BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses tumbuh kembang remaja adalah proses yang dinamis dan
menyeluruh, meliputi aspek fisik, aspek psikologis, aspek sosial dan aspek
seksual. Aspek-aspek tersebut merupakan suatu kesatuan yang saling
mempengaruhi, sehingga perubahan pada suatu aspek akan mempengaruhi aspek
yang lainnya.
Perubahan penting yang tampak jelas pada masa remaja adalah
perubahan pada aspek fisik. Dapat dikatakan perubahan-perubahan fisik
merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Sedangkan perubahan-
perubahan psikososial muncul antara lain sebagai dampak dari perubahan-
perubahan fisik yang dialami remaja (Sarwono, 2002, h.52).
Perubahan fisik yang terjadi meliputi pertumbuhan tubuh seperti tinggi
badan, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi yang ditandai dengan menarche
pada wanita dan mimpi basah pada remaja laki-laki serta munculnya tanda-tanda
seksual sekunder. Perubahan fisik ini menyebabkan terjadinya perubahan sikap,
minat, nilai dan perilaku pada remaja (Havigurst, 1980, h.207).
Masalah seksual merupakan masalah yang banyak menyita perhatian
remaja. Remaja begitu ingin tahu mengenai masalah seksual dan mulai mencari
informasi mengenai perubahan yang dialami dan hal-hal yang dirasakan. Remaja
juga mengembangkan sikap dan minat baru pada lawan jenis serta aktivitas
bersama yang melibatkan kedua jenis kelamin. Namun pemasakan seksual yang
1
2
terjadi tidak memunculkan alasan diperbolehkannya seorang remaja untuk
melakukan tingkah laku seksual secara bebas. Hal ini berkaitan dengan adanya
norma-norma agama dan norma-norma sosial yang hanya memperbolehkan
hubungan seksual dalam kerangka perkawinan (Monks, 1999, h.247). Oleh karena
itu pola perilaku yang merupakan realisasi dari sikap dan minat remaja terhadap
lawan jenis adalah berkencan (Havigurst, 1980, h.227).
Pacaran bagi remaja bukanlah hal yang asing lagi. Selain berfungsi
untuk mempertahankan status dalam kelompok sebaya, pacaran juga melibatkan
berbagai macam emosi positif yang dapat meningkatkan semangat remaja
sehingga pacaran menjadi suatu hal yang penting dan menjadi keharusan bagi
sebagian besar remaja (Kompas Cyber Media, 2001).
Hubungan intens yang terjadi dalam pacaran dan minimnya informasi
mengenai pacaran yang sehat, mengakibatkan unsur nafsu seksual menjadi
dominan selama masa berpacaran. Berdasarkan hasil Baseline Survey Lentera
Sahaja PKBI Yogyakarta menunjukkan bahwa jenis perilaku seksual yang terjadi
selama berpacaran biasanya melalui suatu tahapan dari timbulnya perasaan saling
tertarik, kencan, bercumbu dan akhirnya melakukan hubungan seksual pranikah.
Berdasarkan catatan konseling Sahaja pada tahun 1998/1999 diketahui
bahwa remaja melakukan hubungan seksual pertama kali dengan pacar sebanyak
71%, dengan teman biasa 3,5% dan dengan suami sebanyak 3,5%. Sedangkan
inisiatif hubungan seksual dilakukan oleh pasangan sebanyak 39,8%, dengan klien
sebanyak 9,7% dan keduanya 11,5%, dengan perincian 45% merupakan hubungan
3
yang tidak direncanakan dan hanya 20,4% merupakan hubungan yang
direncanakan.
Meningkatnya perilaku seks bebas pada remaja juga didukung oleh data
UNFPA yang menunjukkan bahwa setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia
15 sampai 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi dan hampir 100 juta
terinfeksi Penyakit Seksual Menular (PMS) yang dapat disembuhkan. Secara
global, 40% dari semua kasus infeksi HIV terjadi pada kaum muda yang berusia
15 sampai 24 tahun.
Mudahnya prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel,
cottage, vila; kemudahan dalam memperoleh alat kontrasepsi; lebih mudanya rata-
rata wanita mendapatkan haid (9 sampai 11 tahun); kemudahan untuk mengakses
informasi yang berbau pornografi; serta tertundanya usia perkawinan merupakan
faktor yang mempengaruhi remaja melakukan kegiatan seks bebas (Intisari, 2001).
Remaja ini kemudian mengatasnamakan cinta untuk melegalisasi perbuatan
tersebut (Kompas Cyber Media, 2001). Hal ini sesuai dengan pendapat Stenberg
yang menyatakan bahwa dalam pacaran, cinta mengambil bentuk romantic love.
Romantic love merupakan hubungan yang melibatkan gairah fisik maupun emosi
yang kuat tanpa adanya komitmen (Papalia dkk., 1998, h. ).
Komitmen akan muncul ketika dengan cinta, remaja dapat meningkatkan
hubungan dalam berpacaran dan menunjukkan baik secara verbal maupun non-
verbal keinginan untuk berkomitmen. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengabaikan cinta dari orang lain, rela berkorban demi hubungan yang terjalin
4
dan menunjukkan perilaku yang dapat mempererat hubungan tersebut
(Gonzaga,dkk., 2001, h.248).
Berdasarkan penelitian Gonzaga, dkk (2001) cinta merupakan emosi
dasar manusia. Emosi yang ada dalam cinta sangat beragam dan kompleks. Emosi
yang dialami atau dirasakan, akan sangat tergantung pada situasi dan bagaimana
seseorang mempersepsikan situasi tersebut (Atwater, 1983, h.80). Akan tetapi
ketika seorang individu merasakan suatu emosi yang kuat, individu tersebut dapat
sedemikian dipengaruhi oleh emosi yang ada sehingga pada umumnya kurang
dapat atau tidak dapat menguasai dirinya lagi. Tingkah laku yang munculpun
cenderung menyimpang dari norma yang berlaku dalam masyarakat (Walgito,
1997, h.145). Oleh karena itu diperlukan suatu kematangan emosi untuk dapat
mengontrol emosi yang dirasakan sehingga perilaku yang muncul dapat
disesuaikan dengan situasi sosial yang ada (Chaplin, 1968, h.160).
Kematangan emosi menurut Kartono dan Dali Gulo (2000, h.146)
merupakan suatu proses menjadi dewasa secara emosional dan tidak terombang-
ambing oleh motif kekanak-kanakan. Lebih jauh lagi Chaplin (1968, h.160)
menyatakan bahwa kematangan emosi merupakan suatu kondisi dimana seorang
individu tidak lagi menunjukkan pola-pola emosi anak-anak. Hal ini berhubungan
dengan kemampuan untuk mengontrol emosi. Eisenberg, dkk., (2002)
menemukan bahwa individu yang dapat mengatur emosi yang dirasakan relatif
dapat menunjukkan emosi sosial dan berperilaku sesuai dengan tuntutan sosial.
Menurut Havigurst (1980, h.213) pola emosi remaja memiliki kesamaan
dengan pola emosi pada masa kanak-kanak. Perbedaan kedua pola tersebut
5
terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat serta
pengendalian terhadap ungkapan emosi keika menghadapi suatu situasi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa dalam berpacaran
individu akan mengahdapi berbagai macam situasi yang dapat membangkitkan
berbagai macam emosi yang berbeda-beda. Dengan adanya cinta penilaian
terhadap situasi yang dihadapi akan menjadi semakin bersifat subjektif. Emosi-
emosi pun menjadi sangat dominan dalam masa berpacaran.
Emosi yang kuat tersebut dapat mengarahkan individu terutama remaja
dalam perilaku seksual bebas. Hal ini mungkin dapat dihindari bila remaja
memiliki suatu kematangan emosi. Kemampuan tersebut akan membantu individu
untuk lebih dapat mengontrol emosinya dan berperilaku sesuai dengan norma
yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui
hubungan antara kematangan emosi yang dimiliki oleh remaja dengan intensi
melakukan perilaku seksual bebas pada remaja yang berpacaran.
B. Rumusan Masalah
Rumusan permasalahan yang menjadi sebab dilakukannya penelitian ini
adalah apakah ada hubungan antara kematangan emosi dengan intensi perilaku
seksual bebas pada remaja yang berpacaran.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara
kematangan emosi dengan intensi perilaku seksual bebas pada remaja yang
berpacaran.
6
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil lewat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Memberikan informasi mengenai hubungan antara kematangan emosi dengan
intensi perilaku seksual bebas pada remaja yang berpacaran.
2. Manfaaat praktis
a. Bagi orang tua
Memberikan informasi mengenai pentingnya kematangan emosi untuk
mencegah terjadinya perilaku seksual bebas pada remaja.
b. Bagi remaja
Mengembangkan sikap dan perilaku yang dapat mengembangkan
kematangan emosi sehingga terhindar dari perilaku yang merugikan
remaja itu sendiri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Intensi Perilaku Seksual
1. Pengertian intensi perilaku seksual
Menurut Chaplin (1968, h.245), intensi merupakan suatu usaha atau
rencana untuk mencapai tujuan atau dapat dikatakan sebagai suatu bentuk
proses penyeleksian informasi secara mental yang melibatkan pengetahuan
atau informasi-informasi mengenai hal yang bersangkutan dengan objek
perilaku yang menjadi perhatiannya. Intensi dapat juga diartikan sebagai
kecenderungan subjektif seseorang untuk melakukan suatu tindakan
(Manstead, 1996, h.14).
Menurut Fishbein dan Ajzen, intensi merupakan komponen konatif
dari sikap (Syaifudin, 1995, h.8). Intensi seseorang untuk melakukan sesuatu
juga dipengaruhi oleh komponen afektif dari sikap. Semakin positif sikap
seseorang terhadap suatu objek maka intensi untuk memunculkan tindakan
semakin besar. Dengan demikian intensi berkaitan dengan perilaku dan sikap.
Intensi ini berfungsi untuk mengkonsitenkan antara sikap dan perilaku
seseorang terhadap suatu objek.
Intensi dipengaruhi oleh bagaimana sikap subjek terhadap suatu
perilaku dan oleh norma subjektif yang diyakini oleh individu yang
bersangkutan. Sikap subjek ini meliputi evaluasi mengenai objek perilaku,
apakah perilaku tersebut merupakan sesuatu yang baik untuk dilakukan atau
merupakan sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan. Norma subjektif
7
8
merupakan kepercayaan individu bahwa orang lain mengharapkan perilaku
tersebut untuk dilakukan atau tidak dilakukan oleh individu yang
bersangkutan. Norma subjektif juga merefleksikan kuat lemahnya tekanan
sosial yang diterima oleh individu untuk melakukan atau tidak melakukan
suatu perilaku (Manstead, 1996, h.14).
Fishbein dan Ajzen (75,h.288) mengemukakan bahwa intensi
merupakan prediktor terbaik terjadinya perilaku yang spesifik. Intensi juga
merupakan fungsi dari keyakinan seseorang yang sudah pasti yang pada
akhirnya memunculkan suatu perilaku. Jadi intensi adalah niat atau
kemungkinan subjektif seseorang untuk melakukan suatu tindakan yang
sifatnya khusus. Intensi ini lebih memprediksi terjadinya perilaku daripada
sikap.
Tingkah laku atau perilaku merupakan manifestasi kehidupan psikis.
Perilaku muncul sebagai respon individu terhadap stimulus yang
mengenainya. Lebih lanjut lagi Bandura menyatakan bahwa tingkah laku yang
muncul merupakan fungsi dari lingkungan dan individu yang bersangkutan
(Walgito, 1997, h.10,11). Sedangkan perilaku seksual menurut Sarwono
(2002, h.140) didefinisikan sebagai segala tingkah laku yang didorong oleh
hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Perilaku seksual
ini meliputi perasaan tertarik sampai pada tingkah laku berkencan, bercumbu
dan bersenggama.
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas mengenai definisi
intensi melakukan perilaku seksual adalah niat atau predisposisi atau
9
kemungkinan subjektif untuk melakukan segala tingkah laku yang didorong
oleh hasrat seksual dengan lawan jenis dan dalam penelitian ini perilaku
tersebut terjadi dalam konteks berpacaran.
2. Aspek-aspek intensi perilaku seksual
Menurut Fishbein dan Ajzen (Ilardo, 1981, h.82) intensi merupakan
predisposisi yang sifatnya khusus dan mengarah pada terwujudnya perilaku
dalam konteks yang tertentu pula. Intensi memiliki empat komponen, yaitu:
a. Behavior
Behavior merupakan perilaku spesifik yang nantinya akan diwujudkan.
b. Target objek
Target objek merupakan sasaran yang hendak dicapai dari perilaku yang
spesifik tersebut. Dibedakan atas particular object (orang atau objek
tertentu), a class of object (sekelompok orang atau objek tertentu) dan any
object (orang atau objek pada umumya).
c. Situation
Situation merupakan situasi dilakukannya perilaku, meliputi tempat dan
suasana.
d. Time
Time merupakan waktu munculnya suatu perilaku spesifik .
Menurut Fazio dan Ewolden (Baron dan Byrne, 1997, h.122-126)
aspek intensi meliputi:
a. Aspek situasi
10
Intensi tidak selalu terwujud dalam tingkah laku karena adanya situational
constrain, yaitu ketidakleluasaan situasional sebagai akibat berlakunya
norma yuang dianut oleh masyarakat.
b. Aspek waktu
Adanya pembatasan waktu menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk
memunculkan suatu perilaku.
c. Aspek kekhususan perilaku
Aspek kekhususan merupakan pemfokusan diri pada suatu sikap, nilai atau
kepercayaan yang akan diaktualisasikan menjadi perilaku yang
sesungguhnya.
d. Aspek individu
Intensi untuk melakukan sesuatu bersifat individual. Hal ini disebabkan
oleh perbedaan tinggi rendahnya self-monitoring dari masing-masing
individu untuk menganalisa dan mempertimbangkan perilaku yang akan
dilakukan dalam situasi tertentu.
Berdasarkan uraian di atas intensi meliputi aspek tingkah laku, objek
target, situasi, waktu, dan individu. Dengan demikian intensi perilaku seksual
adalah sebagai berikut:
a. Tingkah laku
Tingkah laku merupakan perilaku spesifik yang nantinya akan
diwujudkan. Perilaku spesifik dalam penelitian ini adalah perilaku seksual
bebas pada remaja berpacaran.
11
b. Target objek
Target objek merupakan sasaran yang ingin dicapai dari perilaku yang
akan dilakukan. Target objek ini meliputi particular object (objek atau
orang tertentu) yaitu perilaku seksual, a class of object (sekelompok orang
atau objek tertentu) yaitu remaja yang berpacaran dan any object (orang
atau objek pada umumnya).
c. Situasi
Situasi merupakan situasi dilakukannya perilaku, meliputi tempat dan
suasana.
d. Waktu
Waktu merupakan waktu munculnya perilaku spesifik yaitu perilaku
seksual bebas pada remaja berpacaran.
e. Aspek individu
Intensi untuk melakukan perilaku seksual bersifat individual. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan tinggi rendahnya self-monitoring dari masing-
masing remaja yang sedang berpacaran untuk menganalisa dan
mempertimbangkan perilaku yang akan dilakukan dalam situasi tertentu.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi intensi
Wiggins dkk. (1994, h.246-249) mengemukakan beberapa faktor
yang mempengaruhi intensi yaitu:
a. Past behavior
Tingkah laku yang pernah dilakukan di masa lalu akan semakin
meningkatkan intensi untuk melakukan tingkah laku tersebut.
12
b. Identitas diri
Tingkah laku yang sesuai dengan identitas diri akan meningkatkan intensi
untuk melakukan tingkah laku itu kembali.
c. Self efficacy dan perceived control
Ajzen dan Madden (Manstead., 1996, h.23) menjeaskan variabel lain yang
memperkuat hubungan antara intensi dan perilaku. Variabel tersebut
adalah perceived control. Individu memiliki tingkat yang berbeda dalam
mengontrol hal baik atau buruk yang terjadi. Perceived control yang
disadari individu. Kontrol perilaku ini ditentukan oleh pengalaman masa
lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit atau seberapa mudah
melakukan perilaku tertentu.
Mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen,
Baron dan Byrne (1997, h.126-127) menyatakan bahwa kuat lemahnya intensi
ditentukan oleh tiga hal, yaitu:
a. Sikap terhadap tingkah laku
b. Kepercayaan seseorang tentang cara orang lain mengevaluasi tingkah
lakunya.
Faktor ini dikenal sebagai norma subjektif. Jika individu yakin bahwa
orang lain setuju maka intensinya akan meningkat.
c. Perceived control.
Perceived control merupakan tingkat persepsi seseorang tentang sukar atau
mudahnya suatu perbuatan yang dilakukan.
13
Faktor-faktor yang mempengaruhi intensi tingkah laku yang telah
lalu berupa identitas diri, self-efficacy, sikap dan norma subjektif. Sehingga
faktor-faktor yang mempengaruhi intensi perilaku seksual meliputi:
a. Past behavior
Remaja yang pernah melakukan perilaku seksual dan merasakan
kenikmatannya cenderung akan meningkatkan intensi untuk melakukan
perilaku tersebut di masa yang akan datang.
b. Identitas diri
Jika perilaku seksual yang dilakukan sesuai dengan identitas diri yang
terbentuk, maka intensi untuk melakukan perilaku tersebut akan meningkat
pula.
c. Self efficacy dan perceived control
Perceived control berarti kontrol yang disadari oleh individu. Kontrol
perilaku ini ditentukan oleh pengalaman masa lalu dan perkiraan individu
mengenai seberapa sulit atau seberapa mudah perilaku seksual itu
dilakukan.
d. Sikap terhadap tingkah laku
Sikap yang positif terhadap perilaku seksual akanmeningkatkan intensi
untuk melakukan perilaku tersebut. Sebaliknya, sikap negatif akan
menurunkan intensi untuk melakukan perilaku tersebut.
e. Kepercayaan seseorang tentang cara orang lain mengevaluasi tingkah
lakunya
14
Faktor ini dikenal sebagai norma subjektif. Jika remaja yakin bahwa orang
lain setuju jika ia melakukan perilaku seksual maka intensinya akan
meningkat. Kelompok yang biasanya digunakan sebagai tolak ukur untuk
menilai suatu perilaku adalah kelompok sebaya.
B. Kematangan Emosi
1. Pengertian kematangan emosi
Emosi didefinisikan secara berbeda oleh para ahli menurut sudut
pandang teoritis yang berbeda. Akan tetapi secara umum keadaan emosional
merupakan suatu reaksi kompleks dan perubahan-perubahan secara mendalam
serta diikuti perasaan kuat atau keadaan afektif.
Walgito (1997, h. 145) mendefinisikan emosi sebagai suasana psikis
yang berupa perasaan senang, takut, gembira, benci, marah dan sebagainya.
Emosi merupakan suatu keadaan perasaan rindu yang telah melampaui batas
sehingga orang tersebut mungkin mengalami yang dalam m’adakan hubungan
dengan sekitarnya dan orang tidak memperhatikan keadaan sekitarnya.
Individu yang menjadi kurang mampu menguasai dirinya, jika ia sudah
demikian terpengaruh oleh emosinya.
Kematangan emosi berbeda dalam perkembangannya sehingga dapat
diketahui apakah individu sudah mampu mengendalikan emosi yang ada
dalam dirinya atau sebaliknya. Chaplin (1968, h.160) mendefinisikan
kematangan emosi sebagai kedewasaan psikologis yang merupakan
perkembangan sepenuhnya dari inteligensi, proses emosional dan peran.
15
Seseorang yang telah mencapai suatu kematangan emosi tidak lagi
menunjukkan pola emosi yang muncul pada masa kanak-kanak. Dalam proses
tersebut melibatkan suatu kemampuan untuk mengontrol emosi sehingga
sesuai dengan situasi sosial yang dihadapinya.
Mc. Kechnie (1995, h.18) menggambarkan kematangan emosi
sehingga suatu keadaan emosi seseorang yang mudah bergerak untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga apabila individu tersebut
mendapatkan rangsang emosi dari luar dirinya ataupun tekanan hidup baik
yang ringan maupun berat maka ia tidak akan mengalami ketegangan atau
gangguan emosi.
Menurut Budiarjo (1991, h.149), kematangan emosi sebagai suatu
kecenderungan untuk mengadakan tanggapan emosional yang matang sesuai
dengan usia seseorang dan lingkungan masyarakatnya. Tanggapan emosional
dikatakan matang apabila reaksi individu dalam menghadapi suatu rangsangan
dari luar dengan emosi yang tenang, mampu mengendalikan luapan emosi dan
mampu mengendalikan secara kritis situasi yang dihadapi.
Merchati (1983, h.8) mengungkapkan kematangan emosi sebagai
suatu kesanggupan untuk mengahadapi tantangan hidup yang ringan maupun
yang berat. Bila emosi individu matang maka dapat menunjukkan sikap positif
dalam menghadapi berbagai macam masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan uraian di ataas dapat disimpulkan bahwa kematangan
emosi merupakan suatu kecenderungan untuk mengadakan tanggapan
emosional yang matang serta melibatkan suatu kemampuan untuk mengontrol
16
emosi sehingga perilaku yang muncul sesuai dengan usia dan situasi sosial
yang dihadapinya.
2. Ciri – ciri kematangan emosi
Menurut Anderson (1975, h.26), seseorang yang matang secara
emosional memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Berorientasi pada tugas bukan pada diri atau ego
Minat individu yang matang emosinya akan berorientasi pada tugas-tugas
yang dikerjakannya dan tidak condong pada perasaan untuk diri sendiri
atau untuk kepentingan pribadinya.
b. Tujuan yang jelas dan kebiasaan untuk kerja yang efisien
Individu yang matang emosinya selalu melihat pada tujuan yang hendak
dicapai secara jelas dan tujuan tersebut dapat didefinisikan secara cermat
untuk membimbingnya menuju tujuan yang hendak dicapai.
c. Mengendalikan perasaan pribadi
Individu yang matang emosinya dapat mengendalikan perasaannya sendiri
dan tidak dapat dikuasai oleh perasaan untuk dalam mengerjakan sesuatu
atau berhadapan dengan orang lain individu tersebut juga tidak akan
mementingkan dirinya sendiri tapi juga mempertimbangkan perasaan
orang lain.
d. Keobjektifan
Individu yang matang emosinya memiliki kemauan berusaha mancapai
keputusan dalam keadaan yang sesuai dengan kenyataan.
17
e. Menerima kritik dan saran
Individu yang matang emosinya, memiliki kemauan yang realistis, paham
bahwa dirinya tidak selalu benar sehingga terbuka terhadap kritik-kritik
dan saran orang lain demi pengembangan dirinya.
f. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi
Kematangan emosi dapat membuat individu bersedia memberikan
kesempatan pada orang lain yang membantu usahanya untuk mencapai
tujuan.
g. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi baru
Individu yang matang emosinya memiliki ciri-ciri fleksibel dan dapat
menempatkan diri seirama dengan kenyataanyang dihadapinya terutama
dalam menghyadapi situasi yang baru.
Menurut Havigurst (1980,h.167), individu yang memiliki
kematangan emosi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mampu mengekspresikan perasaan dan emosinya dalam bentuk yang
dapat diterima masyarakat atau sesuai dengan norma sosial yang ada.
b. Memiliki pemahaman yang mendalam mengenai keadaaan dirinya.
Pemahaman ini mencakup pemahaman akan kekurangan dan kelebihan
diri sendiri.
c. Menunjukkan adanya kemampuan bahwa individu tersebut mampu
melakukan analisis yang kritis terhadap situasi yang ada sebelum ia
mengekspresikan emosinya. Dengan kata lain individu tersebut mampu
menilai situasi yang ada dan baru mengekspresikan emosinya atau secara
18
tidak langsung mengekspresikan emosinya ketika menghadapi suatu
keadaan.
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas mengenai cirri-
ciri orang yang matang adalah sebagai berikut:
Berorientasi pada tugas bukan pada diri atau ego
a. Minat individu yang matang emosinya akan berorientasi pada tugas-tugas
yang dikerjakannya dan tidak condong pada perasaan untuk diri sendiri
atau untuk kepentingan pribadinya.
b. Tujuan yang jelas dan kebiasaan untuk kerja yang efisien
Individu yang matang emosinya selalu melihat pada tujuan yang hendak
dicapai secara jelas dan tujuan tersebut dapat didefinisikan secara cermat
untuk membimbingnya menuju tujuan yang hendak dicapai.
c. Mengendalikan perasaan pribadi
Individu yang matang emosinya dapat mengendalikan perasaannya sendiri
dan tidak dapat dikuasai oleh perasaan untuk dalam mengerjakan sesuatu
atau berhadapan dengan orang lain individu tersebut juga tidak akan
mementingkan dirinya sendiri tapi juga mempertimbangkan perasaan
orang lain.
d. Keobjektifan
Individu yang matang emosinya memiliki kemauan berusaha mancapai
keputusan dalam keadaan yang sesuai dengan kenyataan.
e. Menerima kritik dan saran
19
Individu yang matang emosinya, memiliki kemauan yang realistis, paham
bahwa dirinya tidak selalu benar sehingga terbuka terhadap kritik-kritik
dan saran orang lain demi pengembangan dirinya.
f. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi
Kematangan emosi dapat membuat individu bersedia memberikan
kesempatan pada orang lain yang membantu usahanya untuk mencapai
tujuan.
g. Menunjukkan adanya kemampuan bahwa individu tersebut mampu
melakukan analisis yang kritis terhadap situasi yang ada sebelum ia
mengekspresikan emosinya. Dengan kata lain individu tersebut mampu
menilai situasi yang ada dan baru mengekspresikan emosinya atau secara
tidak langsung mengekspresikan emosinya ketika menghadapi suatu
keadaan.
h. Memiliki pemahaman yang mendalam mengenai keadaaan dirinya.
Pemahaman ini mencakup pemahaman akan kekurangan dan kelebihan
diri sendiri.
i. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi baru
Individu yang matang emosinya memiliki ciri-ciri fleksibel dan dapat
menempatkan diri seirama dengan kenyataan yang dihadapinya terutama
dalam menghadapi situasi yang baru.
20
BAB III
PEMBAHASAN
A. Hubungan antara Kematangan Emosi dengan Intensi Perilaku
Seksual pada Remaja yang Berpacaran
Masa remaja ditandai dengan perubahan fisik dan seksual yang cukup
dominan dan jelas terlihat jika dibandingkan dengan tahap perkembangan
sebelumnya. Perubahan fisik ini mempengaruhi sikap, minat, nilai dan perilaku
remaja. Remaja menjadi lebih tertarik pada masalah seksual dan kegiatan-kegiatan
yang melibatkan aktivitas bersama antara laki-laki dan wanita (Havigurst, 1980,
h.207). Salah satu bentuk aktivitas bersama ini terlihat dari perilaku berpacaran.
Emosi dominan yang terlibat dalam perilaku berpacaran adalah cinta.
Menurut Stenberg dalam pacaran, jenis cinta yang terjadi adalah romantic love.
Romantic love merupakan hubungan yang melibatkan gairah fisik maupun emosi
yang kuat tanpa adanya komitmen (Papalia dkk., 1998, h. ).
Emosi terutama cinta kasih merupakan sesuatu yang penting dalam
kehidupan manusia. Akan tetapi ketika seorang individu merasakan suatu emosi
yang kuat, individu tersebut dapat demikian dipengaruhi sehingga pada umumnya
kurang dapat atau tidak dapat menguasai dirinya lagi. Tingkah laku yang muncul
pun cenderung menyimpang dari norma yang berlaku dalam masyarakat (Walgito,
1997, h.145).
Emosi yang kuat yang dirasakan remaja terkadang begitu dominan
sehingga remaja tidak mampu lagi mengontrol gairah fisik yang timbul dalam
hubungan tersebut. Perilaku yang muncul dalam berpacaran mengarah pada
21
perilaku seksual dari yang bertaraf ringan seperti berpegangan tangan hingga
perilaku seksual berat seperti petting ataupun persetubuhan. Perilaku seksual
bebas memberikan dampak yang membahayakan jiwa remaja itu sendiri seperti
tertular penyakit menular seksual (PMS), terjangkit HIV hingga kematian akibat
aborsi yang dilakukan.
Kematangan emosi merupakan suatu kecenderungan atau kemampuan
untuk mengadakan tanggapan emosional yang matang serta melibatkan suatu
kemampuan untuk mengontrol emosi sehingga perilaku yang muncul sesuai
dengan usia dan situasi sosial yang dihadapinya. Kematangan emosi dapat
membantu remaja untuk mengontrol emosi yang dirasakan sehingga remaja tidak
bertindak ceroboh tanpa perhitungan yang akan merugikan diri sendiri dan
bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah ada hubungan
antara kematangan emosi dengan intensi perilaku seksual pada remaja yang
berpacaran. Hubungan tersebut beupa korelasi negatif antara kematangan emosi
dengan intensi perilaku seksual bebas. Jadi semakin tinggi kematangan emosi
seorang remaja maka intensi perilaku seksual bebas remaja yang berpacaran
semakin rendah.
22
B. Kesimpulan
Emosi merupakan hal yang dapat dialami oleh setiap orang. Apalagi bagi
remaja yang sedang berpacaran. Perasaan senang, sedih dan cinta menjadi emosi
yang dominant dalam diri remaja. Banyak pula peristiwa atau kejadian yang dapat
mempengaruhi emosi remaja dalam berpacarn. Terkadang emosi yang dirasakan
menjadi sangat tidak terkontrol. Akibatnya banyak remaja yang mengatasnamakan
cinta untuk melegalisasi perilaku seksual bebas yang dilakukan. Oleh karena itu
perlu adanya suatu kematangan emosi yang dirasakan agar hal tersebut tidak
merugikan diri remaja sendiri.
C. Saran
Perkembangan individu dimulai sejak anak berada dalam kandungan.
Begitu juga perkembangan emosi. Dengan pola asuh yang baik dan lingkungan
yang kondusif diharapkan dapat membantu remaja mengembangkan emosi yang
matang.
DAFTAR PUSTAKA
Atwater, Eastwood. 1983. Psychology of Adjustment, second edition, Personal
Growth in a Changing World. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Baron, R.A & Byrne, D. 1991. Social Psychilogy, A Sociology Approach. New
York: The Free Press
Chaplin, J.P. 1968. Dictionary of Psychology. New York: Dell Publishing Co.,
Inc.
Eisenberg, N., et. al. 2000. Dispositional Emotionality and Regulation: Their Role
in Predicting Quality of Social Functioning. Journal of Personality and
Social Psychology. Vol. 78. No. 1. 136-157
Gonzaga, C.G., et. al. 2001. Love and The Commitment Problem in Romantic
relations and Friendship. Journal of Personality and Social Psychology.
Vol. 8. No. 2. 247-262
Hurlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan.jakarta: Penerbit Erlangga
Kartono, Kartini & dali Gulo. 2000. Kamus Psikologi. Bandung: CV. Pionir Jaya
Manstead, A.S.R. 1996. Attitude and Behavior sebuah artikel dalam Applied
Social Psychology. California: Sage Publication
Monk & Knoers.1999. Psikologi Perkembangan, Pengantar Dalam Berbagai
Bagiannya. Yogyakarta: gajah mada University Press
Sarwono, S.W. 2002. Psikologi Remaja,edisi revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Walgito, Bimo. 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Percetakan Andi
Offset
Yudana, I.G.A dan Nanny Selomiharjo. (2001, Mei) Remaja dan Hubungan
Seksual Pranikah: Kumpulan Artikel Psikologi 1. Intisari, 2001, 138-145
23