Embed
Email

Perilaku onani

Document Sample
Perilaku onani
Description

onani remaja

Shared by: fathurrohman mufti
Stats
views:
552
posted:
1/15/2012
language:
Indonesian
pages:
20
PERILAKU ONANI PADA REMAJA SMA









Disusun Untuk Melengkapi Tugas Metode Kualitatif





Oleh :





YOPHI MEGA KURNIAWAN ( F 100 030 216 )

HADI PRIYONO ( F 100 000 172 )









FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2007

BAB I

PENDAHULUAN





A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan manusia mengalami perubahan setiap waktunya,

demikian pula dengan zaman. Cepatnya perkembanagn zaman sangat

berpengaruh terhadap diri manusia. Pada saat manusia belum dapat

menyesuaikan diri dengan keadaan atau situasi yang baru, ia sudah

dihadapakan pada situasi yang lain. Perubahan juga melanda norma-norma

dan perilaku masyarakat.

Norma-norma masyarakat yang dahulu di junjung tinggi, sedikit demi

sedikit terkikis oleh perubahan zaman. Salah satu contohnya adalah kehidupan

seks yang tadinya begitu tabu untuk dibicarakan, saat ini bahkan

dipertontonkan. Hal ini tentu akan menimbulakan dampak yang kurang

menguntungkan bagi remaja. Remaja memiliki rasa keingintahuan yang besar

terhadap masalah-masalah seksualitas. Namun terkadang para remaja merasa

tidak puas dengan jawaban mereka dapatakan dari orang tua mereka karena

terbentur pada norma-norma yang menganggap bahwa membicarakan masalah

seks adalah tabu. Dan akibat dari budaya tersebut adalah para remaja

kemudian mencoba untuk mencari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan

mereka tentang seksualitas melalui lingkungan pergaulan mereka.

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju

masa dewasa. Banyak perubahan yang terjadi pada masa remaja, salah satu

contohnya adalah perubahan-perubahan fisik. Perubahan yang terjadi dalam

pertumbuhan fisik adalah tinggi badan, perubahan bentuk tubuh, perubahan

suara dan sebagainya secara umum menandakan bahwa gejala-gejala

pertumbuhan fisik tersebut merupakan tanda-tanda pubertas. (Siti, 2003)

Pubertas berasal dari kata pubes yang berarti bulu kemaluan. Pubertas

sebenarnya mempunyai arti yang terbatas pada keadaan dimana terjadi

pertumbuhan rambut pada bagian-bagian tertentu pada tubuh anak. Daerah

kemaluan, ketiak, betis merupakan bagian-bagian tubuh yang menjadi sasaran

utama rambut yang akan tumbuh selain kumis, jambang dan janggut pada

anak laki-laki. Tanda-tanda pubertas ini menunjukkan pula adanya aktifitas

kerja kelaenjar-kelenjar _ocial_ yang semakin giat. Selain itu, aktifitas

kelenjar-kelenjar _ocial_ yang meningkat menyebabkan perubahan-perubahan

bentuk tubuh. Periode remaja awal dan akhir ditandai dengan surplus energi

seksual yang seringkali pengalamannya bervariasi mulai dari bergaul dengan

lawan jenis, onani hingga berhubungan intim. (Siti, 2003)

Masa remaja juga tidak mempunya tempat yang jelas, ini dikarenakan

masa remaja adalah masa transisi atau masa peralihan Antara masa anak-anak

ke masa dewasa dimana anak mengalami pertumbuhan yang pesat pada

fisiknya. Mereka bukan lagi anak-anak baib dalam segi fisik maupun

kognitifnya, tetapi mereka juga bukan orang dewasa yang telah matang. (Siti,

2003)

Kematangan seksual dimulai pada saat munculnya tanda-tanda kelamin

sekunder berupa tumbuhnya rambut pada alat kelamin, ketiak cambang dan

perubahan suara pada anak laki-laki, meluasnya dada, tumbuhnya payudara

dan menebalnya lapisan lemak pada sekitar pinggul, paha dan perut pada anak

gadis. Setelah muncul kelamin sekunder maka akan muncul tanda-tanda

kelamin primer yaitu berupa kematangan testes pada anak laki-laki dan

kematangan ovarium pada anak perempuan. (Siti, 2003)

Pada sejumlah anak didapatkan adanya perkembangan yang lebih

cepat dari pada perkembangan anak pada umumnya. Masa perkembangan

yang terlalu cepat ini, dapat menimbulkan konflik pada diri individu yang

berasal dari pertentangan kebutuhan dari dalam dirinya dengan tuntutan diluar

dirinya. Akibatnya individu akan merasa kecewa terhadap lingkungan yang

tidak dapat memberikan kesempatan bagi dirinya. Akhirnya mereka melarikan

diri melalui obyek yang lain untuk menyalurkan impiannya. Misalnya

timbulnya keinginan akan tentang seks pada saat umurnya belum cukup untuk

menerimanya karena perkembanganya yang lebih cepat dibandingkan dengan

anak-anak yang lain. Dengan demikian bila rasa keingintahuannya itu tidak

mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya, individu tersebut

akan mencari-cari sendiri, misalnya melalui bacaan-bacaan porno yang

seharusnya belum layak dibacanya. Pengertian tentang seks yang kurang dan

tidak adanya pendidikan seks yang diperolehnya membuat individu

mengalami kesulitan dalam mengalihkan dorongan seksualnya yang besar.

Lingkungan anak yang mendukung untuk memperoleh informasi

tentang seksualitas, menyebabkan para remaja kesulitan untuk menyalurkan

dorongan seksualnya. Di satu pihak, anak dirangsang oleh kematangan seksual

rangsangan-rangsangan yang meledak-ledak untuk melakukan relasi seks yang

sebenarnya dan dilain pihak, mereka menyadari adanya norma-norma _ocial

dan larangan dari hati nurani sendiri untuk merealisasikan dorongan

seksualnya. Pertentangan di antara dua kekuatan psikis tersebut menimbulkan

rasa kecemasan dan kebingungan. Secara tidak sadar kemudian anak selalu

tergolong untuk memikirkan nafsu seksualnya sehingga mereka melakukan

onanni untuk memuaskan dorongan seksual mereka secara semu.

Kesalahan orang tua dalam mendidik anaknya terutama dalam masalah

seks adalah ketertutupan mereka dalam memberikan penjelasan tentang

masalah seks yang sebenarnya. Oleh karena itu para remaja mencari tahu

sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul seiring dengan

dorongan-dorongan seksual. Akibanya para remaja tidak mampu

mengendalikan dorongan yang telah dirangsang melalui stimulus-stimulus

seperti bacaan porno dan buku-buku porno. Sehingga kemudian mereka

menyalurkan dorongan seks tersebut melalui perilaku onani dan bukan

mengalihkan dorongan tersebut pada hal-hal yang lebih positif.

Dari uraian diatas , permasalahan yang ingin didapatkan jawabannya

adalah apa yang menyebabkan perilaku onani pada kalangan remaja SMA ?

B. Tujuan Masalah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab utama remaja

SMA melakukan onani.





C. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Memberikan gambaran kepada para remaja mengenai perilaku

onani

2. Untuk memeberikan gambaran kepada pihak sekolah untuk

melakukan bimbingan kepada siswanya perihal seksualitas

BAB II

LANDASAN TEORI





A. Perilaku seksual

1. Perkembangan Perilaku seksual Remaja

Perkembangan perilaku seksual merupakan akibat dari pertumbuhan

kelenjar-kelenjar seks dan merupakan hal yang sangat penting pada masa

remaja awal. Landis, melihat perilaku seksual dari perbedaan antara pria dan

wanita dalam hal ketegangan akibat dorongan-dorongan seksualitas.

Chillman (1991), berpendapat bahwa dorongan seksualitas dan

keinginan pemuas seksual pengaruhnya mencapai puncaknya pada masa

remaja. Dorongan seksual adalah kecenderungan biologis untuk mencari

tanggapan yang berbau seksualitas dari seseorang, biasanya dari jenis kelamin

yang berbeda, yang diperluas dengan belajar social mencangkup perbagai

perasaan non genital.

As;ad (1993), menjelaskan bahwa pada perkembangan fisik terdapat

perubahan fisik dari masa kanak-kanak ke masa remaja yang secara anatomis

da fisiologis menimbulkan gejolak dan kecanggungan. Perkembangan fisik ini

disertai dengan perkembangan hormonal terutama hormone seksual. Periode

remaja awal dan akhir ditandai pula dengan adanya surplus energi seksual

yang seringkali pengalamannya bervariasi mulai dari bergaul dengan jenis

kelamin lain secara normal, onani, hubungan itim dan lain sebagainya.

Perkembangan remaja seksual erat hubungannya dengan dengan pengaruh

seksual budaya setempat yang memiliki nnorma-norma sebagai pedoman

perilakunya. Adanya lingkungan masyarakat yang bervariasi, misalnya besar-

kecilnya kota, modern tradisional, ketat longgarnya keluarga, maka masalah

yang timbul untuk untuk penyesuaian diri dalam perilaku seksualpun berbeda-

beda.

Pada perkembangannya, perilaku seksual remaja semakin meningkat

intensitasnya. Hal ini sejalan dengan meningkatnya dorongan seksual remaja

yang menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak mudah dipahami oleh

remaja (Gunarsa, 1985). Sebagai manifestasinya, remaja mulai menunjukkan

perangi remaja yang mencangkup empat praktek seksual yaitu kencan,

percumbuan, onani dan hubungan seksual.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulakan bahwa perilaku

seksual remaja adalah segala bentuk kegiatan atau aktivitas yang dapat

menyalurkan dorongan seksual remaja dalam berhubungan dengan lawan jenis

dan dilakukan oleh remaja sebelum menikah. Mulai dari tahap paling awal

atau rendah sampai dengan terjadi hubungan senggama. Perilaku seksual

remaja merupakan suatu perkembangan pada remaja yang dipengaruhi oleh

kemasakan hormonal yang merupakan akibat langsung dari pertumbuhan

hormon dan kelenjar seks. Dalam proses perkembangannya, perilaku seksual

dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal.

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual

Conger (1995), mengatakan ada beberapa factor yang mempengaruhi

perilaku seksual, yaitu:

a. Perubahan Hormonal dalam tubuh, yaitu bahwa perilaku seksual

merupakan akibat langsung dari pertumbuhan hormon dan kelenjar

seks. Pertumbuhan hormone dan kelenjar seks menimbulkan

dorongan seksual. Dorongan tersebut, ada yang kuat, normal,

maupun lemah yang akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan

seksual individu.

b. Informasi media massa, arus informasi yang semakin bebas

membuat remaja mudah memperoleh informasi-informasi yang

berhubungan dengan seksualitas. Stimulus seksual yang mudah

diperoleh dari Buku-buku bacaan, televise, internet dan lain

sebagainya membuat remaja memperoleh kemudahan untuk

menikmati erotisme seksual, akibatnya remaja-remaja tersebut

akan mencari pemenuhan kebutuhan seksualnya sebagai akibat dari

rangsangan-rangasangan tersebut, melalui perilaku onani.

c. Suku, budaya, umur, tingkat religiusitas, yaitu bahwa perilaku

seksual seseorang sangat dipengaruhi oleh suku, budaya, umur dan

tingkat religiusitas. Perilaku seksual suatu bangsa, berbeda dengan

perilaku seksual bangsa lain walaupun perbedaan itu tidak seberapa

banyak. Perilaku seksual seorang remaja, tentu berbeda dengan

perilaku seksual orang dewasa dan semakin kuatnya iman atau

kualitas religiusitas seseorang, maka akan lebih mudah

mengendalikan dorongan seksualnya.

d. Jenis kelamin, ada perbedaan antara perilaku seksual laki-laki dan

wanita. Remaja laki-laki dengan mudah dapat menyalurkan

dorongan seksualnya melalui perilaku onani sedangkan

kebanyakan gadis memanifestasikan dorongan seksualnya pada

mimpi-mimpi dan kegelisahan fisik.





B. Pengertian Onani

1. Pengertian Onani

Menurut asal katanya, onani diambil dari nama orang yaitu ‘Onan’ yang

dikisahkan dalam kitab kejadian (kitab suci Yahudi-Kristen) pasal 38 ayat 9

yang menceritakan tentang Onan yang melakukan senggama terputus atau

yang kita kenal sebagai Coitus INterruptus (Tukan, 1991).

Onani diartikan sebagai pemenuha atau pemuasan kebutuhan seksual

dengan merangsang alat kelamin sendiri dengan tangan atau alat-alat tertentu.

Jadi dengan onani, orang secara semu mencari kepuasan seksual atau

organisme.

Kesimpulan dari pegertian diatas adalah perilaku onani merupakan cara

untuk memenuhi kebutuhan seksual dengan cara merangsang alat kelamin

dengna tangan aatau alat-alat tertentu sehingga tercapai kepuasan seksual yang

bersifat semu.

2. Faktor-faktor Penyebab Perilaku Onani

Seks adalah bagian dari kehidupan manusia yang selalu ada dan tidak di

tolak dan merupakan sesuatu yang muncul dan bisa menimbulkan barbagai

masalah msalah bila tidak dikendalkikan, diatur, diredam secara baik. Seiring

dengan perkembangan biologis, maka pada usia tertentu, seseorang akan

mencapai tahapan kematangan organ-organ seksnya.

Kematangan-kematangan organ seksual ini disertai dengan kemampuan

untuk melakukan hubungan seks dan sekaligus disertai dengan kemampuan

untuk mengadakan hubungan seks tersebut. Dorongan ini mempunya cirri

kenikmatana bila dilakukan dan memiliki kecenderungan untuk dilakukan,

Karena itu dorongan ini merupakan dorongan dengan prinsip kenikmatan.

Dorongan melakukan hubungan seks selalu muncul lebh awal dibandingkan

dengan kematangan untuk melakukan secara bebas.

Menurut Gunarsa (1995), ada bebrapa factor yang dapat menyebabkan

perilaku onani, Antara lain adalah sebagai berikut :

a. Karena hal-hal yang tidak disengaja. Artinya bagian remaja yang tidak

mengetahui bahwa yang dilakukan adalah perilaku onani.

b. Pengaruh dari teman-teman. Artinya, ada sebagian remaja yang

memperoleh pengetahuan tentang perilaku onani tersebut karena

memperoleh informasi dari teman lain yang pernah melakukan onani

untuk melampiaskan dorongan seksual mereka.

c. Pornografi. Artinya, para remaja tersebut memperoleh rangsangan

melalui berbagai hal yang berbau pornografi seperti gambar-gambar,

film-film, internet, bacaan-bacaan yang mengeksploitasi seks secara

berlebihan dan bersifat tidak mendidik sehingga dapat menimbulkan

dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual. Akibatnya,

mereka menyalurkan dengan cara onani.

d. Hubungan antara remaja pria dan remaja wanita atau berpacaran.

Dimana menimbulkan berbagai perilaku seksual ringan seperti

bersentuhan, berpegangan tangan, berciuman sampai sentuh-sentuhan

pada daerah rangsangan seksual sehingga menimbulkan keinginan untuk

menikmati dan memuaskan dorongan seksual.

e. Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuas dorongan seksual.

Akibatnya, adalah ketidak berhasilan individu untuk mengendalikan diri

atau merendam dorongan tersebut maupungagalnya mengalihkan

dorongan-dorongan tersebut maupun gagalnya mengalihkan dorongan-

dorongan tersebut ke hal-hal lain yang masih bisa dilakukan atau

kegiatan-kegiatan yang positif.

f. Terlaku mengikuti dorongan-dorongan seksual yang timbul dengan

hanya mendasarkanpada prinsip kesenagna tanpa memperhitungkan efek

negative dan kerugiannya, yang berakibat ketidakstabilan

kepribadiannnya karena tidak berkonsentrasi.





C. Perilaku Onani Pada Remaja SMA

Onani disebut pula sebagai masturbasi atau zelfbef lekking atau penodaan

diri, yang merupakan penyalahggunaan seksual yaitu dengan memanipulasi

sendiri alat kelamin sedemikian rupa sehingga mendapat kepuasan seksual

(kepuasaan semu).

Kartini-Kartono (1989), mengatakan bahwa sembilan dari sepuluh orang

pelaku onani mendapatkan kebiasaan beronani karena meniru temannya,

mendapatkan informasi-informasi yang memberikan stimulus yang sekiranya

dapat merangsang individu untuk melakukan onani dan karena adanya

dorongan kematangan seksual yang semakin memuncak dari dalam diri

individu.

Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa onani, harus dianggap

sebagai penyalur dorongan seksual secara wajar dan tidak perlu menjurus ke

penyimpangan. Dengan onani, orang dapat menyalurkan hasrat seksualnya,

terutama jika hubungan kelamin secara wajar atau koitus sebenarnya tidak

dimungkinkan. Seperti pada remaja, ketakutan pada norma-norma adat, social

dan yang terpenting adalah ketentuan melanggar norma agama. Dari sudut

kedokteran. Onani yang belum sampai tingkat eksesif tidak mendatangkan

kerugian atau gangguan (Tukan, 1990)

Para remaja yang memiliki gejolak seksual yang tinggi, maka rasa

keingintahuan mereka tentang koitus sangat besar. Hal ini disebabkan karena

pengaruh lingkungan, yaitu dimana sex education yang begitu penting tidak

mereka dapatkan akibatnya dari adanya norma-norma social yang dianggap

tabu membicarakan seks. Akibatnya ditengah arus informasi yang bertubi-tubi

ini, para remaja berusaha mencari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan

yang timbul dari diri mereka tentang koitus melalui hal-hal yang dapat

menerangkan koitus itu. Dan yang paling mudah untuk ditemui remaja adalah

hal-hal yang bersangkut paut dengan koitus melalui pornografi dan bukan sex

education





D. Pertanyaan Penelitian.

Pertanyaan penelitian yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah

mengenai :

1. Apa yang menyebabkan para remaja melakukan onani?

2. Apa yang didapat ketika melakukan onani.

BAB III

METODE PENELTIAN



Salah satu prosedur yang harus diperhatikan dalam suatu penelitian

ilmiah adalah metode penelitian. Karena benar salahnya suatu kesimpulan

yang diambil banyak ditentukan oleh metode penelitian yang digunakan,

seperti yang dikemukakan oleh Hadi(1987), Metode penelitian merupakan

masalah yang sangat penting dalam suatu penelitian dan sangat mempengaruhi

hasil dari penelitian yang dilakukan. Kesalahan dala menentukan metode akan

mengakibatkan kesalahan dalam mengambil keputusan.





A. Gejala Penelitian

Gejala penelitian yang ingin diamati adalah perilaku onani pada remaja

SMA.





B. Definisi Gejala Penelitian

Perilaku onani merupakan cara untuk memenuhi kebutuhan seksual

dengan cara merangsang alat kelamin dengan tangan atau alat-alat tertentu

sehingga tercapai kepuasan seksual yang bersifat semu.





C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah seorang pelajar SMA III Sukoharjo, subyek

berumur 18 tahun dan bertempat tinggal di Dukuh Rt. 02 Rw 10 Gayam

sukoharjo.





D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

mengunakan metode:

1. Wawancara

Wawancara dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh

pengetahuan tentang makna-makna subyekif yang dipahami berkenaan

dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi tehadap

isu tersebut( Banieter, dalam poerwandari )

Wawancara yang dilakukan ini akan digunakan wawancara dengan

pendekatan yang menggunakan petunjuk umum yaitu jenis wawancara

yang haruskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-

pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara (Moleong, 1995),

sedangkan menurut Patton ( dalam poerwandari, 1995) wawancara

dengan pedoman umum adalah metode wawancara dimana peneliti

dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, yang

mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan

pertanyaan. Metode ini digunakan untuk supaya dalam pengumpulan

data nantinya dapat berjalan sesuai dengan pokok-pokok yang

direncanakan.

2. Observasi

Selain wawancara untuk melengkapi data-data yang diperoleh

melalui wawancara dan emperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai

kaum lesbian, maka penelitian ini menggunakan metode observasi.

Observasi adalah kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat

fenomena yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek-

aspek dalam fenomena tersebut. (Poerwandari, 1998)

Moelang (1995), Pelaksanaan observasi dilakukan pada saat

wawancara dan observasi berlangsung yakni dilakukan dengan mencatat

ekspresi atau gerakan non verbal subyek, sehingga memungkinkan

peneliti untuk melihat dan mengamati sendiri serta untuk menjawab

keraguan peneliti akan data yang diperoleh sebelumnya





E. Metode Analisis Data

Menurut Moleong (2000) analisa data adalah proses mengatur urutan

data, mengorganisasikan kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar

sehingga dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti apa yang disarankan oleh

data. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini nanti berupa narasi

deskriptif yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi sehingga analisa

data yang digunakan adalah analisa induktif deskriptif yaitu melakukan

abstrkasi setelah melakukan rekaman fenomena khusus yang dikelompokkan

menjadi satu, kemudian teori yang dikembangkan nanti muncul dari sejumlah

besar bukti yang terkumpul dilapangan dan saling berhubungan antara

keduanya.

Data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka tetapi lebih banyak

berupa narasi, deskripsi, cerita, dikumen tertulis dan tidak tertulis (gambar

atau foto) ataupun bentuk-bentuk non angka lainnya (Poerwandari, 1998).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN





A. Pelaksanaan Penelitian

Informan peneliti di dapat dengan mengunakan teknik bola salju yaitu

pencarian secara berantai dengan cara meminta informasi pada informan yang

telah diwawancarai sebelumnya.

Penelitian ini menggunakan metode pengumpul data wawancara

mendalam dan observasi. Dan sebelum melakukan wawancara, peneliti

membuat pedoman wawancara untuk mempermudah peneliti dalam

melakukan wawancara. Dalam penelitian ini, wawancara yang dilakukan

dengan tertutup ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan informasi dari

subyek. Wawancara ini dilakukan ketika subyek memiliki waktu luang yaitu

pada sore dan malam hari. Wawancara ini berlangsung sebanyak dua kali

dengan waktu yang tidak sama ini dilakukan agar peneliti mendapat data yang

rinci dan penuh dengan hal-hal baru, dan agar dapar mengalami langsung

aspek afektif dan kognitif dari informan.

Dalam metode wawancara ini direkam dengan alat berupa tape recorder

dan flashdisk, ini dilakukan untuk mengindari data atau informasi agar tidak

hilang dari ingatan peneliti.

Dan metode observasi dilakukan untuk melihat subyek dalam melakukan

wawancara dan metode observasi juga dilakukan dalam kehidupan subyek jika

berada di rumah atau bermain dengan teman-teman subyek.





B. Hasil Penelitian

Dalam wawancara pertama subyek mengartikan onani sebagai penyalur

atau pelampiasan dari keinginannya untuk melakukan hubungan seksual.

Menurut subyek, yang membuat subyek terangsang antara lain adalah

gambar-gambar porno, film –film porno tetapi yang paling dominant membuat

subyek terangsang adalah film-film porno karena dalam film porno tersebut

terdapat ilustrasi hubungan sex antara laki-laki dan perempuan.

Subyek mengenal atau melihat pertama kali film-film porno adalah pada

usia 13 tahun ketika subyek duduk dibangu SMP kelas satu. Perrtama kali

melihat, subyek diajak teman-temannya.

Dan subyek ketika melihat merasa terangsang dan ingin mencoba untuk

melakukan hubungan tersebut tetapi subyek merasa takut untuk melakukannya

karena terbentur karena hukum agama tentang zina. Dan menurut subyek

untuk membatasi itu subyek melakukan onani, dan pertama kali subyek

melakukan onani ketika subyek duduk dikelas dua SMP.

Subyek melakukan onani biasanya dilakukan dikamar subyek sendiri

dan subyek juga dalam melakukan onani terkadang subyek tidak melihat film

porno terlebih dahulutetapi teringat akan adegan dalam film porno yang terus

terbayang dalam kehidupan subyek.

Dan ketika melakukan onani, subyek merasakan sebuah kenikmatan dan

kepuasan tersendiri. Dan selama ini kepuasan dan kenikmatan itu hanya

didapat ketika melakukkan onani dan subyek belum menemukan cara untuk

mendapatkan kenikmatan dan kepuasan selain dari onani. Dan menurut

subyek, ketika setelah mendapatkan kepuasan dan kenikmatan itu, badan

subyek merasakan lemas seperti habis olah raga tetapi bedanya onani ini tidak

mengeluarkan keringat.

Dan dalam wawancara kedua ini subyek menjelaskan akan dampak

positif maupun negative yang didapat subyek ketika melakukan onani.

Menurut subyek, dampak positif yang didapat dalam melakukan onani adalah

terhindarnya perbuatan zina dan terhindar dari dosa dan norma agama dan

masyarakat, dan dampak negatif dari melakukan onani adalah membuat

seseorang ingin melakukannya lagi dan onani ini akan kebiasaan baru bagi

subyek.

Dan menurut subyek untuk menghentikan kebiasaan onani ini adalah

dengan tidak melihat hal-hal yang berbau pono dan khususnya film porno

yang paling berpengaruh membuat seseorang terangsang.

C. Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subyek,

bahwa yang paling mendorong subyek untuk melakukan onani adalah film-

film yang mempertontonkan perilaku senggama antara laki-laki dewasa dan

wanita dewasa atau film porno. Artinya semakin sering menonton film porno

maka semakin sering pula melakukan onani.

Menurut Kartono (1989) kematangan organ kelamin memunculkan

dorongan-dorongan seksuil dan menyebabkan terjadinya ketegangan psikis

dan fisik sehingga menimbulkan perilaku onani yang bertujuan untuk

melarikan diri dari doronan seksuil yang kuat.

Rustam (1993), Menyatakan bahwa perilaku heteroseksual pada masa

remaja muncul karena factor dorongan dari dalam diri remja dan rangsangan-

rangsangan yang berasal dari luar diri remaja. Dorongan dari dalam diri,

terutama karena pengaruh kemasakan alat-alat reproduksi dan perubahan-

perubahan hormonal yang akan meningkatkan dorongan seksual. Peningkatan

dorongan seksual tersebut membutuhkan suatu cara penyaluran yang tepat.

Bila remaja tidak mampu mengendaliikan dan menyalurkan dorongan

tersebut secara tepat, maka muncullah usaha-usaha untuk memuaskannya,

antara lain dengan oanani, masturbasi, melakukan hubungan kelamin baik

yang bersifat heteroseksual ataupun homosesksual.

Rifai (1987), menyatakan betapa pentingnya pendidikan seksual

diberikan pada remaja, alasan-alasannya adalah sebagai berikut:

1. Agar peranan seksual secara social dan etis dapat berlangsung

sebagaimana mestinya, sehingga seseorang dapat melakukan peranan

seksualnya sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat dan

kematangan mental sosialnya.

2. Yang terpenting dalam pendidikan seksual adalah menyadari persoalan-

persoalan seks yang terjadi dala hubungan insaniah pda umumnya dan

yang berhubungan dengan pembentukan aspek kehidupan lain dalamm

kehidupan keluarga.

3. Pendidikan seksual tidak cukup hanya dengan:

a. Memberi penerangan tentang pengalaman-pengalaman fisiologis

seperti onani dan masturbasi.

b. Gambaran dramatic tentang spermatozoa manusia.

c. Diskusi tentang ciri-ciri sekunder remaja (perubahan fisik)

d. Penjelasan tentang perasaan selama onani atau penjelasan tentang

keburukan hayalan erotik

e. Penjelasan tentang sopan santun dalam hubungan seks.

BAB V

PENUTUP





A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian ini, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa :

1. Remaja melakukan onani sebagai penyelur hasrat birahinya

2. Penyebab remaja melakukan onani adalah buku-buku porno, vcd

porno dan hal-hal yang berbau pornografi.

3. Dan penyebab yang paling dominan adalah vcd porno.

4. Yang dirasakan ketika melakukan oanai adalah sebuah kenikmatan

dan kepuasan tersendiri yang tidak bias didapat selain dari onani.





B. Saran-saran

1. Kepada para siswa SMA agar sedapat mungkin menghindari segala

bentuk stimulus seksual yang tidak edukatif

2. Melihat pentingnya dan perlunya diberikan pendidikan seksual

pada remaja seyogyanya pendidikan seksual diberikan disekolah.

3. Kepada orang tua agar memberikan pendidikan seksual pada putra-

putrinya melalui pendekatan dalam keluarga.

4. Kepada pemerintah agar meningkatkan pengawasan terhadap

peredaran film-film porno pada khususnya dan segala bentuk

eksploitasi seksual yang sekiranya bisa menimbulkan minat untuk

melakukan atau menyalurkan dorongan seksual pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA





Hadi, S. 1992. Metodelogi Research jilid dua. Yogyakarta: Andi Offsect



Kartono, K. 1992. Peranan keluarga Memandu Anak. Jakarta :

Rajawali Pers.



Kartono, K. 1998. Psikologi social 2. Jakarta: Raja Grafindo Persada



Moleong, L. 2002. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Edisi ketiga

belas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.



Poerwandari, E. K. 1998. Pendekatan kualitatif dalam penelitian

psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana

Pengukuran dan Pendidikan Psikologi.



Rifai, S.S. 1987. Psikologi Perkembangan Remaja dari segi

Kehiduan Sosial. Jakarta : Bina Aksara.


Related docs
Other docs by fathurrohman m...
istiqomah
Views: 35  |  Downloads: 0
peradaban barat
Views: 17  |  Downloads: 0
anxiety in william shakespeare's hamlet
Views: 55  |  Downloads: 0
Psikologi di Sekolah
Views: 21  |  Downloads: 0
discourse analysis
Views: 35  |  Downloads: 0
penelitian yogyakarta
Views: 85  |  Downloads: 0
Pancasila dan ideologi
Views: 64  |  Downloads: 0
sejarah bahasa indonesia
Views: 70  |  Downloads: 1
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!