Hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikit pun,
selain yang dikecualikan karena Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka menutupkan
kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali
yang biasa nampak.” (An-Nuur: 31)
Allah Subhannahu wa Ta’ala,“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyanyang.” (Al Ahzab :59).
Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara
sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah
perkataan yang baik.” (QS.Al-Ahzab : 32)
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah
laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. (QS.Al-Ahzab : 33)
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka
mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati
mereka. (QS. Al-Ahzab : 53)
1. Mulia menurut Allah
Mulia dimata orang sombong, apabila dapat tampil sombong atau merendahkan dan
meremehkan orang lain dimuka umum, dst-dst tentang kriteria-kriteria yang berkembang
di tengah-tengah kehidupan tentang mengartikan kemuliaan. Allah SWT telah
menegaskan arti kemuliaan sebagaimana dalam firmannya yang artinya
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di
antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)
Taqwa dapat semakin berkwalitas tinggi bila seorang manusia dapat semakin ta’at dan
tunduk patuh kepada Allah. Memiliki kecintaan untuk mengerjakan perintah Allah dan
menjauhi larangan Allah dengan senang hati. Karena yakin bahwa apa yang dituntunkan
oleh Allah adalah kebaikan yang haqiqi.
.
2. Allah memuliakan wanita
Secara khusus Allah telah memuliakan wanita dengan penghormatan yang diberikan oleh
Allah baik oleh anaknya maupun oleh suaminya
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu
bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada
dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)
Dari Abu Hurairah ra ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang
paling sempurna imannya adalah yang paling baik diantara mereka akhlaqnya, dan
yang paling baik diantara kamu sekalian adalah orang yang paling baik terhadap istri
mereka”.[HR. Tirmidzi]
Sebaik-baik diantara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku
adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap istriku [HR. Ibnu Majah] )
Allah telah mewajibkan setiap manusia mengenang dan membalas budi orang tuanya,
membalas budi baik ibu-ibu-nya. Dan Allah meletakkan do’a yang ijabah kepada orang
tua, terutama do’a ibu untuk anak-anaknya. Sehingga sudah sepantasnya para kaum ibu
untuk menghiasi dirinya dengan kemuliaan ilmu dan akhlaq, sehingga dapat mendidik
anak-anak mereka memiliki ilmu dan akhlaq yang mulia.
Anak-anaknya akan menjadi manusia-manusia utama yang dapat memuliakan dirinya dan
secara otomatis akan pula mengangkat derajad kemuliaan orang tuanya atas didikan para
orang tua terutama para ibunya.
Demikian pula seorang suami diperintah oleh Allah untuk memimpin istri-istrinya ke
jalan yang benar dan kemudian menyayangi mereka. Kemudian memberi nafkah kepada
mereka, dan melindungi serta menjaga mereka agar mereka dapat hidup dengan selamat
dan bahagia dalam memelihara anak-anak mereka dan memelihara iman dan taqwanya.
.
3. Menjaga dan memelihara sifat kemuliaan wanita
Sifat mulia yang menonjol yang Allah anugrahkan pada wanita adalah kehalusan,
kelembutan perasaan dan hati dan sifat malu yang dominan. Dan kedua sifat tersebut
sangat dekat dengan sifat kemuliaan iman dan taqwa, bahwa malu adalah sebagian dari
iman.
Dua sifat inilah yang sangat diperlukan dalam pembentukan generasi penerus yang
memiliki kehalusan budi pekerti dan kesopanan, Dan Allah telah memberikan jalan
bagaimana memelihara dan memupuk agar kedua sifat tersebut tetap dominan di dalam
diri seorang wanita.
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah
laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah
zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-
bersihnya. (QS. 33:33)
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah
(sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
(QS. 33:34)
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang
mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan
perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan
yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan
yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki
dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 33:35) )
Taqwa dalam diri seseorang adalah sesuatu martabat yang sangat tinggi, sesuatu yang
mendatangkan kebahagiaan dan ketenteraman di dunia dan di akherat, kebahagiaan yang
haqiqi. Sesuatu yang menumbuhkan ketenteraman dan kepuasan lahir dan batin dalam
mengarungi bahtera kehidupan
Islam telah mengajarkan cara-cara menjaga kemuliaan, diantaranya dengan menjaga
kewibawaan masing-masing diri, sehingga tidak membiarkan terjadinya pergaulan bebas
diantara manusia berlainan jenis kelamin yang bukan mukhrim.
Pergaulan yang sangat bebas antara pria dan wanita yang bukan mukhrim akan
memudarkan dan mencabut ketaqwaan dari diri seseorang. Rasa malu yang tebal
merupakan fitrah seorang wanita yang masih memeliharanya, hingga ketika berjumpa
dan bergaul dengan lawan jenis yang bukan mukhrim pun rasa malu ini akan nampak
menonjol dan akan menjadi benteng, dinding bagi ketaqwaannya
Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan
dengan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar
ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. ……
(QS. 28:25) )
Zaman modern zaman yang terbuka lebar berbagai kesempatan dan sekaligus kompetisi.
Namun Zaman modern-pun akan menjadi kacau balau jika berjalan tanpa aturan. Betapa
semrawutnya sebuah lalu lintas ketika lampu-lampu pengatur lalulintas telah padam.
Semrawut bukan???, pusing bukan???, bingung bukan??? Kacau bukan???. Yang
demikianlah bila manusia sudah mengabaikan peraturan. Apalagi mengabaikan peraturan
Allah.
.
4. Wanita sebagai Pemimpin
Banyak sektor-sektor pekerjaan yang memang hanya bisa dan akan sempurna bila
dikerjakan oleh manusia-manusia ahli dari golongan kaum perempuan. Sebaliknya juga
banyak sektor-sektor pekerjaan yang akan maksimal bila ditangani oleh kaum laki-laki.
Dan islam tidak melarang kaum perempuan untuk bekerja di tengah-tengah masyarakat,
asal sesusai dengan fitrahnya dan tetap terjaga ketaqwaannya. Dan Allah sangat
menekankan peran wanita dalam penjagaan kestabilan dalam hidup rumah tangganya.
Rasulullah Muhammad SAW telah mengajarkan kepada umat Islam tentang pentingnya
kepemimpinan kaum perempuan terutama di tengah-tengah keluarganya sebagaimana
sabda beliau yang artinya:
Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan ditanya
tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang
kepemimpinannya. Orang laki-laki(suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan
akan ditanya tentang kepemimpinanya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga
suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin
dalam menjaga harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan
masing-masing dari kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang
kepemimpinannya.[HR. Bukhari dan Muslim] )
Islam mensejajarkan setiap manusia, baik laki-laki dan perempuan dan masing-masing
diberi kelebihan pada bidangnya masing-masing. Kelebihan yang diberikan oleh Allah
pada laki-laki adalah pada kemampuannya mencari nafkah dan melindungi segenap
anggota keluarga
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), dan
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu
maka Wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). ……….. (QS.
4:34) )
Sebaliknya kaum wanita memiliki kelebihan dalam membangun keharmonisan keluarga,
baik terhadap suami dan terutama membangun agama, akhlaq, budi pekerti untuk anak-
anak mereka.
Banyak karakter anak yang menyimpang di hari ini disebabkan karena para ibu telah
menyibukkan diri di luar rumah tangganya, waktunya tersita habis untuk mengurusi
pekerjaan di luar rumah, sehingga anak-anak mereka kehilangan kasih sayang dan
didikan para ibu-ibu yang sholihah.
Ibu-ibu yang telalu banyak beraktifitas diluar rumah, apalagi didalam lingkungan yang
bercampur bawur serta sibuk dalam masalah dunia semata-mata, maka iman dan taqwa
kaum ibupun menjadi luntur dan pudar. Sehingga tidak lagi mampu menjadi pendidik-
pendidik keluarga dengan ketinggian moral dan akhlaq.
Atau pula dominasi informasi dari luar lewat berbagai multi media yang menerobos ke
dalam rumah-rumah, maka dapat pula meracuni jiwa para kaum ibu dan kaum wanita,
sehingga mereka terseret kepada akhlaq yang rendah. Sehingga mereka mendidik anak-
anaknya pun dengan akhlaq yang rendah pula.
.
5. Kesesatan Hati dalam memaknai Kehidupan Dunia
Sering terjadi ditengah-tengah masyarakat iklan-iklan penyesat atau pula slogan-slogan
penyesat yang memang bertujuan untuk menyesatkan dan mengacaukan keteraturan
kehidupan umat manusia. Maukah kita termakan oleh hal-hal yang menyesatkan dan
kemudian mengacaukan keteraturan kehidupan.
Relakah kita membiarkan ibu-ibu kita bekerja di tambang-tambang batubara di
kedalaman bawah tanah, sedang bapak-bapak kita bekerja sebagai perawat-perawat bayi
di rumah sakit ???, memang ini sesuatu contoh yang sangat extrim, namun sering kita
menolak bimbingan Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Bijaksana, Tuhan
pencipta seluruh alam, kemudian kita lebih suka mengikuti ajakan orang-orang kafir,
yang mereka memang lebih suka hidup semaunya sendiri dan suka menyulitkan dirinya
sendiri.
Pandangan mata hati seorang muslim yang sholih dan sholihah memang beda dengan
pandangan orang-orang kafir. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang sementara,
kehidupan yang harus diwarnai dengan keimanan dan ketaqwaan, diwarnai dengan
keta’atan kepada Allah, hidup dengan amal sholih, dengan begitu hidup yang sementara
ini akan berujung di surga jannah Allah, kebahagiaan yang kekal di akherat.
Sebaliknya hidup di dunia bagi orang kafir adalah terminal akhir kebahagiaan, karena
setelah itu mereka tidak percaya akan adanya kehidupan akherat, dan kemungkinan besar
mereka akan menetap di nereka. Maka perebutan kenikmatan dunia menjadi perebutan
yang sangat hebat dan menjadi kerja utama yang sangat-sangat fital dan menyita seluruh
waktu hidupnya. Berbagai aturan Allah diabaikan. Berbagai janji Allah diabaikan. Segala
larangan Allah dilanggar. Karena memang dunia adalah terminal kesenangan dan
kebahagiaan bagi mereka.
Memang menjadi sangat sulit hidup ditengah bercampurnya prinsip hidup yang beraneka
ragam, dan enggan diatur dengan aturan Allah, sehingga semuanya menjadi campur aduk,
semrawut dan kacau balau. Namun yang benar tetap benar dan yang batil tetap batil.
Orang bertaqwa harus memagang teguh kebenaran di tengah kebatilan yang merajalela.
dakwatuna.com – Teringat pembicaraan bersama keluarga Om saya beberapa waktu
yang lalu, saat menyaksikan gaya berpakaian wanita-wanita zaman ini di sepanjang
perjalanan kami dari Cikarang ke Tangerang, kami tergelitik dengan salah satu bagian
pakaian yang bernama jilbab.
Jilbab yang sebenarnya merupakan salah satu bagian pakaian wajib bagi perempuan,
seperti dalam firman Allah SWT,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri
orang-orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh
karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).
Namun saat ini jilbab sering dialihfungsikan hanya menjadi salah satu gaya berbusana
agar tampak menarik. Seperti halnya di salah satu negara tetangga yang menjadikan
jilbab sebagai salah satu budaya berpakaian mereka, sepertinya yang terjadi di
lingkungan kita saat ini para perempuan menjadikan jilbab hanya sebagai salah satu trend
dalam berpakaian saja.
Saat ada acara keagamaan atau pada hari raya ramai-ramai memakai jilbab. Lepas dari
momen itu, kembali auratnya dibiarkan diterpa angin. Tidak memandang mereka artis
atau bukan, fenomena seperti ini sering kita jumpai di sekitar kita.
Dalam konteks lain, sering pula kita jumpai mereka yang memakai jilbab hanyalah untuk
menutupi rambutnya yang menurut mereka sendiri kurang bagus. Namun di kesempatan
lain kita dibuat tertegun saat dengan santai dan bangganya ia berjalan di depan umum
dengan memamerkan rambut barunya yang baru saja direbonding. Bahkan mereka tidak
menyadari tentang hukum rebounding itu sendiri dalam Islam.
Satu alasan lain wanita memakai jilbab ternyata hanya karena ia sering dipuji lebih cantik
jika memakai jilbab. Sedangkan hatinya sebenarnya merasa enggan memakai jilbab. Ia
memakai jilbab namun terkadang pakaian yang ia kenakan menunjukkan lekuk-lekuk
tubuhnya. Hal ini oleh nabi sering disinggung sebagai “wanita yang berpakaian tapi
telanjang.” Sayang sekali, karena mereka yang berpakaian ketat atau seksi sudah
dijelaskan tidak akan mencium bau surga. Mencium baunya saja diharamkan, apalagi
tinggal di dalamnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum
yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita
yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta
yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya,
walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Dengan alasan bahwa berbagai perilaku seperti di atas masih lebih baik daripada sama
sekali tidak pernah memakai jilbab atau bahkan menghalangi wanita lain untuk berjilbab,
mereka seolah-olah ingin ‘mencurangi’ hukum Islam. Seharusnya setiap muslimah
memahami bahwa berjilbab itu merupakan suatu kewajiban. Ia mengenakan jilbab karena
benar-benar diniatkan mengharap ridha Allah. Hal ini senada dengan sabda rasul yang
menyatakan bahwa suatu amal itu tergantung dari niatnya.
يح ص ؤ ى هلل ل هلل :ه ل ط ضي هلل
ت ه ى هلل ى. ف ئ ك , أل ل :ل ه
ته ك ف , ص ته ,ه ت ه ى هلل هف
ث ه. { ه ى غ هلل
يف ي ش ي ج ي دز ه
.} ص ح ك تب
Dari Amir Mukminin Abi Hafsh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya segala
amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang
diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya
karena Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan
diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang
diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Insya Allah jika segala sesuatu diniatkan karena Allah, Dzat Yang Abadi, suatu perilaku
itu juga akan abadi meski banyak godaan dan hambatan untuk tetap istiqamah.
Note : Jilbab di sini lebih cenderung saya artikan sebagai kerudung karena di lingkungan
kita lebih sering dipahami seperti itu. Sedangkan pengertian jilbab, kerudung, burka, dsb
sudah banyak diulas di berbagai artikel.
Karakteristik Istri Ideal ^^
Seorang cendikiawan menulis tentang karakteristik istri ideal dengan sangat indah :
“Dia senantiasa memperhatikan kekurangan diri dan memikirkan agamanya serta
menghadap Tuhannya. Suaranya dipelankan, lebih banyak diam, sikapnya lembut,
lidahnya terjaga, sangat pemalu, amat berhati-hati jangan sampai mengucapkan kata-kata
yang buruk, lapang dada dan penyabar. Dia sedikit sekali melakukan tipu muslihat,
banyak bersyukur, menjaga kehormatannya, steril dari aib, penyanyang, dermawan, rela,
bersih, lembut, sangat baik, akhlaknya bagus dan budi pekertinya halus.
Dia tidak pernah berbohong, bebas dari rasa kagum terhadap diri sendiri, meninggalkan
semua hal yang kotor, bersikap zuhud terhadap dunia, tenang, tidak banyak bercanda,
tidk mengumbar nafsu, jarang sekali bersiasat namun dapat diandalkan. Hatinya penuh
belas kasihan dan cintanya tulus. Jika dihardik dia menahan diri dan jika diperintah dia
taat. Dia membenci sikap enggan berbuat baik. Dia tidak menyukai pemborosan dan
membenci hal-hal yang makruh serta murka terhadap sikap angkuh. Dia merawat dirinya
dengan wewangian khas wanita dan celak mata serta air. Dia puas dengan rezeki yang
sekedar mencukupi.
Dia menutup auratnya dengan cara menjaga diri. Dia sangat menyayangi keluarga,
lembut terhadap suami, bersikap manja kepadanya, memurnikan cinta kepadanya,
menyerahkan jiwa raga kepadanya, tidak mempersulitnya dan mengalah demi urusannya.
Dia lebih mengutamakan pendapat sang suami daripada pendapat pribadinya. Dia
membiarkan sang suami memimpin dirinya. Dia menjaga rahasianya, melimpahkan
sebesar-besarnya cinta kepadanya dan lebih mementingkan sang suami dari pada ayah-
bundanya sendiri.
Dia tidak pernah menyinggung kekurangannya ataupun membocorkan rahasianya. Dia
memperbaiki urusannya, ikut bergembira dengannya, tidak membiarkannya sendirian
dalam kesulitan dan kemiskinan tetapi justru menambah cintanya kepada sang suami di
saat miskin. Dia menerima kemarahannya dengan kelembutan dan kesabaran,
membuatnya senang sewaktu dia marah, menghindari kemurkaannya, waspada di saat
sedang tidak bersamanya dan merasa senang dengan melihatnya. Dia adalah
pendengaran, penglihatan dan hati bagi suaminya. Dia senantiasa berdzikir, memahami
ilmu Allah dan mengamalkannya. Dia jalankan semua perintah Allah sehingga di
muliakanlah dia.”
A little note for share