Embed
Email

ISLAMIC FINANCE

Document Sample

Shared by: Lalu Mahyudin
Categories
Tags
Stats
views:
32
posted:
1/15/2012
language:
pages:
41
ISLAMIC FINANCE

Bagi mahasiswa pelajar ekonomi terutama ekonomi syariah



 Beranda

 About

 PROFILE

 IKLAN



jump to navigation



Akuntansi Syari’ah April 9, 2010

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah.

Tags: akuntansi, pengertian, struktur, syariah

add a comment



Pengertian Akuntansi Syari’ah



Pertama. Dalam Islam akuntansi dikenal dengan nama ilmu hisab (ilmu hitung) atau dikenal

juga dengan istilah Muhasabah, sedangkan akuntansi dalam literatur konvensional dikenal

dengan istilah ”to account” yang artinya menghitung. Profesi akuntan dikenal dengan sebutan al-

muhasib.



Kedua istilah di atas mempunyai akar kata yang sama yaitu berasal dari kata ”hasaba”, dan

bermakna menghitung dan menimbang semua amalan manusia dan tingkah lakunya sesuai

dengan apa yang tercatat dan terdaftar. Tapi kata ”hisab” juga mempunyai arti lain dalam bahasa,

yaitu merupakan akar dari kata kerja ”hasaba”, yang berarti mengkalkulasikan dan mendata.



Struktur Teori Akuntansi Syari’ah



Akuntansi syariah merupakan salah satu upaya mendekontruksi akuntansi modern kedalam

bentuk yang lebih humanis dan syarat nilai. Tujuan diciptakannya akuntansi Islam terciptanya

perbedaan bisnis dengan wawasan humanis, emansipatoris, transcendental, teleologikal.

Konsekuensi ontologis upaya ini bahwa akuntan secara kritis harus mampu membebaskan

manusia dari ikatan realitas peradaban, beserta jaringan-jaringan kuasanya, kemudin akan

menciptakan realitas alternatif dengan seperangkat jaringan-jaringan kuasa Ilahi yang mengikat

manusia dalam hidup sehari-hari (ontologi tauhid ).



Dengan demikian, melakukan rekonstruksi akuntansi (Islamisasi akuntansi) dalam rangka

merumuskan akuntansi yang dirancang dan dibangun melalui muatan nilai tauhid dan

ketundukan pada jaringan-jaringan kuasa Illahi (Akuntansi Islam). Kesemuanya itu dilakukan

dengan perspektif khalifahtul-Allah filardh. Perspektif ini berarti suatu cara pandang yang sadar

akan hakikat diri manusia dan tanggung jawab kelak di kemudian hari di hadapan Allah SWT.

sumber: http://fe.umj.ac.id (with editting)



EKONOMI ISLAM Maret 30, 2010

Posted by khairoen in Ekonomi islam.

Tags: ekonomi, islam

add a comment



Pengertian Ekonomi Islam

Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya

diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum

dalam rukun iman dan rukun Islam.

Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt memerintahkannya, sebagaimana firman-

Nya dalam surat At Taubah ayat 105:

“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman

akan melihat pekerjaan itu.”

Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw:

“Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia

mendapat ampunan.”

(HR.Thabrani dan Baihaqi)



Tujuan Ekonomi Islam

Segala aturan yang diturunkan Allah swt dalam system Islam mengarah pada tercapainya

kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian

pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu

manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.

Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof.Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga sasaran

hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat

manusia, yaitu:



1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan

lingkungannya.



2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di

bidang hukum dan muamalah.



3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah

yang menjad puncak sasaran di atas mencaku p lima jaminan dasar:



· keselamatan keyakinan agama ( al din)



· keselamatan akal (al aql)



· kesalamatan jiwa (al nafs)



· keselamatan harta benda (al mal)

· keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)



Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:



1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada

manusia.



2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.



3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.



4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang

saja.



5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk

kepentingan banyak orang.



6. Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.



7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab).



8. Islam melarang riba dalam segala bentuk, karena riba merugikan bagi bagi siapa saja.



TANTANGAN PENGELOLAAN DAN

PENGHIMPUNAN DANA Maret 27, 2010

Posted by khairoen in ISLAMIC FINANCE.

Tags: akuntansi, ekonomi, ISLAMIC FINANCE, perbankan syariah

add a comment



Tantangan Pengelolaan Dana

Laju pertumbuhan perbankan syariah di tingkat global tak diragukan lagi. Aset lembaga

keuangan syariah di dunia diperkirakan mencapai 250 miliar dollar AS, tumbuh rata-rata lebih

dari 15 persen per tahun. Di Indonesia, volume usaha perbankan syariah selama lima tahun

terakhir rata-rata tumbuh 60 persen per tahun. Tahun 2005, perbankan syariah Indonesia

membukukan laba Rp 238,6 miliar, meningkat 47 persen dari tahun sebelumnya. Meski begitu,

Indonesia yang memiliki potensi pasar sangat luas untuk perbankan syariah, masih tertinggal

jauh di belakang Malaysia.



Tahun lalu, perbankan syariah Malaysia mencetak profit lebih dari satu miliar ringgit (272 juta

dollar AS). Akhir Maret 2006, aset perbankan syariah di negeri jiran ini hampir mencapai 12

persen dari total aset perbankan nasional. Sedangkan di Indonesia, aset perbankan syariah

periode Maret 2006 baru tercatat 1,40 persen dari total aset perbankan. Bank Indonesia

memprediksi, akselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia baru akan dimulai tahun

ini.



Implementasi kebijakan office channeling, dukungan akseleratif pemerintah berupa pengelolaan

rekening haji yang akan dipercayakan pada perbankan syariah, serta hadirnya investor-investor

baru akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah. Konsultan perbankan syariah, Adiwarman

Azwar Karim, berpendapat, perkembangan perbankan syariah antara lain akan ditandai

penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk yang dipersiapkan pemerintah.



Sejumlah bank asing di Indonesia, seperti Citibank dan HSBC, bahkan bersiap menyambut

penerbitan sukuk dengan membuka unit usaha syariah. Sementara itu sejumlah investor dari

negara Teluk juga tengah bersiap membeli bank-bank di Indonesia untuk dikonversi menjadi

bank syariah. Kriteria bank yang dipilih umumnya beraset relatif kecil, antara Rp 500 miliar dan

Rp 2 triliun. Setelah dikonversi, bank-bank tersebut diupayakan melakukan sindikasi

pembiayaan proyek besar, melibatkan lembaga keuangan global.



Penghimpunan dana

Selain investor asing, penghimpunan dana perbankan syariah dari dalam negeri akan didongkrak

penerapan office-channeling yang didasari Peraturan BI Nomor 8/3/PBI/2006. Aturan ini

memungkinkan cabang bank umum yang mempunyai unit usaha syariah melayani produk dan

layanan syariah, khususnya pembukaan rekening, setor, dan tarik tunai.



Sampai saat ini, office channeling baru digunakan BNI Syariah dan Permata Bank Syariah.

Sejumlah 212 kantor cabang Bank Permata di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi,

Bandung, dan Surabaya sudah dapat melayani produk dan layanan syariah sejak awal Maret lalu.

Sementara tahap awal office channeling BNI Syariah dimulai 21 April 2006 pada 29 kantor

cabang utama BNI di wilayah Jabotabek. Ditargetkan 151 kantor cabang utama BNI di seluruh

Indonesia akan menyusul.



General Manager BNI Syariah Suhardi beberapa pekan lalu menjelaskan, untuk memudahkan

masyarakat mengakses layanan syariah, diluncurkan pula BNI Syariah Card. Kartu ini

memungkinkan nasabah syariah menggunakan seluruh delivery channel yang dipunyai BNI,

seluruh ATM BNI, ATM Link, ATM Bersama, dan jaringan ATM Cirrus International di seluruh

dunia.



Hasil penelitian dan permodelan potensi serta preferensi masyarakat terhadap bank syariah yang

dilakukan BI tahun lalu menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap perbankan syariah.

Namun, sebagian besar responden mengeluhkan kualitas pelayanan, termasuk keterjangkauan

jaringan yang rendah. Kelemahan inilah yang coba diatasi dengan office channeling.



Dana terhimpun juga akan meningkat terkait rencana pemerintah menyimpan biaya ibadah haji

pada perbankan syariah. Dengan kuota 200.000 calon jemaah haji, jika masing-masing calon

jemaah haji menyimpan Rp 20 juta, akan terhimpun dana Rp 4 triliun yang hanya dititipkan ke

bank syariah selama sekitar empat bulan. Dana haji yang terhimpun dalam jumlah besar dalam

waktu relatif pendek akan mendorong munculnya instrumen investasi syariah. Dana terhimpun

itu bahkan cukup menarik bagi pebisnis keuangan global untuk meluncurkan produk investasi

syariah.



Di sisi lain, suku bunga perbankan konvensional diperkirakan akan turun. Menurut Adiwarman,

bagi hasil perbankan syariah yang saat ini berkisar 8-10 persen, membuat perbankan syariah

cukup kompetitif terhadap bank konvensional. “Dengan selisih sekitar dua persen (dari tingkat

bunga bank konvensional), orang masih tahan di bank syariah, tetapi lebih dari itu, iman bisa

juga tergoda untuk pindah ke bank konvensional,” kata Adiwarman menjelaskan pola perilaku

nasabah yang tidak terlalu loyal syariah.



Berdasarkan analisis BI, tren meningkatnya suku bunga pada triwulan ketiga tahun 2005 juga

sempat membuat perbankan syariah menghadapi risiko pengalihan dana (dari bank syariah ke

bank konvensional). Diperkirakan lebih dari Rp 1 triliun dana nasabah dialihkan pada triwulan

ketiga tahun lalu. Namun, kepercayaan deposan pada perbankan syariah terbukti dapat

dipulihkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga yang mencapai Rp 2,2 triliun pada akhir

tahun. Kenaikan akumulasi dana pihak ketiga perbankan syariah merupakan peluang, sekaligus

tantangan, karena tanpa pengelolaan yang tepat justru masalah akan datang.



Perbankan syariah sempat dituding “kurang gaul” dalam lingkungan pembiayaan karena

sejumlah nasabah yang dianggap bermasalah pada bank konvensional justru memperoleh

pembiayaan dari bank syariah. Akan tetapi, Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia

Wahyu Dwi Agung meyakini, dengan sistem informasi biro kredit BI yang memuat data seluruh

debitor, tudingan seperti itu tidak akan terjadi lagi.



Posisi rasio pembiayaan yang bermasalah (non-performing financings) pada perbankan syariah

tercatat naik dari 2,82 persen pada Desember 2005 menjadi 4,27 persen Maret lalu. Rasio ini

dinilai masih terkendali.



Kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses layanan perbankan syariah dan ketersediaan

produk investasi syariah tidak akan optimal tanpa promosi dan edukasi yang memadai tentang

lembaga keuangan syariah. Amat dibutuhkan pula jaminan produk yang ditawarkan patuh

terhadap prinsip syariah.



Peluang dan potensi perbankan syariah yang besar memang menuntut kerja keras untuk

kemaslahatan.



PRINSIP DAN PRODUK PERBANKAN SYARIAH Maret

27, 2010

Posted by khairoen in ISLAMIC FINANCE.

Tags: akuntansi, ekonomi, ISLAMIC FINANCE, perbankan syariah

add a comment



Prinsip perbankan syariah

Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain

untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai

dengan syariah.



Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain:



 Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan

nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.

 Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha

institusi yang meminjam dana.

 Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanya merupakan

media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.

 Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus

mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.

 Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam.

Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.



Produk perbankan syariah

Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain:



Jasa untuk peminjam dana



 Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Setiap

keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko

kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh

kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti

penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.

 Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau joint

venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara

kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak.

Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini ada campur tangan

pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada campur tangan.

 Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan membelikan

barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke pengguna jasa

dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank, dan

pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai akad

diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah margin yang disepakati.

Contoh:harga rumah, 500 juta, margin bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang dibayar

nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati diawal

antara Bank dan Nasabah.

 Takaful (asuransi islam)



Jasa untuk penyimpan dana

 Wadi’ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil

dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak berkewajiban, namun

diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah.

 Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu yang

tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan bank akan

dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.



PERBANKAN SYARIAH Maret 27, 2010

Posted by khairoen in ISLAMIC FINANCE.

Tags: akuntansi, ekonomi, finance, islam, islamic, Perbankan, syariah

4 comments



Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan

berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam

agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba

serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang

berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana

hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.



Latar belakang



Perbankan syariah pertama kali muncul di Mesir tanpa menggunakan embel-embel islam, karena

adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa saat itu akan melihatnya sebagai gerakan

fundamentalis. Pemimpin perintis usaha ini Ahmad El Najjar, mengambil bentuk sebuah bank

simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di kota Mit Ghamr pada tahun 1963.

Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu sudah berdiri 9 bank dengan konsep

serupa di Mesir. Bank-bank ini, yang tidak memungut maupun menerima bunga, sebagian besar

berinvestasi pada usaha-usaha perdagangan dan industri secara langsung dalam bentuk

partnership dan membagi keuntungan yang didapat dengan para penabung.



Masih di negara yang sama, pada tahun 1971, Nasir Social bank didirikan dan mendeklarasikan

diri sebagai bank komersial bebas bunga. Walaupun dalam akta pendiriannya tidak disebutkan

rujukan kepada agama maupun syariat islam.



Islamic Development Bank (IDB) kemudian berdiri pada tahun 1974 disponsori oleh negara-

negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam, walaupun utamanya bank tersebut

adalah bank antar pemerintah yang bertujuan untuk menyediakan dana untuk proyek

pembangunan di negara-negara anggotanya. IDB menyediakan jasa finansial berbasis fee dan

profit sharing untuk negara-negara tersebut dan secara eksplisit menyatakan diri berdasar pada

syariah islam.



Dibelahan negara lain pada kurun 1970-an, sejumlah bank berbasis islam kemudian muncul. Di

Timur Tengah antara lain berdiri Dubai Islamic Bank (1975), Faisal Islamic Bank of Sudan

(1977), Faisal Islamic Bank of Egypt (1977) serta Bahrain Islamic Bank (1979). Dia Asia-

Pasifik, Phillipine Amanah Bank didirikan tahun 1973 berdasarkan dekrit presiden, dan di

Malaysia tahun 1983 berdiri Muslim Pilgrims Savings Corporation yang bertujuan membantu

mereka yang ingin menabung untuk menunaikan ibadah [[haji].



Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalat Indonesia. Berdiri tahun 1991,

bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta dukungan dari

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Bank ini

sempat terimbas oleh krisis moneter pada akhir tahun 90-an sehingga ekuitasnya hanya tersisa

sepertiga dari modal awal. IDB kemudian memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada

periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba. Saat ini keberadaan bank syariah di

Indonesia telah di atur dalam Undang-undang yaitu UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan

UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan.



Hingga tahun 2007 terdapat 3 institusi bank syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat

Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah. Sementara itu bank umum yang telah

memiliki unit usaha syariah adalah 19 bank diantaranya merupakan bank besar seperti Bank

Negara Indonesia (Persero), Bank Rakyat Indonesia (Persero)dan Bank swasta nasional: Bank

Tabungan Pensiunan Nasional (Tbk).



Sistem syariah juga telah digunakan oleh Bank Perkreditan Rakyat, saat ini telah berkembang

104 BPR Syariah. Prinsip perbankan syariah



Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain

untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai

dengan syariah.



Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain:



* Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai

pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.

* Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat

hasil usaha institusi yang meminjam dana.

* Islam tidak memperbolehkan "menghasilkan uang dari uang". Uang hanya

merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai

intrinsik.

* Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua

belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari

sebuah transaksi.

* Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan

dalam islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan

syariah.



Produk perbankan syariah



Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain: Jasa untuk

peminjam dana



* Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha.

Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang

disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian

yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak

nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan. [3]

* Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership

atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang

disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang

dimiliki masing-masing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah

dalam konsep ini ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan

mudharabah tidak ada campur tangan[4]

* Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan

membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali

ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang

ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya

angsuran flat sesuai akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah

margin yang disepakati. Contoh:harga rumah, 500 juta, margin bank/keuntungan

bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur

selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan Nasabah. [5]

* Takaful (asuransi islam)



Jasa untuk penyimpan dana



* Wadi'ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip

dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak

berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah. [6]

* Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu

yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan

bank akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil

tertentu.



Tantangan Pengelolaan Dana



Laju pertumbuhan perbankan syariah di tingkat global tak diragukan lagi. Aset lembaga

keuangan syariah di dunia diperkirakan mencapai 250 miliar dollar AS, tumbuh rata-rata lebih

dari 15 persen per tahun. Di Indonesia, volume usaha perbankan syariah selama lima tahun

terakhir rata-rata tumbuh 60 persen per tahun. Tahun 2005, perbankan syariah Indonesia

membukukan laba Rp 238,6 miliar, meningkat 47 persen dari tahun sebelumnya. Meski begitu,

Indonesia yang memiliki potensi pasar sangat luas untuk perbankan syariah, masih tertinggal

jauh di belakang Malaysia.



Tahun lalu, perbankan syariah Malaysia mencetak profit lebih dari satu miliar ringgit (272 juta

dollar AS). Akhir Maret 2006, aset perbankan syariah di negeri jiran ini hampir mencapai 12

persen dari total aset perbankan nasional. Sedangkan di Indonesia, aset perbankan syariah

periode Maret 2006 baru tercatat 1,40 persen dari total aset perbankan. Bank Indonesia

memprediksi, akselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia baru akan dimulai tahun

ini.



Implementasi kebijakan office channeling, dukungan akseleratif pemerintah berupa pengelolaan

rekening haji yang akan dipercayakan pada perbankan syariah, serta hadirnya investor-investor

baru akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah. Konsultan perbankan syariah, Adiwarman

Azwar Karim, berpendapat, perkembangan perbankan syariah antara lain akan ditandai

penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk yang dipersiapkan pemerintah.

Sejumlah bank asing di Indonesia, seperti Citibank dan HSBC, bahkan bersiap menyambut

penerbitan sukuk dengan membuka unit usaha syariah. Sementara itu sejumlah investor dari

negara Teluk juga tengah bersiap membeli bank-bank di Indonesia untuk dikonversi menjadi

bank syariah. Kriteria bank yang dipilih umumnya beraset relatif kecil, antara Rp 500 miliar dan

Rp 2 triliun. Setelah dikonversi, bank-bank tersebut diupayakan melakukan sindikasi

pembiayaan proyek besar, melibatkan lembaga keuangan global. Penghimpunan dana



Selain investor asing, penghimpunan dana perbankan syariah dari dalam negeri akan didongkrak

penerapan office-channeling yang didasari Peraturan BI Nomor 8/3/PBI/2006. Aturan ini

memungkinkan cabang bank umum yang mempunyai unit usaha syariah melayani produk dan

layanan syariah, khususnya pembukaan rekening, setor, dan tarik tunai.



Sampai saat ini, office channeling baru digunakan BNI Syariah dan Permata Bank Syariah.

Sejumlah 212 kantor cabang Bank Permata di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi,

Bandung, dan Surabaya sudah dapat melayani produk dan layanan syariah sejak awal Maret lalu.

Sementara tahap awal office channeling BNI Syariah dimulai 21 April 2006 pada 29 kantor

cabang utama BNI di wilayah Jabotabek. Ditargetkan 151 kantor cabang utama BNI di seluruh

Indonesia akan menyusul.



General Manager BNI Syariah Suhardi beberapa pekan lalu menjelaskan, untuk memudahkan

masyarakat mengakses layanan syariah, diluncurkan pula BNI Syariah Card. Kartu ini

memungkinkan nasabah syariah menggunakan seluruh delivery channel yang dipunyai BNI,

seluruh ATM BNI, ATM Link, ATM Bersama, dan jaringan ATM Cirrus International di seluruh

dunia.



Hasil penelitian dan permodelan potensi serta preferensi masyarakat terhadap bank syariah yang

dilakukan BI tahun lalu menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap perbankan syariah.

Namun, sebagian besar responden mengeluhkan kualitas pelayanan, termasuk keterjangkauan

jaringan yang rendah. Kelemahan inilah yang coba diatasi dengan office channeling.



Dana terhimpun juga akan meningkat terkait rencana pemerintah menyimpan biaya ibadah haji

pada perbankan syariah. Dengan kuota 200.000 calon jemaah haji, jika masing-masing calon

jemaah haji menyimpan Rp 20 juta, akan terhimpun dana Rp 4 triliun yang hanya dititipkan ke

bank syariah selama sekitar empat bulan. Dana haji yang terhimpun dalam jumlah besar dalam

waktu relatif pendek akan mendorong munculnya instrumen investasi syariah. Dana terhimpun

itu bahkan cukup menarik bagi pebisnis keuangan global untuk meluncurkan produk investasi

syariah.



Di sisi lain, suku bunga perbankan konvensional diperkirakan akan turun. Menurut Adiwarman,

bagi hasil perbankan syariah yang saat ini berkisar 8-10 persen, membuat perbankan syariah

cukup kompetitif terhadap bank konvensional. “Dengan selisih sekitar dua persen (dari tingkat

bunga bank konvensional), orang masih tahan di bank syariah, tetapi lebih dari itu, iman bisa

juga tergoda untuk pindah ke bank konvensional,” kata Adiwarman menjelaskan pola perilaku

nasabah yang tidak terlalu loyal syariah.

Berdasarkan analisis BI, tren meningkatnya suku bunga pada triwulan ketiga tahun 2005 juga

sempat membuat perbankan syariah menghadapi risiko pengalihan dana (dari bank syariah ke

bank konvensional). Diperkirakan lebih dari Rp 1 triliun dana nasabah dialihkan pada triwulan

ketiga tahun lalu. Namun, kepercayaan deposan pada perbankan syariah terbukti dapat

dipulihkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga yang mencapai Rp 2,2 triliun pada akhir

tahun. Kenaikan akumulasi dana pihak ketiga perbankan syariah merupakan peluang, sekaligus

tantangan, karena tanpa pengelolaan yang tepat justru masalah akan datang.



Perbankan syariah sempat dituding “kurang gaul” dalam lingkungan pembiayaan karena

sejumlah nasabah yang dianggap bermasalah pada bank konvensional justru memperoleh

pembiayaan dari bank syariah. Akan tetapi, Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia

Wahyu Dwi Agung meyakini, dengan sistem informasi biro kredit BI yang memuat data seluruh

debitor, tudingan seperti itu tidak akan terjadi lagi.



Posisi rasio pembiayaan yang bermasalah (non-performing financings) pada perbankan syariah

tercatat naik dari 2,82 persen pada Desember 2005 menjadi 4,27 persen Maret lalu. Rasio ini

dinilai masih terkendali.



Kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses layanan perbankan syariah dan ketersediaan

produk investasi syariah tidak akan optimal tanpa promosi dan edukasi yang memadai tentang

lembaga keuangan syariah. Amat dibutuhkan pula jaminan produk yang ditawarkan patuh

terhadap prinsip syariah.



Peluang dan potensi perbankan syariah yang besar memang menuntut kerja keras untuk

kemaslahatan.



MIKROEKONOMI TERAPAN Maret 20, 2010

Posted by khairoen in Uncategorized.

add a comment



1. Pendahuluan

Ini tentu saja merupakan perantara dalam teori mikroekonomi dan

membantu jika Anda telah juga mengambil beberapa statistik atau ekonometri.

Pembahasan ini disusun sekitar tiga tema:

1. Teori ekonomi – Apa katanya? Apa itu baik untuk?

2. Kausalitas – Apa yang kita maksudkan dengan ini? Dan bagaimana kita tahu kalau kita

melihatnya?

3. Tes empiris – Teori ekonomi adalah cara pengorganisasian fakta dan meramalkan dan

menafsirkan pola di dunia. Ini tidak berarti banyak tanpa data. Data memungkinkan kita untuk

menguji relevansi teori dan untuk mengkalibrasi besar dari prediksi teoretis (prediksi teoritis

sering jelas masuk (positif / negatif) tapi jarang datang dengan magnitudo). Kita akan

menganalisis berbagai eksperimen dan quasi-eksperimen dalam terang teori yang kita

diskusikan.

Definition: Quasi-eksperimen – Peristiwa yang tidak sengaja menciptakan kondisi yang mirip

dengan “randomized

percobaan. Contoh: kembar identik yang dipisahkan saat kelahiran: quasi-eksperimen yang

mungkin digunakan untuk menganalisis sifat-nuture pertanyaan. 200 juta orang membeli tiket

lotre 1 masing-masing dan 100 dari mereka menang lotre. Bisa menggunakan acara ini untuk

mengevaluasi dampak kekayaan pada kebahagiaan, kesehatan, perkawinan

pembubaran, obesitas.

Mengapa menggunakan quasi-eksperimen? Karena banyak dari pertanyaan ekonomi kunci utama

di sekitar pusat pilihan hidup dan hasil: kesehatan, kekayaan, pendidikan, risiko. Hal-hal ini

biasanya tidak terbuka untuk percobaan, jadi kami mencari kesempatan peristiwa-peristiwa di

dunia nyata yang mendekati percobaan kami dan akan diterapkan jika hal itu layak.

1. 1 diskusi: Metodologi Ekonomi – Atau „Mengapa Teori Ekonomi‟

Positif Ekonomi

• Studi tentang “apa adanya”. Usaha deskriptif penilaian bebas nilai.

• Membangun model untuk memahami dan generalisasi fenomena yang kita amati.

• Membuat prediksi yang didasarkan pada model-model.

Normatif Ekonomi

• Menilai “apa yang seharusnya dilakukan”. Membuat resep kebijakan ekonomi.

• Kadang-kadang ekonomi positif memberi kita semua alat yang kita butuhkan untuk

mengatakan bahwa satu kebijakan yang lain dan lebih baik.

(Q: Kapan kasus ini? A: Ketika satu kebijakan secara Pareto lebih unggul dari yang lain. Tidak

terlalu banyak dari ini).

• Definisi: Pareto Perbaikan – Sebuah pilihan / kebijakan / hasil yang bisa membuat setidaknya

satu orang lebih baik tanpa membuat orang lain lebih buruk. Ini adalah kriteria moral yang cukup

pemalu, walaupun itu tidak sepenuhnya tidak kontroversial.

• Pada kasus manapun, pilihan kebijakan peningkatan Pareto sangat jarang (mengapa – teori

mengatakan bahwa orang harus

sudah telah membuat orang-jenis perbaikan). Sebagian besar pilihan kebijakan nilai melibatkan

penilaian, preferensi etis, trade-off antara tujuan yang saling bersaing (misalnya, lapangan kerja

dan inflasi; ekuitas dan efisiensi).

• Meskipun teori ekonomi jarang memberi tahu Anda apa kebijakan untuk memilih, sering

membuat trade-off bersih.

1.1.1 Kekuatan pendekatan ekonomi ilmu sosial

• ketat: asumsi yang menyatakan, metode formal, kesimpulan secara internal konsisten.

• kohesif: dibangun atas dasar prinsip-prinsip pertama dan teori.

• yg dpt disanggah: membuat kuat, dapat diuji (yg dpt disanggah) prediksi, banyak yang muncul

benar.

• Praktis: akan membantu Anda untuk lebih memahami bagaimana dunia bekerja.

1.1.2 Kelemahan dari pendekatan ekonomi

• “Ekonomi ditandai dengan kekasaran yang mengejutkan dalam cara berpikir tentang individu

dan mereka

motivasi … “- Paul Krugman

• Eg, kuat, asumsi penyederhanaan yang sering tidak enak dan tidak dapat sepenuhnya benar

(misalnya, orang bertindak secara rasional untuk mengejar kepentingan pribadi – berbeda dari

egois – tujuan …).

1.1.3 Tapi ada beberapa kekuatan dalam kelemahan ini

• Kita memiliki model dunia. Ini disebut dunia – dan itu terlalu rumit untuk digunakan.

• Teori ekonomi biasanya hadiah-hadiah yang sangat sederhana, sangat bergaya dunia. Tapi ini

bisa sangat membantu.

• Friedman: “Uji validitas model adalah akurasi dari prediksi tentang real fenomena ekonomi,

bukan realisme dari asumsi “.

• Friedman: “Sebuah hipotesis adalah penting jika itu „menjelaskan‟ banyak demi sedikit”.

• Pendekatan kami: model sederhana, wawasan signifikan.

1.1.4 Tiga wawasan signifikan dari pendekatan ekonomi

• “Orang-orang melakukan yang terbaik dengan apa yang telah mereka”. Anda akan menjauhi

manusia dalam memahami

tindakan – baik positif dan normatif. Ini mengejutkan hanya berapa banyak interaksi manusia.

Anda dapat mengerti hanya dengan mengasumsikan bahwa orang mencoba untuk membuat

pilihan terbaik untuk sendiri. Juga perhatikan: Alternatif asumsi muncul jauh kurang menarik …

• Ekuilibrium – Pasar „agregat‟ pilihan individu kolektif untuk menghasilkan hasil yang kadang-

kadang spektakuler yang berbeda dari setiap keputusan.

• Properties of kesetimbangan dapat dievaluasi dengan menggunakan kriteria efisiensi:

- Individu berusaha untuk membuat pilihan terbaik bagi diri mereka sendiri diberi pilihan.

- Apakah ekuilibrium pasar menghasilkan hasil yang terbaik atas semua orang (yaitu, bukan

Pareto efisien)? Jelas tidak ada alasan untuk menganggap bahwa hal itu akan – yaitu, bahwa kita

tidak bisa berbuat lebih baik dengan perencanaan pusat daripada hasil serampangan semua orang

membuat pilihan mandiri untuk alasan egois.

Namun, salah satu wawasan menakjubkan ekonomi adalah bahwa dalam beberapa kondisi, pasar

sering tidak menghasilkan „terbaik‟ hasil. Dan, di mana tidak, teori ini memberikan penjelasan

mengapa dan dapat memberi bimbingan bagaimana mendapatkan hasil yang lebih baik.

Hasil yang baik: kesejahteraan mendasar teorema: kepentingan diri sendiri menghasilkan

efisiensi

Hasil buruk: eksternalitas, kegagalan pasar.



Persamaan Scholes-Black Maret 17, 2010

Posted by khairoen in Uncategorized.

add a comment



Masa depan pasar keuangan tidak bisa ditebak dengan perhitungan. Kemungkinan perhitungan

tersebut hanyalah 50%, seperti kemungkinan munculnya bagian muka koin yang dilempar.



Secara statistik, teori di atas benar, tetapi tetap tidak bisa menentukan masa depan. Cara para ahli

keuangan memprediksi pergerakan pasar lewat hitung-hitungan yang disebut random work.

sama seperti memprediksikan arah jalan orang yang sedang dalamkeadaan mabuk. walau

arahnya tidak jelas, namun hal itu tetap akan menjadi misteri jika tidak diuangkapkan lewat

kalkulasi.



Ahli matematika Kiyoshi Itoh dari jepang ialah orang yang pertama kali mencoba

menghitungnya. Selama perang asia pasifik , beliau menciptakan dalil itoh yang merupakan

tonggak sejarah cara memprediksi pergerakan acak.



Kemudian dalil itu diterapakan dalam bidang keuangan oleh Myron Scholes dan Fisher Black

keduanya dari MIT.

Tahun 1973, lahirlah persamaan yang dikenal oleh semua ahli keuangan yaitu persamaan

scholes black. Dengan dalil itu harga option bisa ditentukan.



Bersama Robert Merton, keduanya dianugrahi hadiah nobel di bidang ekonomi pada tahun

1997.



persamaan yang terkenal itu adalah:









keterangan:



sigma = volatilitas saham C= harga put option S=harga saham N=normal standar

fungsi distribusi kumulatif K=pemogokan dari opsi r=disetahunkan bebas risiko suku

bunga T=suatu waktu dalam tahun



Secara sederhana penjelasannya ialah



harga option = harga saat ini X (perubahan nilai yang terjadi dihari perjanjian) - harga

pembelian di hari perjanjian X bunga X (perubahan nilai yang terjadi dihari perjanjian)



Dengan dalil itu harga option, seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya, dapat

ditentukan.



Hedge fund, Portopolio, Option Maret 15, 2010

Posted by khairoen in Uncategorized.

Tags: blackscholes

add a comment



Hedge fund berarti tindakan pengamanan dana.



Secara umum seperti petani yang menjual beras berdasarkan mekanisme pasar. jika dijual Rp

3000 perkilogram, saat panen melimpah harga beras akan turun menjadi Rp 25oo, tetapi jika

panen meningkat harga akan naik menjadi Rp 3500, yang berarti jumlah penghasilan yang

diperoleh tidak stabil. dari situlah lahir konsep hedge fund yang menganut konsep perdagangan

dengan penyerahan barang kemudian.



Mudahnya dalam contoh seperti ini, Pembeli spekulan lebih dulu mengadakan perjanjian untuk

membeli beras seharga Rp 3000 per kg. dengan demikian beras tetap dijual tanpa melihat hasil

panen, melimpah atau gagal, dengan harga Rp 3000 per kg. dalam hal ini, hedge fund penting

untuk menekan gejolak harga pasar.



Apa untungnya bagi pembeli spekulan? walaupun kaum petani memang tertolong.

tentu ada. jika dalam masa perjanjian terjadi gagal panen dan harga beras menjadi Rp 3500 per

kg, para pembeli spekulan untung Rp 200. tapi jika panen melimpah ruah maka para pembeli

spekulan akan rugi Rp 200.



para spekulan adalah para petaruh. mereka memutuskan berapa jumlah beras yang akan dibeli

tahun depan berdasarkan data dan pengalaman.sekali salah mereka akan rugi besar. karena itu

mereka memikirkan cara mengurangi resiko bahaya yang disebut portofolio yang disebut juga

investasi acak.



Ketika mereka membeli beras mereka juga menanam investasi pada produk di luar perdagangan

beras. dengan demikian modal mereka tetap akan kembali.



Penggabungan dua poin tersebut yaitu hedge fund dan portofolio. Kalau para pembeli spekulan

padi yang panen pada musim panas dan gandum yang di cuaca dingin yang bersamaan. Jika

cuaca tahun itu panas, maka ia akan gagal panen gandum, tetapi ia akan mendapat untung dari

padi.



Dua konsep diatas apabila di kombinasi dengan baik, maka akan diperoleh investasi yang aman.



option produk keuanganpenting yang berhubungan dengan para ahli keuangan masa kini.



Dalam konsep perdagangan di atas tadi, para spekulan membuat perjanjian, dengan para petani,

akan membeli beras dengan harga Rp 3000, tapi yang dibeli ialah option hak beli. Bukan produk

yang dibeli tapi hak membelinya yang dibayar dengan harga tertentu misalnya Rp 200.jika

ternyata terjadi gagal panen dan harga beras Rp 3500 maka dia akan untung Rp 300. kenapa

untung nya bukan Rp 500? karena dia telah membeli option hak sebanyak Rp 200.



akan tetapi bila panen melimpah dan harga beras turun menjadi Rp 2500, berbeda dengan konsep

sebelumnya, dia dapat membatalkan perjanjian karena dia baru membeli hak beli beras tersebut.

jadi dia hanya rugi Rp 200 sebagai pembeli hak, dan petani pun memperoleh keuntungan.



Dengan option, hedge fund menjadi produk keuangan derivatif yang lebih aman. Sistem investasi

seperti ini sangat penting untuk menekan gejolak harga pasar.



Penambahan Manfaat Januari 2, 2010

Posted by khairoen in Uncategorized.

2 comments



Dalam memulai suatu pekerjaan kita harus lah menghadapi 2 konsep yang harus kita perhatikan.



Dua elemen ini merupakan hal yang murni dibutuhkan untuk pemuasan akan nilai dari suatu

perbuatan.



Nilai tersebut ialah:

A. Nilai positif yang merupakan nilai yang mengandung guna kebaikan dan manfaat serta

membawa kepada kepuasan.



B. Nilai negatif yang merupakan nilai yang mengandung nilai kerugian yang tidak diinginkan

oleh pelaku pekerja.



Diantara kedua nilai tersebut, nilai negatif atau nilai kerugian yang harus betul-betul

dipertimbangkan oleh pelaku kerja, karena mengandung hal yang tidak diinginkan.



Sebelum memulai suatu pekerjaan, nilai negatif harus diperhitungkan secara mendalam dan

efektif. Kerugian tersebut baik kerugian dari segi materiil maupun non materiil. Tidak mudah

untuk menentukan nilai puncak dari nilai negatif, karena sangat banyak hasilnya. Makin dikaji

maka nilai negatif akan semakin bertambah. Hal tersebut juga akan membawa dampak yang

tidak baik untuk pelaku pekerja.



Berbeda dari nilai negatif, nilai positif juga perlu pengkajian,namun tidak membawa kepada

kerugian.



belajar tentang kehidupan Maret 15, 2009

Posted by khairoen in Uncategorized.

1 comment so far









ketika tuhan mengajari manusia dengan kehidupan, sangat banyak yang tidak peduli akan dia…



entah apa yang membuat mereka enggan akan mengakui sebuah yng sangat prinsipial tersebut…



mengapa mereka lari ke ilmu pengetahuan yang merupakan bukti ketuhanan yang otentik…





ISLAMIC FINANCE

Bagi mahasiswa pelajar ekonomi terutama ekonomi syariah



 Beranda

 About

 PROFILE

 IKLAN



jump to navigation





MUSYAKARAH Juli 6, 2011

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah, Ekonomi islam.

add a comment



Pengertian Musyakarah

Musyarakah secara bahasa diambil dari bahasa arab yang berarti mencampur. Dalam hal ini

mencampur satu modal dengan modal yang lain sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Kata syirkah dalam bahasa arab berasal dari kata syarika (fi‟il madhi), yashruku (fi‟il mudhari‟)

syarikan/syirkatan/syarikatan (masdar/kata dasar); ertinya menjadi sekutu atau syarikat (kamus al

Munawar) Menurut erti asli bahasa arab, syirkah bererti mencampurkan dua bahagian atau lebih

sehingga tidak boleh dibezakan lagi satu bahagian dengan bahagian lainnya, (An-Nabhani)



Hukum Syirkah



Syirkah hukumnya mubah. Ini berdasarkan dalil hadith nabi saw berupa taqrir terhadap syirkah.

Pada saat baginda diutuskan oleh Allah sebagai nabi, orang-orang pada masa itu telah

bermuamalat dengan cara ber-syirkah dan Nabi Muhammad saw membenarkannya. Sabda

baginda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra: Allah „Azza wa jalla telah berfirman;

Aku adalah pihak ketiga dari 2 pihak yang bersyirkah selama salah satunya tidak mengkhianati

yang lainnya. Kalau salah satunya khianat, aku keluar dari keduanya. (Hr Abu dawud, alBaihaqi

dan adDaruquthni) Imam Bukhari meriwayatkan bahawa Aba Manhal pernah mengatakan , “aku

dan rakan kongsiku telah membeli sesuatu dengan cara tunai dan hutang.” Lalu kami didatangi

oleh Al Barra‟bin azib. Kami lalu bertanya kepadanya. Dia menjawab, “ Aku dan rakan

kongsiku, Zaiq bin Arqam, telah mengadakan perkongsian. Kemudian kami bertanya kepada

nabi s.a.w tentang tindakan kami. Baginda menjawab: “barang yang (diperoleh) dengan cara

tunai silalah kalian ambil. Sedangkan yang (diperoleh) secara hutang, silalah kalian bayar”

Hukum melakukan syirkah dengan kafir Zimmi Hukum melakukan syirkah dengan kafir zimmi

juga adalah mubah. Imam Muslim pernah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar yang

mengatakan: “Rasulullah saw pernah memperkerjakan penduduk khaibar(penduduk Yahudi)

dengan mendapat bahagian dari hasil tuaian buah dan tanaman”



Rukun Syirkah



Rukun syirkah yang asas ada 3 perkara iaitu: a) akad (ijab-kabul) juga disebut sighah b) dua

pihak yang berakad („aqidani), mesti memiliki kecekapan melakukan pengelolaan harta c) objek

aqad(mahal) juga disebut ma‟qud alaihi, samada modal atau pekerjaan

Manakala syarat sah perkara yang boleh disyirkahkan adalah adalah objek tersebut boleh

dikelola bersama atau boleh diwakilkan.



Pandangan Mazhab Fiqih tentang Syirkah Mazhab Hanafi berpandangan ada empat jenis syirkah

yang syari‟e iaitu syirkah inan, abdan, mudharabah dan wujuh. ( Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh al

Islami wa Adillatuhu) Mazhab Maliki hanya 3 jenis syirkah yang sah iaitu syirkah inan, abdan

dan mudharabah. Menurut mazhab syafi‟e, zahiriah dan Imamiah hanya 2 syirkah yang sah iaitu

inan dan mudharabah. Mazhab hanafi dan zaidiah berpandangan ada 5 jenis syirkah yang sah

iaitu syirkah inan, abdan, mudharabah, wujuh dan mufawadhah.



Ada pun perkongsian boleh samada berkongsi hak milik (syirkatul amlak) atau/dan perkongsian

aqad Syeikh Taqiuddin AnNabhani dalam kitabnya Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam

berijtihad terdapat 5 jenis syirkah yang syari‟e sama seperti pandangan mazhab hanafi dan

zaidiah.



1) Syirkah Inan



Syirkah inan adalah syirkah yang mana 2 pihak atau lebih, setiap pihak menyumbangkan modal

dan menjalankan kerja. Contoh bagi syirkah inan: Khalid dan Faizal berkongsi menjalankan

perniagaan burger bersama-sama dan masing-masing mengeluarkan modal RM500 setiap

seorang. Perkongsian ini diperbolehkan berdasarkan As-Sunnah dan ijma‟sahabah. Disyaratkan

bahawa modal yang dikongsi adalah berupa wang. Modal dalam bentuk harta benda seperti

kereta mestilah diakadkan pada awal transaksi. Perkongsian ini dibangunkan oleh konsep

perwakilan(wakalah) dan kepercayaan(amanah). Sebab masing-masing pihak, dengan

memberi/berkongsi modal kepada rakan kongsinya bererti telah memberikan kepercayaan dan

mewakilkan kepada rakan kongsinya untuk mengelolakan perniagaan. Keuntungan adalah

berdasarkan kesepakatan semua pihak yang berkongsi manakala kerugian berdasarkan peratusan

modal yang dikeluarkan. Abdurrazzak dalam kitab Al-Jami‟ meriwayatkan dari Ali r.a yang

mengatakan: “kerugian bergantung kepada modal, sedangkan keuntungan bergantung kepada apa

yang mereka sepakati”



2) Syirkah Abdan



Perkongsian abdan adalah perkongsian 2 orang atau lebih yang hanya melibat tenaga(badan)

mereka tanpa melibatkan perkongsian modal. Sebagai contoh: Jalal adalah tukang buat rumah

dan Rafi adalah juruelektrik yang berkongsi menyiapkan projek sebuah rumah. Perkongsian

mereka tidak melibatkan perkongsian kos. Keuntungan adalah berdasarkan persetujuan mereka.

Syirkah abdan hukumnya mubah berdasarkan dalil As-sunnah. Ibnu mas‟ud pernah berkata” aku

berkongsi dengan Ammar bin Yasir dan Saad bin Abi Waqqash mengenai harta rampasan perang

badar. Sa‟ad membawa dua orang tawanan sementara aku dan Ammar tidak membawa apa pun”

(HR Abu Dawud dan Atsram). Hadith ini diketahui Rasulullah saw dan baginda

membenarkannya.



3) Syirkah Mudharabah

Syirkah Mudharabah adalah syirkah dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak

menjalankan kerja (amal) sedangkan pihak lain mengeluarkan modal (mal). (An-Nabhani, 1990:

152). Istilah mudharabah dipakai oleh ulama Iraq, sedangkan ulama Hijaz menyebutnya qiradh.

(Al-Jaziri, 1996: 42; Az-Zuhaili, 1984: 836). Sebagai contoh: Khairi sebagai pemodal

memberikan modalnya sebanyak RM 100 ribu kepada Abu Abas yang bertindak sebagai

pengelola modal dalam pasaraya ikan.



Ada 2 bentuk lain sebagai variasi syirkah mudharabah. Pertama, 2 pihak (misalnya A dan B)

sama-sama memberikan mengeluarkan modal sementara pihak ketiga (katakanlah C)

memberikan menjalankan kerja sahaja. Kedua, pihak pertama (misalnya A) memberikan

konstribusi modal dan kerja sekaligus, sedangkan pihak kedua (misalnya B) hanya memberikan

konstribusi modal tanpa konstribusi kerja. Kedua-dua bentuk syirkah ini masih tergolong dalam

syirkah mudharabah (An-Nabhani, 1990:152). Dalam syirkah mudharabah, hak melakukan

tasharruf hanyalah menjadi hak pengelola. Pemodal tidak berhak turut campur dalam tasharruf.

Namun demikian, pengelola terikat dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal. Jika ada

keuntungan, ia dibagi sesuai kesepakatan di antara pemodal dan pengelola, sedangkan kerugian

ditanggung hanya oleh pemodal. Sebab, dalam mudharabah berlaku wakalah (perwakilan),

sementara seorang wakil tidak menanggung kerosakan harta atau kerugian dana yang diwakilkan

kepadanya (An-Nabhani, 1990: 152). Namun demikian, pengelola turut menanggung kerugian

jika kerugian itu terjadi kerana melanggar syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.



4) Syirkah Wujuh



Disebut syirkah wujuh kerana didasarkan pada kedudukan, ketokohan atau keahlian (wujuh)

seseorang di tengah masyarakat. Syirkah wujuh adalah syirkah antara 2 pihak (misalnya A dan

B) yang sama-sama melakukan kerja (amal), dengan pihak ketiga (misalnya C) yang

mengeluarkan modal (mal). Dalam hal ini, pihak A dan B adalah tokoh masyarakat. Syirkah

semacam ini hakikatnya termasuk dalam syirkah mudharabah sehingga berlaku ketentuan-

ketentuan syirkah mudharabah padanya. (An-Nabhani, 1990:154) Bentuk kedua syirkah wujuh

adalah syirkah antara 2 pihak atau lebih yang bersyirkah dalam barangan yang mereka beli

secara kredit, atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya tanpa sumbangan modal dari

masing-masing pihak. Misalnya A dan B tokoh yang dipercayai pedagang. Lalu A dan B

bersyirkah wujuh dengan cara membeli barang dari seorang pedagang C secara kredit. A dan B

bersepakat masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli. Lalu keduanya menjual barang

tersebut dan keuntungannya dibagi dua, sedangkan harga pokoknya dikembalikan kepada C

(pedagang). Dalam syirkah kedua ini, keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, bukan

berdasarkan nisbah barang dagangan yang dimiliki. Sedangkan kerugian ditanggung oleh

masing-masing pengusaha wujuh usaha berdasarkan kesepakatan. Syirkah wujuh kedua ini

hakikatnya termasuk dalam syirkah „abdan (An-Nabhani, 1990:154). Namun demikian, An-

Nabhani mengingatkan bahawa ketokohan (wujuh) yang dimaksud dalam syirkah wujuh adalah

kepercayaan kewangan (tsiqah maliyah), bukan semata-mata ketokohan di masyarakat. Maka

dari itu, tidak sah syirkah yang dilakukan seorang tokoh (katakanlah seorang menteri atau

pedagang besar), yang dikenal tidak jujur atau suka memungkiri janji dalam urusan kewangan.

Sebaliknya sah syirkah wujuh yang dilakukan oleh seorang biasa-biasa saja, tetapi oleh para

pedagang dia dianggap memiliki kepercayaan kewangan (tsiqah maliyah) yang tinggi misalnya

dikenal jujur dan tepat janji dalam urusan kewangan.

5) Syirkah Mufawadhah



Syirkah mufawadhah adalah syirkah antara 2 pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis

syirkah di atas (syirkah inan, „abdan, mudharabah dan wujuh). Syirkah mufawadhah dalam

pengertian ini, menurut An-Nabhani adalah boleh. Sebab, setiap jenis syirkah yang sah berdiri

sendiri maka sah pula ketika digabungkan dengan jenis syirkah lainnya. Keuntungan yang

diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan jenis

syirkahnya; iaitu ditanggung oleh pemodal sesuai dengan nisbah modal (jika berupa syirkah

inan) atau ditanggung pemodal sahaja (jika berupa syirkah mudharabah) atau ditanggung

pengusaha usaha berdasarkan peratusan barang dagangan yang dimiliki (jika berupa syirkah

wujuh). Contoh: A adalah pemodal, menyumbang modal kepada B dan C, dua jurutera awam

yang sebelumnya sepakat bahawa masing-masing melakukan kerja. Kemudian B dan C juga

sepakat untuk menyumbang modal untuk membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan

pedagang kepada B dan C. Dalam hal ini, pada awalnya yang ada adalah syirkah „abdan iaitu B

dan C sepakat masing-masing bersyirkah dengan memberikan konstribusi kerja sahaja. Lalu,

ketika A memberikan modal kepada B dan C, bererti di antara mereka bertiga wujud syirkah

mudharabah. Di sini A sebagai pemodal, sedangkan B dan C sebagai pengelola. Ketika B dan C

sepakat bahawa masing-masing memberikan suntikan modal di samping melakukan kerja, bererti

terwujud syirkah inan di antara B dan C. Ketika B dan C membeli barang secara kredit atas dasar

kepercayaan pedagang kepada keduanya bererti terwujud syirkah wujuh antara B dan C. Dengan

demikian, bentuk syirkah seperti ini telah menggabungkan semua jenis syirkah yang ada yang

disebut syirkah mufawadhah. 6) syirkah al milk 1. Syirkah Al Milk mengandung arti

kepemilikan bersama (co-ownership) yang keberadaannya muncul apabila dua orang atau lebih

memperoleh kepemilikan bersama (joint ownership) atau suatu kekayaan (aset). Misalnya, dua

orang atau lebih menerima warisan/hibah/wasiat sebidang tanah atau harta kekayaan atau

perusahaan baik yang dapat dibagi atau tidak dapat dibagi-bagi. Contoh lain, berupa kepemilikan

suatu jenis barang (misalnya, rumah) yang dibeli bersama. Dalam hal ini, para mitra harus

berbagi atas harta kekayaan tersebut berikut pendapatan yang dapat dihasilkannya sesuai dengan

porsi masing-masing sampai mereka memutuskan untuk membagi atau menjualnya. Untuk tetap

menjaga kelangsungan kerja sama, pengambilan keputusan yang menyangkut harta bersama

harus mendapat persetujuan semua mitra. Dengan kata lain, seorang mitra tidak dapat bertindak

dalam penggunaan harta bersama kecuali atas izin mitra yang bersangkutan. Syirkah al milk

kadang bersifat ikhtiyariyyah (ikhtiari/sukarela/voluntary) atau jabariyyah (jabari/tidak

sukarela/involuntary). Apabila harta bersama (warisan/hibah/wasiat) dapat dibagi, namun para

mitra memutuskan untuk tetap memilikinya bersama, maka syirkah al milk tersebut bersifat

ikhtiyari (sukarela/voluntary). Contoh lain dari syirkah jenis ini adalah kepemilikan suatu jenis

barang (misalnya rumah) yang dibeli secara bersama. Namun, apabila barang tersebut tidak dapat

dibagi-bagi dan mereka terpaksa harus memilikinya bersama, maka syirkah al milk bersifat

jabari (tidak sukarela/involuntary atau terpaksa). Misalnya, syirkah di antara ahli waris terhadap

harta warisan tertentu, sebelum dilakukan pembagian.



Perbankan Islam – Peluang atau Ancaman? Juli 6, 2011

Posted by khairoen in Uncategorized.

add a comment

oleh Rodney Wilson



Durham, Inggris – Perbankan Islam, yang mengisyaratkan penolakan terhadap bunga, telah

menjadi sebuah industri penting dalam empat dekade terakhir. Satu pertanyaan tak terelakkan

adalah apakah kehadirannya semakin menjauhkan kaum Muslim dari berbagai nilai dan norma

Barat, menciptakan sebuah perkampungan keuangan tersendiri. Sebuah pandangan alternatif

menyatakan bahwa dengan semakin meningkatnya jumlah orang di Barat yang tidak puas atau

skeptis tentang layanan-layanan perbankan yang mereka terima, dan melihat bank-bank tersebut

sebagai pemeras atau bahkan tidak etis, kemunculan perbankan Islam dengan moralitas yang

berbeda menghasilkan Islam dengan cerminan wajah yang lebih positif.



Banyak bankir Barat memandang keuangan Islam sebagai sebentuk rasa keingintahuan, dan

bahkan mungkin sebuah peluang bisnis, tetapi jarang yang melihatnya sebagai sebuah ancaman

yang dapat dibandingkan dengan ekstremisme Muslim. Kenyataannya, perbankan dan keungan

Islam dapat dianggap sebagai sisi lembut Islam, dan sebuah aspek yang meminjamkan dirinya

sendiri bagi sebuah dialog antara orang Barat dan Muslim.



Lembaga-lembaga keuangan retel Islam, termasuk Islamic Bank of Britain, , the European

Islamic Investment Bank dan Lariba Bank di Kalifornia, saat ini telah tegak berdiri di sejumlah

negara Barat. Lebih jauh, bank-bank pemberi pinjaman internasional, termasuk Citibank, HSBC

Amanah, Deutsche Bank, dan UBS of Switzerland, semua menawarkan deposito Islam dan

fasilitas-fasilitas keuangan yang memenuhi ketentuan syariah.



Ada banyak dialog terjadi antara para bankir Barat yang bekerja pada lembaga-lembaga ini dan

para ahli syariah yang menyarankan apa yang boleh, dan apa yang tidak, dilakukan. Dialog ini

meluas hingga asuransi, di mana perusahaan-perusahaan takaful Islam semakin lama semakin

aktif, ciri-ciri mereka yang khas adalah bahwa mereka tidak menganut bunga yang dihasilkan

surat-surat obligasi konvensional, dan bahwa dana para pemegang saham dan premi yang

dibayar para pemegang polis tersebut tidak dapat dijadikan satu, yang dapat menyebabkan pihak

pertama mengeksploitasi kemalangan pihak kedua.



Karena syariah merupakan hal yang universial, prinsip-prinsip ilahiah, bukan hukum nasional,

kantor-kantor hukum internasional terkemuka juga ikut melibatkan diri dalam urusan perbankan

dan keuangan Islam, hanya saja kontrak-kontrak yang ada perlu dirancang di bawah payung

hukum Inggris atau Amerika dengan tetap memelihara kesesuaian dengan syariah. Memang,

pekerjaan utama para anggota komite syariah yang melayani dewan direksi bank-bank Islam dan

konvensional yang menawarkan produk-produk Islam adalah untuk memastikan bahwa kontrak-

kontrak baru tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan, jika tidak, melakukan dialog

dengan para pengacara berkaitan dengan amandemen dan perancangan ulang.



Aspirasi dari banyak pihak Islamis adalah memiliki hukum syariah yang ilahiah menggantikan

hukum buatan manusia, bahkan mungkin pendirian suatu khalifah dunia yang di bawah

kekuasaannya semua orang, Muslim dan non-Muslim, hidup. Tidak mengherankan, aspirasi

seperti itu tidak dapat diterima oleh kebanyakan non-Muslim, dan bahkan juga banyak umat

Muslim, karena ia tidak memberikan pilihan.

Perbankan dan keuangan Islam dapat menentukan arah masa depan: ia memberikan pilihan yang

luas, bukannya terbatas. Sementara setiap lembaga memiliki dewan syariahnya masing-masing,

kesesuaian dengan syariah pada kenyataannya merupakan urusan pihak swasta, bukan urusan

hukum nasional. Bahkan, setiap dewan syariah memiliki fatwa-fatwanya sendiri, yang akibatnya

semakin memperluas pilihan dalam pasar gagasan keagamaan. Agama, pasti, berkembang dalam

kondisi penuh persaingan dan Islam bukan sebuah pengecualian, sementara jika ia

dinasionalisasi, para penganutnya tidak lama akan menjadi terasingkan.



Republik Islam Iran dapat dilihat sebagai sebuah contoh yang tidak mendorong perkembangan

perbankan dan keuangan Islam. Di sana, semua perbankan telah memenuhi ketentuan syariah

sejak undang-undang mengenai Perbankan Bebas Riba diundangkan pada 1983. Para nasabah

bank karenanya tidak memiliki pilihan kecuali menggunakan sistem syariah. Namun bank-bank

tersebut dimiliki oleh negara dan memiliki otonomi yang kecil, bahkan dalam pengambilan

keputusan tentang produk-produk deposito dan keuangan yang hendak ditawarkan. Mereka juga

tidak memiliki komite-komite syariah, alasannya hal ini tidak diperlukan karena undang-undang

memastikan kepatuhan terhadap syariah dalam keadaan apapun.



Hasilnya adalah perkembangan perbankan berjalan lambat, sedikitnya terobosan keuangan yang

ada, dan kebanyakan rakyat Iran tidak memiliki rekening bank. Sebaliknya, di wilayah Teluk

Arab dan di Malaysia, di mana bank-bank Islam dan konvensional bersaing, bank-bank Islam

memiliki produk-produk yang menarik untuk ditawarkan dan jumlah nasabah yang terus tumbuh.

Bank Al Rajhi Arab Saudi telah menjadi bank retel Islam terbesar, dan jangkauan layanan dan

saluran pengirimannya dapat disejajarkan dengan penawaran terbaik yang dapat diberikan oleh

bank-bank Barat.



Perbankan Islam tidak akan kemana-mana, ia merupakan sebuah peluang daripada sebuah

ancaman, dan memiliki masa depan yang menggairahkan. Kesenjangan tetap ada – tidak ada

bank Islam di Israel, misalnya, untuk melayani penduduk Muslim di sana. Tetapi jika Bank

Sentral Israel memberi izin bagi pendiriannya, ia dapat membawa banyak kebaikan. Ia mungkin

mendorong penduduk Yahudi yang hidup di sana mempertanyakan apakah pengoperasian bank-

bank mereka sendiri telah sesuai dengan ajaran keagamaan dalam Leviticus dan Deuteronomy.



Akhirnya perbankan dan keuangan Islam berkaitan dengan kemunculan sebuah bentuk

kapitalisme yang khas Islam yang mungkin hidup berdampingan dan berinteraksi dengan Barat,

Cina, Rusia atau kapitalisme lainnya. Perkembangan seperti ini seharusnya disambut hangat dan

diberi peluang, dan bukannya dihambat atau ditekan.



###



* Rodney Wilson adalah direktur pascasarajana Institute for Middle Eastern and Islamic Studies,

Durham University. Ia adalah salah seorang editor buku The Politics of Islamic Finance and co-

author of Islamic Economics: A Short History. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground

News Service (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Pengertian, Tujuan dan Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

Januari 9, 2011

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah, Ekonomi islam, ISLAMIC FINANCE.

Tags: akuntansi syariah, ekonomi islam, ISLAMIC FINANCE, pengertian, perbaankan syariah, prinsip,

tujuan

add a comment



Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan

manusia dan alam semesta. Kegiatan perekonomian manusia juga diatur dalam Islam dengan

prinsip illahiyah. Harta yang ada pada kita, sesungguhnya bukan milik manusia, melainkan

hanya titipan dari Allah swt agar dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan umat manusia

yang pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah swt untuk dipertanggungjawabkan.



Pengertian Ekonomi Islam

Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya

diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum

dalam rukun iman dan rukun Islam.

Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt memerintahkannya, sebagaimana firman-

Nya dalam surat At Taubah ayat 105:

Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman

akan melihat pekerjaan itu.

Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw:

Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia

mendapat ampunan.

(HR.Thabrani dan Baihaqi)



Tujuan Ekonomi Islam

Segala aturan yang diturunkan Allah swt dalam system Islam mengarah pada tercapainya

kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian

pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu

manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.

Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof.Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga sasaran

hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat

manusia, yaitu:



1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan

lingkungannya.



2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di

bidang hukum dan muamalah.



3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah

yang menjad puncak sasaran di atas mencaku p lima jaminan dasar:

· keselamatan keyakinan agama ( al din)



· kesalamatan jiwa (al nafs)



· keselamatan akal (al aql)



· keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)



· keselamatan harta benda (al mal)



Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:



1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada

manusia.



2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.



3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.



4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang

saja.



5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk

kepentingan banyak orang.



6. Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.



7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)



8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.



Sumber: Buku Saku Lembaga Bisnis Syariah yang diterbitkan oleh Pusat Komunikasi Ekonomi

Syariah.



Prospek Perbankan Syariah 2010 Oktober 11, 2010

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah, Ekonomi islam, ISLAMIC FINANCE.

Tags: perbankan syariah

add a comment



Tahun 2010 membuka peluang besar bagi peningkatan volume usaha dan kinerja perbankan

syariah. Pasalnya, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia setahun ke depan diyakini masih relatif

tinggi, seiring dengan credit rating yang mengalami peningkatan. Belum lagi pendirian bank-

bank syariah baru, beberapa di antaranya mulai beroperasi di akhir tahun 2009 lalu, yang

dipastikan akan melebarkan ceruk pasar. Gencarnya program edukasi dan diseminasi perbankan

syariah oleh Bank Indonesia (BI), perbankan syariah maupun pihak-pihak terkait lainnya makin

menciptakan situasi yang kondusif bagi industri padat modal ini.

Bahkan, faktor regulasi yang selama ini menjadi hambatan utama telah teratasi. Pada tanggal 16

September 2009 lalu, DPR mengesahkan UU No. 42 tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan

Nilai (PPN), yang antara lain mengatur perpajakan yang lebih kondusif bagi perbankan syariah.

Undang-undang ini mulai efektif berlaku 1 April 2010.



Beberapa Skenario

Industri perbankan syariah 2010 diperkirakan mengalami pertumbuhan yang lebih baik

dibandingkan 2009. Hal ini merujuk pada hasil analisis terhadap kondisi fundamental

makroekonomi dalam situasi perekonomian dunia yang cenderung pulih, serta dinamika internal

industri perbankan syariah.

BI telah menyusun beberapa skenario pertumbuhan perbankan syariah, yakni skenario pesimis,

moderat dan optimis. Perkembangan perbankan syariah 2009 menunjukkan pertumbuhan volume

usaha cukup tinggi, yaitu 26,55%, masih relatif tinggi dibandingkan perbankan konvensional

yang sebesar 12,53%. Pencapaian target aset 2010 diharapkan sebesar Rp 97 triliun, dengan

angka pertumbuhan industri sebesar 43%. Skenario proyeksi tersebut menggunakan asumsi

ketersediaan faktor-faktor pendukung industri perbankan syariah.

Faktor-faktor tersebut antara lain mencakup pertumbuhan secara un-organic akibat penambahan

pemain barudalam industri; baik bank umum, Unit Usaha Syariah (UUS) maupun BPR Syariah.

Konversi bank umum konvensional yang diakuisisi oleh bank menjadi Bank Umum Syariah dan

diikuti dengan spin off UUS menjadi trend pertumbuhan tahun ini. Pada tahun 2009, jumlah bank

umum syariah yang beroperasi bertambah dengan adanya konversi usaha 3 bank, yaitu Bank Jasa

Artha, Bank Persyarikatan dan Bank Harfa yang masing-masing diakuisisi oleh BRI, Bukopin

dan Panin menjadi Bank Umum Syariah.

Pertumbuhan secara un-organic tersebut juga didukung dengan pertumbuhan organic melalui

pertumbuhan volume usaha yang didukung oleh peningkatan jumlah jaringan kantor bank

syariah. Per awal November 2009 silam, masyarakat dapat menikmati layanan jasa perbankan

syariah melalui 1.101 kantor bank syariah yang dioperasikan oleh 6 Bank Umum Syariah dan 25

UUS dan 138 BPR Syariah.

Pulihnya perekonomian global dan domestik menjadi faktor pendorong lainnya. Kinerja ekonomi

nasional 2010 diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini. Pertumbuhan konsumsi

swasta yang masih kuat, kinerja ekspor yang membaik dan adanya stimulus fiskal turut

berpengaruh. Jangan diabaikan pula peran vital regulasi. Penetapan UU No. 42 tahun 2009

tentang Amandemen UU PPN dan PPnBM yang efektif berlaku mulai 1 April 2010, yang

melengkapi UU Perbankan Syariah setahun sebelumnya.

Peraturan perundang-undangan pajak yang lama mengandung ketidakpastian dan menjadi arena

perseteruan sengit antara pelaku bank syariah dan otoritas pajak. Acapkali bank syariah dalam

posisi yang sulit dan dipaksa menanggung biaya dari tagihan pajak kurang bayar karena

pembiayaan murabahah (jual beli) dipandang layaknya transaksi jual beli usaha dagang pada

umumnya yang harus dikutip PPN, bukan pembiayaan perbankan. Dalam ketentuan PPN yang

lama, manakala terjadi PPN kurang bayar maka bank harus membayar PPN 10% ditambah denda

48%, dan denda 2% dari dasar pengenaan PPN. Namun dengan tax neutrality mulai April, setiap

pembiayaan di perbankan syariah sudah diperlakukan sama dengan bank konvensional dalam hal

pengenaan pajaknya.

Dalam hal nasabah bertransaksi dengan bank syariah, maka nasabah juga akan mendapatkan

barang modal yang diperlukan langsung dari bank, pajak atas pembiayaan berbasis jual beli

(murabahah) yang tujuannya untuk membeli barang modal pun – yang sebelumnya dibayar dua

kali – cukup dibayar satu kali. Di bawah naungan payung hukum baru ini, industri perbankan

syariah seharusnya dapat lebih leluasa untuk melakukan akselerasi kinerja.

Faktor yang juga berpengaruh ke depannya yakn, insentif kebijakan dan regulasi pada sisi

moneter dan fiskal dari BI dan instansi terkait kepada industri perbankan syariah agar bisa

berkembang lebih optimal. Misalnya saja, pengelolaan dana haji oleh bank syariah, BPD Syariah

holding atau konversi bank. Tantangan penting dalam pengembangan industri keuangan syariah

dalam jangka pendek ini adalah sumber daya manusia (SDM), baik kuantitas maupun kualitas, di

tingkat pelaku/praktisi maupun institusi penunjang termasuk pengawas bank. Bentuk kerjasama

dengan institusi pendidikan dapat dilakukan, misalnya berupa pelatihan

ekonomi/keuangan/perbankan syariah bagi para dosen, rekomendasi kurikulum dan penyediaan

literatur seperti buku teks ekonomi/keuangan/perbankan syariah.

Sementara itu, kecukupan modal menjadi faktor tak terbantahkan. Prospek masuknya pelaku

baru diperkirakan akan pula mendorong bank-bank syariah untuk menambah kapasitas usahanya

melalui penambahan modal seiring dengan upaya perluasan jaringan kantor. Peningkatan modal

diharapkan dapat mendorong perbankan syariah untuk menjaga kecukupan CAR-nya mengingat

perluasan jaringan kantor, yang diharapkan akan berkorelasi positif pada peningkatan dana pihak

ketiga, membuat perbankan syariah tetap memliki financial buffer yang tinggi. Upaya penguatan

permodalan ini secara internal dapat dilakukan melalui devident policy, di samping penambahan

modal baru oleh pemilik atau investor baru.

Ke depannya, amat dibutuhkan peningkatan efisiensi untuk menjaga daya saing dan kinerja

industri perbankan syariah. Hal ini antara lain bisa dilakukan melalui financial deepening dengan

memperkaya variasi produk dan jasa yang ditawarkan. Tentu saja dengan tetap mengedepankan

aspek kesesuaian prinsip syariah. Efisiensi dapat pula ditingkatkan lewat pembiayaan secara

cross sector dengan subsistem keuangan syariah lainnya, misalnya kolaborasi dengan sistem

zakat. Intinya, kreativitas diperlukan meskipun dengan kehati-hatian.

Penuntasan segenap pekerjaan rumah itulah yang bisa membawa perbankan syariah untuk

bermetamorfosis secara utuh menjadi “lebih dari sekadar bank”.



id.shvoong.com



SEKILAS PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

Oktober 11, 2010

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah, Ekonomi islam, ISLAMIC FINANCE.

Tags: indonesia, perbankan syariah

add a comment



Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking

system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API),

untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat

Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara

sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan

kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional.



Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil

memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank,

serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan

nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan

spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan

jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah

menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinimati oleh seluruh golongan

masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.



Dalam konteks pengelolaan perekonomian makro, meluasnya penggunaan berbagai produk dan

instrumen keuangan syariah akan dapat merekatkan hubungan antara sektor keuangan dengan

sektor riil serta menciptakan harmonisasi di antara kedua sektor tersebut. Semakin meluasnya

penggunaan produk dan instrumen syariah disamping akan mendukung kegiatan keuangan dan

bisnis masyarakat juga akan mengurangi transaksi-transaksi yang bersifat spekulatif, sehingga

mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan

memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian kestabilan harga jangka menengah-

panjang.



Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah

yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional

semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara

lebih cepat lagi. Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata

pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran

industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan.

Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia

Untuk memberikan pedoman bagi stakeholders perbankan syariah dan meletakkan posisi serta

cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia,

selanjutnya Bank Indonesia pada tahun 2002 telah menerbitkan “Cetak Biru Pengembangan

Perbankan Syariah di Indonesia”. Dalam penyusunannya, berbagai aspek telah dipertimbangkan

secara komprehensif, antara lain kondisi aktual industri perbankan syariah nasional beserta

perangkat-perangkat terkait, trend perkembangan industri perbankan syariah di dunia

internasional dan perkembangan sistem keuangan syariah nasional yang mulai mewujud, serta

tak terlepas dari kerangka sistem keuangan yang bersifat lebih makro seperti Arsitektur

Perbankan Indonesia (API) dan Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI) maupun

international best practices yang dirumuskan lembaga-lembaga keuangan syariah internasional,

seperti IFSB (Islamic Financial Services Board), AAOIFI dan IIFM.



Pengembangan perbankan syariah diarahkan untuk memberikan kemaslahatan terbesar bagi

masyarakat dan berkontribusi secara optimal bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, maka

arah pengembangan perbankan syariah nasional selalu mengacu kepada rencana-rencana

strategis lainnya, seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API), Arsitektur Sistem Keuangan

Indonesia (ASKI), serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Dengan demikian upaya

pengembangan perbankan syariah merupakan bagian dan kegiatan yang mendukung pencapaian

rencana strategis dalam skala yang lebih besar pada tingkat nasional.



“Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” memuat visi, misi dan sasaran

pengembangan perbankan syariah serta sekumpulan inisiatif strategis dengan prioritas yang jelas

untuk menjawab tantangan utama dan mencapai sasaran dalam kurun waktu 10 tahun ke depan,

yaitu pencapaian pangsa pasar perbankan syariah yang signifikan melalui pendalaman peran

perbankan syariah dalam aktivitas keuangan nasional, regional dan internasional, dalam kondisi

mulai terbentuknya integrasi dgn sektor keuangan syariah lainnya.



Dalam jangka pendek, perbankan syariah nasional lebih diarahkan pada pelayanan pasar

domestik yang potensinya masih sangat besar. Dengan kata lain, perbankan Syariah nasional

harus sanggup untuk menjadi pemain domestik akan tetapi memiliki kualitas layanan dan kinerja

yang bertaraf internasional.



Pada akhirnya, sistem perbankan syariah yang ingin diwujudkan oleh Bank Indonesia adalah

perbankan syariah yang modern, yang bersifat universal, terbuka bagi seluruh masyarakat

Indonesia tanpa terkecuali. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk-bentuk aplikatif

dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konteks kekinian

permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan

kondisi sosio-kultural di dalam mana bangsa ini menuliskan perjalanan sejarahnya. Hanya

dengan cara demikian, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan senantiasa

dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai

permasalahan negeri.



Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah

Sebagai langkah konkrit upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia, maka Bank

Indonesia telah merumuskan sebuah Grand Strategi Pengembangan Pasar Perbankan Syariah,

sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar yg meliputi aspek-aspek strategis, yaitu:

Penetapan visi 2010 sebagai industri perbankan syariah terkemuka di ASEAN, pembentukan

citra baru perbankan syariah nasional yang bersifat inklusif dan universal, pemetaan pasar secara

lebih akurat, pengembangan produk yang lebih beragam, peningkatan layanan, serta strategi

komunikasi baru yang memposisikan perbankan syariah lebih dari sekedar bank.



Selanjutnya berbagai program konkrit telah dan akan dilakukan sebagai tahap implementasi dari

grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara lain adalah sebagai

berikut:



Pertama, menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008

membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan pencapaian target

asset sebesar Rp.50 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 40%, fase II tahun 2009 menjadikan

perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN, dengan

pencapaian target asset sebesar Rp.87 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 75%. Fase III

tahun 2010 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di

ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar

81%.

Kedua, program pencitraan baru perbankan syariah yang meliputi aspek positioning,

differentiation, dan branding. Positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang saling

menguntungkan kedua belah pihak, aspek diferensiasi dengan keunggulan kompetitif dengan

produk dan skema yang beragam, transparans, kompeten dalam keuangan dan beretika, teknologi

informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah

yang memadai. Sedangkan pada aspek branding adalah “bank syariah lebih dari sekedar bank

atau beyond banking”.



Ketiga, program pemetaan baru secara lebih akurat terhadap potensi pasar perbankan syariah

yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah sebagai layanan universal atau

bank bagi semua lapisan masyarakat dan semua segmen sesuai dengan strategi masing-masing

bank syariah.



Keempat, program pengembangan produk yang diarahkan kepada variasi produk yang beragam

yang didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan) dan dukungan

jaringan kantor yang luas dan penggunaan standar nama produk yang mudah dipahami.



Kelima, program peningkatan kualitas layanan yang didukung oleh SDM yang kompeten dan

penyediaan teknologi informasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah serta

mampu mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah kepada nasabah secara benar dan

jelas, dengan tetap memenuhi prinsip syariah; dan



Keenam, program sosialisasi dan edukasi masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui

berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media cetak, elektronik,

online/web-site), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kemanfaatan produk

serta jasa perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.



bi.go.id



Prinsip Dasar Produk Perbankan Syariah September 22,

2010

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah, Ekonomi islam, ISLAMIC FINANCE.

Tags: perbankan syariah

2 comments









Walau Indonesia sebagai sebuah Negara dengan pemeluk agama Islam terbesar, produk

keuangan berprinsip syariah baru dikenal beberapa tahun yang lalu dan masih sangat terbatas.

Dimulai dari sektor perbankan, dengan berdirinya Bank Muamalat pada November 1991. Prinsip

syariah tidak hanya terbatas pada konteks perbankan, melainkan juga meliputi berbagai kegiatan

ekonomi dan investasi, termasuk di pasar modal dan asuransi.

Anda tentu pernah mendengar istilah bank syariah, atau, lebih luas lagi ekonomi berbasis

syariah. Bahkan boleh jadi, banyak di antara Anda yang sudah menggunakan jasa lembaga

keuangan syariah. Sebagian dari Anda ada yang menganggap bank syariah hanya untuk

komunitas muslim. Apakah benar demikian, bank syariah hanya diperuntukan bagi kaum muslim

saja?



Maaf, Anda salah besar bila beranggapan seperti itu.



Bank Syariah sebenarnya berlaku untuk semua orang atau Universal. Syariah itu sendiri

hanyalah sebuah prinsip atau sistem yang sesuai dengan aturan atau ajaran Islam. Siapa saja

dapat memanfaatkan jasa keuangan bank syariah.



Ketika krisis moneter melanda Indonesia, medio 1997, sistem syariah telah memberikan manfaat

bagi banyak kalangan. Tentunya Anda ingat, pada saat itu, suku bunga pinjaman melambung

tinggi hingga puluhan persen. Akibatnya, banyak dari kalangan usaha yang tidak mampu

membayar. Tapi, fenomena ini tidak berlaku bagi pelaku usaha yang menggunakan dana dari

bank syariah. Para pengusaha tersebut tidak perlu membayar bunga sampai puluhan persen,

mereka cukup berbagi hasil dengan bank syariah. Penentuan persentasi bagi hasil dilakukan di

awal pengambilan pinjaman.



Prinsip-prinsip Dasar



Prinsip titipan atau simpanan Al-wadi’ah



Al-wadia‟ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik

individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip

menghendakinya.



Aplikasinya dalam produk perbankan, di mana bank sebagai penerima simpanan dapat

memanfaatkan prinsip ini yang dalam bank konvensional dikenal dengan produk giro. Sebagai

konsekuensi, semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank

(demikian pula sebaliknya). Sebagai imbalan, si penyimpan mendapat jaminan keamanan

terhadap hartanya, dan juga fasilitas-fasilitas giro lain.



Dalam dunia perbankan yang semakin kompetitif, insentif atau bonus dapat diberikan dan hal ini

menjadi kebijakan dari bank bersangkutan. Hal ini dilakukan dalam upaya merangsang semangat

masyarakat dalam menabung dan sekaligus sebagai indikator kesehatan bank.



Pemberian bonus tidak dilarang dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya dan jumlahnya

tidak ditetapkan dalam nominal atau persentasi secara advance, tetapi betul-betul merupakan

kebijakan bank.



Prinsip bagi hasil (Profit-sharing)



Al-Mudharabah

Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak,di mana pihak

pertama menyediakan seluruh (100 persen) modal, sedangkan pihak lain menjadi pengelola.

Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam

kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan

akibat kelalaian di pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau

kelalian si pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.



Pola transaksi mudharabah, biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan

pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana, al-mudharabah diterapkan pada: tabungan dan

deposito. Sedangkan pada sisi pembiayaan, al-mudharabah, diterapkan untuk: pembiayaan modal

kerja.



Dengan menempatkan dana dalam prinsip al-mudharabah, pemilik dana tidak mendapatkan

bunga seperti halnya di bank konvensional, melainkan nisbah bagian keuntungan. Dalam

praktiknya, nisbah untuk tabungan berkisar 55 –56 persen dari hasil investasi yang dilakukan

oleh bank. Dalam hal bank konvensional, angka tersebut kira-kira setara dengan 11-12 persen.



Sedangkan dalam sisi pembiayaan, bila seorang pedagang membutuhkan modal untuk berdagang

maka dapat mengajukan permohonan untuk pembiayaan bagi hasil seperti al-mudharabah.

Caranya dengan menghitung terlebih dahulu perkiraan pendapatan yang akan diperoleh oleh

nasabah dari proyek tersebut. Misalkan, dari modal Rp.30 juta diperoleh pendapatan Rp.5

juta/bulan. Dari pendapatan tersebut harus disisihkan terlebih dahulu untuk tabungan

pengembalian modal, sebut saja Rp.2 juta. selebihnya dibagi antara bank dengan nasabah dengan

kesepakatan di muka, misalnya 60 persen untuk nasabah dan 40 persen untuk bank.



Al-Musyarakah



Dalam sistem ini terjadi kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. Para

pihak yang bekerja sama memberikan kontribusi modal. Keuntungan ataupun risiko usaha

tersebut akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.



Dalam sistem ini, terkandung apa yang biasa disebut di bank konvensional sebagai sarana

pembiayaan. Secara konkret, bila Anda memiliki usaha dan ingin mendapatkan tambahan modal,

Anda bisa menggunakan produk al-musyarakah ini. Inti dari pola ini adalah, bank syariah dan

Anda secara bersama-sama memberikan kontribusi modal yang kemudian digunakan untuk

menjalankan usaha. Porsi bank syariah akan diberlakukan sebagai penyertaan dengan pembagian

keuntungan yang disepakati bersama. Dalam bank konvensional, pembiayaan seperti ini mirip

dengan kredit modal kerja.



Prinsip Al-Murabahah



Dalam skim ini, terjadi jual beli suatu barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang

nilainya disepakati kedua belah pihak. Penjual dalam hal ini harus memberi tahu harga produk

yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan. Misalkan Anda

membutuhkan kredit untuk pembelian mobil. Dalam bank konvensional Anda akan dikenakan

bunga dan Anda diharuskan membayar cicilan bulanan selama waktu tertentu. Di sektor

perbankan, suku bunga yang berlaku mungkin saja berubah.



Dalam sistem bank syariah, tentu saja produk seperti ini juga tersedia. Namun bentuknya bukan

kredit, melainkan menggunakan prinsip jual-beli, yang diistilahkan dengan Murabahah. Dalam

hal ini, bank syariah akan membeli mobil yang Anda inginkan terlebih dahulu, kemudian

menjualnya lagi kepada Anda. Tapi, karena bank syariah menalanginya dulu, maka pada saat

menjual kepada Anda, harganya sedikit lebih mahal, sebagai bentuk keuntungan buat bank

syariah. Karena bentuk keuntungan bank syariah sudah disepakati di depan, maka nilai cicilan

yang harus Anda bayarkan relatif lebih tetap.



Tentunya masih banyak lagi prinsip-prinsip perbankan syariah, yang kami uraikan di atas

merupakan prinsip-prinsip dasar yang umum dikenal di perbankan syariah.



Perbedaan Bank Syariah



Sepintas bila dilihat secara teknis, menabung di bank syariah dengan yang belaku di bank

konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena, baik di bank syariah maupun bank

konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi bila

diamati lebih dalam, terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya.



Perbedaan pertama terletak pada akadnya. Pada bank syariah, semua transaksi harus berdasarkan

akad yang dibenarkan oleh syariah. Dengan demikian, semua transaksi itu harus mengikuti

kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank konvensional,

transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan maupun deposito, berdasarkan perjanjian

titipan, namun prinsip titipan ini tidak sesuai dengan aturan syariah, misalnya wadi’ah,

karena dalam produk giro, tabungan maupun deposito, menjanjikan imbalan dengan tingkat

bunga tetap terhadap uang yang disetor.



Perbedaan kedua terdapat pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan

konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan di

muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos atau biaya yang harus dibayar oleh bank.

Oleh karena itu bank harus “menjual― kepada nasabah lain (peminjam) dengan biaya

bunga yang lebih tinggi. Perbedaan antara keduanya disebut spread yang menandakan apakah

perusahaan tersebut untung atau rugi. Bila spread-nya positif, di mana beban bunga yang

dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang diberikan kepada penabung, maka

dapat dikatakan bahwa bank mendapatkan keuntungan. Sebaliknya juga benar.



Sedangkan bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima

bank disalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang didapat dari pembiayaan tersebut dibagi

dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka.



Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit/ pembiayaan. Para penabung di bank konvensional tidak

sadar uang yang ditabung dipinjamkan untuk berbagai bisnis, tanpa memandang halal-haram

bisnis tersebut.

Sedangkan di bank syariah, penyaluran dan simpanan dari masyarakat dibatasi oleh prinsip

dasar, yaitu prinsip syariah Artinya bahwa pemberian pinjaman tidak boleh ke bisnis yang haram

seperti, perjudian, minuman yang diharamkan, pornografi dan bisnis lain yang tidak sesuai

dengan syariah.



Demikianlah ulasan kami kali ini seputar produk perbanak syariah. Semoga ulasan ini dapat

menambah pengetahuan dan alternatif sarana investasi.n



Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik

ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M.

Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.



blog.keuanganpribadi.com (with editing)



Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah

September 20, 2010

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah, Ekonomi islam, ISLAMIC FINANCE.

Tags: ISLAMIC FINANCE, perbankan syariah

add a comment



Sebagai langkah konkrit upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia, maka Bank

Indonesia telah merumuskan sebuah Grand Strategi Pengembangan Pasar Perbankan Syariah,

sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar yg meliputi aspek-aspek strategis, yaitu:

Penetapan visi 2010 sebagai industri perbankan syariah terkemuka di ASEAN, pembentukan

citra baru perbankan syariah nasional yang bersifat inklusif dan universal, pemetaan pasar secara

lebih akurat, pengembangan produk yang lebih beragam, peningkatan layanan, serta strategi

komunikasi baru yang memposisikan perbankan syariah lebih dari sekedar bank.



Selanjutnya berbagai program konkrit telah dan akan dilakukan sebagai tahap implementasi dari

grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara lain adalah sebagai

berikut:



Pertama, menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008

membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan pencapaian target

asset sebesar Rp.50 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 40%, fase II tahun 2009 menjadikan

perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN, dengan

pencapaian target asset sebesar Rp.87 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 75%. Fase III

tahun 2010 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di

ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar

81%.



Kedua, program pencitraan baru perbankan syariah yang meliputi aspek positioning,

differentiation, dan branding. Positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang saling

menguntungkan kedua belah pihak, aspek diferensiasi dengan keunggulan kompetitif dengan

produk dan skema yang beragam, transparans, kompeten dalam keuangan dan beretika, teknologi

informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah

yang memadai. Sedangkan pada aspek branding adalah “bank syariah lebih dari sekedar bank

atau beyond banking”.



Ketiga, program pemetaan baru secara lebih akurat terhadap potensi pasar perbankan syariah

yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah sebagai layanan universal atau

bank bagi semua lapisan masyarakat dan semua segmen sesuai dengan strategi masing-masing

bank syariah.



Keempat, program pengembangan produk yang diarahkan kepada variasi produk yang beragam

yang didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan) dan dukungan

jaringan kantor yang luas dan penggunaan standar nama produk yang mudah dipahami.



Kelima, program peningkatan kualitas layanan yang didukung oleh SDM yang kompeten dan

penyediaan teknologi informasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah serta

mampu mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah kepada nasabah secara benar dan

jelas, dengan tetap memenuhi prinsip syariah; dan



Keenam, program sosialisasi dan edukasi masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui

berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media cetak, elektronik,

online/web-site), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kemanfaatan produk

serta jasa perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.



sumber: bi.go.id



Bunga-bebas perbankan sebagai ide Agustus 30, 2010

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah, Ekonomi islam, ISLAMIC FINANCE.

add a comment



Interest-free banking seems to be of very recent origin. Bebas bunga perbankan tampaknya

sangat baru-baru asal. The earliest references to the reorganisation of banking on the basis of

profit sharing rather than interest are found in Anwar Qureshi (1946), Naiem Siddiqi (1948) and

Mahmud Ahmad (1952) in the late forties, followed by a more elaborate exposition by Mawdudi

in 1950 (1961). 2 Muhammad Hamidullah‟s 1944, 1955, 1957 and 1962 writings too should be

included in this category. Paling awal referensi ke reorganisasi perbankan atas dasar bagi hasil

bukan bunga yang ditemukan Anwar Qureshi (1946), Naiem Siddiqi (1948) dan Mahmud

Ahmad (1952) di akhir tahun empat puluhan, diikuti dengan penjelasan yang lebih rumit oleh

Maududi di 1950 (1961) tulisan-tulisan. Muhammad Hamidullah‟s 1944, 1955, 1957 dan 1962 2

juga harus dimasukkan dalam kategori ini. They have all recognised the need for commercial

banks and the evil of interest in that enterprise, and have proposed a banking system based on the

concept of Mudarabha – profit and loss sharing. Mereka semua mengakui perlunya bank-bank

komersial dan kejahatan yang menarik di perusahaan itu, dan telah mengusulkan sistem

perbankan yang didasarkan pada konsep Mudarabha – laba dan berbagi rugi.

In the next two decades interest-free banking attracted more attention, partly because of the

political interest it created in Pakistan and partly because of the emergence of young Muslim

economists. Dalam dua dekade-bunga bebas perbankan berikutnya lebih menarik perhatian,

sebagian karena kepentingan politik itu dibuat di Pakistan dan sebagian lagi karena munculnya

ekonom Muslim muda. Works specifically devoted to this subject began to appear in this period.

Bekerja secara khusus ditujukan untuk subjek ini mulai muncul pada periode ini. The first such

work is that of Muhammad Uzair (1955). Karya tersebut pertama adalah bahwa Muhammad

Uzair (1955). Another set of works emerged in the late sixties and early seventies. Satu set karya

muncul di tahun enam puluhan dan awal tujuh puluhan. Abdullah al-Araby (1967), Nejatullah

Siddiqi (1961, 1969), al-Najjar (1971) and Baqir al-Sadr (1961, 1974) were the main

contributors. 3 Abdullah al-Araby (1967), Nejatullah Shiddiqi (1961, 1969), al-Najjar (1971) dan

Baqir al-Sadr (1961, 1974) adalah kontributor utama. 3



Early seventies saw the institutional involvement. Awal tahun tujuh puluhan melihat keterlibatan

institusional. Conference of the Finance Ministers of the Islamic Countries held in Karachi in

1970, the Egyptian study in 1972, First International Conference on Islamic Economics in Mecca

in 1976, International Economic Conference in London in 1977 were the result of such

involvement. Konferensi Para Menteri Keuangan Negara-negara Islam diselenggarakan di

Karachi pada tahun 1970, studi Mesir pada tahun 1972, Pertama Konferensi Internasional

Ekonomi Islam di Mekah pada tahun 1976, Konferensi Ekonomi Internasional di London pada

tahun 1977 adalah hasil dari keterlibatan tersebut. The involvement of institutions and

governments led to the application of theory to practice and resulted in the establishment of the

first interest-free banks. The Islamic Development Bank, an inter-governmental bank established

in 1975, was born of this process. Keterlibatan lembaga dan pemerintah menyebabkan penerapan

teori ke praktek dan mengakibatkan pendirian bank bebas bunga pertama. The Islamic

Development Bank, sebuah bank antar-pemerintah yang didirikan pada tahun 1975, lahir dari

proses ini.



Problematika Perbankan Syariah Agustus 30, 2010

Posted by khairoen in Uncategorized.

add a comment



Ditulis oleh Irfan Syauqi Beik, Msc



Kalau kita persentasekan, maka volume usaha perbankan syariah baru mencapai angka 0,23 %

(Sumber : Biro Perbankan Syariah BI). Walau demikian, prospek perbankan syariah kedepannya

sangat cerah, apalagi mengingat pangsa pasarnya yang sangat besar. Sehingga wajar jika

kemudian banyak bank-bank konvensional yang membuka cabang syariah secara langsung

maupun melalui konversi cabang-cabang konvensionalnya menjadi cabang syariah. Sementara di

tingkat kecamatan, kita pun memiliki puluhan BPRS yang telah beroperasi di seluruh wilayah

Indonesia. Fenomena perkembangan perbankan syariah ini merupakan sebuah fenomena yang

sangat menarik dan unik, karena fenomena ini terjadi justru di saat kondisi perekonomian

nasional berada pada keadaan yang mengkhawatirkan. Meskipun kalau dilihat dari volume usaha

perbankan syariah jika dibandingkan dengan total keseluruhan volume usaha perbankan

nasional, maka nilainya masih relatif kecil, yaitu sebesar 2,5 trilliun rupiah. Sedangkan total

volume usaha perbankan nasional secara keseluruhan mencapai angka 1087 trilliun rupiah. Kalau

kita persentasekan, maka volume usaha perbankan syariah baru mencapai angka 0,23 % (Sumber

: Biro Perbankan Syariah BI). Walau demikian, prospek perbankan syariah kedepannya sangat

cerah, apalagi mengingat pangsa pasarnya yang sangat besar. Sehingga wajar jika kemudian

banyak bank-bank konvensional yang membuka cabang syariah secara langsung maupun melalui

konversi cabang-cabang konvensionalnya menjadi cabang syariah. Sementara di tingkat

kecamatan, kita pun memiliki puluhan BPRS yang telah beroperasi di seluruh wilayah Indonesia.

Permasalahan yang Dihadapi Perbankan Islam Sesungguhnya jika mau jujur, masih banyak

permasalahan yang dihadapi oleh perbankan syariah. Adapun beberapa problematika yang

muncul seiring dengan berkembangnya industri perbankan syariah dapat kita kategorikan pada

beberapa masalah yang diantaranya adalah : Pertama, adalah kurangnya deposito. Perbankan

yang beroperasi secara syariah tidak dapat menerima simpanan dari orang-orang yang ingin

mendapat keuntungannya tanpa menanggung resiko apapun. Karena sesuai syariah, berbagi

keuntungan tidak dibenarkan tanpa berbagi resiko. Jenis deposan seperti ini pada umumnya lebih

cenderung untuk mendepositokan uangnya pada bank-bank yang beroperasi dengan system

bunga / riba atau pada pasar modal (stock market). Yang kedua, masalah yang dihadapi oleh

perbankan syariah adalah likuiditas berlebihan (excessive liquidity). Tentu saja bank Islam akan

lebih cenderung mempertahankan rasio yang tinggi antara uang tunai dengan simpanannya bila

dibandingkan dengan perbankan konvensional. Ini dilakukan untuk mengantisipasi penarikan

rekening tabungan yang dilakukan nasabah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Kemudian tidak semua nasabah bank Islam yang potensial menyetujui meminjamkan uangnya

berdasarkan prinsip musyarakah atau kemitraan. Pada umumnya nasabah lebih senang

meminjam dana atas dasar mudarabah, atau bahkan meminjam dari bank konvensional dengan

system bunga. Sebaliknya bank Islam akan lebih senang –dengan alasan resiko– berinvestasi atas

dasar musyarakah ketimbang mudarabah, karena dalam mudarabah, jika suatu usaha mengalami

kerugian maka bank akan menanggung beban kerugian yang lebih besar ketimbang partnernya.

Sikap konservatif investor dan bank tersebut akan menimbulkan likuiditas berlebihan. Bank

Islam pun cenderung menahan lebih banyak cadangannya (baik pada kasnya sendiri maupun

bank sentral) sebagai perlindungan atas kerugian dan menjaga kepuasan para nasabah

potensialnya. Masalah yang ketiga, adalah problematika biaya dan profitabilitas. Bank Islam

bekerja dengan aturan yang sangat ketat dan memilih investasi yang halal dan sesuai syariah

saja. Implikasinya adalah bank Islam harus melakukan supervisi dan terkadang mengelola secara

langsung operasional suatu proyek yang didanainya. Ini dilakukan untuk mereduksi pengeluaran

manajerial. Akibatnya bank Islam harus memikul biaya tambahan yang tidak pernah terdapat

pada pembukuan bank-bank berasas bunga. Bank Islam pun harus mampu meminimalisir potensi

kerugian dari investasi mudarabahnya dan mengamankan tingkat keuntungan yang lebih tinggi

dibandingkan dengan bank-bank riba. Hal ini menyebabkan bank Islam terdorong untuk mencari

proyek yang segera memberikan keuntungan. Long gestation project (proyek dengan masa

menunggu yang lama) dan proyek infrastruktur adalah proyek-proyek yang kurang menarik

minat perbankan Islam, dimana bank Islam harus membayar keuntungan yang besar setiap tahun

terhadap simpanan. Masalah keempat yang dihadapi selanjutnya adalah masalah pendanaan

pinjaman untuk konsumsi. Bank Islam terkadang kesulitan untuk memberi pinjaman yang

bertujuan konsumtif. Hal ini disebabkan oleh masih terbatasnya dana yang dapat dipinjamkan

tanpa memperoleh keuntungan. Kemudian bank-bank Islam yang ada saat ini masih kesulitan

untuk mengumpulkan dana zakat, infak, maupun shadaqah pada skala yang besar, padahal dana

zakat ini merupakan potensi yang sangat luar biasa, dan bisa dijadikan sebagai salah satu sumber

pendanaan pinjaman untuk tujuan konsumtif. Masalah yang kelima adalah masih minimnya

sumberdaya manusia yang memahami secara komprehensif segala hal yang berkaitan dengan

industri perbankan syariah. Sehingga dalam prakteknya, seringkali terjadi penyimpangan-

penyimpangan aktivitas transaksi yang tidak sesuai dengan syariah. Karena itu Dewan Pengawas

Syariah harus berperan aktif didalam mengawasi segala aktivitas usaha yang dilakukan bank

Islam. Kemudian perlu ditingkatkan berbagai upaya sosialisasi secara terus menerus mengenai

system perbankan yang sesuai dengan syariah. Dan masalah keenam yang dihadapi kalangan

perbankan syariah adalah belum maksimalnya institusi undang-undang yang menjadi payung

hukum bagi keseluruhan aktivitas perbankan Islam. Karena itu kita perlu mendukung secara

penuh upaya untuk membuat RUU Perbankan Syariah yang direncanakan akan selesai pada akhir

2003 ini. Bahkan sudah saatnya kita mengembangkan wacana bank sentral syariah sebagai

payung bersama bagi seluruh bank yang beroperasi berdasarkan sistem syariah. Bagaimanapun

juga bank-bank syariah membutuhkan institusi bank sentral tersendiri, yang terpisah dengan

bank sentral yang sudah ada. Karena tidak mungkin dalam suatu institusi ada dua system yang

memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat mendasar, akibatnya akan selalu ada permasalahan-

permasalahan yang dapat menghambat perkembangan salah satunya. Dalam kasus ini, bisa jadi

yang terhambat adalah perkembangan perbankan syariah. Wallahu „alam bi ash-shawab.



Konsep Perbankan Islam April 17, 2010

Posted by khairoen in Akuntansi Syariah, Ekonomi islam, ISLAMIC FINANCE.

Tags: konsep, perbankan syariah, syariah

add a comment



1. Wadiah



Kontrak simpanan keselamatan antara penyimpan (pelanggan) dan penjaga (bank)



2. Mudharabah



Kontrak perkongsian keuntungan dimana satu pihak menyumbangkan kemahiran kerja manakala

pihak lain menawarkan sumber modal. Dalam akaun pelaburan Mudharabah, pelanggan

menyediakan modal dalam bentuk simpanan manakala bank menguruskannya. Sebaliknya dalam

pembiayaan projek Mudharabah, bank memberi modal dalam bentuk pembiayaan untuk

pelanggan bagi menjalankan perniagaan. Pelanggan dan bank berkongsi untung mengikut kadar

perkongsian untung yang dipersetujui semasa akad. Sebarang kerugian ditanggung sepenuhnya

oleh pemodal.



3. Musyarakah



Kontrak perkongsian antara dua pihak atau lebih, masing-masing menyumbangkan modal dan

kemahiran kerja. Keuntungan dibahagi bersama mengikut nisbah perkongsian untung yang

dipersetujui semasa akad manakala kerugian ditanggung bersama mengikut nisbah sumbangan

masing-masing

4. Murabahah



Jualan tambahan untung dimana barangan diserah segera manakala harga jualan, terdiri daripada

kos dan keuntungan, dibayar kemudian.



5. Bai Bithaman Ajil



Kontrak jual beli untuk bayaran tertangguh termasuk keuntungan. Pelanggan dibolehkan

membayar secara angsuran mengikut tempo yang dipersetujui.



6. Istisna’



Kontrak pembelian barangan mengikut spesifikasi yang dipesan di mana pembayaran dibuat

terlebih dahulu sementara menantikan barang diproses dan diserah kemudian.



7. Surat Kredit berdasarkan kontrak Wakalah



Bank bertindak sebagai wakil kepada pelanggan.



8. Surat Kredit berdasarkan kontrak Musyarakah



Bank membiayai sebahagian daripada jumlah pembayaran dan berkongsi keuntungan dengan

pelanggan



9. Surat Kredit berdasarkan kontrak Murabahah



Bank mengeluarkan surat kredit dan membayar jumlah keseluruhan. Barangan yang dibeli

seterusnya dijual kepada pelanggan dengan harga kos dan keuntungan.



10. Surat Jaminan berdasarkan kontrak Kafalah



Kontrak dimana satu pihak menjamin untuk menanggung segala pembayaran sekiranya pihak

ketiga gagal melaksanakannya.



11. Ijarah



Kontrak dimana bank membeli dan seterusnya membuat pajakan kepada pelanggan dan sewa

dikenakan selama tempoh yang dipersetujui.



12. Rahnu



Kontrak di mana aset berharga dijadikan sebagai cagaran untuk pinjaman dan bank berhak untuk

menjual cagaran sekira pelanggan gagal menjelaskan hutangnya



13. Takaful

Kontrak insurans Islam dimana sekumpulan ahli bersetuju untuk menjamin sebarang kerosakan

atau kerugian yang berlaku ke atas mana-mana ahli



14. Qardhul Hasan



Pinjaman tanpa faedah atas tujuan kebajikan. Peminjam hanya perlu membayar nilai pokok yang

dipinjam sahaja.



15. Riba



Daripada segi bahasa, bermaksud tambahan atau kenaikan. Secara istilah, ia bermaksud

penambahan nilai ke atas sesuatu pinjaman yang disyaratkan oleh pemberi pinjaman atau

dijanjikan oleh penerima pinjaman manakala dalam pertukaran sesetengah barangan dan

matawang, ia bermaksud perbezaan nilai akibat kuantiti yang berbeza ataupun perbezaan waktu

pertukaran



 KEMERDEKAAN EKONOMI DAN PRINSIP EKONOMI SYARIAH









Oleh Any Setianingrum M.E,Sy Alumni Pascasarjana Magister

Ekonomi Syariah Universitas Azzahra



66 tahun kemerdekaan adalah waktu yang cukup untuk meraih kesuksesan ekonomi sebuah

negara. Malaysia, negara Islam modern dan dinamis, yang usia kemerdekaannya lebih muda 12

tahun dari Indonesia telah mencanangkan menjadi negara maju pada tahun 2020. Rasulullah

SAW beserta sahabatnya dalam waktu singkat sukses merubah perekonomian kota Madinah

menjadi perekonomian yang penuh keadilan dan sejahtera. Bagaimana wajah 66 tahun

kemerdekaan ekonomi Indonesia?



Tahun 2011 penguasaan/kepemilikan asing kurang lebih pada sektor pertambangan mencapai

75%, sektor perbankan 47,02%, industri telekomunikasi 24-95%. Fakta lain yang sungguh ironis

adalah, ada sebuah perusahaan asal Singapura menguasai 85 ribu hektar perkebunan sawit di

Indonesia, sementara luas negara Singapura sendiri kurang dari 70 ribu hektar (Sumber Kompas,

25 Mei 2011). Kebutuhan pokok pangan seperti beras, kedelai, gula, daging sapi garam masih

pula diperoleh dengan cara mengimpor. Cicilan hutang pokok plus bunga yang dibayar dalam 6

tahun terakhir adalah 877,633 triliun (SD-IGJ, 2010), lebih besar dari APBN 2007 dan melebihi

seluruh pendapatan dari pajak setahun.



Biaya, waktu dan energi untuk merintis mengurangi ketergantungan pada asing, serta resistensi

dari sebagian kecil pihak yang diuntungkan dari kegiatan impor/kepemilikan asing, tentulah

tidak seberapa besar dibanding dengan manfaat dan keberkahan yang diperoleh dalam jangka

panjang jika pemenuhan kebutuhan tersebut bisa diproduksi sendiri. Produk-produk/kepemilikan

lokal selain akan memberi efek penciptaan lapangan kerja bagi 8,12 juta orang pengangguran

(BPS, 2011), juga memberikan manfaat lain bagi kedaulatan dan martabat bangsa. Adapun

adanya kenyataan lebih murah, lebih praktis dan lebih mudah pada produk impor/kepemilikan

asing janganlah mengecoh Indonesia untuk terus bertahan menjadi sasaran empuk

produk/kepemilikan asing, sebab hal itu tidak akan berhasil memenuhi substansi kebutuhan

sebuah negara berdaulat.



Negara akan mudah terjebak dalam berbagai musibah ekonomi jika produk/kepemilikan asing

telah mendominasi. Diantara musibah ekonomi adalah melemahnya basis-basis produksi dan

produktifitas sektor riil sehingga pembangunan ekonomi memiliki kualitas yang rendah karena

mengandalkan sektor konsumsi yang sebagian besar merupakan produk asing. Musibah serius

lainnya adalah besarnya kerusakan lingkungan, bagaimanapun pihak asing yang menguasai

hutan dan perkebunan Indonesia tidak akan sepenuhnya memiliki rasa tanggung jawab terhadap

kelestarian lingkungan negara lain, apalagi memikirkan kepentingan generasi penerus negara

orang. Musibah memilukan lainnya adalah beban berat yang harus dipikul jutaan warung-warung

kecil dan para pedagang di pasar-pasar tradisional di seluruh pelosok tanah air akibat

menjamurnya hypermarket dan supermarket yang mayoritas di dalamnya terdapat kepemilikan

asing.



Akibat lilitan utang, Indonesia menjadi sangat mudah jatuh dalam tekanan asing, khususnya

dalam penyusunan UU dan kebijakan-kebijakan strategis pemerintah. Melalui UU dan kebijakan

yang telah tertawan itulah intervensi asing sangat mudah masuk.



Sistem ekonomi neoliberalis yang mengedepankan perdagangan bebas, spekulasi valas, pasar

dan komoditas serta privatisasi layanan masyarakat memberikan kontribusi besar kepada wajah

perekonomian Indonesia dan dunia hingga menjadi seperti saat ini. Sepanjang abad 20 telah

terjadi lebih dari 20 Krisis ekonomi di negara-negara kapitalisme dan para pengikut setianya

(Davies, 1996).



Berikut ini akan diuraikan secara singkat, pengaturan perekonomian negara dalam perspektif

prinsip ekonomi syariah yang bisa menjadi hikmah. Indikator kesuksesan perekonomian sebuah

negara dalam Islam tidak hanya ditentukan oleh pendapatan per kapita, pertumbuhan ekonomi

dan pembangunan fisik saja, namun juga ditentukan oleh ada/tidaknya keadilan dalam

kesejahteraan masyarakat, dan keadaan keimanan penduduknya yang tercermin pada keadaan

moral, etika dan performa sektor sosial atau ketaatan penduduk dalam membayar ZIS.



Kebijakan dasar perekonomian negara adalah melalui mekanisme zakat dan pelarangan riba.

Dalam perspektif Islam, jika semua kegiatan usaha dipaksa mengikuti laju suku bunga maka

akan terjadi ekploitasi peserta ekonomi yang lemah oleh peserta yang lebih kuat yang akan

menyuburkan spekulasi, inflasi dan menumpuknya harta pada sekelompok orang. Karena itulah

sistem ekonomi negara harus selalu mengintegrasikan sektor moneter dengan sektor riil sebagai

konsekuensi dilarangnya riba, gharar (ketidakjelasan) dan spekulasi.



Kebijakan pemerintah secara umum dalam perekonomian Islam adalah mengoptimalisasi sektor

sosial dan institusi penunjang pasar. Perekonomian Islam sangat mendukung kegiatan

bisnis/perdagangan, mengedepankan produktivitas dalam pertumbuhan sektor riil yang berbasis

halal-haram dan manfaat-mudarat dengan basis transaksi jual beli, sewa menyewa dan bagi hasil.

Optimalisasi institusi pasar akan menghidupkan basis-basis produksi, meningkatkan

produktifitas, menekan inflasi, membuka lapangan kerja, menekan kemiskinan dan menjadikan

produk asing hanya sebagai mitra/pelengkap saja. Optimalisasi sektor sosial akan memberikan

rasa tentram dan aman kepada rakyat.



Terkait sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak dalam sebuah negara,

Rasulullah Saw bersabda: “Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api” (HR

Ibnu Majah). Jadi penguasaan sumber daya alam oleh kelompok saja tidak diperbolehkan apalagi

oleh kelompok asing yang manfaat terbesarnya tidak jatuh ke tangan rakyat.



Dengan mekanisme yang konsisten tersebut selama pemerintahan Islam berjaya tidak ditemukan

adanya krisis ekonomi yang serius dan terjadi berulang. Prinsip ekonomi Islam terbukti pula

sangat mendukung nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia terkait penegakkan nilai amanah

untuk mengoptimalkan terlebih dulu segala sumber daya terdekat yang telah dikaruniakan Allah

Swt. Adam Smith (1776), yang dianggap sebagai bapaknya ekonomi kapitalis, menganggap

bahwa contoh terbaik masyarakat berperadaban tinggi yang kuat secara ekonomi dan politik

adalah masyarakat Arab (Madinah) di bawah pimpinan Muhammad.



Para pendiri bangsa ini mungkin tidak pernah menduga di usia 66 tahun kemerdekaan, Indonesia

belum sepenuhnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam bidang ekonomi, jumlah orang

miskin mencapai 30,02 juta orang (BPS, Maret, 2011) dan maraknya kasus KKN dan

kiriminalitas. Namun tak ada kata terlambat, Rasulullah SAW, para sahabat dan masyarakat

Madinah telah memberi inspirasi yang gemilang. Mereka berhasil membenahi perekonomian

Madinah yang telah ratusan tahun dikuasai riba, ketidakadilan dan carut marutnya perilaku

masyarakat menjadi kota dengan peradaban tinggi yang diakui dunia sepanjang masa.



Tulisan “Kemerdekaan Ekonomi Vs Prinsip Ekonomi Syariah ” ini Dipublikasikan juga di

Republika Online http://www.republika.co.id/berita/nasional/opini/11/08/20/lq7vwb-

kemerdekaan-ekonomi-vs-prinsip-ekonomi


Related docs
Other docs by Lalu Mahyudin
ISLAMIC FINANCE
Views: 32  |  Downloads: 1