Makalah Mini Riset Tari Kebudayaan Sumenep by PutriSari9

VIEWS: 1,286 PAGES: 56

More Info
									                                    BAB I


                              PENDAHULUAN


1.1.   LATAR BELAKANG

       Penelitian ini membahas mengenai peran komunikasi dalam usaha

pelestarian kebudayaan tari khas Sumenep sebagai salah satu warisan budaya dari

Kabupaten Sumenep. Pelestarian kebudayaan ini merupakan salah satu wujud

pembangunan Kota Sumenep dimana seiring perkembangan jaman dan masuknya

budaya luar ke dalam Sumenep membuat kebudayaan asli dari Sumenep semakin

terkikis.

       Peranan komunikasi pembangunan telah banyak dibicarakan oleh para ahli,

pada umumnya mereka sepakat bahwa komunikasi mempunyai andil penting

dalam pembangunan. Menurut Mukti Sitompul (dalam Everett M. Rogers 1985)

menyatakan bahwa, secara sederhana pembangunan adalah perubahan yang

berguna menuju suatu sistem sosial dan ekonomi yang diputuskan sebagai

kehendak dari suatu bangsa. Pada bagian lain Rogers menyatakan bahwa

komunikasi merupakan dasar dari perubahan sosial.

       Perubahan yang dikehendaki dalam pembangunan tentunya perubahan

kearah yang lebih baik atau lebih maju dari keadaan sebelumnya. Oleh karena itu

peranan komunikasi dalam pembangunan harus dikaitkan dengan arah perubahan

tersebut. Artinya kegiatan komunikasi harus mampu mengantisipasi gerak

pembangunan.




                                                                             1
         Sumenep memiliki dua tari khas yaitu Tari Muang Sangkal (Muang

Sangkal) dan Topeng Dalang (Sumenep.info, 2011). Kedua tarian khas Sumenep

ini belum berkembang secara maksimal dan seimbang dikarenakan terpaan arus

budaya luar (asing atau lokal luar Kabupaten Sumenep) yang lebih besar

dibanding usaha pelestarian kebudayaan tarian khas ini sendiri.

         Berdasarkan letak geografisnya, Kabupaten Sumenep memiliki luas wilayah

2093,46 km2 dengan karakteristik sebagai berikut, jumlah gunung berapi yang

relatif rendah dan memiliki resiko sedang terhadap beberapa macam bencana alam

seperti putting beliung, erosi, tsunami, dan banjir, serta tingginya resiko terhadap

kekeringan, gempa bumi, dan pergerakan tanah. Pemanfaatan lahan yang dapat

ditemui di Kabupaten Sumenep ini adalah tambak, hutan rakyat, perkebunan, dan

tegal.




         Apabila dilihat dari segi demografinya, penduduk Sumenep berjumlah

1.041.915 jiwa yang terdiri dari 495.099 jiwa laki – laki dan 546.816 jiwa

perempuan. Jumlah penduduk terbanyak dapat ditemui di Kecamatan Kota

Sumenep dengan jumlah 70.794 jiwa, diikuti Kecamatan Pragaan 65.031 jiwa dan

Kecamatan Arjasa sebanyak 59.701 jiwa (wikipedia, 2012). Persebaran penduduk

ini dapat diamati dalam tabel hasil sensus penduduk 2010 berikut :


                                                                                  2
                             Total
No.    Kecamatan
                      L               P


1.      Manding      13333           14601


2.      Pragaan      31348           33683


3.       Bluto       21817           23438


4.      Saronggi     16024           18296


5.     Giligenting   12390           14093


6.      Talango      16944           19783


7.      Kalianget    18914           20327


8.      Kalianget    18914           20327


9.    Kota Sumenep   34072           36722


10.     Lenteng      26963           29641


11.     Ganding      17016           18646


12.   Guluk-guluk    24248           26360


13.   Pasongsongan   20788           22403


14.    Ambunten      17608           20208


15.     Rubaruh      17374           19436




                                             3
   16.                    Dasuk                        14109       15290


   17.                  Batu Butih                     20159       22308


   18.                   Gapura                        17263       19185


   19.                   Gapura                        17263       19185


   20.                Batang-batang                    24463       27269


   21.                     Raas                        17807       19903


   22.                   Dungkek                       16701       13339


   23.                 Nonggunong                      6148         7041


   24.                   Gayam                         14933       16902


   25.                   Sapeken                       21123       22332


   26.                    Arjasa                       27715       31986


   27.                  Kangayan                       9591        10676




                                  (bppd-jatim, 2010)


         Kabupaten Sumenep yang telah dikenal sejak dahulu adalah sebuah bekas

kerajaan dimana Keraton Sumenep adalah salah satu peninggalan sejarah Jawa

Timur. Keraton Sumenep dibangun pada tahun 1762 oleh Panembahan Sumolo

yang bergelar Tamenggung Arya Noto Kusumo I. Keraton Sumenep sebagai




                                                                            4
tradisi budaya memiliki beberapa unsur budaya yang salah satunya adalah seni

tari.


        Berbicara tentang tari di Keraton Sumenep pada jaman dahulu (sebelum

tahun 1891) setiap ada perayaan suatu acara selalu dibuka atau didahului dengan

acara Tayuban. Tayub ini merupakan tari pergaulan yang gerakannya tidak baku

dan fungsinya untuk menyambut para tamu-tamu penting kerajaan.


        Kira-kira pada tahun 1891 Tayub Keraton Sumenep ini sudah mengalami

sedikit perubahan gerak, yang mula-mula gerakannya tidak baku menjadi sedikit

dibakukan. Ciri-ciri awal permulaan Tari Tayub ini sangat halus dan lembut, serta

mengandung makna dan falsafah yang sangat tinggi dan mendalam, lalu

dilanjutkan dengan gerakan-gerakan Tayuban sebelumnya (tari pergaulan). Tari

Tayub ini tidak lagi digunakan sebagai tarian penyambut tamu-tamu agung, tetapi

kemudian digunakan sebagai tarian dalam acara-acara adat di dalam Keraton

Sumenep itu sendiri, contohnya pada acara ruwatan dan masih banyak lagi yang

lainnya. Tari Tayub Keraton Sumenep ini dibawakan oleh penari-penari putri

Keraton Sumenep.


        Atas dasar latar belakang Tari Tayub tersebut dan karena Kabupaten

Sumenep pada waktu itu belum mempunyai bentuk tarian yang baku untuk

dijadikan simbol-simbol dan ciri khas masyarakat Sumenep, baik tarian itu tarian

untuk upacara penyambutan tamu agung dan upacara pernikahan yang berbentuk

sakral, maka pada tahun 1962 Taufikurrachman yang merupakan seorang

koreografer Kabupaten Sumenep dan masih berdarah keraton Sumenep




                                                                               5
menciptakan sebuah tarian khas Sumenep. Tarian tersebut kemudian diberi nama

Muang Sangkal.


       Tari Muang Sangkal diciptakan dengan gerakan-gerakan atas dasar gerak-

gerak Tayub Keraton Sumenep yang bertitik tolak pada gerak tari gaya Jogjakarta

dan dipadukan dengan gerak-gerak ciptaan lainnya yang tidak menyimpang dari

nafas dan ciri-ciri Keraton Sumenep. Pola gerak Tari Muang Sangkal sudah

memiliki konsep yang tertata dengan baku dan mapan. penataan gerak dalam

tarian Muang Sangkal ini sangat lembut, gemulai, halus serta tidak terlalu dinamis

tetapi mempunyai tekanan-tekanan yang sangat luruh. Tidak hanya itu saja,

keistimewaan lain yang dapat ditemui pada Tari Muang Sangkal adalah jumlah

penarinya yang harus ganjil (satu, tiga, lima, tujuh, dst.), penarinya menggunakan

baju pengantin dodotan khas Sumenep dan ketika membawakan tarian ini, para

penarinya membawa cemong yang berisikan kembang beraneka macam yang akan

ditaburkan pada saat menari dengan diiringi gending keraton. Salah satu hal yang

membuat Tari Muang Sangkal ini semakin sakral adalah pada saat pementasan,

penari harus masih gadis dan dalam keadaan suci (tidak dalam keadaan

menstruasi).


       Atas dasar perintah dari Bupati Sumenep untuk menerima tamu-tamu

penting pemerintahan dan untuk menolak segala bahaya yang akan terjadi

diutuslah Taufikurrachman sang pencipta tari Muang Sangkal ini untuk

menampilkan sebuah tarian sakral yang sesuai dengan ciri khas budaya Sumenep.

Oleh karena itu, Tari Muang Sangkal kemudian dipentaskan/diperkenalkan

pertama kali kepada masyarakat pada tahun 1975.



                                                                                6
       Setelah adanya pementasan Tari Muang Sangkal tersebut, masyarakat

Kabupaten Sumenep percaya bahwa tari Muang Sangkal yang dibawakan oleh

gadis-gadis remaja yang memanjat doa dan memohon harapan kepada Tuhan

YME agar terhindar dari bencana, benar-benar dapat menolak dan mengurangi

segala macam bencana yang akan terjadi. Oleh karena itu, kemudian Tari Muang

Sangkal oleh masyarakat Sumenep dijadikan simbol dan tarian khas Sumenep.

Dimana tarian ini kemudian sering ditampilkan tidak hanya di Keraton Sumenep

tetapi juga ditampilkan ada awal pembukaan suatu acara perkawinan, upacara-

upacara yang bersifat sakral serta sebagai penyambutan tamu-tamu agung atau

pejabat pemerintah.


       Tari Muang Sangkal sendiri berasal dari kata “Muang” yang diambil dari

bahasa Madura – Sumenep yang berarti “Membuang” dan “Sangkal” artinya

“Bahaya”. Jadi Tari Muang Sangkal ini adalah sebuah tarian yang bertujuan untuk

membuang bahaya atau tolak bahaya.


       Selama ini, Tari Muang Sangkal tidak hanya dipentaskan di Sumenep,

Madura atau Jawa Timur, Indonesia saja tetapi tarian ini sudah merambah dunia

Internasional. Tarian ini pernah dipentaskan ketika ada misi Jawa Timur di Coffe

Morning di Istana Negara tahun 1994, di luar negeri misalnya London pada tahun

1996, ke Den Hag (Pasar Raya Malam Tong-Tong 2000), dll.


       Tari Topeng Dalang merupakan tarian yang sudah lama ada dan menjadi

bagian dari Kabupaten Sumenep. Tari Topeng Dalang ini melibatkan banyak

orang mulai dari kesenian tarinya sendiri ataupun kerajinan pahat topengnya,

dengan melestarikan kesenian ini maka akan banyak pihak yang juga akan


                                                                              7
memperoleh keuntungan. Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan cara

mengajak para penari Topeng Dalang yang tersisa untuk mengajarkan kesenian

tersebut pada generasi muda dan penekanan usaha mandiri yang dapat dilakukan

oleh pengerajin Topeng Dalang.


       Usaha yang dapat dilakukan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat

adalah dengan mengkomunikasikan pentingnya melestarikan warisan budaya dan

sebagai mahasiswa yang mempelajari Ilmu Komunikasi dapat mencari tahu

kebutuhan – kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat dalam mengembangkan

usaha mereka dengan terjun langsung melihat kondisi sekitar dan berkomunikasi

secara langsung dengan warga sekitar. Setelah mengetahui kebutuhan yang

diperlukan oleh masyarakat, maka dapat dilakukan perencanaan program yang

dapat meningkatkan potensi masyarakat yang dalam hal ini berhubungan dengan

Tari Muang Sangkal dan Topeng Dalang, menyampaikan rencana program

tersebut kepada pemerintah dan dinas terkait, serta mengkomunikasikan program

yang disetujui atau dibuat oleh pemerintah kembali ke masyarakat demi

terciptanya perkembangan daerah dan masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai

dengan kepribadian bangsa.


       Tari topeng merupakan tarian tradisional yang banyak dimiliki oleh

berbagai daerah di Indonesia, akan tetapi Tarian Topeng Dalang yang dimiliki

oleh Kabupaten Sumenep ini memiliki bebarapa keunikan yang dapat

membedakannya dengan tarian topeng dari daerah lainnya. Keunikan pertama

adalah kalannya cerita tarian ini dikendalikan oleh seorang dalang kecuali

panakawan (Bagong, Semar, Pitro’, dan Garing), seorang dalang harus memiliki

kemampuan untuk mengatur jalannya cerita dengan suara yang terdengar berbeda


                                                                           8
– beda. Selain harus dapat mengisikan suara pria maupun wanita dalam

penokohan, dalang harus dapat menyanyikan kidung sesuai dengan peran tiap –

tiap pemain. Keunikan lain yang dapat ditemui dalam tarian Sumenep adalah

kekhususan tarian sesuai jenis kelaminn dan topeng yang tidak seluruhnya

menutup bagian wajah penari. Apabila tarian Muang Sangkal yang secara khusus

dibawakan oleh penari wanita yang sedang tidak berhalangan (datang bulan),

maka Tarian Topeng Dalang ini secara khusus dibawakan oleh para pria pada

umumnya.


       Meskipun pelaku dari Tari Topeng Dalang ini adalah pria, bukan berarti

tidak terdapat peran wanita di dalamnya, terdapat pembagian peran pria dan

wanita di dalamnya. Tarian untuk peran pria dibedakan menjadi tiga, pelan,

menengah, dan keras. Keunikan ketiga yang dapat ditemukan dalam tarian ini

adalah para penarinya menggunakan klenengan yang biasa disebut gungsing oleh

masyarakat Madura di pergelangan kakinya.


       Tarian Topeng Dalang di Sumenep dibedakan menjadi dua, Tari Topeng

Dalang Kalianget dan Tari Topeng Dalang Slopeng (Dasuk). Tari Topeng Dalang

Kalianget memiliki ciri – ciri topeng tokoh kasar karena kumis hanya dicat hitam,

gungsing hanya di kaki kanan, tariannya sederhana, punakawan hanya Semar dan

Bagong. Sedangkan Tari Topeng Dalang Slopeng (Dasuk) memiliki ciri – ciri

topeng kumis pada topeng tokoh jahat terbuat dari iju’ hitam seperti sikat,

gungsing yang digunakan dikedua kaki, tariannya lebih bervariasi, dan panakawan

dalam Tari Topeng Dalang Slopeng ini adalah Semar, Bagong, Pitro’, dan Garing

(Informasi Sumenep, 2011).




                                                                               9
       Berdasarkan Iemawati (2011) dapat diketahui bahwa sejarah Topeng

Dalang awalnya berasal dari desa Proppo dari Kabupaten Pamekasan. Kesenian

ini berkembang pada masa pemerintahan Prabu Menak Senaya abad ke- 15.

Awalnya kesenian ini dipergunakan sebagai sarana hiburan di lingkungan keraton

oleh kerabat keraton sendiri untuk menghormati tamu agung. Topeng Dalang

merupakan adaptasi dari kesenian wayang kulit, hal ini dapat dilihat dari adanya

kesamaan antara tokoh – tokoh yang ada di wayang kulit dengan Topeng Dalang,

selain itu kesenian Topeng Dalang juga bercerita mengenai legenda Ramayana

dan Mahabarata. Adanya hubungan baik yang terjalin antara kerajaan yang ada di

Pamekasan dengan dua kerajaan di Jawa Timur mengindikasikan adanya korelasi

antara kesenian topeng yang ada di Jawa Timur dengan yang ada di Madura, akan

tetapi kesenian topeng yang berkembang di Madura telah diselipi oleh unsur –

unsur agama Islam.


       Topeng Dalang mengalami masa keemasan ketika abad ke- 18 , ketika

menjadi hiburan keraton. Kemudian pada abad ke- 20, sekitar tahun 1960-an

kesenian Topeng Dalang mengalami masa surut dikarenakan banyaknya seniman

Topeng Dalang yang meninggal, sedangkan seniman baru belum menguasai

kesenian ini. Pada tahun 1970-an kesenian Topeng Dalang ini diangkat kembali

oleh seniman dari Sumenep yang bernama Sabidin. Berdasarkan blog Info

Sumenep (2011) berkat usaha Sabidin, kesenian Topeng Dalang mengalami masa

keemasan untuk kedua kalinya, karena pada masa itu kesenian ini berhasil

dipentaskan hingga ke manca negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Jepang,

dan Belgian dengan bayaran sangat tinggi sehingga dapat menambah devisa

negara. Berkembangnya kesenian Tari Topeng Dalang atas usaha Sabidin ini



                                                                             10
mengakibatkan Tarian Topeng Dalang lebih dikenal sebagai kesenian khas daerah

Kabupaten Sumenep meskipun sebenarnya kesenian ini berasal dari Pamekasan.

Akan tetapi keberadaan kesenian Tari Topeng Dalang saat ini sudah sangat sulit

untuk ditemui. Hal ini disebabkan semakin berkurangnya orang – orang yang

berminat untuk mengembangkan kesenian ini hingga tetap terjaga kelestariannya.

Berikut merupakan pernyataan yang mendukung          bahwa kesenian ini mulai

menghilang :


               “Topeng Dalang mempunyai kesamaan dengan Topeng Malangan,
               karena pada dulunya kedua wilayah ini sama – sama menjadi
               bagian dari kerajaan Singasari hingga Majapahit. Sayang kesenian
               ini sudah mulai pudar dimakan jaman” (Bambang 2011).
       Kesenian Topeng Dalang memiliki peran penting dalam masuknya

pengaruh Agama Islam di Madura hingga membangun kultur Islami di kalangan

masyarakat Madura karena kesenian ini merupakan salah satu media dakwah pada

saat itu. Adanya keterkaitan antara budaya Topeng Dalang dengan kultur Islami

yang kental di Madura ini menjadi alasan mengapa kesenian ini perlu dilestarikan.

Selain itu kesenian Topeng Dalang ini merupakan kesenian teater tertua

peninggalan kebudayaan Madura dan dengan mengangkat kembali kesenian

Tarian Topeng Dalang ini dapat menarik wisatawan dan memperkenalkan

kerajinan topeng khas Madura ke khalayak luas. Usaha memperkenalkan kembali

kesenian Topeng Dalang ini juga dapat berdampak pada kembali aktifnya

kesenian kerajinan topeng khas Madura.


       Salah satu pendukung dari mulai langkah keberadaan kesenian ini adalah

adanya kesenjangan yang mungkin terjadi antara masyarakat dengan pemerintah

daerah sehingga berdampak pada aspirasi masyarakat yang kurang dapat



                                                                              11
tertampung dan program pemerintah yang kurang dapat diterima dengan baik oleh

masyarakat. Kesenjangan antara pemerintah dengan masyarakat mungkin terjadi

karena adanya perbedaan tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang

mempengaruhi ketertarikan untuk melakukan komunikasi (Mulyana, 2008,

p.117). Peran dari ahli komunikasi dalam pelestarian warisan budaya tari ini

adalah dengan menjembatani antara pemerintah dengan warga sehingga

terjalinnya hubungan komunikasi yang baik dari atas ke bawah dan dari bawah ke

atas. Ahli komunikasi bertugas untuk mencari tahu kebutuhan masyarakat dengan

komunikasi dengan melakukan penelitian pada masyarakat sekitar yang

berhubungan dengan keberadaan Tari Muang Sangkal dan Topeng Dalang ini agar

dapat merencanakan program jangka panjang dan pendek yang sesuai dengan

kebutuhan masyarakat sekitar sebagai masukan pada dinas terkait dan pemerintah.

Dengan adanya masukan yang sesuai dengan kebutuhan ini, maka program yang

dibuat pun akan mengena pada sasaran dann dapat mengembangkan potensi

sumber daya manusia di Kabupaten Sumenep yang juga berdampak peningkatan

penghasilan daerah.


       Modernitas tidak selalu bermakna meniru budaya yang ditularkan oleh

bangsa asing yang telah maju, modernitas dapat juga berarti bahwa suatu kegiatan

yang telah disepakati secara bersama dalam suatu wilayah kedaulatan untuk

meraih kehidupan yang lebih baik, meningkatkan kesejahteraan, dan kenyamanan

masyarakat yang tinggal dalam wilayah kedaulatan tersebut. Konsep partisipastif

yang digunakan melibatkan masyarakat sekitar dalam pembangunan kebudayaan

Sumenep melalui pelestarian Tari Muang Sangkal dan Topeng Dalang. Usaha

melibatkan masyarakat sekitar melalui pelestarian kedua tarian ini dimulai dari



                                                                             12
melakukan komunikasi akan kebutuhan dan kendala yang dihadapi oleh

masyarakat sekitar dan khususnya pengelola serta pengembang tarian khas

Kabupaten Sumenep ini dalam mengembangkan kebudayaan tarian khas

Kabupaten Sumenep. Masukan dari masyarakat ini sangat penting karena mereka

juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam usaha membangun daerah.

Dengan mengetahui kekurangan dan hambatan yang dihadapi oleh masyarakat

yang bersangkutan maka baru dapat dicari solusi yang tepat dan dikomunikasikan

kembali pada mereka sebagai solusi atas permasalahannya.


        Kurang aktifnya sanggar – sanggar yang telah terbentuk saat ini, kurang

adanya dukungan material (dana untuk pemeliharaan sanggar, alat musik, kostum,

dst.), kurang dikembangkannya kesenian padahal masih ada penari yang

menguasai tarian ini, serta sedikitnya orang yang minat akan mengembangkan

kesenian ini merupakan faktor – faktor yang harus diatasi dalam usaha

pengembangan Tari Muang Sangkal dan Topeng Dalang.


        Metode yang dapat digunakan dalam mengetahui penyebab dari faktor –

faktor kurang dieksplorasinya kesenian Tari Muang Sangkal dan Topeng Dalang.

Penelitian dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner yang akan menggali

informasi – informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. data – data yang

diperoleh akan diolah menjadi sebuah kesimpulan yang akan dijadikan masukkan

bagi instansi terkait.




1.2.   RUMUSAN MASALAH




                                                                            13
     Berdasarkan ulasan latar belakang yang telah kami ungkapkan maka kami

menemukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :


   1. Bagaimana pengetahuan warga Sumenep dan luar Sumenep terhadap

      kebudayaan Sumenep?

   2. Bagaimana partisipasi masyarakat dan pemerintah ( Sumenep ) dalam

      mengembangkan tari kas Sumenep?

   3. Hambatan apa saja yang dialami dalam mengembangkan tari khas

      Sumenep sebagai objek wisata budaya ?



1.3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN


Tujuan :


   1. Mengetahui seberapa dalam pengetahuan warga akan kebudayaan

      daerahnya, khususnya mengenai tarian khas Sumenep

   2. Mengetahui seberapa besar partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam

      mengembangkan tarian khas Sumenep

   3. Mengetahui hambatan yang dialami dalam mengembangkan potensi

      kebudayaan daerah, khususnya tarian khas Sumenep

   4. Mengetahui dan menentukan cara mengembangkan potensi budaya,

      khususnya tarian khas Sumenep


Manfaat :


   1. Sebagai bahan analisis penyebab kurang berkembangnya tarian khas

      Sumenep



                                                                        14
   2. Sebagai dasar penentuan cara yang tepat dalam pengembangan tarian khas

          Sumenep



1.4. TINJAUAN PUSTAKA


Teori difusi inovasi :




  Keberhasilan :                                    -   Gap
                                                    -   Pembentukan elit baru
      -    Bahasa                                   -   Memperkokoh kekuasaan
      -    Kepercayaan                              -   Status Quo
      -    Pendidikan
      -    Status sosial
      -    Involvement
      -    Kegunaan/ nilai inovasi
      -    Tidak bertentangan
           dengan nilai – nilai
           budaya masyarakat
           sasaran

          Rogers (1961) dalam Slamet Mulyana menyatakan difusi menyangkut

“which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its

ultimate users or adopters.”


          Teori difusi inovasi dapat dikategorikan ke dalam pengertian peran

komunikasi secara luas dalam merubah masyarakat melalui penyebarluasan ide-



                                                                               15
ide dan hal-hal yang baru. Menurut Rogers dan Shoemaker (1971), studi difusi

mengkaji pesan-pesan yang disampaikan itu menyangkut hal-hal yang dianggap

baru maka di pihak penerima akan timbul suatu derajat resiko tertentu yang

menyebabkan perilaku berbeda pada penerima pesan.


       Slamet Mulyana (2009) menyatakan bahwa teori difusi inovasi memiliki

empat elemen yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam

pernyataannya :


              ”Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi
              terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:
              (1) Inovasi; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru
              oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara
              subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika
              suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi
              untuk orang itu. Konsep ’baru’ dalam ide yang inovatif tidak harus
              baru sama sekali.
              (2) Saluran komunikasi; ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan
              inovasi dari sumber kepada penerima. Dalam memilih saluran
              komunikasi, sumber paling tidakperlu memperhatikan (a) tujuan
              diadakannya komunikasi dan (b) karakteristik penerima. Jika
              komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi
              kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran
              komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media
              massa. Tetapi jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap
              atau perilaku penerima secara personal, maka saluran komunikasi
              yang paling tepat adalah saluran interpersonal.
              (3) Jangka waktu; proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang
              mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau
              menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat
              berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak dimensi waktu
              terlihat dalam (a) proses pengambilan keputusan inovasi, (b)
              keinovatifan seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat
              dalammenerima inovasi, dan (c) kecepatan pengadopsian inovasi
              dalam sistem sosial.
              (4) Sistem sosial; kumpulan unit yang berbeda secara fungsional
              dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam
              rangka mencapai tujuan bersama
              Lebih lanjut teori yang dikemukakan Rogers (1995) memiliki
              relevansi dan argumen yang cukup signifikan dalam proses
              pengambilan keputusan inovasi. Teori tersebut antara lain
              menggambarkan tentang variabel yang berpengaruh terhadap


                                                                             16
              tingkat adopsi suatu inovasi serta tahapan dari proses pengambilan
              keputusan inovasi. Variabel yang berpengaruh terhadap tahapan
              difusi inovasi tersebut mencakup (1) atribut inovasi (perceived
              atrribute of innovasion), (2) jenis keputusan inovasi (type of
              innovation decisions), (3) saluran komunikasi (communication
              channels), (4) kondisi sistem sosial (nature of social system), dan
              (5) peran agen perubah (change agents).
              Sementara itu tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi
              mencakup:
              1.    Tahap Munculnya Pengetahuan (Knowledge) ketika seorang
              individu (atau unit pengambil keputusan lainnya) diarahkan untuk
              memahami eksistensi dan keuntungan/manfaat dan bagaimana
              suatu inovasi berfungsi
              2.    Tahap Persuasi (Persuasion) ketika seorang individu (atau
              unit pengambil keputusan lainnya) membentuk sikap baik atau
              tidak baik
              3.    Tahap Keputusan (Decisions) muncul ketika seorang individu
              atau unit pengambil keputusan lainnya terlibat dalam aktivitas yang
              mengarah pada pemilihan adopsi atau penolakan sebuah inovasi.
              4.    Tahapan Implementasi (Implementation), ketika sorang
              individu atau unit pengambil keputusan lainnya menetapkan
              penggunaan suatu inovasi.
              5.    Tahapan Konfirmasi (Confirmation), ketika seorang individu
              atau unit pengambil keputusan lainnya mencari penguatan terhadap
              keputusan penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah dibuat
              sebelumnya.” (Mulyana, 2009).


       Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa segala sesuatu, baik

dalam bentuk ide, cara-cara, ataupun objek yang dioperasikan oleh seseorang

sebagai sesuatu yang baru, maka dapat dikatakan sebagai suatu inovasi.

Pengertian baru di sini tidaklah semata-mata dalam ukuran waktu sejak

ditemukannya atau pertama kali digunakan inovasi tersebut. Dengan kata lain, jika

suatu hal dipandang baru bagi seseorang maka hal itu merupakan inovasi.

Havelock (1973) menyatakan bahwa, inovasi sebagai segala perubahan yang

dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh

masyarakat yang mengalaminya.




                                                                              17
          Littlejohn (2007) menyatakan bahwa audiens bersifat pasif dalam

menerima terpaan pesan dari media, berikut pernyataannya :


                “…’magic bullet’ theory of communication effects. Individuals
                were believed to be directlyand heavily influenced by media
                messages, since media were considered to be extremely powerful
                in shaping public opinion”(Littlejohn, 2007, p.298).
       Littlejohn (2007) juga menyatakan tentang efek yang timbul dari

perpindahan informasi dari media ke audiens, “theory of how information moves

from media to audiences to have spesific intended effects” (Littlejohn, 2009,

p.408).




1.5.   METODOLOGI PENELITIAN


       Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode Kualitatif –

kuantitatif deskriptif. Penggabungan dua metode yang berbeda dalam penelitian

ini akan diaplikasikan pada dua responden yang berbeda. Metode penelitian

kualitatif akan diterapkan pada responden satu, yaitu pelaku seni Tari Topeng

Dalang dan Tari Muang Sangkal. Metode kualitatif yang dilakukan adalah dengan

melakukan wawancara secara langsung pada responden dengan menggunakan

bahasa asal agar responden dapat lebih leluasa dalam memberikan keterangan dan

meminimalisir adanya kesalahpahaman yang dikarenakan adanya perbedaan

penggunaan bahasa. Metode penelitian yang kedua adalah kuantitatif yang

diterapkan pada responden dua, warga kota agar dapat mengetahui peran dan

hambatan warga dalam turut melestarikan kebudayaan Tarian khas Sumenep.

Pelaksanaan dari metode kuantitatif pada responden dua ini dilakukan dengan cara




                                                                             18
membagikan 25 kuisioner kepada masyarakat Sumenep dan 25 penduduk luar

Sumenep.


     Data yang diperoleh akan diolah sebagai bahan analisis penyebab dan cara

yang tepat dalam usaha mengembangkan kebudayaan tari khas Sumenep sebagai

warisan budaya yang dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata asing. Data

kualitatif yang diperoleh akan ditarik kesimpulan dan digabungkan dengan

penghitungan hasil data kuantitatif yang berupa nilai yang tergambarkan melalui

pilihan yang diberikan pada responden dua dan memiliki skala – skala berbeda.




     .




                                                                                19
                                     BAB II

                             GAMBARAN UMUM


       Penelitian mengenai kesenian tari Topeng Dalang dan Tari Muang

Sangkal ini dilakukan di Sumenep pada tanggal 16-18 Desember 2011. Dengan

objek penelitian yaitu lima puluh orang responden yang terbagi menjadi dua puluh

lima responden adalah asli penduduk Sumenep dan dua puluh lima responden

lainnya adalah penduduk luar Sumenep. Untuk memperoleh data yang lebih

mendalam, peneliti juga melakukan wawancara kepada key informan. Tipe

penelitian yang digunakan adalah kuantitatif-kualitatif dengan metode penelitian

deskriptif. Tipe kuantitatif dipilih karena peneliti ingin mendapatkan data

mengenai tingkat pengetahuan masyarakat terhadap tarian khas dari wilayah

Sumenep. Sedangkan tipe penelitian kualitatif dipilih untuk menganalisis dan

menjabarkan data yang diperoleh dari penelitian kuantitatif yang telah dilakukan.


       Letak Kabupaten Sumenep yang berada diujung Timur Pulau Madura

merupakan wilayah yang unik. Sebab, kabupaten ini tidak hanya terdiri dari

wilayah daratan tetapi juga terdiri dari kepulauan yang tersebar berjumlah 126

pulau (sesuai dengan hasil sinkronisasi luas Kabupaten Sumenep Tahun 2002).

Gugusan pulau yang terletak di Sumenep dari paling utara yaitu Pulau Karamian

yang terletak di Kecamatan Masalembu dengan jarak ±151 Mil laut dari

Pelabuhan Kalianget, dan pulau yang paling Timur adalah Pulau Sakala dengan

jarak ±165 Mil laut dari Pelabuhan Kalianget.


       Kabupaten Sumenep yang letaknya diantara 113°32'54"-116°16'48" Bujur

Timur dan diantara 4°55'-7°24' Lintang Selatan memiliki luas daerah sebesar


                                                                                20
2.093.457573 Km2, terdiri dari luas daratan sebesar 1.146,927065 Km2 (54,79%)

dan luas kepulauan sebesar 946.530508 Km2        (45,21%), serta luas wilayah

perairan Kabupaten Sumenep sebesar ± 50.000 Km2.


       Wilayah Kabupaten Sumenep terbagi menjadi 27 kecamatan. Dimana

kecamatan tersebut terbagi menjadi 18 kecamatan daratan dan 9 kecamatan

kepulauan. Dari 27 kecamatan tersebut, wilayah Kabupaten Sumenep terbagi lagi

menjadi 4 kelurahan dan 328 desa yang masih terbagi lagi menjadi 242 desa di

Daratan dan 86 Desa di Kepulauan, serta sebanyak 1.774 Rukun Warga (RW) dan

5.569 Rukun Tetangga(RT).


       Berdasarkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep, hasil pencacahan

Sensus Penduduk 2010 menyebutkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten

Sumenep sementara adalah 1.041.915 orang, yang terdiri atas 495.099 laki‐laki

dan 546.816 perempuan. Dari hasil SP2010 tersebut masih tampak bahwa

penyebaran penduduk Kabupaten Sumenep masih bertumpu di Kecamatan Kota

Sumenep yakni sebesar 6,75 persen, kemudian diikuti oleh Kecamatan Pragaan

sebesar 5,90 persen, Kecamatan Arjasa sebesar 5,73 persen, Kecamatan Lenteng

sebesar 5,43 persen dan kecamatan ‐ kecamatan lainnya di bawah 1,96 persen.


       Kecamatan Kota Sumenep, Kecamatan Pragaan, Kecamatan Arjasa dan

Kecamatan Lenteng adalah 4 kecamatan dengan urutan teratas yang memiliki

jumlah penduduk terbanyak yang masing‐masing berjumlah 70.794 orang, 65.031

orang, 59.701 orang dan 56.604 orang. Sedangkan kecamatan Batuan merupakan

kecamatan yang paling sedikit penduduknya, yakni sebanyak 12.084 orang.




                                                                              21
           Dengan luas wilayah Kabupaten Sumenep sekitar 2.093,47 kilo meter

persegi yang didiami oleh 1.041.915 orang maka rata‐rata tingkat kepadatan

penduduk Kabupaten Sumenep adalah sebanyak 498 orang per kilo meter persegi.

Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kecamatan

Kota Sumenep yakni sebanyak 2.543 orang per kilo meter persegi sedangkan yang

paling rendah adalah Kecamatan Batuan yakni sebanyak 446 orang per kilo meter

persegi.




                            (Peta Kabupaten Sumenep)




                                                                          22
         Sumenep yang awalnya merupakan sebuah kerajaan memiliki cerita

sejarah dan budaya yang unik jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain

di Madura. Pada jaman dahulu Sumenep diperintah oleh seorang Raja. Ada 35

Raja yang telah memimpin kerajaan Sumenep. Namun saat ini pemerintahan

Sumenep sudah berganti dan dipimpin oleh seorang Bupati. Dimana hingga saat

ini, sudah ada 14 Bupati yang pernah memerintah Kabupaten Sumenep.


         Sumenep yang merupakan bekas dari kerajaan, membuat Sumenep

menjadi salah satu wilayah yang memiliki daya tarik tersendiri. Sebab, tiap

kerajaan pasti memiliki peninggalan budaya yang berbeda dari satu kerajaan

dengan kerajaan lainnya. Oleh karena itu perlu adanya pengembangan budaya

untuk menjaga kelestarian dari budaya itu sendiri agar tidak terkikis ataupun

punah.


         Salah satu peninggalan sejarah dari kerajaan Sumenep adalah beberapa

tarian khas yang perlu di lestarikan eksistensinya dikalangan masyarakat. Dua

tarian yang paling dikenal di daerah Sumenep adalah Tari Topeng Dalang dan

Tari Muang Sangkal. Topeng Dalang awalnya berasal dari desa Proppo dari

Kabupaten Pamekasan. Kesenian ini berkembang pada masa pemerintahan Prabu

Menak Senaya abad ke- 15. Awalnya kesenian ini dipergunakan sebagai sarana

hiburan di lingkungan keraton oleh kerabat keraton sendiri untuk menghormati

tamu agung. Topeng Dalang merupakan adaptasi dari kesenian wayang kulit, hal

ini dapat dilihat dari adanya kesamaan antara tokoh – tokoh yang ada di wayang

kulit dengan Topeng Dalang, selain itu kesenian Topeng Dalang juga bercerita

mengenai legenda Ramayana dan Mahabarata.



                                                                           23
       Tari   Muang    Sangkal   diciptakan   oleh   Taufikurrachman,   seorang

koreografer Kabupaten Sumenep yang masih masih memiliki darah keraton

Sumenep, pada tahun 1962. Dengan gerakan-gerakan atas dasar gerak-gerak

Tayub Keraton Sumenep yang bertitik tolak pada gerak tari gaya Jogjakarta dan

dipadukan dengan gerak-gerak ciptaan lainnya yang tidak menyimpang dari nafas

dan ciri-ciri Keraton Sumenep.




                                                                            24
                                   BAB III


                              TEMUAN DATA


        Metode penelitian dalam meneliti eksistensi tarian khas Sumenep adalah

dengan menggabungkan dua metode sekaligus, yaitu kualitatif dan kuantitatif.

Dengan adanya penggabungan dua metode penelitian ini, maka hasil temuan data

yang kami peroleh terdiri dari dua macam, yaitu naratif deskriptif dan angka –

angka persentasi. Penelitian menggunakan total responden 50 orang yang terbagi

atas 25 orang responden asal Kabupaten Sumenep dan 25 orang responden dari

luar Kabupaten Sumenep.


   I. Temuan Data Kuantitatif


   Demografi dan psikografi


   1. Jenis kelamin responden




                    Keterangan :




                                                                           25
       Dari 25 orang responden lokal Kabupaten Sumenep yang diteliti diperoleh

data 13 orang responden yang berjenis kelamin wanita dan 12 orang responden

pria. Dan dari 25 orang responden dari luar Kabupaten Sumenep diperoleh data 13

orang responden berjenis kelamin wanita dan 12 orang responden berjenis

kelamin pria. Sehingga diperoleh total keseluruhan adalah 26 orang responden

berjenis kelamin wanita dengan persentasi 52% dan 24 orang responden berjenis

kelamin pria dengan persentasi 48%.


   2. Usia




                    Keterangan :




                                                                            26
       Dari 25 orang responden lokal Kabupaten Sumenep yang diteliti diperoleh

data 9 orang responden yang berusia antara 10 – 18 tahun, 10 orang responden

yang berusia antara 19 – 27 tahun, 3 orang responden yang berusia antara 28 – 36

tahun, 3 orang responden yang berusia antara 37 – 45 tahun, dan tidak ada

responden yang berusia diatas 45 tahun. Dan dari 25 orang responden dari luar

Kabupaten Sumenep diperoleh data 3 orang responden yang berusia antara 10 –

18 tahun, 22 orang responden yang berusia antara 19 – 27 tahun dan tidak ada

responden yang berusia diatas 45 tahun. Sehingga diperoleh data keseluruhan

sebagai berikut, 12 orang responden berusia antara 10 – 18 tahun dengan

persentasi 24%, 32 orang responden berusia antara 18 – 27 tahun dengan

persentasi 64%, 3 orang responden berusia antara 28 – 36 tahun dengan persentasi

6%, dan 3 orang responden berusia antara 37 – 45 tahun dengan persentasi 6%.

   3. Status pernikahan




                    Keterangan :




                                                                               27
       Dari 25 orang responden lokal Kabupaten Sumenep yang diteliti diperoleh

data 18 orang responden belum menikah dan 7 orang responden telah menikah.

Dan dari 25 orang responden dari luar Kabupaten Sumenep diperoleh data 50

orang responden memiliki status single atau belum menikah. Sehingga diperoleh

total keseluruhan adalah 43 orang responden berstatus single atau belum menikah

dengan persentasi 86% dan 7 orang responden berstatus telah menikah 14%.


   4. Daerah asal responden




       Terdapat 50 orang responden yang terdiri dari 25 orang responden lokal

       Kabupaten Sumenep dan 25 orang responden dari luar Kabupaten

       Sumenep.

   5. Pekerjaan




                                                                            28
                            Keterangan :




       Dari 25 orang responden lokal Kabupaten Sumenep yang diteliti diperoleh

data 11 orang responden berstatus pelajar, 6 orang responden yang berstatus

mahasiswa, 3 orang responden yang berstatus atau bekerja sebagai PNS, 4 orang

responden berstatus atau bekerja sebagai swasta dan 1 orang responden yang

memilih lainnya. Dan dari 25 orang responden luar Kabupaten Sumenep yang

diteliti diperoleh data 3 orang responden berstatus pelajar dan 22 orang responden

yang berstatus mahasiswa. Sehingga diperoleh data keseluruhan sebagai berikut,

14 orang responden berstatus sebagai pelajar dengan persentasi 28%, 28 orang

responden berusia berstatus sebagai mahasiswa dengan persentasi 56%, 3 orang

responden berstatus atau bekerja sebagai PNS dengan persentasi 6%, 4 orang

responden berstatus atau bekerja sebagai swasta dengan presentasi 8% dan 1

orang responden memilih lainnya atau sebagai ibu rumah tangga dengan

presentasi 1%.




                                                                               29
   Eksistensi tarian khas sumenep


   1. Mengetahui Tarian Khas Kabupaten Sumenep




                       Keterangan :




       Dari 50 orang responden yang berasal dari dalam (lokal) atau luar

Kabupaten Sumenep, semuanya mengetahui adanya tarian khas dari Kabupaten

Sumenep.   Apabila   dipersentasikan,   maka   100%   responden   mengetahui

keberadaan tari khas dari Kabupaten Sumenep.




                                                                          30
   2. Pengetahuan akan jenis tarian khas dari Kabupaten Sumenep




                      Keterangan :




       Dari 25 orang responden lokal Kabupaten Sumenep diperoleh data bahwa

21 orang mengetahui adanya Tari Muang Sangkal sebagai tarian khas dari

Kabupaten Sumenep, 2 orang responden mengetahui adanya Tari Topeng Dalang

sebagai tarian khas Kabupaten Sumenep, dan 2 orang responden mengetahui

adanya jenis tarian lain atau mengetahui tarian tanpa mengetahui namanya. Dan

data yang berhasil diperoleh dari meneliti 25 orang responden yang berasal dari

luar Kabupaten Sumenep adalah 10 orang mengetahui adanya Tari Muang

Sangkal sebagai tarian khas dari Kabupaten Sumenep dan 15 orang yang lain

menyatakan hanya mengetahui tanpa mengetahui namanya. Sehingga apabila


                                                                            31
diakumulasikan, diperoleh sebanyak 62% responden yang mengetahui adanya

Tari Muang Sangkal sebagai tarian khas dari Kabupaten Sumenep, 4% responden

mengetahui adanya Tari Topeng Dalang, dan sebanyak 34% responden hanya

mengethui bahwa Kabupaten Sumenep memiliki tarian khas dan mengetahui jenis

tarian lain.


    3. Lama mengetahui keberadaan tari tersebut




                          Keterangan :




        Dari 25 orang responden yang berasal dari lokal Kabupaten Sumenep

diperoleh data 2 orang mengetahui tarian khas Kabupaten Sumenep tersebut

kurang dari satu tahun belakangan, 9 orang telah mengetahui tarian tersebut sejak

1 – 5 tahun belakangan, dan 14 orang menyatakan telah mengetahui tarian khas

dari Kabupaten Sumenep tersebut lebih dari 5 tahun belakangan. Dan dari 25



                                                                              32
orang responden yang berasal dari luar Kabupaten Sumenep diperoleh data bahwa

22 orang responden baru mengetahui tarian khas dari Kabupaten Sumenep kurang

dari setahun belakangan dan hanya 3 orang responden telah mengetahui tarian

khas tersebut antara 1 – 5 tahun belakangan. Sehingga diperoleh persentasi total

sebagai berikut, 48% responden baru mengetahui tarian khas Kabupaten Sumenep

kurang dari setahun belakangan, 24% responden mengatahui antara 1 – 5 tahun

belakangan, dan 28% responden mengetahui adanya tarian khas tersebut sejak

lebih dari 5 tahun belakangan.


   4. Asal informasi tentang tarian khas dari Kabupaten Sumenep




                         Keterangan :




                                                                             33
       Dari 25 orang responden yang berasal dari lokal Kabupaten Sumenep

diperoleh data 18 orang mengetahui tarian khas Kabupaten Sumenep tersebut dari

saudara atau teman mereka, 2 orang mengetahui tarian khas tersebut dari Dinas

Kebudayaan dan Pariwisata, dan 5 orang mengetahui informasi mengenai tarian

tersebut dari sumber selain dari yang kami sebutkan. Dan dari 25 orang responden

yang berasal dari luar Kabupaten Sumenep diperoleh data bahwa 7 orang

mengetahui tarian khas Kabupaten Sumenep tersebut dari saudara atau teman

mereka, 7 orang mengetahui informasi mengenai tarian dari internet, dan 11

orang mengetahui informasi mengenai tarian tersebut dari sumber selain dari yang

kami sebutkan. Sehingga diperoleh persentasi total sebagai berikut, 50%

responden mengetahui tarian khas Kabupaten Sumenep tersebut dari saudara atau

teman mereka, 4% responden mengetahui tarian khas tersebut dari Dinas

Kebudayaan dan Pariwisata, 14% responden mengetahui informasi mengenai

tarian dari internet dan 32% responden mengetahui informasi mengenai tarian

tersebut dari sumber selain dari yang kami sebutkan.


   5. Keberadaan tarian tersebut saat ini




                                                                             34
Keterangan :




       Dari 25 orang responden yang berasal dari lokal Kabupaten Sumenep

diperoleh data 21 orang menilai tarian khas dari Kabupaten Sumenep yang

mereka ketahui baik, 4 orang menyatakan cukup, dan tidak ada yang menyatakan

kurang baik atau bahkan buruk. Dan dari 25 orang responden yang berasal dari

luar Kabupaten Sumenep diperoleh data bahwa 22 orang menilai tarian khas dari

Kabupaten Sumenep yang mereka ketahui baik, 3 orang orang menyatakan cukup,

dan tidak ada yang menyatakan kurang baik atau bahkan buruk. Sehingga

diperoleh persentasi total sebagai berikut, 86% responden menilai tarian khas dari

Kabupaten Sumenep yang mereka ketahui baik, 14% responden mengetahui tarian

khas tersebut dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 14% responden menyatakan

cukup dan 0% responden yang menyatakan kurang baik atau bahkan buruk.


   6. Keterlibatan responden




                                                                               35
                                 Keterangan :




        Dari 25 orang responden lokal Kabupaten Sumenep diperoleh diketahui

terdapat 9 orang yang pernah terlibat dalam pelestarian tari khas dari Kabupaten

Sumenep dan 16 orang menyatakan belum pernah terlibat dalam usaha pelestarian

tari tersebut. dan dari 25 orang responden yang berasal dari luar Kabupaten

Sumenep menyatakan belum pernah terlibat dalam usaha pelestarian kebudayaan

tari khas dari Kabupaten Sumenep tersebut. sehingga dapat diperoleh persentasi

total sebagai berikut, terdapat 18% responden pernah terlibat dalam usaha

pelestarian tari dan 82% responden belum pernah terlibat dalam usaha pelestarian

tarian tersebut.




                                                                             36
7. Bentuk pelestarian tari




                  Keterangan :




                                 37
        Dari total 9 orang yang pernah mengikuti kegiatan pelestarian kebudayaan

tari khas dari Kabupaten Sumenep (data ada di diagram nomor 2.6), terdapat 2%

responden yang mewakili seorang penari tarian khas dari Kabupaten Sumenep,

8% responden yang mewakili 4 orang pernah mencoba mempelajari tarian khas

dari Kabupaten Sumenep, 4% responden yang mewakili 2 orang yang pernah

menjadi panitia dalam acara kebudayaan tari Sumenep, dan 4% responden yang

mewakili 2 orang yang pernah melakukan promosi tarian khas dari Kabupaten

Sumenep, baik besar atau kecil (kepada orang sekitar).


Crosstab

1. Crosstab Asal Responden dengan Jenis Tarian yang diketahui

                                     Tabel 1.1

                          Tarian Yang Diketahui
                                                                Total
                          Muang        Topeng
                                                    Lainnya
                          Sangkal      Dalang

            Luar
                          30%          0%           20%         50%
            Sumenep
Asal
            Sumenep       42%          4%           4%          50%

Total                     72%          4%           24%         100%




                                                                             38
       Dari tabel dan grafik diatas diketahui bahwa dimana asal dari suatu

responden menentukan tingkat pengetahuan mereka terhadap tarian yang mereka

ketahui. Dalam penelitian tentang Tarian Muang Sangkal dan Tarian Topeng

Dalang, Madura, sebanyak 42% responden yang berasal dari Sumenep lebih

mengetahui Tarian Muang Sangkal dari pada Tarian Topeng Dalang ( 4% ).

Begitu pula pada masyarakat yang tinggal diluar Kabupaten Sumenep. Menurut

data diatas, dapat diketahui bahwa masyarakat luar lebih mengetahui Tarian

Muang Sangkal (30%) dari pada Tarian Topeng Dalang (0%), dari hasil perolehan

data tersebut diketahui juga bahwa masyarat lebih mengenal tarian lain dari pada

Tarian Topeng Dalang yang berada di Sumenep.




                                                                             39
2. Crosstab Asal Responden dengan Darimana memperoleh Informasi

mengenai Tarian Khas Sumenep


                                 Tabel 1.2


                    Darimana Mengetahuinya
                                                                       Total
                                     Dinas
                    Teman/saudara                 internet   Lainnya
                                     kebudayaan

        Luar
                    14%              0%           14%        22%       50%
        Sumenep
Asal
        Sumenep     36%              4%           0%         10%       50%

Total               50%              4%           14%        32%       100%




        Menurut data tabel dan grafik diatas diketahui bahwa sebanyak 36%

responden yang berasal dari wilayah Sumenep mengaku bahwa mereka

mengetahui tentang tarian khas Sumenep dari teman/ Saudara mereka. Sedangkan

sebagian lagi mengaku mengetahui tentang tarian khas tersebut dari dinas



                                                                             40
kebudayaan (4%) dan sumber lain (10%). Pada masyarakat diluar Kabupaten

Sumenep (Luar Sumenep), mereka mengaku bahwa mengetahui tarian khas

Sumenep melalui teman/saudara (14%) dan juga dari internet (14%), serta

beberapa responden juga mengatakan bahwa mereka mengetahui tarian khas

Sumenep melalui sumber lainnya (22%).


3. Crosstab Asal Responden dengan Keberadaan Tarian


                                   Tabel 1.3

                                   KeberadaanTarian
                                                                  Total
                                   Baik           Cukup

               Luar Sumenep        42%            8%              50%
Asal
               Sumenep             42%            8%              50%

Total                              84%            16%             100%




        Dari tabel dan grafik diatas diketahui bahwa menurut responden baik itu

diluar Sumenep dan Sumenep, mereka menganggap bahwa keberadaan tarian ini

sudah baik (42%) dan sebagian reponden lagi mengatakan bahwa keberadaan




                                                                            41
Tariang Muang Sangkal dan Tari Topeng Dalang sudah cukup bagus dalam

melestarikan budaya Sumenep (8%).


4. Crosstab Asal Responden dengan Keterlibatannya dengan Tarian Khas

Sumenep


                                  Tabel 1.4


                                    Terlibat Tarian
                                                                 Total
                                    YA                Tidak

               Luar Sumenep         0%                50%        50%
Asal
               Sumenep              18%               32%        50%

Total                               18%               82%        100%




        Ketika ditanya apakah keterlibatan dalam pelestarian Budaya Sumenep,

khususnya yang berkaitan dengan tarian khas dari Sumenep, diketahui bahwa

50% dari mereka yang bukan penduduk Sumenep mengakui bahwa mereka tidak

pernah ikut serta dalam pelestarian budaya ini. Sedangkan pada masyarakat yang

berasal dari Sumenep mereka mengaku bahwa mereka juga turut serta



                                                                           42
melestarikan Kesenian Tari di Sumenep (18%) dan sisanya (32%) mengaku tidak

pernah ikut serta dalam melestarikan Budaya Tari ini.


5. Crosstab Asal Responden dengan Jenis Partisipasi


                                     Tabel 1.5


                     Jenis Partisipasi

                     tidak    Pernah     pernah
                                                        menjadi   mempromosikan
                     sama     menjadi    mencoba
                                                        panitia   tarian tsb
                     sekali   penari     menarikan

        Luar
                     50%      0%         0%             0%        0%
        Sumenep
Asal
        Sumenep      30%      2%         10%            4%        4%

Total                80%      2%         10%            4%        4%




        Dari tabel dan grafik diatas dapat dilihat bahwa masyarakat Sumenep

melakukan pelestarian kesenian Tari dalam bentuk partisipasinya yaitu : pernah




                                                                              43
menarikan 10%, mencoba menjadi panitian di sebuah kegiatan yang menampilkan

tarian khas Sumenep 4% dan 2% pernah menjadi penari.




                                                                        44
                                     BAB IV


                                PEMBAHASAN




4.1    Pengetahuan    Warga     Sumenep      dan   Luar       Sumenep    Terhadap

Kebudayaan Tari Khas Sumenep


        Dari 50 orang responden yang berasal dari dalam ( lokal ) atau luar

Kabupaten Sumenep, semuanya mengetahui adanya tarian khas dari Kabupaten

Sumenep.




Crosstab Asal Responden dengan Jenis Tarian yang diketahui


                          Tarian Yang Diketahui

                                                                 Total
                          Muang        Topeng
                                                    Lainnya
                          Sangkal      Dalang


Asal        Luar          30%          0%           20%          50%




                                                                               45
            Sumenep


            Sumenep      42%           4%        4%            50%


Total                    72%           4%        24%           100%




        Dari 25 orang responden lokal Kabupaten Sumenep diperoleh data bahwa

21 orang mengetahui adanya Tari Muang Sangkal sebagai tarian khas dari

Kabupaten Sumenep, 2 orang responden mengetahui adanya Tari Topeng Dalang

sebagai tarian khas Kabupaten Sumenep, dan 2 orang responden mengetahui

adanya jenis tarian lain atau mengetahui tarian tanpa mengetahui namanya. Dan

data yang berhasil diperoleh dari meneliti 25 orang responden yang berasal dari

luar Kabupaten Sumenep adalah 10 orang mengetahui adanya Tari Muang

Sangkal sebagai tarian khas dari Kabupaten Sumenep dan 15 orang yang lain

menyatakan hanya mengetahui tanpa mengetahui namanya.


        Faktor “ usia “ dari tarian Topeng Dalang yang sudah mencapai enam

keturunan dan semakin jarangnya pelaku dari tari Topeng Dalang ini sendiri,

merupakan salah satu faktor mengapa tarian ini tidak dikenal oleh masyarakat.

Dibuktikan dengan hanya dua responden dari Sumenep yang mengetahui adanya

tarian ini, sementara itu di luar daerah Sumenep, tidak ada yang tahu bahwa di

Sumenep terdapat tari Topeng Dalang.


        “ . . . kami mempelajarinya secara turun-temurun. Saya sudah generasi

ke-6 “ Suki, generasi penerus Tari Topeng Dalang di Sumenep.




                                                                            46
Sedangkan Tari Muang Sangkal, yang merupakan sebuah tarian sakral, terhitung

baru saja diciptakan, yaitu pada tahun 1962. Sehingga masih ada nilai kebaruan

dari tari tersebut, yang menyebabkan tarian tersebut masih banyak diminati oleh

masyarakat.


       Selain itu, fakta dilapangan bahwa tidak sedikit dari responden yang hanya

mengetahui bahwa di Sumenep memiliki tarian khas tanpa mengetahui namanya

membuktikan bahwa masyarakat sendiri kurang perduli terhadap bentuk

kebudayaan, khususnya tarian khas Sumenep.


       “ badha tape ta’ taoh apa, tape sengko’ ta’taoh nyongngo’, sambina

arapa’ah mbak nyongngo’ tarian enga’ jereya, la ta’ jaman pole” ( ada, tapi tidak

tahu namanya apa, tidak pernah lihat juga, sudah tidak jaman lihat tarian seperti

itu ) ujar salah seoarang responden berusia remaja yang ditemui disekitar alun –

alun Sumenep.


       Hal ini membuktikan bahwa remaja, khususnya didaerah Sumenep, kurang

berperan aktif dalam memajukan dan mengembangkan budaya daerah. Mereka

cenderung tidak mau tau dan mengganggap bahwa kebudayaan daerah merupakan

suatu hal yang kuno dan tidak perlu dilestarikan. Selain itu, kurangnya rasa cinta

terhadap kebudayaan daerah menjadi faktor penentu lainnya.


       Selain hal yang telah disebutkan diatas, beban hidup dari masyarakat yang

semakin sulit menyebabkan mereka cenderung tidak perduli dengan adanya tarian

khas dari daerah Sumenep. Hal ini diungkapkan oleh salah satu responden yang

berhasil kami temui ketika berada dilapangan.




                                                                               47
                 Crosstab Asal Responden dengan asal informasi


                                 Darimana Mengetahuinya


                                         Dinas                             Total
                     Teman/saudara                  internet     Lainnya
                                      kebudayaan


          Luar
                          14%             0%          14%         22%      50%
Asal    Sumenep


        Sumenep           36%             4%          0%          10%      50%


       Total              50%             4%          14%         32%      100%




       Menurut data dari tabel diatas diketahui bahwa sebanyak 36% responden

yang berasal dari wilayah Sumenep mengaku bahwa mereka mengetahui tentang

tarian khas Sumenep dari teman / saudara mereka. Sedangkan sebagian lagi

mengaku mengetahui tentang tarian khas tersebut dari dinas kebudayaan (4%) dan

sumber lain (10%). Pada masyarakat diluar Kabupaten Sumenep ( luar Sumenep ),

mereka mengaku bahwa mengetahui tarian khas Sumenep melalui teman/saudara



                                                                              48
(14%) dan juga dari internet (14%), serta beberapa responden juga mengatakan

bahwa mereka mengetahui tarian khas Sumenep melalui sumber lainnya (22%).


        Kurangnya sosialisasi dari pemerintah sendiri menyebabkan kurang

dikenalnya tari – tarian ini di kalangan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan 25

responden dari Sumenep yang berhasil kami temui, hanya dua responden yang

mengaku mendapat informasi tarian ini dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.




4.2    Partisipasi    Masyarakat    dan    Pemerintah   (    Sumenep   )    dalam

Mengembangkan Tari Khas Sumenep


                Tabel Crosstab Asal Responden dengan partisipasi


                                            Terlibat Tarian
                                                                       Total
                                           YA           Tidak


                     Luar Sumenep          0%               50%            50%
      Asal
                       Sumenep             18%              32%            50%


               Total                       18%              82%        100%




                                 Jenis Partisipasi


                      tidak   Pernah      pernah     menjadi mempromosikan

                      sama    menjadi     mencoba    panitia       tarian tsb




                                                                                 49
                  sekali   penari    menarikan



          Luar
                   50%      0%          0%          0%             0%
Asal Sumenep

        Sumenep    30%      2%          10%         4%             4%


       Total       80%      2%          10%         4%             4%




        Diketahui bahwa 50% dari mereka yang bukan penduduk Sumenep

mengakui bahwa mereka tidak pernah ikut serta dalam pelestarian budaya ini.

Sedangkan pada masyarakat yang berasal dari Sumenep mereka mengaku bahwa

mereka juga turut serta melestarikan Kesenian Tari di Sumenep (18%) dan

sisanya (32%) mengaku tidak pernah ikut serta dalam melestarikan Budaya Tari

ini.


        Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa masyarakat Sumenep melakukan

pelestarian kesenian Tari dalam bentuk partisipasinya yaitu : pernah menarikan

10%, mencoba menjadi panitian di sebuah kegiatan yang menampilkan tarian

khas Sumenep 4% dan 2% pernah menjadi penari.


        Berdasarkan data yang diperoleh, dengan dibuktikannya 30% masyarakat

Sumenep yang tidak pernah berpartisipasi dalam pengembangan atau pelestarian

dari tarian khas Sumenep, menggambarkan bahwa masyarakat Sumenep kurang

berperan aktif dalam usaha pelestraian dan pengembangan tari khas yang berasal

dari Sumenep.



                                                                           50
       Sementara    itu,   pemerintah   sendiri   dirasa   kurang   aktif   dalam

menyampaikan informasi mengenai tarian ini, sehingga hanya 4% responden dari

daerah Sumenep yang mengetahui informasi mengenai tarian ini dari Dinas

Kebudayaan dan Pariwisata. Sedangkan tidak ada responden yang berasal dari

luar Sumenep yang mendapatkan informasi mengenai Tarian Khas Sumenep dari

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumenep.




4.3 Hambatan yang dialami dalam Mengembangkan Tari Khas Sumenep

Sebagai Objek Wisata Budaya


       Dalam proses pengembangan dan pelestarian tari khas Sumenep ini ada

beberapa hambatan yang ditemui. Salah satunya adalah kurangnya partisipasi

masyarakat, khususnya masyarakat Sumenep untuk berperan aktif dalam

melestarikan tarian ini. Sekitar 30% dari responden yang berasal dari masyarakat

Sumenep, tidak pernah sama sekali berpartisipasi dengan kegiatan yang

berhubungan dengan tarian khas Sumenep.


       Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana untuk menunjang pelestarian

dan pengembangan tarian ini juga menjadi faktor lain mengapa tarian khas dari

Sumenep kurang berkembang.


       “ Kendala utama yang dihadapi adalah masalah pembiayaan. Sampai saat

ini, kami belum punya sanggar untuk tempat berlatih. Biasanya kamu berlatih di

halaman rumah saya, itupun beralaskan tanah. Kemudian juga masalah

perlengkapan, saat ini perlengkapan yang kami punya sudah rusak. Kami sudah

berusaha untuk memperbaiki, tapi ya namanya barang sudah lama, meskipun


                                                                               51
sudah diperbaiki ya sebentar juga sudah rusak lagi “ ( Wawancara dengan Suki,

17 Desember 2011, Dasuk ).


       Tidak adanya sanggar tari, menyebabkan kurang maksimalnya latihan

yang dilakukan. Hal ini dikarenakan adanya kendala hujan yang menyebabkan

tanah lapangan dimana penari Tari Topeng Dalang biasanya berlatih menjadi

becek, yang mengakibatkan tertundanya proses latihan.


       Selain itu, masalah biaya masih menjadi kendala utama dalam pelestarian

dan pengembangan tari khas Sumenep. “ Biayanya ya dari hasil pementasan,

bayaran dari pementasan biasanya saya potong untuk biaya operasional, baik

untuk membeli perlengkapan untuk pementasan atau untuk memperbaiki

perlengkapan yang sudah rusak. Selebihnya ya saya bagikan untuk pemain “ (

Suki, 17 Desember 2011, Dasuk ). Hasil dari pementasanlah yang menjadi satu-

satunya sumber penghasilan yang mereka gunakan untuk biaya operasional,

padahal saat ini sudah jarang masyarakat yang mengundang mereka. Sehingga

menyebabkan dana pengembanganpun semakin berkurang dan minim.


       Selain kendala sarana prasarana dan biaya, letak dari rumah Bapak Suki,

yang biasanya digunakan sebagai “ kantor “ dari para penari Topeng Dalang, juga

sangat sulit ditemukan dengan medan yang sulit dijangkau. Sehingga orang yang

ingin mengundang para penari Topeng Dalang ini, menjadi kesulitan dan pada

akhirnya menimbulkan keengganan.


       Oleh   karena    itu,   perlu   dilakukannya     sebuah   inovasi   untuk

mengembangkan dan melestarikan tarian khas Sumenep ini. Inovasi – inovasi

tersebut diimbangi dengan pemilihan saluran komunikasi baru yang belum pernah


                                                                              52
ada sebelumnya yang dapat digunakan sebagai alat, untuk mengembangkan

sekaligus mempromosikan tarian – tarian ini di kalangan publik.


   Beberapa inovasi yang dapat disarankan dalam proses promosi dan

pengembangan tari khas Sumenep :


   -   Mengadakan tur perjalanan keliling daerah wisata Sumenep, salah satunya

       adalah mengunjungi sanggar tari yang mengajarkan tarian khas Sumenep.


   -   Mengadakan event khusus yang menampilkan tarian khas Sumenep dan

       kebudayaan Sumenep lainnya.


   -   Mengadakan kursus kilat mengenai tarian khas Sumenep yang diajarkan di

       sanggar-sanggar tari yang telah ditunjuk bagi wisatawan yang berminat

       mempelajari tarian khas Sumenep.


   -   Mengajarkan tarian khas Sumenep dibeberapa sekolah sebagai salah satu

       pelajaran muatan lokal.


   -   Menambah informasi dan sosialisasi mengenai budaya Sumenep

       khususnya mengenai tarian khas Sumenep.


   -   Memperbaiki sarana dan prasarana yang dapat menunjang pengembangan

       dari kebudayaan Sumenep, khususnya tari khas Sumenep.




                                                                           53
                                      BAB V


                          KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 KESIMPULAN


Dari penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti dapat menarik beberapa

kesimpulan :


   -   Masih sedikitnya masyarakat baik di daerah Sumenep maupun luar

       Sumenep yang mengetahui nama tarian khas Sumenep meskipun

       sebenarnya mereka tahu bahwa Sumenep juga memiliki tarian khas.

   -   Beberapa alasan yang menyebabkan tarian khas Sumenep hampir punah

       dan tidak dapat berkembang dikalangan masyarakat :


            o Sarana dan prasarana yang kurang memadai

            o Kurang perdulinya masyarakat, khususnya kaum remaja, terhadap

                warisan budaya Sumenep

            o Kurangnya informasi dan sosialisasi mengenai tarian khas

                Sumenep dari pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata




5.2 SARAN


    5.2.1 Saran Untuk Penelitian Selanjutnya


        -      Memperbanyak jumlah responden agar lebih dapat mewakili

               keadaan yang sebenarnya dari daerah yang diteliti.



                                                                         54
    -   Membandingkan dengan tarian di daerah lain yang lebih

        berkembang agar lebih terlihat bagaimana perbedaan dan dapat

        diketahui secara jelas mengapa sebuah tarian tidak dapat

        berkembang.


5.2.2 Saran Untuk Pengembangan Tari Khas Sumenep


     Beberapa saran yang diberikan peneliti untuk pengembangan Tari Khas

Sumenep sebagai Objek Wisata Budaya :


- Mengadakan tur perjalanan keliling daerah wisata Sumenep, salah satunya

  adalah mengunjungi sanggar tari yang mengajarkan tarian khas Sumenep.

- Mengadakan event khusus yang menampilkan tarian khas Sumenep dan

  kebudayaan Sumenep lainnya.

- Mengadakan kursus kilat mengenai tarian khas Sumenep yang diajarkan di

  sanggar-sanggar tari yang telah ditunjuk bagi wisatawan yang berminat

  mempelajari tarian khas Sumenep.

- Mengajarkan tarian khas Sumenep dibeberapa sekolah sebagai salah satu

  pelajaran muatan lokal.

- Menambah informasi dan sosialisasi mengenai budaya Sumenep

  khususnya mengenai tarian khas Sumenep.

- Memperbaiki sarana dan prasarana yang dapat menunjang pengembangan

  dari kebudayaan Sumenep, khususnya tari khas Sumenep.




                                                                      55
KOMUNIKASI PEMBANGUNAN DAN MODERNITAS
   “ Peran komunikasi dalam mengembangkan pariwisata
      Sumenep melalui inovasi tarian khas Sumenep”




                             Oleh
                       Kelompok 6
          1. Aisyah Juwita          ( 070915043 )
          2. Suci Ramadhania        ( 070915078 )
          3. Kartika Chandra H.     ( 070915080 )
          4. Putri Tunjung Sari     ( 070915087 )




          DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
      FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
              UNIVERSITAS AIRLANGGA
                             2012




                                                       56

								
To top