Embed
Email

makalah Korupsi

Document Sample
makalah Korupsi
Description

makalah korupsi

Shared by: fathurrohman mufti
Stats
views:
1850
posted:
1/15/2012
language:
pages:
10
PENDAHULUAN







Kata kebudayaan sekarang mungkin memang sudah semakin



umum dipakai oleh cukup banyak orang, tapi sekaligus juga sangat



mungkin bahwa ia tidak pernah benar-benar jelas artinya. Beberapa



ilustrasi kecil berikut boleh jadi akan memperlihatkan macam variasi



penggunaan kata budaya dalam hidup kita sehari-hari : para pejabat



melakukan korupsi atas harta kekayaan negara, namun alih-alih



mendapatkan hukuman berat karier mereka malahan terus meningkat,



sehingga lama kelamaan semakin banyak orang yang melakukan



perbuatan serupa. Pada kasus di atas orang bisa dan sering memberikan



label awal yang sama : budaya.



Terhadap kasus ini, kita terbiasa mendengar ungkapan “budaya



korupsi”, untuk menunjukkan satu tabiat buruk yang lebih kurang telah



menjadi dan diterima sebagai kebiasaan banyak orang yang seolah tidak



lagi dipersoalkan, atau kalaupun dipersoalkan ia dianggap hampir



mustahil dihentikan.



Lepas dari tepat tidaknya penggunaan kata “budaya” dalam



contoh kasus di atas, kita bisa melihat semua itu sebagai sebuah



gambaran dari kenyataan bahwa dalam perbincangan sehari-hari saat ini,



apa yang dirujuk oleh term “kebudayaan” dan / atau “budaya” biasanya



dihadapi sebagai kawasan pembicaraan yang serba cair. Ia kerap



diartikan sebagai sebuah term yang sangat khusus yang, misalnya, hanya







1

bersangkut paut dengan persoalan-persoalan kesenian. Akan tetapi, ia



juga sering dipahami sebagai term yang begitu luas cakupannya,



demikian luasnya sehingga ia tidak lagi cukup jelas sebagai sebuah bahan



kajian. Franz Magnis-Suseno (1991) bahkan menyatakan bahwa



kebudayaan adalah seluruh hamparan alam semesta sejauh telah ditandai



oleh eksistensi manusia. Kedua bentuk pemahaman ini pada dasarnya



merefleksikan satu hal yang sama : kebudayaan adalah sebuah konsep



yang sangat abstrak tapi sekaligus juga sangat familiar. Ia sangat sering



diucapkan tapi tidak terdapat bukti signifikan bahwa karena itu ia juga



sudah sangat dipahami oleh si pengucapnya sendiri.



Dalam Keyword, Raymond Wilhams (1976 : 76-82) menunjuk kata



“budaya” (culture) sebagai salah satu kata yang rumit dalam khasanah



bahasa Inggris, terutama karena saat ini ia dipakai untuk beberapa



konsep penting pada beberapa disiplin intelektual dan sistem pemikiran



yang berbeda.



Pertama, budaya bisa dipakai untuk menunjukkan pada satu



proses umum dari dari perkembangan intelektual, spiritual dan estetika



sebuah masyarakat, misal, kita bisa mendiskusikan perkembangan



budaya korupsi dan hanya memacu pada faktor-faktor intelektual, spiritual



dan estetika masyarakat. Konkretnya, pembicaraan kita tentang budaya



korupsi dalam pengertian ini meliputi perbincangan tentang Presiden,



Pejabat, Pegawai Pemerintahan, dan Pengusahanya.









2

Kedua, budaya sebagai suatu jalan hidup spesifik yang dianut baik



oleh orang, periode maupun oleh sebuah kelompok tertentu dalam



masyarakat. Menggunakan batasan pemahaman ini, ketika berbicara



tentang budaya korupsi, misalnya, kita membayangkan bukan hanya



faktor intelektual atau estetika semata, melainkan juga perkembangan



literasi dan kebiasaan.



Ketiga, budaya juga bisa dipakai untuk menunjukkan karya-karya



dan praktek-pratek intelektual terutama aktivitas estetik. Dalam konteks ini



biasanya tidak lain adalah untuk memakai bahasa strukturalisme berbagai



praktek penandaan.









3

PEMBAHASAN







Setiap budaya niscaya memiliki massa pendukungnya sendiri.



kalau pendukung budaya elite adalah kaum elite masyarakat, dan



pendukung budaya rakyat adalah rakyat jelata yang sederhana dan lugu,



lantas siapa pendukung budaya korupsi ? Adakah jenis manusia lain yang



tidak termasuk ke dalam dua kategori elite dan rakyat ? Kalau ada, di



mana letak mereka dalam struktur sosial sebuah masyarakat ?



Sebelumnya, kita tahu tentang proses-proses pengaruh korupsi pada



kaum elite dan massa dalam aktivitas konsumsi mereka atas budaya



korupsi. Dengan demikian, jika dilihat lokasinya dalam struktur sosial



masyarakat, apa yang disebut korupsi pada dasarnya bisa berasal dari



kelompok elite dan rakyat jelata sekaligus.



Akan tetapi, perbincangan tentang masyarakat pendukung budaya



korupsi tidak berhenti sampai di situ.



Problem konkretnya adalah, apakah budaya korupsi diciptakan



sendiri oleh masyarakatnya seperti budaya elite yang diciptakan oleh



kaum elite dan budaya rakyat yang diciptakan oleh rakyat jelata ? Hal ini



penting diketahui paling tidak selama kita memahami kebudayaan dalam



pengertian yang luas sebagai, katakanlah, sebuah war against nature



demi kesempurnaan hidup manusia secara menyeluruh. Pada tingkat



yang lebih lanjut, pertanyaan seperti itu akan membawa kita pada



problem-problem lain yang salah satu penyebabnya biasa dialamatkan







4

kepada budaya korupsi yaitu problem kemiskinan yang meluas, bahkan



krisis moral dan intelektual masyarakat yang rendah.



Kalaupun memang benar kita sekarang sedang menyaksikan



berlangsungnya krisis moral yang makin parah. Penjelasan tidak bisa



langsung dialamatkan pada pertumbuhan budaya korupsi dengan cara



yang sama seperti seorang polisi yang menangkap basah seorang



pencuri. Kalimat-kalimat Rendra (1984 : 91) berikut bisa kita jadikan



sebagai sebuah perbandingan :



“Sumber krisis moral di Indonesia antara lain juga



disebabkan oleh macetnya daya cipta kaum moralis dan



agamawan kita. Karena impotensi daya cipta, mereka lalu



menjadi ganas dan penuh kebencian di dalam fanatisme mereka.



Respons mereka terhadap berkembangnya lingkungan hanyalah



formalisme yang statis. Mereka telah mundur ke dalam rumah



kerang mereka yang kukuh dan aman.



Kebajikan ideal mereka bukan “tanggung jawab pribadi”,



tetapi “kepatuhan”. Mereka menolak kesangsian karena mereka



sudah punya dalil-dalil dan resep-resep untuk segala macam



persoalan. Tidak peduli perkembangan jaman, dalil-dalil mereka



tetap dianggap ampuh. Bagi mereka : hidup di dalam kebajikan



berarti menghafalkan dengan patuh dalil-dalil hidup itu. Maka



karena khusyuk dengan hafalan, kaum moralis telah melupakan



rohani manusia.



Sikap hidup itulah yang melancarkan lahirnya “Tujuh



Bahan Pokok Indoktrinasi”. Demikianlah telah dipertahankan





5

kebudayaan menghafal itu, sementara lingkungan kita



bertambah luas, kompleks, jalin-menjalin penuh relativitas, penuh



banyolan-banyolan seru, yang semuanya itu menuntut lebih dari



moral hafalan semata-mata, melainkan harus dihayati dengan



moral yang lebih keras dan lebih berdisiplin, yaitu moral yang



otentik.”



Rendra tidak menulis kritiknya dalam sebuah jurnal fakultatif yang



secara khusus memuat kajian kebudayaan atau moral, melainkan dalam



sebuah media massa komersial : surat kabar harian Kompas. Ribuan



tulisan lain juga telah dipublikasikan dalam media yang sama



komersialnya selama ini. Dalam medium yang sama pula kita dengan



mudah bisa menemukan parade ikon-ikon budaya korupsi.



Tidak ada keharusan bagi kita untuk sepakat dengan argumen



Rendra di atas. Tetapi sekurang-kurangnya ia telah mengajak kita untuk



memeriksa berbagai masalah dalam hidup kita dengan pikiran yang lebih



terbuka.



Sejauh ini bisa ditarik sebuah garis penghubung sementara yang



menakutkan berbagai bentuk kecemasan masyarakat atas perkembangan



budaya korupsi tadi : jenis budaya ini dianggap buruk bukan hanya karena



ia mengancam budaya elite dan budaya rakyat, melainkan juga karena ia



berhasil masuk ke dalam kehidupan sehari-hari seluruh lapisan sosial



masyarakat. Ia bukan hanya telah menimbulkan sejumlah keguncangan



pada kemapanan selera artistik, melainkan juga telah melahirkan berbagai



problem sosial yang baru. Telah diuraikan sebelumnya, bahwa budaya





6

korupsi bukan hanya diserap oleh kelompok massa melainkan juga oleh



kelompok elite sosial antara khalayak ramai dan segelintir elite seolah



berbaur dalam budaya massa. Persis inilah yang membuat beberapa



kalangan kerap mengkhawatirkan dampak budaya korupsi terhadap



masyarakat secara keseluruhan.



Itu terjadi karena budaya korupsi hadir sebagai sebuah kenyataan



sosial. Kalau secara artistik ia dianggap hanya jadi parasit yang merugikan



kehidupan budaya tinggi. Secara etik ia dianggap merekomendasikan



ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan dan



secara sosial ia dituduh hanya menyebabkan lahirnya sebuah gerombolan



masyarakat yang pemalas dan bermoral rendah.



Jika demikian maka persoalannya kemudian adalah apakah terjadi



kesesuaian antara apa yang diinginkan masing-masing dengan apa yang



ditawarkan oleh budaya korupsi. Dinyatakan secara langsung, apakah



konsumsi masyarakat atas produk-produk budaya korupsi merupakan



salah satu bentuk usaha pemenuhan keinginan tersebut, ataukah itu



sekedar satu bentuk eskapisme sosial dari problem kongkret



kehidupannya masyarakat sehari-hari ? Jawabannya terhadap persoalan



ini tergantung pada individu masyarakat tersebut.









7

KESIMPULAN :







Kebudayaan adalah bukan sesuatu yang mandeg. Tetapi



sesuatu yang berkembang dan berproses secara terus menerus.



- Korupsi budaya adalah korupsi sebagai ciptaan manusia.



- Budaya korupsi adalah budaya yang dipengaruhi oleh korupsi.



Sebenarnya masyarakat budaya korupsi sadar tentang dampak



yang akan terjadi karena korupsi tersebut. Tapi mereka enggan untuk



meninggalkan karena mereka enggan untuk meninggalkan karena mereka



yang selalu bermimpi tentang kebahagiaan, kedudukan tinggi dan



kehidupan mewah. Kedalam itu semua mereka yang berasal dari



kelompok rakyat jelata dan kelompok kelas ekonomi menengah keatas



sama-sama akan tertarik perhatian dan dananya. Mereka diserap oleh



sebuah kebutuhan semu yang sengaja diciptakan dari luar.









8

SARAN :







- Hendaknya kita semua sadar untuk mendekatkan diri ke hadirat Illahi



Robbi dan merenungkan nasib kita habis kematian kelak.



- Sudah siapkah kita ?









9

DAFTAR PUSTAKA







Budiman Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Kanisius.

Yogyakarta.



Antropologi Budaya.









10


Related docs
Other docs by fathurrohman m...
istiqomah
Views: 35  |  Downloads: 0
peradaban barat
Views: 17  |  Downloads: 0
anxiety in william shakespeare's hamlet
Views: 55  |  Downloads: 0
Psikologi di Sekolah
Views: 21  |  Downloads: 0
discourse analysis
Views: 35  |  Downloads: 0
penelitian yogyakarta
Views: 85  |  Downloads: 0
Pancasila dan ideologi
Views: 64  |  Downloads: 0
sejarah bahasa indonesia
Views: 70  |  Downloads: 1
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!