Docstoc

Perilaku Prososial pada anak jalanan

Document Sample
Perilaku Prososial pada anak jalanan Powered By Docstoc
					PERILAKU PROSOSIAL PADA ANAK JALANAN
                DI KOTA SURAKARTA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Psikologi Komunitas
          Dosen Pengampu : Drs. Arif Wibisono Adi, MM




                        Disusun Oleh :
                       Rakhmi Gumilar
                        F 100 040 084




               FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
                             2007
                                    BAB I
                              PENDAHULUAN


                         A. Latar Belakang Masalah
       Kebijakan pembangunan yang tidak merata menyebabkan sebagian
masyarakat tidak dapat menikmati hasil dari pembangunan yang ada. Mereka
yang tidak dapat menikmati hasil dari pembangunan ini tetapi hidup dalam garis
kemiskinan. Pada umumnya mereka hidup di pinggiran atau daerah yang terlihat
kumuh dengan kondisi yang sangat buruk karena daerah tempat tinggal mereka
tidak memiliki fasilitas pelayanan umum. Kondisi tersebut berpeluang
menyebabkan kemiskinan semakin meningkat, sehingga berpengaruh pada
kondisi ekonomi masyarakat. Kondisi ekonomi yang lemah, menuntut peran
anggota keluarga untuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarga termasuk anak-
anak. Keterbatasan kemapuan dan pengalaman anak tidak dapat menyebabkan
anak bekerja di sektor informal yang terbuka seperti pengamen, tukang semir dan
pedagang asongan.
       Kemunculan fenomena       anak jalanan    Indonesia   semakin terlihat.
Kehidupan anak tahanan bukanlah sebagai pilihan hidup yang menyenangkan,
melainkan keterbatasan yang harus mereka terima karena sebab-sebab tertentu.
Keadaan atau kondisi ekonomi keluarga yang lemah, yang diperparah dengan
adanya krisis ekonomi yang melanda negeri ini, turut berperan menjadikan
mereka anak jalanan. PHK, putus sekolah serta pengangguran merupakan salah
satu akibat dari krisis ekonomi yang panjang dan kebijakan pemerintah yang
kurang merata. Menurut manik (Purwandari, 1999), bahwa kondisi sosial ekonomi
keluarga yang tidak menguntungkan tersebut, menyebabkan anak-anak mereka
terpaksa keluar rumah untuk ikut mencari nafkah. Sriyuningsih dan Subowo
(Purwandari, 1999) menyatakan bahwa munculnya anak jalanan dikarenakan
keadaan sosial ekonomi yang memaksa anak tersebut untuk terjun ke jalanan guna
membantu ekonomi keluarga.
       Secara psikologis mereka adalah anak-anak jalanan yang pada taraf
tertentu belum mempunyai bentuk mental dunia jalanan yang keras dan cenderung



                                                                             2
berpengaruh negatif pada perkembangan dan pembentukan kepribadiannya. Anak
jalanan yang menghabiskan sebagian waktunya dijalanan tentu akan menemani
fenomena sosial yang terjadi disekitarnya. Dari fenomena sosial yang terjadi,
maka terlihat bagaimana perilaku yang ditunjukkan oleh anak jalanan dalam
menghadapi setiap fenomena sosial yang terjadi disekitarnya.
        Persepsi masyarakat yang negatif terhadap anak jalanan, ternyata tidak
menimbulkan pandangan positif pada anak jalanan, sehingga perilaku-perilaku
prososial pada anak jalanan menurut masyarakat tidak akan pernah terjadi. Ini
dikarenakan perilaku mereka yang minta masyarakat sering melawan hukum dan
anti sosial yang tidak disukai oleh masyarakat. (Subarsono, 1999) perilaku-
perilaku anak jalanan yang bersifat melawan hukum dan anti sosial disebut
dengan problem sosial. Perilaku problem sosial yang timbul karena perilaku anak
jalanan dirasakan sangat menganggu kehidupan masyarakat di sekitar anak
jalanan tersebut.
        Namun pada kenyataan, perilaku anak jalanan tidak semuanya berperilaku
negatif. Menurut hasil observasi, perilaku asertif masih dimiliki oleh anak jalanan.
Sikap asertif merupakan sikap yang positif karena tidak merugikan orang lain
namun juga tidak merugikan diri sendiri. Karena didalamnya ada pemahaman dan
penghargaan atas hak, kewajiban serta pengertian untuk menuju pada tujuan dan
tercapainya kepuasan kebutuhan pada kedua pihak bersikap empatif, demokratis
dan kooperatif dalam lingkungan, serta menghidarkan mereka dari sikap anti
sosial yang sering diwarnai oleh agvesifitas, egosentris dan arogansi (Kusuma,
2003)
        Pandangan negatif masyarakat terhadap anak jalanan akan mempengaruhi
perilaku masyarakat dalam memperlakukan anak jalanan memang rendah,
mengucilkan dan menganggap sampah masyarakat. Selain sistem sosial yang ada
dalam masyarakat juga ada norma yang mengatur tata kehidupan masyarakat.
Norma inilah yang dipakai untuk menentukan apakah sikap dan perilaku seorang
individu (anak jalanan) termasuk kedalam perilaku positif (prososial) atau
termasuk dalam perilaku yang negatif (anti sosial) (Ahmadi, 1999).




                                                                                  3
       Anak jalanan merupakan salah satu fenomena dari adanya dampak
pembangunan dari segala bidang yang rentan karena dampak modernitas dan
globalisasi. Dari uraian-uraian tersebut, dengan adanya sinyalemen-sinyalemen
munculnya perilaku-perilaku negatif (individualistik, materialistik, hedrolistik)
sekarang ini, masih banyak ditemukan perilaku anak jalanan yang positif, seperti
empatif, demokratif dan kooperatif. Pandangan masyarakat yang kurang respect
terhadap anak jalanan karena perilaku yang negatif tidak selamanya benar. Tugas
bersama yang harus kita lakukan adalah menilai anak jalanan secara proporsional
selayaknya manusia biasa yang mempunyai sifat positif dan negatif. Bertolak dari
uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah
perilaku proporsional pada anak jalanan?”


                             B. Tujuan Penelitian
       Tujuan penelitian ini adalah sebagai kajian eksplaratif guna mengetahui
dan memahami secara mendalam bagaimana perilaku proporsional pada anak
jalanan.


                            C. Manfaat Penelitian
       Penelitian yang diharapkan mempunyai beberapa manfaat antara lain :
1. Bagi anak jalanan, sebagai bahan informasi tentang pentingnya perilaku
   proporsional agar mereka dapat tumbuh dengan lebih baik sehingga
   bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat.
2. Bagi masyarakat agar dapat memahami bagaimana sebenarnya perilaku
   proporsional pada anak jalanan sehingga dengan itu masyarakat dapat
   membantu anak jalanan agar mereka tidak merasa di asingkan
3. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat di gunakan sebagai informasi pada
   penelitian selanjutnya
4. Bagi dunia keilmuan untuk menambah khasanah keilmuan, terutama di bidang
   psikologi sosial




                                                                               4
                                      BAB II
                               LANDASAN TEORI


                               A. Perilaku Prososial
1. Pengertian Prososial
       Perilaku menurut oktaviawan (2003) adalah orientasi yang di pelajari
terhadap objek, atau predi posisi untuk bertindak dengan satu cara terhadap
sekolompok (pribadi, konsep, benda) dan sikap itu selalu mempunyai
kecenderungan positif dan negatif. Senada dengan pendapat tersebut, Pristiyanti
(2004) menyatakan bahwa perilaku berhubungan dengan keyakinan seseorang
terhadap suatu objek atau perilaku. Perilaku dipengaruhi oleh pengetahuan
individu mengani pandangan orang lain yang penting baginya dalam menilai
perilaku tersebut. Besar kecilnya pengaruh pandangan orang lain dalam
membentuk norma subjek individu mengenai suatu perilaku tergantung pada
faktor kepribadian individu.
       Brigham (Dayakisni, 2003) menyatakan bahwa perilaku proporsional
mempunyai maksud untuk mengokong kesejahteraan orang lain. Dengan
demikian kedermawaan, persahabatan, kerjasama, menolong, menyelamatkan, dan
pengorbanan merupakan bentuk-bentuk perilaku proporsional. Ada tiga indikator
yang menjadikan suatu tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai perilaku
proporsional, yaitu :
a. Tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak
   pelaku.
b. Tindakan itu dilahirkan secara sukarela
c. Tindakan itu menghasilkan kebaikan.
       Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial adalah
segala bentuk perilaku yang memberikan konsekuensi positif bagi orang lain, baik
dalam bentuk materi, fisik ataupun psikologis tetapi tidak memiliki keuntungan
yang jelas bagi perilakunya.




                                                                              5
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Prosoisial
        Menurut Staub (Dayakisni, 2003), terdapat beberapa faktor yang
mendasari seseorang untuk bertindak prososial, yaitu :
        a. Self-gain, yaitu keinginan untuk memperoleh penghargaan sosial dan
menghindari konflik.
        b. Personal values dan norms, yaitu adanya nilai-nilai dan norma sosial
yang diinternalisasikan oleh individu selama mengalami sosialissi sebagian nilai-
nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, seperti kewajiban
menegakkan kebenaran dan keadilan serta norma timbal balik.
        c. Empathy, yaitu kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan
atau pengalaman orang lain. Kemampuan untuk empathy ini erat kaitannya
dengan pengambil alihan peran. Jadi prasyarat untuk mampu melakukan empathy,
individu harus memiliki kemampuan untuk melakukan pengambilan peran.
        Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku prososial adalah self-gain, personal values and norms,
empathy.


3. Aspek-aspek Perilaku Prososial
        Perilaku prososial adalah perbuatan yang dilakukan oleh individu secara
sukarela yang bertujuan menguntungkan orang lain baik secara fisik maupun
psikis dan memberi manfaat positif bagi orang lain serta memenuhi rasa lebih
berarti pada dirinya sendiri. Musen (Dayakisni, 2003) menyebutkan bahwa aspek
perilaku proporsional antara lain :
        a. Kerjasama (corporation), yaitu melakukan suatu pekerjaan dengan
baik dan bersama-sama serta tujuannya sama.
        b. Menolong (helping), yaitu suatu sikap perilaku untuk menolong orang
lain yang sedang berada dalam kesulitan dan untuk berbuat baik terhadap orang
lain.
        c. Membagi (sharing), yaitu berbagai perasaan dengan orang lain baik
dalam suasana suka maupun duka ditampakkan karena ada sama-sama rasa saling
memiliki.



                                                                               6
          d. Berderma (generosity), yaitu memberikan secara sukarela sebagian
barang miliknya kepada orang biasa yang membutuhkan.
          e. Kejujuran (honesty), yaitu tidak berbuat curang terhadap orang lain
melakukan atau mengatakan sesuatu kepada orang lain dengan tulus hati dan
mengandung kebenaran.


                                B. Anak Jalanan
1. Pengertian Anak jalanan
          Anak jalanan menurut Siva (Lestari dan Karyani, 1997) adalah anak-anak
yang benar-benar hidup dan bekerja di jalanan dan terlantarkan atau telah lari dari
keluarga mereka, anak-anak yang menjaga hubungan dengan keluarga mereka
tetapi menghabiskan waktunya di jalanan, anak-anak dari keluarga yang hidup di
jalanan dan berusia di bawah 18 tahun. Sedangkan menurut Perserikatan Bangsa-
Bangsa (Khumas, 1999), yang dimaksud dengan anak jalanan adalah anak-anak
yang karena sebab-sebab tertentu pada orang tuanya, sehari-hari berada di jalanan
untuk mencari nafkah.
          Menurut fitriani (2003) anak jalanan adalah anak yang sebagian besar
menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah dan atau bekeliaran di jalanan atau
tempat-tempat umum lainnya.
          Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa anak jalanan adalah mereka
yang berumur dibawah 18 tahun, anak yang sebagian besar menghabiskan
waktunya untuk mencari nafkah dan atau berkeliaran dijalanan atau tempat-tempat
umum lainnya, tidak atau tergantung pada keluarga dan mempunyai kemampuan
untuk bertahan hidup di jalanan.


2. Faktor-faktor Penyebab Munculnya Anak Jalanan
          Menurut Lestari dan Karyani (1997), terdapat beberapa faktor yang
menyebabkan munculnya anak jalanan, yaitu :
          a. Kondisi ekonomi keluarga yang lemah yang dialami oleh orang
tuanya.
          b. Kondisi kehidupan berkeluarga yang kurang harmonis.



                                                                                 7
          Lebih lanjut Lestari dan Karyani (1997) menyebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi mumculnya anak jalanan adalah :
          a. Lingkungan anak, yaitu lingkungan dan kondisi tempat tinggal
keluarga yang banyak berpengaruh terhadap maslah kenakalan anak dan sangat
sering membolos dari sekolah
          b. Kondisi sosial dan ekonomi orang tua, yaitu kebanyakan orang tua
dari anak jalanan sangat miskin. Mereka berada di bawah garis kemiskinan dan
kurang mempunyai ikatan dengan anak-anaknya.
          Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi munculnya anak jalanan adalah : kondisi ekonomi keluarga yang
lemah yang dialami oleh orang tuanya, kondisi kehidupan berkeluarga yang
kurang harmonis, lingkungan anak, dan kondisi sosial orang tua.


3. Kategori Anak jalanan
          Menurut Sudrajat (Lestari dan Karyani, 1997) untuk mengakomodasi
variasi anak jalanan, pada umunya anak jalanan terbagi dalam dua kelompok
yaitu :
          a. Children of the street, yaitu anak-anak yang tumbuh dijalanan. Seluruh
waktunya di habiskan di jalanan. Anak-anak ini biasanya bekerja dan tinggal di
jalanan, tidak mempunyai rumah dan berasal dari keluarga yang berkonflik,
misalnya bercerai.
          b. Children on the street, yaitu anak-anak yang berada di jalanan yakni
anak-anak yang hanya sesaat berada di jalanan. Kontak dengan keluarga sering
dibandingkan dengan children of the street, bahkan lebih teratur.
          Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kategori anak jalanan terbagi
dalam 2 kelompok, yaitu children of the street dan children on the street.



                     C. Perilaku Prososial Para Anak Jalanan
          Anak jalanan menurut Silva (Lestari dan Karyani, 1997) adalah anak-anak
yang benar-benar hidup dan bekerja di jalanan dan diterlantarkan atau telah lari
dari keluarga mereka, anak-anak yang menjaga hubungan dengan keluarga



                                                                                 8
mereka tapi menghabiskan waktunya di jalanan, anak-anak dari keluarga yang
hidup di jalanan dan berusia di bawah 18 tahun. Sedangkan menurut Perserikatan
Bangsa-Bangsa (Khumasi, 1999) yang dimaksud dengan anak jalanan adalah
anak-anak yang karena sebab-sebab tertentu orang tuanya, sehari-hari berada di
jalanan untuk mencari nafkah.
       Perilaku prososial menurut Tedeschi dkk (Indriana, 2004) adalah perilaku
yang mengacu pada tindakan menolong, memberi, memelihara, serta respon
social, yang dinyatakan oleh seseorang tanpa motivasi untuk mementingkan orang
lain secara nyata. Sears dkk (Chandra, 2003) mengartikan perilaku prososial
sebagai tindakan menolong ini sepenuhnya di motivasi oleh kepentingan sendiri
tanpa mengharapkan sesuatu untuk diri si penolong itu sendiri.
       Perilaku prososial pada anak jalanan adalah segala bentuk perilaku yang
memberikan kosekwensi positif bagi orang lain, baik dalam bentuk materi, fisik
ataupun psikologis tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pelakuinya,
yang dinyatakan oleh anak-anak yang benar-benar hidup dan bekerja di jalanan
serta berusia di bawah 18 tahun.


                           D. Pertanyaan Penelitian
       Penelitian senantiasa berusaha untuk memperoleh data sebanyak-
banyaknya mengenai hal apa yang diteliti. Untuk dapat mengungkapkan lebih
jauh mengenai gejala yang ada, maka pertanyaan penelitian yang diajukan penulis
adalah :
1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi timbulnya anak jalanan ?
2. Bagaimanakah penerimaan sosial masyarakat terhadap anak jalanan ?
3. Bagaimanakah bentuk-bentuk perilaku proporsional pada anak jalanan ?




                                                                             9
                                     BAB III
                           METODE PENELITIAN


                        A. Identifikasi Gejala Penelitian
       Dalam penelitian ini, gejala yang nampak diungkapkan adalah perilaku
proporsional pada anak jalanan.


                   B. Definisi Operasional Gejala Penelitian
1. Perilaku prososial
       Perilaku prososial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan
konsekuensi positif bagi orang lain baik dalam bentuk materi, fisik ataupun
psikologis tetapi tidak memiliki yang jelas bagi pelakunya.


2. Anak Jalanan
       Anak jalanan adalah mereka yang berumur dibawah 18 tahun, anak yang
sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah dan atau
berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya, tidak atau tergantung
pada keluarga, dan mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup di jalanan.


3. Perilaku Prososial Pada Anak Jalanan
       Perilaku prososial pada anak jalanan adalah segala bentuk perilaku yang
memberikan konsekuensi positif bagi orang lain, baik dalam bentuk materi, fisik
ataupun psikologis tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pelakunya,
yang dinyatakan oleh anak-anak yang benar-benar hidup dan bekerja di jalanan
serta dibawah usia 18 tahun.



                               C. Lokasi Penelitian
       Penelitian dilakukan pada anak jalanan yang beroperasi di daerah
panggung, Jebres dan yang beroperasi di daerah pasar Pon Surakarta. Panggung
masuk dalam kelurahan Ledok Sari kecamatan jebres, sedangkan Pasar Pon
masuk dalam kelurahan Timuran Kecamatan Banjarsari. Komunitas anak jalanan



                                                                            10
di sebelah tenggara perempatan panggung warung makan di sebelah tenggara
perempatan Panggung sebagai tempat mangkal mereka. Sedangkan komunitas
anak jalanan Pasar Pon biasa mangkal di warung HIK di sebelah pojok barat laut
perempatan Pasar Pon. Saat ini anak jalanan yang tergabung dalam komunitas
anak jalanan Panggung dan Pasar Pon berjumlah kurang lebih 5 – 10 orang.
Namun pada saat-saat tertentu jumlahnya bisa bertambah, karena ada yang datang
dari daerah lain seperti daerah Ngapeman, Warung Pelem dan lainnya yang ikut
bergabung.


                             D. Subjek Penelitian
       Salah satu yang dilakukan peneliti sebelum mengumpulkan data adalah
menentukan subjek. Subjek penelitian adalah individu yang ikut serta dalam
penelitian darimana data dikumpulkan.
       Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive
sampling, yaitu sampel yang dipilih dengan cermat hingga relevan dengan desain
penelitian. Purposive sampling dilakukan dengan mengambil orang-orang yang
memiliki ciri-ciri spesifik yang telah ditentukan oleh peneliti (Nasution, 2001).
Karakteristik subjek yang akan diteliti adalah a) laki-laki atau perempuan, b)
berusia di bawah 18 tahun, c) berada di jalanan minimal selama 3 tahun, dan d)
anak jalanan yang beroperasi di Surakarta.
       Alasan pemilihan subjek dengan karakteristik tersebut adalah untuk
mengetahui bagaimana perilaku prososial pada anak jalanan yang berusia di
bawah 18 tahun dalam menyikapi feomena sosial yang terjadi di sekitar subjek.
Alasan memilih subjek yang beroeprasi minimal 3 tahun yaitu bahwa rentang
waktu tersebut dianggap merupakan waktu yang cukup untuk menilai sejauh mana
dan bagaimana perilaku anak jalanan selama ini. Subjek dalam penelitian ini
berjumlah 2 orang.




                                                                              11
                        E. Metode Perngumpulan Data
       Metode pengumpulan data adalah cara yang dipakai untuk memperoleh
data yang akan diselidiki. Hadi (1989) mengatakan bahwa baik buruknya hasil
penelitian sebagain tergantung dari tehnik pengumpulan data untuk memperoleh
data dalam penelitian ini. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi.
1. Wawancara
       Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam
percakapan yang bertujuan memperoleh informasi (Nasution, 2001). Wawancara
menurut Moleong (2000) adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan
ini dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewer) yang bisa memberikan jawaban
atas pertanyaan tersebut agar data-data yang diperoleh sesuai dengan hasil
wawancara maka dalam kegiatan wawancara penulis memakai alat Bantu berupa
hand record.
2. Observasi
       Observasi   adalah   pengamatan dan        pencatatan dengan sistematik
fenomena-fenomena yang diselidiki (Hadi, 1989). Menurut Moleong (2000)
observasi adalah teknik pengamatan yang memungkinkan peneliti melihat dan
mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku kejadian sebagaimana yang terjadi
pada keadaan yang sebenarnya. Observasi dalam penelitian ini menggunakan
uncontrolled observation dimana observasi ini bertujuan untuk mengetahui
tingkah laku subjek dalam situasi yang natural.


                            F. Metode Analisis Data
       Data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak
berupa narasi, deskripsi, cerita, dokumentasi tertulis dan tidak tertulis (gambar,
foto ataupun bentuk-bentuk non angka lain (Poerwandari, 1998). Karena
penelitian ini bersifat kualitatif maka analisis data yang digunakan adalah
aanalisis data secara induktif deskriptif yaitu proses pengumpulan data yang
menggunakan gambaran cerita dengan cara melakukan abstraksi setelah rekaman



                                                                               12
fenomena-fenomena khusus di kelompokkan menjadi satu. Teori yang di
kembangkan dengan cara ini muncul dari bawah yang berasal satu dengan yang
lain (Aminudin, 1990).
       Dalam penelitian ini, data yang diperoleh merupakan data kualitatif yaitu
data yang berupa narasi dan dekstipsi. Data-data tersebut di peroleh dari hasil
wawancara, observasi dan rekaman dalam tape recorder.
       Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisa data adalah
sebagai berikut :
1. Membuat transkip wawancara, laporan lapangan hasil observasi
   Metode pengumpulan data yang kami lakukan adalah wawancara dan
   observasi. Hasil wawancara yang direkam dengan tape recorder dibuat
   kedalam     transkip   secara   lengkap   untuk   memudahkan   kami    dalam
   menganalisis, begitupun dengan laporan hasil. Observasi dibuat kedalam
   bentuk tulisan dengan tujuan untuk memudahkan kami dalam menganalisis.
2. Mencari kategori
   Transkip wawancara dan observasi yang telah dibuat, dicari kategori-kategori
   yaitu pengelompokan tentang perilaku prososial anak jalanan yang muncul,
   yang hamper sama sifatnya. Kategori tersebut dilakukan dengan pengambilan
   kesimpulan secara induksi yaitu kesimpulan di tarik dari keputusan yang
   khusus untuk mendapat yang umum.
3. Deskripsikan kategori
   Kategori yang diperoleh di deskripsikan untuk menggambarkan sekaligus
   menjelaskan bagaimana bentuk perilaku prososial pada anak jalanan
4. Pembahasan hasil penelitian
   Deskripsi kategori yang diperoleh di bahas dengan mengkaitkan teori-teori
   mengenai perilaku prososial.




                                                                             13
                                BAB IV
                         LAPORAN PENELITIAN


                     A. Hasil Pengumpulan Data
1) Hasil Observasi
    Dari hasil observasi yang kami lakukan teryata subjek atau anak jalanan
termasuk orang-orang yang masih peduli dengan lingkungan sosial. Hal ini
terbukti dari keberanian mereka menangkap seorang copet yang sedang
beroperasi didalam bus kota, pada saat itu korban seorang ibu, yang bernama
ibu Warni asal purwosari. Bukan hanya ini saja yang mampu membuktikan
kepekaan sosial mereka, dijalan Selamet Riyadi tepatnya didepan sriwedari
anak jalanan juga mau membantu seorang ibu yang sedang menyebrang
jalan.
2) Hasil Wawancara
    Berdasarkan hasil interview yang telah dilaksanakan, maka didapatkan
data bahwasanya latar belakang munculnya anak jalanan dikarenakan
kebutuhan ekonomi, dimana orang tua kurang mampu memenuhi kebutuhan
materi anak mereka. Sehingga dari orang tua pun ada dukungan kepada
anaknya untuk menjadi anak jalanan untuk mencari uang sebagai pemenuhan
kebutuhan sehari-hari.    Namun hal itu bukan menjadi sebuah hal yang
membebani mereka, karena dari mereka ada yang merasa nyaman dengan
keadaan mereka.
    Hal yang kurang disukai oleh anak jalanan adalah adanya stereotype
yang ada pada mereka, bahwasanya anak jalanan adalah sampah masyarakat
yang hanya meminta-minta tanpa tanpa ada usaha untuk lebih baik. Padahal
menurut pengakuan subjek-subjek penelitian tidak semua anak jalanan
merupakan sampah masyarakat yang meresahkan lingkungan. Mereka juga
seringkali melakukan prilaku yang menunjukan nilai-nilai sosial yang cukup
baik, seperti menolong orang yang kecelakaan, selain itu kebersamaan
mereka juga patut diberikan perhatian, karena kelompok ini perilaku saling
membantu antar anak jalanannya sangat tinggi.



                                                                        14
                                  B. Klasifikasi Data
       Driving Force ( DF )
      1. Keinginan untuk ikut orang tua.
      2. Keinginan untuk membantu orang tua.
      3. Kehilangan salah satu orang tua.
      4. Keadaan ekonomi keluarga
      5. Perhatian dari pemerintah yang kurang.
      6. Berhenti dari sekolah.
      7. Kehidupan keluarga yang sejak kecil ada dijalanan.
      8. Tidak adanya larangan untuk menjadi anak jalanan.
      9. Ibunya tidak mempunyai keterampilan untuk bekerja dan menghidupi
         keluarga.


       Restraining force ( RF )
      1. Keinginan orang tua agar anaknya meneruskan sekolah.
      2. Adanya harapan dari anak agar pemerintah peduli.
      3. Adanya keinginan dan cita-cita anak untuk meneruskan sekolah.
      4. Adanya harapan untuk meninggalkan kehidupan jalanan.
      5. Adanya keinginan untuk hidup normal.
      6. Keinginan untuk mempunyai lingkungan yang lebih baik
      7. Keinginan untuk punya teman banyak


                              C. Dimensi Psikologis
a).      Microsystem
                subyek menjadi seorang anak jalanan dikarenakan selain dari
         kenginan diri sendiri untuk hidup dijalanan juga ikut orang tua. Sealain itu
         subyek kehilangan seorang figur keluarga yaitu ayahnya sehingga tidak
         ada yang membiayai sekolahnya, sehingga dia memutuskan untuk berhenti
         sekolah dan membantu orang tuanya terutama ibunya dijalanan menjadi
         pengamen.




                                                                                  15
b).   Mesosystem
             Subyek menjadi seorang anak jalanan karena putus sekolah akibat
      kekurangan biaya orang tuanya terutama ibunya tidak mempunyai
      keterampilan untuk bekerja untuk menafkahi keluarga dan membiayai
      untuk meneruskan sekolah. Selain itu orang tuanya juga berpendidikan
      rendah sehingga kurang memberikan pengertian tentang arti penting
      sebuah pendidikan terhadap masa depan.
c).   Exosystem
             Subyek mejalani kehidupan sebagai seorang anak jalanan
      dilkarenakan kurangnya perhatian terhadap keluarga yang berada dibawah
      garis kemiskinan sehingga keluarga tersebut tidak mampu membiayai
      sekolah anaknya. Selain itu masih banyak lembaga social anak yang tidak
      begitu memperhatikan tentang kehidupan anak jalanan.
d).   Macrosystem
             Subyek mejalani kehidupan anak jalanan dikarenakan keadaan
      ekonomi keluarga yang berada dibawah garis kemiskinan sehingga
      mengharuskana anak tersebut menjalani kehidupan sebagai anak jalanan
      untuk membantu menopang perekonomian keluarga.




                                                                          16
                                     BAB V
                                  PREVENSI


a.     Prevensi Primer
       Perilaku kehidupan anak jalanan dapat dicegah apabila ada pemberian
binbingan terutama pada keluarganya, atas pentingnya masalah pendidikan dan
larangan mempekerjakan anak dibawah umur. Boleh dibilang tangan diatas lebih
baik daripada tangan dibawah, sehingga dapat mengurangi frekuensi anak jalanan.
Selain itu masyarakat ada baiknya tidak memandang sisi negatifnya saja,
bahwasanya anak jalanan juga memiliki sisi positif. Misalnya perilaku sosial
seperti membantu sesama anak jalanan yang sedang terkena masalah.
b.     Prevensi Sekunder
       Perilaku kehidupan anak jalanan dapat diidentifikasi dan dipantau seawal
mungkin. Seperti misal jika ada tindakan mereka yang merugikan orang lain
seperti berlaku anarkis ketika mengamen ataupun yang lainnya, dan merugikan
diri sendiri seperti bolos sekolah dan merokok. Yaitu dengan adanya imbauan dan
bimbingan terhadap keluarga agar mampu melihat kerugian dan ketidakmanfaatan
atas prilaku tersebut. Selain itu masyarakat lebih sensitif terhadap keberadaan
anak jalanan dalam artian membawa anak jalanan tersebut ke lembaga sosial
yang menangani anak jalanan.
c.     Prevensi Tertier
       Apabila terjadi pembengkakan jumlah anak jalanan yang rata-rata berusia
dibawah 18 tahun, serta banyaknya tingkat kriminalitas anak dibawah umur, maka
hendaknya ada tindakan yang harus menurunkan pembengkakan tersebut secara
signifikan, dan dalam hal ini seharusnya pemerintah ikut andil dan berperan serta.
Selain masyarakat lebih sensitif terhadap keberadaan anak jalanan dan membawa
mereka ke lembaga sosial yang menangani anak-anak jalanan. Sikap dari
pemerintah yang diperlukan yaitu menggalang patroli untuk membawa anak-anak
jalanan khususnya yang dibawah 18 th untuk diberikan pendidikan dan
ketrampilan sebagai bekal masa depan anak tersebut yang sekaligus secara tidak
langsung merupakan masa depan bangsa.



                                                                               17
18

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:973
posted:1/15/2012
language:
pages:18
Description: contoh TA, Skripsi jurusan Psikologi