Docstoc

Wisuda Ke-100 _Orasi Ilmiah_ Muhamad Rasyid-_A4_

Document Sample
Wisuda Ke-100 _Orasi Ilmiah_ Muhamad Rasyid-_A4_ Powered By Docstoc
					                  SAMBUTAN DEKAN
                  FAKULTAS HUKUM
                UNIVERSITAS SRIWIJAYA


     Perguruan Tinggi dicirikan dengan aktivitas ilmiahnya baik
berupa seminar, penelitian atau karya ilmiah. Oleh karena itu,
menjadi kewajiban lembaga pendidikan untuk senantiasa
menciptakan suasana akademik (acedmic atmosphere) agar
terbentuk budaya akademik (academic culture).

     Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya berkepentingan untuk
mencapai semua itu. Oleh karenanya, Saya memulai agar setiap
pelaksanaan Wisuda Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
dilakukan tradisi pidato ilmiah yang mewakili bagian.

    Pada kesempatan Wisuda Ke-100 Sarjana Hukum (SH) dan
Wisuda Ke-4 Magister Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum
Universitas Sriwijaya ini Bapak Muhamad Rasyid, SH., M.Hum
menyampaikan pidato ilmiah dengan Judul Suatu Telaah Tentang
Bagi Hasil (Al-Mudharabah) Dalam Asuransi Takaful Sebagai
Lembaga Asuransi Alternatif Bagi Umat Islam. Saya
menyampaikan perhargaan yang tinggi kepada Bapak Bapak
Muhamad Rasyid, SH., M.Hum yang telah berkontribusi dalam
kegiatan tersebut. Saya yakin pokok-pokok fikiran yang
disampaikan akan memberikan kontribusi kepada Ilmu Hukum.




                        Palembang, 21 September 2011
                        Dekan,



                        Prof. Amzulian Rifai, SH., LL.M., Ph.D
                        NIP 19641202 199003 1 003




                                                           [1]
        Suatu Telaah Tentang Bagi Hasil (Al-Mudharabah)
                    Dalam Asuransi Takaful
      Sebagai Lembaga Asuransi Alternatif Bagi Umat Islam

                     Oleh : Muhamad Rasyid, SH.,M.Hum
                                Lektor Kepala
                         NIP. 19640414 199001 1 001


Bismillahirrohmaanirrohim

Assalamualaikum Wr. Wb
Salam sejahtera untuk kita semua

   Yang Terhormat
   Rektor Universitas Sriwijaya/yang dalam kesempatan ini diwakili
    oleh ............................
   Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
   Bapak Pembantu Dekan I, Ibu Pembantu Dekan II, Bapak
    Pembantu Dekan III Dan Ibu Ketua Pengurus Dan Anggota Dharma
    Wanita Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
   Ketua Pengurus IKA Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
   Yang saya muliakan rekan-rekan para Anggota Senat Fakultas
    Hukum Universitas Sriwijaya
   Seluruh Organisasi kemahasiswaan Fakultas Hukum Universitas
    Sriwijaya Kampus Inderalaya dan Kampus Bukit Besar Palembang
   Segenap warga civitas akademika Fakultas Hukum Universitas
    Sriwijaya



  Disampaikan pada Acara Yudisium Sarjana Hukum Baru (Wisuda ke-100 dan
   Magister Kenotariatan Wisuda ke-4) Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya,
   Rabu 21 September 2011

   Kepala Laboratorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
                                                                       [2]
      Para Alumni baru Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, beserta
       orang tua dan keluarga
      Hadirin Yang Berbahagia
Mengawali pidato Ilmiah ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur
kehadirat Allah S.W.T, yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatnya
terutama nikmat iman dan kesehatan, sehingga pada pagi hari yang cerah
ini kita dapat datang menghadiri ”Upacara Pelantikan Sarjana
Hukum Ke-100 dan Ke-4 Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sriwijaya”. Shalawat dan salam tak henti-hentinya kita
hantarkan keharibaan junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW,
beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.


Hadirin yang terhormat, Pidato Ilmiah ini saya beri judul : “Suatu
Telaah Tentang Bagi Hasil (Al-Mudharabah) Dalam Asuransi
Takaful Sebagai Lembaga Asuransi Alternatif Bagi Umat Islam “.


      Pendahuluan
       Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya. Dalam proses interaksi tersebut manusia akan
melakukan aktivitas-aktivita sosial.1 Dalam kehidupannya, manusia
senantiasa akan berhadapan dengan berbagai macam ancaman bahaya
atau peristiwa yang tidak tentu terhadap harta benda yang dimilikinya
dan jiwa raganya.
       Oleh karena itu, untuk mengurangi atau menghilangkan beban
apabila peristiwa yang tidak terduga (fortuitious accidents) tersebut
benar-benar terjadi, maka mereka mencari jalan keluarnya dengan cara
1
    Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada,
    Jakarta, 2002. Hlm. 61.
                                                                        [3]
mengalihkan risiko (distribution of riks/transfer of risk) tersebut kepada
pihak lain dengan mengadakan perjanjian asuransi. Pihak yang
menerima pengalihan risiko tersebut lazim disebut dengan Syarikat
Takaful/Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Takaful.
      Pada mulanya masyarakat mengenal asuransi dalam peristiwa-
peristiwa yang kejadiannya sangat ditakuti, tidak disenangi dan
menimbulkan kerugian pada harta benda, jiwa raga, hak-hak dan
kepentingan-kepentingan. Di Indonesia dikenal ada bermacam-macam
asuransi, seperti asuransi beasiswa, asuransi dwiguna, asuransi jiwa, dan
asuransi kebakaran.
      Perjanjian di bidang asuransi dibuat sedemikian rupa sehingga
kedua belah pihak tidak merasa dirugikan.
      Apabila diperhatikan tujuan semua macam asuransi pada prinsipnya
pihak perusahaan asuransi memperhatikan masa depan kehidupan
keluarga, pendidikan, dan termasuk jaminan hari tua. Demikian juga
perusahaan asuransi telah memikirkan dan berusaha untuk memperkecil
kerugian yang mungkin timbul akibat terjadi risiko dalam melaksanakan
kegiatan usaha baik terhadap kepentingan pribadi atau perusahaan.
      Mengingat permasalahan di bidang asuransi sudah memasyarakat di
Indonesia dan diperkirakan umat Islam banyak terlibat di dalamnya,
tidak kalah penting juga dilihat dari sudut pandangan Agama Islam. 2
      Perjanjian Asuransi (akad-akad) termasuk masalah kontemporer
yang belum ada pada masa-masa pertama perkembangan Fikih Islam.
Oleh sebab itu, timbul kontroversi dan pertikaian pendapat di kalangan
ulama yang kompeten dalam menetapkan hukum akad-akad asuransi


2
    M. Ali Hasan, Masail Fighiya Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga
    Keuangan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, Hlm. 63.
                                                                       [4]
tersebut, yaitu perjanjian-perjanjian (akad-akad) yang dilangsungkan
oleh Perusahaan Asuransi bersama “tertanggung”.3


      Hadirin Yang Berbahagia,
       Di dalam Al-Quran dan Al-Hadits tidak ada satupun ketentuan yang
mengatur secara eksplisit tentang asuransi. Oleh karena itu masalah
asuransi di dalam Islam termasuk bidang hukum “ijtihad”, artinya untuk
menetukan hukumnya asuransi halal atau haram masih diperlukan
peranan akal pikiran para ulama ahli fikih melalui ijtihad. Masyarakat
semua sudah maklum bahwa asuransi tidak terlepas dari tiga unsur yang
diharamkan oleh agama Islam yaitu gharar (ketidakpastian), masisir
(judi datau gambling), dan riba (rente). 4
       Di kalangan umat Islam ada anggapan bahwa asuransi tersebut
tidak Islami. Orang yang melakukan asuransi, sama halnya dengan orang
yang mengingkari rahmat Allah. Allah-lah yang menentukan segala-
galanya dan yang memberikan rizki kepada Makhluk-Nya, sebagaimana
firman Allah :
       “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-
       lah yang memberikan rezekinya” (QS Hud : 6). “.....dan siapa (pula)
       yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah
       di samping Allah ada Tuhan (yang lain)....”(QS Al-Naml : 64).
       “Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan
hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu
sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya” (QS Al-Hijr : 20).


3
    Hasam Hamid Hisan, Asuransi dalam Hukum Islam (Tinjauan atas Riba,
    Maisir, dan Gharar), Firdaus Press, Jakarta, 1996, Hlm. Vi.
4
    Warkum Sumitro, Asas-asas perbankan islam dan lembaga-lembaga terkait,
    Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997. Hlm. 63.
                                                                       [5]
    Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya
telah menciptakan segala-galanya untuk keperluan makhluk-Nya,
termasuk manusia sebagai kholifah di muka bumi. Allah telah
menyiapkan bahan mentah, bukan bahan jadi. Manusia masih perlu
mengelolanyya, mencarinya, dan mengikhtiarkannya.
    Orang yang melibatkan diri kedalam asuransi termasuk salah satu
usaha untuk menghadapi masa depan dan hari tua. 5
    Pada garis besarnya ada empat macam pandangan ulama dan
cendikiawan muslim tentang asuransi, yakni :
    1) Kelompok ulama yang berpendapat bahwa asuransi termasuk
         segala macam bentuk dan cara operasi hukumnya haram.
    2) Kelompok yang berpendapat bahwa asuransi hukumnya halal
         atau dibolehkan dalam Islam. 6
    3) Kelompok ulama yang berpendapat bahwa asuransi yang
         bersifat sosial diperbolehkan dan asuransi yang bersifat
         komersial dilarang Islam.
    4) Kelompok ulama yang berpendapat bahwa hukum asuransi
         termasuk syubhat. Karena tidak ada dalil-dalil syar’i yang
         secara jelas mengharamkan atau menghalalkan asuransi, oleh
         karena itu kita harus berhati-hati dalam berhubungan dengan
                     7
         asuransi.    . Kita baru diperbolehkan mengambil asuransi,
         apabila     dalam    keadaan     darurat    (emergency)     atau
                                     8
         hajat/kebutuhan (necessity).

5
  M. Ali Hasan, Masail Fighiyah...op cit, Hlm. 63
  6
    Muhammad Nejatullah Siddiqi, Bank Islam, Pustaka, Bandung, 1984, Hlm.
  167.
7
  Warkum Sumitro, Asas-asas.....op cit.., Hlm. 166.
  8
    Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, CV. Haji Masagung, Jakarta, 1987, Hlm.
  130.
                                                                      [6]
       Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa masalah asuransi yang
berkembang dalam masyarakat masih ada yang mempertanyakan dan
mengandung keragu-raguan, sehingga sukar untuk menentukan mana
yang paling dekat dengan ketentuan hukum benar. Terlepas dari
pendapat ulama tersebut, umat Islam di Indonesia yang mayoritas dari
penduduk Indonesia bersifat mendua. Di satu pihak tuntutan kebutuhan
akan masa depan, asuransi merupakan kebutuhan setiap orang sehingga
keikutsertaan di dalam asuransi sangat urgen. Di pihak lain keterlibatan
setiap orang Islam di dalam usaha asuransi belum bisa secara optimal
karena masih ragu tentang kedudukan hukumnya menurut Islam.
       Dalam keadaan demikian, sebaiknya berpegang pada Sabda Nabi
       :“Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada
       hal-hal yang tidak meragukan kamu (HR Ahmad)”.
      Hadirin Yang Saya Hormati
       Asuransi yang telah mulai dijalankan dalam masyarakat Indonesia
yaitu pada PT. Asuransi Bumi Putera, Asuransi Jiwas Raya dan Asuransi
lainnya. Untuk dapat melibatkan umat Islam terhadap usaha asuransi
maka dibentuklah Asuransi Takaful. Keluarga dan Asuransi Takaful
Umum yang beroperasi dibawah anak perusahaan PT. Syarikat Takaful
Indonesia (STI), macamnya sama tetapi sistem kerjanya berbeda yaitu
dengan sistem Mudharabah (bagi hasil). 9
       Takaful sebagai asuransi yang bertumpu pada konsep tolong-
menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (Wata’awamu alal birri wat
taqwa) dan perlindungan (at-ta’min) dengan sistem bagi hasil (al-
mudharabah), menjadikan semua peserta sebagai kelurga besar yang
saling menanggung satu sama lain serta mencegah agar peserta (umat


9
    Ibid., Hlm. 168.
                                                                    [7]
Islam) tidak terlibat dengan ketidakpastian (gharar), judi (maisir), dan
riba.10
       Sehubungan dengan hal inilah, saya ingin mencoba mengangkat
masalah bagi hasil (al-mudharabah) serta membahasnya dari aspek
Sya’riat atau Hukum Islam.
       Dalam hal ini diuraikan dalil, khususnya ketentuan Al-Quran dan
Al-Hadits terhadap Asuransi Takaful serta maksud bagi hasil (al-
mudharabah) dalam asuransi takaful.


      Pengertian Asuransi Takaful
       Menurut Pasal 1 ayat 1 UU No. 2 Tahun 1992 Tentag Usaha
Perasuransian, “Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara
dua pihak atau lebih, yang mana pihak penanggung mengikatkan diri
kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk memberikan
penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang
timbul dari satu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu
pembayaran yang didasarkan atas meninggalnya atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.”
       Takaful berasal dari bahasa Arab. Akar katanya adalah kafala-
yakfulu. Dalam ilmu tashrif atau sharaf, takaful termasuk dalam barisan
bin muta’aadi, yaitu tafaa’aala, yang artinya saling menanggung atau
saling menjamin.
       Takaful dalam pegertian muamalah bermakna saling memikul
risiko di antara sesama orang, sehingga antara satu dengan yang lain
  10
     Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life and General), Gema
 Insani, Jakarta, 2004. Hlm. 321.
                                                                    [8]
saling menjadi penanggung atas risiko ini dilakukan atas dasar tolong
menolong dalam kebaikan. Caranya, masing-masing mengeluarkan dana
tabarru atau dana ibadah.
        Jadi, filsafat takaful didasarkan atas prinsip-prinsip tauhid, saling
menyayangi, saling membantu, serta saling melindungi dan bertanggung
jawab sesama muslim dan manusia.
        Dengan demikian, Asuransi takaful dapat didefinisikan sebagai
sebuah lembaga atau perusahaan asuransi yang menjalankan prinsip
takaful. Dalam operasionalnya, lembaga ini mensyaratkan adanya pihak
yang mengikatkan diri untuk bekerjasama saling menanggung (syahibul
mal/peserta), pihak yang diberi amanah untuk mengatur kerjasama
tersebut (al-mudharib/perusahaan) serta ketentuan-ketentuan hukum
berdasarkan syariah demi terjaminnya menghindarkan dari unsur-unsur
al gharar (ketidakpastian), al maisir (spekulasi) dan al riba (bunga).


       Pengaturan Asuransi Takaful
        Di dalam Al-Quran dan Al-Hadits tidak ada satu pun ketentuan
                                                        11
yang mengatur secara eksplisit tentang asuransi.             . Oleh karena itu,
masalah asuransi ini di dalam Islam termasuk bidang hukum “ijtihadiah”
artinya untuk menentukan hukumnya asuransi ini halal atau haram masih
diperlukan peranan akal pikiran para ulama ahli fiqh melalui ijtihad.
        Senada dengan pendapat di atas, K.H. Ahmad Azhar Basyir, M.A.
juga mengungkapkan bahwa perjanjian asuransi adalah hal yang baru
dan belum pernah terjadi pada masa Rasulullah saw dan para sahabat
serta tabi’in. Di dunia Barat Asuransi pertama kali dikenal pada tahun



11
     Ibid, Hlm. 166.
                                                                           [9]
1182 pada saat orang-orang Yahudi diusir dari Perancis untuk menjamin
risiko barang-barang mereka yang diangkut melalui laut.
     Kenyataan yang dikemukakan di atas memberi interprestasi bahwa
bila berbicara tentang dasar hukum perasuransian menurut syariah Islam,
hanya dapat dilakukan dengan metode ijtihad. Melalui ijtihad itu pulalah
dicari dan ditetapkan dasar hukumnya.


    Jenis-Jenis Asuransi Takaful
     Syarikat   Takaful   bertindak   sebagai   al-mudharib,   penerima
pembayaran dari peserta takaful untuk diadministrasikan, diinvestasikan
sesuai dengan prinsip syariah. Yang bertindak sebagai sahibul mal
adalah peserta takaful, yang memperoleh manfaat jasa perlindungan
serta bagi hasil dari keuntungan Syarikat Takaful. Syarikat Takaful
menyediakan dua jenis perlindungan takaful.
1)   Takaful Keluarga (Asuransi Jiwa)
     Takaful keluarga bentuk takaful yang memberikan perlindungan
finansial kepada peserta takaful dalam menghadapi benccana kematian
dan kecelakaan yang menimpa kepada peserta takaful.
     Bentuk-bentuk Takaful Keluarga yang ditawarkan adalah :
      Takaful Individu :
        a. Takaful Dana Investasi
        b. Takaful Dana Haji
        c. Takaful Dana Siswa
        d. Takaful Anuitas
        e. Takaful Anak Asuh
        f.   Takaful Kesehatan
        g. Takaful Al-Khairat


                                                                  [ 10 ]
        h. Takaful Kecelakaan Diri


      Takaful Kumpulan :
        a. Takaful Pembiayaan
        b. Takaful Al-Khairat
        c. Takaful Majelis Taklim
        d. Takaful Kecelakaan Diri Kumpulan
        e. Takaful Kecelakaan Siswa
        f.     Takaful perjanjian Haji dan Umroh
        g. Takaful Wisata dan Perjalanan


2)   Takaful Umum (Asuransi Umum)
     Takaful       umum      adalah     bentuk   takaful    yang       memberikan
perlindungan finansial kepada peserta takaful dalam menghadapi
bencana atau keccelakaan harta benda milik peserta takaful.
     Bentuk-bentuk Takaful Umum yang ditawarkan adalah :
      Non-Marine
        a. Takaful Kebakaran (Fire Insurance).
        b. Takaful Kendaraan Bermotor (Motor Vehicle Insurance)
        c. Takaful Rekayasa (Engineering Insurance) :
               -   Takaful Risiko Pembangunan (Contractor All Risk
                    Insurance)
               -   Takaful     Risiko    Pemasangan        (Erection     All   Risk
                    Insurance)
               -   Takaful Mesin-mesin (Mechinery Insurance)
               -   Takaful Peralatan Elektronik (Elektronik Equipment
                    Insurance)

                                                                               [ 11 ]
       d. Takaful Aneka (Miscellaneous) :
           -    Takaful Penyimpanan Uang (Cash in Safe Box
                Insurance)
           -    Takaful   Pengangkutan    Uang    (Cash   in   Transit
                insurance)
           -    Takaful Kecelakaan Diri (Personal Accident Insurance)
           -    Takaful Tanggung Gugat (Liability Insurance)
           -    Takaful Jaminan Ketidakjujuran (Fidelity Guarantee
                Insurance)
      Marine
        a. Takaful Pengangkutan (Cargo Insurance)
           -    Takaful Pengangkutan Laut (Marine Cargo insurance)
           -    Takaful Pengangkutan Darat (Land Cargo Insurance)
           -    Takaful Pengankutan Udara (Air Cargo Insurance)
        b. Takaful Kerangka Kapal (Hull Insurance)
        c. Takaful Pesawat Udara (Aviation Insurance)


      Dalil-dalil Asuransi Syariah
       Sebagaimana yang telah dijelaskan dimuka bahwa tidak ada satu
pun ketentuan di dalam AL-Quran dan Al-Hadits yang mengatur
secara eksplisit (tegas) tentang asuransi. Namun demikian dapatlah
dijadikan dalil ketentuan-ketentuan Al-Quran dan Al-Hadits berikut ini
:

1)     Bekerja Sama dan Saling Membantu
       “Tolong menolonglah kamu dalam kebajikan, dan janganlah
       tolong menolong dalam kebatilan (perkara atau dosa-dosa yang
       menimbulkan permusuhan).“(QS Al Maidah : 2)
                                                                  [ 12 ]
     “Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu
     suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah
     beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab-
     kitab, para nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada
     kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
     memerlukan        pertolongan)     dan     peminta-minta    dan
     (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan
     zakat, orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
     serta orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
     dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar
     (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS
     Al Baqarah : 177).

     “Barang siapa yang memenuhi hajat saudaranya, maka Allahh
     akan memenuhi hajatnya”. (HR Buchari Muslim dan Abu
     Daud).

     “Allah senantiasa menolong hambanya selagi hamba tersebut
     menolonh saudaranya”. (HR Abu Daud).

2)   Saling Melindungi dari Berbagai Kesusahan
     “(Allah) Yang telah memberi makan kepada mereka untuk
     menghilangkan lapar dan mengamankan ketakutan”. (QS
     Quraisy : 4).

     “Dan     (ingatlah)   ketika   Ibrahim   berdoa,   “Ya.-Rabb-ku,
     jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah
     reseki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman
     diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian”. Allah

                                                                [ 13 ]
     berfirman, “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri
     kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa
     neraka dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali”. (QS Al
     Baqarah : 126).
     “Tidaklah disebut beriman seseorang, apabila ia tidur nyenyak
     dengan     perut   kenyang,   sedangkan   tetangganya   meratap
     kelaparan:. (HR Al Bazaar).

3)   Saling Bertanggung Jawab
     “Kedudukan/persaudaraan orang beriman satu dengan yang
     lainnya ibarat satu tubuh, bilamana satu tubuh sakit, maka akan
     dirasaksan sakitnya oleh seluruh anggota tubuh lainnya”. (HR
     Buchari Muslim).

     “Seseorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam satu
     masyarakat ibarat seluruh bangunan, yang mana tiap bagian
     dalam bangunan itu mengukuhkan bagian lainnya”. (HR Buchari
     Muslim).

     “Setiap orang dari kamu adalah pemikul tanggung jawab dan
     setiap kamu bertanggung jawab terhadap orang-orang di bawah
     tanggung jawab kamu”. (HR Buchari Muslim).

     “Seseorang tidak boleh dianggap beriman sehingga ia mengasihi
     saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri”. (HR
     Buchari Muslim).




                                                               [ 14 ]
      “Barang siapa yang tidak mempunyai perasaan belas kasihan,
      maka ia juga tidak mendapat balas kasihan (dari Allah)”. (HR
      Buchari Muslim).

     Bagi Hasil (AL-Mudharabah) Dalam Asuransi Takaful
      Asuransi Takaful adalah salah satu bentuk usaha Asuransi dan
merupakan bagian dari asuransi-asuransi dalam pembinaan dan
pengawasan    Menteri    Keuangan     Republik    Indonesia   dengan
menggunakan sistem bagi hasil (Al-Mudharabah).
      Kata Mudharabah berasal dari al-darb. Al-darb fi al-arad artinya
berkelana di bumi. Pengertian al-mudharabah itu sendiri adalah
kerjasama usaha antara dua pihak, dimana pihak pertama menyediakan
modal disebut shahib al-mal dan pihak kedua menjadi pengelola usaha
tersebut disebut Mudharib. Keuntungan yang diperoleh dari usaha
tersebut dibagi menurut kesepakatan di muka, apabila terjadi kerugian
ditanggung oleh pihak pertama (Shahib al-mal) sepanjang kerugian
tersebut tidak disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pihak kedua
(Mudharib).

Dasar Hukum Al-Mudharabah
      “Dan sebagian dari mereka orang-orang yang berjalan di muka
      bumi mencari sebagian karunia Allah SWT”. (QS Al-
      Muzzammil : 20).
Mudharib (perusahaan) sebagai entrepreneur adalah sebagian dari
orang-orang yang melakukan (dharb) perjalanan untuk mencari




                                                                [ 15 ]
     karunia Allah SWT12 dari keuntungan investasinya. Ayat-ayat Al-
     Quran yang senada misalnya :
           ”Apabila telah ditunaikan Shalat maka bertebaranlah kamu di
           muka bumi dan carilah karunia Allah SWT’. (QS Al-Jum’ah :
           10)

           “Tidak ada dosa (halangan) bagimu untuk mencari karunia dari
           Tuhamnu”. (QS Al-Baqarah : 198)


           Dari Suhaib ra bahwa Rasulullah saw bersabda tiga perkara di
     dalamnya terdapat keberkatan yaitu (1) menjual dengan pembayaran
     secara kredit; (2) Muqaradhah (nama lain dari Mudharabah); (3)
     mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah dan bukan
     untuk dijual (HR Ibnu Majah).

     Syarat-syarat Al-Mudharabah adalah :
     1) Modal
        a. Modal harus dinyatakan dengan jelas jumlahnya, seandainya
             modal berbentuk barang tersebut harus dihargakan dengan
             harga semasa dalam uang yang beredar(atau sejenisnya)
        b. Modalnya harus dalam bentuk tunai dan bukan piutang
        c. Modal      harus   diserahkan   kepada     Mudharib,      untuk
             memungkinkan melakukan usaha.
2) Keuntungan
       a. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam prosentase dari
           keuntungan yang mungkin diperoleh nanti.



12
     Ibid, Hlm. 33.
                                                                     [ 16 ]
     b. Kesepakatan rasio prosentase harus dicapai melalui negosiasi
        dan dituangkan dalam kontrak atau polis
     c. Pembagian keuntungan baru dapat dilakukan seetelah Mudharib
        mengembalikan seluruh (atau sebagian) modal kepada Rab
        Al’mal.

        Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud
dengan bagi hasil (al-mudharabah) dalam Asuransi Takaful adalah sisa
keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada peserta Takaful
pada setiap akhir tahun buku : Komposisi prosentase (nisbah) bagi
hasil ini ditentukan pada awal perjanjian.

       Penutup
       Hadirin Yang Berbahagia,
        Sebagai akhir uraian ini, izinkanlah saya menyimpulkan sebagai
berikut :
1.      Asuransi Takaful adalah suatu lembaga asuransi alternatif bagi
        umat islam yang sesuai dengan syariah islam dan dilaksanakan
        berdasarkan tolong-menolong atau takafulli dengan sistem bagi
        hasil (al-mudharabah)
2.      Di dalam Al-Quran dan Al-Hadits tidak ada satupun ketentuan
        (nash) yang mengatur secara eksplisit tentang asuransi. Namun
        demikian, untuk Asuransi Takaful terdapat beberapa ayat Al-
        Quran (dalil syariah) yang dapat dijadikan dasar, antara lain, Al-
        Quran Surat Al-Baqarah : 126, Surat Al-Baqarah : 177, Surat
        Al-Maidah : 2, Surat Quraisy : 4 dan beberapa Hadits Nabi
        Muhammad SAW



                                                                    [ 17 ]
3.   Takaful   melakukan       kerjasama   dengan   peserta   takaful
     berdasarkan prinsip bagi hasil (al mudharabah), maksudnya
     hasil investasi (keuntungan) perusahaan dibagikan kepada
     seluruh peserta takaful ,pada setiap akhir tahun buku yang
     besarnya (komposisi) prosentase/nisbahnya) ditentukan pada
     awal perjanjian (akad).




                               Palembang, 21 September 2011




                                                               [ 18 ]
                       DAFTAR PUSTAKA



Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Al-Quran
       dan Terjemahannya.

Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No.21/DSN-
       MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Hasan, Muhammad Ali, Masail Fiqhiyah, Zakat, Pajak, Asuransi dan
       Lembaga Keuangan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.

Hisa, Hasan, Hamid, Asuransi Dalam Hukum Islam (Tinjauan atas Riba,
       Maisir, dan Gharar) Firdaus Press, Jakarta, 1996.

Siddiqi, Nejatullah Muhammad, Bank Islam, Pustaka, Bandung, 1984.

Soekanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo
       Persada, Jakarta, 2002.

Sula, Muhammad Syakir, Asuransi Syariah (Life and General), Gema
       insani, Jakarta, 2004.

Sumitro, Warkum, Asas-asas perbankan Islam dan Lembaga-lembaga
       terkait (BMUI dan Takaful) di Indonesia, PT.Raja Grafindo
       Persada, Jakarta, 1996.

Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.

Zuhdi, Masjfuk, Masail Fiqhiyah, CV. Haji Masagung, Jakarta, 1987.




                                                                [ 19 ]
                          CURICULUM VITAE

I.   Data Pribadi :
     Nama                      : Muhamad Rasyid, SH.,M.Hum.
     NIP                       : 19640414 199001 1 001
     Pangkat/Golongan          : Pembina / IV a
     Jabatan Fungsional        : Lektor Kepala
     Jabatan                   : Kepala Laboratorium Hukum
                                 Fakultas Hukum UNSRI
                                  Periode 2009-2011
                                  Periode 2011-2013
     Tempat/Tanggal lahir      : Palembang / 14 April 1964
     Alamat                    : Jl. Faqih Jalaluddin
                                 Lrg. R. Fachruddin No. 194/c
                                 RT. 12 RW. 005 19 Ilir
                                 Palembang 30132


II. Pendidikan :
     Sarjana Hukum (S1)        : Univ. Sriwijaya, Tahun 1989
        Sarjana Hukum (S2)     : Univ. Sriwijaya, Tahun 2001

III. Penelitian, Tulisan, dan Pengabdian kepada Masyarakat

      a. Penelitian :
        1. Persepsi Masyarakat Tentang Wakaf Tanah, Tahun 1990.
        2. Pelaksanaan Pengumpulan dan Pendayagunaan Zakat di
           Kotamadia Palembang, Tahun 1990.
        3. Suatu Tinjauan Pidana Mati Menurut Hukum Islam, Tahun
           1992.
        4. Pengkajian dan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Hukum
           dan Pengembangan Kadarkum di Daerah Tingkat I Provinsi
           Sumatera Selatan, Tahun 1992.
        5. Pelaksanaan Leasing di Kotamadia Palembang, Tahun 1992.
                                                                [ 20 ]
 6. Studi Empiris Tentang Penerapan Azas Indemnitas Pada
     Beberapa Perusahaan Asuransi Kerugian di Kotamadya
     Palembang, Tahun 1993.
 7. Status Perusahaan Modal Ventura, Tahun 1995.
 8. Pelaksanaan Perjanjian Bagi Hasil Antara Bank Muamalat
     Dengan Nasabahnya, Tahun 1997.
 9. Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) Terhadap
     Bank umum sebagai Lembaga Intermediasi keuangan,
     Tahun 2006.
 10. Penerapan Tanggung Jawab terbatas untuk kehilangan dan
     kerusakan Bagasi yang terdapat dalam tiket pesawat
     Domestik dan PP NO. 3 Tahun 2000 tentang perubahan atas
     PP. No. 40 Tahun 1995 tentang     Angkutan      Udara,
     Tahun 2008.
 11. Kajian Yuridis Perlindungan Konsumen Dalam Transaksi
     Elektronik (E-Commerce) di Indonesia, 2009
 12. Analisis Hukum Retrosesi Dalam Perjanjian Re Asuransi
     Berdasarkan KUHD, 2009.
 13. Penelitian Putusan Hakim Pengadilan Tinggi, Kerjasama
     dengan Komisi Yudisial, 2011.
 14. 14. Dan Lain-lain

b. Tulisan :
 1. Murtadnya Suami atau Istri Setelah Perkawinan Menurut
    Hukum Islam dan Undang – undang Nomor 1 Tahun 1974,
    Majalah Al–Ghazali, No. 17 Tahun II Oktober 1991.
 2. Kompilasi Hukum Islam (Sebagai Alternatif, Fungsi dan
    Tujuannya) Majalah Sriwijaya, No. 2 Tahun XXVIII, 1992.
 3. Beberapa Pendapat tentang Asuransi Jiwa Dalam Islam,
    Majalah Al-Ghazali.
 4. Eksistensi Lembaga Gadai Menurut Hukum Islam, Majalah
    Al-Ghazali.
 5. Perlindungan Hukum terhadap Hak Cipta menurut Aspek
    Hukum Islam, Majalah Al-Ghazali, Tahun V, No. 7 Juni
    1994.
 6. Prinsip Kepentingan (Principles of Insurable Interest) Dalam
    Praktek     Asuransi Laut, Majalah Simbur Cahaya, Edisi
    02 April 1996.



                                                           [ 21 ]
 7. Hukuman Mati Terhadap Tindak Pidana Pembunuhan
     Menurut Aspek Hukum Islam, Majalah Al-Ghazali Tahun
     VIII, No. 15 Juli 1997.
 8. Aspek Hukum Lembaga Pembiayaan Nodal Ventura,
     Majalah Simbur       Cahaya, No. 05 Tahun II, Desember
     1997.
 9. Pengaruh Ketentuan Uruguay Round 1994 Tentang Trips
     dan Trims Terhadap Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual
     dan Hukum Investasi Indonesia, Majalah Simbur Cahaya,
     No. 10 Tahun IV, Mei 1999.
 10. Suatu Telaah terhadap Ketentuan Pasal 7 Ayat 1 Undang-
     undang No. 1 Tahun 1974, Tentang Perkawinan Dalam
     Kaitannya Dengan Model Hukum yang Responsif, Majalah
     Simbur Cahaya, No. 19 Tahun VII, Mei 2002.
 11. Seluk Beluk Bank Islam, Jurnal Hukum Ekonomi, Vo. 1 No.
     1, Juli 2002.
 12. Prinsip Ganti Rugi (Principle of Indemnity) Dalam Asuransi
     Kerugian, Majalah Simbur Cahaya, No. 25 Tahun IX, Mei
     2004.
 13. Peranan dan Penyimpangan Warranty Dalam Polis pada
     Asuransi Marine Cargo, Majalah Simbur Cahaya No.38
     Tahun XIII, Januari 2009.
 14. Analisa Hukum Restorisi dalam Perjanjian Re Asuransi
     berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, Simbur
     Cahaya Nomor 41 Tahun XV Januari 2010.
 15. Ganti Rugi Immateriil dalam Perkara Perbuatan Melawan
     Hukum di Pengadilan Nomor 45 Tahun XVI Mei 2011.
 16. Dan Lain-lain

c.Pengabdian Pada Masyarakat :
 1. Penyuluhan dan Pelayanan Hukum di Desa Bitis Muara
    Enim Tahun 1997– 1998.
 2. Penyuluhan Hukum Terhadap pemakaian Alat Timbang
    Rumah Tangga di Pasar Tradisional Desa Inderalaya
    Kecamatan Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir (OI) Tahun
    2005.
 3. Penyuluhan Hukum Tentang Eksistensi Hukum Jaminan
    setelah diberlakukan Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999
    tentang jaminan Fidusia di Desa Sritanjung Kecamatan
    Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, 2009.

                                                          [ 22 ]
4. Upaya Perlindungan Konsumen terhadap penjualan
   makanan kemasan kadaluwarsa di Desa Muara Teladan
   Kecamatan Sekayu Kabupaten MUBA, 2011.
5. Penyuluhan Hukum Tentang Kontrak bagi UKM di Kota
   Palembang, 2011.
6. Konsultasi Hukum Kerjasama dengan Kantor Kementerian
   Hukum dan HAM Republik Indonesia Sumatera Selatan,
   2011.
7. Dan Lain-lain




                                                  [ 23 ]

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:12
posted:1/23/2012
language:Malay
pages:23