Surat Perjanjian Dengan Managemen
Description
Surat Perjanjian Dengan Managemen document sample
Document Sample


GONJANG GANJING TENTANG PEKERJA KONTRAK/PKWT
dan OUTSOURCING
Oleh:
H. Hasanuddin Rachman
Menjelang dan sesudah peringatan May Day atau Hari Buruh, 1 Mei 2008, mencuat
berita di masmedia cetak maupun elektronik tentang tuntutan para pekerja/buruh yang
disuarakan melalui pimpinan SP/SB :Hapuskan Kerja Kontrak ! Stop/Hentikan
Outsourcing !
“May Day, Pemerintah Diminta Peka terhadap Masalah Buruh, Tuntutan tidak perlu
banyak, tetapi yang satu ini yang harus diperjuangkan untuk dicabut, terutama terkait
sistem outsourcing” Wakil Ketua Komisi III DPR;
“Sistem kontrak kerja atau outsourcing akan dihapus karena banyak merugikan buruh”,
Erman Soeparno Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. (Suara Karya, Jumat 2 Mei
2008).
“Tuntutan penghapusan system kerja kontrak dan outsourcing serta perbaikan upah
minimum menjadi agenda utama perayaan Hari Buruh Seduna diberbagai daerah ditanah
air” (Investor Daily, Jumat 2 Mei 2008).
‘Ribuan demonstrans melakukan long march dari Bundaran Hotel Indonesia ke Istana
Negara di kawasan Jln. M.H. Thamrin, Jakarta, kemarin, untuk memperingati Hari Buruh
Sedunia yang jatuh pada 1 Mei. Pada peringatan yang biasa disebut May Day itu para
buruh tersebut menuntut penghapusan sistem outsourcing” (Koran Tempo, Jumat 2 Mei
2008)
Berita-berita tersebut menunjukkan banyak kalangan tidak atau kurang memahami
permasalahan kontrak kerja dan ousourcing. Bahkan dalam box berita surat kabar
tersebut ada kutipan pernyataan Erman Suparno Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
“Sistem kontrak kerja atau outsourcing akan dihapus karena banyak merugikan pekerja
atau buruh”. Apakah benar Menakertrans berkata seperti itu ? Perlu klarifikasi
nampaknya. Bila benar sungguh memprihatinkan. Tulisan berikut ini mudah-mudahan
dapat menjelaskan permasalahan diseputar system kerja kontrak dan outsourcing
SISTEM OUTSOURCING DAN LATAR BELAKANG
OUTSOURCING
1. Timbulnya permasalahan pada praktek outsourcing, sementara belum tersedia
perundang-undangan bidang ketenagakerjaan yang mengatur tentang hal tersebut.
2. KUH Perdata pasal 1601 b mengatur adanya pengakuan tentang perjanjian
pemborongan pekerjaan.
1
3. UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan tidak menyebut istilah
outsourcing namun dalam beberapa pasal (Pasal 64-66) mengatur tentang
pemborongan pekerjaan dan penggunaan pekerja/buruh melalui perusahaan jasa
penyedia pekerja/buruh yang akhirnya dikenal dengan sebutan outsourcing
dengan maksud :
• sebagai landasan hukum menyikapi praktek outsourcing;
• sebagai acuan menyelesaikan permasalahan yang timbul dilingkup
outsourcing.
Landasan Filosofis & Pertimbangan Pelibatan Perusahaan Lain
Pertimbangan mengurangi beban;
Pertimbangan meminimalkan / mengalihkan resiko;
Pertimbangan efisiensi (bukan dalam arti production cost);
Pertimbangan fluktuasi pekerjaan
PELAKSANAAN OUTSOURCING -TIMBULNYA OUTSOURCING :
1. Untuk efisiensi, Charles t. Fote mengatakan “kiat berhemat adalah jangan
mengerjakan semua sendiri”.
2. Mengurangi panjang dan kompleksnya rentang kendali manajemen usaha.
3. Political will : pemerataan kesempatan berusaha terutama bagi usaha kecil dan
menengah.
4. Ada jenis pekerjaan spesifik memerlukan penanganan khusus oleh keahlian
tertentu.
5. Bentuk hubungan dagang baru dengan sistim order.
6. Untuk menekan labor cost.
CIKAL BAKAL OUTSOURCING DI INDONESIA
1. Pengelolaan sumber daya MIGAS didasarkan pada Pasal 33 (2) & (3) UUD 1945:.
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara;
Bumi & air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh
negara & digunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat.
2. Dalam rangka pelaksanaannya telah diundangkan UU No. 40/Prp tahun 1960
tentang Pertambangan MIGAS yang memuat ketentuan:
a. Pertambangan & kekayaan alam yang terkandung dalam bumi (MIGAS)
hanya diusahakan oleh negara dan dalam hal ini oleh perusahaan negara
semata-mata;
2
b. Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor untuk perusahaan
negara tersebut apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan yang
belum dapat atau tidak dapat dikerjakan sendiri.
3. Selanjutnya ketentuan tersebut diatas dituangkan dalam UU No. 8/1971 tentang
Perusahaan Pertambangan Minyak & Gas Bumi Negara (PERTAMINA);
4. Sifat usaha pencarian MIGAS adalah:
a. Padat modal; diperlukan modal yang sangat besar untuk mencari &
memproduksi MIGAS;
b. Resiko tinggi; resiko kegagalan yang sangat tinggi dalam pencarian
MIGAS berbanding terbalik dengan biaya yang dibutuhkan;
c. Berteknologi tinggi
5. Sadar akan terbatasnya dana, teknologi dan sumber daya yang dimiliki, sejalan
dengan Pasal 12 UU PERTAMINA dalam rangka mengembangkan kegiatan
sektor hulu, PERTAMINA mengadakan kontrak kerjasama dengan para
pengusaha minyak asing dalam bentuk Kontraktor Production Sharing (KPS).
6. Sistem KPS ini terus berkembang dengan mengakomodasikan tidak saja
kepentingan investor tetapi juga kepentingan nasional, terutama pembagian
keuntungan yang lebih layak & peningkatan kadar peran nasional dalam
pengadaan material, jasa & tenaga kerja.
7. Saat ini sistem KPS diterapkan oleh banyak negara produsen minyak lain.
TREND OUTSOURCING
1. Merupakan kebutuhan dari kondisi saat ini, contohnya adalah untuk penghasil
consumer goods yang memberikan semua bagian non-corenya kepada pihak lain:
2. Bukanlah hal baru yang dipraktekkan tetapi merupakan praktek yang sudah
dilakukan beberapa perusahaan yang berhasil dalam effisiensi yang juga dicirikan
dengan minimnya masalah-masalah perburuhan;
3. Outsourcing murni akan memberikan nilai tambah dari lepasnya masalah
hubungan industrial, remunerasi, benefits dan hal-hal lain yang sifatnya melekat
pada pekerja karena produk jasalah yang diambil dari sifat kerjanya;
4. Perubahan dari kondisi sekarang menuju outsourcing merupakan langkah
effisiensi yang sangat strategis untuk kelancaran usaha yang ada pada saat ini;
TUJUAN PROGRAM OUTSOURCING:
1. Melaksanakan anjuran Pemerintah dalam mengembangkan kemitraan agar
perusahaan tidak menguasai kegiatan industri dari hulu ke hilir;
2. Meningkatkan pemerataan kesejahteraan masyarakat terutama di daerah sub-
urban;
3. Mendorong terjadinya proses pendidikan & alih teknologi dalam bidang industri
& managemen pengelolaan pabrik;
4. Mengurangi kegiatan pemusatan industri di perkotaan yang dapat menimbulkan
gangguan kerawanan sosial, keamanan & konflik perburuhan.
MANFAAT OUTSOURCING:
3
BAGI PEMERINTAH:
1. Mengembangkan & mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan
pertumbuhan ekonomi nasional;
2. Pembinaan & pengembangan kegiatan koperasi & UKM;
3. Mengurangi beban Pemerintah kota dalam penyediaan fasilitas umum
(transportasi, listrik, air & pelaksanaan ketertiban umum).
BAGI MASYARAKAT & PEKERJA:
1. Aktivitas industri di daerah akan mendorong kegiatan ekonomi penunjang
dilingkungan masyarakat (pasar, warung, sewa rumah/kamar, transportasi dll);
2. Mengembangkan infrastruktur sosial masyarakat, budaya kerja, disiplin &
peningkatan kemampuan ekonomi;
3. Mengurangi pengangguran & mencegah terjadinya urbanisasi;
4. Meningkatkan kemampuan & budaya berusaha dilingkungan masyarakat.
BAGI INDUSTRI:
1. Mengurangi beban keterbatasan lahan untuk pengembangan perusahaan di
kawasan industri;
2. Meningkatkan fleksibilitas dalam pengembangan produk baru & penyesuaian
dengan perkembangan teknologi, sehingga perusahaan dapat berkonsentrasi untuk
mengembangkan produk baru & teknologi;
3. Produk yang sudah stabil & menggunakan teknologi lama bisa dikembangkan di
perusahaan mitra (outsourcing);
4. Meningkatkan daya saing perusahaan dengan effisiensi penggunaan fasilitas &
teknologi yang berkembang pesat.
ALASAN UNTUK OUTSOURCING:
1. Fokus pada core bisnis;
2. Perampingan organisasi;
3. Peningkatan produktivitas;
4. Pekerjaan musiman;
KAPAN OUTSOURCING DIBUTUHKAN:
1. Cara kerja yang sudah tidak efisien;
2. Operation cost yang tinggi;
3. Secara kualitas kemampuan kurang bersaing;
4. Daya kompetisi rendah.
DAMPAK HAMBATAN TERHADAP OUTSOURCING
4
1. Akan terjadi restrukturisasi kegiatan industri secara nasional yang akan
mengakibatkan keresahan dikalangan UKM;
2. UKM akan kehilangan kesempatan untuk berusaha karena semua kegiatan
industri akan dipusatkan di perusahaan induk;
3. Berkurangnya kesempatan kerja karena perusahaan harus menggunakan teknologi
tinggi untuk meningkatkan efisiensi;
4. Hambatan terhadap perkembangan ekonomi secara nasional.
PERMASALAHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL YANG BIASA DIHADAPI DI
LAPANGAN
1. Dilibatkannya Perusahaan Pemberi Pekerjaan oleh pekerja kontraktor / kontraktor
dalam perselisihan hubungan industrial mereka;
2. Ikut campurnya oknum karyawan Perusahaan Pemberi Pekerjaan dalam
penentuan pemilihan pekerja kontraktor secara langsung;
3. Terlibatnya Perusahaan Pemberi Pekerjaan (oknum karyawan) dalam penentuan
remunerasi kontraktor;
4. Proteksi kedaerahan pekerja lokal yang berlebihan;
5. Penyelesaian perselisihan hubungan industrial dicampur-adukan dengan masalah
sosial;
6. Pemaksaan penyelesaian masalah perburuhan dengan cara politis;
7. Kurangnya antisipasi kemungkinan terjadinya perselisihan;
8. Perburuhan dalam kontrak dokumen.
DEFINISI OUTSOURCING :
Berdasarkan semangat Keppres 18/2000, Pasal 6 & 2
Suatu pola pengadaan yang mengalihkan sebagian kegiatan pengadaan barang / jasa
kepada penyedia barang / jasa yang mempunyai keahlian di bidangnya yang
mencakup layanan kegiatan operasi, rencana kebutuhan barang, proses pembelian,
proses kepabeanan, pengelolaan inventori, sistem suplai & distribusi.
OUTSOURCING BERDASARKAN UU NO. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan
Perusahaan Pemborongan Pekerjaan(PPP):
Sebagian pelaksanaan pekerjaan dapat diserahkan kepada perusahaan lainnya
melalui :
1. Perjanjian pemborongan pekerjaan, atau;
2. Penyediaan jasa pekerja/buruh.
OUTSOURCING
Pekerjaan yang diserahkan (1) harus memenuhi syarat-syarat:
1. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama,
2. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan,
3. Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan, dan
5
4. Tidak menghambat produksi secara langsung,
5. Perubahan dan/atau penambahan syarat-syarat diatur lebih lanjut dengan
Keputusan Menteri.
6. Perusahaan (1) harus berbentuk badan hukum,
7. Perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja P/B sekurang-kurangnya sama dengan
P/B perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku,
8. Hubungan kerja (PKWT atau PKWTT) antara P/B dengan perusahaan
pemborongan pekerjaan diatur secara tertulis,tidak terpenuhi, maka demi hukum
hubungan kerja P/B beralih dengan perusahaan pemberi pekerjaan (PKWT atau
PKWTT).
Perusahaan Penyedia Jasa P / B
1. P/B PPJ tidak boleh digunakan untuk kegiatan pokok atau yang berhubungan
langsung dengan proses produksi;
2. Dapat digunakan untuk kegiatan jasa penunjang atau yang tidak berhubungan
langsung dengan proses produksi;
3. Merupakan bentuk usaha yang berbadan hukum dan memiliki izin dari
instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenaga-kerjaan;
4. Bila tidak terpenuhi, maka demi hukum status hubungan kerja beralih ke
perusahaan pemberi pekerjaan.
5. Perlindungan upah & kesejahteraan, syaker, dan perselisihan menjadi
tanggung jawab perusahaan penyedia jasa tenaga kerja.
6. Harus memenuhi syarat :
a. Adanya hubungan kerja antara P/B dan perusahaan penyedia jasa P/B;
b. PKWT atau PKWTT tertulis ditanda-tangani kedua belah pihak.
7. Pada pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan pokok atau penunjang
yang berhubungan langsung dengan proses produksi (core busines),
pengusaha hanya diperbolehkan mempekerjakan P/B dengan PKWT dan /
atau PKWTT;
8. Kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung
dengan proses produksi adalah kegiatan yang berhubungan di luar usaha
pokok (core business) suatu perusahaan;
9. Kegiatan tersebut antara lain:
a) usaha pelayanan kebersihan (cleaning service);
b) usaha penyediaan makanan P/B (catering);
c) usaha tenaga pengamanan (security/satpam);
d) usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan, serta;
e) usaha angkutan P/B;
f) dsb.
10. Perlindungan upah dan kesejahteraan, syarat-syarat kerja, maupun;
11. Penyelesaian perselisihan antara perusahaan penyedia jasa tenaga kerja
dengan P/B; harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
INTISARI KEPMENAKERTRANS No.220/MEN/X/2004
6
1. Tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada
Perusahaan Lain.
2. Merupakan pelaksanaan Pasal 65 ayat (5) UU No.13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.
3. Perusahaan Pemberi Pekerjaan adalah
a) Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang
perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta
maupun milik negara yang mempekerjakan P/B dengan membayar upah atau
imbalan dalam bentuk lain;
b) Usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan
mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam
bentuk lain.
4. Perusahaan Pemberi Pekerjaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan
pekerjaan kepada perusahaan penerima pemborongan pekerjaan.
5. Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan dilaksanakan melalui perjanjian
pemborongan pekerjaan secara tertulis.
6. Dalam hal di satu daerah tidak terdapat perusahaan pemborong pekerjaan yang
berbadan hukum atau terdapat perusahaan pemborong pekerjaan berbadan hukum
tetapi tidak memenuhi kualifikasi untuk dapat melaksanakan sebagian pekerjaan
dari perusahaan pemberi pekerjaan, maka penyerahan sebagian pelaksanaan
pekerjaan dapat diserahkan pada perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan
berbadan hukum.
Alur Proses Produksi
Perusahaan pemberi pekerjaan yang akan menyerahkan sebagian pelaksanaan
pekerjaannya kepada perusahaan pemborong pekerjaan wajib membuat alur kegiatan
proses pelaksanaan pekerjaan.
Core dan Non-Core
Berdasarkan alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan, perusahaan pemberi pekerjaan
menetapkan jenis-jenis pekerjaan yang utama dan penunjang berdasarkan ketentuan, serta
melaporkan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat.
KONDISI DUNIA USAHA SAAT INI (Change or Die)
1. Banyak perusahaan bangkrut akibat terlambat melakukan perubahan cara
pengelolaan;
2. Sebagai akibat semakin dinamisnya lingkungan bisnis, maka perusahaan harus
semakin lincah & responsif sehingga selalu mampu menyesuaikan dengan perubahan
lingkungan bisnis yang karakteristiknya serba cepat & serba tidak pasti;
3. Outsourcing merupakan salah satu solusi bahkan kadang-kadang merupakan satu-
satunya solusi dari problem efisiensi perusahaan dalam menghadapi kompetisi.
PRAKTEK OUTSOURCING DI INDONESIA
1. PT Pertamina – dengan KPS-KPSnya
7
2. PT Jamsostek – dalam Jaminan Pelayanan Kesehatan (JPK) dan Jaminan Kecelakaan
Kerja (JKK) dengan RS yang dirujuk
3. PT PLN – dalam penyediaan sumber daya listrik dengan perusahaan pembangkit
listrik (Indonesia Power), juga dalam penyediaan sistem billing tagihan, pembuatan,
perawatan dan perbaikan jaringan PLN.
4. PT TELKOM - dalam penyediaan sistem billing tagihan, dan juga pembuatan,
perawatan dan perbaikan jaringan telepon serta sistem transmisi/panel satelit.
5. Perusahaan Penerbangan – dalam Ticketing, Catering, Cargo dan Perawatan Pesawat.
PUTUSAN JUDICIAL REVIEW OLEH MAHKAMAH KONSTITUSI (MK)
ATAS UU 13/2003 TENTANG OUTSOURCING
1. Menimbang bahwa perlindungan yang diberikan terhadap buruh outsourcing tampak
dalam Pasal 66 ayat (1), (2) a, c dan ayat (4) yang berbunyi :” ------------------------- ”
2. Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka dalam hal P/B
dimaksud ternyata dipekerjakan untuk melaksanakan kegiatan pokok, tidak ada
hubungan kerja dengan perusahaan penyedia jasa P/B, dan jika perusahaan penyedia
jasa P/B bukan merupakan bentuk usaha yang berbadan hukum, maka demi hukum
status hubungan kerja antara P/B dan perusahaan penyedia jasa P/B beralih menjadi
hubungan kerja antara P/B dengan perusahaan pemberi pekerjaan.
3. Oleh karena itu, dengan memperhatikan keseimbangan yang perlu dalam
perlindungan terhadap pengusaha, P/B dan masyarakat secara selaras, dalil para
Pemohon tidak cukup beralasan. Hubungan kerja antara P/B dengan perusahaan
penyedia jasa yang melaksanakan pelaksanaan pekerjaan pada perusahaan lain,
sebagaimana diatur dalam Pasal 64 - 66 undang-undang a quo, mendapat
perlindungan kerja dan syarat-syarat yang sama dengan perlindungan kerja dan
syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
Oleh karenanya, terlepas dari jangka waktu tertentu yang mungkin menjadi syarat
perjanjian kerja demikian dalam kesempatan yang tersedia, maka perlindungan hak-hak
buruh sesuai dengan aturan hukum dalam UU Ketenegakerjaan, tidak terbukti bahwa
hal itu menyebabkan sistem outsourcing merupakan modern slavery dalam proses
produksi.
FAKTA & SARAN
1. Lahirnya UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan adalah sebuah realitas yang tidak
dapat dihindarkan dan kita mesti dapat menerima dengan cara :
a) Bijaksana : Mau mengakui dan bertanggung jawab terhadap adanya kewajiban
yang timbul;
b) Cerdas : Mampu menjabarkan dan mendefinisikan tentang apa yang harus
disesuaikan dengan kepentingan bisnis.
2. Disamping BIJAKSANA dan CERDAS, para pengusaha juga musti JELI dalam
melihat mana yang merupakan PELUANG dan mana yang menyerupai JEBAKAN,
hal ini mengingat ada ancaman :
8
a) Pekerja kontrak dapat menjadi pekerja tetap;
b) Pekerja Pihak Ketiga dapat menjadi Pekerja Pemberi Kerja;
c) Tuntutan denda sampai Rp. 500 juta;
d) Tuntutan pidana kurungan sampai 5 tahun.
KESIMPULAN
Pekerja Kontrak yang bekerja atas dasar Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu (PKWT) diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan Pasal 56 s/d Pasal 59, berbeda dengan atau tidak sama
dengan outsourcing;
PKWT atau Pekerja Kontrak dihire/direkrut langsung oleh Perusahaan
Pemberi Kerja;
Pekerja Perusahaan Outsorcee dihire/direkrut oleh Perusahaan
Outsourcee bisa menjadi Pekerja Tetap (PKWTT) bisa dengan status
Pekerja Kontrak (PKWT), tidak memiliki hubungan kerja dengan
Perusahaan Pemberi Kerja;
Outsourcing diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan Pasal 64 s/d Pasal 66;
UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pernah di Yudicial
Review oleh 37 Pimpinan SP/SB ke Mahkamah Konstitusi dengan
Keputusan tidak bertentangan dengan UUD 1945 termasuk PKWT serta
Outsourcing;
Mengingat UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan merupakan
produk legislatif dalam hal ini DPR RI, maka perubahan materi hanya
dapat diubah melalui DPR RI;
Pemerintah melalui Depnakertrans RI pernah mengusulkan untuk
melakukan Revisi terhadap UU No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan, tetapi mendapat tentangan dan ditolak oleh kalangan
SP/SB;
Sulit diterima akal sehat :Untuk melakukan revisi tidak bersedia tetapi
tetap menuntut penghapusan PKWT dan Outsourcing yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari UU No. 13 Tahun Tentang Ketenagakerjaan
Jakarta, 5 Mei 2008.
Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPN APINDO)
H. Hasanuddin Rachman
Ketua Bidang Hubungan Industrial dan Advokasi
9
Related docs
Other docs by hid80302
7FCI F8 03 0056 B Refresh 16 Page 1 of 5 Information and Instructions for Solicitations The information in this docu
Views: 13 | Downloads: 0
Get documents about "