PERILAKU ONANI PADA REMAJA SMA
Disusun Untuk Melengkapi Tugas Metode Kualitatif
Oleh :
YOPHI MEGA KURNIAWAN ( F 100 030 216 )
HADI PRIYONO ( F 100 000 172 )
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2007
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan manusia mengalami perubahan setiap waktunya,
demikian pula dengan zaman. Cepatnya perkembanagn zaman sangat
berpengaruh terhadap diri manusia. Pada saat manusia belum dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan atau situasi yang baru, ia sudah
dihadapakan pada situasi yang lain. Perubahan juga melanda norma-norma
dan perilaku masyarakat.
Norma-norma masyarakat yang dahulu di junjung tinggi, sedikit demi
sedikit terkikis oleh perubahan zaman. Salah satu contohnya adalah kehidupan
seks yang tadinya begitu tabu untuk dibicarakan, saat ini bahkan
dipertontonkan. Hal ini tentu akan menimbulakan dampak yang kurang
menguntungkan bagi remaja. Remaja memiliki rasa keingintahuan yang besar
terhadap masalah-masalah seksualitas. Namun terkadang para remaja merasa
tidak puas dengan jawaban mereka dapatakan dari orang tua mereka karena
terbentur pada norma-norma yang menganggap bahwa membicarakan masalah
seks adalah tabu. Dan akibat dari budaya tersebut adalah para remaja
kemudian mencoba untuk mencari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
mereka tentang seksualitas melalui lingkungan pergaulan mereka.
Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju
masa dewasa. Banyak perubahan yang terjadi pada masa remaja, salah satu
contohnya adalah perubahan-perubahan fisik. Perubahan yang terjadi dalam
pertumbuhan fisik adalah tinggi badan, perubahan bentuk tubuh, perubahan
suara dan sebagainya secara umum menandakan bahwa gejala-gejala
pertumbuhan fisik tersebut merupakan tanda-tanda pubertas. (Siti, 2003)
Pubertas berasal dari kata pubes yang berarti bulu kemaluan. Pubertas
sebenarnya mempunyai arti yang terbatas pada keadaan dimana terjadi
pertumbuhan rambut pada bagian-bagian tertentu pada tubuh anak. Daerah
kemaluan, ketiak, betis merupakan bagian-bagian tubuh yang menjadi sasaran
utama rambut yang akan tumbuh selain kumis, jambang dan janggut pada
anak laki-laki. Tanda-tanda pubertas ini menunjukkan pula adanya aktifitas
kerja kelaenjar-kelenjar _ocial_ yang semakin giat. Selain itu, aktifitas
kelenjar-kelenjar _ocial_ yang meningkat menyebabkan perubahan-perubahan
bentuk tubuh. Periode remaja awal dan akhir ditandai dengan surplus energi
seksual yang seringkali pengalamannya bervariasi mulai dari bergaul dengan
lawan jenis, onani hingga berhubungan intim. (Siti, 2003)
Masa remaja juga tidak mempunya tempat yang jelas, ini dikarenakan
masa remaja adalah masa transisi atau masa peralihan Antara masa anak-anak
ke masa dewasa dimana anak mengalami pertumbuhan yang pesat pada
fisiknya. Mereka bukan lagi anak-anak baib dalam segi fisik maupun
kognitifnya, tetapi mereka juga bukan orang dewasa yang telah matang. (Siti,
2003)
Kematangan seksual dimulai pada saat munculnya tanda-tanda kelamin
sekunder berupa tumbuhnya rambut pada alat kelamin, ketiak cambang dan
perubahan suara pada anak laki-laki, meluasnya dada, tumbuhnya payudara
dan menebalnya lapisan lemak pada sekitar pinggul, paha dan perut pada anak
gadis. Setelah muncul kelamin sekunder maka akan muncul tanda-tanda
kelamin primer yaitu berupa kematangan testes pada anak laki-laki dan
kematangan ovarium pada anak perempuan. (Siti, 2003)
Pada sejumlah anak didapatkan adanya perkembangan yang lebih
cepat dari pada perkembangan anak pada umumnya. Masa perkembangan
yang terlalu cepat ini, dapat menimbulkan konflik pada diri individu yang
berasal dari pertentangan kebutuhan dari dalam dirinya dengan tuntutan diluar
dirinya. Akibatnya individu akan merasa kecewa terhadap lingkungan yang
tidak dapat memberikan kesempatan bagi dirinya. Akhirnya mereka melarikan
diri melalui obyek yang lain untuk menyalurkan impiannya. Misalnya
timbulnya keinginan akan tentang seks pada saat umurnya belum cukup untuk
menerimanya karena perkembanganya yang lebih cepat dibandingkan dengan
anak-anak yang lain. Dengan demikian bila rasa keingintahuannya itu tidak
mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya, individu tersebut
akan mencari-cari sendiri, misalnya melalui bacaan-bacaan porno yang
seharusnya belum layak dibacanya. Pengertian tentang seks yang kurang dan
tidak adanya pendidikan seks yang diperolehnya membuat individu
mengalami kesulitan dalam mengalihkan dorongan seksualnya yang besar.
Lingkungan anak yang mendukung untuk memperoleh informasi
tentang seksualitas, menyebabkan para remaja kesulitan untuk menyalurkan
dorongan seksualnya. Di satu pihak, anak dirangsang oleh kematangan seksual
rangsangan-rangsangan yang meledak-ledak untuk melakukan relasi seks yang
sebenarnya dan dilain pihak, mereka menyadari adanya norma-norma _ocial
dan larangan dari hati nurani sendiri untuk merealisasikan dorongan
seksualnya. Pertentangan di antara dua kekuatan psikis tersebut menimbulkan
rasa kecemasan dan kebingungan. Secara tidak sadar kemudian anak selalu
tergolong untuk memikirkan nafsu seksualnya sehingga mereka melakukan
onanni untuk memuaskan dorongan seksual mereka secara semu.
Kesalahan orang tua dalam mendidik anaknya terutama dalam masalah
seks adalah ketertutupan mereka dalam memberikan penjelasan tentang
masalah seks yang sebenarnya. Oleh karena itu para remaja mencari tahu
sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul seiring dengan
dorongan-dorongan seksual. Akibanya para remaja tidak mampu
mengendalikan dorongan yang telah dirangsang melalui stimulus-stimulus
seperti bacaan porno dan buku-buku porno. Sehingga kemudian mereka
menyalurkan dorongan seks tersebut melalui perilaku onani dan bukan
mengalihkan dorongan tersebut pada hal-hal yang lebih positif.
Dari uraian diatas , permasalahan yang ingin didapatkan jawabannya
adalah apa yang menyebabkan perilaku onani pada kalangan remaja SMA ?
B. Tujuan Masalah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab utama remaja
SMA melakukan onani.
C. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Memberikan gambaran kepada para remaja mengenai perilaku
onani
2. Untuk memeberikan gambaran kepada pihak sekolah untuk
melakukan bimbingan kepada siswanya perihal seksualitas
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Perilaku seksual
1. Perkembangan Perilaku seksual Remaja
Perkembangan perilaku seksual merupakan akibat dari pertumbuhan
kelenjar-kelenjar seks dan merupakan hal yang sangat penting pada masa
remaja awal. Landis, melihat perilaku seksual dari perbedaan antara pria dan
wanita dalam hal ketegangan akibat dorongan-dorongan seksualitas.
Chillman (1991), berpendapat bahwa dorongan seksualitas dan
keinginan pemuas seksual pengaruhnya mencapai puncaknya pada masa
remaja. Dorongan seksual adalah kecenderungan biologis untuk mencari
tanggapan yang berbau seksualitas dari seseorang, biasanya dari jenis kelamin
yang berbeda, yang diperluas dengan belajar social mencangkup perbagai
perasaan non genital.
As;ad (1993), menjelaskan bahwa pada perkembangan fisik terdapat
perubahan fisik dari masa kanak-kanak ke masa remaja yang secara anatomis
da fisiologis menimbulkan gejolak dan kecanggungan. Perkembangan fisik ini
disertai dengan perkembangan hormonal terutama hormone seksual. Periode
remaja awal dan akhir ditandai pula dengan adanya surplus energi seksual
yang seringkali pengalamannya bervariasi mulai dari bergaul dengan jenis
kelamin lain secara normal, onani, hubungan itim dan lain sebagainya.
Perkembangan remaja seksual erat hubungannya dengan dengan pengaruh
seksual budaya setempat yang memiliki nnorma-norma sebagai pedoman
perilakunya. Adanya lingkungan masyarakat yang bervariasi, misalnya besar-
kecilnya kota, modern tradisional, ketat longgarnya keluarga, maka masalah
yang timbul untuk untuk penyesuaian diri dalam perilaku seksualpun berbeda-
beda.
Pada perkembangannya, perilaku seksual remaja semakin meningkat
intensitasnya. Hal ini sejalan dengan meningkatnya dorongan seksual remaja
yang menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak mudah dipahami oleh
remaja (Gunarsa, 1985). Sebagai manifestasinya, remaja mulai menunjukkan
perangi remaja yang mencangkup empat praktek seksual yaitu kencan,
percumbuan, onani dan hubungan seksual.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulakan bahwa perilaku
seksual remaja adalah segala bentuk kegiatan atau aktivitas yang dapat
menyalurkan dorongan seksual remaja dalam berhubungan dengan lawan jenis
dan dilakukan oleh remaja sebelum menikah. Mulai dari tahap paling awal
atau rendah sampai dengan terjadi hubungan senggama. Perilaku seksual
remaja merupakan suatu perkembangan pada remaja yang dipengaruhi oleh
kemasakan hormonal yang merupakan akibat langsung dari pertumbuhan
hormon dan kelenjar seks. Dalam proses perkembangannya, perilaku seksual
dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal.
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual
Conger (1995), mengatakan ada beberapa factor yang mempengaruhi
perilaku seksual, yaitu:
a. Perubahan Hormonal dalam tubuh, yaitu bahwa perilaku seksual
merupakan akibat langsung dari pertumbuhan hormon dan kelenjar
seks. Pertumbuhan hormone dan kelenjar seks menimbulkan
dorongan seksual. Dorongan tersebut, ada yang kuat, normal,
maupun lemah yang akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
seksual individu.
b. Informasi media massa, arus informasi yang semakin bebas
membuat remaja mudah memperoleh informasi-informasi yang
berhubungan dengan seksualitas. Stimulus seksual yang mudah
diperoleh dari Buku-buku bacaan, televise, internet dan lain
sebagainya membuat remaja memperoleh kemudahan untuk
menikmati erotisme seksual, akibatnya remaja-remaja tersebut
akan mencari pemenuhan kebutuhan seksualnya sebagai akibat dari
rangsangan-rangasangan tersebut, melalui perilaku onani.
c. Suku, budaya, umur, tingkat religiusitas, yaitu bahwa perilaku
seksual seseorang sangat dipengaruhi oleh suku, budaya, umur dan
tingkat religiusitas. Perilaku seksual suatu bangsa, berbeda dengan
perilaku seksual bangsa lain walaupun perbedaan itu tidak seberapa
banyak. Perilaku seksual seorang remaja, tentu berbeda dengan
perilaku seksual orang dewasa dan semakin kuatnya iman atau
kualitas religiusitas seseorang, maka akan lebih mudah
mengendalikan dorongan seksualnya.
d. Jenis kelamin, ada perbedaan antara perilaku seksual laki-laki dan
wanita. Remaja laki-laki dengan mudah dapat menyalurkan
dorongan seksualnya melalui perilaku onani sedangkan
kebanyakan gadis memanifestasikan dorongan seksualnya pada
mimpi-mimpi dan kegelisahan fisik.
B. Pengertian Onani
1. Pengertian Onani
Menurut asal katanya, onani diambil dari nama orang yaitu ‘Onan’ yang
dikisahkan dalam kitab kejadian (kitab suci Yahudi-Kristen) pasal 38 ayat 9
yang menceritakan tentang Onan yang melakukan senggama terputus atau
yang kita kenal sebagai Coitus INterruptus (Tukan, 1991).
Onani diartikan sebagai pemenuha atau pemuasan kebutuhan seksual
dengan merangsang alat kelamin sendiri dengan tangan atau alat-alat tertentu.
Jadi dengan onani, orang secara semu mencari kepuasan seksual atau
organisme.
Kesimpulan dari pegertian diatas adalah perilaku onani merupakan cara
untuk memenuhi kebutuhan seksual dengan cara merangsang alat kelamin
dengna tangan aatau alat-alat tertentu sehingga tercapai kepuasan seksual yang
bersifat semu.
2. Faktor-faktor Penyebab Perilaku Onani
Seks adalah bagian dari kehidupan manusia yang selalu ada dan tidak di
tolak dan merupakan sesuatu yang muncul dan bisa menimbulkan barbagai
masalah msalah bila tidak dikendalkikan, diatur, diredam secara baik. Seiring
dengan perkembangan biologis, maka pada usia tertentu, seseorang akan
mencapai tahapan kematangan organ-organ seksnya.
Kematangan-kematangan organ seksual ini disertai dengan kemampuan
untuk melakukan hubungan seks dan sekaligus disertai dengan kemampuan
untuk mengadakan hubungan seks tersebut. Dorongan ini mempunya cirri
kenikmatana bila dilakukan dan memiliki kecenderungan untuk dilakukan,
Karena itu dorongan ini merupakan dorongan dengan prinsip kenikmatan.
Dorongan melakukan hubungan seks selalu muncul lebh awal dibandingkan
dengan kematangan untuk melakukan secara bebas.
Menurut Gunarsa (1995), ada bebrapa factor yang dapat menyebabkan
perilaku onani, Antara lain adalah sebagai berikut :
a. Karena hal-hal yang tidak disengaja. Artinya bagian remaja yang tidak
mengetahui bahwa yang dilakukan adalah perilaku onani.
b. Pengaruh dari teman-teman. Artinya, ada sebagian remaja yang
memperoleh pengetahuan tentang perilaku onani tersebut karena
memperoleh informasi dari teman lain yang pernah melakukan onani
untuk melampiaskan dorongan seksual mereka.
c. Pornografi. Artinya, para remaja tersebut memperoleh rangsangan
melalui berbagai hal yang berbau pornografi seperti gambar-gambar,
film-film, internet, bacaan-bacaan yang mengeksploitasi seks secara
berlebihan dan bersifat tidak mendidik sehingga dapat menimbulkan
dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual. Akibatnya,
mereka menyalurkan dengan cara onani.
d. Hubungan antara remaja pria dan remaja wanita atau berpacaran.
Dimana menimbulkan berbagai perilaku seksual ringan seperti
bersentuhan, berpegangan tangan, berciuman sampai sentuh-sentuhan
pada daerah rangsangan seksual sehingga menimbulkan keinginan untuk
menikmati dan memuaskan dorongan seksual.
e. Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuas dorongan seksual.
Akibatnya, adalah ketidak berhasilan individu untuk mengendalikan diri
atau merendam dorongan tersebut maupungagalnya mengalihkan
dorongan-dorongan tersebut maupun gagalnya mengalihkan dorongan-
dorongan tersebut ke hal-hal lain yang masih bisa dilakukan atau
kegiatan-kegiatan yang positif.
f. Terlaku mengikuti dorongan-dorongan seksual yang timbul dengan
hanya mendasarkanpada prinsip kesenagna tanpa memperhitungkan efek
negative dan kerugiannya, yang berakibat ketidakstabilan
kepribadiannnya karena tidak berkonsentrasi.
C. Perilaku Onani Pada Remaja SMA
Onani disebut pula sebagai masturbasi atau zelfbef lekking atau penodaan
diri, yang merupakan penyalahggunaan seksual yaitu dengan memanipulasi
sendiri alat kelamin sedemikian rupa sehingga mendapat kepuasan seksual
(kepuasaan semu).
Kartini-Kartono (1989), mengatakan bahwa sembilan dari sepuluh orang
pelaku onani mendapatkan kebiasaan beronani karena meniru temannya,
mendapatkan informasi-informasi yang memberikan stimulus yang sekiranya
dapat merangsang individu untuk melakukan onani dan karena adanya
dorongan kematangan seksual yang semakin memuncak dari dalam diri
individu.
Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa onani, harus dianggap
sebagai penyalur dorongan seksual secara wajar dan tidak perlu menjurus ke
penyimpangan. Dengan onani, orang dapat menyalurkan hasrat seksualnya,
terutama jika hubungan kelamin secara wajar atau koitus sebenarnya tidak
dimungkinkan. Seperti pada remaja, ketakutan pada norma-norma adat, social
dan yang terpenting adalah ketentuan melanggar norma agama. Dari sudut
kedokteran. Onani yang belum sampai tingkat eksesif tidak mendatangkan
kerugian atau gangguan (Tukan, 1990)
Para remaja yang memiliki gejolak seksual yang tinggi, maka rasa
keingintahuan mereka tentang koitus sangat besar. Hal ini disebabkan karena
pengaruh lingkungan, yaitu dimana sex education yang begitu penting tidak
mereka dapatkan akibatnya dari adanya norma-norma social yang dianggap
tabu membicarakan seks. Akibatnya ditengah arus informasi yang bertubi-tubi
ini, para remaja berusaha mencari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
yang timbul dari diri mereka tentang koitus melalui hal-hal yang dapat
menerangkan koitus itu. Dan yang paling mudah untuk ditemui remaja adalah
hal-hal yang bersangkut paut dengan koitus melalui pornografi dan bukan sex
education
D. Pertanyaan Penelitian.
Pertanyaan penelitian yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah
mengenai :
1. Apa yang menyebabkan para remaja melakukan onani?
2. Apa yang didapat ketika melakukan onani.
BAB III
METODE PENELTIAN
Salah satu prosedur yang harus diperhatikan dalam suatu penelitian
ilmiah adalah metode penelitian. Karena benar salahnya suatu kesimpulan
yang diambil banyak ditentukan oleh metode penelitian yang digunakan,
seperti yang dikemukakan oleh Hadi(1987), Metode penelitian merupakan
masalah yang sangat penting dalam suatu penelitian dan sangat mempengaruhi
hasil dari penelitian yang dilakukan. Kesalahan dala menentukan metode akan
mengakibatkan kesalahan dalam mengambil keputusan.
A. Gejala Penelitian
Gejala penelitian yang ingin diamati adalah perilaku onani pada remaja
SMA.
B. Definisi Gejala Penelitian
Perilaku onani merupakan cara untuk memenuhi kebutuhan seksual
dengan cara merangsang alat kelamin dengan tangan atau alat-alat tertentu
sehingga tercapai kepuasan seksual yang bersifat semu.
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah seorang pelajar SMA III Sukoharjo, subyek
berumur 18 tahun dan bertempat tinggal di Dukuh Rt. 02 Rw 10 Gayam
sukoharjo.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
mengunakan metode:
1. Wawancara
Wawancara dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh
pengetahuan tentang makna-makna subyekif yang dipahami berkenaan
dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi tehadap
isu tersebut( Banieter, dalam poerwandari )
Wawancara yang dilakukan ini akan digunakan wawancara dengan
pendekatan yang menggunakan petunjuk umum yaitu jenis wawancara
yang haruskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-
pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara (Moleong, 1995),
sedangkan menurut Patton ( dalam poerwandari, 1995) wawancara
dengan pedoman umum adalah metode wawancara dimana peneliti
dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, yang
mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan
pertanyaan. Metode ini digunakan untuk supaya dalam pengumpulan
data nantinya dapat berjalan sesuai dengan pokok-pokok yang
direncanakan.
2. Observasi
Selain wawancara untuk melengkapi data-data yang diperoleh
melalui wawancara dan emperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai
kaum lesbian, maka penelitian ini menggunakan metode observasi.
Observasi adalah kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat
fenomena yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek-
aspek dalam fenomena tersebut. (Poerwandari, 1998)
Moelang (1995), Pelaksanaan observasi dilakukan pada saat
wawancara dan observasi berlangsung yakni dilakukan dengan mencatat
ekspresi atau gerakan non verbal subyek, sehingga memungkinkan
peneliti untuk melihat dan mengamati sendiri serta untuk menjawab
keraguan peneliti akan data yang diperoleh sebelumnya
E. Metode Analisis Data
Menurut Moleong (2000) analisa data adalah proses mengatur urutan
data, mengorganisasikan kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar
sehingga dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti apa yang disarankan oleh
data. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini nanti berupa narasi
deskriptif yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi sehingga analisa
data yang digunakan adalah analisa induktif deskriptif yaitu melakukan
abstrkasi setelah melakukan rekaman fenomena khusus yang dikelompokkan
menjadi satu, kemudian teori yang dikembangkan nanti muncul dari sejumlah
besar bukti yang terkumpul dilapangan dan saling berhubungan antara
keduanya.
Data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka tetapi lebih banyak
berupa narasi, deskripsi, cerita, dikumen tertulis dan tidak tertulis (gambar
atau foto) ataupun bentuk-bentuk non angka lainnya (Poerwandari, 1998).
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Informan peneliti di dapat dengan mengunakan teknik bola salju yaitu
pencarian secara berantai dengan cara meminta informasi pada informan yang
telah diwawancarai sebelumnya.
Penelitian ini menggunakan metode pengumpul data wawancara
mendalam dan observasi. Dan sebelum melakukan wawancara, peneliti
membuat pedoman wawancara untuk mempermudah peneliti dalam
melakukan wawancara. Dalam penelitian ini, wawancara yang dilakukan
dengan tertutup ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan informasi dari
subyek. Wawancara ini dilakukan ketika subyek memiliki waktu luang yaitu
pada sore dan malam hari. Wawancara ini berlangsung sebanyak dua kali
dengan waktu yang tidak sama ini dilakukan agar peneliti mendapat data yang
rinci dan penuh dengan hal-hal baru, dan agar dapar mengalami langsung
aspek afektif dan kognitif dari informan.
Dalam metode wawancara ini direkam dengan alat berupa tape recorder
dan flashdisk, ini dilakukan untuk mengindari data atau informasi agar tidak
hilang dari ingatan peneliti.
Dan metode observasi dilakukan untuk melihat subyek dalam melakukan
wawancara dan metode observasi juga dilakukan dalam kehidupan subyek jika
berada di rumah atau bermain dengan teman-teman subyek.
B. Hasil Penelitian
Dalam wawancara pertama subyek mengartikan onani sebagai penyalur
atau pelampiasan dari keinginannya untuk melakukan hubungan seksual.
Menurut subyek, yang membuat subyek terangsang antara lain adalah
gambar-gambar porno, film –film porno tetapi yang paling dominant membuat
subyek terangsang adalah film-film porno karena dalam film porno tersebut
terdapat ilustrasi hubungan sex antara laki-laki dan perempuan.
Subyek mengenal atau melihat pertama kali film-film porno adalah pada
usia 13 tahun ketika subyek duduk dibangu SMP kelas satu. Perrtama kali
melihat, subyek diajak teman-temannya.
Dan subyek ketika melihat merasa terangsang dan ingin mencoba untuk
melakukan hubungan tersebut tetapi subyek merasa takut untuk melakukannya
karena terbentur karena hukum agama tentang zina. Dan menurut subyek
untuk membatasi itu subyek melakukan onani, dan pertama kali subyek
melakukan onani ketika subyek duduk dikelas dua SMP.
Subyek melakukan onani biasanya dilakukan dikamar subyek sendiri
dan subyek juga dalam melakukan onani terkadang subyek tidak melihat film
porno terlebih dahulutetapi teringat akan adegan dalam film porno yang terus
terbayang dalam kehidupan subyek.
Dan ketika melakukan onani, subyek merasakan sebuah kenikmatan dan
kepuasan tersendiri. Dan selama ini kepuasan dan kenikmatan itu hanya
didapat ketika melakukkan onani dan subyek belum menemukan cara untuk
mendapatkan kenikmatan dan kepuasan selain dari onani. Dan menurut
subyek, ketika setelah mendapatkan kepuasan dan kenikmatan itu, badan
subyek merasakan lemas seperti habis olah raga tetapi bedanya onani ini tidak
mengeluarkan keringat.
Dan dalam wawancara kedua ini subyek menjelaskan akan dampak
positif maupun negative yang didapat subyek ketika melakukan onani.
Menurut subyek, dampak positif yang didapat dalam melakukan onani adalah
terhindarnya perbuatan zina dan terhindar dari dosa dan norma agama dan
masyarakat, dan dampak negatif dari melakukan onani adalah membuat
seseorang ingin melakukannya lagi dan onani ini akan kebiasaan baru bagi
subyek.
Dan menurut subyek untuk menghentikan kebiasaan onani ini adalah
dengan tidak melihat hal-hal yang berbau pono dan khususnya film porno
yang paling berpengaruh membuat seseorang terangsang.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subyek,
bahwa yang paling mendorong subyek untuk melakukan onani adalah film-
film yang mempertontonkan perilaku senggama antara laki-laki dewasa dan
wanita dewasa atau film porno. Artinya semakin sering menonton film porno
maka semakin sering pula melakukan onani.
Menurut Kartono (1989) kematangan organ kelamin memunculkan
dorongan-dorongan seksuil dan menyebabkan terjadinya ketegangan psikis
dan fisik sehingga menimbulkan perilaku onani yang bertujuan untuk
melarikan diri dari doronan seksuil yang kuat.
Rustam (1993), Menyatakan bahwa perilaku heteroseksual pada masa
remaja muncul karena factor dorongan dari dalam diri remja dan rangsangan-
rangsangan yang berasal dari luar diri remaja. Dorongan dari dalam diri,
terutama karena pengaruh kemasakan alat-alat reproduksi dan perubahan-
perubahan hormonal yang akan meningkatkan dorongan seksual. Peningkatan
dorongan seksual tersebut membutuhkan suatu cara penyaluran yang tepat.
Bila remaja tidak mampu mengendaliikan dan menyalurkan dorongan
tersebut secara tepat, maka muncullah usaha-usaha untuk memuaskannya,
antara lain dengan oanani, masturbasi, melakukan hubungan kelamin baik
yang bersifat heteroseksual ataupun homosesksual.
Rifai (1987), menyatakan betapa pentingnya pendidikan seksual
diberikan pada remaja, alasan-alasannya adalah sebagai berikut:
1. Agar peranan seksual secara social dan etis dapat berlangsung
sebagaimana mestinya, sehingga seseorang dapat melakukan peranan
seksualnya sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat dan
kematangan mental sosialnya.
2. Yang terpenting dalam pendidikan seksual adalah menyadari persoalan-
persoalan seks yang terjadi dala hubungan insaniah pda umumnya dan
yang berhubungan dengan pembentukan aspek kehidupan lain dalamm
kehidupan keluarga.
3. Pendidikan seksual tidak cukup hanya dengan:
a. Memberi penerangan tentang pengalaman-pengalaman fisiologis
seperti onani dan masturbasi.
b. Gambaran dramatic tentang spermatozoa manusia.
c. Diskusi tentang ciri-ciri sekunder remaja (perubahan fisik)
d. Penjelasan tentang perasaan selama onani atau penjelasan tentang
keburukan hayalan erotik
e. Penjelasan tentang sopan santun dalam hubungan seks.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa :
1. Remaja melakukan onani sebagai penyelur hasrat birahinya
2. Penyebab remaja melakukan onani adalah buku-buku porno, vcd
porno dan hal-hal yang berbau pornografi.
3. Dan penyebab yang paling dominan adalah vcd porno.
4. Yang dirasakan ketika melakukan oanai adalah sebuah kenikmatan
dan kepuasan tersendiri yang tidak bias didapat selain dari onani.
B. Saran-saran
1. Kepada para siswa SMA agar sedapat mungkin menghindari segala
bentuk stimulus seksual yang tidak edukatif
2. Melihat pentingnya dan perlunya diberikan pendidikan seksual
pada remaja seyogyanya pendidikan seksual diberikan disekolah.
3. Kepada orang tua agar memberikan pendidikan seksual pada putra-
putrinya melalui pendekatan dalam keluarga.
4. Kepada pemerintah agar meningkatkan pengawasan terhadap
peredaran film-film porno pada khususnya dan segala bentuk
eksploitasi seksual yang sekiranya bisa menimbulkan minat untuk
melakukan atau menyalurkan dorongan seksual pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hadi, S. 1992. Metodelogi Research jilid dua. Yogyakarta: Andi Offsect
Kartono, K. 1992. Peranan keluarga Memandu Anak. Jakarta :
Rajawali Pers.
Kartono, K. 1998. Psikologi social 2. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Moleong, L. 2002. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Edisi ketiga
belas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Poerwandari, E. K. 1998. Pendekatan kualitatif dalam penelitian
psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana
Pengukuran dan Pendidikan Psikologi.
Rifai, S.S. 1987. Psikologi Perkembangan Remaja dari segi
Kehiduan Sosial. Jakarta : Bina Aksara.