Embed
Email

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

Document Sample
MITIGASI BENCANA GEOLOGI
Shared by: DJAUHARI NOOR
Categories
Tags
Stats
views:
250
posted:
1/17/2012
language:
pages:
56
MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









1P endahuluan







Proses-proses geologi baik yang bersifat endogenik maupun eksogenik dapat menimbulkan bahaya

bahkan bencana bagi kehidupan manusia. Bencana yang disebabkan oleh proses-proses geologi

disebut dengan bencana geologi. Longsoran Tanah, Erupsi Gunungapi, dan Gempabumi adalah

contoh-contoh dari bahaya geologi yang dapat berdampak pada aktivitas manusia di berbagai

wilayah di muka bumi. Definisi Bencana menurut UU No.24 tahun 2007 adalah peristiwa atau

rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat

yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga

mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan

dampak psikologis.



Berdasarkan catatan, bencana yang diakibatkan oleh bahaya geologi yang terjadi di berbagai

belahan dunia meningkat secara tajam, baik dalam tingkat dan frekuensi kejadiannya dan secara

statistik jumlah korban jiwa dan harta benda juga meningkat. Berdasarkan catatan BAKORNAS,

bencana yang melanda Indonesia dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan yang cukup

signifikan. Selama periode 2003 – 2005 telah terjadi 1.429 bencana, baik yang disebabkan oleh

bencana geologi maupun bencana hidro-meteorologi. Untuk membangun sistem mitigasi bencana

alam (geologi), pertama tama yang harus dilakukan adalah mengkaji dan menganalisa bagaimana

suatu bahaya geologi dapat berubah menjadi bencana dan seberapa besar tingkat probabilitas

daerah yang rentan bahaya geologi terkena bencana geologi serta resiko apa saja yang mungkin

terjadi apabila bencana geologi menimpa daerah tersebut. Bahaya geologi akan berubah menjadi

bencana geologi hanya jika bahaya tersebut mengakibatkan korban jiwa atau kerugian harta benda.



Sebagai contoh jika suatu gempa yang sangat kuat terjadi di daerah yang tidak berpenghuni, maka

gempa tersebut boleh jadi hanya akan menjadi catatan statistik saja bagi para seismolog, akan

tetapi sebaliknya apabila gempa tersebut terjadi di kawasan yang penghuninya sangat padat,

seperti gempa yang terjadi di Bantul, Yogyakarta pada tahun 2006, walaupun kekuatan gempanya

tidak begitu besar namun menyebabkan kerusakan yang sangat luas serta menelan korban jiwa

yang tidak sedikit. Pertanyaannya selanjutnya adalah mengapa hal ini dapat terjadi ? Jawabannya

adalah karena hampir semua bangunan yang ada di wilayah tersebut tidak dirancang sebagai

bangunan tahan gempa, sehingga ketika terjadi gempa, bangunan-bangunan tersebut runtuh yang

mengakibatkan banyak penghuninya menemui ajalnya terkena oleh reruntuhan rumahnya. Oleh

karena itu diperlukan suatu standarisasi bangunan tahan gempa, terutama untuk bangunan-

bangunan yang berada di wilayah wilayah yang rentan terkena bahaya gempabumi, sehingga dapat

menyelamatkan penghuninya ketika terjadi gempabumi. Penerapan strategi pengelolaan resiko

bencana berbasis masyarakat saat ini sudah mulai diterapkan dan program ini didukung oleh

pemerintah, baik dukungan yang berupa bantuan keuangan dan pembangunan kembali rumah

rumah yang rusak melalui standarisasi bangunan tahan gempa.



Bahaya geologi yang berada di muka bumi pada hakekatnya merupakan hasil dari proses-proses

geologi, baik yang bersifat endogenik maupun eksogenik dimana proses proses tersebut tidak bisa

dikendalikan oleh manusia. Dalam beberapa kasus, tingkat kerusakan relatif terhadap jumlah

korban dan kerugian harta benda dapat dipakai sebagai pembanding antara skala bencana dan

resiko bencana yang terjadi di suatu wilayah. Manusia dapat juga menjadi faktor penyebab yang

merubah bahaya geologi menjadi bencana geologi serta menjadi faktor penentu dari tingkat





1 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





kerusakan suatu bencana, seperti misalnya pertumbuhan penduduk yang tinggi, kemiskinan,

degradasi lingkungan, dan kurangnya informasi. Meskipun ke-empat faktor tersebut dianggap

sebagai faktor yang saling berpengaruh satu dan lainnya serta ke-empat faktor tersebut sulit

dipisahkan mana yang paling dominan berpengaruh terhadap tingkat kerusakan suatu bencana.



Kerentanan terhadap bencana geologi di suatu wilayah akan semakin besar seiring dengan

meningkatnya pertumbuhan penduduk dan menjadi salah satu faktor utama dari penyebab bencana

geologi. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi secara langsung akan berdampak pada

tingginya tingkat pembangunan infrastruktur. Apabila tidak ada upaya upaya untuk mencegah

bahaya geologi yang mungkin terjadi, maka apabila bencana geologi benar-benar terjadi di kawasan

tersebut maka sudah barang tentu akan memakan korban serta kerugian harta benda yang tinggi

pula. Dibeberapa kawasan yang konsentrasi penduduknya tinggi, meskipun sudah menpunyai

sistem peringatan dini untuk suatu bahaya geologi tertentu, namun untuk menyebarkan informasi

dan peringatan ke setiap orang di seluruh kawasan tersebut tidak dimungkinkan, sehingga sangat

memungkinkan setiap orang bertindak dan merespon suatu peringatan bahaya sesuai dengan

persepsinya masing-masing. Dan hal ini akan menimbulkan kepanikan dan kekacauan di masyarakat

yang pada akhirnya dapat menimbulkan korban jiwa yang lebih besar.



1.1. Bencana Alam Di Indonesia



Indonesia adalah negara yang rentan terhadap bencana alam, apakah itu bencana yang berasal dari

peristiwa alamiah maupun bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Beberapa penyebab

bencana erat kaitannya dengan kondisi geografi, geologi, iklim atau faktor-faktor lainnya.



1.1.1. Faktor Faktor Penyebab Bencana Alam.



Bencana alam dapat disebabkan oleh peristiwa alamiah ataupun akibat dari aktifitas manusia.

Berikut ini adalah interaksi antara faktor-faktor yang berperan pada terjadinya bencana:



1. Faktor alamiah, meliputi kondisi geografi, geologi, hidro-meteorologi, biologi, dan degradasi

lingkungan.

2. Komunitas yang padat, infrastruktur dan elemen-elemen dalam wilayah / kota yang berada

di kawasan yang rawan bencana.

3. Rendahnya kapasitas dari elemen-elemen masyarakat



Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada pada pertemuan 4 lempeng

tektonik, yaitu lempeng Asia, lempeng Australia, lempeng Samudra India, dan lempeng Samudra

Pasifik. Di Indonesia bagian selatan dan timur terbentang rangkaian busur gunungapi, yang

tersebar mulai dari Sumatra-Jawa-NusaTenggara-Sulawesi. Sebagian besar kepulauan Indonesia

ditempati oleh jalur gunungapi dan dataran rendah sedangkan sisanya ditempati oleh daratan rawa.

Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang rawan dan berpotensi terkena bencana,

seperti rawan terkena letusan gunungapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan longsor. Berdasarkan

data bahwa Indonesia memiliki tingkat seismisitas yang sangat tinggi diantara negara-negara di

dunia, dengan frekuensi rata-rata lebih dari 10 kali lipat dibandingkan dengan Amerika Serikat

(Arnold, 1986).



Pergerakan lempeng bumi memicu terjadinya gempabumi yang apabila terjadi dibawah laut

seringkali menghasilkan gelombang pasang. Kecenderungan yang tinggi terhadap pergerakan

lempeng tektonik, Indonesia sudah sering terkena bencana tsunami. Hampir semua tsunami di

Indonesia disebabkan oleh gempabumi tektonik yang terjadi disepanjang zona tumbukan (subduksi)

dan di daerah daerah yang seismisitasnya aktif. Sejak tahun 1600 hingga tahun 2000 telah terjadi

105 kali tsunami di Indonesia, 90% tsunami tersebut disebabkan oleh gempabumi tektonik, 9 %

disebabkan oleh letusan gunungapi, dan 1 % oleh longsoran. Kawasan pantai /pesisir di Indonesia

umumnya rawan terhadap tsunami. Daerah daerah seperti pantai barat Sumatra, pantai selatan

Jawa, pantai utara dan selatan Nusa Tenggara, kepulauan Maluku, pantai utara Papua dan sebagian

besar pesisir Sulawesi, serta laut Maluku merupakan daerah yang sangat rawan terkena tsunami.





2 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





Antara tahun 1600 hingga tahun 2000, sudah terjadi 32 kali tsunami, dimana 28 kali disebabkan

oleh gempabumi dan 4 kali disebabkan oleh letusan gunungapi bawah laut.



Keberadaan Indonesia yang terletak di daerah yang beriklim tropis dan hanya mengenal 2 musim,

yaitu musim kemarau dan penghujan serta perubahan cuaca, temperatur, arah angin yang cukup

ekstrim menyebabkan Indonesia sangat rentan terkena bencana geologi. Perpaduan antara keadaan

bentangalam dan jenis bebatuan yang ada dimana secara fisik dan kimiawi berbeda menjadikan

kondisi tanah di Indonesia cukup subur disamping berpotensi dan rawan terkena bencana hidro-

meteorologi, seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan meningkatnya

aktifitas manusia, kerusakan lingkungan juga semakin bertambah luas dan pada akhirnya dapat

menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologi dengan frekuensi dan intensitas yang

semakin tinggi di beberapa wilayah di Indonesia. Sebagai contoh bencana banjir dan tanah longsor

yang terjadi di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa tempat lainnya pada

tahun 2006.



Meskipun ada usaha usaha dalam meminimalkan terjadinya degradasi lingkungan, proses

pembangunan di indonesia juga telah mengakibatkan rusaknya ekologi dan lingkungan hidup.

Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia sejauh ini hanya terfokus pada eksploitasi

sumberdaya alam (terutama dalam skala besar) untuk kelangsungan hidup manusia Indonesia.

Sumberdaya hutan Indonesia menurun dari tahun ke tahun, sedangkan penambangan sumberdaya

mineral telah menyebabkan rusaknya ekosistem dan struktur tanah serta meningkatkan resiko

terkena bencana.



1.1.2. Jenis Bencana Alam Yang Sering Terjadi Di Indonesia



Berdasarkan catatan BAKORNAS, bencana yang melanda Indonesia dari tahun ke tahun

menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Selama periode 2003 – 2005 telah terjadi 1.429

bencana, baik yang disebabkan oleh bencana geologi maupun bencana yang berasal dari bencana

hidro-meteorologi.

Berdasarkan jenis bencananya, bencana banjir menempati urutan pertama, yaitu sebesar 34,1 %

diikuti oleh bencana tanah longsor sebesar 16 %, sedangkan bencana geologi (gempabumi, tsunami

dan letusan gunungapi) menempati 6,4 %. Meskipun bencana geologi hanya menempati urutan

ketiga dari seluruh bencana yang terjadi pada periode tersebut, namun tingkat kerusakan dan

besarnya kerugian yang disebabkan oleh bencana geologi tersebut sangat tinggi. Berdasarkan

catatan, tingkat kerusakan dan kerugian yang terjadi oleh kombinasi antara bencana gempabumi

dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara pada 26 Desember 2004 serta

gempabumi di Nias, Sumatra Utara pada tanggal 28 Maret 2005 merupakan bencana yang paling

dahsyat sepanjang sejarah Indonesia.



1. Gempabumi dan Tsunami



Gempabumi relatif sering terjadi di Indonesia dan umumnya disebabkan oleh pergerakan lempeng

lempeng tektonik dan letusan gunungapi. Pergerakan lempeng tektonik yang terjadi disepanjang

pantai barat pulau Sumatra merupakan tempat pertemuan lempeng Asia dan lempeng Samudra

India sedangkan di pantai selatan pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara merupakan tempat

pertemuan lempeng Australia dan lempeng Asia. Sulawesi dan Maluku sebagai tempat pertemuan

lempeng Asia dan lempeng Samudra Pasifik. Pusat pertemuan antar lempeng tersebut menjadikan

Indonesia sebagai daerah yang sering dilanda gempabumi dengan ribuan episenter yang tersebar

disepanjang pertemuan lempeng. Gempabumi bawah laut merupakan pemicu terjadinya tsunami,

terutama gempabumi yang terjadi di bawah laut yang diikuti oleh deformasi lantai samudra, seperti

yang terjadi di pantai barat Sumatra dan pantai utara Papua. Letusan Gunungapi juga dapat

menimbulkan tsunami seperti yang terjadi pada Gunung Krakatau di Selat Sunda pada tahun 1883.



Bencana gempabumi dan tsunami umumnya berdampak pada hilanganya harta benda dan korban

jiwa dan untuk merehabilitasi dan rekontruksinya dibutuhkan waktu yang cukup lama. Waktu yang

diperlukan untuk membangun kembali infrastruktur dan bangunan yang rusak akibat bencana tidak

dapat secara langsung dilakukan namun memerlukan waktu hingga bertahun tahun. Dalam sejarah



3 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





modern kehidupan manusia, bencana tsunami sangat merusak dan berdampak sangat luas serta

memakan korban jiwa dan harta benda adalah tsunami yang terjadi pada tanggal 26 desember

2004 di samudra India sebagai akibat dari gempabumi berskala 8.9 Richter yang berpusat di dekat

pulau Simeulue, provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Tsunami ini telah merusak kota Banda Aceh,

Pantai Barat Aceh dan Nias. Bencana juga menghantam negara-negara disepanjang Samudra India

termasuk Thailand, Malaysia, Andaman dan Nicobar, Sri Langka hingga ke pantai timur Afrika.

Berdasarkan catatan lebih dari 165.862 jiwa manusia menjadi korban dalam peristiwa ini dan

37.066 orang dinyatakan hilang. Total kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 41 triliun rupiah

diluar dari kerugian yang diakibatkan oleh terganggunya kegiatan ekonomi dan produksi.



Hanya 3 bulan setelah gempabumi Aceh terjadi lagi gempabumi yang sangat kuat yang

menghantam pulau Nias pada tanggal 28 Maret 2005. Pusat gempabumi ini berada didasar laut

disekitar kepulauan Nias dengan magnitud 8,2 skala Richter. Meskipun tidak memicu terjadinya

tsunami, gempa Nias menyebabkan kerusakan yang cukup luas, terutama di kepulauan Nias dan

Nias Selatan yang berada di propinsi Sumatra Utara serta wilayah Simeulue di Aceh. Jumlah korban

jiwa yang tercatat sebanyak 915 jiwa dengan tingkat kerusakan yang cukup berat di seluruh

kepulauan Nias. Pada tanggal 27 Mei 2006 terjadi lagi gempabumi dengan magnitude 5,9 skala

Richter yang berpusat di selatan Yogyakarta, tepatnya kabupaten Bantul, Daerah Istimewa

Yogyakarta. Gempabumi ini telah menelan korban sebanyak 5.749 jiwa, 38.568 luka-luka dan

ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggalnya. Total kerugian ekonomi diperkirakan mencapai

29,2 triliun rupiah.



2. Letusan Gunungapi



Di Indonesia terdapat 129 gunungapi aktif dan 500 gunungapi tidak aktif. Dari 129 gunungapi aktif

atau 13 persen dari jumlah gunungapi aktif di dunia ada di Indonesia dan 70 persen eruptif dan 15

dalam kondisi kritis. Persebaran gunungapi di Indonesia membentuk satu jalur yang berupa garis

mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sebelum membelok ke arah utara, kearah laut

Banda dan Sulawesi bagian utara. Panjang jalur gunungapi kurang lebih 7000 kilometer yang terdiri

dari gunungapi dengan karakteristik campuran. Saat ini lebih dari 10 persen penduduk Indonesia

mendiami wilayah wilayah yang rentan terhadap letusan gunungapi. Selama lebih dari 100 tahun,

sudah 175.000 jiwa telah menjadi korban dari letusan gunungapi.



Indonesia yang berada pada zona beriklim tropis dengan musim kemarau dan penghujan telah

berpengalaman menghadapi ancaman bencana longsoran dari material piroklastik yang berasal dari

hasil erupsi gunungapi, seperti aliran lahar atau perpindahan material gunungapi (piroklastik) yang

berbahaya. Gunung Merapi adalah salah satu gunungapi sangat aktif di dunia. Gunungapi ini

menunjukkan erupsi menghasilkan awan panas piroklastik dan longsoran kubah lava. Luncuran

kubah lava yang terjadi secara berulang-ulang sepanjang periode erupsi dan dapat memakan waktu

hingga berbulan bulan. Sebagai gambaran, dari 13 Mei hingga 21 Juni 2006, gunung Merapi

ditetapkan dalam kondisi Siaga namun demikian tidak menunjukkan tanda tanda penurunan

aktivitasnya. Semburan material piroklastik mencapai ratusan kali dengan radius hingga mencapai 6

kilometer yang membahayakan pemukiman penduduk, terutama di wilayah kabupaten Sleman,

Daerah Istimewa Yogyakarta, Klaten, dan Magelang di wilayah Jawa Tengah. Lebih dari 17.212 jiwa

telah diungsikan sementara dan 2 orang meninggal dikarenakan terperangkap di lubang

perlindungan yang berada di Kaliadem, Cangkringan, Sleman. (Data Bakornas pada 15 Juni 2006).



3. Banjir



Banjir merupakan kejadian yang selalu berulang setiap tahunnya di Indonesia, tercatat bahwa

kebanyakan terjadi pada musim penghujan. Berdasarkan sudut pandang morfologi, banjir terjadi di

negara negara yang mempunyai bentuk bentangalam yang sangat bervariasi dengan sungai nya

yang banyak. Banjir di Indonesia umumnya terjadi di Indonesia bagian barat, karena tingkat curah

hujan yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur. Pertumbuhan

penduduk di Indonesia dan kebutuhan ruang sebagai tempat untuk mengakomodasi kehidupan

manusia dan mendukung aktivitasnya secara tidak langsung telah berperan terjadinya banjir.

Penebangan hutan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang telah meningkatkan



4 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





sedimentasi di sungai-sungai, tidak terkendalinya air permukaan dan tanah menjadi jenuh air. Hal

ini yang memungkinkan air permukaan menjangkau kawasan yang lebih luas yang pada akhirnya

menjadi penyebab banjir bandang seperti yang terjadi pada tahun 2003 di wilayah Bahorok dan

Langkat, Sumatra Utara dan di wilayah Ayah, Jawa Tengah.



Dalam tahun 2006 bencana banjir yang melanda beberapa wilayah, termasuk bencana banjir

bandang dan tanah longsor. Di Jember, Jawa Timur akibat banjir bandang dan tanah longsor telah

menelan korban sebanyak 92 orang meninggal dan 8.861 hanyut, sedangkan di Trenggalek 18

orang meninggal. Banjir bandang yang disertai dengan tanah longsor terjadi juga di Manado,

Sulawesi Utara yang memakan korban sebanyak 27 jiwa dan 30.000 hanyut. Bencana yang sama

terjadi juga di Sulawesi Selatan pada bulan Juni 2006. Lebih dari 200 orang meninggal dunia dan

puluhan lainnya hilang (Data Provinsi dari BAKORNAS, 23 Juni 2006).



4. Tanah Longsor



Di Indonesia peristiwa tanah longsor sering kali terjadi, terutama di tempat tempat yang berlereng

terjal. Peristiwa tanah longsor umumnya dipicu oleh curah hujan yang sangat tinggi. Berdasarkan

data, daerah daerah yang diduga rentan terhadap tanah longsor adalah kawasan pegunungan Bukit

Barisan di Sumatra, kawasan pegunungan di Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Tanah longsor

yang yang sangat fatal juga terjadi di lokasi pemboran dan penggalian yang terjadi di daerah

pertambangan. Tanah longsor juga terjadi setiap tahun, terutama di tempat tempat yang lahannya

tidak stabil seperti di Jawa Tengah dan Jawa Barat.



Hampir semua lahan di daerah tropis merupakan daerah yang rentan terhadap tanah longsor

karena tingkat pelapukan yang tinggi yang menyebabkan komposisi tanah didominasi oleh lapisan

material lepas. Di Indonesia, kestabilan lahan sangat besar peranannya sebagai zonasi penyangga

kerusakan. Penebangan hutan yang sangat ektensif di zona penyangga telah meningkatkan potensi

terjadinya tanah longsor. Sebagai contoh di Jawa Barat tercatat pada tahun 1990, sebanyak

791.519 Ha areal hutan telah mengalami penurunan menjadi 323.802 Ha pada tahun 2002. Hal ini

memungkinkan bahwa potensi tanah longsor diperkirakan terjadi di daerah ini. Tanah longsor yang

terjadi di Banjarnegara, Jawa Tengah pada awal 2006 telah merenggut 76 jiwa, dan 44 jiwa

dilaporkan hilang karena tertimbun longsoran tanah. Kerugian lainnya termasuk kerusakan yang

cukup parah pada 104 rumah penduduk dan rusaknya tanaman padi.



5. Kekeringan



Apabila peristiwa banjir dan tanah longsor terjadi pada musim penghujan, maka kekeringan pada

umumnya terjadi dimusim kemarau. Bencana kekeringan sudah menjadi permasalahan yang serius

ketika berdampak pada produksi tanaman pangan di suatu daerah, seperti yang terjadi di

Bojonegoro dengan 1000 ha sawah mengalami gagal panen ketika sistem irigasi tidak berfungsi

karena musim kemarau. Kasus yang sama juga terjadi di pantai Jawa bagian Utara, ketika

kekeringan melanda 12.985 ha. penghasil tanaman pangan di wilayah tersebut.



Saat ini bencana kekeringan juga berdampak pada pasokan energi listrik, hal ini disebabkan oleh

turunnya produksi listrik yang berasal dari PLTA. Perununan pasokan energi listrik yang berasal dari

PLTA akan mengganggu sistem jaringan interkoneksi kelistrikan di wilayah Jawa dan Bali.

Kekeringan yang melanda Indonesia, terutama terjadi pada musim kemarau yang berkepanjangan,

khususnya di Indonesia bagian timur seperti NTB, NTT dan beberapa daerah di Sulawesi,

Kalimantan dan Papua. Kekeringan juga dapat memicu penyebaran penyakit penyakit tropis seperti

malaria dan demam berdarah.





1.2. Respon Manusia Terhadap Bencana



Untuk dapat hidup secara aman dan nyaman selaras dengan perubahan yang terjadi dimuka bumi,

maka kita harus dapat memahami lingkungan alam dan kecepatan perubahan yang terjadi di bumi

serta mampu menyesuaikan diri dari karakteristik perubahan alam tersebut. Berkaitan dengan reaksi



5 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





manusia terhadap bencana alam yang mungkin terjadi di lingkungan dimana manusia itu tinggal

adalah antara lain :



1. Menghindar (Avoidance). Reaksi manusia terhadap potensi bencana alam yang paling

banyak adalah dengan cara menghindar, yaitu dengan cara tidak membangun dan

menempatkan bangunan di tempat-tempat yang berpotensi terkena bencana alam seperti

daerah banjir, daerah rawan longsor atau daerah rawan gempa.



2. Stabilisasi (Stabilization). Beberapa bencana alam dapat diseimbangkan dengan

menerapkan rekayasa keteknikan, seperti misalnya di daerah-daerah yang berlereng dan

berpotensi longsor, yaitu dengan cara membuat kemiringan lereng menjadi landai dan stabil

sehingga kemungkinan longsor menjadi kecil, atau bangunan yang akan didirikan

menggunakan pondasi tiang pancang sampai ke bagian lapisan tanah yang stabil.



3. Penetapan Persyaratan Keselamatan Struktur Bangunan (Provision for safety in

structures). Dalam banyak kasus bangunan yang akan didirikan di tempat-tempat yang

berpotensi terjadi bencana alam seperti gempa bumi, maka struktur bangunan harus

dirancang dengan memperhitungkan keselamatan jiwa manusia, yaitu dengan bangunan

yang tahan gempa. Untuk daerah-daerah yang berpotensi terkena banjir, maka bangunan

harus dibuat dengan struktur panggung guna menghindari terpaan air.



4. Mengurangi dan membatasi penggunaan lahan (Limitation of land-use and

occupancy). Jenis peruntukan lahan, seperti lahan pertanian atau lahan pemukiman dapat

dilakukan dengan cara membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan potensi

bencana yang mungkin timbul. Penempatan jumlah jiwa per hektar dapat disesuaikan untuk

mengurangi tingkat bencana.



5. Membangun Sistem Peringatan Dini (Establishment of early warning system).

Beberapa bencana alam dapat diprediksi, sehingga memungkinkan tindakan darurat

dilakukan. Banjir, Angin Puyuh, Gelombang Laut, serta Erupsi Gunungapi adalah beberapa

jenis bencana alam yang dapat diprediksikan. Sistem Peringatan Dini telah terbukti efektif

dalam mencegah dan meminimalkan bencana yang akan terjadi di suatu daerah, seperti

banjir dan gelombang laut di daerah-daerah pantai.



Dimanakah tempat yang baik dan aman bagi aktifitas manusia? Barangkali yang paling mudah dan

kecil resikonya adalah dengan cara menghindar dari lokasi-lokasi yang rawan bencana. Dalam

kenyataannya kebanyakan komunitas manusia bertempat tinggal pada lingkungan yang rawan

bencana. Dengan demikian untuk meminimalkan dampak bencana geologi yang mungkin melanda

di tempat dimana manusia berdomisili adalah cara nomor 2 sampai nomor 5 diatas. Tingkat

keselamatan yang ingin dicapai dalam menghadapi bencana geologi seringkali merupakan fungsi

dari nilai investasi yang dibelanjakan untuk mencegah bencana tersebut.



Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa besar biaya yang harus disediakan untuk

mencegah suatu bencana geologi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka harus ada suatu

keputusan tentang tingkat resiko yang akan terjadi dan ikut terlibat di dalamnya. Sebagai contoh

adalah resiko penggunaan dan pemanfaatan lahan pemukiman yang berada di kawasan dataran

banjir dapat dikurangi menjadi nol, apabila semua kontruksi bangunan dan aktivitas manusia yang

berada di wilayah tersebut terlindungi. Akan tetapi pada kenyataannya, biaya produktivitas serta

ruang dimana manusia beraktivitas apabila dihitung akan sangat mahal dan bahkan tidak mungkin

dikonversi kedalam nilai rupiah. Oleh karena itu resiko banjir yang hanya terjadi seratus tahun satu

kali barangkali merupakan tingkat resiko yang dapat diterima untuk kasus diatas.



Tingkat resiko yang dapat diterima adalah tingkat resiko yang harus memperhitungkan semua

aspek secara rinci dan biasanya hanya untuk beberapa jenis bencana saja. Walaupun perhitungan

secara tepat sangat sulit dilakukan, akan tetapi perhitungan suatu resiko sangat erat kaitannya

dengan pengambilan keputusan. Pertanyaan yang sama dapat kita ajukan untuk tempat-tempat

dimana gempabumi sering melanda di suatu daerah yaitu: Berapa banyak dana tambahan yang



6 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





harus disediakan dan dikeluarkan untuk membangun suatu konstruksi bangunan yang akan

didirikan di lokasi yang tingkat kegempaannya sangat tinggi, walaupun frekuensi kejadian

gempabuminya sangat jarang terjadi? Tingkat resiko yang dapat diterima adalah tingkat resiko yang

harus sudah mempertimbangkan secara sistematis untuk beberapa tipe bencana saja.



Meskipun perhitungan secara akurat tidak mungkin dilakukan, akan tetapi suatu penilaian umum

dari resiko harus dituangkan dalam suatu keputusan dan harus mendapat pertimbangan dari suatu

badan/ lembaga yang berwenang. Oleh karena itu biasanya perhitungan suatu resiko bencana

dilakukan oleh suatu lembaga pembuat keputusan dan dalam hal ini dapat juga dilakukan oleh

suatu perusahaan asuransi yang memang bergerak dalam bidang pertanggungan asuransi bencana

alam.





1.3. Pengertian Mitigasi



Berdasarkan Undang-undang No 24 Tahun 2007, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 9

(PP No 21 Tahun 2008, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 6, pengertian mitigasi adalah

serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun

penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.



Adapun mitigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf c dilakukan untuk mengurangi risiko

bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana. (UU No 24 Tahun 2007 Pasal

47 ayat (1). Mitigasi bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c dilakukan untuk

mengurangi risiko dan dampak yang diakibatkan oleh bencana terhadap masyarakat yang berada

pada kawasan rawan bencana. (PP No 21 Tahun 2008 Pasal 20 ayat (1)



Secara umum pengertian mitigasi adalah pengurangan, pencegahan atau bisa dikatakan sebagai

proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif bencana

yang akan terjadi. Pengertian dari Mitigasi Bencana Geologi (Geological Hazard Mitigation) adalah

pengurangan, pencegahan atau proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk

meminimalisasi dampak negatif terhadap bencana alam geologi.





1.4. Sistem Penanggulangan Bencana



Undang-undang no. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana merupakan landasan bagi

sistem nasional penanggulangan bencana yang terdiri atas:



1. Legislasi

2. Kelembagaan

3. Perencanaan

4. Pendanaan

5. Ilmu Penegtahuan dan Teknologi

6. Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana



1.5. Pengelolaan Resiko Bencana (Disaster Risk Management)



Pengelolaan resiko bencana pada dasarnya adalah suatu upaya yang ditujukan untuk meminimalkan

resiko yang mungkin terjadi serta melakukan upaya-upaya pencegahan (mitigasi) di wilayah yang

rentan terkena bencana. Pengelolaan resiko bencana merupakan istilah yang umum dipakai dalam

penilaian resiko, pencegahan bencana, mitigasi bencana, dan persiapan menghadapi bencana.



Beberapa istilah yang sering dipakai dalam pembahasan pengelolaan resiko bencana antara lain

adalah Bahaya (Hazard), Bencana (Disaster), Kerentanan (Vulnerability), Resiko Bencana (Disaster

Risk), Penilaian Resiko / Analisa Resiko (Risk Assessment/Risk Analysis), Pencegahan Bencana dan





7 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





Mitigasi (Disaster Prevention and Mitigation), Kewaspadaan Terhadap Bencana (Disaster

Preparedness). Adapun pengertian dari istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut :



Bahaya (Hazard) adalah suatu ancaman yang berasal dari peristiwa alam yang bersifat ekstrim

yang dapat berakibat buruk atau keadaan yang tidak menyenangkan. Tingkat ancaman ditentukan

oleh probabilitas dari lamanya waktu kejadian (periode waktu), tempat (lokasi), dan sifatnya saat

peristiwa itu terjadi. Bahaya alam (Natural hazard) adalah probabilitas potensi kerusakan yang

mungkin terjadi dari fenomena alam di suatu area / wilayah.



Bencana (Disaster) merupakan fungsi dari kondisi yang tidak normal yang terjadi pada

masyarakat dan mempunyai kecenderungan kehilangan kehidupannya, harta benda dan lingkungan

sumberdayanya, serta kondisi dimana masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk keluar dari

dampak / akibat yang ditimbulkannya.



Kerentanan/kerawanan (Vulnerability) dapat diartikan sebagai ketidakmampuan menangkal

/menahan dampak dari kejadian/peristiwa alam yang berasal dari luar atau kecenderungan dari

sekumpulan masyarakat terkena atau mengalami kerusakan, masalah dan sebab akibat sebagai

hasil dari suatu bahaya.



Resiko Bencana (Disaster Risk) adalah tingkat kerusakan dan kerugian yang sudah

diperhitungkan dari suatu kejadian atau peristiwa alam. Resiko Bencana ditentukan atas dasar

perkalian antara faktor bahaya dan faktor kerentanannya. Yang termasuk bahaya disini adalah

probabilitas dan besaran yang dapat diantisipasi pada peristiwa alam; sedangkan

kerentanan/kerawanan dipengaruhi oleh faktor politik, ekonomi, sosial budaya dan geografis.

Berikut ini adalah rumusan yang dipakai secara luas untuk menghitung resiko bencana yang

merupakan perkalian 2 faktor, yaitu:



Resiko (Risk) = Bahaya (Hazard) x Kerentanan (Vulnerability)



Pengelolaan resiko bencana (Disaster risk management) secara teknis terdiri dari tindakan

(program, proyek dan atau prosedur) serta pengadaan peralatan yang dipersiapkan untuk

menghadapi dampak atau akibat dari suatu bencana sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan,

yaitu untuk mengurangi resiko bencana yang ditimbulkannya. Secara operasional, pengelolaan

resiko bencana adalah kegiatan yang terdiri dari penilaian resiko, pencegahan bencana, mitigasi dan

waspada bencana.



Penilaian Resiko atau Analisa Resiko adalah survei yang dilakukan terhadap bahaya yang baru

terjadi yang disebabkan oleh suatu peristiwa alam yang ekstrim seperti yang terjadi juga pada

kerentanan lokal dari populasi yang didasari atas kehidupan untuk memastikan resiko tertentu di

wilayah. Berdasarkan informasi ini resiko bencana dapat dikurangi.



Kapasitas adalah kebijakan dan sistem kelembagaan yang dimiliki oleh pemerintah pusat maupun

daerah dalam upaya mengurangi potensi kerusakan akibat bencana serta mengurangi kerentanan

terhadap bencana. Bencana alam yang disebabkan oleh gempabumi, angin topan, banjir, tanah

longsor dan kekeringan seringkali mengingatkan pada kita tentang bencana akan benar-benar

terjadi. Resiko bencana sebagai hasil dari frekuensi dan kondisi yang rentan dapat berubah menjadi

suatu bencana. Resiko bencana adalah hasil dari tingkat kejadian, intensitas bahaya dan sistem

kehidupan yang sangat rentan. Peran dari sistem sosial dalam arti kepedulian masyarakat dan

sistem pengelolaan memungkinkan merubah sifat kerentanan terhadap bahaya dan mengurangi

tingkat kerawanan melalui intervensi yang sistematik.



Pencegahan Bencana dan Mitigasi



Adalah aktivitas / kegiatan dalam rangka mencegah dan memitigasi dampak yang sangat buruk dari

peristiwa alam yang sangat ekstrim yang dilakukan untuk periode jangka menengah dan jangka

panjang. Dari sudut pandang politik, hukum, administrasi, dan infrastruktur, pencegahan bencana

merupakan salah satu ukuran untuk menyatakan kondisi /situasi bahaya dan disisi lain melibatkan





8 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





gaya hidup dan karakter dari penduduk/masyarakat yang tinggal di daerah yang rentan untuk dapat

mengurangi resiko bencana yang mungkin dapat menimpanya.



Kewaspadaan Terhadap Bencana



Kewaspadaan terhadap bencana adalah suatu ukuran yang mencakup kegiatan evakuasi yang dapat

dilakukan secara cepat dan efektif dalam usaha penyelamatan nyawa manusia, mitigasi terhadap

hilang dan rusaknya harta benda serta penyediaan bantuan darurat. Kewaspadaan terhadap

bencana dalam arti yang lebih luas adalah suatu usaha dalam menyediakan sistem peringatan dini,

kemampuan dalam meng-koordinasi dan meng-operasikan, perencanaan kondisi darurat,

menyalurkan bantuan dalam keadaan darurat dan pelatihan.





1.6. Kegiatan Pengelolaan Resiko Bencana



1. Penilaian Resiko



a. Melakukan pendataan bencana yang pernah terjadi dimasa lalu termasuk pendataan

terhadap kejadian/peristiwa bencana yang besar yang pernah terjadi

b. Mengkaji secara terukur bencana yang disebabkan oleh hidro-meteorologi dan geologi,

termasuk penyebab bencana

c. Mendata jumlah penduduk (populasi penduduk) yang berada di areal yang beresiko tinggi

terkena bencana atau areal yang paling bahaya.

d. Melakukan persiapan dan memperbaharui (updating) peta-peta bencana dan area yang

sangat berbahaya.



2. Pencegahan dan Mitigasi Bencana



a. Menetapkan dan memperkuat pembangunan regional dan perencanaan tataguna lahan,

perencanaan pengawasan bangunan yang sesuai dengan zonasi bahaya dan peraturan

bangunan.

b. Melaksanakan pelatihan bagi masyarakat dan perwaklian kelembagaan

c. Membangun dan meningkatkan kemampuan pengelolaan resiko bencana di tingkat lokal

dan nasional

d. Pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan (seperti misalnya pengelolaan Daerah Aliran

Sungai), meningkatkan infrastruktur (bendungan, saluran air, bangunan yang mampu

menahan suatu bencana).



3. Kesiapan Menghadapi Bencana



a. Partisipasi dan kesadaran terhadap pentingnya rencana tanggap darurat

b. Mempersiapkan infrastruktur (akomodasi saat kondisi darurat,

c. Melakukan latihan secara teratur dalam menghadapi situasi darurat

d. Membangun dan atau meningkatkan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana,

baik di tingkat lokal maupun nasional dan pelayanan penyelamatan

e. Koordinasi dan perencanaan operasional

f. Sistem Peringatan Dini :

1) Menyiapkan dan meng-operasikan sistem komunikasi

2) Menempatkan peralatan teknis di tempat yang aman

3) Melakukan pelatihan tenaga penyelamat



4. Pengelolaan resiko bencana sebagai bagian dari rehabilitasi dan rekontruksi



a. Melakukan penilaian resiko bencana

b. Melakukan penilaian infrastruktur, seperti kontruksi banguan tahan gempa, kontruksi

bangunan tahan banjir, skema pembangunan, selter tempat pengungsian, dsb







9 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





c. Membentuk kelembagaan, seperti peran serta masyarakat dan meningkatkan kerjasama

diantara individu-individu

d. Membentuk organisasi, untuk memperkuat kapabilitas lokal

e. Mengembangkan dan memperkenalkan ukuran-ukuran pencegahan dimasa mendatang

(seperti pengelolaan DAS, konservasi sumberdaya alam, skema pencegahan banjir)



5. Peran pengelolaan resiko bencana dalam sektor kerjasama pembangunan



Kebutuhan pencegahan harus di-integrasikan kedalam sektor pembangunan, hal ini akan

membantu pada peningkatan pengelolaan resiko bencana, terutama pada sektor-sektor yang

terkait, termasuk desentralisasi dan atau pembangunan masyarakat, pembangunan desa,

pencegahan lingkungan dan konservasi sumberdaya alam, perumahan, kesehatan dan

pendidikan.









Bencana









Peringatan Pertolongan Bencana









Penilaian Resiko Pembangunan









Mitigasi





Penelitian

Pemetaan

Monitoring

Menyebarkan Informasi

Rekomendasi



Gambar 1.1. Siklus Pengelolaan Bencana Geologi







1.7. Pendekatan Multi Sektoral



1. Meningkatkan kewaspadaaan



a. Dukungan keuangan untuk meningkatkan kewaspadaan, dinilai berdasarkan hubungan

antara biaya yang diinvestasikan dengan keuntungan yang akan diperoleh dalam

pengeloalaan resiko bencana.

b. Meningkatkan kewaspadaan diantara penduduk/masyarakat yang bermukim di areal yang

beresiko tinggi terkena bencana dan dikawasan yang rentan serta mendapat prioritas utama

dalam memperoleh pelatihan untuk mengelola resiko bencana.



10 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





c. Meng-implementasikan sistem peringatan dini

d. Partisipasi antara masyarakat, pemerintah kota dan lembaga-lembaga lainnya dalam

pengelolaan resiko bencana.



2. Penguatan kemampuan pengelolaan resiko bencana di tingkat daerah (lokal)



Efektifitas pengelolaan resiko bencana adalah memantapkan dan atau penguatan sistem di

tingkat daerah/lokal yang berupa kegiatan seperti yang ada dalam daftar diatas dari

keseluruhan sistem nasional, memobilisasi semua yang mungkin dilakukan oleh para relavan

dibidang sosial dan politik, baik ditingkat lokal dan perkotaan serta bertanggungjawab atas apa

yang dilakukan.





1.8. Pengurangan Resiko Bencana (Disaster Risk Reduction)



Indonesia merupakan salah satu negara yang sering dilanda bencana. Lebih dari 4 tahun terakhir

Indonesia mengalami serangkaian bencana alam yang menewaskan manusia dan mempengaruhi

perekonomian negeri ini. Bencana ini termasuk tsunami Aceh pada Desember 2004, Gempa Nias di

Maret 2005, Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah di Mei 2005 dan gempa serta tsunami di Jawa

Barat pada bulan Juli 2006. Indonesia juga berpotensi tinggi terhadap gunung meletus dengan 128

gunung api aktif (31 di antaranya dalam pemantauan) dari 600 gunung berapi di seluruh

khatulistiwa. Bencana-bencana ini memberikan dampak besar terhadap perekonomian negara,

kerusakan yang ditimbulkan oleh tsunami diperkirakan sebesar 4 juta Dolar AS dan gempa

Yogyakarta dan Jawa Tengah sebesar 3 juta Dolar AS. Bencana alam mengancam pembangunan

manusia di Indonesia dan mengakibatkan rusaknya pencapaian kesejahteraan nasional.



Upaya untuk melindungi dan mempersiapkan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang sering

dilanda bencana, serta upaya untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah dalam menaggapi keadaan

darurat, dapat membantu mengurangi resiko secara signifikan bila terjadi bencana serta mendorong

masyarakat untuk menerapkan budaya aman. Untuk meningkatkan ketahanan nasional dan daerah

dalam mengurangi resiko bencana dan membantu peralihan dari budaya tanggap dan meminta

bantuan menjadi budaya mengurangi resiko bencana yang komprehensif dan terintegrasi dalam

fungsi utama pemerintah di seluruh tingkat serta di sektor swasta dan Organisasi-organisasi

Masyarakat Madani:



a. menyediakan saran kebijakan dan peningkatan kapasitas untuk mengurangi dan mengelola

resiko bencana ke dalam kerangka kebijakan, hukum, regulasi dan perencanaan;

b. meningkatkan kapasitas dalam mempersiapkan diri menghadapi situasi darurat dan sistem

tanggap di tingkat nasional, provinsi dan daerah; dan

c. membantu penanganan resiko bencana berdasarkan kemasyarakatan.



Untuk membantu meningkatkan peraturan yang terkait dengan upaya untuk mengurangi resiko

bencana di Indonesia, perlu penyediaan petunjuk strategis dan saran kebijakan untuk perumusan

RUU dan regulasi penanggulangan bencana. RUU ini telah disahkan pada tahun 2007. Meningkatkan

kapasitas pemerintah pusat maupun daerah untuk menyiapkan dan mengelola bencana dan

pemulihan selanjutnya adalah penting pada negara yang mudah terkena bencana dan pemerintahan

terpusat seperti Indonesia. Kapasitas pengurangan resiko bencana dan penanganan memerlukan

pengetahuan, sistem, informasi, perangkat dan sumberdaya yang diperlukan dalam merespon

bencana.



Kapasitas yang efektif dalam menurunkan resiko bencana memerlukan pengurangan resiko bencana

yang terintegrasi ke dalam perencnaan dan anggaran nasional di tingkat nasional, propinsi dan

kabupaten. Perumusan dan penyebaran Rencana Aksi Nasional untuk Pengurangan Resiko Bencana

(DRR) dan rencana aksi DRR di tingkat regional. Perencanaan menjadi penting untuk meningkatkan

kapasitas Pemerintah dalam mengurangi dampak bencana, mengelola bahaya bencana dan

menurunkan resiko bencana ke dalam pengembangan perencanaan dan anggaran. Untuk

meningkatkan kapasitas Pemerintah perlu adanya perencanaan Sistem Informasi Resiko Bencana





11 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





yang membantu mengadakan informasi yang relevan sehubungan dengan pengurangan,

pencegahan, dan penanggulangan bencana.





1.9. Rencana Tindak Mengurangi Resiko Bencana (Action Plan for

Disaster Risk Reduction)



Usaha usaha untuk mengurangi resiko bencana di Indonesia telah diatur dan disusun dalam suatu

kerangka kerja yang implementasinya menfokuskan pada beberapa kegiatan yang menjadi kunci

dalam menanggulangi resiko bencana. Beberapa prioritas diantaranya harus diimplementasikan

dalam rencana kegiatan operasionalnya.



1. Prioritas



Inisiatif untuk mengurangi resiko bencana di Indonesia terutama diprioritaskan pada keberlanjutan

dan partisipasi seluruh stakeholder. Perlu adanya komitmen yang kuat dalam memilih prioritas serta

tindakan tindakan yang akan diambil menjadi ciri dalam usaha ini. Prioritas prioritas tersebut

diperlukan sebagai dasar yang terintegrasi dalam implementasi program pengurangan resiko

bencana yang berkelanjutan yang sejalan dengan usaha usaha yang sudah dilaksanakan pada

tingkat internasional.



Ada 5 prioritas kunci yang yang harus diperhatikan dalam mengurangi resiko bencana, yaitu:



1. Memastikan bahwa pengurangan resiko bencana merupakan prioritas nasional dan daerah,

oleh karenanya diperlukan suatu kelembagaan yang kuat yang menjadi dasar dalam

implementasinya.

2. Melakukan kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi, penilaian dan pengawasan resiko

bencana dan peningkatan terhadap peringatan dini.

3. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun suatu budaya yang

aman dan fleksibel untuk semua tingkatan.

4. Mengurangi faktor faktor penyebab resiko bencana.

5. Meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana disetiap tingkat dan mampu bertindak

secara efektif.



2. Rencana Tindak (Action Plan)



Cermin dari perubahan paradigma pencegahan dimasa depan adalah sebagai bagian dalam

memenuhi persyaratan dasar hak asasi manusia, pengurangan resiko bencana diperlukan ciri-ciri

sebagai berikut:



1. Mengakui bahwa hak azasi merupakan suatu kehormatan hidup dan kehidupan setiap manusia,

oleh karenanya pemerintah bertanggungjawab dalam memberi perlindungan terhadap bencana,

terutama menghindari dengan tanpa membuat resiko pada proses perbaikan.

2. Mengurangi faktor-faktor resiko bencana dari praktek pembangunan yang tidak berkelanjutan

adalah suatu hal yang lebih buruk dari dampak perubahan iklim.

3. Agar supaya kepercayaan dapat diraih, maka resiko dan atau bencana yang berdampak pada

masyarakat serta kepekaan pada gender, partisipasi, kesetaraan dan perspektif hukum harus

ditingkatkan.



Berikut adalah aktivitas / kegiatan yang menjadi kunci dan harus ditingkatkan sebagai bagian dari

implementasi Rencana Tindak Nasional dalam mengurangi resiko bencana:



1. Memastikan bahwa pengurangan resiko bencana harus menjadi prioritas utama bagi

pemerintah pusat maupun daerah yang diimplementasikan dalam suatu

kelembagaan yang kuat untuk melakukan kegiatan sebagai berikut:







12 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





1). Kelembagaan Nasional dan Kerangka Hukum



a. Mendukung pembentukan dan penguatan mekanisme pengurangan resiko bencana

tingkat nasional secara terpadu.

b. Mengurangi resiko secara terpadu melalui kebijakan pembangunan dan perencanaan,

termasuk strategi mengurangi kemiskinan.

c. Bila perlu mengadopsi atau memodifikasi undang-undang guna mendukung

pengurangan resiko bencana, termasuk didalamnya mekanisme serta peraturan

peraturan yang memperkuat dan memberi insentif kepada pihak pihak yang

mensosialisasikan kegiatan mitigasi dan pengurangan resiko.

d. Menyadarkan betapa pentingnya penanganan resiko bencana serta tanggungjawab

masyarakat yang terdesentralisasi untuk mengurangi resiko bencana, terutama dalam

hal kewenangan daerah atau propinsi.



2). Sumberdaya



a. Akses kepada sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam mengurangi

resiko bencana dan kemampuan dalam pengembangan dan perencanaan serta

membuat program program dalam menyatukan kondisi saat ini dan kebutuhan dimasa

yang akan datang.

b. Mempersiapkan dan menyediakan sumberdaya untuk pengembangan dan implementasi

dari kebijakan pengelolaan resiko bencana, program-program, hukum dan peraturan

yang berhubungan dengan pengurangan resiko bencana.

c. Pemerintah berkewajiban memperlihatkan kemauan politik yang kuat yang dibutuhkan

untuk mensosialisasikan dan memadukan pengurangan resiko bencana kedalam

program program pembangunan.



3). Partisipasi Masyarakat



Secara sistimatik melibatkan peran masyarakat dalam pengurangan resiko bencana,

termasuk dalam proses pengambilan keputusan untuk hal hal yang berkaitan dengan

pemetaan, perencanaan, implementasi, pengawasan, dan evaluasi melalui pembuatan

jejaring, termasuk jejaring tenaga sukarela, manajemen sumberdaya strategis, dan dengan

membuat aturan-aturan hukum serta menetapkan tanggungjawab dan otoritas/kewenangan

perwakilan.



2. Mengidentifikasi, akses, dan pengawasan resiko bencana dan meningkatkan

peringatan dini, melalui kegiatan-kegiatan:



1). Penilaian Resiko pada skala Nasional dan Daerah



a. Membangun, memperbaharui, dan menyebarkan peta peta resiko bencana serta

informasi informasi yang berhubungan dengan bencana kepada para pengambil

keputusan dan masyarakat umum.

b. Membangun sistem penciri/penunjuk resiko bencana dan kerentanan pada tingkat

nasional dan propinsi yang memungkinkan pembuat keputusan dapat meng-akses

dampak dari bencana.

c. Mencatat, meng-analisa, menyimpulkan, dan menyebarkan informasi secara statistik

terhadap kejadian kejadian bencana, dampaknya dan kerugiannya.



2). Peringatan Dini



a. Membangun sistem peringatan dini di tengah tengah masyarakat, terutama sistem yang

dapat memberi peringatan tepat waktu dan dapat dimengerti makna masalah

resikonya.

b. Secara periodik mengulang kembali dan merawat sistem informasi sebagai bagian dari

sistem peringatan dini.





13 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





c. Memantapkan kapasitas kelembagaan untuk memastikan bahwa sistem peringatan dini

benar-benar terintegrasi dalam kebijakan pemerintah dan proses pengambilan

keputusan.

d. Memperkuat koordinasi dan kerjasama diantara semua sektor yang terkait dan aktor

dalam rantai peringatan dini dalam rangka memperoleh efektifitas penuh dari sistem

peringatan dini.

e. Membangun dan memperkuat efektiifitas sistem peringatan dini di pulau pulau yang

lebih kecil.



3). Kapasitas



a. Mendukung pengembangan dan keberlanjutan infrastruktur, ilmu pengetahuan dan

teknologi, kapasitas kelembagaan serta teknis lainnya yang diperlukan untuk penelitian,

pengamatan, analisa, pemetaan, prediksi alam dan bahaya yang terkait, kerentanan

serta dampak bencana.

b. Mendukung dalam pengembangan dan peningkatan basisdata yang relevan dan

memperkenalkan pertukaran data secara terbuka dan penyebaran data untuk keperluan

penilaian, pengawasan dan keperluan peringatan dini.

c. Mendukung dalam peningkatan metoda metoda melalui ilmu pengetahuan dan

teknologi serta kemampuan dalam penilaian resiko, pengawasan, dan peringatan dini

melalui penelitian, kerjasama, pelatihan dan membangun kemampuan teknis.

d. Memantapkan dan memperkuat kemampuan dalam menrekam, menganalisa,

meringkas, menyebarkan, serta pertukaran data dan informasi.



4). Resiko Darurat Regional



a. Mengkompilasi dan membuat standarisasi data dan informasi pada resiko bencan

regional, dampak dan kerugiannya.

b. Kerjasama secara regional dan internasional untuk penilaian dan pengawasan regional

dan bahaya lintas batas.

c. Penelitian, analisa, dan pelaporan perubahan jangka panjang dan isu isu bersama yang

mungkin meningkat kerentanannya dan resiko atau kapasitas otoritas dan masyarakat

dalam menghadapi bencana.



3. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan sebagai sarana untuk

membangun suatu budaya aman dan nyaman pada setiap tingkatan, melalui

kegiatan sebagai berikut:



1) Menyediakan informasi yang mudah dimengerti mengenai resiko bencana dan pilihan

pencegahan, khususnya kepada penduduk perkotaan yang berada di wilayah yang beresiko

tinggi.

2) Peningkatan jejaring diantara sesama akhi kebencanaan, para manajer, dan perencana

lintas sektoral dan antar wilayah, dan membangun atau meningkatkan prosedur

pemanfatan tenaga akhli yang tersedia pada pembangunan perencanaan pengurangan

resiko di daerah.

3) Mempromosikan dan meningkatkan dialog dan kerjasama diantara masyarakat ilmiah dan

praktisi yang bekerja dibidang pengurangan resiko bencana.

4) Memperkuat dan mengimplementasikan penggunaan informasi terbaru, serta informasi dan

teknologi untuk penanganan pengurangan resiko bencana.

5) Dalam jangka menengah, mengembangkan direktori, inventarisasi, dan sistem pertukaran

informasi pada tingkat daerah, propinsi, nasional dan tingkat internasional.

6) Kelembagaan yang berorientasi kepada pembangunan perkotaan harus menyediakan

informasi pada masyarakat mengenai pilihan pengurangan bencana terutama kepada para

kontraktor bangunan, pembeli lahan atau penjual tanah.

7) Memperbaharui dan menyebarkan secara luas dengan menggunakan standar internasional

yang berkaitan dengan pengurangan resiko bencana.







14 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





4. Pendidikan dan pelatihan



1) Memperkenalkan pengetahuan tentang pengurangan resiko bencana dalam kurikulum

sekolah

2) Memperkenalkan implementasi dari penilaian resiko di tingkat daerah dan program

kewaspadaan terhadap bencana di sekolah sekolah dan lembaga pendidikan tinggi.

3) Memperkenalkan implementasi program dan kegiatan di sekolah untuk pembelajaran

bagaimana meminimalkan suatu dampak bencana.

4) Mengembangkan pelatihan dan program pembelajaran dengan sasaran untuk mengurangi

resiko bencana pada sektor tertentu (Perencana Pembangunan, Pegawai/staff Pemerintah

Daerah, Manajer Pabrik, dsb)

5) Memperkenalkan inisiatif pelatihan berbasis masyarakat guna meningkatkan kapasitas

daerah dalam mitigasi dan keluar dari bencana.

6) Memastikan kesetaraan akses untuk mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dan

pendidikan, baik untuk perempuan maupun dari kalangan yang rentan.



5. Penelitian



1) Pengembangan metoda metoda untuk memprediksi penilaian multi resiko dan analisa

untung rugi berdasarkan sosial-ekonomi dari tindakan dalam pengurangan resiko.

2) Meningkatkan kemampuan, secara ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk

mengembangakan dan menerapkan metodologi dan model untuk menilai kerentanan

terhadap dan dampak geologi, cuaca, air, dan iklim yang berhubungan dengan bahaya.



6. Kepedulian masyarakat



Memperkenalkan melalui media guna membangun budaya peduli terhadap bencana dan mengajak

seluruh masyarakat untuk terlibat langsung dalam pencegahan terhadap bencana.



7. Mengurangi faktor faktor penyebab resiko, melalui kegiatan :



1). Pengelolaan Sumberdaya alam dan Lingkungan, meliputi:

a. Pengelolaan ekosistem dan pemanfaatan yang berkelanjutan, termasuk melalui

perencanaan tata guna lahan yang lebih baik dan aktivitas kegiatan untuk mengurangi

resiko dan kerentanan.

b. Mengimplementasikan pendekatan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan

terpadu yang selaras dengan pengurangan resiko bencana

c. Memperkenalkan pengurangan resiko secara terpadu yang berkaitan dengan variabilitas

iklim yang ada dan perubahan iklim dimasa mendatang.



2). Pembangunan Ekonomi dan Sosial

a. Memperkenalkan pentingnya keamanan pangan

b. Memadukan perencanaan pengurangan resiko bencana kedalam bidang kesehatan

sebagai panduan keamanan rumah sakit dari dampak bencana.

c. Pencegahan dan peningkatan fasilitas darurat milik masyarakat/publik (sekolahan,

rumahsakit, pembangkit listrik, dll) sehingga aman terhadap dampak bencana.

d. Meningkatkan implementasi mekanisme keselamatan masyarakat

e. Mengintegrasikan pengurangan resiko bencana kedalam perbaikan pasca bencana dan

proses rehabilitasi.

f. Meminimilisasi resiko bencana dan kerentanan yang disebabkan oleh gerakan masa.

g. Mempromosikan diserfikasi pilihan pendapatan untuk penduduk yang berada di areal

yang beresiko tinggi guna mengurangi kerentanan terhadap bahaya.

h. Mempromosikan pengembangan resiko keuangan dengan cara mengasuransikan

melalui asuransi bencana.

i. Mempromosikan pembentukan kerjasama swasta dan masyarakat untuk mendorong

sektor swasta peduli terhadap kegiatan pengurangan resiko bencana.







15 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





j. Mengembangkan dan mempromosikan alternatif dan inovasi intrumen keuangan dalam

mendorong pengurangan resiko bencana.



3). Perencanaan tata guna lahan dan peraturan teknis lainnya.

a. Mengintegrasikan penilaian resiko bencana kedalam perencanaan kota dan pengelolaan

pemukiman manusia yang rentan bencana.

b. Menjadikan resiko bencana kedalam prosedur perencanaan untuk proyek proyek kunci

infrastruktur, termasuk pada kriteria desain, persetujuan dan implementasi dari proyek.

c. Mengembangkan panduan dan alat pengawasan untuk mengurangi resiko bencana

dalam kontek kebijakan tataguna lahan dan perencanaan.

d. Mengintegrasikan penilaian resiko bencana kedalam perencanaan pembangunan kota.

e. Menyarankan perlu adanya revisi kode bangunan baru atau yang ada, perlu adanya

standarisasi, rehabilitasi, dan rekontruksi.



4). Meningkatkan kesiapan / kewaspadaan terhadap bencana disemua tingkatan, melalui

kegiatan:

a. Penguatan kebijakan, kapasitas dan kelembagaan dan teknis dalam pengelolaan

bencana, baik secara lokal, regional, dan nasional, termasuk didalamnya yang berkaitan

dengan teknologi, pelatihan, dan sumberdaya manusia dan sumberdaya material.

b. Memberi dukungan diadakannya dialog, pertukaran informasi dan melakukan koordinasi

diantara lembaga-lembaga yang berhubungan dengan peringatan dini, pengurangan

resiko bencana, tanggap darurat, pembangunan dan hal-hal lainnya yang relevan.

c. Memperkuat dan apbila diperlukan membangun koordinasi dengan penndekatan

regional dan membuat atau meningkatkan kebijakan regional, mekanisme operasional,

perencanaan dan sistem komunikasi pada kejadian bencana yang melewati batas

wilayah/propinsi.

d. Mempersiapkan atau menilai ulang secara periodik tentang persiapan menghadapi

bencana dan rencana darurat dan kebijakan pada semua tingkat.

e. Mempromosikan pembangunan dana darurat untuk mendukung kesiapan, perbaikan

dan reaksi terhadap bencana.

f. Mengembangkan mekanisme khusus untuk menggugah partisipasi aktif dan

pemilik/stakeholder.









16 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









2M itigasi Bencana Gempabumi







2.1. Pendahuluan



Gempabumi adalah getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari terlepasnya energi yang

terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang mengalami deformasi. Gempabumi dapat

didefinisikan sebagai rambatan gelombang pada masa batuan/tanah yang berasal dari hasil

pelepasan energi kinetik yang berasal dari dalam bumi. Sumber energi yang dilepaskan dapat

berasal dari hasil tumbukan lempeng, letusan gunungapi, atau longsoran masa batuan/tanah.

Hampir seluruh kejadian gempa berkaitan dengan suatu patahan, yaitu satu tahapan deformasi

batuan atau aktivitas tektonik dan dikenal sebagai gempa tektonik. Sebaran pusat-pusat gempa

(epicenter) di dunia tersebar di sepanjang batas-batas lempeng (divergent, convergent, maupun

transform), oleh karena itu terjadinya gempabumi sangat berkaitan dengan teori Tektonik Lempeng.



Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada

bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Gempabumi dapat disebabkan antara lain oleh:

1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi

2. Aktivitas sesar di permukaan bumi

3. Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah

4. Aktivitas gunung api

5. Ledakan Nuklir



Sebagaimana diuraikan diatas bahwa penyebaran pusat-pusat gempabumi sangat erat kaitannya

dengan batas-batas lempeng. Pola penyebaran pusat gempa di dunia yang berimpit dengan batas-

batas lempeng. Disamping gempa tektonik, kita mengenal juga gempa minor yang disebabkan oleh

longsoran tanah, letusan gunungapi, dan aktivitas manusia. Gempa minor umumnya hanya

dirasakan secara lokal dan getarannya sendiri tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan atau

kerugian harta benda maupun jiwa manusia. Adapun mekanisme terjadinya gempabumi dapat

dijelaskan seperti yang diilustrasikan pada gambar 2-1. Dalam gambar bagian atas mengilustrasikan

gambar permukaan bumi yang berada pada suatu jalur patahan aktif dengan beberapa bangunan

rumah sebelum terjadi gempa. Pada kondisi ini batuan berada dalam keadaan tegang (strained).

Gambar bagian tengah menjelaskan saat terjadi pergeseran disepanjang jalur patahan yang

diakibatkan oleh gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan dan energi yang terhimpun di

dalam masa batuan akan dilepas dan merambat kesegala arah sebagai gelombang longitudinal

(gelombang P) dan gelombang transversal (gelombang S). Rambatan gelombang yang menjalar

didalam batuan inilah yang menghancurkan bangunan bangunan yang ada disekitarnya. Gambar

bagian bawah mengilustrasikan kondisi setelah terjadi gempa dimana batuan kembali berada pada

keadaan seperti semula.



2.2. Intensitas dan Magnitude Gempabumi



Intensitas dan magnitude gempa yang terjadi di permukaan bumi dapat diketahui melalui alat

seismograf, yaitu suatu alat pencatat getaran seismik yang sangat peka yang ditempatkan

diberbagai lokasi di bumi. Alat seismograf akan mencatat setiap getaran seismik yang sampai ke

alat tersebut. Pada gambar 2-3 diperlihatkan bagaimana alat seismograf mencatat gelombang

seismik melaui suatu bandul yang digantung pada pegas dan dilengkapi dengan jarum pena sebagai





17 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





alat pencatat getaran seismik diatas kertas yang ada pada tabung silinder yang berputar. Pusat

gempa dapat diketahui dengan cara menghitung selisih waktu tiba dari gelombang P dan

gelombang S, sedangkan untuk mengetahui lokasi dari epicenter gempa melalui perpotongan 3

lokasi alat seismograf yang mencatat getaran seismik tersebut (gambar 2-4). Untuk menentukan

magnitute gempa didasarkan atas besarnya amplitudo gelombang seismik yang tercatat pada alat

seismograf.









Gambar 2- 1 Urut-urutan proses terjadinya gempabumi









Gambar 2-2 Gelombang P (Primer) sebagai gelombang kompresi yang mampu

merubah volume batuan dan gelombang S (Sekunder) sebagai

gelombang “Shear” yang mampu merubah bentuk.









18 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









Gambar 2-3 Alat seismograf yang mencatat arah gerakan gempabumi oleh

jarum seismograf pada kertas yang berada dipermukaan

silinder









Gambar 2-4 Penentuan lokasi epicenter gempa didasarkan atas selisih waktu tiba dari

gelombang P dan gelombang S yang tercatat pada alat seismograf (gambar

kiri) dan epicenter gempa yang ditentukan berdasarkan perpotongan dari 3

lokasi alat seismograf yang mencatat kejadian gempabumi (gambar kanan).







19 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





Skala Richter adalah satuan yang dipakai untuk mengukur besarnya magnitute gempa. Satuan

besaran gempa berdasarkan satuan skala Richter adalah 1 hingga 10. Satuan intensitas dan

magnitute gempabumi dapat juga diukur berdasarkan dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh

getaran gelombang seismik dan satuan ini dikenal dengan satuan Intensitas Modifikasi Mercalli

(MMI), nilai satuan ini berkisar dari 1 s/d 12 (lihat Tabel 2-1).



Tabel 2-1 Skala Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI)









2.3. Dampak Bencana Gempabumi



Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa rambatan gelombang seismik yang berasal dari energi

yang dilepaskan dari hasil pergerakan lempeng dapat menimbulkan bencana. Bencana yang

disebabkan oleh gempabumi dapat berupa rekahan tanah (ground rupture), getaran tanah (ground

shaking), gerakan tanah (mass-movement), kebakaran (fire), perubahan aliran air (drainage

changes), gelombang pasang/tsunami, dsb.nya. Gelombang gempa yang merambat pada masa

batuan, tanah, ataupun air dapat menyebabkan bangunan gedung dan jaringan jalan, air minum,

telepon, listrik, dan gas menjadi rusak. Tingkat kerusakan sangat ditentukan oleh besarnya

magnitute dan intensitas serta waktu dan lokasi epicenter gempa.



1. Rekahan / patahan di permukaan bumi (Ground rupture)



Pada umumnya gempabumi seringkali berdampak pada rekah dan patahnya permukaan bumi yang

secara regional dikenal sebagai deformasi kerakbumi. Deformasi kerakbumi dapat mengakibatkan

permukaan daratan rekah dan terpatahkan hingga mencapai areal yang sangat luas. Salah satu

bukti nyata terjadinya ground rupture adalah gempa yang terjadi pada Februari, 1976 dimana areal

seluas 12.000 km2 yang terletak di jalur patahan San Andreas, 65 km di sebelah utara kota Los

Angeles mengalami pegangkatan (uplifted) oleh pergeseran sesar San Andreas.





20 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





Pada umumnya gempabumi seringkali berdampak pada rekah dan patahnya permukaan bumi yang

secara regional dikenal sebagai deformasi kerakbumi. Deformasi kerakbumi dapat mengakibatkan

permukaan daratan rekah dan terpatahkan hingga mencapai areal yang sangat luas. Salah satu

bukti nyata terjadinya ground rupture adalah gempa yang terjadi pada Februari, 1976 dimana areal

seluas 12.000 km2 yang terletak di jalur patahan San Andreas, 65 km di sebelah utara kota Los

Angeles mengalami pegangkatan (uplifted) oleh pergeseran sesar San Andreas. Contoh lain dari

deformasi kerakbumi adalah gempabumi yang terjadi pada tahun 1964 di Alaska yang menghasilkan

suatu rekahan dan patahan serta deformasi batuan dimana daerah seluas 260.000 km2 terdiri dari

dataran pantai dan dasar laut secara lokal terangkat setinggi 2 meter dan secara regional mencapai

16 meter (gambar 2-5). Rekahan dan patahan yang terjadi di permukaan bumi dapat berdampak

pada bangunan-bangunan, jalan dan jembatan, pipa air minum, pipa listrik, saluran telepon, serta

prasarana lainnya yang ada di daerah tersebut.









Gambar 2-5 Gempa Alaska tahun 1964 yang menyebabkan wilayah seluas 260.000 km2

mengalami ground rupture setinggi 2 – 16 meter



2. Getaran / guncangan permukaan tanah (Ground shaking)



Bencana gempa yang secara langsung terasa dan berdampak sangat serius adalah runtuhnya

bangunan-bangunan yang disebabkan oleh getaran/guncangan gempa yang merambat pada media

batuan/tanah. Pada umumnya bangunan-bangunan yang berada diatas lapisan batuan yang padat

(firm) dampaknya tidak terlalu parah bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang berada

diatas batuan sedimen jenuh.



Gambar 2-6 menunjukkan bangunan yang roboh akibat goncangan gempa yang merusak kota San

Francisco pada tahun 1906 adalah gempa yang epicenter-nya berada di sepanjang jalur patahan

(sesar) San Andreas dan bagian dari segmen lepas pantai yang terletak disisi luar Golden Gate

merupakan segmen yang bertanggung jawab terhadap kerusakan kota San Francisco.









21 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









Gambar 2-6 Gempa California tahun 1995 yang disebabkan oleh ground

shaking



3. Longsoran Tanah (Mass Movement)



Berbagai jenis luncuran dan longsoran tanah umumnya dapat terjadi bersamaan dengan terjadinya

gempa. Hampir semua longsoran tanah dapat terjadi pada radius 40 km dari pusat gempa

(epicenter) dan untuk gempa yang sangat besar dapat mencapai radius 160 km dan salah satu

contoh adalah gempabumi Alaska tahun 1964 yang memicu terjadinya longsoran-longsoran tanah

yang terletak jauh dari epicenter gempa. Pada dasarnya getaran gempa lebih bersifat sebagai

pemicu terjadinya longsoran atau gerakan tanah. Dalam hal ini gempa bersifat meng-induksi

terjadinya gerakan tanah, sedangkan longsoran dan gerakan tanah baru akan terjadi apabila daya

ikat antar butiran lemah, kejenuhan batuan/sedimen, porositas dan permiabilitas batuan/tanah

tinggi.









Gambar 2-7 Gempa California tahun 1995 yang menyebabkan longsoran tanah



4. Kebakaran



Kerusakan yang utama dan sering terjadi pada saat terjadinya gempabumi adalah bahaya

kebakaran. Hampir sembilan puluh persen kerusakan yang terjadi di kota San Francisco pada tahun

1906 adalah disebabkan oleh kebakaran yang berasal dari material bahan bangunan yang mudah

terbakar, kerusakan peralatan yang berkaitan dengan listrik serta pecah dan patahnya saluran pipa



22 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





gas, listrik, dan air. Pada umumnya gempa meng-induksi api yang berasal dari putusnya saluran

listrik, gas, dan pembangkit listrik yang sedang beroperasi yang pada akhirnya menyebabkan

kebakaran.



5. Perubahan Pengaliran (Drainage Modifications)



Terbentuknya danau yang cukup luas akibat amblesnya (subsidence) permukaan daratan seperti

dataran banjir (floodplain), delta, rawa, yang diakibatkan oleh gempabumi merupakan suatu

permasalahan yang cukup serius. Perubahan pengaliran akibat penurunan permukaan daratan yang

disebabkan oleh gempa memungkinkan terbentuknya danau–danau buatan dan reservoir baru serta

rusaknya bendungan. Contoh kasus terjadinya perubahan pengaliran (drainage) adalah gempa yang

terjadi pada tahun 1971 di San Fernando, California telah menyebabkan hancurnya bendungan Van

Norman Dam, sedangkan gempa Alaska yang terjadi pada tahun 1864 meruntuhkan 2 Bendungan

tipe earth-fill yang berada di selatan kota Anchorage. Kedua bendungan tersebut dilalui oleh suatu

rekahan dan patahan yang memotong badan bendungan dan telah merubah pengaliran (drainase)

yang ada di wilayah tersebut.



6. Perubahan Air Bawah Tanah (Ground Water Modifications)



Regim air bawah tanah dapat mengalami perubahan oleh perpindahan yang disebabkan oleh sesar

atau oleh goncangan. Contoh kasus dari perubahan air bawah tanah adalah gempa yang terjadi

disepanjang suatu patahan yang mengakibatkan terjadinya offset batuan di kedua sisi permukaan

tanah dan aliran air bawah tanah di wilayah Santa Clara County, California, yaitu suatu wilayah yang

terletak di bagian selatan teluk San Francisco. Dalam kasus ini kipas aluvial yang sangat luas yang

terletak di Alameda Creek mengalami offset/perpindahan sejauh 2 km ke arah barat perbukitan.

Gawir yang terbentuk oleh sesar setinggi 8 meter menutup saluran-saluran sungai yang menuju ke

teluk San Francisco sehingga membentuk kolam-kolam yang sangat luas. Patahan ini juga berimbas

pada air yang berada dibawah tanah, offset yang terjadi pada batuan yang berada di bawah tanah

telah menyebabkan lapisan batuan yang permeabel tertutup oleh lapisan batuan impermeabel

sehingga mengakibatkan daerah yang berada diantara gawir dan perbukitan mendapat air bawah

tanah yang melimpah sebaliknya daerah yang lain sedikit menerima air bawah tanah.



7. Tsunami



Tsunami adalah suatu pergeseran naik atau turun yang terjadi secara tiba-tiba pada dasar samudra

pada saat terjadi gempabumi bawah laut, kondisi ini akan menimbulkan gelombang laut pasang

yang sangat besar yang lazim disebut “tidal waves”.



Tsunami berasal dari bahasa Jepang. "tsu" berarti pelabuhan, "nami" berarti gelombang sehingga

secara umum diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan. Istilah tsunami telah

digunakan secara luas, baik untuk gelombang pasang (“tidal waves”) maupun gelombang yang

disebabkan oleh gempabumi atau yang lebih dikenal dengan istilah “seismic sea waves”.



Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh

gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik,

erupsi vulkanik atau longsoran? Kecepatan tsunami yang naik ke daratan berkurang menjadi sekitar

25-100 Km/jam. Ketinggian tsunami yang pernah tercatat terjadi di Indonesia adalah 36 meter yang

terjadi pada saat letusan gunung api Krakatau tahun 1883.



Penyebab terjadinya Tsunami antara lain:

 Gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah/batuan yang sangat

besar dibawah air (laut/danau)

 Tanah longsor didalam laut

 Letusan gunungapi dibawah laut atau gunungapi pulau.









23 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





Gejala terjadinya tsunami:



 Gelombang air laut datang secara mendadak dan berulang dengan energi yang sangat kuat.

 Kejadian mendadak dan pada umumnya di Indonesia didahului dengan gempa bumi besar

dan susut laut.

 Terdapat selang waktu antara waktu terjadinya? gempa bumi sebagai sumber tsunami dan

waktu tiba tsunami di pantai mengingat kecepatan gelombang gempa jauh lebih besar

dibandingkan kecepatan tsunami.

 Metode pendugaan secara cepat dan akurat memerlukan teknologi tinggi.

 Di Indonesia pada umumnya tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 40 menit setelah

terjadinya gempa bumi besar di bawah laut?



Mekanisme terjadinya tsunami (gambar 2-8):



1. Diawali dengan terjadinya gempa yang disertai oleh pengangkatan sebagai akibat kompresi.

2. Gelombang bergerak keluar ke segala arah dari daerah yang terangkat

3. Panjang gelombang berkurang tetapi tingginya meningkat saat mencapai bagian yang

dangkal, kemudian melaju ke arah darat dengan kecepatan +/-100 km/jam setelah

sebelumnya surut dulu untuk beberapa saat (gambar 2-9).



Gambar 2-10 s/d 2-12 memperlihatkan pembentukan, sebaran, dan dampak dari gelombang

tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa berada disebelah barat

pantai Sumatra, propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.









Gambar 2-8 Mekanisme terjadinya tsunami









Gambar 2-9 Pergerakan gelombang tsunami ke daratan









24 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









Gambar 2-10 Model gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal 26 Desember

2004 dengan pusat gempa di pesisir sebelah utara pulau Sumatra (source:

www.usgs,gov).









Gambar 2-11 Kecepatan dan waktu tempuh gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal

26 Desember 2004 dengan pusat gempa di pesisir sebelah utara pulau Sumatra









25 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









Gambar 2-12 Menunjukan tinggi gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal 26

Desember 2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra.







2.4. Mitigasi Dan Upaya Pengurangan Bencana



Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya, akan tetapi kita bisa

menerima peringatan akan terjadinya tsunami sehingga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan

diri. Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak datang setiap saat. Janganlah ancaman

bencana alam ini mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan lautan. Namun jika berada di

sekitar pantai, terasa ada guncangan gempa bumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba

sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau

bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain. Jika sedang berada di dalam

perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan

mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut. Jika gelombang pertama telah datang dan surut

kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan

menerjang. Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban.



Strategi Mitigasi Dan Upaya Pengurangan Bencana Tsunami:



1. Peningkatan kewaspadaaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami.

2. Pendidikan kepada masyarakat terutama yang tinggal di daerah pantai tentang bahaya

tsunami.

3. Pembangunan Tsunami Early Warning System (Sistem Peringatan Dini Tsunami).

4. Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang beresiko.

5. Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai untuk meredam gaya

air tsunami.

6. Pembangunan tempat-tempat evakuasi yang aman disekitar daerah pemukiman yang cukup

tinggi dan mudah dilalui untuk menghindari ketinggian tsunami.









26 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





7. Peningkatan pengetahuan masyarakat lokal khususnya yang tinggal di pinggir pantai

tentang pengenalan tanda-tanda tsunami cara-cara penyelamatan diri terhadap bahaya

tsunami.

8. Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami.

9. Mengenali karakteristik dan tanda-tanda bahaya tsunami.

10. Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda akan terjadi tsunami.

11. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami.

12. Melaporkan secepatnya jika mengetahui tanda-tanda akan terjadinyan tsunami kepada

petugas yang berwenang : Kepala Desa, Polisi, Stasiun Radio, SATLAK PB maupun institusi

terkait

13. Melengkapi diri dengan alat komunikasi.



2.5. Mitigasi Bencana Gempabumi



Mitigasi bencana gempabumi adalah hal yang paling sulit diatasi, hal ini dikarenakan berbagai faktor

yang sangat komplek seperti:



 Interval kejadian yang tidak pasti. Karena interval kejadian gempa yang tidak pasti

disepanjang suatu patahan sehingga menyulitkan dalam perencanaan. Data yang sangat minim

akan menyulitkan dalam penyesuaian peruntukan lahan secara spesifik serta dalam pembuatan

aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan di sekitar dan di sepanjang suatu patahan.

Peraturan yang dibuat dengan data yang sangat minim secara politis akan sulit memperoleh

dukungan.



 Penetapan lebar zona patahan. Di perbagai instansi, data tentang lebar suatu zona patahan

dapat berbeda beda. Tanpa suatu dasar yang pasti maka untuk memprediksi patahan mana

yang berikutnya yang akan bergerak/patah sangat sulit dilakukan, sehingga penyesuaian

peruntukan lahan dan penyusunan aturan yang berkaitan dengan lahan juga menjadi sulit

dipertahankan.



 Bangunan yang sudah terlanjur ada. Pembangunan yang dilaksanakan di tempat tempat

yang berdekatan dengan zona patahan dan disepanjang jalur patahan akan sulit dilarang dan

untuk menyadarkan masyarakat agar tidak melakukan pembangunan di tempat tempat tersebut

akan menjadi sia-sia, hal ini disebabkan karena pemerintah / lembaga yang berwenang tidak

memiliki data yang memadai dan akurat terhadap kemungkinan bencana yang mungkin terjadi.



Berkaitan dengan ketidak pastian dan waktu terjadinya gempa, maka bencana gempa harus

diposisikan dalam perhitungan dan pengambilan keputusan yang tepat didasarkan atas data-data

yang tersedia. Oleh karena itu untuk bangunan bangunan, seperti perumahan, rumah sakit,

sekolahan dilarang dibangun di zona patahan. Untuk itu diperlukan suatu peraturan yang melarang

warga masyarakat membangun bangunan di tempat tempat yang berada di zona patahan aktif.



Mitigasi bencana geologi pada hakekatnya adalah mengurangi resiko bencana geologi terhadap

harta benda maupun jiwa manusia. Mitigasi merupakan suatu upaya kerjasama antara ahli-ahli

teknik dan para pembuat kebijakan dan menghasilkan peraturan peraturan pembangunan untuk

suatu wilayah yang rentan bahaya geologi. Usaha-usaha dalam penanggulangan bencana untuk

meminimalkan kerugian, baik kerugian harta benda ataupun jiwa manusia yang disebabkan oleh

gempabumi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain adalah:



1. Melakukan pemetaan penyebaran lokasi-lokasi gempa yang disajikan dalam bentuk Peta

Rawan Bencana Gempabumi / Seismik.

2. Membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan desain struktur bangunan tahan

gempa guna mencegah runtuhnya bangunan ketika terjadi gempa.

3. Tidak membangun bangunan di wilayah-wilayah yang rawan bencana gempa.

4. Menghindari lahan-lahan yang rawan gempa untuk areal pemukiman, dan aktivitas

manusia.





27 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





5. Melakukan penataan ruang baik yang berada di sekitar pantai ataupun di daratan guna

mencegah dan menghindari terjadinya korban jiwa dan harta serta dampak yang mungkin

timbul ketika bencana itu terjadi.

6. Memasang Sistem Peringatan Dini (Early Warning System).



Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi



1. Bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan gempa khususnya di daerah rawan

gempa.

2. Perkuatan bangunan yang telah ada dengan mengikuti standar kualitas bangunan.

3. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.

4. Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.

5. Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di

daerah rawan gempa bumi.

6. Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan.

7. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara -

cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi.

8. Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan masyarakat

terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama.

9. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan

masyarakat lainnya.

10. Rencana kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.

11. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman

kebakaran dan pertolongan pertama.

12. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan

masyarakat lainnya.

13. Rencana kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.



2.6. Tindakan Yang Harus Dilakukan Saat Terjadi Gempabumi



Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan

pegangan di manapun anda berada.



1. Di dalam rumah

Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan

keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh

anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan

bantal. Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah

terjadinya kebakaran.



2. Di sekolah

Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika

gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat

lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.



3. Di luar rumah

Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau

kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame.

Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.



4. Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall

Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas

atau satpam.









28 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





5. Di dalam lift

Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan

getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift

berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift,

hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.



6. Di kereta api

Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta

dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta.

Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.



7. Di dalam mobil

Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda

akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan,

pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus

mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.



8. Di gunung/pantai

Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di

pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda

tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.



9. Beri pertolongan

Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempa bumi besar.

Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat

kejadian, maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang berada

di sekitar anda.



10. Dengarkan informasi

Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan,

penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang

benar. Anda dapat memperoleh informasi yag benar dari pihak yang berwenang atau polisi.

Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.









29 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









3M itigasi Letusan Gunungapi







3.1. Pendahuluan



Bahaya Gunungapi adalah bahaya yang ditimbulkan oleh letusan/kegiatan gunungapi, berupa benda

padat, cair dan gas serta campuran diantaranya yang mengancam atau cenderung merusak dan

menimbulkan korban jiwa serta kerugian harta benda dalam tatanan (lingkungan) kehidupan

manusia.



Di Indonesia terdapat 129 gunungapi aktif dan 500 gunungapi tidak aktif. Dari 129 gunungapi aktif

atau 13 persen dari jumlah gunungapi aktif di dunia ada di Indonesia dan 70 persen eruptif dan 15

dalam kondisi kritis. Persebaran gunungapi di Indonesia membentuk satu jalur yang berupa garis

mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sebelum membelok ke arah utara, kearah laut

Banda dan Sulawesi bagian utara. Panjang jalur gunungapi kurang lebih 7000 kilometer yang terdiri

dari gunungapi dengan karakteristik campuran. Saat ini lebih dari 10 persen penduduk Indonesia

mendiami wilayah wilayah yang rentan terhadap letusan gunungapi. Selama lebih dari 100 tahun,

sudah 175.000 jiwa telah menjadi korban dari letusan gunungapi.



Sebagaimana diketahui bahwa danau Toba yang terkenal itu sebetulnya adalah sebuah Kaldera atau

lubang dipermukaan bumi yang diakibatkan oleh gempa vulkanik. Bila luas danau toba mencapai

100 kilometer persegi, bisa dibayangkan betapa besar gempa yang terjadi saat itu, yang konon

terjadi sekitar 74000 tahun lalu. Berikut ini adalah beberapa catatan bencana letusan gunungapi

yang pernah terjadi di Indonesia, antara lain:



1. 1815 : Gunung tambora meletus. Jumlah korban saat itu tidak tercatat dengan baik, namun

dapat dipastikan melebihi jumlah korban letusan gunung krakatau.

2. 1883 : Gunung krakatau meletus, mengakibatkan tsunami dan menghilangkan lebih dari

36000 jiwa. Letusan ini menjadi catatan sejarah dunia tersendiri karena tsunami yang

diakibatkan mencapai hingga Hawaii dan Amerika Selatan.

3. 1930 : Gunung merapi meletus. Mengakibatkan 1300 orang harus kehilangan nyawa

4. 1963 : Gunung Agung Meletus. Menewaskan sekitar 1000 jiwa



Indonesia yang berada pada zona beriklim tropis dengan musim kemarau dan penghujan telah

berpengalaman menghadapi ancaman bencana aliran material piroklastik yang berasal dari hasil

erupsi gunungapi, seperti aliran lahar atau perpindahan material gunungapi (piroklastik) yang

berbahaya.



Gunung Merapi adalah salah satu gunungapi sangat aktif di dunia. Gunungapi ini menunjukkan

erupsi menghasilkan awan panas piroklastik dan longsoran kubah lava. Luncuran kubah lava yang

terjadi secara berulang-ulang sepanjang periode erupsi dan dapat memakan waktu hingga berbulan

bulan. Sebagai gambaran, dari 13 Mei hingga 21 Juni 2006, gunung Merapi ditetapkan dalam

kondisi Siaga namun demikian tidak menunjukkan tanda tanda penurunan aktivitasnya. Semburan

material piroklastik mencapai ratusan kali dengan radius hingga mencapai 6 kilometer yang

membahayakan pemukiman penduduk, terutama di wilayah kabupaten Sleman, Daerah Istimewa

Yogyakarta, Klaten, dan Magelang di wilayah Jawa Tengah. Lebih dari 17.212 jiwa telah diungsikan

sementara dan 2 orang meninggal dikarenakan terperangkap di lubang perlindungan yang berada di

Kaliadem, Cangkringan, Sleman.



30 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





3.2. Dampak Letusan Gunungapi Terhadap Lingkungan



Dampak letusan gunungapi terhadap lingkungan dapat berupa dampak yang bersifat negatif dan

positif. Dampak negatif dari letusan suatu gunungapi dapat berupa bahaya yang langsung dapat

dirasakan oleh manusia seperti awan panas, jatuhan piroklastik, gas beracun yang keluar dari

gunungapi dan lain sebagainya, sedangkan bahaya tidak langsung setelah erupsi berakhir, seperti

lahar hujan, kerusakan lahan pertanian, dan berbagai macam penyakit akibat pencemaran. Adapun

dampak positif dari aktivitas suatu gunungapi terhadap lingkungan adalah bahan galian mineral

industri, energi panasbumi, sumberdaya lahan yang subur, areal wisata alam, dan sebagai

sumberdaya air.



1. Dampak Negatif:



a. Bahaya langsung, terjadi pada saat letusan (lava, awan panas, jatuhan piroklastik/bom,

lahar letusan dan gas beracun).

b. Bahaya tidak langsung, terjadi setelah letusan (lahar hujan, kelaparan akibat rusaknya

lahan pertanian/perkebunan/ perikanan), kepanikan, pencemaran udara/air oleh gas racun:

gigi kuning/ keropos, endemi gondok, kecebolan dsb.



2. Dampak Positif :



a. Bahan galian: seperti batu dan pasir bahan bangunan, peralatan rumah tangga,patung, dan

lain lain.

b. Mineral : belerang, gipsum,zeolit dan juga mas (epitermal gold).

c. Energi panas bumi: listrik, pemanas ruangan, agribisnis

d. Mataair panas : pengobatan/terapi kesehatan.

e. Daerah wisata: keindahan alam

f. Lahan yang subur: pertanian dan perkebunan

g. Sumberdaya air: air minum, pertanian/peternakan, dll.





1.10. Material Produk Gunungapi



1. Awan panas



a. Awan Panas : Kecepatan sekitar 60 – 145 km/jam, suhu tinggi sekitar 2000 – 800oC, jarak

dapat mencapai 10 km atau lebih dari pusat erupsi, sehingga dapat menghancurkan

bangunan, menumbangkan pohon-pohon besar (pohon-pohon dapat tercabut dengan

akarnya atau dapat terpotong pangkalnya).



b. Awan panas “Block and Ash Flow” arahnya mengikuti lembah; sedangkan awan panas

“Surge” pelamparannya lebih luas dapat menutupi morfologi yang ada di lereng gunungapi

sehingga daerah yang rusak/hancur lebih luas (gambar 3-1).



2. Guguran Longsoran Lava



Guguran atau longsoran lava pijar pada erupsi efusif, sumbernya berasal dari kubah lava atau aliran

lava. Longsoran kubah lava dapat mencapai jutaan meter kubik sehingga dapat menimbulkan

bahaya. Guguran kubah lava dapat membentuk awan panas. Contoh : G. Merapi – Jawa Tengah, G.

Semeru – Jawa Timur. Jatuhan Piroklastik; Lemparan Bom yang di sebabkan oleh erupsi eksplosif

dapat merusak/menghancurkan, menimbulkan korban manusia, menimbulkan kebakaran (hutan

atau bangunan). Jarak lemparan batu tergantung dari tenaga dan sifat erupsinya, G. Agung (1963)

mencapai 7 km (kebakaran rumah), G. Semeru (1962–1963) mencapai 4 km (kebakaran hutan), G.

Krakatau 1883 mencapai 10 km. Hujan abu dapat menyebabkan runtuhnya bangunan, udara gelap,

jalan licin, mengganggu penerbangan, rusaknya tanaman, mengganggu kesehatan (mata,

pernapasan).





31 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









Gambar 3-1 Aliran lava yang memicu aliran awan panas



3. Lontaran Batuan Pijar



Pecahan batuan gunungapi, berupa bom atau bongkah batu gunungapi yang dilontarkan saat

gunungapi meletus. Dapat menyebar kesegala arah. Dapat menyebabkan kebakaran hutan,

bangunan dan kematian manusia, termasuk hewan. Cara terbaik untuk menyelamatkan diri dari

bahaya ini adalah menjauhi daerah yang akan terlanda lontaran batu (pijar).



4. Hujan Abu



Hujan material jatuhan yang terdiri dari material lepas berukuran butir lempung sampai pasir. Dapat

menyebabkan kerusakan hutan dan lahan pertanian. Dapat meninggikan keasaman air. Dapat menyebabkan

sakit mata dan saluran pernapasan. Pada saat hujan abu sebaiknya orang berlindung.



5. Aliran Lava



Karena suhunya yang tinggi (7000C – 1200oC), volume lava yang besar, berat, sehingga aliran lava

mempunyai daya perusak yang besar, dapat menghancurkan dan membakar apa yang dilandanya

(gambar 3-2).



6. Lahar



Kecepatan aliran lava sangat lamban antara 5–300 meter/hari, Kecepatannya tergantung dari

viskositas dan kemiringan lereng. Manusia dapat menghindar untuk menyelamatkan diri. Lahar

dapat dibedakan menjadi 2 jenis, lahar letusan dan lahar hujan. Lahar letusan disebut juga lahar

primer, sedangkan lahar hujan disebut juga lahar sekunder. Aliran lahar mempunyai berat jenis

yang besar (2–2,5), dapat mengangkut berbagai macam ukuran, sehingga laliran lahar ini

mempunyai daya perusak yang sangat besar dan sangat berbahaya terutama pada daerah aliran

yang cukup miring atau landai. Bangunan beton seperti jembatan dapat dihancurkan dalam sekejap

mata.



a. Lahar letusan : Lahar ini terjadi akibat letusan eksplosif pada gunungapi yang mempunyai

danau kawah.Luas daerah yang dilanda oleh lahar letusan tergantung kepada volum air

didalam kawah dan kondisi morfolog di sekitar kawah.Makin besar volum air di dalam







32 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





kawah dan makin luas dataran daerah sekitarnya, maka makin jauh dan makin luas pula

penyebaran laharnya.



b. Lahar hujan : Lahar hujan : lahar yang terbentuk akibat hujan. Bisa terjadi segera setelah

gunungapi meletus atau setelah lama meletus. Faktor yang menentukan besar kecilnya

lahar hujan adalah volume air hujan (curah hujan) yang turun diatas daerah endapan abu

gunungapi dan volume endapan gunungapi yang mengandung abu sebagai sumber material

pembentuk lahar. Di G. Merapi, curah hujan 70 mm/jam selama 3 jam mengakibatkan

terjadinya lahar. Contoh lahar hujan yang terkenal adalah: G. Semeru, G. Merapi, G. Agung,

juga G. Galunggung (gambar 3-3 dan gambar 3-4).









Gambar 3-2 Aliran lava pijar









Gambar 3-3 Aliran lahar yang berasal dari puncak Merapi







33 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









Gambar 3-4 Aliran lahar Merapi yang menimbum bis





1.11. Bahaya Letusan Gunungapi



Bahaya letusan gunungapi di bagi menjadi 2 (dua) berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu:



1. Bahaya Utama (Primer)



a) Awan Panas, merupakan campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala

ukuran) terdorong ke bawah akibat densitas yang tinggi dan merupakan adonan yang jenuh

menggulung secara turbulensi bagaikan gunung awan yang menyusuri lereng. Selain

suhunya sangat tinggi, antara 300 - 700? Celcius, kecepatan lumpurnyapun sangat tinggi, >

70 km/jam (tergantung kemiringan lereng).

b) Lontaran Material (pijar),terjadi ketika letusan (magmatik) berlangsung. Jauh lontarannya

sangat tergantung dari besarnya energi letusan, bisa mencapai ratusan meter jauhnya.

Selain suhunya tinggi (>200?C), ukuran materialnya pun besar dengan diameter > 10 cm

sehingga mampu membakar sekaligus melukai, bahkan mematikan mahluk hidup. Lazim

juga disebut sebagai "bom vulkanik".

c) Hujan Abu lebat, terjadi ketika letusan gunung api sedang berlangsung. Material yang

berukuran halus (abu dan pasir halus) yang diterbangkan angin dan jatuh sebagai hujan

abu dan arahnya tergantung dari arah angin. Karena ukurannya yang halus, material ini

akan sangat berbahaya bagi pernafasan, mata, pencemaran air tanah, pengrusakan

tumbuh-tumbuhan dan mengandung unsur-unsur kimia yang bersifat asam sehingga

mampu mengakibatkan korosi terhadap seng dan mesin pesawat.

d) Lava, merupakan magma yang mencapai permukaan, sifatnya liquid (cairan kental dan

bersuhu tinggi, antara 700 - 1200?C. Karena cair, maka lava umumnya mengalir mengikuti

lereng dan membakar apa saja yang dilaluinya. Bila lava sudah dingin, maka wujudnya

menjadi batu (batuan beku) dan daerah yang dilaluinya akan menjadi ladang batu.

e) Gas Racun, muncul tidak selalu didahului oleh letusan gunung api sebab gas ini dapat

keluar melalui rongga-rongga ataupun rekahan-rekahan yang terdapat di daerah gunung

api. Gas utama yang biasanya muncul adalah CO2, H2S, HCl, SO2, dan CO. Yang kerap

menyebabkan kematian adalah gas CO2. Beberapa gunung yang memiliki karakteristik

letusan gas beracun adalah Gunung Api Tangkuban Perahu, Gunung Api Dieng, Gunung

Ciremai, dan Gunung Api Papandayan.

f) Tsunami, umumnya dapat terjadi pada gunung api pulau, dimana saat letusan terjadi

material-material akan memberikan energi yang besar untuk mendorong air laut ke arah



34 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





pantai sehingga terjadi gelombang tsunami. Makin besar volume material letusan makin

besar gelombang yang terangkat ke darat. Sebagai contoh kasus adalah letusan Gunung

Krakatau tahun 1883.



2. Bahaya Ikutan (Sekunder)



Bahaya ikutan letusan gunung api adalah bahaya yang terjadi setelah proses peletusan

berlangsung. Bila suatu gunung api meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai

ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba, sebagian material tersebut

akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan,

banjir tersebut disebut lahar.





3.5. Penanggulangan Bahaya Letusan Gunungapi



Erupsi gunungapi merupakan proses alam dan sampai saat ini belum dapat dicegah, sehingga untuk

menekan terjadinya korban dan kerugian harta benda perlu diadakan upaya penanggulangan

bencana.



Berikut ini adalah beberapa upaya yang dilakukan dalam rangka penanggulangan bencana geologi

yang disebabkan oleh erupsi gunungapi, yaitu:



a. Melakukan pengamatan dan pemantauan terhadap gunungapi aktif.



b. Dengan melakukan pengamatan dan pemantauan yang terus menerus, maka diharapkan

dapat dipelajari tingkah laku dan aktifitas semua gunungapi aktif yang ada sehingga usaha

perkiraan erupsi dan bahaya gunungapi akan tepat dan cepat. Penyampaian informasi

dalam rangka pengamanan penduduk dari kawasan rawan bencana dapat dilaksanakan

tepat waktu sehingga korban bisa dihindarkan.









Gambar 3-5 Citra Satelit Gunung Semeru, Jawa Timur : Aliran Lahar (warna biru)





35 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





c. Melakukan pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi:

Untuk mengetahui dan menentukan kawasan rawan bencana gunungapi (I, II,III, lihat

gambar 3-6), tempat-tempat yang aman jika terjadi letusan, tempat pengungsian, alur

pengungsian, puskesmas. Sehingga pada saat terjadi peningkatan aktifitas /letusan, kita

sudah siap dengan peta operasional lapangan.



d. Mengosongkan kawasan rawan bencana III

Daerah atau kawasan yang termasuk kedalam kawasan rawan bencana III harus

dikosongkan dan dilarang untuk hunian tetap, karena daerah ini sering terlanda oleh produk

letusan gunungapi (lava, awan panas, jatuhan piroklastika)



e. Melakukan usaha preventif:

Upaya untuk mengurangi bahaya akibat aliran lahar, yaitu dengan cara membuat tanggul

penangkis, tanggul–tanggul untuk mengurangi kecepatan lahar, serta mengurangi volume

air di kawah (Kelud, Galunggung).









Gambar 3-6 Contoh Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi hasil penafsiran citra satelit









36 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









Gambar 3-7 Contoh Peta Kawasan Rawan Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi





3.6. Status / Tingkat Kegiatan Gunungapi



1. Aktif Normal (Tingkat I). Kegiatan gunungapi dalam keadaan normal dan tidak

memperlihatkan adanya peningkatan kegiatan berdasarkan hasil pengamatan secara visual,

maupun hasil penelitian secara instrumental

2. Waspada (Tingkat II). Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang teramati

secara visual dan atau secara instrumental

3. Siaga (Tingkat III). Peningkatan kegiatan semakin nyata, yang teramati secara visual

dan atau secara instrumental serta berdasarkan analisis perubahan kegiatan tersebut

cenderung diikuti letusan/erupsi

4. Awas (Tingkat IV). Peningkatan kegiatan gunungapi mendekati/menjelang letusan utama

yang diawali oleh letusan abu/asap





3.7. Kegiatan Mitigasi Bencana Letusan Gunungapi



1. Penyelidikan gunungapi; untuk mengetahui karakter dan sifat letusannya.

2. Pemetaan kawasan rawan bencana; menentukan kawasan-kawasan yang rawan bagi

Penduduk terhadap ancaman bahaya letusan awan panas, aliran lava, aliran lahar, lontaran

batupijar, dan hujan abu, dalam bentuk peta.

3. Monitoring atau pemantauan gunungapi; memantau kegiatan gunungapi dengan

berbagai metode (kegempaan, deformasi, pengukuran geofisik gas gunungapi, remote

sensing, hidrologi, geologi dan geokimia), untuk mengetahui secara tepat pergerakan





37 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





magma dan gas yang terkandung didalamnya dalam bentuk manifestasi permukaan

maupun bawah permukaan.

4. Bimbingan, Informasi dan Rekomendasi; Data dan informasi dikemas dalam bentuk

tingkat kegiatan gunungapi setiap perubahan tingkat kegiatan gunungapi disampaikan

kepada masyarakat melalui provinsi, pemkab/kota disekitar gunungapi, membangkitkan

antisipasi terhadap pandangan dan reaksi dari masyrakat yang diberi “informasi”.

5. Komunikasi dan Pelaporan; komunikasi interaktif untuk memudahkan pelaksanaan

penanggulangan bencana bilamana diperlukan, pelaporan dari setiap pos pengamatan

gunungapi secara periodik.





3.8. Apa yang harus dilakukan dalam menghadapi letusan gunungapi



1. Sebelum terjadi letusan gunungapi:



a) Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk mengungsi.

b) Membuat perencanaan penanganan bencana.

c) Mempersiapkan pengungsian jika diperlukan.

d) Mempersiapkan kebutuhan dasar



2. Jika Terjadi Letusan Gunungapi :



a) Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.

b) Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk

kemungkinan bencana susulan.

c) Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana

panjang, topi dan lainnya.

d) Jangan memakai lensa kontak.

e) Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung

f) Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah

tangan.



3. Setelah Terjadi Letusan Gunungapi :



a) Jauhi wilayah yang terkena hujan abu

b) Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan

atap bangunan.

c) Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak

mesin.









38 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









4M itigasi Longsoran Tanah



4.1. Pendahuluan



Longsoran Tanah atau gerakan tanah adalah proses perpindahan masa batuan / tanah akibat gaya

berat (gravitasi). Longsoran tanah telah lama menjadi perhatian ahli geologi karena dampaknya

banyak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian harta benda. Tidak jarang pemukiman yang

dibangun di sekitar perbukitan kurang memperhatikan masalah kestabilan lereng, struktur batuan,

dan proses proses geologi yang terjadi di kawasan tersebut sehingga secara tidak sadar potensi

bahaya longsoran tanah setiap saat mengancam jiwanya.



Faktor internal yang menjadi penyebab terjadinya longsoran tanah adalah daya ikat (kohesi)

tanah/batuan yang lemah sehingga butiran-butiran tanah/batuan dapat terlepas dari ikatannya dan

bergerak ke bawah dengan menyeret butiran lainnya yang ada disekitarnya membentuk massa yang

lebih besar. Lemahnya daya ikat tanah/batuan dapat disebabkan oleh sifat kesarangan (porositas)

dan kelolosan air (permeabilitas) tanah/batuan maupun rekahan yang intensif dari masa

tanah/batuan tersebut. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mempercepat dan menjadi pemicu

longsoran tanah dapat terdiri dari berbagai faktor yang kompleks seperti kemiringan lereng,

perubahan kelembaban tanah/batuan karena masuknya air hujan, tutupan lahan serta pola

pengolahan lahan, pengikisan oleh air yang mengalir (air permukaan), ulah manusia seperti

penggalian dan lain sebagainya.



4.2. Jenis Jenis Longsoran Tanah



Berdasarkan tipenya, longsoran tanah dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu:



(1). Longsoran tanah tipe aliran lambat (slow flowage ) terdiri dari:

a. Rayapan (Creep): perpindahan material batuan dan tanah ke arah kaki lereng dengan

pergerakan yang sangat lambat.

b. Rayapan tanah (Soil creep): perpindahan material tanah ke arah kaki lereng

c. Rayapan talus (Talus creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari material talus/scree.

d. Rayapan batuan (Rock creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari blok-blok batuan.

e. Rayapan batuan glacier (Rock-glacier creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari limbah

batuan.

f. Solifluction/Liquefaction: aliran yang sangat berlahan ke arah kaki lereng dari material

debris batuan yang jenuh air.



(2). Longsoran tanah tipe aliran cepat (rapid flowage) terdiri dari:

a. Aliran lumpur (Mudflow) : perpindahan dari material lempung dan lanau yang jenuh air

pada teras yang berlereng landai.

b. Aliran masa tanah dan batuan (Earthflow): perpindahan secara cepat dari material debris

batuan yang jenuh air.

c. Aliran campuran masa tanah dan batuan (Debris avalanche): suatu aliran yang meluncur

dari debris batuan pada celah yang sempit dan berlereng terjal.



(3) Longsoran tanah tipe luncuran (landslides) terdiridari:

a. Nendatan (Slump): luncuran kebawah dari satu atau beberapa bagian debris batuan,

umumnya membentuk gerakan rotasional.



39 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





b. Luncuran dari campuran masa tanah dan batuan (Debris slide): luncuran yang sangat cepat

ke arah kaki lereng dari material tanah yang tidak terkonsolidasi (debris) dan hasil luncuran

ini ditandai oleh suatu bidang rotasi pada bagian belakang bidang luncurnya.

c. Gerakan jatuh bebas dari campuran masa tanah dan batuan (Debris fall): adalah luncuran

material debris tanah secara vertikal akibat gravitasi.

d. Luncuran masa batuan (Rock slide): luncuran dari masa batuan melalui bidang perlapisan,

joint (kekar), atau permukaan patahan/sesar.

e. Gerakan jatuh bebas masa batuan (Rock fall): adalah luncuran jatuh bebas dari blok batuan

pada lereng-lereng yang sangat terjal.

f. Amblesan (Subsidence): penurunan permukaan tanah yang disebabkan oleh pemadatan

dan isostasi/gravitasi.



4.3. Faktor Penyebab Longsoran Tanah



Faktor-faktor yang mempengaruhi longsoran tanah dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu faktor

yang bersifat pasif dan faktor yang bersifat aktif.



(1) Faktor yang bersifat pasif pada longsoran tanah adalah:

a. Litologi: material yang tidak terkonsolidasi atau rentan dan mudah meluncur karena basah

akibat masuknya air ke dalam tanah.

b. Susunan Batuan (stratigrafi): perlapisan batuan dan perselingan batuan antara batuan

lunak dan batuan keras atau perselingan antara batuan yang permeable dan batuan

impermeabel.

c. Struktur geologi: jarak antara rekahan/joint pada batuan, patahan, zona hancuran, bidang

foliasi, dan kemiringan lapisan batuan yang besar.

d. Topografi: lereng yang terjal atau vertikal.

e. Iklim: perubahan temperatur tahunan yang ekstrim dengan frekuensi hujan yang intensif.

f. Material organik: lebat atau jarangnya vegetasi.



(2) Faktor yang bersifat aktif pada longsoran tanah adalah:

a. Gangguan yang terjadi secara alamiah ataupun buatan.

b. Kemiringan lereng yang menjadi terjal karena aliran air.

c. Pengisian air ke dalam tanah yang melebihi kapasitasnya, sehingga tanah menjadi jenuh

air.

d. Getaran-getaran tanah yang diakibatkan oleh seismisitas atau kendaran berat.



Pada gambar 4-1 diperlihatkan 5 tipe longsoran tanah yang didasarkan atas cara dan mekanisme

longsorannya, yaitu tipe runtuhan, tipe aliran, tipe luncuran, tipe nendatan, dan tipe rayapan.



4.4. Metoda Penanggulangan dan Pencegahan Longsoran Tanah



Penanggulangan dan pencegahan bahaya longsoran tanah dapat dilakukan dengan berbagai cara

dan metoda, baik yang berkaitan dengan tipe longsoran dan faktor penyebabnya. Terdapat

beberapa tipe longsoran tanah yang dapat ditanggulangi melalui rekayasa keteknikan, seperti

membuat terasering di kawasan perbukitan yang berlereng terjal agar lereng menjadi stabil, atau

struktur pondasi bangunannya menggunakan tiang pancang hingga mencapai kedalaman tertentu

sehingga dapat menahan bangunan jika terjadi longsoran tanah.



Untuk dapat mengetahui secara detil tentang tipe dan faktor penyebab longsoran tanah di suatu

wilayah, maka diperlukan penyelidikan geologi secara detail dan komprehensif sehinga dapat

diketahui secara pasti sebaran, lokasi, jenis gerakan tanahnya serta kestabilan wilayah di daerah

tersebut. Peta kestabilan wilayah dan lokasi gerakan tanah merupakan out-put dari penyelidikan

geologi yang berguna untuk perencanaan tataguna lahan.









40 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









Gambar 4-1. Tipe-tipe longsoran tanah



Pada gambar 4-2 diperlihatkan beberapa lokasi pemukiman yang terlanjur ada di kawasan rawan

bencana geologi, terutama bahaya tanah longsor. Dalam gambar tampak lokasi pemukiman yang

berada di sekitar suatu jalur patahan (kiri) dan kawasan pemukiman yang berada di kaki perbukitan

yang rentan terhadap longsoran tanah (kanan). Pada gambar tampak pemukiman yang tersebar

hingga mencapai kawasan yang berada di lereng-lereng berbukitan tanpa memperhitungkan faktor

kestabilan lerengnya yang berpotensi longsor. Penelitian geologi untuk kerentanan longsoran tanah



41 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





umumnya melibatkan pemetaan dan kajian terhadap karakteristik tanah dan batuan. Sifat

tanah/struktur tanah yang harus diteliti adalah: kekerasan, klastisitas, permeabilitas, plastisitas, dan

komposisi mineralnya, terutama untuk tanah yang tersusun dari mineral lempung (mineral

montmorilonite) yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah, sedangkan untuk batuan yang dikaji

adalah jenis dan struktur batuannya, terutama untuk lapisan batuan yang lemah dan banyak

rekahannya (kekarnya).









Gambar 4-2 Pemukiman yang berada di kawasan rawan bencana longsoran tanah

(gambar atas) dan pemukiman di daerah rawan amblesan (gambar

bawah).



Faktor hidrologi juga harus menjadi perhatian dalam penyelidikan, terutama mengenai penyebaran

pola pengaliran, sebaran mata air dan mata air panas, serta lapisan-lapisan batuan permeable yang

berhubungan dengan air tanah. Keterlibatan faktor pemicu gerakan tanah harus dikaji dan di

evaluasi, seperti:



a) cuaca dan iklim guna mengetahui hubungan antara periode curah hujan dengan longsoran.

b) data air bawah tanah sebelum dan sesudah terjadi longsoran.

c) catatan kegempaan untuk menentukan hubungan antara longsoran dengan gempabumi.

d) catatan mengenai pembukaan dan penggalian lahan dan aktivitas di atas lahan yang

kemungkinan melebihi beban atau penambangan tanah pada lereng-lereng bukit.







42 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





Penelitian bawah permukaan diperlukan guna mengetahui hubungan 3 (tiga) dimensinya serta

mendapatkan contoh batuan yang diperlukan untuk diuji di laboratorium, seperti pengujian kuat

tekan (shear-strength), sensitivitas batuan, serta sifat-sifat keteknikan lainnya. Begitu juga dengan

sifat dan struktur tanah perlu dilakukan pengujian baik di laboratorium maupun pengujian lapangan

dengan cara pembuatan sumuran uji (testpit), pembuatan paritan uji (trenches) dan pemboran.

Observasi air tanah perlu dilakukan untuk mendapatkan data-data tinggi muka air, tekanan air, dan

arah aliran. Penyelidikan geofisika dapat juga dilakukan untuk mendapatkan data data tentang

ketebalan lapisan tanah dan kedalaman batuan dasar.



Pada tabel 4-1. diperlihatkan beberapa metoda penanggulangan dan pencegahan serta perbaikan

terhadap gejala gerakan tanah yang ditujukan terutama untuk mengurangi gaya geser (shear-

stress), peningkatan resistensi geser (shear-strength) atau kedua-duanya. Untuk mengurangi gaya

geser dapat dilakukan dengan cara penggalian material penyebab longsor, atau dengan cara

mengurangi keterjalan lereng serta memindahkan permukaan tanah yang tidak stabil. Pengurangan

derajat kelerengan akan berdampak pada berkurangnya beban masa batuan/ tanah yang dapat

meluncur atau longsor. Pemindahan masa batuan/tanah yang ada di bagian muka luncuran

sekaligus akan mengurangi beban dan gaya geser.



Pada tipe gerakan tanah jenis luncuran rotasional (slumping), resistensi geser batuan akan semakin

meningkat jika masa batuan/tanah dipindahkan ke arah bagian belakang luncuran. Menstabilkan

suatu longsoran yang komplek seringkali melibatkan pengendalian eksternal dan internal dari

pengaliran air. Air yang jatuh dan mengalir di permukaan lahan yang berlereng harus di alirkan dan

diusahakan jangan sampai diam ditempat. Pada beberapa lereng perlu dibuat agar supaya aliran air

lancar serta dihindarkan jangan sampai air terjebak pada bagian undak lereng. Untuk mencegah

aliran air yang masuk ke dalam rekahan (kekar) batuan, maka batuan harus ditutup dengan

lempung, aspal atau dengan material yang impermeable.



Aliran air bawah tanah harus dikurangi guna menghindari meningkatnya resistensi geser batuan.

Untuk mengurangi aliran air bawah tanah dilakukan dengan cara memindahkannya melalui

terowongan air yang dibuat secara horizontal atau dengan bantuan pipa perforasi, sumur vertikal

atau dibuat paritan (trench) yang diisi kembali dengan material yang kasar dan permeable.

Menstabilkan struktur untuk meningkatkan resistensi geser merupakan cara yang paling efektif

sebelum longsoran terjadi dibandingkan apabila longsoran sudah terjadi. Jenis yang sangat umum

dari masa batuan/tanah diletakkan sebagai beban dan ditempatkan pada bagian luar dari masa

longsoran untuk menahan reaksi gerakan ke atas, sedangkan bagian dasar berfungsi sebagai

penopang kearah lateral untuk bagian tepi dari masa longsoran, bagian pinggir atau lereng yang

sudah dikupas diisi untuk mencegah gerakan ke arah kaki lereng. Dinding yang dibuat dari semen

atau beton akan berguna untuk menahan laju masa batuan/tanah yang tidak stabil.



Untuk gerakan tanah yang berada di lereng bukit, pencegahan dapat dilakukan dengan cara

memasang tiang pancang, namun demikian untuk menahan luncuran masa batuan/tanah yang aktif

pemasangan tiang pancang tidak akan mampu menahan gerakan masa batuan/tanah tersebut dan

hal ini disebabkan karena perpindahan debris tanah yang mampu melewati tiang pancang, atau

membuat tiang pancang menjadi miring dan bahkan mematahkannya. Hal yang lebih ekstrim adalah

tiang pancang meluncur bersamaan dengan luncuran tanah. Resistensi geser pada masa batuan

atau tanah yang tidak stabil dapat meningkat karena pemadatan dan pengerasan internal melalui

injeksi semen, aspal atau bahan kimia tertentu.



Masalah longsoran yang terjadi di reservoir bendungan adalah masalah yang berkaitan dengan

luncuran masa batuan/tanah yang bersifat lepas dan erosi yang cepat. Luncuran masa

batuan/tanah dan erosi di dalam reservoir bendungan dapat mengakibatkan banjir yang cukup

besar dan bahkan bendungan dapat mengalami retak atau hancur. Kecepatan rembasan yang

terjadi melalui luncuran debris dapat memperbesar rembasan, yaitu melalui pelarutan atau

perpindahan sedimen yang berukuran halus dan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya

breakout dibawah poros bendungan. Pengendalian rembasan yang melewati badan bendungan dari

jenis luncuran debris dapat di lakukan dengan cara menyuntik material/bahan penstabil atau

dengan cara bagian belakang bendungan ditutupi dengan material lempung, disiram semen, atau





43 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





dilapisi oleh bahan yang bersifat tidak lolos air. Apabila cara-cara tersebut diatas tidak bisa

dilakukan maka disarankan untuk dilakukan pendangkalan bagian dasar reservoir agar supaya

keamanan menjadi meningkat atau dengan cara menguras atau mengalirkan air yang terdapat

dalam reservoir melalui saluran pembuangan atau dengan cara memotong saluran.



Tabel 4-1 Metoda Pencegahan dan Perbaikan Gerakan Tanah / Longsoran

(Root, A.W., Prevention of Landslides, 1958)









44 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





4.5. Perencanaan Tataguna Lahan Dikawasan Rawan Longsor



Perencanaan tataguna lahan di kawasan rawan longsor lebih sulit dibandingkan dengan

perencanaan pada lahan yang rawan banjir atau pada lahan rawan gempa. Kesulitan perencanaan

pada lahan yang rawan longsor disebabkan oleh dua faktor, yaitu:



1. Longsoran seringkali terjadi dengan jenis yang sangat komplek sehingga memerlukan

pemetaan yang lebih rinci guna menentukan batas-batas yang tegas yang akan dipakai

dalam perencanaan dan pembuatan aturan.



2. Longsoran seringkali memiliki tingkat potensi perpindahan masa tanah/batuan yang

berbeda beda. Penelitian yang lebih rinci perlu dilakukan untuk meng-klasifikasi-kan tipe-

tipe longsoran serta memperkirakan kapan longsoran tersebut akan terjadi.



Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut diatas maka diperlukan suatu peta yang disebut

dengan peta “Kestabilan Lahan” atau peta “Kerentanan Longsoran Tanah”. Peta kestabilan lahan

telah dikembangkan untuk membantu para perencana dalam mengenal lokasi lahan yang tidak

stabil (rawan longsor) dan peta ini dapat dipakai untuk pertimbangan awal dalam proses

perencanaan. Dengan peta kestabilan lahan, dimungkinkan untuk disiapkan suatu rencana umum

dari pemanfaatan lahan yang sesuai, terutama untuk lahan-lahan yang tidak stabil. Pemanfaatan

pada lahan-lahan yang tidak stabil harus mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi serta

biaya yang akan dikeluarkan untuk menstabilkan longsoran atau mencegah instalasi yang ada.









Gambar 4-3 Peta Kestabilan Lahan (warna hijau merupakan areal dengan

kestabilan sedang dan warna merah merupakan areal yang tidak

stabil).



Pada Peta Kerentanan Longsoran Tanah (gambar 4-4) dapat dilihat sebaran dari area–area yang

berpotensi/rawan terhadap longsoran tanah. Pada peta, warna coklat tua adalah areal yang

berpotensi longsor dengan kedalaman bidang longsor kurang dari 10 meter sedangkan warna

kuning adalah areal yang berpotensi longsor dengan kedalaman bidang longsor kurang dari 3 meter

dan warna hijau merupakan area yang relatif stabil dengan lapisan tanah kurang dari 2 meter.



45 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012







Pada peta terlihat juga daerah yang landai bersifat stabil dan tidak rentan terhadap longsoran

tanah. Areal ini memiliki kesesuaian lahan yang cocok untuk dikembangkan menjadi areal

pemukiman, sedangkan di areal-areal yang bertopografi terjal secara umum tidak cocok/sesuai

untuk areal lahan pemukiman, mengingat prosentasi kelerengannya diatas 50%. Areal ini sangat

cocok untuk pengembangan hutan lindung.



Pada gambar 4-4 diperlihatkan beberapa jenis longsoran tanah yang berdampak pada bangunan

dan infrastruktur. Pemukiman yang berada dikawasan perbukitan yang rentan longsor (kiri atas);

pemukiman yang berada diatas tanah yang rentan terhadap amblesan (kanan atas); Bangunan

yang berada diatas areal tanah yang rentan longsor (kiri tengah); Jalan Raya yang melalui lereng

yang mudah longsor (kanan tengah); Bangunan yang berada di kaki lereng yang rentan longsor (kiri

bawah); dan Jalan Raya yang berada diatas tanah yang tidak stabil (kanan bawah)









Gambar 4-4 Peta Kerentanan Longsoran Tanah









46 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





4.6. Strategi dan upaya penanggulangan bencana longsoran tanah:



1. Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama

lainnya

2. Mengurangi tingkat keterjalan lereng

3. permukaan maupun air tanah. (Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan airn dari lereng,

menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng.

Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam

tanah).

4. Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling

5. Terasering dengan sistem drainase yang tepat.(drainase pada teras - teras dijaga jangan

sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah)

6. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat

(khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80%

sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih

pendek dan ringan , di bagian dasar ditanam rumput).

7. Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat

8. Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan

9. Pengenalan daerah rawan longsor

10. Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall)

11. Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.

12. Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction(infeksi

cairan).

13. Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel

14. Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan.









47 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









5M itigasi Bencana Banjir







5.1. Pendahuluan



Banjir merupakan kejadian yang selalu berulang setiap tahunnya di Indonesia, tercatat bahwa

kebanyakan terjadi pada musim penghujan. Berdasarkan sudut pandang morfologi, banjir terjadi di

negara negara yang mempunyai bentuk bentangalam yang sangat bervariasi dengan sungai nya

yang banyak. Banjir di Indonesia umumnya terjadi di Indonesia bagian barat, karena tingkat curah

hujan yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur. Pertumbuhan

penduduk di Indonesia dan kebutuhan ruang sebagai tempat untuk mengakomodasi kehidupan

manusia dan mendukung aktivitasnya secara tidak langsung telah berperan terjadinya banjir.

Penebangan hutan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang telah meningkatkan

sedimentasi di sungai-sungai, tidak terkendalinya air permukaan dan tanah menjadi jenuh air. Hal

ini yang memungkinkan air permukaan menjangkau kawasan yang lebih luas yang pada akhirnya

menjadi penyebab banjir bandang seperti yang terjadi pada tahun 2003 di wilayah Bahorok dan

Langkat, Sumatra Utara dan di wilayah Ayah, Jawa Tengah.



Dalam tahun 2006 bencana banjir yang melanda beberapa wilayah, termasuk bencana banjir

bandang dan tanah longsor. Di Jember, Jawa Timur akibat banjir bandang dan tanah longsor telah

menelan korban sebanyak 92 orang meninggal dan 8.861 hanyut, sedangkan di Trenggalek 18

orang meninggal. Banjir bandang yang disertai dengan tanah longsor terjadi juga di Manado,

Sulawesi Utara yang memakan korban sebanyak 27 jiwa dan 30.000 hanyut. Bencana yang sama

terjadi juga di Sulawesi Selatan pada bulan Juni 2006. Lebih dari 200 orang meninggal dunia dan

puluhan lainnya hilang (Data Provinsi dari BAKORNAS, 23 Juni 2006).



Hal yang sangat menarik dari peristiwa bencana banjir adalah mengapa kebanyakan dari manusia

bermukim di wilayah-wilayah yang berpotensi terkena bencana banjir. Berdasarkan sejarah

kehidupan manusia di muka bumi, umumnya pemukiman dan perkotaan dibangun di tepi tepi pantai

dan sungai. Hal ini dapat dimengerti karena manusia membutuhkan air untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya. Permasalahannya adalah bagaimana cara untuk meminimalkan resiko dan menghindar

dari bencana banjir yang sudah terlanjur ada ditempat dimana manusia tinggal.



5.2. Penanggulangan Bahaya Banjir



Gambar 5-1 adalah contoh Peta Zona Genangan Dikawasan Rawan Banjir. Pada gambar

diperlihatkan zona genangan air yang dibuat berdasarkan hasil perhitungan data hidrologi untuk

siklus bencana banjir 1 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan, dan 100 tahunan serta areal /

kawasan yang terbebas dari zona genangan air. Pada umumnya, pencegahan fisik untuk semua

jenis bencana banjir dilakukan untuk siklus banjir yang terjadi hingga 100 tahun. Adapun

perhitungan siklus genangan bencana banjir biasanya dihitung untuk siklus 100 tahunan dengan

pertimbangan tingkat resiko yang dapat diterima dan umumnya dibutuhkan oleh pihak perusahaan

asuransi, khususnya yang menangani asuransi kerugian properti yang disebabkan oleh bencana

banjir.



Terdapat 4 cara untuk mengurangi potensi bahaya banjir, yaitu:

1. rekayasa keteknikan,

2. kebijakan tataguna lahan dan regulasi,



48 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





3. sistem peringatan dini,

4. asuransi.



Dalam penanggulangan bencana banjir, metoda pertama dan kedua merupakan metoda yang

menjadi perhatian utama. Metoda pendekatan rekayasa keteknikan dapat dilakukan dengan

pembangunan sistem drainase yang baik dan kontruksi bangunan yang tahan banjir serta

membangun sistem peringatan dini, sedangkan pendekatan kebijakan dan peraturan melalui

penerbitan aturan-aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan, khususnya peruntukan lahan

melalui zonasi kerentanan terhadap bahaya banjir. Hal yang terpenting dalam membuat kebijakan

dan peraturan adalah bahwa dengan adanya peraturan dapat memastikan masyarakat yang

bermukim di wilayah wilayah rawan bencana banjir tidak menjadi subyek dari bencana yang akan

menimpa dan aktivitas masyarakat tidak terganggu apabila terjadi banjir.









Gambar 5-1 Klasifikasi bencana banjir yang disajikan dalam bentuk peta Zona

Genagan Air dengan siklus genangan 1 tahunan, 5 tahunan, 10

tahunan, 25 tahunan, dan 100 tahunan serta zona bebas genangan







49 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





Salah satu pendekatan di dalam pengendalian banjir adalah dengan cara melakukan perencanaan

penanggulangan bencana banjir secara komprehensif, seperti misalnya perencanaan yang

disesuaikan dengan zona-zona genangan air, dan diikuti dengan pembuatan aturan aturan yang

berhubungan dengan persyaratan konstruksi bangunan yang diijinkan pada setiap zona. Agar dapat

efektif maka dalam perencanaan umum harus ada peta dokumen tentang zona-zona genangan air

serta frekuensi kejadian banjir. Informasi semacam ini sangat penting dan diperlukan dalam proses

perencanaan tataguna lahan, terutama dalam penetapan peruntukan lahan.



Dalam pemanfaatan lahan dapat juga terjadi dan sangat dimungkinkan membangun bangunan di

daerah dataran banjir (floodplain area) akan tetapi harus memenuhi persyaratan-persyaratan

tertentu, seperti misalnya konstruksi bangunannya harus berada diatas genangan air atau

konstruksi jembatan yang melintasi sungai harus ditingkatkan guna menghindari terpaan arus air

ketika terjadi banjir, dan dapat juga bagian dari areal dataran banjir dibiarkan sebagai ruang

terbuka atau digunakan sebagai taman atau sarana olah raga. Dalam persiapan perencanaan,

pertimbangan harus diberikan untuk pemanfaatan lahan yang berada bagian hulu yang dapat

membantu meminimalkan frekuensi terjadinya banjir. Pemanfaatan lahan dan penggunaan aspal

dan beton pada lahan harus diminimalkan untuk membantu penyerapan air dan mengurangi runoff.



Aturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan dan persyaratan konstruksi di daerah rawan

bencana banjir merupakan hal yang umum diterapkan dan merupakan suatu kebijakan pemerintah

dalam rangka melindungi masyarakatnya terhadap bencana banjir. Peraturan yang berhubungan

dengan larangan membangun pada areal yang mudah tergenang air (flood plain area), dan aturan

yang berkaitan dengan jenis penggunaan lahan yang diijinkan serta konstruksi bangunan yang

diperbolehkan merupakan aturan-aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan, baik oleh

pemerintah (pemberian IMB), swasta, maupun masyarakat secara konsisten. Peta Zona Genangan

Air sangat berguna baik bagi Pemerintah Daerah dan Kontraktor karena peta ini merupakan rujukan

dasar dalam membuat aturan aturan yang berkaitan dengan jenis dan tipe bangunan yang harus

dipenuhi dalam membangun infrastruktur serta struktur dan fondasi bangunan.



Perusahaan asuransi dapat memanfaatkan peta zona genangan air sebagai dasar dalam penilaian

bangunan yang akan diasuransikan, khususnya untuk asuransi bencana banjir. Pemerintah

bertanggungjawab atas pembuatan aturan aturan yang berkaitan dengan persyaratan bangunan,

seperti konstruksi dan tipe bangunan yang akan dibangun di wilayah banjir, baik untuk banjir yang

sifatnya tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, dan seterusnya serta aturan-aturan yang berkaitan

dengan pemanfaatan lahan. Para kontraktor wajib memenuhi aturan-aturan yang telah dibuat dan

ditetapkan terhadap persyaratan konstruksi bangunan. Sedangkan bagi Perusahaan Asuransi peta

zona genangan banjir diperlukan guna kepentingan dalam penilaian dan besarnya tanggungan

suatu bangunan yang akan diasuransikan, khususnya asuransi kerugian bencana alam (banjir).





5.3. Mitigasi Bencana Banjir



Banjir adalah suatu peristiwa alamiah yang disebabkan oleh meluapnya air ke luar alur sungai

karena volume air yang melebihi kapasitas saluran sungai yang tersedia. Wilayah luapan air sungai

disebut sebagai daerah dataran banjir (flood-plain area). Disamping itu banjir juga dapat

disebabkan oleh akumulasi air hujan di suatu daratan yang berbentuk cekungan dimana lapisan

tanahnya bersifat impermeabel atau lapisan tanahnya jenuh air.



Bencana banjir baru akan timbul ketika di daerah tersebut terdapat areal pemukiman sehingga

luapan air berdampak pada kerugian dan kerusakan harta benda dan jiwa manusia. Peran dan

kontribusi manusia terhadap terjadinya bencana banjir sangatlah besar, hal ini dapat kita lihat dari

berbagai kasus bencana banjir yang melanda diberbagai wilayah dan perkotaan. Sebagai contoh

Jakarta sebagai ibukota negara setiap tahun menjadi langganan banjir. Adapun beberapa faktor

faktor yang menjadi penyebab banjir di wilayah Jakarta antara lain adalah:



1. Pembangunan dan perluasan pemukiman yang tidak mengikuti peta arahan Rencana Tata

Ruang Wilayah (RTRW),





50 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





2. Topografi Jakarta yang berbentuk cekungan sehingga di beberapa wilayah berfungsi

sebagai tandon aliran air,

3. Berkurangnya daerah resapan air sebagai dampak dari pembangunan,

4. Meningkatnya surface runoff yang disebabkan perubahan tutupan lahan,

5. Tidak berfungsinya sistem drainase secara maksimal akibat banyaknya sampah dan kotoran

lainnya,

6. Sistem Pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang tidak terintegrasi serta degradasi lingkungan

di wilayah DAS akibat perubahan tataguna lahan dan tutupan lahan.



Usaha untuk mengurangi bencana banjir dapat dilakukan antara lain dengan cara antara lain:



1. Melakukan reboisasi di daerah tangkapan hujan,

2. Membuat sumur-sumur resapan air,

3. Mengurangi surface runoff dengan pembuatan drainase yang baik,

4. Pembuatan check-dam untuk pengendalian banjir,

5. Memodifikasi saluran sungai dan drainase,

6. Membersihkan saluran sungai dan pengelolaan DAS secara terintegrasi dan komprehensif.



5.4. Mengenal Penyebab Banjir



1. Curah hujan tinggi

2. Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.

3. Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air keiuar

sempit.

4. Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai.

5. Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan di pinggir sungai.

6. Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai.



5.4.1. Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir



a. Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.

b. Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering

menimbulkan banjir.

c. Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta daerah banjir.

d. Tidak membuang sampah ke dalam sungai.

e. Mengadakan Program Pengerukan sungai.

f. Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.

g. Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta mengurangi

aktifitas di bagian sungai rawan banjir.



5.4.2. Yang Harus Dilakukan Sebelum Banjir



1. Di Tingkat Warga



a. Bersama aparat terkait dan pengurus RT/RW terdekat bersihkan lingkungan sekitar Anda,

terutama pada saluran air atau selokan dari timbunan sampah.

b. Tentukan lokasi Posko Banjir yang tepat untuk mengungsi lengkap dengan fasilitas dapur

umum dan MCK, berikut pasokan air bersih melalui koordinasi dengan aparat terkait,

bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda.

c. Bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda, segera bentuk tim penanggulangan banjir di

tingkat warga, seperti pengangkatan Penanggung Jawab Posko Banjir.

d. Koordinasikan melalui RT/RW, Dewan Kelurahan setempat, dan LSM untuk pengadaan tali,

tambang, perahu karet dan pelampung guna evakuasi.

e. Pastikan pula peralatan komunikasi telah siap pakai, guna memudahkan mencari informasi,

meminta bantuan atau melakukan konfirmasi.





51 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





2. Di Tingkat Keluarga



a. Simak informasi terkini melalui TV, radio atau peringatan Tim Warga tentang curah hujan

dan posisi air pada pintu air.

b. Lengkapi dengan peralatan keselamatan seperti: radio baterai, senter, korek gas dan lilin,

selimut, tikar, jas hujan, ban karet bila ada.

c. Siapkan bahan makanan mudah saji seperti mi instan, ikan asin, beras, makanan bayi, gula,

kopi, teh dan persediaan air bersih.

d. Siapkan obat-obatan darurat seperti: oralit, anti diare, anti influenza.

e. Amankan dokumen penting seperti: akte kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan,

sertifikat dan benda-benda berharga dari jangkauan air dan tangan jahil.



5.4.3. Yang Harus Dilakukan Saat Banjir



a. Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di

wilayah yang terkena bencana,

b. Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk

diseberangi.

c. Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir. Segera

mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi.

d. Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana

seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat.



5.4.4. Yang Harus Dilakukan Setelah Banjir



a. Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan

gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.

b. Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering

berjangkit setelah kejadian banjir.

c. Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan, atau binatang

penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk.

d. Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.









52 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









6M itigasi Bencana Hidrometeorologi





6.1. Kekeringan



Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk

kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Kekeringan diklasifikasikan sebagai

berikut :



1. Kekeringan Alamiah



a. Kekeringan Meteorologis berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu

musim.

b. Kekeringan Hidrologis berkaitan dengan kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah.

c. Kekeringan Pertanian berhubungan dengan kekurangan kandungan air di dalam tanah

sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu

tertentu pada wilayah yang luas.

d. Kekeringan Sosial Ekonomi berkaitan dengan kondisi dimana pasokan komoditi ekonomi

kurang dari kebutuhan normal akibat kekeringan meteorologi, hidrologi, dan pertanian



2. Kekeringan Antropogenik



Kekeringan yang disebabkan karena ketidak-patuhan pada aturan terjadi karena :

a. Kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan akibat ketidak-patuhan

pengguna terhadap pola tanam/pola penggunaan air.

b. Kerusakan kawasan tangkapan air, sumber-sumber air akibat perbuatan manusia.



Dari data historis, kekeringan di Indonesia sangat berkaitan dengan fenomena ENSO (El-Nino

Southern Oscilation). Pengaruh El-Nino lebih kuat pada musim kemarau dari pada musim hujan.

Pengaruh El-Nino pada keragaman hujan memiliki beberapa pola:

a. akhir musim kemarau mundur dari normal

b. awal masuk musim hujan mundur dari normal

c. curah hujan musim kemarau turun tajam dibanding normal

d. deret hari kering semakin panjang, khususnya di daerah Indonesia bagian Timur



Kekeringan akan berdampak pada kesehatan manusia, tanaman serta hewan. Kekeringan

menyebabkan pepohonan akan mati dan tanah menjadi gundul yang pada musim hujan menjadi

mudah tererosi dan banjir. Dampak dari bahaya kekeringan mengakibatkan bencana berupa

hilangnya bahan pangan akibat tanaman pangan dan ternak mati, petani kehilangan mata

pencaharian, banyak orang kelaparan dan mati, sehingga berdampak terjadinya urbanisasi.



3. Gejala Terjadinya Kekeringan



a. Kekeringan berkaitan dengan menurunnya tingkat curah hujan dibawah normal dalam satu

musim. Pengukuran kekeringan Meteorologis merupakan indikasi pertama adanya bencana

kekeringan.

b. Tahap kekeringan selanjutnya adalah terjadinya kekurangan pasokan air permukaan dan air

tanah. Kekeringan ini diukur berdasarkan elevasi muka air sungai, waduk, danau dan air

tanah. Kekeringan Hidrologis bukan merupakan indikasi awal adanya kekeringan.





53 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





c. Kekeringan pada lahan pertanian ditandai dengan kekurangan lengas tanah (kandungan air

di dalam tanah) sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada

periode waktu tertentu pada wilayah yang luas yang menyebabkan tanaman menjadi kering

dan mengering.



4. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana



a. Penyusunan peraturan pemerintah tentang pengaturan sistem pengiriman data iklim dari

daerah ke pusat pengolahan data.

b. Penyusunan PERDA untuk menetapkan skala prioritas penggunaan air dengan

memperhatikan historical right dan azas keadilan.

c. Pembentukan pokja dan posko kekeringan pada tingkat pusat dan daerah.

d. Penyediaan anggaran khusus untuk pengembangan/perbaikan jaringan pengamatan iklim

pada daerah-daerah rawan kekeringan.

e. Pengembangan/perbaikan jaringan pengamatan iklim pada daerah-daerah rawan

kekeringan

f. Memberikan sistem reward dan punishment bagi masyarakat yang melakukan upaya

konservasi dan rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan.



6.2. Angin Topan



Angin Topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang

sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang

sangat berdekatan dengan khatulistiwa.



Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang

yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar

daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20 Km/jam. Di Indonesia

dikenal dengan sebutan angin badai.



1. Gejala dan Peringatan Dini



Angin topan tropis dapat terjadi secara mendadak, tetapi sebagian besar badai tersebut terbentuk

melalui suatu proses selama beberapa jam atau hari yang dapat dipantau melalui satelit cuaca.

Monitoring dengan satelit dapat untuk mengetahui arah angin topan sehingga cukup waktu untuk

memberikan peringatan dini. Meskipun demikian perubahan sistem cuaca sangat kompleks sehingga

sulit dibuat prediksi secara cepat dan akurat.



2. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Angin Topan



a. Membuat struktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap

gaya angin.

b. Perlunya penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban angin

khususnya di daerah yang rawan angin topan

c. Penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada daerah yang terlindung dari

serangan angin topan.

d. Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin.

e. Pembuatan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan sebagai tempat

penampungan sementara bagi orang maupun barang saat terjadi serangan angin topan.

f. Pengamanan/perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat

membahayakan diri atau orang lain disekitarnya.

g. Kesiapsiagaan dalam menghadapi angin topan, mengetahui bagaimana cara penyelamatan

diri

h. Pengamanan barang-barang disekitar rumah agar terikat/dibangun secara kuat sehingga

tidak diterbangkan angin

i. Untuk para nelayan, supaya menambatkan atau mengikat kuat kapal-kapalnya.



54 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012





6.3. Gelombang Pasang



Gelombang pasang adalah gelombang air laut yang melebihi batas normal dan dapat menimbulkan

bahaya baik di lautan, maupun di darat terutama daerah pinggir pantai. Umumnya gelombang

pasang terjadi karena adanya angin kencang/topan, perubahan cuaca yang sangat cepat, dan

karena ada pengaruh dari gravitasi bulan maupun matahari. Kecepatan gelombang pasang sekitar

10-100 Km/jam.



Gelombang pasang sangat berbahaya bagi kapal-kapal yang sedang berlayar pada suatu wilayah

yang dapat menenggelamkan kapal-kapal tersebut. Jika terjadi gelombang pasang di laut akan

menyebabkan tersapunya daerah pinggir pantai atau disebut dengan abrasi.



1. Karakteristik Terjadinya Gelombang Pasang



a. Angin kencang .

b. Terjadinya badai di tengah laut dan menyebabkan terjadinya gelombang pasang di pinggir

pantai.

c. Perubahan cuaca yang tiba-tiba menjadi gelap



2. Penanganan Bencana Gelombang Pasang



a. Pemberitahuan dini kepada masyarakat dari hasil prakiraan cuaca melalui radio maupun alat

komunikasi.

b. Bila sedang berlayar di tengah laut, usahakan menghindari daerah laut yang sedang dilanda

cuaca buruk.

c. Membuat/merencanakan pengungsian apabila terjadi gelombang pasang di pinggir pantai

d. Membuat infrastruktur pemecah ombak untuk mengurangi energi gelombang yang datang

terutama di daerah pantai yang bergelombang besar.

e. Tetap tenang jika terjadi gelombang pasang di tengah laut maupun di pinggir pantai.









55 Copyright by @ Djauhari Noor 2011

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2012









7D aftar Pustaka





1. Arthur D. Howard & Irwin Remson, 1978, Geology in Environmental Planning, Mc Graw

Hill Publishing Company, Inc.



2. Avery T. E., Interpretation of Aerial Photographs, Burgess Publishing Company,

Minneapolis, Minnesota, 1977.



3. Blyth, F.G.H and M.H. de Freitas, 1974, A Geology for Engineers, English Language Book

Society, Edward Arnold Publishers Ltd. 41 Bedford Square, London WC 1B3DQ.



4. Davenport, Th.E., 2003, The Watershed Project Management Guide, Lewis Publishing

company, New York, USA



5. Eckel, E. B., ed.,1958, “Landslides and Engineeering Practice”, Highway Research Board

Special Rept. 29, NAS-NRC Publ. 554, National Academy of Sciences, Washington, D.C.



6. Edward J. Tarbuck and Frederick K. Lutgens, 1987, The Earth : An Introduction to

physical geology, second edition, Merrill Publishing Company, A Bell & Howell Company,

Columbus, Ohio 43216.



7. Gerals Kiely, 1997, Environmental Engineering, Mc Graw Hill Publishing Company, Inc.



8. Nichols, D.R., and C.C. Campbell., eds., 1971, “Environmental Planning and Geology”,

Published cooperatively by U. S. Geological Survey, U.S. Dept. of Interior, and Office of

Research and Technology of U.S. Dept. of Housing and Urban Development, 1971.



9. National Action Plan For Disaster Risk Reduction 2006 – 2009, Cooperation between

Office of State Minister for National Development Planning / National Planning Agency with

National Coordinating Agency for Disaster Managemen, Perum. Percetakan Negara Republik

Indonesia.



10. Tagata, E., 1995, Understanding the Coastal Zone. Living in the Coastal Zone: ECOS:

83 (Autumn issue). CSIRO Coastal Zone Program. Australia.



11. Thornbury, W.D., 1969, Principles of Geomorphology, John Willey & Sons, New York.



12. United Nations Development Programmes - Indonesia, Laporan Tahunan 2007.









56 Copyright by @ Djauhari Noor 2011


Related docs
Other docs by DJAUHARI NOOR
GLOSARIUM
Views: 3  |  Downloads: 0
DAFTAR PUSTAKA
Views: 0  |  Downloads: 0
PALEOGEOGRAFI
Views: 0  |  Downloads: 0
GEOMORFOLOGI
Views: 0  |  Downloads: 0
PROSES PROSES GEOLOGI
Views: 0  |  Downloads: 0
DAFTAR ISI - PENGANTAR GEOLOG
Views: 0  |  Downloads: 0
Pertemuan_1_Kuliah Geologi Dasar
Views: 211  |  Downloads: 23