PENDAHULUAN
Kata kebudayaan sekarang mungkin memang sudah semakin
umum dipakai oleh cukup banyak orang, tapi sekaligus juga sangat
mungkin bahwa ia tidak pernah benar-benar jelas artinya. Beberapa
ilustrasi kecil berikut boleh jadi akan memperlihatkan macam variasi
penggunaan kata budaya dalam hidup kita sehari-hari : para pejabat
melakukan korupsi atas harta kekayaan negara, namun alih-alih
mendapatkan hukuman berat karier mereka malahan terus meningkat,
sehingga lama kelamaan semakin banyak orang yang melakukan
perbuatan serupa. Pada kasus di atas orang bisa dan sering memberikan
label awal yang sama : budaya.
Terhadap kasus ini, kita terbiasa mendengar ungkapan “budaya
korupsi”, untuk menunjukkan satu tabiat buruk yang lebih kurang telah
menjadi dan diterima sebagai kebiasaan banyak orang yang seolah tidak
lagi dipersoalkan, atau kalaupun dipersoalkan ia dianggap hampir
mustahil dihentikan.
Lepas dari tepat tidaknya penggunaan kata “budaya” dalam
contoh kasus di atas, kita bisa melihat semua itu sebagai sebuah
gambaran dari kenyataan bahwa dalam perbincangan sehari-hari saat ini,
apa yang dirujuk oleh term “kebudayaan” dan / atau “budaya” biasanya
dihadapi sebagai kawasan pembicaraan yang serba cair. Ia kerap
diartikan sebagai sebuah term yang sangat khusus yang, misalnya, hanya
1
bersangkut paut dengan persoalan-persoalan kesenian. Akan tetapi, ia
juga sering dipahami sebagai term yang begitu luas cakupannya,
demikian luasnya sehingga ia tidak lagi cukup jelas sebagai sebuah bahan
kajian. Franz Magnis-Suseno (1991) bahkan menyatakan bahwa
kebudayaan adalah seluruh hamparan alam semesta sejauh telah ditandai
oleh eksistensi manusia. Kedua bentuk pemahaman ini pada dasarnya
merefleksikan satu hal yang sama : kebudayaan adalah sebuah konsep
yang sangat abstrak tapi sekaligus juga sangat familiar. Ia sangat sering
diucapkan tapi tidak terdapat bukti signifikan bahwa karena itu ia juga
sudah sangat dipahami oleh si pengucapnya sendiri.
Dalam Keyword, Raymond Wilhams (1976 : 76-82) menunjuk kata
“budaya” (culture) sebagai salah satu kata yang rumit dalam khasanah
bahasa Inggris, terutama karena saat ini ia dipakai untuk beberapa
konsep penting pada beberapa disiplin intelektual dan sistem pemikiran
yang berbeda.
Pertama, budaya bisa dipakai untuk menunjukkan pada satu
proses umum dari dari perkembangan intelektual, spiritual dan estetika
sebuah masyarakat, misal, kita bisa mendiskusikan perkembangan
budaya korupsi dan hanya memacu pada faktor-faktor intelektual, spiritual
dan estetika masyarakat. Konkretnya, pembicaraan kita tentang budaya
korupsi dalam pengertian ini meliputi perbincangan tentang Presiden,
Pejabat, Pegawai Pemerintahan, dan Pengusahanya.
2
Kedua, budaya sebagai suatu jalan hidup spesifik yang dianut baik
oleh orang, periode maupun oleh sebuah kelompok tertentu dalam
masyarakat. Menggunakan batasan pemahaman ini, ketika berbicara
tentang budaya korupsi, misalnya, kita membayangkan bukan hanya
faktor intelektual atau estetika semata, melainkan juga perkembangan
literasi dan kebiasaan.
Ketiga, budaya juga bisa dipakai untuk menunjukkan karya-karya
dan praktek-pratek intelektual terutama aktivitas estetik. Dalam konteks ini
biasanya tidak lain adalah untuk memakai bahasa strukturalisme berbagai
praktek penandaan.
3
PEMBAHASAN
Setiap budaya niscaya memiliki massa pendukungnya sendiri.
kalau pendukung budaya elite adalah kaum elite masyarakat, dan
pendukung budaya rakyat adalah rakyat jelata yang sederhana dan lugu,
lantas siapa pendukung budaya korupsi ? Adakah jenis manusia lain yang
tidak termasuk ke dalam dua kategori elite dan rakyat ? Kalau ada, di
mana letak mereka dalam struktur sosial sebuah masyarakat ?
Sebelumnya, kita tahu tentang proses-proses pengaruh korupsi pada
kaum elite dan massa dalam aktivitas konsumsi mereka atas budaya
korupsi. Dengan demikian, jika dilihat lokasinya dalam struktur sosial
masyarakat, apa yang disebut korupsi pada dasarnya bisa berasal dari
kelompok elite dan rakyat jelata sekaligus.
Akan tetapi, perbincangan tentang masyarakat pendukung budaya
korupsi tidak berhenti sampai di situ.
Problem konkretnya adalah, apakah budaya korupsi diciptakan
sendiri oleh masyarakatnya seperti budaya elite yang diciptakan oleh
kaum elite dan budaya rakyat yang diciptakan oleh rakyat jelata ? Hal ini
penting diketahui paling tidak selama kita memahami kebudayaan dalam
pengertian yang luas sebagai, katakanlah, sebuah war against nature
demi kesempurnaan hidup manusia secara menyeluruh. Pada tingkat
yang lebih lanjut, pertanyaan seperti itu akan membawa kita pada
problem-problem lain yang salah satu penyebabnya biasa dialamatkan
4
kepada budaya korupsi yaitu problem kemiskinan yang meluas, bahkan
krisis moral dan intelektual masyarakat yang rendah.
Kalaupun memang benar kita sekarang sedang menyaksikan
berlangsungnya krisis moral yang makin parah. Penjelasan tidak bisa
langsung dialamatkan pada pertumbuhan budaya korupsi dengan cara
yang sama seperti seorang polisi yang menangkap basah seorang
pencuri. Kalimat-kalimat Rendra (1984 : 91) berikut bisa kita jadikan
sebagai sebuah perbandingan :
“Sumber krisis moral di Indonesia antara lain juga
disebabkan oleh macetnya daya cipta kaum moralis dan
agamawan kita. Karena impotensi daya cipta, mereka lalu
menjadi ganas dan penuh kebencian di dalam fanatisme mereka.
Respons mereka terhadap berkembangnya lingkungan hanyalah
formalisme yang statis. Mereka telah mundur ke dalam rumah
kerang mereka yang kukuh dan aman.
Kebajikan ideal mereka bukan “tanggung jawab pribadi”,
tetapi “kepatuhan”. Mereka menolak kesangsian karena mereka
sudah punya dalil-dalil dan resep-resep untuk segala macam
persoalan. Tidak peduli perkembangan jaman, dalil-dalil mereka
tetap dianggap ampuh. Bagi mereka : hidup di dalam kebajikan
berarti menghafalkan dengan patuh dalil-dalil hidup itu. Maka
karena khusyuk dengan hafalan, kaum moralis telah melupakan
rohani manusia.
Sikap hidup itulah yang melancarkan lahirnya “Tujuh
Bahan Pokok Indoktrinasi”. Demikianlah telah dipertahankan
5
kebudayaan menghafal itu, sementara lingkungan kita
bertambah luas, kompleks, jalin-menjalin penuh relativitas, penuh
banyolan-banyolan seru, yang semuanya itu menuntut lebih dari
moral hafalan semata-mata, melainkan harus dihayati dengan
moral yang lebih keras dan lebih berdisiplin, yaitu moral yang
otentik.”
Rendra tidak menulis kritiknya dalam sebuah jurnal fakultatif yang
secara khusus memuat kajian kebudayaan atau moral, melainkan dalam
sebuah media massa komersial : surat kabar harian Kompas. Ribuan
tulisan lain juga telah dipublikasikan dalam media yang sama
komersialnya selama ini. Dalam medium yang sama pula kita dengan
mudah bisa menemukan parade ikon-ikon budaya korupsi.
Tidak ada keharusan bagi kita untuk sepakat dengan argumen
Rendra di atas. Tetapi sekurang-kurangnya ia telah mengajak kita untuk
memeriksa berbagai masalah dalam hidup kita dengan pikiran yang lebih
terbuka.
Sejauh ini bisa ditarik sebuah garis penghubung sementara yang
menakutkan berbagai bentuk kecemasan masyarakat atas perkembangan
budaya korupsi tadi : jenis budaya ini dianggap buruk bukan hanya karena
ia mengancam budaya elite dan budaya rakyat, melainkan juga karena ia
berhasil masuk ke dalam kehidupan sehari-hari seluruh lapisan sosial
masyarakat. Ia bukan hanya telah menimbulkan sejumlah keguncangan
pada kemapanan selera artistik, melainkan juga telah melahirkan berbagai
problem sosial yang baru. Telah diuraikan sebelumnya, bahwa budaya
6
korupsi bukan hanya diserap oleh kelompok massa melainkan juga oleh
kelompok elite sosial antara khalayak ramai dan segelintir elite seolah
berbaur dalam budaya massa. Persis inilah yang membuat beberapa
kalangan kerap mengkhawatirkan dampak budaya korupsi terhadap
masyarakat secara keseluruhan.
Itu terjadi karena budaya korupsi hadir sebagai sebuah kenyataan
sosial. Kalau secara artistik ia dianggap hanya jadi parasit yang merugikan
kehidupan budaya tinggi. Secara etik ia dianggap merekomendasikan
ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan dan
secara sosial ia dituduh hanya menyebabkan lahirnya sebuah gerombolan
masyarakat yang pemalas dan bermoral rendah.
Jika demikian maka persoalannya kemudian adalah apakah terjadi
kesesuaian antara apa yang diinginkan masing-masing dengan apa yang
ditawarkan oleh budaya korupsi. Dinyatakan secara langsung, apakah
konsumsi masyarakat atas produk-produk budaya korupsi merupakan
salah satu bentuk usaha pemenuhan keinginan tersebut, ataukah itu
sekedar satu bentuk eskapisme sosial dari problem kongkret
kehidupannya masyarakat sehari-hari ? Jawabannya terhadap persoalan
ini tergantung pada individu masyarakat tersebut.
7
KESIMPULAN :
Kebudayaan adalah bukan sesuatu yang mandeg. Tetapi
sesuatu yang berkembang dan berproses secara terus menerus.
- Korupsi budaya adalah korupsi sebagai ciptaan manusia.
- Budaya korupsi adalah budaya yang dipengaruhi oleh korupsi.
Sebenarnya masyarakat budaya korupsi sadar tentang dampak
yang akan terjadi karena korupsi tersebut. Tapi mereka enggan untuk
meninggalkan karena mereka enggan untuk meninggalkan karena mereka
yang selalu bermimpi tentang kebahagiaan, kedudukan tinggi dan
kehidupan mewah. Kedalam itu semua mereka yang berasal dari
kelompok rakyat jelata dan kelompok kelas ekonomi menengah keatas
sama-sama akan tertarik perhatian dan dananya. Mereka diserap oleh
sebuah kebutuhan semu yang sengaja diciptakan dari luar.
8
SARAN :
- Hendaknya kita semua sadar untuk mendekatkan diri ke hadirat Illahi
Robbi dan merenungkan nasib kita habis kematian kelak.
- Sudah siapkah kita ?
9
DAFTAR PUSTAKA
Budiman Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Kanisius.
Yogyakarta.
Antropologi Budaya.
10