Docstoc

Seks bebas

Document Sample
Seks bebas Powered By Docstoc
					                                      BAB I

                                PENDAHULUAN

                               A. Latar Belakang

           Proses tumbuh kembang remaja adalah proses yang dinamis dan

menyeluruh, meliputi aspek fisik, aspek psikologis, aspek sosial dan aspek

seksual.    Aspek-aspek   tersebut   merupakan    suatu   kesatuan   yang   saling

mempengaruhi, sehingga perubahan pada suatu aspek akan mempengaruhi aspek

yang lainnya.

           Perubahan penting yang tampak jelas pada masa remaja adalah

perubahan pada aspek fisik. Dapat dikatakan perubahan-perubahan fisik

merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Sedangkan perubahan-

perubahan psikososial muncul antara lain sebagai dampak dari perubahan-

perubahan fisik yang dialami remaja (Sarwono, 2002, h.52).

           Perubahan fisik yang terjadi meliputi pertumbuhan tubuh seperti tinggi

badan, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi yang ditandai dengan menarche

pada wanita dan mimpi basah pada remaja laki-laki serta munculnya tanda-tanda

seksual sekunder. Perubahan fisik ini menyebabkan terjadinya perubahan sikap,

minat, nilai dan perilaku pada remaja (Havigurst, 1980, h.207).

           Masalah seksual merupakan masalah yang banyak menyita perhatian

remaja. Remaja begitu ingin tahu mengenai masalah seksual dan mulai mencari

informasi mengenai perubahan yang dialami dan hal-hal yang dirasakan. Remaja

juga mengembangkan sikap dan minat baru pada lawan jenis serta aktivitas

bersama yang melibatkan kedua jenis kelamin. Namun pemasakan seksual yang




                                        1
                                                                               2




terjadi tidak memunculkan alasan diperbolehkannya seorang remaja untuk

melakukan tingkah laku seksual secara bebas. Hal ini berkaitan dengan adanya

norma-norma agama dan norma-norma sosial yang hanya memperbolehkan

hubungan seksual dalam kerangka perkawinan (Monks, 1999, h.247). Oleh karena

itu pola perilaku yang merupakan realisasi dari sikap dan minat remaja terhadap

lawan jenis adalah berkencan (Havigurst, 1980, h.227).

         Pacaran bagi remaja bukanlah hal yang asing lagi. Selain berfungsi

untuk mempertahankan status dalam kelompok sebaya, pacaran juga melibatkan

berbagai macam emosi positif yang dapat meningkatkan semangat remaja

sehingga pacaran menjadi suatu hal yang penting dan menjadi keharusan bagi

sebagian besar remaja (Kompas Cyber Media, 2001).

         Hubungan intens yang terjadi dalam pacaran dan minimnya informasi

mengenai pacaran yang sehat, mengakibatkan unsur nafsu seksual menjadi

dominan selama masa berpacaran. Berdasarkan hasil Baseline Survey Lentera

Sahaja PKBI Yogyakarta menunjukkan bahwa jenis perilaku seksual yang terjadi

selama berpacaran biasanya melalui suatu tahapan dari timbulnya perasaan saling

tertarik, kencan, bercumbu dan akhirnya melakukan hubungan seksual pranikah.

         Berdasarkan catatan konseling Sahaja pada tahun 1998/1999 diketahui

bahwa remaja melakukan hubungan seksual pertama kali dengan pacar sebanyak

71%, dengan teman biasa 3,5% dan dengan suami sebanyak 3,5%. Sedangkan

inisiatif hubungan seksual dilakukan oleh pasangan sebanyak 39,8%, dengan klien

sebanyak 9,7% dan keduanya 11,5%, dengan perincian 45% merupakan hubungan
                                                                             3




yang tidak direncanakan dan hanya 20,4% merupakan hubungan yang

direncanakan.

         Meningkatnya perilaku seks bebas pada remaja juga didukung oleh data

UNFPA yang menunjukkan bahwa setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia

15 sampai 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi dan hampir 100 juta

terinfeksi Penyakit Seksual Menular (PMS) yang dapat disembuhkan. Secara

global, 40% dari semua kasus infeksi HIV terjadi pada kaum muda yang berusia

15 sampai 24 tahun.

         Mudahnya prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel,

cottage, vila; kemudahan dalam memperoleh alat kontrasepsi; lebih mudanya rata-

rata wanita mendapatkan haid (9 sampai 11 tahun); kemudahan untuk mengakses

informasi yang berbau pornografi; serta tertundanya usia perkawinan merupakan

faktor yang mempengaruhi remaja melakukan kegiatan seks bebas (Intisari, 2001).

Remaja ini kemudian mengatasnamakan cinta untuk melegalisasi perbuatan

tersebut (Kompas Cyber Media, 2001). Hal ini sesuai dengan pendapat Stenberg

yang menyatakan bahwa dalam pacaran, cinta mengambil bentuk romantic love.

Romantic love merupakan hubungan yang melibatkan gairah fisik maupun emosi

yang kuat tanpa adanya komitmen (Papalia dkk., 1998, h. ).

         Komitmen akan muncul ketika dengan cinta, remaja dapat meningkatkan

hubungan dalam berpacaran dan menunjukkan baik secara verbal maupun non-

verbal keinginan untuk berkomitmen. Hal ini dapat dilakukan dengan

mengabaikan cinta dari orang lain, rela berkorban demi hubungan yang terjalin
                                                                                4




dan menunjukkan perilaku yang dapat mempererat hubungan tersebut

(Gonzaga,dkk., 2001, h.248).

         Berdasarkan penelitian Gonzaga, dkk (2001) cinta merupakan emosi

dasar manusia. Emosi yang ada dalam cinta sangat beragam dan kompleks. Emosi

yang dialami atau dirasakan, akan sangat tergantung pada situasi dan bagaimana

seseorang mempersepsikan situasi tersebut (Atwater, 1983, h.80). Akan tetapi

ketika seorang individu merasakan suatu emosi yang kuat, individu tersebut dapat

sedemikian dipengaruhi oleh emosi yang ada sehingga pada umumnya kurang

dapat atau tidak dapat menguasai dirinya lagi. Tingkah laku yang munculpun

cenderung menyimpang dari norma yang berlaku dalam masyarakat (Walgito,

1997, h.145). Oleh karena itu diperlukan suatu kematangan emosi untuk dapat

mengontrol emosi yang dirasakan sehingga perilaku yang muncul dapat

disesuaikan dengan situasi sosial yang ada (Chaplin, 1968, h.160).

         Kematangan emosi menurut Kartono dan Dali Gulo (2000, h.146)

merupakan suatu proses menjadi dewasa secara emosional dan tidak terombang-

ambing oleh motif kekanak-kanakan. Lebih jauh lagi Chaplin (1968, h.160)

menyatakan bahwa kematangan emosi merupakan suatu kondisi dimana seorang

individu tidak lagi menunjukkan pola-pola emosi anak-anak. Hal ini berhubungan

dengan kemampuan untuk mengontrol emosi. Eisenberg, dkk., (2002)

menemukan bahwa individu yang dapat mengatur emosi yang dirasakan relatif

dapat menunjukkan emosi sosial dan berperilaku sesuai dengan tuntutan sosial.

         Menurut Havigurst (1980, h.213) pola emosi remaja memiliki kesamaan

dengan pola emosi pada masa kanak-kanak. Perbedaan kedua pola tersebut
                                                                            5




terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat serta

pengendalian terhadap ungkapan emosi keika menghadapi suatu situasi.

        Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa dalam berpacaran

individu akan mengahdapi berbagai macam situasi yang dapat membangkitkan

berbagai macam emosi yang berbeda-beda. Dengan adanya cinta penilaian

terhadap situasi yang dihadapi akan menjadi semakin bersifat subjektif. Emosi-

emosi pun menjadi sangat dominan dalam masa berpacaran.

        Emosi yang kuat tersebut dapat mengarahkan individu terutama remaja

dalam perilaku seksual bebas. Hal ini mungkin dapat dihindari bila remaja

memiliki suatu kematangan emosi. Kemampuan tersebut akan membantu individu

untuk lebih dapat mengontrol emosinya dan berperilaku sesuai dengan norma

yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui

hubungan antara kematangan emosi yang dimiliki oleh remaja dengan intensi

melakukan perilaku seksual bebas pada remaja yang berpacaran.

                            B. Rumusan Masalah

        Rumusan permasalahan yang menjadi sebab dilakukannya penelitian ini

adalah apakah ada hubungan antara kematangan emosi dengan intensi perilaku

seksual bebas pada remaja yang berpacaran.

                            C. Tujuan Penelitian

        Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara

kematangan emosi dengan intensi perilaku seksual bebas pada remaja yang

berpacaran.
                                                                                   6




                               D. Manfaat Penelitian

         Manfaat yang dapat diambil lewat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

   Memberikan informasi mengenai hubungan antara kematangan emosi dengan

   intensi perilaku seksual bebas pada remaja yang berpacaran.

2. Manfaaat praktis

     a. Bagi orang tua

         Memberikan informasi mengenai pentingnya kematangan emosi untuk

         mencegah terjadinya perilaku seksual bebas pada remaja.

     b. Bagi remaja

         Mengembangkan sikap dan perilaku yang dapat mengembangkan

         kematangan emosi sehingga terhindar dari perilaku yang merugikan

         remaja itu sendiri.
                                     BAB II

                             TINJAUAN PUSTAKA

                             A. Intensi Perilaku Seksual

1. Pengertian intensi perilaku seksual

            Menurut Chaplin (1968, h.245), intensi merupakan suatu usaha atau

   rencana untuk mencapai tujuan atau dapat dikatakan sebagai suatu bentuk

   proses penyeleksian informasi secara mental yang melibatkan pengetahuan

   atau informasi-informasi mengenai hal yang bersangkutan dengan objek

   perilaku yang menjadi perhatiannya. Intensi dapat juga diartikan sebagai

   kecenderungan subjektif seseorang untuk melakukan suatu tindakan

   (Manstead, 1996, h.14).

            Menurut Fishbein dan Ajzen, intensi merupakan komponen konatif

   dari sikap (Syaifudin, 1995, h.8). Intensi seseorang untuk melakukan sesuatu

   juga dipengaruhi oleh komponen afektif dari sikap. Semakin positif sikap

   seseorang terhadap suatu objek maka intensi untuk memunculkan tindakan

   semakin besar. Dengan demikian intensi berkaitan dengan perilaku dan sikap.

   Intensi ini berfungsi untuk mengkonsitenkan antara sikap dan perilaku

   seseorang terhadap suatu objek.

            Intensi dipengaruhi oleh bagaimana sikap subjek terhadap suatu

   perilaku dan oleh norma subjektif yang diyakini oleh individu yang

   bersangkutan. Sikap subjek ini meliputi evaluasi mengenai objek perilaku,

   apakah perilaku tersebut merupakan sesuatu yang baik untuk dilakukan atau

   merupakan sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan. Norma subjektif




                                        7
                                                                            8




merupakan kepercayaan individu bahwa orang lain mengharapkan perilaku

tersebut untuk dilakukan atau tidak dilakukan oleh individu yang

bersangkutan. Norma subjektif juga merefleksikan kuat lemahnya tekanan

sosial yang diterima oleh individu untuk melakukan atau tidak melakukan

suatu perilaku (Manstead, 1996, h.14).

           Fishbein dan Ajzen (75,h.288) mengemukakan bahwa intensi

merupakan prediktor terbaik terjadinya perilaku yang spesifik. Intensi juga

merupakan fungsi dari keyakinan seseorang yang sudah pasti yang pada

akhirnya memunculkan suatu perilaku. Jadi intensi adalah niat atau

kemungkinan subjektif seseorang untuk melakukan suatu tindakan yang

sifatnya khusus. Intensi ini lebih memprediksi terjadinya perilaku daripada

sikap.

           Tingkah laku atau perilaku merupakan manifestasi kehidupan psikis.

Perilaku    muncul    sebagai   respon   individu   terhadap   stimulus   yang

mengenainya. Lebih lanjut lagi Bandura menyatakan bahwa tingkah laku yang

muncul merupakan fungsi dari lingkungan dan individu yang bersangkutan

(Walgito, 1997, h.10,11). Sedangkan perilaku seksual menurut Sarwono

(2002, h.140) didefinisikan sebagai segala tingkah laku yang didorong oleh

hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Perilaku seksual

ini meliputi perasaan tertarik sampai pada tingkah laku berkencan, bercumbu

dan bersenggama.

           Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas mengenai definisi

intensi melakukan perilaku seksual adalah niat atau predisposisi atau
                                                                               9




   kemungkinan subjektif untuk melakukan segala tingkah laku yang didorong

   oleh hasrat seksual dengan lawan jenis dan dalam penelitian ini perilaku

   tersebut terjadi dalam konteks berpacaran.

2. Aspek-aspek intensi perilaku seksual

             Menurut Fishbein dan Ajzen (Ilardo, 1981, h.82) intensi merupakan

   predisposisi yang sifatnya khusus dan mengarah pada terwujudnya perilaku

   dalam konteks yang tertentu pula. Intensi memiliki empat komponen, yaitu:

   a. Behavior

      Behavior merupakan perilaku spesifik yang nantinya akan diwujudkan.

   b. Target objek

      Target objek merupakan sasaran yang hendak dicapai dari perilaku yang

      spesifik tersebut. Dibedakan atas particular object (orang atau objek

      tertentu), a class of object (sekelompok orang atau objek tertentu) dan any

      object (orang atau objek pada umumya).

   c. Situation

      Situation merupakan situasi dilakukannya perilaku, meliputi tempat dan

      suasana.

   d. Time

      Time merupakan waktu munculnya suatu perilaku spesifik .

             Menurut Fazio dan Ewolden (Baron dan Byrne, 1997, h.122-126)

   aspek intensi meliputi:

   a. Aspek situasi
                                                                           10




   Intensi tidak selalu terwujud dalam tingkah laku karena adanya situational

   constrain, yaitu ketidakleluasaan situasional sebagai akibat berlakunya

   norma yuang dianut oleh masyarakat.

b. Aspek waktu

   Adanya pembatasan waktu menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk

   memunculkan suatu perilaku.

c. Aspek kekhususan perilaku

   Aspek kekhususan merupakan pemfokusan diri pada suatu sikap, nilai atau

   kepercayaan     yang   akan   diaktualisasikan   menjadi   perilaku   yang

   sesungguhnya.

d. Aspek individu

   Intensi untuk melakukan sesuatu bersifat individual. Hal ini disebabkan

   oleh perbedaan tinggi rendahnya self-monitoring dari masing-masing

   individu untuk menganalisa dan mempertimbangkan perilaku yang akan

   dilakukan dalam situasi tertentu.

         Berdasarkan uraian di atas intensi meliputi aspek tingkah laku, objek

target, situasi, waktu, dan individu. Dengan demikian intensi perilaku seksual

adalah sebagai berikut:

a. Tingkah laku

   Tingkah laku merupakan perilaku spesifik            yang nantinya akan

   diwujudkan. Perilaku spesifik dalam penelitian ini adalah perilaku seksual

   bebas pada remaja berpacaran.
                                                                              11




   b. Target objek

      Target objek merupakan sasaran yang ingin dicapai dari perilaku yang

      akan dilakukan. Target objek ini meliputi particular object (objek atau

      orang tertentu) yaitu perilaku seksual, a class of object (sekelompok orang

      atau objek tertentu) yaitu remaja yang berpacaran dan any object (orang

      atau objek pada umumnya).

   c. Situasi

      Situasi merupakan situasi dilakukannya perilaku, meliputi tempat dan

      suasana.

   d. Waktu

      Waktu merupakan waktu munculnya perilaku spesifik yaitu perilaku

      seksual bebas pada remaja berpacaran.

   e. Aspek individu

      Intensi untuk melakukan perilaku seksual bersifat individual. Hal ini

      disebabkan oleh perbedaan tinggi rendahnya self-monitoring dari masing-

      masing remaja yang sedang berpacaran untuk menganalisa dan

      mempertimbangkan perilaku yang akan dilakukan dalam situasi tertentu.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi intensi

           Wiggins dkk. (1994, h.246-249) mengemukakan beberapa faktor

   yang mempengaruhi intensi yaitu:

   a. Past behavior

      Tingkah laku yang pernah dilakukan di masa lalu akan semakin

      meningkatkan intensi untuk melakukan tingkah laku tersebut.
                                                                         12




b. Identitas diri

   Tingkah laku yang sesuai dengan identitas diri akan meningkatkan intensi

   untuk melakukan tingkah laku itu kembali.

c. Self efficacy dan perceived control

   Ajzen dan Madden (Manstead., 1996, h.23) menjeaskan variabel lain yang

   memperkuat hubungan antara intensi dan perilaku. Variabel tersebut

   adalah perceived control. Individu memiliki tingkat yang berbeda dalam

   mengontrol hal baik atau buruk yang terjadi. Perceived control yang

   disadari individu. Kontrol perilaku ini ditentukan oleh pengalaman masa

   lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit atau seberapa mudah

   melakukan perilaku tertentu.

         Mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen,

Baron dan Byrne (1997, h.126-127) menyatakan bahwa kuat lemahnya intensi

ditentukan oleh tiga hal, yaitu:

a. Sikap terhadap tingkah laku

b. Kepercayaan seseorang tentang cara orang lain mengevaluasi tingkah

   lakunya.

   Faktor ini dikenal sebagai norma subjektif. Jika individu yakin bahwa

   orang lain setuju maka intensinya akan meningkat.

c. Perceived control.

   Perceived control merupakan tingkat persepsi seseorang tentang sukar atau

   mudahnya suatu perbuatan yang dilakukan.
                                                                           13




           Faktor-faktor yang mempengaruhi intensi tingkah laku yang telah

lalu berupa identitas diri, self-efficacy, sikap dan norma subjektif. Sehingga

faktor-faktor yang mempengaruhi intensi perilaku seksual meliputi:

a. Past behavior

   Remaja yang pernah melakukan perilaku seksual dan merasakan

   kenikmatannya cenderung akan meningkatkan intensi untuk melakukan

   perilaku tersebut di masa yang akan datang.

b. Identitas diri

   Jika perilaku seksual yang dilakukan sesuai dengan identitas diri yang

   terbentuk, maka intensi untuk melakukan perilaku tersebut akan meningkat

   pula.

c. Self efficacy dan perceived control

   Perceived control berarti kontrol yang disadari oleh individu. Kontrol

   perilaku ini ditentukan oleh pengalaman masa lalu dan perkiraan individu

   mengenai seberapa sulit atau seberapa mudah perilaku seksual itu

   dilakukan.

d. Sikap terhadap tingkah laku

   Sikap yang positif terhadap perilaku seksual akanmeningkatkan intensi

   untuk melakukan perilaku tersebut. Sebaliknya, sikap negatif akan

   menurunkan intensi untuk melakukan perilaku tersebut.

e. Kepercayaan seseorang tentang cara orang lain mengevaluasi tingkah

   lakunya
                                                                                14




      Faktor ini dikenal sebagai norma subjektif. Jika remaja yakin bahwa orang

      lain setuju jika ia melakukan perilaku seksual maka intensinya akan

      meningkat. Kelompok yang biasanya digunakan sebagai tolak ukur untuk

      menilai suatu perilaku adalah kelompok sebaya.



                              B. Kematangan Emosi

1. Pengertian kematangan emosi

            Emosi didefinisikan secara berbeda oleh para ahli menurut sudut

   pandang teoritis yang berbeda. Akan tetapi secara umum keadaan emosional

   merupakan suatu reaksi kompleks dan perubahan-perubahan secara mendalam

   serta diikuti perasaan kuat atau keadaan afektif.

            Walgito (1997, h. 145) mendefinisikan emosi sebagai suasana psikis

   yang berupa perasaan senang, takut, gembira, benci, marah dan sebagainya.

   Emosi merupakan suatu keadaan perasaan rindu yang telah melampaui batas

   sehingga orang tersebut mungkin mengalami yang dalam m’adakan hubungan

   dengan sekitarnya dan orang tidak memperhatikan keadaan sekitarnya.

   Individu yang menjadi kurang mampu menguasai dirinya, jika ia sudah

   demikian terpengaruh oleh emosinya.

            Kematangan emosi berbeda dalam perkembangannya sehingga dapat

   diketahui apakah individu sudah mampu mengendalikan emosi yang ada

   dalam dirinya atau sebaliknya. Chaplin (1968, h.160) mendefinisikan

   kematangan     emosi   sebagai    kedewasaan        psikologis   yang merupakan

   perkembangan sepenuhnya dari inteligensi, proses emosional dan peran.
                                                                        15




Seseorang yang telah mencapai suatu kematangan emosi tidak lagi

menunjukkan pola emosi yang muncul pada masa kanak-kanak. Dalam proses

tersebut melibatkan suatu kemampuan untuk mengontrol emosi sehingga

sesuai dengan situasi sosial yang dihadapinya.

         Mc. Kechnie (1995, h.18) menggambarkan kematangan emosi

sehingga suatu keadaan emosi seseorang yang mudah bergerak untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga apabila individu tersebut

mendapatkan rangsang emosi dari luar dirinya ataupun tekanan hidup baik

yang ringan maupun berat maka ia tidak akan mengalami ketegangan atau

gangguan emosi.

         Menurut Budiarjo (1991, h.149), kematangan emosi sebagai suatu

kecenderungan untuk mengadakan tanggapan emosional yang matang sesuai

dengan usia seseorang dan lingkungan masyarakatnya. Tanggapan emosional

dikatakan matang apabila reaksi individu dalam menghadapi suatu rangsangan

dari luar dengan emosi yang tenang, mampu mengendalikan luapan emosi dan

mampu mengendalikan secara kritis situasi yang dihadapi.

         Merchati (1983, h.8) mengungkapkan kematangan emosi sebagai

suatu kesanggupan untuk mengahadapi tantangan hidup yang ringan maupun

yang berat. Bila emosi individu matang maka dapat menunjukkan sikap positif

dalam menghadapi berbagai macam masalah dalam kehidupan sehari-hari.

         Berdasarkan uraian di ataas dapat disimpulkan bahwa kematangan

emosi merupakan suatu kecenderungan untuk mengadakan tanggapan

emosional yang matang serta melibatkan suatu kemampuan untuk mengontrol
                                                                             16




   emosi sehingga perilaku yang muncul sesuai dengan usia dan situasi sosial

   yang dihadapinya.

2. Ciri – ciri kematangan emosi

            Menurut Anderson (1975, h.26), seseorang yang matang secara

   emosional memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

   a. Berorientasi pada tugas bukan pada diri atau ego

      Minat individu yang matang emosinya akan berorientasi pada tugas-tugas

      yang dikerjakannya dan tidak condong pada perasaan untuk diri sendiri

      atau untuk kepentingan pribadinya.

   b. Tujuan yang jelas dan kebiasaan untuk kerja yang efisien

      Individu yang matang emosinya selalu melihat pada tujuan yang hendak

      dicapai secara jelas dan tujuan tersebut dapat didefinisikan secara cermat

      untuk membimbingnya menuju tujuan yang hendak dicapai.

   c. Mengendalikan perasaan pribadi

      Individu yang matang emosinya dapat mengendalikan perasaannya sendiri

      dan tidak dapat dikuasai oleh perasaan untuk dalam mengerjakan sesuatu

      atau berhadapan dengan orang lain individu tersebut juga tidak akan

      mementingkan dirinya sendiri tapi juga mempertimbangkan perasaan

      orang lain.

   d. Keobjektifan

      Individu yang matang emosinya memiliki kemauan berusaha mancapai

      keputusan dalam keadaan yang sesuai dengan kenyataan.
                                                                          17




e. Menerima kritik dan saran

   Individu yang matang emosinya, memiliki kemauan yang realistis, paham

   bahwa dirinya tidak selalu benar sehingga terbuka terhadap kritik-kritik

   dan saran orang lain demi pengembangan dirinya.

f. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi

   Kematangan emosi dapat membuat individu bersedia memberikan

   kesempatan pada orang lain yang membantu usahanya untuk mencapai

   tujuan.

g. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi baru

   Individu yang matang emosinya memiliki ciri-ciri fleksibel dan dapat

   menempatkan diri seirama dengan kenyataanyang dihadapinya terutama

   dalam menghyadapi situasi yang baru.

             Menurut   Havigurst   (1980,h.167),   individu   yang   memiliki

kematangan emosi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Mampu mengekspresikan perasaan dan emosinya dalam bentuk yang

   dapat diterima masyarakat atau sesuai dengan norma sosial yang ada.

b. Memiliki pemahaman yang mendalam mengenai keadaaan dirinya.

   Pemahaman ini mencakup pemahaman akan kekurangan dan kelebihan

   diri sendiri.

c. Menunjukkan adanya kemampuan bahwa individu tersebut mampu

   melakukan analisis yang kritis terhadap situasi yang ada sebelum ia

   mengekspresikan emosinya. Dengan kata lain individu tersebut mampu

   menilai situasi yang ada dan baru mengekspresikan emosinya atau secara
                                                                              18




       tidak langsung mengekspresikan emosinya ketika menghadapi suatu

       keadaan.

            Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas mengenai cirri-

   ciri orang yang matang adalah sebagai berikut:

Berorientasi pada tugas bukan pada diri atau ego

   a. Minat individu yang matang emosinya akan berorientasi pada tugas-tugas

       yang dikerjakannya dan tidak condong pada perasaan untuk diri sendiri

       atau untuk kepentingan pribadinya.

   b. Tujuan yang jelas dan kebiasaan untuk kerja yang efisien

       Individu yang matang emosinya selalu melihat pada tujuan yang hendak

       dicapai secara jelas dan tujuan tersebut dapat didefinisikan secara cermat

       untuk membimbingnya menuju tujuan yang hendak dicapai.

   c. Mengendalikan perasaan pribadi

       Individu yang matang emosinya dapat mengendalikan perasaannya sendiri

       dan tidak dapat dikuasai oleh perasaan untuk dalam mengerjakan sesuatu

       atau berhadapan dengan orang lain individu tersebut juga tidak akan

       mementingkan dirinya sendiri tapi juga mempertimbangkan perasaan

       orang lain.

   d. Keobjektifan

       Individu yang matang emosinya memiliki kemauan berusaha mancapai

       keputusan dalam keadaan yang sesuai dengan kenyataan.



   e. Menerima kritik dan saran
                                                                        19




   Individu yang matang emosinya, memiliki kemauan yang realistis, paham

   bahwa dirinya tidak selalu benar sehingga terbuka terhadap kritik-kritik

   dan saran orang lain demi pengembangan dirinya.

f. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi

   Kematangan emosi dapat membuat individu bersedia memberikan

   kesempatan pada orang lain yang membantu usahanya untuk mencapai

   tujuan.

g. Menunjukkan adanya kemampuan bahwa individu tersebut mampu

   melakukan analisis yang kritis terhadap situasi yang ada sebelum ia

   mengekspresikan emosinya. Dengan kata lain individu tersebut mampu

   menilai situasi yang ada dan baru mengekspresikan emosinya atau secara

   tidak langsung mengekspresikan emosinya ketika menghadapi suatu

   keadaan.

h. Memiliki pemahaman yang mendalam mengenai keadaaan dirinya.

   Pemahaman ini mencakup pemahaman akan kekurangan dan kelebihan

   diri sendiri.

i. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi baru

   Individu yang matang emosinya memiliki ciri-ciri fleksibel dan dapat

   menempatkan diri seirama dengan kenyataan yang dihadapinya terutama

   dalam menghadapi situasi yang baru.
                                                                                     20




                                     BAB III

                                 PEMBAHASAN

        A. Hubungan antara Kematangan Emosi dengan Intensi Perilaku

                        Seksual pada Remaja yang Berpacaran

         Masa remaja ditandai dengan perubahan fisik dan seksual yang cukup

dominan dan jelas terlihat jika dibandingkan dengan tahap perkembangan

sebelumnya. Perubahan fisik ini mempengaruhi sikap, minat, nilai dan perilaku

remaja. Remaja menjadi lebih tertarik pada masalah seksual dan kegiatan-kegiatan

yang melibatkan aktivitas bersama antara laki-laki dan wanita (Havigurst, 1980,

h.207). Salah satu bentuk aktivitas bersama ini terlihat dari perilaku berpacaran.

         Emosi dominan yang terlibat dalam perilaku berpacaran adalah cinta.

Menurut Stenberg dalam pacaran, jenis cinta yang terjadi adalah romantic love.

Romantic love merupakan hubungan yang melibatkan gairah fisik maupun emosi

yang kuat tanpa adanya komitmen (Papalia dkk., 1998, h. ).

         Emosi terutama cinta kasih merupakan sesuatu yang penting dalam

kehidupan manusia. Akan tetapi ketika seorang individu merasakan suatu emosi

yang kuat, individu tersebut dapat demikian dipengaruhi sehingga pada umumnya

kurang dapat atau tidak dapat menguasai dirinya lagi. Tingkah laku yang muncul

pun cenderung menyimpang dari norma yang berlaku dalam masyarakat (Walgito,

1997, h.145).

         Emosi yang kuat yang dirasakan remaja terkadang begitu dominan

sehingga remaja tidak mampu lagi mengontrol gairah fisik yang timbul dalam

hubungan tersebut. Perilaku yang muncul dalam berpacaran mengarah pada
                                                                           21




perilaku seksual dari yang bertaraf ringan seperti berpegangan tangan hingga

perilaku seksual berat seperti petting ataupun persetubuhan. Perilaku seksual

bebas memberikan dampak yang membahayakan jiwa remaja itu sendiri seperti

tertular penyakit menular seksual (PMS), terjangkit HIV hingga kematian akibat

aborsi yang dilakukan.

         Kematangan emosi merupakan suatu kecenderungan atau kemampuan

untuk mengadakan tanggapan emosional yang matang serta melibatkan suatu

kemampuan untuk mengontrol emosi sehingga perilaku yang muncul sesuai

dengan usia dan situasi sosial yang dihadapinya. Kematangan emosi dapat

membantu remaja untuk mengontrol emosi yang dirasakan sehingga remaja tidak

bertindak ceroboh tanpa perhitungan yang akan merugikan diri sendiri dan

bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

         Hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah ada hubungan

antara kematangan emosi dengan intensi perilaku seksual pada remaja yang

berpacaran. Hubungan tersebut beupa korelasi negatif antara kematangan emosi

dengan intensi perilaku seksual bebas. Jadi semakin tinggi kematangan emosi

seorang remaja maka intensi perilaku seksual bebas remaja yang berpacaran

semakin rendah.
                                                                             22




                                 B. Kesimpulan

          Emosi merupakan hal yang dapat dialami oleh setiap orang. Apalagi bagi

remaja yang sedang berpacaran. Perasaan senang, sedih dan cinta menjadi emosi

yang dominant dalam diri remaja. Banyak pula peristiwa atau kejadian yang dapat

mempengaruhi emosi remaja dalam berpacarn. Terkadang emosi yang dirasakan

menjadi sangat tidak terkontrol. Akibatnya banyak remaja yang mengatasnamakan

cinta untuk melegalisasi perilaku seksual bebas yang dilakukan. Oleh karena itu

perlu adanya suatu kematangan emosi yang dirasakan agar hal tersebut tidak

merugikan diri remaja sendiri.

                                   C. Saran

          Perkembangan individu dimulai sejak anak berada dalam kandungan.

Begitu juga perkembangan emosi. Dengan pola asuh yang baik dan lingkungan

yang kondusif diharapkan dapat membantu remaja mengembangkan emosi yang

matang.
                             DAFTAR PUSTAKA



Atwater, Eastwood. 1983. Psychology of Adjustment, second edition, Personal
         Growth in a Changing World. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Baron, R.A & Byrne, D. 1991. Social Psychilogy, A Sociology Approach. New
         York: The Free Press
Chaplin, J.P. 1968. Dictionary of Psychology. New York: Dell Publishing Co.,
         Inc.
Eisenberg, N., et. al. 2000. Dispositional Emotionality and Regulation: Their Role
         in Predicting Quality of Social Functioning. Journal of Personality and
         Social Psychology. Vol. 78. No. 1. 136-157
Gonzaga, C.G., et. al. 2001. Love and The Commitment Problem in Romantic
         relations and Friendship. Journal of Personality and Social Psychology.
         Vol. 8. No. 2. 247-262
Hurlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang
         Rentang Kehidupan.jakarta: Penerbit Erlangga
Kartono, Kartini & dali Gulo. 2000. Kamus Psikologi. Bandung: CV. Pionir Jaya
Manstead, A.S.R. 1996. Attitude and Behavior sebuah artikel dalam Applied
         Social Psychology. California: Sage Publication
Monk & Knoers.1999. Psikologi Perkembangan, Pengantar Dalam Berbagai
         Bagiannya. Yogyakarta: gajah mada University Press
Sarwono, S.W. 2002. Psikologi Remaja,edisi revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo
         Persada
Walgito, Bimo. 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Percetakan Andi
         Offset
Yudana, I.G.A dan Nanny Selomiharjo. (2001, Mei) Remaja dan Hubungan
         Seksual Pranikah: Kumpulan Artikel Psikologi 1. Intisari, 2001, 138-145




                                       23

				
DOCUMENT INFO
Description: contoh makalah seks bebas