Embed
Email

Penyembuhan dengan Alqur'an

Document Sample
Penyembuhan dengan Alqur'an
Shared by: binmas unhas
Categories
Tags
Stats
views:
33
posted:
1/19/2012
language:
pages:
15
Ringkasan Materi Daurah

Penyembuhan Dengan Al-Quranul Karim



Pentingnya pembahasan masalah pengobatan dengan Al-Qur'anul Karim dan sebab

dipilihnya tema tersebut :



Secara ringkas penting pembahasan ini dan sebab dipilihnya untuk dibahas

sebagaimana berikut ini :

1. sesungguhnya kebahagian ummat intinya ada pada kembalinya ummat ini kepada

kitab penciptanya, dan mengamalkan apa yang ada pada kitab tersebut, maka setiap apa saja

yang dapat mengembalikan ummat ini kepadanya dan dapat membawa ummat ini untuk

mengamalkan apa yang ada pada kitabullah maka itulah bagian dari pentingnya pembahasan

ini sebagai suatu kedudukan tersendiri.

2. Mengarahkan kaum muslimin untuk berobat dengan kitabullah dan menjadikannya

sebagai pemberi peringatan.

3. tidak adanya pemaparan dari kebanyakan ahli tafsir terhadap pembahasan ini

dengan sesuatu yang lebih luas.

4. banyaknya penyakit di zaman ini yang hampir-hampir tidak diketahui obatnya di

dalam ilmu kedokteran modern sedangkan obatnya terdapat di dalam kitabullah, sebagaimana

akan datang keterangan hal tersebut.

5. memberikan penjelasan apa yang ada dari konteks Al-Qur'an dan Sunnah yang

menunjukkan adanya bentuk pengobatan dengan kitabullah.

6. Memperkenalkan sifat-sifat yang datang dari nabi shallallahu alaihi wa sallam pada

perkara pengobatan dengan Al-Qur'an, sehingga perkara tersebut benar-benar jelas bagi

seorang muslim.

7. Saling memberikan sumbangsih dalam perkara kemanfaatan bagi kaum muslimin

dan sebagai upaya menghilangkan kesusahan bagi yang terkena musibah.

8. memberikan sumbangsih dalam perkara pembelaan terhadap kaum muslimin dan

membantah makar musuh-musuh mereka dari kalangan syaithan jin dan manusia, seperti para

tukang sihir dan para dukun dan orang-orang yang meminta dari mereka hal-hal yang

menyakitkan kaum muslimin sesuai kadar kemampuan.

9. sebagai peringatan bagi para tukang ruqyah dan orang-orang yang minta diruqyah

terhadap apa yang disyariatkan ketika melakukan pengobatan dengan Al-Qur'an, dan

memperingatkan mereka beberapa bentuk penyelisihan dalam perkara tersebut.



Pembahasan pertama



Dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah atas disyariatkannya pengobatan dengan Al-

Qur'anul Karim



Pokok pembahasan pertama : nash-nash Al-Qur'an yang menunjukkan atas

pengobatan dengan Al-Qur'an dan penafsirannya .



Ayat yang pertama :

Allah ta'ala berfirman : "wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian

pelajaran dari tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan

petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". [Yunus : 57].

Tafsir ayat :

Allah Azza wa Jalla menyeru kepada hamba-hambaNya dengan firmanNya " wahai

manusia" maka di sini Allah menjadikannya umum bagi seluruh makhluk, karena Al-Qur'an

ini dengannyalah Allah mengarahkan pembicaraan kepada seluruh makhluk dan merupakan

hal yang diperintahkan untuk diamalkan apa yang ada padanya, maka dia adalah pelajaran

bagi seluruh makhluk, dan tidak khusus bagi orang yang beriman tanpa selainnya.

Kemudian Allah mengkhabarkan bahwa Al-Qur'an adalah "pelajaran/peringatan"

yaitu pelajaran dan peringatan dari Allah kepada hamba-hambaNya, yang mana diberi taufiq

menjadikannya sebagai peringatan, dan bahwa Al-Qur'an itu "obat" dan obat itu adalah apa

saja yang dapat menyembuhkan penyakit.

"terhadap apa yang ada di dalam dada" : dan ia adalah hati, dialah obat bagi hati

tersebut dari kejahilan, kesesatan, syubhat dan syahwat.

"dan petunjuk" : yaitu yang dipakai sebagai penunjuk dari kesesatan.

“dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” : Allah mengkhususkan penyebutan

orang-orang yang beriman, karena mereka adalah orang-orang yang mengambil manfaat dari

Al-Qur’an tersebut dari pada golongan selain mereka.



Faidah mengenai sisi dikhususkannya orang-orang beriman dengan apa yang

ada di dalam Al-Qur’an berupa petunjuk, rahmat dan obat.



Qotadah mengatakan : “Allah menjadikan Al-Qur’an ini sebagai petunjuk dan kabar

gembira bagi orang-orang yang beriman, dikarenakan orang-orang beriman apabila ia

mendengar Al-Qur’an ia menghafalkan dan menjaganya, mengambil manfaat darinya,

menjadi tenang kepadanya dan membenarkan janji-janji Allah yang Allah janjikan padanya,

dan ia selalu di atas keyakinan akan hal tersebut”1.



Penunjukan ayat atas penyembuhan dengan Al-Qur’an :



Dan diantara point yang penting di dalam ayat ini : bahwa Allah mensifatkan Al-Qur’an

sebagai syifaa’ (penyembuh) dan tidak mensifatkannya sebagai dawaa’ (obat), maka hal ini

menunjukkan atas terealisasinya pencapaian hasil ketika menjadikannya sebagai penyembuh,

yaitu hilangnya penyakit, berbeda dengan obat, karena terkadang penyembuhan tercapai

dengannya serta hilangnya penyakit, dan terkadang pula tidak tercapai, maka segala puji bagi

Allah atas karunia dan kemuliaanNya, dan semoga Allah menjadikan kalamNya selalu ada di

hadapan kita, yang kita senantiasa membacanya dan menjadikannya penyembuh kapan pun

kita inginkan, dan semoga tidak seorang pun yang dapat menghalangi diantara kami dan Al-

Qur’an.



Ayat kedua :

Allah ta’ala berfirman : “dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu penyembuh

dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan tidaklah hal tersebut menambahkan

bagi orang-orang yang zhalim kecuali kerugian” [Al-Israa’ : 82].



Tafsir ayat :

Allah menjelaskan tentang keagungan anugrah yang ia berikan kepada hamba-

hambaNya, yang mana Allah turunkan kepada mereka bacaan yang Allah jadikan sebagai

penyembuh bagi orang yang memiliki keimanan diantara mereka, dari hawa nafsu, syubhat,

kesesatan dan seluruh penyakit-penyakit, dan Allah jadikan ia sebagai rahmat bagi mereka

dan sebagai hal yang mengantarkan mereka kepada rahmat Allah, beda halnya dengan orang-



1

Ibnu Jarir meriwayatkan darinya di dalam tafsir beliau : (20/300), dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsirnya :

(1/181) ketika mentafsirkan firman Allah : “membenarkan apa yang ada dihadapannya dan petunjuk dan kabar

gembira bagi orang-orang yang beriman” [Al-Baqarah : 97], dan As-Suyuthi membawakan perkataan ini di

dalam kitab Ad-Durrul Mantsur : (1/224).

orang kafir yang zhalim, karena Al-Qur’an itu tidak akan menambahkan kepada mereka

kecuali kerugian, kesesatan dan kebinasaan.



Faidah : di dalam penjelasan tentang Al-Qur’an itu seluruhnya penyembuh bukan

sebagiannya, dan kata “min (dari)” di dalam firman Allah ta’la “dari Al-Qur’an” adalah min

bayaniyyah (min yang berfungsi sebagai penjelas) bukan min tab’idiyyah “yang bermakna

sebagian” :



Penunjukan ayat atas penyembuhan dengan Al-Qur’an :



Sungguh ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa Al-Qur’anul Karim seluruhnya

adalah penyembuh, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan kata As-Syifaa’

(penyembuh) : hakikatnya adalah hilangnya penyakit, maka hal ini menunjukkan atas

disyariatkannya mencari kesembuhan dengan apa yang Allah jadikan sebagai penyembuh

yang menghilangkan berbagai penyakit, dan sesungguhnya bagian dari konsekwensi

keimanan kepada Al-Qur’an dan konsekwensi pembenarannya adalah : mengamalkan apa

yang ada di dalamnya, dan termasuk bagian dari hal tersebut adalah : menjadikannya

penyembuh dari seluruh penyakit-penyakit dan sebagai pengamalan terhadap ayat-ayat yang

datang padanya pengkhabaran bahwa Al-Qur’an itu adalah penyembuh.



Ayat ke tiga : Allah ta’ala berfirman : “kalau saja kami jadikan Al-Qur’an

berbahasa ajam niscaya mereka mengatakan kalau saja ayat-ayatnya diperincikan, apakah

bahasa ajam ataukah arab, katakanlah dia itu adalah sebagai petunjuk dan sebagai penyembuh

bagi orang-orang yang beriman, dan orang yang tidak beriman di dalam telinga-telinga

mereka ada penghalang dan dia itu digelapkan bagi mereka, mereka itulah orang-orang yang

dipanggil dari tempat yang jauh” [Fushshilat : 44].



Tafsir ayat :

Di dalam ayat yang mulia ini Allah ta’ala menjelaskan keras penentangan orang-

orang kafir dan tentang berpalingnya mereka dari Al-Qur’an dan tidak berimannya mereka

kepadanya, maka kalau saja Al-Qur’an itu dijadikan berbahasa ajam niscaya mereka

mengatakan andai saja ayat-ayatnya diperinci, maka sebagaimana mereka tidak beriman

kepada Al-Qur’an dalam keadaan berbahasa arab, maka mereka tidak akan beriman

kepadanya walaupun Allah menjadikannya berbahasa ajam.



Kemudian Allah ta’ala berfirman : “katakanlah (wahai Muhamad) dia itu (Al-Qur’an)

adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang tidak

beriman ada penyumbat di telinga-telinga mereka dan Al-Qur’an itu gelap atas mereka,

mereka itulah yang akan dipanggil dari arah yang sangat jauh”.



Faedah : di dalam penjelasan bahwa penyembuhan Al-Qur’an tidak hanya khusus bagi hati,

bahkan umum baik bagi hati dan bagi badan.

pendapat Jumhur bahwa Al-Qur’an mengandum penyembuh bagi badan, sebagaimana

mengandum penyembuh bagi hati2 dan pendapat ini yang rajih (kuat), karena kaedah asal di





2

Dan diantara mereka yang berpendapat dengan pendapat ini adalah Ibnul Qayyim di dalam Zaadul Ma’ad :

(4/352), dan As-Syinqithiy di dalam Adhwaa’ul Bayan dalam masalah penjelasan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an

: (3/624), As-Samarqandiy di dalam Bahrul Ulum : (2/281), Ar-Raaziy di dalam At-Tafsirul Kabir : (21/35), Al-

Alusiy di dalam tafsirnya : (15/145), Abul Hayyan di dalam Al-Bahrul Muhith : (6/74) dan (7/104), Al-

Mawardiy di dalam tafsirnya : (3/268), al-Qurthubiy di dalam Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an : (10/316) Ibnul

dalam penunjukan lafazh dibawakan kepada ma’na umum, dan membatasinya kepada

sebagian ma’nanya membutuhkan dalil yang menunjukkan kepada sesuatu yang disangkakan,

dan membawakan ayat yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an penyembuh kepada makna

umum adalah sesuatu yang jelas, maka Al-Qur’an seluruhnya penyembuh, dan juga

penyembuh bagi seluruh penyakit, sama saja apakah penyakit hati ataukah penyakit badan.



Penunjukan ayat atas penyembuhan dengan Al-Qur’an :



Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa Al-Qur’anul karim petunjuk bagi orang-

orang yang beriman, mereka menjadikannya petunjuk dari kesesatan, dan penyembuh yang

dengannya mereka mengharapkan kesembuhan dari setiap penyakit, berbeda halnya orang-

orang yang kafir karena pada telinga-telinga mereka ada sumbatan dan tidaklah bertambah

bagi mereka kecuali kebutaan dan semakin jauh dari kebenaran, dan ini merupakan dalil

bahwa harusnya ada dari keimanan kepada Allah bagi orang yang ingin mengambil manfaat

dari Al-Qur’an apakah itu menjadikannya petunjuk ataukah menjadikannya penyembuh.



Pokok masalah kedua : penyebutan nash-nash sunnah yang menunjukkan atas

penyembuhan dengan Al-Qur’an dan penjelasan-penjelasannya :



Hadits pertama : hadits yang disepakati oleh Bukhari Muslim dari hadits Abu Sa’id

Al-Khudriy radhiyallahu anhu dia berkata; Ada rombongan beberapa orang dari sahabat

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika

mereka sampai di salah satu perkampungan Arab penduduk setempat mereka meminta agar

bersedia menerima mereka sebagai tamu peenduduk tersebut namun penduduk menolak.

Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala

sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil. Lalu diantara mereka ada yang

berkata: "Coba kalian temui rambongan itu semoga ada diantara mereka yang memiliki

sesuatu. Lalu mereka mendatangi rambongan dan berkata: "Wahai rambongan, sesunguhnya

kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun

belum berhasil, apakah ada diantara kalian yang dapat menyembuhkannya?" Maka berkata,

seorang dari rambongan: "Ya, demi Allah aku akan mengobati namun demi Allah kemarin

kami meminta untuk menjadi tamu kalian namun kalian tidak berkenan maka aku tidak akan

menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah. Akhirnya mereka sepakat

dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillah

rabbil 'alamiin (QS Al Fatihah) seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak

membawa obat apapun. Dia berkata: "Maka mereka membayar upah yang telah mereka

sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata: "Bagilah kambing-kambing itu!" Maka

orang yang mengobati berkata: "Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi shallallahu

'alaihi wasallam lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada Beliau shallallahu 'alaihi

wasallam dan kita tunggu apa yang akan Beliau perintahkan kepada kita". Akhirnya

rombongan menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu mereka menceritakan

peristiwa tersebut. Beliau berkata: "Kamu tahu dari mana kalau Al Fatihah itu bisa sebagai

ruqyah (obat)?" Kemudian Beliau melanjutkan: "Kalian telah melakukan perbuatan yang

benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai

orang yang menerima upah tersebut". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tertawa.









Jauziy di dalam Zadul Masir : (7/263), As-Syaukaniy di dalam Fathul Qadir : (3/259) Al-Qasimiy di dalam

tafsirnya (10/3978) dan selaian mereka.

Hadits kedua : hadits riwayat bukhari, dan Ad-Daruquthniy, Ibnu Hibban dan Al-

Baihaqiy dari Ibnu Abbas : bahwa beberapa sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

melewati sumber mata air dimana terdapat orang yang tersengat binatang berbisa, lalu salah

seorang yang bertempat tinggal di sumber mata air tersebut datang dan berkata; "Adakah di

antara kalian seseorang yang pandai menjampi? Karena di tempat tinggal dekat sumber mata

air ada seseorang yang tersengat binatang berbisa." Lalu salah seorang sahabat Nabi pergi ke

tempat tersebut dan membacakan al fatihah dengan upah seekor kambing. Ternyata orang

yang tersengat tadi sembuh, maka sahabat tersebut membawa kambing itu kepada teman-

temannya. Namun teman-temannya tidak suka dengan hal itu, mereka berkata; "Kamu

mengambil upah atas kitabullah?" setelah mereka tiba di Madinah, mereka berkata; "Wahai

Rasulullah, ia ini mengambil upah atas kitabullah." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi

wasallam bersabda: "Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah

karena (mengajarkan) kitabullah."



Hadits ketiga : hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasaa’i

dengan sanad yang shahih3, dari Kharijah bin Ash-Shalt4, dari pamannya5, dia berkata : kami

pulang dari majlis Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, kemudian kami mendatangi sebuah

perkampungan arab, mereka berkata: kami diberitahu bahwa kalian baru saja mendatangi

orang itu dengan membawa kebaikan, lalu apa kalian punya doa atau ruqyah, kami punya

orang gila yang tengah dirantai. Aku berkata: 'Ya.' Mereka pun membawa orang gila yang

dirantai itu di hadapannya. Kemudian saya membaca surat Al Fatihah selama tiga hari di pagi

dan sore hari, saya kumpulkan ludah saya kemudian saya meludahkannya lalu seolah-olah ia

sembuh dari penyakit gila. Kemudian mereka memberi saya hadiah, saya berkata: 'Nanti

dulu, hingga saya bertanya kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam.' Saya pun bertanya

kepada beliau lalu beliau bersabda: " Sungguh ada orang yang memakan dari hasil ruqyah

batil, tapi engkau memakan dari hasil ruqyah yang benar."



Hadits keempat : hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari, dan Muslim dari Aisyah :

Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sakit, beliau tiupkan pada dirinya surat-surat

mu'awwidzaat dan beliau usapkan dengan tangannya. Maka tatkala beliau sakit yang

menyebabkan beliau meninggal, kutiupkan pula kepadanya surat-surat Mu'awwidzat dan

kusapukan tangannya ke tubuhnya.



Hadits kelima : hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban dari Aisyah : bahwa rasulullah

shallallahu alaihi wa sallam masuk kepadanya dan ada seorang wanita sedang mengobatinya

atau sedang meruqyahnya maka beliau berkata : “obati dia dengan kitab Allah”6.





3

Sebagaimana Al-Hakim katakan di dalam Al-Mustadrak : (1/559 -560), dan An-Nawawiy di dalam Al-Adzkaar

: (120), dan Al-Albaaniy di dalam shahih Abu Daud : (2/738) hadits no. (3901), dan Al-Hafizh Ibn u Hajar

menghasankan hadits tersebut di dalam (Al-Futuhaatur Rabbaniyyah karangan Ibnu Allaan : (4/43 – 44). Lihat

Mausu’ah Al-Haifzh Ibnu Hajar Al-Haditsiyyah : (5/323), dan Al-Arnaauuth di dalam Shahih Ibnu Hibban :

(13/474) hadits no. (6110).

4

Kharijah bin Ash-Shilt Al-Burjumiy – dengan mendhammakan huruf titik satu dan mensukunkan Ar-Raa’ dan

mendhammakan Aj-Jiem - , Al-Kuufiy, dia meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dan dari pamannya. Lihat

Tahdzibul Kamaal : (8/13), dan Taqribut Tahdzib : (283).

5

Dan dia adalah : Alaqah bin Shihar As-Salitiy, At-Tamimiy, dan yang mengatakan : Abdullah bin Atsir bin

Qais bin Abdu Qais Ibnu Khafaf, dari Bani Amru bin Hanzhalah dari Al-Barajim, Abu Daud dan An-Nasaa’i

meriwayatkan riwayatnya, dan mereka berdua tidak menyebut namanya, lihat Tahdzibul Kamal : (22/552), dan

Taqribut Tahdzib : (763).

6

Ibnu Hibban meriwayatkannya di dalam kitab shahihnya : (13/464) hadits no. (6098), dan Al-Albani

menshahihkannya juga di dalam As-Silsilatush Shahihah : hadits no. (1931).

Hadits keenam : hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dan lafazhnya sesuai riwayat

Muslim dari Aisyah, dia berkata : Apabila salah seorang isteri Rasulullah shallallahu 'alaihi

wasallam sakit, beliau tiupkan kepadanya surat-surat mu'awwidzaat. Maka tatkala beliau

sakit hampir meninggal, kutiupkan pula kepadanya dan kusapukan tangannya ke tubuhnya,

karena tangan beliau lebih besar barakahnya daripada tanganku."



Hadits ketujuh : hadits riwayat Muslim dan Abu Daud, Ibnu Hibban, Ath-Thabraniy,

Al-Hakim dan Al-Baihaqi dari Auf bin Malik Al-Asyja’i, dia berkata : "Kami biasa

melakukan mantera pada masa jahiliyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu

'alaihi wasallam; 'Ya Rasulullah! bagaimana pendapat Anda tentang mantera? ' Jawab beliau:

'Peragakanlah manteramu itu di hadapanku. Mantera itu tidak ada salahnya selama tidak

mengandung syirik.'



Hadits kedelapan : hadits riwayat Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu

dia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membolehkan bagi Bani 'Amru untuk

meruqyah dari gigitan ular. Kemudian Abu Az Zubair berkata; Dan aku mendengar Jabir bin

'Abdillah berkata; seekor kalajengking menggigit seseorang di antara kami, yang waktu itu

kami sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu orang itu berkata;

'Ya Rasulullah, ruqyahlah saya! Kemudian beliau bersabda: 'Barangsiapa yang bisa memberi

manfaat kepada temannya maka lakukanlah!



Pembahasan Kedua



Tata cara penyembuhan dengan Al-Qur’an, dan sifat-sifat orang yang meruqyah dan

orang yang diruqyah dan perkara-perkara yang terlarang yang wajib dijauhi



Permasalahan pertama : penyebutan sifat-sifat yang datang dari nabi shallallahu alaihi

wa sallam tentang tata cara pengobatan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah :



Sifat pertama : meruqyah hanya dengan membaca7 :

hadits yang disepakati Al-Bukhari Muslim dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa apabila

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjenguk orang sakit atau ada orang yang sakit

datang kepada beliau, beliau berdo'a: "ADZHIBIL BA`SA RABBAN NAASI ISYFII WA

ANTA SYAAFI LAA SYIFAA`A ILLA SYIFAA`UKA SYIFAA`A LAA YUGHAADIRU

SAQAMA (Hilangkanlah penyakit wahai Rab sekalian manusia, sembuhkanlah wahai dzat

Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada yang dapat menyembuhkan melainkan kesembuhan

dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak membawa rasa sakit)."

Sifat kedua : ruqyah dengan membaca dan meniup8 :



7

Yang saya maksudkan : apa yang dengannya seorang peruqyah ucapkan berupa bacaan Qur’an atau yang

selainnya.

8

An-Nawawi berkata di dalam syarah beliau terhadap shahih Muslim (14/182) : “An-Nafats : adalah tiupan yang

lembut tanpa air ludah, beliau berkata: mereka para ulama telah sepakat atas bolehnya hal tersebut di dalam

ruqyah,dan para jumhur dari kalangan sahabat dan tabi’in dan para ulama setelah mereka, dan Al-Qadhi iyaadh

berkata : diperselisihkan di dalam perkara meniup dan meludah dalam ruqyah, ada yang mengatakan : keduanya

sama ma’nanya, dan keduanya tidaklah terjadi kecuali dengan adanya air liur, dan Abu Ubaid berkata :

disyaratkan ludah yang ringan dalam perkara meludah, dan tidak ada perkara tersebut dalam tiupan, dan ada

yang berpendapat kebalikannya, beliau berkata : Aisyah ditanya tentang tiupan rasulullah shallallahu alaihi wa

sallam ketika meruqyah, maka beliau berkata : sebagaimana arang yang sedang makan meniup buih, dan tidak

dianggap apa yang yang keluar padanya dari sesuatu yang basah, dan janganlah ia maksudkan hal tersebut, akan

tetapi telah datang pada hadits yang beliau shallallahu alaihi wa sallam meruqyah maka beliau mengumpullkan

ludah beliau dan meludahkannya.

hadits riwayat An-Nasaa’i , dan Ibnu Majah, dan Ibnu Ibnu Abi Syaibah dari Aisyah : bahwa

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meniupkan udara saat meruqyah."

Sifat yang ketiga : ruqyah dengan membaca dan ludah :

hadits Abu Sa’id radhiyallahu anhu tentang ruqyah kepada pemimpin desa, dan telah berlalu

pembahasannnya9, dan dalam hadits tersebut : “maka mulailah dia membaca ummul Qur’an

dan mengumpulkan ludahnya dan meludah maka sembuhlah dia (pemimpin desa itu).

Sifat keempat : ruqyah dengan membaca dan membasuh

hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu anha : bahwa Nabi

shallallahu 'alaihi wasallam selalu meminta perlindungan terhadap sebagian keluarganya,

beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil berdo'a; "ALLAHUMMA RABBAN

NAASI ADZHIBIL BA`SA ISYFIHI ANTA SYAAFI LAA SYIFAA`A ILLA

SYIFAA`UKA SYIFAA`AN LAA YUGHAADIRU SAQAMA (Ya Allah Rabb manusia,

dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha

menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan dari kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan

yang tidak menyisakan rasa sakit).

Sifat kelima : meruqyah dengan membaca, dan meletakkan tangan di atas tempat yang

sakit, kemudian mengusap :

hadits riwayat Al-Bukhari dan Abu Daud dari Aisyah bintu Sa’ad10 bahwa ayahnya pernah

berkata : aku mengalami sakit di Mekkah, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang

mengunjungiku dan meletakkan tangannya di atas keningku, kemudian beliau mengusap dada

dan perutku kemudian berdoa: "Ya Allah sembuhkanlah Sa'd dan sempurnakanlah

hijrahnya."

Sifat keenam : ruqyah dengan membaca dan tiupan bersama basuhan :

hadits Abu Sa’id radhiyallahu anhu tentang diruqyahnya pemimpin desa, sebagaimana pada

riwayat Abdun bin Humaid, dan An-Nasaa’i, dan lafazh hadits tersebut : "Lalu seorang

sahabat Nabi membaca Ummul Qur`an dan mengumpulkan ludahnya seraya meludahkan

kepadanya hingga laki-laki itu sembuh"

Sifat ketujuh : ruqyah dengan membaca, bersamaan dengan meletakkan ludah di atas

jari, kemudian meletakkannya di atas tanah, kemudian kepada orang yang sakit :

hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dan lafazhnya sesuai riwayat Muslim, dari Aisyah :

bahwa apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah

shallallahu 'alaihi wasallam, seperti sakit kudis, atau luka, maka Nabi shallallahu 'alaihi

wasallam berucap sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini -Sufyan meletakkan

telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- Bismillahi turbatu ardhina biriiqati ba'dhina





Berkata : faidah ludah : adalah mengharap berkah dari cairan tersebut, atau udara, atau nafas yang langsung

untuk ruqyah dan dzikir yang baik, sebagaimana diharapkan berkah dengan mencuci apa yang ditulis dari dzikir

dan asma’ul husna, berkata : dan terkadang terjadinya ludah tadi atas sisi tafa’ul (pengharapan) kepada

hilangnya sakit tersebut dari orang yang sakit dan terpisahnya penyakit tersebut, sebagaimana terpisahnya nafas

tadi dari mulut orang yang meruqyah dengan bacaan Al-Muawwidzat dengan mengkasrahkan wawu”. Lihat

kitab Ikmalul Mu’allaim (7/100), dan Ad-Dibaaj ala Muslim : (5/211), dan At-Tamhid lima fil Muwaththa’

minal Ma’ani wal Asanid : (8/133). Saya katakan : dengan meruju’ kepada syarah-syarah hadits, dan kepada

kitab-kitab imam ahli bahasa maka akan menjadi jelas bahwa mereka membedakan antara meludah dan meniup,

dan diantara ulama yang membedakan di antara keduanya adalah : guru kami Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz

rahimahullah di dalam muhadharah beliau tentang ruqyah : lihat : bagian aqidah : (8/13) dalam Al-Maktabah

Asy-Syamilah, dan ini yang kuat menurut saya, oleh karen itu saya menyendirikan masing-masing dari “ruqyah

dengan tiupan” dan dengan “ruqyah dengan ludah” dengan pembahasan tersendiri.

9

Lihat hal. (22 dan yang setelahnya).

10

Aisyah bintu Sa’ad bin Abu Waqqash Az-Zahriyyah Al-Madaniyyah, tsiqah dari periode keempat, dilahirkan

pada tahun 33 hijriyah, dan melakukan umrah dan mendapati Malik, dan salahlah orang yang menyangka bahwa

dia pernah melihat nabi shallallahu alaihi wa sallam, wafat pada tahun 117 hijriyah. Lihat Taqribut Tahdzib :

(hal. 1364), dan Al-A’lam karangan Az-Zarkali : (3/240).

liyusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbina." (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami,

dan dengan ludah sebagian kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Rabb kami).



Masalah : para ulama berselisih pendapat tentang maksud perkataan : “tanah kami”

apakah khusus tanah Madinah atau umum pada seluruh tanah? Saya katakan : yang paling

jelas/kuat adalah pendapat jumhur, dikarenakan tidak adanya dalil pengkhususan kota

Madinah, berkata guru kami Abdul Muhsin Al-Abbad – hafizhahullah - : “menjadikannya

menjadi makna umum itu lebih kuat, karena tidak datang sesuatu yang jelas bahwa hal ini

khusus untuk kota Madinah, dan bahwa tidaklah dipakai kecuali di kota Madinah”11.



Tata cara kedelapan : ruqyah dengan meletakkan garam di dalam air,

kemudian mengusapkannya pada tempat yang sakit bersamaan membaca ruqyah

kepada orang yang tersengat :

hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, dan lafazh haditsnya dari riwayat beliau, dan juga Ath-

Thabrani, Abu Nu’aim dan Al-Baihaqi dari Ali, dia berkata : ketika rasulullah shallallahu

alaihi wa sallam pada suatu malam sedang shalat, beliau meletakkan tangannya di atas tanah

tiba-tiba seekor kalajengking menyengat beliau, maka rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

mengambilnya dengan sendal beliau dan kemudian membunuhnya, maka ketika beliau

berpaling, beliau berkata : “Allah melaknat kalajengking, tidak lah ia membiarkan orang yang

shalat tidak pula yang selainnya” atau “seorang nabi dan tidak pula selainnya” kemudian

beliau minta dibawakan garam dan air, kemudian beliau menjadikannya di dalam wadah,

kemudian beliau menjadikannya sesuatu yang beliau tuangkan ke jari beliau yang disengat

kalajengking, dan mengusapkannya dan membacakan padanya dengan Muawwidzatain12.



Tata cara kesembilan : ruqyah dengan membaca bersamaan dengan

mencampurkan tanah dengan air dan meniupkan padanya, kemudian menuangkannya

kepada orang yang sakit :

hadits riwayat Abu Daud, An-Nasaa’i, dan Al-bukhari di dalam At-Tarikhul kabir, dan Ath-

Thabarani dari Tsabit bin Qais bin Syammas13 : dari Ayahnya dari Kakeknya dari Rasulullah

shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau pernah menemui Tsabit bin Qais -Ahmad berkata;

saat ia sedang sakit-, lalu beliau mengucapkan: 'IKSYIFIL BA`SA RABBAN NAASI

(Hilangkan penyakit wahai Tuhan manusia!) '. Dari Tsabit bin Qais bin Syammas,

"Kemudian beliau mengambil tanah dari Bathhan dan memasukkannya ke dalam sebuah

gelas, beliau kemudian menyemburkan air ke dalamnya, lalu menuangkannya kepadanya."



Tata cara kesepuluh : ruqyah dengan menuliskan beberapa ayat dari Al-Qur’an,

kemudian menuangkan air padanya dan meminumnya atau mencuci badan dengannya:

Cara ini tidak pernah datang dari nabi shallallahu alaihi wa sallam yang bisa

menunjukkan atas bolehnya perkara tersebut secara jelas, oleh karena itu para ulama

berselisih pendapat tentang boleh hal tersebut menjadi dua pendapat :



11

Syarah Sunan Abu Daud karangan Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad : (20/233), ditranskip dari kaset-kaset

kandungan Al-Maktabatusy Syamilah.

12

Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf : (5/44) hadits (23553), Ath-Thabarani di dalam Al-

Ausath : (6/90) hadits (5890), Abu Nu’aim di dalam Akhbaru Ashbahan : (2/23), dan Al-Baihaqi di dalam

Syu’abul Iman : (5/518, 519) hadits (2340, 2341), dan Ibnu Majah meriwayatkan secara ringkas, dan hadits ini

Al-Haitsami berkata tentangnya di dalam Majmauz Zawa’id (5/191) : dan sanadnya hasan, dan Al-Albani

menshahihkannya di dalam Ash-Shahihah : hadits (548).

13

Dia adalah sahabat nabi shallallahu alaihi wa sallam, Tsabit bin Qais bin Syammas Al-Anshari, Al-Khazraji,

khathibul Anshar, termasuk sahabat besar, nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira

kepadanya dengan surga, mati syahid di daerah Al-Yamamah, wasiatnya dilaksanakan disebabkan mimpi yang

dilihat oleh Khalid bin Al-Walid. Lihat : At-Taqrib hal. (186).

Pertama : Ibrohim An-Nakha’i, dan Ibnu Sirin dan Ibnul Arabi berpendapat tentang

tidak bolehnya14.

Kedua : jumhur ulama berpendapat kepada bolehnya.



Pendapat Jumhur yang rajih/kuat dan diperkuat dengan dalil berikut ini :



1- Bahwa Allah mensifatkan Al-Qur’an bahwa dia itu penyembuh, maka

bagaimanapun dipakai dengan cara yang tidak haram maka hal itu boleh, dan

penulisan dan menghapusnya dari hal tersebut adalah boleh.

2- Bahwa hukum asal di dalam masalah penngobatan adalah halal dan boleh,

sebagaimana nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “.....wahai hamba-hamba

Allah berobatlah kalian sesungguhnya Allah tidaklah meletakkan sebuah penyakit

kecuali Allah meletakkan baginya obat, kecuali satu penyakit” mereka sahabat

berkata : apakah itu? Beliau berkata : “kerentaan”15.

3- Bahwa perbuatan tersebut banyak dilakukan oleh sejumlah kaum salaf seperti

Mujahid, Al-Laits, Sa’id bin Jubair, dan Al-Imam ahmad, Al-Qadhi Iyad16,

syaikhul islam Ibnu Taimiyah,dan Ibnul Qayyim dan selain mereka17.



Permasalahan kedua : Sifat-sifat Yang Wajib Dipenuhi Ketika Meruqyah :



Pertama : benarnya keyakinan, yaitu harus sesuai manhaj salafus shalih, yaitu apa saja yang

nabi dan para sahabatnya serta para tabi’in berada di atasnya, dan hendaknya dia termasuk

orang yang mengikuti mereka, dan berhati-hati dari menyelisihi mereka, Allah ta’ala

berfirman : “

21.” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang

mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. [Al-Ahzab : 21].



Dan nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “barang siapa yang mengada-adakan

dalam urusan kami ini apa yang bukan bagian darinya maka amalan itu tertolak”. Muttafaq

alaih18.

Dan penyelisihan yang paling terbesar : adalah melakukan kesyirikan dengan kedua

macam syirik, akbar dan ashgar, kemudian kebid’ahan, kemudian dosa-dosa besar, Allah

ta’ala berfirman memberikan peringatan dari kesyirikan dan menjelaskan bahayanya :



48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari

(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia

telah berbuat dosa yang besar. [An-Nisaa’ : 48].









14

Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah : (5/40, 39), dan Syarhus Sunnah karangan Al-Baghawi : (12/166), dan

kitab Aridhatul Ahwadzi : (8/222), dan Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibaad : (4/357).

15

Hadits riwayat Ahmad di dalam Musnadnya : (30/395) hadits (18454), dan Abu Daud di dalam sunannya (4/3)

hadits (3855), dan At-Tirmidzi di dalam sunannya (4/383) hadits (2038), dan dia berkata : hasan shahih, dan Al-

Albani menshahihkannya di dalam Shahih Ibnu Majah : (2/252) hadits (3436).

16

Lihat Ikmalul Mu’allim (7/101).

17

Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah : (5/39, 40), Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibaad : (4/357), dan Al-

Adabusy Syari’ah (2/456) dan didatangkan beberapa nukilan dari beberapa ulama salaf dalam melakukan

perbuatan tersebut, dan yang semisalnya Ahkamur Ruqa wat Tama’im hal. (66 dan setelahnya).

18

Hadits riwayat Al-Bukhari di dalam shahihnya. Lihat Al-Fath : (5/355) hadits (2697), dan Muslim di dalam

shahihnya : (3/1343) hadits (1718). Dan lihat : Al-Lu’lu’ Wal Marjan Fimat Tafaqa alaihi As-Syaikhain :

(2/195) hadits (1120).

Kedua : agar dia ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, mengharapkan wajah Allah

dengan ruqyah yang dia lakukan, mengharapkan pahalanya kepada Allah, secara bersamaan

dia dapat memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya, dan berbuat baik kepada mereka,

meringankan kesusahan mereka, Allah ta’ala berfirman :



“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya

dalam (menjalankan) agama yang lurus” [Al-Bayyinah : 5].



Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “sesungguhnya Allah Azza wa Jalla

tidaklah menerima dari amalan kecuali yang ikhlash untukNya, dan mengharapkan wajah

Allah dengan amalan tersebut”19.

Dan juga beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “barang siapa dari kalian

dapat memberikan manfaat kepada saudaranya maka hendaknya dia lakukan”20.



Ketiga : istiqamah (teguh) di atas ketaatan kepada Allah, dan menjaga agar dapat

melaksanakan kewajiban-kewajiban, seperti tauhid, shalat dan seluruh yang Allah wajibkan,

dan demikian pula memperbanyak amalan nafilah (sunnah), karena hal tersebut merupakan

sebab penjagaan Allah kepada hamba-hambanya dan sebab taufiq Allah dan bimbinganNya

kepadanya, serta Allah memerangi terhadap orang-orang yang memusuhinya, nabi shallallahu

alaihi wa sallam bersabda : "Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku

umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan

sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus

menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika

Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar,

dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk

memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti

Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu

untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-

Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan

Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya."



Keempat : menjauhkan diri dari kemasiatan kepada Allah dan apa saja yang Allah larang,

karena hal itu merupakan sebab segala kejelekan, Allah ta’ala berfirman:



30. dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan

Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [Asy-Syura : 30]



Kelima : keimanan yang kuat dan hubungan yang kuat kepada Allah, dan hal itu menjadi

jelas pada point-point berikut :

1.Bersandarkan sepenuhnya kepada Allah, bertawakkal kepadanya, menyerahkan

segala urusannya kepadaNya, Allah ta’ala berfirman :



dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. [Ath-Thalaq

: 3].



Dan nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Allah ta’ala berfirman : "Aku berada

dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia

mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-



19

Hadits riwayat An-Nasaa’I : (4/286) hadits (4333), dan Ath-Thabarani di dalam Mu’jamul Kabir : (8/140)

hadits (7628) : dan hadits ini Al-Albani menshahihkannya di dalam Ash-Shahihah : (52).

20

Telah berlalu takhrijnya pada hal. (31).

Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik

daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri

kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri

kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya

dalam keadaan berlari." al-hadits21.



2. Memperbanyak dzikir kepada Allah, senantiasa menyertai dzikir, terlebih khusus

membaca Al-Qur’an yang Allah telah jadikan sebagai petunjuk, cahaya, rahmat dan

penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, dan penyembuh dari segala penyakit, dan hal

itu adalah dzikir yang paling besar, dan dengannya hati menjadi tenang, Allah ta’ala

berfirman :



28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,

hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar-Ra’d : 28].



3. Menjaga doa-doa dan dzikir-dzikir sesuai waktu-waktunya.

4. banyak memohon kepada Allah penjagaan dan perlindungan.



Keenam : keyakinan kuat bahwa Al-Qur’an adalah penyembuhan yang murni untuk

segela penyakit, maka kapan saja ada sebab dan tidak ada penghalangnya maka akan berhasil

dengan izin Allah, dan terkadang kesembuhan diakhirkan atau kadang tidak berhasil

dikarenakan tidak adanya sebab atau adanya penghalang.

Ketujuh : harus sesuai kadar keilmuan yang syar’i, khususnya pada perkara ruqyah,

maka hendaknya melakukan ruqyah yang syar’i menjaga adab-adab dan aturan-aturannya,

dan menghindari ruqyah yang berbau syirik atau yang tidak diketahui keadaannya.

Ibnu Taimiyah berkata : “ulama kaum muslimin melarang ruqyah yang tidak difahami

maknanya, karena hal itu diperkirakan adanya kesyirikan, walaupun yang meruqyah tidak

mengetahui bahwa ruqyah itu ada kesyirikannya”22.

Demikian pula harus memiliki ilmu yang berkaitan dengan jin dari sisi pengetahuan

tentang kelemahannya, Allah ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.”. [An-Nisaa’ : 76]



Janganlah takut dari mereka atau dari ancaman-ancaman mereka, karena yang

merasuki manusia dari mereka itulah yang zhalim lagi melampaui batas kezhalimannya wajib

dibalas.

Dan janganlah seseorang menjadikan perkataan mereka sesuatu dari pembenaran, bahkan

bagi orang yang meruqyah hendaknya memberikan peringatan kepada mereka yang sakit

untuk tidak membenarkan perkataan jin pada apa yang mereka dengar dari perkataan mereka

ketika ruqyah, dan bahwa mereka itu berdusta, tidak boleh membenarkan mereka, karena

kemungkinan mereka menginginkan makar, tipu daya, dan terjadinya permusuhan antara

orang yang sakit dengan sebagian keluarganya atau dengan sebagian teman-temannya dengan

perkatan mereka.

Sebagaimana pula sepantasnya untuk tidak membuka pintu pembicaraan dan

percakapan kepada mereka kecuali dalam batasan darurat, karena dengan itu mereka akan

menarik nafas panjang untuk memperpanjang percakapan mereka, maka ketika orang yang

membaca ruqyah menahan diri dari bacaan kalam Allah atas mereka dan mengajak mereka





21

Hadits riwayat Al-Bukhari di dalam shahihnya : lihat : Al-Fath (13/395) hadits (7405), dan Muslim di dalam

shahihnya : (4/2061) hadits (2675). Dan lihat Al-Lu’lu wal Marjan Fimat Tafaqa Alaihisy Syaikhan : (3/219)

hadits (1713).

22

Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah : (19/13).

dialog, maka mereka mendapatkan kesempatan dengannya yang meringankan tekanan bacaan

dan pengaruhnya kepada mereka, maka hendaknya diperhatikan perkara ini.

Kedelapan : berdakwah mengajak untuk kembali kepada jalan Allah dengan amar

ma’ruf nahi mungkar, apakah kepada orang yang diruqyah ataukah kepada jin, apabila

seorang peruqyah melihat pada orang yang sakit ada pengaruh kemaksiatan maka hendaknya

dia memerintahkannya kepada kebaikan, dan mencegahnya dari kemungkaran, dan

membimbingnya untuk istiqamah (teguh) di atas agama Allah, dan menjelaskan kepadanya

bahwa apa yang menimpanya sebabnya hanyalah dosa-dosanya, sebagaimana Allah ta’ala

berfirman :



30. dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan

Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [Asy-Syura : 30].



Karena orang yang sakit pada keadaan ini kebanyakannya mereka siap untuk menerima

nasihat dan arahan.

Demikian pula seorang peruqyah memerintahkan kepada jin agar masuk islam apabila

dia kafir, dan memerintahkannya untuk keluar dari pasien, dan tidak menyakitinya, dan

menasehatinya dengan sesuatu yang sesuai dengan keadaan.

Kesembilan : hendaknya meruqyah dengan menggunakan kitab Allah, atau yang

telah tetap dari doa-doa yang disyariatkan, dan mencukupkan dengan hal tersebut, dan pada

keduanya terdapat kecukupan dan tidak butuh dari apa yang selain keduanya.

Kesepuluh : menutup aib orang yang sakit, dan tidak disebarkan rahasianya, dan

tidak menyebutkan tentang keadaan mereka dan apa yang terjadi dari mereka, kecual sekedar

hajat bagi yang memperhatikan perkara mereka, apabila telah ditetapkan maslahat hal

tersebut.

Kesebelas : mengangkat semangat orang yang sakit, dan membuat senang hatinya,

memberikan harapan baik dengan kesembuhan, dan demikian pula dia lakukan bersama

keluarganya, karena seseorang merasakan kesembuhan memiliki pengaruh terhadap penyakit,

sebagaimana para ulama mengisyaratkan hal tersebut ketika menjenguk orang yang sakit.



Permasalahan Ketiga : Beberapa Sifat Yang Wajib Dipenuhi Oleh Orang Yang

Diruqyah :

Pertama : benarnya aqidah (keyakinan).

Kedua : ikhlash karena Allah.

Ketiga : istiqamah (teguh) di atas ketaatan kepada Allah.

Keempat : menjauhi maksiat kepada Allah.

Kelima : kuatnya iman.

Keenam : keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh.

Ketujuh : keyakinan yang kuat bahwa kemanfaatan serta marabahaya semuanya dari

Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa kesembuhan itu disebabkan karena kalam

Allah bukan orang yang meruqyah, memang benar dan tidak diragukan bahwa orang-orang

yang meruqyah bertingkat-tingkat derajat keshalihan dan ketakwaan mereka, dan bertingkat-

tingkatnya derajat mempunyai pengaruh kepada bacaan mereka yang mengikuti hal tersebut,

akan tetapi kemanfaatan datangnya dari Allah dan dari kitabNya, dan Al-Qur’an adalah

penyembuh bagi setiap orang, dan dari setiap salah seorang dari kaum muslimin.

Kedelapan : tidak tergesa-gesa di dalam mendapatkan hasil, dan tidak putus asa ketika

diakhirkannya hasil tersebut, dan telah berlalu bersama kami bahwa seorang sahabat nabi

meruqyah orang yang sakit selama tiga hari pagi dan sore23.





23

Lihat yang sudah berlalu : hal. (27).

Kesembilan : bersabar dan mengharap pahala terhadap apa yang menimpanya, dan

ridha terhadap ketetapan Allah dan kepada taqdirnya.

Kesepuluh : berbaik sangka kepada Allah dengan persangkaan bahwa Allah akan

menyembuhkannya, dan menunggu dilapangkan musibah tersebut darinya.

Kesebelas : kuatnya tekad dan keinginan yang kuat, dan mengangkat semangat

dirinya, untuk menolak apa yang ada padanya, dan tidak menyerah, karena hal itu memiliki

pengaruh yang besar terhadap jiwa, sebagaimana telah berlalu penyebutan perkataan Ibnul

Qayyim tentang hal tersebut24.

Kedua belas : tidak pergi ke salah satu dari tukang ruqyah dan orang-orang yang dapat

mengobati, kecuali setelah mengetahui kepercayaan dan selamatnya dari penyelisihan

syari’at, maka tidak boleh pergi ke tukang sihir, atau dukun, atau peramal25.



Permasalahan Keempat : Larangan-larangan Yang Wajib Dijauhi :

Larangan pertama : fitnahnya mengumpul harta, maka hati-hatilah dari niat mengumpul

harta, karena tabiat jiwa manusia adalah cinta kepada harta, dan berusaha untuk

mendapatkannya, dan kikir untuk menginfakkannya, kecuali bagi yang Allah rahmati, karena

Allah ta’ala mengkhabarkan tentang jenis manusia :



8.” dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” [Al-Adiyaat : 8].



Larangan kedua : fitnah wanita, hati-hatilah wahai saudaraku muslim, dan engkau wahai

peruqyah secara khusus akan terfitnah terhadap wanita, karena sang penasihat yang

terpercaya bersabda : “tidaklah saya tinggalkan untuk ummat setelahku sebuah fitnah yang

lebih berbahaya atas kaum laki-laki daripada fitnah wanita”26

Larangan ketiga : berhati-hati dari minta pertolongan kepada jin dan syaithan, tidak ada di

dalam kalam Allah dan rasulNya, dan perkataan para sahabat beliau yang menunjukkan atas

bolehnya hal tersebut, dan membuka pintu ini sama dengan membuka pintu kejelekan, yang

tidak ada yang mengetahui bahaya yang ditimbulkan kecuali Allah.

Larangan keempat : berhati-hati dari terlalu melapangkan pada perkara bacaan di atas air

dan minyak zaitun dan yang selainnya, karena disana ada yang membaca di atas tempat air

yang besar, dan ada yang membacanya pada drum air

Larangan kelima : berhati-hati dari tertipu dengan banyaknya orang yang ada di sisimu

wahai peruqyah dan ramainya mereka di sekelilingmu, karena bisa saja itu adalah musibah

dari syaithan, agar dia dapat membuat maker kepadamu, dan memperdayakan kamu, dan

orang-orang pun bergantung kepada kamu selain kepada Allah, sedangkan kamu tidak

menyadarinya.

Larangan keenam : berhati-hati dari berbicara tanpa ilmu, seperti memutuskan atas orang

yang sakit bahwa dia terkena sihir atau ada padanya ini dan itu, tanpa meyakini benarnya apa

yang kamu katakan ditinjau dari cara yang disyari’atkan.

Larangan ketujuh : berhati-hati dari menyiksa pasien dengan pukulan yang berlebih-

lebihan, atau dengan setrum listrik, atau menyekik dan yang menyerupainya, dari apa yang

banyak dilakukan oleh para tukang ruqyah, karena kesembuhan orang yang sakit atau

mengeluarkan jin darinya disebabkan bacaan kalam Allah, bukan disebabkan perbuatan-

perbuatan ini





24

Lihat hal : (51).

25

Lihat penjelasan haramnya perkara tersebut, dan perincian dalil-dalil di dalam masalah tersebut : Tabshirul

Basyar Fi Tahrimis Sihir karangan penulis : hal. (20).

26

Hadits riwayat Al-Bukhari di dalam shahihnya, lihat : Fathul Bari (9/14) hadits (5096), dan Muslim di dalam

shahihnya : (4/2097) hadits (2740).

Larangan kedelapan : berhati-hati dari membuat putus asa di dalam hati orang yang sakit,

atau memberikan perasaan bahwa sakitnya tidak mungkin disembuhkan darinya, bahkan

tidak boleh baginya segala perbuatan atau perkataan yang membuat ketergantungan orang

yang sakit kepadanya, atau yang mengharuskan dia selalu kembali datang ke pintunya

beberapa kali.

Larangan kesembilan : menjauhi praktek membaca secara berjamaah, karena dapat

menimbulkan beberapa kerusakan, karena betapa banyak orang yang sakit bertambah

sakitnya, atau bahkan berlipat-lipat, atau tertimpa dengan penyakit-penyakit lainnya,

disebabkan apa yang dia lihat dari keadaan-keadaan yang terjadi di depan matanya, dan Al-

lajnah telah memberikan fatwa tentang larangan perbuatan tersebut, sebagaimana yang akan

datang pada akhir dari pokok bahasan ini.

Larangan kesepuluh : berhati-hati dari sebagian khurafat dan kebohongan yang sebagian

orang menyangka bahwa hal tersebut dapat membantu mengeluarkan jin, seperti

mendatangkan serigala kepada orang yang sakit, atau menjadikan mereka melewati sisinya,

atau mengharuskan setiap orang dari mereka untuk mencium bau kulit serigala atau yang

semisalnya, karena sesungguhnya termasuk perkara-perkara yang diharamkan sebagaimana

Al-Lajnah Ad-Daimah menfatwakan tentang haramnya, yang akan datang sebentar lagi

tentang larangan perbuatan tersebut.

Larangan kesebelas : membaca disela-sela ruqyah dengan menggunakan mikropon atau

lewat telepon bersamaan dengan jauhnya jarak yang ada, dan Al-Lajnah telah memberikan

fatwa sebagaimana akan datang sebentar lagi larangan dari perbuatan tersebut.

Larangan kedua belas : sebagian orang membuat cincin berukuran besar yang dituliskan

padanya ayat-ayat, atau dzikir-dzikir atau doa-doa, yang diantaranya ada yang dikhususkan

untuk sihir, dan ada yang dikhususkan untuk ain, dan ada yang dikhususkan untuk jin, dan

Al-Lajnah Ad-Daimah telah memberikan jawaban akan diharamkannya perbuatan itu,

sebagaimana akan datang pada akhir pokok permasalahan.

Larangan ketiga belas : menyiksa jin dengan api atau membakarnya dengannya maka hal

ini tidak boleh, karena tidaklah yang menyiksa dengan api kecuali rabb api sendiri,

sebagaiamana telah shahih hadits dari nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang hal tersebut.

Larangan keempat belas : menulis kertas yang di dalamnya Al-Qur’an dan dzikir-dzikir,

dan diletakkan pada jasad orang yang sakit hukumnya tidak boleh, karena hal tersebut

termasuk dari bentuk jimat-jimat.



Penutup



Setelah pembahasan dan penulisan pada permasalahan penting maka jelaslah bagi

saya beberapa kesimpulan berikut ini :

1. Bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh untuk seluruh penyakit, penyakit-penyakit

hati maupun penyakit-penyakit badan, moral dan perasaan.

2. Bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh bagi setiap muslim.

3. Penyembuhan Al-Qur’an tidaklah tergantung bacaan salah seorang tertentu, bahkan

dia adalah penyembuh bagi setiap orang dengan dengan bacaan setiap muslim.

4. Bahwa kesembuhan itu dengan sebabkan kalam Allah bukan dengan sebab orang

yang meruqyah.

5. penyembuhan dengan Al-Qur’an adalah ketetapan dari perbuatan rasul shallallahu

alaihi wa sallam, bahkan dia adalah penyembuh dan persetujuan beliau, dan termasuk

perbuatan para sahabat beliau dan para pengikut mereka dengan kebaikan.

6. penyembuhan dengan Al-Qur’an dengan cara pembacaan saja, atau pembacaan

bersama tiupan, atau pembacaan bersama ludah atau pembacaan bersama tiupan dan

pengusapan.

7. penyembuhan dengan Al-Qur’an banyak yang tidak mengetahuinya atau yang

melalaikannya, maka wajib bagi penuntut ilmu untuk menampakkannya, dan mengajak orang

kepadanya.

8. wajibnya beradab dengan adab-adab ruqyah dan berpegang dengan syarat-

syaratnya yang syar’i ketika menyembuhkan dengan Al-Qur’an.

9. berpegang dengan sifat-sifat yang ada di dalam tata cara penyembuhan dengan Al-

Qur’an.

10. disyariatkannya penyembuhan dengan doa-doa nabi yang shahih.

11. disyariatkannya ruqyah dengan menggunakan air.

12. disyaritkannya ruqyah dengan meletakkan salah satu jari di atas tanah, kemudian

diletakkan kepada orang yang sakit.

13. bolehnya menuliskan Al-Qur’an pada kertas-kertas, kemudian dituangkan air

padanya, kemudian diminumkan kepada orang yang sakit, akan tetapi meninggalkan

perbuatan tersebut lebih utama daripada melakukannya.

14. bolehnya mengambil sesuatu dari harta sebagai imbalan ruqyah, akan tetapi

dengan syarat tidak berlebih-lebihan dia perkara tersebut.


Shared by: binmas unhas
Other docs by binmas unhas
Bahjatun Nazhirin Jilid 2
Views: 18  |  Downloads: 0
Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Hujan
Views: 20  |  Downloads: 0
Hidup Bahagia dengan Aqidah yang Benar
Views: 45  |  Downloads: 3
Al-Wajiz
Views: 17  |  Downloads: 0
Penyembuhan dengan Alqur'an
Views: 33  |  Downloads: 3
Bahjatun Nazhirin Jilid 1
Views: 26  |  Downloads: 0
Related docs
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!