan berusaha serta bekerja untuk
    mencapai keredaan-Nya. Jika yang disembah itu bukan Allah Yang Maha Esa tentulah
    manusia akan meraba-raba meyembah bermacam-macam Tuhan dari setiap objek benda
    dan khayalan yang ada dalam pemikiran dan yang berada di sekeliling mereka. Tidak ada
    sesuatu pekerjaan yang paling mulia bagi manusia yang berakal selain dari beribadah
    menyembah Allah yang menciptanya dan menjadikan dirinya dengan sebaik-baiknya dan
    perkerjaan yang seburuk-buruknya kepada seorang manusia itu pula ialah menafi dan
    mendustakan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka menyembah dan mengabdikan diri
    mereka kepada Tuhan yang lain dari Allah swt. Seorang hamba abdi yang taat kepada
    tuannya tentulah akan merasa senang dan gembira kerana ia tahu apa yang disukai oleh
    tuannya lalu disempurnakannya suruhan itu dengan segala senang hati dan
    disempurnakan dengan sebaik-baiknya. Manakala seorang hamba yang dimiliki oleh
    beberapa orang tuan selalu bertelingkah antara sesama mereka; yang satu menyuruh
    hamba itu melakukan sesuatu yang ditegah oleh yang lain, maka alangkah susah dan
    deritanya hamba tersebu itu untuk melakukan perintah-perintah Tuhan yang saling
    bertentangan
16. perintahnya antara satu Tuhan dengan Tuhan yang lain. Kalau orang yang menyembah
    selain dari Allah menjadi musyrik (kafir di- sebabkan ia melakukan perbuatan syirik),
    maka begitulah juga orang yang takabur menjadi musyrik (orang syirik), sebagaimana
    Firaun kerana kesombongan dan takaburnya, sebagaimana firman Allah swt.
    bermaksudnya: “Nabi Musa as. berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku
    dan Tuhan kamu daripada perbuatan orang yang takabur yang tidak percaya hari
    Perhitungan”, demikianlah Allah meterikan setiap hati orang yang takabur lagi
    bermaharajalela”. (al-A‟raf: 27) Kajian menunjukan bahawa semakin besar keangkuhan
    seseorang yang enggan tunduk dan patuh beribadah (mengabdi diri) kepada Allah,
    semakin besar kesyirikannya dengan Allah, Kerana menurut kebiasaannya semakin
    banyak takabur tidak mahu menyembah Allah semakin bertambahlah pergantungan
    manusia itu terhadap makhluk yang dicintainya yang menjadi pujaan utama bagi hatinya;
    yang demikian mereka akan menjadi musyrik dengan sebab menjadikan dirinya hamba
    (menyembah) kepada selain dari Allah swt. Hati atau keyakinan manusia tidak akan
    terlepas dari perhambaan kepada makhluk kecuali mereka menjadikan Allah sebagai
    Tuhannya yang sebenar dan sejati, tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, tiada
    tempat bergantung dan meminta pertolongan melainkan dari-Nya, Tidak merasa gembira
    melainkan dengan apa yang disukai dan diredai-Nya, Tidak ia benci melainkan apa yang
    dibenci oleh Allah, tidak ia memusuhi kecuali orang yang Allah memusuhinya, tidak ia
    kasih melainkan kepada orang yang di kasihi oleh Allah, tidak ia memberi kecuali kerana
    Allah dan tidak ia melarang kecuali kerana Allah. Semakin tulus keikhlasan seseorang itu
    kepada Allah maka semakin sempurnalah ubudiyahnya (perhambaanya) kepada Allah
    dan terlepas dari pergantungannya kepada sesama makhluk, dengan sempurna
    ubudiyahnya kepada Allah maka sempurnalah kesuciannya dari sifat syirik.
17. Tidak Harus Kepentingan Dunia Dijadikan Tujuan Ibadah Samasekali tidak sesuai
    dengan tujuan Islam yang suci di mana tujuan atau kepentingan dunia menjadi matlamat
    dalam amalan atau ibadah seseorang, ataupun kepentingan dunia atau faedah-faedah
    dunia menjadi pendorong seseorang untuk melakukan printah ibadah kepada Allah swt.
    Begitu juga kalau tujuan beramal dan beribadah kepada Allah swt. untuk mendapatkan
    kesucian jiwa dan dengan itu dapat mengembara ke alam arwah dan dapat melihat
    malaikat serta dapat melakukan sesuatu yang luar biasa, mendapat keramat (kemuliaan)
    dan ilmu ladunni. Semuanya ini disangkal oleh para ulamak dengan katanya: “Yang
    demikian adalah terkeluar daripada jalan ibadah, Ia merupakan ramalan kepada ilmu atau
    perkara ghaib, malah akan menjadi ibadah kepada Allah itu sebagai jalan menuju ke arah
    demikian yang mana pada akhirnya lebih hampir kepada meninggal ibadah.”Orang-orang
    yang beribadah dengan maksud yang demikian termasuk di bawah pengertian ayat al-
    Quran yang maksudnya: “Sebagian daripada manusia yang menyembah Allah secara
    tidak tetap, bila mendapat kebaikan dia teruskan dan bila terkena kesusahan dia berpaling
    tadah. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang amat nyata”. (al-Hajj: 11)
    Begitulah keadaan orang yang beribadah dengan tujuan mendapatkan faedah-faedah
    dunyawi jika sampai dan berhasil tujuan dan kehendaknya bergembiralah dia dan kuatlah
    tujuannya tetapi lemahlah ibadahnya jika tujuannya tidak berhasil dia meninggalkan
    ibadah itu. Rahasia-rahasia ibadah a. Gerakan Shalat Adalah ibadah shalat yang secara
    khusus yang perintahnya melalui sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yang dikenal
    dengan quot;ISRA‟ Mi‟ RAJ yang kisahnya sebagian dilukiskan dalam QS Al Isra‟ ayat
    1. Berbeda dengan ibadah-
18. ibadah yang lain. Perintah shalat terjadi tanpa diutusnya Malaikat Jibril turun ke bumi
    melainkan Nabi Muhammad SAW sendiri hadir bertemu di ArsyNya Allah SWT.dzat
    yang sedang disembah. Sebegitu pentingnya shalat ini sampai Allah memberikan manfaat
    lebih di banding ibadah-ibadah lain, baik dari segi kejiwaan maupun dari segi fisik,
    apabila shalat itu dilakukan dengan sempurna. Sebelum menyentuh makna bacaan shalat
    yang luar biasa, termasuk aspek quot;olah rohaniquot; yang dapat melahirkan ketenangan
    jiwa. Secara gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW syarat akan hikmah dan
    bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerakan tersebut dilakukan dengan benar,
    thuma‟ninah serta istiqamah (terus-menerus). Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat
    (Qultum Media, 2005). Madyo Wratsongko mengung-kapkan bahwa gerakan shalat dapat
    melenturkan urat saraf, mengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh.
    Membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka
    pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung). Sehingga analisa kebenaran
    Rasulullah SAW dalam kisah diatas pendahuluan tadi quot;jika engkau berdiri untuk
    melakukan shalat, maka bertak-birlahquot;. Saat takbiratul ikhram, Nabi Muhammad
    SAW mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu (H.R. Bukhari). Di hadits lain
    sejajar dengan telinga. Gerakan takbir (takbiratul ikhram) ini dilakukan selanjutnya
    ketika rukuk dan ketika bangkit dari rukuk, apa maknanya? Maka kita otomatis dada,
    memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirakan ke
    bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan membuka telinga kita,
    sehingga keseimbangan tubuh terjaga. quot;Rukuklah dengan tenangquot; (thuma‟ninah).
    Ketika ruku, Rasulullah SAW, meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (H.R.
    Bukhari dari Sa‟adib nu Abi
19. Waqas). Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat
    merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai saraf
    sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk juga dapat memelihara kelenturan tuas
    sistem keringat yang terdapat punggung, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang
    leher, tengkuk dan saluran saraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara
    maksimal dengan mata menghadap ketempat sujud. quot;Lalu bangunlah hingga engkau
    berdiri tegakquot; apa maknanya? saat kita berdiri dari rukuk dengan mengangkat kedua
    tangan (i‟tidal) darah dari kepala akan turun kebawah, sehingga pangkal otak yang
    mengatur keseimbangan berkurang tekanannya. quot;Selepas itu sujudlah dengan
    tenangquot; apa maknanya? Bila dilaksanakan dengan benar dan lama. Sujud dapat
    memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk ke mata, telinga,
    leher dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan
    pembuluh darah di jantung, sehingga dapat meminimalisir resiko jantung koroner.
    quot;Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenangquot;. Apa maknanya?
    Cara duduk diantara dua sujud dapat menyeimbangkan ubuh kita. Selain itu, juga dapat
    menjaga kelenturan saraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis sampai
    jari-jari kaki. Akhirnya marilah kita contoh seoptimal mungkin perilaku abi Muhammad
    SAW, termasuk cara shalatnya insya Allah pasti membawa kebaikan. b. Rahasia Puasa
    Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun
    ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan
    ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam
    kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.
20. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah
    satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan. Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al
    Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk
    selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan. a.Menguatkan
    Jiwa. Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa
    nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun
    keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang
    lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti
    berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita
    tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam
    peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena
    manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan
    dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung
    mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan
    masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang
    menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat
    berdasarkan ilmu-Nya (QS 45:23). Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil
    mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan
    demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang
    suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga
    segala do‟anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Ada
    tiga golongan orang yang tidak ditolak do‟a mereka: orang yang berpuasa hingga
    berbuka, pemimpin yang adil dan do‟a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).
21. b.Mendidik Kemauan. Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang
    sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang
    oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan
    keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu,
    Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka
    puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani
    yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai
    keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan
    membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami
    sangat sulit. c.Menyehatkan Badan. Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa
    yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani.
    Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh
    para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya
    lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus
    diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin
    harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi
    tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. d..
    Mengenal Nilai Kenikmatan. Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak
    kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak
    pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat
    dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal
    kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya
    sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak
    lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
22. Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi
    tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung
    betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru
    beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita
    alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah
    meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah
    puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan
    agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti
    kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur
    memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling
    tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala
    Tuhanmu memaklumkan: quot;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan
    menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
    sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7). e.Mengingat dan Merasakan Penderitaan
    Orang Lain. Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita
    bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan
    haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara
    penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan
    menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya
    yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan
    saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah
    Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo,
    Irak, Palestina dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu,
    sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan
    demikian setahap
23. demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan
    zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi
    kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang
    berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang
    artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
    membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo‟alah untuk mereka. Sesungguhnya
    do‟a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi
    Maha Mengetahui (QS 9:103). c. Rahasia Zakat Zakat merupakan ibadah yang memiliki
    dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti
    dalam kehidupan ummat manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik
    yng berkaitan dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara
    manusia, antara lain : 1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa
    yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok
    hidupnya.Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya
    terhadap Allah SWT 2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri
    orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak
    memiliki apa- apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya. 3.
    Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, emurnikan jiwa (menumbuhkan
    akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat
    bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena
    terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu
    melingkupi hati. 4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang
    berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatn Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan
    derajat, dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful
    Ijti'ma
24. (tanggung jawab bersama) 5. Menjadi unsur penting dalam mewujudakan keseimbanagn
    dalam distribusi harta (sosial distribution), dan keseimbangan tanggungjawab individu
    dalam masyarakat 6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi
    sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan
    solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan
    Islam, pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan
    kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara
    golongan yang kuat dengan yang lemah 7. Mewujudkan tatanan masyarakat yang
    sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan
    harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir bathin.
    Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali
    bahaya komunisme 9atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab
    dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan
    sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT,
    akan terciptalah sebuah masyarakat yang baldatun thoyibun wa Rabbun Ghafur.
25. Kesimpulan Sebagaimana yang telah kita faham sebelum ini runglingkup ibadah itu
    adalah terlalu luas sebagaimana yang telah dijelaskan iaitu ibadah merupakan semua
    kegiatan hidup manusia itu sendiri yang sesuai dengan syariat Islam yang suci dan murni
    itu, oleh itu bolehlah difaham ibadah dalam Islam bermula sejak dari adab- adab masuk
    ketandas mengerjakan qadha‟ hajat hinggalah sampai kepada bagaimana cara mengurus
    kewangan dan mentadbir negara. Kegiatan hidup manusia ini akan termasuk ke dalam
    makna ibadah yang diberi ganjaran dan pembalasan pahala baik di akhirat apabila ia
    menepati dengan kehendak syarak, tidak menyeleweng dari kehendak dan ketentuan
    Allah swt. dikerjakan mengikut peraturan dan syarat-syaratnya, disertai pula dengan niat
    yang betul dan ikhlas semata-mata dilakukan kerana mencari keredaan Allah swt. tidak
    kerana yang lain dari-Nya, menghindarkan diri dari perasaan riak, (menunjuk- nunjuk),
    ingin dipuji dan terkenal sebagai orang yang rajin, tekun, orang baik dan ingin disebut-
sebut sebagai ahli ibadah oleh orang ramai dan juga suka berbangga dengan memberi
tahu kepada orang lain akan amal kebajikannya. Ia juga hendaklah menghindarkan diri
dari merasa bangga kerana ia telah banyak berbuat kebajikan dan berbuat amal ibadah.
Oleh itu ibadah dalam Islam bukanlah terhad kepada amalan-amalan ibadah yang ritual
semata-mata seperti sembahyang, zikir, puasa, haji dan sebagainya yang disebut sebagai
ibadah khusus, tetapi ibadah merangkumi, kerja-kerja kemasyarakatan dan sosial,
mencari rezki, sahinggalah kepada mengurus dan mentadbir negara; semuanya itu akan
menjadi ibadah sekiranya ia dilakukan menurut cara dan kehendak Islam serta niat dari
hati yang ikhlas semata-mata kerana Allah swt.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:147
posted:1/23/2012
language:Malay
pages:15