Embed
Email

Hubungan serikat dan masalah yang dihadapi pekerja

Document Sample

Shared by: Jerry Makawimbang
Tags
Stats
views:
111
posted:
1/19/2012
language:
pages:
12
Bab I

Pendahuluan





A. Latar Belakang

Pembangunan Nasional dilaksanakan dalam

rangka pembangunan manusia Indonesia

seutuhnya dalam mewujudkan masyarakat

sejahtera, adil, makmur, merata baik materiil

maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD

1945. Dalam menjalankan visi diatas, tenaga kerja mempunyai peranan dan

kedudukan yang sangat penting sebagai salah satu komponen pelaku untuk

mencapai tujuan pembangunan itu. Guna mencapai tujuan pembangunan itu

diperlukan adanya rencana terpadu dan terukur sesuai dengan misinya.Dibidang

peserikatan pekerja (Serikat Pekerja) visi dan misi itu jelas dinyatakan dalam UU

No. 13/2003 yang dituangkan dalam pengertian sebagai berikut : “ Serikat

Pekerja adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik

diperusahaan maupun diluar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri,

demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta

melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan

pekerja/buruh dan keluarganya.”

Dalam pelaksanaan visi dan misi itu, perlu ditetapkan sarana-sarananya secara

jelas dan dapat dilaksanakan secara baik, konsisten, terencana dan terukur. Sistem

hubungan perburuhan terdiri atas tiga bagian—para pekerja, manajemen, dan

serikat pekerja. Pemerintah mempengaruhi interaksi diantara ketiganya. Para

pekerja dapat terdiri dari manajer atau anggota serikat buruh, dan sebagian

anggota serikat pekerja adalah bagian dari sistem manajemen serikat pekerja

(pemimpin serikat pekerja lokal). Setiap hubungan yang terjadi di antara

ketiganya diatur oleh perundang-undangan tertentu. Masing-masing pihak dalam

model hubungan perburuhan diatas biasanya mempunyai tujuan yang berbeda.

Para pekerja lebih mementingkan perbaikan kondisi kerja, upah, dan kesempatan-

kesempatan









1

Setiap manusia selalu membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya. Untuk mendapatkan biaya hidup seseorang perlu bekerja, secara

mandiri atau bekerja kepada orang lain. Pekerja atau buruh adalah seseorang yang

bekerja kepada orang lain dengan mendapatkan upah1. Sedangkan tenaga kerja

berdasarkan ketentuan pasal 1 angka 2 UU no. 13 tahun 2003 adalah setiap orang

yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilan barang dan/atau jasa untuk

memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Jumlah tenaga kerja

yang tersedia di Indonesia tidak seimbang dengan jumlah lapangan kerja yang

tersedia. Terlebih lagi dari sebagian besar tenaga kerja yang tersedia adalah yang

berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama sekali. Mereka kebanyakan

adalah unskillabour, sehingga posisi tawar mereka adalah rendah.

Keadaan ini menimbulkan adanya kecenderungan majikan untuk berbuat

sewenang- wenang kepada pekerja / buruhnya. Buruh dipandang sebagai obyek.

Buruh dianggap sebagai faktor ektern yang berkedudukan sama dengan pelanggan

pemasok atau pelanggan pembeli yang berfungsi menunjang kelangsungan

perusahaan dan bukan faktor intern sebagai bagian yang tidak terpisahkan atau

sebagai unsur konstitutip yang menjadikan perusahaan. Majikan dapat dengan

leluasa untuk menekan pekerja / buruhnya untuk bekerja secara maksimal,

terkadang melebihi kemampuan kerjanya. Misalnya majikan dapat menetapkan

upah hanya maksimal sebanyak upah minimum propinsi yang ada, tanpa melihat

masa kerja dari pekerja itu. Seringkali pekerja dengan masa kerja yang lama

upahnya hanya selisih sedikit lebih besar dari upah pekerja yang masa kerjanya

kurang dari satu tahun. Majikan enggan untuk meningkatkan atau menaikkan upah

pekerja meskipun terjadi peningkatan hasil produksi dengan dalih bahwa takut

diprotes oleh perusahaan – perusahaan lain yang sejenis.

Posisi pekerja yang lemah dapat diantisipasi dengan dibentuknya serikat

pekerja/serikat buruh yang ada di perusahaan . Diharapkan dengan adanya serikat

pekerja di perusahaan dapat mewakili dan menyalurkan aspirasi pekerja, sehingga

dapat dilakukan upaya peningkatan kesejahteraan pekerja. Dengan kata lain

serikat pekerja / buruh diharapkan dapat sebagai wadah pekerja dalam

memperjuangkan haknya. Secara sosiologis kedudukan buruh adalah tidak bebas.

Sebagai orang yang tidak mempunyai bekal hidup lain daripada itu, ia terpaksa







2

bekerja pada orang lain. Dan majikan inilah yang pada dasarnya menentukan

syarat-syarat kerja . Mengingat kedudukan pekerja yang lebih rendah daripada

majikan maka perlu adanya campur tangan pemerintah untuk memberikan

perlindungan hukumnya. Perlindungan hukum menurut Philipus.

Selalu berkaitan dengan kekuasaan. Ada dua kekuasaan yang selalu menjadi

perhatian yakni kekuasaan pemerintah dan kekuasaan ekonomi. Dalam hubungan

dengan kekuasaan pemerintah, permasalahan perlindungan hukum bagi rakyat

(yang diperintah), terhadap pemerintah (yang memerintah). Dalam hubungan

dengan kekuasaan ekonomi, permasalahan perlindungan hukum adalah

perlindungan bagi silemah (ekonomi) terhadap si kuat (ekonomi), misalnya

perlindungan bagi pekerja terhadap pengusaha.

Perlindungan hukum bagi buruh sangat diperlukan mengingat kedudukannya

yang lemah. Disebutkan oleh Zainal Asikin, yaitu : Perlindungan hukum dari

kekuasaan majikan terlaksana apabila peraturan perundang-undangan dalam

bidang perburuhan yang mengharuskan atau memaksa majikan bertindak seperti

dalam perundang-undangan tersebut benar-benar dilaksanakan semua pihak

karena keberlakuan hukum tidak dapat diukur secara yuridis saja, tetapi diukur

secara sosiologis dan filosofis. Bruggink membagi keberlakuan hukum menjadi

tiga, yaitu keberlakuan faktual, keberlakuan normatif dan keberlakuan

evaluatif/material.

Keberlakuan faktual yaitu kaidah dipatuhi oleh para warga masyarakat/ efektif

kaidah diterapkan dan ditegakkan oleh pejabat hukum; keberlakuan normative

yaitu kaidah cocok dalam system hukum herarkis,; keberlakuan evaluatif yaitu

secara empiris kaidah tampak diterima, secara filosofis kaidah memenuhi sifat

mewajibkan karena isinya. Kedudukan buruh yang lemah ini membutuhkan suatu

wadah supaya menjadi kuat. Wadah itu adalah adanya pelaksanaan hak berserikat

di dalam suatu serikat pekerja atau serikat buruh. Tujuan dibentuknya serikat

pekerja/ buruh adalah menyeimbangkan posisi buruh dengan majikan. Melalui

keterwakilan buruh di dalam serikat buruh maka diharapkan aspirasi buruh dapat

sampai kepada majikan. Selain itu melalui wadah serikat pekerja / buruh ini

diharapkan akan terwujud peran serta buruh dalam proses produksi. Hal ini









3

merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hubungan

industrial di tingkat perusahaan.

Keberadaan serikat pekerja saat ini lebih terjamin dengan diundangkannya

Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang serikat pekerja / serikat buruh

(Lembaran Negara Tahun 2000 No. 131, Tambahan Lembaran Negara No. 3898).

Sebelum adanya UU No. 21 Tahun 2000, kedudukan serikat pekerja secara umum

dianggap hanyalah sebagai kepanjangan tangan atau boneka dari majikan, yang

kurang menereskan aspirasi anggotanya. Hal ini karena pada masa Orde Baru

serikat pekerja atau serikat buruh hanya diperbolehkan satu yaitu serikat pekerja

seluruh Indonesia (SPSI). Pada masa Orde Baru itu pulalah muncul suatu serikat

buruh tandingan SPSI yaitu serikat buruh seluruh Indonesia (SBSI) di bawah

Mochtar Pokpohan. Karena tidak dikehendaki oleh pemerintah Soeharto, akhirnya

ia ditahan dan bebas setelah era reformasi.

Pada masa reformasi setelah adanya UU NO. 21 Thaun 2000 dimungkinkan

dibentuk serikat buruh/ pekerja lebih dari satu. Hal ini menyebabkan keberadaan

serikat pekerja/serikat buruh banyak didirikan di satu perusahaan. Sayangnya

karena ketidak siapan buruh melaksanakan hak berserikat dimanfaatkan oleh

oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan bagi kepentingannya sendiri dengan

menjual bangsa. Dikatakan demikian karena berdasarkan UU No. 21 Tahun 2000

diperbolehkan serikat pekerja / buruh itu menerima sumbangan dana dari negara

lain. Sering pula keberadaan serikat pekerja/ buruh yang lebih dari satu jumlahnya

di satu perusahaan justru memicu terjadinya perselisihan perburuhan yang dapat

berakibat mogok kerja yang seharusnya justru bertentangan dengan tujuan

disahkannya UU No. 21 tahun 2000 tersebut.

Dari uraian di atas maka muncul permasalahan bagaimana fungsi serikat

pekerja atau buruh dalam rangka meningkatkan hubungan industrial di tingkat

perusahaan. Hal ini memerlukan suatu kebijaksanaan pemerintah, untukl

menjabarkan ketentuan yang ada di dalam UU no. 21 Tahun 2000 dalam peraturan

pelaksanaannya. Sampai saat ini belum ada peraturan pelaksana dari UU No. 21

Tahun 2000 sehingga untuk mengatasi kekosongan hukum diperlukan banyak

penafsiran hukum diantaranya penafsiran mengenai fungsi serikat pekerja.









4

B. Tujuan Penulisan Makalah

1. Memahami konsep hubungan antara serikat pekerja

2. Mengetahui masalah – masalah yang dihadapi pekerja dala melaksanakan

tugas dan tanggung jawabnya.

3. Mengetahui landasan hukum dan serikeat pekerja.





C. Manfaat Penulisan Makalah

Penulisan makalah in diharapkan akan memberi manfaat secara teoritis dan

praktis sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penulisan ini dapat memperluas khasanah ilmu pengetahuan manajemen

sumber daya manusia khususnya yang mengkaji tentang hubungan serikat

pekerja

b. Hasil penulisan dapat dijadikan informasi ilmiah oleh mereka yang pekrja baik

diperusahaan maupun dipemerintahan

c. Bagi institusi pendidikan, sebagai bahan masukan untuk menambah bahan

pustaka serta meningkatkan pengetahuan dan wawasan mahasiswa serta

pembaca pada umumnya tentang hubungan serikat pekerja.

2. Manfaat praktis

Penulisan ini dapat dijadikan masukan kepada mahasiswa yang umumnya yang

ingin bekerja atau menjadi manejer pada perusahan pribadi yang akan dikelolanya

kelak.









5

Bab II

Pembahasan









A. Konsep Serikat Pekerja

Alinea ketiga dari Pembukaan UUD 1945 yaitu negara melindungi segenap

bangsa dan negara Indonesia. Ketentuan ini dijabarkan lebih lanjut dalam pasal 27

UUD 1945 yaitu setiap warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan

pemerintahan. Setiap warga negara berhak atas penghasilan dan penghidupan

yang layak bagi kemanusiaan. Buruh adalah bagian dari bangsa Indonesia,

sehingga berhak pula untuk dilindungi dan mendapatkan penghidupan yang layak.

Salah satu bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah bagi

buruh adalah adanya jaminan atas kebebasan berserikat dan berkumpul dalam

suatu wadah serikat buruh/pekerja. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul serta

menyampaikan pendapat merupakan hak dasar yang dimiliki oleh warga negara

dari suatu negara hukum demokratis yang berkedaulatan rakyat. Hak-hak yang

dimiliki manusia berdasrkan martabatnya sebagai manusia dan bukan karena

pemberianmasyarakat atau negara disebut hak asasi manusia. Hak asasi manusia

dalam negara hukum tidak dapat dipisahkan dari ketertiban dan keadilan.

Pengakuan atas negara hukum salah satu tujuannya melindungi hak asasi manusia,

berarti hak dan sekaligus kemerdekaan atau kebebasan perorangan diakui,

dihormati dan dijunjung tinggi. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi

manusia mendapat tempat utama dan dapat dikatakan sebagai tujuan dari negara

hukum.

Kebebasan berserikat dan berkumpul termuat dalam konvensi ILO tentang

kebebasan berserikat dan perlindungan hak berorganisasi ,1948 (No. 87) telah

diratifikasi dan dituangkan dalam Keputusan Presiden RI No. 83 Tahun 1998, dan

Konvensi ILO tentang hak berorganisasi dan berunding bersama, 1949 (No. 98)

telah diratifikasi dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 1956. Konvensi No. 87

dimaksudkan secara keseluruhan untuk melindungi kebebasan berserikat terhadap







6

kemungkinan campur tangan pemerintah. Konvensi No. 98 ditujukan untuk

mendorong pengembangan penuh mekanisme perundingan kolektif sukarela.

Perjuangan untuk mendirikan serikat buruh / pekerja yang mandiri untuk

memperjuangkan hak buruh sebenarnya telah ada sejak pemerintahan Hindia

Belanda yaitu sejak abad 19 dan berlansung hingga sekarang. Pada tahun 1979

lahir Nederland Indische Onderwys Genootschap (NIOG) atau serikat pekerja

guru Hindia Belanda. Selanjutnya disusul lahirnya beberapa serikat pekerja seperti

Pos bond, Cultuur Bond, Zuiker Bond, Spoor Bond.

Keberadaan serikat buruh atau pekerja pada masa Orde Baru belum

memenuhi prinsip dasar serikat buruh. Prinsip dasar serikat buruh ada tiga yaitu

kesatuan, mandiri dan demokratis. Prinsip kesatuan yaitu adanya solidaritas

dikalangan buruh bahwa mereka merupakan satu bagian tak terpisahkan dalam

organisasi Prinsip kemandirian maksudnya organisasi buruh harus bebas dari

dominasi kekuatan dari luar buruh, baik itu pemerintah, majikan, partai politik,

organisasi agama atau tokoh-tokoh individual. Prinsip demokratis artinya

mendapat dukungan dan partisipasi penuh para anggotanya

Tiga prinsip dasar serikat buruh itu belum dapat dilaksanakan dengan penuh

pada masa Orde Baru karena serikat buruh yang diakui saat itu hanya ada satu

yaitu serikat buruh seluruh Indonesia (SPSI). Upaya pemerintah selanjutnya untuk

memberikan jaminan kebebasan berserikat dan berkumpul bagi buruh dituangkan

dalam Undang- Undang No. 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja / Buruh

(Lembaran Negara tahun 2000 No.131. Tambahan Lembaran Negara No. 3989).





B. Hubungan Serikat Pekerja Manajemen

Sistem hubungan perburuhan terdiri atas tiga bagian—para pekerja,

manajemen, dan serikat pekerja. Pemerintah mempengaruhi interaksi diantara

ketiganya. Para pekerja dapat terdiri dari manajer atau anggota serikat buruh, dan

sebagian anggota serikat pekerja adalah bagian dari sistem manajemen serikat

pekerja (pemimpin serikat pekerja lokal). Setiap hubungan yang terjadi di antara

ketiganya diatur oleh perundang-undangan tertentu. Masing-masing pihak dalam

model hubungan perburuhan diatas biasanya mempunyai tujuan yang berbeda.

Para pekerja lebih mementingkan perbaikan kondisi kerja, upah, dan kesempatan-







7

kesempatan Pengembangan karir. Manajemen mempunyai tujuan organisasi

secara menyeluruh (misalnya, meningkatnya keuntungan, pangsa pasar, dan

tingkat pertumbuhan) dan juga berusaha melestarikan hak-hak prerogatif

manajerial untuk mengatur tenaga kerja dan mencapai tujuan-tujuan pribadi para

manajer (seperti promosi atau prestasi). Pemerintah berkepentingan dalam

menciptakan kondisi ekonomi yang stabil dan sehat, perlindungan hak-hak

pribadi, dan keamanan serta keadilan dalam melaksanakan pekerjaan.

1. Hubungan yang kurang harmonis

Tujuan para pekerja, serikat pekerja, manajemen, dan pemerintah seringkali

tidak berjalan seiring. Sehingga, sering muncul hubungan yang kurang harmonis,

dimana pekerja dan manajemen berusaha untuk memperoleh potongan yang lebih

besar dari pendapatan yang ada. Secara historis, SP mengambil sikap yang kurang

harmonis dalam interaksinya dengan manajemen. Fokus tuntutannya adalah pada

upah, jam kerja, dan kondisi kerja sebagai usaha untuk memperoleh “lebih banyak

dan lebih baik” dari yang selama ini diterima dari perusahaan. Permasalahan yang

dialami serikat pekerja Serikat pekerja juga adalah organisasi yang komplek,

dengan segala aturan dan struktur yang mereka miliki. Pemimpin/pengurus yang

mereka pilih bisa dengan silih berganti tetapi nilai organisasi tetap sama. Tetapi

perlu diingat! peran pemimpin mengubah organisasi, ini adalah suatu fakta yang

benar. Karena bagaimanapun juga karekteristik paternalistik juga dianut dalam

pola kepimpinan ditempat kita. Anggota berubah karena memiliki pemimpin yang

kuat. Serikat pekerja adalah organisasi yang dibentuk dari oleh dan untuk pekerja

serta dibiayai oleh mereka sendiri. Serikat pekerja adalah organisasi representasi,

organisasi yang mewakili. Artinya, anggota mengambil peranan penting dalam

organisasi dan pergerakkan organisasi serikat pekerja. Dukungan yang mereka

berikan adalah dalam bentuk partisipasi dan kontribusi yang aktif dan luas. Tidak

mudah memang menjadi pemimpin serikat pekerja di Indonesia, karena banyak

tantangan yang tidak hanya datang dari pihak manajemen tetapi juga anggota itu

sendiri. Membangun hubungan industrial ditempat kerja adalah tidak mudah,

terutama nilai-nilai akan hak asasi pekerja, khususnya hak berorganisasi dan

melakukan perundingan, tidak dipahami dengan benar dan baik oleh manajemen

atau oleh pekerja itu sendiri Mereka tidak sadar bahwa hubungan kerja saat ini







8

tidak hanya sekedar majikan – bawahan (master-servant) atau antara manajemen

dan karyawan yang sekedar diupah (dan menjadi “asset” perusahaan!). Pola-pikir

ini jugalah yang sepertinya selalu menjadi hal mendasar kerusakan hubungan

industrial.

2. Union busting (memecah belah)

organisasi dilakukan oleh manajemen dengan segala cara, seperti promosi dan

dipindah tugaskan, naik pangkat untuk menjadi bagian manajemen, dan lainnya.

Dan yang paling parah adalah ketika pekerja atau mantan pengurus melakukan

union busting terhadap organisasinya sendiri! Mereka mau melakukan apa saja

untuk mendapatkan keinginan mereka, serikat pekerja djadikan kendaraan untuk

mencapainya. Mereka berubah dengan cepat menjadi “melawan” organisasi.

Serikat pekerja adalah juga tentang solidaritas, prinsip kesetiakawanan. Rela

berkorban atas nama pribadi untuk orang banyak! Tetapi juga banyak disadari

banyak penumpang gratisan (free rider) yang memanfaatkan kepentingan

organisasi untuk urusan pribadi.

Bicara serikat pekerja adalah bukan mencari kekuasaan, tetapi bagaimana

serikat pekerja telah memberikan hal yang baik bagi pekerjaan dan Seperti

disebutkan diatas bahwa tidak semua pekerja mengetahui bahwa serikat pekerja

adalah hak melekat bagi pekerja, dan bahkan mereka juga tidak percaya bahwa

serikat pekerja membuat mereka menjadi kuat, oleh karena itu banyak sekali

jumlah pekerja yang belum terorganisir dalam serikat pekerja. Hal tersebut

disebabkan oleh isu – isu yang menyedihkan tentang serikat pekerja:

1. Propaganda Anti serikat pekerja (union-busting) oleh pengusaha ataupun

bahkan dari pemerintah sendiri;

2. Potret negatif serikat pekerja dan aktifitasnya;

3. Konsep palsu tentang serikat pekerja yang mengakibatkan keragu–raguan

antar pekerja sehubungan dengan serikat pekerja dan fungsi serta peranannya;





C. Permasalahan serikat pekerja

Secara keseluruhan permasalah timbul oleh karena tindakan yang egois dari

para anggota dan pemimpinnya dimana mereka mempunyai nilai yang rendah









9

pada komitmen dan loyalitas akan idealisme serikat pekerja dan pencapaian tujuan

negara/bangsa.

1. Keanggotaan. Kurangnya keanggotaan adalah salah satu permasalahan serius

yang dihadapi oleh banyak serikat pekerja. Kita memahami bahwa serikat

pekerja dengan total keanggotaan akan memberikan kekuatan yang efektif

dalam proses negosiasi. Serikat pekerja yang hanya memiliki separo atau

bahkan kurang dari separo jumlah keanggotan dalam tempat kerja akan sangat

lemah dan tidak efektif. Dan hal itu perlu dicari cara bagaimana proses

perekrutan anggota dalam rangka menguatkan serikat pekerja.

2. Anggota tidak menghadiri pertemuan organisasi. Kurangnya pengetahuan

dan tidak tertanam dalam pikiran anggota akan pentingnya pertemuan

organisasi mengakibatkan mereka tidak hadir dalam pertemuan. Hal tersebut

bisa diatasi dengan menerbitkan surat kabar, bulletin atau juga bisa dengan

melalui seminar/workshop.

3. Rendahnya pengetahuan antar anggota dan pemimpin serikat pekerja

yang dipilih. Pemimpin serikat pekerja harus terlatih dan trampil dalam

mengatur organisasinya secara efektif, professional dan efisien. Mereka harus

terlatih dan trampil dalam: undang-undang hubungan industrial, peraturan dan

undang – undang ketenagakerjaan, undang-undang serikat pekerja, peraturan

dan undang-undang jaminan social, Konvensi ILO, Prosedur perselisihan

4. Perburuhan, Prosedur penyampaian pengaduan/keluhan, Hak-hak serikat

pekerja dan pekerja dan hal-hal lainnya yang mendukung kemampuannya

dalam memimpin serikat pekerja. Terlengkapinya dengan kemampuan

tersebut memungkinkan mereka untuk lebih percaya diri dan cerdas

membawa setiap keluh kesah anggota pada tempat pengaduan yang tepat dan

mendapat kesuksesan dalam tataran lebih tinggi sehingga penyelesaian

tersebut menjadi efektif.





D. PERAN SERIKAT PEKERJA

Pemecahan permasalahan yang sudah disebutkan, hanya dapat dilakukan

dengan baik bila terjalin hubungan yang baik, terbuka, saling percaya antar

manajemen dan pekerja/Serikat Pekerja.







10

Serikat Pekerja dalam memecahkan persoalan menuju suatu kemajuan dan

peningkatan yang diharapkan, hendaknya menata dan memperkuat dirinya melalui

upaya :

1. Menciptakan tingkat solidaritas yang tinggi dalam satu kesatuan diantara

pekerja dengan pekerja, pekerja dengan Serikat Pekerjanya, pekerja/Serikat

Pekerja dengan manajemen

2. Meyakinkan anggotanya untuk melaksanakan kewajibannya disamping

haknya diorganisasi dan diperusahaan, serta pemupukan dana organisasi

3. Dana Organisasi dibelanjakan berdasarkan program dan anggaran belanja

yang sudah ditetapkan guna kepentingan peningkatan kemampuan dan

pengetahuan pengurus untuk bidang pengetahuan terkait dengan keadaan dan

kebutuhan ditempat bekerja, termasuk pelaksanaan hubungan industrial

4. Sumber Daya Manusia yang baik akan mampu berinteraksi dengan pihak

manajemen secara rasional dan obyektif

Bilamana, paling tidak 4 persyaratan diatas terpenuhi, Serikat Pekerja melalui

wakilnya akan mampu mencari cara terbaik menyampaikan usulan positif guna

kepentingan bersama. Perlu diyakini bahwa tercapainya Hubungan Industrial yang

harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat, hanya akan ada ditingkat

perusahaan. Karenanya social dialogue yang setara, sehat, terbuka, saling percaya

dan dengan visi yang sama guna pertumbuhan perusahaan sangat penting dan

memegang peranan menentukan.









11

Bab III

Penutup









A. Kesimpulan

1. Serikat pekerja adalah organisasi yang dibentuk dari oleh dan untuk pekerja

serta dibiayai oleh mereka sendiri. Serikat pekerja adalah organisasi

representasi, organisasi yang mewakili. Artinya, anggota mengambil peranan

penting dalam organisasi dan pergerakkan organisasi serikat pekerja.

2. Masih banyak serikat pekerja yang hanya berdiri karena keinginan

pemerintah dan pengusaha sebagai maksud untuk “melaksanakan” konvensi

ILO tentang kebebasan berserikat dan berorganisasi

3. Masih adanya larangan bagi pegawai pemerintah untuk mendirikan serikat

pekerja atau bergabung dengan serikat pekerja yang ada. Hal tersebut diatas

mempunyai andil atau peranan dalam mengecilkan arti menjadi anggota

serikat pekerja lebih dari manfaat yang didapat dari menjadi anggota.

Disamping hal itu ada faktor internal atau ekternal yang juga bisa

mempengaruhi kondisi serikat pekerja.

4. Permasalah timbul oleh karena tindakan yang egois dari para anggota dan

pemimpinnya dimana mereka mempunyai nilai yang rendah pada komitmen

dan loyalitas akan idealisme serikat pekerja dan pencapaian tujuan

negara/bangsa.

5. Permasalahan-permasalahan tersebut diatas dapat diminimalisir oleh serikat

pekerja dan bukan menjadi kendala tetapi justru menjadi tantangan bagi

serikat pekerja untuk lebih pro aktif dalam usaha-usaha mewakili kepentingan

pekerja (anggotanya).





B. Saran

1. Perlu perhatian khusus pemeritah terhadap kesejahteraan pekerja

2. Penetapan dan penyesuaian tarif harus melihat kondisi tempat kerja.

3. Manajemen yang baik dalam mengatur serikat pekerja sangat diperlukan.









12


Related docs
Other docs by Jerry Makawim...
Teori Organisasi Klasik
Views: 714  |  Downloads: 6
Study Philosophy of Science
Views: 22  |  Downloads: 0
MOTIVASI DALAM PEKERJAAN
Views: 58  |  Downloads: 0
Pentingnya mengetahui Disiplin Kerja PNS
Views: 454  |  Downloads: 5
K E P E M I M P I N A N
Views: 446  |  Downloads: 4
Pentingnya Kompensasi Bagi Karyawan
Views: 303  |  Downloads: 2
Konsep Populasi dan Sampel
Views: 1661  |  Downloads: 8
Teori Belajar Piaget
Views: 2650  |  Downloads: 59
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!